√ Panduan Bacaan Tahiyat Akhir Arab Latin dan Penjelasannya

Panduan Bacaan Tahiyat Akhir Arab Latin dan Penjelasannya

Panduan Bacaan Tahiyat Akhir Arab Latin dan Penjelasannya – Pada Kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Tahiyat Akhir. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan panduan cara bacaan tahiyat akhir arab, latin serta penjelasannya dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih detailnya simak artikel berikut ini.

Panduan Bacaan Tahiyat Akhir Arab Latin dan Penjelasannya

Islam adalah salah satu ajaran agama yang sangat luas cakupannya, diantaranya yaitu sholat. Sholat adalah tiang agama dan dalam hukum pelaksanaannya adalah wajib. Nah oleh karena sebagai umat Islam juga harus selalu memahami, meyakini, menghafalkan, serta mengamalkan rukun-rukun dalam Islam.

Perlu diketahui tahiyat akhir merupakan salah satu rukun sholat dalam Islam yang wajib dihafalkan dan diamalkan. Adapun rukun-rukun dalam sholat tersebut terdiri dari:

  • Berdiri (Untuk yang mampu)
  • Takbiratul ihram
  • Membaca surat Al Fatihah pada tiap rakaat
  • Rukuk dengan tuma’ninah
  • Iktidal dengan tuma’ninah
  • Sujud dua kali dengan tuma’ninah
  • Duduk diantara dua sujud dengan tuma’ninah
  • Duduk dan membaca tahiyat akhir
  • Membaca sholawat nabi pada tahiyat akhir
  • Mengucapkan salam
  • Tertib (melakukan rukun secara berurutan)

Bacaan Tahiyat Akhir

Berikut ini merupakan bacaan tahiyat akhir dalam bentuk bahasa arab, latin serta terjemahannya.

Bacaan Tahiyat Akhir Arab

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ , أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ , اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Bacaan Tahiyat Akhir Latin

“At_Tahiyyaatul Mubaarakaatush Shalawaatuth Thoyyibaatulillaah. As_Salaamu’alaika Ayyuhan Nabiyyu Wa Rahmatullaahi Wabarakaatuh, Assalaamu’alaina Wa’alaa Ibaadillaahishaalihiin.

Asyhaduallaa Ilaaha Illallaah, Wa Asyhadu Anna Muhammad Rasuulullaah.

Allaahumma Shalli’alaa Muhammad, Wa’alaa Aali Muhammad. Kamaa Shallaita Alaa Ibraahiim Wa Alaa Aali Ibraahiim.

Wabaarik’alaa Muhammad Wa Alaa Aali Muhammad. Kamaa Baarakta Alaa Ibraahiim Wa Alaa Aali Ibraahiim, Fil’aalamiina Innaka Hamiidum Majiid.”

Artinya: “Segala kehormatan, dan keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan itu punya Allah. Keselamatan atas Nabi Muhammad, juga rahmat dan berkahnya. Keselamatan dicurahkan kepada kami dan atas seluruh hamba Allah yang sholeh. Aku bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

“Ya Allah, limpahilah rahmat atas keluarga Nabi Muhammad.Seperti rahmat yang Engkau berikan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahilah berkah atas Nabi Muhammad beserta para keluarganya. Seperti berkah yang Engkau berikan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Engkaulah Tuhan yang sangat terpuji lagi sangat mulia diseluruh alam.

Pada bacaan tahiyat awal hampir sama dengan bacaan tahiyat akhir, hanya saja dalam bacaan tahiyat akhir terdapat penambahan yaitu sholawat dan syahadat.

Pembagian Bacaan Tahiyat Akhir

Dalam bacaan tahiyat akhir dapat terbagi menjadi dua bagian, diantaranya yaitu:

Bacaan Tahiyat Awal

Bacaan tahiyat awal adalah bacaan yang berasal dari dialog Nabi Saw dan Allah SWT saat Nabi mengalami peristiwa Isra’ Mi’raj.

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ

“At-Tahiyyaatul Mubaarakaatush Shalawaatuth Thoyyibaatulillaah. As-Salaamu’alaika Ayyuhan Nabiyyu Wa Rahmatullaahi Wabarakaatuh, Assalaamu’alaina Wa’alaa Ibaadillaahis Shaalihiin.”

Artinya:

Segala kehormatan, dan keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan itu punya Allah. Keselamatan atas Nabi Muhammad, juga rahmat dan berkahnya. Keselamatan dicurahkan kepada kami dan atas seluruh hamba Allah yang sholeh.”

Bacaan Syahadat

Sholat wajib yang dilakukan 5 (lima) kali dalam sehari semalam, dapat membantu membersihkan dosa-dosa kecil. Sebab dalam sholat ada berbagai kalimat yang maknanya adalah meminta ampun dan juga ada syahadatnya. Berikut ini adalah bacaan syahadat yaitu:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

“Asyhaduallaa Ilaaha Illallaah, Wa Asyhadu Anna Muhammad Rasuulullaah.”

Artinya:

Aku bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”

Bacaan Sholawat Atas Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim

Sholawat adalah doa yang kita kirimkan atas Nabi Muhammad agar kelak kita mendapatkan syafaatnya kelak di hari akhir. Dibawah ini merupakan bacaan sholawat yaitu:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Allaahumma Shalli’alaa Muhammad, Wa’alaa Aali Muhammad. Kamaa Shallaita Alaa Ibraahiim Wa Alaa Aali Ibraahiim.

Wabaarik’alaa Muhammad Wa Alaa Aali Muhammad. Kamaa Baarakta Alaa Ibraahiim Wa Alaa Aali Ibraahiim, Fil’aalamiina Innaka Hamiidum Majiid.”

Artinya:

Ya Allah, limpahilah rahmat atas keluarga Nabi Muhammad.Seperti rahmat yang Engkau berikan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahilah berkah atas Nabi Muhammad beserta para keluarganya. Seperti berkah yang Engkau berikan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Engkaulah Tuhan yang sangat terpuji lagi sangat mulia diseluruh alam.”

Panduan Bacaan Tahiyat Akhir Arab Latin dan Penjelasannya

Tata Cara Tahiyat Akhir

Dibawah ini adalah tata cara tahiyat akhir dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Duduk Tasyahud Akhir dengan Tawarruk

Duduk tasyahud akhir dilakukan setelah melakukan sujud terakhir dalam sholat. Duduk tawarruk adalah duduk dengan posisi kedua kaki ditekuk ke arah kanan. Kemudian posisinya menyimpang ke kanan dari arah pinggang. Adapun peletakan kaki kiri berada di bawah kaki kanan dan telapak kanan ditegakkan dengan jari-jari kaki menghadap ke arah kiblat.

  1. Isyarat Jari

Dalam melakukan tasyahud awal dan tasyahud akhir dilakukan dengan isyarat jari, adapun cara melakukan isyarat jari adalah sebagai berikut:

Tangan ditempelkan sepenuhnya di lutut yaitu dengan posisi separuh telapak tangan ada di atas paha dan separuh telapak tangan memegang lutut. Lalu pada posisi ini, Anda bisa mengangkat jari telunjuk sebagai isyarat jari secara langsung tanpa menggenggam tangan.

Tangan menggenggam dan diletakkan diatas lutut. Ketika sampai pada bacaan isyarat jari, Anda bisa mengangkat jari telunjuk secara langsung.

Tangan membentuk isyarat separuh genggaman yakni ujung jari tengah dan jempol bertemu sedangkan jari telunjuk menunjuk ke depan. Pada posisi ini, jari telunjuk bisa digerak-gerakkan ke atas dan ke bawah.

  1. Membaca Bacaan Tahiyat Akhir

Kemudian setelah itu posisi kaki dan tangan telah duduk sesuai dengan ketentuan dengan duduk tawarruk. Barulah membaca doa tahiyat akhir yakni berisi tiga bagian yang terdiri dari doa tahiyat awal, kalimat syahadat, dan sholawat atas nabi Muhammad Saw dan Nabi Ibrahim As.

Demikianlah penjelasan tentang Panduan Bacaan Tahiyat Akhir Arab Latin dan Penjelasannya. Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan Anda pembaca. Terima kasih.

√ Bacaan Doa Kamilin : Arab, Latin dan Terjemahnya (Lengkap)

Bacaan Doa Kamilin Arab Latin dan Terjemahnya

Bacaan Doa Kamilin : Arab, Latin dan Terjemahnya (Lengkap) – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Doa Kamilin. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan bacaan doa kamilin arab, latin dan terjemah serta keutamaan berikut penjelasannya. Untuk lebih detailnya simak Artikel berikut ini.

Bacaan Doa Kamilin : Arab, Latin dan Terjemahnya (Lengkap)

Doa kamilin merupakan doa yang dibaca setelah sholat tarawih telah selesai. Sholat tarawih sendiri ialah sholat sunah yang hanya ada di bulan suci ramadhan saja selama 30 hari atau sebulan penuh.

Sholat tarawih dilakukan setelah sholat isya atau sampai dengan terbit fajar. Sholat tarawih dapat dilakukan berjamaah di masjid maupun dilakukan sendiri di rumah.

Jumlah rakaat solat tarawih yaitu 23 rakaat dengan 20 rakaat sholat tarawih dan 3 rakaat sholat witir yang setiap 2 rakaat salam.

Ada juga yang melakukannya dengan 11 rakaat saja dengan 8 rakaat sholat tarawih dan 3 rakaat sholat witir yang setiap 2 rakaat juga salam.

Sholat tarawih merupakan sholat sunah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk dilaksanakan dan hanya terdapat pada bulan ramadhan. Karena dalam sholat tarawih ini memang sangatlah banyak manfaat dan keutamaannya.

Doa Kamilin

Bagi yang sholat tarawih 23 rakaat maka membaca doa kamilin setelah 20 rakaat sholat tarawih dilaksanakan. Kemudian dilanjutkan 3 rakaat sholat witir dengan 2 rakaat salam dan 1 rakaat salam.

Sedangkan bagi yang melaksanakan sholat tarawih 11 rakaat maka ia membaca doa kamilin setelah 8 rakaat sholat tarawih. Kemudian dilanjutkan dengan 3 rakaat sholat witir rakaat salam dan 1 rakaat salam.

Berikut ini adalah bacaan doa kamilin atau doa setelah sholat tarawih arab, latin dan terjemahnya, yaitu:

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْاِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبِاالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لَوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ. وَاِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَاِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلٰى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَمِنْ حُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ, بِاَكْوَابٍ وَّاَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَّعِيْنَ

مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ اُوْلٰئِكَ رَفِيْقًا ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا

اَللّٰهُمَّ اَجْعَلْنَا فِى هٰذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّهْرِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلاَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْن

وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Allaahummaj’alnaa Bil-Iimaani Kaamiliin, Wa Lil-Faraa ‘Idimu’addiin, Wa Lis-Salaati Haafiziin, Wa Liz-Zakaatii Faa’iliin, Wa Limaa ‘Indaka Taalibiin, Wa Li’afwika Raajiin.

Wa Bil-Hudaa Mutamassikiin, Wa ‘Anil-Lagwi Mu’ridiin, Wa Fid-Dun-Yaa Zaahidiin, Wa Fil-Aakhirati Raagibiin, Wa Bil-Qadaa’i Raadiin, Wa Lin-Na ‘Maa’i Syaakiriin.

Wa ‘Alal-Balaa’i Saabiriin, Wa Tahta Liwaa’i Sayyidinaa Muhammadin Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallama Yaumal-Qiyaamati Saa’iriin, Wa Ilal-Haudi Waaridiin.

Wa Ilal-Jannati Daakhiliin, Wa Minan-Naari Naajin, Wa ‘Alaa Sariiril-Karaamati Qaa’idiin Wa Min Huurin ‘Iinim Mutazaw-Wijiin, Wa Min Sundusiw Wa Istabraqiw Wa Diibaajim Mutalabbisiin.

Wa Min Ta’aamil-Jannati Aakiliin, Wa Mil Labaniw Wa ‘Asalim Musaffan Syaaribiin, Bi Akwaabiw Wa Abaariiqa Wa Ka’sim Mim Ma’iin.

Ma’allaziina An’amta ‘Alaihim Minan-Nabiyyiina Was-Siddiiqiina Wasy-Syuhadaa’i Was-Saalihiinna Wa Hasuna Ulaa’ika Rafiiqaa, Zaalikal-Fadlu Minallaahi Wa Kafaa Billaahi ‘Aliimaa.

Allaahummaj’alnaa Fii Lailati Haazasy-Syahrisy-Syariifatil-Mubaarakati Minas-Su’adaa’il-Maqbuuliina Wa Laa Taj’alnaa Minal-Asyqiyaa’il-Marduudiin.

Wa Sallallaahu ‘Alaa Muhammadiw Wa ‘Alihii Wa Sahbihii Ajmaa’in, Bi Rahmatika Yaa Arhamar-Raahimiin, Wal-Hamdu Lillaahi Rabbil-‘Aalamiin.

Artinya :

“Ya Allah, jadikanlah kami berkat iman Orang-orang yang sempurna, Orang-orang yang mengerjakan hal yang wajib, Orang-orang yang memelihara sholat.

Orang-orang yang menunaikan zakat, Orang-orang yang mengharapkan pahala yang ada di sisi-Mu, Orang-orang yang mengharapkan ampunan-Mu.

Orang – orang yang berpegang teguh kepada hidayah-Mu, Orang-orang yang berpaling dari perbuatan yang sia-sia, Orang-orang yang berzuhud terhadap duniawi.

Orang-orang yang mengharapkan pahala akhirat, Orang-orang yang ridha dengan qada, Orang-orang yang mensyukuri nikmat, Orang-orang yang sabar menghadapi cobaan dan musibah.

Dan Orang-orang yang berjalan di bawah panji Nabi Muhammad SAW. Kelak di hari kiamat, Orang-orang yang digiring munuju telaga Kausar untuk meminum airnya.

Orang-orang yang masuk kedalam surga, Orang-orang yang diselamatkan dari neraka, Orang-orang yang didudukkan di atas dipan-dipan kemuliaan.

Orang yang mengawini bidadari-bidadari yang bermata jeli, Orang-orang yang mengenakan pakaian dari sutra tipis dan tebal.

Orang-orang yang memakan makanan surga dan minum dari air susu dan madu dengan memakai gelas-gelas dan cerek-cerek serta sloki piala yang langsung dari sumbernya.

Yaitu dengan Orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka dari kalangan para nabi, kaum siddiqin, para syuhada dan Orang-orang yang sholeh, mereka adalah sebaik-baiknya teman. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah SWT dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui.

Ya Allah, jadikanlah kami Orang-orang yang berbahagia, yang diterima amal perbuatannya dalam bulan yang mulia dan diberkati ini. Dan janganlah Engkau jadikan kami Orang-orang celaka yang ditolak amal perbuatannya.

Dan semoga Allah SWT melimpahkan rahmat kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya. Dengan rahmat-Mu wahai Tuhan Yang Maha Pengasih di antara pengasih, dan segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam.”

Manfaat Sholat Tarawih

Manfaat dari melaksanakan sholat tarawih sangatlah besar. Bahkan jika kita sholat tarawih disetiap malam maka kita akan mendapatkan manfaat yang berbeda-beda pula di setiap malamnya. Manfaatnya bisa dirasakan mulai dari segi kesehatan tubuh maupun jiwa dan dari segi keimanan kita kepada Allah SWT.

Karena pada bulan suci ramadhan dibuka selebar-lebarnya pintu surga untuk orang yang beribadah kepada Allah SWT dan para setan, iblis dan jin itu dipenjara.

Maka tak heran banyak orang yang berlomba-lomba untuk mendapatkan pahala di bulan suci ramadhan ini.

Berikut adalah beberapa manfaat yang dapat kita ambil dari sholat tarawih secara rutin :

Manfaat Sholat Tarawih untuk Kesehatan Rohani

  • Dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT.
  • Dapat memberikan ketenangan batin. Seperti sholat – sholat sunah yang lainnya.
  • Dapat meningkatkan solidaritas sosial dan menghilangkan kesenjangan sosial jika sholat tarawih dilakukan berjamaah di masjid. Karena memang sholat tarawih itu identik dengan sholat berjamaah di masjid.
  • Dapat melatih kesabaran. Karena jumlah sholat tarawih yang cukup banyak.

Manfaat Sholat Tarawih untuk Kesehatan Jasmani

  • Dapat meningkatkan fungsi otak. Karena dengan sholat tarawih peredaran darah ke otak meningkat dan suplai nutrisi ke otak juga meningkat. Jadi otak dapat bekerja secara maksimal.
  • Dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Karena gerakan yang ada di dalam sholat tarawih dapat memicu reaksi tubuh kita dan memperkuat sel – sel kekebalan tubuh terutama bagi lansia.
  • Dapat meningkatkan stamina. Karena sifat sholat tarawih sendiri dapat dikatakan sama dengan olahraga.
  • Dapat meningkatkan mood seseorang. Karena saat melaksanakan sholat tarawih otak akan melepaskan senyawa emdhorpin yang dapat meningkatkan rasa nyaman dan membuat mood baik kembali.
  • Dapat menjaga kesehatan jantung. Karena sholat tarawih memiliki efek yang sama dengan latihan kardio atau senam jantung.
  • Dapat menyehatkan tulang dan persendian. Karena jumlah rakaat dalam sholat tarawih yang cukup banyak dan setiap gerakan sholat itu dipercaya mampu menyehatkan tulang dan persendian kita.
  • Dapat menurunkan kadar gula darah di dalam tubuh. Karena pada saat berbuka puasa kita dianjurkan untuk memakan makanan manis terlebih dahulu. Hal ini lah yang dapat membuat kadar gula darah dalam tubuh menurun.
  • Dapat membakar kalori. Karena jumlah rakaat dalam sholat tarawih yang cukup banyak dan kita terus dapat bergerak maka kalori di dalam tubuh kita akan terbakar.
  • Dapat menghilangkan stress. Karena saat melaksanakan sholat tarawih tubuh akan melepaskan beberapa senyawa kimia yang berfungsi untuk meredakan stress.

Bacaan Doa Kamilin Arab Latin dan Terjemahnya

Hadist Tentang Sholat Tarawih

Di bawah ini mengenai hadist tentang sholat tarawih, yaitu :

Rasulullah SAW telah bersabda :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ متفق عليه

Artinya:

“Barang siapa mendirikan sholat malam di bulan suci ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah SWT, niscaya mereka diampuni dosa – dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq alaih)

Di lain hadist juga Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ رَمَضَانَ شَهْرٌ فَرَضَ الله صِيَامَهُ وَإِنِّيْ سَنَنْتُ لِلْمُسْلِمِيْنَ قِيَامَهُ، فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنَ الذُّنُوْبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ خرجه النسائي، وقال: الصواب عن أبي هريرة

Artinya:

“Sungguh, bulan suci ramadhan adalah bulan yang diwajibkan oleh Allah SWT puasanya dan disunahkan sholat malam. Maka barang siapa menjalankan puasa dan sholat malam pada bulan itu karena iman dan mengharap pahala, niscaya dia akan bebas dari dosa – dosanya, seperti saat ketika dilahirkan ibunya.” (HR Abu hurairah)

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda :

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

Artinya :

“Puasa adalah perisai. Maka janganlah dia berkata-kata kotor dan berbudat bodoh. Apabila ada orang lain yang memerangi atau mencacinya, hendaklah dia katakan ‘Aku sedang puasa’ 2x.

Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah SWT dari pada bau minyak kasturi.

Dia rela meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Satu kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat kebaikan tersebut.” (HR Bukhari)

Demikian penjelasan tentang Bacaan Doa Kamilin : Arab, Latin dan Terjemahnya (Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan sehingga menguatkan Iman dan Islam Kita. Terima kasih.

√ Bacaan Doa Untuk Orang Meninggal Arab, Latin dan Artinya

Bacaan Doa Untuk Orang Meninggal Arab Latin dan Artinya

Bacaan Doa Untuk Orang Meninggal Arab, Latin dan Artinya – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Doa Untuk Orang Meninggal. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan bacaan doa untuk orang meninggal menggunakan bahasa arab, latin dan terjemahnya. Untuk lebih jelasnya simak artikel berikuti ini.

Bacaan Doa Untuk Orang Meninggal Arab, Latin dan Artinya

Seperti namanya doa untuk orang meninggal ialah doa yang kita panjatkan untuk orang yang sudah meninggal dunia. Karena mendoakan orang yang sudah meninggal dunia adalah sebuah kewajiban kita sebagai umat muslim yang masih hidup.

Terutama jika orang yang meninggal adalah salah satu dari keluarga atau kerabat kita atau bahkan kedua orang tua kita. Karena doa anak sholeh dan sholehah lah yang mampu menolong orang tua besok di akhirat. Bahkan pahala dan amalan baik keduanya akan tetap mengalir.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW telah bersabda :

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ وَعِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ

Artinya : “Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal; Sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shalih yang mendoakannya.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1297)

Hanya doa yang diharapkan oleh orang yang sudah menigngal. Karena kiriman doa akan lebih berarti dan diinginkan dari pada dunia beserta seisinya. Mereka akan begitu bahagia, bilamana dikirimi doa. Karena kekuatan doa memang luar biasa.

Allah SWT pasti masih akan selalu memberikan rahmat-Nya kepada orang yang beriman untuk dapat menebarkan kebaikan. Salah satu cara adalah dengan mendoakan orang yang sudah meninggal dunia.

Doa Untuk Orang Meninggal

Berikut ini adalah doa untuk orang yang sudah meninggal baik laki-laki maupun perempuan, antara lain yaitu:

Doa Ketika Ada Orang yang Meninggal

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلَهُ وَأَعْقِبْنِي مِنْهُ عُقْبَى حَسَنَةً

Allahuma ghfirlii wa lahu wa’qibni minhu ‘uqba hasanah

Artinya :

“Ya Allah, ampunilah diriku dan dia serta berikan kepadaku darinya pengganti yang lebih baik.”

Doa Untuk Orang Meninggal Laki – Laki

اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارًاخَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَاَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَاَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرَنَا وَكَبِيْرَنَا وَذَكَرِنَا وَاُنْثَانَا

اَللهُمَّ مَنْ اَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَاَحْيِهِ عَلَى اْلاِسْلاَمِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلاِيْمَانِ

اَللهُمَّ لاَتَحْرِمْنَا اَجْرَهُ وَلاَتُضِلَّنَا بَعْدَهُ بِرَحْمَتِكَ يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Allaahummaghfirlahu. Warhamhu wa’aafihii wa’fu anhu. Wa akrim nuzu lahu wa wassi’ madkhalahu. Waghsilhu bilmaai was tsalji walbaradi wanaqqihi minal khathaayaa. Kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minaddanasi wa abdilhu daaran khairan min daarihi. Wa ahlan khairan min ahlihi. Wazaujan khairan min zaajihi. Wa adkhilhuljannata wa ‘aidzhu min ‘adzaabilqabri. Wafitnatihi wamin ‘adzaabin naari.

Allaahummaghfir lihayyinaa wamayyitinaa wasyaahidinaa waghaaibinaa washaghiiranaa wakabiiranaa wadzakarinaa wauntsaana.

Allaahumma man ahyaitahu minnaa fa ahyihi ‘alal islaami. Waman tawaffaitahu minnaa fatawaffahu ‘alal iimaani.

Allaahumma laa tahrimnaa ajrahu. Walaa tudhillanaa ba’dahu. Birahmatika yaa arhamar raahimiina. Walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin.

Artinya :

“Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah, bebaskanlah dan lepaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskan lah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskan lah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilan rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkan, serta suami atau istri yang lebih baik dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia kedalam surga, dan lindungilah dia dari siksa kubur serta fitnah nya, dan dari siksa api neraka.

Ya Allah, berikanlah ampun, kami yang masih hidup dan kami yang telah meninggal dunia, kami yang hadir, kami yang ghoib, kami yang kecil-kecil kami yang dewasa, kami yang laki-laki maupun perempuan.

Ya Allah, siapapun yang Engkau hidupkan dari kami, maka hidupkanlah dalam keadaan iman.

Ya Allah janganlah Engkau menghalangi kami, akan pahala beramal kepadanya dan janganlah Engkau menyesatkan kami sepeninggal dia dengan mendapat rahmat-Mu wahai Allah yang lebih belas kasihan. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

Doa Untuk Orang Meninggal Perempuan

اَللهُمَّ اغْفِرْلَهَا وَارْحَمْهُ وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا وَاَكْرِمْ نُزُلَهَا وَوَسِّعْ مَدْخَلَهَا وَاغْسِلْهَا بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهَا مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهَا دَارًاخَيْرًا مِنْ دَارِهَا وَاَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهَا وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا وَاَدْخِلْهَا الْجَنَّةَ وَاَعِذْهَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهَا وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرَنَا وَكَبِيْرَنَا وَذَكَرِنَا وَاُنْثَانَا

اَللهُمَّ مَنْ اَحْيَيْتَهَا مِنَّا فَاَحْيِهَا) عَلَى اْلاِسْلاَمِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهَا مِنَّا فَتَوَفَّهَا عَلَى اْلاِيْمَانِ

اَللهُمَّ لاَتَحْرِمْنَا اَجْرَهَا وَلاَتُضِلَّنَا بَعْدَهَا بِرَحْمَتِكَ يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Allaahummaghfirlaha. Warhamha wa’aafiha wa’fu anha. Wa akrim nuzu laha wa wassi’ madkhalaha. Waghsilha bilmaai was tsalji walbaradi wanaqqiha minal khathaayaa. Kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minaddanasi wa abdilha daaran khairan min daariha. Wa ahlan khairan min ahliha. Wazaujan khairan min zaajiha. Wa adkhilhuljannata wa ‘aidzha min ‘adzaabilqabri. Wafitnatiha wamin ‘adzaabin naari.

Allaahummaghfir lihayyinaa wamayyitinaa wasyaahidinaa waghaaibinaa washaghiiranaa wakabiiranaa wadzakarinaa wauntsaana.

Allaahumma man ahyaitahu minnaa fa ahyihi ‘alal islaami. Waman tawaffaitahu minnaa fatawaffahu ‘alal iimaani.

Allaahumma laa tahrimnaa ajraha. Walaa tudhillanaa ba’daha. Birahmatika yaa arhamar raahimiina. Walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin.

Untuk terjemah atau artinya dari doa untuk orang meninggal perempuan sama hanya yang membedakan yaitu bentuk dhomir Hu (kata ganti orang laki-laki) diganti dengan Ha (kata ganti orang perempuan).

Doa Permohonan Untuk Orang Meninggal

Adapun permohonan lain untuk doa orang yang sudah meninggal dunia, diantaranya adalah :

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ

Rab bigh firlii waliwaalidayya

Artinya :

“Ya Allah, ampunilah aku dan ibu bapakku.” (QS Nuh ayat 28)

وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Waqurrabbirhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa

Artinya :

Dan ucapkanlah : “Ya Allah, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua yang mengasihikua di waktu aku kecil.” (QS Al Isra ayat 24)

Perbuatan Baik Untuk Orang Meninggal

  • Mendoakan dan memohonkan ampun baginya.
  • Melaksanakan wasiat dari orang meninggal tersebut selama wasiat tersebut tidak memerintahkan untuk kemaksiatan dan tidak melawan syariat melainkan untuk kebaikan, maka lakukanlah.
  • Selalu menyambung silaturahmi orang yang sudah meninggal dengan kerabat – kerabatnya.
  • Berbuat baik kepada teman, sahabat, keluarga, dan kerabat orang yang sudah meninggal dunia.
  • Bersedekahlah atas nama orang yang sudah meninggal dunia.

Bacaan Doa Untuk Orang Meninggal Arab Latin dan Artinya

Hadist Mengenai Manfaat Mendoakan Orang Meninggal

Terdapat beberapa hadist yang membahas mengenai beberapa manfaat mendoakan orang yang sudah meninggal dunia, yaitu :

Allah SWT berfirman di dalam QS. Al-Baqaroh ayat 180 :

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِن تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

Artinya :

“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan atau tanda – tanda maut. Jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu – bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf. Ini adalah kewajiban atas orang – orang yang bertakwa.”

Allah SWT berfirman di dalam QS. Al-Isra ayat 23 :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Artinya :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu dan bapakmu dengan sebaik – baiknya.”

Rasulullah SAW bersabda :

“Seorang mayat dalam kuburnya seperti orang tenggelam yang sedang meminta pertolongan. Dia menanti – nantikan doa ayah, ibu, anak, dan kawan yang ia percaya. Apabila doa itu telah sampai kepadanya, itu lebih ia sukai daripada dunia seisinya. Dan sesungguhnya Allah SWT menyampaikan doa penghuni dunia untuk ahli kubur sebesar gunung. Adapun hadiah orang – orang yang masih hidup kepada orang – orang yang sudah meninggal ialah memohon istighfar kepada Allah SWT untuk mereka dan bersedekah atas nama mereka.” (HR Ad – Dailami)

Rasulullah SAW bersabda :

“Ada empat hal yang dapat dilakukan untuk orang yang sudah meninggal, yaitu berdoa dan beristighfar bagi keduanya, melaksanakan pesan-pesan yang mereka tinggalkan, berbuat baik kepada keluarga dan teman-teman mereka, dan menghubungkan tali silaturahmi yang tidak bersambung kecuali dengan perantaraan keduanya.”

Rasulullah SAW berdoa untuk orang yang berada di peristirahatan terakhir, yaitu:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ

Artinya : “Semoga keselamatan tercurah bagi penghuni (kubur) dari kalangan orang-orang mukmin dan muslim dan kami insya Allah akan menyulul kalian semua. Saya memohon kepada Allah bagi kami dan bagi kalian Al ‘Afiyah (keselamatan).” (Hadits Muslim Nomor 1620)

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda :

أَبَرُّ الْبِرِّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ وُدَّ أَبِيهِ

Artinya : “Sesungguhnya kebajikan yang utama ialah apabila seseorang melanjutkan hubungan (silaturrahim) dengan keluarga sahabat baik ayahnya.”

Demikian artikel tentang Bacaan Doa Untuk Orang Meninggal Arab, Latin dan Artinya. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan Anda. Terima kasih.

√ Fiqih : Sunnah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan

Fiqih : Sunnah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan

Fiqih : Sunnah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Shalat Tarawih. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan Sunnah Mengerjakan Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan dengan secara singkat dan jelas.

Fiqih :Sunnah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ

Kaum Muslimin wa Muslimat yang dirahmati Allah SWT. Segala puji bagi Allah SWT, shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda nabi agung Muhammad SAW. dalam kesempatan ini kami akan sampaikan tentang Sunnah Mengerjakan Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan.

Shalat Tarawih

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غَفَرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Artinya :

Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa berdiri bersembahyang dalam bulan Ramadhan karana didorong keimanan dan keinginan memperolehi keridhaan Allah, maka diampunkanlah untuknya dosa-dosanya yang terdahlu.” (Muttafaq ‘alaih) Kutipan dari Kitab Riyadhus shalihin.

Baca Juga : Pengertian & Penjelasan Walimatus Safar Haji atau Umroh

وَعَنْهُ رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَغِّبُ فِيْ قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ فِيْهِ بِعَزِيْمَةٍ فَيَقُوْلُ : مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غَفَرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، رَوَاهُ مُسلِمٌ

Artinya:

Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu menganjur-anjurkan supaya senang mengerjakan shalat -pada malamnya- bulan Ramadhan, tanpa menyuruh orang-orang itu dengan kekerasan -yakni bukan kewajiban. Beliau bersabda: “Barangsiapa berdiri bersembahyang dalam bulan Ramadhan karana didorong keimanan dan keinginan memperolehi keridhaan Allah, maka diampunkanlah untuknya dosa- dosanya yang terdahulu.” (Riwayat Muslim)

Jumlah Rak’at Shalat Tarawih

Sabagaimana yang dapat kita fahami shalat Tarawih dikerjakan dengan dua puluh roka’at belum termasuk shalat witir. Sebagaimana tertuang dalam beberapa kitab Fiqih, terutama fiqih as-Syafi’iyah, diantara keterangan tentang jumlah roka’at tarawih adalah:

عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً

Artinya:

Diriwayatkan dari al-Sa’ib bin Yazid radhiyallahu ‘anhu. Dia (al-Saib) berkata : “Mereka (para shahabat) melakukan qiyam Ramadhan pada masa Umar bin al-Khatthab sebanyak dua puluh rakaat.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi di dalam Sunan al-Kubro, I/496. Dengan sanad yang shahih sebagaimana dinyatakan oleh Imam al-`Aini, Imam al-Qasthallani, Imam al-Iraqi, Imam al-Nawawi, Imam al-Subki, Imam al-Zaila`i, Imam Ali al-Qari, Imam al-Kamal bin al-Hammam dan lain-lainnya.

Dalam disiplin ilmu hadis, hadis ini disebut dengan hadis mauquf (Hadis yang mata rantainya berhenti pada shahabat dan tidak bersambung pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam). Walaupun hadis ini tergolong mauquf, hadis tersebut dapat dijadikan sebagai hujjah dalam pengambilan hukum. Karena masalah shalat Tarawih termasuk jumlah rakaatnya bukanlah masalah ijtihadiyah.

Baca Juga : Pengertian Nifaq, pembagian dan hukumnya (Lengkap)

Selain itu juga terdapat ijmak dari para shahabat, adapun keterangan dalam Fiqih itu sangat banyak bahkan di setiap fiqih Syafi’iyah selalu dijelaskan bahwa roka’at Tarawih itu 20 raka’at. Wallahu’alam

Ijmak para shahabat Nabi tentang Shalat Tarawih.

Ketika Sayyidina Ubay bin Ka`ab mengimami shalat Tarawih sebanyak dua puluh rakaat, tidak ada satupun shahabat yang protes, ingkar atau menganggap bertentangan dengan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Jika yang beliau lakukan itu memamng menyalahi sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kenapa para shahabat semuanya diam? Artinya ini menunjukkan bahwa mereka setuju dengan apa yang dilakukan oleh Sayyidina Ubay bin Ka`ab.

Anggapan bahwa mereka takut terhadap Sayyidina Umar bin al-Khatthab adalah pelecehan yang sangat keji terhadap para shahabat. Para shahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah orang-orang yang terkenal pemberani dan tak kenal takut melawan kebatilan.

Bagaimana mungkin para shahabat sekaliber Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Sayyidina Utsman bin Affan, Sayyidina Abu Hurairah, Sayyidah A`isyah dan sangat banyak shahabat senior lainnya (radhiyallahu `anhum ajma`in)

Namun demikian kami juga sangat menghargai bagi yang berpendapat bahwa shalat tarawih itu jumlah roka’atnya hanya delapan roka’at dengan menggunakan dalil-dalil seperti yang disampaikan Siti Aisya ra. Sekalipun hadits tersebut menurut pandangaan kami itu bukan dalil Tarawih.

Karena Siti Aisya ra. Menerangkan : “Baik didalam bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan” dan Babnya itu ada pada Bab shalat witir hadits tersebut dalam kitab Bulugul Marom juga ada, dan itupun diterangkan empat-empat tiga. Namun ada yang perlu di garis bawahi untuk dianalisa pada kalimat “Siti Aisyah tidak menanyakan atas panjangnya shalat tersebut….” Wallahu’alam.

Baca Juga : Pengertian Ibadah, Syarat, Keutamaannya Dalam Islam

Bagi kami tidak terlalu penting membicarakan soal jumlah roka’atnya karena Imam Malik juga melaksanakan shalat tarawih dengan jumlah tiga puluh enam roka’at di Madinah. Jadi bagi kami sekalipun mau lebih dari 36 raka’at atau bahkan kurang dari 4 raka’at itu kembali kepada pribadi masing-masing.

Permasalahannya masih ada yang lebih penting dari itu, bahkan bagi kami andai tidak mengerjakan shalat tarawihpun itu hak masing-masing juga. Justru bagi kami yang menjadi pertanyaan adalah: mengaku islam beriman dan tidak ada udzur syar’i tapi ia tidak menunaikan ibadah puasa dan sholat 5 waktu??? Wallahu’alam semoga mendapat hidayah.

Fiqih : Sunnah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan

Kesimpulan

Kerjakanlah apa yang sudah menjadi kebiasaannya masing-masing, selama itu ada tuntunannya dan fokuslah di bulan yang suci ini hanya untuk mencari ridha Allah SWT.

بِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ و الرِّضَا وَالْعِنَايَةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

Demikian pembahasan tentang Fiqih :Sunnah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan. Semoga dapat memberikan manfaat untuk kita semua. Terimakasih.

√ Pengertian & Penjelasan Walimatus Safar Haji atau Umroh

Pengertian & Penjelasan Walimatus Safar Haji atau Umroh

Pengertian & Penjelasan Walimatus Safar Haji atau Umroh – Pada kesempatan kali ini Pengetahuan Islam akan menerangkan tentang Walimatus Safar baik safar karena mau berangkat haji dan umroh atau lainnya dengan secara singkat dan jelas.

Kenapa hal ini perlu di bahas? Karena ada sebagian saudara muslim kita yang tidak suka dengan mengadakan acara walimah. Seperti yang sudah mentradisi selama ini, dengan alasan mereka masing-masing.

Bahkan ada di antara mereka yang mengatakan perbuatan itu adalah pemborosan dan tidak pernah dicontohkan baginda Rosulullah yang cendrung masuk kategori sombong atau riya yang dibenci oleh Syara’ Wallahu ‘alam.

Pengertian & Penjelasan Walimatus Safar Haji atau Umroh

Untuk lebih jelasnya mengenai hal tersebut mari kita simak bersam penjelasan kami, meskipun penjelasan kami ini betul-betul sangat sedrhana, berikut penjelasannya

Pengertian Walimah

Walimah secara bahasa yaitu “Pesta” atau mempunyai arti : Menjamu, memberi jamuan, berkumpul untuk makan-makan, perjamuan, acara makan-makan, kenduri, nagriung, babacakan dan yang semakna dengan kata tersebut.

Adapun isi dari walimah yang selama ini berjalan biasanya terdapat banyak cara dan acara. Ada yang dilaksanakan dengan sangat sederhana. Semisal hanya mengundang keluarga besar, tetangga untuk menyapaikan permohonan ma’af, mohon doa dan diakhiri dengan makan-makan atau berkatan.

Ada juga yang dibikin meriah dengan mengadakan seperti Pengajian Walimatus Safar. Dengan rangkaian susunan acara yang tertata rapih dengan dimulai dari Pembukaan, Pembacaan Gama Wahyu Ilahi, Sholawat Nabi, Sambutan dst… s/d Doa Penutup.

Memang Walimatus safar itu tidak masuk dalam manasik haji. Sebab tidak ada hubungannya dengan tata cara ibadah haji dan juga Rosulullah SAW tidak mencontohkan. Maka tidak heran kalau ada yang melarang kegiatan ini dengan alasan karena tidak masyru’ (tidak disyari’atkan), akan tetapi ada pula yang mengharuskan dan ada pula yang menganjurkan.

Ta’rif Walimah

Adapun Ta’rif Walimah dan macam-macam jenis walimah adalah sebagai berikut:

تَعْرِيْفُهَا فِيْ اللُّغَةِ : إِسْمٌ لِطَعَامِ الْعَرْسِ خَاصَّةً فَلَا تُطْلَقُ عَلَى غَيْرِهِ حَقِيْقَةً. أَمَّا الْأَطْعِمَةُ الْأُخْرَى الَّتِيْ تُصْنَعُ عِنْدَ حَادَثِ السُّرُوْرِ وَيُدْعَى إِلَيْهَا النَّاسُ عَادَةً فَلَهَا أَسْمَاءٌ أُخْرَى غَيْرُ الْوَلِيْمَةِ، فَلَا تُسَمَّى وَلِيْمَةَ تَسْمِيَّةً حَقِيْقَةً

Walimah (resepsi pernikahan) adalah istilah khusus bagi makanan yang dihidangkan pada acara pernikahan. Istilah ini tidak digunakan untuk mengartikan hal lain. Adapun hidangan makanan lainnya yang dihidang ketika adanya kebahagiaan kemudian kebiasaan mengundang orang maka itu ada penamaan-penamaan lain tidak dinamakan walimah.

Bentuk-bentuk Walimah

وَأَنْوَاعُهَا كَثِيْرَةٌ مِنْهَا : الطَّعَامُ الَّذِيْ يُصْنَعُ عِنْدَ الْعَقْدِ عَلَى الزَّوْجَةِ وَيُسَمَّى طَعَامَ الْإِمْلَاكِ : (وَالْإِمْلَاكُ : التَّزْوِيْجُ) وَيُقَالُ أَيْضًا : شُنْدَخٌ. بِضَمِّ الشِّيْنِ الْمُعْجِمَةِ وَسُكُوْنِ النُّوْنِ وَفَتْحِ الدَّالِ مَأْخُوْذُ مِنْ قَوْلِهِمْ : فَرَّسَ مُشَنْدَخَ، أَيْ يَتَقَدَّمُ غَيْرَهُ، فَسُمِّيَ بِذَلِكَ هَذَا الطَّعَامُ لِأَنَّهُ يَتَقَدَّمُ عَلَى الْعَقْدِ وَعَلَى الدُّخُوْلِ

Bentuk walimah itu banyak diantaranya adalah: Makanan yang dihidangkan saat akad nikah dinamakan makanan imlak yang berarti pernikahan. Juga, disebut “syu ndakh” (dengan dibaca: Dhomah Syin, nun disukunkan dan dal dibaca fathah) yang artinya mendahului yang lain, yakni mendahului “akad” dan juga mendahului “masuk.”

وَمِنْهَا الطَّعَامُ الَّذِيْ يُصْنَعُ عِنْدَ الْخِتَانِ وَيُسَمَّى إِعْذَارً. وَمِنْهَا الطَّعَامُ الَّذِيْ يُعْمَلُ لِسَلَامَةِ الْمَرْأَةِ مِنَ الطَّلْقِ وَ الْوِلَادَةِ وَيُسَمَّى خُرْسًا

Makanan yang dihidangkan saat khitanan disebut makanan “I’dzar”.  Makanan yang dihidangkan karena selamatnya wanita dalam bersalin disebut makanan “khars”.

وَمِنْهَا الطَّعَامُ الَّذِيْ يُصْنَعُ لِقُدُوْمِ مِنَ السَّفَرِ وَيُسَمَّى نَقِيْعَةً : مَأْخُوْذَةٌ مِنَ النَّقْعِ وَهُوَ الْغُبَارُ وَمِنْهَا الطَّعَامُ الَّذِيْ يُصْنَعُ لِلصَّبِيِّ عِنْدَ خَتْمِ الْقُرْأَنِ وَنَحْوِيْهِ وَيُسَمَّى حِذَاقًا. بِكَسْرِ الْحَاءِ وَتَخْفِيْفِ الذَّالِ مُشْتَقٌ مِنَ الْحَذْقِ لِأَنَّهُ يُشِيْرُ  إِلَى حَذَّقِ الصَّبِيِّ. وَمِنْهَا الطَّعَامُ الَّذِيْ يُصْنَعُ لِلْمَأْتِمِ، وَيُسَمَّى وَضِيْمَةً. وَمِنْهَا الطَّعَامُ الَّذِيْ يُصْنَعُ لِبِنَاءِ الدَّارِ  وَيُسَمَّى وَكِيْرَةً. وَمِنْهَا طَعَامُ الْعَقِيْقَةِ * مذاهب الأربعة جليد 2 حلمن ٣۱

Makanan yang dihidangkan karena pulang dari bepergian jauh disebut makanan naqi’ah. Kata: “Naqi’ah” diambil dari kalimat: “an-Naq’i” artinya; debu. Makanan yang dihidangkan karena anak khatam Al-Our’an dan sebagainya disebut makanan hidzaq, diambil dari kata hadzaq yang artinya cerdas.

Makanan yang dihidangkan karena kematian disebut makanan wadhi’ah.  Makanan yang dihidangkan karena membangun rumah atau bangunan disebut makanan wakirah. Dan diantaranya juga ada yang disebut makanan ‘aqiqah. (Kutipan dari Kitab Madzahibul arba’ah)

Jadi pada dasarnya secara rinci ada namanya sendiri-sendiri setiap hidangan makanan pada momen-momen tertentu, akan tetapi kita secara umum menyebutnya adalah: “WALIMAH” apa pun acaranya, termasuk ketika orang-orang diundang ke tempat orang yang mau pergi haji kemudian di situ makan-makan, itu juga secara umum disebutnya: “Walimah”

Dari keterangan di atas, Duta Dakwah mempunyai pandangan bahwa: Walimatus Safar Haji itu sangat baik dan dianjurkan bagi yang memang mampu. Terkait dengan hal tersebut kami tidak membahas secara luas, sehubungan panjang lebarnya masing masing pendapat dalam empat madzhab, maka yang kami hadirkan di sini hanya secara ringkas adalah sebagai berikut:

Walimah Menurut Madzhab Syafi’i

الشَّافِعِيَّةُ قَالُوْا : يُسَنُّ صَنْعُ الطَّعَامِ وَالدَّعْوَةِ إِلَيْهِ عِنْدَ كُلِّ حَادِثِ سُرُوْرٍ، سَوَاءٌ كَانَ لِلْعُرْسِ أَوْ لِلْخِتَانِ أَوْ لِلْقُدُوْمِ مِنَ السَّفَرِ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا ذُكِرَ، فَلَيْسَتْ السُّنَّةُ خَاصَّةً بِوَلِيْمَةِ الطَّعَامِ وَكَمَا أَنَّ الْوَلِيْمَةَ تُصَدَّقَ عَلَى طَعَامِ الْعُرْسِ، فَكَذَلِكَ تُصَدَّقَ عَلَى غَيْرِهِ، وَلَكِنْ صِدْقَهَا عَلَى وَلِيْمَةِ الْعُرْسِ أَكْثَرُ. وَإِنَّمَا يُسَنُّ عَمَلُ الطَّعَامِ عِنْدَ الْقُدُوْمِ مِنَ السَّفَرِ إِذَا كَانَ السَّفَرُ طَوِيْلًا عُرْفًا فِيْ بَعْضِ النَوَاحِى الْبَعِيْدَةِ، فَإِنْ كَانَ يَسِيْرًا أَوْ كَانَ فِيْ نَحِيَّةٍ قَرِيْبَةٍ فَإِنَّهُ لَا يُسَنُّ، أَمَّا الْوَضِيْمَةُ وِهِيَ الطَّعَامُ الَّذِيْ يُعْمَلُ عِنْدَ الْمَوْتِ فَإِنَّهُ يُسَنُّ أَنْ يَكُوْنَ مِنْ جِيْرَانِ الْمَيِّتِ. * مذاهب الأربعة جليد 2 حلمن ٣٢

Menurut madzhab Asy-Syafi’i, menghidangkan makan dan mengundang orang dalam momen-momen suka cita disunnahkan, baik saat pernikahan, khitan maupun sepulang dari bepergian jauh. Kata walimah adalah istilah bagi hidangan pernikahan dan selain pernikahan, tetapi penggunaannya untuk pernikahan lebih banyak.

Menghidangkan makanan sepulang dari bepergian jauh disunnahkan apabila bepergiannya lama menurut kebiasaan masyarakat setempat (‘urf). Kalau sebentar atau dekat maka tidak disunnahkan. Wadhimah adalah makanan yang dihidangkan saat kematian. Adalah tetangga si mayit yang disunnahkan membuatnya. (Kutipan dari Madzahibul-arb’ah jilid 2 hal. 32)

Jadi walimatus safar adalah menjalin silaturahim, mensyukuri nikmat dan berbagi kebahagiaan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Adh-Dhuhaa ayat 11:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Artinya: “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan”.

Walimatus Safar Bukan Riya

Sebagaimana diterangkan dalam firman Allah SWT yang

Artinya: “Dan terhadap ni’mat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh-Dhuhaa: 11).

Dengan demikian maka kami tidak sependapat dengan saudara kami yang berfaham bahwa:

“Walimatus Safar Haji adalah perbuatan Riya”

Karena itu kalau menurut kami khusus bagi yang memang mampu dan mau untuk melakukan Walimatus Safar Haji atau Walimatus Safar Umroh. Maka di situ ada banyak kebaikan, oleh karnanya hal-hal yang perlu kita lakukan adalah:

  • Mengundang sanak saudara dan tetangga sebagai jalan pengganti kita yang mestinya kita datangi satu persatu untuk bersilaturahmi kepada mereka. Baik secara umum maupun khusus dalam rencana keberangkatan ibadah haji.
  • Mengundang makan terlebih kalau ada acara istighotsah, doa bersama dan pengajian semisal. Maka hal yang demikian itu adalah perbuatan baik yang tidak bertentangan dengan sunnah Rosulullah SAW.
  • Memberitahukan rencana keberangkatan dan hal-hal yang dianggap penting untuk diberitahukan atau diumumkan, sehingga sanak keluarga, sahabat, atau tetangga menjadi mengetahui dan dapat membantu memperhatikan serta menjaga keluarga yang ditinggalkan, amalan ini adalah menjadi bagian amal sholeh dalam mewujudkan hak dan kewajiban muslim terhadap muslim lainnya.
  • Walimatus safar dijadikan sebagai momentum strategis untuk berda’wah menyampaikan: “Amar Ma’ruf Nahyil Munkar” dalam berbagai sektor yang tentunya bisa dikaitkan dengan ibadah haji sebagai rukun Islam.
  • Perjalanan ibadah haji adalah perjalanan suci, maka tidaklah salah jika calon jama’ah meminta maaf secara terbuka kepada semua handai taulan yang hadir sebagai upaya membersihkan hati sebelum berangkat. Dengan meminta ma’af itu merupakan perbuatan yang sangat dianjurkan syari’at. Apalagi kita hendak pergi jauh tentunya harus bersih lahir dan batin kita dari segala noda dan kesalahan terhadap sesama bani adam. Dan Insyaa Allah akan menjadi sababiyah datangnya karunia Allah.
  • Saling mendoakan sesama kita baik yang mau berangkat ataupun yang akan ditinggalkan.

Sebagaimana dalam riwayat hadits Muslim berikut:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: وَلَكَ بِمِثْلٍ

Artinya: “Tidak ada seorang hamba Muslim yang berkenan mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan kecuali malaikat mendoakan orang yang berdoa tersebut dengan kalimat ‘Kamu juga mendapat sama persis sebagaimana doa yang kamu ucapkan itu.” (HR Muslim: 4094)

Pengertian & Penjelasan Walimatus Safar Haji atau Umroh

Kesimpulan

Setelah memperhatikan dari berbagai keterangan tersebut, dapat di tarik kesimpulan:

  • Walimatus Safar lil-haj, Walimatus Safar lil-Umroh, baik mau safar atau pun pulang safar. Hukumnya adalah: “Di anjurkan” dan “Sunah” bagi yang mau dan mampu.
  • Walimatus Safar lil-haj, Walimatus Safar lil-Umroh, baik mau safar atau pun pulang safar. Hukumnya adalah: Tidak disunahkan bagi yang tidak mampu dan tidak mau, tapi tetap masih dianjurkan meski hanya sekedar kumpul keluarga dan tetangga dengan menyajikan walau sekedar minum air putih.

Demikian penjelasan tentang Pengertian & Penjelasan Walimatus Safar Haji atau Umroh. Semoga dapat dijadikan pedoman serta memberikan manfaat untuk kita semua. Terimakasih telah berkunjung.

Baca juga:

√ Inilah Bacaan Dzikir Di Waktu Petang Serta Faidahnya (Lengkap)

√ Inilah Bacaan Dzikir Di Waktu Petang Serta Faidahnya (Lengkap)

Inilah Bacaan Dzikir Di Waktu Petang Serta Faidahnya (Lengkap) – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Dzikir. Yang mana dalam pembahasan kali ini mengenai lafadz dan bacaan dzikir yang dilakukan pada petang hari dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini.

Inilah Bacaan Dzikir Di Waktu Petang Serta Faidahnya (Lengkap)

Dzikir petang sangat dianjurkan dan diamalkan karena akan membuat kita lebih semangat di petang hari dan dimudahkan Allah dalam segala urusan serta dihindarkan dari berbagai macam bahaya.

Adapun waktu pelaksanaannya menurut pendapat yang paling tepat adalah dari tenggelam matahari atau waktu Maghrib hingga pertengahan malam. Pertengahan malam dihitung dari waktu Maghrib hingga Shubuh, taruhlah sekitar 10 jam, sehingga pertengahan malam sekitar jam 11 malam.

Juga dalam dzikir petang kali ini, kami sertakan dengan faedah dari setiap dzikir berdasarkan hadits yang menyebutkan dzikir tersebut sehingga dengan itu bisa merenung maksud dzikir dan raih manfaatnya.

Bacaan Dzikir

Diingatkan pula ada bacaan dzikir yang mirip dengan dzikir pagi. Namun ada yang hanya khusus dibaca pagi saja, ada pula yang petang saja. Dzikir kali ini pun kami bantu dengan transliterasi untuk setiap bacaan selain bacaan Al Qur’an, moga bermanfaat bagi yang sulit membaca dzikir yang ada huruf demi huruf.

Membaca Ta’audz

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

A’uudzu Billahi Minasyaitho Nirajiim

Artinya : “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.”

Membaca ayat Kursi

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Artinya : “Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa seizin-Nya. Dia mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. Al Baqarah: 255) (Dibaca 1 x)

Faidah

  • Siapa yang membacanya ketika petang, maka ia akan dilindungi (oleh Allah dari berbagai gangguan) hingga pagi. Siapa yang membacanya ketika pagi, maka ia akan dilindungi hingga petang.

Membaca surat Al Ikhlas

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Artinya : “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4) (Dibaca 3 x)

Membaca surat Al Falaq

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Artinya : “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Shubuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”. (QS. Al Falaq: 1-5) (Dibaca 3 x)

Membaca surat An Naas

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ

Artinya : “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia.” (QS. An Naas: 1-6) (Dibaca 3 x)

Faidah

  • Siapa yang mengucapkannya masing-masing tiga kali ketika pagi dan petang, maka segala sesuatu akan dicukupkan untuknya.

أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ للهِ، وَالْحَمْدُ للهِ، لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا، وَأَعُوذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا، رَبِّ أَعُوذُبِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوذُبِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ

Amsaynaa wa amsal mulku lillah walhamdulillah, laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir. Robbi as-aluka khoiro maa fii hadzihil lailah wa khoiro maa ba’dahaa, wa a’udzu bika min syarri maa fii hadzihil lailah wa syarri maa ba’dahaa. Robbi a’udzu bika minal kasali wa suu-il kibar. Robbi a’udzu bika min ‘adzabin fin naari wa ‘adzabin fil qobri.

Artinya : “Kami telah memasuki waktu petang dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.Wahai Rabbku, aku mohon kepada-Mu kebaikan di malam ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan malam ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepadaMu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di kubur.” (Dibaca 1 x)

Faidah

  • Meminta pada Allah kebaikan di malam ini dan kebaikan sesudahnya, juga agar terhindar dari kejelekan di malam ini dan kejelekan sesudahnya.
  • Di dalamnya berisi pula permintaan agar terhindar dari rasa malas padahal mampu untuk beramal, juga agar terhindar dari kejelekan di masa tua.
  • Di dalamnya juga berisi permintaan agar terselamatkan dari siksa kubur dan siksa neraka yang merupakan siksa terberat di hari kiamat kelak.

اللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ أَصْبَحْنَا،وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوتُ، وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ

Allahumma bika amsaynaa wa bika ash-bahnaa wa bika nahyaa wa bika namuutu wa ilaikal mashiir.

Artinya: “Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu petang, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi. Dengan rahmat dan pertolonganMu kami hidup dan dengan kehendakMu kami mati. Dan kepada-Mu tempat kembali (bagi semua makhluk).” (Dibaca 1 x)

Membaca Sayyidul Istighfar

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Allahumma anta robbii laa ilaha illa anta, kholaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas-tatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu. Abu-u laka bi ni’matika ‘alayya wa abu-u bi dzambii. Fagh-firlii fainnahu laa yagh-firudz dzunuuba illa anta.

Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku pada-Mu (yaitu aku akan mentauhidkan-Mu) semampuku dan aku yakin akan janji-Mu (berupa surga untukku). Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” (Dibaca 1 x)

Faidah

  • Barangsiapa mengucapkan dzikir ini di siang hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati pada hari tersebut sebelum petang hari, maka ia termasuk penghuni surga.
  • Barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati sebelum pagi, maka ia termasuk penghuni surga.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَمْسَيْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ، وَمَلاَئِكَتَكَ وَجَمِيْعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ

Allahumma inni amsaytu usy-hiduka wa usy-hidu hamalata ‘arsyika wa malaa-ikatak wa jami’a kholqik, annaka antallahu laa ilaha illa anta wahdaka laa syariika lak, wa anna Muhammadan ‘abduka wa rosuuluk.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku di waktu petang ini mempersaksikan Engkau, malaikat yang memikul ‘Arys-Mu, malaikat-malaikat dan seluruh makhluk-Mu, bahwa sesungguhnya Engkau adalah Allah, tiada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau semata, tiada sekutu bagi-Mu dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.” (Dibaca 4 x)

Faidah

  • Barangsiapa yang mengucapkan dzikir ini ketika pagi dan petang hari sebanyak empat kali. Maka Allah akan membebaskan dirinya dari siksa neraka.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ

Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fid dunyaa wal aakhiroh. Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fii diinii wa dun-yaaya wa ahlii wa maalii. Allahumas-tur ‘awrootii wa aamin row’aatii. Allahummahfazh-nii mim bayni yadayya wa min kholfii wa ‘an yamiinii wa ‘an syimaalii wa min fawqii wa a’udzu bi ‘azhomatik an ugh-taala min tahtii.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh).” (Dibaca 1 x)

Faidah

  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah meninggalkan do’a ini di pagi dan petang hari.
  • Di dalamnya berisi perlindungan dan keselamatan pada agama, dunia, keluarga dan harta dari berbagai macam gangguan yang datang dari berbagai arah.

اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

Allahumma ‘aalimal ghoybi wasy-syahaadah faathiros samaawaati wal ardh. Robba kulli syai-in wa maliikah. Asyhadu alla ilaha illa anta. A’udzu bika min syarri nafsii wa min syarrisy-syaythooni wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘alaa nafsii suu-an aw ajurruhu ilaa muslim.

Artinya: “Ya Allah, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Rabb pencipta langit dan bumi, Rabb segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan diriku, setan dan balatentaranya (godaan untuk berbuat syirik pada Allah), dan aku (berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan terhadap diriku atau menyeretnya kepada seorang muslim.” (Dibaca 1 x)

Faidah

  • Do’a ini diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Bakar As Shiddiq untuk dibaca pada pagi, petang dan saat beranjak tidur.

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim.

Artinya : “Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Dibaca 3 x)

Faidah

  • Barangsiapa yang mengucapkan dzikir tersebut sebanyak tiga kali di pagi hari dan tiga kali di petang hari. Maka tidak akan ada bahaya yang tiba-tiba yang memudaratkannya.

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا

Rodhiitu billaahi robbaa wa bil-islaami diinaa, wa bi-muhammadin shallallaahu ‘alaihi wa sallama nabiyyaa.

Artinya : “Aku ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi.” (Dibaca 3 x)

Faedah

  • Barangsiapa yang mengucapkan hadits ini sebanyak tiga kali di pagi hari dan tiga kali di petang hari. Maka pantas baginya mendapatkan ridha Allah.

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا

Yaa Hayyu Yaa Qoyyum, bi-rohmatika as-taghiits, wa ash-lih lii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan.

Artinya : “Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dariMu).” (Dibaca 1 x)

Faedah

  • Dzikir ini diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Fathimah supaya diamalkan pagi dan petang.

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

Subhanallah wa bi-hamdih.

Artinya : “Maha suci Allah, aku memuji-Nya.” (Dibaca 100 x)

Faedah

  • Barangsiapa yang mengucapkan kalimat ‘subhanallah wa bi hamdih’ di pagi dan petang hari sebanyak 100 x. Maka tidak ada yang datang pada hari kiamat yang lebih baik dari yang ia lakukan kecuali orang yang mengucapkan semisal atau lebih dari itu.

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

Artinya : “Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca 1o x)

Faidah

  • Barangsiapa yang membaca dzikir tersebut di pagi hari sebanyak sepuluh kali, Allah akan mencatatkan baginya 10 kebaikan, menghapuskan baginya 10 kesalahan, ia juga mendapatkan kebaikan semisal memerdekakan 10 budak, Allah akan melindunginya dari gangguan setan hingga petang hari.
  • Siapa yang mengucapkannya di petang hari, ia akan mendapatkan keutamaan semisal itu pula.

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

A’udzu bikalimaatillahit-taammaati min syarri maa kholaq.

Artinya : “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakanNya.” (Dibaca 3 x pada waktu petang)

Faidah

  • Siapa yang mengucapkannya di petang hari, niscaya tidak ada racun atau binatang (seperti: kalajengking) yang mencelakkannya di malam itu.

Demikian ulasan tentang Inilah Bacaan Dzikir Di Waktu Petang Serta Faidahnya (Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan kita semua. Terimakasih.

√ Inilah Waktu Sholat Dhuha Terbaik Agar Doanya Mudah Terkabul

Inilah Waktu Sholat Dhuha Terbaik Agar Doanya Mudah Terkabul

Inilah Waktu Sholat Dhuha Terbaik Agar Doanya Mudah Terkabul – Waktu yang dianjurkan dan bagus buat melakukan sholat dhuha ialah pada akhir dari waktu dhuha. Pada saat matahari telah mulai hampir saat-saat mendekati waktu dzuhur. Para muslimin sering menanyakan soal saat yang mustajab untuk waktu sholat Dhuha terbaik di Indonesia.

Shalat Sunnah Dhuha ini dilakukan setelah setelah sholat Subuh. Kalau sholat Subuh dilakukan sebelum fajar atau terbitnya matahari, kalau sholat dhuha dilakukan setelah fajar sampai datangnya waktu dhuhur. Hanya jam berapa tepatnya? Silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut.

Inilah Waktu Sholat Dhuha Terbaik Agar Doanya Mudah Terkabul

Sahabat Muslim, ketika akan mengerjakan sholat dhuha tentu kita harus mengerti waktu masuk dan waktu akhirnya sholat dhuha. Apalagi dalam waktu tersebut ada beberapa waktu yang terbaik agar doa kita mudah terkabul. Sehingga sahabat bisa meluangkan waktu pada waktu tersebut.

Waktu Sholat Dhuha Terbaik

Dalam hal ini kami akan membahas mengenai sholat dhuha mulai dari definisi sholat dhuha, manfaat sholat dhuha, dan waktu terbaik melaksanakan sholat dhuha.

Definisi Sholat Dhuha

Shalat dhuha atau Duha adalah ibadah shalat sunah yang dilakukan oleh orang muslim pada saat waktu dhuha. Sedangkan waktu dhuha adalah waktu pada saat matahari mulai naik kurang lebih 7 hasta mulai dari terbitnya matahari (sekitar jam tujuh pagi) sampai waktu dzuhur (Sekitar jam 12 siang).

Jumlah rakaat shalat sunnah dhuha minimal 2 rakaat dan maksimal 12 rakaat. Pada shalat Dhuha ini setiap 2 rakaat dikahiri dengan salam.

Manfaat shalat dhuha yang dirasakan oleh orang muslim yang mengerjakannya adalah dapat memudahkan rizkinya, melapangkan dada dan dimudahkan urusannya, untuk itu banyak orang yang mengerjakannya. Untuk itu diutamakan membaca surat-surat dalam shalatnya yang bisa mendatangkan rizki. Surah-surah yang paling baik dibaca ketika shalat duha adalah:

  • Surah Ad-Duha
  • Surah Al-Waqi’ah
  • Surah Asy-Syams
  • Surah Quraisy
  • Surah Al-Kafirun
  • Surah Al-Ikhlas

Waktu Sholat Dhuha Terbaik

Dari masuknya waktu sholat dhuha sampai berakhirnya ada beberapa waktu keutamaan dalam mengerjakannya.

Waktu Sholat Dhuha Terbaik Menurut Ulama

Dalam Fikih Manhaji Imam Syafi’i disebutkan bahwa waktu terbaik untuk sholat Sunnah dhuha Sudah dijelaskan bahwa untuk melaksanakan ibadah dhuha yang mustajab bisa melihat tanda-tanda alam yaitu pada saat padang pasir sudah terasa panas dan juga anak unta beranjak.

Pada Nuzhatul Muttaqin Karya Syaikh Musthafa Al Bugha dan empat ulama lainnya menjelaskan Bahwa :

“Waktu shalat dhuha dimulai sejak matahari beranjak tinggi sampai matahari mendekati posisi tengah. Tapi, Waktu Sholat Dhuha yang paling utama adalah Disaat matahari meninggi dan sudah terasa panas.”

Karena jaman dulu belum ada jam, maka yang jadi patokan adalah dengan melihat tanda-tanda alam, misalnya melihat arah matahari, panasnya pasir atau bayangan dari sinar matahari. Karena sekarang sudah ada jam, maka Anda bisa berpatokan berdasarkan jam untuk melihat kapan waktu sholat dhuha terbaik. Jadi akan lebih paham kapan saat yang tepat dan mustajab untuk melakukan sholat sunnah ini.

Waktu Shalat Dhuha Paling Utama

Jam berapakah waktu terbaik sholat Dhuha?

Waktu shalat dhuha paling tepat ialah pada waktu jam 9 Pagi WIB. Sedangkan untuk waktu di tempat lain selain WIB, maka akan menyesuaikan. Anda bisa berpatokan di waktu sholat yang ada atau bisa mengambil referensi dari jadwal sholat online. Dalilnya dari hadist nabi, yang terjemahnya:

إِنَّ صَلَاةَ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

Artinya : “Shalat orang-orang yang bertaubat adalah saat anak-anak Unta menderum (karena panasnya matahari).”  (HR. Ahmad).

Ibadah yang dimaksud pada hadist nabi berdasarkan waktu terbaik sholat dhuha. Begitu juga amanat dari Syaikh Muhammad bin Shalih al utsaimin serta Syaikh bin Baz pada uraian buku perkataan nabi riyadhus shalihin.

Inilah Waktu Sholat Dhuha Terbaik Agar Doanya Mudah Terkabul

Kini telah banyak sekali agenda sholat yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga aci. Anda dapat menggunakan agenda sholat itu sebagai referensi. Jadi bisa melihat kapan waktu sholat Dhuha terbaik untuk melakukannya dan kapan waktu yang diharamkan.

Waktu Sholat Dhuha Terbaik yang Mustajab Agar Cepat Kaya

Dengan melakukan ibadah sunnah sembahyang dhuha dipagi hari ketika sudah tiba waktunya, maka akan sangat bisa meringankan beban yang sedang dialaminya. Terutama yang mengalami masalah hutang – piutang atau punya keinginan untuk mendapatkan rejeki yang lebih baik. Sholat dhuha sangat tepat dilakukan sebagai salah satu sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam memohon rejeki kepada-Nya.

Setelah sholat dhuha usahakan melakukan doa memohon ampunan dan rejeki dari-Nya. Silahkan melakukan sholat dhuha secara teratur di pagi hari sesuai jam yang paling mustajab untuk melakukan sembah yang sunnah ini, niscaya masalah-masalah yang Anda hadapi akan mendapat petunjuk dari-Nya.

Demikian ulasan singkat tentang Inilah Waktu Sholat Dhuha Terbaik Agar Doanya Mudah Terkabul. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ 10 Macam Sholat Sunah Yang Memiliki Manfaat Luar Biasa Lengkap

10 Macam Sholat Sunah Yang Memiliki Manfaat Luar Biasa Lengkap

10 Macam Sholat Sunah Yang Memiliki Manfaat Luar Biasa Lengkap – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Macam Sholat Sunah. Dalam pembahasan kali ini menjelaskan berbagai macam sholat sunah dan manfaat yang luar biasa.

Karena sholat sunnah adalah penyempurna dari sholat wajib atau sholat fardhu. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam tentang sholat sunnah yang memiliki manfaat luar biasa.

10 Macam Sholat Sunah Yang Memiliki Manfaat Luar Biasa Lengkap

Kewajiban seorang muslim ialah menjalankan sholat 5 waktu, yaitu sholat subuh, dhuhur, ashar, magrib dan isya. Selain melakukan sholat wajib, ada beberapa macam sholat sunnah yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.

Sholat Sunnah

Bahkan, Anda bisa menjalankannya sesuai dengan kebutuhan. Karena masing-masing sholat sunah memiliki manfaat tersendiri.

Meskipun hukum sholat sunah boleh dikerjakan boleh juga tidak, namun jika pahala dan manfaatnya luar biasa, maka alangkah lebih baik jika kita menjalankannya. Sebab, rasanya akan rugi kalau sampai melewatkan menjalankan sholat sunah tersebut.

Hukum Sholat Sunnah

Hukum sholat sunnah ada dua, yaitu sunnah muakad dan ghoiru muakad.

Sholat Sunnah Muakad

Muakad artinya dikuatkan atau diutamakan. Maksudnya sholat sunnah muakkad berarti sholat sunnah yang diutamakan dan ditekankan agar sholat tersebut dilakukan, walaupun ditinggalkan juga tidak apa-apa.

Sholat sunnah muakad seperti sholat sunnah hari raya idul fitri, sholat sunnah hari raya kurban.

Sholat Sunnah Ghoiru Muakad

Sholat sunnah ghoiru muakad adalah sholat sunnah yang tidak ditekankan dan hanya sholat sunnah biasa. Namun sholat sunnah ghairu muakad juga memiliki manfaat dan keutamaan yang luar biasa jika dikerjakan.

Sholat sunnah ghaoiru muakkad tidak ditekankan agar tidak memberatkan atau membebani umat muslim untuk mengerjakannya. Namun kalau memang mengerjakan sholat sunnahnya bisa dikerjakan maka akan lebih baik lagi.

Pembagian Sholat Sunnah

Banyak sekali jenis sholat sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah. Dalam ajaran islam, sholat sunnah dibagi menjadi 3 jenis:

Sholat Sunnah yang Berhubungan dengan Waktu

Sholat sunnah yang berhubungan dengan waktu maksudnya adalah sholat sunnah ini dalam pengerjaanya hanya dalam waktu-waktu tertentu saja yang sudah ditetapkan pelaksanaannya.

Misalnya :

  • Sholat sunnah dhuha hanya dikerjakan di waktu dhuha, yaitu di waktu pagi hari antar pukul 08:00 sampai pukul 12:00 siang.
  • Sholat sunnah rawatib hanya dikerjakan sebelum atau sesudah sholat fardhu, diluar itu tidak boleh mengerjakannya.
  • Sholat Sunnah yang Berhubungan dengan Sebab

Sholat sunnah yang berhubungan dengan sebab maksudnya adalah sholat sunnah ini dalam pengerjaanya dikarenakan adanya sebab-sebab yang muncul.

Misalnya:

  • Sholat sunnah gerhana yang dikerjakan karena adanya gerhana matahari yang dianjurkan mengerjakan sholat sunnah Kusuf. Dan ketika ada gerhana bulan dianjurkan untuk melaksanakan sholat sunnah Khusuf.
  • Sholat sunnah istikharah yang dikerjakan karena adanya kesulitan dalam memilih sesuatu. Untuk itu dianjurkan melaksanakan sholat istikharah agar mendapat petunjuk dari Allah mengenai pilihan yang harus diambil.

Sholat Sunnah yang Dikerjakan Tanpa Adanya Sebab dan Ketepatan Waktu

Sholat sunnah ini dapat dikerjakan kapan saja, selain waktu-waktu yang diharamkan mengerjakan sholat. Dan sholat sunnah macam ini disebut sholat sunnah “Muthlaq”.

Sholat sunah ini boleh dikerjakan sesuai kemampuan, mengerjakan 2 rakaat, 4 rakaat atau 8 rakaat diperbolehkan sesuai dengan kemampuan yang mengerjakannya.

Selama ada waktu dan tubuh dalam keadaan sehat, tinggal niat mengerjakan sholat sunnah ini untuk mendapatkan pertolongan dan ridha dari Allah.

Sholat Sunah yang Manfaatnya Luar Biasa

Ada banyak macam sholat sunnah yang bisa dikerjakan. Berikut diantaranya.

Sholat Dhuha

Sholat Dhuha ialah salat sunnah yang boleh dikerjakan sendiri ataupun berjamaah. Waktu untuk melaksanakan sholat dhuha ialah pada pagi hari sekitar jam 08.00 pag sampai pukul 12:00 siang. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

َمَنْ صَلَّى الضُّحٰى اِثْنَتٰى عَشَرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللهُ لَهُ قَصْرًا فِى الْجَنَّةِ

Artinya: “Barang siapa yang melakukan sholat Dhuha dua belas rakaat, Allah akan membuatkan baginya istana di surga” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Dari hadist diatas, sholat dhuha memiliki keutamaan dan manfaat yang luar biasa. Bagi siapa saja umat muslim yang mengerjakan sholat sunnah dhuha akan dibuatkan istana di surga. Manfaat lain dari melakukan sholat ini ialah akan dicukupkan kebutuhannya oleh Allah SWT.

Sholat Rawatib

Sholat Wawatib adalah sholat yang dilakukan sebelum ataupun sesudah melakukan sholat wajib. Sebelum sholat fardu disebut “qabliyah” sedangkan setelah sholat fardu disebut “ba’diyah”.

Sholat sunnah rawatib yang dilarang adalah sholat rawatib sesudah subuh dan sesudah asar. Karena pada waktu tersebut terdapat waktu-waktu yang diharamkan melakukan sholat.

Rasulullah Bersabda:

“Barang siapa mengerjakan sholat rawatib sebanyak 12 rakaat sehari semalam, dibuat baginya oleh Allah rumah di dalam surga.”

Inilah janji Allah untuk yang mengamalkan dan mengerjakan sholat sunnah rawatib. Untuk itu sholat sunnah ini memiliki pahala, manfaat dan keutamaan yang besar.

Sholat Tahajud

Sholat tahajud merupakan sholat sunah yang waktu pengerjaannya ialah di malam hari. Jumlah rakaat sholat tahajud adalah minimal 2 rakaat dan maksiml 12 rakaat.

Untuk menjalankannya seseorang dianjurkan untuk tidur terlebih dahulu. Walaupun kalau tidak diawali dengan tidur juga juga gak apa-apa. Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa melaksanakan sholat tahajud dengan sebaik-baiknya, dan dengan tata tertib yang rapi, maka Allah SWT akan memberikan 9 macam kemuliaan yaitu 5 macam di dunia dan 4 macam di akhirat.”

Dari hadist diatas, dapat dipahami kalau sholat tahajud memiliki keutamaan, manfaat dan pahala yang luar biasa. Bagi yang mengerjakannya akan mendapatkan 9 macam kemuliaan dengan 5 macam kemuliaan di dunia dan 4 macam kemuliaan di akherat.

Waktu melakukan sholat tahajud

Sepertiga malam pertama

Waktu sepertiga malam pertama adalah setelah sholat Isya sampai dengan sekitar pukul 10.30. Diusahakan sholat tahajud dilakukan setelah bangun tidur walau hanya sebentar.

Sepertiga malam kedua

Sholat tahajud dapat dilakukan di waktu sepertiga malam kedua. Sholat tahajud di sepertiga malam kedua adalah antara pukul 10.30 malam hingga 01.30 pagi.

Sepertiga malam ketiga

Waktu sepertiga malam terakhir ini antara antara pukul 01.30 pagi hingga sebelum memasuki waktu subuh.

Dari ketiga waktu ini, waktu terbaik untuk melakukan sholat tahajud ialah pada waktu sepertiga akhir malam. Jika ingin melakukan sholat tahajud, pastikan Anda sudah melakukan sholat wajib isya’ terlebih dahulu.

Sholat Istikharah

Banyak orang yang melakukan sholat istikharah saat ada pada kondisi bingung atau bimbang. Harapannya, dengan melakukan sholat istikharah, Allah SWT akan memberikan petunjuk sehingga keputusan yang diambilnya tepat.

Pada Al Quran dalam surah Al Baqarah ayat 216, Allah telah mengingatkan:

وَ عَسٰۤی اَنۡ تَکۡرَہُوۡا شَیۡئًا وَّ ہُوَ خَیۡرٌ لَّکُمۡ ۚ وَ عَسٰۤی اَنۡ تُحِبُّوۡا شَیۡئًا وَّ ہُوَ شَرٌّ لَّکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ وَ اَنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ

Artinya: “Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai semua, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah ayat 216).

Dari firman Allah diatas dapat dipahami kalau pilihan terbaik dari Allah pastilah adalah pilihan terbaik untukmu.

Sholat ini bisa dilakukan kapan saja. Namun, akan lebih utama jika dilakukan pada sepertiga malam terakhir. Jika Anda melakukannya dengan khusyu’, segala keragu-raguan akan hilang karena Allah akan memberikan petunjuk untuk menentukan pilihan.

Sholat Hajat

Apabila Anda punya suatu keinginan, mintalah kepada Allah SWT supaya mengabulkannya. Salah satu caranya ialah melakukan sholat hajat dengan khusyuk’.

Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa berwudhu dan menyempurnakannya, kemudian mengerjakan sholat dua raka’at (Sholat hajat) dengan sempurna maka Allah memberi apa saja yang ia minta, baik segera maupun lambat”, (HR. Ahmad).

Anda bisa meminta sesuatu yang diinginkan kepada Allah melalui sholat ini. Bisa dibilang bahwa sholat hajat menjadi cara terbaik untuk mengadu kepada Allah SWT. Anda akan merasa lebih dekat dengan Allah SWT dan hatipun menjadi tenang.

Sholat Witir

Sholat witir adalah sholatnya para kekasih Allah. Sholat witir ini merupakan salah satu sholat sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Rasulullah bersabda:

“Wahai ahli Quran, lakukanlah sholat Witir, sesungguhnya Allah itu witir (ganjil) dan Dia suka kepada sholat Witir.” (HR. Ahmad dan Yirmidzi).

Sholat witir sebagai sholat penutup dari sholat-sholat lainnya pada hari itu. dari hadist diatas disebutkan bahwa Allah sangat menyukai hamba-Nya yang menjalankan sholat witir. Rasulullah bersabda:

“Ada tiga hal yang fardhu bagiku dan sunnah bagi kalian, yaitu witir (sholat Witir), bersiwak, dan qiyamul lail”, (HR. Bukhari dan Muslim).

Sholat witir wajib gabi Rasulullah, berarti sholat witir ini memiliki keutamaan dan manfaat yang luar biasa. Bagi umatnya sholat witir ini sunnah yang sangat dianjurkan. Jumlah rakaat sholat witir adalah ganjil, dengan minimal 1 rakaat. Dan waktu pengerjaannya yaitu setelah isya’ sampai waktu sebelum subuh.

Sholat Taubat

Manusia tidak luput dari kesalahan. Allah SWT sangat menyukai orang-orang yang mau berubah dan bertobat dari kesalahan yang pernah dilakukannya, baik itu kesalahan besar ataupun kecil.

Salah satu cara untuk memohon ampun kepada Allah SWT ialah dengan melakukan sholat taubat. Di sini, Anda bisa meminta ampunan dari dosa-dosa yang dilakukan sekaligus berjanji tidak akan mengulangi kesalahan tersebut. Jumlah minimalnya ialah 2 rakaat dan maksimal 6 rakaat.

Sholat Wudhu

Hal wajib yang dilakukan ketika akan melakukan sholat ialah berwudhu. Sholat wudhu ialah sholat yang dikerjakan setelah melakukan wudhu. Sebagai contoh, sebelum melakukan sholat maghrib, Anda menjalankan sholat ini setelah wudhu dan sebelum sholat magrib. Jumlah rakaatnya ialah 2 rakaat.

Sholat Tahiyatul Masjid

Sesuai dengan namanya, tujuan melakukan sholat tahiyatul masjib bertujuan memberikan penghormatan pada tempat ibadah masjid. Anda bisa melakukannya kapan saja saat melakukan sholat jamaah di masjid.

10 Macam Sholat Sunah Yang Memiliki Manfaat Luar Biasa Lengkap

Sholat Tasbih

Asal muasal nama sholat tasbih ialah karena terdapat bacaan 300 kali tasbih. Jumlahnya ialah 4 rakaat. Sholat tasbih ini boleh dikerjakan setiap hari, satu minggu sekali, satu bulan sekali, ataupun satu kali seumur hidup.

Rasulullah SAW menyarankan kepada umatnya untuk melakukan ibadah sholat tasbih ini karena pahalanya sangat besar.Demikian ulasan tentang sholat sunnah yang memiliki manfaat, keutamaan dan keistimewaan luar biasa. Lakukanlah sholat sunah sebagai penyempurna ibadah Anda. Anda bisa memilih jenis sholat sunnah mana sesuai dengan momen dan kebutuhan.

Demikian ulasan tentang 10 Macam Sholat Sunah Yang Memiliki Manfaat Luar Biasa Lengkap. Semoga dapat bermanfaat dan menabah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Bacaan Niat Sholat Jumat, Tata Cara, Syarat dan Keutamaannya

Bacaan Niat Sholat Jumat, Tata Cara, Syarat dan Keutamaannya – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Niat Sholat Jumat. Adapun perincian yang akan dibahas tentang √ sholat Jumat, √ syarat sholat Jumat, √ niat sholat Jumat, √ tata cara sholat Jumat dan √ keutamaan sholat Jumat. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini.

Bacaan Niat Sholat Jumat, Tata Cara, Syarat dan Keutamaannya

Sebagai seorang muslim kita diwajibkan untuk melaksanakan perintah Sholat 5 (lima) waktu. Sholat jumat pengganti sholat dhuhur yang berjumlah 4 rakaat menjadi pelaksanaannya 2 rakaat dengan disertai khutbah jumat.

Sholat Jumat

Sholat Jumat adalah sholat dua rakaat yang dikerjakan waktu dhuhur sesudah dua khutbah didalamnya pada hari Jumat.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Al Quran surah Al Jumuah ayat 9:

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِذَا نُوۡدِیَ لِلصَّلٰوۃِ مِنۡ یَّوۡمِ الۡجُمُعَۃِ فَاسۡعَوۡا اِلٰی ذِکۡرِ اللّٰہِ وَ ذَرُوا الۡبَیۡعَ ؕ ذٰلِکُمۡ خَیۡرٌ لَّکُمۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, manakala kamu diserukan untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, demikianlah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al Jumuah ayat 9)

Sholat Jumat merupakan salah satu tanda syi’arnya agama Islam secara keseluruhan. Agar terlihat jelas bahwa agama Islam adalah agama yang mengutamakan kerukunan, pergi bersama dan selalu serempak dalam agamanya.

Berpijak dari situ sehingga sholat Jumat tidak sah dilakukan dengan sendiri-sendiri. Namun sholat Jumat dilakukan dengan berjamaah atau dilakukan dengan cara bersama-sama.

Sebagai pengingat untuk umat muslim, sholat Jumat dilaksanakan seminggu sekali yaitu pada waktu dhuhur di hari Jumat. Pada sholat Jumat senantiasa mendekatkan kepada-Nya dan dalam setiap langkah keseharian tidak luput dari Dzikrullah.

Setiap minggunya semua umat muslim memperoleh suguhan batin sejak jaman Rasulullah sampai hari kiamat kelak. Setidak-tidaknya demikianlah yang terkandung hikmah dalam sholat Jumat.

Waktu Sholat Jumat

Mayoritas sahabat sepakat bahwa waktu sholat Jumat sama dengan waktu Shalat dhuhur. Hal ini berdasarkan hadits dari Anas bin Malik Ra:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى الْجُمُعَةَ إِذَا مَالَتِ الشَّمْسُ

Artinya: “Rasulullah Saw mengerjakan sholat Jumat apabila matahari telah tergelincir” (HR. Abu Dawud dan Abu Ya’la)

Sholat Jumat adalah pengganti sholat dhuhur pada hari Jumat. Jadi waktu sholat Jumatadalah waktu dhuhur di hari Jumat, sekitar pukul 12:00 siang sampai pukul 13:00 siang.

Untuk mengetahui lebih detail tentang jadwal sholat dhuhur pada hari Jumat, atau jadwal sholat Jumat yang sudah ditentukan.

Niat Sholat Jumat

Seperti sholat-sholat lainnya, ketika akan mengerjakan sholat Jumat juga akan diawali dengan membaca niat sholat Jumat. Semua ulama sepakat bahwa tempat niat adalah hati alias diucapkan dalam hati atau dengan suara lirih.

Bacaan Niat Sholat Jumat Arab

اُصَلِّيْ فَرْضَ الْجُمْعَةِ رَكْعَتَيْنِ اَدَاءً مَاْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Bacaan Niat Sholat Jumat Latin

“Ushollii fardhol jum’ati rak’ataini adaa-an ma-muuman lillaahi ta’aala”.

Arti Niat Sholat Jumat

“Aku berniat melakukan sholat wajib Jumat 2 rakaat sebagai makmum, karena Allah Taala”.

Tata Cara Sholat Jumat

Sholat Jumat disyariatkan untuk dikerjakan secara berjamaah, tidak sah jika dilakukan sendirian.

Sebelum Sholat Jumat dilaksanakan secara berjamaah, maka didahului dengan Khutbah Jumat yang terdiri dari dua khutbah.

Khutbah dilakukan oleh Khatib untuk menyampaikan khutbah pertama dengan memuji Allah, bershalawat, syahadat dan menyampaikan pesan taqwa serta nasehat-nasehat ke jalan kebaikan menurut ajaran Islam.

Setelah khutbah pertama selesai, kemudian khatib duduk sejenak. Kemudian khatib kembali berdiri untuk menyampaikan khutbah kedua dan mengakhirinya dengan doa.

Sholat Jumat dilaksanakan secara berjamaah dengan jumlah dua rakaat yang dipimpin oleh imam. Simak tata cara sholat Jumat berikut.

Rakaat pertama

  1. Niat
  2. Takbiratul ihram, diikuti dengan doa iftitah
  3. Membaca surah Al Fatihah
  4. Membaca surah dari Al Quran
  5. Melakukan Rukuk dengan tuma’minah
  6. Iktidal dengan tuma’minah
  7. Melakukan Sujud dengan tuma’minah
  8. Duduk di antara dua sujud dengan tuma’minah
  9. Melakukan sujud kedua dengan tuma’minah
  10. Berdiri lagi untuk menunaikan rakaat kedua

Rakaat Kedua

  1. Membaca surat Al Fatihah
  2. Membaca surat dari Al Quran
  3. Melakukan Rukuk dengan tuma’minah
  4. Iktidal dengan tuma’minah
  5. Melakukan Sujud dengan tuma’minah
  6. Duduk di antara dua sujud dengan tuma’minah
  7. Melakukan sujud kedua dengan tuma’minah
  8. Tahiyat akhir dengan tuma’minah
  9. Mengucapkan salam sambil menoleh kekanan dan kekiri

Untuk bacaan tiap gerakan sholat Jumat adalah sesuai dengan bacaan sholat wajib 5 waktu.

Syarat Sholat Jumat

Sholat Jumat akan sah dilakukan jika memenuhi beberapa syarat sholat Jumat. Adapaun syarat sholat Jumat berikut:

  1. Sholat Jumat dilakukan di waktu dhuhur pada hari Jumat

Sholat Jumat dilakukan pada waktu dhuhur pada hari Jumat saja, dan dalam seminggu hanya hari Jumat saja.

Jadi sholat jumat ini sebagai pengganti sholat dhuhur pada hari Jumat. Jadi jika sudah melaksanakan sholat Jumat berjamaah, maka tidak perlu melaksanakan sholat dhuhur pada hari Jumat tersebut.

  1. Sholat Jumat dilakukan secara berjamaah di suatu daerah

Sholat Jumat harus dilakukan secara berjamaah, tidak boleh dikerjakan secara sendiri-sendiri di suatu daerah.

  1. Sholat Jumat Wajib Diikuti minimal oleh 40 jamaah

40 Jamaah ini harus orang laki-laki yang sudah baligh. Sholat Jumat akan sah jika diikuti oleh minimal 40 orang laki-laki yang sudah baligh.

Sholat Jumat ini hukumnya wajib bagi laki-laki yang sudah baligh, jadi kaum laki-laki yang sudah baligh dari daerah tersebut diwajibkan untuk melaksankan sholat Jumat.

Apabila ada jamaah wanita, maka tidak masuk dalam hitungan 40.

  1. Jumlah 40 Jamaah seluruhnya wajib berasal dari daerah tersebut

Juga jika ada orang lain selain penduduk sekitar daerah tersebut yang sedang melakukan perjalanan atau singgah (mushafir), maka tidak masuk dalam jumlah 40 jamaah.

Penduduk yang mengerjakan sholat Jumat berjamaah adalah masuk dalam penduduknya sendiri dari wilayah tersebut. Bila berasal dari daerah orang lain tidak masuk dalam hitungan jumlah 40 jamaah.

  1. Didahului dengan dua khutbah

Walau sholat Jumat adalah pengganti sholat dhuhur pada hari Jumat, namun hitungan rakaat dan rukun sholatnya berbeda dengan sholat wajib 5 waktu pada waktu dhuhur.

Dalam melakukan sholat Jumat akan diawali dengan dua khutbah terlebih dahulu sebelum melaksanakan sholat Jumat yang berjumlah 2 rakkat.

  1. Sholat Jumat dikerjakan di masjid atau tempat yang sudah di tetapkan

Sholat Jumat hanya dikerjakan di masjid atau tempat yang sudah ditetapkan dalam suatu wilayah. Untuk itu, dalam satu wilayah desa dianjurkan hanya memiliki satu masjid sebagai tempat melaksanakan sholat Jumat.

Walau dalam satu wilayah desa, ada beberapa tempat ibadah, yang lainnya difungsikan sebagai Mushola atau Langgar sebagai tempat melaksankan sholat wajib 5 waktu berjamaah.

Orang yang Wajib Sholat Jumat

Sholat Jumat hukumnya adalah fardhu ‘ain (wajib). Allah akan menutup mata hati orang yang tidak mengerjakan sholat Jumat tiga kali berturut-turut. Seperti dijelaskan dalam hadist berikut:

مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

Artinya: “Barangsiapa meninggalkan tiga kali Sholat Jumat karena menganggap remeh, maka Allah akan menutup mata hatinya” (HR. An Nasa’i, Abu Dawud dan Ahmad).

Lalu, siapa sajakah yang diwajibkan Sholat Jumat?

Berikut orang-orang yang wajib mengerjakan sholat Jumat:

  • Orang islam
  • Laki-laki, wanita tidak wajib melakukan ikut jum’atan
  • Orang yang sudah berakal dan baligh (mukallah)
  • Tidak budak, artinya dia orang yang merdeka
  • Sehat akal pikirannya
  • Penduduk daerah tersebut
  • Orang yang Tidak Wajib Sholat Jumat
  • Sholat Jumat tidak diwajibkan bagi orang-orang dibawah ini:
  • Orang Buta
  • Orang Lumpuh
  • Orang sakit yang menyengsarakan sampai tidak bisa mendatangi shalat Jum’at
  • Merawat orang sakit yang tidak bisa ditinggalkan atau orang sakit itu tidak mau dipasrahkan kepada orang dia
  • Hujan deras yang tidak bisa membuat berangkat jumatan, akan tetapi hal ini dipertimbangkan kondisi kanan kiri, sungguh-sungguh tidak bisa sesungguhnya atau hanya malas saja.

Rukun Khutbah Jumat

Perlu kita ketahui beberapa rukun khutbah jumat:

  1. Memuji kepada Allah dengan lafadz hamdalah
  2. Mengucapkan shalawat salmi kepada nabi Muhammad Saw
  3. Megucapkan wasiat taqwa
  4. Membacakan salah satu ayat dari Al Quran
  5. Memohonkan ampun kepada kaum mukmin muslim

Syarat Khutbah Jumat

Ada beberapa syarat dari khutbah jumat meliputi:

  1. Suci dari hadats dan najis, bailk badan, tempat khutbah atau pakaian
  2. Menutup aurat
  3. Berdiri bagi khatib yang kuasa berdiri
  4. Duduk dengan tumaknimah abtara dua khutbah
  5. Berurutan antara khutbah dua dan tidak terlalu lama
  6. Berurutan antara khutbah kedua dan shalat
  7. Rukun-rukun khutbah yang disebutkan diatas dibaca dengan Bahasa Arab, adapun selain itu, misal penjelasan boleh dengan Bahasa masing-masing daerah atau Bahasa yang mudah dipahami dan umum didaerah tersebut.
  8. Dengan suara yang keras dan didengar oleh mustami’ sekurang-kurangnya 40 orang.
  9. Semuanya dilakukan dalam waktu dhuhur.

Sunnah Sebelum Sholat Jumat

Melakukan mandi bersih atau mandi junub sebelum melakukan sholat Jumat adalah sunnah sesuai ajaran Rasulullah.

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً

Artinya: “Barangsiapa mandi pada hari Jumat sebagaimana mandi jinabat, lalu berangkat menuju masjid, maka dia seolah berqurban dengan seekor unta”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Melakukan Mandi Junub Untuk Sholat Jumat

Niat mandi bersih untuk sholat Jumat sebagai berikut:

Bacaan Niat Mandi Junub Sholat Jumat Arab

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِلصَّلاَةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

Bacaan Niat Mandi Junub Sholat Jumat Latin

“Nawaitul ghusla lishsholaati min yaumil jumu’atisunnatal lillahi ta’aalaa”.

Arti Niat Mandi Junub Sholat Jumat

“Aku niat mandi untuk mengerjakan sholat Jumat, sunnah karena Allah taala”.

Perbuatan Sunnah pada Hari Jumat

  • Membersihkan badan
  • Memotong kuku
  • Memotong rambut
  • Mandi bersih atau mandi keseluruhan untuk sholat Jumat
  • Menggunakan parfum atau wangi-wangian
  • Berpakaian bersih (anjuran warna putih) dan pakaian yang paling bagus yang dimiliki.
  • Berangkatlah ke masjid lebih awal.
  • Sampai di masjid tunaikan sholat sunnah tahiyat masjid sebelum duduk dzikir.
  • Perbanyaklah dzikir kepada Allah.
  • Mengucapkan shalawat.
  • Membaca Al Quran.
  • Kalau khatib sudah berdiri, maka dengarkanlah dengan hati khusu’ dan ingatlah apa-apa yang dikhutbahkan.

Sunnah Setelah Selesai Sholat Jumat

Kalau khutbah dan sholat Jumat sudah selesai, maka jangan langsung pergi meninggalkan masjid untuk pulang ke rumah. Kerjakanlah sholat rawatib ba’diyah dhuhur.

Perbanyaklah dzikir kepada Allah, perbanyaklah membaca ayat-ayat Allah dalam Al Quran, lebih-lebih yang sering dilakukan oleh para ulama yang dijelaskan dalam kitabnya.

Setelah selesai sholat Jumat dianjurkan berdzikir membaca:

  • Surah Al Fatihah (Sebanyak 7x)
  • Surah Al Ikhlas (Sebanyak 7x)
  • Surah An Naas (Sebanyak 7x)
  • Surah Al Falaq (Sebanyak 7x)

Hal Harus Dilakukan Jika Terlambat Sholat Jumat

Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan jika datang terlambat sholat Jumat

  • Apabila ada makmum yang terlambat satu, walaupun tidak mendengarkan khutbah cukup nanti setelah imam salami a menambahi satu rakaat yang ditinggalkan dengan shalat sendiri, bacaan Al Fatihah dikeraskan berikut surat-surat yang dibaca.
  • Apabila rakaat kedua sudah habis, misal imam ketika ruku’ sujud atau sedang tahiyat, tiba-tiba ada makmum yang datang terlambat, maka ikuti rukun pada waktu itu dengan niat shalat jum’at akan tetapi makmum tersebut harus menyempurnakan bilangan rakaat menjadi empat shalat dhuhur.

Hal Harus Dilakukan Jika Ada yang Tidak Terpenuhi Syarat Sholat Jumat

Berikut hal-hal yang perlu dilakukan jika tidak terpenuhi syarat sholat Jumat

  1. Pihak khotib ada yang lupa tidak menyebutkan salah satu diantara rukun khutbah Jumat.

Khotib lupa tidak membaca shalawat atau membaca ayat Al Quran, artinya khotib tersebut tidak sah khotbahnya.

Apabila hal ini tanpa sepengatahuan khotib dan pihak khotib tidak melakukan tindakan penyempurnaan, maka makmum yang meneetahuinya itu harus shalat dhuhur setelah jum’atan sebagai penyempurnaan khutbah yang tidak syah tadi.

  1. Jumlah jamaah sholat Jumat kurang dari 40 jamaah yang sudah baligh.

Apanila dalam suatu daerah tersebut para jamaah tidak sampai 40 orang atau genap 40 namun disana ada pendatang anak-anak yang belum baligh. Maka setelah sholat Jumat diharuskan kembali mengerjakan sholat dhuhur sebagai penutupnya.

Keutamaan Sholat Jumat

Sholat Jumat memiliki beberapa keutamaan bagi yang mengerjakannya. Karena sholat Jumat ini hukumnya wajib bagi laki-laki yang sudah baligh, maka setiap melaksanakan sholat Jumat, semua laki-laki muslim yang sudah baligh akan mendapatkan manfaat dari keutamaan sholat Jumat.

Memiliki Pahala yang Besar

Seperti hadist yang sudah disampaikan diatas, bahwa ketika hari Jumat dan pergi mengerjakan sholat Jumat dengan datang lebih awal, maka akan mendapatkan pahala seperti berqurban seekor unta.

“Barangsiapa mandi pada hari Jumat sebagaimana mandi jinabat, lalu berangkat menuju masjid, maka dia seolah berqurban dengan seekor unta”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Seperti Mengerjakan Ibadah Sholat dan Puasa Selama Setahun

Ketika hari Jumat melakukan mandi junub atau mandi bersih sebelum pergi ke masjid untuk melaksankan sholat Jumat, maka seperti mengerjakan ibadah setahun.

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَغَسَّلَ ، وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ ، وَدَنَا وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا أَجْرُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا

Artinya : “Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat lalu ia bergegas pergi (ke masjid), mendengar dan memperhatikan khutbah, maka setiap langkah kakinya terhitung seperti puasa dan shalat setahun.” (HR. Tirmidzi; shahih)

Masjid adalah sebagai tempat melaksanakan sholat wajib 5 waktu berjamaah dan melaksanakan sholat Jumat berjamaah.

Demikian ulasan tentang Bacaan Niat Sholat Jumat, Tata Cara, Syarat dan Keutamaannya. Semoga Allah selalu memudahkan kita semua melaksanakan sholat untuk bisa selalu mengerjakan sholat Jumat….. Aamin. Terimakasih.

√ Syarat Wajib Puasa Yang Perlu Kita Ketahui (Bahas Lengkap)

Syarat Wajib Puasa Yang Perlu Kita Ketahui (Bahas Lengkap) – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Syarat Wajib Puasa. Yang mana dalam pembahasn kali ini menjelaskan beberapa syarat wajib puasa, baik itu puasa wajib bulan Ramadhan atau puasa sunnah yang perlu kita ketahui.

Syarat Wajib Puasa Yang Perlu Kita Ketahui (Bahas Lengkap)

Sebagai seorang muslim tentu kita harus mengetahui beberapa syarat dan rukun dalam beribadah. Salah satunya perkara yagn wajib kita ketahui dalam rukun islam yaitu Puasa. Sudah barang tentu kita melaksanakan puasa wajib yang dilakukan pada waktu bulan Ramadhan. Oleh karena itu bilamana kita mengerjakan suatu hal tanpa kita mengetahui ilmunya maka akan sia-sia apa yang akan kita lakukan. Nah, untuk lebih jelasnya yuk simak uraian dibawah ini.

Syarat Wajib Puasa

Syarat wajib puasa merupakan syarat penting yang harus dipenuhi ketika akan menjalnkan ibadah puasa. Syarat ini hukumnya wajib dipenuhi sebelum melaksankaan ibadah puasa. Baik ketika melaksankan puasa wajib pada buln Ramadhan atau ketika akan melaksanakan puasa sunnah.

Jika syarat wajib puasa tidak dipenuhi atau tidak diikuti maka aken menyebabkan puasanya akan tidak sah atau sia-sia. Bahkan puasanya tidak akan mendapatkan pahala dari Allah melainkan mendapatkan dosa.

Syarat wajib puasa untuk puasa bulan Ramadhan sama dengan puasa sunnah, yang membedakannya hanya waktu pengerjaannya saja.

Kalau puasa wajib bulan Ramadhan dilaksankan pada waktu bulan Ramadhan selama 1 bulan penuh. Sedangkan puasa sunnah dilaksanakan kapan saja menyesuaikan dengan waktu puasa sunnahnya.

Misalnya:

  • Puasa sunnah Senin-Kamis yang dilakukan pada hari senin dan hari kamis saja.
  • Puasa sunnah Daud yang dikerjakan dengan satu hari puasa dan besoknya tidak, kemudian lusa puasa lagi begitu juga seterusnya.
  • Puasa sunnah Sya’ban yang dilakukan hanya pada waktu bulan Sya’ban saja.
  • Puasa sunnah Syawal yang dilakukan pada bulan syawal.

Ibadah puasa itu mempunyai beberapa persyaratan tertentu. Jika persyaratan-persyaratan tersebut tidak terpenuhi, maka puasa tidak sah hukumannya.

Syarat wajib Puasa terdiri dari 5, yaitu:

  1. Beragama Islam
  2. Baligh
  3. Berakal Sehat
  4. Mampu Menjalankan Puasa
  5. Suci dari haid dan Nifas (Bagi Perempuan)

Di bawah ini diuraikan syarat-syarat wajib puasa khususnya puasa wajib (puasa Ramadhan).

Syarat Wajib Puasa ke-1: Beragama Islam

Syarat wajib puasa yang pertama adalah beragama islam. Syariat puasa adalah untuk umat Islam karena puasa itu adalah salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan. Dengan demikian, umat Islam wajib menunaikan puasa wajib di bulan Ramadhan.

Sementara itu, jika ada umat non-muslim menunaikan puasa sebagaimana puasa yang diajarkan oleh Islam, maka puasa tersebut tidak sah (secara fikih Islam).

Namun demikian, jika agama-agama selain Islam itu juga mempunyai tuntunan dan ajaran berpuasa, maka ketentuan-ketentuannya pun diatur oleh agama-agama tersebut.

Agama Islam tidak berkaitan dengan hal itu. Dengan demikian, puasa dalam agama selain Islam itu tidak terkait meskipun puasa itu sifat dan karakternya sama.

Dalam pandangan Islam, pahala puasa itu ditetapkan kepada mereka yang beragama Islam. Selain itu, pembebanan hukum (taklif) puasa itu secara fikih Islam hanya disyariatkan kepada umat Islam.

Agama Islam tidak menyariatkan puasa kepada umat selain Islam. Dengan begitu, jika seseorang ingin puasanya sah secara Islam maka dia harus memeluk agama Islam.

Sementara itu, agama-agama selain Islam yang seumpama memerintahkan berpuasa kepada umatnya, maka hal itu sah-sah saja menurut agama tersebut.

Kesimpulannya, keabsahan dalam suatu perbuatan itu menjadi tepat dan sesuai dengan agama yang dipeluk oleh umat manusia.

Sebagaimana umat Islam, maka puasa mereka sah menurut Islam jika memenuhi berbagai syarat dan rukunnya yang telah dijelaskan dalam fikih Islam. Sementara itu, puasa umat agama tertentu itu pun sah jika memenuhi berbagai syarat dan rukun menurut agama tersebut.

Syarat Wajib Puasa ke-2: Baligh

Syarat wajib puasa yang kedua adalah sudah baligh. Baligh adalah apabila seseorang itu telah sampai pada kedewasaan (secara fisik).

Artinya, seseorang yang disebut balig adalah orang yang secara fisik sudah matang dan berfungsi. Bagi laki-laki, usia balig dimulai kira-kira sekitar 13 tahun. Sementara itu bagi perempuan, usia balig dimulai kira-kira umur 9 tahun.

Namun demikian, patokan usia itu tidak dapat dipastikan karena semua orang itu tidak sama. Terkadang ada laki-laki yang sudah balig sebelum usia 13 tahun. Begitu pula terkadang ada perempuan yang sudah memasuki usia balig sebelum usia 9 tahun.

Secara lebih tepat, patokan usia balig adalah dari fitrahnya secara alami. Jika laki-laki, maka dia sudah pernah mimpi basah (mimpi mengeluarkan air mani) sementara perempuan sudah haid.

Laki-laki tidak mesti harus berusia 13 tahun untuk bisa mengeluarkan air mani dan perempuan terkadang juga tidak harus berusia 9 tahun untuk haid.

Seorang laki-laki yang sudah mengalami mimpi basah telah mencapai usia balig dan dia telah terbebani oleh hukum di dalam Islam. Setiap laki-laki itu mengalami fase tersebut ketika menginjak usia remaja. Hal itu merupakan kewajaran karena sesuai dengan fitrah.

Andai ada seorang yang belum pernah mengalami mimpi basah padahal usianya sudah lebih dari umumnya. Maka hal itu perlu ditanyakan kepada yang ahli karena ada kemungkinan terjadi kelainan.

Sementara itu, bagi laki-laki yang tidak mengeluarkan air mani (karena mandul), tetap dianggap telah balig jika usianya memang sudah memasuki usia balig, yaitu sekitar umur 13 tahun. Oleh karena itu, orang yang demikian pun sudah diwajibkan berpuasa dan melakukan ibadah wajib lainnya.

Untuk kaum perempuan yang sudah bisa haid itu telah mencapai usia balig dan dia telah terbebani oleh hukum di dalam Islam.

Haid adalah hal yang alami dan fitrah bagi perempuan. Jika perempuan tidak mengalami haid, maka perlu diperiksakan kepada yang ahli karena kemungkinan terjadi kelainan.

Sementara itu, bagi perempuan yang tidak pernah haid (karena mandul), tetap dianggap telah balig jika usianya memang sudah memasuki usia balig, yaitu sekitar umur 9 tahun. Oleh karena itu, orang yang demikian pun sudah diwajibkan berpuasa dan menjalankan ibadah wajib lainnya.

Orang yang sudah balig, baik laki-laki maupun perempuan, itu telah dikenakan pembebanan hukum kepadanya. Orang yang sudah memasuki usia balig wajib melakukan puasa dan shalat wajib.

Sementara itu, jika orang yang sudah balig itu melanggar hukum, maka sudah dikenakan dosa dan bisa dikenankan hukuman juga.

Contohnya:

Jika anak-anak mencuri, maka tidak dosa dan tidak dijatuhi hukuman. Akan tetapi, jika yang mencuri itu adalah orang yang telah mencapai usia balig, maka dia berdosa dan sudah termasuk kriminalitas yang kepadanya itu bisa dijatuhi hukuman.

Rasulullah bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ

Artinya : “Dimaafkan dosa dari tiga golongan, yaitu : orang yang tidur hingga ia bangun, orang gila sampai ia sehat kembali, anak kecil hingga ia mimpi basah (baligh), ” (HR.Abu Dawud dan lainnya).

Dari hadits dia atas dijelaskan bahwa ada tiga golongan yang tidak terkena pembebanan hukum. Salah satu dari ketiga golongan tersebut adalah anak kecil yang belum dewasa atau belum mencapai usia balig.

Syarat Wajib Puasa ke-3: Berakal Sehat

Syarat wajib puasa yang ketiga adalah orang yang berakal sehat. Orang yang berakal sehat dan waras itu bisa berpikir normal.

Orang yang berakal sehat itu bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk. Orang yang berakal sehat itu juga bisa membedakan antara hal yang berguna dan hal yang sampah.

Dengan demikian, pembebanan hukum pun dijatuhkan kepada orang yang berakal sehat.

Jika ada seseorang yang melukai orang lain dan ternyata yang melukai itu gila, maka dia kebal hukum. Dia tidak dijatuhi hukuman sebagaimana orang yang waras.

Meskipun dia melukai dan hal itu merupakan kekjian, tetap saja orang gila itu tidak dijatuhi hukuman apapun karena orang gila memang benar-benar tidak berakal sehat. Dengan begitu, jika dia melukai, maka hal itu tidak keluar dari akal sehatnya.

Begitu pula perintah berpuasa. Islam tidak membebankan hukum kepada orang gila atau orang yang tidak sehat akalnya. Dengan demikian, akal sehat merupakan salah satu syarat wajib puasa. Hal itu secara umum dijelaskan dalam hadits berikut.

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ

Artinya: “Dimaafkan dosa dari tiga golongan, yaitu : orang yang tidur hingga ia bangun, orang gila sampai ia sehat kembali, anak kecil hingga ia mimpi basah (baligh), ” (HR.Abu Dawud dan lainnya).

Dalam hadits di atas dijelaskan bahwa ada tiga orang golongan yang tidak dibebani hukum, salah satunya adalah orang gila sampai ia sehat kembali akalnya. Sementara itu, puasa merupakan salah satu pembebanan hukum atau syariat Islam.

Dengan demikian, puasa itu bisa sah jika dilakukan oleh orang yang berakal sehat dan tidak gila.

Syarat Wajib Puasa ke-4: Mampu Menunaikan Puasa

Syarat wajib puasa yang keempat adalah mampu menunaikan atau mengerjakan puasa. Puasa diperintahkan kepada mereka yang beragama Islam, sudah mencapai usia baligh, dan berakal sehat. Bagi selain mereka, maka puasa pun tidak dibebankan.

Hanya saja, di antara mereka adalah orang yang tidak mampu menunaikan puasa lantaran sakit dan sudah tua sehingga lemah fisik. Meski begitu mereka tetap wajib berpuasa tetapi mereka diperbolehkan untuk tidak berpuasa.

Allah berfirman dalam Al Quran surah Al Baqarah ayat 185:

وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Artinya: “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain…” (QS. Al Baqarah ayat 185).

Bagi orang yang sakit yang tidak memaksakan diri untuk puasa Ramadhan malah tambah parah sakitnya, sementara dia ada harapan untuk sembuh, maka dia diperbolehkan untuk tidak berpuasa.

Justru keringanan tersebut harus diambil demi kesehatannya, Hanya saja, ketika dia telah sembuh, dia wajib mengganti (meng-qada) puasa di luar bulan Ramadhan.

Akan tetapi, jika tidak ada harapan sembuh, maka dia wajib untuk membayar fidyahsebagai ganti puasa.

Fidyah adalah tebusan puasa yang berupa memberi makan kepada fakir miskin. Namun demikian, jika orang yang sakit dan tidak ada harapan sembuh tersebut termasuk fakir miskin sehingga tidak mampu membayar fidyah, maka hendaknya ahli warisnya yang meng-qada puasanya.

Jika ahli warisnya tidak sanggup karena fisik lemah atau lainnya, maka hendaknya membayarkan fidyah-nya. Jika hal itu juga tidak disanggupi, maka dia bebas dari fidyah dan pembebanan.

Sementara itu, bagi orang tua yang sudah lemah fisik dan tidak mampu menunaikan puasa, maka dia wajib membayar fidyah. Jika ternyata membayar fidyah juga tidak mampu, maka yang membayarkan adalah ahli warisnya. Jika hal itu juga tidak mampu maka dia bebas dari pembebanan.

Syarat Wajib Puasa ke-5: Suci Dari Haid dan Nifas

Syarat wajib puasa yang kelima adalah suci dari haid dan nifas (khusus untuk perempuan), karena hanya perempuan yang mengalami hal ini.

Setiap perempuan itu mempunyai kebiasaan yang sifatnya fitrah, yakni menstruasi alias haid. Sementara itu setelah melahirkan, tentunya perempuan juga dalam kondisi nifas.

Kondisi haid dan nifas tersebut merupakan kondisi yang ketika itu perempuan merasakan hal yang berat dan sulit. Oleh karena itu, Islam memperbolehkan perempuan yang sedang dalam kondisi haid dan nifas untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan.

Justru kalai perempuan yang sedang haid dan nifas itu berpuasa, hal ini malah dilarang dan haram hukumnya.

Sesuatu yang haram itu akan mendapatkan dosa. Sebagaimana orang yang haid dan nifas itu tidak diperbolehkan shalat. Hal itu juga berlaku pada puasa bahwa perempuan yang sedang haid dan nifas itu tidak diperbolehkan untuk berpuasa.

Rasulullah bersabda:

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِيْنِهَا

Artinya: “Bukankah mereka (para wanita) jika sedang haid mereka tidak shalat dan tidak berpuasa? Itulah kekurangan mereka dari segi agama.”

Namun demikian, orang haid dan nifas yang meninggalkan puasa wajib bulan Ramadhan, mereka harus mengganti (meng-qada) puasa di luar bulan Ramadhan.

Jika mereka meninggalkan puasa selama tujuh hari, maka selama 7 hari juga mereka harus menggantinya. Jika mereka meninggalkan selama sebulan penuh (karena waktu nifasnya panjang) maka selama sebulan penuh itulah yang harus diganti.

Persyaratan tersebut berlaku untuk syarat puasa Ramadhan karena hukumnya wajib. Jika puasa sunnah, tidak dikerjakan juga tidak apa-apa. Hanya saja, puasa sunnah juga dipersyaratkan syarat-syarat di atas.

Orang yang mengerjakan puasa sunnah juga harus beragama Islam, mencapai usia balig, berakal sehat, mampu menunaikan puasa dan dalam keadaan suci dari haid dan nifas. Hanya saja, qada dan fidyah tidak berlaku pada puasa-puasa sunnah.

Demikian ulasan tentang Syarat Wajib Puasa Yang Perlu Kita Ketahui (Bahas Lengkap). Semoga Allah memudahkan dan melancarkan Anda untuk dapat selalu mengerjakan yang puasa wajib & puasa sunnah, Aamin.