Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan

Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan

Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan – Sahabat Muslim, sebagai manusia kita diciptakan untuk menjadi kholifah di muka bumi ini. Dengan menjadi pemimpin tentu menjadi acuan sebagai contoh bagi penerusnya. Sebagaimana di contohkan oleh baginda Rasulullah SAW., beliau merupakan panutan sekaligus contoh teladan yang baik.

Baca : Fiqih : Sunnah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan

Bukan hanya sekedar memberitahu tetapi beliau juga mencontohkan dan mengamalkannya sebagai panutan yang baik untuk umatnya. Nah sahabat, bagaimana mencontohkan keteladanan?. Untuk lebih jelasnya silahkan simak artikel Pengetahuan Islam berikut ini.

Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan

Mengamalkan ilmu agama dan memberikan contoh keteladanan dengan amal perbuatan sesungguhnya lebih mengena kepada sasaran dakwah daripada sekedar bicara tanpa amal yang nyata. Sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang Syu’aib,

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ

Artinya :

“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.” (QS. Huud Ayat 88)

Alim yang tidak mengamalkan Ilmunya

Malik bin Dinar rahimahullah berkata,

“Sesungguhnya seseorang yang memiliki ilmu (‘alim) namun tidak mengamalkan ilmunya, maka nasihatnya akan tergelincir dari dalam hati, sebagaimana tetesan air hujan akan tergelincir dari atas batu yang licin.” [Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Al-Iqtidha’, hal. 9]

Dari Ma’mun, beliau mengatakan,

نحن إلى أن نوعظ بالأعمال أحوج من أن نوعظ بالأقوال

Artinya :

“Kami lebih butuh nasihat dengan (contoh) amal perbuatan daripada nasihat dengan kata-kata.” [Jaami’ Bayaan Al-‘Ilmi, hal. 1236]

Hal ini karena barangsiapa yang rutin atau rajin beramal, maka merutinkan amal itu sendiri pada hakikatnya adalah bentuk berdakwah. Dengan demikian, dia menjadi contoh teladan bagi masyarakat kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Artinya :

“Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan Ayat 74)

Tidaklah seseorang itu mencapai kedudukan tersebut kecuali jika terkumpul dalam dirinya berbagai sifat kebaikan, yaitu dia mengumpulkan antara ilmu dan amal sekaligus. Adapun jika yang diperbanyak hanyalah ilmu, dan tidak memiliki perhatian terhadap amal, maka ilmu tersebut menjadi tidak bermanfaat.

Baca : Pengertian Nifaq, pembagian dan hukumnya (Lengkap)

Lalai dalam Sholat

Yang sering kita saksikan, manusia terkadang sangat perhatian untuk memperbanyak ilmu, menghapal dan menghadiri berbagai majelis pengajian. Akan tetapi, dia sering terluput dari shalat, khususnya shalat subuh. Jika kewajiban yang agung ini saja terlupakan, padahal shalat adalah rukun terbesar setelah dua kalimat syahadat dan perkara yang pertama kali ditanyakan pada hari kiamat, lalu di manakah bekas dan pengaruh dari ilmu yang sudah dia dipelajari itu?

Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

كنا إذا فقدنا الرجل في صلاة العشاء وصلاة الفجر أسأنا به الظن

Artinya :

“Kami (para sahabat) dahulu jika ada seorang laki-laki yang terluput dari shalat subuh dan shalat isya’, kami pun berburuk sangka kepadanya.” [Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 12/271, Ibnu Khuzaimah no. 1405 dan Ibnu Hibban no. 2099]

Dalam sebuah hadits disebutkan,

إِنَّ أَثْقَلَ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

Artinya :

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya, pasti mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 789)

Di zaman kita ini, zaman begadang di setiap malam, banyak kita jumpai orang-orang yang terluput alias tidak mendirikan shalat subuh pada waktunya. Mereka begadang di sepanjang malam dalam rangka diskusi ilmiah dalam berbagai masalah ilmu atau topik lainnya, kemudian mereka pun tidur di akhir malam dan tidak mengerjakan shalat subuh.

Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan

Jika seseorang menghidupkan malam dengan membaca dan menghapal Al-Qur’an, namun dengan mengorbankan shalat subuh, maka perbuatan tersebut haram, dan dia pun berdosa dengan begadangnya tersebut.

Baca : Pengertian & Penjelasan Walimatus Safar Haji atau Umroh

Padahal sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ

Artinya :

“Barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya secara berjamaah, itu seperti beribadah setengah malam dan barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya dan Subuh secara berjamaah, maka ia seperti beribadah semalam.” (Hadits Abu Daud Nomor 468)

Dan pada zaman ini, shalat shubuh berjamaah di hari Jum’at menjadi shalat yang paling banyak disepelakan, terutama di negeri yang menjadikan hari Jum’at sebagai hari libur.

Demikianlah ulasan tentang Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam

Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam

Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Hakikat Manusia. Yang mana dalam pembahasan kali ini tentang apa hakikat diciptakan manusia menurut pandangan agama islam dengan secara singkat dan jelas. Untuk itu silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini dengan seksama.

Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam

Manusia dan makhluk lain di alam semesta ini diciptakan Allah SWT dengan tujuan tertentu dan bukanlah tanpa maksud. Manusia tidak begitu saja dibuat tanpa memiliki hakikat dan substansi. Untuk mengetahui hakikat penciptaan manusia maka kita perlu mengetahui asal penciptaan manusia terlebih dahulu. Seperti yang kita ketahui bahwa Allah menciptakan Adam As sebagai manusia pertama dan memberinya tugas di muka bumi. Untuk lebih jelasnya simak penjelasan berikut ini

Asal Penciptaan Manusia

Menurut ulama Abdurrahman an-Nahlawy, ada dua hakikat penciptaan manusia dilihat dari sumbernya. Yang pertama adalah asal atau sumber yang jauh yakni menyangkut proses penciptaan manusia dari tanah dan disempurnakannya manusia dari tanah tersebut dengan ditiupkannya ruh. Asal yang kedua adalah penciptaan manusia dari sumber yang dekat yakni penciptaan manusia dari nutfah yakni sel telur dan sel sperma.

Penciptaan manusia dari tanah

Berikut ini adalah ayat-ayat yang menjelaskan kejadian penciptaan manusia dari tanah

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ. ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ. ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

Artinya : “Yang membuat segala sesuatu yang memciptakan sebaik-baiknya dan memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunan dari saripati air yang hina kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya ruh (ciptaan) Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati (tetapi) sedikit sekali tidak bersyukur.” (QS As-Sajadah 7-9)

Baca : Kata Bijak Islam yang Dapat Menjadi Inspirasi Hidup

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ. فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

Artinya : “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (QS Shad ayat 71-72)

Penciptaan manusia dari nutfah

Adapun penciptaan manusia dari nutfah atau mani disebutkan dalam ayat-ayat berikut ini

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ. ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ. ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Artinya : “Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang(berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS Al-Mukminun ayat 12-14)

Baca : Inilah Bacaan Dzikir Di Waktu Petang Serta Faidahnya (Lengkap)

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا ۚ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّىٰ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ. هُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Artinya : “Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah Kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, Kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, Kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), Kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, Maka apabila dia menetapkan sesuatu urusan, dia Hanya bekata kepadanya: “Jadilah”, Maka jadilah ia.” (QS Al Mukmin ayat 67-68)

Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan seluruh manusiadari tanah, kemudian Allah juga menciptakan manusia dari mani dan menyimpannya dalam rahim kemudian mengeluarkannya dari rahim sang ibu sebagai bayi yang kemudian tumbuh dan beranjak dewasa. Sebagaimana yang diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim berikut ini

“Sesungguhnya seorang manusia mulai diciptakan dalam perut ibunya setelah diproses selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Lalu menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Setelah empat puluh hari berikutnya, Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya dan diperintahkan untuk menulis empat hal; rezekinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagianya.’.” (Hadits Muslim Nomor 4781)

Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam

Hakikat Penciptaan Manusia

Allah menciptakan manusia dengan dua unsur yakni jasmani dan rohani. Unsur jasmani Adalah tubuh atau jasad manusia yang tersusun atas organ dan sistem organ. Unsur yang kedua yakni unsur ruh atau jiwa. Kedua unsur ini berkaitan satu sama lain dan apabila kedua unsur tersebut berpisah maka manusia disebut mati sehingga tidak lagi dapat disebut sebagai manusia. Adapun hakikat manusia menurut islam berdasarkan substansi penciptaan adalah sebagai berikut mengenai hakikat penciptaan manusia :

Makhluk Allah yang paling sempurna

Allah menciptakan manusia dengan kesempurnaan dan keunikan . hal ini dilihat dari segala hal yang menyangkut fisik dan jiwa seorang manusia. Ia berbeda dengan makhluk lainnya dan bahkan Allah memerintahkan malaikat untuk bersujud kepada Adam AS karena akal dan pengetahuan yang dianugerahkan kepadanya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat At Tin berikut ini

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS At tin ayat 4)

Manusia sebagai bukti kekuasaan Allah SWT

Sejak awal penciptaannya, manusia pertama yakni Adam As telah mengakui Allah sebagai Tuhannya dan hal tersebut mendorong manusia untuk senantiasa beriman kepada Allah SWT. Penciptaan manusia juga memiliki hakikat bahwa Allah menciptakan agama islam sebagai pedoman hidup yang harus dijalani oleh manusia selama hidupnya. Seluruh ajaran islam adalah diperuntukkan untuk manusia dan oleh karena itu manusia wajib beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha esa yakni Allah SWT.

Manusia diciptakan sebagai hamba Allah

Adapun Allah menciptakan manusia untuk mengabdi dan menjadi hamba yang senantiasa beribadah dan menyembah Allah SWT sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikut:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz zariyat ayat 56)

Ibadah yang semestinya dilakukan manusia terdiri dari dua golongan yakni ibadah yang bersifat khusus dan ibadah yang bersifat umum. Ibadah yang sifatnya khusus antara lain ibadah sholat wajib, puasa, zakat, haji dan sebagainya.

Sedangkan ibadah yang bersifat umum adalah seperti melakukan amal saleh yang tidak hanya bermanfaat bagi dirinya akan tetapi bermanfaat juga untuk orang lain dan dilandasi niat yang ikhlas dan bertujuan hanya mencari keridhaan Allah semata seperti bersedekah, menyambung tali silaturahmi, menikah dan sebagainya.

Manusia diciptakan Allah sebagai Khalifah

Kata Khalifah berasal dari bahasa arab yakni khalafa atau khalifatan yang artinya meneruskan, sehingga kata khalifah yang dimaksud adalah penerus agama islam dan ajaran dari Allah SWT.

Sebagai manusia yang berperan sebagai khalifah maka manusia wajib menjalankan tugasnya untuk senantiasa menjaga bumi dan makhluk lainnya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang diperbuatnya kelak di hari akhir. Hal ini disebutkan dalam firman Allah SWT Surat Al-Baqarah ayat 30 yang bunyinya:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanyas dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al Baqarah ayat 30)

Dengan demikian, hakikat penciptaan manusia selayaknya membuat kita sadar bahwa sebagai manusia kita diciptakan untuk menyembah dan melakukan kewajiban kita di dunia sebagai khalifah.

Demikian ulasan tentang Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya (Bahas Lengkap)

Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya

Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya (Bahas Lengkap) – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Perbedaan Haji dan Umroh. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan pengertian haji dan umroh serta perbedaan haji dan umroh dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih lengkapnya simak Artikel berikut ini.

Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya (Bahas Lengkap)

Istilah dalam haji dan umroh bukanlah hal yang asing lagi sebagai umat muslim. Antara Haji dan Umroh tentu memiliki perbedaan.

Dalam hal apa yang  menjadikannya pembeda antara kedua ibadah tersebut. Sebelum membahasa mengenai perbedaan haji dan umroh, alangkah baiknya untuk mengetahui pengertian dari keduanya terlebih dahulu.

Pengertian Haji dan Umroh

Haji merupakan salah satu dari rukun islam yang ke 5 (lima). Dimana hukum dari ibadah Haji adalah wajib bagi orang yang memiliki kemampuan untuk mengerjakannya baik dari sisi fisik maupun finansialnya.

Sedangkan umroh ialah ibadah yang hampir sama dengan ibadah haji namun memiliki hukum yang tidak wajib atau sunnah untuk dikerjakan. Ibadah umroh dapat dikerjakan setiap hari, dikecualikan pada hari diselenggarakannya ibadah haji.

Perbedaan Haji dan Umroh

Setelah melihat dari pengertiannya, keduanya memang memiliki beberapa perbedaan. Adapun perbedaan Haji dan Umroh adalah sebagai berikut:

Perbedaan Hukum

Perbedaan pertama pada haji dan umroh yang utama terletak pada hukumnya. Haji adalah salah satu rukun islam yang ke 5 dan wajib dikerjakan bagi umat muslim. Dengan catatan bagi yang melaksanakan mampu secara fisik dan finansial untuk mengerjakannya. Sedangkan Umroh adalah sunnah muakad atau sunnah yang diutamakan.

Seperti dikutip dari firman Allah SWT dalam QS Ali Imron Ayat 97 dan Hadist Tirmidzi yang berbunyi:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِي

Artinya:

“Menunaikan ibadah haji adalah kewajiban terhadap Allah, yaitu bagi mereka yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari kewajiban haji ini, maka sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Kaya yang tidak memerlukan sesuatu apapun dari semesta alam.” (QS. Ali Imron Ayat 97)

Sedangkan dari Hadist jabir bin ‘Abdillah RA, ia berkata yang artinya:

“Rasulullah SAW ditanya mengenai wajib ataukah sunnah bagi umat muslim untuk menunaikan umroh. Nabi SAW kemudian menjawab, “Tidak. Jika kau berumroh maka itu lebih baik.” (HR. Tirmidzi)

Perbedaan Waktu Pelaksanaan

Saat pelaksanaannya, ibadah haji hanya dilakukan pada bulan haji yaitu pada tanggal 9 sampai 13 bulan Dzulhijjah. Di lain waktu tersebut, ibadah haji tidak dapat dilaksanakan. Artinya, ibadah haji hanya bisa dikerjakan setahun sekali.

Sedangkan unutk ibadah umroh dapat dikerjakan sewaktu-waktu kecuali pada tanggal yang dimakruhkan, yaitu hari Arofah pada tanggal 9 Dzulhijah, hari Nahar pada tanggal 10 Dzulhijjah dan hari tasyrik atau tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah. Intinya, dalam pelaksanaan ibadah umroh tidak dapat dikerjakan bersamaan pada waktu dilangsungkannya ibadah haji.

Perbedaan Tempat Pelaksanaan

Selain perbedaan waktu pelaksanannya, terdapat juga perbedaan dalam tempat pelaksanaannya. Haji dan Umroh memang dilaksanakan di Makkah, namun pada ibadah haji seseorang harus menunaikan rukun yang bertempat di luar Makkah. Adapun rukunnya ialah melakukan wukuf di Arafah, mabit (menginap) di Muzdhalifah serta melempar jumroh di Mina.

Perbedaan Tingkat Keramaian

Dalam melaksanakan ibadah haji, semua umat muslim dari seluruh dunia melaksanakannya secara serentak. Tidak heran, wilayah Makkah menjadi membludak dengan jamaah haji pada saat itu dan menyebabkan keramaian yang sangat luar biasa.

Lain halnya dengan ibadah umroh, ibadah umroh dapat dikerjakan sewaktu-waktu selain di hari yang telah dijelaskan sebelumnya. Oleh karena itu, tingkat keramaiannya pun tidak sepadat dan seramai pada saat dilaksanakannya ibadah haji. Bagi jamaah umroh tidak perlu berdesak-desakan saat melaksanakan setiap rukun ibadah umroh.

Perbedaan Rukun

Perbedaan terakhir diantara keduanya yaitu dari tata cara pelaksanaan Haji dan Umroh atau rukun Haji dan Umroh. Pada saat umroh, seseorang menunaikan rukun umroh yaitu Ihram, Tawaf, Sya’i, dan Tahalul.

Sedangkan pada saat menunaikan ibadah haji, semua rukun tersebut dilakukan dengan menambah 3 rukun haji yaitu wukuf di Arafah, mabit (menginap) di Muzdhalifah, dan melempar jumroh di Mina.

Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya

Persamaan Haji dan Umroh

Selain perbedaannya, tentu antara Haji dan Umroh juga memiliki persamaan. Adapun persamaan Haji dan Umroh adalah sebagai berikut:

  • Kegiatan haji dan umrah akan mendatangkan Pahala.
  • Antara ibadah haji dan umrah diawali dengan keadaan berihram.
  • Kedua ibadah ini dikerjakan terlebih dahulu dengan mengambil miqat makani.
  • Antara Ibadah haji dan umrah, sama-sama memiliki rukun ihram, thawaf, sa’i, dan Tahalul.

Demikianlah Artikel tentang Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya (Bahas Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan Anda. Terima kasih.

√ Inilah Doa Mandi Wajib & Urutan Tata Cara Yang benar (Lengkap)

Inilah Doa Mandi Junub & Urutan Tata Cara Yang benar (Lengkap)

Inilah Doa Mandi Wajib & Urutan Tata Cara Yang benar (Lengkap) – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Doa Mandi Wajib atau Junub. Dimana dalam pembahasan kali ini menjelaskan doa mandi junub serta tata cara mandi junub dengan benar.

Setiap umat islam sebelum melakukan ibadah sholat wajib 5 waktu, sholat sunnah Dhuha, sholat Tahajjud atau sholat sunnah lainnya diharuskan dalam keadaan suci. Suci yang dimaksud adalah terbebas dari hadas besar ataupun kecil. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini.

Inilah Doa Mandi Wajib & Urutan Tata Cara Yang benar (Lengkap)

Hadas kecil bisa disucikan dengan cara berwudlu, sedang hadas besar diwajibkan untuk melakukan mandi junub atau mandi wajib. Ketika mandi junub ini diharuskan membaca doa mandi junub disertai dengan urutan langkah-langkahnya yang benar agar mandinya sempurna.

Syarat Mandi Wajib atau Junub

Mandi junub atau mandi wajib adalah mandi yang diwajibkan bagi setiap muslim dalam beberapa keadaan. Keadaan itu diantaranya:

  • Keluarnya mani pada kaum pr1a.
  • Bertemunya antara dua organ intim walaupun tidak keluar mani.
  • Ketika berhentinya darah ha1d dan nifas.
  • Ket1ka orang kafir masuk islam.
  • Karena kematian atau meningal dunia.

Doa Mandi Wajib

Sudah menjadi kewajiban kaum muslim, untuk selalu melakukan mandi junub jika habis melakukan kewajibannya sebagai suami istri. Dalam memberikan nafkah batin bagi sang suami ke Istrinya. Tapi selain itu mandi junub juga wajib dilakukan oleh kaum laki-laki yang mengalami mimpi basah.

Biasanya sering terjadi pada para remaja yang masih duduk di SMP ataupun SMA tapi tidak menutup kemungkinan pria dewasa juga bisa mengalaminya.

Tujuan mandi Junub adalah untuk kembali membersihkan diri dari hadas kecil ataupun hadas besar, karena kalau belum melakukannya dianggap masih najis dan belum bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim.

Maka mandi Junub adalah wajib hukumnya bagi kaum muslim sebelum melakukan kegiatan islami sehari-sehari seperti sholat ataupun mengaji. Dalam mandi Junub juga ada adabnya atau aturannya, jadi tidak hanya melakukan mandi seperti biasa, ada-doa yang harus diucapkan dan utamakan membasuh bagian yang sebelah kanan dulu.

Bacaan lafal doa mandi Junub ini adalah Doa yang wajib diketahui oleh Pria dan Wanita karena ini akan sering dilafalkan atau diucapkan.

Niat dan doa mandi junub secara umum

Mandi junub atau mandi besar yang dilakukan oleh laki-laki dewasa atau perempuan yang ingin menghilangkan hadast besar.

Bacaan doa mandi junub dalam bahasa arab
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَكْبَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى
Bacaan doa mandi wajib bahasa Indonesia

“Nawaitul Ghusla Lifrafil Hadatsil Akbari Fardhan Lillahi Ta’aala.”

Arti bacaan doa mandi junub

“Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadast besar fardhu karena Allah ta’aala.”

Niat dan doa mandi junub setelah haid

Haid, mentruasi atau datang bulan adalah keluarnya cairan merah atau mirip darah secara berkala pada seorang wanita. Hal ini dipengaruhi oleh hormon reproduksi baik FSH-Estrogen atau LH-Progesteron.

Masa ini penting dalam hal reproduksi. Pada wanita, normalnya ini terjadi setiap bulan antara usia remaja sampai menopause. Selama sedang haid, seorang wanita dilarang melaksanakan salat, puasa, dan berhubungan int1m dengan suaminya.

Bacaan doa mandi junub setelah haid dalam bahasa arab
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ الْحَيْضِ ِللهِ تَعَالَى
Bacaan doa mandi junub setelah haid dalam bahasa Indonesia

“Nawaitul Ghusla Lifraf il Hadatsil Haidil Lillahi Ta’ala.”

Arti bacaan doa mandi junub setelah haid

“Aku niat mandi wajib untuk mensucikann hadast besar dari haid karena Allah Ta’ala.”

Niat dan doa mandi junub setelah nifas

Nifas adalah keluarnya darah dari rahim seorang wanita karena melahirkan atau setelah melahirkan. Darah nifas akan selalau keluar selama kurang lebih 40 hari setelah melahirkan. Selama masa nifas, seorang wanita dilarang melaksanakan salat, puasa, dan berhubungan int1m dengan suaminya.

Bacaan doa mandi junub setelah nifas dalam bahasa arab
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ النِّفَاسِ ِللهِ تَعَالَى
Bacaan doa mandi junub setelah nifas dalam bahasa Indonesia

“Nawaitul Ghusla Liraf il Hadatsil Nifasi Lillahi Ta’ala.”

Arti bacaan doa mandi junub setelah nifas

“Aku niat mandi wajib untuk mensucikan hadast besar dari nifas karena Allah ta’ala”

Setelah mengucapkan doa mandi Junub maka dilanjutkan dengan tata cara mandi wajibatau urutan mandi Junub yang benar.

Berikut Tata Cara atau Urutan Mandi Junub

  • Diawali dengan niat untuk menghilangkan hadas besar.
  • Membersihkan kedua telapak tangan sebanyak 3x lalu bercebok dengan membersihkan kemaluan serta kotoran yang ada disekitarnya hingga bersih dengan tangan kiri.
  • Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan sampai bersih (Bisa dengan sabun).
  • Melakukan niat wudhu, disini maksudnya melakukan wudhu dengan tata urutan yang sempurna.
  • Mengguyur atau menyiram kepala dengan air sebanyak 3 kali hingga sampai ke pangkal rambut.
  • Mencuci dan membersihkan kepala bagian kanan dilanjutkan dengan kepala bagian kiri.
  • Menyela-nyela (menyilang-nyilang) rambut dengan jari.
  • Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan dilanjutkan dengan bagian kiri.
  • Membersihkan area badan yang susah dijangkau.

Inilah Doa Mandi Junub & Urutan Tata Cara Yang benar (Lengkap)

Untuk membersihkan diri dari hadas selain setelah berhubungan juga harus dilakukan oleh wanita yang selesai masa nifasnya setelah melahirkan dan wanita yang sudah selesai haidnya.

Disunnahkan untuk melakukan mandi junub jinabat dengan urut dan tertib biar sempurna, dan usahakan cipratan air yang digunakan untuk mengguyur tubuh tidak masuk ke kolah atau tempat penampungan air yang digunakan untuk mandi Junub.

Demikian informasi tentang Inilah Doa Mandi Junub & Urutan Tata Cara Yang benar (Lengkap). Dengan melakukan niat dan tata cara yang urut dan benar maka akan membersihkan diri kita dari hadast besar. semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Doa Aqiqah, Dalil, Cara dan Waktu Penyembelihan Terlengkap

Doa Aqiqah, Dalil, Cara dan Waktu Penyembelihan Terlengkap – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Aqiqah. Yang mana dalam ulasan berikut ini menjelaskan hukum aqiqah, hari afdholnya aqiqah, perintah aqiqah, pelaksanaan aqiqah, sampai cara niat dan menyebelih hewan aqiqah. Untuk lebih jelasnya silahkan simah ulasan Pengetahuan Islam Berikut ini.

Doa Aqiqah, Dalil, Cara dan Waktu Penyembelihan Terlengkap

Aqiqah merupakan peristiwa penyembelihan hewan sebagai tebusan terhadap anak yang lahir. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Pada setiap anak yang dilahirkan itu ada aqiqahnya, maka tumpahkanlah darah untuknya dan buanglah sesuatu yang mengganggu (rambutnya).” ( HR. Al-Jama’ah kecuali Muslim).

Hukum Aqiqah

Mengaqiqahi anak hukumnya adalah sunnah muakad sebagaimana telah ditulis dalam Kitab Tausyaikh Syarh Kitab Fathul Qoribul Mujib dijelaskan:

وَالْعَقِيْقَةُ اَيْ ذَبْحُهَا عَنِ الْمَوْلُوْدِ مُسْتَحَبَّةٌ بَلْ هِيَ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ، (توشيخ شرح فتح القريب  حلمن: ٢٧١)

Artinya: “Dan adapun hukum aqiqah itu, yakni hukum menyembelih aqiqah dari aqiqahnya anak adalah sunnah, (disukai) dan bahkan itu hukumnya adalah sunnah muakad.” (dikutip dari kitab: Kitab Tausyaikh Syarh Kitab Fathul Qoribul Mujib halaman: 271 )

Dalam salah satu hadits disebutkan:

عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ الضَّبِيِّ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ : مَعَ الْغُلَامِ عَقِيْقَةٌ فَأَهْرِقُوْا عَنْهُ دَمًا، وَأَمِيْطُوْا عَنْهُ الْأَذَى. (رواه الجماعة الا مسلما)

Artinya: “Dari Salman bin ‘Amir ad-Dhobiy ia berkata. Rasulullah s.a.w. bersabda: “Pada setiap anak yang dilahirkan itu ada aqiqahnya, maka tumpahkanlah darah untuknya dan buanglah sesuatu yang mengganggu (rambutnya).” ( HR. Al-Jama’ah kecuali Muslim)

Hari Afdholnya Aqiqah

Adapun sebaik-baiknya waktu untuk mengaqiqahi anak adalah pada hari ketujuh dari hari anak dilahirkan. Baik mengaqiqahi, mencukur rambut ataupun peresmian pemberian namanya. Aqiqah adalah perantara tebusan untuk anak, karena pada dasarnya setiap anak yang terlahir itu tergadai hingga diaqiqahi. Sebagaimana telah disebutkan dalam salah satu hadis:

وَعَنْ سَمُرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ, تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ, وَيُحْلَقُ, وَيُسَمَّى ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيّ

Artinya: Dari Samurah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya; ia disembelih hari ketujuh (dari kelahirannya), dicukur dan diberi nama.” Hadis Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Hadis shahih menurut Tirmidzi. (kutipan dari Nailul Author)

Perintah Mengaqiqahi anak lelaki dan perempuan

Sebaiknya setiap anak yang terlahir itu mestinya diaqiqahi baik itu anak laki-laki maupun anak perempuan. Hanya saja untuk hewan aqiqah anak laki-laki sejumlah dua ekor kambing, sedangkan untuk aqiqah anak perempuan itu cukup dengan satu ekor kambing saja. Sebagaimana dalam sebuah hadits dikatakan:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَمْرَهُمْ أَنْ يُعَقَّ عَنْ اَلْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ, وَعَنْ اَلْجَارِيَةِ شَاةٌ )  رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ

Artinya: “Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan mereka agar beraqiqah dua ekor kambing yang sepadan (umur dan besarnya) untuk bayi laki-laki dan 1 kambing untuk bayi perempuan.” Hadits shahih riwayat Tirmidzi.

Aqiqah itu Boleh Setelah Lewat dari Tujuh hari

Apabila pada hari ke tujuh dari hari kelahiran anak belum terlaksana penyembelihan aqiqah maka boleh dilaksanakan setelah hari ke tujuh dan bahkan hukumnya itu masih tetap sunnah.

Lalu pada hari ke berapa jika pada hari ke tujuh belum juga sempat diaqiqahi?

Jika pada hari ke tujuh belum sempat diaqiqahi, maka sebaiknya diaqiqahi pada hari kelipatan dari tujuh yaitu: hari ke 14, ke 21, ke 28 dan seterusnya. Selama anak tersebut belum baligh maka masih sunah di aqiahi kapan saja bila sempat dan bisanya, sebagaimana diambil dari keterangan kitab “Tausyikh”.

وَفَسَرَ الْمُصَنِّفُ الْعَقِيْقَةَ شَرْعًا بِقَوْلِهِ وَهِيَ الذَّبِيْحَةُ عَنِ الْمَوْلُوْدِ وَالْأَفْضَلُ اَنْ تُذْبَحَ عِنْدَ حَلْقِ شَعْرِ رَأْسِهِ يَوْمَ سَابِعِهِ اَيْ يَوْمَ سَابِعِ وِلَادَتِهِ فَاِنْ لَمْ يَتَهَيَّأْ فَتُذْبَحُ يَوْمَ الرَابِعَ عَشَرَ  فَيَوْمَ الْحَادِى وَالْعِشْرِيْنَ

مُصَنِّفْ مٓنٓرَاڠْكَنْ: عَقِيْقَةْ مٓنُوْرُتْ شَرَعْ دٓڠَنْ فٓرْكَاتَئَنْۑَا: “عَقِيْقَةْ إِيْتُ أَدَلَهْ حِيْوَانْ سٓمْبٓلِيْهَنْ دَارِيْ أَنَكْ يَڠْ دِيْلَاهِرْكَنْ، دَانْ يَڠْ اَفْضَلْ أَدَلَهْ عَقِيْقَةْ إِيْتُ دِيْسٓمْبٓلِيْهْ كٓتِيْكَا مٓنْچُوْكُرْ رَمْبُوْتْ كٓفَالَا بَايِيْ فَدَا هَارِيْ كٓتُوْجُوْهْۑَا، يَعْنِيْ هَارِيْ كٓتُوْجُهْ كٓلَاهِرَانْ بَايِيْ، بِيْلا تِدَاكْ تٓرْسٓدِيَاءْ، مَكَ دِيْعَقِيْقَهِيْ فَدَا هَارِيْ كٓى أَمْفَتْ بٓلَاسْ، كٓمُوْدِيْيَانْ فَدَا هَارِيْ كٓى دُوَافُوْلُهْ سَاتُوْ. (توشيخ شرح فتح القريب حلمن: 272

Mengaqiqahi Anak yang Sudah Ninggal

Mungkin ada beberapa sebagian ulama yang berpendapat, bahwa jika anak yang sudah meninggal dan belum diaqiqahi maka hukumnya “Tidak Boleh Di aqiqahi” dengan alasan masing-masing.

Dalam keterangan ini kami tidak membahasnya, pada intinya silahkan itu hak masing-masing mau diaqiqahi atau tidak. Tentu tidak ada masalah, hanya saja menurut pendapat kami “sekali anak tetaplah anak.”

Apalagi bagi anak yang belum baligh sudah meninggal dan belum teraqiqahi, maka kami berpendapat: “Anak yang sudah meninggal dalam keadaan sebelum baligh dan belum diaqiqahi maka masih sunah diaqiqahi.”

Sebagaimana keterangan tentang masalah mengaqiahi anak yang sudah meninggal dari Kitab Tausyaih Syarh Fathul Qorib halaman 63 pasal Aqiqah:

وَلَوْ مَاتَ الْمَوْلُوْدُ قَبْل السَّابِعِ وَلَا تَفُوْتُ بِالتَّأخِيْرِ بَعْدَهُ، فَإِنْ أَخَّرَتْ لِلْبُلُوْغِ سَقَطَ حُكْمُهَا فِيْ حَقِ الْعَاقِ عَنِ الْمَوْلُوْدِ أَمَّا هُوَ فَمُخَيِّرٌ فِيْ الْعَقِّ عَنْ نَفْسِهِ وَالتَّرْكِ

Artinya: “Walaupun anak tersebut meninggal sebelum tujuh hari, dan tidak ada kata terlambat dengan menunda aqiqah setelah meninggalanya anak tersebut. Maka apabila aqiqah tersebut tertunda sampai dengan usia baligh (dewasa) maka hukum mengaqiqahi telah gugur kesunahannya pada haknya orang tua dari anaknya. Adapun anak tersebut yang sudah dewasa dan belum diaqiqahi maka dia boleh memilih: “Mengaqiqahi diri sendiri atau meninggalkannya.”

Mengaqiqahi diri sendiri

Dalam hal ini jika ada pilihan satu di antara dua, tentu akan memilih salah satunya dan menurut pendapat kami jelas dan yakin. Bahwa yang lebih baik adalah mengaqiqahi diri sendiri jika mampu, sebagaimana keterangan dari Kitab Tausyaikh halaman: 271:

أَمَّا هُوَ أَيْ الْمَوْلُوْدُ بَعْدَ بُلُوْغِهِ فَمُخَيَّرٌ فِى الْعَقِّ عَنْ نَفْسِهِ وَالتَّرْكِ أَيْ فَإِمَا اَنْ يَعِقَّ عَنْ نَفْسِهِ أَوْ يَتْرُكَ الْعَقِيْقَةَ لَكِنَ الْاَحْسَنَ أَنْ يَعِقَّ عَنْ نَفْسِهِ تَدَارُكًا لِمَا فَاتَ

Artinya: “Adapun sesudah balighnya anak tersebut maka ia boleh memilih antara mengaqiqahi dirinya sendiri atau meninggalkannya (yakni tidak mengaqiqahinya). Maksudnya boleh saja dia mengaqiahi dirinya sendiri atau boleh juga dia tidak mengaqiqahi dirinya. Akan tetapi yang lebih baik adalah dia mengaqiqahi diri sendiri untuk menutupi aqiqahnya yang sudah terlambat.”

Catatan: Kutipan-kutipan ini kami hanya mengambil ringkasnya saja. Bila anda ingin lebih detail sebaiknya membaca Majmu’ Masail karya Asmawi atau dalam kitab-kitab salaf seperti al-Majmu’ Syarah Muhadzab, Kitab Tausyaikh dan yang lainnya.

Pelaksanaan Aqiqah

Dalam pelaksanaan aqiqah ada di posisi tahapan ke tiga setelah menyelesaikan tahapan pertama dan kedua. Jadi adapun tahapan tersebut di atas dalam salah satu hadits tentang aqiqah adalah sebagai berikut:

  • Pemberian Nama Bayi
  • Mencukur Rambut Bayi
  • Menyembelih Aqiqah

Mendahulukan Pemberian Nama Bayi

Dalam pemberian nama untuk bayi itu boleh didahulukan sebelum tujuh hari. Sebagaimana dalam beberapa keterangan dalam kitab diantaranya seperti dalam Tausyikh yaitu:

“Boleh memberi nama anak sebelum tujuh hari: dengan demikian berilah nama yang baik buat anak, sebab nama adalah doa.”

Mencukur rambut bayi

Tertib di atas (Pemberian Nama, Mencukur Rambut Bayi dan Menyembelih Aqiqah) ini bukan suatu keharusan. Hal tersebut dilakukan hanya sekedar untuk mempermudah pemanggilan dalam doa seperti ketika kita mau mencukur rambut bayi dan mau memotong hewan aqiqah buat bayi.

Contoh missal kita mau mencukur rambut bayi:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: اَحْلُقُ هَذِهِ شَعْرَةَ ……. بن/بنت……….. اللَّهُمَّ اجْعَلْ لِكُلِّ شَعْرَةٍ نُوْرًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

A’udzu billahi minasy-syaithonir rojiym, Bismilahir rohmanir rohim. Ahluqu hadzihi sya’rota …. Bin/ binti ….  Allahummaj’al likiulli sya’rotin nuron yaumal-qiyamah.

Artinya: “Aku Berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: Aku mencukur rambutnya ….. bin / binti …. Ini Ya Allah Jadikan untuk setiap helai rambut sebagai penerang pada hari kiamat.”

Sebaiknya setelah aqiqoh rambut bayi itu dicukur habis kemudian rambutnya ditimbang. Berat timbangan rambut bayi tersebut disodaqohkan dengan nilai harga emas 99 karat, 24 karat, 22 karat, 18 karat atau senilai harga perak jika memang tidak mampu.

Menyembelih Hewan Aqiqah

Untuk menyembelih hewan aqiqah sebaiknya dilaksanakan pagi hari setelah terbit matahari atau pada saat terbitnya matahari bila memungkinkan. Sebaiknya membaca doa taqobal aqiqah, atau setidak-tidaknya niatkan dalam hati untuk aqiqahnya fulan bin/binti fulan, lalu ucapkan Bismillah pada saat menyembelihnya.

Kemudian dagingnya dicincang dan usahakan sebaik mungkin memotong tulang belulangnya tepat pada persendiannya, lalu memasaknya dengan lezat dipadukan dengan rasa manis.

Pemberian Nama

Dalam Pemberian nama bayi sebaiknya juga disertai dengan doa dan selalu menyebut asma Allah. Bila dalam sekumpulan orang banyak yang menyaksikan dalam pemberian nama maka bahasa pemberian nama sebaiknya dijama misalnya seperti berikut:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: يَااِبْنَ ……./ يَابِنْتَ ……….. سَمَّيْنَاكِ / سَمَّيْنَاكِ بِاِسْمِ ………. بَارَكَ اللهُ لَكَ /لَكِ بِهَذَا الْاِسْمِ وَجَعَلَ اللهُ لَكَ /لَكِ مِنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَالْمَحْفُوْظِيْنَ بِهِ آمين الفاتحة

A’udzu billahi minasy-syaithonir rojiym, Bismilahir rohmanir rohim. Ya Ibna / Ya Binta …… Sammaynaka / Sammanayki bi ismi (………..) Barokallahu Laka / Laki bihadzal-ismi wa ja’alallahu laka / laki minal- mukhlishin wal-mahfudzina bihi Amiin Al-Fatihah….

Artinya: “Aku Berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: Wahai Putra…/ Wahai Putri….. kami berikan namamu dengan nama (……..) Semoga Allah memberi keberkahan kepadamu dan Allah menjadikanmu orang-orang ikhlash selamat dan terpelihara tarjaga dengan wasilah nama ini Amiin Al-fatihah…..”

Orang Tua Memberi Nama Anaknya

Jika Ayah atau Ibunya Langsung yang memberikan nama pada anaknya maka kalimat Panggilannya dirubah menjadi Mutakalim wahdah. Berikut dua contoh pemberian nama anak bayi laki dan perempuan, yang memberikan nama langsung Ibu atau ayahnya:

Pemberian nama bayi laki-laki

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: يَابُنَيَ سَمَّيْتُكَ لِلّٰهِ تَعَالَى بِاِسْمِ (مُحَمَّدْ لَطِيْفْ) بَارَكَ اللهُ لَكَ بِهَذَا الْاِسْمِ وَجَعَلَ اللهُ لَكَ مِنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَالْمَحْفُوْظِيْنَ بِهِ آمين الفاتحة

A’udzu billahi minasy-syaithonir rojiym, Bismilahir rohmanir rohim. Ya Bunaya Sammaytuka Lillahita’ala bi ismi (Muhammad Lathif) Barokallahu Laka bihadzal-ismi wa ja’alallahu laka minal- mukhlishin wal-mahfudzina bihi Amiin Al-Fatihah….

Artinya: “Aku Berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: Wahai Putraku, kau kuberinama Karena Allah Ta’ala dengan nama (Muhammad Lathif) Semoga Allah memberi keberkahan padamu dan Allah menjadikanmu orang-orang ikhlash selamat dan terpelihara tarjaga dengan wasilah nama ini Amiin Al-fatihah…..”

Pemberian nama bayi Perempuan

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: يَااِبْنَتِيْ سَمَّيْتُكِ لِلّٰهِ تَعَالَى بِاِسْمِ (لَطِيْفَةْ) بَارَكَ اللهُ لَكِ بِهَذَا الْاِسْمِ وَجَعَلَ اللهُ لَكِ مِنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَالْمَحْفُوْظِيْنَ بِهِ آمين الفاتحة

A’udzu billahi minasy-syaithonir rojiym, Bismilahir rohmanir rohim. Ya Bunaya Sammaytuka Lillahita’ala bi ismi (Lathifah) Barokallahu Laka bihadzal-ismi wa ja’alallahu laka minal- mukhlishin wal-mahfudzina bihi Amiin Al-Fatihah….

Artinya: “Aku Berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: Wahai Putriku, kau kuberinama Karena Allah Ta’ala dengan nama (Lathifah) Semoga Allah memberi keberkahan padamu dan Allah menjadikanmu orang-orang ikhlash selamat dan terpelihara tarjaga dengan wasilah nama ini Amiin Al-fatihah…..”

Praktek Menyembelih Hewan Aqiqah

Jiaka mau, maka sebelum menyembelih hewan yang diperuntukan aqiqah berdoa dulu sebagai berikut:

اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ = ٣ كالي

أَشْهَدُ اَنْ لآاِلَهَ اِلاَاللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

عَلَى هَذِهِ النِّيَةِ وَعَلَى كُلِّ نِيَةٍ صَالِحَةٍ إلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى  مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ، وَعَلَى ءَالِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِيَّتِهِ وَاَهْلِ بَيْتِهِ اْلكِرَامْ أجْمَعِيْن شَيْئٌ ِللهِ لَهُمْ الفاتحة

اللَّهُمَّ هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ هَذِهِ عَقِيْقَةَ …… بن/بنت …… الفاتحة

تروس بردعاء:  يَا ذَاالْجَلاَلِ وَالْإِ كْرَامِ  أللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ اْلأوَّلِيْن وَاْلأَخِـرِيْنَ وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ. آمين يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ يَامَّعْبُوْدُ حَمْدًا يُوَفِى نِعْمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَـرِيْمِ وَعَـظِيْمِ سُلْطَانِكَ. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ اْلاهْوَالِ  وَاْلأفَاتِ  وَتَقْضِى لَنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْحَاجَاتِ  وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّأَتِ وَتَرْفَعُنـَا بِهـَا عِنْدَكَ اَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا  اَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِيْ الْحَيَاتِ وَبَعْدَ الْمَمَـاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ عَقِيْقَةَ ……… بن/بنت ………… دَمُّهَا بِدَمِّهِ /هَا، وَعَظْمُهَا بِعَظْمِهِ /هَا ، وَلَحْمُهَا بِلَحْمِهِ /هَا ، وَجِلْدُهَا بِجِلْدِهِ /هَا، وَشَعْرُهَا بِشَعْرِهِ /هَا فِدَاءً لِ ……… بن/بنت ………… وَفِدَاءً مِنَ النَّارِ وَحِجَبًا وَسِتْرَا وَحُلُوُّ طَبْخَتِهَا تَفَاؤُلًا بِحُلُوِّ أَخْلَاقِهِ /ها، وَبِغَيْرِ كَسْرِ عَظْمِهَا تَفَاؤُلًا بِسَلَامَةِ أَعْضَاءِهِ /ها وَإِنْ كُسِر عَظْمُهَا فَنَسْأَلُكَ سَلَامَةَ أَعْضَاءِهِ /ها . رَبَّنَا ءَاتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِي الأخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ. * سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلآمٌ عَلَى  الْمُـرْسَلِيْنَ والحمد لله رب العالمين

Niat Menyembelih Hewan Aqiqah

Dalam hal ini penting untuk mengetahui bahwa menyembelih hewan untuk di aqiqohi harus disertai dengan niat.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيِّطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ نَوَيْتُ أَنْ أَذْبَحَ هَذَا الْمَعْزَ لِعَقِيْقَةِ …… بن / بنت ………. أَنْ يَقْطَعَ الْخُلْقُوْمَ وَالْمَرَى لِلَّهِ تَعَالَى الله اكبر، الله اكبر، الله اكبر، الله اكبر، بِسْمِ اَللَّهِ وَاَللَّهُ أَكْبَر، اللَّهُمَّ هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلَهَا

A’udzu billahi minasy-syaithonir rojiym. Nawaitu An Adzbaha Hadzal- Ma’za li’aqiqoti …. bin/binti ….. Ay-yaqtho’a khulquma wal maro Fardhol-lillahi T’a’ala, Allahu-Akbar – Allahu-Akbar – Allahu-Akbar – Allahu-Akbar Bismilahir wallahu akbar, Allahumma hadzihi minka wa ilaika fataqobbalaha.

Artinya: “Aku Berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk, Aku niat Menyembelih Kambing Kacang Laki ini untuk aqiqahnya …. bin / binti …. penyembelihan memutuskan tenggorokan dan kerongkongannya fardhu karena Allah Ta’ala. Allah yang Maha Besar, Allah yang Maha Besar, Allah yang Maha Besar, Allah yang Maha Besar. Dengan Nama Allah dan Allah adalah maha besar. Ya Allah aqiqah ini dari-Mu dan kepada-Mu semoga Engkau menerima aqiqah ini.”

Demikianlah ulasan singkat tentang Doa Aqiqah, Dalil, Cara dan Waktu Penyembelihannya Lengkap. Semoga dapat memberikan manfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Do’a-Do’a Ketika Berhubungan Suami Istri dan Ketentuannya

Do'a-Do'a Ketika Berhubungan Suami Istri dan Ketentuannya

Do’a-Do’a Ketika Berhubungan Suami Istri dan Ketentuannya – Pada pembahasan kali ini Pengetahuan Islam akan menjelaskan tentang Do’a-Do’a saat berhubungan Suami Istri beserta ketentuan-ketentuan yang ada. Yang mana dengan kita berdo’a bisa menjadi dorongan untuk putra putri kita menjadi putra putri yang sholeh dan sholehah. Untuk lebih detailnya mari kita simak artikel di bawah ini.

Do’a-Do’a Ketika Berhubungan Suami Istri dan Ketentuannya

Dalam Ajaran Syari’at Islam saat kita sudah menikah dan ingin melakukan senggama, di anjurkan bagi kita semua ummat muslim untuk menjalankan hal-hal yang sudah di anjurkan oleh Rosululloh saw. Karena beliaulah panutan dan petunjuk bagi kita semua sebagai ummat muslim.

Adab Saat Bersenggama

Ketika kita hendak berhubungan intim dengan suami istri tentunya ada ketentuan-ketentuan yang harus kita terapkan pada saat itu. Salah satunya adalah adab saat bersenggama, walaupun dia sudah halal bagi kita, namun kita masih punya panutan dalam melaksanakan suatu ibadah. Jadi tidak langsung gas aja. Supaya kita dalam menaruh bibit memang benar-benar bibit yang berkualitas. Sebagaiman sudah di terangkan dalam sebuah Kitab yang bernama “Uqudullijain” sebagai berikut:

وَيَحْرُمُ وَطْءُ زَوْجَتِهِ بِحَضْرَةِ أَجْنَبِيٍّ أَوْ أَجْنَبِيَّةٍ. وَيُسْتَحَبُّ لِلْمُجَامِعِ أَنْ يَبْدَأَ بِاِسْمِ اللهِ تَعَالَى، وَيَقْرَأُ: “قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ” أَوَلًا، وَيُكَبِّرُ وَلَا يُهَلِّلُ، وَيَقُوْلُ: بِاِسْمِ اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلِ النُّطْفَةَ ذُرِيَّةً طَيِّبَةً، إِنْ كُنْتَ قَدَّرْتَ أَنْ تَخْرُجَ ذَلِكَ مِنْ صُلْبِيْ

Artinnya: “Haram bagi kita melakukan senggama dengan suami atau istri kita, dengan menghadirkan laki-laki lain atau perempuan lain saat bersenggama. Maka dari itu disunnahkan bagi orang yang akan melakukan hubungan intim suami isteri ia mengawalinya dengan membaca BASMALAH, kemudian membaca surat Al-Ikhlash dan membaca TAKBIR bukan membaca Tahlil, Dan membaca do’a seperti di bawah ini:

بِاِسْمِ اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلِ النُّطْفَةَ ذُرِيَّةً طَيِّبَةً، إِنْ كُنْتَ قَدَّرْتَ أَنْ تَخْرُجَ ذَلِكَ مِنْ صُلْبِيْ

(Bismillahil ‘aliyyil ‘adziimi, Allahumma ij’alin nuthfata dzurriyatan thoyyibatan, in kunta qoddarta an takhruja dzalika min shulbiy).

Artinya: “Dengan nama Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Tuhanku, jadikanlah air mani ini menjadi keturunan yang baik bila Kau takdir kan ia keluar dari tulang punggungku”.

Fadilah Membaca Doa saat bersenggama

Kenapa kita dianjurkan berdo’a ketika akan bersenggama. Karena Rosululloh saw, mengajarkan kita akhlak yang mulia di dalam islam. Sampai-sampai Rosululloh mengajarkan kita adab saat bersenggama. sebagaimana Rasulullah SAW telah mengajarkan tentang prihal tersebut sebagai berikut:

وَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: {لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَىْ أَهْلَهُ قَالَ: اللّهُمَّ جَنِّبْنِيْ الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا. فَإِنْ كَانَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ، لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ}. وَإِذّا قَرَّبْتَ مِنَ الْإِنْزَالِ فَقُلْ فِيْ نَفْسِكَ، وَتَحَرَّكَ شَفَتَيْكَ: {الحَمْدُ للهِ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَراً فَجَعَلَهُ نَسَباً وَصِهْراً وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيراً}، وَيَنْحَرِفُ عَنِ الْقِبْلَةِ، وَلَا يَسْتَقْبِلُهَا بِالْوَقَاعِ إِكْرَامًا لِلْقِبْلَةِ، وَلْيُغَطِّ نَفْسَهُ وَأَهْلَهُ بِثَوْبٍ

Artinya: “Rosulullah saw bersabda : Ketika salah satu diantara kalian ingin menjima’ isterinya maka berdo’alah. (Allahumma jannibnisy syaithona wa jannibisy syaithona ‘ala ma rozaqtanaa) ketika di antara kalian di takdirkan mempunyai anak, maka syetan tidak akan bisa membahayakannya. Dan apabila telah mendekati orgasme maka bacalah do’a dalam hati dan cukup hanya dengan menggerakkan kedua bibir kalian.

الحَمْدُ للهِ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَراً فَجَعَلَهُ نَسَباً وَصِهْراً وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيراً

Alhamdulillahil ladzi kholaqo minal ma`i basyaron,paja’alahu nasaban wa shihron wakana robbuka qodiiron”.

Artinya: “Dengan nama Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Tuhanku, jadikanlah ia keturunan yang baik bila Kau takdirkan ia keluar dari tulang punggungku.

Dan janganlah kalian menghadap qiblah ataupun sebaliknya, karena memuliakan qiblah, dan tutuplah badan kalian dengan selimut.

Adab Bersenggama Dalam Ihya ‘Ulumuddin

Di terangkan oleh Imam al-Ghazali dalam kitabnya “Ihya ‘Ulumiddin” dalam Kitab Al-adabun Nikah yang kesepuluh sebagai berikut:

العاشر في آداب الجماع: وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَبْدَأَ بِاسْمِ اللهِ تَعَالَى وَيَقْرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ أَوَّلاً وَيُكَبِّرَ وَيُهَلِّلَ وَيَقُولَ بِسْمِ اللهِ العَلِيِّ العَظِيمِ اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا ذُرِّيَةً طَيِّبَةً إِنْ كُنْتَ قَدَّرْتَ أَنْ تُخْرِجَ ذَلِكَ مِنْ صُلْبِي وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ قَالَ اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإِنْ كَانَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ وَإِذَا قَرُبَتْ مِنَ الإِنْزَالِ فَقُلْ فِي نَفْسِكَ وَلَا تُحَرِّكْ شَفَتَيْكَ: اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا، وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا، وَكَانَ بَعْضُ أَصْحَابِ الحَدِيثِ يُكَبِّرُ حَتَّى يَسْمَعَ أَهْلُ الدَّارِ صَوْتَهُ ثُمَّ يَنْحَرِفُ عَنِ القَبْلَةِ وَلَا يَسْتَقْبِلُ القِبْلَةَ بِالوَقَاعِ إِكْرَاماً لِلْقِبْلَةِ وَلْيُغَطِّ نَفْسَهُ وَأَهْلَهُ بِثَوْبٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُغَطِّي رَأْسَهُ وَيَغُضُّ صَوْتَهُ وَيَقُولُ لِلْمذَرْأَةِ عَلَيِكِ بِالسَّكِينَةِ وَفِي الخَبَرِ إِذَا جَامَعَ أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ فَلَا يَتَجَرَّدَانِ تَجَرُّدَ العَيْرَيْنِ أَيْ اَلْحِمَارَيْنِ وَلْيُقَدِّم التَّلَطُّفَ بِالكَلَامِ وَالتَّقْبِيلِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَقَعَنَّ أَحَدُكُمْ عَلَى امْرَأَتِهِ كَمَا تَقَعُ البَهِيمَةُ وَلْيَكُنْ بَيْنَهُمَا رَسُولٌ قِيلَ وَمَا الرَّسُولُ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ القُبْلَةُ وَالكَلَامُ…. ثُمَّ إِذَا قَضَى وَطَرَهُ فَلْيَتَمَهَّلْ عَلَى أَهْلِهِ حَتَّى تَقْضِيَ هِيَ أَيْضاً نَهْمَتَهَا (ابو حامد الغزالي، إحياء علوم الدين، مصر-مصطفى البابي الحلبي، 1385 هـ/1936، ج، 2، ص. 51

Artinya: Yang Kesepuluh dalam Adam bersenggama: “Di sunnahkan bagi kalian ketika akan memulai jima’ dengan membaca bismillah. Selanjutnya diawali dengan membaca Qul huwallahu ahad, membaca takbir dan bertahlil, lalu membaca doa: Bismillah al-‘aliy al-‘azhîm allahumma ij’alha dzurriyatan thayyibah in kunta qaddarta an tukhrija dzalika min shulbi. Rasulullah saw bersabda, jika salah satu di antara kalian mendatangi isterimu maka berdoalah, allahumma jannibnisy-syaithân wa jannibisy-syaithân ma razaqtana, karena apabila (hubungan badan) di antara keduanya menghasilkan anak maka syaitan tidak akan menggangunya. Dan apabila si istri menjelang orgasme, maka bacalah dalam hatimu dan jangan gerakkan kedua bibirmu: Alhamdulillahil ladzi khalaqa minal-mâ`i basyaran fa ja’alahu nasaban wa shahran wa kâna rabbuka qadîran. Dan sebagian ashab al-hadîts bertakbir sampai seiisi rumah mendengarnya. Kemudian berpaling dari kiblat dan tidak menghadap kiblat ketika jimak karena memuliakan kiblat. Dan hendaknya (suami) menutupi dirinya dan istrinya dengan kain (tsaub). Rasulullah saw menutupi kepalanya dan memelankan suaranya sembari berkata kepada istrinya, tenanglah. Bila salah satu dari kalian berhubungan badan dengan istrinya maka jangan keduanya bertelanjang bulat seperti halnya dua keledai. Dan (sebelum berhubungan badan) hendaknya didahului dengan cumbu-rayu dan ciuman. Rasulullah saw bersabda: Janganlah salah satu di antara kalian menyetubuhi sebagaimana persetubuhan hewan, dan hendaknya di antara keduanya ada perantara. Lantas ditanyakan (kepada beliau), apa itu perantara wahai Rasulullah saw, beliau-pun menjawab, ciuman dan cumbu rayu. Kemudian ketika suami mengalami orgasme maka hantarkan sang istri secara perlahan-lahan sampai ia juga mengalami orgasme. (Abu Hamid al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, Mesir-Mushthafa al-Babi al-Halabi, 1358 H/1939 M, juz, 2, h. 51, 52)    atau bisa dibaca Pada Ihya Terjemah Jilid 3 halaman: 161-162

Do'a-Do'a Ketika Berhubungan Suami Istri dan Ketentuannya

Tata Cara Sebelum Bersenggama

  • Sebelum bersenggama, hendaknya bagi seorang Istri berhias sesuai selera suami
  • Memakai wewangian yang di sukai suami
  • Mengucapkan Salam terlebih dahulu kepada istri :

السَّلَامُ  عَلَيْكُمْ يَا بَابَ الرَّحْمَةِ

  • Menjawab Salamnya dari Suami:

عَلَيْكَ وَعَلَيَّ السَّلَامُ

  • Di anjurkan untuk Bermesraan terlebih dahulu
  • Bercumbu terlebih dahulu antara keduanya
  • Janganlah Menghadap dan membelakangi kiblat
  • Masing-masing membaca Do’a
  • Berdo’alah Ketika sudah Mendekati Orgasme

Bacalah do’a tersebut di dalam hati dan hanya sekedar menggerakkan ke dua bibir saja tanpa bersuara

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا، وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air ini menjadi manusia, maka jadikanlah nasab yang baik dan bersih jika kau menakdirkannya”.

Demikianlah Do’a-Do’a Ketika Berhubungan Suami Istri dan Ketentuannya semoga dapat bermanfaat dan menjadi wawasan bagi kita.

√ Niat dan Praktek Sholat Jenazah Anak Kecil Laki-laki

Niat dan Praktek Sholat Jenazah Anak Kecil Laki-laki

Niat dan Praktek Sholat Jenazah Anak Kecil Laki-laki – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Sholat Jenazah Anak Kecil laki-laki. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan tata cara niat sholat jenazah anak kecil laki-laki beserta prakteknya dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya simak artikel tentang sholat jenazah anak kecil laki-laki berikut ini.

Niat dan Praktek Sholat Jenazah Anak Kecil Laki-laki

Mensholati mayit bagi setiap muslim hukumnya fardu kifayah yang mana menjadi kewajiban sholat mayit tidak ada perbedaan akan syarat dan rukunnya. Perbedaan hanya terletak pada saat berdoa untuk jenazah yang dituju baik jenzah anak kecil laki-laki atau jenazah anak perempuan.

Sebelum Mayit disholatkan

Pada umumnya secara teori hal yang perlu dilakukan pada saat sebelum mayit akan disholatkan baik mayit perempuan dewasa, mayit laki-laki dewasa, mayit anak perempuan kecil atau mayit anak laki kecil, selain Siqith dan syahid yakni:

  • Jasad mayit dimandikan terlebih dulu
  • Setelha itu mayit diwudhukan
  • Pada saat diwudhukan bagi orang yang mewudhukan agar memanjatkan doa ba’da wudhu seperti biasa, untuk kalimat doa wudhu ada yang perlu dirubah sedikit.
  • Langkah selanjutnya gotong atau bawa mayit ketempat pengkafanan untuk dikafani
  • Setelah dikafankan secara sempurna, dapat memberi pengharum yang tidak beralkhol.
  • Selanjutnya jenazah atau mayit dapat disholatkan dengan posisi kepala mayit ke arah utara dan kaki kearah selatan.

Niat Sholat Mayit Anak Kecil Laki-laki

Penempatan niat berada didalam hati dan dalam Madzhab Syafi’i melafadzkan niat dihukumi Sunah. Berikut lafadz dari niat sholat mayit anak kecil laki-laki:

  • Lafadz Niat Sholat Mayit Anak Kecil Laki-laki menjadi Imam

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ : أُصَلِّيْ عَلَى هَذَا المَيِّتِ الطِّفْلِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى. اللهُ أَكْبَرُ

BISMILLAHIRROHMANIRROHIIM: “USHOLLI ‘ALA HADZAL MAYYITI THIFLI ARBA’A TAKBIROTIN FARDHOL KIFAYATI IMAMAN LILLAHI TA’ALA”. ALLAHU AKBAAR.

Artinya:

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, “Saya niat sholat atas mayit Anak kecil laki-laki ini empat takbir fardhu kifayah menjadi imam karena Allah Ta’ala.” Allahu Akbar.

  • Lafadz Niat Sholat Mayit Anak Kecil Laki-laki menjadi Makmum

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ : أُصَلِّيْ عَلَى هَذَا المَيِّتِ الطِّفْلِ  أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَالَى اللهُ أَكْبَرُ

BISMILLAHIRROHMANIRROHIIM: “USHOLLI ‘ALA HADZAL MAYYITI THIFLI ARBA’A TAKBIROTIN FARDHOL KIFAYATI MAKMUMAN LILLAHI TA’ALA.” Allahu Akbaar.

Artinya:

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, “Saya niat sholat atas mayit Anak kecil laki-laki ini empat takbir fardhu kifayah menjadi makmum karena Allah Ta’ala.” Allahu Akbar.

  • Niat Sholat Mayit yang menjadi makmum dapat mengucapkan lafadz

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ : أُصَلِّيْ عَلَى مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ الْإِمَامُ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلّٰهِ تَعَالَى اللهُ أَكْبَرُرُ

BISMILLAHIRROHMANIRROHIIM: “USHOLLI ALA MAN SHOLLA ALAIHIL IMAMU ARBA’A TAKBIROTIN FARDHOL KIFAYATI LILLAHI TA’ALA.” ALLAHU AKBAR.

Artinya:

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang “Aku sholat atas mayyit yang disholati imam empat kali takbir fardu kifayah karena Allah Ta’ala.” Allahu Akbar.

Bacaan Setelah Takbir Pertama

أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ # الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ # اَلرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ # مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ # إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ # اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ # صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَـيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّالِّينَ.

Bacaan Setelah Takbir kedua

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ. فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Atau cukup membaca:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.

Do’a Setelah Takbir Ketiga

Membacakan doa untuk si Jenazah Anak Kecil Laki-laki adalah sebagai berikut:

أللَّهُمَّ ارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاكْرِمْ نُزُوْلَهُ وَوَسِعْ مَدْخَلَهُ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

ALLAHUMMARHAMHU WA’AFIHI, WAKRIM NUZULAHU WAWASI’ MADKHOLAHU BIROHMATIKA YA-ARHAMA ROHIMIN.”

Artinya:

Ya Allah Kasih sayangilah anak ini, selamatkanlah dia, muliakanlah kedatangannya, luaskanlah tempatnya dengan kasih sayang-Mu wahai yang Paling Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Do’a Setelah Takbir ke empat

اَللَّهُـمَّ اجْعَلهُ فَرْطًا لِأَبَوَيْهِ وَسَلَفًا وَذُخْرًا وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا وَشَفِيْعًا وَثَقِّلْ بِهِ مَوَازِنَهُمَا وَاَفْرِغِ الصَّبْرَ عَلَى قَلْبِهِمَا وَلاَ تَفْتِنْهُمَا بَعْدَهُ وَلَاتَحْرِمْهُمَا اَجْرَهُ.

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَاتُهْ ٢كالي.

ALLAHUMMAJ’ALHU FARTHON LI ABAWAIHI WASALAFAN WADZUKHRO WA’IDZOTAN WA’TIBARON WASYAFI’AN WATSAQIL BIHI MAWAZINAHUMA WA AFRIGHISH SHOBRO ‘ALA QOLBIHIMA WALA TAFTINHUMA BA’DAHU WALA TAHRIMHUMA AJROHU.

ASSALAMU’ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH. 2x

Artinya:

Ya Allah Jadikanlah kematian anak ini sebagai pahala bagi kedua orang tuanya, sebagai pendahulu, simpanan, Pelajaran, Contoh dan Penolong.

Dan dengan kematian anak ini beratkanlah timbangan kebaikan kedua orang tuanya, anugrahkanlah kesabaran pada hati kedua orang tuanya, dan jangan Engkau beri fitnah kedua orang tuanya sesudah meninggalnya anak ini dan jangan pula Engkau kosongkan kedua orang tuanya pahala anaknya.

Semoga Rahmat, Kesejahteraan dan keberkahan tetap atasmu.

Niat dan Praktek Sholat Jenazah Anak Kecil Laki-laki

Praktek Sholat Jenazah Anak Kecil Laki-laki Tulisan Arab

Berikut ini bacaan niat sholat jenazah anak kecil yang belum berdosa dilakukan dengan tidak berjama’ah (munfarid), yaitu:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: أُصَلِّيْ عَلَى هَذَا المَيِّتِ الطِّفْلِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى اللهُ أَكْبَرُ

أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ # الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ # اَلرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ # مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ # إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ # اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ # صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَـيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّالِّينَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ. فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهُ أَكْبَرُ

أللَّهُمَّ ارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاكْرِمْ نُزُوْلَهُ وَوَسِعْ مَدْخَلَهُ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اللهُ أَكْبَرُ

اَللَّهُـمَّ اجْعَلهُ فَرْطًا لِأَبَوَيْهِ وَسَلَفًا وَذُخْرًا وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا وَشَفِيْعًا وَثَقِّلْ بِهِ مَوَازِنَهُمَا وَاَفْرِغِ الصَّبْرَ عَلَى قَلْبِهِمَا وَلاَ تَفْتِنْهُمَا بَعْدَهُ وَلَاتَحْرِمْهُمَا اَجْرَهُ. السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Hadiyah Fatihah

Pelaksanaan hadiyah fatihah, tahlil dan doa pada anak kecil yang masih belum memiliki dosa dan mendoakan kedua orang tuanya dapat dilakukan dengan membaca doa sebagai berikut:

هَذِهِ الْفَاتِحَةُ هَدِيَةً خُصُوْصًا إِلَى رُوْحِ …… بِنْ ….. الفاتحة…….. أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ. إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَـيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّالِّينَ.

نَوَيْنَا الذِّكْرَ تَقَرُّبًا إِلَى اللهِ أَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ قَوْلُهُ: لآ اِلٰهَ اِلَّا اللهُ : لآ اِلٰهَ اِلَّا اللهُ، لآ اِلٰهَ اِلَّا اللهُ، لآ اِلٰهَ اِلَّا اللهُ ……..

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ اْلأوَّلِيْن وَاْلأَخِـرِيْنَ. وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ. آمين يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. يَامَّعْبُوْدُ حَمْدًا يُوَفِى نِعْمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَـرِيْمِ وَعَـظِيْمِ سُلْطَانِكَ.

أللَّهُمَّ ارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاكْرِمْ نُزُوْلَهُ وَوَسِعْ مَدْخَلَهُ. بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ، اَللَّهُـمَّ اجْعَلهُ فَرْطًا لِأَبَوَيْهِ وَسَلَفًا وَذُخْرًا وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا وَشَفِيْعًا وَثَقِّلْ بِهِ مَوَازِنَهُمَا وَاَفْرِغِ الصَّبْرَ عَلَى قَلْبِهِمَا وَلاَ تَفْتِنْهُمَا بَعْدَهُ وَلَاتَحْرِمْهُمَا اَجْرَهُ

اللَّهُمَّ بِحَقِّ الْفَاتِحَةِ وَالتَّهْلِيْلِ اِعْتِقْ رِقَابَنَا وَرِقَابَ هَذَا الْمَيِّتِ الطِّفْلِ مِنَ النَّارِ، اللَّهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ عَلَى هَذَا الْمَيَّتِ الطِّفْلِ وَاجْعَلْ قَبْرَهُ رَوْضَةً مِّنَ الْجَنَّةِ، اللَّهُمَّ اَنْزِلِ الْمَغْفِرَةَ عَلَى أَبَوَايْهِ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اٰلِهِ وَ صَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Demikian penjelasan tentang Niat dan Praktek Sholat Jenazah Anak Kecil Laki-laki, semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan pengetahuan Anda.

Baca Juga:

√ Bacaan Doa Melepas Pakaian

Bacaan Doa Melepas Pakaian

Bacaan Doa Melepas Pakaian – Bagi seorang muslim pakaian merupakan peranan penting yang mana berfungsi sebagai penutup aurat. Sebagaimana telah diperintahkan oleh Allah SWT yang mana perintah wajib untuk menutup auratnya. Sebab membuka aurat bukan pada tempatnya akan mendapatkan dosa bagi seseorang.

Dengan menutup aurat yang mana salah satu syarat sah dalam mengerjakan suatu ibadah seperti sholat wajib, sunah bahkan melakukan haji dan umroh.

Demikian penjelasan yang sudah diterangkan bahwa sebelum memakai pakaian terlebih dahulu dianjurkan untuk membaca doa memakai pakaian sebagai ungkapan rasa syukur kita akan nikmat yang diberikan oleh Allah.

Dengan pakaian yang telah diciptakan oleh Allah serta memberikan manfaat kepada manusia guna menutupi aurat. lebih lengkapnya simak artikel Pengetahuanislam.com tentang Doa Melepas Pakaian berikut ini.

Bacaan Doa Melepas Pakaian

Sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al A’raaf ayat 26 mengenai fungsi daripada pakaian bagi manusia, yaitu:

یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ قَدۡ اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکُمۡ لِبَاسًا یُّوَارِیۡ سَوۡاٰتِکُمۡ وَ رِیۡشًا ؕ وَ لِبَاسُ التَّقۡوٰی ۙ ذٰلِکَ خَیۡرٌ ؕ ذٰلِکَ مِنۡ اٰیٰتِ اللّٰہِ لَعَلَّہُمۡ یَذَّکَّرُوۡنَ

Artinya :

“Wahai anak cucu Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu pakaian yang menutup auratmu dan juga (pakaian) bulu (untuk menjadi perhiasan), dan pakaian takwa itulah yang paling baik”. (QS. Al-A’raaf ayat 26).

Melihat dari ayat tersebut dapat menari kesimpulan bahwa fungsi daripada pakaian terdidir dari 3, yakni:

  • Sebagai Penutup Aurat
  • Sebagai Perhiasan
  • Sebagai Bentuk Taqwa

Sesungguhnya agama telah memerintahkan kepada kita agar menutup aurat dan melarang membukanya supaya tidak menimbulkan fitnah dan pemicu perilaku dosa serta maksiat.

Akan tetapi larangan ini tidaklah bersifat mutlak, terdapat batasan dan bagian tertentu yang mana aurat boleh terbuka dan terlihat oleh orang lain.

Semisal kepada sesama mahram, adik atau kakak kandung ada kebolehan melihat sebagian aurat misalnya rambut, kepala, kaki, leher, tangan atau lainnya.

Hal demikian berlaku pada saat keadaan sendiri yang mana tak ada satupun manusia melihat kita, maka diperbolehkan membuka aurat kita untuk sebagian atau keseluruhannya.

Hal demikian sebab diperlukan untuk membuka aurat karena untuk keperluan buang hajat, ganti baju, mandi wajib atau lain sebagainya

Oleh karena itu Rasulullah telah mengajarkan kepada kita agar membaca doa terlebih dahulu ketika akan melepas pakaian.

Bacaan Doa Melepas Pakaian

Doa Melepas Pakaian

بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ

Bacaan Doa Melepas Pakaian Latin

BISMILLAAHIL LADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWA

Arti Bacaan Doa Melepas Pakaian

Dengan nama Allah yang tiada Tuhan selain-Nya

Manfaat Doa Melepas Pakaian

Terdapat manfaat dari membaca doa melepas pakaian atau melepas baju yang mana agar terlindungi dari goadaan setan dan jin yang melihat kita tanpa tertutup pakaian apapun.

  1. Sebagai Pelindung Diri Atas Terbukanya Aurat

Rasulullah bersabda :

“Dahulu, orang-orang Bani Israil biasa mandi tanpa sehelai kainpun, saling melihat satu sama lainnya. Sementara, Nabi Musa mandi sendirian.”

Mereka berkata,

“Demi Allah, tidak ada yang menghalangi Musa mandi bersama kita, kecuali karena bagian tubuhnya bengkak (hernia).”

“Suatu ketika, Nabi Musa pergi seorang diri hendak mandi. Beliau meletakkan pakaian di atas sebuah batu. Lalu, batu itu membawa lari pakaiannya.”

“Maka, Nabi Musa pun mengejar batu itu sambal berteriak, “Hai batu, kembalikan bajuku!’ Kejadian itu terlihat oleh orang-orang Bani Israil.”

“Mereka berkata, ‘Demi Allah, ternyata Musa tidak menderita kelainan sedikit pun.’ Lalu, Musa mengambil pakaiannya dan memukul batu tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Ketika Nabi Ayyub sedang mandi sendirian, jatuhlah kepingan-kepingan emas laksana belalang menimpa tubuhnya.”

Maka, ia pun menampungnya dengan kedua telapak tangannya, lalu meletakkannya ke dalam pakaiannya. Maka, Allah memanggilnya, “Hai Ayyub, bukankah Aku telah mencukupimu daripada sesuatu yang engkau lihat itu?’

Ayyub menjawab, ‘Benar, demi kemuliaan-Mu, namun aku tidak merasa cukup menerima barakah dari-Mu.” (HR.Bukhari).

Melihat keterangan hadits tersebut, bahwa mandi tanpa menggunakan pakaian atau membuka aurat pada waktu sendirian diperbolehkan walaupun lebih baik atau utama agar menutup aurat.

Bagaimanapun juga kita lebih malu terhadap Allah dari pada terhadap manusia.

  1. Sebagai Pelindung Dari Pandangan Jin

Sebagaimana telah diterangkan didalam hadits, yaitu :

“Hindarilah tanpa memakai pakaian, karena ada (malaikat) yang selalu Bersama kamu, yang tidak pernah berpisah denganmu, kecuali ketika ke kamar belakang dan ketika seseorang berhubungan dengan istrinya. Maka, malulah kepada mereka dan hormatilah mereka.” (HR. Tirmidzi).

“Apabila salah seorang dari kamu berhubungan dengan pasangannya, jangan sekali-kali keduanya tanpa memakai pakaian sehelaipun, karena hal itu bagaikan binatang.” (HR.Ibnu Majah).

Perlu Anda ingat, pada saat sendirian dan tak ada seorangpun manusia lain melihat aurat. Saat itu hendaknya lebih waspada dari pandangan makhluk selain manusia yaitu dari pandangan jin.

Karena jin dapat menempati ditempat manapun dan mereka juga dapat melihat kita kapanpun. Bukan tidak mungkin sebuah pandangan akan timbul kejahatan atau hal lainnya yang tidak diinginkan.

Sebagaimana Rasulullah telah bersabda, yaitu :

العين حقُّ ولو كان شيء سابق القدر لسبقته العين

Artinya :

“Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada. Seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya”. (HR. Muslim).

Bahaya pandangan mata(‘ain) yang telah beliau jelaskan, yang mana dapat menyebabkan kerusakan tak terkecuali dari padangan jin terhadap aurat manusia.

Namun ada 4 (empat) hal yang dapat menyebabkan jin masuk kedalam tubuh manusia, antara lain:

  1. Jin suka dengan orang tersebut, hal ini bisa terjadi karena jin takjub saat melihat keindahan tubuh manusia.
  2. Jin merasa telah disakiti oleh manusia, contohnya sebab seseorang kencing di tempat yang biasa di tempati jin seperti air yang tenang, lubang, atau lain sebagainya.
  3. Karena jin itu ingin menzhalimi manusia atau inisiatifnya sendiri, hal tersebut dapat terjadi sebab pandangan yang menyebabkan kedengkian jin terhadap manusia.
  4. Jin tersebut dikirim oleh tukang sihir atau dukun guna mencelakai seseorang.

Agar dapat menutupi aurat daripada pandangan jin dan selalu terjaga dari kejahatan, maka Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk berdoa ketika melepas pakaian.

Sebagaimana telah Diriwayatkan dari Anas Ra bahwa Rasulullah telah bersabda:

سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ: إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمُ الخَلَاءَ، أَنْ يَقُولَ: بِسْمِ اللَّهِ

Artinya :

“Penutup antara pandangan jin dan aurat anak Adam ketika seorang melepas pakaiannya adalah dengan mengucapkan “Bismillah” (Dengan menyebut nama Allah aku melepas pakaian).” (HR.Tirmidzi).

Didalam riwayat lainnya menyebutkan bahwa:

“Penutup antara pandangan jin dan aurat anak cucu Adam ketika salah seorang melepas pakaiannya adalah dengan mengucapkan ‘bismillah.” (HR.Thabrani).

Al-Hakim berkata :

“Sesungguhnya, seorang mukmin menolak musuh ini (setan) dengan menggunakan penutup ini (bismillah), maka hendaknya ia tidak lupa darinya.

Sesungguhnya, jin itu bercampur dengan anak Adam, sebagian mereka (para jin) ada yang menikah dengan sebagian mereka (manusia).

Manusia bersekutu dengan jin dalam kaum wanitanya, sedangkan jin bersekutu dengan manusia dalam kaum perempuanya.

Maka, jika anak Adam ingin menolak jin dari persekutuannya, hendaklah ia mengucapkan “bismillah”, karena “bismillah” itu adalah cap untuk setiap rezeki yang dimiliki anak cucu Adam sehingga jin tidak sanggup menerobos cap itu.”

Demikian penjelasan tentang Bacaan Doa Melepas Pakaian, semoga dapat memberikan manfaat dan menambah wawasan pengetahuan Anda.

√ Inilah Pentingnya Hikmah Beriman Kepada Hari Akhir

Inilah Pentingnya Hikmah Beriman Kepada Hari Akhir

Inilah Pentingnya Hikmah Beriman Kepada Hari Akhir – Hidup di dunia hanyalah sementara, pasti akan ada dimana hari akhir tiba. Tentu sebagai umat muslim harus percaya akan beriman kepada hari akhir sebagai hamba Allah SWT. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa Allah SWT telah memberitahu kepada hambanya bahwa akan ada hari akhir yang tidak diketahui akan kapan waktu terjadi dan akan turunnya.

Sebagai orang yang beriman tentu kita akan meyakini akan datangnya hari akhir nanti, dan tentu ada Hikmah Beriman Kepada Hari Akhir. Untuk lebih jelasnya silahkan simak artikel Pengetahuan Islam berikut ini.

Inilah Pentingnya Hikmah Beriman Kepada Hari Akhir

Pengertian hari akhir adalah suatu perkara yang ghaib dimana hanya di ketahui oleh Allah SWT semata. Sebagaimana Allah STW tidak memperlihatkan kepada Malaikat yang didekatnya dan tidak pula kepada seorangpun Nabi yang diutusnya. Sebelum kiamat tiba tidak ada yang mengetahui kapan akan terjadi kiamat kecuali Allah SWT.

Hal ini di ungkapkan dalam firman Allah SWT QS. Al-Ahzaab:63, yakni:

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا

Artinya:

“Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.’ Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.”

Dari firman tersebut telah diketahui bahwa terdapat hikamh yang terkandung pada orang yang beriman kepada hari akhir, antara lain yaitu:

  • Semakin Beriman dan Bertaqwa Kepada Allah

Bagi orang yang meyakini akan datangnya hari akhir kelak, maka akan semakin bertamabah iman dan taqwanya kepada Allah SWT. Penentuan hari akhri hanya Allah SWT yang mengetahuinya, oleh karena itu hanya kepada Allah kita meminta perlindungan dan keselametan di dunia dan akhirat.

Allah berfirman dalam QS. Al-Jatsiyah:63, yakni:

قُلِ اللَّهُ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يَجْمَعُكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya:

“Katakanlah: “Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

  • Timbul Rasa Takut dan Meningkatkan Amal Ibadah

Bagi orang yang beriman akan hari akhir tentu akan timbul rasa takut dalam diri mereka yang mana rasa takut tersebut akan meningkatkan perbuatan amal ibadahnya kepada Allah SWT sebagai bekal besok dihari akhir.

الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُمْ مِنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُونَ

Artinya:

“(yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat.”

  • Menjauhi Kemaksiatan dan Perbuatan Buruk

Dengan menyakini atau beriman akan hari akhir, tentu akan berusaha menjauhi segala perbuatan buruk dan maksiat. Sebab takut akan besok diminta atas perbuatan pertanggungjawaban yang telah dilakukannya dihadapan Allah SWT.

Sebagaimana Allah SWT telah berfirman dalam QS. Ibrahim:31, yakni:

قُلْ لِعِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا يُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خِلَالٌ

Artinya:

“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.”

  • Mempersiapkan Diri dengan Penuh Kesungguhan

Dengan akan datangnya hari akhir kelak dimana datang secara tiba-tiba, tak disangka dan hanyalah Allah SWT yang mengetahuinya. Oleh karena itu kita mempersiapkan diri dengan penuh kesungguhan dan selalu belajar memperbaiki ibadah kita agar dapat diterima oleh Allah SWT sebagai amal perbuatan yang baik kelak.

Sebagaimana Allah SWT berfirman, yakni:

فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً ۖ فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا ۚ فَأَنَّىٰ لَهُمْ إِذَا جَاءَتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ

Artinya:

“Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila Kiamat sudah datang?”

  • Ikhlas Dalam Beramal

Setiap perbuatan yang akan dilakukan tentu harus didasari dengan ikhlas dalam melakukannya, maka dengan tertanamnya rasa ikhlas dalam hati karena Allah semata. Sebab apa manfaatnya perbuatan amal yang dilakukan tanpa adanya keikhlasan karena Allah SWT. Hal ini akan tertanam bagi orang yang beriman kepada hari akhir yang mana akan selalu merasa ikhlas dan takun akan amal perbuatannya tidak diterima oleh Allah SWT.

Inilah Pentingnya Hikmah Beriman Kepada Hari Akhir

Cara Agar Tetap Beriman Kepada Hari Akhir

Berikut adalah beberapa cara agar kita sebagai orang muslim tetap beriman kepada hari akhir yaitu dengan mempelajari dan memahami segala sesuatu yang terkandung dalam Al-Qur’an serta menghayatinya.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S Asy-Syura: 18, yakni:

يَسْتَعْجِلُ بِهَا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِهَا ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا مُشْفِقُونَ مِنْهَا وَيَعْلَمُونَ أَنَّهَا الْحَقُّ ۗ أَلَا إِنَّ الَّذِينَ يُمَارُونَ فِي السَّاعَةِ لَفِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ

Artinya:

“Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar (akan terjadi). Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang terjadinya kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh.”

قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِلِقَاءِ اللَّهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْنَا فِيهَا وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَىٰ ظُهُورِهِمْ ۚ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

Artinya:

“Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu.”

Demikian penjelasan tentang Inilah Pentingnya Hikmah Beriman Kepada Hari Akhir, semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan Anda akan Agama Islam.

Baca Juga:

√ Panduan dan Bacaan Doa Memandikan Jenazah Mayit Laki-laki

Panduan dan Bacaan Doa Memandikan Jenazah Mayit Laki-laki

Panduan dan Bacaan Doa Memandikan Jenazah Mayit Laki-laki  – Pada kasempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Memandikan Jenazah. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan panduan serta bacaan doa memandikan jenazah pada mayit laki-laki dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelas dan mudah dipahaminya bisa Anda lihat artikel berikut ini.

Panduan dan Bacaan Doa Memandikan Jenazah Mayit Laki-laki

Memandikan mayit merupakan salah satu dari fardhu kifayah bagi umat muslim, yang mana bila sudah ada yang melakukannya maka gugur kewajiban bagi sebagian yang lain. Namun bila mana tidak ada yang memandikannya maka akan mendapatkan dosa.

Perkara kewajiban bagi orang yang hidup terhadap mayit :

Seperti halnya yang sudah kita ketahui bahwa kewajiban dari mengurus mayit ada 4 hal yang harus dilakukan agar gugur kewajiban dari fardhu kifayah, antara lain yaitu:

  • Memandikan
  • Mengkafani
  • Menyolatkan
  • Menguburkan

Serta ada 2 hal bagi mayit yang tidak perlu unutk dimandikan serta disholatkan, antara lain yaitu:

  1. Orang yang gugur/mati dalam keadaan jihad fi sabilillah.
  2. Siqith (anak keluron yaitu anak yang lahir belum sempurna 4 bulan. Sehingga ada teriakan atau bersin. Maka apabila lahir ada suara walaupun sedikit dalam arti sempat hidup walaupun satu detik maka hukumnya sama dengan yang sudah besar).

Tata Cara Memandikan Jenazah Laki-laki Dewasa

Pada jenazah laki-laki dewasa diharuskan untuk dimandikan oleh laki-laki juga, dan untuk mayit perempuan oleh perempuan juga. Tidak diperbolehkan memandikan walaupun itu anaknya sendiri kecuali pada keadaan dorurat/terpaksa.

Adapun istri atau suami memandikan tentu diperbolehkan akan tetapi bila mana ada kaum sesama jenisnya lebih baik dilakukan oleh mereka. Alasannya agar tidak menimbulkan fitnah, adapun bila tidak menimbulkan fitnah maka diperkenankan.

Pada proses memandikan jenazah hendaknya dilakukan pada tempat yang tertutup walupun itu jenazah laki-laki kecuali pada keadaan dhorurat dan yang menandikan sebaiknya merupakan keluarga terdekat mayit.

Dalam proses memandikan jenazah merupakan pertama yang dilakukan dalam mengurusi jenazah dan juga termasuk tindakan memuliakan dan membersihkan jasad mayit sendiri.

Tata Cara dan Aturan Memandikan Jenazah

Pada proses memandikan mayit tentu terdapat aturan dan tata cara yang perlu di lakukan dalam proses memandikan mayit.

Dalam hal ini para ulama menjelaskan bahwa ada 2 macam dalam memandikan mayit/jenazah, antara lain:

  • Melakukan dengan cara sederhani yaitu melaksanakan kewajiban saja.
  • Melakukan dengan cara sempurna yaitu melaksanakan kewajiban dan sunahnya dalam memandikan mayit.

Cara Memandikan Jenazah yang Menggugurkan Kewajiban

Dalam hal ini memandikan mayit hanya melaksanakan demi gugurnya kewajiban dalam fardu kifayah. Sebagaimana yang telah diterangkan oleh Syekh Salim bin Sumair Al-Hadlrami dalam kitabnya Safînatun Najah (Beirut: Darul Minhaj, 2009):

أَقَلُّ الْغُسْلِ تَعْمِيْمُ بَدَنِهِ بِالْمَاءِ

Artinya: “Setidak-tidaknya memandikan mayit itu harus meratakan air ke seluruh anggota badan mayit dengan air.”

Sesuai dengan keterangan diatas yaitu hanya sekedar menggugurkan kewajiban dan sah menurut hukum. Maka cukup air disiramkan pada seluruh anggota badan mayit secara merata, begitu saja sudah cukup.

Memandikan Jenazah Laki-laki Dewasa yang Sempurna

Dalam hal ini disamping melakukan kewajiban tentu dilengkapi dengan kesunahan dalam memandikan mayit, sepertihalnya diterangkan oleh Syekh Salim :

وَأَكْمَلُهُ اَنْ يَغْسِلَ سَوْأَتَيْهِ وَأَنْ يَزِيْلَ الْقَذْرَ مِنْ أَنْفِهِ وَأَنْ يُوْضِأَهُ وَأَنْ يَدْلُكَ بَدَنَهُ بِالسِّدْرِ وَأَنْ يَصُبَ الْمَاءَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا

Artinya: “Dan adapun sempurnanya memandikan mayit adalah membasuh kedua pantatnya, dan agar menghilangkan kotoran dari hidungnya, kemudian mewudhukannya, menggosok badannya dengan daun bidara, dan menyiramnya dengan air sebanyak tiga kali.”

Syarat Orang yang Memandikan Jenazah

  • Muslim
  • Ber’akal
  • Baligh
  • Jujur dan Sholih
  • Amanah, mengerti hukum serta tata cara memandikan Jenazah
  • Bisa/dapat menutupi aib Jenazah

Urutan dalam Memandikan Jenazah Laki-laki

  • Laki-laki yang masih ada hubungan keluarga seperti: anak, adik, kakak, bapak, atau kakek.
  • Istrinya, karena istri boleh mendikan jenazah suaminya.
  • Laki-laki lain yang tidak ada hubungan keluarga.
  • Perempuan yang masih berstatus Muhrim (yang haram dinikah).

Cara Memandikan Jenazah Dengan Sempurna

  • Periksalah kuku jenazah, jika kukunya panjang maka dipotong dulu ukuran normal.
  • Periksa bulu ketiaknya, jika panjang sebaiknya dicukur. dan bulu kemaluan tidak boleh dicukur sabab itu adalah aurat.
  • Selanjutnya angkat kepala jenazah sampai setengah duduk lalu tekan perutnya supaya kotorannya keluar.
  • Kemudian siram seluruh tubuh jenazah sampai kotoran yang keluar dari perut tidak ada yang menempel pada tubuhnya.
  • Bersihkan qubulnyq (kemaluannya) dan dubur supaya tidak ada kotoran yang menempel
  • Pada saat membersihkan qubul dan dubur mestinya memakai sarung tangan supaya tangan tidak menyentuh kemaluan jenazah secara langsung.
  • Setelah kotoran dalam perut sudah bersih, selanjutnya adalah menyiram jenazah, silaman dimulai dari anggota tubuh sebelah kanan, mulai kepala, leher, dada, perut, paha sampai kaki paling ujung. Sambil baca doa. Sakollahu shobiba rohmatihi waridwanihi
  • Basuh jenazah dengan menuangkan air ketubuh jenazah, lalu bagian tubuh juga digosok perlahan dengan atangan atau kain handuk yang halus sambil berdoa: Sakollahu shobiba rohmatihi waridwanihi
  • Apabila sudah selesai dimandikan, orang yang memandikan mewudhukannya seperti wudhu yang biasa dilakukan sebelum sholat, yang perlu diingat adalah jangan memasukan air ke dalam hidung dan mulut jenazah, akan tetapi cukup dengan cara membasahi jari yang dibungkus dengan kain atau sarung tangan lalu bersihkan bibir jenazah dengan menggosok gigi dan kedua lubang hidung jenazah sampai bersih.
  • Menyela-nyela jenggot dan mencuci rambut jenazah dengan air perasan daun bidara, dan sisanya dapat digunakan untuk membasuh sekujur tubuh jenazah kalau meang daun bidaranya ada, kalau tidak ya tidak perlu.
  • Setelah itu keringkan tubuh jenazah dengan menggunakan handuk, selanjutnya tinggal mengkafani.

Bacaan Doa Pada Saat Memadikan Jenazah

Berikut ini adalah beberapa bacaan doa pada saat proses memandikan jenazah atau mayit yang perlu Anda ketahui.

  • Bacaan Memejamkan Mata Mayit yang masih terbuka

Bila melihat orang yang meninggal dan matanya masih tidak mejam / masih terbuka, maka pejamkanlah dengan secara perlahan sambil membaca Bismilahirrahmanirrahim.

  • Bacaan Untuk Memajamkan Mata Mayit

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ

(Bismillahirrohmanirrohim. Bismilahi wa’ala milati rosulillahi solallahu ‘alaihi wasalam)

Artinya: Dengan Nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, Dengan Nama Allah dan tetap di atas Agama Rasulullah Sollallahu ‘alai wa sallam.

  • Bacaan untuk Menggotong Mayit

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ

(Bismillahirrohmanirrohim. Bismilahi wa’ala milati rosulillahi solallahu ‘alaihi wasalam)

Artinya: Dengan Nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, Dengan Nama Allah dan tetap di atas Agama Rasulullah Sollallahu ‘alai wa sallam.

  • Bacaan Niat Memandikan Mayit Laki-laki Dewasa

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ نَوَيْتُ الْغُسْلَ عَلَى هَذَا الْمَيِّتِ فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلَّهِ تَعَالَى

(Bismillahirrohmanirrohim. Nawaitul-gusla ‘ala hadzal-mayiti fardho kifayatin lilhita’ala)

Artinya: Dengan Nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, Saya Niat Mandi (Memandikan) atas mayit ini Karena Allah Ta’ala

  • Doa menggosok mayit yang sedang di mandikan dengan sabun

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ سَقَى اللهُ صَبِيْبَ رَحْمَتِهِ وَرِضْوَانِهِ

(Bismillahirrohmanirrohim. Sakollahu shobiba rohmatihi waridwanihi)

Artinya: Dengan Nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, Semoga Allah Menuangkan Rahmat dan Keridhoan-Nya

  • Niat Mengistinjakkan Mayit Laki-laki Dewasa

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ نَوَيْتُ الْإِسْتِنْجَاءَ عَلَى هَذَا الْمَيِّتِ لِلَّهِ تَعَالَى

(Bismillahirrohmanirrohim. Nawaitul-istinja-a ‘ala hadzal-mayiti lilahi ta’ala)

Artinya: Dengan Nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, Saya Niat Mengistinjakkan Atas Jenazah ini Karena Allah Ta’ala

  • Niat Mewudhukan Mayit Laki-laki Dewasa

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ عَلَى هَذَا الْمَيِّتِ لِلَّهِ تَعَالَى

(Bismillahirrohmanirrohim. Nawaitul-wudhu-a ‘ala hadzal-mayiti lilahita’ala)

Artinya: Dengan Nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, Saya Niat berwudhu (Mewudhukkan) atas mayit ini Karena Allah Ta’ala

  • Doa Setelah Mewudhukan Mayit Laki-laki Dewasa

اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْهُ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

(Allahummaj’alhu minatawabina waj’alhu minal-mutathohirin)

Artinya: Ya Allah Jadikan dia masuk pada golongan orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah dia masuk di golongan orang-orang yang bersih

  • Niat Mandi setelah Memandikan Mayit

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِغُسْلِ الْمَيِّتِ لِلَّهِ تَعَالَى

(Bismillahirrohmanirrohim. Nawaitul-ghusla lighuslil-mayiti lilahita’ala)

Artinya: Dengan Nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, Saya Niat Mndi karena Memandikan Mayit Karena Allah Ta’ala

  • Bacaan Ketika Mengkafani Mayit

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَشْهَدُ اَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

(Allahumma Shollia ‘ala Sayidina Muhammadin, Asyhadu AnLaa-ilaha illallah, wa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah)

Artinya: Ya Allah Berikanlah Rahmat atas Penghulu kami Nabi Muhammad s.a.w., Aku bersaksi Bahwa Tidak ada Tuhan yang hak wajib disembah kecuali Alallah, dan Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu adalah Utsan Allah.

Panduan dan Bacaan Doa Memandikan Jenazah Mayit Laki-laki

Perkara Sunah Dalam Memandikan Mayit

Terdapat juga beberapa sunah selain membaca doa pada keterangan diatas, yang mana dijelaskan oleh Syekh Nawawi dalam Kitab Kasyifatus Saja antara lain yaitu:

  • Disunahkan basuhan yang pertama dengan daun bidara, basuhan kedua untuk menghilangkan daun bidara, dan basuhan ketiga dengan air bersih yang diberi sedikit kapur barus yang sekiranya tidak sampai merubah air. Pada tiga basuhan tersebut terhitung sebagai satu kali basuhan dan disunahkan untuk mengulanginya dua kali lagi seperti basuhan-basuhan tersebut
  • Ketika Memandikan harus diupayakan dalam menyiramkan air pada tubuh mayit itu 3x.
  • Hindarkan penggunaan pada air Musta’mal.
  • Siramkan air mulai dari arah kepala sampai ke kaki.
  • Gosok dengan perlahan pada Tubuh Mayit dengan sabun atau air sabun.
  • Siram menggunakan air dengan hitungan ganjil sambil digosok.
  • Baringkan mayit dan hadapkan ke sebelah kiri.
  • Siram dengan air hingga ke bagian belakang kemudian disabun lalu disiram lagi dengan hitungan ganjil dan digosok sampai bersih.
  • Baringkan lagi mayit ke sebelah kanan kemudian siram dengan air terus disabun lalu disiram lagi dengan hitungan ganjil dan digosok sampai bersih.
  • Bersihkan semua kotoran yang ada dibawah kuku tangan dan kakinya
  • Jenazah aga diduduk sedikit miring ke belakang dengan ditopang tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya mengurut bagian perut jenazah agar ditekan agar apa yang ada di alam perutnya keluar. Kemudian yang memandikan memakai sarung tangan atau membungkus tangan kirinya lalu membasuh lubang kubul dan dubur mayit.
  • Bersihkan mulut dan hidungnya lalu mewudhukannya sebagaimana melakukan wudhunya bagi orang yang hidup.

Demikian penjelasan tentang Panduan dan Bacaan Doa Memandikan Jenazah Mayit Laki-laki, semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan Anda.