√ Inilah Bagaimana Cara Seorang Hamba Mencintai Allah (Lengkap)

Inilah Bagaimana Cara Seorang Hamba Mencintai Allah (Lengkap) – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Mencintai Allah. Yang mana dalam kesempatan ini membahas bagaimana cara bagi seorang hamba mencintai Allah dengan pembahasan secara singkat dan jelas. Untuk itu silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini.

Inilah Bagaimana Cara Seorang Hamba Mencintai Allah (Lengkap)

Mencintai Allah SWT merupakan menjadikan Allah SWT dan segala perintahnya sebagai prioritas utama dalam segala wujud kehidupan sehari-hari. Cinta kepada Allah SWT adalah cinta pada level tertinggi, mengalahkan segala bentuk cinta kepada manusia, termasuk kepada orang tua, istri, anak-anak, harta benda dan semuanya.

Jangankan menjadikan yang selain Allah SWT itu lebih tinggi derajatnya dengan cinta kepada Allah, bahkan bila hanya sama dan sederajat saja, sudah dikatakan dzalim oleh Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah Ayat 165 yaitu,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Artinya : “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”

Dengan berbagai argumentasi yang tampak sangat jelas seperti itu, sebagian manusia yang sesat pikirannya masih saja ada yang menjadikan selain Allah sebagi Tuhan. Mereka menyembahnya seperti menyembah Allah dan memeperlakukannya seperti Allah. Akan tetapi orang yang beriman menerima hanya kepemimpinan Allah semata dan tidak akan terputus ketaatannya pada Allah.

Sedangkan orang-orang musyrik itu perwalian pada tuhan-tuhan mereka seringkali tergoncang saat mereka ditimpa malapetaka lalu mencari perlindungan kepada Allah Swt. Manusia-manusia yang menganiaya diri mereka sendiri, andai saja tahu siksa yang telah menanti mereka di hari pembalasan ketika segala kerajaan ada pada-Nya, saat semuanya tunduk pada Allah, pasti mereka akan menghentikan kejahatan dan dosa mereka.

Apalagi bila menjadikan semua itu lebih kita cintai dari Allah, tentu lebih parah lagi. Allah menyebut mereka yang mencintai selain dirinya dengan tingkat kecintaan yang lebih tinggi dari mencintai Allah, mereka adalah orang fasiq.

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Artinya : “Katakanlah, “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS At-Taubah Ayat 24)

Sebagaimana tafsiran ayat tersebut yaitu,

Wahai Rasul, katakan kepada orang-orang Mukmin, “Apabila kalian lebih mencintai bapak, anak, saudara, istri, kerabat serta harta yang telah kalian dapatkan, juga perdagangan yang kalian takuti kerugiannya serta rumah yang kalian pakai untuk beristirahat dan bertempat tinggal daripada Allah, Rasul- Nya dan berjihad di jalan-Nya, sampai-sampai itu semua lebih menyibukkan kalian daripada menolong Rasul, maka tunggulah sampai Allah menjatuhkan keputusan dan hukuman-Nya atas kalian. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang keluar dari batas-batas agama-Nya.”

Tata Cara Mencintai Allah

Cara mencintai Allah tentu harus sesuai dengan cara yang ditentukan Allah SWT. Bukan dengan cara mengarang-ngarang sendiri, apalagi menciptakan sendiri ritual-ritual aneh yang tidak ada dasarnya dari Allah SWT.

Dan bentuk mencintai Allah SWT yang paling tepat adalah dengan cara mengikuti petunjuk dari Rasulullah SAW. Sebab beliau adalah petugas resmi yang diutus Allah SWT kepada umat manusia untuk mengajarkan bagaimana cara mewujudkan bentuk nyata sebuah cinta kepada-Nya.

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya : “Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.Ali Imran Ayat 31)

Tafsiran ayat tersebut yaitu,

Katakan, “Kalau kalian benar-benar jujur dengan pengakuan cinta dan ingin dicintai Allah, ikutilah perintah dan laranganku, karena aku adalah penyampai risalah Allah. Hal itu akan membuat Allah mencintai dan memberimu pahala, yaitu melalui pemberian karunia kepadamu dan pemaafan kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang kepada hamba-Nya.”

Apapun realisasi rasa cinta seseorang kepada Allah SWT, tetapi kalau sampai bertentangan dengan apa yang telah Rasulullah SAW ajarkan, maka pengungkapan bentuk cinta itu justru tertolak, bahkan malah melahirkan laknat dan siksa dari Allah.

Sebab kedudukan Rasulullah SAW adalah sebagai utusan resmi satu-satunya dari Allah kepada seluruh manusia, bahkan kepada seluruh makhluk hidup yang ada. Maka apa pun yang beliau sampaikan, wajib kita ikuti dengan sepenuh hati. Sebaliknya, apapun yang dilaranganya, tentu saja wajib kita jauhi dari diri kita. Penegasan pernyataan ini disampaikan Allah SWT dalam Al-Quran Al-Kariem yaitu,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya : “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr Ayat 7)

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pernah menggambarkan sebuah pengibaratan tentang bentuk cinta kepada Allah. Beliau berkata

“Bahwa cinta kepada Allah itu ibarat pohon dalam hati, akarnya adalah merendahkan diri di hadapan Dzat yang dicintainya, batangnya adalah mengenal nama dan sifat Allah, rantingnya adalah rasa takut kepada (siksa)Nya, daunnya adalah rasa malu terhadap-Nya, buah yang dihasilkan adalah taat kepadaNya. Dan penyiramnya adalah dzikir kepadaNya. Kapanpun jika amalan-amalan tersebut berkurang maka berkurang pulalah mahabbahnya kepada Allah”. (Raudlatul Muhibin, 409, Darush Shofa).

Demikian ulasan singkat tentang Inilah Bagaimana Cara Seorang Hamba Mencintai Allah (Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Manfaat Bagi Orang Yang Beriman Kepada Allah (Bahas Lengkap)

Manfaat Bagi Orang Yang Beriman Kepada Allah (Bahas Lengkap) – Pada kesempatan ini kami akan membahas tentang Beriman Kepada Allah. Yang mana dalam pembahasan kali ini tentang manfaat bagi orang yang beriman kepada Allah SWT dengan pembahasan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini dengan seksama.

Manfaat Bagi Orang Yang Beriman Kepada Allah (Bahas Lengkap)

Manfaat Membaca Al-Qur’an ataupun mengaji banyak mengajarkan Anda. Baik tentang mendapatkan pahala dengan beriman kepada Allah SWT dan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Namun, hal tersebut bukanlah satu-satunya hal yang akan Anda dapat dengan hanya beriman kepada Allah SWT.

Manfaat Beriman Kepada Allah SWT

Salah satu 6 Rukun Iman adalah beriman kepada Allah SWT. Tentu sudah tidak asing dengan istilah iman atau yang diartikan secara sederhana sebagai percaya menurut bahasa.

Sejak kecil tentu bagi umat beragama sudah diajarkan untuk mempercayai keberadaan Tuhan Yang Maha Esa. Namun banyak sekali orang yang melarang anaknya untuk bertanya lebih jauh tentang Allah SWT.

Jika ada yang bertanya “Apakah Allah SWT benar-benar ada?” seringkali bukan jawaban yang didapatkan. Justru emosi yang meluap karena berpikir bahwa orang itu tidak percaya akan keberadaan Allah SWT. Sebetulnya, ketika seseorang dibiarkan bertanya tanpa diberi jawaban justru dia akan semakin memberontak.

Iman seperti apakah yang dimaksud?

Allah SWT adalah dzat yang sempurna. Tentunya Iman Dalam Islam yang dimaksud bukan hanya mengatakan bahwa dirinya percaya tapi lebih dari itu menyangkut hati, pikiran dan juga tindakannya.

Ada banyak manusia pandai bersilat lidah, tetapi hal ini tentunya tidak berlaku untuk mengelabui Allah SWT. Sifat Orang yang Bertakwa yaitu dengan Cara Meningkatkan Iman dan Taqwa dan memiliki Hubungan Akhlak dengan Iman Kepada Allah SWT. Mencakup bagaimana perasaan Anda merasakan dengan tegas bahwa Allah itu ada.

Dengan begitu, Anda akan mengucapkannya secara lisan dan tidak meragukan keberadaan Allah dalam pikiran Anda. Dan selanjutnya, Fungsi Iman Kepada Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari, anda akan menjalani kehidupan dengan niat untuk beribadah kepada Allah SWT. Anda bekerja, menuntut ilmu, maupun beribadah karena Allah SWT.

Tingkatan Iman dalam Islam

Mungkin kita menyadari bahwa di dunia ini ada banyak sekali berbagai kepercayaan. Hampir semuanya mengatakan bahwa Tuhan mereka Maha Esa. Maka ada beberapa Tingkatan Iman dalam Islam yang perlu Anda ketahui tentang iman kepada Allah SWT.

  1. Iman akan keberadaan Allah SWT

Anda memang tidak bisa melihat wujud Allah SWT seperti Anda bisa melihat manusia secara nyata. Namun, menggunakan akal bahwa ada pencipta alam semesta, dengan membaca kitab-kitab samawi, dan juga memperhatikan dengan indera maka Anda bisa melihat keberadaan Allah. Anda yang melihat ada orang yang mengalami musibah lalu mendapatkan bantuan, di situlah tangan Allah SWT bekerja untuk membantu manusia.

  1. Iman akan keesaan Allah SWT

Dibagi menjadi dua yaitu Rububiyah dan Uluhiyah. Rububiyah artinya Allah SWT adalah satu-satunya yang memiliki kekuasaan atas alam semesta dan seisinya. Tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada pula tandingan-Nya. Sedangkan Uluhiyah artinya hanya Allah SWT yang wajib untuk diibadahi. Allah SWT adalah satu-satunya pencipta untuk Anda beribadah dan berserah diri.

  1. Iman akan nama dan Sifat-Sifat Allah Dan Asmaul Husna

Artinya, Anda harus percaya bahwa asma Allah SWT dan sifat-Nya adalah benar adanya. Dan tidak ada yang lain memiliki nama dan juga sifat yang menandingi Allah SWT.

Bagaimana agar Anda percaya akan Allah SWT?

Sebagian besar mungkin mengalami dilema saat mulai mempertanyakan kepercayaan. Mungkin berusaha bertanya, namun justru disebut sebagai seorang pendosa yang tidak lagi mempercayai Allah SWT.

Sebetulnya, mempercayai suatu hal bukanlah suatu pilihan. Proses Penciptaan Manusia karena hal itu merupakan reaksi atas apa yang disaksikan. Melihat Dunia dan seisinya, sudah bisa menyimpulkan bahwa tidak mungkin ada suatu hal yang tercipta tanpa permulaan. Melihat tubuh sendiri, juga bisa menyimpulkan bahwa ada yang menciptakan sedemikian sempurna.

Mempercayai keberadaan Allah SWT juga berkaitan erat dengan manfaat yang bisa didapatkan. Yang penting adalah, yakin pada diri sendiri. Yakin pada kepercayaan bahwa Allah SWT ada. Yakin pada Allah SWT. Jika dunia ini saling berkaitan, maka bisa melihat bahwa ada yang mengatur dunia. Dan itulah Allah SWT.

Manfaat beriman kepada Allah SWT untuk kehidupan pribadi

Manfaat Membaca Al- Qur’an ataupun mengaji banyak mengajarkan Anda tentang mendapatkan pahala dengan beriman kepada Allah SWT dan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Namun, hal tersebut bukan satu-satunya hal yang akan Anda dapat dengan beriman kepada Allah SWT.

Coba Anda renungkan, hal-hal apa yang Anda inginkan di dunia ini.

Uang? Harta? Pasangan hidup? Jabatan? Allah SWT memberikan segalanya.

Kebahagiaan : Masing-masing orang memiliki standar kebahagiaannya tersendiri. Ada yang menilai kebahagiaan dari uang, percintaan, Keluarga, prestasi, hingga Sukses Dunia Akhirat. Percayalah kepada Allah. Lakukan yang terbaik serta berdoa dan Allah akan melakukan sisanya. Jika Anda mengukur kebahagiaan dari materi, Allah berkuasa untuk memberikan harta yang Anda inginkan. Jika Anda mengukur kebahagiaan dari pasangan hidup, Allah sudah menjanjikan bahwa manusia hidup berpasang-pasangan, bahwa jodoh ada di tangan Allah dan Anda hanya perlu berusaha dan berserah diri kepada-Nya.

Kedamaian : Mempercayai Allah artinya Anda akan Hidup Bahagia dengan damai. Orang yang tidak mempercayai Allah SWT akan hidup dalam rasa cemas, selalu meragukan keberadaan Allah SWT yang pada akhirnya membuatnya merasakan hidup yang tidak damai. Dalam kedamaian Anda akan merasakan Jiwa Tenang dan sehat. Tanpa rasa damai tentunya Anda akan merasakan ketakutan, depresi, dan banyak masalah lain yang membebani hidup Anda. Cara mengatasi depresi menurut islam adalah dengan berhenti meragukan keberadaan Allah SWT, dengan begitu Anda akan menemukan kehidupan yang tenang. Sementara menyangkal keberadaan Allah SWT akan membuat Anda terus hidup dalam keraguan dan tidak ada jawaban yang akan Anda dapat.

Keselarasan : Manusia terdiri atas jiwa, tubuh, emosi, nilai-nilai, dan kecerdasan. Dalam Islam, Allah SWT menjelaskan bahwa manusia perlu menjalani hidupnya dengan keselarasan atas aspek-aspek tersebut. Tanpa keselarasan akan salah satu dari aspek tersebut, maka manusia akan merasakan penderitaan atas konsekuensinya. Dan cara untuk mendapatkan keselarasan dalam kehidupan adalah dengan percaya kepada-Nya, karena Dialah Sang Pencipta dan juga sumber dari keselarasan tersebut. Allah SWT telah menyempurnakan agama Islam, dengan begitu Anda perlu beriman dan melaksanakan ajaran-Nya untuk mencapai kehidupan dengan keselarasan.

Pandangan hidup yang jelas : Sebagai seorang muslim yang beriman Anda akan berjalan sesuai dengan Sumber Pokok Ajaran Islam. Allah SWT sudah memberikan jalan yang tepat bagi Anda melalui ajaran islam. Bagaimana Anda melihat suatu hal juga sudah dijelaskan oleh Allah SWT. Anda tidak perlu lagi merasakan keraguan dalam melakukan tindakan karena Allah SWT telah memberikan petunjuk atas apa yang benar dan salah.

Bagaimana jika Anda tidak percaya kepada Allah SWT?

Anda akan mengalami kebingungan ketika Anda mengalami suatu masalah. Anda tidak memiliki pedoman yang menuntun Anda sebagai petunjuk untuk melakukan tindakan. Sehingga kerap kali orang yang tidak percaya kepada Allah SWT akan bimbang dalam menentukan arah hidupnya. Manusia yang mempunyai kecerdasan, nafsu, serta ego tentu akan bingung menentukan keinginan mana yang harus ia penuhi. Namun dengan bimbingan dari Allah SWT, Anda bisa menentukan Tujuan Hidup Anda tanpa perlu ada rasa bimbang.

Merasakan aman : Dunia yang penuh dengan kejahatan, dan banyak permasalahan serta cobaan tentunya bukan hal yang bisa Anda sepelekan. Dengan percaya kepada Allah SWT maka Anda akan merasakan aman karena Allah SWT selalu ada di sisi Anda. Allah SWT akan selalu melindungi Anda karena Dia mengatur rencana yang lebih baik daripada yang kita inginkan. Dengan beriman maka Anda tidak akan khawatir dalam menghadapi suatu permasalahan. Anda yakin bisa melalui berbagai rintangan kehidupan karena Allah SWT selalu ada untuk Anda.

Manfaat beriman kepada Allah SWT untuk kehidupan bermasyarakat

1. Masyarakat tentunya terdiri atas individu-individu yang hidup bersama dan saling memiliki ketergantungan. Maka dari itu, manfaat yang diperoleh secara pribadi ketika percaya kepada Allah SWT tentunya juga mempengaruhi kehidupan bermasyarakat.

2. Dengan memiliki hati yang damai Anda akan mengasihi sesama Anda. Jiwa yang bersih dan tenang tentunya akan membuat Anda merasa nyaman untuk berhubungan dengan masyarakat. Dengan Cara Menenangkan Hati hidup anda merasa bahagia dan damai. Anda juga akan turut berbahagia jika tetangga atau sanak-saudara Anda berbahagia, dan akan dengan senang hati membantu jika mereka mengalami musibah.

3. Dengan kehidupan yang bahagia Anda akan mengerti betapa pentingnya kebahagiaan dalam kehidupan. Maka dari itu Anda akan menghargai kebahagiaan orang lain seperti Anda menghargai diri Anda sendiri. Anda akan menyadari bahwa Anda adalah manusia yang tidak sendirian di dunia ini. Cara Bahagia Menurut Islam adalah dengan cara mengesampingkan ego Anda dan mulai bertoleransi atas manusia lainnya karena menyadari bahwa mereka pun memiliki harapan yang sama untuk berbahagia.

Anda bisa membantu orang-orang yang masih bingung dengan jalan hidup seperti apa yang harus mereka pilih. Karena Anda sudah memiliki pedoman hidup yang jelas, jika suatu saat ada seseorang yang bingung dalam menjalani kehidupannya maka Anda bisa menuntunnya menemukan jalan yang tepat.

4. Masyarakat yang terbentuk atas orang muslim yang beriman kepada Allah SWT tentunya akan menjadi masyarakat yang menyadari arti penting dari kerukunan. Masyarakat tersebut tidak akan segan untuk saling tolong menolong karena mereka berbuat kebaikan atas nama Allah SWT.

5. Dengan percaya kepada Allah SWT dan melaksanakan perintah-Nya maka Anda akan mendapatkan lingkungan kerja maupun sekolah yang nyaman. Anda yang beriman kepada Allah SWT tentunya adalah orang yang pekerja keras, taat pada agama, serta jujur. Hal itu tentunya akan membuat Anda disenangi oleh orang-orang di sekitar Anda. Anda juga akan mendapatkan kepercayaan dari mereka. Dan kenyamanan dalam hidup bermasyarakat adalah hal yang penting karena tentu saja Anda tidak bisa hidup sendiri.

Tidak ada kebahagiaan tanpa kedamaian, dan tidak ada kedamaian tanpa keyakinan. Di saat Anda merasakan ada kekosongan dalam hati Anda dan Anda menyebut nama Allah, di situlah Allah mengisi kekosongan hati Anda dengan kedamaian. Allah menyayangi Anda, dan akan selalu menemani setiap langkah dalam hidup Anda.

Allah SWT adalah satu-satunya yang mencintai Anda tanpa syarat. Percayalah kepadanya karena kasih sayang Allah SWT untuk umat manusia ada selamanya.

Demikian ulasan tentang Manfaat Bagi Orang Yang Beriman Kepada Allah (Bahas Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Menjaga Shalat Pada Waktunya dan Menjaga Shalat Ashar

Menjaga Shalat Pada Waktunya dan Menjaga Shalat Ashar – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Shalat Ashar. Yang mana pada pembahasan kali ini tentang perintah shalat pada waktunya dan diperintahkannya agar menjaga shalat ashar dengan pembahasan singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini.

Menjaga Shalat Pada Waktunya dan Menjaga Shalat Ashar

Sebagian kaum muslimin sering kali menunda-nunda melaksanakan shalat ashar hingga waktunya hampir habis. Bahkan tidak mengerjakan shalat ashar sama sekali. Tentu saja hal ini bertentangan dengan perintah syariat untuk menjaga pelaksanaan semua shalat wajib. Termasuk pada shalat ashar, sesuai dengan waktunya masing-masing. Bahkan terdapat ancaman khusus bagi mereka yang dengan sengaja meninggalkan shalat ashar.

Perintah Shalat Pada Waktunya

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah 238 yaitu,

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Artinya :

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.”

Menurut pendapat yang masyhur, yang dimaksud dengan “shalat wustha” dalam ayat di atas adalah shalat ashar. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika terjadi perang Ahzab,

شَغَلُونَا عَنِ الصَّلَاةِ الْوُسْطَى، صَلَاةِ الْعَصْرِ

Artinya :

“Mereka (kaum kafir Quraisy, pent.) telah menyibukkan kita dari shalat wustha, (yaitu) shalat ashar.” (Hadits Muslim Nomor 997)

Dalam ayat tersebut, setelah Allah Ta’ala memerintahkan untuk menjaga semua shalat wajib secara umum (termasuk di dalamnya yaitu shalat ashar). Maka Allah Ta’ala kemudian menyebutkan perintah untuk menjaga shalat ashar secara khusus. Apabila seseorang dapat menjaga shalat wajibnya, maka dia akan mampu untuk menjaga seluruh bentuk ibadahnya kepada Allah Ta’ala.

Balasan Bagi Orang Yang Menjaga Shalat Ashar

Terdapat hadits khusus yang menyebutkan pahala bagi orang yang menjaga shalat ashar, yaitu mendapatkan pahala dua kali lipat dan tidak akan masuk ke neraka. Abu Bashrah al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat ashar bersama kami di daerah Makhmash. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ عُرِضَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَضَيَّعُوهَا وَمَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهُ مَرَّتَيْنِ وَلَا صَلَاةَ بَعْدَهَا حَتَّى يَطْلُعَ الشَّاهِدُ وَالشَّاهِدُ النَّجْمُ

Artinya :

“Sesungguhnya shalat ini (shalat ashar) pernah diwajibkan kepada umat sebelum kalian, namun mereka menyia-nyiakannya. Barangsiapa yang menjaga shalat ini, maka baginya pahala dua kali lipat. Dan tidak ada shalat setelahnya sampai terbitnya syahid (yaitu bintang).” (Hadits Nasai Nomor 518)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَنْ يَلِجَ النَّارَ مَنْ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

Artinya :

“Tidak akan masuk neraka orang yang mengerjakan shalat sebelum matahari terbit (subuh) dan shalat sebelum matahari terbenam (Ashar).” (Hadits Nasai Nomor 467)

Ancaman Orang Yang Meninggalkan Shalat Ashar

Di antara dalil yang menunjukkan pentingnya kedudukan shalat ashar adalah ancaman bahwa barangsiapa yang meninggalkannya, maka terhapuslah pahala amal yang telah dikerjakannya di hari tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ

Artinya :

“Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka gugurlah (pahala) amalannya.” (Hadits Nasai Nomor 470)

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

“Yang tampak dari hadits ini (dan Allah lebih mengetahui tentang maksud Rasul-Nya) adalah bahwa yang dimaksud ‘meninggalkan’ ada dua kondisi.

Pertama, meninggalkan shalat secara keseluruhan, tidak melaksanakan shalat sama sekali. Maka hal ini menyebabkan terhapusnya seluruh amal.

Kedua, meninggalkan shalat tertentu di hari tertentu. Maka hal ini menyebabkan terhapusnya amal di hari tersebut. Terhapusnya amal secara keseluruhan adalah sebagai balasan karena meninggalkannya secara keseluruhan, dan terhapusnya amal tertentu adalah sebagai balasan karena meninggalkan perbuatan tertentu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

الَّذِي تَفُوتُهُ صَلَاةُ الْعَصْرِ فَكَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ

Artinya :

“Orang yang terlewat (tidak mengerjakan) shalat ashar, seolah-olah dia telah kehilangan keluarga dan hartanya.” (Hadits Nasai Nomor 508)

Ketika seseorang kehilangan keluarga dan hartanya. Maka dia tidak lagi memiliki keluarga dan harta. Hal tersebut perumpamaan tentang terhapusnya amal seseorang karena meninggalkan shalat ashar.

Ancaman bagi Orang yang Menunda-nunda Pelaksanaan Shalat Ashar sampai Waktunya Hampir Habis

Apabila seseorang mengerjakan shalat ashar di akhir waktu karena berada dalam kondisi darurat tertentu, maka shalatnya tetap sah meskipun dia hanya mendapatkan satu raka’at shalat ashar sebelum waktunya habis. Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الْعَصْرَ

Artinya :

“Barangsiapa yang mendapati satu raka’at shalat ashar sebelum matahari terbenam, maka dia telah mendapatkan shalat ashar.” (Hadits Bukhari Nomor 545)

Akan tetapi, yang menjadi masalah adalah ketika seseorang sengaja menunda-nunda pelaksanaan shalat ashar sampai waktunya hampis habis tanpa ada ‘udzur tertentu yang dibenarkan oleh syari’at. Bahkan hal ini telah menjadi kebiasaannya sehari-hari karena memang meremehkan shalat ashar.

Maka hal ini mirip dengan ciri-ciri orang munafik yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِينَ تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِينَ تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِينَ يَجْلِسُ أَحَدُهُمْ حَتَّى إِذَا اصْفَرَّتْ الشَّمْسُ وَكَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيْ الشَّيْطَانِ أَوْ عَلَى قَرْنِ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَ أَرْبَعًا لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا

Artinya :

“Itu adalah shalatnya orang munafik, itu adalah shalatnya orang munafik, itu adalah shalatnya orang munafik. Seseorang dari kalian duduk-duduk hingga jika cahaya matahari sudah mulai menguning, yaitu saat berada di antara dua tanduk setan atau di atas tanduk setan, lalu dia mematuk empat kali. Dia tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” (Hadits Malik Nomor 459)

Demikian ulasan tentang Menjaga Shalat Pada Waktunya dan Menjaga Shalat Ashar. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan kita semua. Terimakasih.

√ Inilah Pengertian Sumber Hukum Islam Serta Dalilnya (Lengkap)

Inilah Pengertian Sumber Hukum Islam Serta Dalilnya (Lengkap) – Islam merupakan agama sempurna yang ajarannya mencakup berbagai aspek dalam kehidupan manusia. Islam mengatur dari segala hal kecil sampai kepada segala hal yang besar. Adapun dalam menentukan hukum-hukum Islam, terdapat sumber berarti rujukan utama dalam menetapkan perihal sesuatu. Sumber dan dalil-dalil untuk menentukannya, diantaranya adalah Alquran dan Sunnah.

Sedangkan dalil yaitu suatu petunjuk yang dijadikan landasan berpikir yang benar dalam memperoleh hukum syara’ yang bersifat praktis, baik yang statusnya qathi’ (pasti) maupun zhanni (relatif). Oleh karena itu, dalam pembahasan kali ini Pengetahuan Islam akan dibahas mengenai sumber hukum dan dalil hukum Islam agar para pembaca mampu memahami tentang sumber dan dalil hukum Islam sekaligus mengimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang berkaitan dengan hukum Islam.

Inilah Pengertian Sumber Hukum Islam Serta Dalilnya (Lengkap)

Kata-kata sumber dalam hukum Islam merupakan terjemah dari kata mashadir yang berarti wadah ditemukannya dan ditimbangnya norma hukum. Sumber hukum Islam yang utama adalah Al Qur’an dan sunah. Selain menggunakan kata sumber, juga digunakan kata dalil yang berarti keterangan yang dijadikan bukti atau alasan suatu kebenaran.

Ijtihad, ijma’, dan qiyas juga merupakan sumber hukum karena sebagai alat bantu untuk sampai kepada hukum-hukum yang dikandung oleh Al Qur’an dan sunah Rasulullah SAW.

Secara sederhana hukum adalah seperangkat peraturan tentang tingkah laku manusia yang diakui sekelompok masyarakat, disusun orang-orang yang diberi wewenang oleh masyarakat itu, berlaku mengikat, untuk seluruh anggotanya.

Bila definisi ini dikaitkan dengan Islam atau syara’ maka hukum Islam berarti:

“Seperangkat peraturan bedasarkan wahyu Allah SWT dan sunah Rasulullah SAW tentang tingkah laku manusia yang dikenai hukum (mukallaf) yang diakui dan diyakini mengikat semua yang beragama Islam”.

Pengertian Sumber dan Dalil

Sumber secara bahasa adalah asal dari segala sesuatu dan tempat merujuk segala sesuatu.

Sedangkan dalil dari bahasa Arab al-dalil jamaknya al-adillah yang secara bahasa berarti:

“Petunjuk kepada sesuatu baik yang bersifat material maupun non material (maknawi).”

Secara terminologi, dalil mengandung pengertian yaitu

“Suatu petunjuk yang dijadikan landasan berpikir yang benar dalam memperoleh hukum syara’ yang bersifat praktis, baik yang statusnya qathi’ (pasti) maupun zhanni (relatif).”

Sumber dan Dalil Hukum Islam

Adapun sumber dan dalil hukum islam diambil dari :

  1. Al – Qur’an

Secara bahasa Al-Qur’an berasal dari kata qa-ra-a yang artinya bacaan. Sedangkan secara terminologis Al-Qur’an adalah:

القران هوالكلام الله المعجزالمنزل على خاتم الانبياءوالمرسلين بواسطة الامين جبريل المكتوب فى المصاحف المنقول الينابالتواترالمتعبد بتلاوته المبدوبسورة الفاتحة والختوم بسورة الناس

Artinya : “Al-qurận adalah Kalam Allah yang mukjiz, diturunkan kepada Nabi dan Rasul penghabisan dengan perantaraan Malaikat terpercaya, Jibril, tertulis dalam mushaf yang dinukilkan kepada kita secara mutawatir, membacanya merupakan ibadah, yang dimulai dari surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas.”

Para ulama Ushul Fiqih menginduksi tentang hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an terdiri atas: I’tiqadiyah, Khuluqiyah, dan Ahkam ‘amaliyah. Sedangkan tujuan daripada diturunkannya Alquran yakni sebagai mukjizat yang membuktikan kebenaran Rasulullah, sebagai petunjuk, sumber syari’at dan hukum-hukum yang wajib diikuti dan dijadikan pedoman.

Penjelasan Al-Qur’an Terhadap Hukum

  • Ijmali (global), yaitu penjelasan yang masih memerlukan penjelasan lebih lanjut dalam pelaksanaannya. Contoh: masalah shalat, zakat dan kaifiyahnya.
  • Tafshili (rinci), yaitu keterangannya jelas dan sempurna, seperti masalah akidah, hukum waris dan sebagainya.
  1. As-Sunnah / Hadits

As-Sunnah menurut bahasa berarti “perilaku seseorang tertentu, baik perilaku yang baik atau yang buruk.” Sedangkan menurut istilah ushul fiqih sunnah Rasulullah berarti “Segala perilaku Rasulullah yang berhubungan dengan hukum, baik berupa ucapan (sunnah Qauliyah), perbuatan (sunnah Fi’liyah), atau pengakuan (sunnah Taqririyah).”

Sebagaimana keterangan dalam Al-Qur’an yang mana Allah SWT. memerintahkan kaum muslimim untuk menaati Rasulullah seperti yang terkandung dalam QS. An-Nisa ayat 59 yaitu :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Ayat di atas secara tegas menunjukkan wajibnya mengikuti Rasulullah yang tidak lain adalah mengikuti sunnah-sunnahnya. Berdasarkan beberapa ayat tersebut, para sahabat semasa hidup Nabi dan setelah wafatnya telah sepakat atas keharusan menjadikan sunnah Rasulullah sebagai sumber hukum.

Secara umum fungsi sunnah adalah sebagai bayan (penjelasan), atau tabyim (menjelaskan ayat-ayat hukum dalam Alquran). Ada beberapa fungsi sunnah terhadap Alquran, yaitu:

  • Menjelaskan isi Alquran, antara lain dengan merinci ayat-ayat global
  • Membuat aturan-aturan tambahan yang bersifat teknis atas sesuatu kewajiban yang disebutkan pokok-pokoknya di dalam Alquran.
  • Menetapkan hukum yang belum disinggung dalam Alquran.
  1. Ijma’

Ijma’ adalah cita-cita, rencana dan kesepakatan. Sebagaimana dalam Firman Allah SWT surat yunus ayat 71.

فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ

Artinya : “karena itu bulatkanlah keputusanmu”

Sedangkan menurut Imam Ghazali ijma’ adalah kesepakatan umat Muhammad secara khusus tentang suatu masalah agama. Ijma’ tidak dijadikan hujjah (alasan) dalam menetapkan hukum karena yang menjadi alasan adalah kitab dan sunnah atau ijma’ yang didasarkan kepada kitab dan sunnah.

Sebagaimana dalam firman Allah SWT. QS. An-Nisa’ ayat 58 yaitu:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Yang dimaksud kembali kepada Allah yaitu berpedoman dan bertitik tolak dalam menetapkan suatu hukum kepada Alquran. Sedangkan yang dimaksud dengan kembali kepada Rasul-Nya yaitu berdasarkan kepada Sunnah Rasul. Dengan pengertian ijma’ yang dapat menjadi hujjah adalah ijma’ yang berdasarkan kepada Alquran dan Sunnah.

  1. Qiyas

Qiyas secara bahasa adalah perbandingan, yaitu membandingkan sesuatu kepada yang lain dengan persamaan illatnya. Sedangkan secara istilah qiyas adalah mengeluarkan (mengambil) suatu hukum yang serupa dari hukum yang telah disebutkan (belum mempunyai ketetapan) kepada hukum yang telah ada atau telah ditetapkan oleh kitab dan sunnah, disebabkan sama illat antara keduanya (asal dan furu’).

Para ulama ushul fiqh dalam menetapkan qiyas itu ada 4 ketentuan, yaitu:

  1. ‘Ashl (wadah hukum yang ditetapkan melalui nash atau ijma’)
  2. Far’u (kasus yang akan ditentukan hukumnya)
  3. ‘Ilat (motivasi hukum) yang terdapat dan terlibat oleh mujtahid pada ‘ashl, dan
  4. Hukum ‘ashl (hukum yang telah ditentukan oleh nash atau ijma’).

Para ulama ushul fiqh mengemukakan bahwa setiap rukun qiyas di atas harus memenuhi beberapa syarat tertentu, sehingga qiyas dapat dijadikan dalil dalam menetapkan hukum.

Dmikian ulasan tentang Inilah Pengertian Sumber Hukum Islam Serta Dalilnya (Lengkap). Semoa dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

Ketahuilah Keutamaan Mengucap Innalillahi Wainna Ilaihi Roji’un

Ketahuilah Keutamaan Mengucap Innalillahi Wainna Ilaihi Roji’un – Sahabat Muslim, Setiap orang di dunia ini pasti akan mengalami mendapatkan musibah dalam hidupnya. Ujian kehidupan di dunia bisa saja diberikan dengan nikmat kebahagiaan juga bisa dengan nikmat kedukaan. Semuanya silih berganti karena di dunia tidak ada yang akan abadi.

Untuk itu, musibah selayaknya Allah katakan sebagai ujian hidup harus dihadapi dengan tegar dan ikhlas. Semua yang Allah berikan di dunia ini adalah titipan dan harus dikelola dengan sebaik-baiknya oleh manusia. Tidak akan ada yang abadi atau sesuai semuanya dengan keinginan manusia. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini.

Ketahuilah Keutamaan Mengucap Innalillahi Wainna Ilaihi Roji’un

Sebagaimana Nabi Muhammad SAW. bersabda.

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ { إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ } اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

Artinya : “Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah lalu ia membaca apa yang telah diperintahkan oleh Allah, ‘INAA LILLAHI WAINNAA ILAIHI RAAJI’UUN ALLAHUMMA`JURNII FII MUSHIIBATI WA AKHLIF LII KHAIRAN MINHAA (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Ya Allah, berilah kami pahala karena mushibah ini dan tukarlah bagiku dengan yang lebih baik daripadanya).’ melainkan Allah menukar baginya dengan yang lebih baik.” (Hadits Muslim Nomor 1525)

Kalimat “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” berarti sesungguhnya kita adalah milik Allah dan semuanya akan kembali pada Allah. Kalimat ini memiliki makna yang mendalam bahwa segala du dunia ini adalah milik Allah dan manusia tidak bisa menuntut apapun kepada Allah karena hanya Allah yang memiliki hak dan kehendak. Manusia hanya berusaha dan mengharapkan yang terbaik. Tentu Allah lebih tahu.

Keutamaan Membaca Innalillahi Wainna Ilaihi Roji’un

Mengucapkan kalimah thoyibah tersebut tentunya memiliki keutamaan khususnya dalam menghadapi musibah. Adapun keutamaan dari membaca kalimat thoyib ini dalam kehidupan manusia sebagai berikut;

  1. Ikhlas dan Tawakal Kepada Allah

Dengan menguncapkan kalimat “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” maka kita telah mengerti bahwa apa yang ada dalam diri kita, merasa kita miliki adalah milik Allah SWT. Seorang pemilik bisa kapan saja mengambil hartanya, mengambil apa yang jadi miliknya kapanpun ia berkehendak. Sedangkan kita, tidak memiliki hak apapun atas yang terjadi, dan semuanya milik Allah.

Jika kita telah menyadari hal tersebut maka kita akan ikhlas dan tawakal, tidak akan mudah untuk bersedih apalagi emosional menghadapi segala yang terjadi. Karena kita sadar, bahwa Allah adalah pemilik segala sesuatunya dan akan kembali lagi kepada Allah. Maka itu serahkanlah hasil di Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam dengan Cara Sukses Menurut Islam

  1. Tidak Memberatkan Hati

Dengan mengucap “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” kita pun bisa meringankan hati kita. Kita tidak akan terbebani atau berat hati atas apa yang telah terjadi. Hati kita lebih tenang dan dingin, karena apapun yang terjadi Allah pasti lebih mengetahui dan memberikan kelak yang terbaik. Jika tidak di dunia maka kelak di akhirat akan mendapatkan balasan yang lebih baik lagi.

Terkadang manusia harus berat hati dalam menyikapi keadaan atau masalah. Padahal sejatinya ada Allah yang selalu memberikan pertolongan bagi hamba-Nya yang percaya akan kebesaran Allah. Orang-orang yang meragukan pasti akan memberatkan diri atau hatinya. Padahal semua itu milik Allah, kapanpun bisa diberikan oleh Allah atau ditarik kembali oleh Allah.

  1. Bersabar atas Ujian Hidup

Jika semuanya telah dipersepsi dan memiliki paradigma yang sama, maka kita akan bisa bersabar atas ujian hidup. Ujian hidup bisa datang kapan saja tanpa kita harus tahu dan diduga-duga. Semuanya tentu untuk menguji seberapa besar kesabaran dan keimanan kita terhadap Allah SWT. Untuk itu, dengan mengucapkan kalimat thoyibah “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” kita bisa lebih sabar dan menerima ujian hidup.

Sabar dan menerima bukan berarti kita pasrah. Akan tetapi, kita akan lebih siap dan mempersiapkan diri kita dengan sebaik-baiknya diri. Menghadpainya lebih ringan dan tanpa harus berkeluh kesah yang menambah beban hidup kita. Untuk itu, dengan kesabaran maka bisa lebih sesuai dengan Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia, Hakikat Penciptaan Manusia, Konsep Manusia dalam Islam dan Hakikat Manusia Menurut Islam

  1. Tidak Perlu Meratapi Nasib dan Emosional Berlebihan

Mengucap kalimat thoyibah “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” membuat kita tidak akan terlalu emosional dan berlebihan menghadapi ujian. Semuanya telah diatur Allah dan tidak perlu kita meratapi nasib. Jika frame hidup kita segalanya milik Allah, tentu kita tidak perlu marah apalagi emosi. Semuanya bukan milik kita dan hanya Allah yang menentukan rezeki kita.

Meratapi nasib ini tidak akan memecahkan masalah dalam hidup. Untuk itu, kesabaran dan ikhlas akan membantu kita untuk lebih tegar serta kuat. Maka ucapkanlah kalimat thoyibah ini dengan sering dan dimaknai secara mendalam.

Waktu yang Tepat Membaca Kalimat “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun”

Allah tidak memerintahkan membaca kalimat thoyibah “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” ini dalam satu waktu tertentu. Kita dapat mengucapkannya kapanpun kita bisa dan ingat kepada Allah. Kalimat ini bukan berarti hanya saat ada orang yang meninggal saja, melainkan saat kita tertimpa musibah, tertimpa ujianyang berat, dan waktu-waktu lainnya dapat kita lakukan.

Tentu saja dimanapun dan kapanpun tidak akan dilarang oleh Allah. Yang terpenting adalah manusia bisa memahami dan memaknai kalimat tersebut dengan sebaik-baiknya. Jika sudah benar-benar meyakini dan memahami pasti kita akan paham bahwa kalimat “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” ini adalah kalimat yang menjaga diri kita dan membuat kita bisa ikhlas hanya kepada Allah SWT.

Ujian hidup manusia pastinya akan selalu ada. Untuk itu, yang harus kita persiapkan adalah kesabaran dan keikhlasan, serta ikhtiar untuk menghadapinya. Tentu islam tidak mengandalkan sikap pasrah dalam arti yang tidak melakukan apapun untuk merubah nasibnya.

Sebagaimana disampaikan dalam QS Ali Imran Ayat 186 berikut,

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا ۚ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Artinya : “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”

Dengan adanya nafkah wajib dan sunat, dengan adanya musibah atau dengan siap habis di jalan Allah. Dengan ibadah, bala’ (cobaan) atau beban-beban berat, seperti berjihad fii sabilillah, siap mendapatkan kelelahan, terbunuh, tertawan dan terluka, atau terkena penyakit yang menimpa dirinya atau menimpa orang yang dicintainya seperti celaan dan cercaan.

Ada beberapa faedah mengapa diberitakan hal seperti ini, di antaranya:

Yakni jika kamu bersabar terhadap cobaan yang menimpa harta dan diri kamu atau terhadap gangguan orang-orang zalim, dan kamu bertakwa, yakni mengharapkan keridaan Allah dan menjadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Sebagaimana Allah menjawab dalam firman-Nya bahwa semua dari ujian kita tidak akan ada yang melebih kesanggupan kita.

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Artinya : “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. Ath Tholaq Ayat 3)

Jika urusannya dalam tanggungan Allah Subhaanahu wa Ta’aala Yang Mahakaya, Maha perkasa lagi Maha Penyayang, maka keperluannya sangat mudah sekali terpenuhi, akan tetapi terkadang hikmah ilahi menghendaki perkara itu ditunda sampai waktu yang tepat.

Untuk itu, semoga umat islam selalu diberikan kesabaran dan keikhlasan, serta ikhtiat yang kuat dalam menghadapi dinamika hidup dan menjadikan rukun iman, rukun islam, Iman dalam Islam, Hubungan Akhlak Dengan Iman Islam dan Ihsan, dan Hubungan Akhlak dengan Iman menjadi pondasi dasar kehidupan.

Demikian ulasan singkat tentang Ketahuilah Keutamaan Mengucap Innalillahi Wainna Ilaihi Roji’un. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Inilah Kumpulan Hadits Tentang Persaudaraan Sesama Muslim

Inilah Kumpulan Hadits Tentang Persaudaraan Sesama Muslim – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang hadits persaudaraan. Yang mana dalam hal ini menerangkan beberapa kumpulan hadits mengenai persaudaraan sesama muslim dengan secara singkat dan jelas. Untuk itu silahkan simak ulasan berikut ini.

Inilah Kumpulan Hadits Tentang Persaudaraan Sesama Muslim

Dalam agama Islam sangat dianjurkan untuk menyambung hubungan dan bersatu serta mengharamkan pemutusan hubungan, saling menjauhi, dan semua perkara yang menyebabkan lahirnya perpecahan. Karenanya Islam menganjurkan untuk menyambung silaturahim dan memperingatkan agar jangan sampai ada seorang muslim yang memutuskannya.

Persaudaraan merupakan hal yang umum, persaudaraan yang timbul karena saling memperkuat ikatan–ikatan persaudaraan dan sebagai fakor untuk mencapainya kesejahteraan masayarakat Islam. Maka jelaslah bahwa sesama mukmin itu adalah saudara dan keluarga yang harusnya bersatu dan mempererat tali silaturahmi. Untuk lebih jelasnya berikut daftar kumpulan hadits tentang persaudaraan kaum muslimin lengkap dalam tulisan arab beserta terjemahan bahasa Indonesianya.

Kumpulan Hadits Tentang Persaudaraan Sesama Muslim

Di beberapa hadits tentang ukhuwah islamiyah disebutkan bahwa kita dilarang untuk menyakiti orang islam lainnya, juga umat islam itu bagaikan satu tubuh, jika ada satu bagian yang terluka atau sakit, maka semuanya ikut merasakan. Salah satu contoh persaudaraan dalam islam yang bisa kita lihat adalah jika anda yang membutuhkan bantuan, maka umat islam segera berbondong untuk membantunya.

Untuk itu haruslah kita menjaga dan memelihara hubungan persaudaraan, silaturahmi dan persahabatan diantara sesama umat manusia yang beragama islam.

Hadits Tentang Persaudaraan Sesama Muslim

Hadits Bukhari Nomor 2262

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzhaliminya dan tidak membiarkannya untuk disakiti. Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya. Siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari qiyamat. Dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya pada hari qiyamat.”

Hadits Ahmad Nomor 1605

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِجَدِّهِ يَزِيدَ بْنِ أَسَدٍ أَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ

Artinya : “Sesungguhnya Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda kepada kakeknya, Yazid bin Asad, “Cintalah kepada manusia sebagaimana kamu mencintai untuk dirimu.”

Hadits Abu Daud Nomor 4536

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

Artinya : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan kecuali Allah akan memberi ampunan kepada keduanya sebelum mereka berpisah.”

Hadits Bukhari Nomor 5605

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ

Artinya : “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara, dan tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya melebihi tiga hari.”

Hadits Tirmidzi Nomor 1877

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ لَا يَشْكُرُ اللَّهَ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Artinya : “dari [Abu Hurairah] ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang tidak pandai bersyukur (berterima kasih) kepada manusia, berarti ia belum bersyukur kepada Allah.” Abu Isa berkata; Ini adalah hadits hasan shahih.”

Hadits Ibnu Majah Nomor 3929

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

Artinya : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mencela orang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran.”

Hadits Bukhari Nomor 6437

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ

Artinya : “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, tidak menzhaliminya dan tidak menyerahkannya kepada musuh, barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya.”

Hadits Tirmidzi Nomor 1853

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ فِي الدُّنْيَا يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Artinya : “Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya.”

Hadits Bukhari Nomor 459

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ

Artinya : “Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” kemudian beliau menganyam jari jemarinya.”

Hadits Muslim Nomor 4023

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

Artinya : “Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hak seorang muslim terhadap seorang muslim ada enam perkara.” Lalu beliau ditanya; ‘Apa yang enam perkara itu, ya Rasulullah? ‘ Jawab beliau: (1) Bila engkau bertemu dengannya, ucapkankanlah salam kepadanya. (2) Bila dia mengundangmu, penuhilah undangannya. (3) Bila dia minta nasihat, berilah dia nasihat. (4) Bila dia bersin lalu dia membaca tahmid, doakanlah semoga dia beroleh rahmat. (5) Bila dia sakit, kunjungilah dia. (6) Dan bila dia meninggalkan, ikutlah mengantar jenazahnya ke kubur.”

Hadits Muslim Nomor 4685

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Artinya : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-Orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).”

Hadits Nasai Nomor 4931

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنْ الْخَيْرِ

Artinya : “Dari Anas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai kebaikan bagi saudaranya sebagaimana ia mencintai kebaikan bagi dirinya sendiri.”

Hadits Muslim Nomor 4639

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Artinya : “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezkinya, dan ingin dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahmi.”

Hadits Bukhari Nomor 5613

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ

Artinya : “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya melebihi tiga malam, (jika bertemu) yang ini berpaling dan yang ini juga berpaling, dan sebaik-baik dari keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.”

Demikianlah tentang Inilah Kumpulan Hadits Tentang Persaudaraan Sesama Muslim. Semoga hadist tentang persaudaraan islam diatas bermanfaat dan bisa menjadikan seluruh umat muslim bersatu dan saling tolong menolong dalam segala halnya. Terimakasih.

Ketahui Beberapa Tingkatan Iman Menurut Pandangan Islam

Ketahui Beberapa Tingkatan Iman Menurut Pandangan Islam

Ketahui Beberapa Tingkatan Iman Menurut Pandangan Islam – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Tingkatan Iman. Yang mana dalm hal ini membahas beberapa tingkatan iman menurut pandangan islam dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini dengan seksama.

Ketahui Beberapa Tingkatan Iman Menurut Pandangan Islam

Sebagaimana Allah SWT. berfirman dalam surat Al Mujadalah ayat 11 yaitu,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artinya : “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Dalam ayat di atas ditunjukkan bahwa Allah meninggikan orang-orang beriman yang tentunya memiliki ilmu pengetahuan. Orang beriman adalah mereka yang meyakini Allah sebagai Illah dan segala bentuk informasi juga aturannnya tentu menjadi bagian dari keimanan islam. Berikut adalah penjelasan mengenai tingkatan iman dalam islam.

Iman Manusia Fluktuatif

Sebagaimana dalam QS. Yusuf ayat 53 yaitu,

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya : “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa keimanan seseorang dapat naik dan turun. Ayat ini berkenaan dengan sejarah Nabi Yusuf di zaman dulu. Setiap manusia memiliki hawa nafsu yang dapat mendorong pada perbuatan buruk namun juga bisa dikendalikan dengan adanya akal yang bisa mempertimbangkan baik dan buruk.

Adanya hawa nafsu ini membuat keimanan kita tentu bisa fluktuatif, yaitu naik atau turun. Hawa nafsu dan juga bisikan setan terus menerus membisikkan pada manusia, sehingga manusia tidak selalu dalam kondisi ideal. Jika hawa nafsu dan bisikan setan ini diikuti terus menerus maka akan membuat manusia semakin terpuruk, bahkan keimanannya dapat rapuh bahkan hilang.

Tidak ada iman manusia yang selalu stabil dan dalam kondisi yang terus menerus baik. Hakikatnya manusia memiliki hawa nafsu, pasti akan ada dimana iman dalam kondisi lemah. Akan tetapi, orang yang benar-benar beriman akan tau atau sadar bahwa keimanannya sedang menurun dan akan mencari jalan untuk terus menerus memperbaiki keimanannya.

Keimanan sebagaimana tumbuhan yang dapat layu dan berkembang. Tergantung bagaimana kita memupuknya. Untuk itu keimanan harus benar-benar dipupuk. Pupuk dari keimanan adalah pengetahuan, penghayatan, dan pengalaman taqwa kepada Allah SWT.

Iman Rasul-Rasul Allah adalah Teladan

Rasul adalah teladan bagi umat islam. Untuk itu, mengenai masalah keimanan kita pun juga bisa meneladani rasul, sebab Rasul adalah tuntunan dari umat islam.Bentuk mengikuti dan mengimani Rasul, adalah mengikuti sunnahnya.

Berikut adalah bentuk keimanan dari para Rasul-Rasul Allah sebagaimana Rasul-Rasul Allah selalu mengikuti apa kata Allah melalui wahyu-Nya.

Menerima Seluruh Aturan Allah secara Keseluruhan

Dalam QS. Al-Anfal ayat 2 Allah berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka gemetar, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabbnya mereka bertawakkal.”

Rasul-rasul Allah senantiasa mengikuti apa yang Allah berikan perintah-Nya. Untuk itu, keimanannya diwujudkan dengan meneriman dan mengamalkan aturan islam tanpa terkecuali. Baik susah ataupun bahagia perintah Allah dijalankan dengan keikhlasan.

Mengenai masalah keimanan, umat islam dapat juga mengetahui tentang hal-hal berikut ini, agar semakin memperkuat keimanan.

Berjuang Menegakkan Aturan Allah

Sebagaimana dalam QS. Al-Hujurat ayat 15 yaitu,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang hanya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”

Rasul-Rasul Allah senantiasa mengikuti aturan Allah bahkan memperjuangkannya untuk dapat tegak islam di muka bumi. Bentuk keimanan mereka dilakukan dengan berjihad dengan harta dan jiwa agar bisa memberikan yang terbaik untuk islam.

Mau Berkorban Demi Tegaknya Islam dengan Harta dan Jiwa

Dalam hadits Nabi menjelaskan yaitu,

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

Artinya : “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, mereka mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Maka apabila mereka melakukan hal tersebut, maka sungguh mereka telah menjaga harta dan jiwanya dari (seranganku), kecuali disebabkan hak Islam. Dan hisab mereka diserahkan kepada Allah.” (Hadits Muslim Nomor 33)

Berkorban demi islam harta dan jiwa adalah bentuk keimanan yang tertinggi. Artinya pernyataan keimanan bukan hanya berhenti di ucapan melainkan sampai bentuk pengorbanan dan perjuangan islam di muka bumi. Untuk itu, tingkatan iman seseorang yang sudah sampai seperti itu sangat kuat jika dilakukan konsisten hingga akhir hayat. Tentu saja dengan cataran motifnya lurus karena Allah semata.

Ketahui Beberapa Tingkatan Iman Menurut Pandangan Islam

Orang Beriman Mencintai Akhirat

Sebagaimana dijelaskan dalam Surat Al-An’am Ayat 32 yaitu,

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Artinya : “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?.”

Orang-orang yang beriman akan senantiasa mencintai akhirat daripada dunia. Untuk itu, bentuk perilakunya adalah mereka senantiasa menjaga diri agar tidak terlena dengan gemerlap dan kebahagiaan di dunia. Sedangkan fokus mereka adalah untuk menuju akhirat. Namun bukan berarti dalam kehidupannya di dunia ia dalam kesulitan atau kemiskinan, namun ia menjadikan potensi diri, harta atau apapun yang dimiliki adalah sebagai langkah menuju akhirat.

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Artinya : “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut ayat 64)

Untuk itu, tujuan dari kehidupan orang-orang yang beriman adalah kembali ke akhirat dengan bekal pahala dan segudang karya saat di dunia. Hal ini yang ia persembahkan sebagai bukti perjuangan-nya, kelak dimintai pertanggungjawbaan di akhirat.

إِنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ

Artinya : “Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.” (QS. Muhammad Ayat 36)

Sebagaimana ayat diatas, maka kehidupan orang beriman akan menjadikan hartanya yang tunduk kepada mereka bukan malah sebaliknya mereka yang tunduk kepada harta.

Untuk menghitung kualitas iman, tentu manusia akan sulit bahkan hampir tidak bisa. Apalagi menghitung keimanan orang lain. Untuk itu, hanya Allah sajalah yang mengetahui kualitasnya. Manusia hanya bisa mengevaluasi dirinya, saling mengingatkan, bukan menjudge atau bahkan memberikan penghakiman atas keimanan seorang muslim. Kecuali bagi mereka yang jelas-jelas mengklaim dirinya sebagai seorang kafir dan tidak percaya akan Allah SWT.

Demikian ulasan tentang Ketahui Beberapa Tingkatan Iman Menurut Pandangan Islam. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

Baca juga:

Inilah Tahapan Proses Penciptaan Manusia Menurut Islam

Inilah Tahapan Proses Penciptaan Manusia Menurut Islam

Inilah Tahapan Proses Penciptaan Manusia Menurut Islam – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Proses Penciptaan Manusia. Yang mana dalam pembahasan kali ini tentang bagaimana proses terjadinya penciptaan manusia menurut pandangan islam dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini.

Inilah Tahapan Proses Penciptaan Manusia Menurut Islam

Sebagaimana Allah SWT. telah berfirman dalam QS. Al-Mulk ayat 23 yaitu,

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۖ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

Artinya : “Katakanlah, “Dialah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.”

Ayat diatas adalah mengenai bagaimana hakikat penciptaan manusia, Allah menciptakan dan memberikannya anugerak fisik dan hati nurani. Al-Quran mengatakan bahwa manusia adalah hasil ciptaan Allah dan anugerah yang diberikan kepada manusia sangatlah banyak sekali.

Al-Quran sebagai kitab suci umat islam tidak hanya berbicara mengenai petunjuk praktis dan prinsip kehidupan umat manusia, namun berbicara juga mengenai proses penciptaan manusia. Beberapa pandangan ilmuwan menyatakan bahwa manusia bukan berasal dari penciptaan melainkan proses alamiah dan revolusi. Untuk itu, islam memiliki kitab suci Al Quran untuk menjelaskan bagaimana proses penciptaan manusia mulai dari hanya setitik air yang hina hingga berkembang secara kompleks.

Tahapan Penciptaan Manusia

Di dalam Al Quran proses penciptaan manusia terjadi dengan dua tahapan yang berbeda. Tahapan pertama adalah tahapan primordial dan tahapan kedua adalah tahapan biologi.

Tahapan Primordial

Tahapan Pertama adalah saat manusia pertama diciptakan pertama kali dari saripati tanah dan diberikan ruh hingga bentuk yang seindah-indahnya. Hal ini dijelaskan dalam beberapa ayat berikut :

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَىٰ أَجَلًا ۖ وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ ۖ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ

Artinya : “Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).” (Surat Al-An’am Ayat 2)

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ

Artinya : “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” (Surat Sad Ayat 71)

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ

Artinya : “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (Surat Al-Hijr Ayat 28)

Di dalam ayat-ayat Al-Quran tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dari bahan dasar tanah yang kemudian dengan kekuasaan dan hukum-hukumnya dibentuk rupa dan beragam fungsi dari fisik yang ada dalam tubuh manusia. Hal ini tentunya dilakukan Allah pada manusia pertama yaitu Nabi Adam SAW. Hingga setelah itu ada proses penciptaan manusia berupa hukum biologis.

Tahapan Biologi

Tahapan biologi adalah sunnatullah atau hukum Allah melalui proses biologis yang terdapat dalam fisik atau tubuh manusia beserta segala perangkatnya. Proses biologi ini membedakan hakikat manusia menurut islam dengan makhluk lainnya yang tidak memiliki ruh dan akal untuk mengambil keputusan saat dewasanya. Proses tersebut adalah sebagai berikut :

  • Nuthfah (inti sari tanah yang dijadikan air mani)
  • Rahim (tersimpan dalam tempat yang kokoh)
  • Alaqah (darah yang beku menggantung di rahim)
  • Mudgah (Segumpal daging dan dibalut dengan tulang belulang)

Ditiupkan ruh

Proses dari  Setetes Mani yang dipancarkan,

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى.أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَىٰ

Artinya : “Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus? Bukankah ia hanya setitik mani yang dipancarkan?.” (QS Al Qiyamah Ayat 36-37)

Di dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa proses penciptaan manusia berawal dari air mani atau sperma yang terpancar. Namun hanya setitik yang menjadi manusia. Sehingga Allah memberikan nikmat hidup melalui proses tersebut.

Sebelum adanya proses pembuahan dalam rahim wanita, ada kurang lebih 250 juta sperma terpancar dari laki-laki pada satu waktu. Dari 250 juta sperma yang terpancar hanya ada satu yang bisa bertemu dengan sel telur wanita atau ibu melalui saluran reproduksi wanita .

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ. ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ

Artinya : “Dialah Yang menciptakan segalanya dengan sebaik-baiknya, Dia mulai menciptakan manusia dari tanah liat. Kemudian Ia menjadikan keturunannya dari sari air yang hina.” (Surat As-Sajdah Ayat 7-8).

Segumpal Darah Yang Melekat di Rahim

Sebagaimana firman Allah SWT yaitu,

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ

Artinya : “Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah.”(QS Al Alaq Ayat 2)

Setelah melalui proses selama 40 hari, maka terjadilah gumpalan darah yang ada di dalam rahim ibu. Proses ini berawal dari sperma yang bertemu dengan sel telur, menjadi sel tunggal yang dikenal sebagai zigot. Setelah munculnya zigot, ia akan berkembang biak dengan membelah diri menjadi gumpalan daging.

Zigot melekat pada dinding rahim seperti akar yang kokoh menancap di tanah. Zigot mampu mendapatkan zat-zat penting dari tubuh sang ibu sebagai proses pertumbuhannya. Saat zigot yang tumbuh ini ada dalam tubuh ibu maka Allah SWT menggunakan istilah alaqah yang artinya sesuatu yang menempel pada suatu tempat. Secara harfiah digunakan untuk menggambarkan lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap darah.

Pembungkusan Tulang oleh Otot

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Artinya : “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS Al Mu’minun Ayat 14)

Menurut para ahli embriologi, tulang dan otot terbentuk secara bersamaan. Penelitian berbagai ilmuan menunjukkan bahwa perkembangan dalam rahim ibu sama persis sebagaimana yang disampaikan di dalam Al Quran.

Pada awalnya jaringan tulang rawan embrio mulai mengeras. Setelahnya, sel-sel otot yang terpilih di jaringan sekitar tulang bergabung membungkus tulang-tulang ini.

Hikmah dari Proses Penciptaan Manusia

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ. الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali Imran : 190-191)

Dari ayat diatas dapat kita pahami bahwa dibalik penciptaan langit dan bumi beserta segala isinya terdapat tanda-tanda yang bisa menjadi ilmu pengetahuan jika dipahami oleh orang-orang yang menggunakan akal. Untuk itu hikmah dari kita memahami penciptaan Allah terutama terhadap penciptaan manusia sangat banyak sekali. Apalagi Allah memberikan informasi bahwa memikirkan ciptaan Allah adalah saat duduk, berbarik, dan berdiri.

Inilah Tahapan Proses Penciptaan Manusia Menurut Islam

  1. Mengenal Kebesaran dan Kekuasaan Allah

Mengenal kekuasan dan kebesaran Allah pada hakikatnya tidak mungkin dilakukan atau dihayati jika kita tidak pernah melihat ciptaannya atau hasil karya Yang Maha Agung tersebut. Di alam ini ada sangat banyak tanda-tanda kekuasaan Allah mulai dari alam yang sangat mikro dan sangat makro, yang tidak mungkin semua kita dapat jangkau.

  1. Semakin Tunduk Pada Allah

Manusia yang memahami kebesaran dan kekuasaan Allah lewat proses penciptaan manusia, maka dia akan mengenal betapa hebatnya Allah dengan segala hukum-hukumnya. Dengan begitu, ia tidak akan mungkin bisa tunduk kepada selain Allah dan mau untuk melaksanakan fungsi agama, mengimani rukun iman dan menjalankan rukun islam.

Misalnya air susu ibu. Bayi yang baru lahir akan senantiasa meminum air susu ibu yang penuh gizi untuk kesehatan dan pertumbuhan bayi. Air susu adalah hasil dari kerja hormon dan juga proses melahirkan yang telah dialami ibu. Andai kata disadari manusia akan penuh syukur dan tidak akan mungkin mengingkari Allah. Tanpa-Nya manusia akan lenyap, tidak bisa hidup, dan hilang keseimbangan dalam kehidupan di muka bumi.

  1. Tidak Sombong dan Angkuh

Dengan mengetahui proses penciptaan manusia maka kita tidak akan mungkin bisa berlaku angkuh dan sombong. Kita akan menyadari bahwa manusia tidak memiliki apapun dan tidak bisa apapun jika dibandingkan dengan kekuasaan Allah SWT. Tidak ada bandingannya jika kita mau angkuh dan sombong karena manusia tidak memiliki apa-apa. Semuanya adalah hasil pemberian Allah dan kenikmatan yang Allah berikan.

Hidayah Allah kepada manusia tidak akan bisa sampai pada manusia yang angkuh dan sombong serta tidak mau mengevaluasi diri. Untuk itu, memahami proses penciptaan manusia membuat diri kita tunduk, berserah, dan kembali menyadari betapa kecilnya manusia.

Demikian ulasan tentang Inilah Tahapan Proses Penciptaan Manusia Menurut Islam. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

Inilah Bukti Kasih Sayang Allah Terhadap Hambanya

Inilah Bukti Kasih Sayang Allah Terhadap Hambanya

Inilah Bukti Kasih Sayang Allah Terhadap Hambanya – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Kasih Sayang Allah. Yang mana dalam pembahasan ini menjelaskan bagaimana Allah SWT sungguh sangat sayang terhadap hambanya melebihi kasih sayang seorang ibu dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya silahkan simak artikel Pengetahuan Islam berikut ini dengan seksama.

Baca : Kata Bijak Islam yang Dapat Menjadi Inspirasi Hidup

Inilah Bukti Kasih Sayang Allah Terhadap Hambanya

Seorang hamba harus mengenal Rabb-nya, harus mengenal Allah, agar ia cinta kepada Allah dan Allah cinta kepadanya. Perlu diketahui dari salah satu sifat Allah bahwa Allah sangat sayang kepada hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya.

Kita sangat tahu bagaimana kasih sayang seorang ibu kepada anaknya yang mungkin tidak ada tandingannya di dunia ini, akan tetapi kita sangat perlu tahu bahwa kasih sayang Allah melebihi itu semua.

Perhatikan hadits berikut, Dari Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu , beliau menuturkan:

قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْيٍ فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنْ السَّبْيِ تَبْتَغِي إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ قُلْنَا لَا وَاللَّهِ وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

Artinya : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memperoleh beberapa orang tawanan perang. Tiba-tiba ada seorang perempuan dari mereka mencari bayinya dalam kelompok tawanan itu, maka ia mengambil dan membuainya serta menyusuinya.

Melihat hal itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami:

‘Menurut kalian, apakah perempuan itu tega melemparkan bayinya ke dalam api? ‘ Kami menjawab; ‘Demi Allah, sesungguhnya ia tidak akan tega melemparkan anaknya ke dalam api selama ia masih sanggup menghindarkannya dari api tersebut.’

Lalu Rasulullah bersabda: “Sungguh, kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya melebihi kasih sayang perempuan itu terhadap anaknya.'” (Hadits Muslim Nomor 4947)

Apabila seorang Ibu tersebut tidak tega melempar anaknya ke dalam api, maka Allah tentu lebih tidak tega lagi melempar dan mencampakkan hamba-Nya ke dalam api neraka, akan tetapi apa yang terjadi? Hamba tersebut tidak mau mengenal Allah, tidak peduli kepada Allah dan agama-Nya, bahkan ia lari jauh dari Allah. Bagaimana Allah bisa sayang kepada hamba tersebut?

Kita diperintahkan untuk mengenal Allah dan “lari” menuju Allah. Allah berfirman,

فَفِرُّوا إِلَى اللهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

Artinya : “Maka segera berlarilah kalian (kembali) menuju Allah. Sungguh aku (Rasul) seorang pemberi peringatan yang nyata dari-Nya bagi kalian.” (QS. Adz-Dzaariyaat Ayat 50)

Baca : Pengertian & Penjelasan Walimatus Safar Haji atau Umroh

Hendaknya tidak terlalu yakin bahwa kita hamba kesayangan Allah

Maksudnya adalah jangan sampai kita tertipu dengan berbagai nikmat dan kemudahan yang diberikan oleh Allah di dunia ini. Hendaknya kita TIDAK HANYA bersandar dengan sifat “Allah sangat sayang kepada hamba-Nya” yang menyebabkan kita lupa dan lalai bahwa Alah juga memiliki azdab yang besar dan pedih.

Allah berfirman,

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ . وَ أَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الأَلِيمَ

Artinya: “Kabarkanlah pada para hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr Ayat 49-50).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menggambarkan bagaimana kasih sayang dan adzab Allah. Beliau bersabda,

لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الرَّحْمَةِ مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ

Artinya : “Seandainya orang mukmin mengetahui siksa Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya tidak ada seorang mukmin pun yang menginginkan surga-Nya. Dan seandainya orang kafir itu mengetahui rahmat Allah, maka niscaya tidak ada seorang kafir pun yang berputus asa untuk mengharapkan surga-Nya.” (Hadits Muslim Nomor 4948)

Hendaknya seorang muslim berhati-hati nikmat yang terus-menerus dan disertai keadaan tidak mengenal Allah bisa jadi adalah Istidraj (semacam jebakan). Istidraj yaitu Allah berikan dunia kepada seorang hamba, ia hanya bersenang-senang saja akan tetapi hakikatnya Allah sudah tidak peduli kepadanya. Ia hanya akan menunggu balasannya di hari kiamat dan hanya “bersenang-senanglah” sebentar saja.

Contoh Istidraj misalnya seorang hamba memiliki bisnis yang lancar dan omset yang terus meningkat, akan tetapi ia melalaikan shalat. Seorang wanita yang karir dan jabatan terus naik meninggi, akan tetapi ia tidak memakai hijab. Bagaikan seorang ibu yang memberikan gadget pada anak kecilnya kemudia ia berkata “mainlah sepuas nak, seharian”.

Inilah Bukti Kasih Sayang Allah Terhadap Hambanya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai istidraj,

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

Artinya : Bila engkau melihat Allah Ta’ala memberi hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan) dari Allah.” (HR. Ahmad, lihat Shahihul Jami’ no. 561)

Baca : Bacaan Doa Ketika Keadaan Marah Serta Penjelasannya

Demikian juga istidraj dalam ayat berikut yang disebut dengan makar Allah,

أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Artinya : “Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf Ayat 99)

Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Qar’awi menjelaskan,

مكر الله: هو استدراج العاصي بالنعم… حيث إنهم لم يُقدِّروا الله حق قدره، ولم يخشوا استدراجه لهم بالنعم وهم مقيمون على معصيته حتى نزل بهم سخط الله، وحلت بهم نقمته

Artinya : “Makar Allah adalah istidraj bagi pelaku maksiat dengan memberikan kenikmatan/kebahagiaan… mereka tidak memuliakan Allah sesuai dengan hak-Nya. Mereka tidak merasa khawatir [tenang-tenang saja] dengan istidraj [jebakan] kenikmatan-kenikmatan bagi mereka, padahal mereka terus-menerus berada dalam kemaksiatan sehingga turunlah bagi mereka murka Allah dan menimpa mereka azab dari Allah.”(Al-Jadid fii Syarhi Kitabit tauhid hal. 306, Maktabah As-Sawadi)

Demikian ulasan singkat tentang Inilah Bukti Kasih Sayang Allah Terhadap Hambanya. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

Inilah 15 Keutamaan Mempelajari Tauhid Menurut Islam

Inilah 15 Keutamaan Mempelajari Tauhid Menurut Islam

Inilah 15 Keutamaan Mempelajari Tauhid Menurut Islam – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Tauhid. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan beberapa keutamaan tauhid menurut islam dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih lengkapnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini dengan seksama.

Inilah 15 Keutamaan Mempelajari Tauhid Menurut Islam

Tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata:

“Makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya” (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39).

Dari makna ini sesungguhnya dapat dipahami bahwa kasih sayang Allah kepada hambaNya dan banyak hal yang dijadikan sesembahan oleh manusia, bisa jadi berupa Malaikat, para Nabi, orang-orang shalih atau bahkan makhluk Allah yang lain, namun seorang yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan saja. Sebab itu, perlu untuk memahami apa saja pentingnya mengerti tentang tauhid.

  1. Tauhid adalah Ilmu yang Paling Utama

Banyak orang yang mengaku Islam. Namun jika kita tanyakan kepada mereka, apa itu tauhid, bagaimana tauhid yang benar, maka sedikit sekali orang yang dapat menjawabnya, padahal seharusnya mereka mengetahui tentang pentingnya mengenal Allah. Sungguh ironis melihat realita orang-orang yang mengidolakan artis-artis atau pemain sepakbola saja begitu hafal dengan nama, hobi, alamat, sifat, bahkan keadaan mereka sehari-hari. Di sisi lain seseorang mengaku menyembah Allah namun ia tidak mengenal Allah yang disembahnya.

Baca : Fiqih : Sunnah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan

Ia tidak tahu bagaimana sifat sifat Allah, tidak tahu nama-nama Allah, tidak mengetahui apa hak-hak Allah yang wajib dipenuhinya. Yang akibatnya, ia tidak mentauhidkan Allah dengan benar dan terjerumus dalam perbuatan syirik. Wal’iyydzubillah. Maka sangat penting dan urgen bagi setiap muslim mempelajari tauhid yang benar, bahkan inilah ilmu yang paling utama.

  1. Ilmu yang Paling Agung

“Sesungguhnya ilmu tauhid adalah ilmu yang paling mulia dan paling agung kedudukannya. Setiap muslim wajib mempelajari, mengetahui, dan memahami ilmu tersebut, karena merupakan ilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentang nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan hak-hak-Nya atas hamba-Nya.” (Syarh Ushulil Iman, 4)

  1. Memahami Makna Agama yang Dalam

Tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata:

“Makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya” sehingga akan mengerti mengenai sifat orang bertaqwa agar dicintai Allah. (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39)

  1. Menjadikan Yakin akan Ciptaan Allah

Tauhid membuat meyakini kekuasaan Allah dalam mencipta dan mengatur alam semesta sehingga membuat manusia melakukan cara agar tetap istiqomah di jalan Allah, misalnya meyakini bumi dan langit serta isinya diciptakan oleh Allah, Allahlah yang memberikan rizqi, Allah yang mendatangkan badai dan hujan, Allah menggerakan bintang-bintang, dll. Sebagaimana dijelaskan di dalam Al Qur’an:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ

Artinya : “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan Mengadakan gelap dan terang.” (QS. Al An’am Ayat 1)

Baca : Pengertian Nifaq, pembagian dan hukumnya (Lengkap)

  1. Petunjuk untuk Hanya Menyembah Allah

Tauhid rububiyyah ini diyakini semua orang baik mukmin, maupun kafir, sejak dahulu hingga sekarang. Bahkan mereka menyembah dan beribadah kepada Allah. Hal ini dikhabarkan dalam Al Qur’an:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

Artinya : “Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan mereka?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’.” (QS. Az Zukhruf Ayat 87)

  1. Tauhid Berisi Tentang Islam Sejak Dulu

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

Artinya : “Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan langit dan bumi serta menjalankan matahari juga bulan?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ ”. (QS. Al Ankabut Ayat 61)

Oleh karena itu kita dapati ayahanda dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bernama Abdullah, yang artinya hamba Allah. Padahal ketika Abdullah diberi nama demikian, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tentunya belum lahir.

  1. Mencegah dari Kufur

Adapun yang tidak mengimani rububiyah Allah adalah kaum komunis atheis. Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:

“Orang-orang komunis tidak mengakui adanya Tuhan. Dengan keyakinan mereka yang demikian, berarti mereka lebih kufur daripada orang-orang kafir jahiliyah” (Lihat Minhaj Firqotin Najiyyah)

  1. Menjadikan Allah Sebagi Sesembahan Lahir Batin

Tauhid Uluhiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam segala bentuk peribadahan baik yang zhahir maupun batin (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17). Dalilnya yaitu dalam surat al fatihah ayat 5:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya : “Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan” (Al Fatihah Ayat 5)

  1. Mengetahui Apa Saja Hal Hal yang Dicintai Allah

Apa maksud ‘yang dicintai Allah’? Yaitu segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, segala sesuatu yang dijanjikan balasan kebaikan bila melakukannya. Seperti shalat, puasa, bershodaqoh, menyembelih. Termasuk ibadah juga berdoa, cinta, bertawakkal, istighotsah dan isti’anah. Maka seorang yang bertauhid uluhiyah hanya meyerahkan semua ibadah ini kepada Allah semata, dan tidak kepada yang lain.

Baca : Pengertian Ibadah, Syarat, Keutamaannya Dalam Islam

  1. Inti dari Ajaran Rasulullah

Inti dari ajaran para Nabi dan Rasul seluruhnya, mendakwahkan tauhid uluhiyyah. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Artinya : “Sungguh telah kami utus Rasul untuk setiap uumat dengan tujuan untuk mengatakan: ‘Sembahlah Allah saja dan jauhilah thagut‘.” (QS. An Nahl Ayat 36)

  1. Petunjuk Jihad di Jalan Allah

Syaikh DR. Shalih Al Fauzan berkata:

“Dari tiga bagian tauhid ini yang paling ditekankan adalah tauhid uluhiyah. Karena ini adalah misi dakwah para rasul, dan alasan diturunkannya kitab-kitab suci, dan alasan ditegakkannya jihad di jalan Allah. Semua itu adalah agar hanya Allah saja yang disembah, dan agar penghambaan kepada selainNya ditinggalkan” (Lihat Syarh Aqidah Ath Thahawiyah).

  1. Mengetahui Nama dan Sifat Allah

Tauhid Al Asma’ was Sifat adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Cara bertauhid asma wa sifat Allah ialah dengan menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi diriNya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari diriNya, dengan tanpa tahrif, tanpa ta’thil dan tanpa takyif (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul).

  1. Mengetahui Detail Mengenai Makna Asmaul Husna

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا

Artinya : “Hanya milik Allah nama-nama yang husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya.” (QS. Al A’raf: 180)

Tahrif adalah memalingkan makna ayat atau hadits tentang nama atau sifat Allah dari makna zhahir-nya menjadi makna lain yang batil. Sebagai misalnya kata ‘istiwa’ yang artinya ‘bersemayam’ dipalingkan menjadi ‘menguasai’.

  1. Menjauhi dari Penyimpangan Agama

Ta’thil adalah mengingkari dan menolak sebagian sifat-sifat Allah. Sebagaimana sebagian orang yang menolak bahwa Allah berada di atas langit dan mereka berkata Allah berada di mana-mana. Takyif adalah menggambarkan hakikat wujud Allah. Padahal Allah sama sekali tidak serupa dengan makhluknya, sehingga tidak ada makhluk yang mampu menggambarkan hakikat wujudnya. Misalnya sebagian orang berusaha menggambarkan bentuk tangan Allah,bentuk wajah Allah, dan lain-lain.

Inilah 15 Keutamaan Mempelajari Tauhid Menurut Islam

  1. Mencegah Kesalahan dalam Pemahaman Mengenai Islam dan Allah

Adapun penyimpangan lain dalam tauhid asma wa sifat Allah adalah tasybih dan tafwidh. Tasybih adalah menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya. Padahal Allah berfirman yang artinya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya : “Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syura Ayat 11)

Kemudian tafwidh, yaitu tidak menolak nama atau sifat Allah namun enggan menetapkan maknanya. Misalnya sebagian orang yang berkata ‘Allah Ta’ala memang ber-istiwa di atas ‘Arsy namun kita tidak tahu maknanya. Makna istiwa kita serahkan kepada Allah’. Pemahaman ini tidak benar karena Allah Ta’ala telah mengabarkan sifat-sifatNya dalam Qur’an dan Sunnah agar hamba-hambaNya mengetahui.

Dan Allah telah mengabarkannya dengan bahasa Arab yang jelas dipahami. Maka jika kita berpemahaman tafwidh maka sama dengan menganggap perbuatan Allah mengabarkan sifat-sifatNya dalam Al Qur’an adalah sia-sia karena tidak dapat dipahami oleh hamba-Nya.

Sekarang dapat dipahami bahwa dengan mempelajari tauhid membuat kita menjadi lebih mengerti apa yang benar dan apa yang salah sehingga mencegah dari sesuatu yang menyimpang dari agama islam. Tauhid memberi petunjuk mengenai jalan yang benar dari semuanya yakni mengenai agama islam secara umum dan detail, mengenai Allah dan segala sifat serta kebaikanNya serta mengenai segala yang ada di dunia ini yang tentunya bermanfaat untuk kehidupan umat islam secara keseluruhan agar jauh dari jalan yang sesat.

Jadi, jangan malas untuk mempelajari mengenai tauhid ya sobat, daripada mengisi waktu dengan hal hal yang tidak bermanfaat, lebih baik mengisi dengan urusan yang baik dan mendatangkan keberkahan dunia akherat.

Demikian artikel tentang Inilah 15 Keutamaan Mempelajari Tauhid Menurut Islam. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.