√ Pengertian dan Macam-macam Mukjizat Dan Contohnya

Pengertian dan Macam-macam Mukjizat Dan Contohnya

Pengertian dan Macam-macam Mukjizat Dan Contohnya – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Mukjizat. Yang mana dalam pembahasan kali ini mengenai pengertian mukjizat, macam-macam mukjizat dan contoh mukjizat Nabi dan Rasul dengan secara singkat dan jelas. Untuk itu silahkan simak artikel berikut ini.

Kita sering sekali mendengar tentang kisah Nabi baik dari para kyai, ustadz dan teman tentang mukjizat. Karena setiap muslim wajib mempercayai adanya Mukjizat yang dimiliki oleh Nabi dan Rasul. Karena Mukjizat merupakan kekuasaan yang telah di kehendaki Allah, bahkan Rasul juga tidak memiliki hak untuk menunjukkan mukjizat tanpa izin dari Allah.

Pengertian dan Macam-macam Mukjizat Dan Contohnya

Mukjizat adalah perkara di luar dari naluri manusia yang dilakukan oleh Allah SWT. melalui para Nabi dan Rasul-Nya. Untuk membuktikan kebenaran kenabian, kerasulan dan keabsahan risalah-Nya. Mukjizat juga dapat di artikan peristiwa ajaib yang sukar dijangkau oleh akal kemampuan manusia.

Pengertian Mukjizat

Secara bahasa kata mukjizat yaitu Mukjiz yang berarti sesuatu yang melemahkan atau mengalahkan. Sedangkan secara istilah mukjizat berarti sesuatu yang luar biasa yang terjadi pada diri Nabi atau Rasulullah untuk membuktikan bahwa dirinya adalah Nabi atau Rasul Allah yang tidak dapat ditiru oleh siapapun.

Seperti firman Allah SWT dalam Surah Ar Ra’ad ayat 38 yang berbunyi :

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً ۚ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ

Artinya :

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu).”

Apabila orang-orang musyrik heran bahwa kamu mempunyai istri dan keturunan, serta meminta mukjizat selain al-Qur’ân, maka sebetulnya Kami telah mengutus sebelummu rasu-rasul yang juga mempunyai istri dan anak. Rasul adalah manusia biasa, lengkap dengan sifat-sifatnya.

Hanya saja, dia adalah orang yang terbaik di antara mereka. Seorang nabi tidak mungkin mendatangkan suatu mukjizat menurut kehendaknya atau kehendak kaumnya. Tetapi, yang mendatangkannya adalah Allah, dan Dialah yang mengizinkan nabi untuk mendatangkan mukjizat itu. Atas dasar itu setiap generasi mempunyai ketentuan dan mukjizat dari Allah yang sesuai dengan keadaan mereka.

Mukjizat hanya diterima oleh para nabi dan rasul-rasul Allah. Mukjizat di pakai para nabi dan rasul hanya untuk membela diri dan menjawab tantangan orang-orang kafir.

Sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Qur’an surat Asy-Syu’ara ayat 4 :

إِنْ نَشَأْ نُنَزِّلْ عَلَيْهِمْ مِنَ السَّمَاءِ آيَةً فَظَلَّتْ أَعْنَاقُهُمْ لَهَا خَاضِعِينَ

Artinya :

“Jika kami kehendaki niscaya Kami menurunkan kepada mereka mukjizat dari langit, maka senantiasa kuduk-kuduk mereka tunduk kepadanya.”

Sesungguhnya Kami Maha kuasa untuk mendatangkan kepada mereka suatu mukjizat yang dapat memaksa mereka untuk beriman, sehingga sebagaimana yang kamu harapkan mereka semua menjadi patuh dan tunduk kepada-Ku.

Tetapi Kami tidak akan melakukan hal seperti itu, karena sudah menjadi ketetapan hukum Kami (sunnatullah) untuk menyuruh mereka beriman tanpa paksaan. Dengan demikian, perintah dan larangan yang akan menghasilkan pahala atau siksa itu tidak kehilangan maknanya.

Macam-Macam Mukjizat

Adapun mukjizat dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu :

  • Mukjizat Kauniyah

Mukjizat kauniyah adalah mukjizat yang berkaitan dengan peristiwa alam, seperti dibelahnya bulan menjadi dua oleh Nabi Muhammad SAW dan dibelahnya Laut Merah oleh Nabi Musa as dengan tongkat.

  • Mukjizat Syakhsiyyah

Mukjizat Syakhsiyyah adalah mukjizat yang keluar dari tubuh seorang nabi dan rasul, seperti air yang keluar dari celah-celah jari Rasulullah SAW, cahaya bulan yang memancar dari tangan Nabi Musa as serta penyembuhan penyakit buta dan kusta oleh Nabi Isa as.

  • Mukjizat Salbiyyah

Mukjizat Salbiyyah adalah mukjizat yang membuat sesuatu tidak berdaya seperti ketika Nabi Ibrahim as dibakar oleh Raja Namrud, akan tetapi api tidak mampu membakarnya.

  • Mukjizat Aqliyyah

Mukjizat Aqliyyah adalah mukjizat yang rasional atau masuk akal. Contoh satu-satunya adalah Al Qur’an. Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang pengertian mukjizat serta pembagiannya. Mudah-mudahan dengan membaca ini, keimanan kita kepada Allah SWT. dan rasulnya bertambah. Aamiin.

Contoh-contoh mukjizat

Selain pengertian dan macam macam mukjizat diatas, berikut ini saya berikan beberapa contoh mukjizat dari pada nabi dan rasul.

  • Mukjizat Nabi Nuh As

Untuk menunjukkan kebesarannya sekaligus mengazab orang orang durhaka, allah memerintahkan Nabi Nuh As .untuk membuat perahu. Membuat perahu besar dalam waktu yang sangat cepat adalah perbuatan luar biasa apalagi dikerjakan di atas bukit. Setelah perahu Nabi Nuh As selesai, air bah yang sangat dahsyat melanda negeri itu, menenggelamkan segala yang ada di muka bumi kecuali nabi nuh dan para pengikutnya beserta sepasang binatang dari berbagai jenis atau macamnya.

Allah SWT. berfirman dalam surat Hud ayat 37 yaitu:

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا ۚ إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ

Artinya :

“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.”

  • Mukjizat Nabi Ibrahim As

Mukjizat Allah kepada Nabi Ibrahim As. yaitu tidak hangus dibakar dalam api unggun yang sangat besar. Mukjizat ini melemahkan kekerasan dan kedzaliman serta kekafiran raja namrud.

Allah SWT. berfirman dalam surah al-Anbiya ayat 69 yang artinya:

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

Artinya :

“Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”

  • Nabi Musa As

Untuk menjatuhkan keahlian para ahli sihir istana fir’aun. Allah memberikan mukjizat kepada nabi musa berupa tongkat yang menjelma menjadi ular. Ular nabi musa tersebut memakan semua ular tukang sihir. Tongkat nabi musa juga dapat membelah laut menjadi jalan dan telah menyelamatkan nabi musa dan para pengikutnya dari kejaran fir’aun. Sebagaimana firman Allah dalam surat Toha ayat 19 sampai 21 yang artinya:

قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَىٰ. فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَىٰ. قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ ۖ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَىٰ

Artinya :

“Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula,”

  • Mukjizat Nabi Isa As

Allah menurunkan mukjizat kepada Nabi Isa As. dalam rangka menjawab kaumnya yaitu:

  • Dapat membuat burung dari tanah, lalu hidup.
  • Dapat menghidupkan orang yang mati.
  • Menyembuhkan penyakit kusta.
  • Menyembuhkan orang buta.
  • Mengetahui apa yang dimakan dan disimpan orang dirumah.
  • Mukjizat Nabi Muhammad SAW

Mukjizat yang diberikan Allah SWT. kepada Nabi Muhammad SAW. antara lain:

  • Dari celah-celah jari tangan beliau memancur air yang dapat diminum sebagai pelas dahaga.
  • Melakukan perjalanan Isra’ dan Mi’raj dalam waktu satu malam. Perjalanan seperti itu tidak mungkin dilakukan dalam keadaan biasa walaupun dengan menggunakan kendaraan atau pesawat yang super canggih sekalipun.
  • Al qur’anul karim. Kitab suci yang tidak mungkin tertandingi baik dari segi bahasanya maupun dari segi kandungan isinya.

Demikian ulasan tentang Pengertian dan Macam-macam Mukjizat Dan Contohnya. Semoga dapat bermanfaat dan menambah imu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

Inilah Hukum Tidak Menutup Aurat Pada Saat Membaca Al-Quran

Inilah Hukum Tidak Menutup Aurat Pada Saat Membaca Al-Quran

Inilah Hukum Tidak Menutup Aurat Pada Saat Membaca Al-Quran – Pada kesempatan kali ini Pengetahuanislam.com akan membahas tentang Membaca Al-Qur’an. Yang mana dalam kesempatan kali ini menjelaskan bagaimana pandangan hukum menurut islam bagi seseorang yang tidak menutup aurat pada saat sedang membaca al-Qur’an dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan berikut ini dengan seksama.

Inilah Hukum Tidak Menutup Aurat Pada Saat Membaca Al-Quran

Hukum Tidak Menutup Aurat Ketika Membaca Al-Quran menjadi topik yang akan kita bahas kali ini. Mengingat bahwa membaca Al-Quran sendiri merupakan salah satu bentuk kewajiban serta juga ibadah yang dianjurkan untuk semua umat muslim. Selain itu juga, aktivitas membaca Al-Quran sendiri merupakan bentuk dan ciri dari pada keimanan dan ketaqwaan seseorang sebagaimana cara mensyukuri nikmat allah. Terlebih lagi Al-Quran sendiri merupakan kitab suci agama islam yang didalamnya bersumber ajaran ajaran mengenai agama islam.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Al-Imran Ayat 102)

Terdapat banyak sekali keutamaan membaca Al-quran salah satunya adalah dapat memberikan kelancaran rizki, kemudahan dalam berdagang serta juga limpahan pahala dan karunia yang pastinya sebagai bentuk penghargaan. Hal-hal yang disebutkan diatas, tertuang jelas dalam Firman Allah SWT berikut ini :

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ. لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Al Fathir Ayat 29-30).

Mengenai Hukum Tidak Menutup Aurat Pada Saat Membaca Al-Quran memang tidak terdapat dalil yang menegaskan mengenai hal ini. Namun tentunya sebagaimana ibadah lainnya, untuk membaca Al-Quran kita dituntut untuk berada dalam kondisi yang suci. Namun, tidak terdapat aturan lain yang menegaskan bahwa harus menutup aurat atau juga mengenakan jilbab bagi kaum wanita sebagaimana hukum tidak menutup aurat kaki.

Disebutkan dalam shahih Bukhari dari sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu ‘alahi wasallam bersabda,

أَفْضَلُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Artinya : “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 208)

Disebutkan juga dalam shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَمَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ وَهُوَ يَتَعَاهَدُهُ وَهُوَ عَلَيْهِ شَدِيدٌ فَلَهُ أَجْرَانِ

Artinya : “Perumpamaan orang membaca Al Qur`an sedangkan ia menghafalnya, maka ia akan bersama para Malaikat mulia. Sedangkan perumpamaan seorang yang membaca Al Qur`an dengan tekum, dan ia mengalami kesulitan atasnya, maka dia akan mendapat dua ganjaran pahala.” (Hadits Bukhari Nomor 4556)

Disebutkan dalam shahihain juga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْأُتْرُنْجَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ رِيحُهَا مُرٌّ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

Artinya : “Perumpamaan orang mu`min yang membaca al-Qur`an seperti buah utrujah, baunya harum dan rasanya enak, sedangkan perumpamaan orang mu`min yang tidak membaca al-Qur`an seperti buah kurma, tidak ada baunya namun rasanya manis, dan perumpamaan orang munafik yang membaca al-Qur`an seperti raihanah (sejenis tanaman), harum baunya tapi pahit rasanya dan perumpamaan munafik yang yang tidak membaca al-Qur`an seperti brotowali, baunya busuk dan rasanya pahit.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2791)

Inilah Hukum Tidak Menutup Aurat Pada Saat Membaca Al-Quran

Hukum Menutup Aurat

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda,

  • Hadits Muslim Nomor 1337

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ نِعْمَ الشَّفِيعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya : “Bacalah Al Qur`an, karena ia akan datang memberi syafa’at kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti.” (Hadits Muslim Nomor 1337)

Dari hadist diatas, tidak terdapat hal hal yang membahas mengenai kewajiban menutup aurat saat membaca Al-Quran. Namun tentunya, sebagai salah satu aktivitas ibadah maka sudah selayaknya saat membaca Al-Quran menggunakan pakaian yang sopan, serta juga dalam kondisi yang suci sebagaimana hukum menghina lafadz Allah dan hukum mengajak orang masuk islam.

Meskipun tidak terdapat hukum yang menegaskan akan hal ini, namun menutup aurat sendiri terutama bagi kaum wanita merupakan sebuah kewajiban seperti manfaat ucapan alhamdulillah sebagaimana dalam Firman-Nya berikut ini,

  • An-Nur Ayat 31

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya : “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur Ayat 31).

  • Al-Ahzab Ayat 59

Ditegaskan kembali tentang kewajiban menutup aurat dalam Firman Allah berikut ini :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya : “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab Ayat 59).

Berdasarkan firman Allah SWT. diatas, dapat disimpulkan bahwa menutup aurat merupakan kewajiban bagi kaum muslimah. Jika dihubungan dengan hal ini, maka tentu Hukum Tidak Menutup Aurat Pada Saat Membaca Al-Quran tidak berdosa hukumnya. Namun akan lebih afdhol lagi jika membaca Al-Quran dibarengi dengan aurat yang tertutup. Tentu saja hal terebut akan semakin menyempurnakan agama dan ibadah yang dijalani sebagaimana dalam cara menghadapi musibah dalam islam.

Perlu ditegaskan kembali bahwa, tidak terdapat hadist atau dalil mengenai hukum menutup aurat saat membaca Al-Quran. Namun, jika di kaitkan dengan kewajiban menutup aurat bagi kaum muslimah. Maka hal ini menjadi sesuatu yang saling berkaitan dan berhubungan. Dengan demikian tidak mengapa tidak menutup aurat saat membaca Al-Quran namun tetap harus menggunakan pakaian yang sopan. Namun akan lebih dianjurkan untuk menutup aurat saat membaca Al-Quran.

Demikian artikel tentang Inilah Hukum Tidak Menutup Aurat Pada Saat Membaca Al-Quran. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

Baca Juga

√ 20 Sifat Wajib Allah, Sifat Mustahil dan Sifat Jaiz Allah

20 Sifat Wajib Allah Sifat Mustahil dan Sifat Jaiz Allah

20 Sifat Wajib Allah, Sifat Mustahil dan Sifat Jaiz Allah – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Sifat Wajib Allah. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan 20 sifat wajib Allah, 20 sifat mustahil Allah dan sifat jaiz Allah dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih detailnya simak penjelasan berikut ini.

20 Sifat Wajib Allah, Sifat Mustahil dan Sifat Jaiz Allah

Sebagai umat Islam, kita perlu mempelajari tentang ilmu ketauhidan. Salah satunya yaitu mengenal beberapa sifat-sifat Allah SWT dimana ada Sifat Wajib dan Mustahil Allah yang perlu untuk diketahui.

Pengertian Sifat-Sifat Allah

Sebelum membahas mengenai Sifat Wajib dan Mustahil Allah. Perlu kita mengetahui apa makna dari Sifat-sifat Allah sendiri yang berarti sifat sempurna yang tak terhingga bagi Allah. Sebagai seorang muslim kita wajib mempercayai bahwa terdapat sifat kesempurnaan yang tak terhingga bagi Allah.

Sifat Wajib Allah

Berikut ini adalah sifat-sifat wajib Allah yaitu diantaranya:

Wujud (Ada)

Sifat wajib Allah yang pertama yaitu wujud yang artinya ada. Maksudnya, Allah adalah Dzat yang sudah pasti ada. Dia berdiri sendiri, tidak diciptakan oleh siapapun dan tidak Ada tuhan selain Allah SWT. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُم مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

Artinya:

Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudia ia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi Syafa’at 1190. Maka kamu tidak memperhatikan?” (QS. As Sajadah Ayat 4)

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Artinya:

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. (QS. Thaha Ayat 14)

Qidam (Terdahulu/Awal)

Qidam maksudnya Dialah sang pencipta yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Maksudnya, Allah telah ada lebih dulu daripada apa yang diciptakannya. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

هُوَ ٱلْأَوَّلُ وَٱلْءَاخِرُ وَٱلظَّٰهِرُ وَٱلْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Artinya :

Dialah yang awal dan yang akhir. Yang zhahir dan yang bathin, dan Dia maha mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al Hadid Ayat 3)

Baqa’ (Kekal)

Baqa maksudnya Allah maha kekal. Allah tidak akan punah, binasa, atau bahkan mati. Dia akan tetap ada selamanya. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an:

Artinya:

Tiap – tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. BagiNya-lah segala penentuan, dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan”. (QS. Al – Qasas : 88)

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Artinya:

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Rabb mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”. (QS. Ar  Rahman Ayat 26-27)

Mukholafatul Lilhawaditsi (Berbeda dengan makhluk ciptaanya)

Mukholafatul lilhawaditsi maksudnya Allah sudah pasti berbeda dengan ciptaanya. Dialah dzat yang Maha Sempurna dan Maha Besar. Tidak ada sesuatu pun yang mampu menandingi dan menyerupai keagungan-Nya. Sebagaiaman ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ

Artinya:

Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (QS. Al Ikhlas Ayat 4)

Artinya:

Tidak ada satupun yang serupa dengan Dia dan Dialah yang Maha Mendengan dan Melihat”. (QS. Asy Syura Ayat 11)

Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri)

Qiyamuhu binafsihi maksudnya Allah itu berdiri sendiri, tidak bergantung pada apapun dan tidak membutuhkan bantuan siapapun. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an:

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah benar – benar Maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta”. (QS. Al Ankabut Ayat 6)

Wahdaniyah (Tunggal/Esa)

Wahdaniyah maksudnya Allah maha esa atau tunggal. Tidak ada sekutu bagi-Nya, Dialah satu-satunya Tuhan pencipta alam semesta. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

Artinya:

Seandainya di langit dan di bumi ada tuhan – tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu akan binasa”. (QS. Al Anbiya Ayat 22)

Qudrat (Berkuasa)

Qudrat maksudnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang bisa menandingi atas kekuasaan Allah SWT. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an:

إِنَّ اللَّه عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya:

Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah Ayat 20)

Iradat (Berkehendak)

Iradat maksudnya apabila Allah berkehendak maka jadilah hal itu dan tidak ada seorangpun yang dapat mampu mencegah-Nya. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ إِلاَّ مَا شَاء رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ

Artinya:

Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki”. (QS. Hud Ayat 107)

‘Ilmun (Mengetahui)

Ilmun maksudnya Allah SWT Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Baik sesuatu yang tampak maupun yang tidak tampak. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ نُ

Artinya:

Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”. (QS. Qaf Ayat 16)

Hayat (Hidup)

Hayat maksudnya Allah SWT adalah Maha Hidup, tidak akan pernah mati, binasa, ataupun musnah. Dia kekal selamanya. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

Artinya:

Dan bertakwalah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya”. (QS. Al Furqon ayat 58)

Sama’ (Mendengar)

Sama’ maksudnya Allah Maha Mendengar baik yang diucapkan maupun yang disembunyikan dalam hati. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

وَاللّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya:

Dan Allah-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Maidah Ayat 76)

Basar (Melihat)

Basar maksudnya Allah melihat segala sesuatu. Pengelihatan Allah tidak terbatas, Dia mengetahui apapun yang terjadi di dunia ini. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya:

Dan Allah melihat atas apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Hujurat ayat 18)

Artinya:

Dan perumpamaan orang – orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat”. (QS. Al Baqarah ayat 265)

Qalam (Berfirman)

Qalam maksudnya Allah itu berfirman. Dia bisa berbicara atau berkata secara sempurna tanpa bantuan dari apapun. Terbukti dari adanya firman-Nya berupa kitab – kitab yang diturunkan lewat para Nabi. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

وَلَمَّا جَاء مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ

Artinya:

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan kami) pada waktu yang telah kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya”. (QS. Al A’raf ayat 143)

Qadiran (Berkuasa)

Qadiran maksudnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu yang ada di alam semesta. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ كُلَّمَا أَضَاء لَهُم مَّشَوْاْ فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُواْ وَلَوْ شَاء اللّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّه عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya:

Hampir kilat itu menyambar pengelihatan mereka. Setiap kali sinar itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. jika Allah menghendaki, niscaya dia melenyapkan pendengaran dan pengelihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah ayat 20)

Muridan (Berkehendak)

Muridan maksudnya bila Allah sudah menakdirkan suatu perkara, maka tidak ada yang bisa menolak kehendak-Nya. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ إِلاَّ مَا شَاء رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ

Artinya:

Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksanya terhadap apa yang Dia kehendaki”. (QS. Hud ayat 107)

‘Aliman (Mengetahui)

Aliman maksudnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Baik yang ditampakan maupun yang disembunyikan. Tidak ada satupun yang bisa menandingi pengetahuan Allah Yang Maha Esa. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

Artinya:

Dan Allah Maha Mengetahui sesuatu” … (QS. An Nisa ayat 176)

Hayyan (hidup)

Hayyan maksudnya Allah adalah dzat yang hidup. Allah tidak akan mati, tidak akan tidur ataupun lengah. Sebagaimana ayat yang menjelaskan dalam Al Qur’an :

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيراً

Artinya:

Dan bertakwalah kepada Allah yang hidup, yang tidak mati, dan bertasbihlah denga memuji-Nya. Dan cukuplah dia Maha Mengetahui dosa – dosa hamba-Nya”. (QS. Al Furqon ayat 58)

Sami’an (Mendengar)

Sami’an maksudnya Allah selalu mendengar pembicaraan manusia, permintaan, ataupun doa hamba-Nya.

Bashiran (Melihat)

Bashiran maksudnya keadaan Allah yang melihat setiap yang maujudat (benda yang ada). Allah selalu melihat gerak gerik kita. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu melakukan perbuatan baik.

Mutakalliman (Berfirman atau berkata – kata)

Mutakalliman maksudnya Sama dengan Qalam, Mutakalliman berarti berfirman. Firman Allah terwujud dengan lewat kitab-kitab suci yang diturunkan lewat para nabi.

Sifat Mustahil Allah

Berikut ini adalah sifat mustahil bagi allah, yaitu:

‘Adam  = Tiada (bisa mati)

Huduth  = Baharu (bisa di perbaharui)

Fana’ = Binasa (tidak kekal/mati)

Mumatsalatu lil hawaditsi = Menyerupai makhluknya

Qiyamuhu Bighayrihi = Berdiri dengan yang lain

Ta’addud = Berbilang – bilang (lebih dari satu)

Ajzun = Lemah

Karahah = Terpaksa

Jahlun = Bodoh

Mautun = Mati

Shamamun = Tuli

‘Umyun = Buta

Bukmun = Bisu

Kaunuhu ‘Ajizan = Dzat yang lemah

Kaunuhu Karihan = Dzat yang terpaksa

Kaunuhu Jahilan = Dzat yang bodoh

Kaunuhu Mayyitan = Dzat yang mati

Kaunuhu Asshama = Dzat yang tuli

Kaunuhu ‘Ama = Dzat yang buta

Kaunuhu Abkama = Dzat yang bisu

20 Sifat Wajib Allah Sifat Mustahil dan Sifat Jaiz Allah

Sifat Jaiz Allah

Ja’iz Artinya boleh ( الجائز ) dalam haq Allah Ta’ala adalah “فَعْلُ كُلِّ مُمْكِنٍ أَوْ تَرْكُهُ” melakukan setiap yang mungkin atau membiarkannya. Dalilnya diatas yaitu:

أَنَّهُ لَوْ وَجَبَ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَعْلُ شَيْءٍ أَوْ تَرْكُهُ لَصَارَ الْجَائِزُ وَاجِبًا أَوْ مُسْتَحِيْلًا وَهُوَ مُحَالٌ

Artinya:

Sesungguhnya jikalau wajib atas Allah SWT melakukan sesuatu atau membiarkannya niscaya ja’iz tersebut menjadi wajib atau mustahil. Dan itu mustahil.”

Demikian artikel tentang 20 Sifat Wajib Allah, Sifat Mustahil dan Sifat Jaiz Allah. Semoga artikel ini dapat bermanfaat, menambah ilmu pengetahuan serta Iman dan Taqwa kita kepada Allah SWT. Sekian, terima kasih.

√ Pengertian, Tata Cara dan Bacaan Doa Ruqyah (Lengkap)

Pengertian Tata Cara dan Bacaan Doa Ruqyah

Pengertian, Tata Cara dan Bacaan Doa Ruqyah (Lengkap) – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Doa Ruqyah. Yang mana dalam pembahasan ini menjelaskan pengertian, tata cara dan bacaan doa ruqyah dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih detailnya simak Artikel berikut ini.

Pengertian, Tata Cara dan Bacaan Doa Ruqyah (Lengkap)

Perlu disadari bahwa sihir dan jin adalah hal yang nyata bukan sekedar dongeng atau cerita saja. Karena Allah telah berfirman dalam Surat Al Falaq:

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ ﴿١﴾ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿٢﴾ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿٣﴾ وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّـٰثَـٰتِ فِى ٱلۡعُقَدِ ﴿٤﴾ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿٥﴾

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh. Dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”

Karena Allah telah memberikan kita doa untuk perlindungan dari hal tersebut, maka berarti hal itu adalah nyata. Selain itu, Allah juga menerangkan dalam surat Al-An’am ayat 128 yang Artinya:

“Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan Allah berfirman): “Hai golongan jin (syaitan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia”, lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”. Allah berfirman: “Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)”. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.”

Besok pada hari kiamat banyak manusia yang akan mengeluh kepada Allah bahwa jin telah merusak hidup mereka, membuat mereka sakit, membuat gila, membuat anak mereka cacat, menghancurkan rumah tangga dan lain sebagainya.

Sebelum membahas bagaimana cara dan bacaan ruqyah yang dapat dipakai untuk mengobati sihir, gangguan jin dan penyakit ‘ain. Maka terlebih dahulu difahami apa arti dari ruqyah itu sendiri. Karena metode ruqyah ini ada perbedaan pendapat dengan berbagai dalil yang menguatkan teori atau pendapat mereka, baik dari pihak yang membolehkan maupun dari pihak yang menentang.

Pengertian Ruqyah

Ruqyah memiliki beberapa syarat yang disebutkan oleh para ulama untuk membedakannya dengan ruqyah-ruqyah yang bid’ah dan syirik. Definisi ruqyah secara istilah merupakan berlindung diri dengan ayat-ayat Al Qur’an dan dzikir-dzikir serta doa-doa yang diajarkan oleh Nabi SAW.

Ibn al-Athir berkata: “Ruqyah merupakan permohonan perlindungan (jampi-jampi, mantra) yang dibacakan kepada orang yang terkena penyakit seperti demam, ketakutan dan penyakit-penyakit yang lain.

Syarat Utama Meruqyah

Para ulama telah sepakat tentang dibolehkannya meruqyah jika terkumpul 3 syarat, yaitu:

  • Ruqyah tersebut dilakukan dengan menggunakan kalamullah Subhaanahu wata’ala, dengan nama dan sifat-sifat-Nya.
  • Ruqyah dilakukan dengan menggunakan bahasa arab atau dengan sesuatu yang diketahui maknanya dari selain bahasa arab.
  • Meyakini bahwa ruqyah tidak memberikan pengaruh dengan sendirinya tetapi dengan izin Allah Subhaanahu wata’ala.

Bacaan Ruqyah Syar’iyyah

Menurut ajaran yang dicontohkan oleh Sheikh Abdurrouf Ben Halima, adalah sebagai berikut :

  1. Membaca Surat Al-fatihah 3x, 11x
  2. Membaca Ayat Kursi 3x, 11x
  3. Membaca Surat Al-Ikhlas 3x, 11x
  4. Membaca Surat Al-Falaq 3x, 11x
  5. Membaca Surat An-Naas 3x, 11x
  6. Membaca Surat Al- A’raf ayat 117-122 3x, 11x
  7. Membaca Surat Yunus ayat 81-82 3x, 11x
  8. Membaca Surat Thahaa ayat 68-70 3x, 11x

Setelah anda bacakan di atas air, maka air itu akan menghilangkan gangguan sihir, jin dan ‘ain dengan Rahmat Allah.

Sediakan air kira-kira 20 liter atau satu galon lalu bacakan ayat-ayat alquran di atas masing-masing 11x.

Lalu airnya dapat dipakai untuk minum setiap hari sebanyak 1,5 liter, untuk mandi, untuk disiramkan pada rumah anda dengan menggunakan alat spray lalu semprotkan pada pintu, sudut-sudut ruangan, atap, jendela, lantai.

Saat dipakai untuk mandi sebaiknya anda mandi di atas bak yang akan menampung sisa air mandi, setelah itu sisa air mandi dapat disiramkan di halaman rumah anda, sehingga tidak terbuang dengan sia-sia.

Lakukan cara tersebut diatas berturut-turut setiap hari atau setiap malam selama 12 hari.

Ayat-ayat Ruqyah

Di bawah ini adalah ayat-ayat ruqyah, antara lain sebagai berikut:

  1. Al-Fatihah

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ. اَلْحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ. ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ. مَـٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ. إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ. ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٲطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ. صِرَٲطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ. عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ.

Artinya :

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni‘mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai (orang-orang yang mengetahui kebenaran dan meninggalkannya), dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena ketidaktahuan dan kejahilan.”

  1. Ayat Kursi

ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَىُّ ٱلۡقَيُّومُ‌ۚ لَا تَأۡخُذُهُ ۥ سِنَةٌ۬ وَلَا نَوۡمٌ۬‌ۚ لَّهُ ۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشۡفَعُ عِندَهُ ۥۤ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦ‌ۚ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡ‌ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىۡءٍ۬ مِّنۡ عِلۡمِهِۦۤ إِلَّا بِمَا شَآءَ‌ۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ‌ۖ وَلَا يَـُٔودُهُ ۥ حِفۡظُهُمَا‌ۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِىُّ ٱلۡعَظِيمُ

Artinya :

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

  1. Surat Al-Ikhlas

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ. ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ. لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ. وَلَمۡ يَكُن لَّهُ ۥ ڪُفُوًا أَحَدٌ.

Artinya :

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”.

  1. Surat Al-Falaq

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ (١) مِن شَرِّ مَا خَلَقَ (٢) وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (٣) وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّـٰثَـٰتِ فِى ٱلۡعُقَدِ (٤) وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (٥

Artinya :

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh. Dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”

  1. Surat An-Naas

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ (١) مَلِكِ ٱلنَّاسِ (٢) إِلَـٰهِ ٱلنَّاسِ (٣) مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ (٤) ٱلَّذِى يُوَسۡوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ (٥) مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ (٦

Artinya :

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia.

  1. Surat Al-A’raf ayat Ayat 117-122

۞ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَلۡقِ عَصَاكَ‌ۖ فَإِذَا هِىَ تَلۡقَفُ مَا يَأۡفِكُونَ (١١٧) فَوَقَعَ ٱلۡحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ (١١٨) فَغُلِبُواْ هُنَالِكَ وَٱنقَلَبُواْ صَـٰغِرِينَ (١١٩) وَأُلۡقِىَ ٱلسَّحَرَةُ سَـٰجِدِينَ (١٢٠) قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (١٢١) رَبِّ مُوسَىٰ وَهَـٰرُونَ (١٢٢

Artinya :

“Dan kami wahyukan kepada Musa: “Lemparkanlah tongkatmu!” Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata: “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam. “(yaitu) Tuhan Musa dan Harun”.

  1. Surat Yunus ayat 81-82

فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ قَالَ مُوسَىٰ مَا جِئۡتُم بِهِ ٱلسِّحۡرُ‌ۖ إِنَّ ٱللَّهَ سَيُبۡطِلُهُ ۥۤ‌ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُصۡلِحُ عَمَلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ (٨١) وَيُحِقُّ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَـٰتِهِۦ وَلَوۡ ڪَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ (٨٢

Artinya :

”Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata: “Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidak benarannya”. Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya).

  1. Surat Thaaha ayat 68-70

قُلۡنَا لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ (٦٨) وَأَلۡقِ مَا فِى يَمِينِكَ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْ‌ۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَـٰحِرٍ۬‌ۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ (٦٩) فَأُلۡقِىَ ٱلسَّحَرَةُ سُجَّدً۬ا قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ هَـٰرُونَ وَمُوسَىٰ (٧٠

Artinya :

“Kami berkata: “Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). (68) Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang”. Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata: “Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa”.

Mengapa Ruqyah Perlu Memakai Air?

Secara logika bila anda merasa panas atau gerah dapat menghilangkan gerah dengan kipas angin atau mendinginkannya dengan shower. Maka yang lebih efektif dan lebih baik adalah dengan shower atau air. Demikian juga dengan membacakan Al-Quran pada air untuk minum, usap, mandi dan menyemprotkan rumah lebih efektif dari hanya membacakannya saja.

Seperti banyak diajarkan dalam sunah untuk perlindungan terhadap sihir. Apabila belum terkena sihir maka bacaan yang untuk perlindungan sudah cukup. Tetapi jika Anda sudah terkena sihir, maka doa perlindungan saja belum cukup. Harus ditambah dengan doa dan cara untuk menyembuhkan atau menghilangkan sihir tersebut secara rutin.

Apabila tata cara ini tidak dapat menghilangkan secara langsung, setidaknya akan membuat berkurang dan bila dilakukan secara rutin dan terus menerus maka Insya Allah itu semua akan berakhir.

Ayat-ayat di atas adalah ayat inti dalam menangani sihir, anda dapat menambahkan dengan doa-doa yang diajarkan nabi. Bisa juga menambahkan ayat sesuai hadits atau dalam buku-buku ruqyah. Makin banyak yang anda tambahkan ataupun dibaca lebih dari 11 kali maka akan lebih efisien dan akan lebih banyak kekuatan qurani yang meresap ke dalam air.

Pengertian Tata Cara dan Bacaan Doa Ruqyah

Cara Melawan Sihir Jika Kondisi Berada di Alam Mimpi

Agar terhindar dari gangguan sihir dalam mimpi anda dapat melakukan perlawanan ketika mimpi datang. Maka anda harus melakukan persiapan sebelum tidur, yaitu:

  • Membaca ayat kursi
  • Membaca Surat Al-Ikhlas
  • Membaca Surat Al-Falaq
  • Membaca Surat An-Naas
  • Usapkan ke seluruh tubuh 3 kali.
  • Baca Surat Al-Baqarah ayat 148.

أَيۡنَ مَا تَكُونُواْ يَأۡتِ بِكُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًا‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬ (١٤٨

Artinya :

“Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Niatkan untuk mendatangkan jin yang telah menyakiti anda serta orang yang telah menyihir anda ke dalam mimpi, lalu mohon kekuatan pada Allah untuk mengalahkan mereka. Dengan demikian, Insya Allah pada saat anda bermimpi anda dapat melakukan perlawanan dan bahkan menjadi ingat untuk menangkapnya dan membacakan ayat kursi untuk membakar mereka.

Kemudian tidurlah dengan semangat ingin menangkap mereka seakan anda mau menghajar mereka. Segera saat anda bermimpi melihat mereka, anda pukul mereka atau baca Al-Quran sampai mereka habis atau hancur. Anda ulangi setiap malam sampai jelas bahwa tidak ada lagi yang datang pada anda.

Karena semua bersumber dari ayat Alquran dan bukan merupakan suatu ilmu yang khusus. Diharapkan dapat menyembuhkan penyakit atau perbuatan sihir yang dilakukan oleh orang yang mendengki atau dilakukan oleh Jin

Demikian artikel tentang Pengertian, Tata Cara dan Bacaan Doa Ruqyah (Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan Anda. Terima kasih.

√ Pengertian Nifaq, pembagian dan hukumnya (Lengkap)

Pengertian Nifaq pembagian dan hukumnya

Pengertian Nifaq, pembagian dan hukumnya (Lengkap) – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tetnang Nifaq. Termasuk di antara pembatal iman yaitu nifaq (kemunafikan). Dalam hal ini merupakan kewajiban kita kaum muslimin untuk memahami pengertian dan jenis kemunafikan, serta ciri orang munafik agar kita bisa menjauhi sifat dan perbuatan tersebut. Untuk lebih jelasnya simak penjelasan berikut ini.

Pengertian Nifaq, pembagian dan hukumnya (Lengkap)

Secara bahasa Nifaq berarti “menyembunyikan sesuatu”. Nifaq dibagi menjadi dua, yaitu nifaq akbar (nifaq i’tiqadi) dan nifaq ashghar (nifaq ‘amali).

Menurut istilah, nifaq akbar (nifak besar) berarti “seseorang yang menampakkan keimanan kepada Allah, malaikat, kitab, para rasul dan hari akhir, namun kondisi batinnya bertentangan dengan semua hal tersebut atau sebagiannya.”

Bisa di artikan, orang munafik adalah orang yang menampakkan Islam secara lahiriyah di hadapan kaum muslimin. Menampakkan bahwa dirinya adalah seorang muslim dan bisa jadi menampakkan sebagian amal ibadah seperti shalat, puasa dan zakat, akan tetapi hatinya pada hakikatnya tidak beriman.

Nifaq i’tiqadi mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, sehingga berlaku pada orang tersebut hukum yang sama dengan pelaku kafir akbar dan syirik akbar. Karena pada hakikatnya, orang munafik adalah orang kafir. Bahkan mereka lebih jelek dan lebih berbahaya daripada orang kafir asli. Karena selain kekafiran, mereka juga melakukan kedustaan, kebohongan dan tipu daya kepada kaum muslimin.

Oleh karena itu, bahaya dan kerusakan yang ditimbulkan oleh orang-orang munafik kepada kaum muslimin sangatlah besar. Mereka menipu kaum muslimin seolah-olah mereka adalah bagian dari barisan kaum muslimin, padahal tidak. Mereka memerangi Islam dengan kata-kata yang dipoles dengan indah, untuk menutupi kedok kemunafikannya.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang mereka orang munafik,

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

Artinya : “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras itu ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya). Maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Al-Munafiqun [63]: 4)

Oleh karena itu, pantaslah di hari kiamat nanti. Mereka adalah orang-orang yang paling keras adzabnya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisa’ ayat 145)

Adapun nifaq ashghar yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, akan dibahas secara khusus di akhir tulisan ini.

Perbuatan kekafiran yang ditampakkan oleh orang munafik

Orang-orang munafik memiliki perbuatan-perbuatan kekafiran yang menunjukkan atau menjadi tanda adanya nifaq akbar di dalam hatinya. Perbuatan-perbuatan tersebut Allah Ta’ala sebutkan secara rinci dalam Al-Qur’an, di antaranya dalam surat At-Taubah, untuk menyibak kedok kemunafikan dalam diri mereka.

Di antara perbuatan-perbuatan orang munafik, antara lain sebagai berikut:

Menjadikan Allah Ta’ala, Rasul-Nya, dan Al-Qur’an sebagai bahan candaan dan olok-olokan.

Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman,

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ. لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

Artinya : “Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu meminta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka bertaubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At-Taubah ayat 65-66)

Di jelaskan dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

Artinya : “Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setan-setan (pemimpin) mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” (QS. Al-Baqarah ayat 14)

Mencela dan menghina Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

Artinya : “Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat. Jika mereka diberi sebagian darinya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (QS. At-Taubah ayat 58)

Yaitu, menuduh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersikap adil ketika membagi zakat.

Berpaling dari ajaran Islam dan mencela syariat, serta berupaya menjauhkan umat dari syariat Islam

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

Artinya : “Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An-Nisa’ ayat 61)

Di antaranya adalah seruan orang-orang munafik kepada kaum wanita untuk menanggalkan jilbab, menuntut persamaan dan kesetaraan dalam kepemimpinan, hukum waris, hukum talaq (perceraian) (maksudnya, seorang istri juga berhak mencerai suami sebagaimana suami berhak mencerai istri), dan sebagainya.

Menyerukan untuk menjadikan hukum buatan orang kafir sebagai sumber hukum

Dengan menyerukan hukum buatan kafir sebagai sumber hukum dan menerapkannya dengan mengatakan bahwa hukum tersebut lebih baik dan lebih mendatangkan maslahat daripada hukum Islam.

Allah Ta’ala telah berfirman,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا

Artinya : “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’ ayat 60)

Meyakini dan menyerukan “isme-isme” (ideologi) yang merusak dan menghancurkan Islam dan persatuan kaum muslimin.

Orang-orang munafik meyakini benarnya “isme-isme” (ideologi) yang pada hakikatnya merusak Islam dan menyerukannya di tengah-tengah kaum muslimin. Di antara isme tersebut yaitu yang kita saksikan dewasa ini ketika mereka mengajak “persatuan kaum muslimin” akan tetapi persatuan semu. Karena persatuan tersebut tidak dibangun di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti persatuan atas dasar kesukuan (qaumiyyah) dan sekat-sekat kebangsaan (wathaniyyah) (nasionalisme) dengan merendahkan (bangsa) yang lainnya.

Orang-orang munafik zaman ini, sebagiannya diberi label sebagai cendekiawan dan reformis Islam, mengajak persatuan di atas ikatan-ikatan jahiliyah tersebut, yang telah dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerukan persatuan dan persaudaraan atas dasar ikatan iman dan Islam, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya : “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat ayat 10)

Berdasarkan ayat tersebut, dapat diartikan seluruh kaum muslimin adalah bersaudara, apa pun jenis kebangsaannya.

Membantu dan bekerja sama dengan orang kafir untuk menyerang dan menguasai kaum muslimin

Hal ini tidaklah mengherankan, karena mereka pada hakikatnya tidak beriman, alias orang kafir. Sehingga dapat dipahami yaitu mereka membantu saudaranya sesama orang kafir untuk menyerang kaum muslimin. Allah Ta’ala telah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ

Artinya : Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” (QS. Al-Maidah ayat 51-52)

Menampakkan kegembiraan ketika kaum muslimin tertimpa musibah dan kesusahan atau ketika orang kafir menang mengalahkan kaum muslimin.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Artinya : “Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka (orang munafik) bersedih hati. Tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran ayat 120)

Oleh karena itu, banyak kita jumpai di jaman ini. Orang yang tidak merasa kesusahan dan tidak merasa berduka atas musibah dan bencana yang terjadi di negeri-negeri kaum muslimin di berbagai penjuru dunia.

Bahkan lebih dari itu, kita mendengar ucapan-ucapan dari mereka yang melarang untuk mendistribusikan bantuan ke negeri-negeri kaum muslimin yang tertimpa kesusahan dan bencana. Meskipun dengan kedok alasan “mereka adalah bangsa lain, mari fokus dengan bangsa sendiri”.

Sekali lagi, mereka menyeru dengan isme-isme qaumiyyah dan wathaniyyah (bangga dengan kaum dan bangsa sendiri), dan membuang jauh-jauh persatuan di atas ikatan iman dan Islam.

Mencela dan menghina para ulama kaum muslimin dan orang-orang shalih dan membenci dakwah dan agama mereka

Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya : “Apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman (yaitu para sahabat Nabi, pen.).” Mereka menjawab, “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah ayat 13)

Allah Ta’ala juga berfirman,

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya : “(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya. Maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.” (QS. At-Taubah ayat 79)

Oleh karena itu, kita jumpai orang-orang munafik di jaman ini yang memberi gelar kepada para ulama dengan gelar-gelar yang buruk. Semacam “ulama haid dan nifas” atau “ulama yang ilmunya tidak keluar dari (maaf) celana dalam perempuan” dan gelar-gelar buruk lainnya.

Bahkan menyebut orang beriman dengan “orang bodoh” (karena keimanannya); sedangkan “orang cerdas” adalah orang ateis yang tidak beriman, misalnya. Atau mencela para da’i yang menyebarkan dan mendakwahkan Islam.

Pengertian Nifaq pembagian dan hukumnya

Memuji-muji orang kafir dan menyebarkan pemikiran mereka yang bertentangan dengan ajaran Islam

Allah Ta’ala berfirman,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلَا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Artinya : “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui.” (QS. Al-Mujaadilah ayat 14)

Demikian penjelasan tentang Pengertian Nifaq, pembagian dan hukumnya (Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan dijauhkan dari perbuatan serta sifat yang buruk. Sekian Terimakasih.

√ Pengertian & Penjelasan Walimatus Safar Haji atau Umroh

Pengertian & Penjelasan Walimatus Safar Haji atau Umroh

Pengertian & Penjelasan Walimatus Safar Haji atau Umroh – Pada kesempatan kali ini Pengetahuan Islam akan menerangkan tentang Walimatus Safar baik safar karena mau berangkat haji dan umroh atau lainnya dengan secara singkat dan jelas.

Kenapa hal ini perlu di bahas? Karena ada sebagian saudara muslim kita yang tidak suka dengan mengadakan acara walimah. Seperti yang sudah mentradisi selama ini, dengan alasan mereka masing-masing.

Bahkan ada di antara mereka yang mengatakan perbuatan itu adalah pemborosan dan tidak pernah dicontohkan baginda Rosulullah yang cendrung masuk kategori sombong atau riya yang dibenci oleh Syara’ Wallahu ‘alam.

Pengertian & Penjelasan Walimatus Safar Haji atau Umroh

Untuk lebih jelasnya mengenai hal tersebut mari kita simak bersam penjelasan kami, meskipun penjelasan kami ini betul-betul sangat sedrhana, berikut penjelasannya

Pengertian Walimah

Walimah secara bahasa yaitu “Pesta” atau mempunyai arti : Menjamu, memberi jamuan, berkumpul untuk makan-makan, perjamuan, acara makan-makan, kenduri, nagriung, babacakan dan yang semakna dengan kata tersebut.

Adapun isi dari walimah yang selama ini berjalan biasanya terdapat banyak cara dan acara. Ada yang dilaksanakan dengan sangat sederhana. Semisal hanya mengundang keluarga besar, tetangga untuk menyapaikan permohonan ma’af, mohon doa dan diakhiri dengan makan-makan atau berkatan.

Ada juga yang dibikin meriah dengan mengadakan seperti Pengajian Walimatus Safar. Dengan rangkaian susunan acara yang tertata rapih dengan dimulai dari Pembukaan, Pembacaan Gama Wahyu Ilahi, Sholawat Nabi, Sambutan dst… s/d Doa Penutup.

Memang Walimatus safar itu tidak masuk dalam manasik haji. Sebab tidak ada hubungannya dengan tata cara ibadah haji dan juga Rosulullah SAW tidak mencontohkan. Maka tidak heran kalau ada yang melarang kegiatan ini dengan alasan karena tidak masyru’ (tidak disyari’atkan), akan tetapi ada pula yang mengharuskan dan ada pula yang menganjurkan.

Ta’rif Walimah

Adapun Ta’rif Walimah dan macam-macam jenis walimah adalah sebagai berikut:

تَعْرِيْفُهَا فِيْ اللُّغَةِ : إِسْمٌ لِطَعَامِ الْعَرْسِ خَاصَّةً فَلَا تُطْلَقُ عَلَى غَيْرِهِ حَقِيْقَةً. أَمَّا الْأَطْعِمَةُ الْأُخْرَى الَّتِيْ تُصْنَعُ عِنْدَ حَادَثِ السُّرُوْرِ وَيُدْعَى إِلَيْهَا النَّاسُ عَادَةً فَلَهَا أَسْمَاءٌ أُخْرَى غَيْرُ الْوَلِيْمَةِ، فَلَا تُسَمَّى وَلِيْمَةَ تَسْمِيَّةً حَقِيْقَةً

Walimah (resepsi pernikahan) adalah istilah khusus bagi makanan yang dihidangkan pada acara pernikahan. Istilah ini tidak digunakan untuk mengartikan hal lain. Adapun hidangan makanan lainnya yang dihidang ketika adanya kebahagiaan kemudian kebiasaan mengundang orang maka itu ada penamaan-penamaan lain tidak dinamakan walimah.

Bentuk-bentuk Walimah

وَأَنْوَاعُهَا كَثِيْرَةٌ مِنْهَا : الطَّعَامُ الَّذِيْ يُصْنَعُ عِنْدَ الْعَقْدِ عَلَى الزَّوْجَةِ وَيُسَمَّى طَعَامَ الْإِمْلَاكِ : (وَالْإِمْلَاكُ : التَّزْوِيْجُ) وَيُقَالُ أَيْضًا : شُنْدَخٌ. بِضَمِّ الشِّيْنِ الْمُعْجِمَةِ وَسُكُوْنِ النُّوْنِ وَفَتْحِ الدَّالِ مَأْخُوْذُ مِنْ قَوْلِهِمْ : فَرَّسَ مُشَنْدَخَ، أَيْ يَتَقَدَّمُ غَيْرَهُ، فَسُمِّيَ بِذَلِكَ هَذَا الطَّعَامُ لِأَنَّهُ يَتَقَدَّمُ عَلَى الْعَقْدِ وَعَلَى الدُّخُوْلِ

Bentuk walimah itu banyak diantaranya adalah: Makanan yang dihidangkan saat akad nikah dinamakan makanan imlak yang berarti pernikahan. Juga, disebut “syu ndakh” (dengan dibaca: Dhomah Syin, nun disukunkan dan dal dibaca fathah) yang artinya mendahului yang lain, yakni mendahului “akad” dan juga mendahului “masuk.”

وَمِنْهَا الطَّعَامُ الَّذِيْ يُصْنَعُ عِنْدَ الْخِتَانِ وَيُسَمَّى إِعْذَارً. وَمِنْهَا الطَّعَامُ الَّذِيْ يُعْمَلُ لِسَلَامَةِ الْمَرْأَةِ مِنَ الطَّلْقِ وَ الْوِلَادَةِ وَيُسَمَّى خُرْسًا

Makanan yang dihidangkan saat khitanan disebut makanan “I’dzar”.  Makanan yang dihidangkan karena selamatnya wanita dalam bersalin disebut makanan “khars”.

وَمِنْهَا الطَّعَامُ الَّذِيْ يُصْنَعُ لِقُدُوْمِ مِنَ السَّفَرِ وَيُسَمَّى نَقِيْعَةً : مَأْخُوْذَةٌ مِنَ النَّقْعِ وَهُوَ الْغُبَارُ وَمِنْهَا الطَّعَامُ الَّذِيْ يُصْنَعُ لِلصَّبِيِّ عِنْدَ خَتْمِ الْقُرْأَنِ وَنَحْوِيْهِ وَيُسَمَّى حِذَاقًا. بِكَسْرِ الْحَاءِ وَتَخْفِيْفِ الذَّالِ مُشْتَقٌ مِنَ الْحَذْقِ لِأَنَّهُ يُشِيْرُ  إِلَى حَذَّقِ الصَّبِيِّ. وَمِنْهَا الطَّعَامُ الَّذِيْ يُصْنَعُ لِلْمَأْتِمِ، وَيُسَمَّى وَضِيْمَةً. وَمِنْهَا الطَّعَامُ الَّذِيْ يُصْنَعُ لِبِنَاءِ الدَّارِ  وَيُسَمَّى وَكِيْرَةً. وَمِنْهَا طَعَامُ الْعَقِيْقَةِ * مذاهب الأربعة جليد 2 حلمن ٣۱

Makanan yang dihidangkan karena pulang dari bepergian jauh disebut makanan naqi’ah. Kata: “Naqi’ah” diambil dari kalimat: “an-Naq’i” artinya; debu. Makanan yang dihidangkan karena anak khatam Al-Our’an dan sebagainya disebut makanan hidzaq, diambil dari kata hadzaq yang artinya cerdas.

Makanan yang dihidangkan karena kematian disebut makanan wadhi’ah.  Makanan yang dihidangkan karena membangun rumah atau bangunan disebut makanan wakirah. Dan diantaranya juga ada yang disebut makanan ‘aqiqah. (Kutipan dari Kitab Madzahibul arba’ah)

Jadi pada dasarnya secara rinci ada namanya sendiri-sendiri setiap hidangan makanan pada momen-momen tertentu, akan tetapi kita secara umum menyebutnya adalah: “WALIMAH” apa pun acaranya, termasuk ketika orang-orang diundang ke tempat orang yang mau pergi haji kemudian di situ makan-makan, itu juga secara umum disebutnya: “Walimah”

Dari keterangan di atas, Duta Dakwah mempunyai pandangan bahwa: Walimatus Safar Haji itu sangat baik dan dianjurkan bagi yang memang mampu. Terkait dengan hal tersebut kami tidak membahas secara luas, sehubungan panjang lebarnya masing masing pendapat dalam empat madzhab, maka yang kami hadirkan di sini hanya secara ringkas adalah sebagai berikut:

Walimah Menurut Madzhab Syafi’i

الشَّافِعِيَّةُ قَالُوْا : يُسَنُّ صَنْعُ الطَّعَامِ وَالدَّعْوَةِ إِلَيْهِ عِنْدَ كُلِّ حَادِثِ سُرُوْرٍ، سَوَاءٌ كَانَ لِلْعُرْسِ أَوْ لِلْخِتَانِ أَوْ لِلْقُدُوْمِ مِنَ السَّفَرِ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا ذُكِرَ، فَلَيْسَتْ السُّنَّةُ خَاصَّةً بِوَلِيْمَةِ الطَّعَامِ وَكَمَا أَنَّ الْوَلِيْمَةَ تُصَدَّقَ عَلَى طَعَامِ الْعُرْسِ، فَكَذَلِكَ تُصَدَّقَ عَلَى غَيْرِهِ، وَلَكِنْ صِدْقَهَا عَلَى وَلِيْمَةِ الْعُرْسِ أَكْثَرُ. وَإِنَّمَا يُسَنُّ عَمَلُ الطَّعَامِ عِنْدَ الْقُدُوْمِ مِنَ السَّفَرِ إِذَا كَانَ السَّفَرُ طَوِيْلًا عُرْفًا فِيْ بَعْضِ النَوَاحِى الْبَعِيْدَةِ، فَإِنْ كَانَ يَسِيْرًا أَوْ كَانَ فِيْ نَحِيَّةٍ قَرِيْبَةٍ فَإِنَّهُ لَا يُسَنُّ، أَمَّا الْوَضِيْمَةُ وِهِيَ الطَّعَامُ الَّذِيْ يُعْمَلُ عِنْدَ الْمَوْتِ فَإِنَّهُ يُسَنُّ أَنْ يَكُوْنَ مِنْ جِيْرَانِ الْمَيِّتِ. * مذاهب الأربعة جليد 2 حلمن ٣٢

Menurut madzhab Asy-Syafi’i, menghidangkan makan dan mengundang orang dalam momen-momen suka cita disunnahkan, baik saat pernikahan, khitan maupun sepulang dari bepergian jauh. Kata walimah adalah istilah bagi hidangan pernikahan dan selain pernikahan, tetapi penggunaannya untuk pernikahan lebih banyak.

Menghidangkan makanan sepulang dari bepergian jauh disunnahkan apabila bepergiannya lama menurut kebiasaan masyarakat setempat (‘urf). Kalau sebentar atau dekat maka tidak disunnahkan. Wadhimah adalah makanan yang dihidangkan saat kematian. Adalah tetangga si mayit yang disunnahkan membuatnya. (Kutipan dari Madzahibul-arb’ah jilid 2 hal. 32)

Jadi walimatus safar adalah menjalin silaturahim, mensyukuri nikmat dan berbagi kebahagiaan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Adh-Dhuhaa ayat 11:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Artinya: “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan”.

Walimatus Safar Bukan Riya

Sebagaimana diterangkan dalam firman Allah SWT yang

Artinya: “Dan terhadap ni’mat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh-Dhuhaa: 11).

Dengan demikian maka kami tidak sependapat dengan saudara kami yang berfaham bahwa:

“Walimatus Safar Haji adalah perbuatan Riya”

Karena itu kalau menurut kami khusus bagi yang memang mampu dan mau untuk melakukan Walimatus Safar Haji atau Walimatus Safar Umroh. Maka di situ ada banyak kebaikan, oleh karnanya hal-hal yang perlu kita lakukan adalah:

  • Mengundang sanak saudara dan tetangga sebagai jalan pengganti kita yang mestinya kita datangi satu persatu untuk bersilaturahmi kepada mereka. Baik secara umum maupun khusus dalam rencana keberangkatan ibadah haji.
  • Mengundang makan terlebih kalau ada acara istighotsah, doa bersama dan pengajian semisal. Maka hal yang demikian itu adalah perbuatan baik yang tidak bertentangan dengan sunnah Rosulullah SAW.
  • Memberitahukan rencana keberangkatan dan hal-hal yang dianggap penting untuk diberitahukan atau diumumkan, sehingga sanak keluarga, sahabat, atau tetangga menjadi mengetahui dan dapat membantu memperhatikan serta menjaga keluarga yang ditinggalkan, amalan ini adalah menjadi bagian amal sholeh dalam mewujudkan hak dan kewajiban muslim terhadap muslim lainnya.
  • Walimatus safar dijadikan sebagai momentum strategis untuk berda’wah menyampaikan: “Amar Ma’ruf Nahyil Munkar” dalam berbagai sektor yang tentunya bisa dikaitkan dengan ibadah haji sebagai rukun Islam.
  • Perjalanan ibadah haji adalah perjalanan suci, maka tidaklah salah jika calon jama’ah meminta maaf secara terbuka kepada semua handai taulan yang hadir sebagai upaya membersihkan hati sebelum berangkat. Dengan meminta ma’af itu merupakan perbuatan yang sangat dianjurkan syari’at. Apalagi kita hendak pergi jauh tentunya harus bersih lahir dan batin kita dari segala noda dan kesalahan terhadap sesama bani adam. Dan Insyaa Allah akan menjadi sababiyah datangnya karunia Allah.
  • Saling mendoakan sesama kita baik yang mau berangkat ataupun yang akan ditinggalkan.

Sebagaimana dalam riwayat hadits Muslim berikut:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: وَلَكَ بِمِثْلٍ

Artinya: “Tidak ada seorang hamba Muslim yang berkenan mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan kecuali malaikat mendoakan orang yang berdoa tersebut dengan kalimat ‘Kamu juga mendapat sama persis sebagaimana doa yang kamu ucapkan itu.” (HR Muslim: 4094)

Pengertian & Penjelasan Walimatus Safar Haji atau Umroh

Kesimpulan

Setelah memperhatikan dari berbagai keterangan tersebut, dapat di tarik kesimpulan:

  • Walimatus Safar lil-haj, Walimatus Safar lil-Umroh, baik mau safar atau pun pulang safar. Hukumnya adalah: “Di anjurkan” dan “Sunah” bagi yang mau dan mampu.
  • Walimatus Safar lil-haj, Walimatus Safar lil-Umroh, baik mau safar atau pun pulang safar. Hukumnya adalah: Tidak disunahkan bagi yang tidak mampu dan tidak mau, tapi tetap masih dianjurkan meski hanya sekedar kumpul keluarga dan tetangga dengan menyajikan walau sekedar minum air putih.

Demikian penjelasan tentang Pengertian & Penjelasan Walimatus Safar Haji atau Umroh. Semoga dapat dijadikan pedoman serta memberikan manfaat untuk kita semua. Terimakasih telah berkunjung.

Baca juga:

√ Inilah Bacaan Dzikir Di Waktu Petang Serta Faidahnya (Lengkap)

√ Inilah Bacaan Dzikir Di Waktu Petang Serta Faidahnya (Lengkap)

Inilah Bacaan Dzikir Di Waktu Petang Serta Faidahnya (Lengkap) – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Dzikir. Yang mana dalam pembahasan kali ini mengenai lafadz dan bacaan dzikir yang dilakukan pada petang hari dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini.

Inilah Bacaan Dzikir Di Waktu Petang Serta Faidahnya (Lengkap)

Dzikir petang sangat dianjurkan dan diamalkan karena akan membuat kita lebih semangat di petang hari dan dimudahkan Allah dalam segala urusan serta dihindarkan dari berbagai macam bahaya.

Adapun waktu pelaksanaannya menurut pendapat yang paling tepat adalah dari tenggelam matahari atau waktu Maghrib hingga pertengahan malam. Pertengahan malam dihitung dari waktu Maghrib hingga Shubuh, taruhlah sekitar 10 jam, sehingga pertengahan malam sekitar jam 11 malam.

Juga dalam dzikir petang kali ini, kami sertakan dengan faedah dari setiap dzikir berdasarkan hadits yang menyebutkan dzikir tersebut sehingga dengan itu bisa merenung maksud dzikir dan raih manfaatnya.

Bacaan Dzikir

Diingatkan pula ada bacaan dzikir yang mirip dengan dzikir pagi. Namun ada yang hanya khusus dibaca pagi saja, ada pula yang petang saja. Dzikir kali ini pun kami bantu dengan transliterasi untuk setiap bacaan selain bacaan Al Qur’an, moga bermanfaat bagi yang sulit membaca dzikir yang ada huruf demi huruf.

Membaca Ta’audz

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

A’uudzu Billahi Minasyaitho Nirajiim

Artinya : “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.”

Membaca ayat Kursi

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Artinya : “Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa seizin-Nya. Dia mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. Al Baqarah: 255) (Dibaca 1 x)

Faidah

  • Siapa yang membacanya ketika petang, maka ia akan dilindungi (oleh Allah dari berbagai gangguan) hingga pagi. Siapa yang membacanya ketika pagi, maka ia akan dilindungi hingga petang.

Membaca surat Al Ikhlas

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Artinya : “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4) (Dibaca 3 x)

Membaca surat Al Falaq

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Artinya : “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Shubuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”. (QS. Al Falaq: 1-5) (Dibaca 3 x)

Membaca surat An Naas

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ

Artinya : “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia.” (QS. An Naas: 1-6) (Dibaca 3 x)

Faidah

  • Siapa yang mengucapkannya masing-masing tiga kali ketika pagi dan petang, maka segala sesuatu akan dicukupkan untuknya.

أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ للهِ، وَالْحَمْدُ للهِ، لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا، وَأَعُوذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا، رَبِّ أَعُوذُبِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوذُبِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ

Amsaynaa wa amsal mulku lillah walhamdulillah, laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir. Robbi as-aluka khoiro maa fii hadzihil lailah wa khoiro maa ba’dahaa, wa a’udzu bika min syarri maa fii hadzihil lailah wa syarri maa ba’dahaa. Robbi a’udzu bika minal kasali wa suu-il kibar. Robbi a’udzu bika min ‘adzabin fin naari wa ‘adzabin fil qobri.

Artinya : “Kami telah memasuki waktu petang dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.Wahai Rabbku, aku mohon kepada-Mu kebaikan di malam ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan malam ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepadaMu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di kubur.” (Dibaca 1 x)

Faidah

  • Meminta pada Allah kebaikan di malam ini dan kebaikan sesudahnya, juga agar terhindar dari kejelekan di malam ini dan kejelekan sesudahnya.
  • Di dalamnya berisi pula permintaan agar terhindar dari rasa malas padahal mampu untuk beramal, juga agar terhindar dari kejelekan di masa tua.
  • Di dalamnya juga berisi permintaan agar terselamatkan dari siksa kubur dan siksa neraka yang merupakan siksa terberat di hari kiamat kelak.

اللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ أَصْبَحْنَا،وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوتُ، وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ

Allahumma bika amsaynaa wa bika ash-bahnaa wa bika nahyaa wa bika namuutu wa ilaikal mashiir.

Artinya: “Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu petang, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi. Dengan rahmat dan pertolonganMu kami hidup dan dengan kehendakMu kami mati. Dan kepada-Mu tempat kembali (bagi semua makhluk).” (Dibaca 1 x)

Membaca Sayyidul Istighfar

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Allahumma anta robbii laa ilaha illa anta, kholaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas-tatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu. Abu-u laka bi ni’matika ‘alayya wa abu-u bi dzambii. Fagh-firlii fainnahu laa yagh-firudz dzunuuba illa anta.

Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku pada-Mu (yaitu aku akan mentauhidkan-Mu) semampuku dan aku yakin akan janji-Mu (berupa surga untukku). Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” (Dibaca 1 x)

Faidah

  • Barangsiapa mengucapkan dzikir ini di siang hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati pada hari tersebut sebelum petang hari, maka ia termasuk penghuni surga.
  • Barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati sebelum pagi, maka ia termasuk penghuni surga.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَمْسَيْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ، وَمَلاَئِكَتَكَ وَجَمِيْعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ

Allahumma inni amsaytu usy-hiduka wa usy-hidu hamalata ‘arsyika wa malaa-ikatak wa jami’a kholqik, annaka antallahu laa ilaha illa anta wahdaka laa syariika lak, wa anna Muhammadan ‘abduka wa rosuuluk.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku di waktu petang ini mempersaksikan Engkau, malaikat yang memikul ‘Arys-Mu, malaikat-malaikat dan seluruh makhluk-Mu, bahwa sesungguhnya Engkau adalah Allah, tiada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau semata, tiada sekutu bagi-Mu dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.” (Dibaca 4 x)

Faidah

  • Barangsiapa yang mengucapkan dzikir ini ketika pagi dan petang hari sebanyak empat kali. Maka Allah akan membebaskan dirinya dari siksa neraka.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ

Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fid dunyaa wal aakhiroh. Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fii diinii wa dun-yaaya wa ahlii wa maalii. Allahumas-tur ‘awrootii wa aamin row’aatii. Allahummahfazh-nii mim bayni yadayya wa min kholfii wa ‘an yamiinii wa ‘an syimaalii wa min fawqii wa a’udzu bi ‘azhomatik an ugh-taala min tahtii.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh).” (Dibaca 1 x)

Faidah

  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah meninggalkan do’a ini di pagi dan petang hari.
  • Di dalamnya berisi perlindungan dan keselamatan pada agama, dunia, keluarga dan harta dari berbagai macam gangguan yang datang dari berbagai arah.

اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

Allahumma ‘aalimal ghoybi wasy-syahaadah faathiros samaawaati wal ardh. Robba kulli syai-in wa maliikah. Asyhadu alla ilaha illa anta. A’udzu bika min syarri nafsii wa min syarrisy-syaythooni wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘alaa nafsii suu-an aw ajurruhu ilaa muslim.

Artinya: “Ya Allah, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Rabb pencipta langit dan bumi, Rabb segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan diriku, setan dan balatentaranya (godaan untuk berbuat syirik pada Allah), dan aku (berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan terhadap diriku atau menyeretnya kepada seorang muslim.” (Dibaca 1 x)

Faidah

  • Do’a ini diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Bakar As Shiddiq untuk dibaca pada pagi, petang dan saat beranjak tidur.

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim.

Artinya : “Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Dibaca 3 x)

Faidah

  • Barangsiapa yang mengucapkan dzikir tersebut sebanyak tiga kali di pagi hari dan tiga kali di petang hari. Maka tidak akan ada bahaya yang tiba-tiba yang memudaratkannya.

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا

Rodhiitu billaahi robbaa wa bil-islaami diinaa, wa bi-muhammadin shallallaahu ‘alaihi wa sallama nabiyyaa.

Artinya : “Aku ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi.” (Dibaca 3 x)

Faedah

  • Barangsiapa yang mengucapkan hadits ini sebanyak tiga kali di pagi hari dan tiga kali di petang hari. Maka pantas baginya mendapatkan ridha Allah.

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا

Yaa Hayyu Yaa Qoyyum, bi-rohmatika as-taghiits, wa ash-lih lii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan.

Artinya : “Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dariMu).” (Dibaca 1 x)

Faedah

  • Dzikir ini diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Fathimah supaya diamalkan pagi dan petang.

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

Subhanallah wa bi-hamdih.

Artinya : “Maha suci Allah, aku memuji-Nya.” (Dibaca 100 x)

Faedah

  • Barangsiapa yang mengucapkan kalimat ‘subhanallah wa bi hamdih’ di pagi dan petang hari sebanyak 100 x. Maka tidak ada yang datang pada hari kiamat yang lebih baik dari yang ia lakukan kecuali orang yang mengucapkan semisal atau lebih dari itu.

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

Artinya : “Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca 1o x)

Faidah

  • Barangsiapa yang membaca dzikir tersebut di pagi hari sebanyak sepuluh kali, Allah akan mencatatkan baginya 10 kebaikan, menghapuskan baginya 10 kesalahan, ia juga mendapatkan kebaikan semisal memerdekakan 10 budak, Allah akan melindunginya dari gangguan setan hingga petang hari.
  • Siapa yang mengucapkannya di petang hari, ia akan mendapatkan keutamaan semisal itu pula.

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

A’udzu bikalimaatillahit-taammaati min syarri maa kholaq.

Artinya : “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakanNya.” (Dibaca 3 x pada waktu petang)

Faidah

  • Siapa yang mengucapkannya di petang hari, niscaya tidak ada racun atau binatang (seperti: kalajengking) yang mencelakkannya di malam itu.

Demikian ulasan tentang Inilah Bacaan Dzikir Di Waktu Petang Serta Faidahnya (Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan kita semua. Terimakasih.

√ 10 Macam Sholat Sunah Yang Memiliki Manfaat Luar Biasa Lengkap

10 Macam Sholat Sunah Yang Memiliki Manfaat Luar Biasa Lengkap

10 Macam Sholat Sunah Yang Memiliki Manfaat Luar Biasa Lengkap – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Macam Sholat Sunah. Dalam pembahasan kali ini menjelaskan berbagai macam sholat sunah dan manfaat yang luar biasa.

Karena sholat sunnah adalah penyempurna dari sholat wajib atau sholat fardhu. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam tentang sholat sunnah yang memiliki manfaat luar biasa.

10 Macam Sholat Sunah Yang Memiliki Manfaat Luar Biasa Lengkap

Kewajiban seorang muslim ialah menjalankan sholat 5 waktu, yaitu sholat subuh, dhuhur, ashar, magrib dan isya. Selain melakukan sholat wajib, ada beberapa macam sholat sunnah yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.

Sholat Sunnah

Bahkan, Anda bisa menjalankannya sesuai dengan kebutuhan. Karena masing-masing sholat sunah memiliki manfaat tersendiri.

Meskipun hukum sholat sunah boleh dikerjakan boleh juga tidak, namun jika pahala dan manfaatnya luar biasa, maka alangkah lebih baik jika kita menjalankannya. Sebab, rasanya akan rugi kalau sampai melewatkan menjalankan sholat sunah tersebut.

Hukum Sholat Sunnah

Hukum sholat sunnah ada dua, yaitu sunnah muakad dan ghoiru muakad.

Sholat Sunnah Muakad

Muakad artinya dikuatkan atau diutamakan. Maksudnya sholat sunnah muakkad berarti sholat sunnah yang diutamakan dan ditekankan agar sholat tersebut dilakukan, walaupun ditinggalkan juga tidak apa-apa.

Sholat sunnah muakad seperti sholat sunnah hari raya idul fitri, sholat sunnah hari raya kurban.

Sholat Sunnah Ghoiru Muakad

Sholat sunnah ghoiru muakad adalah sholat sunnah yang tidak ditekankan dan hanya sholat sunnah biasa. Namun sholat sunnah ghairu muakad juga memiliki manfaat dan keutamaan yang luar biasa jika dikerjakan.

Sholat sunnah ghaoiru muakkad tidak ditekankan agar tidak memberatkan atau membebani umat muslim untuk mengerjakannya. Namun kalau memang mengerjakan sholat sunnahnya bisa dikerjakan maka akan lebih baik lagi.

Pembagian Sholat Sunnah

Banyak sekali jenis sholat sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah. Dalam ajaran islam, sholat sunnah dibagi menjadi 3 jenis:

Sholat Sunnah yang Berhubungan dengan Waktu

Sholat sunnah yang berhubungan dengan waktu maksudnya adalah sholat sunnah ini dalam pengerjaanya hanya dalam waktu-waktu tertentu saja yang sudah ditetapkan pelaksanaannya.

Misalnya :

  • Sholat sunnah dhuha hanya dikerjakan di waktu dhuha, yaitu di waktu pagi hari antar pukul 08:00 sampai pukul 12:00 siang.
  • Sholat sunnah rawatib hanya dikerjakan sebelum atau sesudah sholat fardhu, diluar itu tidak boleh mengerjakannya.
  • Sholat Sunnah yang Berhubungan dengan Sebab

Sholat sunnah yang berhubungan dengan sebab maksudnya adalah sholat sunnah ini dalam pengerjaanya dikarenakan adanya sebab-sebab yang muncul.

Misalnya:

  • Sholat sunnah gerhana yang dikerjakan karena adanya gerhana matahari yang dianjurkan mengerjakan sholat sunnah Kusuf. Dan ketika ada gerhana bulan dianjurkan untuk melaksanakan sholat sunnah Khusuf.
  • Sholat sunnah istikharah yang dikerjakan karena adanya kesulitan dalam memilih sesuatu. Untuk itu dianjurkan melaksanakan sholat istikharah agar mendapat petunjuk dari Allah mengenai pilihan yang harus diambil.

Sholat Sunnah yang Dikerjakan Tanpa Adanya Sebab dan Ketepatan Waktu

Sholat sunnah ini dapat dikerjakan kapan saja, selain waktu-waktu yang diharamkan mengerjakan sholat. Dan sholat sunnah macam ini disebut sholat sunnah “Muthlaq”.

Sholat sunah ini boleh dikerjakan sesuai kemampuan, mengerjakan 2 rakaat, 4 rakaat atau 8 rakaat diperbolehkan sesuai dengan kemampuan yang mengerjakannya.

Selama ada waktu dan tubuh dalam keadaan sehat, tinggal niat mengerjakan sholat sunnah ini untuk mendapatkan pertolongan dan ridha dari Allah.

Sholat Sunah yang Manfaatnya Luar Biasa

Ada banyak macam sholat sunnah yang bisa dikerjakan. Berikut diantaranya.

Sholat Dhuha

Sholat Dhuha ialah salat sunnah yang boleh dikerjakan sendiri ataupun berjamaah. Waktu untuk melaksanakan sholat dhuha ialah pada pagi hari sekitar jam 08.00 pag sampai pukul 12:00 siang. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

َمَنْ صَلَّى الضُّحٰى اِثْنَتٰى عَشَرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللهُ لَهُ قَصْرًا فِى الْجَنَّةِ

Artinya: “Barang siapa yang melakukan sholat Dhuha dua belas rakaat, Allah akan membuatkan baginya istana di surga” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Dari hadist diatas, sholat dhuha memiliki keutamaan dan manfaat yang luar biasa. Bagi siapa saja umat muslim yang mengerjakan sholat sunnah dhuha akan dibuatkan istana di surga. Manfaat lain dari melakukan sholat ini ialah akan dicukupkan kebutuhannya oleh Allah SWT.

Sholat Rawatib

Sholat Wawatib adalah sholat yang dilakukan sebelum ataupun sesudah melakukan sholat wajib. Sebelum sholat fardu disebut “qabliyah” sedangkan setelah sholat fardu disebut “ba’diyah”.

Sholat sunnah rawatib yang dilarang adalah sholat rawatib sesudah subuh dan sesudah asar. Karena pada waktu tersebut terdapat waktu-waktu yang diharamkan melakukan sholat.

Rasulullah Bersabda:

“Barang siapa mengerjakan sholat rawatib sebanyak 12 rakaat sehari semalam, dibuat baginya oleh Allah rumah di dalam surga.”

Inilah janji Allah untuk yang mengamalkan dan mengerjakan sholat sunnah rawatib. Untuk itu sholat sunnah ini memiliki pahala, manfaat dan keutamaan yang besar.

Sholat Tahajud

Sholat tahajud merupakan sholat sunah yang waktu pengerjaannya ialah di malam hari. Jumlah rakaat sholat tahajud adalah minimal 2 rakaat dan maksiml 12 rakaat.

Untuk menjalankannya seseorang dianjurkan untuk tidur terlebih dahulu. Walaupun kalau tidak diawali dengan tidur juga juga gak apa-apa. Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa melaksanakan sholat tahajud dengan sebaik-baiknya, dan dengan tata tertib yang rapi, maka Allah SWT akan memberikan 9 macam kemuliaan yaitu 5 macam di dunia dan 4 macam di akhirat.”

Dari hadist diatas, dapat dipahami kalau sholat tahajud memiliki keutamaan, manfaat dan pahala yang luar biasa. Bagi yang mengerjakannya akan mendapatkan 9 macam kemuliaan dengan 5 macam kemuliaan di dunia dan 4 macam kemuliaan di akherat.

Waktu melakukan sholat tahajud

Sepertiga malam pertama

Waktu sepertiga malam pertama adalah setelah sholat Isya sampai dengan sekitar pukul 10.30. Diusahakan sholat tahajud dilakukan setelah bangun tidur walau hanya sebentar.

Sepertiga malam kedua

Sholat tahajud dapat dilakukan di waktu sepertiga malam kedua. Sholat tahajud di sepertiga malam kedua adalah antara pukul 10.30 malam hingga 01.30 pagi.

Sepertiga malam ketiga

Waktu sepertiga malam terakhir ini antara antara pukul 01.30 pagi hingga sebelum memasuki waktu subuh.

Dari ketiga waktu ini, waktu terbaik untuk melakukan sholat tahajud ialah pada waktu sepertiga akhir malam. Jika ingin melakukan sholat tahajud, pastikan Anda sudah melakukan sholat wajib isya’ terlebih dahulu.

Sholat Istikharah

Banyak orang yang melakukan sholat istikharah saat ada pada kondisi bingung atau bimbang. Harapannya, dengan melakukan sholat istikharah, Allah SWT akan memberikan petunjuk sehingga keputusan yang diambilnya tepat.

Pada Al Quran dalam surah Al Baqarah ayat 216, Allah telah mengingatkan:

وَ عَسٰۤی اَنۡ تَکۡرَہُوۡا شَیۡئًا وَّ ہُوَ خَیۡرٌ لَّکُمۡ ۚ وَ عَسٰۤی اَنۡ تُحِبُّوۡا شَیۡئًا وَّ ہُوَ شَرٌّ لَّکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ وَ اَنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ

Artinya: “Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai semua, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah ayat 216).

Dari firman Allah diatas dapat dipahami kalau pilihan terbaik dari Allah pastilah adalah pilihan terbaik untukmu.

Sholat ini bisa dilakukan kapan saja. Namun, akan lebih utama jika dilakukan pada sepertiga malam terakhir. Jika Anda melakukannya dengan khusyu’, segala keragu-raguan akan hilang karena Allah akan memberikan petunjuk untuk menentukan pilihan.

Sholat Hajat

Apabila Anda punya suatu keinginan, mintalah kepada Allah SWT supaya mengabulkannya. Salah satu caranya ialah melakukan sholat hajat dengan khusyuk’.

Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa berwudhu dan menyempurnakannya, kemudian mengerjakan sholat dua raka’at (Sholat hajat) dengan sempurna maka Allah memberi apa saja yang ia minta, baik segera maupun lambat”, (HR. Ahmad).

Anda bisa meminta sesuatu yang diinginkan kepada Allah melalui sholat ini. Bisa dibilang bahwa sholat hajat menjadi cara terbaik untuk mengadu kepada Allah SWT. Anda akan merasa lebih dekat dengan Allah SWT dan hatipun menjadi tenang.

Sholat Witir

Sholat witir adalah sholatnya para kekasih Allah. Sholat witir ini merupakan salah satu sholat sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Rasulullah bersabda:

“Wahai ahli Quran, lakukanlah sholat Witir, sesungguhnya Allah itu witir (ganjil) dan Dia suka kepada sholat Witir.” (HR. Ahmad dan Yirmidzi).

Sholat witir sebagai sholat penutup dari sholat-sholat lainnya pada hari itu. dari hadist diatas disebutkan bahwa Allah sangat menyukai hamba-Nya yang menjalankan sholat witir. Rasulullah bersabda:

“Ada tiga hal yang fardhu bagiku dan sunnah bagi kalian, yaitu witir (sholat Witir), bersiwak, dan qiyamul lail”, (HR. Bukhari dan Muslim).

Sholat witir wajib gabi Rasulullah, berarti sholat witir ini memiliki keutamaan dan manfaat yang luar biasa. Bagi umatnya sholat witir ini sunnah yang sangat dianjurkan. Jumlah rakaat sholat witir adalah ganjil, dengan minimal 1 rakaat. Dan waktu pengerjaannya yaitu setelah isya’ sampai waktu sebelum subuh.

Sholat Taubat

Manusia tidak luput dari kesalahan. Allah SWT sangat menyukai orang-orang yang mau berubah dan bertobat dari kesalahan yang pernah dilakukannya, baik itu kesalahan besar ataupun kecil.

Salah satu cara untuk memohon ampun kepada Allah SWT ialah dengan melakukan sholat taubat. Di sini, Anda bisa meminta ampunan dari dosa-dosa yang dilakukan sekaligus berjanji tidak akan mengulangi kesalahan tersebut. Jumlah minimalnya ialah 2 rakaat dan maksimal 6 rakaat.

Sholat Wudhu

Hal wajib yang dilakukan ketika akan melakukan sholat ialah berwudhu. Sholat wudhu ialah sholat yang dikerjakan setelah melakukan wudhu. Sebagai contoh, sebelum melakukan sholat maghrib, Anda menjalankan sholat ini setelah wudhu dan sebelum sholat magrib. Jumlah rakaatnya ialah 2 rakaat.

Sholat Tahiyatul Masjid

Sesuai dengan namanya, tujuan melakukan sholat tahiyatul masjib bertujuan memberikan penghormatan pada tempat ibadah masjid. Anda bisa melakukannya kapan saja saat melakukan sholat jamaah di masjid.

10 Macam Sholat Sunah Yang Memiliki Manfaat Luar Biasa Lengkap

Sholat Tasbih

Asal muasal nama sholat tasbih ialah karena terdapat bacaan 300 kali tasbih. Jumlahnya ialah 4 rakaat. Sholat tasbih ini boleh dikerjakan setiap hari, satu minggu sekali, satu bulan sekali, ataupun satu kali seumur hidup.

Rasulullah SAW menyarankan kepada umatnya untuk melakukan ibadah sholat tasbih ini karena pahalanya sangat besar.Demikian ulasan tentang sholat sunnah yang memiliki manfaat, keutamaan dan keistimewaan luar biasa. Lakukanlah sholat sunah sebagai penyempurna ibadah Anda. Anda bisa memilih jenis sholat sunnah mana sesuai dengan momen dan kebutuhan.

Demikian ulasan tentang 10 Macam Sholat Sunah Yang Memiliki Manfaat Luar Biasa Lengkap. Semoga dapat bermanfaat dan menabah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

Kata Insya Allah : Bacaan Arab, Latin, Makna dan Terjemahnya

Kata Insya Allah : Bacaan Arab, Latin, Makna dan Terjemahnya – Pada kesempatan kali ini akan membahas tentang Kata Insya Allah. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan Arti insya allah, makna isnya allah serta kapan saat kita mengucapkan isnya allah. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini.

Kata Insya Allah : Bacaan Arab, Latin, Makna dan Terjemahnya

Kata Insya Allah tentu kita sering dengar dan mengucapkannya tatkala sedang membuat janji atau menyanggupi sesuatu. Nah, bagaimana sih makna insya allah yang sebenarnya. Yuk simak ulasan berikut.

Arti Insya Allah

Penulisan arab “إن شاء الله” yang artinya:

  • إن = Jika
  • شاء = Menghendaki
  • الله = Allah

Jadi maksudnya “إن شاء الله” = “Jika Allah berkehendak” atau “Bila Allah menghendaki”

Hal ini bergantung penjelasan kita ingin mmenterjemahkan huruf “ش” jadi apa?

Jadi “syaa” ataupun “shaa”.

Di negara yang berbahasa inggris, kata ش dimaksud jadi “shaa”, berbeda dengan di negara Indonesia. Karena kalau di Indonesia, “shaa” sudah diterjemahkan dari huruf ص.

Berhubungan dengan ada yang mengatakan “insya Allah” yang berarti “menciptakan Allah”, hal ini berbeda lagi perkaranya karena “إنشاء” artinya menghasilkan atau membikin.

  • Berbeda dengan “إن شاء” (apabila menghendaki). konsumsinya dalam kalimat bersumber pada kaidah bahasa arab juga berubah bunyinya,
  • Apabila “إن شاء الله” dibacanya “insyaallahu” artinya apabila allah menghendaki.
  • Apabila ” إنشاء الله ” dibacanya “insyaullahi” artinya menghasilkan Allah.

Jadi kalau di Indonesia bahwa ketika menulis “insyaallah”, ataupun “in syaa Allah”, ataupun “in shaa Allah” bacanya akan sama aja dan juga memiliki maksud yang sama.

Artinya yaitu “Jika Allah menghendaki”, jadi tidak terdapat makna yang lain.

Dalam hal ini lebih baik menggunakan huruf arab agar memiliki arti dan maksud yang sama.

Insya Allah Dalam Al Quran

Kalimat terpopuler di kalangan umat Islam setelah salam adalah “insya Allah“. Secara literal, kalimat tersebut berarti, “Bila Allah menghendaki”.

Kalimat ini biasa diucapkan saat seseorang ingin melakukan sesuatu dan berjanji akan melaksanakannya. Dalam Al-Quran, Allah menyebutkan kalimat ini terkait dengan sebuah janji yang hendak dilaksanakan seorang hamba.

Misalnya : Ketika Nabi Ismail berjanji hendak mematuhi perintah Allah, ia berkata:

قَالَ یٰۤاَبَتِ افۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ ۫ سَتَجِدُنِیۡۤ اِنۡ شَآءَ اللّٰہُ مِنَ الصّٰبِرِیۡنَ

Artinya: “…Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffaat ayat 102).

Ketika Nabi Syu’aib berjanji kepada Musa akan menikahkannya dengan putrinya, ia berkata :

سَتَجِدُنِیۡۤ اِنۡ شَآءَ اللّٰہُ مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ

Artinya: “…Dan, kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik.” (QS. Al-Qashash ayat 27).

Ketika Nabi Yusuf menjanjikan keamanan kepada ayah ibunya dan saudara-saudaranya, ia berkata:

وَ قَالَ ادۡخُلُوۡا مِصۡرَ اِنۡ شَآءَ اللّٰہُ اٰمِنِیۡنَ

Artinya: “…Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.” (QS. Yusuf ayat 99).

Sayangnya, kalimat “insya Allah” ini kerap disalahgunakan oleh kita sendiri selaku umat Islam.

Penyalahgunaan Ucapan Insya Allah

Ada dua bentuk penyalahgunaan terhadap kalimat ini.

1. Ucapan “Insya Allah” dipakai untuk menunjukkan janji yang longgar dan komitmen yang rendah.

Kata tersebut diamalkan bukan dengan keyakinan bahwa Allah yang punya kuasa, tapi digunakan secara keliru sebagai cara untuk tidak mengerjakan sesuatu.

Seakan-akan, kalimat insya Allah hanya sebagai pengganti dari kalimat “tidak janji deh.”

Saat kita diundang oleh seorang teman, kita jawab dengan enteng “Insya Allah”, sebagai cara berbasa-basi untuk tidak memenuhi undangannya.

Kita ucapkan kata itu untuk sekedar pemanis dilidah saja. Sementara dalam hati, kita bergumam, “Ya, Insya Allah, nanti tergantung sikon dan tergantung perasaan hati saya bagaimana”.

Kita rupanya berkelit dan berlindung dengan kata “Insya Allah”. Begitu pula halnya ketika kita berjajnji. Seringkali kata “Insya Allah” keluar begitu saja sebagai alat basa-basi pergaulan.

Ketika teman kita yang mendengar tahu dan paham kalua kata-kata insya Allah yang keluar dari mulut kita itu hanya sekedar pemanis lidah belak, ia balik menjawab, “Yaa…, jangan insya Allah saja”.

Kesannya, kata insya Allah hanya buat ngeles dari suatu acara atau janji atau hanya sebagai alas an ketidakseriusan kita.

Sungguh aneh memang kata insya Allah yang seharusnya dianjurkan untuk selalu diucapkan di setiap kali mengikat janji, justru malah menjadi ucapam untuk menghindari janji yang mungkin tidak bisa ditepati.

Tapi, inilah fakta yang terjadi. Inilah kebiasaan yang tanpa sadar telah sering kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

2. Kata insya Allah dipahami sebagai tindakan fatalism.

Fatalism yaitu bahwa segala tindakan ditentukan oleh Allah. Kata insya Allah dibuat justifikasi untuk menafikan segala bentuk ikhtiar manusia.

Artinya, manusia tidak memiliki ruang kebebasan untuk bertindak dan berbuat. Paham ini jelas tidak tepat karena Allah menganugerahi manusia kebebasan berkehendak. Bagaimana mungkin seseorang mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya apabila seluruh tindakannya ditentukan oleh Allah.

Ketika konsep makna “insya Allah” yang keliru ini diterapkan dalam segala aspek kehidupan seorang muslim, maka secara otomatis ia tidak mempunyai “kebebasan karena semuanya adalah sesuai kehendak yang lebih tinggi, yaitu kehendak Allah.

Karena tidak mempunyai kebebasan seorang muslim cenderung menjadi pasif dalam kehidupan sosial, budaya, maupun ekonomi karena tidak ada yang bisa diperbuat untuk mengubah jalannya kehidupan ini.

Akibat dari penyalahgunaan kata insya Allah ini, kita menyaksikan dampak buruk yang luar biasa bagi perkembangan dan kemajuan peradapan manusia, terutama dunia Islam.

Dengan konsep insya Allah, umat muslim di mana-mana menjadi tidak proaktif dalam bertindak dan bahkan cenderung pesimis dan pasif.

Makna Insya Allah

Lalu, apa makna yang sebenarnya dari kata insya Allah ini?

Sesunggunya, insya Allah memiliki falsafah yang mendalam. Kita bisa memahaminya dari kisah sebab turunnya ayat yang terkait dengan kalimat ini.

Diriwayatkan, suatu ketika, beberapa penduduk Makkah datang kepada Nabi Muhammad menanyakan tentang ruh, kisah Ashabul Kahfi dan kisah Zulkarnain.

Beliau menjawab, “Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan.”

Keesokan harinya, wahyu tidak datang menemui nabi, sehingga beliau gagal menjawab hal-hal yang ditanyakan.

Jibril tidak muncul pada hari berikutnya, atau selama 14 hari. Orang-orang Quraisy bertepuk kegirangan karena mereka akhirnya berhasil membuktikan kebohongan orang yang mengaku sebagai nabi yang tidak mampu menjawab pertanyaan.

Nabi Muhammad pun dirundung kesedihan. Saat itulah, turun ayat yang menegur Nabi.

Teguran itu tersirat dalam Al Quran surah Al Kahfi ayat 23-24:

وَ لَا تَقُوۡلَنَّ لِشَایۡءٍ اِنِّیۡ فَاعِلٌ ذٰلِکَ غَدًا . اِلَّاۤ اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ ۫ وَ اذۡکُرۡ رَّبَّکَ اِذَا نَسِیۡتَ وَ قُلۡ عَسٰۤی اَنۡ یَّہۡدِیَنِ رَبِّیۡ لِاَقۡرَبَ مِنۡ ہٰذَا رَشَدًا

Artinya: “Dan, janganlah kamu mengatakan terhadap sesuatu, “Sesungguhnya, aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut). “Insya Allah.” Dan, ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah, ‘Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” (QS. Al-Kahfi ayat 23-24).

Berdasarkan kisah ini, kita tahu bahwa Nabi Muhammad pun mendapat teguran ketika alpa mengucapkan insya Allah saat mengemukakan janji.

Secara paradoks, penundaan turunnya wahyu ini menunjukkan bahwa beliau sebenarnya bergantung pada kehendak Rabb-nya, beliau tidak memiliki kuasa apa pun untuk menentukan hari esok.

Ada riwayat hadits yang menyinggung tentang ungkapan kata ini.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra bahwasannya bahwa Nabi Muhammad bersabda:

“Sulaiman bin Daud berkata, “Sungguh, aku akan berkeliling dalam suatu malam kepada seratus wanita, setiap mereka datang dengan penunggang kuda yang berjuang di jalan Allah,’’Maka, berkatalah temannya (malaikat) kepadanya, ‘Ucapkanlah insya Allah!’ Beliau tidak mengucapkan insya Allah sehingga tidak ada yang mengandung dari mereka, kecuali satu wanita yang datang dengan separuh manusia. Demi jiwa Muhammad yang ada di tangan-Nya, andai ia mengucapkan insya Allah, niscaya ia tidak menerjang dan itu menjadi sesuatu yang meluluskan hajatnya.” (HR.Ahmad, Bukhari, Muslim, dan Nasa’’i).

Hadits di atas menjadi teguran dan peringatan untuk seorang nabi, Allah mengingatkan Nabi Sulaiman bahwa status pengetahuan dan nasibnya bergantung pada Rabb-nya, Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa, dan beliau tidak boleh meupakan hal tersebut.

Berdasarkan beberapa keterangan dalam Al Quran dan hadits, setidaknya ada tiga makna yang terkandung dalam kata “insya Allah”.

Berikut 3 makna insya Allah:

1. Dalam kalimat insya Allah tersimpan keyakinan yang kukuh.

Keyakikan yang kukuh artinya bahwa Allah selalu terlibat dan punya andil dalam segala tindak-tanduk manusia.

Kesadaran akan kehadiran Allah dapat memupuk tumbuhnya moral yang luhur (akhlakul karimah). Hanya orang-orang yang merasa dirinya senantiasa ditatap Allah saja yang akan mampu menjaga diri dari segala bentuk pelanggaran.

Inilah yang disebut oleh Rasulullah sebagai ihsan yaitu, “Engkau menyembah Allah Seakan-akan sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR.Muslim).

2. Ekspresi rendah hati (tawadhu).

Kata insya Allah ni menunjukkan bahwa manusia punya rencana, sedang Allah punya kuasa. Dengan demikian, kata insya Allah menunjukkan kerendahan hati seseorang hamba sekaligus kesadaran akan kekuasaan Tuhan.

Seseorang yang memastikan diri bahwa besok akan bertindak sesuatu, sesungguhnya telah terselip dalam relung jiwanya sifat kibr (sombong).

Seharusnya, orang yang mengucapkan insya Allah adalah orang yang sadar bahwa Allah selalu membimbing hamba-Nya.

3. Perpaduan usaha dan penyerahan diri.

Dalam kata insya Allah, terkandung suatu ketidakpastian akan apa yang terjadi esok. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan kita. Segala rencana yang sudah pasti dalam benak Anda, sesungguhnya mengandung sejuta ketidakpastian di dalamnya.

Setiap jengkal langkah kaki yang belum Anda lalui, penuh teka-teki, dan tidak dapat diramalkan secara pasti. Bahkan, dalam setiap tarikan napas, Anda menyimpan titik-titik keajaiban hidup dan misteri takdir Anda.

Di satu sisi, keyakinan dan kesadaran akan hal ini pada akhirnya akan melahirkan motivasi dan mempersiapkan secara sempurna hal-hal yang meniciptakan kesuksesan dari yang direncanakan, serta memastikan apa yang akan terjadi seperti yang dikehendaki.

Di sisi yang lain, akan melahirkan sikap penyerahan diri kepada kehendak Allah setelah usaha yang kita lakukan.

Allah berfirman dalam Al Quran Surah Al Hasyr ayat 18:

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ وَ لۡتَنۡظُرۡ نَفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ ۚ وَ اتَّقُوااللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ خَبِیۡرٌۢ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ

Artinya: “Hai orang-orang berimaan, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan, bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr ayat 18).

Jadi, makna yang benar dari kata insya Allah adalah sebuah “kepastian”, kecuali Allah berkehendak lain.

Artinya, ketika kita mengucapkan kata insya Allah dalam sebuah janji atau di saat kita diminta untuk hadir pada suatu acara. Maka itu adalah suatu jaminan akan sebuah kepastian bahwa kita akan datang, kita akan menghadiri, kita akan menepati janji.

Apabila di tinjau dari sisi kepastian kita selaku “manusia”, terkecuali bila Allah berkehendak lain, barulah hal itu tidak bisa terealisasi. Jika kita tidak mampu memenuhi undangan atau janji itu maka di sinilah letak kekuasaan Allah, disinilah baru berlaku kata insya Allah.

Demikian ulasan tentang Kata Insya Allah : Bacaan Arab, Latin, Makna dan Terjemahnya. kata insya Allah dan makna kata insya Allah yang perlu kta pahami. Semoga Allah senantiasa memudahkan setiap jalan yang kita pilih ataupun setiap janji yang kita ucapkan, Aamin.

√ Bacaan Niat Sholat Jumat, Tata Cara, Syarat dan Keutamaannya

Bacaan Niat Sholat Jumat, Tata Cara, Syarat dan Keutamaannya – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Niat Sholat Jumat. Adapun perincian yang akan dibahas tentang √ sholat Jumat, √ syarat sholat Jumat, √ niat sholat Jumat, √ tata cara sholat Jumat dan √ keutamaan sholat Jumat. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini.

Bacaan Niat Sholat Jumat, Tata Cara, Syarat dan Keutamaannya

Sebagai seorang muslim kita diwajibkan untuk melaksanakan perintah Sholat 5 (lima) waktu. Sholat jumat pengganti sholat dhuhur yang berjumlah 4 rakaat menjadi pelaksanaannya 2 rakaat dengan disertai khutbah jumat.

Sholat Jumat

Sholat Jumat adalah sholat dua rakaat yang dikerjakan waktu dhuhur sesudah dua khutbah didalamnya pada hari Jumat.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Al Quran surah Al Jumuah ayat 9:

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِذَا نُوۡدِیَ لِلصَّلٰوۃِ مِنۡ یَّوۡمِ الۡجُمُعَۃِ فَاسۡعَوۡا اِلٰی ذِکۡرِ اللّٰہِ وَ ذَرُوا الۡبَیۡعَ ؕ ذٰلِکُمۡ خَیۡرٌ لَّکُمۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, manakala kamu diserukan untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, demikianlah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al Jumuah ayat 9)

Sholat Jumat merupakan salah satu tanda syi’arnya agama Islam secara keseluruhan. Agar terlihat jelas bahwa agama Islam adalah agama yang mengutamakan kerukunan, pergi bersama dan selalu serempak dalam agamanya.

Berpijak dari situ sehingga sholat Jumat tidak sah dilakukan dengan sendiri-sendiri. Namun sholat Jumat dilakukan dengan berjamaah atau dilakukan dengan cara bersama-sama.

Sebagai pengingat untuk umat muslim, sholat Jumat dilaksanakan seminggu sekali yaitu pada waktu dhuhur di hari Jumat. Pada sholat Jumat senantiasa mendekatkan kepada-Nya dan dalam setiap langkah keseharian tidak luput dari Dzikrullah.

Setiap minggunya semua umat muslim memperoleh suguhan batin sejak jaman Rasulullah sampai hari kiamat kelak. Setidak-tidaknya demikianlah yang terkandung hikmah dalam sholat Jumat.

Waktu Sholat Jumat

Mayoritas sahabat sepakat bahwa waktu sholat Jumat sama dengan waktu Shalat dhuhur. Hal ini berdasarkan hadits dari Anas bin Malik Ra:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى الْجُمُعَةَ إِذَا مَالَتِ الشَّمْسُ

Artinya: “Rasulullah Saw mengerjakan sholat Jumat apabila matahari telah tergelincir” (HR. Abu Dawud dan Abu Ya’la)

Sholat Jumat adalah pengganti sholat dhuhur pada hari Jumat. Jadi waktu sholat Jumatadalah waktu dhuhur di hari Jumat, sekitar pukul 12:00 siang sampai pukul 13:00 siang.

Untuk mengetahui lebih detail tentang jadwal sholat dhuhur pada hari Jumat, atau jadwal sholat Jumat yang sudah ditentukan.

Niat Sholat Jumat

Seperti sholat-sholat lainnya, ketika akan mengerjakan sholat Jumat juga akan diawali dengan membaca niat sholat Jumat. Semua ulama sepakat bahwa tempat niat adalah hati alias diucapkan dalam hati atau dengan suara lirih.

Bacaan Niat Sholat Jumat Arab

اُصَلِّيْ فَرْضَ الْجُمْعَةِ رَكْعَتَيْنِ اَدَاءً مَاْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Bacaan Niat Sholat Jumat Latin

“Ushollii fardhol jum’ati rak’ataini adaa-an ma-muuman lillaahi ta’aala”.

Arti Niat Sholat Jumat

“Aku berniat melakukan sholat wajib Jumat 2 rakaat sebagai makmum, karena Allah Taala”.

Tata Cara Sholat Jumat

Sholat Jumat disyariatkan untuk dikerjakan secara berjamaah, tidak sah jika dilakukan sendirian.

Sebelum Sholat Jumat dilaksanakan secara berjamaah, maka didahului dengan Khutbah Jumat yang terdiri dari dua khutbah.

Khutbah dilakukan oleh Khatib untuk menyampaikan khutbah pertama dengan memuji Allah, bershalawat, syahadat dan menyampaikan pesan taqwa serta nasehat-nasehat ke jalan kebaikan menurut ajaran Islam.

Setelah khutbah pertama selesai, kemudian khatib duduk sejenak. Kemudian khatib kembali berdiri untuk menyampaikan khutbah kedua dan mengakhirinya dengan doa.

Sholat Jumat dilaksanakan secara berjamaah dengan jumlah dua rakaat yang dipimpin oleh imam. Simak tata cara sholat Jumat berikut.

Rakaat pertama

  1. Niat
  2. Takbiratul ihram, diikuti dengan doa iftitah
  3. Membaca surah Al Fatihah
  4. Membaca surah dari Al Quran
  5. Melakukan Rukuk dengan tuma’minah
  6. Iktidal dengan tuma’minah
  7. Melakukan Sujud dengan tuma’minah
  8. Duduk di antara dua sujud dengan tuma’minah
  9. Melakukan sujud kedua dengan tuma’minah
  10. Berdiri lagi untuk menunaikan rakaat kedua

Rakaat Kedua

  1. Membaca surat Al Fatihah
  2. Membaca surat dari Al Quran
  3. Melakukan Rukuk dengan tuma’minah
  4. Iktidal dengan tuma’minah
  5. Melakukan Sujud dengan tuma’minah
  6. Duduk di antara dua sujud dengan tuma’minah
  7. Melakukan sujud kedua dengan tuma’minah
  8. Tahiyat akhir dengan tuma’minah
  9. Mengucapkan salam sambil menoleh kekanan dan kekiri

Untuk bacaan tiap gerakan sholat Jumat adalah sesuai dengan bacaan sholat wajib 5 waktu.

Syarat Sholat Jumat

Sholat Jumat akan sah dilakukan jika memenuhi beberapa syarat sholat Jumat. Adapaun syarat sholat Jumat berikut:

  1. Sholat Jumat dilakukan di waktu dhuhur pada hari Jumat

Sholat Jumat dilakukan pada waktu dhuhur pada hari Jumat saja, dan dalam seminggu hanya hari Jumat saja.

Jadi sholat jumat ini sebagai pengganti sholat dhuhur pada hari Jumat. Jadi jika sudah melaksanakan sholat Jumat berjamaah, maka tidak perlu melaksanakan sholat dhuhur pada hari Jumat tersebut.

  1. Sholat Jumat dilakukan secara berjamaah di suatu daerah

Sholat Jumat harus dilakukan secara berjamaah, tidak boleh dikerjakan secara sendiri-sendiri di suatu daerah.

  1. Sholat Jumat Wajib Diikuti minimal oleh 40 jamaah

40 Jamaah ini harus orang laki-laki yang sudah baligh. Sholat Jumat akan sah jika diikuti oleh minimal 40 orang laki-laki yang sudah baligh.

Sholat Jumat ini hukumnya wajib bagi laki-laki yang sudah baligh, jadi kaum laki-laki yang sudah baligh dari daerah tersebut diwajibkan untuk melaksankan sholat Jumat.

Apabila ada jamaah wanita, maka tidak masuk dalam hitungan 40.

  1. Jumlah 40 Jamaah seluruhnya wajib berasal dari daerah tersebut

Juga jika ada orang lain selain penduduk sekitar daerah tersebut yang sedang melakukan perjalanan atau singgah (mushafir), maka tidak masuk dalam jumlah 40 jamaah.

Penduduk yang mengerjakan sholat Jumat berjamaah adalah masuk dalam penduduknya sendiri dari wilayah tersebut. Bila berasal dari daerah orang lain tidak masuk dalam hitungan jumlah 40 jamaah.

  1. Didahului dengan dua khutbah

Walau sholat Jumat adalah pengganti sholat dhuhur pada hari Jumat, namun hitungan rakaat dan rukun sholatnya berbeda dengan sholat wajib 5 waktu pada waktu dhuhur.

Dalam melakukan sholat Jumat akan diawali dengan dua khutbah terlebih dahulu sebelum melaksanakan sholat Jumat yang berjumlah 2 rakkat.

  1. Sholat Jumat dikerjakan di masjid atau tempat yang sudah di tetapkan

Sholat Jumat hanya dikerjakan di masjid atau tempat yang sudah ditetapkan dalam suatu wilayah. Untuk itu, dalam satu wilayah desa dianjurkan hanya memiliki satu masjid sebagai tempat melaksanakan sholat Jumat.

Walau dalam satu wilayah desa, ada beberapa tempat ibadah, yang lainnya difungsikan sebagai Mushola atau Langgar sebagai tempat melaksankan sholat wajib 5 waktu berjamaah.

Orang yang Wajib Sholat Jumat

Sholat Jumat hukumnya adalah fardhu ‘ain (wajib). Allah akan menutup mata hati orang yang tidak mengerjakan sholat Jumat tiga kali berturut-turut. Seperti dijelaskan dalam hadist berikut:

مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

Artinya: “Barangsiapa meninggalkan tiga kali Sholat Jumat karena menganggap remeh, maka Allah akan menutup mata hatinya” (HR. An Nasa’i, Abu Dawud dan Ahmad).

Lalu, siapa sajakah yang diwajibkan Sholat Jumat?

Berikut orang-orang yang wajib mengerjakan sholat Jumat:

  • Orang islam
  • Laki-laki, wanita tidak wajib melakukan ikut jum’atan
  • Orang yang sudah berakal dan baligh (mukallah)
  • Tidak budak, artinya dia orang yang merdeka
  • Sehat akal pikirannya
  • Penduduk daerah tersebut
  • Orang yang Tidak Wajib Sholat Jumat
  • Sholat Jumat tidak diwajibkan bagi orang-orang dibawah ini:
  • Orang Buta
  • Orang Lumpuh
  • Orang sakit yang menyengsarakan sampai tidak bisa mendatangi shalat Jum’at
  • Merawat orang sakit yang tidak bisa ditinggalkan atau orang sakit itu tidak mau dipasrahkan kepada orang dia
  • Hujan deras yang tidak bisa membuat berangkat jumatan, akan tetapi hal ini dipertimbangkan kondisi kanan kiri, sungguh-sungguh tidak bisa sesungguhnya atau hanya malas saja.

Rukun Khutbah Jumat

Perlu kita ketahui beberapa rukun khutbah jumat:

  1. Memuji kepada Allah dengan lafadz hamdalah
  2. Mengucapkan shalawat salmi kepada nabi Muhammad Saw
  3. Megucapkan wasiat taqwa
  4. Membacakan salah satu ayat dari Al Quran
  5. Memohonkan ampun kepada kaum mukmin muslim

Syarat Khutbah Jumat

Ada beberapa syarat dari khutbah jumat meliputi:

  1. Suci dari hadats dan najis, bailk badan, tempat khutbah atau pakaian
  2. Menutup aurat
  3. Berdiri bagi khatib yang kuasa berdiri
  4. Duduk dengan tumaknimah abtara dua khutbah
  5. Berurutan antara khutbah dua dan tidak terlalu lama
  6. Berurutan antara khutbah kedua dan shalat
  7. Rukun-rukun khutbah yang disebutkan diatas dibaca dengan Bahasa Arab, adapun selain itu, misal penjelasan boleh dengan Bahasa masing-masing daerah atau Bahasa yang mudah dipahami dan umum didaerah tersebut.
  8. Dengan suara yang keras dan didengar oleh mustami’ sekurang-kurangnya 40 orang.
  9. Semuanya dilakukan dalam waktu dhuhur.

Sunnah Sebelum Sholat Jumat

Melakukan mandi bersih atau mandi junub sebelum melakukan sholat Jumat adalah sunnah sesuai ajaran Rasulullah.

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً

Artinya: “Barangsiapa mandi pada hari Jumat sebagaimana mandi jinabat, lalu berangkat menuju masjid, maka dia seolah berqurban dengan seekor unta”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Melakukan Mandi Junub Untuk Sholat Jumat

Niat mandi bersih untuk sholat Jumat sebagai berikut:

Bacaan Niat Mandi Junub Sholat Jumat Arab

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِلصَّلاَةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

Bacaan Niat Mandi Junub Sholat Jumat Latin

“Nawaitul ghusla lishsholaati min yaumil jumu’atisunnatal lillahi ta’aalaa”.

Arti Niat Mandi Junub Sholat Jumat

“Aku niat mandi untuk mengerjakan sholat Jumat, sunnah karena Allah taala”.

Perbuatan Sunnah pada Hari Jumat

  • Membersihkan badan
  • Memotong kuku
  • Memotong rambut
  • Mandi bersih atau mandi keseluruhan untuk sholat Jumat
  • Menggunakan parfum atau wangi-wangian
  • Berpakaian bersih (anjuran warna putih) dan pakaian yang paling bagus yang dimiliki.
  • Berangkatlah ke masjid lebih awal.
  • Sampai di masjid tunaikan sholat sunnah tahiyat masjid sebelum duduk dzikir.
  • Perbanyaklah dzikir kepada Allah.
  • Mengucapkan shalawat.
  • Membaca Al Quran.
  • Kalau khatib sudah berdiri, maka dengarkanlah dengan hati khusu’ dan ingatlah apa-apa yang dikhutbahkan.

Sunnah Setelah Selesai Sholat Jumat

Kalau khutbah dan sholat Jumat sudah selesai, maka jangan langsung pergi meninggalkan masjid untuk pulang ke rumah. Kerjakanlah sholat rawatib ba’diyah dhuhur.

Perbanyaklah dzikir kepada Allah, perbanyaklah membaca ayat-ayat Allah dalam Al Quran, lebih-lebih yang sering dilakukan oleh para ulama yang dijelaskan dalam kitabnya.

Setelah selesai sholat Jumat dianjurkan berdzikir membaca:

  • Surah Al Fatihah (Sebanyak 7x)
  • Surah Al Ikhlas (Sebanyak 7x)
  • Surah An Naas (Sebanyak 7x)
  • Surah Al Falaq (Sebanyak 7x)

Hal Harus Dilakukan Jika Terlambat Sholat Jumat

Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan jika datang terlambat sholat Jumat

  • Apabila ada makmum yang terlambat satu, walaupun tidak mendengarkan khutbah cukup nanti setelah imam salami a menambahi satu rakaat yang ditinggalkan dengan shalat sendiri, bacaan Al Fatihah dikeraskan berikut surat-surat yang dibaca.
  • Apabila rakaat kedua sudah habis, misal imam ketika ruku’ sujud atau sedang tahiyat, tiba-tiba ada makmum yang datang terlambat, maka ikuti rukun pada waktu itu dengan niat shalat jum’at akan tetapi makmum tersebut harus menyempurnakan bilangan rakaat menjadi empat shalat dhuhur.

Hal Harus Dilakukan Jika Ada yang Tidak Terpenuhi Syarat Sholat Jumat

Berikut hal-hal yang perlu dilakukan jika tidak terpenuhi syarat sholat Jumat

  1. Pihak khotib ada yang lupa tidak menyebutkan salah satu diantara rukun khutbah Jumat.

Khotib lupa tidak membaca shalawat atau membaca ayat Al Quran, artinya khotib tersebut tidak sah khotbahnya.

Apabila hal ini tanpa sepengatahuan khotib dan pihak khotib tidak melakukan tindakan penyempurnaan, maka makmum yang meneetahuinya itu harus shalat dhuhur setelah jum’atan sebagai penyempurnaan khutbah yang tidak syah tadi.

  1. Jumlah jamaah sholat Jumat kurang dari 40 jamaah yang sudah baligh.

Apanila dalam suatu daerah tersebut para jamaah tidak sampai 40 orang atau genap 40 namun disana ada pendatang anak-anak yang belum baligh. Maka setelah sholat Jumat diharuskan kembali mengerjakan sholat dhuhur sebagai penutupnya.

Keutamaan Sholat Jumat

Sholat Jumat memiliki beberapa keutamaan bagi yang mengerjakannya. Karena sholat Jumat ini hukumnya wajib bagi laki-laki yang sudah baligh, maka setiap melaksanakan sholat Jumat, semua laki-laki muslim yang sudah baligh akan mendapatkan manfaat dari keutamaan sholat Jumat.

Memiliki Pahala yang Besar

Seperti hadist yang sudah disampaikan diatas, bahwa ketika hari Jumat dan pergi mengerjakan sholat Jumat dengan datang lebih awal, maka akan mendapatkan pahala seperti berqurban seekor unta.

“Barangsiapa mandi pada hari Jumat sebagaimana mandi jinabat, lalu berangkat menuju masjid, maka dia seolah berqurban dengan seekor unta”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Seperti Mengerjakan Ibadah Sholat dan Puasa Selama Setahun

Ketika hari Jumat melakukan mandi junub atau mandi bersih sebelum pergi ke masjid untuk melaksankan sholat Jumat, maka seperti mengerjakan ibadah setahun.

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَغَسَّلَ ، وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ ، وَدَنَا وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا أَجْرُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا

Artinya : “Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat lalu ia bergegas pergi (ke masjid), mendengar dan memperhatikan khutbah, maka setiap langkah kakinya terhitung seperti puasa dan shalat setahun.” (HR. Tirmidzi; shahih)

Masjid adalah sebagai tempat melaksanakan sholat wajib 5 waktu berjamaah dan melaksanakan sholat Jumat berjamaah.

Demikian ulasan tentang Bacaan Niat Sholat Jumat, Tata Cara, Syarat dan Keutamaannya. Semoga Allah selalu memudahkan kita semua melaksanakan sholat untuk bisa selalu mengerjakan sholat Jumat….. Aamin. Terimakasih.