√ Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya

Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya

Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Puasa. Yang meliputi Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmah Puasa dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silahkan simak artikel Pengetahuan Islam dibawah ini dengan seksama.

Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya

Pengertian puasa menurut syariat Islam adalah suatu amalan ibadah yang dilakukan dengan menahan diri dari segala sesuatu seperti makan, minum, perbuatan buruk maupun dari hal yang membatalkan puasa. Mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari yang disertai dengan niat karena Allah SWT, dengan syarat dan rukun tertentu.

Puasa Wajib

Shoum atau Puasa yang hukumnya wajib bagi orang muslim adalah Puasa yang jika dikerjakan mendapatkan pahala dan jika tidak dikerjakan mendapatkan dosa. Adapun puasa yang wajib adalah sebagai berikut : Shoum atau Puasa Ramadan, Shoum atau Puasa karena nadzar, dan Shoum atau Puasa kifarat atau denda.

Puasa Sunah

Shoum atau Puasa sunnah adalah Puasa yang jika dikerjakan mendapatkan pahala dan jika tidak dikerjakan tidak mendapatkan dosa.

Macam – macam puasa sunnah

Di bawah ini adalah macam-maca puasa sunah, antara lain:

  • Puasa 6 hari di bulan Syawal selain hari raya Idul Fitri.
  • PuasaArafah pada tanggal 9 Dzulhijah bagi orang-orang yang tidak menunaikan ibadah haji.
  • PuasaTarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijah bagi orang-orang yang tidak menunaikan ibadah haji.
  • Puasa Senin dan Kamis.
  • Puasa Daud (sehari puasa, sehari tidak), bertujuan untuk meneladani puasanya Nabi Daud.
  • Puasa ‘Asyura (pada bulan muharram), dilakukan pada tanggal 10.
  • Puasa 3 hari pada pertengahan bulan (menurut kalender islam) (Yaumul Bidh), tanggal 13, 14, dan 15.
  • Puasa Sya’ban (Nisfu Sya’ban) pada awal pertengahan bulan Sya’ban.
  • Puasa bulan Haram (Asyhurul Hurum) yaitu bulan Dzulkaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.

Syarat Wajib Puasa

Berikut ini adalah syarat wajib puasa wajib maupun sunah, antara lain:

  1. Beragama Islam
  2. Berakal sehat
  3. Baligh (sudah cukup umur 9-15 tahun)
  4. Mampu melaksanakannya
  5. Syarat sah saum
  6. Islam (tidak murtad)
  7. Mummayiz (dapat membedakan yang baik dan yang buruk)
  8. Suci dari haid dan nifas (khusus bagi wanita)
  9. Mengetahui waktu diterimanya puasa

Rukun Puasa

Berikut ini adalah rukun puasa, yaitu:

  1. Islam.
  2. Niat (pada waktu malam hari).
  3. Meninggalkan segala hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Beberapa yang Hal Di Haramkan Saat Puasa

Hari raya Idul Fitri, yaitu pada (1 Syawal), Tanggal 1 Syawwal telah ditetapkan sebagai hari raya umat Islam. Hari itu merupakan hari kemenangan yang harus dirayakan dengan bergembira. Karena itu syariat telah mengatur bahwa di hari itu tidak diperkenankan seseorang untuk bersaum sampai pada tingkat haram. Meski tidak ada yang bisa dimakan, paling tidak harus membatalkan saumnya atau tidak berniat untuk saum.

Hari raya Idul Adha, yaitu pada tanggal (10 Dzulhijjah). Hal yang sama juga pada tanggal 10 Zulhijjah sebagai hari raya kedua bagi umat Islam. Hari itu diharamkan untuk bersaum dan umat Islam disunnahkan untuk menyembelih hewan Qurban dan membagikannya kepada fakir msikin dan kerabat serta keluarga. Agar semuanya bisa ikut merasakan kegembiraan dengan menyantap hewan qurban itu dan merayakan hari besar.

Berikut ini adalah hari yang diharamkan untuk berpuasa, yaitu:

  • Hari-hari tasyrik, yaitu pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
  • Hari syak, yaitu pada 30 Syaban.
  • Saum selamanya.
  • Wanita saat sedang haid atau nifas.
  • Saum sunnah bagi wanita tanpa izin suaminya.

Beberapa yang di makruhkan melakukan puasa

  • Berlebih-lebihan dalam berkumur dan ber-istinsyaq
  • Mencicipi makanan (sebatas indra perasa lidah)
  • Mengumpulkan ludah dan menelannya, begitu juga menelan dahak dan lain sebagainya
  • Kemudian waktu makruh untuk bersaum yaitu ketika saum dikhususkan pada hari Jumat, tanpa diselingi saum sebelumnya atau sesudahnya.

Beberapa yang membatalkan puasa

  • Masuknya sesuatu/benda (seperti makanan atau minuman dan sebagainya) ke dalam mulut dengan disengaja.
  • Bersetubuh (Jima’).
  • Muntah yang disengaja.
  • Keluar mani (istimna’ ) dengan disengaja.
  • Haid (datang bulan) dan Nifas (melahirkan anak).
  • Hilang akal (gila atau pingsan).
  • Murtad (keluar dari agama Islam).

Dari kesemua hal yang membatalkan Puasa ada pengecualiannya, yaitu makan, minum dan bersetubuh bagi orang yang sedang bersaum tidak akan batal ketika seseorang itu lupa bahwa ia sedang berpuasa.

Orang yang boleh membatalkan Puasa

Adalah orang yang boleh membatalkan Puasa wajib (Puasa Ramadhan) tetapi Wajib mengqadha (mengganti saumnya di hari lain) sebanyak hari yang ditinggalkan.

  • Orang yang sakit, yang ada harapan untuk sembuh
  • Orang yang bepergian jauh (musafir) sedikitnya 89 km dari tempat tinggalnya
  • Orang yang hamil, yang khawatir akan keadaannya atau bayi yang dikandungnya
  • Orang yang sedang menyusui anak, yang khawatir akan keadaannya atau anaknya
  • Orang yang sedang haid (datang bulan), melahirkan anak dan nifas
  • Orang yang batal saumnya dengan suatu hal yang membatalkannya selain bersetubuh.

Wajib mengqadha dan wajib fidyah (memberi makan orang miskin setiap hari yang ia tidak bersaum, berupa bahan makanan pokok sebanyak 1 mud (576 gram)) :

  • Orang yang sakit yang tidak ada harapan akan sembuhnya.
  • Orang tua yang sangat lemah dan tidak kuat lagi bersaum.
  • Wajib mengqadha dan kifarat (memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Jika tidak ada hamba sahaya yang mukmin maka wajib bersaum dua bulan berturut-turut (selain qadha’ menggantikan hari yang ditinggalkan), jika tidak bisa, wajib memberi makan 60 orang miskin, masing-masing sebanyak 1 mud (576 gram) berupa bahan makanan pokok). yaitu Orang yang membatalkan saum wajibnya dengan bersetubuh, wajib melakukan kifarat dan qadha.

Keutamaan Puasa

Ibadah Puasa Ramadhan yang diwajibkan Allah kepada setiap mukmin adalah ibadah yang ditujukan untuk menghamba kepada Allah seperti yang tertera dalam sebuah surah dalam al-Qur’an, yaitu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu ber-Shoum/Puasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (Al-Baqarah 2:183)

Keutamaan Puasa menurut syariat Islam adalah, orang-orang yg bersaum akan melewati sebuah pintu surga yang bernama Rayyan, dan keutamaan lainnya adalah Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka, sejauh 70 tahun perjalanan.

Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya

Hikmah Puasa

Hikmah dari ibadah Puasa itu sendiri adalah melatih manusia untuk sabar dalam menjalani hidup. Maksud dari sabar yang tertera dalam al-Quran adalah gigih dan ulet seperti yang dimaksud dalam Surat Ali ‘Imran/3: 146.

Beberapa hikmah dan faidah puasa, antara lain:

  • Pendidikan atau latihan rohani,
  • Mendidik jiwa agar dapat menguasai diri,
  • Mendidik nafsu agar tidak senantiasa dimanjakan dan dituruti,
  • Mendidik jiwa untuk dapat memegang amanat dengan sebaik-baiknya,
  • Mendidik kesabaran dan ketabahan.

Perbaikan pergaulan

Orang yang ber-Puasa akan merasakan segala kesusahan fakir miskin yang banyak menderita kelaparan dan kekurangan. Dengan demikian akan timbul rasa suka menolong kepada orang-orang yang menderita.

Kesehatan

Ibadah Puasa Ramadhan akan membawa faedah bagi kesehatan rohani dan jasmani jika pelaksanaannya sesuai dengan panduan yang telah ditetapkan, jika tidak maka hasilnya tidaklah seberapa, malah mungkin ibadah Shoum/Puasa kita sia-sia saja.

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya : “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”(Q.S. Al-A’Raaf ayat 31)

Demikianlah telah dijelaskan tentang Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya. Semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian. Terimakasih.

√ Sifat Rasul : Wajib, Mustahil, Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad

Sifat Rasul Wajib Mustahil Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad

Sifat Rasul : Wajib, Mustahil, Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tetnang Sifat Rasul. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelasaskan sifat wajib rasul, mustahil, jaiz dan sifat Nabi Muhammad Saw dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih detailnya simak Artikel berikut ini.

Sifat Rasul : Wajib, Mustahil, Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad

Seperti yang telah kita ketahui bahwa sifat rasul terdiri dari sifat wajib, sifat mustahil dan sifat jaiz. Nabi Muhammad memiliki akhlaq dan sifat-sifat yang sangat amat mulia. Oleh karena itu sebagai umatnya, hendaklah kita senantiasa mempelajari sifat beliau.

Rasul sebagai utusan Allah Swt mempunyai sifat-sifat yang telah melekat di dalam dirinya. Seperti yang telah kita ketahui, bahwa nabi kita Muhammad SAW serta para rasulnya yang lain mempunyai sifat yang terpuji bahkan mulia.

Sehingga kita juga berharap mempunyai beberapa sifat rasul, inilah sifat rasul baik yang wajib, mustahil dan jaiz.

Sifat Wajib Rasul

Sifat wajib berarti sifat yang pasti ada pada setiap rasul. Tidak dapat disebut sebagai seorang rasul apabila tidak mempunyai sifat-sifat wajib ini.

Sifat wajib ini sendiri terdiri dari 4, diantaranya yaitu sebagai berikut:

As-Siddiq

As-Siddiq yaitu berarti rasul selalu benar. Apa yang telah diucapkan oleh Nabi Ibrahim as. kepada bapaknya merupakan perkataan yang benar. Apa yang disembah oleh bapaknya adalah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat serta mudarat, maka jauhilah.

Peristiwa tersebut diabadikan dalam Al-Quran Surat Maryam ayat 41, yaitu:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا

Artinya:

“Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam kitab (al-Qur’an), sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan seorang nabi.”

Al-Amanah

Al-Amanah yaitu berarti rasul selalu dapat dipercaya. Pada waktu kaum Nabi Nuh as. mendustakan apa yang telah dibawa oleh Nabi Nuh as. kemudian Allah Swt. menegaskan bahwa Nuh as., merupakan orang yang terpercaya (amanah).

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam QS. asy-Syu’ara ayat 106-107, berikut ini:

إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ نُوحٌ أَلَا تَتَّقُونَ . إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ

Artinya:

“Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku ini seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu.”

At-Tablig

At-Tablig yaitu berarti rasul selalu meyampaikan wahyu. Tidak ada satu pun ayat yang disembunyikan oleh Nabi Muhammad Saw. dan tidak ada satupun yang tidak disampaikan kepada umatnya.

Dalam sebuah riwayat menyebutkan bahwa Ali bin Abi Talib ditanya mengenai wahyu yang tidak terdapat dalam al-Qur’an. Ali pun menegaskan bahwa:

“Demi Zat yang membelah biji dan melepas napas, tiada yang disembunyikan kecuali pemahaman seseorang terhadap al-Qur’an.”

Penjelasan tersebut terhubung dalam QS. al-Maidah ayat 67, berikut ini:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Artinya: “Wahai rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.”

Al-Fatanah

Al-Fatanah yaitu berarti rasul mempunyai kecerdasan yang tinggi. Ketika itu pada saat terjadi perselisihan antara kelompok kabilah di Mekah.

Setiap kelompok memaksakan kehendaknya supaya dapat meletakkan al Hajar al-Aswad (batu hitam) di atas Ka’bah. Kemudian Rasulullah SAW menengahi dengan cara seluruh kelompok yang bersengketa supaya memegang ujung dari kain tersebut.

Lalu, Nabi meletakkan batu itu di tengahnya dan mereka semua mengangkatnya sampai di atas Ka’bah. Sungguh hal tersebut sangatlah mencerminkan kecerdasan dari Baginda Rasulullah SAW.

Sifat Mustahil

Sifat mustahil adalah kebalikan daripada sifat wajib, yang dimana sifat mustahil merupakan sifat yang tidak mungkin ada pada rasul.

Diantaranya sifat mustahil rasul yaitu sebagai berikut:

Al-Kizzib

Al-Kizzib yaitu berarti mustahil rasul itu bohong atau dusta. Karena semua perkataan dan juga perbuatan rasul tidak pernah dusta atau bohong.

Hal ini telah disebutkan dalam QS. an-Najm ayat 2-4, yaitu sebagai berikut:

مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ . وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

Artinya:

“Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru, dan tidaklah yang diucapkan itu (al-Qur’ān) menurut keinginannya tidak lain (al-Qur’an) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”

Al-Khianah

Al-Khianah yaitu berarti mustahil rasul itu khianat. Semua yang telah diamanatkan atau disampaikan kepadanya pasti langsung dilaksanakan.

Hal ini juga telah disebutkan dalam QS. al-An’am ayat 106, yaitu sebagai berikut:

اتَّبِعْ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

Artinya:

“Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad), tidak ada Tuhan selain Dia, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”

Al-Kiṭman

Al-Kiṭmān yaitu berarti mustahil jika rasul menyembunyikan kebenaran. Setiap firman yang rasul terima dari Allah SWT pasti akan selalu disampaikan kepada para umatnya.

Hal ini juga telah disebutkan dalam QS. al-An’am ayat 50, yaitu sebagai berikut:

قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ ۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

Artinya:

“Katakanlah (Muhammad), Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang di wahyukan kepadaku. Katakanlah, Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Apakah kamu tidak memikirkan(nya).”

Al-Baladah

Al-Baladah yaitu berarti mustahil kalau rasul itu bodoh. Walaupun Rasulullah SAW tidak dapat membaca dan juga menulis (ummi) namun beliau sangat pandai.

Sifat Jaiz Rasul

Sifat jaiz bagi rasul adalah sifat kemanusiaan, yakni al-ardul basyariyah yang berarti rasul mempunyai sifat sebagaimana seorang manusia biasa.

Sifat ini diantaranya yaitu seperti rasa lapar, haus, sakit, tidur, sedih, senang, berkeluarga dan yang lain sebagainya. Bahkan bagi seorang rasul juga akan meninggal sebagai mana yang dialami makhluk lainnya.

Di samping rasul mempunyai sifat wajib begitu juga dengan lawannya yakni sifat mustahil. Rasul juga mempunyai sifat jaiz, dan tentu saja sifat jāiz-nya rasul dengan sifat jaiznya Allah SWT yang sangatlah berbeda.

Sebagaimana dalam firman Allah SWT yang menyebutkan:

مَا هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُونَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُونَ

Artinya: “…(orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan seperti apa yang kamu makan dan dia minum seperti apa yang kamu minum.” (QS. al-Mu’minun: 33)

Selain tersebut di atas, rasul juga memiliki sifat-sifat yang tidak terdapat pada selain rasul, yaitu seperti berikut.

Selain tersebut di atas, rasul juga mempunyai sifat-sifat yang tidak ada pada selain rasul, diantaranya yaitu:

Ishmaturrasul

Ishmaturrasul adalah orang yang ma’shum, yaitu terlindung dari dosa serta salah dalam kemampuan pemahaman agama, ketaatan, dan juga menyampaikan wahyu Allah SWT. Sehingga beliau akan selalu siaga dalam menghadapi tantangan serta  tugas apa pun.

Iltizamurrasul

Iltizamurrasul adalah orang yang selalu berkomitmen dengan apa pun yang sedang mereka ajarkan.

Mereka bekerja dan juga berdakwah sesuai dengan arahan serta perintah dari Allah SWT. Walaupun dalam menjalankan perintah Allah SWT beliau harus berhadapan dengan berbagai rintangan yang berat baik dari dalam diri pribadinya ataupun dari para musuhnya.

Rasul tidak pernah sejengkal pun menghindar ataupun mundur dari perintah dan juga ajaran Allah Swt.

Cara Meneladani Sifat Rasul

Pada umumnya, alasan kita harus meneladani sifat dari rasul Allah SWT ialah sebab dalam diri para rasul terdapat suri tauladan yang baik, baik dalam akhlak ataupun perbuatannya.

Contoh terbaik dalam menjalani kehidupan, serta setiap kisah dari kehidupan para rasul mengandung pelajaran yang amat berharga tentang keimanan kepada Allah SWT dan tentunya sangatlah cinta kepada akhirat.

Adapun beberapa cara untuk meneladani sifat rasul, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Menjadikan kisah dari para rasul sbagai ibrah atau pelajaran untuk kita.
  • Menguatkan iman yng ada dalam diri kita.
  • Menjadikan teladan dri sifat-sifat yang dipunyai oleh para rasul.
  • Dijadikan penguat dlam menegakkan agama serta mendakwahkan agama kepada yang lain.
  • Melahirkan kecintaan kpada para rasul atas pengorbanan mereka untuk menegakan agama Islam.
  • Selalu brbuat kebajikan di dalam kehidupan sehari-hari.
  • Melahirkan kesadaran bhwa pertolongan Allah ada di setiap amal yang kita lakukan.
  • Sadar akan diri sendiri bhwa kita ini hanya manusia biasa, yaitu makhluk ciptaan Allah SWT.
  • Percaya bhwa kekuasaan Allah SWT benar adanya lewat mukjizat yang diberikan kepada rasul.
  • Memunculkan rasa takut dri apa yang telah dialami orang yang ingkar kepada Allah SWT.

Sifat Nabi Muhammad yang Tidak Dimiliki oleh Umat Manusia

Berikut ini adalah sifat dari Nabi Muhammad yang tidak dimiliki oleh manusia, antara lain:

Tidak pernah ihtilam (mimpi basah)

Al-Yusuf  al-Nabhani telah menyebut dari keistimewaan Nabi Muhammad SAW dalam kitab beliau yaitu al-Anwar al-Muhammadiyah min al-Mawahib al-Laduniyah. Keterangan  keistimewaan ini berasal dari Ibnu Abbas, dan beliau menyebutkan:

مَا احْتَلَمَ نَبِيٌّ قَطُّ  إِنَّمَا الِاحْتِلَامُ منَ الشَّيْطَانِ

Artinya:

“Tidaklah seorang nabi bermimpi basah sama sekali, karena mimpi basah datang dari syaithan.” (H.R. al-Thabrani)

Al-Haitsami menyebutkan di dalam sanad hadits ini ada Abd al-Aziz bin Abi Tsabit, sementara beliau ini ijma’ atas dha’ifnya.

Tidak pernah menguap

Ibnu al-Mulaqqin telah menyebut keistimewaan pada Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yakni Ghayah al-Suul fi Khashais al-Rasul.

Dalam Kitab Fathulbarri, Ibnu Hajar al-Asqalany menyebutkan:

وَمن الخصائص النَّبَوِيَّة مَا أخرجه بن أَبِي شَيْبَةَ وَالْبُخَارِيُّ فِي التَّارِيخِ مِنْ مُرْسَلِ يَزِيدَ بْنِ الْأَصَمِّ قَالَ مَا تَثَاءَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَطُّ وَأَخْرَجَ الْخَطَّابِيُّ مِنْ طَرِيقِ مَسْلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ مَرْوَانَ قَالَ مَا تَثَاءَبَ نَبِيٌّ قَطُّ وَمَسْلَمَةُ أَدْرَكَ بَعْضَ الصَّحَابَةِ وَهُوَ صَدُوقٌ وَيُؤَيِّدُ ذَلِكَ مَا ثَبَتَ أَنَّ التَّثَاؤُبَ مِنَ الشَّيْطَانِ

Artinya :

“Termasuk keistimewaan kenabian adalah yang telah ditakhrij oleh Ibnu Abi Syaibah dan Al-Bukhari dalam al-Tarikh dari mursal Yazid bin al-Asham, beliau berkata : Nabi SAW tidak pernah menguap sama sekali. Al-Khathabi mengeluarkan dari jalur Maslamah bin Abd al-Malik bin Marwan, beliau berkata : seorang nabi tidak pernah menguap sama sekali. Sedangkan Maslamah ini pernah bertemu sebagian sahabat Nabi dan beliau adalah orang yang berkata benar. Riwayat ini juga didukung oleh riwayat yang shahih yang menjelaskan bahwa menguap datang dari syaithan.”

Tidak ada satupun binatang yang melarikan diri (liar) dari beliau

Ibnu al-Mulaqqin telah menyebut keistimewaan pada Nabi Muhammad SAW ini dalam kitab beliau yakni Ghayah al-Suul fi Khashais al-Rasul. Qadhi ‘Iyadh meriwayatkan dengan sanadnya hingga kepada Aisyah.

Beliau menyebutkan yaitu:

كان عندنا داجن فاذا كان عندنا رسول الله صلعم قر وثبت مكانه فلم يجئ ولم يذهب واذا خرج رسول الله صلعم جاء وذهب

Artinya : Di sisi kami ada binatang jinak, apabila Rasulullah SAW bersama kami, maka binatang itu tenang dan tetap pada tempatnya, tidak datang dan pergi, tetapi apabila Rasulullah SAW keluar, maka biantang itu datang dan pergi. (HR. Qadhi ‘Iyadh)

Dalam kitab Dalail al-Nubuwah juga menyebutkan riwayat dari Abu Hurairah r.a., dan disitu beliau berkata:

وَجَاءَ الذِّئْبُ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ فَأَقْعَى بَيْنَ يَدَيْهِ، ثُمَّ جَعَلَ يُبَصْبِصُ بِذَنَبِهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَذَا وَافِدُ الذِّئَابِ، جَاءَ يَسْأَلُكُمْ أَنْ تَجْعَلُوا لَهُ مِنْ أَمْوَالِكُمْ شَيْئًا ، قَالُوا: لَا وَاللهِ لَا نَفْعَلُ، وَأَخَذَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ حَجَرًا فَرَمَاهُ، فَأَدْبَرَ الذِّئْبُ وَلَهُ عُوَاءٌ

Artinya:

“Seekor serigala pernah datang kepada Rasulullah SAW duduk dan berjongkok di depan beliau, kemudian menggerak-gerak ekornya.  Melihat itu Rasulullah SAW berkata, ini utusan serigala, yang datang meminta suatu makanan dari kalian. Mereka menjawab : tidak, Demi Allah tidak akan kami lakukan. Seorang dari mereka mengambil batu melemparnya, serigala itu pun pergi sambil menyalak. (HR. al-Baihaqi)

Kisah lainnya dimana binatang-binatang liar yang senantiasa jinak kepada Nabi SAW juga banyak disebut dalam berabagai riwayat yang terdapat dalam Kitab Dalail al-Nubuwah karya dari al-Baihaqi dan al-Syifa’ bi Ta’rif  Huquq al-Mushtafa karya Qadhi ‘Iyadh serta kitab lainnya yang juga berisi sekitar masalah kehidupan pribadi Nabi Muhammad SAW.

Tidak pernah ada lalat hinggap di tubuh beliau yang mulia

Ibnu al-Mulaqqin telah menyebut keistimewaan pada Nabi Muhammad SAW ini dalam kitab beliau yakni Ghayah al-Suul fi Khashais al-Rasul.

Al-Yusuf  al-Nabhani juga menyebut keistimewaan dari Nabi Muhammad SAW dalam kitab beliau, al-Anwar al-Muhammadiyah min al-Mawahib al-Laduniyah.

Dalam kitabnya al-Khashaish al-Kubra, al-Suyuthi mengatakan bahwa Qadhi ‘Iyadh dalam kitab al-Syifa serta al-‘Uzfi dalam al-Maulid-nya menyebutkan termasuk keistimewaan dari Nabi SAW yang tidak pernah ada lalat hinggap di tubuh beliau serta ini juga telah disebut oleh Ibnu Sab’in dalam al-Khashaish-nya dengan lafazh : “Tidak jatuh lalat atas pakaiannya sama sekali.”

Dapat mengetahui sesuatu yang ada di belakangnya

Al-Yusuf  al-Nabhani menyebut keistimewaan Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yaitu al-Anwar  al-Muhammadiyah min al-Mawahib al-Laduniyah.

Qadhi ‘Iyadh menyebut keistimewaan Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yakni al-Syifa’ bi Ta’rif  Huquq Al-Mushtafa.

Dalam Shahih Muslim menuebut hadits dari Abu Hurairah, dan beliau berkata:

هَلْ تَرَوْنَ قِبْلَتِي هَا هُنَا؟ فَوَاللهِ مَا يَخْفَى عَلَيَّ رُكُوعُكُمْ، وَلَا سُجُودُكُمْ إِنِّي لَأَرَاكُمْ وَرَاءَ ظَهْرِي

Artinya : Apakah kalian melihat kiblatku  di sini?. Demi Allah tidak tersembunyi atasku rukuk dan sujud kalian. Sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari belakangku. (H.R Muslim)

Bekas air seni beliau tidak pernah dilihat di permukaan bumi

Ibnu al-Mulaqqin telah menyebut keistimewaan dari Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yakni Ghayah al-Suul fi Khashais al-Rasul.

Di dalam kitab tersebut, Ibnu al-Mulaqqin sebut hadits dari Aisyah r.a. yang disebut dalam kitab al-Ayat al-Bainat, karya dari Ibnu Dahyah, dan di dalamnya Aisyah berkata:

يا رسول الله اني اراك تدخل الخلاء ثم يجئ الذي يدخل بعدك فلا يرى لما يخرج منك اثرا فقال يا عائشة ان الله تعالى امر الارض ان تبتلع ما خرج من الانبياء

Artinya : “Hai Rasulullah, sesungguhnya aku melihat engkau memasuki jamban, kemudian masuk orang-orang sesudahmu. Tetapi orang itu tidak melihat bekas apapun yang keluar darimu.” Rasulullah SAW bersabda : “Hai Aisyah, sesungguhnya Allah Ta’ala memerintah bumi menelan apa yang keluar dari para nabi.”

Ibnu Dahyah juga menyebutkan, sanadnya tsabit (maqbul) al-Suyuthi selepas menyebut beberapa jalur riwayat hadits yang sat arti dengan hadits di atas, beliau menyebutkan, jalur ini (hadits di atas) merupakan yang paling kuat dari jalur-jalur hadits ini.

Hati beliau tidak pernah tidur

Ibnu al-Mulaqqin telah menyebut keistimewaan dari Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yakni Ghayah al-Suul fi Khashais al-Rasul.

Hal tersebut berdasarkan hadits dari Aisyah yang di dalamnya Aisyah berkata:

فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ، فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ، وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

Artinya : Aku mengatakan, Ya Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum witir ?. Rasulullah SAW bersabda : “Ya Aisyah, sesungguhnya dua mataku tertidur, tetapi hatiku tidak pernah tidur.” (H.R. Muslim)

Sifat Rasul Wajib Mustahil Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad

Bayangan beliau tidak pernah dapat dilihat ketika kena sinar matahari

Al-Yusuf  al-Nabhani menyebut keistimewaan dari Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yakni al-Anwar  al-Muhammadiyah min al-Mawahib al-Laduniyah.

Di dalam kitabnya yang disebut al-Khashaish al-Kubra, al-Suyuthi berkata:

اخْرج الْحَكِيم التِّرْمِذِيّ عَن ذكْوَان ان رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم لم يكن يرى لَهُ ظلّ فِي شمس وَلَا قمر قَالَ ابْن سبع من خَصَائِصه ان ظله كَانَ لَا يَقع على الأَرْض وَأَنه كَانَ نورا فَكَانَ إِذا مَشى فِي الشَّمْس أَو الْقَمَر لَا ينظر لَهُ ظلّ قَالَ بَعضهم وَيشْهد لَهُ حَدِيث قَوْله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فِي دُعَائِهِ واجعلني نورا

Artinya:

“Al-Hakim al-Turmidzi telah mentakhrij dari Zakwan, sesungguhnya Rasulullah SAW tidak dilihat bayangannya pada terik matahari dan tidak juga pada bulan. Ibnu Sab’i mengatakan, termasuk keistimewaan Nabi SAW bayangannya tidak jatuh di atas bumi, karena sesungguhnya beliau adalah cahaya. Karena itu, apabila berjalan pada terik matahari atau bulan, maka tidak dilihat bayangannya. Sebagian ulama mengatakan, riwayat ini didukung oleh hadits perkataan Nabi SAW dalam do’anya : “Jadikanlah aku sebagai cahaya.

Dua pundak beliau selalu terlihat lebih tinggi dari pundak orang-orang yang sedang duduk bersama beliau

Ibnu al-Mulaqqin sebut bahwa Ibnu Sab’in berkata, salah satu keistimewaan dari Nabi Muhammad SAW ialah jika beliau duduk, maka beliau akan nampak lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang yang juga duduk di sekitar beliau.

Pernyataan Ibnu Sab’in tersebut juga telah dikutip oleh al-Suyuthi di dalam kitabnya yakni al-Khashaish al-Kubra.

Dalam Kitab Syarah Al-Muwatha’, al-Zarqani berkata:

وَذَكَرَ رَزِينٌ وَغَيْرُهُ: كَانَ إِذَا جَلَسَ يَكُونُ كَتِفُهُ أَعْلَى مِنْ جَمِيعِ الْجَالِسِينَ، وَدَلِيلَهُ قَوْلُ عَلِيٍّ: ” إِذَا جَاءَ مَعَ الْقَوْمِ غَمَرَهُمْ”  إِذْ هُوَ شَامِلٌ لِلْمَشْيِ وَالْجُلُوسِ

Artinya:

“Raziin dan lainnya telah menyebutkan, Rasululullah SAW apabila duduk, bahunya nampak lebih tinggi dari semua orang-orang duduk. Dalilnya perkataan ‘Ali : ”Apabila Rasulullah SAW bersama kaum, beliau  melebihi mereka”. Karena ini mencakup apabila berjalan dan duduk.

Perkataan Ali tersebut kemudian ditakhrij oleh Abdullah bin Ahmad serta al-Baihaqi dari ‘Ali.

Beliau telah dikhitan semenjak dilahirkan

Al-Thabrani di dalam al-Ausath, Abu Na’im, al-Khathib dan juga Ibnu ‘Asakir telah mentakhrij dari beberapa jalur dari Anas dari Nabi SAW, dan kemudian bersabda:

من كَرَامَتِي على رَبِّي اني ولدت مختونا وَلم ير أحد سوأتي

Artinya : Sebagian dari kemulianku atas Tuhanku adalah aku dilahirkan dalam keadaan sudah dikhitan dan tidak ada yang melihat dua kemaluanku

Hadits tersebut sudah dinyatakan shahih oleh al-Dhiya’ di dalam al-Mukhtarah. Al-Hakim di dalam kitabnya yang disebut al-Mustadrak berkata, sudah mutawatir hadits-hadits yang menjelaskan bahwa Nabi SAW lahir dalam keadaan sudah dikhitan.

Demikian Artikel tentang Sifat Rasul: Wajib, Mustahil, Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk Kita semua. Terima kasih.

√ Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do’anya

Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do'anya

Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do’anya – Pada pembahasan kali ini Pengetahuan Islam akan menjelaskan tentang Tata Cara Sholat Ghoib. Ketika kita tidak bisa bertakziah karena kemungkinan jauh dan lain-lainya, di dalam islam tentu saja ada solusi untuk setiap permasalah yang kita hadapi. Untuk lebih jelasnya mari kita simak artikel di bawah ini.

Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do’a nya

Dalam sholat Ghoib tentunya masih banyak saudara kita yang bertanya-tanya bagaima cara mengerjakannya.

Sholat Mayit sendiri bukanlah merupakan fardu ‘ain, akan tetapi fardhu kifayah, yang mana hukum tersebut bisa menjadi wajib ketika pada suatu daerah tersebut tidak ada yang mensholati. Sedangkan untuk Sholat Ghoib sendiri adalah sunnah hukumnya, dan bisa di kerjakan kapan saja setelah orang tersebut meninggal.

Lantas bagaimana tata cara sholat ghoib untuk mayit perempuan dan laki-laki saat bersamaan, apakah bisa langsung di kerjakan dalam satu sholatan?. Jawabnya adalah bisa! Dengan cara menjamakkan dalam berdoa, seperti “ALLAHUMMAHFIRLAHUM” dan seterusnya.

Niat Sholat Ghoib untuk Mayit Perempuan

Untuk niat, kita wajib mengucapkan di dalam hati, dan bersamaan dengan takbir. Adapun melafatkan niat dengan bibir itu sunnah hukumnya.

  1. Niat Bagi Imam

أُصَلِّيْ عَلَى هَذِهِ المَيِّتَةِ الْغَائِبَةِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى اللهُ أَكْبَرُ

Usholli ala hadzihil mayyitati al-ghoibati arba’a takbirotin fardhol kifayati Imaman lillahi ta’ala Allahu Akbaar

Artinay: Saya niat sholat untuk mayit perempuan yang ghoib, empat takbir fardhu kifayah menjadi imam karena Allah Ta’ala Allahu Akbar

  1. Niat Bagi Makmum Yang Mengikuti Imam

أُصَلِّيْ عَلَى مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ الْإِمَامُ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ (مَأمُوْمًا) لِلّٰهِ تَعَالَى اللهُ أَكْبَرُ

Usholli ala man sholla alaihil imamu arba’a takbirotin fardhol kifayati (makmuman) lillahi ta’ala Allahu Akbar

Artinya: “Aku niat sholat atas mayyit yang disholati imam empat kali takbir fardu kifayah makmum karena Allah Ta’ala. Allahu Akbar”

Kemudian setelah melaksanakan niat dan takbir secara bersamaan, langkah selanjutnya yaitu membaca surat al-Fatihah.

Surat Al-fatihah

أعُوْذُ ِباللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ * إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ * اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَـيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّالِّينَ

Setelah membaca surat Al-fatihah, kemudian melanjutkan takbir yang ke dua kemudian membaca Sholawat.

Untuk pembacaan sholawat ini bebas, namun yang lebih utama adalah bacaan sholawat ketika kita sedang melakukan tasyahud akhir. seperti contoh dibawah ini.

Bacaan Sholawat

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Setelah selesai membaca sholawat, di teruskan dengan takbir yang ketiga, dengan bacaan do’a.

Seperti berikut:

Bacaan Do’a Untuk Mayit Perempuan

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا وَوَسِّعْ مُدْخَلَهَا وَاغْسِلْهَا بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهَا مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهَا دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهَا وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا وَأَدْخِلْهَا الْجَنَّةَ وَأَعِذْهَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

Artinya: “Ya Allah, ampunilah dia (mayat), berilah rahmat kepadanya, selamatkan lah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkan lah dia di tempat yang mulia, luaskan lah kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkanlah dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju putih dari kotoran. Berilah dia rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga yang lebih baik daripada keluarganya di dunia, istri yang lebih baik dari istrinya (atau suaminya) dan masukkan dia ke surga, jagalah dia dari siksa kubur dan neraka.”

Untuk mayit laki-laki hanya mengubah lafat “HA” menjadi “HU”.

Setelah pembacaan do’a selesai, di teruskan dengan takbir yang ke empat, yakni takbir yang terakhir dengan membaca do’a sebagai berikut.

Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do'anya

Do’a Takbir Ke Empat

اَللَّهُـمَّ لاَتَحْرِمْنَا اَجْرَهَا وَلاَ تَفْتِنَا بَعْدَهَا وَاغْفِرْلَنَا وَلَهَا وَلإخْـوَانِنَـا الَّذِيْنَ سَبَـقُوْنَ بِاْلإِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِـلاً لِلَّذِيْنَ ءَامَنُوْارَبَّنــَا إنَّكَ رَؤُفٌ رَّحِيْم

Artinya: “Ya Allah janganlah kami tidak Engkau beri pahalanya, dan janganlah Engkau beri fitnah kepada kami sesudahnya, dan berilah ampunan kepada kami dan kepadanya.”

Untuk mayit laki-laki juga sama, hanya saja harus mengganti lafat “HA” menjadi “HU”.

Selanjutnya, setelah semuanya di laksanakan, kemudian di akhiri dengan salam.

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ,

Setelah selesai melakukan sholat, di anjurkan bagi kita untuk mendoakan si mayit. Untuk lafat do’a setelah sholat, ini tidak ada ketentuannya, yang jelas kita doakan sebaik-baiknya untuk si mayit.

Contoh Bacaan Do’a Untuk Mayit

الحمدالله ربِّ العلمين.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ، اللَّهُمَّ بِحَقِّ الْفَاتِحَةِ اِعْتِقْ رِقَابَنَا وَرِقَابَ هَذِهِ الْمَيِّتَةِ مِنَ النَّارِ، اللَّهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَ عَلَى هَذِهِ الْمَيَّتَةِ وَاجْعَلْ قَبْرَهَا رَوْضَةً مِّنَ الْجَنَّةِ وَ لَا تَجْعَلْ قَبْرَهَا حُفْرَةً مِنْ حُفَّارِ النِّرَانِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اٰلِهِ وَ صَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Allaahumma shalli ’alaa sayyidinaa muhammadin wa’alaa aali sayyidinaa muhammad. Allahumma bihaqqil faatihati i’tiq riqabanaa wariqaaba haadzal mayyittati minan naari. allahumma anzilirrahmata wal maghfirata alaa haadzihil mayyitati waj’al qabraha raudlatan minal jannati walaa qobrohq hufrotan min huffarin niraani, washallallaahu alaa khairi khalqihi sayyidana muhammadin wa alaa allihi washahbihii ajma’iin, wal hamdu lillahirabbil aalamiin.

Artinya: “Ya Allah, curahkanlah rahmat atas junjungan kita Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad. Ya Allah, dengan berkahnya surat Al Fatihah, bebaskanlah dosa kami dosa mayit ini dari siksaan api neraka.”

Ya Allah, curahkanlah rahmat dan berilah ampun kepada mayit ini. Dan jadikanlah kuburnya taman yang nyaman dari surga dan janganlah Engkau menjadikan kuburnya itu dari galian jurang neraka. Dan semoga Allah memberi rahmat kepada semulia-mulia makhluk-Nya yaitu junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya sekalian, dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.”

Demikianlah Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do’anya semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan pengetahuan Anda.

Keutamaan Shalat Tarawih, Hukum Dan Dalil Lengkap

Keutamaan Shalat Tarawih, Hukum Dan Dalil Lengkap – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Shalat Tarawih. yang meliputi keutamaan shalat tarawih, hukum shalat tarawih berjamaah beserta dalilnya.

Dalam bulan Ramadhan ini kita sebagai umat muslim diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama 30 hari yang merupakan rukun islam yang ke-3 dan pada malam harinya kita di sunahkan untuk mengerjakan shalat Tarawih.

Keutamaan Shalat Tarawih, Hukum Dan Dalil Lengkap

Shalat Tarawih adalah shalat sunah yang dilakukan pada malam hari di bulan Ramadhan, setelah melaksanakan shalat Isya dan batas waktunya sampai terbit fajar dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silahkan simak ulasan Pengetahuanislam.com dibawah ini dengan seksama.

Keutamaan Shalat Tarawih

Berikut ini merupakan beberapa keutamaan dalam shalat Tarawih.

  1. Orang yang melakukan qiyam di Bulan Ramadhan akan diampuni dosanya seperti pada waktu ia dilahirkan.

Rasulullah saw bersabda yang artinya: “Dari Abdurrahman bin Auf ra. bahwa Rasulullah saw bersabda: sesungguhnya Allah Swt telah memfardhukan puasa Ramadhan, dan saya telah mensunnahkan qiyam pada malamnya. Maka barang siapa berpuasa pada siangnya dan mengerjakan shalat pada malamnya, karena mengharap ridha Allah, niscaya keluarlah ia dari dosa seperti pada ia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Ahmad)

  1. Orang yang mengerjakan shalat Tarawih akan di ampuni dosanya yang telah lalu.

Rasulullah saw bersabda yanga artinya: “Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw telah menyuruh kami para sahabat mengerjakan shalat malam pada bulan Ramadhan dengan tidak mewajibkannya. beliau bersabda: Barang siapa yang mengerjakan shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Shalat malam (termasuk shalat Tarawih) merupakan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu.

Rasulullah saw bersabda yang artinya: “Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda: Seutama-utama puasa Ramadhan ialah puasa sunah pada bulan Muharam, dan seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat sunah pada malam hari.” (HR. Muslim).

Hukum Shalat Tarawih Berjamaah

Adapun mengenai hukum berjamaah dalam shalat Tarawih para ulama berbeda pendapat:

Abu Hanifah, Syafii, kebanyakan sahabat Syafii, Ahmad dan sebagian ulama Malikiyah

Berpendapat bahwa shalat Tarawih lebih utama dilaksanakan dengan berjamaah di masjid, sebagaimana yang telah dikerjakan dan diperintahkan oleh Kalifah Umar bin Khata ra. beserta para sahabat lainnya.

Malik, Abu Yusuf dan sebagian pengikut Syafii

Berpendapat bahwa shalat Tarawih lebih utama dikerjakan di rumah masing-masing, hal tersebut berdasarkan hadist berikut ini yang artinya:

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: “Rasulullah Saw bersabda: Seutama-utama shalat ialah shalat seseorang yang dikerjakan dirumahnya selain shalat fardhu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pendapat Abu Hanifah, Syafii dan Ahmad dipandang sebagai pendapat yang lebih kuat karena berdasarkan hadist berikut ini

Dari Aisyah ra. “sesungguhnya Nabi Saw mengerjakan shalat Tarawih dalam masjid maka mengerjakan shalat pula dibelakangnya beberapa orang, kemudian pada malam berikutnya Nabi mengerjakan shalat lagi maka banyaklah orang-orang yang mengikutinya. pada malam ketiga mereka berkumpul pula tetapi Nabi tidak keluar kemasjid. pada pagi harinya Nabi bersabda: Saya telah melihat apa yang telah kamu perbuat semalam. Tak ada yang menghalangi saya keluar ke masjid tadi malam selain dari saya takut difardhukan shalat itu atas kamu.” (HR. Abu Daud)

Hadist di atas menyatakan bahwa mengerjakan shalat tarawih pada bulan Ramadhan dengan berjamaah dimasjid adalah diutamakan. Hadist ini juga yang menjadi pegangan bagi ulama yang menetapkan bahwa shalat tarawih dikerjakan secara berjamaah di masjid.

Alasan lain yang menyatakan bahwa shalat Tarawih dilaksanakan berjamaah dimasjid ialah sebagai berikut:

Dari Urwah ra. Ia berkata: “Telah dikabarkan kepadaku oleh Abdurrahman Alqari bahwasanya Umar pada suatu malam keluar mengelilingi masjid pada bulan Ramadhan sedang di masjid terdapat orang bergolong-golongan, ada yang shalat sendirian dan ada yang diikuti oleh beberapa orang. melihat itu umar berkata: Demi Allah saya kira apabila kita kumpulkan orang-orang ini untuk seorang imam. Sesudah itu beliau menyuruh Ubai bin Kaab supaya mengimami mereka dalam shalat pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Menurut Jumhur/kebanyakan ulama bahwa yang afdol ialah shalat Tarawih dikerjakan di masjid secara berjamaah. Inbu Abi Syaibah meriwayattkan dari Ali, Ibnu Masud dan Ubai bin Kaab bahwasanya Umarlah yang menyuruh para sahabat untuk mengerjakan shalat Tarawih secara berjamaah dan hal ini terus dikerjakan oleh para sahabat.

Keutamaan Shalat Tarawih Hukum Dan Dalil Lengkap

Sebagian Ulama berpendapat bahwa yang lebih utama mengerjakan shalat Tarawih ialah dengan cara sendiri-sendiri dirumah. Ada yang berpendapat bahwa jika hafal Al-Qur’an dan tidak malas kalah shalat Tarawih sendirian, maka mengerjakan shalat sendirian lebih utama. Kalau tidak hafal Al-Qur’an maka lebih utama shalat Tarawih dikerjakan secara berjamaah.

Sedangkan menurut golongan Malikiyah, Abu Yusuf dan sebagaian Syafiiyah bahwa shalat Tarawih lebih utama dikerjakan sendirian dirumah masing-masing. alasan mereka ialah Nabi Saw mengerjakan shalat Tarawih sendirian setiap malam terus-menerus. Kecuali hanya beberapa malam saja beliau melaksanakan shalat Tarawih secara berjamaah. Demikaian juga yang dikerjakan oleh Abu Bakar.

Shalat sunah pada malam bulan Ramadhan dinamakan shalat Tarawih adalah kerena para golongan salaf mengerjakannya dengan cara berhenti untuk istirahat pada tiap-tiap empat rakaat. Mereka mengerjakan shalat sunah pada malam bulan Ramadhan seperti itu karena mereka meneladani cara yang dikerjakan oleh Rasulullah Saw.

Demikianlah telah dijelaskan tentang Keutamaan Shalat Tarawih, Hukum Dan Dalil Lengkap. Semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian.

√ Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam

Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam

Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Hakikat Manusia. Yang mana dalam pembahasan kali ini tentang apa hakikat diciptakan manusia menurut pandangan agama islam dengan secara singkat dan jelas. Untuk itu silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini dengan seksama.

Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam

Manusia dan makhluk lain di alam semesta ini diciptakan Allah SWT dengan tujuan tertentu dan bukanlah tanpa maksud. Manusia tidak begitu saja dibuat tanpa memiliki hakikat dan substansi. Untuk mengetahui hakikat penciptaan manusia maka kita perlu mengetahui asal penciptaan manusia terlebih dahulu. Seperti yang kita ketahui bahwa Allah menciptakan Adam As sebagai manusia pertama dan memberinya tugas di muka bumi. Untuk lebih jelasnya simak penjelasan berikut ini

Asal Penciptaan Manusia

Menurut ulama Abdurrahman an-Nahlawy, ada dua hakikat penciptaan manusia dilihat dari sumbernya. Yang pertama adalah asal atau sumber yang jauh yakni menyangkut proses penciptaan manusia dari tanah dan disempurnakannya manusia dari tanah tersebut dengan ditiupkannya ruh. Asal yang kedua adalah penciptaan manusia dari sumber yang dekat yakni penciptaan manusia dari nutfah yakni sel telur dan sel sperma.

Penciptaan manusia dari tanah

Berikut ini adalah ayat-ayat yang menjelaskan kejadian penciptaan manusia dari tanah

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ. ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ. ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

Artinya : “Yang membuat segala sesuatu yang memciptakan sebaik-baiknya dan memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunan dari saripati air yang hina kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya ruh (ciptaan) Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati (tetapi) sedikit sekali tidak bersyukur.” (QS As-Sajadah 7-9)

Baca : Kata Bijak Islam yang Dapat Menjadi Inspirasi Hidup

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ. فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

Artinya : “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (QS Shad ayat 71-72)

Penciptaan manusia dari nutfah

Adapun penciptaan manusia dari nutfah atau mani disebutkan dalam ayat-ayat berikut ini

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ. ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ. ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Artinya : “Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang(berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS Al-Mukminun ayat 12-14)

Baca : Inilah Bacaan Dzikir Di Waktu Petang Serta Faidahnya (Lengkap)

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا ۚ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّىٰ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ. هُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Artinya : “Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah Kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, Kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, Kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), Kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, Maka apabila dia menetapkan sesuatu urusan, dia Hanya bekata kepadanya: “Jadilah”, Maka jadilah ia.” (QS Al Mukmin ayat 67-68)

Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan seluruh manusiadari tanah, kemudian Allah juga menciptakan manusia dari mani dan menyimpannya dalam rahim kemudian mengeluarkannya dari rahim sang ibu sebagai bayi yang kemudian tumbuh dan beranjak dewasa. Sebagaimana yang diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim berikut ini

“Sesungguhnya seorang manusia mulai diciptakan dalam perut ibunya setelah diproses selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Lalu menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Setelah empat puluh hari berikutnya, Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya dan diperintahkan untuk menulis empat hal; rezekinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagianya.’.” (Hadits Muslim Nomor 4781)

Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam

Hakikat Penciptaan Manusia

Allah menciptakan manusia dengan dua unsur yakni jasmani dan rohani. Unsur jasmani Adalah tubuh atau jasad manusia yang tersusun atas organ dan sistem organ. Unsur yang kedua yakni unsur ruh atau jiwa. Kedua unsur ini berkaitan satu sama lain dan apabila kedua unsur tersebut berpisah maka manusia disebut mati sehingga tidak lagi dapat disebut sebagai manusia. Adapun hakikat manusia menurut islam berdasarkan substansi penciptaan adalah sebagai berikut mengenai hakikat penciptaan manusia :

Makhluk Allah yang paling sempurna

Allah menciptakan manusia dengan kesempurnaan dan keunikan . hal ini dilihat dari segala hal yang menyangkut fisik dan jiwa seorang manusia. Ia berbeda dengan makhluk lainnya dan bahkan Allah memerintahkan malaikat untuk bersujud kepada Adam AS karena akal dan pengetahuan yang dianugerahkan kepadanya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat At Tin berikut ini

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS At tin ayat 4)

Manusia sebagai bukti kekuasaan Allah SWT

Sejak awal penciptaannya, manusia pertama yakni Adam As telah mengakui Allah sebagai Tuhannya dan hal tersebut mendorong manusia untuk senantiasa beriman kepada Allah SWT. Penciptaan manusia juga memiliki hakikat bahwa Allah menciptakan agama islam sebagai pedoman hidup yang harus dijalani oleh manusia selama hidupnya. Seluruh ajaran islam adalah diperuntukkan untuk manusia dan oleh karena itu manusia wajib beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha esa yakni Allah SWT.

Manusia diciptakan sebagai hamba Allah

Adapun Allah menciptakan manusia untuk mengabdi dan menjadi hamba yang senantiasa beribadah dan menyembah Allah SWT sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikut:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz zariyat ayat 56)

Ibadah yang semestinya dilakukan manusia terdiri dari dua golongan yakni ibadah yang bersifat khusus dan ibadah yang bersifat umum. Ibadah yang sifatnya khusus antara lain ibadah sholat wajib, puasa, zakat, haji dan sebagainya.

Sedangkan ibadah yang bersifat umum adalah seperti melakukan amal saleh yang tidak hanya bermanfaat bagi dirinya akan tetapi bermanfaat juga untuk orang lain dan dilandasi niat yang ikhlas dan bertujuan hanya mencari keridhaan Allah semata seperti bersedekah, menyambung tali silaturahmi, menikah dan sebagainya.

Manusia diciptakan Allah sebagai Khalifah

Kata Khalifah berasal dari bahasa arab yakni khalafa atau khalifatan yang artinya meneruskan, sehingga kata khalifah yang dimaksud adalah penerus agama islam dan ajaran dari Allah SWT.

Sebagai manusia yang berperan sebagai khalifah maka manusia wajib menjalankan tugasnya untuk senantiasa menjaga bumi dan makhluk lainnya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang diperbuatnya kelak di hari akhir. Hal ini disebutkan dalam firman Allah SWT Surat Al-Baqarah ayat 30 yang bunyinya:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanyas dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al Baqarah ayat 30)

Dengan demikian, hakikat penciptaan manusia selayaknya membuat kita sadar bahwa sebagai manusia kita diciptakan untuk menyembah dan melakukan kewajiban kita di dunia sebagai khalifah.

Demikian ulasan tentang Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya (Bahas Lengkap)

Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya

Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya (Bahas Lengkap) – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Perbedaan Haji dan Umroh. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan pengertian haji dan umroh serta perbedaan haji dan umroh dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih lengkapnya simak Artikel berikut ini.

Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya (Bahas Lengkap)

Istilah dalam haji dan umroh bukanlah hal yang asing lagi sebagai umat muslim. Antara Haji dan Umroh tentu memiliki perbedaan.

Dalam hal apa yang  menjadikannya pembeda antara kedua ibadah tersebut. Sebelum membahasa mengenai perbedaan haji dan umroh, alangkah baiknya untuk mengetahui pengertian dari keduanya terlebih dahulu.

Pengertian Haji dan Umroh

Haji merupakan salah satu dari rukun islam yang ke 5 (lima). Dimana hukum dari ibadah Haji adalah wajib bagi orang yang memiliki kemampuan untuk mengerjakannya baik dari sisi fisik maupun finansialnya.

Sedangkan umroh ialah ibadah yang hampir sama dengan ibadah haji namun memiliki hukum yang tidak wajib atau sunnah untuk dikerjakan. Ibadah umroh dapat dikerjakan setiap hari, dikecualikan pada hari diselenggarakannya ibadah haji.

Perbedaan Haji dan Umroh

Setelah melihat dari pengertiannya, keduanya memang memiliki beberapa perbedaan. Adapun perbedaan Haji dan Umroh adalah sebagai berikut:

Perbedaan Hukum

Perbedaan pertama pada haji dan umroh yang utama terletak pada hukumnya. Haji adalah salah satu rukun islam yang ke 5 dan wajib dikerjakan bagi umat muslim. Dengan catatan bagi yang melaksanakan mampu secara fisik dan finansial untuk mengerjakannya. Sedangkan Umroh adalah sunnah muakad atau sunnah yang diutamakan.

Seperti dikutip dari firman Allah SWT dalam QS Ali Imron Ayat 97 dan Hadist Tirmidzi yang berbunyi:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِي

Artinya:

“Menunaikan ibadah haji adalah kewajiban terhadap Allah, yaitu bagi mereka yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari kewajiban haji ini, maka sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Kaya yang tidak memerlukan sesuatu apapun dari semesta alam.” (QS. Ali Imron Ayat 97)

Sedangkan dari Hadist jabir bin ‘Abdillah RA, ia berkata yang artinya:

“Rasulullah SAW ditanya mengenai wajib ataukah sunnah bagi umat muslim untuk menunaikan umroh. Nabi SAW kemudian menjawab, “Tidak. Jika kau berumroh maka itu lebih baik.” (HR. Tirmidzi)

Perbedaan Waktu Pelaksanaan

Saat pelaksanaannya, ibadah haji hanya dilakukan pada bulan haji yaitu pada tanggal 9 sampai 13 bulan Dzulhijjah. Di lain waktu tersebut, ibadah haji tidak dapat dilaksanakan. Artinya, ibadah haji hanya bisa dikerjakan setahun sekali.

Sedangkan unutk ibadah umroh dapat dikerjakan sewaktu-waktu kecuali pada tanggal yang dimakruhkan, yaitu hari Arofah pada tanggal 9 Dzulhijah, hari Nahar pada tanggal 10 Dzulhijjah dan hari tasyrik atau tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah. Intinya, dalam pelaksanaan ibadah umroh tidak dapat dikerjakan bersamaan pada waktu dilangsungkannya ibadah haji.

Perbedaan Tempat Pelaksanaan

Selain perbedaan waktu pelaksanannya, terdapat juga perbedaan dalam tempat pelaksanaannya. Haji dan Umroh memang dilaksanakan di Makkah, namun pada ibadah haji seseorang harus menunaikan rukun yang bertempat di luar Makkah. Adapun rukunnya ialah melakukan wukuf di Arafah, mabit (menginap) di Muzdhalifah serta melempar jumroh di Mina.

Perbedaan Tingkat Keramaian

Dalam melaksanakan ibadah haji, semua umat muslim dari seluruh dunia melaksanakannya secara serentak. Tidak heran, wilayah Makkah menjadi membludak dengan jamaah haji pada saat itu dan menyebabkan keramaian yang sangat luar biasa.

Lain halnya dengan ibadah umroh, ibadah umroh dapat dikerjakan sewaktu-waktu selain di hari yang telah dijelaskan sebelumnya. Oleh karena itu, tingkat keramaiannya pun tidak sepadat dan seramai pada saat dilaksanakannya ibadah haji. Bagi jamaah umroh tidak perlu berdesak-desakan saat melaksanakan setiap rukun ibadah umroh.

Perbedaan Rukun

Perbedaan terakhir diantara keduanya yaitu dari tata cara pelaksanaan Haji dan Umroh atau rukun Haji dan Umroh. Pada saat umroh, seseorang menunaikan rukun umroh yaitu Ihram, Tawaf, Sya’i, dan Tahalul.

Sedangkan pada saat menunaikan ibadah haji, semua rukun tersebut dilakukan dengan menambah 3 rukun haji yaitu wukuf di Arafah, mabit (menginap) di Muzdhalifah, dan melempar jumroh di Mina.

Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya

Persamaan Haji dan Umroh

Selain perbedaannya, tentu antara Haji dan Umroh juga memiliki persamaan. Adapun persamaan Haji dan Umroh adalah sebagai berikut:

  • Kegiatan haji dan umrah akan mendatangkan Pahala.
  • Antara ibadah haji dan umrah diawali dengan keadaan berihram.
  • Kedua ibadah ini dikerjakan terlebih dahulu dengan mengambil miqat makani.
  • Antara Ibadah haji dan umrah, sama-sama memiliki rukun ihram, thawaf, sa’i, dan Tahalul.

Demikianlah Artikel tentang Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya (Bahas Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan Anda. Terima kasih.

√ Doa Untuk Orang Sakit : Bacaan Arab, Latin, Makna & Terjemahnya

Doa Untuk Orang Sakit : Bacaan Arab, Latin, Makna & Terjemahnya

Doa Untuk Orang Sakit : Bacaan Arab, Latin, Makna & Terjemahnya – Pada kesempatain ini akan membahas tentang Doa untuk Orang Sakit. Dimana dalam ulasan kali ini Pengetahuan Islam tentang √ etika ketika menjenguk orang sakit, √ doa untuk orang sakit dan √ makna doa untuk orang sakit pada artikel ini.

Sahabat, sebagai muslim yang mana Rasulullah telah mengajarkan kita agar saling peduli dengan sesama. Apalagi bila ada tetangga atau saudara kita yang mengalami musibah tentu kita dianjurkan untuk mendoakan yang terabaik. Untuk lebih jelasnya silahkan simak pembahasan berikut ini

Doa Untuk Orang Sakit : Bacaan Arab, Latin, Makna & Terjemahnya

Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara dan doa untuk saudara atau tetangga yang tertimpa musibah. Baik sakit, kecalakaan, meninggal dan lainnya. Sehingga kita dapat mengurangi beban mereka dan mendoakan untuk diberikan yang terbaik.

Menjenguk Orang Sakit

Menjenguk orang sakit, baik itu kerabat, saudara, teman atau sesama muslim adalah amal kemanusiaan yang oleh Islam dinilai sebagai ibadah dan qurbah (pendekatan diri kepada Allah). Sebagaimana Rasulullah telah bersabda:

“Barang siapa menjenguk orang sakit, maka ia masuk dalam rahmat Allah. Dan, jika ia duduk di sampingnya, maka rahmat (Allah) membanjiri padanya.” (HR.Ahmad, Bukhari, dan Muslim).

Menjenguk orang yang sedang sakit merupakan perbuatan mulia yang didalamnya terdapat keutamaan yang agung. Sebagaimana sabda Rasulullah, bahwa hak seorang muslim kepada muslim lainnya adalah:

  • Bila bertemu orang muslim maka ucapkanlah salam.
  • Bila orang muslim mengundangmu maka hadirilah.
  • Bila orang muslim meminta nasihat maka nasihatilah.
  • Bila orang muslim bersin dan memuji Allah (mengucap: alhamdulillah) maka jawablah (dengan mengucapkan: yarhamukallah).
  • Bila orang muslim sakit maka jenguklah.
  • Bila orang muslim meninggal dunia maka antarkanlah (urus jenazahnya hingga dimakamkan).

Dari sabda Rasulullah diatas, menjenguk orang sakit adalah merupakan salah satu ibadah yang dianjurkan dan merupakan bagian dari salah satu hak orang muslim kepada muslim lainnya. Terdapat pahala besar yang dijanjikan oleh Allah, ketika menjenguk orang sakit dan memanjatkan doa untuk orang sakit tersebut.

Etika Ketika Menjenguk Orang Sakit

Hendaknya saat menjenguk orang sakit, ada beberapa etika atau adab ketika menjenguk orang sakit yang harus kita ketahui.

Niat Menjenguk Orang yang Sakit

Hendaknya kita niatkan dengan niat karena iman dan mengharapkan pahala Allah. Dan jika mampu, usahakanlah untuk membawa barang bawaan berupa makanan kesukaannya.

Disebutkan dalam sebuah haditst:

“Barang siapa memberi makan orang yang sakit apa yang diinginkannya, maka Allah akan memberi makan kepadanya dari buah-buahan surga.” (HR. Thabrani).

Ketika Menemui Orang Sakit Sampaikan Nama Anda

Saat Anda telah menemui atau menjenguk orang sakit, hendaknya terlebih dahulu kita sebutkan nama kita secara jelas kepada si sakit karena mungkin saja ia kurang paham dengan siapa yang datang berkunjung.

Dengan mengetahui siapa yang datang menjenguk, akan membuat orang yang sakit merasa bahagia dan gembira dengan kunjungan Anda.

Usahakan Anda Duduk Dekat Di Samping Kepalanya

Kalau memungkinkan usahakan Anda duduk di samping kepalanya orang yang sakit. Hal ini sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan orang-orang shalih sesudah beliau.

Diriwayatkan dari Anas Ra, ia berkata:

“Apabila Nabi Muhammad menjenguk orang yang sakit, beliau duduk di sisi kepalanya.” (HR.Bukhari).

Usahakan Untuk Menjabat Tangan Orang yang Sakit

Usahakan Anda menjabat tangan orang yang sakit, memegang keningnya, tangannya atau bagian tubuh lainnya, sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad. Rasulullah bersabda:

“Merupakan kesempurnaan menjenguk orang yang sakit adalah salah seorang kalian meletakkan (tangannya) pada wajahnya atau tangannya, kemudian bertanya bagaimana keadaannya. Kesempurnaan penghormatan di antara kalian adalah berjabat tangan.” (HR.Ahmad dan Thabrani).

Hal ini kita lakukan sebagai wujud perhatian dan kasih sayang kita kepadanya. Di samping itu, meletakkan tangan ini bisa membawa pengaruh meringankan sakitnya.

Tanyakan Bagaimana Keadannya atau Kondisinya

Usahakan untuk menanyakan bagaimana keadaannya, sambil menampakkan rasa belas kasih kepadanya. Misalnya, dengan menanyakan bagaimana dengan sakit yang dideritanya, kapan mulai sakit, apakah sudah diperiksakan ke dokter atau belum, dan lain sebagainya.

Menghibur Orang yang Sakit

Anda juga dianjurkan menghiburnya dengan mengatakan sesuatu yang bisa menimbulkan rasa optimis dan keyakinan pada kesembuhannya. Membesarkan hatinya dan menganjurkannya untuk berbaik sangka pada Allah dan berlaku sabar terhadap sakitnya.

Sebaiknya Anda juga mengingatkan dan menyebutkan amal-amal kebaikan serta kebajikan yang pernah diperbuat selama hidupnya, kemudian memujinya. Sebab, hal ini bisa menambahkan kebahagiaan dan rasa optimisnya.

Akan tetapi, perlu diingat bahwa janganlah terlalu banyak bertanya, karena hal itu bisa mengganggu istirahatnya. Jangan pula terlalu banyak memberi ceramah atau nasihat karena hal itu dapat menyinggung perasaannya.

Jagalah Ucapan Ketika Menjenguk Orang Sakit

Jagalah lisan atau ucapan Anda ketika mengucapkan sesuatu, usahakan sesuatu ucapan yang baik. Karena, saat itu malaikat hadir dan ikut mengamini setiap ucapan yang keluar dari mulut Anda. Rasulullah bersabda:

“Apabila kalian menghadiri orang yang sakit atau mayat, maka ucapkanlah ucapan yang baik, karena sesungguhnya malaikat mengamini atas apa yang kalian ucapkan.” (HR.Muslim).

Jangan Terlalu Lama di Samping Orang Sakit

Jangan terlalu lama berada di samping orang yang sakit, kecuali jika Anda yang mempunyai hubungan khusus dengan si sakit. Jika dirasa sudah cukup, sebaiknya kita segera keluar dan biliknya agar ia bisa istirahat. Rasulullah bersabda:

“Menjenguk yang paling utama pahalanya adalah cepat-cepat berdiri dari sisi orang yang sakit.” (HR. Dailami).

Akan tetapi, jika si sakit menyukai orang yang menjenguknya tinggal lebih lama di sisinya atau memintanya agar sering menjenguknya, maka lebih utama baginya untuk memenuhi keinginan si sakit. Sebab, hal tersebut dapat membahagiakan dan meyenangkan hatinya sehingga membuatnya cepat sembuh.

Mendoakan Orang yang Sakit

Hal penting yang perlu diingat saat menjenguk orang yang sakit adalah mendoakan kesembuhannya. Dan, barangkali telah menjadi hal yang biasa dilakukan bahwa sebelum beranjak pulang, penjenguk biasanya akan mendoakan si sakit. Misalnya dengan mengatakan,

“Semoga cepat sembuh, semoga kamu cepat diberi kesembuhan, atau semoga lekas sehat dan bisa kembali berkumpul Bersama Anda.”

Sebuah ucapan adalah doa, dan tidak terkeuali ungkapan yang demikian itu. Apalagi saat itu malaikat juga ikut hadir dan mengamini setiap ucapan Anda, entah itu yang baik atau yang buruk.

Doa Untuk Orang Sakit

Ada baiknya jika Anda membaca doa untuk orang sakit dengan doa khusus yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saat menjenguk orang yang sakit. Doa untuk orang sakit sesuai sunnah ini dianjurkan untuk dibaca sebanyak tujuh kali.

Bacaan Doa Untuk Orang Sakit

Adapun bacaan yang akan di ucapkan pada saat menjenguk orang sakit sebagai berikut.

Bacaan Doa Untuk Orang Sakit Arab

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ وَاشْفِهُ وأَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَآءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

Bacaan Doa Untuk Orang Sakit Latin

“Allahumma Rabbannaasi Adzhibil Ba’sa Wasy Fihu, Wa Antas Syaafii, Laa Syifaa-a Illa Syifaauka, Syifaa-An Laa Yughaadiru Saqomaa”.

Arti Doa Untuk Orang Sakit

“Hilangkanlah kesukaran atau penyakit itu, wahai Tuhan manusia. Sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha menyembuhkan. Taka da kesembuhan, kecuali kesembuhan-Mu. Kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain.” (HR.Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lainnya).

Makna Doa Untuk Orang Sakit

Doa untuk orang sakit di atas mengandung beberapa makna yaitu:

Dari Bacaan “Asy-Syafii”

Asy-Syafii (الشَّافِي) yang artinya “Yang Maha Menyembuhkan”.

Makna dari bacaan ini adalah meminta kepada Allah agar berkenan menyembuhkan sakitnya, kepayahannya, dan siksaannya dengan perantaraan menyebut nama-Nya yang agung.

Dari Bacaan “Antas Syaafii, Laa Syifaa-a Illa Syifaauka”

Bacaan “Antas Syaafii laa syifaa’a illa syifaauka” (أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَآءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ ) yang artinya “Engkau Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan, kecuali kesembuhan-Mu”.

Dari bacaan ini bermakna meyakinkan bahwa sesungguhnya tidak ada yang dapat memberi kesembuhan pada penyakit itu, kecuali hanya Allah semata, karena hanya Allah yang memberikan kesembuhan.

Allah berfirman dalam Al Quran surah Asy-Syu’araa ayat 80:

وَ اِذَا مَرِضۡتُ فَہُوَ یَشۡفِیۡنِ

Artinya: “Dan, apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkanku.” (QS. Asy-Syu’araa ayat 80).

Bacaan “Syifaa’an laa yughaadiru saqaman”

Sebagaimana bacaan “Syifaa’an laa yughaadiru saqaman” (شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا) yang artinya “Kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit”.

Makna dari bacaan ini adalah menekankan lagi bahwa kesembuhan yang diminta kepada-Nya adalah kesembuhan yang mutlak, yatu kesembuhan yang tidak menyisakan suatu penyakit apa pun.

Berdoa demikian karena terkadang ia bisa sembuh dari penyakit tersebut, tapi muncul lagi penyakit lainnya.

Anda juga bisa membaca doa berikut sebanyak satu kali:

أَسْأَلُ اللهَ العَظِيْمَ رَبَ العَرْشِ العَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

Artinya: “Aku mohon kepada Allah Yang Maha agung, Rabb Arsy yang agung, semoga Dia berkenan menyembuhkanmu.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Doa di atas mengandung makna untuk meminta kepada Allah dengan keagungan-Nya, yakni Dia Yang Maha Besar dalam Dzat-Nya dan sifat-sifat-Nya, Rabb Arsy yang agung agar berkenan menyembuhkan penyakit.

Kesembuhan dengan cepat dari penyakit fisik yang diderita, jika memang ditakdirkan untuk sembuh. Atau kesembuhan dari penyakit batin dan selamat dari segala penyakit.

Doa Untuk Orang Sakit : Bacaan Arab, Latin, Makna & Terjemahnya

Saat berdoa, hendaklah disertai dengan memegang bagian tubuh yang sakit. Hal itu sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad.

Diriwayatkan dari Aisyah Ra ia berkata:

“Apabila beliau mendapati salah seorang dari kami mengeluh sakit, beliau mengusapnya dengan tangan kanannya kemudian mengucapkan, “Hilangkanlah kesusahan, wahai Rabb manusia…” (HR.Muslim).

Selain mendoakan untuk kesembuhan orang yang sakit, hendaknya tidak lupa Anda meminta doa dari orang yang sakit tersebut. Karena doa dari orang sakit pada saat saat itu sangatlah mustajab. Nabi Muhammad bersabda:

“Jika kamu masuk kepada orang yang sakit, maka mintalah ia untuk mendoakanmu, karena sesungguhnya doanya seperti doa malaikat.” (HR.Ibnu Majah dan Ibnu Sunni).

Demikian ulasan tentang Doa Untuk Orang Sakit : Bacaan Arab, Latin, Makna & Terjemahnya  yang bisa Anda praktekkan. Semoga Allah senantiasa memberikan kepada kita semua kesehatan dan kemudahan, Aamin.

√ Inilah Doa Masuk Kamar Mandi & Doa Keluar Kamar Mandi Lengkap

Inilah Doa Masuk Kamar Mandi & Doa Keluar Kamar Mandi Lengkap – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Mandi. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan pengertian mandi, tata cara madi, doa masuk kamar mandi dan doa keluar kamar mandi. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan berikut ini.

Inilah Doa Masuk Kamar Mandi & Doa Keluar Kamar Mandi Lengkap

Mandi adalah sesuatu kegiatan rutin yang dilakukan oleh seluruh manusia di dunia. Terutama bagi umat muslim, aktifitas mandi yang hukumnya adalah sunnah bisa menjadi wajib. Karena dengan mandi berarti telah Anda membersihkan diri dari hadast kecil atau besar seperti mandi junub misalnya.

Dalam islam ada adab jika hendak memasuki kamar mandi. Salah satu adabnya yaitu dengan membaca doa masuk kamar mandi dan juga doa keluar kamar mandi jika sudah selesai.

Mengapa harus membaca doa sebelum masuk kamar mandi?

Anda harus senantiasa membaca doa sebelum memasuki kamar mandi. Karena seperti yang Anda pahami bahwa setan akan selalu mengikuti manusia kemana saja manusia pergi. Apalagi memasuki di tempat yang tidak suci seperti halnya kamar mandi, jamban atau WC.

Dengan membaca doa maka setan dan jin kafir akan menjauh dan tidak mengganggu Anda pada saat kita melakukan aktivitas di kamar mandi. Maka dari itu Anda harus selalu membaca doa masuk kamar mandi dan doa keluar dari kamar mandi.

Doa Masuk Kamar Mandi Sesuai Sunah Rossul

Bacaan doa ketika masuk dan keluar kamar mandi atau doa ketika masuk WC atau keluar WC sangat singkat dan mudah dipraktekkan. Berikut ini adalah bacaan doa arab, latin dan artinya serta adab ketika berada di kamar mandi.

Bacaan doa masuk kamar mandi arab

اَللّٰهُمَّ اِنِّيْ اَعُوْذُبِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَآئِثِ

Bacaan doa kamar mandi latin

“Alloohumma Innii A’uudzubka Minal Khubutsi Wal Khobaaitsi”

Artinya dalam bahasa Indonesia

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan dan kotoran”

Doa Keluar Kamar Mandi Sesuai Sunnah Rosul

Ketika kita hendak keluar dari kamar mandi Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita untuk berdoa. Adapun bacaan doanya sebagai berikut.

Bacaan doa keluar kamar mandi arab

الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ اَذْهَبَ عَنّى اْلاَذَى وَعَافَانِىْ

Bacaan doa keluar kamar mandi latin

“Alhamdulillaahil-ladzii Adz-haba ‘Annil-adzaa Wa’aafaanii”

Artinya dalam bahasa Indonesia

“Dengan mengharap ampunanMu, segala puji milik Allah yang telah menghilangkan kotoran dari badanku dan yang telah menyejahterakan”

Adab Masuk dan Keluar Kamar Mandi

Setelah memahami doa masuk kamar mandi dan doa keluar kamar mandi, Anda hendaknya memahami adab ketika berada di kamar mandi.

Karena sebagai muslim yang baik punya sopan santun dan adab dalam berbagai hal di kegiatan sehari-harinya. Salah satu adabnya yaitu ketika mau masuk kamar mandi atau ketika berada di kamar mandi.

Berikut adab masuk kamar mandi dan keluar kamar mandi yang bisa Anda lakukan:

  • Ketika hendak memasuki kamar mandi, hendaklah membaca بِسْمِ اللهِ agar ketika sedang berada di kamar mandi terhindar dari gangguan setan atau jin kafir.
  • Membaca doa sebelum masuk ke kamar mandi seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.
  • Ketika akan melangkah masuk ke kamar mandi, dahulukan kaki kiri terlebih dahulu. Karena kamar mandi merupakan tempat najis tempatnya setan berada.
  • Ketika berada di kamar mandi atau WC, pakailah alas kaki seperti sandal jepit atau sandal plastik.
  • Ketika berada di kamar mandi atau WC, usahakan jangan bernyanyi atau berbicara keras.
  • Ketika berada di kamar mandi atau WC, dilarang membawa ayat-ayat Al Qur’an atau mebaca ayat-ayat Al Qur’an.
  • Jika di dalam kamar mandi atau WC ingin BAB atau PUP, usahakan jangan menghadap atau membelakangi kiblat. Usahakan dengan arah menyamping, Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,

“Apabila seseorang dari kalian buang hajat, maka janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya. Akan tetapi hendaknya ia menyamping dari arah kiblat”. (HR. Al-Bukhari). Namun jika menyamping tidak bisa, maka arahkan selain arah ke kiblat.

  • Tidak boleh menjawab salam atau mengucapkan salam dari kamar mandi.
  • Usahakan menutup pintu kamar mandi supaya aurat tidak terlihat oleh orang lain dari luar.
  • Jika sudah selesai mandi atau buang hajat, hati-hati dengan najis, ketika selesai BAB atau PUP, siram atau aliri sampai benar-benar bersih.
  • Ketika akan melangkah keluar dari kamar mandi, dahulukan kaki kanan terlebih dahulu disertai dengan membaca doa غُفْرَانَكَ yang artinya “Aku meminta ampun kepadaMu”.

Manfaat Dari Membaca Doa Masuk Kamar Mandi Dan Keluar Kamar Mandi

Dari keterangan Pengetahuan Islam diatas tentang doa masuk ke kamar mandi dan keluar dari kamar mandi ada beberapa manfaat yang perlu kita ketahui.

Manfaat ketika masuk kamar mandi

Ketika Anda ingin mandi atau ingin buang air kecil, Pastinya Anda akan mengeluarkan aurat atau bahkan melepas semua pakaian. Dengan berdoa maka aurat Anda akan tidak terlihat oleh setan dan jin kafir. Dan dengan berdoa maka Anda akan terhindar dari perbuatan buruk selama di kamar mandi atau WC.

Anda tidak dapat mengetahui kapan Anda akan meninggal bukan? Mungkin saat mandi di kamar mandi atau sedang buang hajat di WC itulah ajal menghampiri.

Jika sebelum masuk kamar mandi atau masuk WC sudah membaca doa masuk kamar mandi, maka insyaallah jika ada kejadian yang sampai meninggal dunia maka dalam keadaan khusnul khotimah.

Manfaat ketika keluar kamar mandi

Ketika berada di dalam kamar mandi, selain mandi mungkin juga melakukan buang air besar atau buang air kecil. Hal ini bertujuan untuk membuang hajat yang ada di dalam tubuh Anda. Setelah melakukan semua kegiatan buang hajat di kamar mandi atau WC itulah terjaga kesehatan Anda.

Maka pada saat Anda keluar dari kamar mandi, dianjurkan mengucapkan syukur kepada Allah SWT yaitu dengan membaca doa keluar kamar mandi. Sebagai ucapan syukur terhadap pemberian-Nya atas kesehatan yang telah menghilangkan kotoran dan penyakit dari dalam tubuh Anda. Sekarang Anda sudah paham dan mengerti bacaan doa, adab dan manfaat doa masuk kamar mandi dan doa keluar kamar mandi.

Silahkan dipahami, hafalkan dan praktekkan. Usahakan jangan hanya berdoa ketika masuk WC atau doa keluar WC saja, karena umat muslim dianjurkan selalu memulai segala aktifitasnya dengan berdoa. Segala aktifitas yang diawali dengan doa maka langkah yang kan Anda lakukan akan mendapat perlindungan-Nya dimanapun Anda berada.

Demikian ulasan tentang Inilah Doa Masuk Kamar Mandi & Doa Keluar Kamar Mandi Lengkap. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Bacaan Doa Melepas Pakaian

Bacaan Doa Melepas Pakaian

Bacaan Doa Melepas Pakaian – Bagi seorang muslim pakaian merupakan peranan penting yang mana berfungsi sebagai penutup aurat. Sebagaimana telah diperintahkan oleh Allah SWT yang mana perintah wajib untuk menutup auratnya. Sebab membuka aurat bukan pada tempatnya akan mendapatkan dosa bagi seseorang.

Dengan menutup aurat yang mana salah satu syarat sah dalam mengerjakan suatu ibadah seperti sholat wajib, sunah bahkan melakukan haji dan umroh.

Demikian penjelasan yang sudah diterangkan bahwa sebelum memakai pakaian terlebih dahulu dianjurkan untuk membaca doa memakai pakaian sebagai ungkapan rasa syukur kita akan nikmat yang diberikan oleh Allah.

Dengan pakaian yang telah diciptakan oleh Allah serta memberikan manfaat kepada manusia guna menutupi aurat. lebih lengkapnya simak artikel Pengetahuanislam.com tentang Doa Melepas Pakaian berikut ini.

Bacaan Doa Melepas Pakaian

Sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al A’raaf ayat 26 mengenai fungsi daripada pakaian bagi manusia, yaitu:

یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ قَدۡ اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکُمۡ لِبَاسًا یُّوَارِیۡ سَوۡاٰتِکُمۡ وَ رِیۡشًا ؕ وَ لِبَاسُ التَّقۡوٰی ۙ ذٰلِکَ خَیۡرٌ ؕ ذٰلِکَ مِنۡ اٰیٰتِ اللّٰہِ لَعَلَّہُمۡ یَذَّکَّرُوۡنَ

Artinya :

“Wahai anak cucu Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu pakaian yang menutup auratmu dan juga (pakaian) bulu (untuk menjadi perhiasan), dan pakaian takwa itulah yang paling baik”. (QS. Al-A’raaf ayat 26).

Melihat dari ayat tersebut dapat menari kesimpulan bahwa fungsi daripada pakaian terdidir dari 3, yakni:

  • Sebagai Penutup Aurat
  • Sebagai Perhiasan
  • Sebagai Bentuk Taqwa

Sesungguhnya agama telah memerintahkan kepada kita agar menutup aurat dan melarang membukanya supaya tidak menimbulkan fitnah dan pemicu perilaku dosa serta maksiat.

Akan tetapi larangan ini tidaklah bersifat mutlak, terdapat batasan dan bagian tertentu yang mana aurat boleh terbuka dan terlihat oleh orang lain.

Semisal kepada sesama mahram, adik atau kakak kandung ada kebolehan melihat sebagian aurat misalnya rambut, kepala, kaki, leher, tangan atau lainnya.

Hal demikian berlaku pada saat keadaan sendiri yang mana tak ada satupun manusia melihat kita, maka diperbolehkan membuka aurat kita untuk sebagian atau keseluruhannya.

Hal demikian sebab diperlukan untuk membuka aurat karena untuk keperluan buang hajat, ganti baju, mandi wajib atau lain sebagainya

Oleh karena itu Rasulullah telah mengajarkan kepada kita agar membaca doa terlebih dahulu ketika akan melepas pakaian.

Bacaan Doa Melepas Pakaian

Doa Melepas Pakaian

بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ

Bacaan Doa Melepas Pakaian Latin

BISMILLAAHIL LADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWA

Arti Bacaan Doa Melepas Pakaian

Dengan nama Allah yang tiada Tuhan selain-Nya

Manfaat Doa Melepas Pakaian

Terdapat manfaat dari membaca doa melepas pakaian atau melepas baju yang mana agar terlindungi dari goadaan setan dan jin yang melihat kita tanpa tertutup pakaian apapun.

  1. Sebagai Pelindung Diri Atas Terbukanya Aurat

Rasulullah bersabda :

“Dahulu, orang-orang Bani Israil biasa mandi tanpa sehelai kainpun, saling melihat satu sama lainnya. Sementara, Nabi Musa mandi sendirian.”

Mereka berkata,

“Demi Allah, tidak ada yang menghalangi Musa mandi bersama kita, kecuali karena bagian tubuhnya bengkak (hernia).”

“Suatu ketika, Nabi Musa pergi seorang diri hendak mandi. Beliau meletakkan pakaian di atas sebuah batu. Lalu, batu itu membawa lari pakaiannya.”

“Maka, Nabi Musa pun mengejar batu itu sambal berteriak, “Hai batu, kembalikan bajuku!’ Kejadian itu terlihat oleh orang-orang Bani Israil.”

“Mereka berkata, ‘Demi Allah, ternyata Musa tidak menderita kelainan sedikit pun.’ Lalu, Musa mengambil pakaiannya dan memukul batu tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Ketika Nabi Ayyub sedang mandi sendirian, jatuhlah kepingan-kepingan emas laksana belalang menimpa tubuhnya.”

Maka, ia pun menampungnya dengan kedua telapak tangannya, lalu meletakkannya ke dalam pakaiannya. Maka, Allah memanggilnya, “Hai Ayyub, bukankah Aku telah mencukupimu daripada sesuatu yang engkau lihat itu?’

Ayyub menjawab, ‘Benar, demi kemuliaan-Mu, namun aku tidak merasa cukup menerima barakah dari-Mu.” (HR.Bukhari).

Melihat keterangan hadits tersebut, bahwa mandi tanpa menggunakan pakaian atau membuka aurat pada waktu sendirian diperbolehkan walaupun lebih baik atau utama agar menutup aurat.

Bagaimanapun juga kita lebih malu terhadap Allah dari pada terhadap manusia.

  1. Sebagai Pelindung Dari Pandangan Jin

Sebagaimana telah diterangkan didalam hadits, yaitu :

“Hindarilah tanpa memakai pakaian, karena ada (malaikat) yang selalu Bersama kamu, yang tidak pernah berpisah denganmu, kecuali ketika ke kamar belakang dan ketika seseorang berhubungan dengan istrinya. Maka, malulah kepada mereka dan hormatilah mereka.” (HR. Tirmidzi).

“Apabila salah seorang dari kamu berhubungan dengan pasangannya, jangan sekali-kali keduanya tanpa memakai pakaian sehelaipun, karena hal itu bagaikan binatang.” (HR.Ibnu Majah).

Perlu Anda ingat, pada saat sendirian dan tak ada seorangpun manusia lain melihat aurat. Saat itu hendaknya lebih waspada dari pandangan makhluk selain manusia yaitu dari pandangan jin.

Karena jin dapat menempati ditempat manapun dan mereka juga dapat melihat kita kapanpun. Bukan tidak mungkin sebuah pandangan akan timbul kejahatan atau hal lainnya yang tidak diinginkan.

Sebagaimana Rasulullah telah bersabda, yaitu :

العين حقُّ ولو كان شيء سابق القدر لسبقته العين

Artinya :

“Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada. Seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya”. (HR. Muslim).

Bahaya pandangan mata(‘ain) yang telah beliau jelaskan, yang mana dapat menyebabkan kerusakan tak terkecuali dari padangan jin terhadap aurat manusia.

Namun ada 4 (empat) hal yang dapat menyebabkan jin masuk kedalam tubuh manusia, antara lain:

  1. Jin suka dengan orang tersebut, hal ini bisa terjadi karena jin takjub saat melihat keindahan tubuh manusia.
  2. Jin merasa telah disakiti oleh manusia, contohnya sebab seseorang kencing di tempat yang biasa di tempati jin seperti air yang tenang, lubang, atau lain sebagainya.
  3. Karena jin itu ingin menzhalimi manusia atau inisiatifnya sendiri, hal tersebut dapat terjadi sebab pandangan yang menyebabkan kedengkian jin terhadap manusia.
  4. Jin tersebut dikirim oleh tukang sihir atau dukun guna mencelakai seseorang.

Agar dapat menutupi aurat daripada pandangan jin dan selalu terjaga dari kejahatan, maka Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk berdoa ketika melepas pakaian.

Sebagaimana telah Diriwayatkan dari Anas Ra bahwa Rasulullah telah bersabda:

سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ: إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمُ الخَلَاءَ، أَنْ يَقُولَ: بِسْمِ اللَّهِ

Artinya :

“Penutup antara pandangan jin dan aurat anak Adam ketika seorang melepas pakaiannya adalah dengan mengucapkan “Bismillah” (Dengan menyebut nama Allah aku melepas pakaian).” (HR.Tirmidzi).

Didalam riwayat lainnya menyebutkan bahwa:

“Penutup antara pandangan jin dan aurat anak cucu Adam ketika salah seorang melepas pakaiannya adalah dengan mengucapkan ‘bismillah.” (HR.Thabrani).

Al-Hakim berkata :

“Sesungguhnya, seorang mukmin menolak musuh ini (setan) dengan menggunakan penutup ini (bismillah), maka hendaknya ia tidak lupa darinya.

Sesungguhnya, jin itu bercampur dengan anak Adam, sebagian mereka (para jin) ada yang menikah dengan sebagian mereka (manusia).

Manusia bersekutu dengan jin dalam kaum wanitanya, sedangkan jin bersekutu dengan manusia dalam kaum perempuanya.

Maka, jika anak Adam ingin menolak jin dari persekutuannya, hendaklah ia mengucapkan “bismillah”, karena “bismillah” itu adalah cap untuk setiap rezeki yang dimiliki anak cucu Adam sehingga jin tidak sanggup menerobos cap itu.”

Demikian penjelasan tentang Bacaan Doa Melepas Pakaian, semoga dapat memberikan manfaat dan menambah wawasan pengetahuan Anda.

√ Panduan dan Bacaan Doa Memandikan Jenazah Mayit Laki-laki

Panduan dan Bacaan Doa Memandikan Jenazah Mayit Laki-laki

Panduan dan Bacaan Doa Memandikan Jenazah Mayit Laki-laki  – Pada kasempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Memandikan Jenazah. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan panduan serta bacaan doa memandikan jenazah pada mayit laki-laki dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelas dan mudah dipahaminya bisa Anda lihat artikel berikut ini.

Panduan dan Bacaan Doa Memandikan Jenazah Mayit Laki-laki

Memandikan mayit merupakan salah satu dari fardhu kifayah bagi umat muslim, yang mana bila sudah ada yang melakukannya maka gugur kewajiban bagi sebagian yang lain. Namun bila mana tidak ada yang memandikannya maka akan mendapatkan dosa.

Perkara kewajiban bagi orang yang hidup terhadap mayit :

Seperti halnya yang sudah kita ketahui bahwa kewajiban dari mengurus mayit ada 4 hal yang harus dilakukan agar gugur kewajiban dari fardhu kifayah, antara lain yaitu:

  • Memandikan
  • Mengkafani
  • Menyolatkan
  • Menguburkan

Serta ada 2 hal bagi mayit yang tidak perlu unutk dimandikan serta disholatkan, antara lain yaitu:

  1. Orang yang gugur/mati dalam keadaan jihad fi sabilillah.
  2. Siqith (anak keluron yaitu anak yang lahir belum sempurna 4 bulan. Sehingga ada teriakan atau bersin. Maka apabila lahir ada suara walaupun sedikit dalam arti sempat hidup walaupun satu detik maka hukumnya sama dengan yang sudah besar).

Tata Cara Memandikan Jenazah Laki-laki Dewasa

Pada jenazah laki-laki dewasa diharuskan untuk dimandikan oleh laki-laki juga, dan untuk mayit perempuan oleh perempuan juga. Tidak diperbolehkan memandikan walaupun itu anaknya sendiri kecuali pada keadaan dorurat/terpaksa.

Adapun istri atau suami memandikan tentu diperbolehkan akan tetapi bila mana ada kaum sesama jenisnya lebih baik dilakukan oleh mereka. Alasannya agar tidak menimbulkan fitnah, adapun bila tidak menimbulkan fitnah maka diperkenankan.

Pada proses memandikan jenazah hendaknya dilakukan pada tempat yang tertutup walupun itu jenazah laki-laki kecuali pada keadaan dhorurat dan yang menandikan sebaiknya merupakan keluarga terdekat mayit.

Dalam proses memandikan jenazah merupakan pertama yang dilakukan dalam mengurusi jenazah dan juga termasuk tindakan memuliakan dan membersihkan jasad mayit sendiri.

Tata Cara dan Aturan Memandikan Jenazah

Pada proses memandikan mayit tentu terdapat aturan dan tata cara yang perlu di lakukan dalam proses memandikan mayit.

Dalam hal ini para ulama menjelaskan bahwa ada 2 macam dalam memandikan mayit/jenazah, antara lain:

  • Melakukan dengan cara sederhani yaitu melaksanakan kewajiban saja.
  • Melakukan dengan cara sempurna yaitu melaksanakan kewajiban dan sunahnya dalam memandikan mayit.

Cara Memandikan Jenazah yang Menggugurkan Kewajiban

Dalam hal ini memandikan mayit hanya melaksanakan demi gugurnya kewajiban dalam fardu kifayah. Sebagaimana yang telah diterangkan oleh Syekh Salim bin Sumair Al-Hadlrami dalam kitabnya Safînatun Najah (Beirut: Darul Minhaj, 2009):

أَقَلُّ الْغُسْلِ تَعْمِيْمُ بَدَنِهِ بِالْمَاءِ

Artinya: “Setidak-tidaknya memandikan mayit itu harus meratakan air ke seluruh anggota badan mayit dengan air.”

Sesuai dengan keterangan diatas yaitu hanya sekedar menggugurkan kewajiban dan sah menurut hukum. Maka cukup air disiramkan pada seluruh anggota badan mayit secara merata, begitu saja sudah cukup.

Memandikan Jenazah Laki-laki Dewasa yang Sempurna

Dalam hal ini disamping melakukan kewajiban tentu dilengkapi dengan kesunahan dalam memandikan mayit, sepertihalnya diterangkan oleh Syekh Salim :

وَأَكْمَلُهُ اَنْ يَغْسِلَ سَوْأَتَيْهِ وَأَنْ يَزِيْلَ الْقَذْرَ مِنْ أَنْفِهِ وَأَنْ يُوْضِأَهُ وَأَنْ يَدْلُكَ بَدَنَهُ بِالسِّدْرِ وَأَنْ يَصُبَ الْمَاءَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا

Artinya: “Dan adapun sempurnanya memandikan mayit adalah membasuh kedua pantatnya, dan agar menghilangkan kotoran dari hidungnya, kemudian mewudhukannya, menggosok badannya dengan daun bidara, dan menyiramnya dengan air sebanyak tiga kali.”

Syarat Orang yang Memandikan Jenazah

  • Muslim
  • Ber’akal
  • Baligh
  • Jujur dan Sholih
  • Amanah, mengerti hukum serta tata cara memandikan Jenazah
  • Bisa/dapat menutupi aib Jenazah

Urutan dalam Memandikan Jenazah Laki-laki

  • Laki-laki yang masih ada hubungan keluarga seperti: anak, adik, kakak, bapak, atau kakek.
  • Istrinya, karena istri boleh mendikan jenazah suaminya.
  • Laki-laki lain yang tidak ada hubungan keluarga.
  • Perempuan yang masih berstatus Muhrim (yang haram dinikah).

Cara Memandikan Jenazah Dengan Sempurna

  • Periksalah kuku jenazah, jika kukunya panjang maka dipotong dulu ukuran normal.
  • Periksa bulu ketiaknya, jika panjang sebaiknya dicukur. dan bulu kemaluan tidak boleh dicukur sabab itu adalah aurat.
  • Selanjutnya angkat kepala jenazah sampai setengah duduk lalu tekan perutnya supaya kotorannya keluar.
  • Kemudian siram seluruh tubuh jenazah sampai kotoran yang keluar dari perut tidak ada yang menempel pada tubuhnya.
  • Bersihkan qubulnyq (kemaluannya) dan dubur supaya tidak ada kotoran yang menempel
  • Pada saat membersihkan qubul dan dubur mestinya memakai sarung tangan supaya tangan tidak menyentuh kemaluan jenazah secara langsung.
  • Setelah kotoran dalam perut sudah bersih, selanjutnya adalah menyiram jenazah, silaman dimulai dari anggota tubuh sebelah kanan, mulai kepala, leher, dada, perut, paha sampai kaki paling ujung. Sambil baca doa. Sakollahu shobiba rohmatihi waridwanihi
  • Basuh jenazah dengan menuangkan air ketubuh jenazah, lalu bagian tubuh juga digosok perlahan dengan atangan atau kain handuk yang halus sambil berdoa: Sakollahu shobiba rohmatihi waridwanihi
  • Apabila sudah selesai dimandikan, orang yang memandikan mewudhukannya seperti wudhu yang biasa dilakukan sebelum sholat, yang perlu diingat adalah jangan memasukan air ke dalam hidung dan mulut jenazah, akan tetapi cukup dengan cara membasahi jari yang dibungkus dengan kain atau sarung tangan lalu bersihkan bibir jenazah dengan menggosok gigi dan kedua lubang hidung jenazah sampai bersih.
  • Menyela-nyela jenggot dan mencuci rambut jenazah dengan air perasan daun bidara, dan sisanya dapat digunakan untuk membasuh sekujur tubuh jenazah kalau meang daun bidaranya ada, kalau tidak ya tidak perlu.
  • Setelah itu keringkan tubuh jenazah dengan menggunakan handuk, selanjutnya tinggal mengkafani.

Bacaan Doa Pada Saat Memadikan Jenazah

Berikut ini adalah beberapa bacaan doa pada saat proses memandikan jenazah atau mayit yang perlu Anda ketahui.

  • Bacaan Memejamkan Mata Mayit yang masih terbuka

Bila melihat orang yang meninggal dan matanya masih tidak mejam / masih terbuka, maka pejamkanlah dengan secara perlahan sambil membaca Bismilahirrahmanirrahim.

  • Bacaan Untuk Memajamkan Mata Mayit

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ

(Bismillahirrohmanirrohim. Bismilahi wa’ala milati rosulillahi solallahu ‘alaihi wasalam)

Artinya: Dengan Nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, Dengan Nama Allah dan tetap di atas Agama Rasulullah Sollallahu ‘alai wa sallam.

  • Bacaan untuk Menggotong Mayit

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ

(Bismillahirrohmanirrohim. Bismilahi wa’ala milati rosulillahi solallahu ‘alaihi wasalam)

Artinya: Dengan Nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, Dengan Nama Allah dan tetap di atas Agama Rasulullah Sollallahu ‘alai wa sallam.

  • Bacaan Niat Memandikan Mayit Laki-laki Dewasa

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ نَوَيْتُ الْغُسْلَ عَلَى هَذَا الْمَيِّتِ فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلَّهِ تَعَالَى

(Bismillahirrohmanirrohim. Nawaitul-gusla ‘ala hadzal-mayiti fardho kifayatin lilhita’ala)

Artinya: Dengan Nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, Saya Niat Mandi (Memandikan) atas mayit ini Karena Allah Ta’ala

  • Doa menggosok mayit yang sedang di mandikan dengan sabun

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ سَقَى اللهُ صَبِيْبَ رَحْمَتِهِ وَرِضْوَانِهِ

(Bismillahirrohmanirrohim. Sakollahu shobiba rohmatihi waridwanihi)

Artinya: Dengan Nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, Semoga Allah Menuangkan Rahmat dan Keridhoan-Nya

  • Niat Mengistinjakkan Mayit Laki-laki Dewasa

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ نَوَيْتُ الْإِسْتِنْجَاءَ عَلَى هَذَا الْمَيِّتِ لِلَّهِ تَعَالَى

(Bismillahirrohmanirrohim. Nawaitul-istinja-a ‘ala hadzal-mayiti lilahi ta’ala)

Artinya: Dengan Nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, Saya Niat Mengistinjakkan Atas Jenazah ini Karena Allah Ta’ala

  • Niat Mewudhukan Mayit Laki-laki Dewasa

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ عَلَى هَذَا الْمَيِّتِ لِلَّهِ تَعَالَى

(Bismillahirrohmanirrohim. Nawaitul-wudhu-a ‘ala hadzal-mayiti lilahita’ala)

Artinya: Dengan Nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, Saya Niat berwudhu (Mewudhukkan) atas mayit ini Karena Allah Ta’ala

  • Doa Setelah Mewudhukan Mayit Laki-laki Dewasa

اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْهُ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

(Allahummaj’alhu minatawabina waj’alhu minal-mutathohirin)

Artinya: Ya Allah Jadikan dia masuk pada golongan orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah dia masuk di golongan orang-orang yang bersih

  • Niat Mandi setelah Memandikan Mayit

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِغُسْلِ الْمَيِّتِ لِلَّهِ تَعَالَى

(Bismillahirrohmanirrohim. Nawaitul-ghusla lighuslil-mayiti lilahita’ala)

Artinya: Dengan Nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, Saya Niat Mndi karena Memandikan Mayit Karena Allah Ta’ala

  • Bacaan Ketika Mengkafani Mayit

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَشْهَدُ اَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

(Allahumma Shollia ‘ala Sayidina Muhammadin, Asyhadu AnLaa-ilaha illallah, wa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah)

Artinya: Ya Allah Berikanlah Rahmat atas Penghulu kami Nabi Muhammad s.a.w., Aku bersaksi Bahwa Tidak ada Tuhan yang hak wajib disembah kecuali Alallah, dan Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu adalah Utsan Allah.

Panduan dan Bacaan Doa Memandikan Jenazah Mayit Laki-laki

Perkara Sunah Dalam Memandikan Mayit

Terdapat juga beberapa sunah selain membaca doa pada keterangan diatas, yang mana dijelaskan oleh Syekh Nawawi dalam Kitab Kasyifatus Saja antara lain yaitu:

  • Disunahkan basuhan yang pertama dengan daun bidara, basuhan kedua untuk menghilangkan daun bidara, dan basuhan ketiga dengan air bersih yang diberi sedikit kapur barus yang sekiranya tidak sampai merubah air. Pada tiga basuhan tersebut terhitung sebagai satu kali basuhan dan disunahkan untuk mengulanginya dua kali lagi seperti basuhan-basuhan tersebut
  • Ketika Memandikan harus diupayakan dalam menyiramkan air pada tubuh mayit itu 3x.
  • Hindarkan penggunaan pada air Musta’mal.
  • Siramkan air mulai dari arah kepala sampai ke kaki.
  • Gosok dengan perlahan pada Tubuh Mayit dengan sabun atau air sabun.
  • Siram menggunakan air dengan hitungan ganjil sambil digosok.
  • Baringkan mayit dan hadapkan ke sebelah kiri.
  • Siram dengan air hingga ke bagian belakang kemudian disabun lalu disiram lagi dengan hitungan ganjil dan digosok sampai bersih.
  • Baringkan lagi mayit ke sebelah kanan kemudian siram dengan air terus disabun lalu disiram lagi dengan hitungan ganjil dan digosok sampai bersih.
  • Bersihkan semua kotoran yang ada dibawah kuku tangan dan kakinya
  • Jenazah aga diduduk sedikit miring ke belakang dengan ditopang tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya mengurut bagian perut jenazah agar ditekan agar apa yang ada di alam perutnya keluar. Kemudian yang memandikan memakai sarung tangan atau membungkus tangan kirinya lalu membasuh lubang kubul dan dubur mayit.
  • Bersihkan mulut dan hidungnya lalu mewudhukannya sebagaimana melakukan wudhunya bagi orang yang hidup.

Demikian penjelasan tentang Panduan dan Bacaan Doa Memandikan Jenazah Mayit Laki-laki, semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan Anda.