√ Peran Penting Ulama Untuk Kemandirian Bangsa

Peran Penting Ulama Untuk Kemandirian Bangsa

Peran Penting Ulama Untuk Kemandirian Bangsa – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan Peran Penting Ulama. Yang meliputi peran penting ulama uantuk kemandirian bangsa serta bacaan khutbah pertama dan kedua dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silahkan simak artikel Pengetahuanislam.com dibawah ini dengan seksama.

Peran Penting Ulama Untuk Kemandirian Bangsa

Berikut ini adalah khutbah jumat mengenai Peranan Penting Ulama Kemandirian Bangsa.

Bacaan khutbah pertama

الْحَمْدُ لِلهِ الْوَاحِدِ الْأَحَدْ اَلْفَرْدِ الصَّمَدْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوا أَحَدٌ.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اَلَهَ إَلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ مَنْ أَرْسَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِجَمِيْعِ الْعِبَادِ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ وَكَرِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ

أمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْــمُتَّقُوْنَ. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Ma’asyirol muslimin wa zumratal mu’minin rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan segala perintah Allah ta’ala dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga amal ibadah kita, baik yang wajib maupun yang sunnah, diterima oleh Allah ta’ala.

Tidak terasa, jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU), sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia bahkan dunia, sudah sampai pada hari lahir ke-92 pada tanggal 31 Januari. NU adalah organisasi Islam yang didirikan oleh para ulama dan kiai pesantren dan pengikutnya dengan tujuan izzul islam wal muslimiin, yaitu jayanya Islam dan kaum muslimin terutama di Negara Kesatuan Republik Indonesia. NU telah berperan banyak dalam proses dan sejarah berjalannya bangsa ini. Dalam kesempatan ini, khatib akan menyampaikan khutbah dengan tema peran ulama bagi kemandirian bangsa terutama bagi generasi bangsa saat ini dan yang akan mendatang dengan meneladani para ulama pendiri NU di masa lalu.

Khutbah ini kami sampaikan untuk menyambut dan memperingati Hari Lahir Nahdlatul Ulama ke-92.

Hadirin, jamaah shalat jum’ah yang semoga dimuliakan oleh Allah,

Allah subhanahu wata‘ala berfirman dalam Surat al-Baqarah ayat 129 yang mengabadikan doa Nabi Ibrahim alahissalam:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalang¬an mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”.

Doa ini adalah doa Nabi Ibrahim alaihissalam yang dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengutus Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam di tengah bangsa Arab kala itu dengan membawa risalah Islam yang rahmatan lil alamiin.

Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa Rasul yang diutus yaitu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam memiliki tiga misi yaitu: pertama, membacakan ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala; kedua, mengajarkan Al-Qur’an dan al-Hikmah (Sunnah), dan ketiga menyucikan umatnya.

Peran Penting Ulama Untuk Kemandirian Bangsa

Rasulullah shallalallahu alaihi wasallam bersabda:

إنَّ الْعُلُمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Artinya:

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak. ” (Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi, Imam Ahmad, Imam Ad-Darimi, dan Imam Abu Dawud)

Para ulama sebagai waratsatul anbiya dan umana’ur rasul (pewaris para nabi dan pemegang amanah dari para Rasul) tentu berkewajiban melanjutkan misi dan tugas dakwah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam tersebut. Tiga misi inilah yang dapat dilakukan oleh para ulama dalam rangka berperan mengembangkan kemandirian bangsa Indonesia, wabil khusus kaum Muslimin.

Menurut Profesor Quraish Syihab dalam bukunya Membumikan Al-Qur’an, pengertian dari kalimat “membacakan ayat Allah SWT dan mengajarkan kitab dan al hikmah” (tilawah ayatillah dan ta’lim al-kitab wal hikmah) adalah mengajarkan umat, mengisi otak dan mengajarkan bangsa (ta’lim). Sementara, pengertian menyucikan diri (tazkiyatun nafsi) erat kaitanya dengan kegiatan pendidikan (tarbiyah) yang bermaksud untuk mengubah sikap dan perilaku yang dididik. Para nabi dan rasul mereka tidak hanya mengajarkan dan menyampaikan ilmu, tapi mereka juga mendidik umatnya dengan membersihkan diri mereka dari perilaku buruk dan tidak terpuji dengan syariatnya masing-masing. Dengan shalat, dengan puasa, dengan berdzikir, dengan zakat, dengan mengasihi sesama, dengan tolong menolong, dan amaliyah ubudiyah lainnya baik yang mahdloh dan ghair mahdlah.

Demikian halnya para ulama. Mereka tidak hanya ta’lim tapi juga tarbiyah. Tidak hanya tarbiyah tapi juga ta’lim. Mereka menggabungkan antara dua aspek ini adalah bagi kemandirian umat Islam dan bangsa Indonesia. Kemandirian umat dan bangsa ditentukan oleh seberapa mampu kaum muslimin mengikhlaskan dirinya dalam beribadah kepada Allah SWT, sebagai kunci kemandirian. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengatakan:

الْحَيَاةُ اَلْعِباَدَةُ كُلُّهَا

Artinya: “Kehidupan ini adalah pengabdian total kepada Allah. ”

Bangsa ini mandiri jika bangsa ini mengabdi kepada Allah subhanahu wata‘la. Jika seorang sudah beribadah kepada Allah dengan ikhlas, maka dengan sendirinya dia akan memperoleh kemandirian dalam berbagai bidang kehidupan, baik pribadi, sosial, maupun ekonomi.

Hal itulah yang ditunjukkan dan dicontohkan oleh pendiri Nahdlatul Ulama. Seperti Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari yang mendirikan pesantren Tebuireng dengan biayanya sendiri dari hasil berdagang. Kemandirian itu juga ditunjukkan oleh Hadratussyekh dengan tidak takut dan tunduk pada kolonialisme dan penjajahan bangsa asing di masanya. Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’arie memiliki kemandirian dalam berpikir dan bersikap.

Bahkan dalam periode menuntut ilmu, para ulama kita juga mencontohkan kemandirian tersebut. Syaikhona Kholil Bangkalan dan juga para ulama lainnya dikisahkan menjual hasil karya tulisnya demi biaya hidup dalam menuntut ilmu. Sikap para ulama yang mandiri ini dalam membangun lembaga pendidikan dan juga di dalam berbagai kehidupan menjadi teladan bagi kita semua. Semoga kita semua dapat menirunya. Semoga kita semua juga termasuk orang-orang yang diberikan kekuatan dan kemandirian dalam kehidupan ini bersama Allah subhanahu wa ta’ala. Amiin ya rabbal Alamiin.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Bacaan Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Itulah mengenai Peran Penting Ulama Untuk Kemandirian Bangsa, doa ini alangkah baiknya di hafalkan. semoga doa diatas bisa bermanfaat terutama bagi yang belum hafal.

Allah Menghilangkan Ilmu Dengan Wafatnya Ulama

Allah Menghilangkan Ilmu Dengan Wafatnya Ulama

Allah Menghilangkan Ilmu Dengan Wafatnya Ulama – Sahabat Muslim, segala sesuatu yang kita ketahui di dunia ini tentu dapat diketahui karena adanya yang memberitahu. Begitu juga ilmu agama, akan hilang bila para ulama telah wafat. Karena dari merekalah kita mengetahui tentang hukum agama, syariat dan lain sebagainya.

Baca : Manfaat Bagi Orang Yang Beriman Kepada Allah (Bahas Lengkap)

Nah Sahabat, bila kita hanya melihat dari segi pengetahuan maka karangan buku yang ulama tulis sudah cukup. Namun bila melihat dari maksud dari pada tulisan tersebut tentu kita harus bertanya kepada orang yang membuatnya. Oleh karena itu mari kita simak penjelasan artikel Pengetahuan Islam berikut ini dengan seksama.

Allah Menghilangkan Ilmu Dengan Wafatnya Ulama

Sungguh membuah hati cukup sedih jika mendengar berita wafatnya ulama. Terlebih ulama tersebut adalah ulama ahlus sunnah wal jamaah yang sangat giat, belajar, berdakwah dan memberikan pencerahan yang banyak kepada manusia. Ayyub rahimahullah pernah berkata,

إني أُخبر بموت الرجل من أهل السنة وكأني أفقد بعض أعضائي

Artinya : “Sesungguhnya aku diberitakan mengenai wafatnya seorang ahlus sunnah, seakan-akan aku kehilangan sebagian anggota tubuhku.” (Hilyah Al-Auliya 3/9)

Dengan wafatnya ulama, berarti Allah telah mulai mengangkat ilmu dari manusia.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.” (Hadits Bukhari Nomor 98)

An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,

‏ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻳﺒﻴﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻘﺒﺾ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺴﺎﺑﻘﺔ ﺍﻟﻤﻄﻠﻘﺔ ﻟﻴﺲ ﻫﻮ ﻣﺤﻮﻩ ﻣﻦ ﺻﺪﻭﺭ ﺣﻔﺎﻇﻪ ، ﻭﻟﻜﻦ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﺃﻧﻪ ﻳﻤﻮﺕ ﺣﻤﻠﺘﻪ ، ﻭﻳﺘﺨﺬ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺟﻬﺎﻻ ﻳﺤﻜﻤﻮﻥ ﺑﺠﻬﺎﻻﺗﻬﻢ ﻓﻴﻀﻠﻮﻥ ﻭﻳﻀﻠﻮﻥ

Artinya : “Hadits ini menjelaskan bahwa maksud diangkatnya ilmu yaitu sebagaimana pada hadits-hadits sebelumnya secara mutlak. Bukanlah menghapuskannya dari dada para penghapalnya, akan tetapi maknanya adalah wafatnya para pemilik ilmu tersebut. Manusia kemudian menjadikan orang-orang bodoh untuk memutuskan hukum sesuatu dengan kebodohan mereka. Akhirnya mereka pun sesat dan menyesatkan orang lain.” (Syarh Nawawi lishahih Muslim 16/223-224)

Baca : 10 Macam Sholat Sunah Yang Memiliki Manfaat Luar Biasa Lengkap

Wafatnya Para Ulama

Para ulama pasti akan Allah wafatkan karena setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Hendaknya kita terus semangat mempelajari ilmu dan mengamalkannya. Shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu berkata,

ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﺮﻓﻊ ﻭﺭﻓﻌﻪ ﻣﻮﺕ ﺭﻭﺍﺗﻪ، ﻓﻮﺍﻟﺬﻱ ﻧﻔﺴﻲ ﺑﻴﺪﻩ ﻟﻴﻮﺩّﻥّ ﺭﺟﺎﻝ ﻗﺘﻠﻮﺍ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺷﻬﺪﺍﺀ ﺃﻥ ﻳﺒﻌﺜﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻤﺎﺀ ﻟﻤﺎ ﻳﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﻛﺮﺍﻣﺘﻬﻢ، ﻓﺈﻥ ﺃﺣﺪﺍ ﻟﻢ ﻳﻮﻟﺪ ﻋﺎﻟﻤﺎ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺎﻟﺘﻌﻠﻢ

Artinya : “Wajib atas kalian untuk menuntut ilmu, sebelum ilmu tersebut diangkat/dihilangkan. Hilangnya ilmu adalah dengan wafatnya para periwayatnya/ulama. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh orang-orang yang terbunuh di jalan Allah sebagai syuhada, mereka sangat menginginkan agar Allah membangkitkan mereka dengan kedudukan seperti kedudukannya para ulama, karena mereka melihat begitu besarnya kemuliaan para ulama. Sungguh tidak ada seorang pun yang dilahirkan dalam keadaan sudah berilmu. Ilmu itu tidak lain didapat dengan cara belajar .” (Al-’Imu Ibnu Qayyim, hal. 94)

Mari kita semakin semangat menuntut ilmu, menyebarkan dan mengamalkannya, karena hilangnya ilmu agama merupakan tanda-tanda akhir zaman dan dekatnya zaman fitnah.

Baca : Pengertian Nifaq, pembagian dan hukumnya (Lengkap)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ قَالُوا وَمَا الْهَرْجُ قَالَ الْقَتْلُ الْقَتْلُ

Artinya : “Zaman semakin dekat, amalan kian berkurang, kekikiran semakin banyak dan al Harj semakin merajalela.” Mereka bertanya; “Apakah al Harj itu? Beliau menjawab: “Pembunuhan, pembunuhan.” (Hadits Bukhari Nomor 5577)

Allah Menghilangkan Ilmu Dengan Wafatnya Ulama

Termasuk tanda kiamat yang sudah cukup dekat adalah diangkatnya ilmu dan kebodohan yang merajalela.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا

Artinya : “Diantara tanda-tanda terjadinya hari kiamat yaitu: diangkatnya ilmu, kebodohan merajalela, banyaknya orang yang meminum minuman keras, dan zina dilakukan dengan terang-terangan.” (Hadits Muslim Nomor 4824)

Sebagaiman Allah Ta’ala telah berfirman :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Artinya : “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir ayat 28)

Ayat ini menunjukkan keutamaan ilmu, karena ilmu menambah seseorang takut kepada Allah, dan orang-orang yang takut kepada Allah itulah orang-orang yang mendapatkan keistimewaan dari-Nya.

Demikian ulasan tentang Allah Menghilangkan Ilmu Dengan Wafatnya Ulama. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.