√ Fiqih Fathul Qorib : Cara Menggunakan Khuf Ketika Berwudhu

Fiqih Fathul Qorib - Cara Menggunakan Khuf Ketika Berwudhu

Fiqih Fathul Qorib : Cara Menggunakan Khuf Ketika Berwudhu – Khuf atau muza adalah kaus kaki kulit yang biasa dipakai pada saat musim dingin. Pemakai khuf mendapat keringanan khusus (rukhsoh) yaitu ketika berwudhu tidak harus melepas khuf tersebut tapi cukup mengusap bagian atas kaki saja.

Namun keringanan memakai khuf ini ada syarat-syarat khusus dan dan juga ada masa berlakunya. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut.

Fiqih Fathul Qorib : Cara Menggunakan Khuf Ketika Berwudhu

Sering kita mendengar tentang diperbolehkan tidak membasuh kaki saat berwudhu dengan menggunakan Muza atau khuf. Nah bagi yang belum begitu tahu bisa kita pelajari pada pembahasan berikut ini.

Pasal Mengusap Khuf (Muza, Kaos kaki Kulit)

فصل : والمسح على الخفين جائز في الوضوء لا في غسل فرض أو نفل، ولا في إزالة نجاسة، فلو أجنب أو دميت رجله، فأراد المسح بدلاً عن غسل الرجل لم يجز، بل لا بد من الغسل وأشعر قوله جائز أن غسل الرجلين أفضل من المسح، وإنما يجوز مسح الخفين لا أحدهما فقط، إلا أن يكون فاقد الأخرى (بثلاثة شرائط أن يبتدىء) أي الشخص (لبسهما بعد كمال الطهارة) فلو غسل رجلاً وألبسها خفها، ثم فعل بالأخرى كذلك، لم يكف ولو ابتدأ لبسهما بعد كمال الطهارة، ثم أحدث قبل وصول الرجل قدم الخف لم يجز المسح
وأن يكونا أي الخفان (ساترين لمحل غسل الفرض من القدمين) بكعبيهما فلو كانا دون الكعبين كالمداس، لم يكف المسح عليهما، والمراد بالساتر هنا الحائل لا مانع الرؤية، وأن يكون الستر من جوانب الخفين لا من أعلاهما
وأن يكونا مما يمكن تتابع الشيء عليهما) لتردد مسافر في حوائجه من حط وترحال، ويؤخذ من كلام المصنف كونهما قويين بحيث يمنعان نفود الماء، ويشترط أيضاً طهارتهما، ولو لبس خفاً فوق خف لشدة البرد مثلاً، فإن كان الأعلى صالحاً للمسح دون الأسفل صح المسح على الأعلى، وإن كان الأسفل صالحاً للمسح دون الأعلى، فمسح الأسفل صح أو الأعلى فوصل البلل للأسفل صح إن قصد الأسفل أو قصدهما معاً، لا إن قصد الأعلى فقط، وإن لم يقصد واحداً منهما، بل قصد المسح في الجملة أجزأ في الأصح
ويمسح المقيم يوماً وليلة و يمسح (المسافر ثلاثة أيام بلياليهن) المتصلة بها سواء تقدمت أو تأخرت (وابتداء المدة) تحسب (من حين يحدث) أي من انقضاء الحدث الكائن (بعد) تمام (لبس الخفين) لا من ابتداء الحدث و لا من وقت المسح، ولا من ابتداء اللبس والعاصي بالسفر والهائم يمسحان مسح مقيم، ودائم الحدث إذا أحدث بعد لبس الخف حدثاً آخر مع حدثه الدائم قبل أن يصلي به فرضاً يمسح، ويستبيح ما كان يستبيحه لو بقي طهره الذي لبس عليه خفه، وهو فرض ونوافل، فلو صلى بطهره فرضاً قبل أن تحدث مسح، واستباح نوافل فقط،
فإن مسح  الشخص (في الحضر ثم سافر أو مسح في السفر ثم أقام) قبل مضي يوم وليلة (أتم مسح مقيم) والواجب في مسح الخف ما يطلق عليه اسم المسح إذا كان على ظاهر الخف، ولا يجزىء المسح على باطنه، ولا على عقب الخف، ولا على حرفه ولا أسفله والسنة في مسحه أن يكون خطوطاً بأن يفرج الماسح بين أصابعه ولا يضمها
ويبطل المسح على الخفين (بثلاثة أشياء بخلعهما) أو خلع أحدهما أو انخلاعه أو خروج الخف عن صلاحية المسح كتخرقه (وانقضاء المدة) وفي بعض النسخ مدة المسح من يوم وليلة لمقيم وثلاثة أيام بلياليها لمسافر (و) بعروض (ما يوجب الغسل) كجنابة أو حيض أو نفاس للابس الخف.

(Pasal) mengusap dua muza (kaos kaki / kasut kulit) diperbolehkan dalam wudhu’, tidak di dalam mandi wajib ataupun sunnah, dan tidak di dalam menghilangkan najis.

Sehingga kalau ada seseorang yang junub atau kakinya berdarah, kemudian ia ingin mengusap muza sebagai ganti dari membasuh kaki, maka tidak diperkenankan, bahkan harus membasuh kakinya.

Perkataan mushannif yang berbunyi, “diperbolehkan” memberi pehamaman bahwa sesungguhnya membasuh kedua kaki itu lebih utama dari pada mengusap muza.

Mengusap muza itu hanya diperbolehkan jika memang mengusap keduanya tidak salah satunya saja, kecuali jika dia tidak memiliki kaki yang satunya lagi.

Syarat Mengusap Muza

Di perbolehkannya mengusap muza atau khuf dengan tiga syarat, yaitu

1. Seseorang mulai mengenakan kedua muza tersebut setelah dalam keadaan suci secara sempurna.

Sehingga, kalau ia membasuh salah satu kakinya dan mengenakan muza pada kaki tersebut, kemudian hal yang sama dilakukan pada kaki yang satunya lagi, maka tidak mencukupi.

Dan seandainya ia mulai mengenakan kedua muza setelah sempurnanya suci, namun kemudian ia hadats sebelum kakinya sampai di dasar muza, maka tidak diperkenankan untuk mengusapnya.

2. kedua muza tersebut bisa menutupi bagian kedua telapak kaki yang wajib di basuh hinggah kedua mata kakinya.

Sehingga, kalau kedua muza tersebut tidak sampai menutup kedua mata kaki seperti sepatu, maka tidak cukup mengusap keduanya.

Yang di kehendaki dengan “satir (yang menutup)”di dalam bab ini adalah penghalang, bukan sesuatu yang mencegah penglihatan.

Yang harus tertutup adalah bagian bawah dan sampingnya kedua muza, tidak arah atas keduanya.

3. Muza tersebut harus terbuat dari sesuatu yang bisa digunakan untuk berjalan naik turun bagi seorang musafir guna memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

Dari ucapan mushannif di atas bisa diambil pemahaman bahwa kedua muza tersebut harus kuat, sekira bisa mencegah masuknya air. Juga disyaratkan keduanya harus suci.

Dan seandainya ia memakai muza berlapis karena cuaca terlalu dingin semisal, maka, jika muza yang luar / atas layak untuk diusap tidak muza yang dalam, maka syah mengusap muza yang luar.

Dan jika yang layak diusap adalah muza yang dalam, bukan yang luar, kemudian ia mengusap muza yang dalam, maka hukumnya sah.

Atau ia mengusap muza yang atas, namun kemudian basah-basah air sampai ke muza yang dalam, maka hukumnya sah jika ia menyengaja untuk mengusap yang dalam atau mengusap keduanya, dan tidak sah jika ia menyengaja mengusap muza yang luar saja.

Dan jika ia tidak menyengaja mengusap salah satunya, akan tetapi ia menyengaja mengusap secara umum, maka dianggap cukup menurut pendapat al Ashah.

Masa Mengusap Muza

Bagi orang yang muqim (tidak bepergian) diperkenankan mengusap selama sehari semalam. Dan bagi musafir diperkenankan mengusap selama tiga hari beserta malam-malamnya yang bersambung, baik malam-malamnya itu lebih dahulu atau belakangan.

Permulaan masa tersebut terhitung sejak ia hadats, maksudnya sejak selesainya hadats yang terjadi setelah sempurna mengenakan kedua muza.

Bagi orang yang melakukan maksiat dengan bepergiannya dan orang yang berkelana tanpa tujuan, maka diperkenankan mengusap seperti mengusapnya orang yang muqim -sehari semalam-.

Orang yang selalu mengeluarkan hadats (daimul hadats), ketika ia mengalami hadats yang lain di samping hadatsnya yang selalu ada, setelah mengenakan muza dan sebelum melakukan sholat fardlu, maka ia diperkenankan mengusap muza dan melakukan hal-hal yang boleh ia lakukan seandainya kesucian saat mengenakan muza itu masih ada, yaitu ibadah fardlu dan beberapa ibadah sunnah.

Sehingga, kalau sudah melakukan ibadah fardlu sebelum mengalami hadats, maka ia diperkenankan mengusap muza dan melakukan ibadah-ibadah sunnah saja.

Jika ada seseorang yang mengusap muza saat masih di rumah kemudian ia bepergian, atau mengusap saat bepergian kemudian ia muqim sebelum melewati sehari semalam, maka dia diperkenankan menyempurnakan masa mengusap bagi orang yang muqim -sehari semalam-.

Cara Mengusap Muza

Wajib saat mengusap muza adalah melakukan sesuatu yang sudah layak disebut mengusap, jika memang dilakukan di bagian luar muza. Tidak mencukupi mengusap bagian dalam, tungkak muza, tepi dan bagian bawahnya.

Fiqih Fathul Qorib - Cara Menggunakan Khuf Ketika Berwudhu

Yang sunnah di dalam mengusap adalah mengusap dengan posisi menggaris, dengan artian orang yang mengusap muza tersebut merenggangkan jari-jarinya, tidak merapatkannya.

Hal Membatalkan Untuk Mengusap

Mengusap dua muza hukumnya batal sebab tiga perkara, yaitu

  1. Melepas keduanya
  2. Melepas salah satunya
  3. Terlepas sendiri atau muza sudah keluar dari kelayakan untuk diusap seperti sobek.

Adapun habisnya masa mengusap. Dalam sebagian redaksi diungkapkan dengan bahasa “habisnya masa mengusap” yaitu sehari semalam bagi orang muqim, dan tiga hari tiga malam bagi orang musafir.

Sebab terjadinya sesuatu yang mewajibkan mandi seperti jinabah, haidl, atau nifas pada orang yang mengenakan muza.

Demikian ulasan tentang Fiqih Fathul Qorib : Cara Menggunakan Khuf Ketika Berwudhu. Semoga dapat bermanfaat dan manambah wawasan ilmu pengetahuan kita semua. Terimakasih.

√ Dzikir dan Doa Setelah Sholat Wajib Arab, Latin dan Terjemah

Dzikir dan Doa setelah sholat wajib Arab, Latin dan Terjemah – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Dzikir dan Doa setelah Sholat Wajib yang mana dengan menggunakan bahasa arab, latin dan terjemahnya. Sehingga memudahkan para pembaca untuk memahami dan menghapalnya. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini.

Dzikir dan Doa Setelah Sholat Wajib Arab, Latin dan Terjemah

Dalam islam setiap melaksanakan ibadah sholat wajib, setelah selesai sholat biasanya jamaah baik imam maupun makmum membaca serangkaian doa.

Ada yang membaca doa pendek dan singkat, namun ada juga yang membaca secara lengkap. Bagi orang yang melaksanakan sholat sendiri-sendiri, biasanya membaca doa dengan singkat sedangkan jika sholat berjamaah. Imam akan membaca doa selesai sholat yang panjang dan makmum akan mengamininya.

Di sini kita akan menuliskan beberapa lafadz doa dan dzikir yang biasa sering dibaca setelah selesai sholat wajib. Namun sebelum itu, kita terlebih dahulu perlu mengetahui pengertian dari sholat wajib dan doa.

Pengertian Sholat Wajib

Sholat wajib atau sholat fardhu adalah ibadah sholat yang dikerjakan oleh umat Islam baik laki-laki maupun perempuan yang tidak berhalangan (haid/nifas). adapun syarat untuk mengerjakannya adalah beragama Islam, baligh, suci dari hadas besar dan kecil serta berakal sehat.

Untuk menyucikan diri dari hadas kecil dapat dilakukan dengan cara berwudhu atau dengan cara tayamum bila tidak ada air. Sedangkan untuk menghilangkan hadas besar harus dilakukan dengan cara doa mandi wajib.

Sholat wajib terdiri dari 5 waktu antara lain sholat subuh, sholat dzuhur, sholat ashar, sholat maghrib, dan terakhir sholat isya. Total terdapat 17 rakaat sholat fardhu yang dikerjakan dalam kurun waktu 24 jam.

Bagi yang terpaksa tidak dapat mengerjakan sholat wajib, maka diperbolehkan untuk menggantinya di lain waktu atau yang biasa disebut dengan sholat qadha.

Bagi yang tidak dapat mengerjakan sholat fardhu dengan cara berdiri, dapat mengerjakannya dengan cara duduk atau berbaring, tergantung kemampuan masing-masing.

Pengertian Doa

Doa adalah kalimat atau bacaan yang diucapkan dengan harapan dapat tersampaikan dan didengar oleh Tuhan. Dalam agama Islam, Doa yaitu sesuatu yang ingin disampaikan kepada Allah SWT.

Isi dari doa biasanya merupakan permohonan atau ucapan syukur, kebanyakan adalah memohon sesuatu agar dikabulkan oleh Allah SWT. Karena hanya Allah lah tempat kita memohon dan meminta.

Doa dalam agama Islam diucapkan dengan menggunakan bahasa Arab. Namun ada juga berupa tulisan latin bagi yang belum lancar mengaji dan terjemahan ke dalam bahasa Indonesia bagi yang ingin memahami maknanya.

Dzikir dan Doa Setelah Sholat Wajib Singkat

Bacaan doa setelah sholat fardhu merupakan doa yang dibaca ketika selesai menjalankan sholat dengan maksud mengucap syukur dan memohon sesuatu kepada Allah SWT.

Dzikir Setelah Sholat Wajib Arab, Latin dan Terjemah Lengkap

Jika mengerjakan sholat berjamaah seperti subuh, maghrib dan isya, biasanya imam akan membaca rangkaian doa berikut setelah selesai sholat dan makmum akan mengamininya.

Berikut adalah rangkaian doa dan dzikir setelah sholat wajib yang panjang atau lengkap dalma bahasa Arab, latin beserta artinya.

1. Istighfar 3 Kali
xأَسْتَغْفِرُ اللًّهَ   ٣

Astaghfirulloh, Astaghfirulloh, Astaghfirulloh.

Artinya: “Aku mohon ampun kepada Allah, Aku mohon ampun kepada Allah, Aku mohon ampun kepada Allah.”

2. Doa Keselamatan
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ

Allohumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikrom.

Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Maha Pemberi keselamatan dan keselamatan hanyalah dari-Mu, Mahaberkah Engkau, wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”

3. Doa Dzikir Pertama
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ، اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Laa ilaha illalloh wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir. Allohumma laa maani’a limaa a’thoyta wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jadd.

Artinya: “Tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. Kerajaan dan pujian hanyalah milik-Nya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menolak apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau tolak. Juga tidak bermanfaat orang kaya (tanpa amal), dari-Mu segala kekayaan.”

4. Ayat Kursi
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum laa ta’khudzuhuu sinatuuw walaa naum lahuu maa fiis samaawaati wamaa fil ardhi man dzaal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa bi-idznih ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum walaa yuhiithuuna bisyai-in min ‘ilmihii illaa bimaasyaa-a wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardho walaa ya-uuduhuu hifzhuhumaa wahuwal ’aliyyul azhiim.

Artinya: “Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang meraka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

5. Tasbih, Tahmid dan Takbir 33 Kali
سُبْحَانَ اللَّهِ

Subhaanalloh (33x)

Artinya: “Maha suci Allah.”

الْحَمْدُ لِلَّهِ

Alhamdulillah (33x)

Artinya: “Segala puji bagi Allah.”

اللَّهُ أَكْبَرُ

Allohu akbar (33x)

Artinya: “Allah Maha Besar.”

6. Doa Dzikir Kedua

Kemudian dilanjut dengan membaca doa dzikir sholat yang lebih pendek dibanding bacaan dzikir yang pertama berikut ini.

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

Laa ilaha illalloh wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

Artinya: “Tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. Kerajaan dan pujian hanyalah milik-Nya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”

7. Doa Syukur atau Ihsan

Terakhir adalah membaca doa syukur untuk berterima kasih kepada Allah SWT atas kesempatan yang diberikan-Nya sehingga kita dapat mengerjakan ibadah sholat dan membaca dzikir dengan baik.

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Alloohumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik.

Artinya: “Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”

Doa Setelah Sholat Wajib Arab, Latin dan Terjemah

Berikut adalah lafadz bacaan doa dan dzikir setelah sholat wajib yang singkat dalam bahasa Arab.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرِّحِيْمِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. حَمْدًا يُوَافِىْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَارَبَّنَالَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

Bismilllaahirrohmaanirrohiim. Alhamdulillaahi Robbil ‘aalamiin. Hamdan yuwaafii ni’amahu wa yukaafi-u maziidah. Yaa Robbanaa lakal hamdu wa lakasy syukru kamaa yanbaghii lijalaali wajhika wa ‘adhiimi sulthoonik

Artinya : “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Pujian yang sebanding dengan nikmat-nikmatNya dan menjamin tambahannya. Wahai Tuhan kami, bagi-Mu-lah segala puji, dan bagi-Mu-lah segalah syukur, sebagaimana layak bagi keluhuran zat-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu.”

اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Alloohumma sholli wasallim ‘alaa sayyidinaa muhammadin walhamdulillaahi robbil ‘aalaamiin.

Artinya : “Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan kepada penghulu kami, Nabi Muhammad dan keluarganya. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.”

اَللهُمَّ اغْفِرْلِىْ وَلِوَالِدَىَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِىْ صَغِيْرًا

Alloohummagh firlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo.

Artinya : “Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku semenjak kecil.”

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Robbanaghfirlanaa wali-ikhwaaninal ladziina sabaquunaa bil iimaan walaa taj’al fii quluubinaa ghillal lilladziina aamanuu Robbanaa innaka ra-uufur rohiim.

Artinya : “Ya Allah, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dan janganlah Engkau biarkan ghill (dengki) dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Robbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wahablanaa min ladunka rohmatan innaka antal wahhaab.

Artinya : “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”

اَللهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَصِحَّةً فِى الْبَدَنِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ تَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ. اَللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِىْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ

Alloohumma innaa nas-aluka salaamatan fid diini wad dunyaa wal aakhiroh, wa’aafiyatan fil jasad, wa shihhatan fil badan, wa barokatan fir rizq, wa taubatan qoblal maut, wa rohmatan ‘indal maut, wamaghfirotan ba’dal maut. Alloohumma hawwin ‘alainaa fii sakarootil maut, wan najaata minan naar, wal ‘afwa ‘indal hisaab.

Artinya : “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadaMu kesejahteraan dalam agama, dunia dan akhirat, keafiatan jasad, kesehatan badan, tambahan ilmu, keberkahan rezeki, taubat sebelum datang maut, rahmat pada saat datang maut, dan ampunan setelah datang maut. Ya Allah, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, (berilah kami) keselamatan dari api neraka, dan ampunan pada saat hisab.”

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Robbanaa hablanaa min ‘azwaajinaa wa dzurriyaatinaa qurrota a’yunin waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa.

Artinya : “Wahai Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami istri-istri dan keturunan-keturunan sebagai penyejuk hati dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.”

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

Robbanaa taqobbal minnaa innaka antas samii’ul ‘aliim watub ‘alainaa innaka antat tawwaabur rohiim.

Artinya : “Wahai Tuhan kami, perkenankanlah (permohonan) dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

رَبَّنَا أَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Robbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhiroti hasanah waqinaa ‘adzaabannar.

Artinya : “Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan hidup di dunia dan kebaikan hidup di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api neraka.”

وَصَلَّى اللهُ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Wa shollalloohu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi washohbihii wasallam, walhamdulillaahi Robbil ‘aalamiin.

Artinya : “Semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan kepada penghulu kami, Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.”

Demikian ulasan tentang Dzikir dan Doa setelah sholat wajib Arab, Latin dan Terjemah. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

Inilah Kumpulan Bacaan Sholawat Nabi Muhammad SAW

Inilah Kumpulan Bacaan Sholawat Nabi Muhammad SAW

Inilah Kumpulan Bacaan Sholawat Nabi Muhammad SAW – Sahabat Muslim, Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. adalah bentuk kita cinta kepada beliau. Apa yang beliau perintahkan kepada kita semuanya adalah ibadah. Salah satu bentuk ibadah dengan ucapan namun pahalanya yang luar biasa ialah sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Shalawat kita akan tetap sampai walaupun kita jauh.

Teringat saat mendengar cerita rasulullah SAW. saat beliau akan meninggalkan kita. Yang dipikirkan beliau bukan keluarganya, akan tetapi adalah umatnya. Betapa beliau sangat mencintai kita, semoga kita bisa bertemu beliau kelak dan mendapatkan syafaatnya ketika di akhirat. Lebih jelasnya simak keterangan Pengetahuan Islam berikut ini.

Inilah Kumpulan Bacaan Sholawat Nabi Muhammad SAW

Sebagaimana telah menceritakan kepada Anas bin Malik dia berkata, Rasulullah Shalallah ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ

Artinya : “Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan mengucapkan shalawat kepadanya sepuluh kali, dihapuskan darinya sepuluh kesalahan, dan ia diangkat sepuluh derajat untuknya.” (Hadits Nasai Nomor 1280)

Sebagai wujud dan bukti cinta kita kepada beliau maka kita dianjurkan untuk menyebut namanya yaitu dengan bersholawat. Adapun bacaan sholawat Nabi Muhammad SAW sebagai berikut.

Kumpulan Dan Keutamaan Bacaan Sholawat

Ada beberapa macam sholawat, disini saya menyebutnya shalawat khusus dan shalawat umum. Sholawat umum adalah sholawat pendek yang biasanya sering diucapkan dalam sholat dan diamalkan tidak dalam jumlah tertentu. Sholawat umum itu antara lain :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ

Allahumma Sholli ‘Ala Muhammad An Nabiyyil Ummiyyi.

Artinya : “Ya Allah, berilah Shalawat kepada Muhammad Nabi yang Ummi.”

اللَّهُمَّ صّلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Allahumma Sholli ‘Ala Muhammad Wa’Ala Ali Muhammad Kama Shollaita ‘Ala Ali Ibrahim, Innaka Hamidun Majid.

Artinya : “Ya Allah, berilah Shalawat kepada Muhammad dan kerabatnya, karena engkau memberi shalawat kepada kerabat Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

Bacaan Sholawat Nariyah

اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تُنْحَلُ بِهَ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

Allohumma sholli ‘sholaatan kaamilatan wa sallim salaaman taaamman ‘ala sayyidina Muhammadinilladzi tanhallu bihil ‘uqodu wa tanfariju bihil qurobu wa tuqdho bihil hawaaiju wa tunalu bihir roghooibu wa husnul khowaatimu wa yustasqol ghomamu biwajhihil kariem wa ‘ala aalihi wa shohbihi fie kulli lamhatin wa nafasim bi’adadi kulli ma’lumin laka.

Artinya: “Ya Allah berilah sholawat dengan sholawat yang sempurna dan berilah salam dengan salam yang sempurna atas penghulu kami Muhammad yang dengannya terlepas segala ikatan, lenyap segala kesedihan, terpenuhi segala kebutuhan, tercapai segala kesenangan, semua diakhiri dengan kebaikan, hujan diturunkan, berkat dirinya yang pemurah, juga atas keluarga dan sahabat-sahabatnya dalam setiap kedipan mata dan hembusan nafas sebanyak hitungan segala yang ada dalam pengetahuan-Mu.”

Sholawat Ibrohimiyah

اَللّـٰـهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَـيَّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى أَٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِى الْعٰلَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

Artinya: “Ya Allah, limpahkan sholawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana yang telah Engkau limpahkan pada Ibrahim dan keluarganya, berkatilah Muhammad dan keluarganya sebagaiman Engkau memberkati Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

Keutamaan:

  • Mendapatkan segala macam kebutuhan hidup dunia dan akhirat
  • Mendapatkan rahmat dan keselamatan dunia dan akhirat
  • Mendapatkan kewibawaan yang sangat besar terhadap orang lain
  • Menarik dan memperluas rizki dengan sebanyak-banyaknya
  • Mendatangkan segala macam hajat dan dapat mempercepat tercapainya semua cita-cita.

Sholawat Syifa

اَللّٰـهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا وَصِحَّةَ اْلأَبْدَانِ وَعَافِـــيَــتِهَا وَنُوْرِ اْلأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا وَعَلٰى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ.

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat, kepada junjungan kita bnabi Muhammad SAW. yang menjadi dokter semua hati dan obatnya, yang menjadi sehat semua badan dan kesejahteraannya, yang menjadi cahaya semua hati dan kemuliaannya. Dan semoga rahmat terlimpah kepada segenap keluarga beliau dan kepada para sahabat-sahabatnya, serta limpahkanlah salam dan kesejahteraan kepada mereka semua.”

Keutamaan:

  • Menjadikan tubuh lebih kuat dan sehat
  • Menjadikan tubuh kita selamat, awet muda dan panjang usia
  • Menjadikan hati lebih terang dan bercahaya, sehingga dapat melihat kebaikan dan kebatilan

Sholawat Munjiyat

اَللّٰـهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَ بِهَا مِنْ جَمِيْعِ اْلأَهْوَالِ وَالْأَفَاتِ وَتَقْضِى بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّــيـِّـــــئَاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلٰى الدَّرَجَاتِ وِتُبَلِّغُنَا بَهَا أَقْصٰى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِى الْحَيَاتِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ إِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَىيْئِ قَدِيْرٌ.

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, melalui rahmat itu Engkau menyelamatkan kami dari segala ketakutan dan malapetaka. Yang dengan rahmat itu Engkau memenuhi segala hajat kami, yang dengan Engkau mensucikan kami dari segala keburukan, yang dengan Engkau mengangkat derajat kami setinggi-tingginya, yang dengan Engkau mengantar kami ketempat yang paling ujung dari semua kebaikan hidup di dunia dan kehiduan setelah mati.”

Keutamaan:

  • Mengharumkan bau mulut yang tidak sedap
  • Menghilangkan rasa canggung dihadapan orang banyak, dan dapat memancarkan kewibaan melalui ucapannya.

Sholawat Ma’tsuroh

Sholawat ma’tsuroh merupakan sholawat yang kalimat, cara membaca, waktu membaca dan keutamaannya telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, sendiri.

أللّٰـهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحّمَّدٍ نِالنَّـبِىِ اْلأُمِّىِّ وَعَلٰى اٰلِهِ وَسَلِّمْ

Artinya: “Ya Allah! Limpahkanlah sholawat kepada Muhammad yang tiada dapat membaca dan menulis (Ummy) dan semoga keselamatan tercurah kepada segenap keluarganya.”

Sholawat Al-Fatih

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَلْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِماَ سَبَقَ وَالنَّاصِرِ الْحَقَّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِى إِلٰى صِرَاطِكَ الْمُسْـتَقِيْمِ. صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى أٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ.

Artinya: “Ya Allah limpahkanlah rahmat dan keselamatan serta berkah kepada nabi Muhammad SAW., sebagai pemuka sesuatu yang terkunci, dan penutup sesuatu (para nabi) yang terdahulu, dialah penolong yang benar dengan membawa kebenaran serta petunjuk menuju jalan-Mu yang lurus. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada keluarga dan para sahabatnya dengan sebenar-benarnya dengan pangkat dan kedudukan yang agung.”

Keutamaan:

  • Menghilangkan segala kesempitan hidup dan segala urusan yang sulit.
  • Menghapus dosa-dosa kecil
  • Dapat bertemu dengan Rasululloh SAW di dalam mimpi
  • Dapat bertemu dan berkumpul dengan Nabi Muhammad SAW di akhirat kelak.

Sholawat Ummy

اَللَّــهُمَّ صَلِّ عَـلـٰى سَـيِّـدِنَـا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَـبِـيِّكَ وَرَسُوْلِكَ نَبِى الْأُمِّـى وَعَــلـٰى أَلِـهِ وَصَحْبِهِ وَسِلِّـمْ

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, sebagai hamba, Nabi, dan utusan-Mu yang Ummy (tidak bisa membaca dan menulis) beserta keluarga dan sahabatnya dengan salam yang sesungguhnya.”

Keutamaan:

  • Barang siapa yang membaca sholawat Ummy ini sebanyak 80 (delapan puluh) kali pada malam Jum’at, Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya selama 80 (depalan puluh) tahun.
  • Jika sholawat Ummy ini dibaca sebanyak 500 (lima ratus) kali pada malam Jum’at, maka niscaya ia tidak akan mati sebelum berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW, dalam keadaan sadar.

Sholawat Quthbul Aqthob

اَللّٰـهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى اْلأَوَّلِيْنَ وَصَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى اْلآخِرِيْنَ وَصَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى اْلـمُرْسَلِيْنَ وَصَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى الْمَلَإِ اْلأَعْلٰى إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنَ.

Artinya: “Ya Allah, berikan rahmat takdzim kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, di masa-masa permulaan dan berikan rahmat kepada Nabi Muhammad SAW, di masa-masa penghabisan dan berikan rahmat kepada nabi Muhammad saw sebagai utusan serta berikan rahmat kepda nabi Muhammad SAW dan kepada orang-orang yang memiliki kemiliaan sampai hari kiamat.”

Keutamaan:

  • Menyembuhkan penyakit pusing, panas perut, dan batuk
  • Menyembuhkan penyakit gila dan penyakit-penyakit lainnya.

Sholawat Mukafa’ah

اَللّٰـهُمَّ صَلِّ عِلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً دَائِمَةً مَقْبُوْلَةً تُـؤَدِّى بِهَا حَقَّهُ الْعَظِيْمِ

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat, salam dan berkah kepada junjungan kita Muhammad SAW yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang menjadi kekasih Allah SAW, yang luhur pangkatnya dan yang agung kemuliaannya, dan limpahkanlah pula atas keluarganya dan para sahabatnya.”

Kegunaannya :

Barang siapa yang membaca sholawat mukafaah berikut ini sebanyak-banyaknya maka ia telah menunjukkan kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW, dan barang siapa yng mencintai Nabi Muhammad SAW maka jelas ia akan mendapat syafaat beliau kelak di hari kiamat dan dianggap sebagai orang yang mulai di sisi beliau.

Inilah Kumpulan Bacaan Sholawat Nabi Muhammad SAW

Sholawat Ghozali

اَللّٰـهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نَّبِىِّ اْلأُمِّيِّ الْحَبِـيْبِ الْعَالِى الْقَادِرِ الْعَظِيْمِ الْجَاهِ وَعَلٰى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. اَللّٰـهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً دَائِمَةً مُسْتَمِرَّةً تَدُوْمُ بِدَوَامِكَ وَتَبْقٰى بِبَقٰـئِكَ وَتَخْلُدُ بِخُلُوْدِكَ وَلَاغَايَةً لَهَا دُوْنَ مَرْضَاتِكَ وَلَاجَرَاءَ لِقَائِكَ وَمُصَلِّيْهَا غَيْرَ جَـنَّــتِكَ وَالنَّظَرَ إِلٰى وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat, salam dan berkah kepada junjungan kita Muhammad SAW yang kekal dan terus menerus, ia kekal karena Kekekalan-Mu, ia tetap karena ketetapan-Mu, ia langgeng karena kelanggengan-Mu, tidak ada ujung bainya tanpa keridhoan-Mutidak ada balasan bagi pembacanya dan yang memintakan rahmat selain surga-Mu dan melihakt Wujud-Mu yang Mulia”.

Keutamaan:

  • Membuat hati menjadi tenang, membuat pikiran menjadi terang dan untuk menambah tingkat kecerdasan
  • Mendatangkan segala macam hajat baik yang kecil maupun yang besar.

Sholawat Hajat Dunia Akhirat

اَللّـٰــهُمَّ صَلِّ عَـلـٰى سَيَّـدِنَـا مُحَمَّدٍ وَعَـلـٰى أَلِ سَيِّـدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلـٰى أَهْلِ بَــيْـتِهِ

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, dan kepada keluarga junjungan kami Nabi Muhammad SAW, dan kepada ahli keluarganya”.

Kegunaannya:

Sholawat ini apabila dibaca sebnyak 1000 (seribu) kali maka Allah SWT, akan mendatangkan hajatnya sebanyak 100 hajat. Hajat yang 30 (tiga puluh) akan diberikan di dunia dan hajat yang 70 (tujuh puluh) akan di datangan kelak di akhirat.

Sholawat Kamilat

اَللّـٰــهُمَّ صَلِّ وَسَلِّـمْ وَبَـارِكْ عَـلـٰى سَــيـِّـدِنَـا مُحَمَّدٍ وَعَـلـٰى أٰلِـهِ كَمَا لَا نِـهَايَـةَ لِـكَـمـَالِكَ عَدَدَ كَـمـَالِـهِ

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat keselamatan dan berkah kepada junjungan kami Muhammad dan keluarganya, sebagaimana tiada batas akhir bagi kesempurnaan-Mu, sebagai hitungan kesempurnaan”.

Demikian ulasan tentang Inilah Kumpulan Bacaan Sholawat Nabi Muhammad SAW. Semoga dapat bermanfaat dan memberikan tambahan ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

Baca juga :

√ Perbedaan Nabi dan Rasul Menurut Pandangan Islam (Lengkap)

Perbedaan Nabi dan Rasul Menurut Pandangan Islam

Perbedaan Nabi dan Rasul Menurut Pandangan Islam (Lengkap) – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Nabi dan Rasul. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan pengertian Nabi dan Rasul beserta perbedaannya dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih detailnya simak artikel berikut ini.

Perbedaan Nabi dan Rasul Menurut Pandangan Islam (Lengkap)

Sebagai umat yang beragama khususnya islam, kita harus percaya bahwa adanya Nabi dan Rasul seperti yang tertera dalam rukun iman. Nabi dan Rasul adalah lelaki yang telah diberikan wahyu oleh Allah S.W.T.

Lantas, terletak pada perihal apa perbedaan antara Nabi dan Rasul?

Bagi Anda yang masih belum mengetahui perbedaan diantara keduanya. Berikut ini akan kami jelaskan perbedaan antara Nabi dan Rasul.

Pengertian Nabi dan Rasul

Nabi berasal dari lafadz naba, yang artinya dari tempat yang tinggi. Nabi merupakan manusia yang diberi wahyu oleh Allah SWT dengan tanpa diperintahkan menyampaikan wahyu atau risalah tersebut kepada manusia.

Sedangkan Rasul, berasal dari lafadz risalah yang artinya menyampaikan. Jadi, Rasul telah diangkat menjadi Nabi terlebih dahulu yang bertugas untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada suatu umat maupun di suatu wilayah.

Perbedaan Nabi dan Rasul

Berikut ini adalah perbedaan antara Nabi dan Rasul dari berbagai aspek, antara lain:

Tingkatan Jenjang Nabi dan Rasul

Pada tingkatan derajat Rasul lebih utama dibandingkan Nabi. Hal ini dikarenakan Rasul diutus secara langsung oleh Allah S.W.T sebagai orang-orang pilihan.

Utusan Nabi dan Rasul pertama

Nabi dan Rasul memiliki perbedaan dari utusan pertamanya. Nabi pertama yang diutus oleh Allah S.W.T yaitu Nabi Adam Alaihis salam. Sedangkan Rasul pertama yang diutus oleh Allah S.W.T yaitu Nuh Alaihis salam.

Pengutusan Nabi dan Rasul

Dalam pengutusannya, Nabi diutus langsung oleh Allah S.W.T bagi kaum yang sudah beriman. Sedangkan Rasul diutus langsung oleh Allah S.W.T bagi kaum kafir maupun kaum yang sebelumnya belum beriman kepada Allah S.W.T.

Penyampaian Wahyu Nabi dan Rasul

Ditinjau dari penyampaian wahyu, Nabi menerima wahyu dari Allah S.W.T lalu digunakan untuk dirinya sendiri. Sedangkan Rasul memperoleh wahyu dari Allah S.W.T untuk disampaikan kepada suatu umat maupun di suatu wilayah.

Selain itu juga, nabi menerima wahyu melalui perantara mimpi. Sedangkan Rasul memperoleh wahyu secara langsung dari Allah S.W.T melalui mimpi atau melalui malaikat dengan cara berkomunikasi secara langsung.

Dalam Syariat

Dalam hal syariat, Nabi memiliki tugas untuk melanjutkan syariat/menguatkan syariat dari Rasul yang yang telah diutus sebelumnya. Sementara Rasul diutus langsung oleh Allah S.W.T agar dapat membawa syariat yang baru.

Jumlah Nabi dan Rasul

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban didalam shahihnya dari Abu Dzar al Ghifary berkata,

“Aku bertanya kepada Rasulullah SAW. berapakah jumlah para Nabi?” Beliau SAW. bersabda, ‘124.000.’ Lalu aku bertanya berapa jumlah para Rasul? Beliau SAW. bersabda, ‘313.’ Namun demikian hadits ini tidaklah mutawatir yang mengharuskannya menjadi shahih.

Meskipun begitu, sebenarnya hanya terdapat 25 nabi dan juga rasul yang harus kita ketahui dan pelajari. Dari 25 Nabi dan Rasul tersebut terdapat 5 orang yang dijuluki sebagai Ulul Azmi. Diantaranya yaitu Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad SAW.

Perbedaan Nabi dan Rasul Menurut Pandangan Islam

Percobaan Pembunuhan

Nabi dan Rasul memiliki perbedaan dalam perihal percobaan pembunuhan terhadapnya. Terdapat pula Nabi yang dibunuh oleh kaumnya sendiri. Sedangkan Allah S.W.T menyelamatkan Rasul dari percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh kaumnya. Seperti contoh diangkatnya Nabi Isa Alaihis Salam saat hendak dibunuh.

Berikut ini adalah penjelasan singkatnya dapat Anda lihat pada tabel dibawah ini:

Perbedaan

Rasul

Nabi

Tingkatan JenjangJenjang lebih tinggiBerada dibawah Rasul
Utusan PertamaNuh AlaihissalamNabi Adam Alaihissalam
PengutusanUntuk kaum kafirUntuk kaum beriman
Penyampaian WahyuWajib disampaikan kepada umatTidak wajib disampaikan kepada orang lain
SyariatDiutus secara langsung oleh Allah SWT dan membawa syariat baruMelanjutkan syariat dari Rasul yang sebelumnya
Jumlah313124.000
Percobaan PembunuhanDiselamatkan oleh Allah SWT atas percobaan pembunuhanAda yang dibunuh oleh kaumnya

Selain penjelasan tersebut diatas, terdapat juga pernyataan bahwa Nabi belum tentu Rasul, sedangkan Rasul sudah pasti seorang Nabi.

Demikian artikel tentang Perbedaan Nabi dan Rasul Menurut Pandangan Islam (Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan Anda. Terima kasih.

√ Sifat Rasul : Wajib, Mustahil, Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad

Sifat Rasul Wajib Mustahil Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad

Sifat Rasul : Wajib, Mustahil, Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tetnang Sifat Rasul. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelasaskan sifat wajib rasul, mustahil, jaiz dan sifat Nabi Muhammad Saw dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih detailnya simak Artikel berikut ini.

Sifat Rasul : Wajib, Mustahil, Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad

Seperti yang telah kita ketahui bahwa sifat rasul terdiri dari sifat wajib, sifat mustahil dan sifat jaiz. Nabi Muhammad memiliki akhlaq dan sifat-sifat yang sangat amat mulia. Oleh karena itu sebagai umatnya, hendaklah kita senantiasa mempelajari sifat beliau.

Rasul sebagai utusan Allah Swt mempunyai sifat-sifat yang telah melekat di dalam dirinya. Seperti yang telah kita ketahui, bahwa nabi kita Muhammad SAW serta para rasulnya yang lain mempunyai sifat yang terpuji bahkan mulia.

Sehingga kita juga berharap mempunyai beberapa sifat rasul, inilah sifat rasul baik yang wajib, mustahil dan jaiz.

Sifat Wajib Rasul

Sifat wajib berarti sifat yang pasti ada pada setiap rasul. Tidak dapat disebut sebagai seorang rasul apabila tidak mempunyai sifat-sifat wajib ini.

Sifat wajib ini sendiri terdiri dari 4, diantaranya yaitu sebagai berikut:

As-Siddiq

As-Siddiq yaitu berarti rasul selalu benar. Apa yang telah diucapkan oleh Nabi Ibrahim as. kepada bapaknya merupakan perkataan yang benar. Apa yang disembah oleh bapaknya adalah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat serta mudarat, maka jauhilah.

Peristiwa tersebut diabadikan dalam Al-Quran Surat Maryam ayat 41, yaitu:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا

Artinya:

“Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam kitab (al-Qur’an), sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan seorang nabi.”

Al-Amanah

Al-Amanah yaitu berarti rasul selalu dapat dipercaya. Pada waktu kaum Nabi Nuh as. mendustakan apa yang telah dibawa oleh Nabi Nuh as. kemudian Allah Swt. menegaskan bahwa Nuh as., merupakan orang yang terpercaya (amanah).

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam QS. asy-Syu’ara ayat 106-107, berikut ini:

إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ نُوحٌ أَلَا تَتَّقُونَ . إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ

Artinya:

“Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku ini seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu.”

At-Tablig

At-Tablig yaitu berarti rasul selalu meyampaikan wahyu. Tidak ada satu pun ayat yang disembunyikan oleh Nabi Muhammad Saw. dan tidak ada satupun yang tidak disampaikan kepada umatnya.

Dalam sebuah riwayat menyebutkan bahwa Ali bin Abi Talib ditanya mengenai wahyu yang tidak terdapat dalam al-Qur’an. Ali pun menegaskan bahwa:

“Demi Zat yang membelah biji dan melepas napas, tiada yang disembunyikan kecuali pemahaman seseorang terhadap al-Qur’an.”

Penjelasan tersebut terhubung dalam QS. al-Maidah ayat 67, berikut ini:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Artinya: “Wahai rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.”

Al-Fatanah

Al-Fatanah yaitu berarti rasul mempunyai kecerdasan yang tinggi. Ketika itu pada saat terjadi perselisihan antara kelompok kabilah di Mekah.

Setiap kelompok memaksakan kehendaknya supaya dapat meletakkan al Hajar al-Aswad (batu hitam) di atas Ka’bah. Kemudian Rasulullah SAW menengahi dengan cara seluruh kelompok yang bersengketa supaya memegang ujung dari kain tersebut.

Lalu, Nabi meletakkan batu itu di tengahnya dan mereka semua mengangkatnya sampai di atas Ka’bah. Sungguh hal tersebut sangatlah mencerminkan kecerdasan dari Baginda Rasulullah SAW.

Sifat Mustahil

Sifat mustahil adalah kebalikan daripada sifat wajib, yang dimana sifat mustahil merupakan sifat yang tidak mungkin ada pada rasul.

Diantaranya sifat mustahil rasul yaitu sebagai berikut:

Al-Kizzib

Al-Kizzib yaitu berarti mustahil rasul itu bohong atau dusta. Karena semua perkataan dan juga perbuatan rasul tidak pernah dusta atau bohong.

Hal ini telah disebutkan dalam QS. an-Najm ayat 2-4, yaitu sebagai berikut:

مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ . وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

Artinya:

“Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru, dan tidaklah yang diucapkan itu (al-Qur’ān) menurut keinginannya tidak lain (al-Qur’an) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”

Al-Khianah

Al-Khianah yaitu berarti mustahil rasul itu khianat. Semua yang telah diamanatkan atau disampaikan kepadanya pasti langsung dilaksanakan.

Hal ini juga telah disebutkan dalam QS. al-An’am ayat 106, yaitu sebagai berikut:

اتَّبِعْ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

Artinya:

“Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad), tidak ada Tuhan selain Dia, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”

Al-Kiṭman

Al-Kiṭmān yaitu berarti mustahil jika rasul menyembunyikan kebenaran. Setiap firman yang rasul terima dari Allah SWT pasti akan selalu disampaikan kepada para umatnya.

Hal ini juga telah disebutkan dalam QS. al-An’am ayat 50, yaitu sebagai berikut:

قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ ۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

Artinya:

“Katakanlah (Muhammad), Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang di wahyukan kepadaku. Katakanlah, Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Apakah kamu tidak memikirkan(nya).”

Al-Baladah

Al-Baladah yaitu berarti mustahil kalau rasul itu bodoh. Walaupun Rasulullah SAW tidak dapat membaca dan juga menulis (ummi) namun beliau sangat pandai.

Sifat Jaiz Rasul

Sifat jaiz bagi rasul adalah sifat kemanusiaan, yakni al-ardul basyariyah yang berarti rasul mempunyai sifat sebagaimana seorang manusia biasa.

Sifat ini diantaranya yaitu seperti rasa lapar, haus, sakit, tidur, sedih, senang, berkeluarga dan yang lain sebagainya. Bahkan bagi seorang rasul juga akan meninggal sebagai mana yang dialami makhluk lainnya.

Di samping rasul mempunyai sifat wajib begitu juga dengan lawannya yakni sifat mustahil. Rasul juga mempunyai sifat jaiz, dan tentu saja sifat jāiz-nya rasul dengan sifat jaiznya Allah SWT yang sangatlah berbeda.

Sebagaimana dalam firman Allah SWT yang menyebutkan:

مَا هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُونَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُونَ

Artinya: “…(orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan seperti apa yang kamu makan dan dia minum seperti apa yang kamu minum.” (QS. al-Mu’minun: 33)

Selain tersebut di atas, rasul juga memiliki sifat-sifat yang tidak terdapat pada selain rasul, yaitu seperti berikut.

Selain tersebut di atas, rasul juga mempunyai sifat-sifat yang tidak ada pada selain rasul, diantaranya yaitu:

Ishmaturrasul

Ishmaturrasul adalah orang yang ma’shum, yaitu terlindung dari dosa serta salah dalam kemampuan pemahaman agama, ketaatan, dan juga menyampaikan wahyu Allah SWT. Sehingga beliau akan selalu siaga dalam menghadapi tantangan serta  tugas apa pun.

Iltizamurrasul

Iltizamurrasul adalah orang yang selalu berkomitmen dengan apa pun yang sedang mereka ajarkan.

Mereka bekerja dan juga berdakwah sesuai dengan arahan serta perintah dari Allah SWT. Walaupun dalam menjalankan perintah Allah SWT beliau harus berhadapan dengan berbagai rintangan yang berat baik dari dalam diri pribadinya ataupun dari para musuhnya.

Rasul tidak pernah sejengkal pun menghindar ataupun mundur dari perintah dan juga ajaran Allah Swt.

Cara Meneladani Sifat Rasul

Pada umumnya, alasan kita harus meneladani sifat dari rasul Allah SWT ialah sebab dalam diri para rasul terdapat suri tauladan yang baik, baik dalam akhlak ataupun perbuatannya.

Contoh terbaik dalam menjalani kehidupan, serta setiap kisah dari kehidupan para rasul mengandung pelajaran yang amat berharga tentang keimanan kepada Allah SWT dan tentunya sangatlah cinta kepada akhirat.

Adapun beberapa cara untuk meneladani sifat rasul, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Menjadikan kisah dari para rasul sbagai ibrah atau pelajaran untuk kita.
  • Menguatkan iman yng ada dalam diri kita.
  • Menjadikan teladan dri sifat-sifat yang dipunyai oleh para rasul.
  • Dijadikan penguat dlam menegakkan agama serta mendakwahkan agama kepada yang lain.
  • Melahirkan kecintaan kpada para rasul atas pengorbanan mereka untuk menegakan agama Islam.
  • Selalu brbuat kebajikan di dalam kehidupan sehari-hari.
  • Melahirkan kesadaran bhwa pertolongan Allah ada di setiap amal yang kita lakukan.
  • Sadar akan diri sendiri bhwa kita ini hanya manusia biasa, yaitu makhluk ciptaan Allah SWT.
  • Percaya bhwa kekuasaan Allah SWT benar adanya lewat mukjizat yang diberikan kepada rasul.
  • Memunculkan rasa takut dri apa yang telah dialami orang yang ingkar kepada Allah SWT.

Sifat Nabi Muhammad yang Tidak Dimiliki oleh Umat Manusia

Berikut ini adalah sifat dari Nabi Muhammad yang tidak dimiliki oleh manusia, antara lain:

Tidak pernah ihtilam (mimpi basah)

Al-Yusuf  al-Nabhani telah menyebut dari keistimewaan Nabi Muhammad SAW dalam kitab beliau yaitu al-Anwar al-Muhammadiyah min al-Mawahib al-Laduniyah. Keterangan  keistimewaan ini berasal dari Ibnu Abbas, dan beliau menyebutkan:

مَا احْتَلَمَ نَبِيٌّ قَطُّ  إِنَّمَا الِاحْتِلَامُ منَ الشَّيْطَانِ

Artinya:

“Tidaklah seorang nabi bermimpi basah sama sekali, karena mimpi basah datang dari syaithan.” (H.R. al-Thabrani)

Al-Haitsami menyebutkan di dalam sanad hadits ini ada Abd al-Aziz bin Abi Tsabit, sementara beliau ini ijma’ atas dha’ifnya.

Tidak pernah menguap

Ibnu al-Mulaqqin telah menyebut keistimewaan pada Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yakni Ghayah al-Suul fi Khashais al-Rasul.

Dalam Kitab Fathulbarri, Ibnu Hajar al-Asqalany menyebutkan:

وَمن الخصائص النَّبَوِيَّة مَا أخرجه بن أَبِي شَيْبَةَ وَالْبُخَارِيُّ فِي التَّارِيخِ مِنْ مُرْسَلِ يَزِيدَ بْنِ الْأَصَمِّ قَالَ مَا تَثَاءَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَطُّ وَأَخْرَجَ الْخَطَّابِيُّ مِنْ طَرِيقِ مَسْلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ مَرْوَانَ قَالَ مَا تَثَاءَبَ نَبِيٌّ قَطُّ وَمَسْلَمَةُ أَدْرَكَ بَعْضَ الصَّحَابَةِ وَهُوَ صَدُوقٌ وَيُؤَيِّدُ ذَلِكَ مَا ثَبَتَ أَنَّ التَّثَاؤُبَ مِنَ الشَّيْطَانِ

Artinya :

“Termasuk keistimewaan kenabian adalah yang telah ditakhrij oleh Ibnu Abi Syaibah dan Al-Bukhari dalam al-Tarikh dari mursal Yazid bin al-Asham, beliau berkata : Nabi SAW tidak pernah menguap sama sekali. Al-Khathabi mengeluarkan dari jalur Maslamah bin Abd al-Malik bin Marwan, beliau berkata : seorang nabi tidak pernah menguap sama sekali. Sedangkan Maslamah ini pernah bertemu sebagian sahabat Nabi dan beliau adalah orang yang berkata benar. Riwayat ini juga didukung oleh riwayat yang shahih yang menjelaskan bahwa menguap datang dari syaithan.”

Tidak ada satupun binatang yang melarikan diri (liar) dari beliau

Ibnu al-Mulaqqin telah menyebut keistimewaan pada Nabi Muhammad SAW ini dalam kitab beliau yakni Ghayah al-Suul fi Khashais al-Rasul. Qadhi ‘Iyadh meriwayatkan dengan sanadnya hingga kepada Aisyah.

Beliau menyebutkan yaitu:

كان عندنا داجن فاذا كان عندنا رسول الله صلعم قر وثبت مكانه فلم يجئ ولم يذهب واذا خرج رسول الله صلعم جاء وذهب

Artinya : Di sisi kami ada binatang jinak, apabila Rasulullah SAW bersama kami, maka binatang itu tenang dan tetap pada tempatnya, tidak datang dan pergi, tetapi apabila Rasulullah SAW keluar, maka biantang itu datang dan pergi. (HR. Qadhi ‘Iyadh)

Dalam kitab Dalail al-Nubuwah juga menyebutkan riwayat dari Abu Hurairah r.a., dan disitu beliau berkata:

وَجَاءَ الذِّئْبُ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ فَأَقْعَى بَيْنَ يَدَيْهِ، ثُمَّ جَعَلَ يُبَصْبِصُ بِذَنَبِهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَذَا وَافِدُ الذِّئَابِ، جَاءَ يَسْأَلُكُمْ أَنْ تَجْعَلُوا لَهُ مِنْ أَمْوَالِكُمْ شَيْئًا ، قَالُوا: لَا وَاللهِ لَا نَفْعَلُ، وَأَخَذَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ حَجَرًا فَرَمَاهُ، فَأَدْبَرَ الذِّئْبُ وَلَهُ عُوَاءٌ

Artinya:

“Seekor serigala pernah datang kepada Rasulullah SAW duduk dan berjongkok di depan beliau, kemudian menggerak-gerak ekornya.  Melihat itu Rasulullah SAW berkata, ini utusan serigala, yang datang meminta suatu makanan dari kalian. Mereka menjawab : tidak, Demi Allah tidak akan kami lakukan. Seorang dari mereka mengambil batu melemparnya, serigala itu pun pergi sambil menyalak. (HR. al-Baihaqi)

Kisah lainnya dimana binatang-binatang liar yang senantiasa jinak kepada Nabi SAW juga banyak disebut dalam berabagai riwayat yang terdapat dalam Kitab Dalail al-Nubuwah karya dari al-Baihaqi dan al-Syifa’ bi Ta’rif  Huquq al-Mushtafa karya Qadhi ‘Iyadh serta kitab lainnya yang juga berisi sekitar masalah kehidupan pribadi Nabi Muhammad SAW.

Tidak pernah ada lalat hinggap di tubuh beliau yang mulia

Ibnu al-Mulaqqin telah menyebut keistimewaan pada Nabi Muhammad SAW ini dalam kitab beliau yakni Ghayah al-Suul fi Khashais al-Rasul.

Al-Yusuf  al-Nabhani juga menyebut keistimewaan dari Nabi Muhammad SAW dalam kitab beliau, al-Anwar al-Muhammadiyah min al-Mawahib al-Laduniyah.

Dalam kitabnya al-Khashaish al-Kubra, al-Suyuthi mengatakan bahwa Qadhi ‘Iyadh dalam kitab al-Syifa serta al-‘Uzfi dalam al-Maulid-nya menyebutkan termasuk keistimewaan dari Nabi SAW yang tidak pernah ada lalat hinggap di tubuh beliau serta ini juga telah disebut oleh Ibnu Sab’in dalam al-Khashaish-nya dengan lafazh : “Tidak jatuh lalat atas pakaiannya sama sekali.”

Dapat mengetahui sesuatu yang ada di belakangnya

Al-Yusuf  al-Nabhani menyebut keistimewaan Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yaitu al-Anwar  al-Muhammadiyah min al-Mawahib al-Laduniyah.

Qadhi ‘Iyadh menyebut keistimewaan Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yakni al-Syifa’ bi Ta’rif  Huquq Al-Mushtafa.

Dalam Shahih Muslim menuebut hadits dari Abu Hurairah, dan beliau berkata:

هَلْ تَرَوْنَ قِبْلَتِي هَا هُنَا؟ فَوَاللهِ مَا يَخْفَى عَلَيَّ رُكُوعُكُمْ، وَلَا سُجُودُكُمْ إِنِّي لَأَرَاكُمْ وَرَاءَ ظَهْرِي

Artinya : Apakah kalian melihat kiblatku  di sini?. Demi Allah tidak tersembunyi atasku rukuk dan sujud kalian. Sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari belakangku. (H.R Muslim)

Bekas air seni beliau tidak pernah dilihat di permukaan bumi

Ibnu al-Mulaqqin telah menyebut keistimewaan dari Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yakni Ghayah al-Suul fi Khashais al-Rasul.

Di dalam kitab tersebut, Ibnu al-Mulaqqin sebut hadits dari Aisyah r.a. yang disebut dalam kitab al-Ayat al-Bainat, karya dari Ibnu Dahyah, dan di dalamnya Aisyah berkata:

يا رسول الله اني اراك تدخل الخلاء ثم يجئ الذي يدخل بعدك فلا يرى لما يخرج منك اثرا فقال يا عائشة ان الله تعالى امر الارض ان تبتلع ما خرج من الانبياء

Artinya : “Hai Rasulullah, sesungguhnya aku melihat engkau memasuki jamban, kemudian masuk orang-orang sesudahmu. Tetapi orang itu tidak melihat bekas apapun yang keluar darimu.” Rasulullah SAW bersabda : “Hai Aisyah, sesungguhnya Allah Ta’ala memerintah bumi menelan apa yang keluar dari para nabi.”

Ibnu Dahyah juga menyebutkan, sanadnya tsabit (maqbul) al-Suyuthi selepas menyebut beberapa jalur riwayat hadits yang sat arti dengan hadits di atas, beliau menyebutkan, jalur ini (hadits di atas) merupakan yang paling kuat dari jalur-jalur hadits ini.

Hati beliau tidak pernah tidur

Ibnu al-Mulaqqin telah menyebut keistimewaan dari Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yakni Ghayah al-Suul fi Khashais al-Rasul.

Hal tersebut berdasarkan hadits dari Aisyah yang di dalamnya Aisyah berkata:

فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ، فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ، وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

Artinya : Aku mengatakan, Ya Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum witir ?. Rasulullah SAW bersabda : “Ya Aisyah, sesungguhnya dua mataku tertidur, tetapi hatiku tidak pernah tidur.” (H.R. Muslim)

Sifat Rasul Wajib Mustahil Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad

Bayangan beliau tidak pernah dapat dilihat ketika kena sinar matahari

Al-Yusuf  al-Nabhani menyebut keistimewaan dari Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yakni al-Anwar  al-Muhammadiyah min al-Mawahib al-Laduniyah.

Di dalam kitabnya yang disebut al-Khashaish al-Kubra, al-Suyuthi berkata:

اخْرج الْحَكِيم التِّرْمِذِيّ عَن ذكْوَان ان رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم لم يكن يرى لَهُ ظلّ فِي شمس وَلَا قمر قَالَ ابْن سبع من خَصَائِصه ان ظله كَانَ لَا يَقع على الأَرْض وَأَنه كَانَ نورا فَكَانَ إِذا مَشى فِي الشَّمْس أَو الْقَمَر لَا ينظر لَهُ ظلّ قَالَ بَعضهم وَيشْهد لَهُ حَدِيث قَوْله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فِي دُعَائِهِ واجعلني نورا

Artinya:

“Al-Hakim al-Turmidzi telah mentakhrij dari Zakwan, sesungguhnya Rasulullah SAW tidak dilihat bayangannya pada terik matahari dan tidak juga pada bulan. Ibnu Sab’i mengatakan, termasuk keistimewaan Nabi SAW bayangannya tidak jatuh di atas bumi, karena sesungguhnya beliau adalah cahaya. Karena itu, apabila berjalan pada terik matahari atau bulan, maka tidak dilihat bayangannya. Sebagian ulama mengatakan, riwayat ini didukung oleh hadits perkataan Nabi SAW dalam do’anya : “Jadikanlah aku sebagai cahaya.

Dua pundak beliau selalu terlihat lebih tinggi dari pundak orang-orang yang sedang duduk bersama beliau

Ibnu al-Mulaqqin sebut bahwa Ibnu Sab’in berkata, salah satu keistimewaan dari Nabi Muhammad SAW ialah jika beliau duduk, maka beliau akan nampak lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang yang juga duduk di sekitar beliau.

Pernyataan Ibnu Sab’in tersebut juga telah dikutip oleh al-Suyuthi di dalam kitabnya yakni al-Khashaish al-Kubra.

Dalam Kitab Syarah Al-Muwatha’, al-Zarqani berkata:

وَذَكَرَ رَزِينٌ وَغَيْرُهُ: كَانَ إِذَا جَلَسَ يَكُونُ كَتِفُهُ أَعْلَى مِنْ جَمِيعِ الْجَالِسِينَ، وَدَلِيلَهُ قَوْلُ عَلِيٍّ: ” إِذَا جَاءَ مَعَ الْقَوْمِ غَمَرَهُمْ”  إِذْ هُوَ شَامِلٌ لِلْمَشْيِ وَالْجُلُوسِ

Artinya:

“Raziin dan lainnya telah menyebutkan, Rasululullah SAW apabila duduk, bahunya nampak lebih tinggi dari semua orang-orang duduk. Dalilnya perkataan ‘Ali : ”Apabila Rasulullah SAW bersama kaum, beliau  melebihi mereka”. Karena ini mencakup apabila berjalan dan duduk.

Perkataan Ali tersebut kemudian ditakhrij oleh Abdullah bin Ahmad serta al-Baihaqi dari ‘Ali.

Beliau telah dikhitan semenjak dilahirkan

Al-Thabrani di dalam al-Ausath, Abu Na’im, al-Khathib dan juga Ibnu ‘Asakir telah mentakhrij dari beberapa jalur dari Anas dari Nabi SAW, dan kemudian bersabda:

من كَرَامَتِي على رَبِّي اني ولدت مختونا وَلم ير أحد سوأتي

Artinya : Sebagian dari kemulianku atas Tuhanku adalah aku dilahirkan dalam keadaan sudah dikhitan dan tidak ada yang melihat dua kemaluanku

Hadits tersebut sudah dinyatakan shahih oleh al-Dhiya’ di dalam al-Mukhtarah. Al-Hakim di dalam kitabnya yang disebut al-Mustadrak berkata, sudah mutawatir hadits-hadits yang menjelaskan bahwa Nabi SAW lahir dalam keadaan sudah dikhitan.

Demikian Artikel tentang Sifat Rasul: Wajib, Mustahil, Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk Kita semua. Terima kasih.

√ Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do’anya

Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do'anya

Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do’anya – Pada pembahasan kali ini Pengetahuan Islam akan menjelaskan tentang Tata Cara Sholat Ghoib. Ketika kita tidak bisa bertakziah karena kemungkinan jauh dan lain-lainya, di dalam islam tentu saja ada solusi untuk setiap permasalah yang kita hadapi. Untuk lebih jelasnya mari kita simak artikel di bawah ini.

Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do’a nya

Dalam sholat Ghoib tentunya masih banyak saudara kita yang bertanya-tanya bagaima cara mengerjakannya.

Sholat Mayit sendiri bukanlah merupakan fardu ‘ain, akan tetapi fardhu kifayah, yang mana hukum tersebut bisa menjadi wajib ketika pada suatu daerah tersebut tidak ada yang mensholati. Sedangkan untuk Sholat Ghoib sendiri adalah sunnah hukumnya, dan bisa di kerjakan kapan saja setelah orang tersebut meninggal.

Lantas bagaimana tata cara sholat ghoib untuk mayit perempuan dan laki-laki saat bersamaan, apakah bisa langsung di kerjakan dalam satu sholatan?. Jawabnya adalah bisa! Dengan cara menjamakkan dalam berdoa, seperti “ALLAHUMMAHFIRLAHUM” dan seterusnya.

Niat Sholat Ghoib untuk Mayit Perempuan

Untuk niat, kita wajib mengucapkan di dalam hati, dan bersamaan dengan takbir. Adapun melafatkan niat dengan bibir itu sunnah hukumnya.

  1. Niat Bagi Imam

أُصَلِّيْ عَلَى هَذِهِ المَيِّتَةِ الْغَائِبَةِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى اللهُ أَكْبَرُ

Usholli ala hadzihil mayyitati al-ghoibati arba’a takbirotin fardhol kifayati Imaman lillahi ta’ala Allahu Akbaar

Artinay: Saya niat sholat untuk mayit perempuan yang ghoib, empat takbir fardhu kifayah menjadi imam karena Allah Ta’ala Allahu Akbar

  1. Niat Bagi Makmum Yang Mengikuti Imam

أُصَلِّيْ عَلَى مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ الْإِمَامُ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ (مَأمُوْمًا) لِلّٰهِ تَعَالَى اللهُ أَكْبَرُ

Usholli ala man sholla alaihil imamu arba’a takbirotin fardhol kifayati (makmuman) lillahi ta’ala Allahu Akbar

Artinya: “Aku niat sholat atas mayyit yang disholati imam empat kali takbir fardu kifayah makmum karena Allah Ta’ala. Allahu Akbar”

Kemudian setelah melaksanakan niat dan takbir secara bersamaan, langkah selanjutnya yaitu membaca surat al-Fatihah.

Surat Al-fatihah

أعُوْذُ ِباللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ * إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ * اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَـيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّالِّينَ

Setelah membaca surat Al-fatihah, kemudian melanjutkan takbir yang ke dua kemudian membaca Sholawat.

Untuk pembacaan sholawat ini bebas, namun yang lebih utama adalah bacaan sholawat ketika kita sedang melakukan tasyahud akhir. seperti contoh dibawah ini.

Bacaan Sholawat

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Setelah selesai membaca sholawat, di teruskan dengan takbir yang ketiga, dengan bacaan do’a.

Seperti berikut:

Bacaan Do’a Untuk Mayit Perempuan

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا وَوَسِّعْ مُدْخَلَهَا وَاغْسِلْهَا بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهَا مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهَا دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهَا وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا وَأَدْخِلْهَا الْجَنَّةَ وَأَعِذْهَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

Artinya: “Ya Allah, ampunilah dia (mayat), berilah rahmat kepadanya, selamatkan lah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkan lah dia di tempat yang mulia, luaskan lah kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkanlah dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju putih dari kotoran. Berilah dia rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga yang lebih baik daripada keluarganya di dunia, istri yang lebih baik dari istrinya (atau suaminya) dan masukkan dia ke surga, jagalah dia dari siksa kubur dan neraka.”

Untuk mayit laki-laki hanya mengubah lafat “HA” menjadi “HU”.

Setelah pembacaan do’a selesai, di teruskan dengan takbir yang ke empat, yakni takbir yang terakhir dengan membaca do’a sebagai berikut.

Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do'anya

Do’a Takbir Ke Empat

اَللَّهُـمَّ لاَتَحْرِمْنَا اَجْرَهَا وَلاَ تَفْتِنَا بَعْدَهَا وَاغْفِرْلَنَا وَلَهَا وَلإخْـوَانِنَـا الَّذِيْنَ سَبَـقُوْنَ بِاْلإِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِـلاً لِلَّذِيْنَ ءَامَنُوْارَبَّنــَا إنَّكَ رَؤُفٌ رَّحِيْم

Artinya: “Ya Allah janganlah kami tidak Engkau beri pahalanya, dan janganlah Engkau beri fitnah kepada kami sesudahnya, dan berilah ampunan kepada kami dan kepadanya.”

Untuk mayit laki-laki juga sama, hanya saja harus mengganti lafat “HA” menjadi “HU”.

Selanjutnya, setelah semuanya di laksanakan, kemudian di akhiri dengan salam.

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ,

Setelah selesai melakukan sholat, di anjurkan bagi kita untuk mendoakan si mayit. Untuk lafat do’a setelah sholat, ini tidak ada ketentuannya, yang jelas kita doakan sebaik-baiknya untuk si mayit.

Contoh Bacaan Do’a Untuk Mayit

الحمدالله ربِّ العلمين.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ، اللَّهُمَّ بِحَقِّ الْفَاتِحَةِ اِعْتِقْ رِقَابَنَا وَرِقَابَ هَذِهِ الْمَيِّتَةِ مِنَ النَّارِ، اللَّهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَ عَلَى هَذِهِ الْمَيَّتَةِ وَاجْعَلْ قَبْرَهَا رَوْضَةً مِّنَ الْجَنَّةِ وَ لَا تَجْعَلْ قَبْرَهَا حُفْرَةً مِنْ حُفَّارِ النِّرَانِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اٰلِهِ وَ صَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Allaahumma shalli ’alaa sayyidinaa muhammadin wa’alaa aali sayyidinaa muhammad. Allahumma bihaqqil faatihati i’tiq riqabanaa wariqaaba haadzal mayyittati minan naari. allahumma anzilirrahmata wal maghfirata alaa haadzihil mayyitati waj’al qabraha raudlatan minal jannati walaa qobrohq hufrotan min huffarin niraani, washallallaahu alaa khairi khalqihi sayyidana muhammadin wa alaa allihi washahbihii ajma’iin, wal hamdu lillahirabbil aalamiin.

Artinya: “Ya Allah, curahkanlah rahmat atas junjungan kita Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad. Ya Allah, dengan berkahnya surat Al Fatihah, bebaskanlah dosa kami dosa mayit ini dari siksaan api neraka.”

Ya Allah, curahkanlah rahmat dan berilah ampun kepada mayit ini. Dan jadikanlah kuburnya taman yang nyaman dari surga dan janganlah Engkau menjadikan kuburnya itu dari galian jurang neraka. Dan semoga Allah memberi rahmat kepada semulia-mulia makhluk-Nya yaitu junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya sekalian, dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.”

Demikianlah Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do’anya semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan pengetahuan Anda.

√ Fiqih Kitab Fathul Qorib : Tata Cara Mandi Besar (Lengkap)

Fiqih Kitab Fathul Qorib - Tata Cara Mandi Besar (Lengkap)

Fiqih Kitab Fathul Qorib : Tata Cara Mandi Besar (Lengkap) – Penyebab hadas besar yang mewajibkan mandi wajib atau mandi besar ada enam perkara. Yaitu keluar mani, bersetubuh, haid, nifas, mati. Sedangkan cara mandi ada tiga yaitu niat, membuang najis yang ada di badan dan mengalirkan air ke seluruh tubuh.

Dalam pembahasan dibawah ini menjelaskan apa yang ada di dalam kitab Fathul Qorib, untuk lebih jelasnya silahkan simak Pengetahuan Islam berikut.

Fiqih Kitab Fathul Qorib : Tata Cara Mandi Besar (Lengkap)

فصل : في موجب الغسل
والغسل لغة سيلان الماء على الشيء مطلقاً وشرعاً سيلانه على جميع البدن بنية مخصوصة (والذي يوجب الغسل ستة أشياء ثلاثة)
منها (تشترك فيها الرجال والنساء وهي التقاء الختانين) ويعبر عن هذا الالتقاء بإيلاج حي واضح غيب حشفة الذكر منه،أو قدرها من مقطوعها في فرج، ويصير الآدمي المولج فيه جنباً بإيلاج ما ذكر، أما الميت فلا يعاد غسله بإيلاج فيه، وأما الخنثى المشكل، فلا غسل عليه بإيلاج حشفته، ولا بإيلاج في قبله
و من المشترك (إنزال) أي خروج (المنيّ) من شخص بغير إيلاج، وإن قل المني كقطرة، ولو كانت على لون الدم، ولو كان الخارج بجماع أو غيره في يقظة أو نوم بشهوة أو غيرها من طريقه المعتاد، أو غيره كأن انكسر صلبه، فخرج منيه
و من المشترك (الموت) إلا في الشهيد (وثلاثة تختص بها النساء وهي الحيض) أي الدم الخارج من امرأة بلغت تسع سنين، (والنفاس) وهو الدم الخارج عقب الولادة، فإنه موجب للغسل قطعاً (والولادة) المصحوبة بالبلل موجبة للغسل قطعاً، والمجردة عن البلل موجبة للغسل في الأصح.

Pengertian Mandi Besar

Secara bahasa, mandi bermakna mengalirnya air pada sesuatu secara mutlak.

Secara syara’ adalah bermakna mengalirnya air ke seluruh badan disertai niat tertentu.

Hal Mewajibkan Mandi

Sesuatu yang mewajibkan mandi ada enam perkara.

  1. Tiga di antaranya dialami oleh laki-laki dan perempuan, yaitu bertemunya alat kelamin.
  2. Bertemunya alat kelamin ini diungkapkan dengan arti, orang hidup yang jelas kelaminnya yang memasukkan hasyafah penisnya atau kira-kira hasyafah dari penis yang terpotong hasyafahnya ke dalam farji.
  3. Anak Adam yang dimasuki hasyafah menjadi junub sebab dimasuki oleh hasyafah yang telah disebutkan di atas.

Sedangkan untuk mayat yang sudah di mandikan, maka tidak perlu dimandikan lagi ketika dimasuki haysafah.

Adapun khuntsa musykil, maka tidak wajib baginya melakukan mandi sebab memasukkan hasyafahnya atau kemaluannya dimasuki hasyafah. Di antara hal yang di alami oleh laki-laki dan perempuan adalah keluar sperma sebab selain memasukkan hasyafah.

Walaupun sperma yang keluar hanya sedikit seperti satu tetes. Walaupun berwarna darah. Walaupun sperma keluar sebab jima’ atau selainnya, dalam keadaan terjaga atau tidur, disertai birahi ataupun tidak, dari jalur yang normal ataupun bukan seperti punggungnya belah kemudian spermanya keluar dari sana.

Di antara yang dialami oleh keduanya adalah mati, kecuali orang yang mati syahid.

Tiga hal yang mewajibkan mandi adalah tertentu dialami oleh kaum perempuan yaitu,

  1. Haidl, maksudnya darah yang keluar dari seorang wanita yang telah mencapai usia sembilan tahun.
  2. Nifas, yaitu darah yang keluar setelah melahirkan. Maka sesungguhnya nifas mewajibkan mandi secara mutlak.
  3. Melahirkan yang disertai dengan basah-basah mewajibkan mandi secara pasti.

Sedangkan melahirkan yang tidak disertai basah-basah mewajibkan mandi menurut pendapat ashah.

Tata Cara Mandi ada Tiga

فصل: وفرائض الغسل ثلاثة أشياء.
أحدها (النية) فينوي الجنب رفع الجنابة أو الحدث الأكبر ونحو ذلك، وتنوي الحائض أو النفساء رفع حدث الحيض أو النفاس، وتكون النية مقرونة بأول الفرض، وهو أول ما يغسل من أعلى البدن أو أسفله، فلو نوى بعد غسل جزء وجب إعادته (وإزالة النجاسة إن كانت على بدنه) أي المغتسل وهذا ما رجحه الرافعي وعليه فلا تكفي غسلة واحدة عن الحدث والنجاسة، ورجح النووي الاكتفاء بغسلة واحدة عنهما، ومحله ما إذا كانت النجاسة حكمية، أما إذا كانت النجاسة عينية وجب غسلتان عندهما
وإيصال الماء إلى جميع الشعر والبشرة) وفي بعض النسخ بدل جميع أصول، ولا فرق بين شعر الرأس وغيره، ولا بين الخفيف منه والكثيف، والشعر المضفور إن لم يصل الماء إلى باطنه إلا بالنقض وجب نقضه، والمراد بالبشرة ظاهر الجلد، ويجب غسل ما ظهر من صماخي أذنيه ومن أنف مجدوع، ومن شقوق بدن، ويجب إيصال الماء إلى ما تحت القلفة من الأقلف، وإلى ما يبدو من فرج المرأة عند قعودها لقضاء حاجتها، ومما يجب غسله المسربة، لأنها تظهر في وقت قضاء الحاجة، فتصير من ظاهر البدن
وسننه أي الغسل (خمسة أشياء التسمية والوضوء) كاملاً (قبله) وينوي به المغتسل سنة الغسل إن تجردت جنابته عن الحدث الأصغر (وإمرار اليد على) ما وصلت إليه من (الحسد) ويعبر عن هذا الإمرار بالدلك
والموالاة وسبق معناها في الوضوء (وتقديم اليمنى) من شقيه (على اليسرى) وبقي من سنن الغسل أمور مذكورة في المبسوطات منها التثليث وتخليل الشعر.

Niat

Fardlunya mandi ada tiga perkara. Salah satunya adalah niat. Maka orang yang junup niat menghilangkan hadats jinabah, menghilangkan hadats besar atau niat-niat sesamanya. Sedangkan untuk wanita haidl dan wanita nifas, niat menghilangkan hadats haidl atau hadats nifas.

Niat yang dilakukan harus bersamaan dengan awal kefarduan, yaitu awal bagian badan yang terbasuh, baik dari badan bagian atas atau bagian bawah.

Sehingga, kalau dia melakukan niat setelah membasuh bagian badan, maka wajib untuk mengulangi basuhan bagian tersebut.

Menghilangkan Najis di Badan

Fardlu kedua adalah menghilangkan najis jika terdapat di badannya, yaitu badan orang yang melakukan mandi besar. Hal ini (menghilangkan najis) adalah pendapat yang dikuatkan (tarjih) oleh imam ar Rafi’i. Berdasarkan pendapat ini, maka satu basuhan tidak cukup untuk menghilangkan hadats dan najis sekaligus.

Imam An Nawawi men-tarjih (menguatkan) bahwa satu basuhan sudah dianggap cukup untuk menghilangkan hadats dan najis sekaligus.

Tempatnya Pendapat imam an Nawawi ini adalah ketika najis yang berada di badan adalah najis hukmiyah.

Sedangkan jika berupa najis ‘ainiyah, maka wajib melakukan dua basuhan untuk najis dan hadats tersebut.

Mengalirkan Air Ke Seluruh Badan

Fardlu ketiga adalah mengalirkan air ke seluruh bagian rambut dan kulit badan. Dalam sebagian redaksi diungkapkan dengan bahasa “ushul (pangkal)” sebagai ganti dari bahasa “jami’ (seluruh)”.

Tidak ada perbedaan antara rambut kepala dan selainnya, antara rambut yang tipis dan yang lebat.

Rambut yang digelung, jika air tidak bisa masuk ke bagian dalamnya kecuali dengan diurai, maka wajib untuk diurai. Yang dikehendaki dengan kulit adalah kulit bagian luar.

Wajib membasuh bagian-bagian yang nampak dari lubang kedua telinga, hidung yang terpotong dan cela-cela badan. Dan wajib mengalirkan air ke bagian di bawah kulupnya orang yang memiliki kulup (belum disunnat). Dan mengalirkan air ke bagian farji perempuan yang nampak saat ia duduk untuk buang hajat.

Di antara bagian badan yang wajib dibasuh adalah masrabah (tempat keluarnya kotoran (Bol : jawa). Karena sesungguhnya bagian itu nampak saat buang hajat sehingga termasuk dari badan bagian luar.

Sunnahnya Mandi Ada Lima

Sunnahnya mandi ada lima yaitu

  1. Membaca basmalah,
  2. Berwudhu secara sempurna sebelum mandi dengan niat untuk kesunnahan mandi apabila janabahnya sepi dari hadas kecil,
  3. Menggerakkan dan menggosokkan tangan pada tubuh yang terjangkau tangan. Pergerakan tangan ini disebut dengan dalk (menggosok).
  4. Bersegera (muwalat) yang maknanya sudah dijelaskan dalam bab wudhu.
  5. Mendahulukan yang kanan dari dua sisi tubuh dan mengakhirkan yang kiri.

Masih ada sunnah-sunnahnya mandi yang disebut dalam kitab mabsutot salah satunya menigalikan dan menyela-nyela rambut.

Mandi Besar yang Disunnahkan

فصل : والاغتسالات المسنونة سبعة عشر غسلا (غسل الجمعة) لحاضرها ووقته من الفجر الصادق
(و غسل (العيدين) الفطر والأضحى، ويدخل وقت هذا الغسل بنصف الليل (والاستسقاء) أي طلب السقيا من الله
(والخسوف) للقمر (والكسوف) للشمس (والغسل من) أجل (غسل الميت) مسلماً كان أو كافراً)
و غسل (الكافر إذا أسلم) إن لم يجنب في كفره أو لم تحض الكافرة، وإلا وجب الغسل بعد الإسلام في الأصح، وقيل يسقط إذا أسلم (والمجنون والمغمى عليه إذا أفاقا) ولم يتحقق منهما إنزال فإن تحقق منهما إنزال وجب الغسل على كل منهما
والغسل عند إرادة (الإحرام) ولا فرق في هذا الغسل بين بالغ وغيره، ولا بين مجنون وعاقل، ولا بين طاهر وحائض، فإن لم يجد المحرم الماء تيمم.
و الغسل (لدخول مكة) لمحرم بحج أو عمرة (وللوقوف بعرفة) في تاسع ذي الحجة (وللمبيت بمزدلفة ولرمي الجمار الثلاث) في أيام التشريق الثلاث، فيغتسل لرمي كل يوم منها غسلاً، أما رمي جمرة العقبة في يوم النحر، فلا يغتسل له لقرب زمنه من غسل الوقوف
و الغسل (للطواف) الصادق بطواف قدوم وإفاضة ووداع، وبقية الأغسال المسنونة مذكورة في المطولات

Mandi-mandi yang disunnahkan

  1. Mandi Jum’at bagi orang yang hendak menghadirinya. Dan waktunya mulai dari terbitnya fajar shadiq.
  2. Mandi dua hari raya, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adlha. Waktunya mandi ini mulai tengah malam.
  3. Mandi sholat istisqa’, yaitu meminta siraman dari Allah Swt.
  4. Mandi karena hendak melakukan sholat gerhana rembulan dan gerhana matahari.
  5. Mandi karena memandikan mayat orang Islam atau kafir.
  6. Mandinya orang kafir ketika masuk Islam jika dia tidak junub di masa kufurnya. Atau wanita kafir yang tidak mengalami haidl -saat masih kufur-. Jika junub atau haidl, maka wajib bagi mereka berdua untuk melakukan mandi setelah masuk Islam menurut pendapat al ashah. Ada yang mengatakan bahwa kewajiban mandinya telah gugur ketika masuk Islam.
  7. Mandinya orang gila atau pingsan ketika keduanya telah sembuh dan tidak dipastikan mereka berdua telah mengeluarkan sperma (saat belum sembuh). Sehingga, jika dipastikan bahwa keduanya telah mengeluarkan sperma, maka wajib bagi mereka berdua untuk mandi.
  8. Mandi ketika hendak ihram. Dalam mandi ini, tidak ada perbedaan antara orang sudah baligh dan selainnya, antara orang gila dan orang yang memiliki akal sehat, antara orang yang suci dan wanita yang haidl. Jika orang yang ihram itu tidak menemukan air, maka sunnah melakukan tayammum.
  9. Mandi karena hendak masuk Makkah bagi orang yang ihram haji atau umrah.
  10. Mandi karena wukuf di Arafah pada tanggal sembilan Dzul Hijjah.
  11. Mandi karena untuk mabit (bermalam) di Muzdalifah, dan karena untuk melempar jumrah tsalats (tiga jumrah) pada tiga hari tasyrik. Maka dia sunnah melakukan mandi untuk melempar jumrah setiap hari dari tiga hari tasyrik.
    Sedangkan untuk melempar jumrah Aqabah di hari Nahar (hari raya kurban), maka dia tidak sunnah mandi karena hendak melakukannya, sebab waktunya terlalu dekat dari mandi untuk wukuf.
  12. Mandi karena untuk melakukan thawaf yang mencakup thawaf Qudum, Ifadlah dan Wada’.

Fiqih Kitab Fathul Qorib - Tata Cara Mandi Besar (Lengkap)

Sisa-sisa mandi yang disunnah telah dijelaskan di kitab-kitab yang panjang keterangan.

Niat mandi Hari Raya Idul Fitri dalam bahasa Arab

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِيَوْمِ عِيْدِ الْفِطْرِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

Dalam bahasa Latin: nawaitul ghusla liyaumi ‘iidil fithri sunnatan lillaati ta’aala

Artinya: Sengaja saya mandi pada hari Raya Idul Fitri sunnah karena Allah Taala

Niat mandi Haid dalam bahasa Arab

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ الْحَيْضِ ِللهِ تَعَالَى

“Nawaitul Ghusla Lifraf il Hadatsil Akbari minal Haidil Lillahi Ta’ala”

Artinya: Saya berniat mandi wajib untuk mensucikann hadast besar dari haid karena Allah Ta’ala.

Demikian ulasan tentang Fiqih Kitab Fathul Qorib : Tata Cara Mandi Besar (Lengkap) Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu penggetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah

Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah

Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Wudhu. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan tentang pengertian niat, tertib wudhu dan air dua qullah dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya silahkan simak penjelasan Pengetahuan Islam berikut ini dengan seksama.

Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah

Kali ini melengkapi bahasan wudhu, kita bahas tentang niat, tertib wudhu, hingga air dua qullah dari matan Safinatun Najah.

Pengertian Niat dan Tertib

النِّيَّةُ: قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرِناً بِفِعْلِهِ. وَمَحَلُّهَا: الْقَلْبُ. وَالتَّلَفُّظُ بِهَا: سُنَّةٌ. وَوَقْتُهَا، عِنْدَ غَسْلِ أَوَّلِ جُزْءٍ مِنَ الْوَجْهِ

وَالتَّرْتِيْبُ: أَنْ لاَ يُقَدَّمَ عُضْوٌ عَلَى عُضْوٍ

Fasal: niat adalah menyengaja sesuatu yang dibarengi dengan mengerjakannya dan tempat niat ada di dalam hati. Melafazhkannya adalah sunnah. Waktu niat adalah saat membasuh bagian pertama dari wajah.

Maksud tertib adalah bagian yang pertama tidak didahului bagian yang lain.

Hukum Air

المَاءُ قَلِيْلٌ وَكَثِيْرٌ

فَالْقَلِيْلُ: مَا دُوْنَ الْقُلَّتَيْنِ

وَالْكَثِيْرُ: قُلَّتَانِ فَأكْثَرُ

وَالقَلِيْلُ: يَتَنَجَّسُ بِوُقُوْعِ النَّجَاسَةِ فِيْهِ، وَإِن لَمْ يَتَغَيَّرْ

وَالْمَاءُ الْكَثِيْرُ: لاَ يَتَنَجَّسُ إِلاَّ إذا تَغَيَّرَ طَعْمُهُ، أَوْ لَوْنُهُ، أوْ رِيْحُهُ

Fasal: Air sedikit dan banyak. Air sedikit itu jika kurang dari dua qullah dan air banyak jika lebih dari dua qullah. Air sedikit menjadi najis dengan jatuhnya benda najis ke dalamnya meskipun tidak berubah. Sementara air banyak tidak menjadi najis dengan jatuhnya benda najis ke dalamnya kecuali jika berubah rasanya, warnanya, atau aromanya.

Catatan Dalil

Pertama

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ – رضي الله عنه – قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ: إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ – وَفِي رِوَايَةٍ: بِالنِّيَّةِ – وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى , فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ , فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ , وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا , فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ

Artinya : Dari ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niat (an-niyyaat)—dalam riwayat lain dengan lafazh niyat—dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907)

Pelajaran penting

Niat merupakan syarat sah wudhu dan ini jadi pendapat jumhur ulama (Malikiyah, Syafi’iyah, Hanabilah), juga madzhab Zhahiriyah.

Niat itu berarti bermaksud dan berkehendak. Letak niat adalah di dalam hati. Niat dalam hati sudah teranggap berdasarkan kesepakatan ulama, cuma mereka berbeda pandangan apakah niat perlu dilafazhkan ataukah tidak.

Jika berbeda antara yang diucap dengan yang diniatkan dalam hati, maka yang jadi patokan adalah niatan di hati.

Jika manusia dalam keadaan uzur untuk beramal, ia akan tetap diganjar. Karena seandainya ia tidak ada uzur atau halangan, tentu ia akan beramal. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Artinya : “Jika seorang hamba sakit atau bersafar, maka dicatat baginya amalan seperti ia dalam keadaan mukim dan sehat.” (HR. Bukhari, no. 2996)

Kedua

Apa dalil untuk tartib (berurutan) dalam wudhu?

Dalilnya adalah ayat wudhu (surah Al-Maidah ayat 6). Allah menyebutkannya secara berurutan dan meletakkan mengusap (pada kepala) di antara dua membasuh.

Juga ketika ditunjukkan praktik wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berurutan dan beliau tidak pernah meninggalkan tartib tersebut.

Tartib dalam wudhu adalah dengan memulai dari membasuh wajah, lalu membasuh kedua tangan sampai siku, lalu mengusap kepala, kemudian membasuh kedua kaki sampai mata kaki.

Jika seseorang membasuh langsung empat anggota wudhunya satu kali siraman, maka tidaklah sah kecuali yang sah hanya membasuh wajahnya saja karena urutannya yang pertama. Lihat perkataan Imam Asy-Syairazi. (Al-Majmu’, 1:248)

Ketiga

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجِّسْهُ شَىْءٌ

Artinya : “Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak ada sesuatupun yang menajiskannya.” (HR. Ibnu Majah, no. 424. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Keterangan

Air dua qullah adalah air seukuran 500 rothl ‘Iraqi yang seukuran 90 mitsqol. Jika disetarakan dengan ukuran sho’, dua qullah sama dengan 93,75 sho’. Lihat Tawdhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram, Syaikh Ali Basam, 1:116, Penerbit Darul Atsar, Cetakan pertama, Tahun 1425 H.

Sedangkan 1 sho’ seukuran 2,5 atau 3 kg. Jika massa jenis air adalah 1 kg/liter dan 1 sho’ kira-kira seukuran 2,5 kg; berarti ukuran dua qullah adalah 93,75 x 2,5 = 234,375 liter. Jadi, ukuran air dua qullah adalah ukuran sekitar 200 liter. Gambaran riilnya adalah air yang terisi penuh pada bak yang berukuran 1 m x 1 m x 0,2 m.

Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah

Pelajaran penting

Dari hadits dua qullah ini, secara mantuq (tekstual), apabila air telah mencapai dua qullah maka ia sulit dipengaruhi oleh najis. Namun, jika air tersebut berubah rasa, bau atau warnanya karena najis, maka dia menjadi najis berdasarkan ijmak (kesepakatan para ulama).

Sebagian ulama seperti Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, Ahmad dan pengikut mereka menyatakan bahwa jika air kurang dari dua qullah, air tersebut menjadi najis dengan hanya sekadar kemasukan najis walaupun tidak berubah rasa, warna atau baunya.

Namun ulama lainnya seperti Imam Malik, ulama Zhahiriyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahb dan ulama Najd menyatakan bahwa air tidaklah menjadi najis dengan hanya sekadar kemasukan najis.

Sebagian ulama Syafi’iyah juga ada yang berpendapat dengan pendapat ini. Air tersebut bisa menjadi najis apabila berubah salah satu dari tiga sifat yaitu rasa, warna atau baunya. Karena ada sebuah hadits yang menyebutkan,

إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَىْءٌ

Artinya : “Sesungguhnya air itu suci, tidak ada yang dapat menajiskannya.” (HR. Abu Daud, No. 67; Tirmidzi, no. 66. Imam Nawawi dalam Al-Majmu’, 1:82 menyatakan bahwa hadits ini shahih. As-Suyuthi juga dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir, 2089 menshahihkan hadits ini)

Demikian ulasan tentang Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ 15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat

15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat

15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat – Pada pembahasan kali ini Pengetahuan Islam akan menjelaskan tentang 15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat. Setiap perbuatan yang kita lakukan pasti ada balasannya kelak di hari kiamat, walaupun sekecil rambut yang di belah menjadi 7 bagian, Apalagi Sholat. Untuk lebih detailnya silahkan simak artikel di bawah ini.

15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat

Shalat adalah kewajiban bagi kita semua sebagai seorang muslim yang sudah balliq. Entah dalam keadaan apapun, dan di manapun, sholat tidak boleh kita tinggalkan walaupun satu kali. Karena kewajiban kita, maka haruslah dikerjakan. Sesungguhnya Allah SWT adalah Maha Besar, Maha Pengasih,Maha Penyayang dan juga maha pengampun, bagi hambanya yang mau bertaubat deng bersungguh-sungguh. Sesungguhnya tanpa Kita sadari, kita sudah banyak diberikan kenikmatan di dunia ini sampai tak terhitung jumlahnya. Maka dari itu kita wajib mensyukuri nikmat-nikmat tersebut dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya.

Salah satu perintah Allah kepada kita sebagai umat Islam adalah menunaikan ibadah shalat fardhu 5 waktu:

Nabi muhammad Saw Bersabda:

“Barang siapa yang menyepelekan sholat (menggampangkan sholat), maka Allah akan menyiksanya dengan lima belas macam siksaan; enam siksaan di dunia, tiga siksaan ketika menjelang mati, tiga siksaan di alam kubur dan tiga siksaan ketika keluar dari alam kubur”. (Qurtubi(Qurratul ‘uyun: hlm.2).

15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat

Semoga kita tidak tergolong orang-orang yang meninggalkan atau melalaikan sholat. Adapun 15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat adalah sebagai berikut:

  1. 6 Macam balasan Ketika masih Di Dunia

  • Allah SWT akan menghilangkan keberkahan dari umurnya
  • Tanda kesholehannya akan dihapus oleh Allah SWT dari keningnya
  • Semua amalnya tidak akan diberi pahala oleh Allah SWT.
  • Allah SWT tidak akan mengangkat do’a nya ke langit
  • Semua makhluk di dunia akan menyepelekannya
  • Dan dia tidak akan mendapatkan bagian doanya orang-orang shaleh
  1. 3 Macam Balasan Ketika Sakarotul Maut

  • Akan mati dalam keadaan hina
  • Akan mati dalam keadaan lapar, seperti orang yang berada di lumbung padi tapi ia kelaparan
  • Akan mati dalam keadaan haus, seperti orang yang berada di laut namun ia kehausan
  1. 3 Macam Balasan Ketika Berada Di Alam Kubur

  • Si mayit akan Disemprit Kan kuburnya oleh Allah SWT dan akan dihimpit sampai terasa ke tulang rusuk
  • Kuburannya akan di penuhi dengan api neraka
  • Yang terakhir, akan datangnya Ular Syuja’al Aqro’ ular yang diciptakan dari api neraka

Ular itu pun berkata kepada si mayit : “Aku adalah Syuja’al-Aqro’, suaranya pun tak terbayangkan seperti apa dahsyatnya, dan ular itu berkata: “Tuhanku menyuruhku agar memukulmu karena kau telah menyia-nyiakan sholat subuh dari subuh sampai dzuhur, dari dzuhur sampai asar, dari asar sampai magrib, dari magrib sampai isya, dan dari isya sampai subuh. Kemudian ular itu si mayit, namun satu kali pukulannya, ia akan masuk kedalam tanah sedalam ukuran 70 hasta, lalu ular Syuja’al-Aqro’ memasukkan kukunya kebawah tanah untuk mengeluarkannya kembali, dan seterusnya tanpa henti sampai hari kiamat tiba, maka dari itu kita mohon perlindungan kepada Allah dari siksa kubur.” (Qurtubi (Qurratul ‘uyun; hlm.4).

  1. 3 Macam Balasan Pada Saat Hari Kiamat

  • Mereka akan di kumpulkan bersama orang-orang yang diseret mukanya menuju neraka jahanam
  • Mereka akan merasakan daging dan mukanya leleh berjatuhan
  • Dan yang terakhir Hisabnya akan di beratkan

Itulah sebagian balasan Allah kepada hambanya yang suka meninggalkan sholat. Tentunya masih banyak lagi yang tidak kita ketahui. Semoga kita di jauhkan dari golongan tersebut, semoga setelah kita mengetahui ini, bisa menambah keimanan dan ketaqwaan kita Kepada Allah SWT. Dan menjalankan perintah-perintahnya.

Besarnya Dosa karena Meninggalkan Shalat 5 Waktu

  1. Shalat shubuh: Allah akan menenggelamkannya kedalam neraka jahanam selama 60 tahun, sama halnya 1000 tahun di dunia = 1 hari di akhirat.
  2. Dzuhur: Meninggalkan shalat dzuhur dosanya sama halnya seperti membunuh 1000 orang muslim
  3. Ashar: Ketika meninggalkan sholat ashar, sama halnya Seperti dosanya orang yang menghancurkan ka’bah
  4. Maghrib: Meninggalkan shalat maghrib sama halnya seperti berzina dengan orang tuanya sendiri
  5. Isya: “Sesungguhnya Allah ta’ala telah berfirman: “Hai orang yang meninggalkan sholat isya, bahwa Aku tidak ridho jika kamu tinggal di bumiku dan menggunakan segala nikmat-nikmat Ku, segala yang dikerjakan dan digunakan ialah berdosa kepada Allah SWT.”

Semoga kita di jauhkan oleh Allah dari golongan-golongan tersebut. Aamin….

Demikianlah 15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan bagi kita.

Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan

Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan

Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan – Sahabat Muslim, sebagai manusia kita diciptakan untuk menjadi kholifah di muka bumi ini. Dengan menjadi pemimpin tentu menjadi acuan sebagai contoh bagi penerusnya. Sebagaimana di contohkan oleh baginda Rasulullah SAW., beliau merupakan panutan sekaligus contoh teladan yang baik.

Baca : Fiqih : Sunnah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan

Bukan hanya sekedar memberitahu tetapi beliau juga mencontohkan dan mengamalkannya sebagai panutan yang baik untuk umatnya. Nah sahabat, bagaimana mencontohkan keteladanan?. Untuk lebih jelasnya silahkan simak artikel Pengetahuan Islam berikut ini.

Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan

Mengamalkan ilmu agama dan memberikan contoh keteladanan dengan amal perbuatan sesungguhnya lebih mengena kepada sasaran dakwah daripada sekedar bicara tanpa amal yang nyata. Sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang Syu’aib,

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ

Artinya :

“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.” (QS. Huud Ayat 88)

Alim yang tidak mengamalkan Ilmunya

Malik bin Dinar rahimahullah berkata,

“Sesungguhnya seseorang yang memiliki ilmu (‘alim) namun tidak mengamalkan ilmunya, maka nasihatnya akan tergelincir dari dalam hati, sebagaimana tetesan air hujan akan tergelincir dari atas batu yang licin.” [Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Al-Iqtidha’, hal. 9]

Dari Ma’mun, beliau mengatakan,

نحن إلى أن نوعظ بالأعمال أحوج من أن نوعظ بالأقوال

Artinya :

“Kami lebih butuh nasihat dengan (contoh) amal perbuatan daripada nasihat dengan kata-kata.” [Jaami’ Bayaan Al-‘Ilmi, hal. 1236]

Hal ini karena barangsiapa yang rutin atau rajin beramal, maka merutinkan amal itu sendiri pada hakikatnya adalah bentuk berdakwah. Dengan demikian, dia menjadi contoh teladan bagi masyarakat kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Artinya :

“Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan Ayat 74)

Tidaklah seseorang itu mencapai kedudukan tersebut kecuali jika terkumpul dalam dirinya berbagai sifat kebaikan, yaitu dia mengumpulkan antara ilmu dan amal sekaligus. Adapun jika yang diperbanyak hanyalah ilmu, dan tidak memiliki perhatian terhadap amal, maka ilmu tersebut menjadi tidak bermanfaat.

Baca : Pengertian Nifaq, pembagian dan hukumnya (Lengkap)

Lalai dalam Sholat

Yang sering kita saksikan, manusia terkadang sangat perhatian untuk memperbanyak ilmu, menghapal dan menghadiri berbagai majelis pengajian. Akan tetapi, dia sering terluput dari shalat, khususnya shalat subuh. Jika kewajiban yang agung ini saja terlupakan, padahal shalat adalah rukun terbesar setelah dua kalimat syahadat dan perkara yang pertama kali ditanyakan pada hari kiamat, lalu di manakah bekas dan pengaruh dari ilmu yang sudah dia dipelajari itu?

Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

كنا إذا فقدنا الرجل في صلاة العشاء وصلاة الفجر أسأنا به الظن

Artinya :

“Kami (para sahabat) dahulu jika ada seorang laki-laki yang terluput dari shalat subuh dan shalat isya’, kami pun berburuk sangka kepadanya.” [Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 12/271, Ibnu Khuzaimah no. 1405 dan Ibnu Hibban no. 2099]

Dalam sebuah hadits disebutkan,

إِنَّ أَثْقَلَ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

Artinya :

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya, pasti mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 789)

Di zaman kita ini, zaman begadang di setiap malam, banyak kita jumpai orang-orang yang terluput alias tidak mendirikan shalat subuh pada waktunya. Mereka begadang di sepanjang malam dalam rangka diskusi ilmiah dalam berbagai masalah ilmu atau topik lainnya, kemudian mereka pun tidur di akhir malam dan tidak mengerjakan shalat subuh.

Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan

Jika seseorang menghidupkan malam dengan membaca dan menghapal Al-Qur’an, namun dengan mengorbankan shalat subuh, maka perbuatan tersebut haram, dan dia pun berdosa dengan begadangnya tersebut.

Baca : Pengertian & Penjelasan Walimatus Safar Haji atau Umroh

Padahal sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ

Artinya :

“Barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya secara berjamaah, itu seperti beribadah setengah malam dan barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya dan Subuh secara berjamaah, maka ia seperti beribadah semalam.” (Hadits Abu Daud Nomor 468)

Dan pada zaman ini, shalat shubuh berjamaah di hari Jum’at menjadi shalat yang paling banyak disepelakan, terutama di negeri yang menjadikan hari Jum’at sebagai hari libur.

Demikianlah ulasan tentang Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.