Pengertian Puasa Syawal, Dalil, Niat & Keutamaan Lengkap

Pengertian Puasa Syawal, Dalil, Niat & Keutamaan Lengkap – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Puasa Syawal. Yang meliputi pengertian puasa syawal, syarat, dalil puasa syawal, hukum, waktu pelaksanaan atau kapan puasa syawal dilakukan, niat serta keutamaan puasa syawal dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silakan simak ulasan dibawah ini dengan seksama.

A. Pengertian Puasa Syawal

Puasa Syawal adalah puasa yang dilakukan pada bulan Syawal (bulan setelah puasa Ramadhan) selama 6 hari. Hukum Puasa 6 Hari Bulan Syawal adalah sunnah. Setelah puasa bulan Ramadhan, Rasulullah mencontohkan puasa di Bulan Syawal yang juga sangat dianjurkan untuk dilaksanakan. Puasa di Bulan Syawal ini juga sekaligus meneruskan puasa ramadhan. Adapun untuk pembahasan kali ini kita akan menerangkan tentang Pengertian dan Keutamaan Puasa Syawal.

1. Puasa Sunah Bulan Syawal

Puasa sunnah pada bulan Syawal adalah pada 6 (enam) hari setelah hari lebaran Idul Fitri yaitu pada tanggal 2, 3, 4, 5, 6, dan 7. Namun dapat juga melakukannya selama 6 hari pada tanggal/hari yang lain asalkan masih dalam bulan Syawal.

2. Dalil Dasar Puasa 6 (enam) Hari Pada Bulan Syawal

– Hadits riwayat MuslimAbu DawudTirmidzi dan Ibnu Majah
من صام رمضان ثم أتبعه بست من شوال فكأنما صام الدهر كله
Artinya: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa 6 (enam) hari bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti puasa satu tahun penuh.”

– Hadits riwayat Nasa’i
جعل الله الحسنة بعشر أمثالها فشهر بعشرة أشهر وصيام ستة أيام تمام السنة
Artinya: “Allah menjadikan kebaikan dengan 10 kali lipat. Maka satu bulan sama dengan 10 bulan. Dan puasa enam hari sama dengan setahun penuh.”
– Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah
صيام شهر رمضان بعشرة أمثالها وصيام ستة أيام بشهرين فذلك صيام السنة
Artinya: “Puasa sebulan Ramadan pahalanya 10x lipat. Puasa enam hari bulan Syawal sama dengan dua bulan. Maka jumlahnya sama dengan setahun penuh.”

3. Hukum Puasa 6 (enam) Hari Pada Bulan Syawal

Hukumnya sunnah yakni berpahala bagi yang melakukan tapi tidak berdosa bagi yang meninggalkan. Berdasarkan hadits-hadits di atas, maka kebanyakanاulama fiqih sepakat atas sunnahnya berpuasa selama 6 hari pada bulan Syawal setelah sebulan penuh berpuasa Ramadan.
Hanya Imam Malik yang menyatakan bahwa puasa bulan Syawal hukumnya makruh dengan alasan karena takut umat Islam berkeyakinan puasa Syawal sebagai bagian dari puasa Ramadan.

4. Waktu Puasa Syawal Enam Hari

Terjadi perbedaan ulama fiqih tentang waktu pelaksanaan puasa Syawal. Apakah harus berpuasa langsung sehari setelah Idul Fitri yaitu mulai tanggal 2 bulan Syawal karena ada kata [أتبعه] dalam hadits atau asalkan dilakukan pada bulan Syawal? 
Yusuf Qardhawi berpendapat bahwa puasa Syawal tidak harus dilakukang langsung sehari setelah hari raya dan tidak harus berturut-turut. Yang penting dilakukan selama bulan Syawal maka akan mendapat keutamaan (fadhilah) puasa Syawal seperti disebut dalam hadits.

5. Bacaan Niat Puasa Bulan Syawal 6 (enam) Hari

Niat puasa Syawal dapat dilakukan pada pagi hari sampai sebelum waktu dhuhur seperti umumnya niat puasa sunnah yang lain. 
Adapun lafadz/teks bacaan niat puasa Syawal sbb:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ ِستَةٍ ِمنْ شَوَالٍ سُنَةً ِللَه تَعَالَي 
Artinya: “Saya niat berpuasa sunnah enam haru bulan Syawal karena Allah.”
Nb: Niat cukup diucapkan dalam hati-hati dan tidak harus dalam bahasa Arab. 

B. Keutamaan Puasa di Bulan Syawal dan Dalilnya


1. Melatih Diri Mengelola Hawa Nafsu

Puasa dapat melatih diri kita untuk senantiasa mengelola hawa nafsu pada diri kita. Hawa nafsu tentunya bukan suatu yang dosa jika kita mampu mengelolanya. Untuk itu hawa nafsu bukanlah dihapuskan atau dihilangkan sama sekali atau bahkan ditahan oleh diri kita. Sebagai muslim yang baik, hawa nafsu tentu harus ditaklukkan dengan cara dikelola dan tidak diumbar sembarangan.
Selama bulan puasa, kita diperintahkan untuk tetap produktif dan tetap fokus untuk beribadah agar diri kita fokus untuk mengelola hawa nafsu bukan justru membebaskan hawa nafsu kita. Mengelola hawa nafsu memang tidak mudah, namun juga bukan berarti tidak bisa sama sekali. Hawa nafsu membutuhkan kesabaran untuk melaksanakannya dan menjaga agar ia tidak bebas sebebas-bebasnya keluar dari diri kita.
Sebagai contoh, Allah melarang suami istri untuk berhubungan biologis selama berpuasa. Jika dilanggar, maka hal tersebut akan membatalkan puasa. Untuk itulah, puasa adalah mengelola diri dan hawa nafsu bersabar untuk tidak asal bertindak atas dorongan hawa nafsu yang muncul dari dalam diri kita.

2. Memperbanyak Kefokusan pada Ibadah

Dengan ibadah puasa, maka kita akan memperbanyak fokus pada ibadah. Ibadah memang adalah hal yang memperkuat puasa kita. Untuk itu, kurang bernilai jika kita hanya puasa saja namun tidak melaksanakan kefokusan pada ibadah lainnya. Kefokusan ibadah ini bisa diraih lewat melakukan shalat, bersedekah, membaca dan mentadaburi Al-Quran.

3. Membangun Spiritual yang Tinggi

Dengan kita memfokuskan untuk membangun ibadah yang baik, maka kita pun akan mendapatkan spiritual yang tinggi dari ibadah yang akan kita lakukan. Untuk itu, ibadah yang baik adalah yang dilakukan dengan ikhlas dan niat yang lurus, agar penghayatan ketuhanan bisa didapatkan dengan baik. Sehingga Puasa yang diiringi oleh ibadah dan spiritual yang tinggi akan membentuk kita menjadi muslim yang kuat, dekat dengan Allah, dan memiliki penghayatan yang tinggi terhadap Allah SWT. 

4. Seperti Berpuasa Setahun Penuh

Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh.
(HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)
Dari hadist di atas dijelaskan bahwa puasa bulan syawal adalah puasa yang yang menggenapkan seperti kita berpuasa setahun penuh. Untuk itu, puasa bulan syawal menjadi pelengkap kita setelah puasa ramadhan. Hitungan pahalanya adalah seperti berpuasa selama setahun penuh, tentu bukan pahala yang kecil dan sia-sia. Untuk itu, segeralah melaksanakan puasa syawal setelah puasa ramadhan dan idul fitri telah berlalu.

5. Ganjaran 10 Kali Lipat

Barangsiapa mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal selepas ‘Idul Fitri berarti ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Dan setiap kebaikan diganjar sepuluh kali lipat.” 
Rasulullah SAW.
Selama melaksanakan puasa di bulan syawal kita juga bisa mendapatkan kebaikan yang tidak akan sia-sia. Allah mengganjarnya dengan kebaikan pahala sepuluh kali lipat. Tentu saja harusnya sebagai manusia yang penuh salah dan dosa, kita bersyukur bahwa Allah memberikan pahala terbaik dan kesempatan kita untuk menimba pahala dengan sebaik-baiknya.

6. Menyempurnakan Ibadah

Amal ibadah yang pertama kali di hisab pada Hari Kiamat adalah shalat. Allah Ta’ala berkata kepada malaikat -sedang Dia Maha Mengetahui tentangnya-: “Periksalah ibadah shalat hamba-hamba-Ku, apakah sempurna ataukah kurang. Jika sempurna maka pahalanya ditulis utuh sempurna. Jika kurang, maka Allah memerintahkan malaikat: “Periksalah apakah hamba-Ku itu mengerjakan shalat-shalat sunnat? Jika ia mengerjakannya maka tutupilah kekurangan shalat wajibnya dengan shalat sunnat itu.” Begitu pulalah dengan amal-amal ibadah lainnya.” 
(HR Abu Dawud)
Dengan melaksanakan ibadah sunnah, termasuk puasa syawal maka kita telah melengkapi dan menyempurnakan ibadah kita. Ibadah wajib, tentu harus dilakukan. Begitupun ibadah sunnah, walaupun bukan bernilai wajib tetapi jika dilaksanakan maka akan membuat ibadah kita lebih sempurna dan terlengkapi.
Demikianlah telah dijelaskan tentang Pengertian Puasa Syawal, Dalil, Niat & Keutamaan Lengkap semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian.

Pengertian Bulan Sya’ban, Keutamaan Dan Amalan Lengkap

Pengertian Bulan Sya’ban Keutamaan Dan Amalan Lengkap – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Bulan Sya’ban. Yang meliputi pengertian bulan sya’ban, keutamaan atau karomah bulan sya’ban serta amalan yang ada di bulan sya’ban dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silakan simak ulasan dibawah ini dengan seksama.

Pengertian Bulan Sya’ban 

Malam Nisfu Sya’ban (malam 15 Sya’ban) adalah malam mulia menurut sebagian kalangan. Sehingga mereka pun mengkhususkan amalan-amalan tertentu pada bulan tersebut. 

Benarkah pada malam Nisfu Sya’ban punya keistimewaan dari bulan lainnya? 
Bulan Sya’ban adalah bulan mulia yang terletak sebelum bulan suci Ramadhan. Di antara keistimewaannya, bulan tersebut adalah waktu dinaikkan amalan. 
Mengenai bulan Sya’ban, ada hadits dari Usamah bin Zaid. Ia pernah menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia tidak pernah melihat beliau melakukan puasa yang lebih semangat daripada puasa Sya’ban. Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ 
Bulan Sya’ban –bulan antara Rajab dan Ramadhan- adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” 
(HR. An-Nasa’i no. 2359. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). 
Setiap pekannya, amalan seseorang juga diangkat yaitu pada hari Senin dan Kamis. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, 
تُعْرَضُ أَعْمَالُ النَّاسِ فِى كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّتَيْنِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ إِلاَّ عَبْدًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ اتْرُكُوا – أَوِ ارْكُوا – هَذَيْنِ حَتَّى يَفِيئَا 
Amalan manusia dihadapkan pada setiap pekannya dua kali yaitu pada hari Senin dan hari Kamis. Setiap hamba yang beriman akan diampuni kecuali hamba yang punya permusuhan dengan sesama. Lalu dikatakan, ‘Tinggalkan mereka sampai keduanya berdamai.” (HR. Muslim no. 2565) 

– Keutamaan bulan sya’ban 

Ada hadits yang menyatakan keutamaan malam nisfu Sya’ban bahwa di malam tersebut akan ada banyak pengampunan terhadap dosa. 
Di antaranya hadits dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, 
يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ 
Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban. Dia pun mengampuni seluruh makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” 
Al-Mundziri dalam At-Targhib setelah menyebutkan hadits ini, beliau mengatakan, “Dikeluarkan oleh At-Thobroni dalam Al Awsath dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dan juga oleh Al-Baihaqi. Ibnu Majah pun mengeluarkan hadits dengan lafazh yang sama dari hadits Abu Musa Al-Asy’ari. Al-Bazzar dan Al-Baihaqi mengeluarkan yang semisal dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang tidak mengapa.” 
Demikian perkataan Al Mundziri. Penulis Tuhfatul Ahwadzi lantas mengatakan, “Pada sanad hadits Abu Musa Al-Asy’ari yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah terdapat Lahi’ah dan ia adalah perawi yang dinilai dha’if.” 
Hadits lainnya lagi adalah hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
يَطَّلِعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ إِلَّا اِثْنَيْنِ مُشَاحِنٍ وَقَاتِلِ نَفْسٍ 
Allah ‘azza wa jalla mendatangi makhluk-Nya pada malam nisfu Sya’ban, 
Allah mengampuni hamba-hamba-Nya kecuali dua orang yaitu 
orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh jiwa.” 
Al Mundziri mengatakan, “Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang layyin (ada perowi yang diberi penilaian negatif atau di-jarh, namun haditsnya masih dicatat).” Berarti hadits ini bermasalah. 
Penulis Tuhfatul Ahwadzi setelah meninjau riwayat-riwayat di atas, beliau mengatakan, “Hadits-hadits tersebut dilihat dari banyak jalannya bisa sebagai hujjah bagi orang yang mengklaim bahwa tidak ada satu pun hadits shahih yang menerangkan keutamaan malam nisfu Sya’ban. Wallahu Ta’ala a’lam.” 
Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hadits yang menjelaskan keutamaan malam nisfu Sya’ban ada beberapa. Para ulama berselisih pendapat mengenai statusnya. Kebanyakan ulama mendhaifkan hadits-hadits tersebut. Ibnu Hibban menshahihkan sebagian hadits tersebut dan beliau masukkan dalam kitab shahihnya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 245). 
Intinya, penilaian kebanyakan ulama (baca: jumhur ulama), keutamaan malam nisfu Sya’ban dinilai dha’if. Namun sebagian ulama menshahihkannya. 

– Amalan di bulan sya’ban 

Taruhlah hadits keutamaan malam nisfu Sya’ban itu shahih, bukan berarti dikhususkan amalan khusus pada malam tersebut seperti kumpul-kumpul di malam nisfu Sya’ban dengan shalat jama’ah atau membaca Yasin atau do’a bersama atau dengan amalan khusus lainnya. 
Karena mengkhususkan amalan seperti itu harus dengan dalil. Kalau tidak ada dalil, berarti amalan tersebut mengada-ada. 
Walau sebagian ulama ada yang menganjurkan shalat di malam nisfu Sya’ban. Namun shalat tersebut cukup dilakukan seorang diri. 
Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Mengenai shalat malam di malam Nisfu Sya’ban, maka tidak ada satu pun dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya. Namun terdapat riwayat dari sekelompok tabi’in (para ulama negeri Syam) yang menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan shalat.” 
Ibnu Taimiyah ketika ditanya mengenai shalat Nisfu Sya’ban, beliau rahimahullah menjawab, “Jika seseorang shalat pada malam nisfu sya’ban sendiri atau di jama’ah yang khusus sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian salaf, maka itu suatu hal yang baik. Adapun jika dilakukan dengan kumpul-kumpul di masjid untuk melakukan shalat dengan bilangan tertentu, seperti berkumpul dengan mengerjakan shalat 1000 raka’at, dengan membaca surat Al Ikhlas terus menerus sebanyak 1000 kali, ini jelas suatu perkara bid’ah, yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama.” (Majmu’ Al-Fatawa, 23: 131) 
Ibnu Taimiyah juga mengatakan, “Adapun tentang keutamaan malam nisfu Sya’ban terdapat beberapa hadits dan atsar, juga ada nukilan dari beberapa ulama salaf bahwa mereka melaksanakan shalat pada malam tersebut. Jika seseorang melakukan shalat seorang diri ketika itu, maka ini telah ada contohnya di masa lalu dari beberapa ulama salaf. Inilah dijadikan sebagai pendukung sehingga tidak perlu diingkari.” (Majmu’ Al-Fatawa, 23: 132) 
Malam Nisfu Sya’ban sama dengan Malam Lainnya 
Kalau kita biasa shalat tahajud di luar nisfu Sya’ban, nilainya tetap sama dengan shalat tahajud di malam nisfu Sya’ban. 
‘Abdullah bin Al Mubarak rahimahullah pernah ditanya mengenai turunnya Allah pada malam Nisfu Sya’ban, lantas beliau pun memberi jawaban pada si penanya, “Wahai orang yang lemah! Yang engkau maksudkan adalah malam nisfu Sya’ban?! Perlu engkau tahu bahwa Allah itu turun di setiap malam (bukan pada malam nisfu Sya’ban saja, -pen).” Dikeluarkan oleh Abu ‘Utsman Ash Shobuni dalam I’tiqod Ahlis Sunnah (92). 
Al ‘Aqili rahimahullah mengatakan, “Mengenai turunnya Allah pada malam nisfu Sya’ban, maka hadits-haditsnya itu layyin (menuai kritikan). Adapun riwayat yang menerangkan bahwa Allah akan turun setiap malam, itu terdapat dalam berbagai hadits yang shahih. Ketahuilah bahwa malam nisfu Sya’ban itu sudah termasuk pada keumuman hadits semacam itu, insya Allah.” Disebutkan dalam Adh Dhu’afa’ (3/29). (Lihat Fatwa Al Islam Sual wa Jawab, no. 49678) 
Cukup Perbanyak Amalan Puasa di Bulan Sya’ban 
Kalau mau meraih kebaikan, bisa diraih dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, 
فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ 
Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” 
(HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156) 
Yang Punya Utang Puasa Ramadhan Segera Lunasi 
Bagi yang punya utang puasa Ramadhan, segeralah dilunasi karena bulan Sya’ban adalah bulan terakhir sebelum memasuki bulan Ramadhan. 
Dari Abu Salamah, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, 
كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ 
“Aku masih memiliki utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu mengqodho’nya kecuali di bulan Sya’ban.” Yahya (salah satu perowi hadits) mengatakan bahwa hal ini dilakukan ‘Aisyah karena beliau sibuk mengurus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 
(HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146) 
Perbanyak Pula Amalan Bacaan Al-Qur’an di Bulan Sya’ban 
Salamah bin Kahil berkata, 
كَانَ يُقَالُ شَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ القُرَّاء 
Dahulu bulan Sya’ban disebut pula dengan bulan membaca Al Qur’an.” 
وَكَانَ عَمْرٌو بْنِ قَيْسٍ إِذَا دَخَلَ شَهْرُ شَعْبَانَ أَغْلَقَ حَانَوَتَهُ وَتَفْرُغُ لِقِرَاءَةِ القُرْآنِ 
“‘Amr bin Qois ketika memasuki bulan Sya’ban, 
beliau menutup tokonya dan lebih menyibukkan diri dengan Al Qur’an.” 
Abu Bakr Al Balkhi berkata, 
شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرُ الزَّرْعِ ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سَقْيِ الزَّرْعِ ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حِصَادِ الزَّرْعِ 
“Bulan Rajab saatnya menanam. Bulan Sya’ban saatnya menyiram tanaman 
dan bulan Ramadhan saatnya menuai hasil.” 

Demikianlah telah dijelaskan tentang Pengertian Bulan Sya’ban, Keutamaan Dan Amalan Lengkap semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian.

Pengertian & Peran Tentang Motivasi Dalam Perspektif Islam

Pengertian & Peran Tentang Motivasi Dalam Perspektif Islam – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Motivasi Dalam Perspektif Islam. Yang meliputi pengertian motivasi dan peran tentang motivasi dalam perspektif islam dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silakan simak ulasan dibawah ini dengan seksama.

Pengertian Motivasi

Motif adalah sebab-sebab yang menjadi dorongan, tindakan seseorang, dasar pikiran atau pendapat, sesuatu yang menjadi pokok.
Motivasi itu sendiri merupakan istilah lebih umum digunakan untuk mengantikan terma “motif-motif” yang dalam bahasa inggris yang disebut motive yang berasal dari kata motion, yang berarti gerakan atau sesuatu yang bergerak. Karna itu terma motif erat hubungan dengan gerak yang dilakukan manusia atau disebut perbuatan atau juga tingkah laku. 
Motif dalam psikologi berarti rangsangan dorongan, atau pembangkit tenaga bagi terjadinya tingkah laku. Dan motivasi lebih sendirinya lebih berarti rangsangan atau dorongan atau pembangkit tenaga bagi tingkah laku. Dan motivasi lebih sendirinya lebih berarti menunjuk kepada seluruh proses gerakan di atas, termasuk situasi yang mendorong, dorongan yang timbul dalam diri individu. Situasi tersebut serta tujuan akhir dan gerakan atau perbuatan yang menimbulkan terjadinya tingkah laku.

Peran Motivasi Dalam Pandangan Islam

Bila melihat dalam konsep kehidupan yang religius didasarkan pada ketiga motif spiritual dalam Islam yaitu berdasarkan motivasi aqidah, motivasi ibadah dan motivasi muamalat.

1. Motivasi Akidah 

Motivasi spiritual dalam Islam adalah berdasarkan motivasi aqidah, ibadah dan motivasi muamalat. Motivasi akidah adalah keyakinan hidup, fondasi dan dasar dari kehidupan, yang dimaksud dengan akidah Islam adalah rukum iman. Iman menurut hadist merupakan pengikraran yang bertolak dari hati, pengucapan dengan lisan dan aplikasi dengan perbuatan. 
Jadi motivasi akidah dapat ditafsirkan sebagai dorongan dari dalam yang muncul akibat kekuatan tersebut. Sistematika akidah agama Islam terdiri dari rukun Iman diantaranya , namun dalam motivasi akidah ini yang dilibatkan hanya unsur iman kepada Allah, iman kepada kitab Allah dan iman kepada Rasulullah. Ketiga unsur ini dilibatkan karena pada waktu bekerja terlibat secara nya sehari-hari.
Esensi Islam adalah pengesaan Allah. Tidak satupun perintah dalam Islam yang dilepaskan dari tauhiid. Seluruh agama itu sendiri, kewajiban untuk menyembah Tuhan, mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya., akan hancur begitu tauhid dilanggar. Menurut Abdurrahim kualitas seseorang 90 % ditentukan oleh sikap dan 10 % ilmu pengetahuan, sedangkan sikap dan prilaku ditentukan oleh nilai seperti ikhlas yang merupakan manifestasi dari sikap tauhid. 
Searah dengan pandangan Islam, Glock and Stark menilai bahwa kepercayaan keagamaan (teologi) adalah jantungnya dimensi keyakinan, didalamnya terdapat seperangkat kepercayaan mengimani kenyataan akhir, alam, dan kehendak supranatural sehingga aspek lain dalam agama menjadi koheren. 
Menurut ancok walaupun tidak sepenuhnya sama, dimensi keyakinan dapat disejajarkan dengan akidah, Dimensi keyakinan atau akidah Islam menunjuk pada seberapa tingkat keyakinan muslim terhadap kebenaran ajaran agamanya, terutama kebenaran ajaran agama yang bersifat fundamnetal dan dogmatik. Ketika seseorang menghadirkan dimensi keyakinan akidahnya ke dalam kehidupannya, sering terjadi pengalaman batin yang sangat individual dan yakin dapat meningkatkan energi spiritual unutk meningkatkan kinerja.

a. Iman kepada Allah

Iman kepada Allah merupakan titik sentral, akar dan fondasi yang menjadi kekuatan seorang muslim. Iman adalah seperti pohon yang berbuah, buahnya tidak pernah terputus, pohon iman memberikan buahnya setiap saat, baik di musim panas dan musim dingin, di siang maupun di malam hari. Begitu juga seorang mulmin harus tetap beramal di setiap saat dan di setiap kesempatan. Oleh sebab itu sering kali dimuat dalam al-Quran pernyataan Iman dan Amal saleh karena amal salah merupakan salah satu buah dan bekasnya. 
Salah satu ciri orang yang beriman diantaranya adalah disebut nama Allah maka gemetarlah hatinya dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah bertambahlah iman. Menurut Iman yang paling kuat adalah iman yang diamini, diakui dan diaplikasikan dengan hati, lisan dan perbuatan.

b. Iman Kepada Kitab 

Sebagai seorang muslim harus beriman kepada Taurat, Zabur, Injil dan Al-Quran. Al-Quran sebagai kitab Allah SWT yang diturunkan kepada umat sesuai dengan ruang dan waktu. Al-Quran merupakan kitab terkahir, sumber asasi Islam yang pertama, kitab kodifikasi firman Allh SWYT kepada manusia di bumi, diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, berisi petunjuk Ilahi yang abadi untuk manusia, untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.
Pedoman hidup yang termuat dalam al-Quran hanyalahh akan dapat dimengerti dan dipedomi apabila ada upaya pemikiran terhadap isi yang terkandung didalamnya, Ini menunjukkan betapa pentingnya dialog yang terus menerus antara akal dan Al-Quran

c. Iman Kepada Rasulullah

Iman kepada rasul memiliki konsekuensi mengikuti dan mencontoh rasul yang disebut As-Sunnah. As-Sunnah (etimologis berarti: tradisi dan perjalan), sumber asal Islam yang kedua, ialah segala perkataan, perbuatan dan sikap Rasulullah saw yang dicatat dan direkam di dalam Al-Hadits (etimologis berarti: ucapan atau pernyataan dan sesuatu yang baru). Dalam arti teknis As Sunnah (sunnaturrasul) identik dengan Al-Hadits (haditsunnabawi).
Karena ajaran yang disampaikan Rasul itu bersumber dari Allah SWT dan sangat penting bagi keselamatan dan keberhasilan manusia, maka ajaran tersebut harus diterima dan dilaksanakan oleh manusia.
Dalam Asy’arie iman yang benar dan iman yang hidup adalah iman yang bias dipertanggungjawabkan secara moral dan intelektual, bias dikomunikasikan dengan akal budi, diwujudkan dalam tataran praktis, melalui apa yang disebut iqbal sebagai ijtihad. Berkaitan dengan otoritas dalam fikih, maka kemungkinan teoritis dari derajat ijtihad itu telah diterima oleh para Ahli Sunnah, tetapi dalam prakteknya ijtihad dipungkiri sejak berdirinya madzhab-madzhab dalam hokum Islam. Dalam kasus ini ijtihad penuh dipagari oleh syarat-syarat yang hamper tidak mungkin dilaksanakan oleh seseorang. Sikap seperti ini nampaknya amat ganjil dalam system hokum yang terutama didasarkan atas landasan pokok yang diberikan Al-Qur’an yang mengandung satu pandangan hidup yang dinamis dalam intisairnya. 
Realita hidup kerasulan yang sangat manusiawi itu tercermin dalam sikap dakwah yang dijalankannya. Suatu misi yang tidak mengenal lelah dan tidak berhenti-hentinya telah berhasil menarik beberapa pengikut yang berbakti. Sebagian besar adalah orang-orang yang datang dari kalangan kelas rendah yang tak berpengaruh, sedang sebagian lagi terdiri dari pedagang kaya dan manusia yang memiliki kepekaan religius. Diantara yang terakhir ini bahkan ada yang pernah mengalami gejolak spiritual dalam dirinya.
Rasulullah dalam berbagai kesempatan selalu menekankan pentingnya tenaga kerja dan selalu menghargai karya para karyawan dan para ahli dalam suatu bidang pekerjaan tertentu. Beliau pernah bersabda: “Allah mencintai orang yang selalu bekerja dan berusaha untuk penghidupannya.” (Al-Hadits) menurut Maqdam, Rasulullah pernah berkata,
“Tidak seorangpun yang akan memperoleh keadaan yang lebih baik daripada orang yang memperoleh penghasilan dengan tangannya (tenaganya) sendiri. Nabi Dud pun memperoleh nafkah penghidupan dari tangannya sendiri.” (HR. Bukhori).

2. Motivasi Ibadah

Kaidah ibadah dalam arti khas (qoidah “ubudiyah) yaitu tata aturan ilahi yang mengatur hubungan ritual langsung antara hamba dengan Tuhannya yang tata caranya telah ditentukan secara rinci dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.
Ibadah adalah suatu perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh orang yang tidak beragama, seperti doa, shalat dan puasa itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang beragama. Ibadah bertitik tolak dari aqidah, jika ibadah diibaratkan akar maka ibadah adalah pohonnya. Jika ibdah masih dalam taraf proses produksi, sedangkan output dari ibadah adalah mu’amalah.
Ibadah dalam ajaran Islam dapat dicontohkan sebagai berikut: doa, shalat, puasa, bersuci, haji dan zakat. Tetapi unsur motivasi ibadah ini hanya diambil doa, shalat, dan puasa, karena ketiga unsur ini dilakukan karyawan sehari-hari dalam proses produksi sehingga patut diduga mempunyai pengaruh dalam meningkatkan kinerja karyawan.
Jika diperhatikan beberapa ajaran Islam melalui Al-Qur’an mengenai ibadah yang selalu terkait dengan produksi seperti: zakat, amar ma’ruf nahi munkar, maka tidak dapat diragukan bahwa umat yang ibadahnya kaffah akan mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap kinerja. Namun sebagaimana ditulis Amsyari bahwa adanya pengaruh pemahaman aliran.
“Aliran spiritualisasi agama membatasi Islam hanya untuk ritual dan itupun secara pelan-pelan diabaikan pelaksanaannya (shalatpun makin jarang, berdoapun kalau sedang kesulitan, puasapun kalau tidak sakit maag dan semacamnya).”

a. Doa 

Doa biasa diartikan dengan permohonan hamba kepada Tuhannya, tata cara berdoa telah diatur dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, penyimpangan terhadapnya dapat dikategorikan syirik dan bid’ah. Dzikir biasa diartikan dengan memuji asma Allah, sambil merenungkan kebesaran Allah SWT melalui arti asma Allah yang direnungkan dipikirkan sehingga mempunyai efek dzikir produktif yang dapat meningkatkan kinerja seorang muslim. Potensi doa, dzikir dan fakir adalah asset ilahiyyah yang seharusnya dikelola dengan baik dalam perwujudan kerja prestatif atau amal shaleh.
Potensi dzikir yang positif dan dibarengi dengan potensi pikir yang positif maka hasilnya akan menjadi lebih besar, tetapi tidak dibarengi dengan ilmu, pikir sebagai refleksi kemampuan diri, maka hasilnya akan menjadi kurang atau bertambah jauh dari tujuan. Sebagai seorang muslim yang mempunyai penghayatan tinggi terhadap prestasi serta berkeyakinan bahwa kerja adalah Ibadah maka setiap pribadi muslim seharusnya memiliki suatu goal bahwa hidup ini akan mempunyai nilai jika mampu menjadi rahmat bagi lingkungan dan alam sekitarnya (rahmatan lil’alamin).
Berdoa sebagai awal dari awal, dimaksudkan untuk memberikan arah agar setiap tindakan amal, memenuhi criteria kesesuaian dan keseimbangan sebagaimana menjadi persyaratan kesalahan tersebut. Doa adalah cahaya dan amal adalah terang. Arti dari doa adalah api dan amal adalah panasnya. Antara doa dan amal ikhtiar merupakan satu paket, satu tarikan nafas yang senyawa, tidak bias dibelah secara parsial atau fragmentasi. Pepatah yang artinya, doa tanpa ikhtiar seperti busur tanpa anak panah. Doa yang khusu’, akan mendorong perilaku yang positif antara peribatin dan perilaku itu, berdirilah “akal pikiran”. 
Dengan demikian, seluruh tindakan yang berada dalam peribatin dan perilaku manusia akan sangat dipengaruhi oleh cara berfikir yaitu proses mental batiniah yang melahirkan bayangan tentang diri sendiri, penilaian atau pemaknaan atas lingkungan serta hubungan emosi antara jiwa dan raga dalam hubungannya dengan alam.
Dengan berdoa, berarti menunjukan kualitas dan kemampuan untuk memperepsi diri sehingga mempunyai asumsi atas gambaran jiwa yang tidak lain adalah salah satu bagian dari proses berpikir itu sendiri. Doa yang melahirkan optimisme itu, menggerakan sikap diri yang gagah untuk berkinerja. Dia tidak takut dengan kesulitan, karena di dalam nuraninya ada keyakinan bahwa setelah kesulitan pastilah ada kemudahan dan Allah akan mengabulkan doanya.

b. Shalat

Shalat adalah tata ritual sebagai konsekuensi orang yang beriman kepada Allah, merupakan kewajiban yang harus dilakukan lima kali dalam sehari. Shalat merupakan tiang agama, barangsiapa mengerjakan berarti telah menegakkan agamanya dan baransiapa meninggalkan berarti telah meruntuhkan agamanya. Shalat merupakan proses produksi yang apabila tata caranya diikuti secara tepat dan konsisten serta dijiwai dengan niat yang ikhlas, maka shalat tersebut dapat menghasilkan kinerja. 
Sesuai teori psikologi Islam ada empat aspek terapeutik yang terdapat dalam shalat: aspek olah raga, aspek meditasi, aspek auto-sugesti, dan aspek kebersamaan. Selain memberikan terapi yang bersifat kuratif, agama juga memiliki aspek preventif bagi lahirnya gangguan jiwa dalam masyarakat. Rukun Islam memiliki aspek terapeutik. Demikian juga dengan rukun iman yang salah satunya adalah penerimaan bahwa baik dan buruk datangnya dari Allah, akan membebaskan orang dari segala macam ketegangan jiwa. Pada dasarnya tujuan beberapa teknik psikoterapi seperti kognitif (cognitive therapy) dan (insight therapy) adalah menentukan seseorang untuk menerima kenyataan hidup yang sudah diatur oleh Tuhan. 
Beberapa mutiara hikmah shalat yang dapat diamati secara inderawi antara lain:
  • Kebiasaan hidup bersih
  • Berbusana rapi, sopan dan sederhana
  • Latihan terus menerus menghargai arti pentingnya waktu
  • Menggalang kemitraan dan kebersamaan.
  • Menciptakan keseragaman ucap, sikap, gerak, arah tujuan, pola berfikir dan gejolak hati nurani dalam satu komando.
  • Menumbuhkan keberanian melakukan koreksi yang konstruktif.
  • Memelihara tatakrama yang efektif.
  • Membangun solidaritas social. 
  • Membangkitkan rasa mandiri.
  • Melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta semangat membangun. 
Jadi shalat bukan sekadar kegiatan rutin yang sifatnya seremonial dan tanpa bekas. Diakui atau tidak, sepuluh mutiara hikmah itu belum dihayati seluruhnya. Sementara ini masih saja ada kaum muslimin yang tidak disiplin dan konsisten mendirikan shalatnya. Shalat yang didirikan belum juga memberi bekas terhadap lingkungan kinerjanya.
Shalat yang khusuk yaitu pelakunya mempunyai hati yang tunduk dan didominasi oleh rasa cemas, takut dan berharap saat memperhatikan kebesaran Allah dan keagungan-Nya dan mendisiplinkan anggota tubuhnya sesuai dengan sikap tunduknya itu sehingga tidak berpaling dan tidak pula bergerak selain pergerakan yang telah ditentukan dalam shalat. 
Penelitian tentang mentalitas manusia menetapkan adanya manfaat shalat dan ibadah. Badan penanganan masalah pengangguran di kota New York, telah melakukan psikotes terhadap lebih 15.000 tunawisma. Melalui penelitian ini dimungkinkan untuk mengarahkan setiap individu kepada profesi yang cocok sesuai dengan minat dan keahliannya. Hakihat khusuk jika dikaitkan dengan penelitian tersebut dapat berpengaruh posistif signifikan terhadap karyawan. Thabarah menyatakan bahwa kekhusuan adalah instrument untuk mengembangkan kemampuan diri dalam berkonsentrasi, yang berdampak pada kesuksesan dan keberhasilan seseorang dalam menjalani kehidupannya. 
Upaya untuk mempertajam kecerdasan ruhaniah tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan yang menderu untuk melaksanakan shalat. Dalam shalat tersebut terdapat suasana yang mampu meningkatkan kualitas jiwa yang sangat tinggi dan mampu mencegah perbuatan yang munkar.
Mencermati firman Allah dalam Al-Qur’an Surat al-An’am ayat 162 dan surat al-Mukminun ayat 1-2 bahwa:
  • Shalat adalah tiang agama, dapat diartikan sebagai poros energi untuk berkinerja. 
  • Orang yang shalat tetapi melupakan terhadap proses lanjutan setelah ibadah shalat, dikutuk oleh Islam.
  • Pengakuan pada waktu melaksanakan ibadah shalat bahwa shalat merupakan ibadah, hidup dan mati adalah bentuk pengabdian total kepada Allah.

c. Puasa

Puasa Ramadhan termasuk salah satu aturan Allah SWT yang wajib dijalankan oleh setiap muslim sebagaimana diungkapkan dalam al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 183.Dengan demikian, pendekatan yang paling dikedepankan dalam memahami puasa adalah dengan pendekatan keimanan untuk mencapai target taqwa. Ditinjau dari segi teknologi modern, ditemukan bahwa penelitian modern mengungkapkan kenyataan bahwa puasa meningkatkan keimanan kepada pencipta dan puasa dapat memperpanjang usia manusia dan menghindarkannya dari sejumlah kelainan fisik dan penyakit. Penelitian gejala puasa di laboratorium ilmiah, para ahli berpendapat bahwa puasa sebagai suatu gejala fisiologi dan bukan semata-mata suatu hasil proses iradah, puasa adalah suatu keharusan hidup dan kesehatan. 
Puasa mengatur perilaku dan konsumsi, mengendalikan nafsu berarti menyimpan energi spiritual yang dilakukan oleh seorang muslim mulai fajar sampai maghrib untuk mendapatkan energi spiritual. Jika pelaksanaan puasanya dilakukan secara tepat dan konsisten, maka berpuasa dapat meningkatkan bekerja dan berproduksi secara religius. 
Penelitian dalam kedokteran Islam, terdapat aspek spiritual yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan kinerja yang religius. Mengajarkan cinta kasih antara manusia, memberikan rasa harap, kreatif, dan selalu optimis memandang hidupnya, meresapi arti dan efektifitas ibadahnya, pengabdian yang murni terbuka kepada Allah. Selain itu, mengajarkan manusia bersabar hati, meningkatkan kewaspadaan dari nafsu jahat, mempelajari manusia cara menabung, memperbanyak amal sosial dan shodaqoh. 

3. Motivasi Muamalah

Kaidah muamalah dalam arti luas adalah tata aturan ilahi yang mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan benda atau materi alam. Muamalah diantaranya mengatur kebutuhan primer, dan sekunder dengan syarat untuk meningkatkan kinerja. Kebutuhan tersier dilarang dalam Islam karena dipandang tidak untuk meningkatkan kinerja tetapi dipandang sebagai pemborosan dan pemusnahan sumber daya. Bekerja dan berproduksi adalah bagian dari muamalah yang dapat dikategorikan sebagai prestasi kinerja seorang muslim menuju tercapainya rahmatan lil’alamin.
Motivasi muamalah adalah dorongan kekuatan dari dalam untuk memenuhi kebutuhan manusia yang dilandasi oleh kekuatan moral spiritual, sehingga dapat menghasilkan kinerja yang religius, karena diilhami oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. 
Kebutuhan dan urutan prioritas biasanya dalam tiga tingkatan: keperluan, kesenangan, dan kemewahan. 
  • Keperluan biasanya meliputi semua hal yang diperlukan untuk memenuhi segala kebutuhan yang harus dipenuhi.
  • Kesenangan boleh didefinisikan sebagai komoditi yang penggunaannya menambah efisiensi karyawan, akan tetapi tidak seimbang dengan biaya komoditi semacam itu. 
  • Kemewahan menunjuk kepada komoditi serta jasa yang penggunaannya tidak menambah efisiensi seseorang bahkan mungkin menguranginya. 
Dalam Al-Qur’an Surat al-Jumuah ayat 10, al-Qashas ayat 77, al-Isra, ayat 29 dan al-Furqan ayat 67, ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang manusia sebagai makhluk yang direncanakan Allah SWT untuk bekerja dan berproduksi. Dalam beberapa ayat Al-Qur’an tersebut dapat disimpulkan tentang potensi manusia untuk bekerja dan berproduksi secara religius.
  1. Bekerja adalah kegiatan alami dalam kehidupan manusia. Bagi Islam, bekerja mengelola kekayaan 
  2. Alam yang diberikan Allah SWT untuk kebaikan manusia 
  3. Manusia adalah makhluk yang berakal yang mampu menerapkan control diri dalam aktivitas kesehariannya. Apapun kondisinya, Islam menganggap pentingnya setiap individu muslim menyiapkan diri dalam rangka misi hidupnya. Seorang muslim meraih control diri yang bersumber dar dalam, hal ini akan menolong untuk berbuat sesuai dengan perintah agama Islam dan menjalankan aktivitas teknologi. 
  4. Manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab, yang secara potensial mampu melaksanakan tugas-tugas yang diberikan kepadanya dan manusia juga bisa gagal. Manusia dalam Al-Qur’an menerima mandat dari Allah SWT dan mempunyai tanggung jawab penuh atas setiap tindakannya. Meskipun Islam berarti ketundukan total terhadap Allah SWT, manusia merdeka dan bebas mengarahkan tindakannya dan apabila manusia tidak dipengaruhi oleh siapapun, kualitas kemampuan mengarahkan diri ini akan muncul. Dalam beberapa situasi manusia membutuhkan pengarahan dan motivasi dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab. Fakta bahwa Islam menekankan disiplin diri dan keberadaan Allah SWT bersamanya kapan dan dimana saja, tidak berarti bahwa orang-orang yang diberi jabatan dibiarkan bertindak sepenuhnya tanpa pengawasan orang lain. Sesuai dengan konsep Islam tentang manusia, maka pengawasan diperlukan untuk selalu meminimumkan pengaruh jahat dalam diri manusia dan merangsang motivasi baik semaksimal mungkin. 
  5. Manusia adalah makhluk yang berakal yang dapat menggunakan bakat dan kecerdasan untuk mengembangkan kehidupan di bumi dan membuatnya semakin sejahtera. Islam mendorong setiap orang baik dalam skala pribadi, kelompok, maupun masyarakat untuk menggunakan potensi yang dimiliki demi kemashlahatan hidupnya. Satu-satunya pembatasan yang dikenakan ialah bahwa kemampuan inovatif tersebut beroperasi dalam ruang lingkup yang telah digariskan oleh Islam. 
  6. Potensi manusia yang besar dapat dibangkitkan dengan motivasinya. Perbedaan metode motivasi antar barat dengan Islam, bahwa Islam di samping memberikan insentif material dan keuangan juga menggunakan insentif spiritual. Efektivitas insentif spiritual terbukti lebih kuat daripada yang material. 
Islam selalu menyentuh hati manusia dan mendorongnya untuk menjaga kesadaran Islamnya. Para ulama Islam dan orang-orang yang belajar psikologi percaya bahwa motivasi spiritual lebih efektif dibandingkan dengan yang lain. Hal ini tidak berarti menghilangkan sama sekali motivasi material dan keuangan dalam diri manusia.

Demikianlah telah dijelaskan tentang Pengertian & Peran Tentang Motivasi Dalam Perspektif Islam semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian.

Kisah Adzan dan Iqomah, Lafadz dan Hikmah Terlengkap

Kisah Adzan dan Iqomah, Lafadz dan Hikmah Terlengkap – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Adzan dan Iqomah. Yang meliputi kisah permulaan, lafadz atau bacaan serta hikmah adzan dan iqomah dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silakan simak ulasan dibawah ini dengan seksama.

Kisah Permulaan Adzan Dan Iqomah

Pada saat sebelum Nabi Muhammad SAW. berhijrah ke Madinah, Allah SWT. telah memerintahkan kepada beliau dan umatnya supaya mengerjakan shalat sehari semalam lima kali, dalam lima waktu yang telah di tetapkan. Maka shalat itu selain untuk menuntut kaum Muslimin selalu pada setiap saat ingat akan kebesaran Allah SWT. dan kekuasaanya, dengan tujuan supaya mereka menjadi manusia yang utama, juga untuk membimbing kaum Muslimin supaya menjadi umat yang bersatu, setia dan sekata. 

Maka oleh sebab itu Nabi Muhammad SAW. memberikan pimpinan kepada para pengikutnya supaya mereka mengerjakan shalat itu bersama-sama (berjama’ah), dengan demikian itu supaya persatuan dan rasa persaudaraan kaum Muslimin makin meresap dan mendalam, satu sama lain dapat mengetahui hajat mereka masing-masing, dan berkeyakinan bahwa yang mereka tuju itu tunggal, tidak ada perbedaan di antara si kaya dan si miskin, si kuat dan si lemah, si hitam dengan si putih dan seterusnya, dan masing-masing mengaku menjadi hamba Allah Yang Maha Esa.
Pada waktu itu berhubung jumlah Muslimin sudah semakin banyak sukar dan susah bagi Nabi hendak mengumpulkan mereka pada tiap-tiap datang waktu shalat. Karena itu Nabi lalu bermusyawarah dengan para sahabat beliau yang terpandang untuk merundingkan bagaimana cara yang termudah dan teringan untuk mengumpulkan kaum Muslimin di masjid pada tiap-tiap datang waktu shalat. 
Saat itu ada seorang di antara mereka mengemukakan pendapatnya, ialah bahwa untuk tanda telah tiba waktu shalat cukup dengan menaikkan dan mengibarkan bendera. Seorang lainnya berpendapat dengan menyalakan api. Seorang lainnya berpendapat dengan meniup terompet. Ada pula yang berpendapat dengan memukul genta (lonceng). Kemudian ada pula yang berpendapat bahwa untuk memanggil shalat cukup dengan menetapkan seorang untuk berseru-seru : ”As-Shalat!” Nabi menyetujui yang terakhir ini.

Lafadz Adzan Dan Iqomah

Adapun nama sahabat yang berpendapat itu ialah ‘Umar bin Khaththab RA. Ketika itu Nabi SAW. bersabda kepada sahabat Bilal :
“Ya Bilaal, qum fanaadi bishshalah.”
“Hai Bilal, bangunlah, maka panggillah dengan Ash-Shalah!”
Oleh sebab tiba waktu shalat, sahabat Bilal berseru-seru :
“Ash-Shalatu Jaamiah! Ash-Salatu Jaamiah!”
””Shalat bersama-sama! Shalat bersama-sama!”
Kemudian pada suatu malam sahabat ‘Abdullah bin Zaid di antara tidur dan jaga, tiba-tiba terlihatlah olehnya ada seorang laki-laki memakai dua pakaian yang serba hijau sambil berkeliling di kanan kirinya dan tangannya membawa sebuah genta. Sahabat ‘Abdullah bertanya kepada orang itu :
”Hai hamba ALLAH ! Apakah engkau hendak menjual genta itu ?”
Orang itu menyahut : ”Apakah yang akan kau perbuat dengannya ?”
Sahabat ‘Abdullah menjawab : ”Akan kaami pergunakan untuk memanggil shalat.”
Orang itu berkata : ”Maukah engkau saya perlihatkan kepada yang lebih baik dari pada itu?”
Sahabat ‘Abdullah menjawab : ”Baiklah. Coba tunjukkan!”
Orang itu berkata : ”Berserulah engkau dengan ucapan :

Lafadz adzan

”Allahu Akbar Allahu Akbar 
  Allahu Akbar Allahu Akbar.
  
  Asyhadu alla-ilaha illallah, 
  Asyhadu alla-illaha illallah.
  Asyhadu anna Muhammadar-rasulullah, 
  Asyhadu anna Muhammadar-rasulullah. 
  Hayya ‘alash-shalah Hayya ‘alash-shalah, 
  Hayya ‘alal-falah Hayya ‘alal-falah. 
  Allahu Akbar Allahu Akbar. 
  La ilaha illallah.”
Kemudian orang itu mengundurkan diri ke tempat yang tidak seberapa jauh dari tempat semula, lalu ia berkata kepada ‘Abdullah bin Zaid : Bila engkau hendak berdiri shalat, maka ucapkanlah :

Lafadz Iqomah

”Allahu Akbar Allahu Akbar. 
  Asyhadu alla-ilaha illallah. 
  Asyhadu anna Muhammadar-rasulullah. 
  Hayya ‘alash-shalah. Hayya ‘alal-falah. 
  Qad qamatish-shalah Qad qamatish-shalah. 
  Allahu Akbar Allahu Akbar. La ilaha illallah.”
Keesokkan harinya sahabat ‘Abdullah bin Zaid menghadap kepada Nabi Muhmmad SAW. dan mengabarkan kepada beliau tentang mimpinya itu. Setelah Nabi Muhammad s.a.w. mendengar segala apa yang di katakan oleh ‘Abdullah bin Zaid kepada beliau, beliaupun bersabda :
”Inna hadzihi ru’ya haq.”
”Bahwasanya mimpi itu benar, Insya ALLAH.”
”Faqum ma’a bilal, fainnahu anda wa amaddu shatan minka falqi ‘alaihi maqila laka walyunan di bidzalik.”
”Maka berdirilah (pergilah) engkau kepada Bilal, keran Bilal itu suaranya lebih tinggi dan lebih panjang, lalu ajarlah Bilal akan segala apa yang telah di ucapka orang itu kepadamu; dan hendaklah Bilal memanggil orang bershalat dengan sedemikian itu!”
Sahabat ‘Abdullah lalu mendapatkan sahabat Bilal dan mengajarkannya kepada Bilal adzan dan iqamat tersebut.
Kemudian setelah datang waktu shalat, sahabat Bilal memanggil orang bershalat dengan mengucapkan adzan dan qamat tersebut. Mendengar suara adzan sahabat Bilal itu, ‘Umat bin Kaththab r.a. Datang dengan sangat tegopoh-gopoh sambil menguraikan kainnya mendapatkan Nabi Muhammad s.a.w. lalu berkata :
”Ya Rasulullah walladzi ba’atsaka bilhaq, laqad ra aitu mitslal-ladzi qala.”
”Ya Rasulullah demi Dzat yang telah mengutus engkau dengan benar, sungguh semalam saya telah bermimpi sebagaimana yang di ucapkan Bilal.”
Nabi bersabda :
”Falillahil-hamdu fadzalika atsbat.”
”Maka semua puji bagi ALLAH, maka yang sedemikian itulah yang lebih tetap.”
Demikianlah singkatnya riwayat asal mula adzan dan qamat di dalam Islam, yang hingga kini masih dikerjakan oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia.
Kemudian diriwayatkan dalam kitab tarikh dan kitan hadits bahwa setelah berlaku tiap-tiap waktu shalat sahabat Bilal berdiri mengucapkan adzan dan qamat beberapa hari kemudian pada adzan di waktu subuh sahabat Bilal menambahkan pada adzan itu ucapan :
”Ashalatu khairu minan-naum ashalatu khairu minan-naum.”
Mendengar ucapan Bilal itu Nabi Muhammad SAW. lalu menetapkan kebaikkannya. Tetapi beliau tidak memperkenankan ucapan itu di ucapkan tiap-tiap adzan di waktu shalat yang selain shalat subuh. Hal ini pun hingga kini masih tetap di kerjakan oleh kaum Muslim se-umumnya.

Hikmah Adzan Dan Iqomah

Dari riwayat tersebut hikmah dari kisah permulaan adzan dan iqomah sebagai berikut :
Pertama : Riwayat itu menunjukkan bahwa kita umat Islam jika hendak mengerjakan suatu hal yang kiranya berguna bagi kemaslahatan umum, sedang pekerjaan itu tidak ada keterangan dari Allah SWT., maka pekerjaan itu supaya di permusyawaratkan lebih dulu kepada saudara-saudara kita kaum Muslimin. Dalam permusyawaratan itu harus harus di himpunkan orang-orang yang terpandang, yang dapat ikut memikirkan perkara yang di musyawarahkaan itu.
Kedua : orang-orang yang berniat ikut bermusyawarah masing-masing harus mengemukakaan buah pikirannya dan atau hasil penyelidikkannya. Adapun benar atau salahnya itu menurut suara terbanyak dan telah di setujui oleh bagian yang mengerti atau kebenaran.
Ketiga : Kemudian orang-orang yang memikul keputusan-keputusan yang telah di tetapkan oleh permusyawaratan itu haruslah menyerahkan dirinya bulat-bulat kepada Allah SWT. dengan memohonkan kebaikan kepada-Nya dengan harapan mudah-mudahan saja Tuhan memberikan petunjuknya yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu agar supaya perkara yang telah menjadi keputusan itu jika di kerjakan tidaklah menjadi suatu pekerjaan yang menyesatkan orang banyak.
Keempat : Mengenai segala perbuatan yang berkenan dengan urusan ta’abuud (persembahan kepada Allah SWT.), maka umat Islam tidaklah di perkenankan menjalankan perbuatan yang serupa dengan perbuatan kaum yang bukan Islam. Umapamanya tadi : Untuk tanda atau untuk memanggil orang bershalat apabila telah datang waktu shalat, supaya orang-orang yang berkepentingan datang bersama-sama, maka tidaaklah di perkenankan dengan menyalakan api, karena perbuatan itu adalah serupa dengan perbuatan kaum Majusi, tidaklah di perkenankan dengan meniup terompet karena perbuatan itu adalah serupa dengan perbuatan kaum Yahudi, dan tidaklah di perkenankan dengan memukul genta atau lonceng, karena perbuatan itu adalah serupa dengan perbuatan kaum Nasrani dan seterusnya.
Kelima : Oleh karena adzan dan qamat itu adalah untuk mengumumkan waktu shalat dan untuk memanggil orang bershalat padahal orang-orang yang berkepentingan boleh jadi lupa bahwa waktu shalat telah tiba dan boleh jadi ia sedang tidur dan sebagainya, maka dari itu jika kita kaum Muslimin hendak menetapkan seorang penyeru adzan (muadzin), haruslah menetapkan seseorang yang suaranya keras dan nyaring lagi lantang serta lidahnya fasih sebagaimana Nabi Muhammad SAW. Menetapkan sahabat Bilal menjadi penyeru adzannya.
Keenam : Riwayat tersebut cukup menjadi petunjuk bagi kita bahwa di adakannya adzan dan qamat di dalam Islam itu adalah untuk memaklumkan datangnya waktu shalat dan untuk memanggil bershalat kepada orang-orang yang berkepentingan. Jadi nyata-nyata di kerjakannya adzan azan dan qamat itu sekali-kali bukan untuk mengiringkan orang mati yang hendak di kuburkan, menolak bahaya api yang membakar rumah, bukan untuk menolak datangnya air bah dan lain-lainnya dan bukan pula untuk shalat yang selain shalat lima waktu.

Demikianlah telah dijelaskan tentang Kisah Adzan dan Iqomah, Lafadz dan Hikmah Terlengkap semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian.

Dalil Keutamaan Bulan Ramadhan Dan 30 Keistimewaan Lengkap

Dalil Keutamaan Bulan Ramadhan Dan 30 Keistimewaan Lengkap – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Bulan Ramadhan. Yang meliputi dalil keutamaan bulan ramadhan, 30 keistimewaan di bulan ramadhan  dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silakan simak ulasan dibawah ini dengan seksama.

Bulan Ramadhan

Ramadhan merupakan bulan kesembilan pada penanggalan Hijriah. Bulan suci Ramadhan juga menjadi bulan yang paling dirindukan oleh umat muslim dan banyak yang menyebutnya sebagai bulan seribu bulan. Dan khusus di bulan Ramadhan ini amal kebaikan umat muslim akan dibalas dengan berkah pahala yang berlipat ganda ? Bahkan bila kita menjalani puasa dengan sempurna, ketika hari lebaran datang, kita akan bersih dari dosa seperti seorang bayi yang baru lahir kembali. Selain hal tersebut, ada beberapa hal lain yang perlu Anda ketahui mengapa bulan Ramadhan menjadi bulan yang begitu istimewa dan dinantikan oleh setiap umat muslim.

Dalil Keutamaan Bulan Ramadhan

– Bulan diturunkannya Al-Qur’an

Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia. Mengapa? Karena di bulan ini pertama kali kitab suci umat Islam Al-Qur’an diturunkan.

Seperti yang tertulis dalam Q.S Al-Baqorah 185 yang bahwa Allah memuji bulan Ramadhan dari bulan-bulan lainnya karena bulan ini dipilih sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an.

2. Amal sholeh yang berlipat ganda,

Dalam sebuah hadis dikatakan bahwa bulan Ramadhan adalah waktu dimana kita mendekatkan diri kepada Allah SWT maka nilainya sama dengan tujuh puluh kali lipat dari kewajiban yang dilakukan di bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan ini juga, umat muslim berlomba-lomba dalam kebaikan dan menjalankan amalan sholeh lainnya.

3. Bulan yang penuh berkah, 

Inilah alasan mengapa bulan Ramadhan juga disebut sebagai malam seribu bulan. Karena saat seorang muslim melakukan sebuah kebaikan di bulan Ramadhan, ia akan mendapat keberkahan yang nilainya sama dengan seribu bulan. Pada bulan ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu lailatul qadar (malam kemuliaan). Pada malam inilah –yaitu 10 hari terakhir di bulan Ramadhan- saat diturunkannya Al Qur’anul Karim.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3

”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr: 1-3).

Dan Allah Ta’ala juga berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ


”Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhan: 3). 

Yang dimaksud malam yang diberkahi di sini adalah malam lailatul qadr. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Jarir Ath Thobari rahimahullah. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama di antaranya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

– Bulan pengampunan dosa dan dikabulkannya doa-doa

Dalam sebuah Hadis Riwayat Bukhari dijelaskan bahwa setiap muslim berkesempatan untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya bahkan dengan ibadah yang sempurna pada bulan puasa akan menjadikan kita kembali bagaikan seorang bayi yang baru lahir. Di bulan Ramadhan juga, Allah berfirman bahwa setiap doa yang dipanjatkan maka pasti akan dikabulkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ

”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizholimi”. 
An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Hadits ini menunjukkan bahwa disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk berdo’a dari awal ia berpuasa hingga akhirnya karena ia dinamakan orang yang berpuasa ketika itu.” An Nawawi rahimahullah mengatakan pula, “Disunnahkan bagi orang yang berpuasa ketika ia dalam keadaan berpuasa untuk berdo’a demi keperluan akhirat dan dunianya, juga pada perkara yang ia sukai serta jangan lupa pula untuk mendoakan kaum muslimin lainnya.”

– Terdapat malam Lailatur Qadar, 

Malam ini merupakan malam yang didamba-dambakan oleh setiap umat muslim saat bulan Ramadhan. Malam yang terdapat di salah satu dari 10 hari terakhir bulan Ramadhan ini merupakan malam yang paling baik diisi oleh doa-doa yang baik dan mukjizat dapat turun di malam Lailatul Qadar. 

30 Keistimewaan Bulan Ramadhan

Rasulullah saw bersabda : “Sekiranya kalian mengetahui apa yang akan kamu dapatkan di bulan Ramadhan, niscaya kamu akan menambah rasa syukur kalian kepada Allah swt”.

  1. Pada awal malam Ramadhan Allah swt mengampuni semua dosa yang tersembunyi dan yang terang-terangan, meninggikan beribu-ribu derajat, membangunkan untuk kalian lima puluh ribu kota di surga. (Hari pertama sudah seperti itu, dosa-dosa kita akan diampuni dan ditinggikan derajatnya, jadi jangan sampai kita melewatkan puasa ramadhan)
  2. Keutamaan hari ke-2 puasa Ramadhan adalah Allah swt mencatat setiap ibadah kalian seperti ibadah satu tahun dan pahalanya seperti pahala seorang nabi, mencatat puasa kalian seperti puasa satu tahun.
  3. Keutamaan hari ke-3 puasa Ramadhan adalah Allah swt memberi kalian setiap rambut di tubuh kalian taman permata yang indah di surga Firdaus, di atasnya dua belas ribu rumah dari cahaya, di bawahnya dua belas ribu tempat tidur dan di setiap tempat tidur ada bidadari, setiap hari seribu malaikat berkunjung dan setiap malaikat membawa hadiah untuk kalian.
  4. Keutamaan hari ke-4 puasa Ramadhan adalah Allah memberi kalian di surga Khuld tujuh puluh ribu istana dan di setiap istana terdapat tujuh puluh ribu rumah, di setiap rumah terdapat lima puluh ribu tempat tidur dan di setiap tempat tidur terdapat bidadari dan setiap bidadari memiliki seribu perhiasan yang lebih baik dari dunia dan segala isinya.
  5. Keutamaan hari ke-5 puasa ramadhan, Allah swt memberi kalian di surga Al-Ma’wa beribu-ribu kota, setiap kota terdapat seribu rumah, di setiap rumah terdapat seribu meja makan, di atas setiap meja makan tujuh puluh ribu tempat makanan, di setiap tempat makanan tujuh puluh macam makanan yang tidak sama satu dengan yang lain.
  6. Keutamaan hari ke-6 puasa ramadhan, Allah swt memberi kalian di surga Darus Salam seratus ribu kota, di setiap kota seratus perkampungan, di setiap perkampungan seratus ribu rumah, di setiap rumah seratus ribu tempat tidur dari emas yang panjang, setiap tempat tidur panjangnya seribu hasta, di atas tempat tidur terdapat bidadari sebagai pasangan yang berhias dengan tiga puluh ribu perhiasan dari permata putih dan permata merah, dan setiap bidadari membawa seratus pelayan.
  7. Keutamaan hari ke-7 puasa ramadhan, Allah swt memberi kalian di surga Na’im pahala seperti pahala seribu syuhada’ dan empat puluh ribu orang yang benar.
  8. Keutamaan hari ke-8 puasa Ramadhan, Allah swt memberi kalian pahala seperti pahala amal enam puluh ribu ahli ibadah dan orang enam puluh ribu orang yang zuhud.
  9. Keutamaan hari ke-9 puasa Ramadhan, Allah Azza wa Jalla memberi kalian apa yang diberikan kepada seribu ulama, seribu orang yang i’tikaf, dan seribu orang yang menyambung tali persaudaraan.
  10. Keutamaan hari ke-10 puasa Ramadhan, Allah Azza wa Jalla memenuhi tujuh puluh ribu hajat, dan memohonkan ampunan untuk kalian matahari, bulan, bintang-bintang, binatang yang melata, burung, binatang buas, setiap bebatuan dan bongkahan tanah liat, setiap yang kering dan yang basah, setiap binatang di laut dan dedaunan di pepohonan.
  11. Keutamaan hari ke-11 puasa Ramadhan, Allah Azza wa Jalla mencatat untuk kalian pahala seperti pahala empat kali orang yang haji dan umrah, setiap yang haji bersama seorang Nabi, dan setiap yang umrah bersama orang yang benar dan yang syahid.
  12. Keutamaan hari ke-12 puasa Ramadhan, Allah Azza wa Jalla menjadikan bagi kalian keimanan yang dapat merubah keburukan-keburukan menjadi kebaikan-kebaikan yang berlipat-ganda, dan mencatat bagi kalian setiap kebaikan seribu kebaikan.
  13. Keutamaan hari ke-13 puasa Ramadhan, Allah Azza wa Jalla mencatat bagi kalian pahala seperti pahala ibadah penduduk Mekkah dan Madinah, dan Allah memberi kalian syafaat sejumlah bebatuan dan bongkahan tanah liat yang ada di antara Mekkah dan Madinah.
  14. Keutamaan hari ke-14 puasa Ramadhan, Kalian seperti berjumpa dengan Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Daud dan Sulaiman, dan seperti beribadah kepada Allah Azza wa Jalla bersama setiap Nabi selama dua ratus tahun.
  15. Keutamaan hari ke-15 puasa ramadhan, Allah Azza wa Jalla menunaikan untuk kalian hajat-hajat dunia dan akhirat, memberi kalian apa yang diberikan kepada Nabi Ayyub; para malaikat pemikul Arasy memohonkan ampunan untuk kalian, dan pada hari kiamat Allah Azza wa Jalla akan memberi kalian empat puluh cahaya, sepuluh cahaya dari sebelah kanan kalian, sepuluh dari sebelah kiri kalian, sepuluh dari depan kalian, dan sepuluh cahaya dari belakang kalian.
  16. Keutamaan hari ke-16 puasa ramadhan, Allah swt akan memberi kalian pada hari kalian dibangkitkan dari kubur enam puluh pakaian untuk kalian pakai, enam puluh onta untuk kalian kendarai, dan Allah swt mengirimkan awan untuk menaungi kalian dari sengatan panas hari itu.
  17. Keutamaan hari ke-17 puasa ramadhan, Allah Azza wa Jalla menyatakan: “sungguh Aku telah mengampuni mereka dan bapak-bapak mereka, Aku akan lindungi mereka dari azab hari kiamat.”
  18. Keutamaan hari ke-18 puasa ramadhan, Allah Azza wa Jalla memerintahkan malaikat Jibril, Mikail, Israfil, malaikat pemikul Arasy dan Al-Karubin agar memohonkan ampunan untuk ummat Muhammad saw sampai tahun berikutnya, dan Allah Azza wa Jalla memberikan pada kalian pahala para syuhada’ Badar.
  19. Keutamaan hari ke-19 puasa ramadhan, Semua malaikat langit dan bumi minta izin kepada Tuhannya untuk berziarah ke kuburan kalian setiap hari, dan setiap malaikat membawa hadiah dan minuman untuk kalian.
  20. Keutamaan hari ke-20 puasa ramadhan, pada suatu hari Allah Azza wa Jalla mengutus kepada kalian tujuh puluh Malaikat untuk menjaga kalian dari setiap setan yang terkutuk; Allah Azza wa Jalla mencatat untuk kalian setiap hari kalian puasa seperti berpuasa seratus tahun; menjadikan parit antara kalian dan neraka; memberi kalian pahala orang yang termaktub dalam Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qu’an; Allah Azza wa Jalla mencatat untuk kalian setiap pena Jibril (as) sebagai ibadah satu tahun; memberikan pada kalian pahala tasbih Arasy dan Kursi; dan memberi pasangan untuk kalian setiap ayat Al-Qur’an seribu bidadari.
  21. Keutamaan hari ke-21 puasa ramadhan, Allah swt meluaskan kuburan kalian seribu farsakh, menghilangkan dari kalian kegelapan dan kesepian, menjadikan kuburan kalian seperti kuburan para syuhada’, dan menjadikan wajah kalian seperti wajah Yusuf bin Ya’qub (as).
  22. Keutamaan hari ke-22 puasa ramadhan, Allah Azza wa Jalla akan mengutus kepada kalian malaikat maut seperti pada para Nabi saw, menyelamatkan kalian dari keganasan malaikat Munkar dan Nakir, dan menghilangkan dari kalian penderitaan dunia dan akhirat.
  23. Keutamaan hari ke-23 puasa ramadhan, kalian akan melintasi shirathal mustaqim bersama para Nabi, shiddiqin dan syuhada’, dan pahala kalian seperti memberi makanan kepada setiap anak yatim dari ummatku dan seperti memberi pakaian kepada setiap yang telanjang dari ummatku.
  24. Keutamaan hari ke-24 puasa ramadhan, kalian tidak akan keluar dari dunia kecuali kalian melihat kedudukannya di surga;, setiap kalian diberi pahala seribu orang yang sakit, seribu pahala orang yang merantau untuk mentaati Allah Azza wa Jalla, kalian diberi pahala seribu pembebasan dari keturunan nabi Ismail (as).
  25. Keutamaan hari ke-25 puasa ramadhan, Allah Azza wa Jalla membangunkan untuk kalian di bawah Arasy seribu menara hijau, di atas setiap menara terdapat kemah dari cahaya, dan Allah Tabaraka wa ta’ala berfirman: “Wahai ummat Muhammad, Aku adalah Tuhan dan kalian adalah hamba-Ku, bernaunglah kalian di bawah Arasy-Ku di menaramenara ini, makan dan minumlah sepuas kalian, jangan takut dan jangan sedih; wahai ummat Muhammad, demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku akan mengirim kalian ke surga, kalian akan dibanggakan oleh orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir, Aku akan memberikan pada setiap kalian seribu mahkota dari cahaya, kendaraan onta yang Kuciptakan dari cahaya, tali kendalinya dari cahaya dan pada tali kendali itu terdapat seribulingkaran yang terbuat dari emas, dan pada setiap lingkaran berdiri malaikat, dan setiap malaikat memegang tongkat dari cahaya sehingga kalian memasuki surga tanpa dihisab.
  26. Keutamaan hari ke-26 puasa ramadhan, Allah swt memandang kalian dengan kasih sayang-Nya, kemudian mengampuni semua dosa kalian kecuali sogokan dan hartanya; Allah swt mensucikan rumah kalian setiap hari tujuh puluh ribu kali dari ghibah dan dusta.
  27. Keutamaan hari ke-27 puasa ramadhan, kalian seperti menolong setiap mukmin dan mukminah, memberi pakaian pada tujuh puluh ribu orang yang telanjang, membantu seribu orang yang menjalin tali persaudaraan; kalian seperti membaca semua kitab yang diturunkan oleh Allah Azza wa Jalla kepada para Nabi-Nya.
  28. Keutamaan hari ke-28 puasa ramadhan, Allah Azza wa Jalla menjadikan bagi kalian di surga Al-Khuld seratus ribu kota dari cahaya, memberi kalian di surga Al-Ma’wa seratus ribu istana dari perak; memberi kalian di surga Al-Jalal tiga ratus ribu mimbar (tempat yang tinggi) yang terbuat dari misik, di setiap mimbar seribu rumah dari za’faran
  29. Keutamaan hari ke-29 puasa ramadhan, Allah Azza wa Jalla memberi kalian beribu-ribu kediaman dan di setiap kediaman terdapat menara putih, di setiap menara terdapat tempat tidur dari kafur putih dilengkapi dengan seribu permadani dari sutera hijau, di setiap permadani disiapkan bidadari yang dihiasi dengan tujuh puluh ribu hiasan, di kepalanya seribu hiasan dari permata
  30. Keutamaan hari ke-30 puasa ramadhan, Allah Azza wa Jalla mencatat bagi kalian setiap hari sebelumnya pahala seribu suhada’ dan seribu orang yang benar; Allah Azza wa Jalla mencatat bagi kalian seperti beribadah lima puluh tahun; Allah Azza wa Jalla mencatat bagi kalian untuk setiap hari seperti puasa dua ribu hari, dan mengangkat derajat kalian

Demikianlah telah dijelaskan tentang Dalil Keutamaan Bulan Ramadhan Dan 30 Keistimewaan Lengkap semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian.

Pengertian Pendidikan Agama Islam Tujuan dan Ruang Lingkup

Pengertian Pendidikan Agama Islam Tujuan dan Ruang Lingkup – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Pendidikan Agama Islam. Yang meliputi Pengertian pengertian menurut para ahli, tujuan dan ruang lingkup pendidikan agama islam dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silakan simak ulasan dibawah ini dengan seksama.

Pengertian Pendidikan Agama Islam 

Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.(Dewey, John (1916/1944). Democracy and Education. The Free Press. hlmn. 1–4.). Etimologi kata pendidikan itu sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu ducare, berarti “menuntun, mengarahkan, atau memimpin” dan awalan e, berarti “keluar”. Jadi, pendidikan berarti kegiatan “menuntun ke luar”. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan. Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahap seperti prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah dan kemudian perguruan tinggi, universitas atau magang.

Menurut Sahertian (2000 : 1) mengatakan bahwa pendidikan adalah “usaha sadar yang dengan sengaja dirancangkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.”

Sebuah hak atas pendidikan telah diakui oleh beberapa pemerintah. Pada tingkat global, Pasal 13 Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya mengakui hak setiap orang atas pendidikan. Meskipun pendidikan adalah wajib di sebagian besar tempat sampai usia tertentu, bentuk pendidikan dengan hadir di sekolah sering tidak dilakukan, dan sebagian kecil orang tua memilih untuk pendidikan home-schooling, e-learning atau yang serupa untuk anak-anak mereka.

Pendidikan biasanya berawal saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran.

Sedangkan Pendidikan Agama Islam berarti “usaha-usaha secara sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam”. (Zuhairani, 1983 : 27)

Ajaran islam tidak memisahkan antara iman dan amal shaleh. Oleh karena itu, pendidikan islam adalah sekaligus pendidikan iman dan pendidikan amal dan juga karena ajaran islam berisi tentang ajaran sikap dan tingkah laku pribadi masyarakat menuju kesejahteraan hidup perorangan dan bersama, maka pendidikan islam adalah pendidikan individu dan pendidikan masyarakat. Semula yang bertugas mendidik adalah para Nabi dan Rasul selanjutnya para ulama, dan cerdik pandailah sebagai penerus tugas, dan kewajiban mereka (Drajat, 1992 : 25-28).

Para ahli pendidikan islam telah mencoba memformutasi pengertian pendidikan Islam, di antara batasan yang sangat variatif tersebut adalah :

Al-Syaibany mengemukakan bahwa pendidikan agama islam adalah proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya. Proses tersebut dilakukan dengan cara pendidikan dan pengajaran sebagai sesuatu aktivitas asasi dan profesi di antara sekian banyak profesi asasi dalam masyarakat.

Muhammad fadhil al-Jamaly mendefenisikan pendidikan Islam sebagai upaya pengembangan, mendorong serta mengajak peserta didik hidup lebih dinamis dengan berdasarkan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia. Dengan proses tersebut, diharapkan akan terbentuk pribadi peserta didik yang lebih sempurnah, baik yang berkaitan dengan potensi akal, perasaan maupun perbuatanya.

Ahmad D. Marimba mengemukakan bahwa pendidikan islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama (insan kamil)

Ahmad Tafsir mendefenisikan pendidikan islam sebagai bimbingan yang diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam (Tafsir, 2005 : 45)

Tujuan Pendidikan Agama Islam

Tujuan pendidikan secara formal diartikan sebagai rumusan kualifikasi, pengetahuan, kemampuan dan sikap yang harus dimiliki oleh anak didik setelah selesai suatu pelajaran di sekolah, karena tujuan berfungsi mengarahkan, mengontrol dan memudahkan evaluasi suatu aktivitas sebab tujuan pendidikan itu adalah identik dengan tujuan hidup manusia.

Dari uraian di atas tujuan Pendidikan Agama peneliti sesuaikan dengan tujuan Pendidikan Agama di lembaga-lembaga pendidikan formal dan peneliti membagi tujuan Pendidikan Agama itu menjadi dua bagian dengan uraian sebagai berikut :

Tujuan umum Pendidikan Agama Islam adalah untuk mencapai kwalitas yang disebutkan oleh al-Qur’an dan hadits sedangkan fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mengemban fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang-Undang dasar No. 20 Tahun 2003

Anggota keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam, sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka, walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak resmi.

– Fungsi Pendidikan Agama Islam

Menurut Horton dan Hunt, lembaga pendidikan berkaitan dengan fungsi yang nyata (manifes) berikut:

  • Mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari nafkah. 
  • Mengembangkan bakat perseorangan demi kepuasan pribadi dan bagi kepentingan masyarakat. 
  • Melestarikan kebudayaan. 
  • Menanamkan keterampilan yang perlu bagi partisipasi dalam demokrasi. 

Fungsi lain dari lembaga pendidikan adalah sebagai berikut.

  • Mengurangi pengendalian orang tua. Melalui pendidikan, sekolah orang tua melimpahkan tugas dan wewenangnya dalam mendidik anak kepada sekolah. 
  • Menyediakan sarana untuk pembangkangan. Sekolah memiliki potensi untuk menanamkan nilai pembangkangan di masyarakat. Hal ini tercermin dengan adanya perbedaan pandangan antara sekolah dan masyarakat tentang sesuatu hal, misalnya pendidikan seks dan sikap terbuka. 
  • Mempertahankan sistem kelas sosial. Pendidikan sekolah diharapkan dapat mensosialisasikan kepada para anak didiknya untuk menerima perbedaan prestise, privilese, dan status yang ada dalam masyarakat. Sekolah juga diharapkan menjadi saluran mobilitas siswa ke status sosial yang lebih tinggi atau paling tidak sesuai dengan status orang tuanya. 
  • Memperpanjang masa remaja. Pendidikan sekolah dapat pula memperlambat masa dewasa seseorang karena siswa masih tergantung secara ekonomi pada orang tuanya. 

Menurut David Popenoe, ada lima macam fungsi pendidikan yakni sebagai berikut:

  1. Transmisi (pemindahan) kebudayaan.
  2. Memilih dan mengajarkan peranan sosial.
  3. Menjamin integrasi sosial.
  4. Sekolah mengajarkan corak kepribadian.
  5. Sumber inovasi sosial.

Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam

Ruang lingkup ajaran islam meliputi tiga bidang yaitu :

a. Aqidah

Aqidah arti bahasanya ikatan atau sangkutan. Bentuk jamaknya ialah aqa’id. Arti aqidah menurut istilah ialah keyakinan hidup atau lebih khas lagi iman. Sesuai dengan maknanya ini yang disebut aqidah ialah bidang keimanan dalam islam dengan meliputi semua hal yang harus diyakini oleh seorang muslim/mukmin. Terutama sekali yang termasuk bidang aqidah ialah rukun iman yang enam, yaitu iman kepada Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada Rasul-rasul-Nya, kepada hari Akhir dan kepada qada’dan qadar.

b. Syari’ah

Syari’ah arti bahasanya jalan, sedang arti istilahnya ialah peraturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan tiga pihak Tuhan, sesama manusia dan alam seluruhnya, peraturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan tuhan disebut ibadah, dan yang mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia dan alam seluruhnya disebut Muamalah. Rukun Islam yang lima yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji termasuk ibadah, yaitu ibadah dalam artinya yang khusus yang materi dan tata caranya telah ditentukan secara parmanen dan rinci dalam al-Qur’an dan sunnah Rasululah Saw.

Selanjutnya muamalah dapat dirinci lagi, sehingga terdiri dari:

  • Munakahat (perkawinan), harta waris (faraidh) dan termasuk di dalamnya soal wasiat 
  • Tijarah (hukum niaga) termasuk di dalamnya soal sewa-menyewa, utang-piutang, wakaf. 
  • Hudud dan jinayat keduanya merupakan hukum pidana islam 
  • Hudud ialah hukum bagi tindak kejahatan zina, tuduhan zina, merampok, mencuri dan minum-minuman keras. Sedangkan jinayat adalah hukum bagi tindakan kejahatan pembunuhan, melukai orang, memotong anggota, dan menghilangkan manfaat badan, dalam tinayat berlaku qishas yaitu “hukum balas” 
  • Khilafat (pemerintahan/politik islam) 
  • Jihad (perang), termasuk juga soal ghanimah (harta rampasan perang) dan tawanan). 

c. Akhlak/Etika

Akhlak adalah berasal dari bahasa Arab jamat dari “khuluq” yang artinya perangai atau tabiat. Sesuai dengan arti bahasa ini, maka akhlak adalah bagian ajaran islam yang mengatur tingkahlaku perangai manusia. Ibnu Maskawaih mendefenisikan akhlak dengan “keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan fikiran”.

Akhlak ini meliputi akhlak manusia kepada tuhan, kepada nabi/rasul, kepada diri sendiri, kepada keluarga, kepada tetangga, kepada sesama muslim, kepada non muslim.

Dalam Islam selain akhlak dikenal juga istilah etika. Etika adalah suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia kepada lainnya, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat (Amin, 1975 : 3)

Jadi, etika adalah perbuatan baik yang timbul dari orang yang melakukannya dengan sengaja dan berdasarkan kesadarannya sendiri serta dalam melakukan perbuatan itu dia tau bahwa itu termasuk perbuatan baik atau buruk.

Etika harus dibiasakan sejak dini, seperti anak kecil ketika makan dan minum dibiasakan bagaimana etika makan atau etika minum, pembiasaan etika makan dan minum sejak kecil akan berdampak setelah dewasa. Sama halnya dengan etika berpakaian, anak perempuan dibiasakan menggunakan berpakaian berciri khas perempuan seperti jilbab sedangkan laki-laki memakai kopya dan sebagainya. Islam sangat memperhatikan etika berpakai.

Demikianlah telah dijelaskan tentang Pengertian Pendidikan Agama Islam Tujuan dan Ruang Lingkup semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian.

Pengertian Hadist, Sanad, Matan, Rawi, dan Macam Hadist

Pengertian Hadist, Sanad, Matan, Rawi, dan Macam Hadist – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Hadist. Yang meliputi Pengertian Sanad, Matan, Rawi, dan Macam-Macam Hadist dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silakan simak ulasan dibawah ini dengan seksama.

A. Pengertian Hadist, Sanad, Rawi dan Matan

Hadits adalah segala perkataan (sabda), secara terminologi/bahasa hadits berasal dari kata hadits yang jama’nya adalah ahaadits meliputi berbagai macam arti yaitu al-jadid ( sesuatu yang baru), al-qarib (sesuatu yang dekat), dan al-khabar (kabar berita). Sedangkan secara istilah hadits yaitu segala bentuk perkataan, perbuatan, ketetapan dan persetujuan Rasulullah SAW. yang dijadikan sebagai hukum dalam agama islam. Hadits menjadi sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an diikuti Ijma’ dan Qiyas.

Adapun yang sering dijadikan referensi hadits-haditsnya ada tujuh ulama yang dikenal Imam Sab’ah (Imam Tujuh), adalah Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Turmudzi, Imam Ahmad, Imam Nasa’i, dan Imam Ibnu Majah. 
Sanad adalah seorang yang menuturkan hadits atau meriwayatkannya, atau mudahnya adalah orang yang menuturkan hadits atau periwayat hadits yang dimulai dari orang yang mencatat hadits tersebut hingga sampai ke Rasulullah.

Matan yaitu isi atau redaksi hadits baik berupa sabda Nabi Muhammad SAW, maupun berupa perbuatan Nabi Muhammad SAW yang diceritakan oleh sahabat atau berupa taqrirnya. 
Selain sanad ada pula rawi, yakni orang yang menyampaikan hadits.

 Ciri-ciri ideal seorang rawi 

  • Bukan pendusta atau tidak dituduh sebagai pendusta.
  • Tidak banyak salahnya, Teliti.
  • Tidak fasik.
  • Tidak dikenal sebagai orang yang ragu-ragu (peragu).
  • Bukan ahli bid’ah.
  • Kuat daya ingatannya (hafalannya).
  • Tidak sering bertentangan dengan rawi-rawi yang kuat.
  • Sekurangnya dikenal oleh dua orang ahli hadits pada jamannya.

    B. Macam-Macam Hadits

    Ditinjau dari segi nilai sanad, hadits dikelompokkan dalam tiga macam, shohih, hasan, dan dhoif.

    1. Hadits Shohih 

    yaitu hadits yang cukup sanadnya dari awal sampai akhir dan oleh orang-orang yang sempurna hafalannya. Adapun beberapa ketentuan hadits shohih adalah: Sanadnya bersambung, Perawinya adil, memiliki sifat istiqomah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga kehormatan dirinya (muruah), Dhobit, yakni memiliki ingatan dan hafalan yang sempurna serta mampu menyampaikan hafalan itu kapan saja dikehendaki; dan Hadits yang diriwayatkannya tidak bertentangan dengan hadits mutawatir atau dengan ayat al-Qur`an.

    2.  Hadits Hasan

    yaitu hadits yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi yang adil, namun tidak sempurna hafalannya.

    3. Hadits Dhoif (lemah) 

    yaitu hadits yang tidak memenuhi syarat shohih dan hasan yang diriwayatkan oleh orang yang tidak adil dan tidak dhobit, syadz dan cacat. 
    Hadits Dhoif ditinjau dari segi keterputusan sanad, terbagi menjadi lima macam:
    • Hadits Mursal, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh tabi`in dengan menyebutkan ia menerimanya langsung dari Nabi Muhammad SAW., padahal Tabi`in (generasi setelah sahabat) tidaklah mungkin bertemu dengan nabi.
    • Hadits Munqothi` yaitu hadits yang salah seorang rawinya gugur (tidak disebutkan namanya) tidak saja pada sahabat, namun bisa terjadi pada rawi yang di tengah atau di akhir;
    • Hadits al-Mu`adhdhol, yaitu hadits yang dua orang atau lebih dari perawinya setelah sahabat secara berurutan tidak disebutkan dalam rangkaian sanad;
    • Hadits Mudallas, yaitu hadits yang rawinya meriwayatkan hadits tersebut dari orang yang sezaman dengannya, tetapi tidak menerimanya secara langsung dari yang bersangkutan;
    • Hadits Mu`allal, yaitu hadits yang kelihatannya selamat, tetapi sesungguhnya memiliki cacat yang tersembunyi, baik pada sanad maupun pada matannya.
    Ditinjau dari segi lain-lainnya, hadits dhoif terbagi dalam 10 macam:
    • Hadits Mudhthorib, yaitu hadits yang kemampuan ingatan dan pemahaman periwayatnya kurang atau tidak sama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan.
    • Hadits Maqlub, yaitu hadits yang terjadi pembalikan di dalamnya, baik pada sanad, nama periwayat, maupun matannya (isi Hadits).
    • Hadits Mudho`af, yaitu hadits yang lemah matan dan sanadnya sehingga diperselisihkan oleh para `ulama. Contohnya, “asal segala penyakit adalah dingin.“ (HR. Anas dengan sanad yang lemah).
    • Hadits Syaadz, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang tshiqoh (terpercaya), yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi (periwayat / pembawa) yang terpercaya pula. Demikian menurut sebagian ulama Hijaz sehingga hadits syadz jarang dihapal ulama hadits. Sedang yang banyak dihapal ulama hadits disebut juga hadits Mahfudz.
    • Hadits Mungkar, yaitu Hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya / jujur.
    • Hadits Matruuk, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seseorang yang dituduh suka berdusta, nyata kefasikannya, ragu dalam periwayatan, atau pelupa.
    • Hadits Mu’allal, Yaitu Hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadis Mu’allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. Hadits ini biasa disebut juga dengan hadits Ma’lul (yang dicacati) atau disebut juga hadits Mu’tal (hadits sakit atau cacat).
    • Hadits Munqalib, yaitu Hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah.
    • Hadits Mudraj, yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang didalamnya terdapat tambahan yang bukan hadits, baik keterangan tambahan dari perawi sendiri atau lainnya.
    • Hadits Maudhu’, yaitu Hadits yang dilarang, yaitu hadits dalam sanadnya terdapat perawi yang berdusta atau dituduh dusta. Jadi hadits itu adalah hasil karangannya sendiri bahkan tidak pantas disebut hadits. 

    Beberapa pengertian dalam ilmu hadits

    • Muttafaq ‘Alaih, yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sumber sahabat yang sama, atau dikenal juga dengan Hadits Bukhari – Muslim. 
    • As Sab’ah, yaitu berarti tujuh perawi, yaitu: Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i dan Imam Ibnu Majah 
    • As Sittah, yaitu enam perawi yang tersebut pada As Sab’ah, kecuali Imam Ahmad bin Hambal. 
    • Al Khamsah,  yaitu lima perawi yang tersebut pada As Sab’ah, kecuali Imam Bukhari dan Imam Muslim. 
    • Al Arba’ah, yaitu empat perawi yang tersebut pada As Sab’ah, kecuali Imam Ahmad, Imam Bukhari dan Imam Muslim. 
    • Ats tsalatsah, yaitu tiga perawi yang tersebut pada As Sab’ah, kecuali Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim dan Ibnu Majah. 

    Demikianlah telah dijelaskan tentang Pengertian Hadist, Sanad, Matan, Rawi, dan Macam Hadist  semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian.

    Pengertian Mempelajari Fiqih Hukum Sejarah Keutamaan Lengkap

    Pengertian Mempelajari Fiqih Hukum Sejarah Keutamaan Lengkap – Pada pembahasan ini mari kita melihat Ringkasan Fiqih. Yang meliputi Pengertian baik secara bahasa dan istilah, Hukum pentingnya belajar ilmu fiqih, Sejarah fiqih menurut para ulama dan Keutamaan dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih jelasnya mari lihat ulasan berikut.


    A. Pengertian Fiqih

    Adapun Kata fiqih (فقه) menurut bahasa terdapat dua makna. Pertama adalah al fahmu al mujarrad (الفهم المجرد), yang artinya adalah mengerti secara langsung / sekedar mengerti saja. (Muhammad bin Mandhur, Lisanul Arab, madah: fiqih Al Mishbah Al Munir) Kata fiqih yang berarti sekedar mengerti atau memahami, disebutkan di dalam ayat Al Quran Al Karim, ketika Allah menceritakan kisah kaum Nabi Syu’aib ‘Alaihis Salam yang tidak mengerti ucapannya.

    قَالُوا يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُولُ 

    Artinya : “Mereka berkata, ‘Hai Syu’aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu.” (QS. Hud: 91). 

    Makna Kedua fiqih dalam arti mengerti atau memahami yang mendalam, bisa temukan di dalam Al Quran Al Karim pada ayat berikut ini:

    وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ 

    “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At Taubah: 122) 

    Sabda Rasulullah Saw:


    “Sesungguhnya panjangnya shalat dan pendeknya khutbah seseorang, merupakan tanda akan kepahamannya.” (Muslim no. 1437, Ahmad no. 17598, Daarimi no. 1511) 

    Adapun menurut istilah, fiqh berarti ilmu yang menerangkan tentang hukum-hukum syara’ yang berkenaan dengan amal perbuatan manusia yang diperoleh dari dalil-dalil tafsil (jelas). Orang yang mendalami fiqh disebut dengan faqih. Jama’nya adalah fuqaha, yakni orang-orang yang mendalami fiqh. Menurut para ahli fiqh (fuqaha), fiqh adalah mengetahui hukum-hukum shara’ yang menjadi sifat bagi perbuatan para hamba (mukallaf), yaitu: wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah.

    Imam Syafii memberikan definisi yang komprehensif, “Al ‘ilmu bi al ahkaam al syar’iyyah al ‘amaliyyah al muktasabah min adillatiha al tafshiliyyah” Yakni mengetahui hukum-hukum syara’ yang bersifat amaliyah yang didapatkan dari dalil-dalil yang terperinci. ‘al ilm’ pada definisi ini bermakna pengetahuan secara mutlak yang didapatkan secara yakin atau dzanni. Karena hukum yang terkait dengan amaliyah ditetapkan dengan dalil yang bersifat qath’I atau pun dzanni. Al ahkam bermakna tuntutan Allah sebagai pembuat hukum, atau khitab Allah yang terkait dengan perbuatan orang mukallaf, baik berupa kewajiban, sunnah, larangan, makruh atau mubah. 

    B. Sejarah Fiqih

    • Pada masa Nabi Muhammad SAW. 

    Ini juga disebut sebagai periode risalah, karena pada masa-masa ini agama Islam baru didakwahkan. Pada saat periode ini, permasalahan fiqih diserahkan sepenuhnya kepada Nabi Muhammad SAW yang mana Sumber hukum Islam saat itu adalah wahyu dari Allah SWT serta perkataan dan perilaku Nabi SAW. Periode Risalah ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu periode Makkah dan periode Madinah. Periode Makkah lebih tertuju pada permasalah akidah, karena disinilah agama Islam pertama kali disebarkan. Ayat-ayat yang diwahyukan lebih banyak pada masalah ketauhidan dan keimanan.

    • Setelah Nabi hijrah

    barulah ayat-ayat yang mewahyukan perintah untuk melakukan puasa, zakat dan haji diturunkan secara bertahap. Ayat-ayat ini diwahyukan ketika muncul sebuah permasalahan, seperti kasus seorang wanita yang diceraikan secara sepihak oleh suaminya, dan kemudian turun wahyu dalam surah Al-Mujadilah. Pada periode Madinah ini, ijtihad mulai diterapkan, walaupun pada akhirnya akan kembali pada wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW. 

    • Fiqih pada Masa Shohabat 

    ini dimulai sejak wafatnya Nabi Muhammad saw sampai pada masa berdirinya Dinasti Umayyah ditangan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Sumber fikih pada periode ini didasari pada Al-Qur’an dan Sunnah juga ijtihad para sahabat Nabi Muhammad yang masih hidup. Ijtihad dilakukan pada saat sebuah masalah tidak diketemukan dalilnya dalam nash Al-Qur’an maupun Hadis. Permasalahan yang muncul semakin kompleks setelah banyaknya ragam budaya dan etnis yang masuk ke dalam agama Islam. 

    • Masa dimana awal berkembangnya Fiqih 

    yang mana pada periode ini, para faqih mulai berbenturan dengan adat, budaya dan tradisi yang terdapat pada masyarakat Islam kala itu. Ketika menemukan sebuah masalah, para faqih berusaha mencari jawabannya dari Al-Qur’an. Jika di Al-Qur’an tidak diketemukan dalil yang jelas, maka hadis menjadi sumber kedua . Dan jika tidak ada landasan yang jelas juga di Hadis maka para faqih ini melakukan ijtihad.

    Masa ini berlangsung sejak berkuasanya Mu’awiyah bin Abi Sufyan sampai sekitar abad ke-2 Hijriah. Rujukan dalam menghadapi suatu permasalahan masih tetap sama yaitu dengan Al-Qur’an, Sunnah dan Ijtihad para faqih. Tapi, proses musyawarah para faqih yang menghasilkan ijtihad ini seringkali terkendala disebabkan oleh tersebar luasnya para ulama di wilayah-wilayah yang direbut oleh Kekhalifahan Islam.

    Mulailah muncul perpecahan antara 7 Islam menjadi tiga golongan yaitu Sunni, Syiah, dan Khawarij. Perpecahan ini berpengaruh besar pada ilmu fikih, karena akan muncul banyak sekali pandangan-pandangan yang berbeda dari setiap faqih dari golongan tersebut. Masa ini juga diwarnai dengan munculnya hadis-hadis palsu yang menyuburkan perbedaan pendapat antara faqih.

    Pada masa ini, para faqih seperti Ibnu Mas’ud mulai menggunakan nalar dalam berijtihad. Ibnu Mas’ud kala itu berada di daerah Iraq yang kebudayaannya berbeda dengan daerah Hijaz tempat Islam awalnya bermula. Umar bin Khattab pernah menggunakan pola yang dimana mementingkan kemaslahatan umat dibandingkan dengan keterikatan akan makna harfiah dari kitab suci, dan dipakai oleh para faqih termasuk Ibnu Mas’ud untuk memberi ijtihad di daerah di mana mereka berada.

    C. Hukum Mempelajari Fiqih 

    Hukum mempelajari Fiqih terbagi menjadi 2 yaitu Fardhu ‘Ain dan Fardhu Kifayah. Jika berkaitan dengan masalah-masalah yang wajib bagi setiap muslim untuk mengetahuinya maka hukum mempelajarinya adalah Fardhu ‘Ain bagi setiap muslim. Seperti masalah yang berkaitan dengan thaharah atau sifat Shalat yag sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka wajib bagi setiap muslim mempelajarinya. Berdosa bagi yang tidak mengetahuinya. Ia bisa mengetahuinya baik dengan bertaqlid kepada ulama ataupun berijtihad jika memiliki kemampuan.

    Ada lagi masalah-masalah yang kadang-kadang hanya diperlukan oleh sebagian muslim, artinya tidak semua muslim berhubungan langsung dengan masalah tersebut. Dalam hal ini tidak wajib bagi setiap muslim mengetahuinya. Mempelajari masalah Fiqih ini hukumnya Fardhu Kifayah. Misalnya hukum zakat saham. Tidak semua muslim harus mengetahuinya. Seseorang yang pekerjaan atau aktivitasnya berhubungan dengan zakat saham ini lah yang wajib mempelajarinya baik dengan taqlid ataupun dengan ijtihad (seperti Fardhu ‘Ain diatas). 

    D. Keutamaan Mempelajari Fiqih

    Keutamaan mempelajari Fiqih terbagi menjadi dua macam. Pertama keutamaan Fiqih secara umum adalah keutamaan yang didapatkan ketika seseorang menuntut ilmu agama. Maksudnya setiap ada dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menyebutkan keutamaan menuntut ilmu maka termasuk pula Fiqih didalamnya karena Fiqih termasuk ilmu syar’i. Misalkan saja hadits berikut ini,

    وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ 

    “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim) 

    Maka termasuk pula seseorang akan dimudahkan oleh Allah SWT. untuk jalan menuju surga. Demikian pula berlaku untuk seluruh dalil keutamaan menuntut ilmu agama.

    Kedua keutamaan khusus mempelajari Fiqih, Menurut Imam Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan bahwa dalil paling utama untuk mengetahui keutamaan ilmu adalah dengan melihat kepada buah/hasil yang didapatkan ketika mempelajarinya. Barang siapa yang mengamati buah Fiqih ia akan menyadari bahwa Fiqih adalah ilmu yang sangat utama. Karena, jika mengamati buah Fiqih yaitu hukum-hukum syar’i mengenai kejadian atau perbuatan manusia di masa sekarang atau di masa lalu, kita akan menemukan bahwa kebutuhan manusia terhadap Fiqih (yang memuat hukum-hukum perbuatan manusia) adalah kebutuhan yang lebih besar dibandingkan kebutuhan mereka terhadap ulama ilm-ilmu syari’ah yang lain. Kebutuhan manusia terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan shalat thaharah, puasa, haji, nikah, perselisihan antara suami-istri, talaq, dan lain-lain.

    Demikianlah telah dijelaskan tentang Pengertian Mempelajari Fiqih Hukum Sejarah Keutamaan Lengkap semoga bermanfaat sehingga dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian. Terimakasih telah berkunjung dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya.