√ Fiqih Fathul Qorib : Cara Menggunakan Khuf Ketika Berwudhu

Fiqih Fathul Qorib - Cara Menggunakan Khuf Ketika Berwudhu

Fiqih Fathul Qorib : Cara Menggunakan Khuf Ketika Berwudhu – Khuf atau muza adalah kaus kaki kulit yang biasa dipakai pada saat musim dingin. Pemakai khuf mendapat keringanan khusus (rukhsoh) yaitu ketika berwudhu tidak harus melepas khuf tersebut tapi cukup mengusap bagian atas kaki saja.

Namun keringanan memakai khuf ini ada syarat-syarat khusus dan dan juga ada masa berlakunya. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut.

Fiqih Fathul Qorib : Cara Menggunakan Khuf Ketika Berwudhu

Sering kita mendengar tentang diperbolehkan tidak membasuh kaki saat berwudhu dengan menggunakan Muza atau khuf. Nah bagi yang belum begitu tahu bisa kita pelajari pada pembahasan berikut ini.

Pasal Mengusap Khuf (Muza, Kaos kaki Kulit)

فصل : والمسح على الخفين جائز في الوضوء لا في غسل فرض أو نفل، ولا في إزالة نجاسة، فلو أجنب أو دميت رجله، فأراد المسح بدلاً عن غسل الرجل لم يجز، بل لا بد من الغسل وأشعر قوله جائز أن غسل الرجلين أفضل من المسح، وإنما يجوز مسح الخفين لا أحدهما فقط، إلا أن يكون فاقد الأخرى (بثلاثة شرائط أن يبتدىء) أي الشخص (لبسهما بعد كمال الطهارة) فلو غسل رجلاً وألبسها خفها، ثم فعل بالأخرى كذلك، لم يكف ولو ابتدأ لبسهما بعد كمال الطهارة، ثم أحدث قبل وصول الرجل قدم الخف لم يجز المسح
وأن يكونا أي الخفان (ساترين لمحل غسل الفرض من القدمين) بكعبيهما فلو كانا دون الكعبين كالمداس، لم يكف المسح عليهما، والمراد بالساتر هنا الحائل لا مانع الرؤية، وأن يكون الستر من جوانب الخفين لا من أعلاهما
وأن يكونا مما يمكن تتابع الشيء عليهما) لتردد مسافر في حوائجه من حط وترحال، ويؤخذ من كلام المصنف كونهما قويين بحيث يمنعان نفود الماء، ويشترط أيضاً طهارتهما، ولو لبس خفاً فوق خف لشدة البرد مثلاً، فإن كان الأعلى صالحاً للمسح دون الأسفل صح المسح على الأعلى، وإن كان الأسفل صالحاً للمسح دون الأعلى، فمسح الأسفل صح أو الأعلى فوصل البلل للأسفل صح إن قصد الأسفل أو قصدهما معاً، لا إن قصد الأعلى فقط، وإن لم يقصد واحداً منهما، بل قصد المسح في الجملة أجزأ في الأصح
ويمسح المقيم يوماً وليلة و يمسح (المسافر ثلاثة أيام بلياليهن) المتصلة بها سواء تقدمت أو تأخرت (وابتداء المدة) تحسب (من حين يحدث) أي من انقضاء الحدث الكائن (بعد) تمام (لبس الخفين) لا من ابتداء الحدث و لا من وقت المسح، ولا من ابتداء اللبس والعاصي بالسفر والهائم يمسحان مسح مقيم، ودائم الحدث إذا أحدث بعد لبس الخف حدثاً آخر مع حدثه الدائم قبل أن يصلي به فرضاً يمسح، ويستبيح ما كان يستبيحه لو بقي طهره الذي لبس عليه خفه، وهو فرض ونوافل، فلو صلى بطهره فرضاً قبل أن تحدث مسح، واستباح نوافل فقط،
فإن مسح  الشخص (في الحضر ثم سافر أو مسح في السفر ثم أقام) قبل مضي يوم وليلة (أتم مسح مقيم) والواجب في مسح الخف ما يطلق عليه اسم المسح إذا كان على ظاهر الخف، ولا يجزىء المسح على باطنه، ولا على عقب الخف، ولا على حرفه ولا أسفله والسنة في مسحه أن يكون خطوطاً بأن يفرج الماسح بين أصابعه ولا يضمها
ويبطل المسح على الخفين (بثلاثة أشياء بخلعهما) أو خلع أحدهما أو انخلاعه أو خروج الخف عن صلاحية المسح كتخرقه (وانقضاء المدة) وفي بعض النسخ مدة المسح من يوم وليلة لمقيم وثلاثة أيام بلياليها لمسافر (و) بعروض (ما يوجب الغسل) كجنابة أو حيض أو نفاس للابس الخف.

(Pasal) mengusap dua muza (kaos kaki / kasut kulit) diperbolehkan dalam wudhu’, tidak di dalam mandi wajib ataupun sunnah, dan tidak di dalam menghilangkan najis.

Sehingga kalau ada seseorang yang junub atau kakinya berdarah, kemudian ia ingin mengusap muza sebagai ganti dari membasuh kaki, maka tidak diperkenankan, bahkan harus membasuh kakinya.

Perkataan mushannif yang berbunyi, “diperbolehkan” memberi pehamaman bahwa sesungguhnya membasuh kedua kaki itu lebih utama dari pada mengusap muza.

Mengusap muza itu hanya diperbolehkan jika memang mengusap keduanya tidak salah satunya saja, kecuali jika dia tidak memiliki kaki yang satunya lagi.

Syarat Mengusap Muza

Di perbolehkannya mengusap muza atau khuf dengan tiga syarat, yaitu

1. Seseorang mulai mengenakan kedua muza tersebut setelah dalam keadaan suci secara sempurna.

Sehingga, kalau ia membasuh salah satu kakinya dan mengenakan muza pada kaki tersebut, kemudian hal yang sama dilakukan pada kaki yang satunya lagi, maka tidak mencukupi.

Dan seandainya ia mulai mengenakan kedua muza setelah sempurnanya suci, namun kemudian ia hadats sebelum kakinya sampai di dasar muza, maka tidak diperkenankan untuk mengusapnya.

2. kedua muza tersebut bisa menutupi bagian kedua telapak kaki yang wajib di basuh hinggah kedua mata kakinya.

Sehingga, kalau kedua muza tersebut tidak sampai menutup kedua mata kaki seperti sepatu, maka tidak cukup mengusap keduanya.

Yang di kehendaki dengan “satir (yang menutup)”di dalam bab ini adalah penghalang, bukan sesuatu yang mencegah penglihatan.

Yang harus tertutup adalah bagian bawah dan sampingnya kedua muza, tidak arah atas keduanya.

3. Muza tersebut harus terbuat dari sesuatu yang bisa digunakan untuk berjalan naik turun bagi seorang musafir guna memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

Dari ucapan mushannif di atas bisa diambil pemahaman bahwa kedua muza tersebut harus kuat, sekira bisa mencegah masuknya air. Juga disyaratkan keduanya harus suci.

Dan seandainya ia memakai muza berlapis karena cuaca terlalu dingin semisal, maka, jika muza yang luar / atas layak untuk diusap tidak muza yang dalam, maka syah mengusap muza yang luar.

Dan jika yang layak diusap adalah muza yang dalam, bukan yang luar, kemudian ia mengusap muza yang dalam, maka hukumnya sah.

Atau ia mengusap muza yang atas, namun kemudian basah-basah air sampai ke muza yang dalam, maka hukumnya sah jika ia menyengaja untuk mengusap yang dalam atau mengusap keduanya, dan tidak sah jika ia menyengaja mengusap muza yang luar saja.

Dan jika ia tidak menyengaja mengusap salah satunya, akan tetapi ia menyengaja mengusap secara umum, maka dianggap cukup menurut pendapat al Ashah.

Masa Mengusap Muza

Bagi orang yang muqim (tidak bepergian) diperkenankan mengusap selama sehari semalam. Dan bagi musafir diperkenankan mengusap selama tiga hari beserta malam-malamnya yang bersambung, baik malam-malamnya itu lebih dahulu atau belakangan.

Permulaan masa tersebut terhitung sejak ia hadats, maksudnya sejak selesainya hadats yang terjadi setelah sempurna mengenakan kedua muza.

Bagi orang yang melakukan maksiat dengan bepergiannya dan orang yang berkelana tanpa tujuan, maka diperkenankan mengusap seperti mengusapnya orang yang muqim -sehari semalam-.

Orang yang selalu mengeluarkan hadats (daimul hadats), ketika ia mengalami hadats yang lain di samping hadatsnya yang selalu ada, setelah mengenakan muza dan sebelum melakukan sholat fardlu, maka ia diperkenankan mengusap muza dan melakukan hal-hal yang boleh ia lakukan seandainya kesucian saat mengenakan muza itu masih ada, yaitu ibadah fardlu dan beberapa ibadah sunnah.

Sehingga, kalau sudah melakukan ibadah fardlu sebelum mengalami hadats, maka ia diperkenankan mengusap muza dan melakukan ibadah-ibadah sunnah saja.

Jika ada seseorang yang mengusap muza saat masih di rumah kemudian ia bepergian, atau mengusap saat bepergian kemudian ia muqim sebelum melewati sehari semalam, maka dia diperkenankan menyempurnakan masa mengusap bagi orang yang muqim -sehari semalam-.

Cara Mengusap Muza

Wajib saat mengusap muza adalah melakukan sesuatu yang sudah layak disebut mengusap, jika memang dilakukan di bagian luar muza. Tidak mencukupi mengusap bagian dalam, tungkak muza, tepi dan bagian bawahnya.

Fiqih Fathul Qorib - Cara Menggunakan Khuf Ketika Berwudhu

Yang sunnah di dalam mengusap adalah mengusap dengan posisi menggaris, dengan artian orang yang mengusap muza tersebut merenggangkan jari-jarinya, tidak merapatkannya.

Hal Membatalkan Untuk Mengusap

Mengusap dua muza hukumnya batal sebab tiga perkara, yaitu

  1. Melepas keduanya
  2. Melepas salah satunya
  3. Terlepas sendiri atau muza sudah keluar dari kelayakan untuk diusap seperti sobek.

Adapun habisnya masa mengusap. Dalam sebagian redaksi diungkapkan dengan bahasa “habisnya masa mengusap” yaitu sehari semalam bagi orang muqim, dan tiga hari tiga malam bagi orang musafir.

Sebab terjadinya sesuatu yang mewajibkan mandi seperti jinabah, haidl, atau nifas pada orang yang mengenakan muza.

Demikian ulasan tentang Fiqih Fathul Qorib : Cara Menggunakan Khuf Ketika Berwudhu. Semoga dapat bermanfaat dan manambah wawasan ilmu pengetahuan kita semua. Terimakasih.

√ Dzikir dan Doa Setelah Sholat Wajib Arab, Latin dan Terjemah

Dzikir dan Doa setelah sholat wajib Arab, Latin dan Terjemah – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Dzikir dan Doa setelah Sholat Wajib yang mana dengan menggunakan bahasa arab, latin dan terjemahnya. Sehingga memudahkan para pembaca untuk memahami dan menghapalnya. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini.

Dzikir dan Doa Setelah Sholat Wajib Arab, Latin dan Terjemah

Dalam islam setiap melaksanakan ibadah sholat wajib, setelah selesai sholat biasanya jamaah baik imam maupun makmum membaca serangkaian doa.

Ada yang membaca doa pendek dan singkat, namun ada juga yang membaca secara lengkap. Bagi orang yang melaksanakan sholat sendiri-sendiri, biasanya membaca doa dengan singkat sedangkan jika sholat berjamaah. Imam akan membaca doa selesai sholat yang panjang dan makmum akan mengamininya.

Di sini kita akan menuliskan beberapa lafadz doa dan dzikir yang biasa sering dibaca setelah selesai sholat wajib. Namun sebelum itu, kita terlebih dahulu perlu mengetahui pengertian dari sholat wajib dan doa.

Pengertian Sholat Wajib

Sholat wajib atau sholat fardhu adalah ibadah sholat yang dikerjakan oleh umat Islam baik laki-laki maupun perempuan yang tidak berhalangan (haid/nifas). adapun syarat untuk mengerjakannya adalah beragama Islam, baligh, suci dari hadas besar dan kecil serta berakal sehat.

Untuk menyucikan diri dari hadas kecil dapat dilakukan dengan cara berwudhu atau dengan cara tayamum bila tidak ada air. Sedangkan untuk menghilangkan hadas besar harus dilakukan dengan cara doa mandi wajib.

Sholat wajib terdiri dari 5 waktu antara lain sholat subuh, sholat dzuhur, sholat ashar, sholat maghrib, dan terakhir sholat isya. Total terdapat 17 rakaat sholat fardhu yang dikerjakan dalam kurun waktu 24 jam.

Bagi yang terpaksa tidak dapat mengerjakan sholat wajib, maka diperbolehkan untuk menggantinya di lain waktu atau yang biasa disebut dengan sholat qadha.

Bagi yang tidak dapat mengerjakan sholat fardhu dengan cara berdiri, dapat mengerjakannya dengan cara duduk atau berbaring, tergantung kemampuan masing-masing.

Pengertian Doa

Doa adalah kalimat atau bacaan yang diucapkan dengan harapan dapat tersampaikan dan didengar oleh Tuhan. Dalam agama Islam, Doa yaitu sesuatu yang ingin disampaikan kepada Allah SWT.

Isi dari doa biasanya merupakan permohonan atau ucapan syukur, kebanyakan adalah memohon sesuatu agar dikabulkan oleh Allah SWT. Karena hanya Allah lah tempat kita memohon dan meminta.

Doa dalam agama Islam diucapkan dengan menggunakan bahasa Arab. Namun ada juga berupa tulisan latin bagi yang belum lancar mengaji dan terjemahan ke dalam bahasa Indonesia bagi yang ingin memahami maknanya.

Dzikir dan Doa Setelah Sholat Wajib Singkat

Bacaan doa setelah sholat fardhu merupakan doa yang dibaca ketika selesai menjalankan sholat dengan maksud mengucap syukur dan memohon sesuatu kepada Allah SWT.

Dzikir Setelah Sholat Wajib Arab, Latin dan Terjemah Lengkap

Jika mengerjakan sholat berjamaah seperti subuh, maghrib dan isya, biasanya imam akan membaca rangkaian doa berikut setelah selesai sholat dan makmum akan mengamininya.

Berikut adalah rangkaian doa dan dzikir setelah sholat wajib yang panjang atau lengkap dalma bahasa Arab, latin beserta artinya.

1. Istighfar 3 Kali
xأَسْتَغْفِرُ اللًّهَ   ٣

Astaghfirulloh, Astaghfirulloh, Astaghfirulloh.

Artinya: “Aku mohon ampun kepada Allah, Aku mohon ampun kepada Allah, Aku mohon ampun kepada Allah.”

2. Doa Keselamatan
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ

Allohumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikrom.

Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Maha Pemberi keselamatan dan keselamatan hanyalah dari-Mu, Mahaberkah Engkau, wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”

3. Doa Dzikir Pertama
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ، اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Laa ilaha illalloh wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir. Allohumma laa maani’a limaa a’thoyta wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jadd.

Artinya: “Tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. Kerajaan dan pujian hanyalah milik-Nya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menolak apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau tolak. Juga tidak bermanfaat orang kaya (tanpa amal), dari-Mu segala kekayaan.”

4. Ayat Kursi
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum laa ta’khudzuhuu sinatuuw walaa naum lahuu maa fiis samaawaati wamaa fil ardhi man dzaal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa bi-idznih ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum walaa yuhiithuuna bisyai-in min ‘ilmihii illaa bimaasyaa-a wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardho walaa ya-uuduhuu hifzhuhumaa wahuwal ’aliyyul azhiim.

Artinya: “Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang meraka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

5. Tasbih, Tahmid dan Takbir 33 Kali
سُبْحَانَ اللَّهِ

Subhaanalloh (33x)

Artinya: “Maha suci Allah.”

الْحَمْدُ لِلَّهِ

Alhamdulillah (33x)

Artinya: “Segala puji bagi Allah.”

اللَّهُ أَكْبَرُ

Allohu akbar (33x)

Artinya: “Allah Maha Besar.”

6. Doa Dzikir Kedua

Kemudian dilanjut dengan membaca doa dzikir sholat yang lebih pendek dibanding bacaan dzikir yang pertama berikut ini.

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

Laa ilaha illalloh wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

Artinya: “Tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. Kerajaan dan pujian hanyalah milik-Nya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”

7. Doa Syukur atau Ihsan

Terakhir adalah membaca doa syukur untuk berterima kasih kepada Allah SWT atas kesempatan yang diberikan-Nya sehingga kita dapat mengerjakan ibadah sholat dan membaca dzikir dengan baik.

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Alloohumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik.

Artinya: “Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”

Doa Setelah Sholat Wajib Arab, Latin dan Terjemah

Berikut adalah lafadz bacaan doa dan dzikir setelah sholat wajib yang singkat dalam bahasa Arab.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرِّحِيْمِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. حَمْدًا يُوَافِىْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَارَبَّنَالَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

Bismilllaahirrohmaanirrohiim. Alhamdulillaahi Robbil ‘aalamiin. Hamdan yuwaafii ni’amahu wa yukaafi-u maziidah. Yaa Robbanaa lakal hamdu wa lakasy syukru kamaa yanbaghii lijalaali wajhika wa ‘adhiimi sulthoonik

Artinya : “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Pujian yang sebanding dengan nikmat-nikmatNya dan menjamin tambahannya. Wahai Tuhan kami, bagi-Mu-lah segala puji, dan bagi-Mu-lah segalah syukur, sebagaimana layak bagi keluhuran zat-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu.”

اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Alloohumma sholli wasallim ‘alaa sayyidinaa muhammadin walhamdulillaahi robbil ‘aalaamiin.

Artinya : “Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan kepada penghulu kami, Nabi Muhammad dan keluarganya. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.”

اَللهُمَّ اغْفِرْلِىْ وَلِوَالِدَىَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِىْ صَغِيْرًا

Alloohummagh firlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo.

Artinya : “Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku semenjak kecil.”

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Robbanaghfirlanaa wali-ikhwaaninal ladziina sabaquunaa bil iimaan walaa taj’al fii quluubinaa ghillal lilladziina aamanuu Robbanaa innaka ra-uufur rohiim.

Artinya : “Ya Allah, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dan janganlah Engkau biarkan ghill (dengki) dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Robbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wahablanaa min ladunka rohmatan innaka antal wahhaab.

Artinya : “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”

اَللهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَصِحَّةً فِى الْبَدَنِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ تَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ. اَللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِىْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ

Alloohumma innaa nas-aluka salaamatan fid diini wad dunyaa wal aakhiroh, wa’aafiyatan fil jasad, wa shihhatan fil badan, wa barokatan fir rizq, wa taubatan qoblal maut, wa rohmatan ‘indal maut, wamaghfirotan ba’dal maut. Alloohumma hawwin ‘alainaa fii sakarootil maut, wan najaata minan naar, wal ‘afwa ‘indal hisaab.

Artinya : “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadaMu kesejahteraan dalam agama, dunia dan akhirat, keafiatan jasad, kesehatan badan, tambahan ilmu, keberkahan rezeki, taubat sebelum datang maut, rahmat pada saat datang maut, dan ampunan setelah datang maut. Ya Allah, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, (berilah kami) keselamatan dari api neraka, dan ampunan pada saat hisab.”

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Robbanaa hablanaa min ‘azwaajinaa wa dzurriyaatinaa qurrota a’yunin waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa.

Artinya : “Wahai Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami istri-istri dan keturunan-keturunan sebagai penyejuk hati dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.”

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

Robbanaa taqobbal minnaa innaka antas samii’ul ‘aliim watub ‘alainaa innaka antat tawwaabur rohiim.

Artinya : “Wahai Tuhan kami, perkenankanlah (permohonan) dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

رَبَّنَا أَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Robbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhiroti hasanah waqinaa ‘adzaabannar.

Artinya : “Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan hidup di dunia dan kebaikan hidup di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api neraka.”

وَصَلَّى اللهُ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Wa shollalloohu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi washohbihii wasallam, walhamdulillaahi Robbil ‘aalamiin.

Artinya : “Semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan kepada penghulu kami, Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.”

Demikian ulasan tentang Dzikir dan Doa setelah sholat wajib Arab, Latin dan Terjemah. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya

Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya

Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Puasa. Yang meliputi Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmah Puasa dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silahkan simak artikel Pengetahuan Islam dibawah ini dengan seksama.

Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya

Pengertian puasa menurut syariat Islam adalah suatu amalan ibadah yang dilakukan dengan menahan diri dari segala sesuatu seperti makan, minum, perbuatan buruk maupun dari hal yang membatalkan puasa. Mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari yang disertai dengan niat karena Allah SWT, dengan syarat dan rukun tertentu.

Puasa Wajib

Shoum atau Puasa yang hukumnya wajib bagi orang muslim adalah Puasa yang jika dikerjakan mendapatkan pahala dan jika tidak dikerjakan mendapatkan dosa. Adapun puasa yang wajib adalah sebagai berikut : Shoum atau Puasa Ramadan, Shoum atau Puasa karena nadzar, dan Shoum atau Puasa kifarat atau denda.

Puasa Sunah

Shoum atau Puasa sunnah adalah Puasa yang jika dikerjakan mendapatkan pahala dan jika tidak dikerjakan tidak mendapatkan dosa.

Macam – macam puasa sunnah

Di bawah ini adalah macam-maca puasa sunah, antara lain:

  • Puasa 6 hari di bulan Syawal selain hari raya Idul Fitri.
  • PuasaArafah pada tanggal 9 Dzulhijah bagi orang-orang yang tidak menunaikan ibadah haji.
  • PuasaTarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijah bagi orang-orang yang tidak menunaikan ibadah haji.
  • Puasa Senin dan Kamis.
  • Puasa Daud (sehari puasa, sehari tidak), bertujuan untuk meneladani puasanya Nabi Daud.
  • Puasa ‘Asyura (pada bulan muharram), dilakukan pada tanggal 10.
  • Puasa 3 hari pada pertengahan bulan (menurut kalender islam) (Yaumul Bidh), tanggal 13, 14, dan 15.
  • Puasa Sya’ban (Nisfu Sya’ban) pada awal pertengahan bulan Sya’ban.
  • Puasa bulan Haram (Asyhurul Hurum) yaitu bulan Dzulkaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.

Syarat Wajib Puasa

Berikut ini adalah syarat wajib puasa wajib maupun sunah, antara lain:

  1. Beragama Islam
  2. Berakal sehat
  3. Baligh (sudah cukup umur 9-15 tahun)
  4. Mampu melaksanakannya
  5. Syarat sah saum
  6. Islam (tidak murtad)
  7. Mummayiz (dapat membedakan yang baik dan yang buruk)
  8. Suci dari haid dan nifas (khusus bagi wanita)
  9. Mengetahui waktu diterimanya puasa

Rukun Puasa

Berikut ini adalah rukun puasa, yaitu:

  1. Islam.
  2. Niat (pada waktu malam hari).
  3. Meninggalkan segala hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Beberapa yang Hal Di Haramkan Saat Puasa

Hari raya Idul Fitri, yaitu pada (1 Syawal), Tanggal 1 Syawwal telah ditetapkan sebagai hari raya umat Islam. Hari itu merupakan hari kemenangan yang harus dirayakan dengan bergembira. Karena itu syariat telah mengatur bahwa di hari itu tidak diperkenankan seseorang untuk bersaum sampai pada tingkat haram. Meski tidak ada yang bisa dimakan, paling tidak harus membatalkan saumnya atau tidak berniat untuk saum.

Hari raya Idul Adha, yaitu pada tanggal (10 Dzulhijjah). Hal yang sama juga pada tanggal 10 Zulhijjah sebagai hari raya kedua bagi umat Islam. Hari itu diharamkan untuk bersaum dan umat Islam disunnahkan untuk menyembelih hewan Qurban dan membagikannya kepada fakir msikin dan kerabat serta keluarga. Agar semuanya bisa ikut merasakan kegembiraan dengan menyantap hewan qurban itu dan merayakan hari besar.

Berikut ini adalah hari yang diharamkan untuk berpuasa, yaitu:

  • Hari-hari tasyrik, yaitu pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
  • Hari syak, yaitu pada 30 Syaban.
  • Saum selamanya.
  • Wanita saat sedang haid atau nifas.
  • Saum sunnah bagi wanita tanpa izin suaminya.

Beberapa yang di makruhkan melakukan puasa

  • Berlebih-lebihan dalam berkumur dan ber-istinsyaq
  • Mencicipi makanan (sebatas indra perasa lidah)
  • Mengumpulkan ludah dan menelannya, begitu juga menelan dahak dan lain sebagainya
  • Kemudian waktu makruh untuk bersaum yaitu ketika saum dikhususkan pada hari Jumat, tanpa diselingi saum sebelumnya atau sesudahnya.

Beberapa yang membatalkan puasa

  • Masuknya sesuatu/benda (seperti makanan atau minuman dan sebagainya) ke dalam mulut dengan disengaja.
  • Bersetubuh (Jima’).
  • Muntah yang disengaja.
  • Keluar mani (istimna’ ) dengan disengaja.
  • Haid (datang bulan) dan Nifas (melahirkan anak).
  • Hilang akal (gila atau pingsan).
  • Murtad (keluar dari agama Islam).

Dari kesemua hal yang membatalkan Puasa ada pengecualiannya, yaitu makan, minum dan bersetubuh bagi orang yang sedang bersaum tidak akan batal ketika seseorang itu lupa bahwa ia sedang berpuasa.

Orang yang boleh membatalkan Puasa

Adalah orang yang boleh membatalkan Puasa wajib (Puasa Ramadhan) tetapi Wajib mengqadha (mengganti saumnya di hari lain) sebanyak hari yang ditinggalkan.

  • Orang yang sakit, yang ada harapan untuk sembuh
  • Orang yang bepergian jauh (musafir) sedikitnya 89 km dari tempat tinggalnya
  • Orang yang hamil, yang khawatir akan keadaannya atau bayi yang dikandungnya
  • Orang yang sedang menyusui anak, yang khawatir akan keadaannya atau anaknya
  • Orang yang sedang haid (datang bulan), melahirkan anak dan nifas
  • Orang yang batal saumnya dengan suatu hal yang membatalkannya selain bersetubuh.

Wajib mengqadha dan wajib fidyah (memberi makan orang miskin setiap hari yang ia tidak bersaum, berupa bahan makanan pokok sebanyak 1 mud (576 gram)) :

  • Orang yang sakit yang tidak ada harapan akan sembuhnya.
  • Orang tua yang sangat lemah dan tidak kuat lagi bersaum.
  • Wajib mengqadha dan kifarat (memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Jika tidak ada hamba sahaya yang mukmin maka wajib bersaum dua bulan berturut-turut (selain qadha’ menggantikan hari yang ditinggalkan), jika tidak bisa, wajib memberi makan 60 orang miskin, masing-masing sebanyak 1 mud (576 gram) berupa bahan makanan pokok). yaitu Orang yang membatalkan saum wajibnya dengan bersetubuh, wajib melakukan kifarat dan qadha.

Keutamaan Puasa

Ibadah Puasa Ramadhan yang diwajibkan Allah kepada setiap mukmin adalah ibadah yang ditujukan untuk menghamba kepada Allah seperti yang tertera dalam sebuah surah dalam al-Qur’an, yaitu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu ber-Shoum/Puasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (Al-Baqarah 2:183)

Keutamaan Puasa menurut syariat Islam adalah, orang-orang yg bersaum akan melewati sebuah pintu surga yang bernama Rayyan, dan keutamaan lainnya adalah Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka, sejauh 70 tahun perjalanan.

Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya

Hikmah Puasa

Hikmah dari ibadah Puasa itu sendiri adalah melatih manusia untuk sabar dalam menjalani hidup. Maksud dari sabar yang tertera dalam al-Quran adalah gigih dan ulet seperti yang dimaksud dalam Surat Ali ‘Imran/3: 146.

Beberapa hikmah dan faidah puasa, antara lain:

  • Pendidikan atau latihan rohani,
  • Mendidik jiwa agar dapat menguasai diri,
  • Mendidik nafsu agar tidak senantiasa dimanjakan dan dituruti,
  • Mendidik jiwa untuk dapat memegang amanat dengan sebaik-baiknya,
  • Mendidik kesabaran dan ketabahan.

Perbaikan pergaulan

Orang yang ber-Puasa akan merasakan segala kesusahan fakir miskin yang banyak menderita kelaparan dan kekurangan. Dengan demikian akan timbul rasa suka menolong kepada orang-orang yang menderita.

Kesehatan

Ibadah Puasa Ramadhan akan membawa faedah bagi kesehatan rohani dan jasmani jika pelaksanaannya sesuai dengan panduan yang telah ditetapkan, jika tidak maka hasilnya tidaklah seberapa, malah mungkin ibadah Shoum/Puasa kita sia-sia saja.

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya : “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”(Q.S. Al-A’Raaf ayat 31)

Demikianlah telah dijelaskan tentang Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya. Semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian. Terimakasih.

√ Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do’anya

Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do'anya

Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do’anya – Pada pembahasan kali ini Pengetahuan Islam akan menjelaskan tentang Tata Cara Sholat Ghoib. Ketika kita tidak bisa bertakziah karena kemungkinan jauh dan lain-lainya, di dalam islam tentu saja ada solusi untuk setiap permasalah yang kita hadapi. Untuk lebih jelasnya mari kita simak artikel di bawah ini.

Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do’a nya

Dalam sholat Ghoib tentunya masih banyak saudara kita yang bertanya-tanya bagaima cara mengerjakannya.

Sholat Mayit sendiri bukanlah merupakan fardu ‘ain, akan tetapi fardhu kifayah, yang mana hukum tersebut bisa menjadi wajib ketika pada suatu daerah tersebut tidak ada yang mensholati. Sedangkan untuk Sholat Ghoib sendiri adalah sunnah hukumnya, dan bisa di kerjakan kapan saja setelah orang tersebut meninggal.

Lantas bagaimana tata cara sholat ghoib untuk mayit perempuan dan laki-laki saat bersamaan, apakah bisa langsung di kerjakan dalam satu sholatan?. Jawabnya adalah bisa! Dengan cara menjamakkan dalam berdoa, seperti “ALLAHUMMAHFIRLAHUM” dan seterusnya.

Niat Sholat Ghoib untuk Mayit Perempuan

Untuk niat, kita wajib mengucapkan di dalam hati, dan bersamaan dengan takbir. Adapun melafatkan niat dengan bibir itu sunnah hukumnya.

  1. Niat Bagi Imam

أُصَلِّيْ عَلَى هَذِهِ المَيِّتَةِ الْغَائِبَةِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى اللهُ أَكْبَرُ

Usholli ala hadzihil mayyitati al-ghoibati arba’a takbirotin fardhol kifayati Imaman lillahi ta’ala Allahu Akbaar

Artinay: Saya niat sholat untuk mayit perempuan yang ghoib, empat takbir fardhu kifayah menjadi imam karena Allah Ta’ala Allahu Akbar

  1. Niat Bagi Makmum Yang Mengikuti Imam

أُصَلِّيْ عَلَى مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ الْإِمَامُ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ (مَأمُوْمًا) لِلّٰهِ تَعَالَى اللهُ أَكْبَرُ

Usholli ala man sholla alaihil imamu arba’a takbirotin fardhol kifayati (makmuman) lillahi ta’ala Allahu Akbar

Artinya: “Aku niat sholat atas mayyit yang disholati imam empat kali takbir fardu kifayah makmum karena Allah Ta’ala. Allahu Akbar”

Kemudian setelah melaksanakan niat dan takbir secara bersamaan, langkah selanjutnya yaitu membaca surat al-Fatihah.

Surat Al-fatihah

أعُوْذُ ِباللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ * إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ * اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَـيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّالِّينَ

Setelah membaca surat Al-fatihah, kemudian melanjutkan takbir yang ke dua kemudian membaca Sholawat.

Untuk pembacaan sholawat ini bebas, namun yang lebih utama adalah bacaan sholawat ketika kita sedang melakukan tasyahud akhir. seperti contoh dibawah ini.

Bacaan Sholawat

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Setelah selesai membaca sholawat, di teruskan dengan takbir yang ketiga, dengan bacaan do’a.

Seperti berikut:

Bacaan Do’a Untuk Mayit Perempuan

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا وَوَسِّعْ مُدْخَلَهَا وَاغْسِلْهَا بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهَا مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهَا دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهَا وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا وَأَدْخِلْهَا الْجَنَّةَ وَأَعِذْهَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

Artinya: “Ya Allah, ampunilah dia (mayat), berilah rahmat kepadanya, selamatkan lah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkan lah dia di tempat yang mulia, luaskan lah kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkanlah dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju putih dari kotoran. Berilah dia rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga yang lebih baik daripada keluarganya di dunia, istri yang lebih baik dari istrinya (atau suaminya) dan masukkan dia ke surga, jagalah dia dari siksa kubur dan neraka.”

Untuk mayit laki-laki hanya mengubah lafat “HA” menjadi “HU”.

Setelah pembacaan do’a selesai, di teruskan dengan takbir yang ke empat, yakni takbir yang terakhir dengan membaca do’a sebagai berikut.

Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do'anya

Do’a Takbir Ke Empat

اَللَّهُـمَّ لاَتَحْرِمْنَا اَجْرَهَا وَلاَ تَفْتِنَا بَعْدَهَا وَاغْفِرْلَنَا وَلَهَا وَلإخْـوَانِنَـا الَّذِيْنَ سَبَـقُوْنَ بِاْلإِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِـلاً لِلَّذِيْنَ ءَامَنُوْارَبَّنــَا إنَّكَ رَؤُفٌ رَّحِيْم

Artinya: “Ya Allah janganlah kami tidak Engkau beri pahalanya, dan janganlah Engkau beri fitnah kepada kami sesudahnya, dan berilah ampunan kepada kami dan kepadanya.”

Untuk mayit laki-laki juga sama, hanya saja harus mengganti lafat “HA” menjadi “HU”.

Selanjutnya, setelah semuanya di laksanakan, kemudian di akhiri dengan salam.

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ,

Setelah selesai melakukan sholat, di anjurkan bagi kita untuk mendoakan si mayit. Untuk lafat do’a setelah sholat, ini tidak ada ketentuannya, yang jelas kita doakan sebaik-baiknya untuk si mayit.

Contoh Bacaan Do’a Untuk Mayit

الحمدالله ربِّ العلمين.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ، اللَّهُمَّ بِحَقِّ الْفَاتِحَةِ اِعْتِقْ رِقَابَنَا وَرِقَابَ هَذِهِ الْمَيِّتَةِ مِنَ النَّارِ، اللَّهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَ عَلَى هَذِهِ الْمَيَّتَةِ وَاجْعَلْ قَبْرَهَا رَوْضَةً مِّنَ الْجَنَّةِ وَ لَا تَجْعَلْ قَبْرَهَا حُفْرَةً مِنْ حُفَّارِ النِّرَانِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اٰلِهِ وَ صَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Allaahumma shalli ’alaa sayyidinaa muhammadin wa’alaa aali sayyidinaa muhammad. Allahumma bihaqqil faatihati i’tiq riqabanaa wariqaaba haadzal mayyittati minan naari. allahumma anzilirrahmata wal maghfirata alaa haadzihil mayyitati waj’al qabraha raudlatan minal jannati walaa qobrohq hufrotan min huffarin niraani, washallallaahu alaa khairi khalqihi sayyidana muhammadin wa alaa allihi washahbihii ajma’iin, wal hamdu lillahirabbil aalamiin.

Artinya: “Ya Allah, curahkanlah rahmat atas junjungan kita Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad. Ya Allah, dengan berkahnya surat Al Fatihah, bebaskanlah dosa kami dosa mayit ini dari siksaan api neraka.”

Ya Allah, curahkanlah rahmat dan berilah ampun kepada mayit ini. Dan jadikanlah kuburnya taman yang nyaman dari surga dan janganlah Engkau menjadikan kuburnya itu dari galian jurang neraka. Dan semoga Allah memberi rahmat kepada semulia-mulia makhluk-Nya yaitu junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya sekalian, dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.”

Demikianlah Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do’anya semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan pengetahuan Anda.

√ Fiqih Kitab Fathul Qorib : Tata Cara Mandi Besar (Lengkap)

Fiqih Kitab Fathul Qorib - Tata Cara Mandi Besar (Lengkap)

Fiqih Kitab Fathul Qorib : Tata Cara Mandi Besar (Lengkap) – Penyebab hadas besar yang mewajibkan mandi wajib atau mandi besar ada enam perkara. Yaitu keluar mani, bersetubuh, haid, nifas, mati. Sedangkan cara mandi ada tiga yaitu niat, membuang najis yang ada di badan dan mengalirkan air ke seluruh tubuh.

Dalam pembahasan dibawah ini menjelaskan apa yang ada di dalam kitab Fathul Qorib, untuk lebih jelasnya silahkan simak Pengetahuan Islam berikut.

Fiqih Kitab Fathul Qorib : Tata Cara Mandi Besar (Lengkap)

فصل : في موجب الغسل
والغسل لغة سيلان الماء على الشيء مطلقاً وشرعاً سيلانه على جميع البدن بنية مخصوصة (والذي يوجب الغسل ستة أشياء ثلاثة)
منها (تشترك فيها الرجال والنساء وهي التقاء الختانين) ويعبر عن هذا الالتقاء بإيلاج حي واضح غيب حشفة الذكر منه،أو قدرها من مقطوعها في فرج، ويصير الآدمي المولج فيه جنباً بإيلاج ما ذكر، أما الميت فلا يعاد غسله بإيلاج فيه، وأما الخنثى المشكل، فلا غسل عليه بإيلاج حشفته، ولا بإيلاج في قبله
و من المشترك (إنزال) أي خروج (المنيّ) من شخص بغير إيلاج، وإن قل المني كقطرة، ولو كانت على لون الدم، ولو كان الخارج بجماع أو غيره في يقظة أو نوم بشهوة أو غيرها من طريقه المعتاد، أو غيره كأن انكسر صلبه، فخرج منيه
و من المشترك (الموت) إلا في الشهيد (وثلاثة تختص بها النساء وهي الحيض) أي الدم الخارج من امرأة بلغت تسع سنين، (والنفاس) وهو الدم الخارج عقب الولادة، فإنه موجب للغسل قطعاً (والولادة) المصحوبة بالبلل موجبة للغسل قطعاً، والمجردة عن البلل موجبة للغسل في الأصح.

Pengertian Mandi Besar

Secara bahasa, mandi bermakna mengalirnya air pada sesuatu secara mutlak.

Secara syara’ adalah bermakna mengalirnya air ke seluruh badan disertai niat tertentu.

Hal Mewajibkan Mandi

Sesuatu yang mewajibkan mandi ada enam perkara.

  1. Tiga di antaranya dialami oleh laki-laki dan perempuan, yaitu bertemunya alat kelamin.
  2. Bertemunya alat kelamin ini diungkapkan dengan arti, orang hidup yang jelas kelaminnya yang memasukkan hasyafah penisnya atau kira-kira hasyafah dari penis yang terpotong hasyafahnya ke dalam farji.
  3. Anak Adam yang dimasuki hasyafah menjadi junub sebab dimasuki oleh hasyafah yang telah disebutkan di atas.

Sedangkan untuk mayat yang sudah di mandikan, maka tidak perlu dimandikan lagi ketika dimasuki haysafah.

Adapun khuntsa musykil, maka tidak wajib baginya melakukan mandi sebab memasukkan hasyafahnya atau kemaluannya dimasuki hasyafah. Di antara hal yang di alami oleh laki-laki dan perempuan adalah keluar sperma sebab selain memasukkan hasyafah.

Walaupun sperma yang keluar hanya sedikit seperti satu tetes. Walaupun berwarna darah. Walaupun sperma keluar sebab jima’ atau selainnya, dalam keadaan terjaga atau tidur, disertai birahi ataupun tidak, dari jalur yang normal ataupun bukan seperti punggungnya belah kemudian spermanya keluar dari sana.

Di antara yang dialami oleh keduanya adalah mati, kecuali orang yang mati syahid.

Tiga hal yang mewajibkan mandi adalah tertentu dialami oleh kaum perempuan yaitu,

  1. Haidl, maksudnya darah yang keluar dari seorang wanita yang telah mencapai usia sembilan tahun.
  2. Nifas, yaitu darah yang keluar setelah melahirkan. Maka sesungguhnya nifas mewajibkan mandi secara mutlak.
  3. Melahirkan yang disertai dengan basah-basah mewajibkan mandi secara pasti.

Sedangkan melahirkan yang tidak disertai basah-basah mewajibkan mandi menurut pendapat ashah.

Tata Cara Mandi ada Tiga

فصل: وفرائض الغسل ثلاثة أشياء.
أحدها (النية) فينوي الجنب رفع الجنابة أو الحدث الأكبر ونحو ذلك، وتنوي الحائض أو النفساء رفع حدث الحيض أو النفاس، وتكون النية مقرونة بأول الفرض، وهو أول ما يغسل من أعلى البدن أو أسفله، فلو نوى بعد غسل جزء وجب إعادته (وإزالة النجاسة إن كانت على بدنه) أي المغتسل وهذا ما رجحه الرافعي وعليه فلا تكفي غسلة واحدة عن الحدث والنجاسة، ورجح النووي الاكتفاء بغسلة واحدة عنهما، ومحله ما إذا كانت النجاسة حكمية، أما إذا كانت النجاسة عينية وجب غسلتان عندهما
وإيصال الماء إلى جميع الشعر والبشرة) وفي بعض النسخ بدل جميع أصول، ولا فرق بين شعر الرأس وغيره، ولا بين الخفيف منه والكثيف، والشعر المضفور إن لم يصل الماء إلى باطنه إلا بالنقض وجب نقضه، والمراد بالبشرة ظاهر الجلد، ويجب غسل ما ظهر من صماخي أذنيه ومن أنف مجدوع، ومن شقوق بدن، ويجب إيصال الماء إلى ما تحت القلفة من الأقلف، وإلى ما يبدو من فرج المرأة عند قعودها لقضاء حاجتها، ومما يجب غسله المسربة، لأنها تظهر في وقت قضاء الحاجة، فتصير من ظاهر البدن
وسننه أي الغسل (خمسة أشياء التسمية والوضوء) كاملاً (قبله) وينوي به المغتسل سنة الغسل إن تجردت جنابته عن الحدث الأصغر (وإمرار اليد على) ما وصلت إليه من (الحسد) ويعبر عن هذا الإمرار بالدلك
والموالاة وسبق معناها في الوضوء (وتقديم اليمنى) من شقيه (على اليسرى) وبقي من سنن الغسل أمور مذكورة في المبسوطات منها التثليث وتخليل الشعر.

Niat

Fardlunya mandi ada tiga perkara. Salah satunya adalah niat. Maka orang yang junup niat menghilangkan hadats jinabah, menghilangkan hadats besar atau niat-niat sesamanya. Sedangkan untuk wanita haidl dan wanita nifas, niat menghilangkan hadats haidl atau hadats nifas.

Niat yang dilakukan harus bersamaan dengan awal kefarduan, yaitu awal bagian badan yang terbasuh, baik dari badan bagian atas atau bagian bawah.

Sehingga, kalau dia melakukan niat setelah membasuh bagian badan, maka wajib untuk mengulangi basuhan bagian tersebut.

Menghilangkan Najis di Badan

Fardlu kedua adalah menghilangkan najis jika terdapat di badannya, yaitu badan orang yang melakukan mandi besar. Hal ini (menghilangkan najis) adalah pendapat yang dikuatkan (tarjih) oleh imam ar Rafi’i. Berdasarkan pendapat ini, maka satu basuhan tidak cukup untuk menghilangkan hadats dan najis sekaligus.

Imam An Nawawi men-tarjih (menguatkan) bahwa satu basuhan sudah dianggap cukup untuk menghilangkan hadats dan najis sekaligus.

Tempatnya Pendapat imam an Nawawi ini adalah ketika najis yang berada di badan adalah najis hukmiyah.

Sedangkan jika berupa najis ‘ainiyah, maka wajib melakukan dua basuhan untuk najis dan hadats tersebut.

Mengalirkan Air Ke Seluruh Badan

Fardlu ketiga adalah mengalirkan air ke seluruh bagian rambut dan kulit badan. Dalam sebagian redaksi diungkapkan dengan bahasa “ushul (pangkal)” sebagai ganti dari bahasa “jami’ (seluruh)”.

Tidak ada perbedaan antara rambut kepala dan selainnya, antara rambut yang tipis dan yang lebat.

Rambut yang digelung, jika air tidak bisa masuk ke bagian dalamnya kecuali dengan diurai, maka wajib untuk diurai. Yang dikehendaki dengan kulit adalah kulit bagian luar.

Wajib membasuh bagian-bagian yang nampak dari lubang kedua telinga, hidung yang terpotong dan cela-cela badan. Dan wajib mengalirkan air ke bagian di bawah kulupnya orang yang memiliki kulup (belum disunnat). Dan mengalirkan air ke bagian farji perempuan yang nampak saat ia duduk untuk buang hajat.

Di antara bagian badan yang wajib dibasuh adalah masrabah (tempat keluarnya kotoran (Bol : jawa). Karena sesungguhnya bagian itu nampak saat buang hajat sehingga termasuk dari badan bagian luar.

Sunnahnya Mandi Ada Lima

Sunnahnya mandi ada lima yaitu

  1. Membaca basmalah,
  2. Berwudhu secara sempurna sebelum mandi dengan niat untuk kesunnahan mandi apabila janabahnya sepi dari hadas kecil,
  3. Menggerakkan dan menggosokkan tangan pada tubuh yang terjangkau tangan. Pergerakan tangan ini disebut dengan dalk (menggosok).
  4. Bersegera (muwalat) yang maknanya sudah dijelaskan dalam bab wudhu.
  5. Mendahulukan yang kanan dari dua sisi tubuh dan mengakhirkan yang kiri.

Masih ada sunnah-sunnahnya mandi yang disebut dalam kitab mabsutot salah satunya menigalikan dan menyela-nyela rambut.

Mandi Besar yang Disunnahkan

فصل : والاغتسالات المسنونة سبعة عشر غسلا (غسل الجمعة) لحاضرها ووقته من الفجر الصادق
(و غسل (العيدين) الفطر والأضحى، ويدخل وقت هذا الغسل بنصف الليل (والاستسقاء) أي طلب السقيا من الله
(والخسوف) للقمر (والكسوف) للشمس (والغسل من) أجل (غسل الميت) مسلماً كان أو كافراً)
و غسل (الكافر إذا أسلم) إن لم يجنب في كفره أو لم تحض الكافرة، وإلا وجب الغسل بعد الإسلام في الأصح، وقيل يسقط إذا أسلم (والمجنون والمغمى عليه إذا أفاقا) ولم يتحقق منهما إنزال فإن تحقق منهما إنزال وجب الغسل على كل منهما
والغسل عند إرادة (الإحرام) ولا فرق في هذا الغسل بين بالغ وغيره، ولا بين مجنون وعاقل، ولا بين طاهر وحائض، فإن لم يجد المحرم الماء تيمم.
و الغسل (لدخول مكة) لمحرم بحج أو عمرة (وللوقوف بعرفة) في تاسع ذي الحجة (وللمبيت بمزدلفة ولرمي الجمار الثلاث) في أيام التشريق الثلاث، فيغتسل لرمي كل يوم منها غسلاً، أما رمي جمرة العقبة في يوم النحر، فلا يغتسل له لقرب زمنه من غسل الوقوف
و الغسل (للطواف) الصادق بطواف قدوم وإفاضة ووداع، وبقية الأغسال المسنونة مذكورة في المطولات

Mandi-mandi yang disunnahkan

  1. Mandi Jum’at bagi orang yang hendak menghadirinya. Dan waktunya mulai dari terbitnya fajar shadiq.
  2. Mandi dua hari raya, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adlha. Waktunya mandi ini mulai tengah malam.
  3. Mandi sholat istisqa’, yaitu meminta siraman dari Allah Swt.
  4. Mandi karena hendak melakukan sholat gerhana rembulan dan gerhana matahari.
  5. Mandi karena memandikan mayat orang Islam atau kafir.
  6. Mandinya orang kafir ketika masuk Islam jika dia tidak junub di masa kufurnya. Atau wanita kafir yang tidak mengalami haidl -saat masih kufur-. Jika junub atau haidl, maka wajib bagi mereka berdua untuk melakukan mandi setelah masuk Islam menurut pendapat al ashah. Ada yang mengatakan bahwa kewajiban mandinya telah gugur ketika masuk Islam.
  7. Mandinya orang gila atau pingsan ketika keduanya telah sembuh dan tidak dipastikan mereka berdua telah mengeluarkan sperma (saat belum sembuh). Sehingga, jika dipastikan bahwa keduanya telah mengeluarkan sperma, maka wajib bagi mereka berdua untuk mandi.
  8. Mandi ketika hendak ihram. Dalam mandi ini, tidak ada perbedaan antara orang sudah baligh dan selainnya, antara orang gila dan orang yang memiliki akal sehat, antara orang yang suci dan wanita yang haidl. Jika orang yang ihram itu tidak menemukan air, maka sunnah melakukan tayammum.
  9. Mandi karena hendak masuk Makkah bagi orang yang ihram haji atau umrah.
  10. Mandi karena wukuf di Arafah pada tanggal sembilan Dzul Hijjah.
  11. Mandi karena untuk mabit (bermalam) di Muzdalifah, dan karena untuk melempar jumrah tsalats (tiga jumrah) pada tiga hari tasyrik. Maka dia sunnah melakukan mandi untuk melempar jumrah setiap hari dari tiga hari tasyrik.
    Sedangkan untuk melempar jumrah Aqabah di hari Nahar (hari raya kurban), maka dia tidak sunnah mandi karena hendak melakukannya, sebab waktunya terlalu dekat dari mandi untuk wukuf.
  12. Mandi karena untuk melakukan thawaf yang mencakup thawaf Qudum, Ifadlah dan Wada’.

Fiqih Kitab Fathul Qorib - Tata Cara Mandi Besar (Lengkap)

Sisa-sisa mandi yang disunnah telah dijelaskan di kitab-kitab yang panjang keterangan.

Niat mandi Hari Raya Idul Fitri dalam bahasa Arab

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِيَوْمِ عِيْدِ الْفِطْرِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

Dalam bahasa Latin: nawaitul ghusla liyaumi ‘iidil fithri sunnatan lillaati ta’aala

Artinya: Sengaja saya mandi pada hari Raya Idul Fitri sunnah karena Allah Taala

Niat mandi Haid dalam bahasa Arab

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ الْحَيْضِ ِللهِ تَعَالَى

“Nawaitul Ghusla Lifraf il Hadatsil Akbari minal Haidil Lillahi Ta’ala”

Artinya: Saya berniat mandi wajib untuk mensucikann hadast besar dari haid karena Allah Ta’ala.

Demikian ulasan tentang Fiqih Kitab Fathul Qorib : Tata Cara Mandi Besar (Lengkap) Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu penggetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah

Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah

Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Wudhu. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan tentang pengertian niat, tertib wudhu dan air dua qullah dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya silahkan simak penjelasan Pengetahuan Islam berikut ini dengan seksama.

Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah

Kali ini melengkapi bahasan wudhu, kita bahas tentang niat, tertib wudhu, hingga air dua qullah dari matan Safinatun Najah.

Pengertian Niat dan Tertib

النِّيَّةُ: قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرِناً بِفِعْلِهِ. وَمَحَلُّهَا: الْقَلْبُ. وَالتَّلَفُّظُ بِهَا: سُنَّةٌ. وَوَقْتُهَا، عِنْدَ غَسْلِ أَوَّلِ جُزْءٍ مِنَ الْوَجْهِ

وَالتَّرْتِيْبُ: أَنْ لاَ يُقَدَّمَ عُضْوٌ عَلَى عُضْوٍ

Fasal: niat adalah menyengaja sesuatu yang dibarengi dengan mengerjakannya dan tempat niat ada di dalam hati. Melafazhkannya adalah sunnah. Waktu niat adalah saat membasuh bagian pertama dari wajah.

Maksud tertib adalah bagian yang pertama tidak didahului bagian yang lain.

Hukum Air

المَاءُ قَلِيْلٌ وَكَثِيْرٌ

فَالْقَلِيْلُ: مَا دُوْنَ الْقُلَّتَيْنِ

وَالْكَثِيْرُ: قُلَّتَانِ فَأكْثَرُ

وَالقَلِيْلُ: يَتَنَجَّسُ بِوُقُوْعِ النَّجَاسَةِ فِيْهِ، وَإِن لَمْ يَتَغَيَّرْ

وَالْمَاءُ الْكَثِيْرُ: لاَ يَتَنَجَّسُ إِلاَّ إذا تَغَيَّرَ طَعْمُهُ، أَوْ لَوْنُهُ، أوْ رِيْحُهُ

Fasal: Air sedikit dan banyak. Air sedikit itu jika kurang dari dua qullah dan air banyak jika lebih dari dua qullah. Air sedikit menjadi najis dengan jatuhnya benda najis ke dalamnya meskipun tidak berubah. Sementara air banyak tidak menjadi najis dengan jatuhnya benda najis ke dalamnya kecuali jika berubah rasanya, warnanya, atau aromanya.

Catatan Dalil

Pertama

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ – رضي الله عنه – قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ: إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ – وَفِي رِوَايَةٍ: بِالنِّيَّةِ – وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى , فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ , فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ , وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا , فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ

Artinya : Dari ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niat (an-niyyaat)—dalam riwayat lain dengan lafazh niyat—dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907)

Pelajaran penting

Niat merupakan syarat sah wudhu dan ini jadi pendapat jumhur ulama (Malikiyah, Syafi’iyah, Hanabilah), juga madzhab Zhahiriyah.

Niat itu berarti bermaksud dan berkehendak. Letak niat adalah di dalam hati. Niat dalam hati sudah teranggap berdasarkan kesepakatan ulama, cuma mereka berbeda pandangan apakah niat perlu dilafazhkan ataukah tidak.

Jika berbeda antara yang diucap dengan yang diniatkan dalam hati, maka yang jadi patokan adalah niatan di hati.

Jika manusia dalam keadaan uzur untuk beramal, ia akan tetap diganjar. Karena seandainya ia tidak ada uzur atau halangan, tentu ia akan beramal. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Artinya : “Jika seorang hamba sakit atau bersafar, maka dicatat baginya amalan seperti ia dalam keadaan mukim dan sehat.” (HR. Bukhari, no. 2996)

Kedua

Apa dalil untuk tartib (berurutan) dalam wudhu?

Dalilnya adalah ayat wudhu (surah Al-Maidah ayat 6). Allah menyebutkannya secara berurutan dan meletakkan mengusap (pada kepala) di antara dua membasuh.

Juga ketika ditunjukkan praktik wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berurutan dan beliau tidak pernah meninggalkan tartib tersebut.

Tartib dalam wudhu adalah dengan memulai dari membasuh wajah, lalu membasuh kedua tangan sampai siku, lalu mengusap kepala, kemudian membasuh kedua kaki sampai mata kaki.

Jika seseorang membasuh langsung empat anggota wudhunya satu kali siraman, maka tidaklah sah kecuali yang sah hanya membasuh wajahnya saja karena urutannya yang pertama. Lihat perkataan Imam Asy-Syairazi. (Al-Majmu’, 1:248)

Ketiga

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجِّسْهُ شَىْءٌ

Artinya : “Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak ada sesuatupun yang menajiskannya.” (HR. Ibnu Majah, no. 424. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Keterangan

Air dua qullah adalah air seukuran 500 rothl ‘Iraqi yang seukuran 90 mitsqol. Jika disetarakan dengan ukuran sho’, dua qullah sama dengan 93,75 sho’. Lihat Tawdhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram, Syaikh Ali Basam, 1:116, Penerbit Darul Atsar, Cetakan pertama, Tahun 1425 H.

Sedangkan 1 sho’ seukuran 2,5 atau 3 kg. Jika massa jenis air adalah 1 kg/liter dan 1 sho’ kira-kira seukuran 2,5 kg; berarti ukuran dua qullah adalah 93,75 x 2,5 = 234,375 liter. Jadi, ukuran air dua qullah adalah ukuran sekitar 200 liter. Gambaran riilnya adalah air yang terisi penuh pada bak yang berukuran 1 m x 1 m x 0,2 m.

Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah

Pelajaran penting

Dari hadits dua qullah ini, secara mantuq (tekstual), apabila air telah mencapai dua qullah maka ia sulit dipengaruhi oleh najis. Namun, jika air tersebut berubah rasa, bau atau warnanya karena najis, maka dia menjadi najis berdasarkan ijmak (kesepakatan para ulama).

Sebagian ulama seperti Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, Ahmad dan pengikut mereka menyatakan bahwa jika air kurang dari dua qullah, air tersebut menjadi najis dengan hanya sekadar kemasukan najis walaupun tidak berubah rasa, warna atau baunya.

Namun ulama lainnya seperti Imam Malik, ulama Zhahiriyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahb dan ulama Najd menyatakan bahwa air tidaklah menjadi najis dengan hanya sekadar kemasukan najis.

Sebagian ulama Syafi’iyah juga ada yang berpendapat dengan pendapat ini. Air tersebut bisa menjadi najis apabila berubah salah satu dari tiga sifat yaitu rasa, warna atau baunya. Karena ada sebuah hadits yang menyebutkan,

إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَىْءٌ

Artinya : “Sesungguhnya air itu suci, tidak ada yang dapat menajiskannya.” (HR. Abu Daud, No. 67; Tirmidzi, no. 66. Imam Nawawi dalam Al-Majmu’, 1:82 menyatakan bahwa hadits ini shahih. As-Suyuthi juga dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir, 2089 menshahihkan hadits ini)

Demikian ulasan tentang Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ 15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat

15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat

15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat – Pada pembahasan kali ini Pengetahuan Islam akan menjelaskan tentang 15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat. Setiap perbuatan yang kita lakukan pasti ada balasannya kelak di hari kiamat, walaupun sekecil rambut yang di belah menjadi 7 bagian, Apalagi Sholat. Untuk lebih detailnya silahkan simak artikel di bawah ini.

15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat

Shalat adalah kewajiban bagi kita semua sebagai seorang muslim yang sudah balliq. Entah dalam keadaan apapun, dan di manapun, sholat tidak boleh kita tinggalkan walaupun satu kali. Karena kewajiban kita, maka haruslah dikerjakan. Sesungguhnya Allah SWT adalah Maha Besar, Maha Pengasih,Maha Penyayang dan juga maha pengampun, bagi hambanya yang mau bertaubat deng bersungguh-sungguh. Sesungguhnya tanpa Kita sadari, kita sudah banyak diberikan kenikmatan di dunia ini sampai tak terhitung jumlahnya. Maka dari itu kita wajib mensyukuri nikmat-nikmat tersebut dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya.

Salah satu perintah Allah kepada kita sebagai umat Islam adalah menunaikan ibadah shalat fardhu 5 waktu:

Nabi muhammad Saw Bersabda:

“Barang siapa yang menyepelekan sholat (menggampangkan sholat), maka Allah akan menyiksanya dengan lima belas macam siksaan; enam siksaan di dunia, tiga siksaan ketika menjelang mati, tiga siksaan di alam kubur dan tiga siksaan ketika keluar dari alam kubur”. (Qurtubi(Qurratul ‘uyun: hlm.2).

15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat

Semoga kita tidak tergolong orang-orang yang meninggalkan atau melalaikan sholat. Adapun 15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat adalah sebagai berikut:

  1. 6 Macam balasan Ketika masih Di Dunia

  • Allah SWT akan menghilangkan keberkahan dari umurnya
  • Tanda kesholehannya akan dihapus oleh Allah SWT dari keningnya
  • Semua amalnya tidak akan diberi pahala oleh Allah SWT.
  • Allah SWT tidak akan mengangkat do’a nya ke langit
  • Semua makhluk di dunia akan menyepelekannya
  • Dan dia tidak akan mendapatkan bagian doanya orang-orang shaleh
  1. 3 Macam Balasan Ketika Sakarotul Maut

  • Akan mati dalam keadaan hina
  • Akan mati dalam keadaan lapar, seperti orang yang berada di lumbung padi tapi ia kelaparan
  • Akan mati dalam keadaan haus, seperti orang yang berada di laut namun ia kehausan
  1. 3 Macam Balasan Ketika Berada Di Alam Kubur

  • Si mayit akan Disemprit Kan kuburnya oleh Allah SWT dan akan dihimpit sampai terasa ke tulang rusuk
  • Kuburannya akan di penuhi dengan api neraka
  • Yang terakhir, akan datangnya Ular Syuja’al Aqro’ ular yang diciptakan dari api neraka

Ular itu pun berkata kepada si mayit : “Aku adalah Syuja’al-Aqro’, suaranya pun tak terbayangkan seperti apa dahsyatnya, dan ular itu berkata: “Tuhanku menyuruhku agar memukulmu karena kau telah menyia-nyiakan sholat subuh dari subuh sampai dzuhur, dari dzuhur sampai asar, dari asar sampai magrib, dari magrib sampai isya, dan dari isya sampai subuh. Kemudian ular itu si mayit, namun satu kali pukulannya, ia akan masuk kedalam tanah sedalam ukuran 70 hasta, lalu ular Syuja’al-Aqro’ memasukkan kukunya kebawah tanah untuk mengeluarkannya kembali, dan seterusnya tanpa henti sampai hari kiamat tiba, maka dari itu kita mohon perlindungan kepada Allah dari siksa kubur.” (Qurtubi (Qurratul ‘uyun; hlm.4).

  1. 3 Macam Balasan Pada Saat Hari Kiamat

  • Mereka akan di kumpulkan bersama orang-orang yang diseret mukanya menuju neraka jahanam
  • Mereka akan merasakan daging dan mukanya leleh berjatuhan
  • Dan yang terakhir Hisabnya akan di beratkan

Itulah sebagian balasan Allah kepada hambanya yang suka meninggalkan sholat. Tentunya masih banyak lagi yang tidak kita ketahui. Semoga kita di jauhkan dari golongan tersebut, semoga setelah kita mengetahui ini, bisa menambah keimanan dan ketaqwaan kita Kepada Allah SWT. Dan menjalankan perintah-perintahnya.

Besarnya Dosa karena Meninggalkan Shalat 5 Waktu

  1. Shalat shubuh: Allah akan menenggelamkannya kedalam neraka jahanam selama 60 tahun, sama halnya 1000 tahun di dunia = 1 hari di akhirat.
  2. Dzuhur: Meninggalkan shalat dzuhur dosanya sama halnya seperti membunuh 1000 orang muslim
  3. Ashar: Ketika meninggalkan sholat ashar, sama halnya Seperti dosanya orang yang menghancurkan ka’bah
  4. Maghrib: Meninggalkan shalat maghrib sama halnya seperti berzina dengan orang tuanya sendiri
  5. Isya: “Sesungguhnya Allah ta’ala telah berfirman: “Hai orang yang meninggalkan sholat isya, bahwa Aku tidak ridho jika kamu tinggal di bumiku dan menggunakan segala nikmat-nikmat Ku, segala yang dikerjakan dan digunakan ialah berdosa kepada Allah SWT.”

Semoga kita di jauhkan oleh Allah dari golongan-golongan tersebut. Aamin….

Demikianlah 15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan bagi kita.

√ Fiqih Haji dan Umroh : Syarat, Rukun & Penjelasannya (Lengkap)

Fiqih Haji dan Umroh : Syarat, Rukun & Penjelasannya (Lengkap) – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Haji dan Umroh. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan syarat haji, rukun haji, syarat umroh dan rukun umroh dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya yuk simak ulasan berikut ini.

Fiqih Haji dan Umroh : Syarat, Rukun & Penjelasannya (Lengkap)

Haji adalah ibadah yang wajib dilaksanakan sekali seumur hidup oleh setiap muslim yang memenuhi syarat. Rukun haji adalah hal terpenting yang harus diketahui. Karena, meninggalkan rukun haji berarti tidak sah hajinya. Kewajiban-kewajiban haji juga harus diketahui agar supaya terhindar dari membayar dam (denda) dan agar lebih sempurna ibadahnya. Begitu juga ibadah umroh.

Adapun keterangan ini diambil dari kitab Terjemah Kitab Fathul Qorib. Karangan beliau Abu Abdillah Muhammad bin Qasim bin Muhammad Al-Ghazi ibn Al-Gharabili yang sudah masyhur.

Hukum Haji

كتاب أحكام الحج

وهو لغة القصد وشرعاً قصد البيت الحرام للنسك (وشرائط وجوب الحج سبعة أشياء) وفي بعض النسخ سبع خصال (الإسلام والبلوغ والعقل والحرية) فلا يجب الحج على المتصف بضد ذلك (ووجود الزاد) وأوعيته إن احتاج إليها وقد لا يحتاج إليها كشخص قريب من مكة، ويشترط أيضاً وجود الماء في المواضع المعتاد حمل الماء منها بثمن المثل (و) وجود (الراحلة) التي تصح له بشراء أو استئجار هذا إذا كان الشخص بينه وبين مكة مرحلتان فأكثر سواء قدر على المشي أم لا، فإن كان بينه وبين مكة دون مرحلتين، وهو قوي على المشي لزمه الحج بلا راحلة، ويشترط كون ما ذكر فاضلاً عن دينه وعن مؤنة من عليه مؤنتهم مدة ذهابه وإيابه، وفاضلاً أيضاً عن مسكنه اللائق به، وعن عبد يليق به (وتخلية الطريق) والمراد بالتخلية هنا أمن الطريق ظناً بحسب ما يليق بكل مكان، فلو لم يأمن الشخص على نفسه أو ماله أو بضعه، لم يجب عليه الحج وقوله (وإمكان المسير) ثابت في بعض النسخ، والمراد بهذا الإمكان أن يبقى من الزمان بعد وجود الزاد والراحلة ما يمكن فيه السير المعهود إلى الحج، فإن أمكن إلا أنه يحتاج لقطع مرحلتين في بعض الأيام لم يلزمه الحج للضرر.

وأركان الحج أربعة) أحدها (الإحرام مع النية) أي نية الدخول في الحج (و) الثاني (الوقوف بعرفة) والمراد حضور المحرم بالحج لحظة بعد زوال الشمس يوم عرفة، وهو اليوم التاسع من ذي الحجة بشرط كون الواقف أهلاً للعبادة لا مغمى عليه، ويستمر وقت الوقوف إلى فجر يوم النحر، وهو العاشر من ذي الحجة (و) الثالث (الطواف بالبيت) سبع طوفات جاعلاً في طوافه البيت عن يساره مبتدئاً بالحجر الأسود محاذياً له في مروره بجميع بدنه، فلو بدأ بغير الحجر لم يحسب له (و) الرابع (السعي بين الصفا والمروة) سبع مرات وشرطه أن يبدأ في أول مرة بالصفا، ويختم بالمروة ويحسب ذهابه من الصفا إلى المروة مرة وعوده إليه مرة أخرى، والصفا بالقصر طرف جبل أبي قبيس، والمروة بفتح الميم وبقي من أركان الحج الحلق أو التقصير إن جعلنا كلاًّ منهما نسكاً، وهو المشهور، فإن قلنا إن كلاًّ منهما استباحة محظور فليسا من الأركان، ويجب تقديم الإحرام على كل الأركان السابقة

وأركان العمرة ثلاثة) كما في بعض النسخ، وفي بعضها أربعة أشياء (الإحرام والطواف والسعي والحلق أو التقصير في أحد القولين) وهو الراجح كما سبق قريباً وإلا فلا يكون من أركان العمرة

Definisi Haji

Pengertian Haji secara bahasa adalah menyengaja. Menurut secara syara’ adalah menyengaja pergi ke Baitul Haram guna melaksanakan ibadah.

Syarat-Syarat Wajib Haji

Syarat-syarat kewajiban haji ada tujuh perkara.

Di dalam sebagian redaksi menggunakan bahasa tujuh khishal.

Yaitu Islam, baligh, berakal, dan merdeka. Maka haji tidak wajib bagi orang yang memiliki sifat kebalikan dari sifat-sifat tersebut.

Dan wujudnya bekal dan wadah bekal jika ia memerlukannya.

Dan terkadang ia tidak memerlukannya, seperti orang yang dekat dengan negara Makkah.

Dan juga disyaratkan harus ada air di tempat-tempat yang sudah biasa membawa air dari situ yang dijual dengan harga standar.

Dan adanya kendaraan yang layak bagi orang seperti dia, baik dengan membeli atau menyewa.

Hal ini jika jarak seseorang dengan Makkah mencapai dua marhalah atau lebih, baik ia mampu berjalan ataupun tidak.

Jika jarak di antara dia dan Makkah kurang dari dua marhalah dan ia mampu untuk berjalan, maka wajib melaksanakan haji tanpa harus naik kendaraan.

Semua hal yang telah disebutkan di atas disyaratkan harus melebihi dari hutangnya dan biaya orang yang wajib ia nafkahi selama berangkat haji. Dan juga harus lebih dari rumah dan budak yang layak baginya.

Dan sepinya jalan. Yang dikehendaki dengan sepi di sini adalah dugaan aman di perjalanan sesuai dengan apa yang terdapat pada setiap tempat.

Jika seseorang tidak aman pada diri, harta atau kemaluannya, maka bagiya tidak wajib untuk melaksanakan haji.

Perkataan mushannif “dan memungkinkan untuk menempuh perjalanan” terdapat di sebagian redaksi.

Yang dikehendaki dengan mungkin ini adalah setelah menemukan bekal dan kendaraan, masih ada waktu yang mungkin untuk digunakan berangkat haji dengan cara yang semestinya.

Jika mungkin ditempuh, hanya saja ia butuh menempuh dua marhalah dalam jangka waktu sebagian dari hari-hari yang sudah terbiasa, maka baginya tidak wajib melaksanakan haji karena hal tersebut menyulitkan.

Rukun-Rukun Haji

Rukun-rukun haji ada empat.

Salah satunya adalah ihram disertainya niat, maksudnya niat masuk di dalam ibadah haji.

Yang ke dua adalah wukuf di Arafah.

Yang dikehendaki adalah kehadiran orang yang ihram haji dalam waktu sebentar setelah tergelincirnya matahari di hari Arafah, yaitu hari ke sembilan dari bulan Dzul Hijjah.

Dengan syarat orang yang wukuf termasuk ahli untuk melakukan ibadah, bukan orang yang sedang gila dan bukan orang yang epilepsi.

Waktu wukuf tetap berlanjut hingga terbitnya fajar hari raya kurban, yaitu hari ke sepuluh dari bulan Dzul Hijjah.

Yang ke tiga adalah thawaf di Baitulllah sebanyak tujuh kali thawafan.

Saat tahwaf, ia memposisikan Baitullah di sebelah kirinya dan memulai dari Hajar Aswad tepat lurus dengan seluruh badannya saat berjalan.

Seandainya ia memulai thawaf dari selain Hajar Aswad, maka thawaf yang ia lakukan tidak dianggap.

Rukun ke empat adalah sa’i di antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.

Syaratnya adalah memulai sa’i pertama dari bukit Shafa dan di akhiri di bukit Marwah.

Perjalanannya dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali, dan kembali dari Marwah ke Shafa juga dihitung satu kali.

Shafa, dengan alif qashr di akhirnya, adalah tepi gunung Abi Qubais.

Dan Marwah, dengan terbaca fathah huruf mimnya, adalah nama suatu tempat yang sudah dikenal di Makkah.

Masih ada rukun-rukun haji yang tersisa, yaitu mencukur atau memotong rambut, jika kita menjadikan masing-masing dari keduanya termasuk rangkaian ibadah haji. Dan ini adalah pendapat yang masyhur.

Jika kita mengatakan bahwa masing-masing dari keduanya adalah bentuk perbuatan untuk memperbolehkan hal-hal yang diharamkan saat haji, maka keduanya bukan termasuk rukun-rukun haji.

Dan wajib mendahulukan ihram dari semua rukun-rukun haji yang lain.

Rukun-Rukun Umrah

Rukun-rukun umrah ada tiga sebagaimana yang terdapat di sebagian redaksi. Dan di dalam sebagian redaksi ada empat perkara.

Yaitu ihram, thawaf, sa’i, dan mencukur atau memotong rambut menurut salah satu dari dua pendapat, dan ini adalah pendapat yang kuat sebagaimana keterangan yang telah lewat barusan.

Jika tidak menurut pendapat yang kuat, maka keduanya bukan termasuk rukun umrah.

Demikian ulasan singkat tentang Fiqih Haji dan Umroh : Syarat, Rukun & Penjelasannya (Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan  menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya (Bahas Lengkap)

Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya

Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya (Bahas Lengkap) – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Perbedaan Haji dan Umroh. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan pengertian haji dan umroh serta perbedaan haji dan umroh dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih lengkapnya simak Artikel berikut ini.

Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya (Bahas Lengkap)

Istilah dalam haji dan umroh bukanlah hal yang asing lagi sebagai umat muslim. Antara Haji dan Umroh tentu memiliki perbedaan.

Dalam hal apa yang  menjadikannya pembeda antara kedua ibadah tersebut. Sebelum membahasa mengenai perbedaan haji dan umroh, alangkah baiknya untuk mengetahui pengertian dari keduanya terlebih dahulu.

Pengertian Haji dan Umroh

Haji merupakan salah satu dari rukun islam yang ke 5 (lima). Dimana hukum dari ibadah Haji adalah wajib bagi orang yang memiliki kemampuan untuk mengerjakannya baik dari sisi fisik maupun finansialnya.

Sedangkan umroh ialah ibadah yang hampir sama dengan ibadah haji namun memiliki hukum yang tidak wajib atau sunnah untuk dikerjakan. Ibadah umroh dapat dikerjakan setiap hari, dikecualikan pada hari diselenggarakannya ibadah haji.

Perbedaan Haji dan Umroh

Setelah melihat dari pengertiannya, keduanya memang memiliki beberapa perbedaan. Adapun perbedaan Haji dan Umroh adalah sebagai berikut:

Perbedaan Hukum

Perbedaan pertama pada haji dan umroh yang utama terletak pada hukumnya. Haji adalah salah satu rukun islam yang ke 5 dan wajib dikerjakan bagi umat muslim. Dengan catatan bagi yang melaksanakan mampu secara fisik dan finansial untuk mengerjakannya. Sedangkan Umroh adalah sunnah muakad atau sunnah yang diutamakan.

Seperti dikutip dari firman Allah SWT dalam QS Ali Imron Ayat 97 dan Hadist Tirmidzi yang berbunyi:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِي

Artinya:

“Menunaikan ibadah haji adalah kewajiban terhadap Allah, yaitu bagi mereka yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari kewajiban haji ini, maka sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Kaya yang tidak memerlukan sesuatu apapun dari semesta alam.” (QS. Ali Imron Ayat 97)

Sedangkan dari Hadist jabir bin ‘Abdillah RA, ia berkata yang artinya:

“Rasulullah SAW ditanya mengenai wajib ataukah sunnah bagi umat muslim untuk menunaikan umroh. Nabi SAW kemudian menjawab, “Tidak. Jika kau berumroh maka itu lebih baik.” (HR. Tirmidzi)

Perbedaan Waktu Pelaksanaan

Saat pelaksanaannya, ibadah haji hanya dilakukan pada bulan haji yaitu pada tanggal 9 sampai 13 bulan Dzulhijjah. Di lain waktu tersebut, ibadah haji tidak dapat dilaksanakan. Artinya, ibadah haji hanya bisa dikerjakan setahun sekali.

Sedangkan unutk ibadah umroh dapat dikerjakan sewaktu-waktu kecuali pada tanggal yang dimakruhkan, yaitu hari Arofah pada tanggal 9 Dzulhijah, hari Nahar pada tanggal 10 Dzulhijjah dan hari tasyrik atau tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah. Intinya, dalam pelaksanaan ibadah umroh tidak dapat dikerjakan bersamaan pada waktu dilangsungkannya ibadah haji.

Perbedaan Tempat Pelaksanaan

Selain perbedaan waktu pelaksanannya, terdapat juga perbedaan dalam tempat pelaksanaannya. Haji dan Umroh memang dilaksanakan di Makkah, namun pada ibadah haji seseorang harus menunaikan rukun yang bertempat di luar Makkah. Adapun rukunnya ialah melakukan wukuf di Arafah, mabit (menginap) di Muzdhalifah serta melempar jumroh di Mina.

Perbedaan Tingkat Keramaian

Dalam melaksanakan ibadah haji, semua umat muslim dari seluruh dunia melaksanakannya secara serentak. Tidak heran, wilayah Makkah menjadi membludak dengan jamaah haji pada saat itu dan menyebabkan keramaian yang sangat luar biasa.

Lain halnya dengan ibadah umroh, ibadah umroh dapat dikerjakan sewaktu-waktu selain di hari yang telah dijelaskan sebelumnya. Oleh karena itu, tingkat keramaiannya pun tidak sepadat dan seramai pada saat dilaksanakannya ibadah haji. Bagi jamaah umroh tidak perlu berdesak-desakan saat melaksanakan setiap rukun ibadah umroh.

Perbedaan Rukun

Perbedaan terakhir diantara keduanya yaitu dari tata cara pelaksanaan Haji dan Umroh atau rukun Haji dan Umroh. Pada saat umroh, seseorang menunaikan rukun umroh yaitu Ihram, Tawaf, Sya’i, dan Tahalul.

Sedangkan pada saat menunaikan ibadah haji, semua rukun tersebut dilakukan dengan menambah 3 rukun haji yaitu wukuf di Arafah, mabit (menginap) di Muzdhalifah, dan melempar jumroh di Mina.

Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya

Persamaan Haji dan Umroh

Selain perbedaannya, tentu antara Haji dan Umroh juga memiliki persamaan. Adapun persamaan Haji dan Umroh adalah sebagai berikut:

  • Kegiatan haji dan umrah akan mendatangkan Pahala.
  • Antara ibadah haji dan umrah diawali dengan keadaan berihram.
  • Kedua ibadah ini dikerjakan terlebih dahulu dengan mengambil miqat makani.
  • Antara Ibadah haji dan umrah, sama-sama memiliki rukun ihram, thawaf, sa’i, dan Tahalul.

Demikianlah Artikel tentang Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya (Bahas Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan Anda. Terima kasih.

√ Inilah Doa Mandi Wajib & Urutan Tata Cara Yang benar (Lengkap)

Inilah Doa Mandi Junub & Urutan Tata Cara Yang benar (Lengkap)

Inilah Doa Mandi Wajib & Urutan Tata Cara Yang benar (Lengkap) – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Doa Mandi Wajib atau Junub. Dimana dalam pembahasan kali ini menjelaskan doa mandi junub serta tata cara mandi junub dengan benar.

Setiap umat islam sebelum melakukan ibadah sholat wajib 5 waktu, sholat sunnah Dhuha, sholat Tahajjud atau sholat sunnah lainnya diharuskan dalam keadaan suci. Suci yang dimaksud adalah terbebas dari hadas besar ataupun kecil. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini.

Inilah Doa Mandi Wajib & Urutan Tata Cara Yang benar (Lengkap)

Hadas kecil bisa disucikan dengan cara berwudlu, sedang hadas besar diwajibkan untuk melakukan mandi junub atau mandi wajib. Ketika mandi junub ini diharuskan membaca doa mandi junub disertai dengan urutan langkah-langkahnya yang benar agar mandinya sempurna.

Syarat Mandi Wajib atau Junub

Mandi junub atau mandi wajib adalah mandi yang diwajibkan bagi setiap muslim dalam beberapa keadaan. Keadaan itu diantaranya:

  • Keluarnya mani pada kaum pr1a.
  • Bertemunya antara dua organ intim walaupun tidak keluar mani.
  • Ketika berhentinya darah ha1d dan nifas.
  • Ket1ka orang kafir masuk islam.
  • Karena kematian atau meningal dunia.

Doa Mandi Wajib

Sudah menjadi kewajiban kaum muslim, untuk selalu melakukan mandi junub jika habis melakukan kewajibannya sebagai suami istri. Dalam memberikan nafkah batin bagi sang suami ke Istrinya. Tapi selain itu mandi junub juga wajib dilakukan oleh kaum laki-laki yang mengalami mimpi basah.

Biasanya sering terjadi pada para remaja yang masih duduk di SMP ataupun SMA tapi tidak menutup kemungkinan pria dewasa juga bisa mengalaminya.

Tujuan mandi Junub adalah untuk kembali membersihkan diri dari hadas kecil ataupun hadas besar, karena kalau belum melakukannya dianggap masih najis dan belum bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim.

Maka mandi Junub adalah wajib hukumnya bagi kaum muslim sebelum melakukan kegiatan islami sehari-sehari seperti sholat ataupun mengaji. Dalam mandi Junub juga ada adabnya atau aturannya, jadi tidak hanya melakukan mandi seperti biasa, ada-doa yang harus diucapkan dan utamakan membasuh bagian yang sebelah kanan dulu.

Bacaan lafal doa mandi Junub ini adalah Doa yang wajib diketahui oleh Pria dan Wanita karena ini akan sering dilafalkan atau diucapkan.

Niat dan doa mandi junub secara umum

Mandi junub atau mandi besar yang dilakukan oleh laki-laki dewasa atau perempuan yang ingin menghilangkan hadast besar.

Bacaan doa mandi junub dalam bahasa arab
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَكْبَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى
Bacaan doa mandi wajib bahasa Indonesia

“Nawaitul Ghusla Lifrafil Hadatsil Akbari Fardhan Lillahi Ta’aala.”

Arti bacaan doa mandi junub

“Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadast besar fardhu karena Allah ta’aala.”

Niat dan doa mandi junub setelah haid

Haid, mentruasi atau datang bulan adalah keluarnya cairan merah atau mirip darah secara berkala pada seorang wanita. Hal ini dipengaruhi oleh hormon reproduksi baik FSH-Estrogen atau LH-Progesteron.

Masa ini penting dalam hal reproduksi. Pada wanita, normalnya ini terjadi setiap bulan antara usia remaja sampai menopause. Selama sedang haid, seorang wanita dilarang melaksanakan salat, puasa, dan berhubungan int1m dengan suaminya.

Bacaan doa mandi junub setelah haid dalam bahasa arab
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ الْحَيْضِ ِللهِ تَعَالَى
Bacaan doa mandi junub setelah haid dalam bahasa Indonesia

“Nawaitul Ghusla Lifraf il Hadatsil Haidil Lillahi Ta’ala.”

Arti bacaan doa mandi junub setelah haid

“Aku niat mandi wajib untuk mensucikann hadast besar dari haid karena Allah Ta’ala.”

Niat dan doa mandi junub setelah nifas

Nifas adalah keluarnya darah dari rahim seorang wanita karena melahirkan atau setelah melahirkan. Darah nifas akan selalau keluar selama kurang lebih 40 hari setelah melahirkan. Selama masa nifas, seorang wanita dilarang melaksanakan salat, puasa, dan berhubungan int1m dengan suaminya.

Bacaan doa mandi junub setelah nifas dalam bahasa arab
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ النِّفَاسِ ِللهِ تَعَالَى
Bacaan doa mandi junub setelah nifas dalam bahasa Indonesia

“Nawaitul Ghusla Liraf il Hadatsil Nifasi Lillahi Ta’ala.”

Arti bacaan doa mandi junub setelah nifas

“Aku niat mandi wajib untuk mensucikan hadast besar dari nifas karena Allah ta’ala”

Setelah mengucapkan doa mandi Junub maka dilanjutkan dengan tata cara mandi wajibatau urutan mandi Junub yang benar.

Berikut Tata Cara atau Urutan Mandi Junub

  • Diawali dengan niat untuk menghilangkan hadas besar.
  • Membersihkan kedua telapak tangan sebanyak 3x lalu bercebok dengan membersihkan kemaluan serta kotoran yang ada disekitarnya hingga bersih dengan tangan kiri.
  • Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan sampai bersih (Bisa dengan sabun).
  • Melakukan niat wudhu, disini maksudnya melakukan wudhu dengan tata urutan yang sempurna.
  • Mengguyur atau menyiram kepala dengan air sebanyak 3 kali hingga sampai ke pangkal rambut.
  • Mencuci dan membersihkan kepala bagian kanan dilanjutkan dengan kepala bagian kiri.
  • Menyela-nyela (menyilang-nyilang) rambut dengan jari.
  • Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan dilanjutkan dengan bagian kiri.
  • Membersihkan area badan yang susah dijangkau.

Inilah Doa Mandi Junub & Urutan Tata Cara Yang benar (Lengkap)

Untuk membersihkan diri dari hadas selain setelah berhubungan juga harus dilakukan oleh wanita yang selesai masa nifasnya setelah melahirkan dan wanita yang sudah selesai haidnya.

Disunnahkan untuk melakukan mandi junub jinabat dengan urut dan tertib biar sempurna, dan usahakan cipratan air yang digunakan untuk mengguyur tubuh tidak masuk ke kolah atau tempat penampungan air yang digunakan untuk mandi Junub.

Demikian informasi tentang Inilah Doa Mandi Junub & Urutan Tata Cara Yang benar (Lengkap). Dengan melakukan niat dan tata cara yang urut dan benar maka akan membersihkan diri kita dari hadast besar. semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.