√ Peran Penting Ulama Untuk Kemandirian Bangsa

Peran Penting Ulama Untuk Kemandirian Bangsa

Peran Penting Ulama Untuk Kemandirian Bangsa – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan Peran Penting Ulama. Yang meliputi peran penting ulama uantuk kemandirian bangsa serta bacaan khutbah pertama dan kedua dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silahkan simak artikel Pengetahuanislam.com dibawah ini dengan seksama.

Peran Penting Ulama Untuk Kemandirian Bangsa

Berikut ini adalah khutbah jumat mengenai Peranan Penting Ulama Kemandirian Bangsa.

Bacaan khutbah pertama

الْحَمْدُ لِلهِ الْوَاحِدِ الْأَحَدْ اَلْفَرْدِ الصَّمَدْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوا أَحَدٌ.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اَلَهَ إَلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ مَنْ أَرْسَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِجَمِيْعِ الْعِبَادِ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ وَكَرِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ

أمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْــمُتَّقُوْنَ. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Ma’asyirol muslimin wa zumratal mu’minin rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan segala perintah Allah ta’ala dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga amal ibadah kita, baik yang wajib maupun yang sunnah, diterima oleh Allah ta’ala.

Tidak terasa, jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU), sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia bahkan dunia, sudah sampai pada hari lahir ke-92 pada tanggal 31 Januari. NU adalah organisasi Islam yang didirikan oleh para ulama dan kiai pesantren dan pengikutnya dengan tujuan izzul islam wal muslimiin, yaitu jayanya Islam dan kaum muslimin terutama di Negara Kesatuan Republik Indonesia. NU telah berperan banyak dalam proses dan sejarah berjalannya bangsa ini. Dalam kesempatan ini, khatib akan menyampaikan khutbah dengan tema peran ulama bagi kemandirian bangsa terutama bagi generasi bangsa saat ini dan yang akan mendatang dengan meneladani para ulama pendiri NU di masa lalu.

Khutbah ini kami sampaikan untuk menyambut dan memperingati Hari Lahir Nahdlatul Ulama ke-92.

Hadirin, jamaah shalat jum’ah yang semoga dimuliakan oleh Allah,

Allah subhanahu wata‘ala berfirman dalam Surat al-Baqarah ayat 129 yang mengabadikan doa Nabi Ibrahim alahissalam:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalang¬an mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”.

Doa ini adalah doa Nabi Ibrahim alaihissalam yang dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengutus Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam di tengah bangsa Arab kala itu dengan membawa risalah Islam yang rahmatan lil alamiin.

Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa Rasul yang diutus yaitu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam memiliki tiga misi yaitu: pertama, membacakan ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala; kedua, mengajarkan Al-Qur’an dan al-Hikmah (Sunnah), dan ketiga menyucikan umatnya.

Peran Penting Ulama Untuk Kemandirian Bangsa

Rasulullah shallalallahu alaihi wasallam bersabda:

إنَّ الْعُلُمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Artinya:

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak. ” (Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi, Imam Ahmad, Imam Ad-Darimi, dan Imam Abu Dawud)

Para ulama sebagai waratsatul anbiya dan umana’ur rasul (pewaris para nabi dan pemegang amanah dari para Rasul) tentu berkewajiban melanjutkan misi dan tugas dakwah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam tersebut. Tiga misi inilah yang dapat dilakukan oleh para ulama dalam rangka berperan mengembangkan kemandirian bangsa Indonesia, wabil khusus kaum Muslimin.

Menurut Profesor Quraish Syihab dalam bukunya Membumikan Al-Qur’an, pengertian dari kalimat “membacakan ayat Allah SWT dan mengajarkan kitab dan al hikmah” (tilawah ayatillah dan ta’lim al-kitab wal hikmah) adalah mengajarkan umat, mengisi otak dan mengajarkan bangsa (ta’lim). Sementara, pengertian menyucikan diri (tazkiyatun nafsi) erat kaitanya dengan kegiatan pendidikan (tarbiyah) yang bermaksud untuk mengubah sikap dan perilaku yang dididik. Para nabi dan rasul mereka tidak hanya mengajarkan dan menyampaikan ilmu, tapi mereka juga mendidik umatnya dengan membersihkan diri mereka dari perilaku buruk dan tidak terpuji dengan syariatnya masing-masing. Dengan shalat, dengan puasa, dengan berdzikir, dengan zakat, dengan mengasihi sesama, dengan tolong menolong, dan amaliyah ubudiyah lainnya baik yang mahdloh dan ghair mahdlah.

Demikian halnya para ulama. Mereka tidak hanya ta’lim tapi juga tarbiyah. Tidak hanya tarbiyah tapi juga ta’lim. Mereka menggabungkan antara dua aspek ini adalah bagi kemandirian umat Islam dan bangsa Indonesia. Kemandirian umat dan bangsa ditentukan oleh seberapa mampu kaum muslimin mengikhlaskan dirinya dalam beribadah kepada Allah SWT, sebagai kunci kemandirian. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengatakan:

الْحَيَاةُ اَلْعِباَدَةُ كُلُّهَا

Artinya: “Kehidupan ini adalah pengabdian total kepada Allah. ”

Bangsa ini mandiri jika bangsa ini mengabdi kepada Allah subhanahu wata‘la. Jika seorang sudah beribadah kepada Allah dengan ikhlas, maka dengan sendirinya dia akan memperoleh kemandirian dalam berbagai bidang kehidupan, baik pribadi, sosial, maupun ekonomi.

Hal itulah yang ditunjukkan dan dicontohkan oleh pendiri Nahdlatul Ulama. Seperti Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari yang mendirikan pesantren Tebuireng dengan biayanya sendiri dari hasil berdagang. Kemandirian itu juga ditunjukkan oleh Hadratussyekh dengan tidak takut dan tunduk pada kolonialisme dan penjajahan bangsa asing di masanya. Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’arie memiliki kemandirian dalam berpikir dan bersikap.

Bahkan dalam periode menuntut ilmu, para ulama kita juga mencontohkan kemandirian tersebut. Syaikhona Kholil Bangkalan dan juga para ulama lainnya dikisahkan menjual hasil karya tulisnya demi biaya hidup dalam menuntut ilmu. Sikap para ulama yang mandiri ini dalam membangun lembaga pendidikan dan juga di dalam berbagai kehidupan menjadi teladan bagi kita semua. Semoga kita semua dapat menirunya. Semoga kita semua juga termasuk orang-orang yang diberikan kekuatan dan kemandirian dalam kehidupan ini bersama Allah subhanahu wa ta’ala. Amiin ya rabbal Alamiin.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Bacaan Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Itulah mengenai Peran Penting Ulama Untuk Kemandirian Bangsa, doa ini alangkah baiknya di hafalkan. semoga doa diatas bisa bermanfaat terutama bagi yang belum hafal.

√ Fiqih : Sunnah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan

Fiqih : Sunnah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan

Fiqih : Sunnah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Shalat Tarawih. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan Sunnah Mengerjakan Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan dengan secara singkat dan jelas.

Fiqih :Sunnah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ

Kaum Muslimin wa Muslimat yang dirahmati Allah SWT. Segala puji bagi Allah SWT, shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda nabi agung Muhammad SAW. dalam kesempatan ini kami akan sampaikan tentang Sunnah Mengerjakan Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan.

Shalat Tarawih

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غَفَرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Artinya :

Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa berdiri bersembahyang dalam bulan Ramadhan karana didorong keimanan dan keinginan memperolehi keridhaan Allah, maka diampunkanlah untuknya dosa-dosanya yang terdahlu.” (Muttafaq ‘alaih) Kutipan dari Kitab Riyadhus shalihin.

Baca Juga : Pengertian & Penjelasan Walimatus Safar Haji atau Umroh

وَعَنْهُ رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَغِّبُ فِيْ قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ فِيْهِ بِعَزِيْمَةٍ فَيَقُوْلُ : مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غَفَرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، رَوَاهُ مُسلِمٌ

Artinya:

Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu menganjur-anjurkan supaya senang mengerjakan shalat -pada malamnya- bulan Ramadhan, tanpa menyuruh orang-orang itu dengan kekerasan -yakni bukan kewajiban. Beliau bersabda: “Barangsiapa berdiri bersembahyang dalam bulan Ramadhan karana didorong keimanan dan keinginan memperolehi keridhaan Allah, maka diampunkanlah untuknya dosa- dosanya yang terdahulu.” (Riwayat Muslim)

Jumlah Rak’at Shalat Tarawih

Sabagaimana yang dapat kita fahami shalat Tarawih dikerjakan dengan dua puluh roka’at belum termasuk shalat witir. Sebagaimana tertuang dalam beberapa kitab Fiqih, terutama fiqih as-Syafi’iyah, diantara keterangan tentang jumlah roka’at tarawih adalah:

عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً

Artinya:

Diriwayatkan dari al-Sa’ib bin Yazid radhiyallahu ‘anhu. Dia (al-Saib) berkata : “Mereka (para shahabat) melakukan qiyam Ramadhan pada masa Umar bin al-Khatthab sebanyak dua puluh rakaat.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi di dalam Sunan al-Kubro, I/496. Dengan sanad yang shahih sebagaimana dinyatakan oleh Imam al-`Aini, Imam al-Qasthallani, Imam al-Iraqi, Imam al-Nawawi, Imam al-Subki, Imam al-Zaila`i, Imam Ali al-Qari, Imam al-Kamal bin al-Hammam dan lain-lainnya.

Dalam disiplin ilmu hadis, hadis ini disebut dengan hadis mauquf (Hadis yang mata rantainya berhenti pada shahabat dan tidak bersambung pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam). Walaupun hadis ini tergolong mauquf, hadis tersebut dapat dijadikan sebagai hujjah dalam pengambilan hukum. Karena masalah shalat Tarawih termasuk jumlah rakaatnya bukanlah masalah ijtihadiyah.

Baca Juga : Pengertian Nifaq, pembagian dan hukumnya (Lengkap)

Selain itu juga terdapat ijmak dari para shahabat, adapun keterangan dalam Fiqih itu sangat banyak bahkan di setiap fiqih Syafi’iyah selalu dijelaskan bahwa roka’at Tarawih itu 20 raka’at. Wallahu’alam

Ijmak para shahabat Nabi tentang Shalat Tarawih.

Ketika Sayyidina Ubay bin Ka`ab mengimami shalat Tarawih sebanyak dua puluh rakaat, tidak ada satupun shahabat yang protes, ingkar atau menganggap bertentangan dengan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Jika yang beliau lakukan itu memamng menyalahi sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kenapa para shahabat semuanya diam? Artinya ini menunjukkan bahwa mereka setuju dengan apa yang dilakukan oleh Sayyidina Ubay bin Ka`ab.

Anggapan bahwa mereka takut terhadap Sayyidina Umar bin al-Khatthab adalah pelecehan yang sangat keji terhadap para shahabat. Para shahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah orang-orang yang terkenal pemberani dan tak kenal takut melawan kebatilan.

Bagaimana mungkin para shahabat sekaliber Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Sayyidina Utsman bin Affan, Sayyidina Abu Hurairah, Sayyidah A`isyah dan sangat banyak shahabat senior lainnya (radhiyallahu `anhum ajma`in)

Namun demikian kami juga sangat menghargai bagi yang berpendapat bahwa shalat tarawih itu jumlah roka’atnya hanya delapan roka’at dengan menggunakan dalil-dalil seperti yang disampaikan Siti Aisya ra. Sekalipun hadits tersebut menurut pandangaan kami itu bukan dalil Tarawih.

Karena Siti Aisya ra. Menerangkan : “Baik didalam bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan” dan Babnya itu ada pada Bab shalat witir hadits tersebut dalam kitab Bulugul Marom juga ada, dan itupun diterangkan empat-empat tiga. Namun ada yang perlu di garis bawahi untuk dianalisa pada kalimat “Siti Aisyah tidak menanyakan atas panjangnya shalat tersebut….” Wallahu’alam.

Baca Juga : Pengertian Ibadah, Syarat, Keutamaannya Dalam Islam

Bagi kami tidak terlalu penting membicarakan soal jumlah roka’atnya karena Imam Malik juga melaksanakan shalat tarawih dengan jumlah tiga puluh enam roka’at di Madinah. Jadi bagi kami sekalipun mau lebih dari 36 raka’at atau bahkan kurang dari 4 raka’at itu kembali kepada pribadi masing-masing.

Permasalahannya masih ada yang lebih penting dari itu, bahkan bagi kami andai tidak mengerjakan shalat tarawihpun itu hak masing-masing juga. Justru bagi kami yang menjadi pertanyaan adalah: mengaku islam beriman dan tidak ada udzur syar’i tapi ia tidak menunaikan ibadah puasa dan sholat 5 waktu??? Wallahu’alam semoga mendapat hidayah.

Fiqih : Sunnah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan

Kesimpulan

Kerjakanlah apa yang sudah menjadi kebiasaannya masing-masing, selama itu ada tuntunannya dan fokuslah di bulan yang suci ini hanya untuk mencari ridha Allah SWT.

بِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ و الرِّضَا وَالْعِنَايَةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

Demikian pembahasan tentang Fiqih :Sunnah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan. Semoga dapat memberikan manfaat untuk kita semua. Terimakasih.

√ Beberapa Amalan Utama Pada Bulan Suci Ramadhan (Lengkap)

Beberapa Amalan Utama Pada Bulan Suci Ramadhan (Lengkap) – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Amalan Di Bulan Suci Ramadhan. Yang mana dalam pembahasan ini menjelaskan tentang beberapa hal amalan utama di bulan suci ramadhan yang sangat di anjurkan oleh Nabi SAW dalam bentuk khutbah jumat dengan jelas dan singkat. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan berikut ini.

Beberapa Amalan Utama Pada Bulan Suci Ramadhan (Lengkap)

Di bulan suci Ramadhan, selain kita umat muslim dianjurkan untuk berpuasa, di bulan tersebut kita juga disarankan untuk lebih banyak berbuat kebaikan. Melaksanakan ibadah-ibadah sunah di bulan ramadhan memiliki beragam keutamanan dan pahala yang berlipat ganda.

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَذِى جَعَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرَ الْخَيْرَاتِ وَالْبَرَكَةِ شَهْرَ الطَّاعَاتِ وَالْمَبَرَّاتِ شَهْرَ الصّيَامِ وَالْقِيَامِ وَأشْهَدُ أنْ لا اِلهَ اِلااللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنْفَرِدُ بِالْوَحْدَانِيّةِ وَالْقُدْرَةِ الّذِى فَضَّلَ بَعْضَ الشُّهُوْرِ وَالاَيَّامِ عَلَى بَعْضٍ وَجَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ مِنَ الشُّهُوْرِالْعِظَامِ وَأيَّامَهُ مِنَ الايَّامِ الْكِرَامِ وَأشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِى أرْسَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اللّهُمَّ صَلِّ وِسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ لِقَاءِ رَبِّهِمْ

فقد قال الله تعالى في كتابه الكريم: شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ. أمَّا بَعْدُ

فَيَا أيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah Shalat Jum’at Rahimakumullah

Puji syukur pada Allah SWT. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Rasulullah SAW. dan para ahli keluarganya yang suci dan mulia.

Selaku khatib, saya berpesan pada diri sendiri dan jamaah sekalian. Mari kita tingkatkan selalu ketakwaan kita kepada Allah SWT, agar kita mendapatkan kesuksesan hidup dunia dan akhirat. Amin.

Pada hari yang cerah ini, saya ingin mengajak hadirin sekalian untuk sejenak merencanakan amalan-amalan utama kita di bulan Ramadhan.

Setiap kali Ramadhan tiba, hati kita bersuka-cita. Betapa tidak, Rasulullah SAW. berpesan,

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Artinya : “Telah datang kepada kalian Bulan Ramadhan bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa dibulan ini. (Di bulan ini), akan dibukakan pintu-pintu langit, dan di tutup pintu neraka, serta setan-setan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan”

Hadirin Jamaah Shalat Jum’at Rahimakumullah

Selain berpuasa sebagai amalan utama kita di bulan Ramadhan, bulan ini juga dipenuhi gemilang keberkahan amalan-amalan lainnya. Pada kseempatan khutbah yang singkat ini, selaku khatib, saya akan membahas empat amalan utama agar kita mampu mengoptimalkan bulan Ramadhan sebaik-baiknya.

Ramadhan adalah bulan al-Qur’an

Sebagaimana Allah SWT menegaskan dalam QS al-Baqarah: 185 yaitu,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

Artinya : “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).”

Karena al-Qur’an adalah petunjuk Ilahi, maka ketika semua buku dimulai dengan permohonan maaf penulisnya. Khawatir ada salah sumber atau salah ketik. Al-Qur’an memulainya dengan pernyataan yang sangat tegas, “Tak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”.

Sayangnya, seringkali kita merasa sudah sangat menguasai al-Qur’an, padahal membacanya saja masih malas. Maka, Ramadhan ini kesempatan untuk mengulang bacaan kita.

Rasulullah SAW. pernah meminta Ibnu Mas’ud untuk membacakan al-Qur’an baginya.

Ibnu Mas’ud berkata,

“Bagaimana aku bacakan al-Qur’an sementara ia turun padamu?”

Rasulullah SAW menjawab,

“Aku senang mendengarnya dari (orang) lain.”

Demi mendengar bacaan Ibnu Mas’ud, Rasulullah SAW. menitikan air mata dan meminta Ibnu Mas’ud untuk menghentikan bacaannya. Ayat yang membuat Beliau SAW. menangis adalah:

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا

Artinya : “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad SAW) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)”. (QS An-nisa Ayat 41)

Beliau SAW. kemudian berkata,

“Siapa orang yang ingin membaca al-Qur’an seperti saat diturunkan, bacalah sesuai bacaan Ibnu Umi Abdi (Abdullah bin Mas’ud)”.

Karena itulah, Khalid bin Walid, salah seorang sahabat Nabi SAW, setiap kali mengambil mushaf al-Qur’an, ia menitikan air mata menangis seraya berkata,

“Aku sibuk (hingga tak sempat membacamu) karena jihad”. Bayangkan, Khalid bin Walid menangis karena sibuk berjihad. Sementara kita?

Bagi kalangan awam, Ramadhan menjadi momen membaca al-Qur’an, memperbaiki tilawah dan meluruskan ilmu tajwid. Sementara bagi kalangan alim-cendikia,

“Ramadhan menjadi bulan “tadarus” al-Qur’an secara ilmu pengetahuan saat dimana kitab suci ini diserang oleh berbagai kalangan, terutama kaum kafir dan orientalis.”

Hadirin Jamaah Shalat Jum’at Rahimakumullah

Ramadhan adalah bulan Qiyamul Lail

Di riwayatkan dari Abu Hurairah Ra., Rasulullah SAW. berkata,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya : “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari Muslim).

Maksud dari kata “Qiyam Ramadhan” adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh para ulama. Pada mulanya, shalat tarawih ditunaikan sendiri-sendiri.

Rasulullah SAW. khawatir, jika ditunaikan berjamaah maka hukumnya akan wajib. Maka itu, beliau menunaikannya sendirian. Lalu, di zaman Umar bin Khattab, tarawih ditunaikan secara berjamaah mengingat orang-orang sudah mulai lengah untuk menunaikan tarawih karena sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Ubay bin Ka’ab satu diantara sahabat Rasulullah SAW. yang menjadi imam shalat pertama pada tarawih berjamaah di era ke kholifahan Umar bin Khattab.

Biasanya, Rasulullah SAW. menutup shalat tarawihnya dengan shalat witir. Ketika Rasulullah SAW. ditanya,

“Doa (di waktu apa) yang paling didengar (Allah)?”. Beliau SAW menjawab, “pada penghujung malam”.

Dari Aisyah  menceritakan:

مِنْ كُلِ اللَيْلِ قَدْ أوْتَرَ رَسُولُ اللهِ صَلىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَم فَانْتَهَى وِتْرُهُ إلىَ السَحْر

Artinya : “Pada setiap malam, Rasulullah SAW. menunaikan shalat witir, dan shalatnya berakhir sampai waktu sahur (remang-remang)”.

Shalat malam mengajarkan kita untuk khusyu dan tawadhu. Di era gadget dan media sosial, saat setiap kita mudah sekali up-date status, shalat malam seharusnya mampu mengajarkan kita untuk tidak show-up, pamer kepada banyak orang.

Imam Ibnul Qayyim mengingatkan,

قَدْ قَالَ أحَدُ الصَالِحِين : لآنْ اَبيت نَائِمًا وَاصْبَحَ نَادِيمًا خَيرٌ مِن أبيتَ قَائِمًا وَاصبَحَ مُعْجِبًا

Artinya : “Sungguh telah berkata salah seorang yang shaleh, “bahwa engkau tertidur di malam hari (sehingga tidak tahajud) dan menyesal di pagi hari adalah lebih baik dari pada kau tahajud di malam hari, dan berbangga (dengan tahajud itu) di pagi hari”

Shalat yang khusyu akan mengantarkan pertolongan dan kasih sayang Allah. Dikisahkan suatu malam, seorang pencuri masuk ke rumah Malik bin Dinar. Pencuri itu mencari-cari emas dan perak yang dimiliki sang Imam. Namun, dia tak mendapati apa-apa, kecuali sang imam yang tengah qiyamul lail.

Selepas mengucap salam, Imam Malik memergoki pencuri yang tengah mengintip itu. Disapanya:

“Engkau ingin mencuri harta, hanya memberimu kebahagiaan dunia. Sudahkah kau curi waktu malam untuk menyiapkan kebahagiaan akherat?”.

Pencuri itu tertegun. Ia kemudian duduk bersila, mendengarkan tausiyah sang Imam. Saat masuk waktu shubuh, Malik bin Dinar dan pencuri itu keluar rumah, mereka menuju masjid bersama-sama. Masyarakat geger. Mereka berkata, “Imam paling mulia berjalan ke masjid dan shalat berjamaah bersama pencuri paling utama”. Orang-orang bertanya: “apa rahasianya”.

Malik bin Dinar pun menjawab, “ketuklah pintu langit, sebab Dia-lah yang menggenggam hati manusia”.

Hadirin Jamaah Shalat Jum’at Rahimakumullah

Ramadhan adalah juga bulan sedekah

Rasulullah SAW adalah seorang yang paling pemurah dan di bulan Ramadhan beliau lebih pemurah lagi. Kebaikan Rasulullah SAW. di bulan Ramadhan melebihi angin yang berhembus karena begitu cepat dan banyaknya.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW. mengatakan,

“Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan.” (HR. Baihaqi). Dan bersedekah tidak harus menunggu kaya.

Suatu hari, Rasulallah SAW berkata,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفٍ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ قَالَ رَجُلٌ لَهُ دِرْهَمَانِ فَأَخَذَ أَحَدَهُمَا فَتَصَدَّقَ بِهِ وَرَجُلٌ لَهُ مَالٌ كَثِيرٌ فَأَخَذَ مِنْ عُرْضِ مَالِهِ مِائَةَ أَلْفٍ فَتَصَدَّقَ بِهَا

Artinya : “Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Satu Dirham -pahalanya- bisa memenangkan seratus ribu Dirham.” Mereka bertanya; “Bagaimana hal itu?” Beliau bersabda: “Seorang memiliki uang dua Dirham, lalu mengambil satu Dirham dan bersedekah dengannya; dan seseorang memiliki harta yang banyak, lalu ia mengambil seratus ribu dari harta yang melimpah, kemudian ia bersedekah dengannya.”

Karena itulah, Ali bin Abi Thalib berkata,

“Jangan malu bersedekah walaupun sedikit. Sebab, kebaikan itu (dinilai) pada pemberiannya walaupun sedikit”.

Dikisahkan, seseorang bertanya kepada Ali bin Abi Thalib,

“Bagaimana untuk mengetahui seseorang itu “ahli dunia” atau “ahli akhirat”?”

Ali bin Abi Thalib menjawab,

“Jika ada dua orang (tamu) datang, satu orang (tamu) membawa hadiah, dan satu lagi meminta sedekah. Bila hati tuan rumah lebih condong pada pembawa hadiah, maka dia termasuk ahli dunia. Apabila hati tuan rumah lebih condong pada orang yang meminta sedekah, maka dia termasuk ahli akherat.”

Karena itu pula, Ibnu Qayyim mengatakan,

لَوْ عَلِمَ الْمُتَصَدِقُ حَقّ الْعِلْمَ وَتَصَوُرَ أنَ صَدَقَتُهُ تَقَعَ فِي ( يَدِ اللَهِ ) قَبْلِ يَدِ الفَقِيرِ، لَكَانَتْ لَذّةُ المُعْطِي أكْبَرَ مِنْ لَذَةِ الآخِذِ

Artinya : “Seandainya seorang pemberi sedekah mengetahui dan melihat dengan sebenarnya bahwa sedekahnya telah sampai (ke tangan Allah) sebelum sampai ke tangan orang miskin, niscaya rasa bahagia yang dirasakan seorang pemberi sedekah lebih besar dari rasa bahagia penerima (sedekah) itu.”

Hadirin Jamaah Shalat Jum’at Rahimakumullah

Ramadhan adalah bulan taubat

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ، فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ، وَأَسْتَغْفِرُهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ

Artinya : “Wahai umat manusia bertaubatlah kalian. Sesungguhnya aku bertaubat seratus kali dalam sehari-semalam”. Bila pada hari-hari biasa kita dianjurkan bertaubat. Maka, taubat di bulan Ramadhan tentu lebih baik adanya.”

Mengapa taubat? Sebab manusia makhluk yang lemah. Allah memberi jalan taubat sebagai wujud kasih sayang-Nya. Bahkan Allah sangat senang dan bahagia bila ada manusia yang bertaubat.

Rasulullah SAW menggambarkan kesenangan Allah SWT itu dengan bersabda,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

Artinya : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Sungguh kegembiraan Allah karena taubatnya hamba-Nya melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian terhadap hewan tunggangannya di sebuah padang pasir yang luas, namun tiba-tiba hewan tersebut lepas, padahal di atasnya ada makanan dan minuman hingga akhirnya dia merasa putus asa untuk menemukannya kembali. kemudian ia beristirahat di bawah pohon, namun di saat itu, tiba-tiba dia mendapatkan untanya sudah berdiri di sampingnya. Ia pun segera mengambil tali kekangnya kemudian berkata; ‘Ya Allah Engkau hambaku dan aku ini Tuhan-Mu.’ Dia telah salah berdo’a karena terlalu senang.’” (HR Muslim No. 4932).

Seringkali kita merasa bahwa dosa yang kita lakukan hanya dosa-dosa kecil saja sehingga tak diperlukan bersegera dalam bertaubat. Padahal, kata Ibnul Qayyim, jangan pernah meremehkan dosa-dosa kecil. Lihatlah patok kayu di dermaga yang melilit tambang, ia bahkan dapat menarik kapal.

Maka, tak ada kata lain bagi kita kecuali segera bertaubat. Ibnul Qayyim sekali lagi berkatanya:

لَوْ عَلِمَ الْعَاصِي أنَ لَذَةَ التَوْبَة تَزِيْد عَلَى لَذَةِ اْلمَعْصِيَةِ أضْعَافًا مُضَاعَفَة لَبَادِر إلَيْهَا أعْظَمَ مِنْ مُبَادَرَتِهِ إلىَ لذَةِ الْمَعْصِيَةِ.

Artinya : “Sekiranya seorang pelaku maksiat mengetahui bahwa kenikmatan bertaubat lebih dahsyat berlipat-lipat dari kelezatan maksiat, niscaya dia akan bersegera menuju taubat lebih cepat dari usahanya menggapai maksiat”

Semoga kita dapat mengisi hari-hari di bulan suci ini dengan penuh keberkahan. Amin ys robbal alamain.

Demikian khutbah singkat ini, semoga bermanfaat.

أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ

Lafadz Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. الَلَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. الَلَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آَلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلـمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرٍ وَعُثْمَانٍ وَعَلِىِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

الَلَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلـمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلـمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمـُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آَتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ إِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Demikian ulasan singkat tentang Beberapa Amalan Utama Pada Bulan Suci Ramadhan (Lengkap). Semoga dapat ulasan tersebut  dapat bermanfaat dan memberikan tambahan ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

Tangan di Bawah dan Mereka yang Suka Dilayani

Tangan di Bawah dan Mereka Yang Suka Dilayani – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Shodaqoh. Yang meliputi khutbah jumah tentang tangan di bawah dan mereka yang suka dilayani serta bacaan khutbah pertama dan khutbah kedua dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. 


Untuk lebih detail dan jelasnya, silahkan simak ulasan Pengetahuanislam.com dibawah ini dengan seksama.

Tangan di Bawah dan Mereka yang Suka Dilayani

Bacaan Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الَّذِيْ هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيِّ اْلكَرِيْمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَّا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، ذُو اْلجَلَالِ وَاْلإِكْرَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ بِإِحْسَانِ إلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَاَيُّهَا اْلإِخَوَانِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي اْلقُرْاَنِ اْلكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلًا شَدِيْدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا وَقَالَ اللهُ تَعَالَى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
صَدَقَ اللهُ اْلعَظِيْمِ

Sidang Jum’ah rahimakumullah…

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasululllah SAW bersabda:
 الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

 Artinya: “Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah.”

Apa yang dimaksud dengan “tangan di atas” adalah orang yang memberi, sedangkan “tangan di bawah” adalah orang yang menerima atau meminta. Hadits ini sangat terkenal sehingga banyak orang pernah mendengar hadits tersebut berikut penjelasannya. Banyak orang mengutip hadits itu untuk menasihati agar kita menjauhi perbuatan meminta-minta; sekaligus untuk mendorong agar kita lebih suka memberi dari pada meminta karena yang memberi akan menjadi pihak yang lebih baik dari pada yang diberi. Singkatnya, hadits ini menegaskan bahwa memberi itu lebih baik dari pada meminta. Atau, bahwa meminta itu tidak baik.

Sidang Jum’ah rahimakumullah…

Apa yang selama ini kita pahami tentang memberi dan meminta biasanya dikaitkan dengan barang atau hal-hal yang bersifat kebendaan. Para pengemis atau orang-orang miskin sering dimasukkan ke dalam kelompok peminta sehingga masyarakat seringkali memandang mereka dengan rendah. Sebaliknya, mereka orang-orang yang berkecukupan atau orang-orang kaya biasanya dimasukkan ke dalam kelompok pemberi atau dermawan sehingga masyarakat memandang mereka dengan penuh hormat.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Lewat khutbah kali ini, khatib ingin mengajukan sebuah pertanyaan, apakah betul bahwa hadits tersebut semata-mata berkaitan dengan pinta-meminta atau beri-memberi dalam hubungannya dengan barang atau kebendaan saja?
Hadits itu tidak semata-mata berkaitan dengan barang atau kebendaan seperti itu sebab peminta itu sebenarnya dapat dibagi menjadi  2 (dua) macam: yakni peminta barang dan peminta jasa. Baik peminta barang maupun peminta jasa sama-sama tidak baik dalam pandangan Islam berdasarkan hadits di atas, yakni:
الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

Artinya: “Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah.”

Lalu pertanyaannya, siapakah orang-orang yang suka meminta jasa? Atau dengan kata lain siapa  kelompok orang yang suka minta dilayani?

Sidang Jum’ah rahimakumullah…

Jika orang-orang miskin atau orang-orang dari kalangan bawah sering dianggap sebagai orang yang suka meminta barang seperti uang, makanan, pakaian dan sebagainya, maka orang-orang mapan atau orang-orang kuat cenderung suka meminta dilayani. Artinya mereka adalah pihak yang suka meminta jasa orang lain. Mereka suka memerintah, atau dengan bahasa yang sangat santun, mereka suka meminta tolong, seperti minta diambilkan ini dan itu, atau minta dibuatkan ini dan itu. Atau minta diangkatkan barang ini dan barang itu; dan sebagainya.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana dengan Rasulullah SAW? Apakah beliau suka meminta jasa orang lain dengan minta dilayani ini dan itu?

Sidang Jum’ah rahimakumullah…

Rasulullah SAW adalah seorang tokoh yang sangat dihormati. Ketika beliau memerintah atau meminta tolong seseorang, tidak ada yang menolak. Bukan karena mereka takut, tapi karena saking hormatnya kepada beliau. Namun demikian beliau lebih suka melayani diri sendiri sebagaimana diceritakan oleh istri beliau, Aisyah, yang diriwayatkan Ahmad:
عن عائشة أنها سُئلت ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعمل في بيته، قالت: “كَانَ يَخِيطُ ثَوْبَهُ، وَيَخْصِفُ نَعْلَهُ، وَيَعْمَلُ مَا يَعْمَلُ الرِّجَالُ فِي بُيُوتِهِمْ”

Artinya: ”Dari Aisyah RA, beliau ditanya apa yang dikerjakan Rasulullah SAW di rumah?  Aisyah menjawab Rasulullah  menjahit  pekaiannya sendiri, mengesol sandalnya sendiri,  dan melalukan apa yang biasa dilakukan laki-laki pada umumnya di rumah mereka.”

Hadits di atas menunjukkan bahwa meskipun Rasulullah SAW adalah orang yang sangat mulia – bahkan paling mulia di dunia ini –  baik di mata Allah maupun di mata manusia, beliau tidak segan-segan melakukan pekerjaan rumah tangga. Beliau tidak berpikir pekerjaan-pekerjaan seperti menjahit pakaian, mengesol sandal dan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga lainnya akan menurunkan kemuliaan beliau sebagai seorang nabi dan rasul. Tentu saja tidak sebab hanya perbuatan maksiat saja yang akan  menurunkan kemuliaan seseorang.
Pertanyaan berikutnya adalah kenapa Rasulullah SAW lebih suka melayani diri sendiri dari pada minta tolong kepada orang lain?
Jawaban dari pertanyaan ini adalah karena tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah sebagai mana hadits di atas. Hadits tersebut sesungguhnya tidak saja berkaitan dengan hal-hal yang bersifat barang atau kebendaan tetapi juga hal-hal yang bersifat jasa. Oleh sebab itu, Rasulullah SAW lebih suka melayani diri sendiri dari pada dilayani. Hal ini juga dibuktikan dengan suatu peristiwa dimana Nabi Muhammad SAW tidak bersedia menerima tawaran jasa dari Abu Hurairah. Saat itu Abu Hurairah bermaksud membawakan barang milik Rasululullah SAW yang baru saja beliau beli di pasar. Kepada Abu Hurairah, Rasulullah SAW mengatakan:
صَاحِبُ الشَّيْءِ أَحَقُّ بِشَيْئِهِ أَنْ يَحْمِلَهُ

Artinya: “Pemilik sesuatu barang lebih berhak (pantas) membawa barang miliknya. “

Ketidak bersediaan  Rasulullah SAW untuk dilayani Abu Hurairah tersebut menunjukkan bahwa beliau tidak suka merepotkan orang lain sementara beliau  masih mampu melakukannya sendiri. Hal ini sekaligus merupakan bukti bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang sangat tawadhu’. Jadi memang kesediaan seseorang untuk melayani diri sendiri tidak lepas dari sikap tawadhu’ yang ada pada orang tersebut. 

Sidang Jum’ah rahimakumullah…

Memperhatikan apa yang dipraktikkan Rasullah SAW dalam kehidupan sehari-hari seperti tersebut di atas, marilah kita mencoba mengikuti jejak beliau dengan berusaha semampu kita untuk melayani diri sendiri. Semua jerih payah yang kita lakukan yang didasarkan pada niat untuk tidak merepotkan orang lain pasti akan dicatat sebagai amal ibadah kita masing-masing. Tidak hanya itu, tetes-tetes keringat yang disebabkan karena melakukan aktifitas fisik sesungguhnya memiliki dampak positif  bagi kesehatan kita sendiri. Apalagi di jaman sekarang banyak orang mengalami berbagai  macam penyakit disebabkan karena kurangnya gerak fisik sebagai akibat dari majunya teknologi yang serba memanjakan manusia.
Selain itu, berbagai  macam penyakit tersebut juga disebabkan banyak orang mulai tidak suka melakukan kegiatan-kegiatan fisik dan kemudian lebih memilih menyerahkannya ke orang lain.  Maka porsi kegiatan fisik menjadi kurang memadai. Untuk itu, marilah dengan prinsip tangan di atas lebih baik dari pada tangan dibawah, kita lakukan sendiri hal-hal yang memang bisa kita lakukan sendiri tanpa meminta jasa orang lain. 
Tentu saja, dalam hal ini kita harus bisa membedakan antara meminta jasa dengan membeli jasa orang lain. Membeli jasa berarti kita memberi pekerjaan kepada orang lain, dan oleh karena itu kita harus  membayar atau menyediakan gaji. Sudah pasti hal ini sangat mulia. Tetapi jika hanya meminta jasa, sudah pasti ini hanya merepotkan orang lain karena sama saja dengan meminta keringat orang lain. Rasulullah SAW tidak suka meminta baik berupa barang maupun jasa.

Sidang Jum’ah rahimakumullah…

Mudah-mudahan uraian singkat ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi diri saya sendiri, dan umumnya kepada jama’ah shalat Jum’at sekalian. Amin ya rabbal alamin.
جَعَلَناَ اللهُ وَإيَّاكُمْ مِنَ اْلفَائِزِيْنَ اْلآَمِنِيْنَ، وَأَدْخَلْنَا وإِيَّاكُمْ فِيْ زُمْرَةِ عِبَادِهِ اْلـمُؤْمِنِيْنَ : أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيْدًا.
باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآَنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِاْلآَيَاتِ وَذِكْرِ اْلحَكِيْمِ. إنَّهُ تَعاَلَى جَوَّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

Bacaan Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. الَلَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. الَلَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آَلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلـمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرٍ وَعُثْمَانٍ وَعَلِىِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
الَلَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلـمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلـمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمـُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آَتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ إِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Demikian ulasan khutbah jum’at tentang Tangan di Bawah dan Mereka Yang Suka Dilayani, semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan kita semua. Terimakasih.

Bagaimana Islam Mengangkat Derajat Perempuan

Bagaimana Islam Mengangkat Derajat Perempuan Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Derajat Perempuan. Yang meliputi tentang bagaimana islam mengangkat derajat seorang perempuan sesuai menurut Al-Qur’an, Hadist dan pendapat para ulama.

Disertai dengan bacaan khutbah pertama dan kedua dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silahkan simak ulasan Pengetahuanislam.com dibawah ini dengan seksama.

Bagaimana Islam Mengangkat Derajat Perempuan

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلَّذِى خَلَقَ اْلإِنْسَانَ خَلِيْفَةً فِي اْلأَرْضِ وَالَّذِى جَعَلَ كُلَّ شَيْئٍ إِعْتِبَارًا لِّلْمُتَّقِيْنَ وَجَعَلَ فِى قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ بَهْجَةً وَّسُرُوْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَعَلَى كُلِّ شَيْئ ٍقَدِيْرٌ.
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَأَفْضلِ اْلأَنْبِيَاءِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبه أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ،
اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا ۖوَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Di antara bentuk penerapan dari prinsip tauhid adalah mengakui kesetaraan di antara manusia, tak hanya dari sudut ragam ras dan asal daerah tapi juga jenis kelamin: laki-laki dan perempuan. Karena yang berhak sombong, merasa lebih tinggi dari yang lain, dan disembah hanya Allah subhanahu wata‘âlâ. Dakwah pertama-tama Rasululah di Makkah banyak tercurahkan pada aspek tauhid atau akidah ini. Ia memberi fondasi bagi perilaku masyarakat Arab waktu itu yang masih diliputi budaya jahiliyah.
Selain penyembahan berhala dan maraknya perang atas dasar sentimen suku, Arab era jahiliyah dipenuhi fenomena diskriminasi dan kesewenang-wenangan, termasuk kepada kaum perempuan yang mereka anggap rendah, lemah, dan sumber rasa malu keluarga. Perempuan pun tidak hanya mendapat perlakuan buruk secara psikologis tapi juga fisik—sampai pada upaya pembunuhan.
Pada masyarakat Arab zaman pra-Islam, peristiwa wa’dul banât atau pembunuhan bayi perempuan marak. Mengubur bayi hidup-hidup menjadi pemandangan yang lumrah. Mereka memandang perempuang sebagai makhluk yang membawa aib bagi keluarga, tak bisa diandalkan dalam perang, dan sederet penghinaan lain terhadap manusia.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Dalam Surat an-Nahl ayat 58-59, Al-Qur’an memberi informasi bahwa masyarakat jahliyah ketika mendapat kabar kelahiran anak perempuan menunjukkan ketidaksenangan yang luar biasa. Wajah mereka memerah dan seolah-olah hanya dua pilihan bagi mereka: memelihara si jabang bayi dengan rasa hina atau menguburnya ke dalam tanah. 
Islam hadir dengan mengutuk praktik keji tersebut. Wahyu yang turun kepada Nabi mempertanyakan kezaliman luar biasa orang-orang Arab kala itu terhadap perempuan. Islam mengancam bahwa pelaku pembantaian atas bayi tanpa dosa itu akan dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat kelak. Kecaman ini tertuang antara lain dalam Surat Takwir ayat 8-9 yang diturunkan di Makkah (sebelum hijrah Nabi):
وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ

Artinya: “…Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Lebih dari sekadar penghapusan atas praktik pembunuhan bayi, Islam secara bertahap juga mengubah adat atau kebiasaan era jahiliyah yang merugikan kaum hawa. Seperti tradisi melarang perempuan—yang telah dicerai suaminya—untuk menikah lagi. 
وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ.

Artinya: “Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf.” (QS al-Baqarah: 232)

Begitu juga dengan tradisi poligami. Masyarakat jahiliyah yang “doyan kawin” kerap bertindak melampaui batas ketika memenuhi gairah seksualnya. Karena sikap yang selalu memposisikan perempuan sebagai objek, kaum laki-laki saat itu bisa menikah nyaris tanpa terikat norma dan jumlah tertentu.
Islam lantas hadir memberikan batasan-batasan sehingga perempuan terentas dari perlakuan buruk masyarakat yang menggenggam kuat budaya patriarki. Islam memang tidak secara revolusioner melarang sama sekali poligami yang sudah sangat mengakar dalam kebudayaan masyarakat Arab pra-Islam. Karena jika itu dilakukan mungkin akan menimbulkan gejolak. Namun, ia memberikan ketentuan jumlah maksimal empat dengan syarat-syarat yang sangat ketat, yakni adil. Sebagian ulama memaknai adil bukan sekadar pada tataran pemenuhan kebutuhan ekonomi tapi juga kebutuhan seksual yang tentu amat relatif.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Selanjutnya, banyak sekali ayat atau hadits yang menggambarkan semangat emasipasi (persamaan hak) antara laki-laki dan perempuan. Allah tak membeda-bedakan derajat hamba menurut jenis kelaminnya melainkan kadar ketakwaannya.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚإِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ.

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS al-Hujurat: 13)

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. al-Nahl: 97)

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,


Dalam konsteks tertentu, Islam mendudukkan perempuan dalam posisi istimewa, seperti melalui hadits Nabi yang berbunyi:
اَلْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ اْلأُمَّهَاتِ

Surga berada di bawah telapak kaki Ibu.” (HR Muslim)

Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan tentu saja tidak lantas membuat Islam mengingkari adanya perbedaan-perbedaan alamiah dan fisik, seperti kemampuan spesifik perempuan untuk menstruasi, mengandung, melahirkan, dan menyusui. Itu semua adalah hal yang kodrati, berbeda dari peran-peran atau kedudukannya secara sosial, semisal memasak, mencuci, mengasuh anak, dan aktivitas lain yang bisa diperankan siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan, dalam fiqih, memasak dan mencuci yang secara umum dipandang sebagai kewajiban istri ternyata menjadi tanggung jawab suami dan suami wajib menginformasikannya kepada istri.
Sulaiman Al-Jamal dalam Hasyiyatul Jamal menyatakan:
وَقَعَ السُّؤَالُ فِي الدَّرْسِ هَلْ يَجِبُ عَلَى الرَّجُلِ إِعْلَامُ زَوْجَتِهِ بِأَنَّهَا لَاتَجِبُ عَلَيْهَا خِدْمَةٌ مِمَّا جَرَتْ بِهِ العَادَةُ مِن الطَّبْخِ وَالكنس ونحوهما مماجرت به عَادَتُهُنَّ أَمْ لا وأوجبنا بأن الظاهِرَ الأول لأنها إِذَا لم تَعْلَمْ بِعَدَمِ وُجُوْبِ ذَلِكَ ظَنَّتْ أَنَّهُ وَاجِبٌ وَأَنَّهَا لَاتَسْتَحِقُّ نَفَقَةً وَلَاكِسْوَةً إِنْ لَمْ تَفْعَلْهُ فَصَارَتْ كَأَنَّهَامُكَرَّهَةٌ عَلَى الفِعْلِ…

Artinya : “Wajib atau tidakkah bagi suami memberitahu istrinya bahwa sang sitri tidak wajib membantu memasak, mencuci dan sebagainya sebagaimana yang berlaku selama ini? Jawabnya adalah wajib bagi suami memberitahukan hal tersebut, karena jika tidak diberitahu seorang istri bisa menyangka hal itu sebagai kewajiban bahkan istri akan menyangka pula bahwa dirinya tidak mendapatkan nafkah bila tidak membantu (mencuci, memasak dan lainnya). Hal ini akan manjadikan istri merasa menjadi orang yang terpaksa.”

Wallahu a’lam.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
الَلَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Sumber : Nu Online
Demikianlah penyampaian Bagaimana Islam Mengangkat Derajat Perempuan, semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua maka dari itu Jagalah Iman Dan Taqwa kita.

Baca juga artikel :
– Khutbah Jumat Waspada Bahaya Tahun Politik
– Doa Ketika Berpergian dan Doa Sampai Tempat Tujuan
– Khutbah Jumat Tentang Jagalah Iman Dan Taqwa

Khutbah 3 Cara Allah Memuliakan Bulan Syaban

Khutbah 3 Cara Allah Memuliakan Bulan SyabanPada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Bulan Sya’ban. Yang meliputi tentang 3 Cara Allah Memuliakan Bulan Sya’ban sesuai menurut Al-Qur’an, Hadist dan pendapat para ulama.


Disertai dengan bacaan khutbah pertama dan kedua dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silahkan simak ulasan Pengetahuanislam.com dibawah ini dengan seksama.

Khutbah 3 Cara Allah Memuliakan Bulan Syaban

Khutbah Pertama

الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانِ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلِ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ.
الَلَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ.

 Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah,

Secara bahasa, sya’ban berasal dari kata syi’ab yang artinya jalan di atas gunung. Makna ini selaras dengan posisi bulan Sya’ban yang menyongsong bulan Ramadhan. Hal ini merupakan kiasan bahwa bulan kedelapan dalam kalender Hijriyah tersebut merupakan momen tepat untuk menapaki jalan kebaikan secara lebih intensif, mempersiapkan diri menyambut bulan paling mulia, yakni Ramadhan.
Posisi bulan Sya’ban yang terletak di antara Rajab dan Ramadhan seringkali kurang mendapat perhatian lebih dibanding dua bulan mulia yang menghimpitnya itu. Pada Rajab, keutamaan-keutamaan seputar puasa dan amalan lainnya kerap kita dengar. Di bulan Rajab pula kita mengenang peristiwa dahsyat yang dialami Rasulullah: Isra’ Mi’raj. Bulan Ramadhan lebih hebat lagi. Orang-orang seakan-akan menjadi manusia baru, berburu fadhilah dan pahala berlipat di bulan suci ini. Tidak demikian dengan Sya’ban. Dalam hadits riwayat Abu Dawud dan Nasai, Nabi menyebut Sya’ban sebagai bulan yang biasa dilupakan umat manusia.
Dilupakan bukan berarti terhina. Ia diabaikan manusia karena manusianya sendiri yang kurang menyadari kemuliaan bulan Sya’ban, bukan akibat bulan Sya’ban itu sendiri tidak mulia. Sikap ini biasanya hanya terjadi di kalangan awam atau orang-orang yang secara ruhani belum mendekat kepada Allah. Para salafus shalih memberi perhatian lebih pada bulan ini dengan beragam kegiatan ibadah, utamanya pada momen nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban).

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah,

Bukti dari mulianya bulan Sya’ban, bisa kita lihat dari sejumlah peristiwa penting bersejarah di dalamnya. Peristiwa-peristiwa ini bisa dipandang bukan semata sebagai fakta historis tapi juga pertanda bahwa Allah memberikan perhatian spesial terhadap bulan ini. 
Pertama, pada bulan Sya’ban Allah menurunkan ayat perintah bershalawat kepada Nabi Muhammad sebagaimana yang tercantum dalam Surat al-Ahzab ayat 56:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya, “Sungguh Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Mayoritas ulama, khususnya dari kalangan mufassir, sepakat bahwa ayat ini turun di bulan Sya’ban. Secara bahasa, shalawat berakar dari kata shalât yang berarti doa. Dalam ayat tersebut ada tiga shalawat: shalawat yang disampaikan Allah, shalawat yang disampaikan malaikat, dan (perintah) shalawat yang disampaikan umat Rasulullah .
Ibnu Katsir dalam tafsirnya—mengutip pernyataan Imam Bukhari—menjelaskan bahwa “Allah bershalawat” bermakna Dia memuji Nabi, “Malaikat bershalawat” berarti mereka sedang berdoa, sementara “manusia bershalawat” selaras dengan pengertian mengharap berkah.
Ayat tersebut menjadi bukti kedudukan Rasulullah yang tinggi. Kemuliaan dan rahmat dilimpahkan langsung oleh Allah kepada beliau, malaikat-malaikat suci terlibat dalam merapalkan doa-doa, dan seluruh kaum beriman pun diperintah untuk mengucapkan shalawat kepadanya.
Wajar sekali bila Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak shalawat di bulan Sya’ban, di samping bergegas membersihkan diri atau bertobat dari kesalahan-kesalahan yang sudah lewat guna menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih.

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah,

Kedua, bulan Sya’ban merupakan saat diturunkannya kewajiban berpuasa bagi umat Islam. Imam Abu Zakariya an-Nawawi dalam al-Majmû‘ Syarah Muhadzdzab menjelaskan bahwa Rasululah menunaikan puasa Ramadhan selama sembilan tahun selama hidup, dimulai dari tahun kedua hijriyah setelah kewajiban berpuasa tersebut turun pada bulan Sya’ban.
Puasa merupakan kegiatan penting guna meredam nafsu yang sering menuntut dimanjakan. Melalui puasa, manusia ditempa secara ruhani untuk menahan berbagai godaan duniawi, bahkan untuk hal-hal yang dalam kondisi normal (tak berpuasa) halal. Menahan diri dari hal-hal halal seperti makan, minum, berhubungan dengan istri, menjadi sinyal kuat bahwa sesungguhnya ada yang lebih penting dari kenikmatan dunia yang fana ini, yakni kenikmatan Akhirat, berjumpa dengan Allah subhanahu wata’ala.
Bulan Ramadhan merupakan bulan paling mulia di antara bulan-bulan lainnya. Artinya, Sya’ban merekam sejarah penting “diresmikannya” kemuliaan Ramadhan dengan difardhukannya puasa bagi kaum mukminin selama sebulan penuh. Sya’ban menjadi tonggak menyambut bula suci sebagai anugerah besar dari Allah yang melipatgandakan pahala segala amal kebaikan di bulan Ramadhan.

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah,

Ketiga, bulan Sya’ban juga menjadi sejarah dimulainya Ka’bah menjadi kiblat umat Islam yang sebelumnya adalah Masjidil Aqsha. Peristiwa peralihan kiblat ini ditandai dengan turunnya ayat 144 dalam Surat al-Baqarah:
قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Artinya: “Sungguh Kami melihat wajahmu kerap menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.

Saat menfsirkan ayat ini, Al-Qurthubi dalam kitab Al-Jami’ li Ahkâmil Qur’an dengan mengutip pendapat Abu Hatim Al-Basti mengatakan bahwa Allah memerintahkan Rasulullah untuk mengalihkan kiblat pada malam Selasa bulan Sya’ban yang bertepatan dengan malam nisfu Sya’ban.
Kiblat menjadi simbol tauhid karena seluruh umat Islam menghadap pada satu tujuan. Beralihnya kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram juga menegaskan bahwa Allah tak terikat dengan waktu dan tempat. Hal ini ditunjukkan dengan sejarah perubahan ketetapan kiblat yang tidak mutlak dalam satu arah saja. Umat Islam tidak sedang menyembah Ka’bah ataupun Masjidil Aqsha melainkan Allah subhanahu wata’ala.
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang tidak menyia-nyiakan bulan Sya’ban, meski di tengah kesibukan duniawi yang luar biasa. Al-faqir mengajak kepada jamaah sekalian untuk menyisihkan waktu untuk meningkatkan kedekatan kita kepada Allah, melalui kontemplasi, dzikir, dan amal kebaikan, lebih-lebih di bulan mulia ini. Wallahu a’lam.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
الَلَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.
Sumber : Nu Online
Demikianlah penyampaian Khutbah 3 Cara Allah Memuliakan Bulan Syaban, semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua maka dari itu Jagalah Iman Dan Taqwa kita.

Baca juga artikel : 

Khutbah Jumat Waspada Bahaya Tahun Politik

Khutbah Jumat Waspada Bahaya Tahun Politik – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Waspada Bahaya Tahun Politik. Yang meliputi tentang waspada bahaya dalam masa-masa tahun politik sesuai menurut Al-Qur’an, Hadist dan pendapat para ulama serta bacaan khutbah pertama dan khutbah kedua dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. 



Untuk lebih detailnya silahkan simak ulasan Pengetahuanislam.com dibawah ini dengan seksama.

Khutbah Jumat Waspada Bahaya Tahun Politik



Khutbah Pertama


الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ  أَمَرَنَا بِتَرْك الْمَنَاهِيْ وَفِعْلِ الطَّاعَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبهِ الهَادِيْنَ لِلصَّوَابِ وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ اْلمَآبِ.اَمَّا بَعْدُ
فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّوَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah,

Pernahkah kita bertekad pada diri sendiri untuk menjadi warga negara yang baik? Jika belum, mari mulai hari ini kita niatkan harapan baik tersebut. Menjadi “warga negara yang baik” lebih dari sekadar menjadi “individu yang baik”. Sebab, dengan menjadi warga negara, kita sesungguhnya tak hanya sedang memikirkan kepentingan diri sendiri melainkan juga kepentingan bersama. Dari sinilah, kita beranjak dari cuma menjadi makhluk individual, menjadi makhluk sosial. 

Contoh penerapan menjadi warga negara yang baik bisa kita temui dalam kehidupan sehari-hari: di rumah, jalan raya, masjid, kantor, pasar, media sosial, dan lain sebagainya. Di jalan raya, misalnya, warga negara yang baik tidak akan menerobos lampu merah. Di dunia maya, warga negara yang baik tidak mudah mengumbar kata-kata kebencian atau kabar yang belum jelas kebenarannya. Di masjid, warga negara yang baik lebih suka membangun ukhuwah (persaudaraan) ketimbang memojokkan orang/golongan lain. Mengapa? Karena warga negara yang baik akan selalu memikirkan kepentingan yang luas daripada kepentingan diri sendiri atau kelompoknya sendiri.
Dalam kaidah fiqih disebutkan:
المتعدّى افضل من القاصر

Perbuatan yang mencakup kepentingan orang lain, lebih utama ketimbang yang terbatas untuk kepentingan sendiri.” 

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah,

Momen yang sarat dengan hiruk pikuk politik seperti sekarang ini adalah tepat bagi kita untuk menghidupkan kembali kesadaran untuk menjadi warga negara yang baik. Hal tersebut tidak lepas dari kenyataan bahwa politik kerapkali menjerumuskan sebagian orang ke dalam perbuatan tercela (akhlaq madzmûmah): permusuhan, adu domba, fitnah, dengki, riya’, risywah (suap), bohong, dan lain sebagainya.
Islam bukan agama yang anti-politik. Bahkan, karena terkait dengan persoalan kepemimpinan, politik menjadi hal yang niscaya. Imam Al-Ghazali mengaitkan pentingnya pemimpin dengan kelestarian agama sebagai berikut:
المُلْكُ وَالدِّيْنُ تَوْأَمَانِ فَالدِّيْنُ أَصْلٌ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ وَمَا لَا أَصْلَ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ 

Artinya : Kekuasaan dan agama merupakan dua saudara kembar. Agama sebagai landasan dan kekuasaan sebagai pengawalnya. Sesuatu yang tidak memiliki landasan pasti akan tumbang. Sedangkan sesuatu yang tidak memiliki pengawal akan tersia-siakan.” (Abu Hamid al-Ghazali, Ihyâ Ulumiddin, tt, Beirut: Darul Ma’rifah, Juz 1, h. 17)

Namun demikian, politik dalam Islam tak pernah menjadi tujuan akhir (ghâyah). Melainkan wasîlah, perantara menuju tercapainya tujuan sebuah negara, yakni kemaslahatan bersama. Negara tak hanya wajib memberi jaminan keamanan dan kebebasan bagi tiap orang untuk beribadah kepada Allah tapi juga mesti punya iktikad sungguh-sungguh menyejahterakan warganya serta menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Dengan bahasa lain, politik sesungguhnya merupakan sesuatu yang baik, atau paling tidak: netral. Hanya saja, ia nama baiknya sering ternoda karena tingkat sebagian elite politik yang tak mengindahkan etika yang digariskan syariat. Dari sinilah, bencana moral lantas meluas ke masyarakat akibat provokasi, mobilisasi, dan politisasi setiap lini oleh kalangan politisi. Masyarakat pun kerap tergiring ke arah tindakan-tindakan yang tak selaras dengan nilai-nilai Islam.

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah,

Dalam konteks ini, paling tidak ada tiga bahaya yang perlu diwaspadai saat musim pemilihan umum atau pergantian kekuasaan datang. Pertama, mengorbankan kepentingan bersama untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok secara terbatas.
Fanatisme dukungan yang diberikan kepada calon tertentu acapkali menyeret seseorang hanya berpikir pada lingkup yang sangat sempit. Pembelaan dilakukan secara mati-matian kepada calon yang didukung, sementara di sisi lain permusuhan dialamatkan secara berlebihan kepada lawan politiknya. Situasi inilah yang kadang membuat orang gelap mata untuk melakukan serangan-serangan secara verbal, baik di media sosial ataupun kehidupan sehari-hari, tak hanya kepada sang calon pemimpin tapi juga para pendukungnya. Caci maki, saling hujat, serta kata-kata kotor bertebaran di mana-mana, tanpa ingat bahwa sebelum terlibat dalam politik dukung-mendukung, mereka lebih dulu adalah saudara dalam satu rumah bernama “Indonesia”.
Fanatisme dukungan yang berlebihan membuat banyak orang lupa bahwa masing-masing mereka sedang mengorbankan persatuan dan perdamaian, untuk tujuan jangka pendek politik. Akhlak Islam yang amat menjunjung tinggi persatuan dan perdamaian pun ditinggalkan, demi pilihan politik yang bisa jadi benar bisa jadi salah. Padahal, kerukunan adalah kepentingan bersama, sementara urusan dukung-mendukung adalah soal aspirasi pribadi atau kelompok. Jangan sampai kita terperdaya, sehingga yang terakhir ini lebih prioritas dibanding yang pertama.

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah,


Bahaya kedua adalah bersikap tidak adil (objektif) kepada orang lain karena diliputi rasa benci. Kondisi ini lazimnya bermula dari tumbuhnya kebencian berlebihan kepada sesama. Penyakit hati satu ini merupakan dampak dari persepsi negatif kepada seseorang yang terus menumpuk. Opini buruk tentang seorang calon pemimpin yang diterima terus-menerus tanpa klarifikasi, bisa mengubah orang yang semula biasa-biasa saja menjadi amat membenci si calon tersebut. Kebencian yang terus dipupuk akan meningkat statusnya kepada permusuhan. Dimulai dari membenci, kemudian memusuhi. Calon pemimpin yang tak disukai dilihat dalam citra yang selalu negatif. Sebaliknya, calon pemimpin yang didukung dielu-elukan, nyaris tanpa kritik sama sekali.
Situasi semakin parah ketika kebencian meningkat levelnya dari membenci individu kepada membenci kelompok, dari membenci seorang calon pempin kepada membenci semua orang yang mendukungnya. Gontok-gontokkan pun menjadi kian ramai. Masing-masing pendukung menunggu atau mencari-cari kesalahan lawan politik untuk kemudian diserang habis-habisan, sementara kelemahan sang idola tak pernah disinggung—bahkan dicitrakan seolah-olah baik seratus persen.

Padahal, dalam Islam, tak ada manusia yang selalu jahat dan salah seperti setan, sebagaimana tak ada pula manusia yang selalu baik dan benar selayak malaikat. Sebagai manusia, politisi adalah orang-orang yang berpotensi keliru. Bahkan, untuk calon dengan gagasan cemerlang pun, tak ada jaminan pasti bahwa ia selalu mulus dalam melaksanakan program-programnya kelak. Mempunyai pilihan politik berdasarkan kriteria ideal adalah hak dan harus, tapi memutlakkan manusia-manusia politik itu sebagai “setan” yang mesti dibenci setengah mati adalah tak masuk di akal. 

Rasulullah bersabda:

أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا

Artinya : Cintailah idolamu sewajarnya, karena boleh jadi suatu hari ia akan menjadi orang yang engkau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sewajarnya, boleh jadi kelak ia akan menjadi orang yang engkau cintai.” (HR Tirmidzi)

Hadits tersebut memberi pesan bahwa kondisi manusia sejatinya sangat dinamis. Karena itu kita diperintahkan untuk berlaku sedang-sedang saja. Pilihan dukungan ditetapkan dengan kepala jernih, dan energi yang dikerahkan untuk mendukung pun mesti dilaksanakan dengan bijaksana. Dengan sikap politik yang proporsional seperti ini, kita bisa lebih tenang menghadapi persaingan politik, termasuk dengan saudara-sadara kita yang berpeda pilihan.

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah,

Firman Allah yang penting kita renungkan bersama dalam hal ini adalah ayat 8 Surat al-Maidah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Maa’idah: 8)

Kitab Tafsîr Jalâlain menjelaskan bahwa kata “kaum” dalam ayat tersebut adalah mengacu pada orang-orang kafir. Artinya, ayat tersebut melarang kaum mukmin gelap mata akibat kebencian sehingga berlaku tidak adil kepada kaum kafir. Secara sederhana bisa dianalogikan bahwa bila kepada orang kafir saja, Islam memerintahkan kita berbuat adil, apalagi kepada sesama umat Islam, dan apalagi sesama anak bangsa. Wallahu a’lam.

Khutbah Kedua


اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
الَلَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
الَلَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْن وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.
Sumber : Nu Online

Demikianlah penyampaian Khutbah Jumat Waspada Bahaya Tahun Politik, semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua maka dari itu Jagalah Iman Dan Taqwa kita.

Khutbah Jumat Tentang Jagalah Iman Dan Taqwa

Khutbah Jumat Tentang Jagalah Iman Dan Taqwa – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan Tentang Jagalah Iman Dan Taqwa. Yang meliputi tentang menjaga iman dan takwa sesuai menurut Al-Qur’an, Hadist dan pendapat para ulama serta bacaan khutbah pertama dan kedua dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silahkan simak ulasan Pengetahuanislam.com dibawah ini dengan seksama.

Khutbah Jumat Tentang Jagalah Iman Dan Taqwa

Khutbah Pertama

الحمد لله الخالقِ المعبودِ الرازقِ المعبودِ المحيدِ للخقوقِ والمحدودِ . احمده على نِعَمِهِ التي لا يَسْتَوْعِبُهَا الأَعْدَادُ ولا يَنْهَضُ بالشكر العباد. اشهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المبعوث إلى جميع المخلوق . اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وعلى أله وصحبه . صلاةً لاغايةَ لإمْدَاد ولامنتهى, أما بعده فيا أيها الناس إتقوى الله حق تقاته وذروا الفواحش ما ظهر وما بطن.

Maasiral Muslimin Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Sudah menjadi kewajiban kita masing-masing bertaqwa kepada Allah SWT. dan senantiasa meningkatkan dan menjaga nilai-nilai ketaqwaan itu semampu kita. Bahkan kita harus berjuang agar semua amal perbuatan bisa terkontrol oleh nilai ketaqwaan yang ada dalam diri kita. Dan tidak menyimpang dari nilai-nilai agama dan tuntunan syariat. Kita juga wajib berharap kepada Allah, memohon dan berdoa kepada-Nya agar perjalanan hidup kita ini selalu mendapatkan rahmat dan ridlo-Nya sehingga dapat tercapai tujuan hidup tentram, selamat di dunia dan di akhirat. 
Tentu hal tersebut harus disertai dengan amal yang salih. Amal yang sesuai dengan ilmunya. Sebab, harapan-harapan kita, sebesar apapun apabila tidak disertai dengan amal maka itulah sebuah angan-angan belaka dan tidak membekaskan suatu hasil apapun. Sedangkan yang dituntut dari orang yang arif bi Allah adalah dapat menjadi benar dalam menghambakan dirinya kepada Allah dan dapat mendirikan segala hak-hak ketuhanan.

Dalam kitab al-Hikam Al Atha menerangkan,

مَتَى رَزَقَكَ الطَّاعَةَ وَالْغِنَى بِهِ عَنْهَا، فَاعْلَمْ أَنَّهُ قَدْ أَسْبَغَ عَلَيْكَ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

“Apabila Allah telah merizkikan kepadamu ketaatan di dalam melaksanakan segala perintah-Nya dan merasa kaya dengannya. Yakni sudah merasa cukup, dengan ketaqwaan itu dan tidak memerlukan apa-apa selainnya. Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah telah mengaruniakan nikmat-Nya secara dhohir dan batin.”

Maasiral Muslimin Rahimakumullah 

Berkaitan dengan janji Allah atas ketaqwaan dan keimanan seseorang, sekaligus ancaman dan kutukan Allah terhadap penyimpangan-penyimpangan dan berpaling dari jalan-Nya. Sesungguhnya Al Quran telah banyak menjelaskan dan menerangkan banyak petunjuk kepada kita dalam perumpamaan yang ada di dalam kehidupan umat-umat sebelum nabi Muhammad.
Memang ada beberapa ayat yang senada dan alurnya sama. Yang mengandung arti penekanan-penekanan yang sama. Di antaranya, firman Allah swt. dalam surah al-A’raf ayat 96:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya : “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Dalam surah lain, surah al-Maidah

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَكَفَّرْنَا عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأَدْخَلْنَاهُمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ

Artinya : “Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertaqwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan.”

Ayat yang senada dalam surah al-Baqarah 103

وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ خَيْرٌ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Artinya : “Sesungguhnya kalau mereka (ahli kitab) mau beriman dan bertaqwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan Sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.”

Maasiral Muslimin Rahimakumullah 

Ketiga ayat di atas, terkait dengan kutukan Allah SWT terkait dengan berbagai macam penyimpangan dan pendustaan terhadap nilai keimanan dan ketaqwaan. Allah SWT Yang Maha Suci dengan segala Kebesaran-Nya, walaupun betapa besar dosa penyimpangan itu. Tetapi Allah SWT masih memberi kesempatan pengampunan bagi orang-orang yang mau bertaubat dan menjalan ibadah keimanan ini dengan benar. 
Maasiral Muslimin Rahimakumullah 
Yang terakhir, dalam rangkaian ayat yang telah kami baca tadi perlu diperhatikan. Ada dua kalimat yang senada. Dalam ketiga ayat itu ada kalimat wa amanu wa ittaqau. Susunan sama, bentuk sama, dan ada penambahan tauqid dalam musnad dan juga tauqid dalam musnad ilaih. Sehingga mempunyai penegesan bahwa keimanan dan ketaqwaan tergantung pada hamba yang melaksanakan, dan balasannya akan dirasakan sendiri baik di dunia maupun di akhirat nanti.
Ini artinya bahwa keimanan dan ketaqwaan ini harus menyatu. Ketaqwaan seseorang baru akan dicatat oleh Allah manakala ketaqwaan itu didasari oleh keimanan yang mantap dalam hati. Mengapa? Karena keimanan itu adalah pekerjaan hati sebagai simbol dia percaya dan tunduk dalam segala aturan agama. Sedangkan taqwa adalah bentuk bukti dari amal perbuatan yang menunjukkan keimanan tersebut melalui amaliah ibadah sehari-hari. 
Apabila kedua hal ini ada pada seseorang dan ia mau melaksanakan dengan penuh kesadaran maka sesungguhnya ia berhak mendapatkan janji-janji Allah SWT. Semoga kita dijadikan oleh Allah sebagai hamba-hamba yang mampu melakukan taat dengan sebenar-benarnya dan menjauhi hal-hal yang menjauhkan kita dari jalan Allah SWT.

جعلنا الله وإياكم من الفائزين الأمنين. والله يقول وبقوله يهتد المهتد ون . أعود بالله من الشيطان الجيم . بسم الله الرحمن الرحيم . من عمل صالحا فلنفسه ومن اساء فعليها وما ربك بظلام للعبيج . بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ مِنَ اْلأٓيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُوْا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Ke : II

الحَمْدُ ِللهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتِ , وَأَشْهَدُ أَنْ لا إِلهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ , اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ اتَّقُوْا اللهَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.قَالَ اللهُ تَعَالَى : إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَااَّلذِيْنَ آمَنُوْ ا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وعلى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَقَاضِيْ الحَاجَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ , اللّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لايَخَافُكَ وَلا يَرْحَمُنَا , اللّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ اللّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ الَّذِيْنَ يُجَاهِدُوْنَ فِي سَبِيْلِكَ فِي كُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ , اللّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِأَعْدَائِنَا وَنَعُوْذُبِكَ مِنْ شُرُوْرِهِمْ, اللّهُمَّ بَدِّدْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَشَتِّتْ كَلِمَتَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَقِلَّ عَدَدَهُمْ وَسِلاَحَهُمْ وَسَلِّطْ عَلَيْهِمْ كَلْبًا مِنْ كِلاِبكَ يَاقَهَّارُ يَاجَبَّارُ يَامُنْتَقِمُ, اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ دِيْنَكَ , اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِّلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُؤْمِنِيْنَ اللَّهُمَّ إِنِّا نَعُوذُبِكَ مِنَ الْبَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّءِ الْأَسْقَامِ تَحَصَّنَّا بِذِى الْعِزَّةِ وَالْجَبَرُوْتِ وَاعَتَصَمْنَا بِرَبِّ الْمَلَكُوْتِ وَتَوَكَّلْنَا عَلَى الْحَيِّ الَّذِى لاَ يَمُوْتُ اللَّهُمَّ اصْرِفْ عَنَّا هَذا الْوَبَاءَ وَقِنَا شَرَّ الرَّدَى وَنَجِّنَا مِنَ الطَّعْنِ والطَّاعُوْنِ وَالْبَلاَءِ بِلُطْفِكَ يَا لَطِيفُ يَا خَبِيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ رَبَّنَا لَاتُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّاب رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإ حْسَانِ وَاِيْتَآءِ ذِيْ القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكَمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Demikianlah penyampaian Khutbah Jumat Tentang Jagalah Iman Dan Taqwa, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua maka dari itu Jagalah Iman Dan Taqwa kita.

Khutbah Jumat Tentang Iman dan Amal Shaleh

Khutbah Jumat Tentang Iman dan Amal Shaleh – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan Tentang Iman dan Amal Sholeh. Yang meliputi tentang iman dan amal sholeh menurut Al-Qur’an dan Hadist serta bacaan khutbah pertama dan kedua dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silahkan simak ulasan Pengetahuanislam.com dibawah ini dengan seksama.

Khutbah Jumat Tentang Iman dan Amal Shaleh

Khutbah Pertama : I

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِى رَفَعَ عِبَادَهُ بِالْعُلُوْمِ الشَّرْعِيَّةِ. اَشْهَدُاَنْ لاَاِلهَ اِلاَّاللهُ وَحْـدَهُ لاَشَـرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَـدُاَنَّ سَيِّـدَنَامُحَمَّدًاعَبْـدُهُ وَرَسُـوْلُهُ وَصَفِـيُّهُ وَخَلِيْـلُهُ صَاحِبُ لِوَاءِالْحَمْدِ يَـوْمَ اْلقِيَامَةِ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّـمْ عَلىَ سَـيِّـدِنَا مُحَمَّدٍسَـيِّـدِاْلاُمَّــةِ وَعَلى آلِـهِ وَاَصْحَابِه ذَوِى الْـهِـمَّةِ الْعَلِيَّـةِ. وَسَلِّمْ تَسْلِيْـمًاكَثِـيْرًا اَمَّابَعْدُ : فَيَاعِبَادَلله !! اُوْصِيْكُمْ وَنَـفْسِى بِتَـقْوَى اللهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَـمُوْنَ . وَقَـدْقَالَ تَـعَالىَ فِى اْلقُرْآنِ الْكَرِيـْمِ . اَعُـوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِـيْــمِ. بِـسْــمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّ حِيْــمِ. يَااَيـُّهَاالَّذِ يْنَ آمَـنُواتَّـقُـوااللهَ وَالْتَـنْـظُرْنـَفْسٌ مَاقَـدَّمَتْ لِغَدْ وَالتَّـقُوااللهَ اِنَّ اللهَ خَبِـيْرٌبِمَاتَعْمَلُوْنَ


Hadirin jamaah jum’ah rahimakumullah,.. Marilah bersama-sama kita meningkatkan taqwa kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dengan cara menjalankan semua perintah-perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, sehingga kita semua menjadi orang yang beruntung. Dan marilah kita hiasi hidup kita ini dengan amal-amal shaleh, hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala. Orang yang beriman dan beramal shaleh dengan ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan ampunan serta pahala yang besar. Sebagaimana firman Allah di dalam al Quranul Karim:

اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . وَعَدَالله الَّذِيـْنَ آمَنُوْاوَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُـمْ مَغْفِرَةً وَاَجْرًاعَظِـيْمًا

Artinya : “Allah telah menjanjikan orang-orang dari antara mereka yang beriman dan beramal shaleh ampunan dan ganjaran yang besar.” (QS. Al Fath ayat 29)

Demikian pula orang yang beriman dan beramal shaleh telah ditetapkan oleh Allah sebagai makhluk yang baik, sebagaimana firman-Nya :

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Q.S. Al Bayyinah ayat 7).

Dalam ayat Al Qur’an yang mendekatkan kata-kata iman dengan kata amal shaleh, sering dijumpai. penggabungan kosa kata iman dan kata amal shaleh sudah pasti mengandung pengertian yang amat dalam. Bahwa iman tidak dapat dipisahkan dari perilaku amal shaleh. Orang-orang yang sungguh beriman akan selalu mengerjakan amal shaleh, dan selanjutnya amal shaleh akan lahir dengan mudah karena adanya iman. Hadirin sidang jum’ah rahimakumullah,… Mengenai pentingnya iman ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمْ: اَفْـضَلُ الاِيـْمَانِ اَنْ تَعْلَـمَ اَنَّ اللهَ مَعَـكَ حَيْـثُ مَا كُـنْـتَ

Artinya : “Iman yang paling utama, yaitu engkau mengerti/merasa bahwasanya Allah senantiasa menyertaimu kapan dan dimana saja engkau berada.”

Jelaslah disini bahwa orang-orang yang beriman masing-masing merasa diawasi oleh Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga berhati – hati dalam hidupnya dan akan merasa ringan untuk beramal shaleh dengan tulus ikhlas semata-mata karena Allah subhanahu wa ta’ala. Amal shaleh terdiri dua kata yaitu amal dan shaleh.

Rangkaian kata ini sering kita temui dalam berbagai literatur yang berkaitan dengan agama. Pengertian amal itu sendiri adalah penggunaan segala daya untuk menghasilkan sesuatu. Sedangkan kata shaleh bermakna segala sesuatu yang bersifat baik, menguntungkan dan berguna. Sehingga kalau kita sambungkan kata amal dan shaleh maka ia akan bermakna kurang lebih adalah penggunaan segala daya yaitu daya jasadi, daya fikir, daya ruhiy serta daya nafsu untuk menghasilkan sesuatu yang sifatnya baik, menguntungkan dan berguna.

Dalam Al Qur’an banyak kita temui contoh-contoh amal shaleh yaitu shalat, puasa, zakat, haji, berjihad dan masih banyak yang lainnya. Amal shaleh yang amat disukai Allah subhanahu wa ta’ala adalah dengan mendahulukan amal-amal yang telah diwajibkan kepada manusia untuk dilaksanakan misalnya shalat lima waktu, puasa ramadhan, zakal maal apabila sudah nishabnya dan haji apabila telah mampu.

Kemudian memperbanyak perkara-perkara yang disunnatkan seperti shalat sunnat, puasa sunnat, sedekah, umrah, berdzikir, membaca shalawat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan amal kebaikan lainnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman yang mafhumnya : “Tiada seorang hamba yang ber-taqarrub [mendekatkan diri] kepada-KU seperti dia menunaikan segala ke-fardhu-an-Ku ke atas dirinya.

Dan sesungguhnya dia akan mendekatkan diri kepada-Ku dengan memperbanyak nawafil (sunnah) sehingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku sudah mencintainya jadilah Aku umpama kaki yang ia berjalan dengannya dan tangan yang ia memukul dengannya dan lidah yang ia berucap dengannya dan hati yang ia berfikir dengannya. Dan apabila ia memohon-Ku niscaya Aku akan memberinya dan apabila dia berdoa kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya”. (HR. Ibnu Sunni) Selanjutnya amal shaleh yang disukai Allah setelah amal-amal yang wajib adalah amal yang bisa dirasakan manfaatnya bagi hambaNya yang lain.

Dengan kata lain Allah juga menghendaki hambaNya memiliki keshalehan sosial yang lazim pula disebut social responsibility. Hal ini bisa kita lihat dalam banyak ayat dalam Al Qur’an yang menyambungkan perintah shalat dan perintah zakat yang zakat itu sendiri adalah ibadah yang bersifat sosial. Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi hambaNya yang rela menafkahkan harta yang dimilikinya dijalan Allah Hadirin sidang jum’ah rahimakumullah,.. Kehidupan dunia ini oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, telah ditamsilkan sebagaimana sebidang perkebunan yang di dalamnya dihiasi dengan lima hiasan yang menarik sekali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

اَلدُّنْـيَـا بُـسْـتَانٌ تَـزَيـَّنَـتْ بِخَمْـسَـةِ اَشْـيَاءَ: عِلْمُ الْعُـلَمَاءِ. وَعَدْلُ اْلاُمَرَاءِ. وَعِـبَادَةُ اْلعُـبَّادِ. وَاَمَانَـةُالتُّـجَّارِ. وَنَصِـيْحَةُ الْمُحْتَرِفِـيْـنَ 

Dunia ini ibarat suatu kebun yang dihiasi dengan lima macam hiasan, yaitu;
1. Ilmunya para ulama,
2. Keadilan orang-orang yang memegang kekuasaan,
3. Ketertiban ibadahnya hamba Allah yang beribadah,
4. Kejujuran para pedagang,
5. Kedisiplinan para karyawan. Selanjutnya gambaran itu oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam disambung dengan sabdanya:

فَجَاءَاِبْلِـيْـسٌ بِخَمْسَـةِ اَعْلاَمٍ

وَاَقَامَـهَابِجَـنْبِ هَـذِهِ اْلخَمْسِ فَجَاءَ بِالْحَـسَـدِ فَـرَكَـزَهُ بِـجَـنْبِ الْعِلْمِ. وَجَاءَبِالْـجُوْرِفَـرَكَزَهُ بِـجَنْبِ الْعَدْلِ. وَجَاءَ بِالرِّيَاءِ فَـرَكَزَهُ بِجَنْبِ الْعِبَادَةِ. وَجَاءَ بِالْخِيَانَـةِ فَرَكَـزَهُ بِجَنْبِ اْلاَمَانـَةِ. وَجَاءَبِالْغَشِّ فَرَكَزَهُ بِجَنْبِ النَّصِيْحَـةِ

Artinya : “Maka datanglah iblis dengan lima bendera pula, lalu ditengahnya disamping yang lima tadi, datanglah ia (iblis) dengan membawa bendera kedengkian dan ditancapkan disisi ilmunya ulama, dan datanglah iblis dengan membawa bendera kezaliman yang dikibarkan disisi keadilan para penguasa, dan datanglah iblis dengan membawa bendera riya’ yang dikibarkan disamping orang yang beribadah, dan datanglah iblis dengan membawa bendera khianat yang ditancapkan dicelah-celah kejujuran para pedagang, dan datanglah iblis dengan membawa bendera ingkar yang dipasang di sisi disiplinnya para karyawan.”

Hadirin sidang jum’ah rahimakumullah,.. Dari apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, maka kita harus berhati-hati dalam mengarungi hidup ini, agar tidak terjerumus ke dalam perangkap iblis. Dan marilah kita hiasi hidup kita ini dengan amal – amal shaleh yang membawa pada keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga kita semua bisa selamat dan berbahagia fiddun-ya wal akhirah. Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin,.. Oleh karena itu, marilah kita selalu ingat pada peringatan Allah subhanahu wa ta’ala:

قَالَ اللهُ تَعَالىَ: اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجَيْـمِ بِسْـمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. يَااَيـُّهَاالَّذِيـْنَ آمَنُواتَّـقُـوااللهَ وَالْتَـنْظُـرْنَفْسٌ مَاقَدَّمَتْ لِغَدْ وَاتَّـقُوااللهَ اِنَّ اللهَ خَبِيْرٌبِمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) , dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr ayat 18)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa membimbing kita semua kepada hidayah-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْـــمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بمَافِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلْ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْــمُ 

Khutbah Ke : II

الحَمْدُ ِللهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتِ , وَأَشْهَدُ أَنْ لا إِلهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ , اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ اتَّقُوْا اللهَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.قَالَ اللهُ تَعَالَى : إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَااَّلذِيْنَ آمَنُوْ ا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وعلى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَقَاضِيْ الحَاجَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ , اللّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لايَخَافُكَ وَلا يَرْحَمُنَا , اللّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ اللّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ الَّذِيْنَ يُجَاهِدُوْنَ فِي سَبِيْلِكَ فِي كُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ , اللّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِأَعْدَائِنَا وَنَعُوْذُبِكَ مِنْ شُرُوْرِهِمْ, اللّهُمَّ بَدِّدْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَشَتِّتْ كَلِمَتَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَقِلَّ عَدَدَهُمْ وَسِلاَحَهُمْ وَسَلِّطْ عَلَيْهِمْ كَلْبًا مِنْ كِلاِبكَ يَاقَهَّارُ يَاجَبَّارُ يَامُنْتَقِمُ, اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ دِيْنَكَ , اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِّلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُؤْمِنِيْنَ اللَّهُمَّ إِنِّا نَعُوذُبِكَ مِنَ الْبَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّءِ الْأَسْقَامِ تَحَصَّنَّا بِذِى الْعِزَّةِ وَالْجَبَرُوْتِ وَاعَتَصَمْنَا بِرَبِّ الْمَلَكُوْتِ وَتَوَكَّلْنَا عَلَى الْحَيِّ الَّذِى لاَ يَمُوْتُ اللَّهُمَّ اصْرِفْ عَنَّا هَذا الْوَبَاءَ وَقِنَا شَرَّ الرَّدَى وَنَجِّنَا مِنَ الطَّعْنِ والطَّاعُوْنِ وَالْبَلاَءِ بِلُطْفِكَ يَا لَطِيفُ يَا خَبِيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ رَبَّنَا لَاتُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّاب رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإ حْسَانِ وَاِيْتَآءِ ذِيْ القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكَمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Itulah tadi Khutbah Jumat Tentang Iman dan Amal Shaleh, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Amiin.

Khutbah Hari Raya Idul Fitri Lengkap Dengan Doa

Khutbah Hari Raya Idul Fitri Lengkap Dengan Doa – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan Khutbah Idul Fitri. Yang meliputi bacaan khutbah awal, isi khutbah idul fitri dan bacaan khutbah kedua dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silahkan simak ulasan Pengetahuanislam.com dibawah ini dengan seksama.

Bacaan Khutbah Pertama


اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا ِلإِتْمَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَعَانَناَ عَلىَ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَجَعَلَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ للِنَّاسِ. نَحْمَدُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَهِدَايَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُسُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ شَهْرُ رَمَضانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّناتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Isi khutbah idul fitri

Allahu Akbar, wa lillahilh hamd,

Lebaran atau bisa juga disebut momen Idul Fitri hampir selalu diwarnai dengan penuh kegembiraan seluruh umat Islam di berbagai penjuru. Gema takbir yang dikumandangkan di malam harinya, kadang disertai berbagai aksi pawai. Pada pagi harinya umat muslim dari mereka mengenakan pakaian serba baru, makan-makanan khas dan istimewa, serta bersiap bepergian untuk silaturahim ke sanak kerabat hingga berkunjung ke beberapa wahana liburan yang menarik.

Umat Islam merayakan sebuah momen yang mereka sebut-sebut sebagai “hari kemenangan”. Tapi kemenangan atas apa?

Jamaah shalat Idul Fitri hafidhakumullah,

Idul Fitri tiba, ketika umat Islam menjalankan ibadah wajib puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Sepanjang dalam bulan suci tersebut, mereka menahan lapar, haus, hubungan seks, dan hal-hal lain yang bisa membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam. Secara bahasa, shaum (puasa) memang bersinonim dengan imsâk yang artinya menahan. Ramadhan merupakan arena kita berlatih menahan diri dari segala macam godaan material yang bisa membuat kita lupa diri.

Proses latihan tersebut diwujudkan dalam bentuk larangan terhadap hal-hal yang sebelumnya halal, seperti makan dan minum. Inilah proses penempaan diri, bila manusia menahan diri dari yang halal-halal saja mampu, apalagi menahan diri dari yang haram-haram. Puasa itu ibarat pekan ujian nasional bagi siswa sekolah. Selama seminggu itu para murid digembleng atau diuji untuk belajar lebih serius, mengurangi jam bermain, dan menghindari hal-hal lain yang bisa mengganggu hasil ujian tersebut.

Ramadhan tentu lebih dari sekadar latihan. Ia wahana penempaan diri sekaligus saat-saat dilimpahkannya rahmat (rahmah), ampunan (maghfirah), dan pembebasan dari api neraka (itqun minan nâr). Aktivitas ibadah sunnah diganjar senilai ibadah wajib, sementara ibadah wajib membuahkan pahala berlipat-lipat.

Selayak siswa sekolah yang mendapatkan rapor selepas melewati masa-masa krusial ujian, demikian pula orang-orang yang berpuasa. Setelah melewati momen-momen penting sebulan penuh, umat Islam pun berhak mendapatkan hasilnya. Apa hasil itu? Jawabannya tak lain adalah predikat “takwa”, sebagaimana terdapat di al-Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Takwa merupakan standar paling tinggi tingkat kemuliaan manusia. Seberapa tinggi derajat mulia manusia tergantung pada seberapa tinggi takwanya. Inna akramakum ‘indallâhi atqâkum. Dalam konteks puasa Ramadhan, tentu takwa tak bisa digapai dengan sebatas menahan lapar dan dahaga. Ada yang lebih substansial yang perlu ditahan, yakni tergantungnya manusia kepada hal-hal selain Allah, termasuk hawa nafsu.

Orang yang berpuasa dengan sungguh-sungguh akan mencegah dirinya dari segala macam perbuatan tercela semacam mengubar syahwat, berbohong, bergunjing, merendahkan orang lain, riya’, menyakiti pihak lain, dan lain sebagainya. Tanpa itu, puasa kita mungkin sah secara fiqih, tapi belum tentu berharga di mata Allah subhanahu wata’ala.

Rasulullah sendiri pernah bersabda:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Artinya: 
“Banyak orang yang berpuasa, namun ia tak mendapatkan apa pun dari puasanya selain rasa lapar saja.” (HR Imam Ahmad)

Jamaah shalat Idul Fitri hafidhakumullah,
Karena puasa sudah kita lewati dan tak ada jaminan kita bakal bertemu Ramadhan lagi, pertanyaan yang lebih relevan bukan saja “kemenangan atas apa yang sedang kita Idul Fitri?” tapi juga “apa tanda-tanda kita telah mencapai kemenangan?”. Jangan-jangan kita seperti yang disabdakan Nabi, termasuk golongan yang sekadar mendapatkan lapar dan dahaga, tanpa pahala?

Jika standar pencapaian tertinggi puasa adalah takwa, maka tanda-tanda bahwa kita sukses melewati Ramadhan pun tak lepas dari ciri-ciri orang muttaqîn (orang-orang yang bertakwa). Semakin tinggi kualitas takwa kita, indikasi semakin tinggi pula kesuksesan kita berpuasa. Demikian juga sebaliknya, semakin hilang kualitas takwa dalam diri kita, pertanda semakin gagal kita sepanjang Ramadhan.

Lantas, apa saja ciri-ciri orang bertakwa? Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan ciri-ciri orang takwa. Salah satu ayatnya terdapat dalam Surat Ali Imran:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَـــافِينَ عَنِ النَّــاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُـحْسِنِــينَ

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) pada saat sarrâ’ (senang) dan pada saat dlarrâ’ (susah), dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran: 134)

Jamaah shalat Idul Fitri hafidhakumullah,

Ayat tersebut memaparkan tiga sifat yang menjadi ciri orang bertakwa. 

Pertama, gemar menyedekahkan sebagian hartanya dalam kondisi senang ataupun sulit. Orang bertakwa tidak akan sibuk hanya memikirkan diri sendiri. Ia mesti berjiwa sosial, menaruh empati kepada sesama, serta rela berkorban untuk orang lain dalam setiap keadaan. Bahkan, ia tidak hanya suka memberi kepada orang yang dicintainya, tapi juga kepada orang-orang yang memang membutuhkan.

Dalam konteks Ramadhan dan Idul Fitri, sifat takwa pertama ini sebenarnya sudah mulai didorong oleh Islam melalui ajaran zakat fitrah. Zakat fitrah merupakan simbol bahwa “rapor kelulusan” puasa harus ditandai dengan mengorbankan sebagian kekayaan kita dan menaruh kepedulian kepada mereka yang lemah. Ayat tersebut menggunakan fi’il mudhari’ yunfiqûna yang bermakna aktivitas itu berlangsung konstan/terus-menerus. Dari sini, dapat dipahami bahwa zakat fitrah hanyalah awal atau “pancingan” bagi segenap kepedulian sosial tanpa henti pada bulan-bulan berikutnya.

Ciri kedua orang bertakwa adalah mampu menahan amarah. Marah merupakan gejala manusiawi. Tapi orang-orang yang bertakwa tidak akan mengumbar marah begitu saja. Al-kâdhim (orang yang menahan) serumpun kata dengan al-kadhîmah (termos). Kedua-duanya mempunyai fungsi membendung: yang pertama membendung amarah, yang kedua membendung air panas.

Selayak termos, orang bertakwa semestinya mampu menyembunyikan panas di dadanya sehingg orang-orang di sekitarnya tidak tahu bahwa ia sedang marah. Bisa jadi ia tetap marah, namun ketakwaan mencegahnya melampiaskan itu karena tahu mudarat yang bakal ditimbulkan. Termos hanya menuangkan air panas pada saat yang jelas maslahatnya dan betul-betul dibutuhkan.

Patutlah pada kesempatan lebaran ini, umat Islam mengontrol emosinya sebaik mungkin. Mencegah amarah menguasai dirinya, dan bersikap kepada orang-orang pernah membuatnya marah secara wajar dan biasa-biasa saja. Ramadhan semestinya telah melatih orang untuk berlapang dada, bijak sana, dan tetap sejuk menghadapi situasi sepanas apa pun.

Ciri ketiga orang bertakwa adalah memaafkan kesalahan orang lain. Sepanjang Ramadhan, umat Islam paling dianjurkan memperbanyak permohonan maaf kepada Allah dengan membaca:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku.”

Kata ‘afw (maaf) diulang tiga kali dalam kalimat tersebut, menunjukkan bahwa manusia memohon dengan sangat serius ampunan dari Allah SWT. Memohon ampun merupakan bukti kerendahan diri di hadapan-Nya sebagai hamba yang banyak kesalahan dan tak suci.

Cara ini, bila dipraktikkan dengan penuh pengahayatan, sebenarnya melatih orang selama Ramadhan tentang pentingnya maaf. Bila diri kita sendiri saja tak mungkin suci dari kesalahan, alasan apa yang kita tidak mau memaafkan kesalahan orang lain? Maaf merupakan sesuatu yang singkat namun bisa terasa sangat berat karena persoalan ego, gengsi, dan unsur-unsur nafsu lainnya.

Amatlah arif ulama-ulama di Tanah Air yang menciptakan tradisi bersilaturahim dan saling memaafkan di momen lebaran. Sempurnalah, ketika kita usai membersihkan diri dari kesalahan-kesalahan kepada Allah, selanjutnya kita saling memaafkan kesalahan masing-masing di antara manusia.

Sudah berapa kali puasa kita lewati sepanjang kita hidup? Sudahkah ciri-ciri sukses Ramadhan tersebut melekat dalam diri kita? Wallahu a’lam bish shawab.

عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فِي هذَا الْعِيْدِ السَّعِيْدِ، وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ، فَمَنْ أَطَاعَهُ فََهُوَ سَعِيْدٌ وَمَنْ أَعْرَضَ وَتَوَلَّى عَنْهُ فَهُوَ فِي الضَّلاَلِ الْبَعِيْدِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَآئِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Bacaan Khutbah Kedua

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ . اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ، أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ . اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ . فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوا اللهَ مَااسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون . وَقَالَ أَيْضًا: إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللّهُمَّ ارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، اللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلاً وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَتَوْبَةً نَصُوْحًا. اللّهُمَّ أَصْلِحِ الرَّعِيَّةَ وَاجْعَلْ إِنْدُوْنِيْسِيَّا وَدِيَارَ الْمُسْلِمِيْنَ آمِنَةً رَخِيَّةً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ , إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Itulah Khutbah Hari Raya Idul Fitri Lengkap Dengan Doa, doa ini alangkah baiknya di hafalkan. semoga doa diatas bisa bermanfaat terutama bagi yang belum hafal.