√ Sifat Rasul : Wajib, Mustahil, Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad

Sifat Rasul Wajib Mustahil Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad

Sifat Rasul : Wajib, Mustahil, Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tetnang Sifat Rasul. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelasaskan sifat wajib rasul, mustahil, jaiz dan sifat Nabi Muhammad Saw dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih detailnya simak Artikel berikut ini.

Sifat Rasul : Wajib, Mustahil, Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad

Seperti yang telah kita ketahui bahwa sifat rasul terdiri dari sifat wajib, sifat mustahil dan sifat jaiz. Nabi Muhammad memiliki akhlaq dan sifat-sifat yang sangat amat mulia. Oleh karena itu sebagai umatnya, hendaklah kita senantiasa mempelajari sifat beliau.

Rasul sebagai utusan Allah Swt mempunyai sifat-sifat yang telah melekat di dalam dirinya. Seperti yang telah kita ketahui, bahwa nabi kita Muhammad SAW serta para rasulnya yang lain mempunyai sifat yang terpuji bahkan mulia.

Sehingga kita juga berharap mempunyai beberapa sifat rasul, inilah sifat rasul baik yang wajib, mustahil dan jaiz.

Sifat Wajib Rasul

Sifat wajib berarti sifat yang pasti ada pada setiap rasul. Tidak dapat disebut sebagai seorang rasul apabila tidak mempunyai sifat-sifat wajib ini.

Sifat wajib ini sendiri terdiri dari 4, diantaranya yaitu sebagai berikut:

As-Siddiq

As-Siddiq yaitu berarti rasul selalu benar. Apa yang telah diucapkan oleh Nabi Ibrahim as. kepada bapaknya merupakan perkataan yang benar. Apa yang disembah oleh bapaknya adalah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat serta mudarat, maka jauhilah.

Peristiwa tersebut diabadikan dalam Al-Quran Surat Maryam ayat 41, yaitu:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا

Artinya:

“Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam kitab (al-Qur’an), sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan seorang nabi.”

Al-Amanah

Al-Amanah yaitu berarti rasul selalu dapat dipercaya. Pada waktu kaum Nabi Nuh as. mendustakan apa yang telah dibawa oleh Nabi Nuh as. kemudian Allah Swt. menegaskan bahwa Nuh as., merupakan orang yang terpercaya (amanah).

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam QS. asy-Syu’ara ayat 106-107, berikut ini:

إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ نُوحٌ أَلَا تَتَّقُونَ . إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ

Artinya:

“Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku ini seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu.”

At-Tablig

At-Tablig yaitu berarti rasul selalu meyampaikan wahyu. Tidak ada satu pun ayat yang disembunyikan oleh Nabi Muhammad Saw. dan tidak ada satupun yang tidak disampaikan kepada umatnya.

Dalam sebuah riwayat menyebutkan bahwa Ali bin Abi Talib ditanya mengenai wahyu yang tidak terdapat dalam al-Qur’an. Ali pun menegaskan bahwa:

“Demi Zat yang membelah biji dan melepas napas, tiada yang disembunyikan kecuali pemahaman seseorang terhadap al-Qur’an.”

Penjelasan tersebut terhubung dalam QS. al-Maidah ayat 67, berikut ini:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Artinya: “Wahai rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.”

Al-Fatanah

Al-Fatanah yaitu berarti rasul mempunyai kecerdasan yang tinggi. Ketika itu pada saat terjadi perselisihan antara kelompok kabilah di Mekah.

Setiap kelompok memaksakan kehendaknya supaya dapat meletakkan al Hajar al-Aswad (batu hitam) di atas Ka’bah. Kemudian Rasulullah SAW menengahi dengan cara seluruh kelompok yang bersengketa supaya memegang ujung dari kain tersebut.

Lalu, Nabi meletakkan batu itu di tengahnya dan mereka semua mengangkatnya sampai di atas Ka’bah. Sungguh hal tersebut sangatlah mencerminkan kecerdasan dari Baginda Rasulullah SAW.

Sifat Mustahil

Sifat mustahil adalah kebalikan daripada sifat wajib, yang dimana sifat mustahil merupakan sifat yang tidak mungkin ada pada rasul.

Diantaranya sifat mustahil rasul yaitu sebagai berikut:

Al-Kizzib

Al-Kizzib yaitu berarti mustahil rasul itu bohong atau dusta. Karena semua perkataan dan juga perbuatan rasul tidak pernah dusta atau bohong.

Hal ini telah disebutkan dalam QS. an-Najm ayat 2-4, yaitu sebagai berikut:

مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ . وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

Artinya:

“Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru, dan tidaklah yang diucapkan itu (al-Qur’ān) menurut keinginannya tidak lain (al-Qur’an) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”

Al-Khianah

Al-Khianah yaitu berarti mustahil rasul itu khianat. Semua yang telah diamanatkan atau disampaikan kepadanya pasti langsung dilaksanakan.

Hal ini juga telah disebutkan dalam QS. al-An’am ayat 106, yaitu sebagai berikut:

اتَّبِعْ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

Artinya:

“Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad), tidak ada Tuhan selain Dia, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”

Al-Kiṭman

Al-Kiṭmān yaitu berarti mustahil jika rasul menyembunyikan kebenaran. Setiap firman yang rasul terima dari Allah SWT pasti akan selalu disampaikan kepada para umatnya.

Hal ini juga telah disebutkan dalam QS. al-An’am ayat 50, yaitu sebagai berikut:

قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ ۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

Artinya:

“Katakanlah (Muhammad), Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang di wahyukan kepadaku. Katakanlah, Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Apakah kamu tidak memikirkan(nya).”

Al-Baladah

Al-Baladah yaitu berarti mustahil kalau rasul itu bodoh. Walaupun Rasulullah SAW tidak dapat membaca dan juga menulis (ummi) namun beliau sangat pandai.

Sifat Jaiz Rasul

Sifat jaiz bagi rasul adalah sifat kemanusiaan, yakni al-ardul basyariyah yang berarti rasul mempunyai sifat sebagaimana seorang manusia biasa.

Sifat ini diantaranya yaitu seperti rasa lapar, haus, sakit, tidur, sedih, senang, berkeluarga dan yang lain sebagainya. Bahkan bagi seorang rasul juga akan meninggal sebagai mana yang dialami makhluk lainnya.

Di samping rasul mempunyai sifat wajib begitu juga dengan lawannya yakni sifat mustahil. Rasul juga mempunyai sifat jaiz, dan tentu saja sifat jāiz-nya rasul dengan sifat jaiznya Allah SWT yang sangatlah berbeda.

Sebagaimana dalam firman Allah SWT yang menyebutkan:

مَا هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُونَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُونَ

Artinya: “…(orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan seperti apa yang kamu makan dan dia minum seperti apa yang kamu minum.” (QS. al-Mu’minun: 33)

Selain tersebut di atas, rasul juga memiliki sifat-sifat yang tidak terdapat pada selain rasul, yaitu seperti berikut.

Selain tersebut di atas, rasul juga mempunyai sifat-sifat yang tidak ada pada selain rasul, diantaranya yaitu:

Ishmaturrasul

Ishmaturrasul adalah orang yang ma’shum, yaitu terlindung dari dosa serta salah dalam kemampuan pemahaman agama, ketaatan, dan juga menyampaikan wahyu Allah SWT. Sehingga beliau akan selalu siaga dalam menghadapi tantangan serta  tugas apa pun.

Iltizamurrasul

Iltizamurrasul adalah orang yang selalu berkomitmen dengan apa pun yang sedang mereka ajarkan.

Mereka bekerja dan juga berdakwah sesuai dengan arahan serta perintah dari Allah SWT. Walaupun dalam menjalankan perintah Allah SWT beliau harus berhadapan dengan berbagai rintangan yang berat baik dari dalam diri pribadinya ataupun dari para musuhnya.

Rasul tidak pernah sejengkal pun menghindar ataupun mundur dari perintah dan juga ajaran Allah Swt.

Cara Meneladani Sifat Rasul

Pada umumnya, alasan kita harus meneladani sifat dari rasul Allah SWT ialah sebab dalam diri para rasul terdapat suri tauladan yang baik, baik dalam akhlak ataupun perbuatannya.

Contoh terbaik dalam menjalani kehidupan, serta setiap kisah dari kehidupan para rasul mengandung pelajaran yang amat berharga tentang keimanan kepada Allah SWT dan tentunya sangatlah cinta kepada akhirat.

Adapun beberapa cara untuk meneladani sifat rasul, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Menjadikan kisah dari para rasul sbagai ibrah atau pelajaran untuk kita.
  • Menguatkan iman yng ada dalam diri kita.
  • Menjadikan teladan dri sifat-sifat yang dipunyai oleh para rasul.
  • Dijadikan penguat dlam menegakkan agama serta mendakwahkan agama kepada yang lain.
  • Melahirkan kecintaan kpada para rasul atas pengorbanan mereka untuk menegakan agama Islam.
  • Selalu brbuat kebajikan di dalam kehidupan sehari-hari.
  • Melahirkan kesadaran bhwa pertolongan Allah ada di setiap amal yang kita lakukan.
  • Sadar akan diri sendiri bhwa kita ini hanya manusia biasa, yaitu makhluk ciptaan Allah SWT.
  • Percaya bhwa kekuasaan Allah SWT benar adanya lewat mukjizat yang diberikan kepada rasul.
  • Memunculkan rasa takut dri apa yang telah dialami orang yang ingkar kepada Allah SWT.

Sifat Nabi Muhammad yang Tidak Dimiliki oleh Umat Manusia

Berikut ini adalah sifat dari Nabi Muhammad yang tidak dimiliki oleh manusia, antara lain:

Tidak pernah ihtilam (mimpi basah)

Al-Yusuf  al-Nabhani telah menyebut dari keistimewaan Nabi Muhammad SAW dalam kitab beliau yaitu al-Anwar al-Muhammadiyah min al-Mawahib al-Laduniyah. Keterangan  keistimewaan ini berasal dari Ibnu Abbas, dan beliau menyebutkan:

مَا احْتَلَمَ نَبِيٌّ قَطُّ  إِنَّمَا الِاحْتِلَامُ منَ الشَّيْطَانِ

Artinya:

“Tidaklah seorang nabi bermimpi basah sama sekali, karena mimpi basah datang dari syaithan.” (H.R. al-Thabrani)

Al-Haitsami menyebutkan di dalam sanad hadits ini ada Abd al-Aziz bin Abi Tsabit, sementara beliau ini ijma’ atas dha’ifnya.

Tidak pernah menguap

Ibnu al-Mulaqqin telah menyebut keistimewaan pada Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yakni Ghayah al-Suul fi Khashais al-Rasul.

Dalam Kitab Fathulbarri, Ibnu Hajar al-Asqalany menyebutkan:

وَمن الخصائص النَّبَوِيَّة مَا أخرجه بن أَبِي شَيْبَةَ وَالْبُخَارِيُّ فِي التَّارِيخِ مِنْ مُرْسَلِ يَزِيدَ بْنِ الْأَصَمِّ قَالَ مَا تَثَاءَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَطُّ وَأَخْرَجَ الْخَطَّابِيُّ مِنْ طَرِيقِ مَسْلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ مَرْوَانَ قَالَ مَا تَثَاءَبَ نَبِيٌّ قَطُّ وَمَسْلَمَةُ أَدْرَكَ بَعْضَ الصَّحَابَةِ وَهُوَ صَدُوقٌ وَيُؤَيِّدُ ذَلِكَ مَا ثَبَتَ أَنَّ التَّثَاؤُبَ مِنَ الشَّيْطَانِ

Artinya :

“Termasuk keistimewaan kenabian adalah yang telah ditakhrij oleh Ibnu Abi Syaibah dan Al-Bukhari dalam al-Tarikh dari mursal Yazid bin al-Asham, beliau berkata : Nabi SAW tidak pernah menguap sama sekali. Al-Khathabi mengeluarkan dari jalur Maslamah bin Abd al-Malik bin Marwan, beliau berkata : seorang nabi tidak pernah menguap sama sekali. Sedangkan Maslamah ini pernah bertemu sebagian sahabat Nabi dan beliau adalah orang yang berkata benar. Riwayat ini juga didukung oleh riwayat yang shahih yang menjelaskan bahwa menguap datang dari syaithan.”

Tidak ada satupun binatang yang melarikan diri (liar) dari beliau

Ibnu al-Mulaqqin telah menyebut keistimewaan pada Nabi Muhammad SAW ini dalam kitab beliau yakni Ghayah al-Suul fi Khashais al-Rasul. Qadhi ‘Iyadh meriwayatkan dengan sanadnya hingga kepada Aisyah.

Beliau menyebutkan yaitu:

كان عندنا داجن فاذا كان عندنا رسول الله صلعم قر وثبت مكانه فلم يجئ ولم يذهب واذا خرج رسول الله صلعم جاء وذهب

Artinya : Di sisi kami ada binatang jinak, apabila Rasulullah SAW bersama kami, maka binatang itu tenang dan tetap pada tempatnya, tidak datang dan pergi, tetapi apabila Rasulullah SAW keluar, maka biantang itu datang dan pergi. (HR. Qadhi ‘Iyadh)

Dalam kitab Dalail al-Nubuwah juga menyebutkan riwayat dari Abu Hurairah r.a., dan disitu beliau berkata:

وَجَاءَ الذِّئْبُ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ فَأَقْعَى بَيْنَ يَدَيْهِ، ثُمَّ جَعَلَ يُبَصْبِصُ بِذَنَبِهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَذَا وَافِدُ الذِّئَابِ، جَاءَ يَسْأَلُكُمْ أَنْ تَجْعَلُوا لَهُ مِنْ أَمْوَالِكُمْ شَيْئًا ، قَالُوا: لَا وَاللهِ لَا نَفْعَلُ، وَأَخَذَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ حَجَرًا فَرَمَاهُ، فَأَدْبَرَ الذِّئْبُ وَلَهُ عُوَاءٌ

Artinya:

“Seekor serigala pernah datang kepada Rasulullah SAW duduk dan berjongkok di depan beliau, kemudian menggerak-gerak ekornya.  Melihat itu Rasulullah SAW berkata, ini utusan serigala, yang datang meminta suatu makanan dari kalian. Mereka menjawab : tidak, Demi Allah tidak akan kami lakukan. Seorang dari mereka mengambil batu melemparnya, serigala itu pun pergi sambil menyalak. (HR. al-Baihaqi)

Kisah lainnya dimana binatang-binatang liar yang senantiasa jinak kepada Nabi SAW juga banyak disebut dalam berabagai riwayat yang terdapat dalam Kitab Dalail al-Nubuwah karya dari al-Baihaqi dan al-Syifa’ bi Ta’rif  Huquq al-Mushtafa karya Qadhi ‘Iyadh serta kitab lainnya yang juga berisi sekitar masalah kehidupan pribadi Nabi Muhammad SAW.

Tidak pernah ada lalat hinggap di tubuh beliau yang mulia

Ibnu al-Mulaqqin telah menyebut keistimewaan pada Nabi Muhammad SAW ini dalam kitab beliau yakni Ghayah al-Suul fi Khashais al-Rasul.

Al-Yusuf  al-Nabhani juga menyebut keistimewaan dari Nabi Muhammad SAW dalam kitab beliau, al-Anwar al-Muhammadiyah min al-Mawahib al-Laduniyah.

Dalam kitabnya al-Khashaish al-Kubra, al-Suyuthi mengatakan bahwa Qadhi ‘Iyadh dalam kitab al-Syifa serta al-‘Uzfi dalam al-Maulid-nya menyebutkan termasuk keistimewaan dari Nabi SAW yang tidak pernah ada lalat hinggap di tubuh beliau serta ini juga telah disebut oleh Ibnu Sab’in dalam al-Khashaish-nya dengan lafazh : “Tidak jatuh lalat atas pakaiannya sama sekali.”

Dapat mengetahui sesuatu yang ada di belakangnya

Al-Yusuf  al-Nabhani menyebut keistimewaan Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yaitu al-Anwar  al-Muhammadiyah min al-Mawahib al-Laduniyah.

Qadhi ‘Iyadh menyebut keistimewaan Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yakni al-Syifa’ bi Ta’rif  Huquq Al-Mushtafa.

Dalam Shahih Muslim menuebut hadits dari Abu Hurairah, dan beliau berkata:

هَلْ تَرَوْنَ قِبْلَتِي هَا هُنَا؟ فَوَاللهِ مَا يَخْفَى عَلَيَّ رُكُوعُكُمْ، وَلَا سُجُودُكُمْ إِنِّي لَأَرَاكُمْ وَرَاءَ ظَهْرِي

Artinya : Apakah kalian melihat kiblatku  di sini?. Demi Allah tidak tersembunyi atasku rukuk dan sujud kalian. Sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari belakangku. (H.R Muslim)

Bekas air seni beliau tidak pernah dilihat di permukaan bumi

Ibnu al-Mulaqqin telah menyebut keistimewaan dari Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yakni Ghayah al-Suul fi Khashais al-Rasul.

Di dalam kitab tersebut, Ibnu al-Mulaqqin sebut hadits dari Aisyah r.a. yang disebut dalam kitab al-Ayat al-Bainat, karya dari Ibnu Dahyah, dan di dalamnya Aisyah berkata:

يا رسول الله اني اراك تدخل الخلاء ثم يجئ الذي يدخل بعدك فلا يرى لما يخرج منك اثرا فقال يا عائشة ان الله تعالى امر الارض ان تبتلع ما خرج من الانبياء

Artinya : “Hai Rasulullah, sesungguhnya aku melihat engkau memasuki jamban, kemudian masuk orang-orang sesudahmu. Tetapi orang itu tidak melihat bekas apapun yang keluar darimu.” Rasulullah SAW bersabda : “Hai Aisyah, sesungguhnya Allah Ta’ala memerintah bumi menelan apa yang keluar dari para nabi.”

Ibnu Dahyah juga menyebutkan, sanadnya tsabit (maqbul) al-Suyuthi selepas menyebut beberapa jalur riwayat hadits yang sat arti dengan hadits di atas, beliau menyebutkan, jalur ini (hadits di atas) merupakan yang paling kuat dari jalur-jalur hadits ini.

Hati beliau tidak pernah tidur

Ibnu al-Mulaqqin telah menyebut keistimewaan dari Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yakni Ghayah al-Suul fi Khashais al-Rasul.

Hal tersebut berdasarkan hadits dari Aisyah yang di dalamnya Aisyah berkata:

فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ، فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ، وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

Artinya : Aku mengatakan, Ya Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum witir ?. Rasulullah SAW bersabda : “Ya Aisyah, sesungguhnya dua mataku tertidur, tetapi hatiku tidak pernah tidur.” (H.R. Muslim)

Sifat Rasul Wajib Mustahil Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad

Bayangan beliau tidak pernah dapat dilihat ketika kena sinar matahari

Al-Yusuf  al-Nabhani menyebut keistimewaan dari Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yakni al-Anwar  al-Muhammadiyah min al-Mawahib al-Laduniyah.

Di dalam kitabnya yang disebut al-Khashaish al-Kubra, al-Suyuthi berkata:

اخْرج الْحَكِيم التِّرْمِذِيّ عَن ذكْوَان ان رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم لم يكن يرى لَهُ ظلّ فِي شمس وَلَا قمر قَالَ ابْن سبع من خَصَائِصه ان ظله كَانَ لَا يَقع على الأَرْض وَأَنه كَانَ نورا فَكَانَ إِذا مَشى فِي الشَّمْس أَو الْقَمَر لَا ينظر لَهُ ظلّ قَالَ بَعضهم وَيشْهد لَهُ حَدِيث قَوْله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فِي دُعَائِهِ واجعلني نورا

Artinya:

“Al-Hakim al-Turmidzi telah mentakhrij dari Zakwan, sesungguhnya Rasulullah SAW tidak dilihat bayangannya pada terik matahari dan tidak juga pada bulan. Ibnu Sab’i mengatakan, termasuk keistimewaan Nabi SAW bayangannya tidak jatuh di atas bumi, karena sesungguhnya beliau adalah cahaya. Karena itu, apabila berjalan pada terik matahari atau bulan, maka tidak dilihat bayangannya. Sebagian ulama mengatakan, riwayat ini didukung oleh hadits perkataan Nabi SAW dalam do’anya : “Jadikanlah aku sebagai cahaya.

Dua pundak beliau selalu terlihat lebih tinggi dari pundak orang-orang yang sedang duduk bersama beliau

Ibnu al-Mulaqqin sebut bahwa Ibnu Sab’in berkata, salah satu keistimewaan dari Nabi Muhammad SAW ialah jika beliau duduk, maka beliau akan nampak lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang yang juga duduk di sekitar beliau.

Pernyataan Ibnu Sab’in tersebut juga telah dikutip oleh al-Suyuthi di dalam kitabnya yakni al-Khashaish al-Kubra.

Dalam Kitab Syarah Al-Muwatha’, al-Zarqani berkata:

وَذَكَرَ رَزِينٌ وَغَيْرُهُ: كَانَ إِذَا جَلَسَ يَكُونُ كَتِفُهُ أَعْلَى مِنْ جَمِيعِ الْجَالِسِينَ، وَدَلِيلَهُ قَوْلُ عَلِيٍّ: ” إِذَا جَاءَ مَعَ الْقَوْمِ غَمَرَهُمْ”  إِذْ هُوَ شَامِلٌ لِلْمَشْيِ وَالْجُلُوسِ

Artinya:

“Raziin dan lainnya telah menyebutkan, Rasululullah SAW apabila duduk, bahunya nampak lebih tinggi dari semua orang-orang duduk. Dalilnya perkataan ‘Ali : ”Apabila Rasulullah SAW bersama kaum, beliau  melebihi mereka”. Karena ini mencakup apabila berjalan dan duduk.

Perkataan Ali tersebut kemudian ditakhrij oleh Abdullah bin Ahmad serta al-Baihaqi dari ‘Ali.

Beliau telah dikhitan semenjak dilahirkan

Al-Thabrani di dalam al-Ausath, Abu Na’im, al-Khathib dan juga Ibnu ‘Asakir telah mentakhrij dari beberapa jalur dari Anas dari Nabi SAW, dan kemudian bersabda:

من كَرَامَتِي على رَبِّي اني ولدت مختونا وَلم ير أحد سوأتي

Artinya : Sebagian dari kemulianku atas Tuhanku adalah aku dilahirkan dalam keadaan sudah dikhitan dan tidak ada yang melihat dua kemaluanku

Hadits tersebut sudah dinyatakan shahih oleh al-Dhiya’ di dalam al-Mukhtarah. Al-Hakim di dalam kitabnya yang disebut al-Mustadrak berkata, sudah mutawatir hadits-hadits yang menjelaskan bahwa Nabi SAW lahir dalam keadaan sudah dikhitan.

Demikian Artikel tentang Sifat Rasul: Wajib, Mustahil, Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk Kita semua. Terima kasih.

Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan

Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan

Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan – Sahabat Muslim, sebagai manusia kita diciptakan untuk menjadi kholifah di muka bumi ini. Dengan menjadi pemimpin tentu menjadi acuan sebagai contoh bagi penerusnya. Sebagaimana di contohkan oleh baginda Rasulullah SAW., beliau merupakan panutan sekaligus contoh teladan yang baik.

Baca : Fiqih : Sunnah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan

Bukan hanya sekedar memberitahu tetapi beliau juga mencontohkan dan mengamalkannya sebagai panutan yang baik untuk umatnya. Nah sahabat, bagaimana mencontohkan keteladanan?. Untuk lebih jelasnya silahkan simak artikel Pengetahuan Islam berikut ini.

Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan

Mengamalkan ilmu agama dan memberikan contoh keteladanan dengan amal perbuatan sesungguhnya lebih mengena kepada sasaran dakwah daripada sekedar bicara tanpa amal yang nyata. Sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang Syu’aib,

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ

Artinya :

“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.” (QS. Huud Ayat 88)

Alim yang tidak mengamalkan Ilmunya

Malik bin Dinar rahimahullah berkata,

“Sesungguhnya seseorang yang memiliki ilmu (‘alim) namun tidak mengamalkan ilmunya, maka nasihatnya akan tergelincir dari dalam hati, sebagaimana tetesan air hujan akan tergelincir dari atas batu yang licin.” [Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Al-Iqtidha’, hal. 9]

Dari Ma’mun, beliau mengatakan,

نحن إلى أن نوعظ بالأعمال أحوج من أن نوعظ بالأقوال

Artinya :

“Kami lebih butuh nasihat dengan (contoh) amal perbuatan daripada nasihat dengan kata-kata.” [Jaami’ Bayaan Al-‘Ilmi, hal. 1236]

Hal ini karena barangsiapa yang rutin atau rajin beramal, maka merutinkan amal itu sendiri pada hakikatnya adalah bentuk berdakwah. Dengan demikian, dia menjadi contoh teladan bagi masyarakat kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Artinya :

“Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan Ayat 74)

Tidaklah seseorang itu mencapai kedudukan tersebut kecuali jika terkumpul dalam dirinya berbagai sifat kebaikan, yaitu dia mengumpulkan antara ilmu dan amal sekaligus. Adapun jika yang diperbanyak hanyalah ilmu, dan tidak memiliki perhatian terhadap amal, maka ilmu tersebut menjadi tidak bermanfaat.

Baca : Pengertian Nifaq, pembagian dan hukumnya (Lengkap)

Lalai dalam Sholat

Yang sering kita saksikan, manusia terkadang sangat perhatian untuk memperbanyak ilmu, menghapal dan menghadiri berbagai majelis pengajian. Akan tetapi, dia sering terluput dari shalat, khususnya shalat subuh. Jika kewajiban yang agung ini saja terlupakan, padahal shalat adalah rukun terbesar setelah dua kalimat syahadat dan perkara yang pertama kali ditanyakan pada hari kiamat, lalu di manakah bekas dan pengaruh dari ilmu yang sudah dia dipelajari itu?

Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

كنا إذا فقدنا الرجل في صلاة العشاء وصلاة الفجر أسأنا به الظن

Artinya :

“Kami (para sahabat) dahulu jika ada seorang laki-laki yang terluput dari shalat subuh dan shalat isya’, kami pun berburuk sangka kepadanya.” [Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 12/271, Ibnu Khuzaimah no. 1405 dan Ibnu Hibban no. 2099]

Dalam sebuah hadits disebutkan,

إِنَّ أَثْقَلَ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

Artinya :

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya, pasti mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 789)

Di zaman kita ini, zaman begadang di setiap malam, banyak kita jumpai orang-orang yang terluput alias tidak mendirikan shalat subuh pada waktunya. Mereka begadang di sepanjang malam dalam rangka diskusi ilmiah dalam berbagai masalah ilmu atau topik lainnya, kemudian mereka pun tidur di akhir malam dan tidak mengerjakan shalat subuh.

Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan

Jika seseorang menghidupkan malam dengan membaca dan menghapal Al-Qur’an, namun dengan mengorbankan shalat subuh, maka perbuatan tersebut haram, dan dia pun berdosa dengan begadangnya tersebut.

Baca : Pengertian & Penjelasan Walimatus Safar Haji atau Umroh

Padahal sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ

Artinya :

“Barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya secara berjamaah, itu seperti beribadah setengah malam dan barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya dan Subuh secara berjamaah, maka ia seperti beribadah semalam.” (Hadits Abu Daud Nomor 468)

Dan pada zaman ini, shalat shubuh berjamaah di hari Jum’at menjadi shalat yang paling banyak disepelakan, terutama di negeri yang menjadikan hari Jum’at sebagai hari libur.

Demikianlah ulasan tentang Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam

Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam

Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Hakikat Manusia. Yang mana dalam pembahasan kali ini tentang apa hakikat diciptakan manusia menurut pandangan agama islam dengan secara singkat dan jelas. Untuk itu silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini dengan seksama.

Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam

Manusia dan makhluk lain di alam semesta ini diciptakan Allah SWT dengan tujuan tertentu dan bukanlah tanpa maksud. Manusia tidak begitu saja dibuat tanpa memiliki hakikat dan substansi. Untuk mengetahui hakikat penciptaan manusia maka kita perlu mengetahui asal penciptaan manusia terlebih dahulu. Seperti yang kita ketahui bahwa Allah menciptakan Adam As sebagai manusia pertama dan memberinya tugas di muka bumi. Untuk lebih jelasnya simak penjelasan berikut ini

Asal Penciptaan Manusia

Menurut ulama Abdurrahman an-Nahlawy, ada dua hakikat penciptaan manusia dilihat dari sumbernya. Yang pertama adalah asal atau sumber yang jauh yakni menyangkut proses penciptaan manusia dari tanah dan disempurnakannya manusia dari tanah tersebut dengan ditiupkannya ruh. Asal yang kedua adalah penciptaan manusia dari sumber yang dekat yakni penciptaan manusia dari nutfah yakni sel telur dan sel sperma.

Penciptaan manusia dari tanah

Berikut ini adalah ayat-ayat yang menjelaskan kejadian penciptaan manusia dari tanah

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ. ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ. ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

Artinya : “Yang membuat segala sesuatu yang memciptakan sebaik-baiknya dan memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunan dari saripati air yang hina kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya ruh (ciptaan) Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati (tetapi) sedikit sekali tidak bersyukur.” (QS As-Sajadah 7-9)

Baca : Kata Bijak Islam yang Dapat Menjadi Inspirasi Hidup

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ. فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

Artinya : “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (QS Shad ayat 71-72)

Penciptaan manusia dari nutfah

Adapun penciptaan manusia dari nutfah atau mani disebutkan dalam ayat-ayat berikut ini

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ. ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ. ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Artinya : “Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang(berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS Al-Mukminun ayat 12-14)

Baca : Inilah Bacaan Dzikir Di Waktu Petang Serta Faidahnya (Lengkap)

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا ۚ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّىٰ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ. هُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Artinya : “Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah Kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, Kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, Kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), Kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, Maka apabila dia menetapkan sesuatu urusan, dia Hanya bekata kepadanya: “Jadilah”, Maka jadilah ia.” (QS Al Mukmin ayat 67-68)

Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan seluruh manusiadari tanah, kemudian Allah juga menciptakan manusia dari mani dan menyimpannya dalam rahim kemudian mengeluarkannya dari rahim sang ibu sebagai bayi yang kemudian tumbuh dan beranjak dewasa. Sebagaimana yang diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim berikut ini

“Sesungguhnya seorang manusia mulai diciptakan dalam perut ibunya setelah diproses selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Lalu menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Setelah empat puluh hari berikutnya, Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya dan diperintahkan untuk menulis empat hal; rezekinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagianya.’.” (Hadits Muslim Nomor 4781)

Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam

Hakikat Penciptaan Manusia

Allah menciptakan manusia dengan dua unsur yakni jasmani dan rohani. Unsur jasmani Adalah tubuh atau jasad manusia yang tersusun atas organ dan sistem organ. Unsur yang kedua yakni unsur ruh atau jiwa. Kedua unsur ini berkaitan satu sama lain dan apabila kedua unsur tersebut berpisah maka manusia disebut mati sehingga tidak lagi dapat disebut sebagai manusia. Adapun hakikat manusia menurut islam berdasarkan substansi penciptaan adalah sebagai berikut mengenai hakikat penciptaan manusia :

Makhluk Allah yang paling sempurna

Allah menciptakan manusia dengan kesempurnaan dan keunikan . hal ini dilihat dari segala hal yang menyangkut fisik dan jiwa seorang manusia. Ia berbeda dengan makhluk lainnya dan bahkan Allah memerintahkan malaikat untuk bersujud kepada Adam AS karena akal dan pengetahuan yang dianugerahkan kepadanya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat At Tin berikut ini

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS At tin ayat 4)

Manusia sebagai bukti kekuasaan Allah SWT

Sejak awal penciptaannya, manusia pertama yakni Adam As telah mengakui Allah sebagai Tuhannya dan hal tersebut mendorong manusia untuk senantiasa beriman kepada Allah SWT. Penciptaan manusia juga memiliki hakikat bahwa Allah menciptakan agama islam sebagai pedoman hidup yang harus dijalani oleh manusia selama hidupnya. Seluruh ajaran islam adalah diperuntukkan untuk manusia dan oleh karena itu manusia wajib beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha esa yakni Allah SWT.

Manusia diciptakan sebagai hamba Allah

Adapun Allah menciptakan manusia untuk mengabdi dan menjadi hamba yang senantiasa beribadah dan menyembah Allah SWT sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikut:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz zariyat ayat 56)

Ibadah yang semestinya dilakukan manusia terdiri dari dua golongan yakni ibadah yang bersifat khusus dan ibadah yang bersifat umum. Ibadah yang sifatnya khusus antara lain ibadah sholat wajib, puasa, zakat, haji dan sebagainya.

Sedangkan ibadah yang bersifat umum adalah seperti melakukan amal saleh yang tidak hanya bermanfaat bagi dirinya akan tetapi bermanfaat juga untuk orang lain dan dilandasi niat yang ikhlas dan bertujuan hanya mencari keridhaan Allah semata seperti bersedekah, menyambung tali silaturahmi, menikah dan sebagainya.

Manusia diciptakan Allah sebagai Khalifah

Kata Khalifah berasal dari bahasa arab yakni khalafa atau khalifatan yang artinya meneruskan, sehingga kata khalifah yang dimaksud adalah penerus agama islam dan ajaran dari Allah SWT.

Sebagai manusia yang berperan sebagai khalifah maka manusia wajib menjalankan tugasnya untuk senantiasa menjaga bumi dan makhluk lainnya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang diperbuatnya kelak di hari akhir. Hal ini disebutkan dalam firman Allah SWT Surat Al-Baqarah ayat 30 yang bunyinya:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanyas dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al Baqarah ayat 30)

Dengan demikian, hakikat penciptaan manusia selayaknya membuat kita sadar bahwa sebagai manusia kita diciptakan untuk menyembah dan melakukan kewajiban kita di dunia sebagai khalifah.

Demikian ulasan tentang Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Inilah Pentingnya Hikmah Beriman Kepada Hari Akhir

Inilah Pentingnya Hikmah Beriman Kepada Hari Akhir

Inilah Pentingnya Hikmah Beriman Kepada Hari Akhir – Hidup di dunia hanyalah sementara, pasti akan ada dimana hari akhir tiba. Tentu sebagai umat muslim harus percaya akan beriman kepada hari akhir sebagai hamba Allah SWT. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa Allah SWT telah memberitahu kepada hambanya bahwa akan ada hari akhir yang tidak diketahui akan kapan waktu terjadi dan akan turunnya.

Sebagai orang yang beriman tentu kita akan meyakini akan datangnya hari akhir nanti, dan tentu ada Hikmah Beriman Kepada Hari Akhir. Untuk lebih jelasnya silahkan simak artikel Pengetahuan Islam berikut ini.

Inilah Pentingnya Hikmah Beriman Kepada Hari Akhir

Pengertian hari akhir adalah suatu perkara yang ghaib dimana hanya di ketahui oleh Allah SWT semata. Sebagaimana Allah STW tidak memperlihatkan kepada Malaikat yang didekatnya dan tidak pula kepada seorangpun Nabi yang diutusnya. Sebelum kiamat tiba tidak ada yang mengetahui kapan akan terjadi kiamat kecuali Allah SWT.

Hal ini di ungkapkan dalam firman Allah SWT QS. Al-Ahzaab:63, yakni:

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا

Artinya:

“Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.’ Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.”

Dari firman tersebut telah diketahui bahwa terdapat hikamh yang terkandung pada orang yang beriman kepada hari akhir, antara lain yaitu:

  • Semakin Beriman dan Bertaqwa Kepada Allah

Bagi orang yang meyakini akan datangnya hari akhir kelak, maka akan semakin bertamabah iman dan taqwanya kepada Allah SWT. Penentuan hari akhri hanya Allah SWT yang mengetahuinya, oleh karena itu hanya kepada Allah kita meminta perlindungan dan keselametan di dunia dan akhirat.

Allah berfirman dalam QS. Al-Jatsiyah:63, yakni:

قُلِ اللَّهُ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يَجْمَعُكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya:

“Katakanlah: “Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

  • Timbul Rasa Takut dan Meningkatkan Amal Ibadah

Bagi orang yang beriman akan hari akhir tentu akan timbul rasa takut dalam diri mereka yang mana rasa takut tersebut akan meningkatkan perbuatan amal ibadahnya kepada Allah SWT sebagai bekal besok dihari akhir.

الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُمْ مِنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُونَ

Artinya:

“(yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat.”

  • Menjauhi Kemaksiatan dan Perbuatan Buruk

Dengan menyakini atau beriman akan hari akhir, tentu akan berusaha menjauhi segala perbuatan buruk dan maksiat. Sebab takut akan besok diminta atas perbuatan pertanggungjawaban yang telah dilakukannya dihadapan Allah SWT.

Sebagaimana Allah SWT telah berfirman dalam QS. Ibrahim:31, yakni:

قُلْ لِعِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا يُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خِلَالٌ

Artinya:

“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.”

  • Mempersiapkan Diri dengan Penuh Kesungguhan

Dengan akan datangnya hari akhir kelak dimana datang secara tiba-tiba, tak disangka dan hanyalah Allah SWT yang mengetahuinya. Oleh karena itu kita mempersiapkan diri dengan penuh kesungguhan dan selalu belajar memperbaiki ibadah kita agar dapat diterima oleh Allah SWT sebagai amal perbuatan yang baik kelak.

Sebagaimana Allah SWT berfirman, yakni:

فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً ۖ فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا ۚ فَأَنَّىٰ لَهُمْ إِذَا جَاءَتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ

Artinya:

“Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila Kiamat sudah datang?”

  • Ikhlas Dalam Beramal

Setiap perbuatan yang akan dilakukan tentu harus didasari dengan ikhlas dalam melakukannya, maka dengan tertanamnya rasa ikhlas dalam hati karena Allah semata. Sebab apa manfaatnya perbuatan amal yang dilakukan tanpa adanya keikhlasan karena Allah SWT. Hal ini akan tertanam bagi orang yang beriman kepada hari akhir yang mana akan selalu merasa ikhlas dan takun akan amal perbuatannya tidak diterima oleh Allah SWT.

Inilah Pentingnya Hikmah Beriman Kepada Hari Akhir

Cara Agar Tetap Beriman Kepada Hari Akhir

Berikut adalah beberapa cara agar kita sebagai orang muslim tetap beriman kepada hari akhir yaitu dengan mempelajari dan memahami segala sesuatu yang terkandung dalam Al-Qur’an serta menghayatinya.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S Asy-Syura: 18, yakni:

يَسْتَعْجِلُ بِهَا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِهَا ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا مُشْفِقُونَ مِنْهَا وَيَعْلَمُونَ أَنَّهَا الْحَقُّ ۗ أَلَا إِنَّ الَّذِينَ يُمَارُونَ فِي السَّاعَةِ لَفِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ

Artinya:

“Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar (akan terjadi). Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang terjadinya kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh.”

قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِلِقَاءِ اللَّهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْنَا فِيهَا وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَىٰ ظُهُورِهِمْ ۚ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

Artinya:

“Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu.”

Demikian penjelasan tentang Inilah Pentingnya Hikmah Beriman Kepada Hari Akhir, semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan Anda akan Agama Islam.

Baca Juga:

√ Pengertian dan Macam-macam Mukjizat Dan Contohnya

Pengertian dan Macam-macam Mukjizat Dan Contohnya

Pengertian dan Macam-macam Mukjizat Dan Contohnya – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Mukjizat. Yang mana dalam pembahasan kali ini mengenai pengertian mukjizat, macam-macam mukjizat dan contoh mukjizat Nabi dan Rasul dengan secara singkat dan jelas. Untuk itu silahkan simak artikel berikut ini.

Kita sering sekali mendengar tentang kisah Nabi baik dari para kyai, ustadz dan teman tentang mukjizat. Karena setiap muslim wajib mempercayai adanya Mukjizat yang dimiliki oleh Nabi dan Rasul. Karena Mukjizat merupakan kekuasaan yang telah di kehendaki Allah, bahkan Rasul juga tidak memiliki hak untuk menunjukkan mukjizat tanpa izin dari Allah.

Pengertian dan Macam-macam Mukjizat Dan Contohnya

Mukjizat adalah perkara di luar dari naluri manusia yang dilakukan oleh Allah SWT. melalui para Nabi dan Rasul-Nya. Untuk membuktikan kebenaran kenabian, kerasulan dan keabsahan risalah-Nya. Mukjizat juga dapat di artikan peristiwa ajaib yang sukar dijangkau oleh akal kemampuan manusia.

Pengertian Mukjizat

Secara bahasa kata mukjizat yaitu Mukjiz yang berarti sesuatu yang melemahkan atau mengalahkan. Sedangkan secara istilah mukjizat berarti sesuatu yang luar biasa yang terjadi pada diri Nabi atau Rasulullah untuk membuktikan bahwa dirinya adalah Nabi atau Rasul Allah yang tidak dapat ditiru oleh siapapun.

Seperti firman Allah SWT dalam Surah Ar Ra’ad ayat 38 yang berbunyi :

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً ۚ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ

Artinya :

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu).”

Apabila orang-orang musyrik heran bahwa kamu mempunyai istri dan keturunan, serta meminta mukjizat selain al-Qur’ân, maka sebetulnya Kami telah mengutus sebelummu rasu-rasul yang juga mempunyai istri dan anak. Rasul adalah manusia biasa, lengkap dengan sifat-sifatnya.

Hanya saja, dia adalah orang yang terbaik di antara mereka. Seorang nabi tidak mungkin mendatangkan suatu mukjizat menurut kehendaknya atau kehendak kaumnya. Tetapi, yang mendatangkannya adalah Allah, dan Dialah yang mengizinkan nabi untuk mendatangkan mukjizat itu. Atas dasar itu setiap generasi mempunyai ketentuan dan mukjizat dari Allah yang sesuai dengan keadaan mereka.

Mukjizat hanya diterima oleh para nabi dan rasul-rasul Allah. Mukjizat di pakai para nabi dan rasul hanya untuk membela diri dan menjawab tantangan orang-orang kafir.

Sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Qur’an surat Asy-Syu’ara ayat 4 :

إِنْ نَشَأْ نُنَزِّلْ عَلَيْهِمْ مِنَ السَّمَاءِ آيَةً فَظَلَّتْ أَعْنَاقُهُمْ لَهَا خَاضِعِينَ

Artinya :

“Jika kami kehendaki niscaya Kami menurunkan kepada mereka mukjizat dari langit, maka senantiasa kuduk-kuduk mereka tunduk kepadanya.”

Sesungguhnya Kami Maha kuasa untuk mendatangkan kepada mereka suatu mukjizat yang dapat memaksa mereka untuk beriman, sehingga sebagaimana yang kamu harapkan mereka semua menjadi patuh dan tunduk kepada-Ku.

Tetapi Kami tidak akan melakukan hal seperti itu, karena sudah menjadi ketetapan hukum Kami (sunnatullah) untuk menyuruh mereka beriman tanpa paksaan. Dengan demikian, perintah dan larangan yang akan menghasilkan pahala atau siksa itu tidak kehilangan maknanya.

Macam-Macam Mukjizat

Adapun mukjizat dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu :

  • Mukjizat Kauniyah

Mukjizat kauniyah adalah mukjizat yang berkaitan dengan peristiwa alam, seperti dibelahnya bulan menjadi dua oleh Nabi Muhammad SAW dan dibelahnya Laut Merah oleh Nabi Musa as dengan tongkat.

  • Mukjizat Syakhsiyyah

Mukjizat Syakhsiyyah adalah mukjizat yang keluar dari tubuh seorang nabi dan rasul, seperti air yang keluar dari celah-celah jari Rasulullah SAW, cahaya bulan yang memancar dari tangan Nabi Musa as serta penyembuhan penyakit buta dan kusta oleh Nabi Isa as.

  • Mukjizat Salbiyyah

Mukjizat Salbiyyah adalah mukjizat yang membuat sesuatu tidak berdaya seperti ketika Nabi Ibrahim as dibakar oleh Raja Namrud, akan tetapi api tidak mampu membakarnya.

  • Mukjizat Aqliyyah

Mukjizat Aqliyyah adalah mukjizat yang rasional atau masuk akal. Contoh satu-satunya adalah Al Qur’an. Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang pengertian mukjizat serta pembagiannya. Mudah-mudahan dengan membaca ini, keimanan kita kepada Allah SWT. dan rasulnya bertambah. Aamiin.

Contoh-contoh mukjizat

Selain pengertian dan macam macam mukjizat diatas, berikut ini saya berikan beberapa contoh mukjizat dari pada nabi dan rasul.

  • Mukjizat Nabi Nuh As

Untuk menunjukkan kebesarannya sekaligus mengazab orang orang durhaka, allah memerintahkan Nabi Nuh As .untuk membuat perahu. Membuat perahu besar dalam waktu yang sangat cepat adalah perbuatan luar biasa apalagi dikerjakan di atas bukit. Setelah perahu Nabi Nuh As selesai, air bah yang sangat dahsyat melanda negeri itu, menenggelamkan segala yang ada di muka bumi kecuali nabi nuh dan para pengikutnya beserta sepasang binatang dari berbagai jenis atau macamnya.

Allah SWT. berfirman dalam surat Hud ayat 37 yaitu:

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا ۚ إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ

Artinya :

“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.”

  • Mukjizat Nabi Ibrahim As

Mukjizat Allah kepada Nabi Ibrahim As. yaitu tidak hangus dibakar dalam api unggun yang sangat besar. Mukjizat ini melemahkan kekerasan dan kedzaliman serta kekafiran raja namrud.

Allah SWT. berfirman dalam surah al-Anbiya ayat 69 yang artinya:

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

Artinya :

“Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”

  • Nabi Musa As

Untuk menjatuhkan keahlian para ahli sihir istana fir’aun. Allah memberikan mukjizat kepada nabi musa berupa tongkat yang menjelma menjadi ular. Ular nabi musa tersebut memakan semua ular tukang sihir. Tongkat nabi musa juga dapat membelah laut menjadi jalan dan telah menyelamatkan nabi musa dan para pengikutnya dari kejaran fir’aun. Sebagaimana firman Allah dalam surat Toha ayat 19 sampai 21 yang artinya:

قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَىٰ. فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَىٰ. قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ ۖ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَىٰ

Artinya :

“Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula,”

  • Mukjizat Nabi Isa As

Allah menurunkan mukjizat kepada Nabi Isa As. dalam rangka menjawab kaumnya yaitu:

  • Dapat membuat burung dari tanah, lalu hidup.
  • Dapat menghidupkan orang yang mati.
  • Menyembuhkan penyakit kusta.
  • Menyembuhkan orang buta.
  • Mengetahui apa yang dimakan dan disimpan orang dirumah.
  • Mukjizat Nabi Muhammad SAW

Mukjizat yang diberikan Allah SWT. kepada Nabi Muhammad SAW. antara lain:

  • Dari celah-celah jari tangan beliau memancur air yang dapat diminum sebagai pelas dahaga.
  • Melakukan perjalanan Isra’ dan Mi’raj dalam waktu satu malam. Perjalanan seperti itu tidak mungkin dilakukan dalam keadaan biasa walaupun dengan menggunakan kendaraan atau pesawat yang super canggih sekalipun.
  • Al qur’anul karim. Kitab suci yang tidak mungkin tertandingi baik dari segi bahasanya maupun dari segi kandungan isinya.

Demikian ulasan tentang Pengertian dan Macam-macam Mukjizat Dan Contohnya. Semoga dapat bermanfaat dan menambah imu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

Inilah Hukum Tidak Menutup Aurat Pada Saat Membaca Al-Quran

Inilah Hukum Tidak Menutup Aurat Pada Saat Membaca Al-Quran

Inilah Hukum Tidak Menutup Aurat Pada Saat Membaca Al-Quran – Pada kesempatan kali ini Pengetahuanislam.com akan membahas tentang Membaca Al-Qur’an. Yang mana dalam kesempatan kali ini menjelaskan bagaimana pandangan hukum menurut islam bagi seseorang yang tidak menutup aurat pada saat sedang membaca al-Qur’an dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan berikut ini dengan seksama.

Inilah Hukum Tidak Menutup Aurat Pada Saat Membaca Al-Quran

Hukum Tidak Menutup Aurat Ketika Membaca Al-Quran menjadi topik yang akan kita bahas kali ini. Mengingat bahwa membaca Al-Quran sendiri merupakan salah satu bentuk kewajiban serta juga ibadah yang dianjurkan untuk semua umat muslim. Selain itu juga, aktivitas membaca Al-Quran sendiri merupakan bentuk dan ciri dari pada keimanan dan ketaqwaan seseorang sebagaimana cara mensyukuri nikmat allah. Terlebih lagi Al-Quran sendiri merupakan kitab suci agama islam yang didalamnya bersumber ajaran ajaran mengenai agama islam.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Al-Imran Ayat 102)

Terdapat banyak sekali keutamaan membaca Al-quran salah satunya adalah dapat memberikan kelancaran rizki, kemudahan dalam berdagang serta juga limpahan pahala dan karunia yang pastinya sebagai bentuk penghargaan. Hal-hal yang disebutkan diatas, tertuang jelas dalam Firman Allah SWT berikut ini :

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ. لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Al Fathir Ayat 29-30).

Mengenai Hukum Tidak Menutup Aurat Pada Saat Membaca Al-Quran memang tidak terdapat dalil yang menegaskan mengenai hal ini. Namun tentunya sebagaimana ibadah lainnya, untuk membaca Al-Quran kita dituntut untuk berada dalam kondisi yang suci. Namun, tidak terdapat aturan lain yang menegaskan bahwa harus menutup aurat atau juga mengenakan jilbab bagi kaum wanita sebagaimana hukum tidak menutup aurat kaki.

Disebutkan dalam shahih Bukhari dari sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu ‘alahi wasallam bersabda,

أَفْضَلُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Artinya : “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 208)

Disebutkan juga dalam shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَمَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ وَهُوَ يَتَعَاهَدُهُ وَهُوَ عَلَيْهِ شَدِيدٌ فَلَهُ أَجْرَانِ

Artinya : “Perumpamaan orang membaca Al Qur`an sedangkan ia menghafalnya, maka ia akan bersama para Malaikat mulia. Sedangkan perumpamaan seorang yang membaca Al Qur`an dengan tekum, dan ia mengalami kesulitan atasnya, maka dia akan mendapat dua ganjaran pahala.” (Hadits Bukhari Nomor 4556)

Disebutkan dalam shahihain juga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْأُتْرُنْجَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ رِيحُهَا مُرٌّ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

Artinya : “Perumpamaan orang mu`min yang membaca al-Qur`an seperti buah utrujah, baunya harum dan rasanya enak, sedangkan perumpamaan orang mu`min yang tidak membaca al-Qur`an seperti buah kurma, tidak ada baunya namun rasanya manis, dan perumpamaan orang munafik yang membaca al-Qur`an seperti raihanah (sejenis tanaman), harum baunya tapi pahit rasanya dan perumpamaan munafik yang yang tidak membaca al-Qur`an seperti brotowali, baunya busuk dan rasanya pahit.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2791)

Inilah Hukum Tidak Menutup Aurat Pada Saat Membaca Al-Quran

Hukum Menutup Aurat

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda,

  • Hadits Muslim Nomor 1337

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ نِعْمَ الشَّفِيعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya : “Bacalah Al Qur`an, karena ia akan datang memberi syafa’at kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti.” (Hadits Muslim Nomor 1337)

Dari hadist diatas, tidak terdapat hal hal yang membahas mengenai kewajiban menutup aurat saat membaca Al-Quran. Namun tentunya, sebagai salah satu aktivitas ibadah maka sudah selayaknya saat membaca Al-Quran menggunakan pakaian yang sopan, serta juga dalam kondisi yang suci sebagaimana hukum menghina lafadz Allah dan hukum mengajak orang masuk islam.

Meskipun tidak terdapat hukum yang menegaskan akan hal ini, namun menutup aurat sendiri terutama bagi kaum wanita merupakan sebuah kewajiban seperti manfaat ucapan alhamdulillah sebagaimana dalam Firman-Nya berikut ini,

  • An-Nur Ayat 31

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya : “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur Ayat 31).

  • Al-Ahzab Ayat 59

Ditegaskan kembali tentang kewajiban menutup aurat dalam Firman Allah berikut ini :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya : “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab Ayat 59).

Berdasarkan firman Allah SWT. diatas, dapat disimpulkan bahwa menutup aurat merupakan kewajiban bagi kaum muslimah. Jika dihubungan dengan hal ini, maka tentu Hukum Tidak Menutup Aurat Pada Saat Membaca Al-Quran tidak berdosa hukumnya. Namun akan lebih afdhol lagi jika membaca Al-Quran dibarengi dengan aurat yang tertutup. Tentu saja hal terebut akan semakin menyempurnakan agama dan ibadah yang dijalani sebagaimana dalam cara menghadapi musibah dalam islam.

Perlu ditegaskan kembali bahwa, tidak terdapat hadist atau dalil mengenai hukum menutup aurat saat membaca Al-Quran. Namun, jika di kaitkan dengan kewajiban menutup aurat bagi kaum muslimah. Maka hal ini menjadi sesuatu yang saling berkaitan dan berhubungan. Dengan demikian tidak mengapa tidak menutup aurat saat membaca Al-Quran namun tetap harus menggunakan pakaian yang sopan. Namun akan lebih dianjurkan untuk menutup aurat saat membaca Al-Quran.

Demikian artikel tentang Inilah Hukum Tidak Menutup Aurat Pada Saat Membaca Al-Quran. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

Baca Juga

√ 20 Sifat Wajib Allah, Sifat Mustahil dan Sifat Jaiz Allah

20 Sifat Wajib Allah Sifat Mustahil dan Sifat Jaiz Allah

20 Sifat Wajib Allah, Sifat Mustahil dan Sifat Jaiz Allah – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Sifat Wajib Allah. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan 20 sifat wajib Allah, 20 sifat mustahil Allah dan sifat jaiz Allah dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih detailnya simak penjelasan berikut ini.

20 Sifat Wajib Allah, Sifat Mustahil dan Sifat Jaiz Allah

Sebagai umat Islam, kita perlu mempelajari tentang ilmu ketauhidan. Salah satunya yaitu mengenal beberapa sifat-sifat Allah SWT dimana ada Sifat Wajib dan Mustahil Allah yang perlu untuk diketahui.

Pengertian Sifat-Sifat Allah

Sebelum membahas mengenai Sifat Wajib dan Mustahil Allah. Perlu kita mengetahui apa makna dari Sifat-sifat Allah sendiri yang berarti sifat sempurna yang tak terhingga bagi Allah. Sebagai seorang muslim kita wajib mempercayai bahwa terdapat sifat kesempurnaan yang tak terhingga bagi Allah.

Sifat Wajib Allah

Berikut ini adalah sifat-sifat wajib Allah yaitu diantaranya:

Wujud (Ada)

Sifat wajib Allah yang pertama yaitu wujud yang artinya ada. Maksudnya, Allah adalah Dzat yang sudah pasti ada. Dia berdiri sendiri, tidak diciptakan oleh siapapun dan tidak Ada tuhan selain Allah SWT. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُم مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

Artinya:

Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudia ia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi Syafa’at 1190. Maka kamu tidak memperhatikan?” (QS. As Sajadah Ayat 4)

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Artinya:

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. (QS. Thaha Ayat 14)

Qidam (Terdahulu/Awal)

Qidam maksudnya Dialah sang pencipta yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Maksudnya, Allah telah ada lebih dulu daripada apa yang diciptakannya. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

هُوَ ٱلْأَوَّلُ وَٱلْءَاخِرُ وَٱلظَّٰهِرُ وَٱلْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Artinya :

Dialah yang awal dan yang akhir. Yang zhahir dan yang bathin, dan Dia maha mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al Hadid Ayat 3)

Baqa’ (Kekal)

Baqa maksudnya Allah maha kekal. Allah tidak akan punah, binasa, atau bahkan mati. Dia akan tetap ada selamanya. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an:

Artinya:

Tiap – tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. BagiNya-lah segala penentuan, dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan”. (QS. Al – Qasas : 88)

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Artinya:

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Rabb mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”. (QS. Ar  Rahman Ayat 26-27)

Mukholafatul Lilhawaditsi (Berbeda dengan makhluk ciptaanya)

Mukholafatul lilhawaditsi maksudnya Allah sudah pasti berbeda dengan ciptaanya. Dialah dzat yang Maha Sempurna dan Maha Besar. Tidak ada sesuatu pun yang mampu menandingi dan menyerupai keagungan-Nya. Sebagaiaman ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ

Artinya:

Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (QS. Al Ikhlas Ayat 4)

Artinya:

Tidak ada satupun yang serupa dengan Dia dan Dialah yang Maha Mendengan dan Melihat”. (QS. Asy Syura Ayat 11)

Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri)

Qiyamuhu binafsihi maksudnya Allah itu berdiri sendiri, tidak bergantung pada apapun dan tidak membutuhkan bantuan siapapun. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an:

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah benar – benar Maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta”. (QS. Al Ankabut Ayat 6)

Wahdaniyah (Tunggal/Esa)

Wahdaniyah maksudnya Allah maha esa atau tunggal. Tidak ada sekutu bagi-Nya, Dialah satu-satunya Tuhan pencipta alam semesta. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

Artinya:

Seandainya di langit dan di bumi ada tuhan – tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu akan binasa”. (QS. Al Anbiya Ayat 22)

Qudrat (Berkuasa)

Qudrat maksudnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang bisa menandingi atas kekuasaan Allah SWT. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an:

إِنَّ اللَّه عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya:

Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah Ayat 20)

Iradat (Berkehendak)

Iradat maksudnya apabila Allah berkehendak maka jadilah hal itu dan tidak ada seorangpun yang dapat mampu mencegah-Nya. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ إِلاَّ مَا شَاء رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ

Artinya:

Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki”. (QS. Hud Ayat 107)

‘Ilmun (Mengetahui)

Ilmun maksudnya Allah SWT Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Baik sesuatu yang tampak maupun yang tidak tampak. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ نُ

Artinya:

Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”. (QS. Qaf Ayat 16)

Hayat (Hidup)

Hayat maksudnya Allah SWT adalah Maha Hidup, tidak akan pernah mati, binasa, ataupun musnah. Dia kekal selamanya. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

Artinya:

Dan bertakwalah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya”. (QS. Al Furqon ayat 58)

Sama’ (Mendengar)

Sama’ maksudnya Allah Maha Mendengar baik yang diucapkan maupun yang disembunyikan dalam hati. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

وَاللّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya:

Dan Allah-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Maidah Ayat 76)

Basar (Melihat)

Basar maksudnya Allah melihat segala sesuatu. Pengelihatan Allah tidak terbatas, Dia mengetahui apapun yang terjadi di dunia ini. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya:

Dan Allah melihat atas apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Hujurat ayat 18)

Artinya:

Dan perumpamaan orang – orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat”. (QS. Al Baqarah ayat 265)

Qalam (Berfirman)

Qalam maksudnya Allah itu berfirman. Dia bisa berbicara atau berkata secara sempurna tanpa bantuan dari apapun. Terbukti dari adanya firman-Nya berupa kitab – kitab yang diturunkan lewat para Nabi. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

وَلَمَّا جَاء مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ

Artinya:

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan kami) pada waktu yang telah kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya”. (QS. Al A’raf ayat 143)

Qadiran (Berkuasa)

Qadiran maksudnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu yang ada di alam semesta. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ كُلَّمَا أَضَاء لَهُم مَّشَوْاْ فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُواْ وَلَوْ شَاء اللّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّه عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya:

Hampir kilat itu menyambar pengelihatan mereka. Setiap kali sinar itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. jika Allah menghendaki, niscaya dia melenyapkan pendengaran dan pengelihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah ayat 20)

Muridan (Berkehendak)

Muridan maksudnya bila Allah sudah menakdirkan suatu perkara, maka tidak ada yang bisa menolak kehendak-Nya. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ إِلاَّ مَا شَاء رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ

Artinya:

Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksanya terhadap apa yang Dia kehendaki”. (QS. Hud ayat 107)

‘Aliman (Mengetahui)

Aliman maksudnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Baik yang ditampakan maupun yang disembunyikan. Tidak ada satupun yang bisa menandingi pengetahuan Allah Yang Maha Esa. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

Artinya:

Dan Allah Maha Mengetahui sesuatu” … (QS. An Nisa ayat 176)

Hayyan (hidup)

Hayyan maksudnya Allah adalah dzat yang hidup. Allah tidak akan mati, tidak akan tidur ataupun lengah. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيراً

Artinya:

Dan bertakwalah kepada Allah yang hidup, yang tidak mati, dan bertasbihlah denga memuji-Nya. Dan cukuplah dia Maha Mengetahui dosa – dosa hamba-Nya”. (QS. Al Furqon ayat 58)

Sami’an (Mendengar)

Sami’an maksudnya Allah selalu mendengar pembicaraan manusia, permintaan, ataupun doa hamba-Nya.

Bashiran (Melihat)

Bashiran maksudnya keadaan Allah yang melihat setiap yang maujudat (benda yang ada). Allah selalu melihat gerak gerik kita. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu melakukan perbuatan baik.

Mutakalliman (Berfirman atau berkata – kata)

Mutakalliman maksudnya Sama dengan Qalam, Mutakalliman berarti berfirman. Firman Allah terwujud dengan lewat kitab-kitab suci yang diturunkan lewat para nabi.

Sifat Mustahil Allah

Berikut ini adalah sifat mustahil bagi allah, yaitu:

‘Adam  = Tiada (bisa mati)

Huduth  = Baharu (bisa di perbaharui)

Fana’ = Binasa (tidak kekal/mati)

Mumatsalatu lil hawaditsi = Menyerupai makhluknya

Qiyamuhu Bighayrihi = Berdiri dengan yang lain

Ta’addud = Berbilang – bilang (lebih dari satu)

Ajzun = Lemah

Karahah = Terpaksa

Jahlun = Bodoh

Mautun = Mati

Shamamun = Tuli

‘Umyun = Buta

Bukmun = Bisu

Kaunuhu ‘Ajizan = Dzat yang lemah

Kaunuhu Karihan = Dzat yang terpaksa

Kaunuhu Jahilan = Dzat yang bodoh

Kaunuhu Mayyitan = Dzat yang mati

Kaunuhu Asshama = Dzat yang tuli

Kaunuhu ‘Ama = Dzat yang buta

Kaunuhu Abkama = Dzat yang bisu

20 Sifat Wajib Allah Sifat Mustahil dan Sifat Jaiz Allah

Sifat Jaiz Allah

Ja’iz Artinya boleh ( الجائز ) dalam haq Allah Ta’ala adalah “فَعْلُ كُلِّ مُمْكِنٍ أَوْ تَرْكُهُ” melakukan setiap yang mungkin atau membiarkannya. Dalilnya diatas yaitu:

أَنَّهُ لَوْ وَجَبَ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَعْلُ شَيْءٍ أَوْ تَرْكُهُ لَصَارَ الْجَائِزُ وَاجِبًا أَوْ مُسْتَحِيْلًا وَهُوَ مُحَالٌ

Artinya:

Sesungguhnya jikalau wajib atas Allah SWT melakukan sesuatu atau membiarkannya niscaya ja’iz tersebut menjadi wajib atau mustahil. Dan itu mustahil.”

Demikian artikel tentang 20 Sifat Wajib Allah, Sifat Mustahil dan Sifat Jaiz Allah. Semoga artikel ini dapat bermanfaat, menambah ilmu pengetahuan serta Iman dan Taqwa kita kepada Allah SWT. Sekian, terima kasih.

√ Pengertian Nifaq, pembagian dan hukumnya (Lengkap)

Pengertian Nifaq pembagian dan hukumnya

Pengertian Nifaq, pembagian dan hukumnya (Lengkap) – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tetnang Nifaq. Termasuk di antara pembatal iman yaitu nifaq (kemunafikan). Dalam hal ini merupakan kewajiban kita kaum muslimin untuk memahami pengertian dan jenis kemunafikan, serta ciri orang munafik agar kita bisa menjauhi sifat dan perbuatan tersebut. Untuk lebih jelasnya simak penjelasan berikut ini.

Pengertian Nifaq, pembagian dan hukumnya (Lengkap)

Secara bahasa Nifaq berarti “menyembunyikan sesuatu”. Nifaq dibagi menjadi dua, yaitu nifaq akbar (nifaq i’tiqadi) dan nifaq ashghar (nifaq ‘amali).

Menurut istilah, nifaq akbar (nifak besar) berarti “seseorang yang menampakkan keimanan kepada Allah, malaikat, kitab, para rasul dan hari akhir, namun kondisi batinnya bertentangan dengan semua hal tersebut atau sebagiannya.”

Bisa di artikan, orang munafik adalah orang yang menampakkan Islam secara lahiriyah di hadapan kaum muslimin. Menampakkan bahwa dirinya adalah seorang muslim dan bisa jadi menampakkan sebagian amal ibadah seperti shalat, puasa dan zakat, akan tetapi hatinya pada hakikatnya tidak beriman.

Nifaq i’tiqadi mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, sehingga berlaku pada orang tersebut hukum yang sama dengan pelaku kafir akbar dan syirik akbar. Karena pada hakikatnya, orang munafik adalah orang kafir. Bahkan mereka lebih jelek dan lebih berbahaya daripada orang kafir asli. Karena selain kekafiran, mereka juga melakukan kedustaan, kebohongan dan tipu daya kepada kaum muslimin.

Oleh karena itu, bahaya dan kerusakan yang ditimbulkan oleh orang-orang munafik kepada kaum muslimin sangatlah besar. Mereka menipu kaum muslimin seolah-olah mereka adalah bagian dari barisan kaum muslimin, padahal tidak. Mereka memerangi Islam dengan kata-kata yang dipoles dengan indah, untuk menutupi kedok kemunafikannya.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang mereka orang munafik,

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

Artinya : “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras itu ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya). Maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Al-Munafiqun [63]: 4)

Oleh karena itu, pantaslah di hari kiamat nanti. Mereka adalah orang-orang yang paling keras adzabnya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisa’ ayat 145)

Adapun nifaq ashghar yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, akan dibahas secara khusus di akhir tulisan ini.

Perbuatan kekafiran yang ditampakkan oleh orang munafik

Orang-orang munafik memiliki perbuatan-perbuatan kekafiran yang menunjukkan atau menjadi tanda adanya nifaq akbar di dalam hatinya. Perbuatan-perbuatan tersebut Allah Ta’ala sebutkan secara rinci dalam Al-Qur’an, di antaranya dalam surat At-Taubah, untuk menyibak kedok kemunafikan dalam diri mereka.

Di antara perbuatan-perbuatan orang munafik, antara lain sebagai berikut:

Menjadikan Allah Ta’ala, Rasul-Nya, dan Al-Qur’an sebagai bahan candaan dan olok-olokan.

Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman,

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ. لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

Artinya : “Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu meminta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka bertaubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At-Taubah ayat 65-66)

Di jelaskan dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

Artinya : “Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setan-setan (pemimpin) mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” (QS. Al-Baqarah ayat 14)

Mencela dan menghina Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

Artinya : “Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat. Jika mereka diberi sebagian darinya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (QS. At-Taubah ayat 58)

Yaitu, menuduh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersikap adil ketika membagi zakat.

Berpaling dari ajaran Islam dan mencela syariat, serta berupaya menjauhkan umat dari syariat Islam

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

Artinya : “Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An-Nisa’ ayat 61)

Di antaranya adalah seruan orang-orang munafik kepada kaum wanita untuk menanggalkan jilbab, menuntut persamaan dan kesetaraan dalam kepemimpinan, hukum waris, hukum talaq (perceraian) (maksudnya, seorang istri juga berhak mencerai suami sebagaimana suami berhak mencerai istri), dan sebagainya.

Menyerukan untuk menjadikan hukum buatan orang kafir sebagai sumber hukum

Dengan menyerukan hukum buatan kafir sebagai sumber hukum dan menerapkannya dengan mengatakan bahwa hukum tersebut lebih baik dan lebih mendatangkan maslahat daripada hukum Islam.

Allah Ta’ala telah berfirman,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا

Artinya : “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’ ayat 60)

Meyakini dan menyerukan “isme-isme” (ideologi) yang merusak dan menghancurkan Islam dan persatuan kaum muslimin.

Orang-orang munafik meyakini benarnya “isme-isme” (ideologi) yang pada hakikatnya merusak Islam dan menyerukannya di tengah-tengah kaum muslimin. Di antara isme tersebut yaitu yang kita saksikan dewasa ini ketika mereka mengajak “persatuan kaum muslimin” akan tetapi persatuan semu. Karena persatuan tersebut tidak dibangun di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti persatuan atas dasar kesukuan (qaumiyyah) dan sekat-sekat kebangsaan (wathaniyyah) (nasionalisme) dengan merendahkan (bangsa) yang lainnya.

Orang-orang munafik zaman ini, sebagiannya diberi label sebagai cendekiawan dan reformis Islam, mengajak persatuan di atas ikatan-ikatan jahiliyah tersebut, yang telah dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerukan persatuan dan persaudaraan atas dasar ikatan iman dan Islam, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya : “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat ayat 10)

Berdasarkan ayat tersebut, dapat diartikan seluruh kaum muslimin adalah bersaudara, apa pun jenis kebangsaannya.

Membantu dan bekerja sama dengan orang kafir untuk menyerang dan menguasai kaum muslimin

Hal ini tidaklah mengherankan, karena mereka pada hakikatnya tidak beriman, alias orang kafir. Sehingga dapat dipahami yaitu mereka membantu saudaranya sesama orang kafir untuk menyerang kaum muslimin. Allah Ta’ala telah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ

Artinya : Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” (QS. Al-Maidah ayat 51-52)

Menampakkan kegembiraan ketika kaum muslimin tertimpa musibah dan kesusahan atau ketika orang kafir menang mengalahkan kaum muslimin.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Artinya : “Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka (orang munafik) bersedih hati. Tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran ayat 120)

Oleh karena itu, banyak kita jumpai di jaman ini. Orang yang tidak merasa kesusahan dan tidak merasa berduka atas musibah dan bencana yang terjadi di negeri-negeri kaum muslimin di berbagai penjuru dunia.

Bahkan lebih dari itu, kita mendengar ucapan-ucapan dari mereka yang melarang untuk mendistribusikan bantuan ke negeri-negeri kaum muslimin yang tertimpa kesusahan dan bencana. Meskipun dengan kedok alasan “mereka adalah bangsa lain, mari fokus dengan bangsa sendiri”.

Sekali lagi, mereka menyeru dengan isme-isme qaumiyyah dan wathaniyyah (bangga dengan kaum dan bangsa sendiri), dan membuang jauh-jauh persatuan di atas ikatan iman dan Islam.

Mencela dan menghina para ulama kaum muslimin dan orang-orang shalih dan membenci dakwah dan agama mereka

Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya : “Apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman (yaitu para sahabat Nabi, pen.).” Mereka menjawab, “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah ayat 13)

Allah Ta’ala juga berfirman,

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya : “(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya. Maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.” (QS. At-Taubah ayat 79)

Oleh karena itu, kita jumpai orang-orang munafik di jaman ini yang memberi gelar kepada para ulama dengan gelar-gelar yang buruk. Semacam “ulama haid dan nifas” atau “ulama yang ilmunya tidak keluar dari (maaf) celana dalam perempuan” dan gelar-gelar buruk lainnya.

Bahkan menyebut orang beriman dengan “orang bodoh” (karena keimanannya); sedangkan “orang cerdas” adalah orang ateis yang tidak beriman, misalnya. Atau mencela para da’i yang menyebarkan dan mendakwahkan Islam.

Pengertian Nifaq pembagian dan hukumnya

Memuji-muji orang kafir dan menyebarkan pemikiran mereka yang bertentangan dengan ajaran Islam

Allah Ta’ala berfirman,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلَا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Artinya : “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui.” (QS. Al-Mujaadilah ayat 14)

Demikian penjelasan tentang Pengertian Nifaq, pembagian dan hukumnya (Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan dijauhkan dari perbuatan serta sifat yang buruk. Sekian Terimakasih.

√ 10 Macam Sholat Sunah Yang Memiliki Manfaat Luar Biasa Lengkap

10 Macam Sholat Sunah Yang Memiliki Manfaat Luar Biasa Lengkap

10 Macam Sholat Sunah Yang Memiliki Manfaat Luar Biasa Lengkap – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Macam Sholat Sunah. Dalam pembahasan kali ini menjelaskan berbagai macam sholat sunah dan manfaat yang luar biasa.

Karena sholat sunnah adalah penyempurna dari sholat wajib atau sholat fardhu. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam tentang sholat sunnah yang memiliki manfaat luar biasa.

10 Macam Sholat Sunah Yang Memiliki Manfaat Luar Biasa Lengkap

Kewajiban seorang muslim ialah menjalankan sholat 5 waktu, yaitu sholat subuh, dhuhur, ashar, magrib dan isya. Selain melakukan sholat wajib, ada beberapa macam sholat sunnah yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.

Sholat Sunnah

Bahkan, Anda bisa menjalankannya sesuai dengan kebutuhan. Karena masing-masing sholat sunah memiliki manfaat tersendiri.

Meskipun hukum sholat sunah boleh dikerjakan boleh juga tidak, namun jika pahala dan manfaatnya luar biasa, maka alangkah lebih baik jika kita menjalankannya. Sebab, rasanya akan rugi kalau sampai melewatkan menjalankan sholat sunah tersebut.

Hukum Sholat Sunnah

Hukum sholat sunnah ada dua, yaitu sunnah muakad dan ghoiru muakad.

Sholat Sunnah Muakad

Muakad artinya dikuatkan atau diutamakan. Maksudnya sholat sunnah muakkad berarti sholat sunnah yang diutamakan dan ditekankan agar sholat tersebut dilakukan, walaupun ditinggalkan juga tidak apa-apa.

Sholat sunnah muakad seperti sholat sunnah hari raya idul fitri, sholat sunnah hari raya kurban.

Sholat Sunnah Ghoiru Muakad

Sholat sunnah ghoiru muakad adalah sholat sunnah yang tidak ditekankan dan hanya sholat sunnah biasa. Namun sholat sunnah ghairu muakad juga memiliki manfaat dan keutamaan yang luar biasa jika dikerjakan.

Sholat sunnah ghaoiru muakkad tidak ditekankan agar tidak memberatkan atau membebani umat muslim untuk mengerjakannya. Namun kalau memang mengerjakan sholat sunnahnya bisa dikerjakan maka akan lebih baik lagi.

Pembagian Sholat Sunnah

Banyak sekali jenis sholat sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah. Dalam ajaran islam, sholat sunnah dibagi menjadi 3 jenis:

Sholat Sunnah yang Berhubungan dengan Waktu

Sholat sunnah yang berhubungan dengan waktu maksudnya adalah sholat sunnah ini dalam pengerjaanya hanya dalam waktu-waktu tertentu saja yang sudah ditetapkan pelaksanaannya.

Misalnya :

  • Sholat sunnah dhuha hanya dikerjakan di waktu dhuha, yaitu di waktu pagi hari antar pukul 08:00 sampai pukul 12:00 siang.
  • Sholat sunnah rawatib hanya dikerjakan sebelum atau sesudah sholat fardhu, diluar itu tidak boleh mengerjakannya.
  • Sholat Sunnah yang Berhubungan dengan Sebab

Sholat sunnah yang berhubungan dengan sebab maksudnya adalah sholat sunnah ini dalam pengerjaanya dikarenakan adanya sebab-sebab yang muncul.

Misalnya:

  • Sholat sunnah gerhana yang dikerjakan karena adanya gerhana matahari yang dianjurkan mengerjakan sholat sunnah Kusuf. Dan ketika ada gerhana bulan dianjurkan untuk melaksanakan sholat sunnah Khusuf.
  • Sholat sunnah istikharah yang dikerjakan karena adanya kesulitan dalam memilih sesuatu. Untuk itu dianjurkan melaksanakan sholat istikharah agar mendapat petunjuk dari Allah mengenai pilihan yang harus diambil.

Sholat Sunnah yang Dikerjakan Tanpa Adanya Sebab dan Ketepatan Waktu

Sholat sunnah ini dapat dikerjakan kapan saja, selain waktu-waktu yang diharamkan mengerjakan sholat. Dan sholat sunnah macam ini disebut sholat sunnah “Muthlaq”.

Sholat sunah ini boleh dikerjakan sesuai kemampuan, mengerjakan 2 rakaat, 4 rakaat atau 8 rakaat diperbolehkan sesuai dengan kemampuan yang mengerjakannya.

Selama ada waktu dan tubuh dalam keadaan sehat, tinggal niat mengerjakan sholat sunnah ini untuk mendapatkan pertolongan dan ridha dari Allah.

Sholat Sunah yang Manfaatnya Luar Biasa

Ada banyak macam sholat sunnah yang bisa dikerjakan. Berikut diantaranya.

Sholat Dhuha

Sholat Dhuha ialah salat sunnah yang boleh dikerjakan sendiri ataupun berjamaah. Waktu untuk melaksanakan sholat dhuha ialah pada pagi hari sekitar jam 08.00 pag sampai pukul 12:00 siang. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

َمَنْ صَلَّى الضُّحٰى اِثْنَتٰى عَشَرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللهُ لَهُ قَصْرًا فِى الْجَنَّةِ

Artinya: “Barang siapa yang melakukan sholat Dhuha dua belas rakaat, Allah akan membuatkan baginya istana di surga” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Dari hadist diatas, sholat dhuha memiliki keutamaan dan manfaat yang luar biasa. Bagi siapa saja umat muslim yang mengerjakan sholat sunnah dhuha akan dibuatkan istana di surga. Manfaat lain dari melakukan sholat ini ialah akan dicukupkan kebutuhannya oleh Allah SWT.

Sholat Rawatib

Sholat Wawatib adalah sholat yang dilakukan sebelum ataupun sesudah melakukan sholat wajib. Sebelum sholat fardu disebut “qabliyah” sedangkan setelah sholat fardu disebut “ba’diyah”.

Sholat sunnah rawatib yang dilarang adalah sholat rawatib sesudah subuh dan sesudah asar. Karena pada waktu tersebut terdapat waktu-waktu yang diharamkan melakukan sholat.

Rasulullah Bersabda:

“Barang siapa mengerjakan sholat rawatib sebanyak 12 rakaat sehari semalam, dibuat baginya oleh Allah rumah di dalam surga.”

Inilah janji Allah untuk yang mengamalkan dan mengerjakan sholat sunnah rawatib. Untuk itu sholat sunnah ini memiliki pahala, manfaat dan keutamaan yang besar.

Sholat Tahajud

Sholat tahajud merupakan sholat sunah yang waktu pengerjaannya ialah di malam hari. Jumlah rakaat sholat tahajud adalah minimal 2 rakaat dan maksiml 12 rakaat.

Untuk menjalankannya seseorang dianjurkan untuk tidur terlebih dahulu. Walaupun kalau tidak diawali dengan tidur juga juga gak apa-apa. Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa melaksanakan sholat tahajud dengan sebaik-baiknya, dan dengan tata tertib yang rapi, maka Allah SWT akan memberikan 9 macam kemuliaan yaitu 5 macam di dunia dan 4 macam di akhirat.”

Dari hadist diatas, dapat dipahami kalau sholat tahajud memiliki keutamaan, manfaat dan pahala yang luar biasa. Bagi yang mengerjakannya akan mendapatkan 9 macam kemuliaan dengan 5 macam kemuliaan di dunia dan 4 macam kemuliaan di akherat.

Waktu melakukan sholat tahajud

Sepertiga malam pertama

Waktu sepertiga malam pertama adalah setelah sholat Isya sampai dengan sekitar pukul 10.30. Diusahakan sholat tahajud dilakukan setelah bangun tidur walau hanya sebentar.

Sepertiga malam kedua

Sholat tahajud dapat dilakukan di waktu sepertiga malam kedua. Sholat tahajud di sepertiga malam kedua adalah antara pukul 10.30 malam hingga 01.30 pagi.

Sepertiga malam ketiga

Waktu sepertiga malam terakhir ini antara antara pukul 01.30 pagi hingga sebelum memasuki waktu subuh.

Dari ketiga waktu ini, waktu terbaik untuk melakukan sholat tahajud ialah pada waktu sepertiga akhir malam. Jika ingin melakukan sholat tahajud, pastikan Anda sudah melakukan sholat wajib isya’ terlebih dahulu.

Sholat Istikharah

Banyak orang yang melakukan sholat istikharah saat ada pada kondisi bingung atau bimbang. Harapannya, dengan melakukan sholat istikharah, Allah SWT akan memberikan petunjuk sehingga keputusan yang diambilnya tepat.

Pada Al Quran dalam surah Al Baqarah ayat 216, Allah telah mengingatkan:

وَ عَسٰۤی اَنۡ تَکۡرَہُوۡا شَیۡئًا وَّ ہُوَ خَیۡرٌ لَّکُمۡ ۚ وَ عَسٰۤی اَنۡ تُحِبُّوۡا شَیۡئًا وَّ ہُوَ شَرٌّ لَّکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ وَ اَنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ

Artinya: “Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai semua, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah ayat 216).

Dari firman Allah diatas dapat dipahami kalau pilihan terbaik dari Allah pastilah adalah pilihan terbaik untukmu.

Sholat ini bisa dilakukan kapan saja. Namun, akan lebih utama jika dilakukan pada sepertiga malam terakhir. Jika Anda melakukannya dengan khusyu’, segala keragu-raguan akan hilang karena Allah akan memberikan petunjuk untuk menentukan pilihan.

Sholat Hajat

Apabila Anda punya suatu keinginan, mintalah kepada Allah SWT supaya mengabulkannya. Salah satu caranya ialah melakukan sholat hajat dengan khusyuk’.

Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa berwudhu dan menyempurnakannya, kemudian mengerjakan sholat dua raka’at (Sholat hajat) dengan sempurna maka Allah memberi apa saja yang ia minta, baik segera maupun lambat”, (HR. Ahmad).

Anda bisa meminta sesuatu yang diinginkan kepada Allah melalui sholat ini. Bisa dibilang bahwa sholat hajat menjadi cara terbaik untuk mengadu kepada Allah SWT. Anda akan merasa lebih dekat dengan Allah SWT dan hatipun menjadi tenang.

Sholat Witir

Sholat witir adalah sholatnya para kekasih Allah. Sholat witir ini merupakan salah satu sholat sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Rasulullah bersabda:

“Wahai ahli Quran, lakukanlah sholat Witir, sesungguhnya Allah itu witir (ganjil) dan Dia suka kepada sholat Witir.” (HR. Ahmad dan Yirmidzi).

Sholat witir sebagai sholat penutup dari sholat-sholat lainnya pada hari itu. dari hadist diatas disebutkan bahwa Allah sangat menyukai hamba-Nya yang menjalankan sholat witir. Rasulullah bersabda:

“Ada tiga hal yang fardhu bagiku dan sunnah bagi kalian, yaitu witir (sholat Witir), bersiwak, dan qiyamul lail”, (HR. Bukhari dan Muslim).

Sholat witir wajib gabi Rasulullah, berarti sholat witir ini memiliki keutamaan dan manfaat yang luar biasa. Bagi umatnya sholat witir ini sunnah yang sangat dianjurkan. Jumlah rakaat sholat witir adalah ganjil, dengan minimal 1 rakaat. Dan waktu pengerjaannya yaitu setelah isya’ sampai waktu sebelum subuh.

Sholat Taubat

Manusia tidak luput dari kesalahan. Allah SWT sangat menyukai orang-orang yang mau berubah dan bertobat dari kesalahan yang pernah dilakukannya, baik itu kesalahan besar ataupun kecil.

Salah satu cara untuk memohon ampun kepada Allah SWT ialah dengan melakukan sholat taubat. Di sini, Anda bisa meminta ampunan dari dosa-dosa yang dilakukan sekaligus berjanji tidak akan mengulangi kesalahan tersebut. Jumlah minimalnya ialah 2 rakaat dan maksimal 6 rakaat.

Sholat Wudhu

Hal wajib yang dilakukan ketika akan melakukan sholat ialah berwudhu. Sholat wudhu ialah sholat yang dikerjakan setelah melakukan wudhu. Sebagai contoh, sebelum melakukan sholat maghrib, Anda menjalankan sholat ini setelah wudhu dan sebelum sholat magrib. Jumlah rakaatnya ialah 2 rakaat.

Sholat Tahiyatul Masjid

Sesuai dengan namanya, tujuan melakukan sholat tahiyatul masjib bertujuan memberikan penghormatan pada tempat ibadah masjid. Anda bisa melakukannya kapan saja saat melakukan sholat jamaah di masjid.

10 Macam Sholat Sunah Yang Memiliki Manfaat Luar Biasa Lengkap

Sholat Tasbih

Asal muasal nama sholat tasbih ialah karena terdapat bacaan 300 kali tasbih. Jumlahnya ialah 4 rakaat. Sholat tasbih ini boleh dikerjakan setiap hari, satu minggu sekali, satu bulan sekali, ataupun satu kali seumur hidup.

Rasulullah SAW menyarankan kepada umatnya untuk melakukan ibadah sholat tasbih ini karena pahalanya sangat besar.Demikian ulasan tentang sholat sunnah yang memiliki manfaat, keutamaan dan keistimewaan luar biasa. Lakukanlah sholat sunah sebagai penyempurna ibadah Anda. Anda bisa memilih jenis sholat sunnah mana sesuai dengan momen dan kebutuhan.

Demikian ulasan tentang 10 Macam Sholat Sunah Yang Memiliki Manfaat Luar Biasa Lengkap. Semoga dapat bermanfaat dan menabah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Inilah Metode Dakwah Islamiah Ala Rasulullah (Bahas Lengkap)

Inilah Metode Dakwah Islamiah Ala Rasulullah (Bahas Lengkap) -Pada kesempatan ini menjelaskan tentang Metode Dakwah. Yang mana dalam pembahasn kali ini menjelaskan bagaimana metode dakwah islam yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya simak ulasan Pengetahuan Islam berikut.

Inilah Metode Dakwah Islamiah Ala Rasulullah (Bahas Lengkap)

Di era yang tanpa batas ini, informasi dapat diakses kapan dan di manapun yang Anda mau. Termasuk dakwah islamiah dari berbagai media konvensional maupun daring, baik itu koran, majalah, instagram, maupun youtube. Beragam isi yang disampaikan, mulai dari fiqh, hukum islam, ekonomi islam, hingga yang berhubungan dengan akhlak.

Beberapa Metode Dakwah Islamiah

Dari berbagai definisi dakwah yang ada, dapat disimpulkan bahwa dakwah adalah komunikasi, namun komunikasi belum tentu dakwah. Isi dan orientasi, itulah perbedaanya. Pengertian islami menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bersifat keislaman, yang mana pengertian ini cenderung mengarah pada akhlak.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa dakwah islam adalah komunikasi informatif mengenai akhlak berdasarkan nilai–nilai ajaran Islam. Baik itu akhlak terpuji (akhlakul karimah) maupun akhlak tercela (akhlakul mazmumah). Di bawah ini adalah ulasan singkat mengenai contoh akhlak yang dapat Anda simak:

Dakwah Islam Tentang Sabar

Ketika masalah ataupun keadaan sulit menimpa, bersabarlah. Hal itu adalah salah satu cara yang diajarkan Islam untuk menghadapinya. Dalil sabar menurut Al-Quran selalu didengungkan dalam dakwah islam tentang sabar, yaitu pada Surat Al-Baqarah ayat 153, yang mana sabar dan shalat dapat dijadikan penolong, karena orang–orang yang sabar akan disertai oleh-Nya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin membagi sabar menjadi tiga macam, yaitu:

  1. Sabar dalam prosesnya untuk selalu taat pada Allah.

Contoh dari sabar dalam prosesnya untuk selalu taat pada Allah Swt di antaranya adalah sabar dalam menuntut maupun mengamalkan ilmu, karena sama sekali bukan hal yang mudah.

Syaikh Nu’man pun sepakat dengan hal ini. Yahya bin Abi Katsir sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim, berpendapat yang intinya ilmu itu tidak akan bisa didapatkan jika terlalu banyak berleha–leha, tidak berusaha.

  1. Sabar untuk selalu berusaha menjauhi apa yang dilarang dan dimurkai-Nya.

Berdasarkan riwayat Ibnu An-Najjar dari Abu Dzarr, bahwa melawan diri sendiri dan hawa nafsu adalah salah satu bentuk jihad. Maka juga diperlukan kesabaran untuk memeranginya.

  1. Sabar menghadapi takdir berupa ujian maupun cobaan yang menimpa

Tidak ada di dunia ini, yang tidak luput dari takdir-Nya. Baik itu berupa kenikmatan, maupun ujian. Dewan Dakwah Islam Indonesia dalam laman resminya, telah memberikan solusi bagi Anda yang sedang ditimpa ujian ataupun cobaan.

Hal yang perlu diingat adalah Allah tidak akan menguji makhluk di luar kemampuannya, pun juga tidak akan membiarkan makhluk tidak diuji.

Ujian maupun cobaan dalam hidup ada, semata–mata untuk meningkatkan derajat keimanan di hadapan-Nya. Tidak ada yang salah dengan kesedihan, hanya saja juga tidak baik jika terlarut ke dalamnya.

Dakwah Islam Tentang Ibu

Ada sebuah kisah dari Yuanling, Hunan, Cina. Seorang ibu rela menggendong anaknya yang memiliki cerebral palsy, berangkat ke sekolah setiap hari, sejak 2006, demi memiliki kesempatan yang sama dengan anak sebayanya. Pun menahan lapar karena harus menyisihkan uang untuk pengobatan.

Dalam salah satu hadis riwayat Imam Al-Bukhari menyebutkan bahwa seorang sahabat, Abdullah ibn Umar, melihat seorang pemuda yang menggendong ibunya ke mana pun si ibu mau dan thawaf di Kakbah.

Kemudian pemuda tersebut menanyakan kepada Abdullah ibn Umar, apakah perbuatannya tersebut sudah membalas jasa ibunya. Namun Abdullah ibn Umar justru menjawab bahwa belum sama sekali walau setetes.

Contoh kisah di atas hanyalah sedikit dari sekian kisah pengorbanan seorang ibu untuk anak-anaknya. Akan tetapi, belum tentu seorang anak dapat membalas kebaikan yang telah dilakukan orang tua padanya.

Ada juga kisah lain dari seorang ulama besar di zamannya, memiliki jamaah ratusan hingga ribuan orang dan ibu berumur senja yang kurang sehat akalnya, bernama Haywah bin Suraih.

Suatu ketika Haywah bin Suraih harus meninggalkan pengajian besar karena di tengah-tengah acara, Sang Ibu menyuruhnya untuk memberi makan ayam-ayam di rumah. Setelah itu, barulah ia kembali ke pengajian untuk memulai kembali.

Sebelum pulang untuk memberi makan ayam, Haywah berkata bahwa mengajar hukumnya sunah sementara berbakti kepada ibu adalah suatu kewajiban. Seorang ulama besar bahkan rela berbuat demikian demi ibunya. Kisah dalam dakwah islam tentang ibu ini juga pernah disampaikan oleh Ustadz Hanan Attaki dalam pengajiannya.

Dakwah Islam Berbakti kepada Orang Tua

Berbakti kepada kedua orang tua, tertera jelas dalam firman Allah di Surat Luqman ayat 14. Ibu, yang sudah mengandung kurang lebih sembilan bulan lamanya, mengasuh, mendampingi, menimang, ketika sama sekali belum ada daya pada diri kita. Maka tidak heran jika pintu surga ada di bawah telapak kakinya.

Dakwah islam tentang berbakti kepada orang tua yang Ustadz Hanan Attaki siarkan menyebutkan bahwa ibu adalah pintu surga, dan ayah adalah kuncinya.

Memang urutan pihak yang yang paling berhak mendapatkan bakti tertinggi hingga disebutkan sebanyak tiga kali adalah ibu, namun sama sekali tidak dapat dilepaskan peran seorang ayah, bekerja siang malam untuk memastikan perut kita tidak kelaparan.

Birul walidain. Bersyukur dengan apa adanya orang tua, otomatis akan bersyukur pada Allah dan akan mendapatkan ridho-Nya. Demikian kurang lebih yang disampaikan oleh Ibnu Abbas.

Demikianlah ayat-ayat Allah menerangkan bahwa betapa pentingnya kedudukan orang tua. Bahkan ketika dalam kondisi marah pun, tetap dianjurkan untuk berkata lemah lembut dan merendahkan diri serta merasa tidak lebih tahu dibanding mereka.

Banyak dakwah yang menerangkan bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap orang tua, sebagai ganti ketidakmampuan untuk membalas jasa-jasa mereka.

Bagi Anda yang masih memiliki orang tua, muliakanlah kedudukannya, bertutur kata lembut, dan melempar senyum, karena ketika mereka telah tiada, maka akan hilang satu kesempatan lain untuk mendapatkan keajaiban dalam hidup.

Terlebih lagi ketika mereka semakin tua, pun kondisi fisik dan mental mereka juga akan melemah. Maka, akan semakin sering pula Anda akan mendengar dan berhadapan dengan ‘kerewelan’ dan ‘kemanjaan’ mereka. Karena pada dasarnya, yang mereka butuhkan adalah kehadiran dan kesediaan kita untuk menemani, bukan lagi kemewahan dan harta benda.

Allah berfirman dalam Surat Al–Isra’ ayat 23,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

Juga di dalam Surat Al – Isra’ ayat 24,

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Artinya :

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihinilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.”

Berbakti kepada kedua orang tua juga akan memperpanjang umur atau justru akan mendapatkan kebahagiaan di sepanjang hidup, serta meluaskan pintu rezeki.

Dakwah islamiah yang bisa menjadi tambahan pengetahuan Anda. Dalam islam kita dianjurkan untuk menyampaikan kepada orang walau hanya 1 ayat. Kita juga dianjurkan untuk saling nasehat menasehati dalam kebaikan. Jadi dengan mengetahui banyak cerita islam, maka bisa menjadi bahan untuk dakwah atau membaginya kepada sesama.

Demikian ulasan tentang Inilah Metode Dakwah Islamiah Ala Rasulullah (Bahas Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.