√ Fiqih Haji dan Umroh : Syarat, Rukun & Penjelasannya (Lengkap)

Fiqih Haji dan Umroh : Syarat, Rukun & Penjelasannya (Lengkap) – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Haji dan Umroh. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan syarat haji, rukun haji, syarat umroh dan rukun umroh dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya yuk simak ulasan berikut ini.

Fiqih Haji dan Umroh : Syarat, Rukun & Penjelasannya (Lengkap)

Haji adalah ibadah yang wajib dilaksanakan sekali seumur hidup oleh setiap muslim yang memenuhi syarat. Rukun haji adalah hal terpenting yang harus diketahui. Karena, meninggalkan rukun haji berarti tidak sah hajinya. Kewajiban-kewajiban haji juga harus diketahui agar supaya terhindar dari membayar dam (denda) dan agar lebih sempurna ibadahnya. Begitu juga ibadah umroh.

Adapun keterangan ini diambil dari kitab Terjemah Kitab Fathul Qorib. Karangan beliau Abu Abdillah Muhammad bin Qasim bin Muhammad Al-Ghazi ibn Al-Gharabili yang sudah masyhur.

Hukum Haji

كتاب أحكام الحج

وهو لغة القصد وشرعاً قصد البيت الحرام للنسك (وشرائط وجوب الحج سبعة أشياء) وفي بعض النسخ سبع خصال (الإسلام والبلوغ والعقل والحرية) فلا يجب الحج على المتصف بضد ذلك (ووجود الزاد) وأوعيته إن احتاج إليها وقد لا يحتاج إليها كشخص قريب من مكة، ويشترط أيضاً وجود الماء في المواضع المعتاد حمل الماء منها بثمن المثل (و) وجود (الراحلة) التي تصح له بشراء أو استئجار هذا إذا كان الشخص بينه وبين مكة مرحلتان فأكثر سواء قدر على المشي أم لا، فإن كان بينه وبين مكة دون مرحلتين، وهو قوي على المشي لزمه الحج بلا راحلة، ويشترط كون ما ذكر فاضلاً عن دينه وعن مؤنة من عليه مؤنتهم مدة ذهابه وإيابه، وفاضلاً أيضاً عن مسكنه اللائق به، وعن عبد يليق به (وتخلية الطريق) والمراد بالتخلية هنا أمن الطريق ظناً بحسب ما يليق بكل مكان، فلو لم يأمن الشخص على نفسه أو ماله أو بضعه، لم يجب عليه الحج وقوله (وإمكان المسير) ثابت في بعض النسخ، والمراد بهذا الإمكان أن يبقى من الزمان بعد وجود الزاد والراحلة ما يمكن فيه السير المعهود إلى الحج، فإن أمكن إلا أنه يحتاج لقطع مرحلتين في بعض الأيام لم يلزمه الحج للضرر.

وأركان الحج أربعة) أحدها (الإحرام مع النية) أي نية الدخول في الحج (و) الثاني (الوقوف بعرفة) والمراد حضور المحرم بالحج لحظة بعد زوال الشمس يوم عرفة، وهو اليوم التاسع من ذي الحجة بشرط كون الواقف أهلاً للعبادة لا مغمى عليه، ويستمر وقت الوقوف إلى فجر يوم النحر، وهو العاشر من ذي الحجة (و) الثالث (الطواف بالبيت) سبع طوفات جاعلاً في طوافه البيت عن يساره مبتدئاً بالحجر الأسود محاذياً له في مروره بجميع بدنه، فلو بدأ بغير الحجر لم يحسب له (و) الرابع (السعي بين الصفا والمروة) سبع مرات وشرطه أن يبدأ في أول مرة بالصفا، ويختم بالمروة ويحسب ذهابه من الصفا إلى المروة مرة وعوده إليه مرة أخرى، والصفا بالقصر طرف جبل أبي قبيس، والمروة بفتح الميم وبقي من أركان الحج الحلق أو التقصير إن جعلنا كلاًّ منهما نسكاً، وهو المشهور، فإن قلنا إن كلاًّ منهما استباحة محظور فليسا من الأركان، ويجب تقديم الإحرام على كل الأركان السابقة

وأركان العمرة ثلاثة) كما في بعض النسخ، وفي بعضها أربعة أشياء (الإحرام والطواف والسعي والحلق أو التقصير في أحد القولين) وهو الراجح كما سبق قريباً وإلا فلا يكون من أركان العمرة

Definisi Haji

Pengertian Haji secara bahasa adalah menyengaja. Menurut secara syara’ adalah menyengaja pergi ke Baitul Haram guna melaksanakan ibadah.

Syarat-Syarat Wajib Haji

Syarat-syarat kewajiban haji ada tujuh perkara.

Di dalam sebagian redaksi menggunakan bahasa tujuh khishal.

Yaitu Islam, baligh, berakal, dan merdeka. Maka haji tidak wajib bagi orang yang memiliki sifat kebalikan dari sifat-sifat tersebut.

Dan wujudnya bekal dan wadah bekal jika ia memerlukannya.

Dan terkadang ia tidak memerlukannya, seperti orang yang dekat dengan negara Makkah.

Dan juga disyaratkan harus ada air di tempat-tempat yang sudah biasa membawa air dari situ yang dijual dengan harga standar.

Dan adanya kendaraan yang layak bagi orang seperti dia, baik dengan membeli atau menyewa.

Hal ini jika jarak seseorang dengan Makkah mencapai dua marhalah atau lebih, baik ia mampu berjalan ataupun tidak.

Jika jarak di antara dia dan Makkah kurang dari dua marhalah dan ia mampu untuk berjalan, maka wajib melaksanakan haji tanpa harus naik kendaraan.

Semua hal yang telah disebutkan di atas disyaratkan harus melebihi dari hutangnya dan biaya orang yang wajib ia nafkahi selama berangkat haji. Dan juga harus lebih dari rumah dan budak yang layak baginya.

Dan sepinya jalan. Yang dikehendaki dengan sepi di sini adalah dugaan aman di perjalanan sesuai dengan apa yang terdapat pada setiap tempat.

Jika seseorang tidak aman pada diri, harta atau kemaluannya, maka bagiya tidak wajib untuk melaksanakan haji.

Perkataan mushannif “dan memungkinkan untuk menempuh perjalanan” terdapat di sebagian redaksi.

Yang dikehendaki dengan mungkin ini adalah setelah menemukan bekal dan kendaraan, masih ada waktu yang mungkin untuk digunakan berangkat haji dengan cara yang semestinya.

Jika mungkin ditempuh, hanya saja ia butuh menempuh dua marhalah dalam jangka waktu sebagian dari hari-hari yang sudah terbiasa, maka baginya tidak wajib melaksanakan haji karena hal tersebut menyulitkan.

Rukun-Rukun Haji

Rukun-rukun haji ada empat.

Salah satunya adalah ihram disertainya niat, maksudnya niat masuk di dalam ibadah haji.

Yang ke dua adalah wukuf di Arafah.

Yang dikehendaki adalah kehadiran orang yang ihram haji dalam waktu sebentar setelah tergelincirnya matahari di hari Arafah, yaitu hari ke sembilan dari bulan Dzul Hijjah.

Dengan syarat orang yang wukuf termasuk ahli untuk melakukan ibadah, bukan orang yang sedang gila dan bukan orang yang epilepsi.

Waktu wukuf tetap berlanjut hingga terbitnya fajar hari raya kurban, yaitu hari ke sepuluh dari bulan Dzul Hijjah.

Yang ke tiga adalah thawaf di Baitulllah sebanyak tujuh kali thawafan.

Saat tahwaf, ia memposisikan Baitullah di sebelah kirinya dan memulai dari Hajar Aswad tepat lurus dengan seluruh badannya saat berjalan.

Seandainya ia memulai thawaf dari selain Hajar Aswad, maka thawaf yang ia lakukan tidak dianggap.

Rukun ke empat adalah sa’i di antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.

Syaratnya adalah memulai sa’i pertama dari bukit Shafa dan di akhiri di bukit Marwah.

Perjalanannya dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali, dan kembali dari Marwah ke Shafa juga dihitung satu kali.

Shafa, dengan alif qashr di akhirnya, adalah tepi gunung Abi Qubais.

Dan Marwah, dengan terbaca fathah huruf mimnya, adalah nama suatu tempat yang sudah dikenal di Makkah.

Masih ada rukun-rukun haji yang tersisa, yaitu mencukur atau memotong rambut, jika kita menjadikan masing-masing dari keduanya termasuk rangkaian ibadah haji. Dan ini adalah pendapat yang masyhur.

Jika kita mengatakan bahwa masing-masing dari keduanya adalah bentuk perbuatan untuk memperbolehkan hal-hal yang diharamkan saat haji, maka keduanya bukan termasuk rukun-rukun haji.

Dan wajib mendahulukan ihram dari semua rukun-rukun haji yang lain.

Rukun-Rukun Umrah

Rukun-rukun umrah ada tiga sebagaimana yang terdapat di sebagian redaksi. Dan di dalam sebagian redaksi ada empat perkara.

Yaitu ihram, thawaf, sa’i, dan mencukur atau memotong rambut menurut salah satu dari dua pendapat, dan ini adalah pendapat yang kuat sebagaimana keterangan yang telah lewat barusan.

Jika tidak menurut pendapat yang kuat, maka keduanya bukan termasuk rukun umrah.

Demikian ulasan singkat tentang Fiqih Haji dan Umroh : Syarat, Rukun & Penjelasannya (Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan  menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Inilah Syarat Wajib Haji Sesuai Syariat Islam (Bahas Lengkap)

Inilah Syarat Wajib Haji Sesuai Syariat Islam (Bahas Lengkap) – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Syarat Wajib Haji. Yang mana dalam pembahasan kali ini membahas beberapa syarat wajib haji yang sesuai dengan syariat islam dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini.

Inilah Syarat Wajib Haji Sesuai Syariat Islam (Bahas Lengkap)

Ibadah Haji merupakan rukun Islam kelima yang diwajibkan oleh Allah SWT kepada setiap muslim di dunia yang memenuhi persyaratan. Sama seperti ibadah shalat wajib, puasa ramadhan dan zakat, ibadah haji memiliki ketentuan dan syarat yang harus dipenuhi. Haji itu sendiri memiliki pengertian ditinjau dari dua segi yakni segi bahasa atau terminologi dan segi istilah.

Pengertian haji

Dari segi bahasa, kata haji artinya menuju sedangkan menurut istilah ibadah haji dapat diartikan sebagai perjalanan menuju baitullah ditanah haram Makkah untuk melakukan ibadah. Para ulama menjelaskan bahwa haji berarti mengunjungi ka’bah di Makkah untuk melaksanakan ibadah kepada Allah dengan rukun-rukun tertentu serta memenuhi syarat dan dikerjakan pada waktu tertentu pada bulan dzulhijjah atau biasanya yang lebih dikenal dengan musim haji.

Dapat disimpulkan bahwa haji adalah ibadah yang termasuk dalam rukun islam yang kelima yang wajib dikerjakan oleh setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan apabila mereka telah memenuhi syarat dan ketentuan haji itu yang hanya dilakukan sekali seumur hidup. Berikut ini adalah beberapa dalil yang memuat perintah haji :

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Artinya : “Dari umroh ke umroh itu adalah penghapus dosa diantara dua umroh itu, dan haji yang mabrur itu tidak lain ganjarannya melaikan surga”. (Hadits Malik Nomor 675).

فِيهِ آيَاتٌ بَيِّـنَاتٌ مَّقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَن دَخَلَهُ كَانَ آمِناً وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ الله غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Artinya : “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS Al Imran ayat 97)

Rasulullah saw bersabda tentang kewajiban haji :

مَا يُوجِبُ الْحَجَّ قَالَ الزَّادُ وَالرَّاحِلَةُ

Artinya : “Seorang lelaki menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya; ‘Wahai Rasulullah, apa yang mewajibkan seseorang untuk haji? ‘ Beliau menjawab: ‘Perbekalan dan kendaraan’.” (Hadits Tirmidzi Nomor 741).

Abu ‘Isa berkata;

“Ini merupakan hadits hasan dan diamalkan oleh para ulama, bahwa seseorang yang memiliki bekal dan kendaraan, maka wajib baginya untuk melaksanakan haji.”

Syarat Wajib Haji

Adapun beberapa syarat-syarat wajib haji adalah :

  1. Islam

Ibadah haji diwajibkan kepada setiap muslim dan hal ini berarti jika orang kafir dan musyrik melakukan ibadah haji maka ibadah haji yang mereka lakukan tidak akan diterima. Demikian pula jika mereka ingin memasuki masjidil haram maka tidaklah diperbolehkan. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT yaitu,

إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَٰذَا

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.” (QS At-Taubah ayat 28).

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengabarkan: “Bahwa Abu Bakar ash-Shidiq pernah di utus pada suatu urusan yang membawa pesan dari Rasulallah SAW sebelum haji wada’ untuk menyeru manusia yang ada disitu, isi pesannya yaitu:

لَا يَحُجُّ بَعْدَ الْعَامِ مُشْرِكٌ وَلَا يَطُوفُ بِالْبَيْتِ عُرْيَانٌ وَيَوْمُ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ يَوْمُ النَّحْرِ

Artinya : “Tidak boleh bagi orang musyrik melaksanakan hajji setelah tahun ini, tidak boleh mereka melakukan thawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang dan hajji akbar adalah hari Nahar.” (Hadits Bukhari Nomor 2941)

  1. Berakal Sehat

Seseorang yang hendak melaksanakan ibadah haji haruslah berakal sehat. Oleh sebab itu, orang gila tidak memiliki kewajiban berhaji meskipun ia adalah muslim dan jika seandainya dia melakukan, maka ibadah haji dan umrahnya tidaklah sah, disebabkan karena hilang akal dari dirinya.

Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ali radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الصَّغِيرِ حَتَّى يَكْبُرَ وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ أَوْ يُفِيقَ

Artinya : “Diangkat pena dari tiga orang, yaitu orang yang tidur hingga ia bangun, dari anak kecil hingga ia dewasa, dan dari orang yang gila hingga ia berakal atau sadar.” (Hadits Nasai Nomor 3378)

  1. Dewasa atau Baligh

Ibadah haji tidak diwajibkan bagi anak kecil hingga dirinya dewasa, berdasarkan hadits yang telah disebutkan sebelumnya. Namun, jika seandainya seorang anak kecil melakukan ibadah haji maka hajinya sah, akan tetapi, belum mencukupi kewajiban hajinya dalam Islam.

Seorang wanita memperlihatkan anaknya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau mengerjakan sebuah ibadah haji, wanita itu bertanya;

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِهَذَا حَجٌّ قَالَ نَعَمْ وَلَكِ أَجْرٌ

Artinya : “Wahai Rasulullah apakah anak ini boleh mengerjakan haji? ‘ Beliau menjawab: ‘Ya (boleh). Dan kamu akan mendapatkan ganjaran pahalanya.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 2901)

Selain itu, Imam Tirmidzi juga menyebutkan bahwa para ulama telah bersepakat bahwa jika anak kecil melakukan ibadah haji sebelum dirinya dewasa dan berakal maka wajib bagi dirinya untuk melakukan ibadah haji kembali jika dirinya telah dewasa, disebabkan haji yang pertama dilakukan belum memenuhi syarat wajib haji dalam islam.

  1. Merdeka

Tidaklah wajib ibadah haji bagi seorang budak. Sehingga jika ia dia berhaji maka hajinya sah. Namun, hajinya belum memenuhi haji dalam Islam. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam berikut ini :

Sebagaimana hadits dari Sa`ib bin Yazid berkata;

“Bapakku membawaku serta berhaji bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada waktu Haji Wada’ dan aku waktu itu berumur tujuh tahun.”

Abu ‘Isa berkata;

“Ini merupakan hadits hasan shahih. Para ulama telah berijma’ bahwa anak kecil yang telah melaksanakan haji sebelum baligh, jika telah memasuki usia baligh dia wajib untuk berhaji lagi dan hajinya yang pertama tidak menggugurkan kewajiban hajinya. Demikian juga dengan budak belian jika dia haji ketika masih menjadi budak maka dia wajib untuk haji kembali jika sudah merdeka. Apabila memiliki bekal, dan hajinya yang pertama tidak menggugurkan kewajiban hajinya.” (Hadits Tirmidzi Nomor 848)

Hadits tersebut menjelaskan tentang budak yang berhaji saat masih dimiliki oleh tuannya kemudian dirinya dibebaskan maka wajib bagi dirinya untuk mengerjakan ibadah haji kembali bila mempunyai sarana untuk melakukan perjalanan ke Makkah. Dan tidak cukup haji yang pertama dahulu dilakukan manakala masih dalam keadaan menjadi budak.

  1. Mampu

Ibadah haji hanya diwajibkan bagi orang yang mampu untuk melakukan perjalanan ke Baitul Haram berdasarkan al-Qur’an dan hadits. Dan yang dimaksud dengan mampu disini ialah mencakup mampu dari sisi fisik dan juga materinya. Berdasarkan firman Allah ta’ala:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Artinya : “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS al-Imran ayat 97).

Mampu disini juga berarti memiliki kecukupan bekal untuk pergi serta pulang dari ibadah haji dan juga cukup nafkah yang ditinggalkan dan apabila berhutang maka seluruh hutangnya sudah terbayar. Syarat lainnya yakni seseorang tersebut memiliki atau mampu berkendara dari tempatnya menuju kota Mekkah.

Berdasarkan penjelasan diatas maka umat muslim yang tidak sanggup untuk menunaikan ibadah haji disebabkan karena usianya sudah sangat tua, atau sakit yang tidak diharapkan lagi kesembuhannya, atau badannya mampu, namun tidak mempunyai harta yang cukup untuk berhaji maka mereka tidaklah wajib menunaikan ibadah haji.

  1. Adanya Mahram bagi wanita

Syarat lainnya yang juga ditetapkan khusus untuk wanita adalah adanya muhrim yang menemaninya ketika berhaji. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW berikut ini :

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ وَلَا تُسَافِرَنَّ امْرَأَةٌ إِلَّا وَمَعَهَا مَحْرَمٌ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا وَخَرَجَتْ امْرَأَتِي حَاجَّةً قَالَ اذْهَبْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ

Artinya : “Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berkholwat (berduaan) dengan seorang wanita dan janganlah sekali-kali seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya”. Lalu ada seorang laki-laki yang bangkit seraya berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah mendaftarkan diriku untuk mengikutu suatu peperangan sedangkan istriku pergi menunaikan hajji”. Maka Beliau bersabda: “Tunaikanlah hajji bersama istrimu.” (Hadits Bukhari Nomor 2784)

Demikian ulasan tentang Inilah Syarat Wajib Haji Sesuai Syariat Islam (Bahas Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.