√ Periodisasi Sejarah Dalam Islam Yang Perlu Kita Ketahui Lengkap

Periodisasi Sejarah Dalam Islam Yang Perlu Kita Ketahui Lengkap – Pada kesempatan ini menjelaskan tentang Periodisasi Sejarah Islam. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan berbagai periodisasi tentang sejarah islam hingga sekarang dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini.

Periodisasi Sejarah Dalam Islam Yang Perlu Kita Ketahui Lengkap

Dalam jurnal tentang “Periodesasi Sejarah Pemikiran Dalam Dunia Islam”,dikutip oleh Munawir Sazali. Bahwa pemikiran Islam dapat diartikan sebagai aktivitas berpikir yang dilakukan oleh umat muslim dan mengacu pada sumber – sumber utama ajaran islam. Dengan demikian nantinya akan menghasilkan tafsir fiqh, tasawuf, falsafah dan lain – lain.

Periodisasi Tentang Sejarah Islam

Hasil pemikiran Islam ini berkembang seiring zaman. Tentu, pemikiran Islam, memiliki karakteristiknya masing – masing di setiap zaman. Periodesasi sejarah Islam penting untuk dilakukan dan dikaji, agar dapat membedakan dengan mudah, karakteristik – karakteristik pemikiran yang dimaksud di setiap zaman, serta lebih sistematis.

Periodesasi tentang sejarah Islam menurut Harun Nasution, dibagi menjadi tiga: periode klasik (650 – 1250 Masehi), pertengahan (1250 – 1800 M), dan modern (1800 – sekarang). Periode klasik dibagi lagi menjadi masa kemajuan Islam 1 (650-1000 M) dan masa Disintegrasi (1000-1250 M).

Namun, perlu diketahui, para sejarawan memiliki perbedaan pandangan mengenai dimulainya sejarah peradaban Islam.

Berikut perbedaan dimulainya sejarah peradaban Islam

  1. Permulaan sejarah ketika Nabi Muhammad SAW diutus untuk menjadi Rasul di Mekah.

Hal ini dikarenakan sudah terbentuk masyarakat Muslim, meskipun belum berdaulat. Namun, merekalah yang menjadi pendukung negara Madinah terbentuk.

  1. Permulaan sejarah adalah ketika negara Madinah sudah berdaulat.

Pendapat ini dirasa memiliki kelemahan, karena batas wilayah administratif cenderung tidak tetap.

Periodisasi Sejarah Islam Klasik, Pertengahan dan Modern

Sebelum membahas periodesasi sejarah Islam Klasik, Pertengahan, dan Modern, akan dibahas singkat mengenai masyarakat Arab pra Islam. Masyarakat Arab pra Islam adalah masyarakat yang memiliki bermacam – macam agama, adat – istiadat, akhlak dan peraturan hidup.

Begitu pun Islam yang diturunkan untuk mengatur segala aspek kehidupan manusia. Namun, peraturan dan hukum – hukum Islam banyak berbeda dengan agama lain yang telah dianut masyarakat Arab pra Islam, sehingga menimbulkan banyak perlawanan.

Sebelum diturunkannya awal kesempurnaan Islam di Gua Hira kepada Nabi Muhammad SAW, di sekitar Laut Tengah (Mediterania) abad ke-6 masehi, ada dua kekaisaran adidaya, yaitu Kekaisaran Romawi dan Persia. Sejak abad ke-6, laut Mediterania telah menjadi tempat persilangan dimana perebutan pengaruh dan budaya etnis dan agama terjadi.

Berikut Periodisasi Sejarah Islam

  1. Periodesasi Sejarah Islam Klasik

Periode ini dimulai sejak zaman Rasulullah Saw. hingga Dinasti Abbasiyah. Sejak kecil, Rasulullah dikenal sebagai orang yang berbudi pekerti luhur. Beliau tidak pernah ikut – ikutan kebiasaan buruk masyarakat kala itu, seperti minum khamr dan berjudi. Karena itulah Rasulullah Saw. diberi julukan al-Amin, yang artinya orang yang dipercaya.

Ketika Rasulullaah di Mekah, dakwah fokus ke pengajaran tauhid, baru setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah Saw. membina masyarakat dengan membangun tauhid. Masyarakat Madinah lebih demokratis dibanding dengan masyarakat Mekah.

Hal ini dibuktikan dari diadakannya Piagam Madinah. Ringkasan isi Piagam Madinah oleh Syalabi yaitu:

  • Pengakuan terhadap hak pribadi, keagamaan dan politik
  • Terjaminnya kebebasan beragama
  • Membantu secara moril dan materiil adalah kewajiban penduduk Madinah, baik itu Muslim, Yahudi maupun Nasrani
  • Pemimpin tertinggi Madinah adalah Nabi Muhammad Saw.

Setelah Rasulullah Saw. wafat, tonggak kepemimpinan dilanjutkan oleh al-Khulafa al-Rasyidin. Mereka juga membuat dasar – dasar pemerintahan yang demokratis, membentuk departemen – departemen, dan jabatan lain untukmengurus urusan publik.

Dinasti Umayyah berdiri tahun 661 masehi di Damaskus, oleh Muawiyah bin Abu Sufyan. Pada masa ini, kekuasaan Islam sangat luas, meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Irak, Jazirah Arab, Persia, sebagian Asia Kecil, Pakistan, Afganistan, Purkmenia, Kirgiztan, dan Uzbekistan.

Selain memperluas wilayah, Dinasti Umayyah juga banyak melakukan perkembangan di bidang pembangunan dan ilmu pengetahuan. Tokoh – tokoh intelektual pada Dinasti Umayyah di antaranya al-Khalil bin Ahmad, Sibawaih, Hasan al-Basri, dan Ibnu Syihab az-Zuhri.

Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas, dan berlangsung pada 750-1258 masehi. Dinasi Abbasiyah berdiri setelah memenangkan pertarungan dengan Dinasti Umayyah.

Dapat dikatakan bahwa pada masa ini, umat Islam berada pada puncak daya cipta, penalaran, dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi, yang nantinya akan menjadi referensi peradaban Barat.

Rumah sakit – rumah sakit juga didirikan dengan menggunakan kekayaan negara, begitu juga pendidikan kedokteran, farmasi, perpustakaan, dan pusat penerjemah.

Tokoh – tokoh intelektual pada masa Dinasti Abbasiyah di antaranya adalah al-Kindi, ar-Razi, al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawih, dan al-Ghazali.

Kemudian beralih ke masa Disintegrasi, di mana negara yang letaknya jauh dari pusat pemerintahan, perlahan – lahan melepaskan diri dan muncul dinasti – dinasti kecil.

  1. Periodesasi Sejarah Islam Pertengahan

Periode sejarah Islam pertengahan dimulai pada abad ke-13 hingga abad ke-18, atau sekitar tahun 1250 – 1800 masehi.

Akhir abad ke-18 menjadi masa kegelapan dunia Islam disebabkan jatuhnya imperium – imperium kesultanan dan perebutan kekuasaan. Selain itu, juga terjadi karena perkembangan sains dan teknologi yang stagnan.

Perkembangan sains dan teknologi yang stagnan, menurut Umer Chapra disebabkan oleh tiga faktor, yaitu:

  1. Dukungan finansial dari negara yang menurun
  2. Sektor swasta tidak berdaya menanggung beban pendidikan
  3. Para rasionalis yang memaksa masyarakat untuk memasukkan pandangan mereka yang notabene bertentangan.

Buku yang ditulis al-Ghazali dan Ibnu Rusyd adalah bukti perdebatan mengenai akal dan wahyu.

  1. Periodesasi Sejarah Islam Modern

Periode sejarah peradaban Islam modern dimulai pada abad ke-18 hingga abad ke-20. Pada periode ini, banyak tokoh muslim yang kemudian sadar, atas sifat jumud pada umat Islam. tokoh – tokoh itu berupaya untuk membawa Islam bangkit kembali. Tokoh – tokoh itu di antaranya Jamaluddin a-Afghani (1839) dan Muhammad Abduh (1849).

Menurut sejarah, awal kebangkitan Islam adalah ketika Napoleon Bonaparte bersama pasukannya mendarat di lembah Sungai Nil pada abad ke-18, atau sekitar tahun 1798 masehi. peristiwa itu menjadi awal dunia Islam mengenal modernitas.

Periodisasi Sejarah Pendidikan Islam

Periodesasi sejarah pendidikan Islam memiliki korelasi dengan periodesasi sejarah peradaban Islam. Dra. Zuhairini, MA, membagi periode tersebut ke dalam lima periode, yaitu:

  1. Pada zaman Nabi Muhammad Saw

Merupakan periode di mana Rasulullah Saw melakukan pembinaan pendidikan Islam.

  1. Periode pertumbuhan pendidikan Islam

Berlangsung sejak zaman Rasulullah Saw. hingga Dinasti Umayyah, periode ini ilmu – ilmu naqliyah berkembang.

  1. Periode kejayaan pendidikan Islam

Berlangsung sejak berdirinya Dinasti Abbasiyah hingga runtuhnya Baghdad. Periode ini ilmu aqliyah berupa ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang serta banyak madrasah yang didirikan.

  1. Periode kemunduran pendidikan Islam

Periode ini terjadi sejak runtuhnya Baghdad hingga keruntuhan Mesir oleh Napoleon Bonaparte. Akhirnya banyak warisan budaya dan ilmu pengetahuan berpindah ke dunia Barat

  1. Periode pembaharuan pendidikan Islam

Ditandai dengan didudukinya Mesir oleh Napoleon Bonaparte. Inilah awal Islam bangkit dari masa kelam.

Selain itu juga ada pendapatan dari tokoh yang lain. Pendapat itu dari Prof. Dr. Hasan Langgulung yang membagi periodesasi pendidikan Islam menjadi empat periode.

Periode Islam menurut Prof. Dr. Hasan Langgulung

  • Zaman Pembinaan Awal
  • Zaman Keemasan
  • Zaman Kemerosotan
  • Zaman Baru

Dengan berberapa tahapan-tahapan sejarah Islam yang terjadi selama proses penyebaran Islam di dunia. islam adalah agama yang termasuk cepat dan luas penyebarannya ke seluruh pelosok dunia.

Demikian informasi tentang Periodisasi Sejarah Dalam Islam Yang Perlu Kita Ketahui Lengkap. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengatahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Sejarah Ilmuwan Islam yang Berpengaruh Di Dunia (Bahas Lengkap)

Sejarah Ilmuwan Islam yang Berpengaruh Di Dunia (Bahas Lengkap) – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Sejarah Ilmuwan Islam. Yang dalam pembahasan kali ini menjelaskan beberapa tokoh sejarah ilmuwan islam yang berpengaruh di dunia dengan secara singkat dan jelas. Nah, untuk mengenal lebih jauh tentang ilmuan-ilmuan tersebut, yuk simak ulasan berikut ini.

Sejarah Ilmuwan Islam yang Berpengaruh Di Dunia (Bahas Lengkap)

Tidak dapat di pungkiri, di masa lalu, Islam pernah menjadi penguasa Iptek di belahan bumi ini. Ada banyak juga mengenai sejarah Ilmuwan Islam yang tercatat sejauh dari zaman awal Islam hingga sekarang. Di Indonesia pun ada banyak daftar ilmuan yang berpengaruh di dunia.

Sejarah Ilmuwan Islam yang Berpengaruh Di Dunia

Dalam sepanjang sejarah Islam ada banyak sekali ilmuwan bermunculan. Apalagi saat Islam menjadi kiblat ilmu pengetahuan di era pertengahan. Berikut beberapa ilmuwan islam yang berpengaruh di dunia.

  1. Muhammad Abu Musa Al-Khawarizmi

Jika di tanya siapa ahli matematika, tentu saja Al-Khawarizmi adalah jawaban yang sudah banyak di kenal. Selain ahli bidang Matematika, ternyata beliau juga menguasai bidang Astronomi dan geografi. Nah, ilmuan dari Iran ini sering di sebut juga dengan bapa Algreba.

  1. Ibnu Sina

Jika berbicara mengenai ilmuan Islam dan temuannya, tentu saja Ibnu Sina merupakan orang yang sangat berhubungan dengan hal ini. Beliau adalah seorang ahli bidang kedokteran, filsafat, sains dan masih banyak lagi keahliannya yang begitu mumpuni. Beliau juga di kenal dengan nama Avicena.

  1. Ibnu Haitam

Ibnu Haitam adalah seorang ahli dan ilmuan muslim di bidang optik. Salah satu penemuan besarnya adalah konsep kamera yang tentu saja saat ini sudah sangat berkembang dan banyak di butuhkan. Bahkan, selain bidang tersebut masih ada lagi beberapa bidang yang di kuasainya.

  1. Aljazari

Kalau sebelumnya Ibnu Haitam ahli bidang optik, ilmuan yang satu ini lebih cenderung ke bidang robotika, mekanika dan fluida. Salah satu penemuannya adalah jam gajah. Beliau jugalah yang menemukan konsep robotika modern.

  1. Abu Qasim Al- Zahrawi

Ilmuan yang satu ini merupakan tokoh yang sangat mumpuni di bidang kedojteran, medis, ahli tulang dan ahli bedah. Dan diantara penemuan-penemuannya di bidang tersebut adalah alat bedah serta benang cutgut.

  1. Ar-Razi

Ar-Razi merupakan salah satu pakar muslim di Iran yang juga ahli di bidang kesehatan. Bidang yang di kuasainya adalah penyakit seperti demam, cacar. Alergi asma dan masih banyak lagi.

  1. Jabir Bin Hayyan

Jabid merupakan salah satu tokoh ilmuan Islam dan penemuannya berupa ilmu kimia. Beliau sendiri di Barat di kenal dengan nama Gebert. Dan selain bidang kimia, beliau juga merupakan ahli fisika, logika, mekanika, kedokteran dan masih banyak lagi.

  1. Al-Kindi

Alkindi tentu saja tidak kalah terkenal dari banyak ilmuan lainnya, Beliau merupakan seorang ahli di bidang kedokteran, logika, musik, fisika dan masih banyak lagi. Beliau juga pengarang buku hebat karena setidaknya ada 270 buku yang pernah di karangnya.

  1. Al-Biruni

Tidak jauh berbeda dari Al-Kindi, nama albiruni juga sangatlah melambung tinggi. Beliau memiliki nama asli Abu Raihan Al-Biruni. Sejauh ini ada banyak sekali ilmu yang di kuasainya termasuk ilmu matematika dan ilmu astronomi.

  1. Piri Rais

Kalau ilmuan yang satu ini merupakan peneliti peta dunia dan geografi. Beliau sempat membuat moderl pemetaan menarik yang membuat para ahli satelit keheranan.

Ilmuan Muslim Modern

Jika sebelumnya yang di bahas adalah banyak ilmuan Islam sepanjang sejarah, lalu bagaimana dengan ilmuwan Islam di era modern ini? Perlu di ketahui bahwa ada banyak ilmuwan Islam yang telah lahir matang di era ini. dan diantara nama-nama ilmuan islam modern ini ada nama Muhammad Abdus Salam. Beliau adalah orang pakistan dengan nobel fisikanya di tahun 1979.

Selanjutnya ada juga nama Aziz Sancer yang merupakan seorang pakar biologi molekuler asal Turki. Di tahun 2015, beliau juga berhasil meraih nobel dibidang kimia dengan karyanya. Karya tersebut berkaitan dengan DNA repair secara mekanik. Dan dari Pakistan sebenarnya ada satu nama lagi, yakni Ahmed Hassan Zewail seorang pakar sains Mesir dengan nobel bidang kimia di tahun 1999 nya.

Ilmuwan Muslim Indonesia

tidak hanya menyebar di seluruh dunia, namun tentu saja ada juga daftar ilmuwan muslim Indonesia. Dan berikut ini merupakan biografi ilmuan Islam Indonesia yang harus Anda ketahui. Diantaranya hadir dengan nama-nama berikut.

  1. Eniya Listiani Dewi

Di dunia Sains, mungkin nama ini tidak asing lagi. Beliau adalah salah satu ilmuan Muslim asal Indonesia yang menghabiskan masa pendidikan S1-S3 nya di Jepang. Sejauh ini sudah banyak sekali penghargaan yang di capainya. Dan diantara penemuan-penemuannya adalah ZAFC dan ThamrION.

  1. Ricky Elson

Ricky Elson tentu saja juga tidak kalah hebat. Dalam hal ini beliau memiliki kiprah yang cukup tinggi di dunia Sains. Beliau hidup selama belasan tahun di Jepang dan menghasilkan banyak sekali karya. Karya tersebut tentu saja sudah di patenkan atas nama beliau oleh NIDEC Corporation.

  1. Warsito Purwo Taruno

Beliau adalah seorang ilmuan muslim yang lahir di Karanganyar. Dia adalah seorang penemu ECVT sebagai salah satu teknologi deteksi mutakhir yang saat ini di manfaatkan oleh NASA. Bahkan, di bidang kesehatan beliau juga berhasil menemukan alat pemusnah kanker.

  1. Yogi Ahmad Erlangga

Ilmuwan yang satu ini merupakan ilmuan asal ITB yang akhrinya menyelesaikan gelar PhD nya di Belanda. Ketika masih kuliah di Belanda, berliau berhasil memecahkan rumus Helmholtz yang mana saat in sangat efektif dan cepat untuk pencarian minyak bumi hingga 100 kali lipat.

  1. Khoirul Anwar

Ilmuan Islam terakhir yang sangat berpengaruh di mata dunia selanjutnya adalah Khoirul Anwar. Beliau adalah muslim asal kediri yang berhasil menemukan teknologi 4G LTE. Sinyal ini jauh lebih cepat di bandingkan sinyal 3G dan saat ini semua masyarakat di seluruh dunia bisa merasakan betapa pentingnya penemuan tersebut.

Ilmuwan Muslim Wanita

Ada banyak juga tokoh wanita Islam yang merupakan Ilmuwan Islam wanita di sepanjang sejarah. Diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Al-‘Ijliya

Sejauh ini memang tidam banyak informasi yang menyatakan kisah Al-‘ijliya. Namun, tidak dapat di pungkiri bahwa dia adalah seorang ilmuan dalam Al- Fihrist di bagian informasi dan pembuat peralatan astronomi. Namanya merupakan salah satu dari 16 nama yang ada.

  1. Aishah Binti Abu Bakar

Selanjutnya, Istri Rasulullah yang satu ini tentu saja kecerdasannya sudah tidak dapat di ragukan lagi. Banyak sekali bidang yang di kuasainya. Katakan saja seperti bidang fiqh, bidang sya’ir bahkan bidang kedokteran. Beliau juga merupakan salah satu mufassir wanita kala itu.

  1. Rufaidah Binti Sa’ad

Jika di tanya siapa perawat dan ahli pengobatan wanita pertama di dunia, maka nama ini merupakan jawaban yang tepat. Beliau belajar berbagai teori tentang ilmu kedokteran secara langsung dari ayahnya yang merupakan dokter di Madinah. Akhirnya beliau pun menjadi seorang ahli penyembuh dengan banyak jasa.

Sejarah ilmuwan islam di dunia yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan islam di indonesia atau di dunia. Para ilmuwan tersebut berasal dari berbagai bidang kehidupan dan berpengaruh terhadap perkembangan dunia dari masa ke masa.

Demikian ulasan tentang Sejarah Ilmuwan Islam yang Berpengaruh Di Dunia (Bahas Lengkap). Semoga dapat memberikan manfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Perkembangan Universitas Islam Indonesia (Bahas Lengkap)

Perkembangan Universitas Islam Indonesia (Bahas Lengkap) – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Universitas Islam Indonesia. Pendidikan saat ini adalah hal yang sangat penting. Tidak hanya di mata Indonesia tapi juga di dunia. Di Indonesia sendiri ada banyak jenis perguruan tinggi yang memberikan fasilitas pendidikan dalam berbagai bidang.

Mulai dari PTN, PTKIN, hingga PTS. Dan jika ada PTKIN, tentu saja ada juga PTS yang basicnya agama Islam, salah satunya adalah Universitas Islam Indonesia.

Perkembangan Universitas Islam Indonesia (Bahas Lengkap)

Universitas Islam Indonesia atau biasa disebut UII banyak sekali menjadi rujukan calon mahasiswa baru. Baik yang di sekitar Yogyakarta maupun dari seluruh Indonesia.

Bahkan bisa di katakan sebagai pilihan terbaik ketika sudah tidak di terima di PTN. Lalu, apa saja yang di tawarkan di perguruan tinggi ini?

Sekilas Tentang Perkembangan Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Perguruan tinggi yang satu ini merupakan salah satu perguruan tinggi Islam yang terletak di Yogyakarta. Secara lebih singkat, Universitas tersebut sering di sebut dengan nama UII dengan kepanjangan Universitas Islam Indonesia.

Pada awal berdirinya, tentu saja namanya masih STI. Setelah memenuhi ketentuan yang berlaku, akhirnya pun berganti menjadi UII.

Perguruan tinggi ini bisa di katakan sebagai salah satu perguruan yang terbaik dengan prestasi yang sudah di raihnya. Hal ini di dasarkan pada hasil pemeringkatan 4ICU menyatakan bahwa Universitas Islam Indonesia Yogyakarta menempati peringkat pertama. Sedangkan di kancah Nasional, UII menempati peringkat ke 2 dengan akreditasi Institute nya adalah A.

Visi Dan Misi UII Yogyakarta

Setiap lembaga tentu saja memiliki visi maupun misinya masing-masing untuk mencapai tujuan berdirinya. Begitu juga dengan Universitas Islam yang satu ini. Dan untuk misinya secara umum adalah bisa terwujudnya Universitas Islam yang Rahmatan Lil ‘alami. Tentu saja di barengi pula dengan beberapa aspek penting lain di sampingnya.

Sedangkan untuk misinya adalah untuk menegakkan wahyu dan sunnah Nabi sebagai sumber kebenaran. Hal ini akan di wujudkan melalui pengembangan dan penyebaran IPTEK, budaya, seni dan sastra dengan berlandaskan ajaran dan jiwa keislaman. Tentu saja di lakukan pula dalam rangka membentuk cendekiawan muslim dengan jiwa kepemimpinan bangsa sebagai generasi berikutnya.

Daftar Fakultas Dan Jurusan Di UII

Berbicara lebih jauh tentang sebuah perguruan tinggi, tentu saja yang sangat penting di ketahui lebih dalam adalah tentang fakultas dan jurusannya. Sedangkan di salah satu Universitas Islam terbaik di Indonesia tingkat swatsa ini setidaknya ada 8 fakultas dengan beragam jurusan yang di sediakannya. Berikut daftar lebih lanjutnya ada di bawah ini.

  1. Fakultas Ekonomi

Di berbagai universitas, tentu saja tidak asing lagi jika fakultas ekonomi adalah salah satu fakultas yang banyak sekali peminatnya, Dan untuk UII ini di fakutas ekonomi ada banyak sekali jurusan yang bisa di pilih. Mulai dari manajemen, akuntansi dan Ilmu Ekonomi. Di jenjang s2 dan s3 pun ada jurusan manajemen.

  1. Fakultas Hukum

Kalau untuk fakultas hukum, mungkin tidak seramai fakultas Ekonomi sekalipun masih tergolong cukup banyak peminatnya. Sedangkan untuk jurusan yang tersedia di sini adalah Ilmu hukum untuk jenjang S1, S2 dan S3.

  1. Fakultas Ilmu Agama Islam

Namanya juga Universitas Islam Indonesia, tentu saja ada fakultas Ilmu agama Islam yang bisa di temui di sana. Sedangkan jurusan yang tersedia di sini diantara adalah pendidikan Islam, Hukum Islam, ekonomi Islam dan S2 Agama Isalm. Seluruhnya telah terakreditasi A, kecuali untuk jurusan ekonomi Islam.

  1. Fakultas kedokteran

Di Universitas Islam Indonesia fakultas kedokteran, hanya ada satu jurusan saja yang teredia di UII ini, yakni pendidikan dokter.

  1. Fakultas Matematika dan IPA

Fakultas yang satu ini mungkin juga cukup menarik. Sedangkan jurusan di bidang ini pun cukup banyak. Diantaranya adalah statistika, Ilmu Kimia, farmasi, profesi apoteker, dan kimia analisis khusus untuk jurusan D3.

  1. Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya

Kalau di bidang yang lebih mengarah pada kehidupan sehari-hari ini, jurusan yang tersedia di UII adalahPsikologi, ilmu komunikasi, program pendidikan bahasa Inggris, program hubungan internasional dan di jenjang S2 tersedia juga jurusan Psikologi.

  1. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan

Bidang teknik tentu saja juga merupakan salah satu bidang yang cukup menarik. Dan di bidang ini terdaoat beberapa jurusan. Diantaranya adalah teknik sipil, arsitektur, teknik lingkungan dan magister teknik sipil.

  1. Fakultas Teknologi Industri

Daftar fakultas terakhir di sini adalah teknologi Industri. Sedangkan jurusan Universitas Islam Indonesia yang di tawarkan di fakultas ini cukup banyak. Diantaranya adalah teknik kimia, teknik industri, teknik informatika, teknik elektro, dan teknik mesin untuk jenjang pendidikan S1. Sedangkan di jenjang S2 tersedia teknik industri dan teknik informatika.

Program Beasiswa yang Bisa di Peroleh di UII

Tidak dapat di pungkiri bahwasanya biaya sekolah bukanlah jumlah yang sedikit. apalagi di universitas sekelas UII ini. Namun, jangan khawatir karena di sini ada banyak sekali beasiswa yang bisa di peroleh setiap mahasiswanya. Jadi, jika memang memiliki kemampaun yang cukup, jangan ragu daftar di sini dan dapatkan beasiswa untuk menunjang kebutuhan finansial.

Sedangkan untuk daftar beasiswanya, yang pertama dalah beasiswa tahfidz qur’an yang berlaku bagi setiap mahasiswa penghafal al-qur’an. Berlaku juga beasiswa unggulan dan bantuan biaya pendidikan bidikmisi. Beasiswa bidikmisi ini berlaku bagi orang-orang yang kurang mampu. Dan yang terakhir adalah beasiswa mahasiswa unggulan pondok pesantren UII.

Universitas Islam Indonesia Fakultas Kedokteran

Salah satu fakultas yang cukup tergolong bergengsi di dunia pendidikan ini adalah fakultas kedokteran. Fakultas ini tidak hanya tempatnya orang-orang cerdas dengan kemampuan yang mumpuni, tetapi juga terkenal begitu tinggi biayanya. Baik untuk baiya masuk, maupun biaya SPP. Namun, untuk hasilnya, tentu saja tidak membohongi setelah mahasiswanya lulus nanti.

Di Universitas Islam Indonesia fakultas kedokteran pun tersedia sebagaimana di sebutkan di atas. Namun, hanya ada satu jurusan yang bisa Anda dalami di sini jika sudah masuk ke fakultas kedokteran. Jurusan tersebut adalah pendidikan dokter. Namun, meski hanya satu, jangan salah karena akreditasinya sudah A. Jadi, jika Anda memilih masuk di sini tentu sangat recommended.

Prestasi Besar Yang Berhasil Di Raih Mahasiswa UII

Kemajuan tinggi perguruan tinggi, yang bisa di klaim sebagai perguruan tinggi terbaik dalam beberapa event bergengsi, tentu saja tidak lepas pula dari prestasi-prestasi yang sudah di raih mahasiswanya. dan prestasi yang sudah di raihnya tersebut bahkan tidak terbatas untuk kompetisi di dalam negeri saja, melainkan di luar negeri yang jelas tarafnya sudah internasional.

Baru-baru ini mahasiswa UII berhasil meraih 3 penghargaan penting di Rumania, oleh mahasiswa teknik lingkungan. Di sini mereka berhasil bersaing dan memenangkan beberapa kategori. padahal pesaingnya adalah orang-orang hebat. Banyak penemu, peneliti, insinyur dan sejenisnya yang ikut dalam kompetisi ini. Tentu saja prestasi ini sangat menakjubkan untuk UII.

Demikian ulasan tentang Perkembangan Universitas Islam Indonesia (Bahas Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan memberikan motivasi untuk semangat menuntut ilmu. Terimakasih.

√ Inilah Permulaan Asal Usul Agama Islam (Pembahasan Lengkap)

Inilah Permulaan Asal Usul Agama Islam (Pembahasan Lengkap) – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Permulaan Agama Islam. Yang mana menjelaskan asal usul permulaan agama islam dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan berikut ini.

Inilah Permulaan Asal Usul Agama Islam (Pembahasan Lengkap)

Berbicara tentang asal usul agama Islam, tidak dapat hanya dengan mengaitkannya dengan kehidupan Nabi Muhammad Saw. Peristiwa turunnya wahyu pertama kali, kepada Nabi Muhammad Saw., di Gua Hira, bukanlah awal dari munculnya agama Islam.

Dalam kajian yang dijelaskan oleh Cak Nun dan Kiai Kanjeng, bahwa peristiwa tersebut bukanlah awal dari munculnya agama Islam, melainkan awal dari kesempurnaan Islam.

Hal itu merupakan penjelasan yang sangat masuk akal, karena para nabi dan rasul sebelumnya, bukan berarti tidak Islam. Pun Rasulullah Saw. bukan berarti tidak Islam sebelum menerima wahyunya.

Padahal Rasulullah SAW. sebelumnya, sudah menjadi manusia yang kamil, manusia yang sempurna. Allah juga tidak mungkin menciptakan sesuatu yang sifatnya tidak Islam. Kun, maka Islam berlangsung, baik di bumi, di langit, maupun di antaranya. Segalanya. Islam bukanlah benda, melainkan perilaku. Perilaku agar selamat di depan Allah SWT.

Sejarah Lahirnya Agama Islam di Arab

Masih sama dengan penjelasan singkat yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa peristiwa turunnya wahyu pertama, adalah awal dari kesempurnaan Islam. Jadi penjelasan selanjutnya bukanlah sejarah lahirnya agama Islam di Arab, melainkan sejarah awal kesempurnaan agama Islam di Arab.

Jadi, dapat diartikan, bisa jadi Islam telah ada di wilayah yang lain, walau belum sempurna. Perlu kita ingat, bahwa jumlah nabi sangatlah banyak.

Sejarah awal kesempurnaan agama Islam di Arab, adalah dimulai sejak Nabi Muhammad Saw. mendapatkan wahyu pertama di Gua Hira, pada 17 Ramadhan tahun 13 sebelum hijriyah, atau lebih tepatnya pada tanggal 6 Agustus 610 masehi. Kalam Allah yang pertama turun, melalui malaikat Jibril, adalah Surat al-Alaq ayat 1 sampai dengan 5. Iqra, bacalah.

Sepulang dari Gua Hira, Nabi Muhammad SAW. menceritakan tentang apa yang telah dialami kepada Khadijah. Setelah Rasulullah Saw. tenang, Khadijah pergi untuk menemui salah satu keluarganya, yaitu Waraqah, paman Khadijah, untuk menceritakan dan menanyakan perihal apa kira – kira yang terjadi. Waraqah sendiri adalah seorang Nasrani dan memiliki banyak pengetahuan tentang naskah kuno.

Dari keterangan Waraqah, dapat disimpulkan bahwa yang datang itu adalah Namus, sebutan lain Jibril. Waraqah juga memberi tahu Khadijah, bahwa akan datang masa ketika suaminya akan diusir dari kampungnya sendiri. Surat al-Muddatsir turun, ketika Rasulullah Saw. sedang tidur. Sejak saat itu, dimulailah dakwah Rasulullah Saw. untuk menyebarkan agama Islam.

Asal Usul Agama Islam di Indonesia

Seperti yang sudah disampaikan di banyak literatur, bahwa ada tiga teori asal usul agama Islam di Indonesia, yaitu teori Gujarat, Persia, dan Arab.

  1. Teori Gujarat

Dicetuskan pertama kali oleh Pijnappel, namun yang lebih terkenal adalah Snouck Hurgronje.

  1. Teori Persia

Hal yang menjadi sorotan dari teori ini adalah karena ada beberapa budaya yang sama dengan Persia. Seperti tradisi Tabut di Sumatera Barat untuk memperingati hari wafatnya cucu Rasulullah Saw., Hasan dan Husein. Di Persia juga ada tradisi ini, dan diperingati setiap tanggal 10 Muharam.

  1. Teori Arab

Pada dasarnya, teori ini menentang dua teori sebelumnya. Karena yang diyakini oleh teori ini, bahwa Islam masuk ke Indonesia sudah sejak sekitar abad ke-7, bukan abad ke-12 atau ke-13. Ada beberapa hal yang menjadi penguatnya, salah satunya adalah sumber dari literatur Cina, menyebutkan bahwa sudah berdirinya pekojan di pesisir pantai Sumatera menjelang seperempat abad ke-7.

Chiu T’hang Shu, kitab sejarah Cina, menyebutkan bahwa, Cina pernah kedatangan kunjungan diplomatik dari orang Arab (Tan mi mo ni’), yang berasal dari daulah islam kepemimpinan Utsman bin Affan.

Perjalanan – perjalanan ini sebenarnya telah dilakukan oleh para pengembara, pelayar, dan pedagang dari Arab maupun Timur Tengah, jauh sebelum penjelajah Eropa melakukan ekspedisinya. Biasanya, orang – orang Arab ini tidak hanya berlayar ke Cina, namun juga termasuk singgah di wilayah nusantara.

Beberapa catatan menyebutkan, duta – duta dari Timur Tengah, seperti duta dari Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, sempat mengunjungi wilayah Zabaj atau Sribuza. Zabaz atau Sribuza tak lain adalah Kerajaan Sriwijaya.

Aja’in al Hind, karya Buzurg bin Shahriyar al Ramhurmuzi, tahun 1000, menyebutkan bahwa sudah ada pekojan, atau perkampungan muslim, di wilayah Kerajaan Sriwijaya. Ternyata, Kerajaan Sriwijaya memiliki hubungan diplomatik dengan kekhalifahan, hingga masa khalifah Umar bin Abdul Azis.

Azyumardi Azra mengutip dari buku Al Iqd al Faris, karya Ibn Abd Al Rabbih, bahwa Sri Indravarman, sebagai raja Kerajaan Sriwijaya waktu itu, menuliskan surat kepada khalifah Umar bin Abdul Azis.

Intinya Sri Indravarman meminta untuk mengirimkan seseorang yang dapat mengajarkan kepadanya agama Islam beserta hukum – hukumnya. Hubungan diplomatik tersebut diperkirakan terjadi pada 100 hijriyah, atau pada tahun 718 masehi.

Selain Sriwijaya, daerah lain seperti Aceh dan Minangkabau, juga menjadi tempat untuk memperluas dakwah Islam. Pada periode ini, Islam tidak hanya sebatas masuk pada dunia perdagangan, namun juga merambah ke dunia politik dan tata negara. Seiring berdirinya Kerajaan Perlak dan Samudera Pasai.

Asal Usul Agama Islam di Jawa

Penyebaran agama Islam, tidak hanya berproses di Pulau Sumatera, melainkan juga terproses di tanah Jawa, dengan waktu yang kurang lebih bersamaan. Menurut Prof. Hamka, asal usul agama Islam di Jawa, yaitu ketika sahabat Rasulullah, yaitu Muawiyah bin Abu Sofyan, diam – diam melanjutkan perjalanannya hingga ke Jawa, di tengah misinya menjadi duta untuk Cina.

Beliau menyamar sebagai seorang pedagang dan melakukan pengamatan. Tempat yang didatangi kala itu adalah Kerajaan Kalingga. Sejak itu, agama Islam berproses, hingga ke masa Wali Songo. Wali Songo memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam di Jawa, terlebih lagi, dalam menanamkan pondasi pemerintahan Islam.

Selain Kerajaan Demak, yang kala itu menjadi kerajaan besar bercorak Islam di tanah Jawa, wilayah Giri di Gresik Jawa Timur yang dipimpin oleh Sunan Giri.

Keberadaan sunan Giri juga tidak dapat dilepaskan kontribusinya, dalam penyebaran agama Islam. Sunan Giri, atau Raden Paku, atau Maulana Ainul Yaqin ini, membangun wilayah Giri menjadi pusat dakwah dan tempat kader – kader pendakwah ditempa.

Begitu kuatnya pengaruh agama dari wilayah Giri, Kerajaan Majapahit yang saat itu menguasai tanah Jawa, tidak dapat menghapusnya. Selang waktu berlalu dan Majapahit melemah, Kerajaan Demak berdiri.

Bergiilir setelah Kerajaan Demak runtuh, berdirilah Kesultanan Pajang, yang kemudian jatuh ke Kerajaan Mataram.

Wilayah Giri tetap memiliki perannya sendiri, walaupun berdiri pemerintahan Islam yang baru. Saat Kerajaan Mataram dipimpin oleh Sultan Agung, kerajaan ini tidak lagi memegang prinsip Islam.

Sehingga membuat wilayah Giri menentukan sikap dan mendukung Bupati Surabaya berontak pada Kerajaan Mataram.

Kedatangan penjajah Belanda, membuat kekuatan Islam melemah. Walaupun demikian, Islam yang telah tertanam dengan semangat jihadnya di tanah Jawa, menggerakkan banyak perlawanan terhadap penjajah. Perlawanan ini tidak hanya terjadi di Jawa, namun juga terjadi di berbagai wilayah di nusantara.

Demikianlah ulasan tentang Inilah Permulaan Asal Usul Agama Islam (Pembahasan Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Proses Penyebaran Agama Islam Oleh Rasulullah SAW (Lengkap)

Proses Penyebaran Agama Islam Oleh Rasulullah SAW (Lengkap) – Adapun dalam proses Penyebaran Agama Islam Oleh Rasulullah SAW dibagi menjadi dua macam, yaitu dakwah secara sembunyi – sembunyi, dan secara terang – terangan. Pada awal – awal misi kenabian, Rasullullah Saw. mendakwahkan kalam Allah kepada orang – orang terdekat, seperti keluarga dan rekan – rekan.

Proses Penyebaran Agama Islam Oleh Rasulullah SAW (Lengkap)

Orang yang pertama kali mengikuti ajaran Rasulullah Saw adalah Khadijah, disusul kemudian sepupu Rasulullah Saw, yaitu Ali bin Abu Thalib, Abu Bakar ash-Shidiq, Zaid, dan Ummu Aiman. Kemudian disusul sahabat – sahabat Nabi, seperti Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqasah, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Beberapa waktu kemudian, Rasulullah Saw. mulai mendakwahkan ajaran Ilahi secara terang – terangan, kepada penduduk Makkah, maupun penduduk dari luar Makkah, yang menyempatkan berkunjung ke Makkah.

Banyak sekali hambatan yang dihadapi Rasulullah Saw, karena cukup sulit mengentaskan mereka yang telah membuat Makkah menjadi pusat kunjungan penyembah berhala. Lebih jelasnya yuk simak ulasan Pengetahuan Islam berikut.

Proses Penyebaran Agama Islam Melalui Pendidikan

Akal dan Islam sendiri, memiliki hubungan yang erat. Islam memerintahkan manusia, agar terus mencari ilmu pengetahuan, dan mengembangkannya.

Perintah ini juga sudah ada di dalam al-Quran, seperti pada Surat al-Alaq dan Surat Shad ayat 29. Dalam suatu hadits, Rasulullah menyerahkan pada akal manusia untuk mengurus urusan dunia yang bersifat detail dan teknis.

Islam telah dan selalu menganjurkan, mendorong, bahkan memerintahkan manusia untuk selalu menggunakan akalnya untuk berpikir.

Selain menjadi salah satu sarana mengenal Allah, dengan tidak berpikir, akan mudah membuat diri jatuh ke dalam hal – hal yang keji dan dimurkai Allah. Seperti jatuh ke dalam hal yang musyrik, menyekutukan Allah, dan menyesatkan manusia yang lainnya.

Pada masa al-Khulafa ar-Rasyidin, maupun khilafah setelahnya, banyak ilmuwan – ilmuwan Muslim yang memiliki kontribusi besar, terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Peran mereka sekaligus sebagai media penyebaran agama Islam melalui pendidikan, baik itu di wilayah kekuasaan khilafah, maupun wilayah sekitarnya. Contohnya saja daulah Islam yang ada di Andalusia kala itu. Pengaruh ilmu pengetahuannya, dapat mengentaskan Eropa yang kala itu masih terbelakang.

Ilmuwan – ilmuwan Muslim itu berkontribusi pada banyak bidang ilmu, contohnya:

  • Ibnu Sina, berjasa pada bidang ilmu medis
  • Al Khawarizmi pada bidang ilmu matematika
  • Ibnu Rusyd yang memiliki pengetahuan ensiklopedik
  • Al mawardi, Zaid bin Ali, Abu Hanifah, Ibnu Taimiyah di bidang bidang ilmu ekonomi

Dan masih banyak ilmuwan Muslim yang belum disebutkan, yang kontribusinya tidak kalah penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Proses Penyebaran Agama Islam Melalui Tasawuf

Tasawuf adalah ajaran untuk mendekatkan diri dan mengenal Allah SWT, serta menemukan kesejatian. Dalam tasawuf, tidak ada wujud lain selain wujud-Nya, ke mana pun memandang, di sana lah wajah Allah akan nampak.

Segalanya, baik di bumi maupun di langit, hanya ada satu wujud sejati dan hakiki. Allah, atau lebih tepatnya, Pemilik Nama Allah. Konsep ini lebih dikenal dengan Wahdah al-Wujud (Kesatuan Wujud).

Ilmu tasawuf sendiri baru berkembang setelah masa sahabat dan tabiin. Sebelum itu, ilmu tasawuf belum terlalu diperlukan, karena kala itu, mereka adalah orang – orang yang ahli ibadah, ahli taqwa, dan ahli wara.

Mereka saling berlomba untuk meneladani segala aspek dari Rasulullah Saw., otomatis mereka adalah seorang sufi, yang hidupnya hanya untuk Tuhan.

Berdasarkan data historis, sebenarnya, tasawuf bukanlah ilmu baru dalam Islam. Justru tasawuf itu sendiri adalah bagian dari maqam ihsan, sementara ihsan adalah salah satu dasar agama, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Jadi, asal usul penyebaran agama Islam melalui tasawuf, bukanlah dari berbagai filsafat sesat maupun sumber kuno.

Tokoh – tokoh dalam hal ini di antaranya adalah Abu Hamid al-Ghazali, Abdul Qadir al-Jazairi, Ibnu Athaillah as-Sakandari, Abdul Qadir al-Jailani, Abdul Wahab asy-Sya’rani, Abu Ali ats-Tsaqafi, Abu Madyan, Ahmad Zaruq, Ali al-Khawas, dan Syaikh Muhammad al-Hasyimi.

Penyebaran Agama Islam melalui Kesenian

Kesenian menjadi salah satu media penyebaran agama Islam. Kesenian lokal yang berpadu dengan agama Islam, akan memiliki ciri khasnya sendiri. Ciri khas itu pun akan berbeda, antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya.

Penyebaran agama Islam melalui kesenian yang dimaksud, dapat berupa seni bangunan, tari, musik, pahat, dan sastra. Dengan begitu, Islam dapat mudah dipahami oleh masyarakat lokal.

Islam yang berpadu dengan seni – seni tersebut, hingga sekarang, masih ada yang dapat dilihat dan dinikmati bukti fisiknya, baik itu yang masih dalam keadaan utuh, maupun tidak. Namun setidaknya, hal itu memberi bukti, bahwa Islam dapat diterima oleh berbagai lapisan masyarakat.

Penyebaran Agama Islam di Indonesia

Ada tiga teori masuknya agama Islam di Indonesia yang terkenal, yaitu Teori Gujarat, Persia, dan Arab. Perbedaan tiga teori tersebut, kurang lebih, terletak pada tahun masuknya ke Indonesia, tokoh yang mendukung, dan pembawa agama Islam tersebut masuk ke Indonesia.

Walaupun dalam proses berbeda, kesamaan dari tiga teori itu, mereka sama – sama masuk ke Indonesia lewat perdagangan dan misi dakwah itu sendiri.

Dengan adanya Penyebaran agama Islam di Indonesia, kerajaan maupun kesultanan bercorak Islam mulai bermunculan, mulai dari wilayah Indonesia bagian barat hingga timur. Kehadiran kerajaan maupun kesultanan ini, semakin memperkuat misi dakwah Islam.

Saluran Penyebaran Agama Islam di Indonesia

Berdasarkan runtut sejarah yang masih ada dan berlaku. Anda dapat melihat uraian singkat mengenai saluran penyebaran agama Islam di Indonesia berikut ini:

  1. Perdagangan

Sebelumnya, terdapat kerajaan – kerajaan bercorak Hindu – Buddha besar yang memiliki pelabuhan internasional yang ramai. Setelah para pedagang Muslim ini masuk, hubungan kerajaan – kerajaan lokal ini tidak hanya sekedar hubungan perdagangan, melainkan merambah hingga ke menjalin hubungan diplomatik.

Korespondensi raja Kerajaan Sriwijaya, Sri Indravarman, dengan Umar bin Abdul Azis kala itu, menjadi salah satu bukti bahwa telah adanya hubungan luar negeri dengan daulah Islam.

  1. Pernikahan

Pedagang – pedagang Muslim banyak yang menetap di Indonesia. Bahkan sekitar abad ke-7, sudah banyak pekojan di tanah Sumatera. Di antara mereka akhirnya juga ada yang menikah dengan penduduk pribumi.

Misi dakwah Islam akan semakin menyebar, ketika pedagang ataupun pengembara Muslim itu menikah dengan keluarga bangsawan. Contohnya adalah pernikahan antara Maulana Ishaq dengan putrid dari Raja Blambangan, yang akhirnya melahirkan Sunan Giri.

  1. Tasawuf

Tasawuf adalah ajaran untuk lebih mendekat dan mengenal Allah. Tokoh yang berperan dalam penyebaran ajaran ini di Indonesia contohnya adalah Syekh Siti Jenar.

  1. Pendidikan

Penyebaran agama Islam melalui pendidikan di Indonesia, dilakukan di pesantren – pesantren atau pusat dakwah. Salah satu wilayah yang memiliki peran besar dalam hal ini adalah wilayah Giri di Gresik Jawa Timur, yang dipimpin oleh Sunan Giri.

  1. Seni dan Budaya

Agar ajaran agama Islam itu diterima oleh penduduk lokal, maka para pendakwah banyak mengkolaborasikan ajaran Islam dengan seni maupun budaya lokal yang sudah ada. Contohnya adalah seni wayang. Sunan Kalijaga dan Sunan Panggung memanfaatkan salah seni ini untuk mensyiarkan ajaran agama Islam.

  1. Dakwah

Penyebaran agama Islam melalui dakwah, dilakukan oleh para ulama. Di tanah Jawa, ulama – ulama ini dikenal dengan sebutan Wali Songo.

Perjuangan dalam proses masuknya Islam awal-awalnya sangat susah di indonesia karena sebelumnya Indonesia sudah berkembang adanya budaya atheisme dan agama Hindu Budha yang sudah dianut oleh sebagian masyarakat Indonesia. Namun berkat kegigihan para ulama dan 9 Wali pada waktu dahulu.

Demikian informasi tentang Proses Penyebaran Agama Islam Oleh Rasulullah SAW (Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

Bagaimana Cara Belajar Ikhlas Melakukan Amalan Di Bulan Ramadhan?

Cara Belajar Ikhlas Melakukan Amalan Bulan Ramadhan (Lengkap) – Sahabat Muslim, bila kita sudah memasuki bulan ramadhan banyak sekali keutamaan dan amalan yang ada pada bulan yang penuh berkah itu. Bila kita menjalaninya dengan ikhlas dan sepenuh hati maka aktifitas seberat apapun pasti terasa lebih ringan.

Nah Sahabat, bagaimana cara kita belajar ikhlas dalam melakukan amalan di bulan ramadhan?. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini dengan seksama.

Cara Belajar Ikhlas Melakukan Amalan Bulan Ramadhan (Lengkap)

Bulan Ramadhan sendiri adalah bulan yang di dalamnya diajarkan keikhlasan.

Lihat saja dalam amalan puasa disebutkan,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya : “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadits Bukhari Nomor 37).

Dalam amalan shalat malam atau shalat tarawih disebutkan,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya : “Barangsiapa yang menegakkan lailatul qadar (mengisi dengan ibadah) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya, dan barangsiapa yang melaksanakan shaum Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya.” (Hadits Bukhari Nomor 1768).

Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, 6: 36.

Yang dimaksud ihtisaban dalam hadits di atas berarti beramal karena mengharap pahala dari Allah. Itulah yang dimaksud ikhlas. Yang diharap bukanlah pujian manusia. Yang diharap bukanlah semata-mata harapan dunia.

Cara Belajar Ikhlas Melakukan Amalan Di Bulan Ramadhan

Berikut cara belajar ikhlas dalam melakukan amalan dibulan Ramadhan:

Belajar tidak mengharap pujian manusia

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui kami dan kami sedang mengingatkan akan (bahaya) Al-Masih Ad-Dajjal. Lantas beliau bersabda, “Maukah kukabarkan pada kalian apa yang lebih samar bagi kalian menurutku dibanding dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal?” “Iya”, para sahabat berujar demikian kata Abu Sa’id Al-Khudri. Beliau pun bersabda,

الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

Artinya : “Syirik yang tersembunyi, yaitu seseorang mengerjakan shalat dan membaguskan shalatnya dengan harapan agar ada seseorang yang memperhatikannya.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 4194)

Berbuat riya‘ (pamer amalan) benar-benar tidak akan dipedulikan oleh Allah Ta’ala. Dalam hadits disebutkan,

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Artinya : “Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (artinya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya.” (HR. Muslim no. 2985).

Imam Nawawi rahimahullah menuturkan,

“Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa.” (Syarh Shahih Muslim, 18: 115).

Berusaha menyembunyikan amalan shalih

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ

Artinya : “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka mengasingkan diri.” (HR. Muslim no. 2965)

Yang dimaksud dengan al-khafi dalam hadits adalah,

الْخَامِل الْمُنْقَطِع إِلَى الْعِبَادَة وَالِاشْتِغَال بِأُمُورِ نَفْسه

Artinya : “Tidak terkenal (tidak masyhur), terasing untuk menyibukkan diri dalam ibadah dan mengurus dirinya sendiri.” (Syarh Shahih Muslim, 18:84)

Berarti termasuk di antara hamba yang dicintai oleh Allah adalah yang menyembunyikan amalan shalihnya.

Misalnya dalam hal sedekah diperintahkan untuk menyembunyikannya sebagaimana dalam ayat,

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya : “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah Ayat 271)

Beramal bukan untuk orientasi dunia

Misalnya ada yang bersedekah cuma ingin dapat balasan di dunia, tidak ingin balasan akhirat sama sekali.

Begitu pula orang yang beramal hanya mengharap dunia semata, ia benar-benar merugi. Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

Artinya : “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy-Syura Ayat 20)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ ، وَالدِّرْهَمِ ، وَالْقَطِيفَةِ ، وَالْخَمِيصَةِ ، إِنْ أُعْطِىَ رَضِىَ ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ

Artinya : “Celakalah hamba dinar, dirham, qathifah dan khamishah. Jika diberi, dia pun ridha. Namun jika tidak diberi, dia tidak ridha, dia akan celaka, dan akan kembali binasa.” (HR. Bukhari, no. 2886).

Qathifah dan kham ishahadalah sejenis pakaian yang mewah.

Kenapa dinamakan hamba dinar, dirham, dan pakaian yang mewah? Karena mereka yang disebutkan dalam hadits tersebut beramal untuk menggapai harta-harta tadi, bukan untuk mengharap wajah Allah. Demikianlah sehingga mereka disebut hamba dinar, dirham dan seterusnya. Adapun orang yang beramal karena ingin mengharap wajah Allah semata, mereka itulah yang disebut hamba Allah (sejati).

Demikian ulasan tentang Cara Belajar Ikhlas Melakukan Amalan Bulan Ramadhan (Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Pandangan Hukum Orang Yang Tidak Bisa Membaca Al-Qur’an

Pandangan Hukum Orang Yang Tidak Bisa Membaca Al-Qur’an – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Al-Qur’an. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan pandangan hukum islam bagi orang yang tidak bisa membaca Al-Qur’an dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuanislam.com berikut ini dengan seksama.

Pandangan Hukum Orang Yang Tidak Bisa Membaca Al-Qur’an

Salah satu bentuk pelanggaran dalam berinteraksi dengan al-Qur’an yaitu memboikot al-Qur’an. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadu kepada Allah tentang sikap sebagian umatnya yang memboikot al-Quran. Allah ceritakan pengaduhan beliau dalam al-Qur’an,

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

Artinya : “Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (QS. al-Furqan Ayat 30).

Bentuk memboikot al-Quran beraneka ragam. Ada yang sangat parah dan ada yang tingkatannya ringan.

Ibnu Jauzi

Dalam tafsirnya menyebutkan, ada 2 bentuk boikot al-Quran,

Pertama, boikot dalam bentuk tidak memperhatikan sama sekali, tidak mengimaninya dan mengingkarinya. Ini pemboikotan terhadap al-Quran yang dilakukan oleh orang kafir. Demikian keterangan Ibnu Abbas dan Muqatil bin Hayan.

Kedua, boikot dalam bentuk tidak memperhatikan maknanya sama sekali. Dia mengimaninya, membacanya, namun hanya di lisan, dan tidak mempedulikan kandungannya.

Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan beberapa bentuk pemboikotan terhadap al-Quran,

هذا من هجرانه، وترك علمه وحفظه أيضا من هجرانه، وترك الإيمان به وتصديقه من هجرانه، وترك تدبره وتفهمه من هجرانه، وترك العمل به وامتثال أوامره واجتناب زواجره من هجرانه، والعدولُ عنه إلى غيره -من شعر أو قول أو غناء أو لهو أو كلام أو طريقة مأخوذة من غيره -من هجرانه

Artinya : “Ini termasuk bentuk memboikot qur’an. Tidak mempelajarinya, tidak menghafalkannya, termasuk memboikot al-Quran. Tidak mengimaninya, membenarkan isinya, juga termasuk memboikot al-Quran.

Tidak merenungi maknanya, memahami kandungannya, termasuk memboikot al-Quran. Tidak mengamalkannya, mengikuti perintah dan menjauhi laranganya, termasuk memboikot al-Quran. Meninggalkan al-Quran dan lebih memilih syair, nasyid, nyanyian, atau ucapan sia-sia lainnya, termasuk memboikot al-Quran.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/108).

Fatwa Lajnah Daimah

والإنسان قد يهجر القرآن فلا يؤمن به ولا يسمعه ولا يصغي إليه، وقد يؤمن به ولكن لا يتعلمه، وقد يتعلمه ولكن لا يتلوه، وقد يتلوه ولكن لا يتدبره، وقد يحصل التدبر ولكن لا يعمل به، فلا يحل حلاله ولا يحرم حرامه ولا يحكمه ولا يتحاكم إليه ولا يستشفي به مما فيه من أمراض في قلبه وبدنه، فيحصل الهجر للقرآن من الشخص بقدر ما يحصل منه من الإعراض

Artinya : “Manusia terkadang memboikot al-Qur’an, tidak mengimaninya, tidak mendengarkannya, tidak menyimaknya. Terkadang dia mengimaninya, namun tidak mempelajarinya. Terkadang dia sudah belajar, namun tidak membacanya.Terkadang dia membaca, namun tidak merenunginya. Terkadang dia sudah merenunginya, namun tidak mengamalkannya, tidak menghalalkan apa yang dihalalkan oleh al-Quran, tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh al-Quran, tidak mengikuti hukum yang ada dalam al-Quran. Tidak mengobati penyakit dalam hatinya dengan al-Quran.Sehingga bentuk pemboikotan al-Quran berbeda-beda sesuai tingkatan seseorang berpaling dari al-Quran.” (Fatwa Lajnah Daimah, 4/104)

Dari semua tingkatan pemboikotan itu, ada yang sangat parah, ada yang sampai tingkat kekufuran, ada yang berada di posisi dosa besar, dan sampai ada yang dibenci secara syariat.

Memahami ini, berarti tidak bisa membaca al-Quran, ada dua bentuk,

Pertama, tidak baca al-Quran karena keterbatasan yang dimilikinya.

Dia sudah berusaha untuk belajar, tapi tetap tidak mampu membacanya. Dalam kondisi semacam ini, dia tidak terhitung berdosa.

Kedua, tidak baca al-Quran karena memang cuek dan tidak perhatian dengan al-Quran.

Dia punya kemampuan, bahkan orang akademik, tapi karena dia tidak perhatian dengan al-Quran, hingga dia tidak bisa membaca al-Quran.

Ada artis yang pinter latihan vokal, suaranya bisa fasih dan merdu. Tapi sayang, hanya dipake untuk menyanyi… menyanyi… tapi giliran baca al-Quran, dia blepotan. Sungguh memalukan.

Tindakan semacam ini layak disebut memboikot al-Quran karena ia tidak ada usaha atau ikhtiar untuk belajar membaca Al-Qur’an.

Oleh karena itu mari kita belajar membaca, mengerti dan memahami Al-Qur’an secara bertahap serta bersabar. Insyaallah, dengan kita bersabar dan ikhlas untuk belajar tentang Al-Qur’an semoga kita termasuk Ahli Surga bersama beliau Nabi Muhammad SAW.

Demikian ulasan singkat tentang Pandangan Hukum Orang Yang Tidak Bisa Membaca Al-Qur’an. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Inilah Pengertian Sumber Hukum Islam Serta Dalilnya (Lengkap)

Inilah Pengertian Sumber Hukum Islam Serta Dalilnya (Lengkap) – Islam merupakan agama sempurna yang ajarannya mencakup berbagai aspek dalam kehidupan manusia. Islam mengatur dari segala hal kecil sampai kepada segala hal yang besar. Adapun dalam menentukan hukum-hukum Islam, terdapat sumber berarti rujukan utama dalam menetapkan perihal sesuatu. Sumber dan dalil-dalil untuk menentukannya, diantaranya adalah Alquran dan Sunnah.

Sedangkan dalil yaitu suatu petunjuk yang dijadikan landasan berpikir yang benar dalam memperoleh hukum syara’ yang bersifat praktis, baik yang statusnya qathi’ (pasti) maupun zhanni (relatif). Oleh karena itu, dalam pembahasan kali ini Pengetahuan Islam akan dibahas mengenai sumber hukum dan dalil hukum Islam agar para pembaca mampu memahami tentang sumber dan dalil hukum Islam sekaligus mengimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang berkaitan dengan hukum Islam.

Inilah Pengertian Sumber Hukum Islam Serta Dalilnya (Lengkap)

Kata-kata sumber dalam hukum Islam merupakan terjemah dari kata mashadir yang berarti wadah ditemukannya dan ditimbangnya norma hukum. Sumber hukum Islam yang utama adalah Al Qur’an dan sunah. Selain menggunakan kata sumber, juga digunakan kata dalil yang berarti keterangan yang dijadikan bukti atau alasan suatu kebenaran.

Ijtihad, ijma’, dan qiyas juga merupakan sumber hukum karena sebagai alat bantu untuk sampai kepada hukum-hukum yang dikandung oleh Al Qur’an dan sunah Rasulullah SAW.

Secara sederhana hukum adalah seperangkat peraturan tentang tingkah laku manusia yang diakui sekelompok masyarakat, disusun orang-orang yang diberi wewenang oleh masyarakat itu, berlaku mengikat, untuk seluruh anggotanya.

Bila definisi ini dikaitkan dengan Islam atau syara’ maka hukum Islam berarti:

“Seperangkat peraturan bedasarkan wahyu Allah SWT dan sunah Rasulullah SAW tentang tingkah laku manusia yang dikenai hukum (mukallaf) yang diakui dan diyakini mengikat semua yang beragama Islam”.

Pengertian Sumber dan Dalil

Sumber secara bahasa adalah asal dari segala sesuatu dan tempat merujuk segala sesuatu.

Sedangkan dalil dari bahasa Arab al-dalil jamaknya al-adillah yang secara bahasa berarti:

“Petunjuk kepada sesuatu baik yang bersifat material maupun non material (maknawi).”

Secara terminologi, dalil mengandung pengertian yaitu

“Suatu petunjuk yang dijadikan landasan berpikir yang benar dalam memperoleh hukum syara’ yang bersifat praktis, baik yang statusnya qathi’ (pasti) maupun zhanni (relatif).”

Sumber dan Dalil Hukum Islam

Adapun sumber dan dalil hukum islam diambil dari :

  1. Al – Qur’an

Secara bahasa Al-Qur’an berasal dari kata qa-ra-a yang artinya bacaan. Sedangkan secara terminologis Al-Qur’an adalah:

القران هوالكلام الله المعجزالمنزل على خاتم الانبياءوالمرسلين بواسطة الامين جبريل المكتوب فى المصاحف المنقول الينابالتواترالمتعبد بتلاوته المبدوبسورة الفاتحة والختوم بسورة الناس

Artinya : “Al-qurận adalah Kalam Allah yang mukjiz, diturunkan kepada Nabi dan Rasul penghabisan dengan perantaraan Malaikat terpercaya, Jibril, tertulis dalam mushaf yang dinukilkan kepada kita secara mutawatir, membacanya merupakan ibadah, yang dimulai dari surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas.”

Para ulama Ushul Fiqih menginduksi tentang hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an terdiri atas: I’tiqadiyah, Khuluqiyah, dan Ahkam ‘amaliyah. Sedangkan tujuan daripada diturunkannya Alquran yakni sebagai mukjizat yang membuktikan kebenaran Rasulullah, sebagai petunjuk, sumber syari’at dan hukum-hukum yang wajib diikuti dan dijadikan pedoman.

Penjelasan Al-Qur’an Terhadap Hukum

  • Ijmali (global), yaitu penjelasan yang masih memerlukan penjelasan lebih lanjut dalam pelaksanaannya. Contoh: masalah shalat, zakat dan kaifiyahnya.
  • Tafshili (rinci), yaitu keterangannya jelas dan sempurna, seperti masalah akidah, hukum waris dan sebagainya.
  1. As-Sunnah / Hadits

As-Sunnah menurut bahasa berarti “perilaku seseorang tertentu, baik perilaku yang baik atau yang buruk.” Sedangkan menurut istilah ushul fiqih sunnah Rasulullah berarti “Segala perilaku Rasulullah yang berhubungan dengan hukum, baik berupa ucapan (sunnah Qauliyah), perbuatan (sunnah Fi’liyah), atau pengakuan (sunnah Taqririyah).”

Sebagaimana keterangan dalam Al-Qur’an yang mana Allah SWT. memerintahkan kaum muslimim untuk menaati Rasulullah seperti yang terkandung dalam QS. An-Nisa ayat 59 yaitu :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Ayat di atas secara tegas menunjukkan wajibnya mengikuti Rasulullah yang tidak lain adalah mengikuti sunnah-sunnahnya. Berdasarkan beberapa ayat tersebut, para sahabat semasa hidup Nabi dan setelah wafatnya telah sepakat atas keharusan menjadikan sunnah Rasulullah sebagai sumber hukum.

Secara umum fungsi sunnah adalah sebagai bayan (penjelasan), atau tabyim (menjelaskan ayat-ayat hukum dalam Alquran). Ada beberapa fungsi sunnah terhadap Alquran, yaitu:

  • Menjelaskan isi Alquran, antara lain dengan merinci ayat-ayat global
  • Membuat aturan-aturan tambahan yang bersifat teknis atas sesuatu kewajiban yang disebutkan pokok-pokoknya di dalam Alquran.
  • Menetapkan hukum yang belum disinggung dalam Alquran.
  1. Ijma’

Ijma’ adalah cita-cita, rencana dan kesepakatan. Sebagaimana dalam Firman Allah SWT surat yunus ayat 71.

فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ

Artinya : “karena itu bulatkanlah keputusanmu”

Sedangkan menurut Imam Ghazali ijma’ adalah kesepakatan umat Muhammad secara khusus tentang suatu masalah agama. Ijma’ tidak dijadikan hujjah (alasan) dalam menetapkan hukum karena yang menjadi alasan adalah kitab dan sunnah atau ijma’ yang didasarkan kepada kitab dan sunnah.

Sebagaimana dalam firman Allah SWT. QS. An-Nisa’ ayat 58 yaitu:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Yang dimaksud kembali kepada Allah yaitu berpedoman dan bertitik tolak dalam menetapkan suatu hukum kepada Alquran. Sedangkan yang dimaksud dengan kembali kepada Rasul-Nya yaitu berdasarkan kepada Sunnah Rasul. Dengan pengertian ijma’ yang dapat menjadi hujjah adalah ijma’ yang berdasarkan kepada Alquran dan Sunnah.

  1. Qiyas

Qiyas secara bahasa adalah perbandingan, yaitu membandingkan sesuatu kepada yang lain dengan persamaan illatnya. Sedangkan secara istilah qiyas adalah mengeluarkan (mengambil) suatu hukum yang serupa dari hukum yang telah disebutkan (belum mempunyai ketetapan) kepada hukum yang telah ada atau telah ditetapkan oleh kitab dan sunnah, disebabkan sama illat antara keduanya (asal dan furu’).

Para ulama ushul fiqh dalam menetapkan qiyas itu ada 4 ketentuan, yaitu:

  1. ‘Ashl (wadah hukum yang ditetapkan melalui nash atau ijma’)
  2. Far’u (kasus yang akan ditentukan hukumnya)
  3. ‘Ilat (motivasi hukum) yang terdapat dan terlibat oleh mujtahid pada ‘ashl, dan
  4. Hukum ‘ashl (hukum yang telah ditentukan oleh nash atau ijma’).

Para ulama ushul fiqh mengemukakan bahwa setiap rukun qiyas di atas harus memenuhi beberapa syarat tertentu, sehingga qiyas dapat dijadikan dalil dalam menetapkan hukum.

Dmikian ulasan tentang Inilah Pengertian Sumber Hukum Islam Serta Dalilnya (Lengkap). Semoa dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Inilah Hukum Qashar Shalat Fardhu Saat Safar Bagi Muslim

Inilah Hukum Qashar Shalat Fardhu Saat Safar Bagi Muslim – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Hukum Qashar. Yang mana dalam pembahasan ini menjelaskan hukum qashar shalat fardhu bagi seorang muslim saat dalam keadaan safar secara jelas dan singkat. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini.

Inilah Hukum Qashar Shalat Fardhu Saat Safar Bagi Muslim

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum qashar shalat selama bersafar sebagai konsekuensi dari kontradiksi makna literal atsar tentangnya.

Para ulama mazhab Hanafi dan Zhahiri berpendapat bahwa qashar adalah Azimah. Ini juga pendapat sebagian ulama mazhab Maliki dan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah. (Al-Mabsuth, As-Sarakhsi, 1/239; Syarh Fathil Qadir, Ibnu Hammam, 2/31; Muqaddimat, Ibnu Rusyd, 1/155; Al-Qawanin al-Fiqhiyyah, Ibnu Jazzi, 85; Al-Fatawa al-Kubra, Ibnu Taimiyah, 1/146, Al-Muhalla, Ibnu Hazm, 4/264)

Para ulama mazhab Syafi’i, mazhab Hanbali dan yang masyhur dari mazhab Maliki berpendapat. Bahwa hukum qashar shalat adalah rukhsah. (Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd, 1/166; Mawahibul Jalil, Al-Haththab, 2/139-140; Al-Umm, Asy-Syafi’i, 1/159; Raudhatuth Thalibin, An-Nawawi, 1/380; Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 2/268)

Perbedaan Pendapat Para Ulama Tentang Hukum Qashar Shalat

Jelas sekali bahwa pangkal perbedaan pendapat antara para ulama mazhab Hanafi dan mereka yang sependapat dengannya serta para ulama mazhab Syafi’i dan mereka yang sependapat dengannya adalah kata furidhat (difardhukan) dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu anha.

Aisyah radhiyallahu anha berkata,

“Shalat difardhukan dua rekaat dua rekaat pada saat mukim dan safar. Kemudian shalat pada saat safar ditetapkan seperti itu, sedangkan shalat pada saat mukim ditambah (rekaatnya). (Shahih Muslim bi Syarhi an-Nawawi, 5/194)

Para ulama mazhab Hanafi dan mereka yang sependapat dengannya menyatakan bahwa makna kata furidhat dalam hadits adalah diwajibkan.

Ibnu Najim menulis,

“Rukhsah adalah istilah untuk hukum yang telah berubah dari asalnya karena adanya rintangan; berubah kepada yang lebih ringan dan mudah. Bagi musafir, tidak ada perubahan hukum sama sekali. Sebab, semua shalat difardhukan dua rekaat dua rekaat bagi musafir dan orang yang mukim.”

Beliau melanjutkan,

“Setelah itu, bagi orang yang mukim shalat ditambah dua rekaat, sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu anha. Jadi, tidak ada makna perubahan sama sekali. Bagi orang yang mukim ada makna perubahan; tetapi pada yang lebih berat bukan pada yang lebih mudah atau ringan. Rukhsah tidak seperti itu. Bagi orang yang mukim, itupun bukan rukhsah. Kalaupun disebut rukhsah, sesungguhnya itu hanya majaz (kiasan) lantaran adanya sebagian makna hakiki, yakni perubahan.” (Al-Bahr Ra’iq Syarh Kanzu Daqa’iq, Ibnu Najim, 2/141)

Dalil-dalil yang dipakai oleh para ulama mazhab Hanafi dan mereka yang sependapat dengannya:

Umar bin Khattab radhiyallahu anhu berkata,

“Shalat Jumat itu dua rekaat, shalat Idul Fithri dua rekaat, dan shalat Safar pun dua rekaat. Ini adalah sempurna dan bukan qashar, sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. (Sunan an-Nasa’i bi Syarh as-Suyuthi, 3/118)

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma bertutur,

“Shalat—pada saat—mukim difardhukan dengan perantara lisan Nabi kalian empat rekaat, shalat Safar dua rekaat, dan shalat Khauf satu rekaat.” (Shahih Muslim bi Syarhi an-Nawawi, 5/196-197; Sunan an-Nasa’i bi Syarh as-Suyuthi,3/118-119)

Imran bin Husain radhiyallahu anhu pernah ditanya tentang shalat Musafir.

Imran menjawab,

“Aku pernah menunaikan Haji bersama Rasulullah. Beliau mendirikan shalat dua rekaat. Aku pernah menunaikan Haji bersama Abu Bakar. Dia juga mendirikan shalat dua rekaat. Aku juga pernah menunaikan Haji bersama Umar. Dia pun mendirikan shalat dua rekaat. Aku juga pernah menunaikan Haji bersama Utsman selama enam atau delapan tahun pertama masa kekhilafahannya. Dia pun mendirikan shalat dua rekaat.” (Shahih At-Tirmidzi, 2/29)

Sesungguhnya, Nabi mendirikan shalat berekaat empat hanya dengan dua rekaat dalam semua safar beliau. Tidak ada seorang pun yang meriwayatkan beliau mendirikan empat rekaat. Para sahabat beliau bahkan melakukan hal yang sama. Semua ini menunjukkan bahwa qashar shalat adalah wajib bagi musafir.” (Al-Fatawa al-Kubra, Ibnu Taimiyah, 1/145)

Para ulama mazhab Syafi’i dan mereka yang sependapat dengannya menyatakan bahwa furidhat bermakna ditetapkan. Dengan kata lain, makna hadits adalah ditetapkan bagi orang yang ingin mengqashar dan mencukupkan diri dengan dua rekaat. (Al-Majmu’, An-Nawawi, 4/341; Nihayatul Muhtaj, Ar-Ramli, 2/236)

Dalil-dalil yang dipakai oleh para ulama mazhab Syafi’i dan mereka yang sependapat dengannya adalah:

Firman Allah,

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا

Artinya : “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. An-Nisa’: 101)

Ayat di atas menerangkan bahwa qashar adalah rukhsah dari dua aspek:

  1. Secara tegas menyatakan bahwa asal fardhu adalah empat. Bagian yang menerangkannya adalah frase, kamu mengqashar shalat(mu). Sebab, qashar bermakna peringanan; peringanan adalah salah satu unsur rukhsah. Di samping itu, qashar juga bermakna perubahan dari yang panjang—yakni empat rekaat—menjadi pendek—yakni dua rekaat. Inilah unsur kedua dari unsur-unsur rukhsah.
  2. Frase tidak mengapa hanya dipakai dalam perkara-perkara yang mubah dan rukhsah, bukan daam yang wajib dan azimah.

Ya’la bin Umayah berkata,

“Aku pernah bertanya kepada Umar bin Khattab tentang ayat, ‘…maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir.’ (QS. An-Nisa’: 101).

Bahwa sekarang orang-orang tidak merasa takut. “Umar menjawab,”

Akupun pernah keheranan seperti kamu, lantas kutanyakan kepada Rasulullah tentang hal itu.

Beliau menjawab,

“Itu adalah sedekah Allah bagi kalian. Terimalah sedekah-Nya.” (HR. Muslim dan an-Nasa’i. Shahih Muslim bi Syarhi an-Nawawi, 7/196; Sunan an-Nasa’i bi Syarh as-Suyuthi, 3/116-117)

Atsar ini menunjukkan bahwa qashar itu rukhsah, bukan azimah, dilihat dari dua aspek:

  1. Ya’la dan Umar sama-sama heran. Keduanya adalah ulama sahabat dalam—bidang—bahasa dan fikih. Keheranan keduanya menunjukkan bahwa asal hukum di sini adalah tidak ada rukhsah qashar, bahwa qashar hanya untuk kondisi khauf (takut) saja.
  2. Nabi menyetujui pemahaman Ya’la dan Umar. Beliau menjelaskan kepada mereka bahwa qashar terjadi dalam kondisi khauf (takut) dan aman. Beliau menekankannya dengan menyatakannya sebagai sedekah dari Allah. Sedekah adalah rukhsah yang tidak harus diambil. Orang yang disedekahi bebas memilih antara mengambilnya atau tidak. (Al-Muqaddimat, Ibnu Rusyd, 1/155-156)

Aisyah radhiyallahu anha berkata,

“Aku pernah bepergian bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjalankan umrah Ramadhan. (Selama perjalanan) beliau berbuka, sedangkan aku tetap berpuasa; beliau mengqashar (shalat), sedangkan aku menyempurnakan. Kukatakan, ‘Ayah Ibuku menjadi tebusannya, engkau berbuka, sedangkan aku berpuasa; dan engkau mengqashar sedangkan aku menyempurnakan!’ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Bagus itu.’” (HR. An-Nasa’i dan ad-Daruquthni, Sunan an-Nasa’i bi Syarh as-Suyuthi, 3/112; Sunan ad-Daruquthni yang dicetak jadi satu dengan At-Ta’liq al-Mughni Ala ad-Dariquthni, Abu Thayyib Abadi, 2/188)

Hadits ini terang sekali membolehkan menyempurnakan dan mengqashar. Demikian ini hanya terjadi untuk rukhsah.

Para ahli fikih telah berijmak bahwa jika seorang musafir shalat bersama orang-orang yang mukim dan mendapati satu rekaat bersama mereka, maka dia wajib menggenapi empat rekaat. Padahal, shalat tidak bisa bertambah gara-gara bermakmum. Maka ini adalah dalil yang jelas yang menunjukkan bahwa qashar itu sunnah. Sebab, jika yang wajib dua rekaat, bagaimana pun juga musafir tidak wajib mendirikannya empat rekaat. (Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 2/268)

Implikasi Perbedaan Pendapat Tentang Hukum Qashar Shalat

Implikasi perbedaan pendapat dalam nalar fikih qashar shalat saat bersafar tampak pada dua hal berikut ini:

1. Mengenai keharusan mengqashar

Para ulama mazhab Hanafi dan mereka yang sependapat menyatakan bahwa qashar shalat harus dilakukan. Menurut mereka, seorang musafir tidak boleh menyempurnakan bilangan rekaat shalat. Kalaupun dia mendirikannya empat rekaat, maka dua rekaat pertama adalah rekaat yang fardhu atasnya, sedangkan dua rekaat berikutnya menjadi amalan sunah baginya. Tetapi, yang demikian itu dengan syarat dia harus duduk sejenak sekadar bacaan tasyahud setelah mendapatkan dua rekaat. Jika tidak duduk, maka rusaklah shalatnya. (Bada’i’ ash-Shana’i’, Al-Kasani, 1/93)

Menurut Imam Malik, (jika dia mendirikan shalat empat rekaat) dia harus mengulangnya selama masih berada di dalam waktunya. (Asy-Syarhu ash-Shaghir, Ad-Dardir, 1/483)

Para ulama mazhab Zhahiri berpendapat, shalat orang yang menyempurnakan itu batal jika dia menyengaja. Jika tidak, maka hendaklah dia sujud sahwi setelah salam. (Al-Muhalla, Ibnu Hazm, 4/264)

Adapun menurut ulama mazhab Syafi’i dan mazhab Hanbali, musafir boleh memilih untuk mengqashar shalat atau tidak, meskipun yang lebih utama adalah mengqasharnya. (Al-Umm, asy-Syafi’i, 1/159; Al-Majmu’, An-Nawawi, 4/337; Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 2/270; Al-Inshaf, Al-Mardawi, 2/314; Muntaha al-Iradat, Ibnu an-Najjar, 1/123)

2. Tentang niat qashar

Para ulama mazhab Hanafi dan mereka yang sependapat menyatakan bahwa qashar tidak membutuhkan niat. Sebab, qashar adalah kewajiban asal bagi musafir (Syarh Fathul Qadir, Ibnu al-Hammam, 2/31; Tabyin al-Haqaiq Syarhu Kanzi ad-Daqaiq, Az-Zulai’i, 1/210; Raddul Mukhtar ‘Alad Durr al-Mukhtar, Ibnu Abidin, 2/123).

Para ulama mazhab Syafi’i dan mazhab Hanbali menetapkan niat sebagai syarat. Sebab, qashar adalah rukhsah, sedangkan asal dan azimahnya adalah itmam (menyempurnakan empat rekaat). (Al-Muhadzdzab, Asy-Syairazi, 1/110; Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 2/265-566; Al-Masail al-Fiqhiyah min Kitab ar-Riwayatain wal Wajhain, Al-Qadhi Abu Ya’la, tahqiq Dr. Abdul Karim bin Muhammad, 1/181)

Tampak jelas bagi kita kejelian para ulama mazhab Syafi’i dan mereka yang sependapat dengannya dalam masalah ini. Menurut para ulama Ushul, qashar tidak keluar dari ranah rukhsah, meskipun ia mirip dengan azimah jika dilihat dari aspek tuntutan. Namun ini tidak mengeluarkan qashar dari hakikatnya. Qashar adalah rukhsah karena beberapa hal berikut:

Shalat disyariatkan pertama kali pada malam Isra’ Mi’raj di Mekah, sedangkan qashar disyariatkan di Madinah pasca Hijrah.

Secara bahasa, qashar adalah kebalikan dari Thuul (panjang), ini berarti qashar adalah keringanan. Kontinuitas Nabi dalam mengqashar shalat ketika safar tidak menunjukkan bahwa qashar itu azimah. Sebab, rukhsah pun seperti azimah dalam cakupannya yang luas terhadap hukum taklif. Semisal dengannya adalah hukum memakan bangkai dalam kondisi darurat. Ini adalah rukhsah karena disyariatkan sebagai eksepsi lantaran ada uzur; namun ia harus dilakukan demi menjaga nyawa.

Berkenaan dengan hal ini, asy-Syathibi menulis, “Jadi, tuntutan syar’i untuk mengambil rukhsah tidak meniadakan eksistensi rukhsah sebagai rukhsah, sebagaimana dikatakan oleh para ulama tentang makan bangkai bagi orang yang berada dalam kondisi darurat. Ini adalah rukhsah karena definisi rukhsah ada padanya. Pada saat yang sama ia seperti azimah karena harus dilakukan seperti halnya azimah-azimah yang lain.” (Al-Muwafaqat, Asy-Syathibi, 1/321)

Rukhsah Syariyah

An-Nawawi menyatakan bahwa rukhsah syar’iyah itu ada tiga, yaitu:

Rukhsah wajib

Misalnya seseorang tersedak makanan berhenti di tenggorokannya, sedangkan ia hanya mendapati arak untuk membantunya menelan makanan tersebut. Dalam keadaan seperti ini, wajib baginya minum arak. Ini adalah rukhsah yang Imam asy-Syafi’i menegaskan kewajibannya. Sahabat-sahabat kita pun (sahabat Imam an-Nawawi) sependapat dengannya. Termasuk di dalamnya adalah makan bangkai bagi orang yang berada dalam kondisi darurat. Ini pun rukhsah yang wajib diambil, menurut pendapat yang shahih.

Rukhsah yang lebih baik tidak diambil

Misalnya mengusap khuff. Para sahabat kita (sahabat imam an-Nawawi) sepakat, membasuh kaki lebih baik dari mengusap khuff. Demikian pula halnya dengan menjamak dua shalat yang disepakati lebih baik ditinggalkan.

Rukhsah yang lebih baik diambil

Di antara contohnya adalah mengqashar shalat dan menunggu dingin untuk shalat Zuhur pada siang hari yang sangat panas, ini menurut mazhab (Syafi’i). (Al-Majmu’, An-Nawawi, 4/336)

Mana yang lebih utama: mengambil rukhsah qashar shalat atau menyempurnakan shalat?

Tidak ada perbedaan pendapat antara para ulama bahwa qashar shalat lebih utama daripada menyempurnakannya (itmam). Dengan demikian, dalam perkara ini, mengambil rukhsah lebih utama daripada mengamalkan azimah. Ini mengingat dalil-dalil yang telah menerangkannya.

Juga dalam rangka keluar dari perbedaan pendapat para ulama. Imam asy-Syafi’i menulis (Al-umm,Imam asy-Syafi’i, 1/159),

“Pendapat yang saya pilih adalah saya senang melakukannya (qashar shalat) saat bersafar, dan saya senang untuk dilakukan adalah mengqashar shalat pada saat khauf dan safar, serta mengqasharnya kala khauf saja, meskipun tanpa safar.”

Demikian ulasan tentang Inilah Hukum Qashar Shalat Fardhu Saat Safar Bagi Muslim. Semoga dapat bermanfaat dan tambahan ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Inilah Kumpulan Hadits Tentang Persaudaraan Sesama Muslim

Inilah Kumpulan Hadits Tentang Persaudaraan Sesama Muslim – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang hadits persaudaraan. Yang mana dalam hal ini menerangkan beberapa kumpulan hadits mengenai persaudaraan sesama muslim dengan secara singkat dan jelas. Untuk itu silahkan simak ulasan berikut ini.

Inilah Kumpulan Hadits Tentang Persaudaraan Sesama Muslim

Dalam agama Islam sangat dianjurkan untuk menyambung hubungan dan bersatu serta mengharamkan pemutusan hubungan, saling menjauhi, dan semua perkara yang menyebabkan lahirnya perpecahan. Karenanya Islam menganjurkan untuk menyambung silaturahim dan memperingatkan agar jangan sampai ada seorang muslim yang memutuskannya.

Persaudaraan merupakan hal yang umum, persaudaraan yang timbul karena saling memperkuat ikatan–ikatan persaudaraan dan sebagai fakor untuk mencapainya kesejahteraan masayarakat Islam. Maka jelaslah bahwa sesama mukmin itu adalah saudara dan keluarga yang harusnya bersatu dan mempererat tali silaturahmi. Untuk lebih jelasnya berikut daftar kumpulan hadits tentang persaudaraan kaum muslimin lengkap dalam tulisan arab beserta terjemahan bahasa Indonesianya.

Kumpulan Hadits Tentang Persaudaraan Sesama Muslim

Di beberapa hadits tentang ukhuwah islamiyah disebutkan bahwa kita dilarang untuk menyakiti orang islam lainnya, juga umat islam itu bagaikan satu tubuh, jika ada satu bagian yang terluka atau sakit, maka semuanya ikut merasakan. Salah satu contoh persaudaraan dalam islam yang bisa kita lihat adalah jika anda yang membutuhkan bantuan, maka umat islam segera berbondong untuk membantunya.

Untuk itu haruslah kita menjaga dan memelihara hubungan persaudaraan, silaturahmi dan persahabatan diantara sesama umat manusia yang beragama islam.

Hadits Tentang Persaudaraan Sesama Muslim

Hadits Bukhari Nomor 2262

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzhaliminya dan tidak membiarkannya untuk disakiti. Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya. Siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari qiyamat. Dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya pada hari qiyamat.”

Hadits Ahmad Nomor 1605

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِجَدِّهِ يَزِيدَ بْنِ أَسَدٍ أَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ

Artinya : “Sesungguhnya Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda kepada kakeknya, Yazid bin Asad, “Cintalah kepada manusia sebagaimana kamu mencintai untuk dirimu.”

Hadits Abu Daud Nomor 4536

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

Artinya : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan kecuali Allah akan memberi ampunan kepada keduanya sebelum mereka berpisah.”

Hadits Bukhari Nomor 5605

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ

Artinya : “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara, dan tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya melebihi tiga hari.”

Hadits Tirmidzi Nomor 1877

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ لَا يَشْكُرُ اللَّهَ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Artinya : “dari [Abu Hurairah] ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang tidak pandai bersyukur (berterima kasih) kepada manusia, berarti ia belum bersyukur kepada Allah.” Abu Isa berkata; Ini adalah hadits hasan shahih.”

Hadits Ibnu Majah Nomor 3929

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

Artinya : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mencela orang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran.”

Hadits Bukhari Nomor 6437

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ

Artinya : “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, tidak menzhaliminya dan tidak menyerahkannya kepada musuh, barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya.”

Hadits Tirmidzi Nomor 1853

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ فِي الدُّنْيَا يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Artinya : “Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya.”

Hadits Bukhari Nomor 459

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ

Artinya : “Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” kemudian beliau menganyam jari jemarinya.”

Hadits Muslim Nomor 4023

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

Artinya : “Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hak seorang muslim terhadap seorang muslim ada enam perkara.” Lalu beliau ditanya; ‘Apa yang enam perkara itu, ya Rasulullah? ‘ Jawab beliau: (1) Bila engkau bertemu dengannya, ucapkankanlah salam kepadanya. (2) Bila dia mengundangmu, penuhilah undangannya. (3) Bila dia minta nasihat, berilah dia nasihat. (4) Bila dia bersin lalu dia membaca tahmid, doakanlah semoga dia beroleh rahmat. (5) Bila dia sakit, kunjungilah dia. (6) Dan bila dia meninggalkan, ikutlah mengantar jenazahnya ke kubur.”

Hadits Muslim Nomor 4685

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Artinya : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-Orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).”

Hadits Nasai Nomor 4931

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنْ الْخَيْرِ

Artinya : “Dari Anas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai kebaikan bagi saudaranya sebagaimana ia mencintai kebaikan bagi dirinya sendiri.”

Hadits Muslim Nomor 4639

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Artinya : “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezkinya, dan ingin dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahmi.”

Hadits Bukhari Nomor 5613

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ

Artinya : “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya melebihi tiga malam, (jika bertemu) yang ini berpaling dan yang ini juga berpaling, dan sebaik-baik dari keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.”

Demikianlah tentang Inilah Kumpulan Hadits Tentang Persaudaraan Sesama Muslim. Semoga hadist tentang persaudaraan islam diatas bermanfaat dan bisa menjadikan seluruh umat muslim bersatu dan saling tolong menolong dalam segala halnya. Terimakasih.