√ Doa Aqiqah, Dalil, Cara dan Waktu Penyembelihan Terlengkap

Doa Aqiqah, Dalil, Cara dan Waktu Penyembelihan Terlengkap – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Aqiqah. Yang mana dalam ulasan berikut ini menjelaskan hukum aqiqah, hari afdholnya aqiqah, perintah aqiqah, pelaksanaan aqiqah, sampai cara niat dan menyebelih hewan aqiqah. Untuk lebih jelasnya silahkan simah ulasan Pengetahuan Islam Berikut ini.

Doa Aqiqah, Dalil, Cara dan Waktu Penyembelihan Terlengkap

Aqiqah merupakan peristiwa penyembelihan hewan sebagai tebusan terhadap anak yang lahir. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Pada setiap anak yang dilahirkan itu ada aqiqahnya, maka tumpahkanlah darah untuknya dan buanglah sesuatu yang mengganggu (rambutnya).” ( HR. Al-Jama’ah kecuali Muslim).

Hukum Aqiqah

Mengaqiqahi anak hukumnya adalah sunnah muakad sebagaimana telah ditulis dalam Kitab Tausyaikh Syarh Kitab Fathul Qoribul Mujib dijelaskan:

وَالْعَقِيْقَةُ اَيْ ذَبْحُهَا عَنِ الْمَوْلُوْدِ مُسْتَحَبَّةٌ بَلْ هِيَ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ، (توشيخ شرح فتح القريب  حلمن: ٢٧١)

Artinya: “Dan adapun hukum aqiqah itu, yakni hukum menyembelih aqiqah dari aqiqahnya anak adalah sunnah, (disukai) dan bahkan itu hukumnya adalah sunnah muakad.” (dikutip dari kitab: Kitab Tausyaikh Syarh Kitab Fathul Qoribul Mujib halaman: 271 )

Dalam salah satu hadits disebutkan:

عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ الضَّبِيِّ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ : مَعَ الْغُلَامِ عَقِيْقَةٌ فَأَهْرِقُوْا عَنْهُ دَمًا، وَأَمِيْطُوْا عَنْهُ الْأَذَى. (رواه الجماعة الا مسلما)

Artinya: “Dari Salman bin ‘Amir ad-Dhobiy ia berkata. Rasulullah s.a.w. bersabda: “Pada setiap anak yang dilahirkan itu ada aqiqahnya, maka tumpahkanlah darah untuknya dan buanglah sesuatu yang mengganggu (rambutnya).” ( HR. Al-Jama’ah kecuali Muslim)

Hari Afdholnya Aqiqah

Adapun sebaik-baiknya waktu untuk mengaqiqahi anak adalah pada hari ketujuh dari hari anak dilahirkan. Baik mengaqiqahi, mencukur rambut ataupun peresmian pemberian namanya. Aqiqah adalah perantara tebusan untuk anak, karena pada dasarnya setiap anak yang terlahir itu tergadai hingga diaqiqahi. Sebagaimana telah disebutkan dalam salah satu hadis:

وَعَنْ سَمُرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ, تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ, وَيُحْلَقُ, وَيُسَمَّى ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيّ

Artinya: Dari Samurah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya; ia disembelih hari ketujuh (dari kelahirannya), dicukur dan diberi nama.” Hadis Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Hadis shahih menurut Tirmidzi. (kutipan dari Nailul Author)

Perintah Mengaqiqahi anak lelaki dan perempuan

Sebaiknya setiap anak yang terlahir itu mestinya diaqiqahi baik itu anak laki-laki maupun anak perempuan. Hanya saja untuk hewan aqiqah anak laki-laki sejumlah dua ekor kambing, sedangkan untuk aqiqah anak perempuan itu cukup dengan satu ekor kambing saja. Sebagaimana dalam sebuah hadits dikatakan:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَمْرَهُمْ أَنْ يُعَقَّ عَنْ اَلْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ, وَعَنْ اَلْجَارِيَةِ شَاةٌ )  رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ

Artinya: “Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan mereka agar beraqiqah dua ekor kambing yang sepadan (umur dan besarnya) untuk bayi laki-laki dan 1 kambing untuk bayi perempuan.” Hadits shahih riwayat Tirmidzi.

Aqiqah itu Boleh Setelah Lewat dari Tujuh hari

Apabila pada hari ke tujuh dari hari kelahiran anak belum terlaksana penyembelihan aqiqah maka boleh dilaksanakan setelah hari ke tujuh dan bahkan hukumnya itu masih tetap sunnah.

Lalu pada hari ke berapa jika pada hari ke tujuh belum juga sempat diaqiqahi?

Jika pada hari ke tujuh belum sempat diaqiqahi, maka sebaiknya diaqiqahi pada hari kelipatan dari tujuh yaitu: hari ke 14, ke 21, ke 28 dan seterusnya. Selama anak tersebut belum baligh maka masih sunah di aqiahi kapan saja bila sempat dan bisanya, sebagaimana diambil dari keterangan kitab “Tausyikh”.

وَفَسَرَ الْمُصَنِّفُ الْعَقِيْقَةَ شَرْعًا بِقَوْلِهِ وَهِيَ الذَّبِيْحَةُ عَنِ الْمَوْلُوْدِ وَالْأَفْضَلُ اَنْ تُذْبَحَ عِنْدَ حَلْقِ شَعْرِ رَأْسِهِ يَوْمَ سَابِعِهِ اَيْ يَوْمَ سَابِعِ وِلَادَتِهِ فَاِنْ لَمْ يَتَهَيَّأْ فَتُذْبَحُ يَوْمَ الرَابِعَ عَشَرَ  فَيَوْمَ الْحَادِى وَالْعِشْرِيْنَ

مُصَنِّفْ مٓنٓرَاڠْكَنْ: عَقِيْقَةْ مٓنُوْرُتْ شَرَعْ دٓڠَنْ فٓرْكَاتَئَنْۑَا: “عَقِيْقَةْ إِيْتُ أَدَلَهْ حِيْوَانْ سٓمْبٓلِيْهَنْ دَارِيْ أَنَكْ يَڠْ دِيْلَاهِرْكَنْ، دَانْ يَڠْ اَفْضَلْ أَدَلَهْ عَقِيْقَةْ إِيْتُ دِيْسٓمْبٓلِيْهْ كٓتِيْكَا مٓنْچُوْكُرْ رَمْبُوْتْ كٓفَالَا بَايِيْ فَدَا هَارِيْ كٓتُوْجُوْهْۑَا، يَعْنِيْ هَارِيْ كٓتُوْجُهْ كٓلَاهِرَانْ بَايِيْ، بِيْلا تِدَاكْ تٓرْسٓدِيَاءْ، مَكَ دِيْعَقِيْقَهِيْ فَدَا هَارِيْ كٓى أَمْفَتْ بٓلَاسْ، كٓمُوْدِيْيَانْ فَدَا هَارِيْ كٓى دُوَافُوْلُهْ سَاتُوْ. (توشيخ شرح فتح القريب حلمن: 272

Mengaqiqahi Anak yang Sudah Ninggal

Mungkin ada beberapa sebagian ulama yang berpendapat, bahwa jika anak yang sudah meninggal dan belum diaqiqahi maka hukumnya “Tidak Boleh Di aqiqahi” dengan alasan masing-masing.

Dalam keterangan ini kami tidak membahasnya, pada intinya silahkan itu hak masing-masing mau diaqiqahi atau tidak. Tentu tidak ada masalah, hanya saja menurut pendapat kami “sekali anak tetaplah anak.”

Apalagi bagi anak yang belum baligh sudah meninggal dan belum teraqiqahi, maka kami berpendapat: “Anak yang sudah meninggal dalam keadaan sebelum baligh dan belum diaqiqahi maka masih sunah diaqiqahi.”

Sebagaimana keterangan tentang masalah mengaqiahi anak yang sudah meninggal dari Kitab Tausyaih Syarh Fathul Qorib halaman 63 pasal Aqiqah:

وَلَوْ مَاتَ الْمَوْلُوْدُ قَبْل السَّابِعِ وَلَا تَفُوْتُ بِالتَّأخِيْرِ بَعْدَهُ، فَإِنْ أَخَّرَتْ لِلْبُلُوْغِ سَقَطَ حُكْمُهَا فِيْ حَقِ الْعَاقِ عَنِ الْمَوْلُوْدِ أَمَّا هُوَ فَمُخَيِّرٌ فِيْ الْعَقِّ عَنْ نَفْسِهِ وَالتَّرْكِ

Artinya: “Walaupun anak tersebut meninggal sebelum tujuh hari, dan tidak ada kata terlambat dengan menunda aqiqah setelah meninggalanya anak tersebut. Maka apabila aqiqah tersebut tertunda sampai dengan usia baligh (dewasa) maka hukum mengaqiqahi telah gugur kesunahannya pada haknya orang tua dari anaknya. Adapun anak tersebut yang sudah dewasa dan belum diaqiqahi maka dia boleh memilih: “Mengaqiqahi diri sendiri atau meninggalkannya.”

Mengaqiqahi diri sendiri

Dalam hal ini jika ada pilihan satu di antara dua, tentu akan memilih salah satunya dan menurut pendapat kami jelas dan yakin. Bahwa yang lebih baik adalah mengaqiqahi diri sendiri jika mampu, sebagaimana keterangan dari Kitab Tausyaikh halaman: 271:

أَمَّا هُوَ أَيْ الْمَوْلُوْدُ بَعْدَ بُلُوْغِهِ فَمُخَيَّرٌ فِى الْعَقِّ عَنْ نَفْسِهِ وَالتَّرْكِ أَيْ فَإِمَا اَنْ يَعِقَّ عَنْ نَفْسِهِ أَوْ يَتْرُكَ الْعَقِيْقَةَ لَكِنَ الْاَحْسَنَ أَنْ يَعِقَّ عَنْ نَفْسِهِ تَدَارُكًا لِمَا فَاتَ

Artinya: “Adapun sesudah balighnya anak tersebut maka ia boleh memilih antara mengaqiqahi dirinya sendiri atau meninggalkannya (yakni tidak mengaqiqahinya). Maksudnya boleh saja dia mengaqiahi dirinya sendiri atau boleh juga dia tidak mengaqiqahi dirinya. Akan tetapi yang lebih baik adalah dia mengaqiqahi diri sendiri untuk menutupi aqiqahnya yang sudah terlambat.”

Catatan: Kutipan-kutipan ini kami hanya mengambil ringkasnya saja. Bila anda ingin lebih detail sebaiknya membaca Majmu’ Masail karya Asmawi atau dalam kitab-kitab salaf seperti al-Majmu’ Syarah Muhadzab, Kitab Tausyaikh dan yang lainnya.

Pelaksanaan Aqiqah

Dalam pelaksanaan aqiqah ada di posisi tahapan ke tiga setelah menyelesaikan tahapan pertama dan kedua. Jadi adapun tahapan tersebut di atas dalam salah satu hadits tentang aqiqah adalah sebagai berikut:

  • Pemberian Nama Bayi
  • Mencukur Rambut Bayi
  • Menyembelih Aqiqah

Mendahulukan Pemberian Nama Bayi

Dalam pemberian nama untuk bayi itu boleh didahulukan sebelum tujuh hari. Sebagaimana dalam beberapa keterangan dalam kitab diantaranya seperti dalam Tausyikh yaitu:

“Boleh memberi nama anak sebelum tujuh hari: dengan demikian berilah nama yang baik buat anak, sebab nama adalah doa.”

Mencukur rambut bayi

Tertib di atas (Pemberian Nama, Mencukur Rambut Bayi dan Menyembelih Aqiqah) ini bukan suatu keharusan. Hal tersebut dilakukan hanya sekedar untuk mempermudah pemanggilan dalam doa seperti ketika kita mau mencukur rambut bayi dan mau memotong hewan aqiqah buat bayi.

Contoh missal kita mau mencukur rambut bayi:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: اَحْلُقُ هَذِهِ شَعْرَةَ ……. بن/بنت……….. اللَّهُمَّ اجْعَلْ لِكُلِّ شَعْرَةٍ نُوْرًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

A’udzu billahi minasy-syaithonir rojiym, Bismilahir rohmanir rohim. Ahluqu hadzihi sya’rota …. Bin/ binti ….  Allahummaj’al likiulli sya’rotin nuron yaumal-qiyamah.

Artinya: “Aku Berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: Aku mencukur rambutnya ….. bin / binti …. Ini Ya Allah Jadikan untuk setiap helai rambut sebagai penerang pada hari kiamat.”

Sebaiknya setelah aqiqoh rambut bayi itu dicukur habis kemudian rambutnya ditimbang. Berat timbangan rambut bayi tersebut disodaqohkan dengan nilai harga emas 99 karat, 24 karat, 22 karat, 18 karat atau senilai harga perak jika memang tidak mampu.

Menyembelih Hewan Aqiqah

Untuk menyembelih hewan aqiqah sebaiknya dilaksanakan pagi hari setelah terbit matahari atau pada saat terbitnya matahari bila memungkinkan. Sebaiknya membaca doa taqobal aqiqah, atau setidak-tidaknya niatkan dalam hati untuk aqiqahnya fulan bin/binti fulan, lalu ucapkan Bismillah pada saat menyembelihnya.

Kemudian dagingnya dicincang dan usahakan sebaik mungkin memotong tulang belulangnya tepat pada persendiannya, lalu memasaknya dengan lezat dipadukan dengan rasa manis.

Pemberian Nama

Dalam Pemberian nama bayi sebaiknya juga disertai dengan doa dan selalu menyebut asma Allah. Bila dalam sekumpulan orang banyak yang menyaksikan dalam pemberian nama maka bahasa pemberian nama sebaiknya dijama misalnya seperti berikut:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: يَااِبْنَ ……./ يَابِنْتَ ……….. سَمَّيْنَاكِ / سَمَّيْنَاكِ بِاِسْمِ ………. بَارَكَ اللهُ لَكَ /لَكِ بِهَذَا الْاِسْمِ وَجَعَلَ اللهُ لَكَ /لَكِ مِنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَالْمَحْفُوْظِيْنَ بِهِ آمين الفاتحة

A’udzu billahi minasy-syaithonir rojiym, Bismilahir rohmanir rohim. Ya Ibna / Ya Binta …… Sammaynaka / Sammanayki bi ismi (………..) Barokallahu Laka / Laki bihadzal-ismi wa ja’alallahu laka / laki minal- mukhlishin wal-mahfudzina bihi Amiin Al-Fatihah….

Artinya: “Aku Berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: Wahai Putra…/ Wahai Putri….. kami berikan namamu dengan nama (……..) Semoga Allah memberi keberkahan kepadamu dan Allah menjadikanmu orang-orang ikhlash selamat dan terpelihara tarjaga dengan wasilah nama ini Amiin Al-fatihah…..”

Orang Tua Memberi Nama Anaknya

Jika Ayah atau Ibunya Langsung yang memberikan nama pada anaknya maka kalimat Panggilannya dirubah menjadi Mutakalim wahdah. Berikut dua contoh pemberian nama anak bayi laki dan perempuan, yang memberikan nama langsung Ibu atau ayahnya:

Pemberian nama bayi laki-laki

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: يَابُنَيَ سَمَّيْتُكَ لِلّٰهِ تَعَالَى بِاِسْمِ (مُحَمَّدْ لَطِيْفْ) بَارَكَ اللهُ لَكَ بِهَذَا الْاِسْمِ وَجَعَلَ اللهُ لَكَ مِنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَالْمَحْفُوْظِيْنَ بِهِ آمين الفاتحة

A’udzu billahi minasy-syaithonir rojiym, Bismilahir rohmanir rohim. Ya Bunaya Sammaytuka Lillahita’ala bi ismi (Muhammad Lathif) Barokallahu Laka bihadzal-ismi wa ja’alallahu laka minal- mukhlishin wal-mahfudzina bihi Amiin Al-Fatihah….

Artinya: “Aku Berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: Wahai Putraku, kau kuberinama Karena Allah Ta’ala dengan nama (Muhammad Lathif) Semoga Allah memberi keberkahan padamu dan Allah menjadikanmu orang-orang ikhlash selamat dan terpelihara tarjaga dengan wasilah nama ini Amiin Al-fatihah…..”

Pemberian nama bayi Perempuan

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: يَااِبْنَتِيْ سَمَّيْتُكِ لِلّٰهِ تَعَالَى بِاِسْمِ (لَطِيْفَةْ) بَارَكَ اللهُ لَكِ بِهَذَا الْاِسْمِ وَجَعَلَ اللهُ لَكِ مِنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَالْمَحْفُوْظِيْنَ بِهِ آمين الفاتحة

A’udzu billahi minasy-syaithonir rojiym, Bismilahir rohmanir rohim. Ya Bunaya Sammaytuka Lillahita’ala bi ismi (Lathifah) Barokallahu Laka bihadzal-ismi wa ja’alallahu laka minal- mukhlishin wal-mahfudzina bihi Amiin Al-Fatihah….

Artinya: “Aku Berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: Wahai Putriku, kau kuberinama Karena Allah Ta’ala dengan nama (Lathifah) Semoga Allah memberi keberkahan padamu dan Allah menjadikanmu orang-orang ikhlash selamat dan terpelihara tarjaga dengan wasilah nama ini Amiin Al-fatihah…..”

Praktek Menyembelih Hewan Aqiqah

Jiaka mau, maka sebelum menyembelih hewan yang diperuntukan aqiqah berdoa dulu sebagai berikut:

اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ = ٣ كالي

أَشْهَدُ اَنْ لآاِلَهَ اِلاَاللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

عَلَى هَذِهِ النِّيَةِ وَعَلَى كُلِّ نِيَةٍ صَالِحَةٍ إلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى  مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ، وَعَلَى ءَالِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِيَّتِهِ وَاَهْلِ بَيْتِهِ اْلكِرَامْ أجْمَعِيْن شَيْئٌ ِللهِ لَهُمْ الفاتحة

اللَّهُمَّ هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ هَذِهِ عَقِيْقَةَ …… بن/بنت …… الفاتحة

تروس بردعاء:  يَا ذَاالْجَلاَلِ وَالْإِ كْرَامِ  أللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ اْلأوَّلِيْن وَاْلأَخِـرِيْنَ وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ. آمين يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ يَامَّعْبُوْدُ حَمْدًا يُوَفِى نِعْمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَـرِيْمِ وَعَـظِيْمِ سُلْطَانِكَ. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ اْلاهْوَالِ  وَاْلأفَاتِ  وَتَقْضِى لَنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْحَاجَاتِ  وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّأَتِ وَتَرْفَعُنـَا بِهـَا عِنْدَكَ اَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا  اَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِيْ الْحَيَاتِ وَبَعْدَ الْمَمَـاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ عَقِيْقَةَ ……… بن/بنت ………… دَمُّهَا بِدَمِّهِ /هَا، وَعَظْمُهَا بِعَظْمِهِ /هَا ، وَلَحْمُهَا بِلَحْمِهِ /هَا ، وَجِلْدُهَا بِجِلْدِهِ /هَا، وَشَعْرُهَا بِشَعْرِهِ /هَا فِدَاءً لِ ……… بن/بنت ………… وَفِدَاءً مِنَ النَّارِ وَحِجَبًا وَسِتْرَا وَحُلُوُّ طَبْخَتِهَا تَفَاؤُلًا بِحُلُوِّ أَخْلَاقِهِ /ها، وَبِغَيْرِ كَسْرِ عَظْمِهَا تَفَاؤُلًا بِسَلَامَةِ أَعْضَاءِهِ /ها وَإِنْ كُسِر عَظْمُهَا فَنَسْأَلُكَ سَلَامَةَ أَعْضَاءِهِ /ها . رَبَّنَا ءَاتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِي الأخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ. * سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلآمٌ عَلَى  الْمُـرْسَلِيْنَ والحمد لله رب العالمين

Niat Menyembelih Hewan Aqiqah

Dalam hal ini penting untuk mengetahui bahwa menyembelih hewan untuk di aqiqohi harus disertai dengan niat.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيِّطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ نَوَيْتُ أَنْ أَذْبَحَ هَذَا الْمَعْزَ لِعَقِيْقَةِ …… بن / بنت ………. أَنْ يَقْطَعَ الْخُلْقُوْمَ وَالْمَرَى لِلَّهِ تَعَالَى الله اكبر، الله اكبر، الله اكبر، الله اكبر، بِسْمِ اَللَّهِ وَاَللَّهُ أَكْبَر، اللَّهُمَّ هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلَهَا

A’udzu billahi minasy-syaithonir rojiym. Nawaitu An Adzbaha Hadzal- Ma’za li’aqiqoti …. bin/binti ….. Ay-yaqtho’a khulquma wal maro Fardhol-lillahi T’a’ala, Allahu-Akbar – Allahu-Akbar – Allahu-Akbar – Allahu-Akbar Bismilahir wallahu akbar, Allahumma hadzihi minka wa ilaika fataqobbalaha.

Artinya: “Aku Berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk, Aku niat Menyembelih Kambing Kacang Laki ini untuk aqiqahnya …. bin / binti …. penyembelihan memutuskan tenggorokan dan kerongkongannya fardhu karena Allah Ta’ala. Allah yang Maha Besar, Allah yang Maha Besar, Allah yang Maha Besar, Allah yang Maha Besar. Dengan Nama Allah dan Allah adalah maha besar. Ya Allah aqiqah ini dari-Mu dan kepada-Mu semoga Engkau menerima aqiqah ini.”

Demikianlah ulasan singkat tentang Doa Aqiqah, Dalil, Cara dan Waktu Penyembelihannya Lengkap. Semoga dapat memberikan manfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Do’a-Do’a Ketika Berhubungan Suami Istri dan Ketentuannya

Do'a-Do'a Ketika Berhubungan Suami Istri dan Ketentuannya

Do’a-Do’a Ketika Berhubungan Suami Istri dan Ketentuannya – Pada pembahasan kali ini Pengetahuan Islam akan menjelaskan tentang Do’a-Do’a saat berhubungan Suami Istri beserta ketentuan-ketentuan yang ada. Yang mana dengan kita berdo’a bisa menjadi dorongan untuk putra putri kita menjadi putra putri yang sholeh dan sholehah. Untuk lebih detailnya mari kita simak artikel di bawah ini.

Do’a-Do’a Ketika Berhubungan Suami Istri dan Ketentuannya

Dalam Ajaran Syari’at Islam saat kita sudah menikah dan ingin melakukan senggama, di anjurkan bagi kita semua ummat muslim untuk menjalankan hal-hal yang sudah di anjurkan oleh Rosululloh saw. Karena beliaulah panutan dan petunjuk bagi kita semua sebagai ummat muslim.

Adab Saat Bersenggama

Ketika kita hendak berhubungan intim dengan suami istri tentunya ada ketentuan-ketentuan yang harus kita terapkan pada saat itu. Salah satunya adalah adab saat bersenggama, walaupun dia sudah halal bagi kita, namun kita masih punya panutan dalam melaksanakan suatu ibadah. Jadi tidak langsung gas aja. Supaya kita dalam menaruh bibit memang benar-benar bibit yang berkualitas. Sebagaiman sudah di terangkan dalam sebuah Kitab yang bernama “Uqudullijain” sebagai berikut:

وَيَحْرُمُ وَطْءُ زَوْجَتِهِ بِحَضْرَةِ أَجْنَبِيٍّ أَوْ أَجْنَبِيَّةٍ. وَيُسْتَحَبُّ لِلْمُجَامِعِ أَنْ يَبْدَأَ بِاِسْمِ اللهِ تَعَالَى، وَيَقْرَأُ: “قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ” أَوَلًا، وَيُكَبِّرُ وَلَا يُهَلِّلُ، وَيَقُوْلُ: بِاِسْمِ اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلِ النُّطْفَةَ ذُرِيَّةً طَيِّبَةً، إِنْ كُنْتَ قَدَّرْتَ أَنْ تَخْرُجَ ذَلِكَ مِنْ صُلْبِيْ

Artinnya: “Haram bagi kita melakukan senggama dengan suami atau istri kita, dengan menghadirkan laki-laki lain atau perempuan lain saat bersenggama. Maka dari itu disunnahkan bagi orang yang akan melakukan hubungan intim suami isteri ia mengawalinya dengan membaca BASMALAH, kemudian membaca surat Al-Ikhlash dan membaca TAKBIR bukan membaca Tahlil, Dan membaca do’a seperti di bawah ini:

بِاِسْمِ اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلِ النُّطْفَةَ ذُرِيَّةً طَيِّبَةً، إِنْ كُنْتَ قَدَّرْتَ أَنْ تَخْرُجَ ذَلِكَ مِنْ صُلْبِيْ

(Bismillahil ‘aliyyil ‘adziimi, Allahumma ij’alin nuthfata dzurriyatan thoyyibatan, in kunta qoddarta an takhruja dzalika min shulbiy).

Artinya: “Dengan nama Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Tuhanku, jadikanlah air mani ini menjadi keturunan yang baik bila Kau takdir kan ia keluar dari tulang punggungku”.

Fadilah Membaca Doa saat bersenggama

Kenapa kita dianjurkan berdo’a ketika akan bersenggama. Karena Rosululloh saw, mengajarkan kita akhlak yang mulia di dalam islam. Sampai-sampai Rosululloh mengajarkan kita adab saat bersenggama. sebagaimana Rasulullah SAW telah mengajarkan tentang prihal tersebut sebagai berikut:

وَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: {لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَىْ أَهْلَهُ قَالَ: اللّهُمَّ جَنِّبْنِيْ الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا. فَإِنْ كَانَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ، لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ}. وَإِذّا قَرَّبْتَ مِنَ الْإِنْزَالِ فَقُلْ فِيْ نَفْسِكَ، وَتَحَرَّكَ شَفَتَيْكَ: {الحَمْدُ للهِ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَراً فَجَعَلَهُ نَسَباً وَصِهْراً وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيراً}، وَيَنْحَرِفُ عَنِ الْقِبْلَةِ، وَلَا يَسْتَقْبِلُهَا بِالْوَقَاعِ إِكْرَامًا لِلْقِبْلَةِ، وَلْيُغَطِّ نَفْسَهُ وَأَهْلَهُ بِثَوْبٍ

Artinya: “Rosulullah saw bersabda : Ketika salah satu diantara kalian ingin menjima’ isterinya maka berdo’alah. (Allahumma jannibnisy syaithona wa jannibisy syaithona ‘ala ma rozaqtanaa) ketika di antara kalian di takdirkan mempunyai anak, maka syetan tidak akan bisa membahayakannya. Dan apabila telah mendekati orgasme maka bacalah do’a dalam hati dan cukup hanya dengan menggerakkan kedua bibir kalian.

الحَمْدُ للهِ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَراً فَجَعَلَهُ نَسَباً وَصِهْراً وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيراً

Alhamdulillahil ladzi kholaqo minal ma`i basyaron,paja’alahu nasaban wa shihron wakana robbuka qodiiron”.

Artinya: “Dengan nama Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Tuhanku, jadikanlah ia keturunan yang baik bila Kau takdirkan ia keluar dari tulang punggungku.

Dan janganlah kalian menghadap qiblah ataupun sebaliknya, karena memuliakan qiblah, dan tutuplah badan kalian dengan selimut.

Adab Bersenggama Dalam Ihya ‘Ulumuddin

Di terangkan oleh Imam al-Ghazali dalam kitabnya “Ihya ‘Ulumiddin” dalam Kitab Al-adabun Nikah yang kesepuluh sebagai berikut:

العاشر في آداب الجماع: وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَبْدَأَ بِاسْمِ اللهِ تَعَالَى وَيَقْرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ أَوَّلاً وَيُكَبِّرَ وَيُهَلِّلَ وَيَقُولَ بِسْمِ اللهِ العَلِيِّ العَظِيمِ اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا ذُرِّيَةً طَيِّبَةً إِنْ كُنْتَ قَدَّرْتَ أَنْ تُخْرِجَ ذَلِكَ مِنْ صُلْبِي وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ قَالَ اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإِنْ كَانَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ وَإِذَا قَرُبَتْ مِنَ الإِنْزَالِ فَقُلْ فِي نَفْسِكَ وَلَا تُحَرِّكْ شَفَتَيْكَ: اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا، وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا، وَكَانَ بَعْضُ أَصْحَابِ الحَدِيثِ يُكَبِّرُ حَتَّى يَسْمَعَ أَهْلُ الدَّارِ صَوْتَهُ ثُمَّ يَنْحَرِفُ عَنِ القَبْلَةِ وَلَا يَسْتَقْبِلُ القِبْلَةَ بِالوَقَاعِ إِكْرَاماً لِلْقِبْلَةِ وَلْيُغَطِّ نَفْسَهُ وَأَهْلَهُ بِثَوْبٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُغَطِّي رَأْسَهُ وَيَغُضُّ صَوْتَهُ وَيَقُولُ لِلْمذَرْأَةِ عَلَيِكِ بِالسَّكِينَةِ وَفِي الخَبَرِ إِذَا جَامَعَ أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ فَلَا يَتَجَرَّدَانِ تَجَرُّدَ العَيْرَيْنِ أَيْ اَلْحِمَارَيْنِ وَلْيُقَدِّم التَّلَطُّفَ بِالكَلَامِ وَالتَّقْبِيلِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَقَعَنَّ أَحَدُكُمْ عَلَى امْرَأَتِهِ كَمَا تَقَعُ البَهِيمَةُ وَلْيَكُنْ بَيْنَهُمَا رَسُولٌ قِيلَ وَمَا الرَّسُولُ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ القُبْلَةُ وَالكَلَامُ…. ثُمَّ إِذَا قَضَى وَطَرَهُ فَلْيَتَمَهَّلْ عَلَى أَهْلِهِ حَتَّى تَقْضِيَ هِيَ أَيْضاً نَهْمَتَهَا (ابو حامد الغزالي، إحياء علوم الدين، مصر-مصطفى البابي الحلبي، 1385 هـ/1936، ج، 2، ص. 51

Artinya: Yang Kesepuluh dalam Adam bersenggama: “Di sunnahkan bagi kalian ketika akan memulai jima’ dengan membaca bismillah. Selanjutnya diawali dengan membaca Qul huwallahu ahad, membaca takbir dan bertahlil, lalu membaca doa: Bismillah al-‘aliy al-‘azhîm allahumma ij’alha dzurriyatan thayyibah in kunta qaddarta an tukhrija dzalika min shulbi. Rasulullah saw bersabda, jika salah satu di antara kalian mendatangi isterimu maka berdoalah, allahumma jannibnisy-syaithân wa jannibisy-syaithân ma razaqtana, karena apabila (hubungan badan) di antara keduanya menghasilkan anak maka syaitan tidak akan menggangunya. Dan apabila si istri menjelang orgasme, maka bacalah dalam hatimu dan jangan gerakkan kedua bibirmu: Alhamdulillahil ladzi khalaqa minal-mâ`i basyaran fa ja’alahu nasaban wa shahran wa kâna rabbuka qadîran. Dan sebagian ashab al-hadîts bertakbir sampai seiisi rumah mendengarnya. Kemudian berpaling dari kiblat dan tidak menghadap kiblat ketika jimak karena memuliakan kiblat. Dan hendaknya (suami) menutupi dirinya dan istrinya dengan kain (tsaub). Rasulullah saw menutupi kepalanya dan memelankan suaranya sembari berkata kepada istrinya, tenanglah. Bila salah satu dari kalian berhubungan badan dengan istrinya maka jangan keduanya bertelanjang bulat seperti halnya dua keledai. Dan (sebelum berhubungan badan) hendaknya didahului dengan cumbu-rayu dan ciuman. Rasulullah saw bersabda: Janganlah salah satu di antara kalian menyetubuhi sebagaimana persetubuhan hewan, dan hendaknya di antara keduanya ada perantara. Lantas ditanyakan (kepada beliau), apa itu perantara wahai Rasulullah saw, beliau-pun menjawab, ciuman dan cumbu rayu. Kemudian ketika suami mengalami orgasme maka hantarkan sang istri secara perlahan-lahan sampai ia juga mengalami orgasme. (Abu Hamid al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, Mesir-Mushthafa al-Babi al-Halabi, 1358 H/1939 M, juz, 2, h. 51, 52)    atau bisa dibaca Pada Ihya Terjemah Jilid 3 halaman: 161-162

Do'a-Do'a Ketika Berhubungan Suami Istri dan Ketentuannya

Tata Cara Sebelum Bersenggama

  • Sebelum bersenggama, hendaknya bagi seorang Istri berhias sesuai selera suami
  • Memakai wewangian yang di sukai suami
  • Mengucapkan Salam terlebih dahulu kepada istri :

السَّلَامُ  عَلَيْكُمْ يَا بَابَ الرَّحْمَةِ

  • Menjawab Salamnya dari Suami:

عَلَيْكَ وَعَلَيَّ السَّلَامُ

  • Di anjurkan untuk Bermesraan terlebih dahulu
  • Bercumbu terlebih dahulu antara keduanya
  • Janganlah Menghadap dan membelakangi kiblat
  • Masing-masing membaca Do’a
  • Berdo’alah Ketika sudah Mendekati Orgasme

Bacalah do’a tersebut di dalam hati dan hanya sekedar menggerakkan ke dua bibir saja tanpa bersuara

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا، وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air ini menjadi manusia, maka jadikanlah nasab yang baik dan bersih jika kau menakdirkannya”.

Demikianlah Do’a-Do’a Ketika Berhubungan Suami Istri dan Ketentuannya semoga dapat bermanfaat dan menjadi wawasan bagi kita.

√ Niat dan Praktek Sholat Jenazah Anak Kecil Laki-laki

Niat dan Praktek Sholat Jenazah Anak Kecil Laki-laki

Niat dan Praktek Sholat Jenazah Anak Kecil Laki-laki – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Sholat Jenazah Anak Kecil laki-laki. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan tata cara niat sholat jenazah anak kecil laki-laki beserta prakteknya dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya simak artikel tentang sholat jenazah anak kecil laki-laki berikut ini.

Niat dan Praktek Sholat Jenazah Anak Kecil Laki-laki

Mensholati mayit bagi setiap muslim hukumnya fardu kifayah yang mana menjadi kewajiban sholat mayit tidak ada perbedaan akan syarat dan rukunnya. Perbedaan hanya terletak pada saat berdoa untuk jenazah yang dituju baik jenzah anak kecil laki-laki atau jenazah anak perempuan.

Sebelum Mayit disholatkan

Pada umumnya secara teori hal yang perlu dilakukan pada saat sebelum mayit akan disholatkan baik mayit perempuan dewasa, mayit laki-laki dewasa, mayit anak perempuan kecil atau mayit anak laki kecil, selain Siqith dan syahid yakni:

  • Jasad mayit dimandikan terlebih dulu
  • Setelha itu mayit diwudhukan
  • Pada saat diwudhukan bagi orang yang mewudhukan agar memanjatkan doa ba’da wudhu seperti biasa, untuk kalimat doa wudhu ada yang perlu dirubah sedikit.
  • Langkah selanjutnya gotong atau bawa mayit ketempat pengkafanan untuk dikafani
  • Setelah dikafankan secara sempurna, dapat memberi pengharum yang tidak beralkhol.
  • Selanjutnya jenazah atau mayit dapat disholatkan dengan posisi kepala mayit ke arah utara dan kaki kearah selatan.

Niat Sholat Mayit Anak Kecil Laki-laki

Penempatan niat berada didalam hati dan dalam Madzhab Syafi’i melafadzkan niat dihukumi Sunah. Berikut lafadz dari niat sholat mayit anak kecil laki-laki:

  • Lafadz Niat Sholat Mayit Anak Kecil Laki-laki menjadi Imam

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ : أُصَلِّيْ عَلَى هَذَا المَيِّتِ الطِّفْلِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى. اللهُ أَكْبَرُ

BISMILLAHIRROHMANIRROHIIM: “USHOLLI ‘ALA HADZAL MAYYITI THIFLI ARBA’A TAKBIROTIN FARDHOL KIFAYATI IMAMAN LILLAHI TA’ALA”. ALLAHU AKBAAR.

Artinya:

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, “Saya niat sholat atas mayit Anak kecil laki-laki ini empat takbir fardhu kifayah menjadi imam karena Allah Ta’ala.” Allahu Akbar.

  • Lafadz Niat Sholat Mayit Anak Kecil Laki-laki menjadi Makmum

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ : أُصَلِّيْ عَلَى هَذَا المَيِّتِ الطِّفْلِ  أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَالَى اللهُ أَكْبَرُ

BISMILLAHIRROHMANIRROHIIM: “USHOLLI ‘ALA HADZAL MAYYITI THIFLI ARBA’A TAKBIROTIN FARDHOL KIFAYATI MAKMUMAN LILLAHI TA’ALA.” Allahu Akbaar.

Artinya:

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, “Saya niat sholat atas mayit Anak kecil laki-laki ini empat takbir fardhu kifayah menjadi makmum karena Allah Ta’ala.” Allahu Akbar.

  • Niat Sholat Mayit yang menjadi makmum dapat mengucapkan lafadz

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ : أُصَلِّيْ عَلَى مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ الْإِمَامُ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلّٰهِ تَعَالَى اللهُ أَكْبَرُرُ

BISMILLAHIRROHMANIRROHIIM: “USHOLLI ALA MAN SHOLLA ALAIHIL IMAMU ARBA’A TAKBIROTIN FARDHOL KIFAYATI LILLAHI TA’ALA.” ALLAHU AKBAR.

Artinya:

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang “Aku sholat atas mayyit yang disholati imam empat kali takbir fardu kifayah karena Allah Ta’ala.” Allahu Akbar.

Bacaan Setelah Takbir Pertama

أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ # الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ # اَلرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ # مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ # إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ # اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ # صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَـيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّالِّينَ.

Bacaan Setelah Takbir kedua

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ. فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Atau cukup membaca:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.

Do’a Setelah Takbir Ketiga

Membacakan doa untuk si Jenazah Anak Kecil Laki-laki adalah sebagai berikut:

أللَّهُمَّ ارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاكْرِمْ نُزُوْلَهُ وَوَسِعْ مَدْخَلَهُ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

ALLAHUMMARHAMHU WA’AFIHI, WAKRIM NUZULAHU WAWASI’ MADKHOLAHU BIROHMATIKA YA-ARHAMA ROHIMIN.”

Artinya:

Ya Allah Kasih sayangilah anak ini, selamatkanlah dia, muliakanlah kedatangannya, luaskanlah tempatnya dengan kasih sayang-Mu wahai yang Paling Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Do’a Setelah Takbir ke empat

اَللَّهُـمَّ اجْعَلهُ فَرْطًا لِأَبَوَيْهِ وَسَلَفًا وَذُخْرًا وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا وَشَفِيْعًا وَثَقِّلْ بِهِ مَوَازِنَهُمَا وَاَفْرِغِ الصَّبْرَ عَلَى قَلْبِهِمَا وَلاَ تَفْتِنْهُمَا بَعْدَهُ وَلَاتَحْرِمْهُمَا اَجْرَهُ.

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَاتُهْ ٢كالي.

ALLAHUMMAJ’ALHU FARTHON LI ABAWAIHI WASALAFAN WADZUKHRO WA’IDZOTAN WA’TIBARON WASYAFI’AN WATSAQIL BIHI MAWAZINAHUMA WA AFRIGHISH SHOBRO ‘ALA QOLBIHIMA WALA TAFTINHUMA BA’DAHU WALA TAHRIMHUMA AJROHU.

ASSALAMU’ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH. 2x

Artinya:

Ya Allah Jadikanlah kematian anak ini sebagai pahala bagi kedua orang tuanya, sebagai pendahulu, simpanan, Pelajaran, Contoh dan Penolong.

Dan dengan kematian anak ini beratkanlah timbangan kebaikan kedua orang tuanya, anugrahkanlah kesabaran pada hati kedua orang tuanya, dan jangan Engkau beri fitnah kedua orang tuanya sesudah meninggalnya anak ini dan jangan pula Engkau kosongkan kedua orang tuanya pahala anaknya.

Semoga Rahmat, Kesejahteraan dan keberkahan tetap atasmu.

Niat dan Praktek Sholat Jenazah Anak Kecil Laki-laki

Praktek Sholat Jenazah Anak Kecil Laki-laki Tulisan Arab

Berikut ini bacaan niat sholat jenazah anak kecil yang belum berdosa dilakukan dengan tidak berjama’ah (munfarid), yaitu:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: أُصَلِّيْ عَلَى هَذَا المَيِّتِ الطِّفْلِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى اللهُ أَكْبَرُ

أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ # الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ # اَلرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ # مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ # إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ # اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ # صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَـيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّالِّينَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ. فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهُ أَكْبَرُ

أللَّهُمَّ ارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاكْرِمْ نُزُوْلَهُ وَوَسِعْ مَدْخَلَهُ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اللهُ أَكْبَرُ

اَللَّهُـمَّ اجْعَلهُ فَرْطًا لِأَبَوَيْهِ وَسَلَفًا وَذُخْرًا وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا وَشَفِيْعًا وَثَقِّلْ بِهِ مَوَازِنَهُمَا وَاَفْرِغِ الصَّبْرَ عَلَى قَلْبِهِمَا وَلاَ تَفْتِنْهُمَا بَعْدَهُ وَلَاتَحْرِمْهُمَا اَجْرَهُ. السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Hadiyah Fatihah

Pelaksanaan hadiyah fatihah, tahlil dan doa pada anak kecil yang masih belum memiliki dosa dan mendoakan kedua orang tuanya dapat dilakukan dengan membaca doa sebagai berikut:

هَذِهِ الْفَاتِحَةُ هَدِيَةً خُصُوْصًا إِلَى رُوْحِ …… بِنْ ….. الفاتحة…….. أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ. إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَـيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّالِّينَ.

نَوَيْنَا الذِّكْرَ تَقَرُّبًا إِلَى اللهِ أَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ قَوْلُهُ: لآ اِلٰهَ اِلَّا اللهُ : لآ اِلٰهَ اِلَّا اللهُ، لآ اِلٰهَ اِلَّا اللهُ، لآ اِلٰهَ اِلَّا اللهُ ……..

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ اْلأوَّلِيْن وَاْلأَخِـرِيْنَ. وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ. آمين يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. يَامَّعْبُوْدُ حَمْدًا يُوَفِى نِعْمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَـرِيْمِ وَعَـظِيْمِ سُلْطَانِكَ.

أللَّهُمَّ ارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاكْرِمْ نُزُوْلَهُ وَوَسِعْ مَدْخَلَهُ. بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ، اَللَّهُـمَّ اجْعَلهُ فَرْطًا لِأَبَوَيْهِ وَسَلَفًا وَذُخْرًا وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا وَشَفِيْعًا وَثَقِّلْ بِهِ مَوَازِنَهُمَا وَاَفْرِغِ الصَّبْرَ عَلَى قَلْبِهِمَا وَلاَ تَفْتِنْهُمَا بَعْدَهُ وَلَاتَحْرِمْهُمَا اَجْرَهُ

اللَّهُمَّ بِحَقِّ الْفَاتِحَةِ وَالتَّهْلِيْلِ اِعْتِقْ رِقَابَنَا وَرِقَابَ هَذَا الْمَيِّتِ الطِّفْلِ مِنَ النَّارِ، اللَّهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ عَلَى هَذَا الْمَيَّتِ الطِّفْلِ وَاجْعَلْ قَبْرَهُ رَوْضَةً مِّنَ الْجَنَّةِ، اللَّهُمَّ اَنْزِلِ الْمَغْفِرَةَ عَلَى أَبَوَايْهِ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اٰلِهِ وَ صَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Demikian penjelasan tentang Niat dan Praktek Sholat Jenazah Anak Kecil Laki-laki, semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan pengetahuan Anda.

Baca Juga:

√ Bacaan Doa Melepas Pakaian

Bacaan Doa Melepas Pakaian

Bacaan Doa Melepas Pakaian – Bagi seorang muslim pakaian merupakan peranan penting yang mana berfungsi sebagai penutup aurat. Sebagaimana telah diperintahkan oleh Allah SWT yang mana perintah wajib untuk menutup auratnya. Sebab membuka aurat bukan pada tempatnya akan mendapatkan dosa bagi seseorang.

Dengan menutup aurat yang mana salah satu syarat sah dalam mengerjakan suatu ibadah seperti sholat wajib, sunah bahkan melakukan haji dan umroh.

Demikian penjelasan yang sudah diterangkan bahwa sebelum memakai pakaian terlebih dahulu dianjurkan untuk membaca doa memakai pakaian sebagai ungkapan rasa syukur kita akan nikmat yang diberikan oleh Allah.

Dengan pakaian yang telah diciptakan oleh Allah serta memberikan manfaat kepada manusia guna menutupi aurat. lebih lengkapnya simak artikel Pengetahuanislam.com tentang Doa Melepas Pakaian berikut ini.

Bacaan Doa Melepas Pakaian

Sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al A’raaf ayat 26 mengenai fungsi daripada pakaian bagi manusia, yaitu:

یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ قَدۡ اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکُمۡ لِبَاسًا یُّوَارِیۡ سَوۡاٰتِکُمۡ وَ رِیۡشًا ؕ وَ لِبَاسُ التَّقۡوٰی ۙ ذٰلِکَ خَیۡرٌ ؕ ذٰلِکَ مِنۡ اٰیٰتِ اللّٰہِ لَعَلَّہُمۡ یَذَّکَّرُوۡنَ

Artinya :

“Wahai anak cucu Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu pakaian yang menutup auratmu dan juga (pakaian) bulu (untuk menjadi perhiasan), dan pakaian takwa itulah yang paling baik”. (QS. Al-A’raaf ayat 26).

Melihat dari ayat tersebut dapat menari kesimpulan bahwa fungsi daripada pakaian terdidir dari 3, yakni:

  • Sebagai Penutup Aurat
  • Sebagai Perhiasan
  • Sebagai Bentuk Taqwa

Sesungguhnya agama telah memerintahkan kepada kita agar menutup aurat dan melarang membukanya supaya tidak menimbulkan fitnah dan pemicu perilaku dosa serta maksiat.

Akan tetapi larangan ini tidaklah bersifat mutlak, terdapat batasan dan bagian tertentu yang mana aurat boleh terbuka dan terlihat oleh orang lain.

Semisal kepada sesama mahram, adik atau kakak kandung ada kebolehan melihat sebagian aurat misalnya rambut, kepala, kaki, leher, tangan atau lainnya.

Hal demikian berlaku pada saat keadaan sendiri yang mana tak ada satupun manusia melihat kita, maka diperbolehkan membuka aurat kita untuk sebagian atau keseluruhannya.

Hal demikian sebab diperlukan untuk membuka aurat karena untuk keperluan buang hajat, ganti baju, mandi wajib atau lain sebagainya

Oleh karena itu Rasulullah telah mengajarkan kepada kita agar membaca doa terlebih dahulu ketika akan melepas pakaian.

Bacaan Doa Melepas Pakaian

Doa Melepas Pakaian

بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ

Bacaan Doa Melepas Pakaian Latin

BISMILLAAHIL LADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWA

Arti Bacaan Doa Melepas Pakaian

Dengan nama Allah yang tiada Tuhan selain-Nya

Manfaat Doa Melepas Pakaian

Terdapat manfaat dari membaca doa melepas pakaian atau melepas baju yang mana agar terlindungi dari goadaan setan dan jin yang melihat kita tanpa tertutup pakaian apapun.

  1. Sebagai Pelindung Diri Atas Terbukanya Aurat

Rasulullah bersabda :

“Dahulu, orang-orang Bani Israil biasa mandi tanpa sehelai kainpun, saling melihat satu sama lainnya. Sementara, Nabi Musa mandi sendirian.”

Mereka berkata,

“Demi Allah, tidak ada yang menghalangi Musa mandi bersama kita, kecuali karena bagian tubuhnya bengkak (hernia).”

“Suatu ketika, Nabi Musa pergi seorang diri hendak mandi. Beliau meletakkan pakaian di atas sebuah batu. Lalu, batu itu membawa lari pakaiannya.”

“Maka, Nabi Musa pun mengejar batu itu sambal berteriak, “Hai batu, kembalikan bajuku!’ Kejadian itu terlihat oleh orang-orang Bani Israil.”

“Mereka berkata, ‘Demi Allah, ternyata Musa tidak menderita kelainan sedikit pun.’ Lalu, Musa mengambil pakaiannya dan memukul batu tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Ketika Nabi Ayyub sedang mandi sendirian, jatuhlah kepingan-kepingan emas laksana belalang menimpa tubuhnya.”

Maka, ia pun menampungnya dengan kedua telapak tangannya, lalu meletakkannya ke dalam pakaiannya. Maka, Allah memanggilnya, “Hai Ayyub, bukankah Aku telah mencukupimu daripada sesuatu yang engkau lihat itu?’

Ayyub menjawab, ‘Benar, demi kemuliaan-Mu, namun aku tidak merasa cukup menerima barakah dari-Mu.” (HR.Bukhari).

Melihat keterangan hadits tersebut, bahwa mandi tanpa menggunakan pakaian atau membuka aurat pada waktu sendirian diperbolehkan walaupun lebih baik atau utama agar menutup aurat.

Bagaimanapun juga kita lebih malu terhadap Allah dari pada terhadap manusia.

  1. Sebagai Pelindung Dari Pandangan Jin

Sebagaimana telah diterangkan didalam hadits, yaitu :

“Hindarilah tanpa memakai pakaian, karena ada (malaikat) yang selalu Bersama kamu, yang tidak pernah berpisah denganmu, kecuali ketika ke kamar belakang dan ketika seseorang berhubungan dengan istrinya. Maka, malulah kepada mereka dan hormatilah mereka.” (HR. Tirmidzi).

“Apabila salah seorang dari kamu berhubungan dengan pasangannya, jangan sekali-kali keduanya tanpa memakai pakaian sehelaipun, karena hal itu bagaikan binatang.” (HR.Ibnu Majah).

Perlu Anda ingat, pada saat sendirian dan tak ada seorangpun manusia lain melihat aurat. Saat itu hendaknya lebih waspada dari pandangan makhluk selain manusia yaitu dari pandangan jin.

Karena jin dapat menempati ditempat manapun dan mereka juga dapat melihat kita kapanpun. Bukan tidak mungkin sebuah pandangan akan timbul kejahatan atau hal lainnya yang tidak diinginkan.

Sebagaimana Rasulullah telah bersabda, yaitu :

العين حقُّ ولو كان شيء سابق القدر لسبقته العين

Artinya :

“Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada. Seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya”. (HR. Muslim).

Bahaya pandangan mata(‘ain) yang telah beliau jelaskan, yang mana dapat menyebabkan kerusakan tak terkecuali dari padangan jin terhadap aurat manusia.

Namun ada 4 (empat) hal yang dapat menyebabkan jin masuk kedalam tubuh manusia, antara lain:

  1. Jin suka dengan orang tersebut, hal ini bisa terjadi karena jin takjub saat melihat keindahan tubuh manusia.
  2. Jin merasa telah disakiti oleh manusia, contohnya sebab seseorang kencing di tempat yang biasa di tempati jin seperti air yang tenang, lubang, atau lain sebagainya.
  3. Karena jin itu ingin menzhalimi manusia atau inisiatifnya sendiri, hal tersebut dapat terjadi sebab pandangan yang menyebabkan kedengkian jin terhadap manusia.
  4. Jin tersebut dikirim oleh tukang sihir atau dukun guna mencelakai seseorang.

Agar dapat menutupi aurat daripada pandangan jin dan selalu terjaga dari kejahatan, maka Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk berdoa ketika melepas pakaian.

Sebagaimana telah Diriwayatkan dari Anas Ra bahwa Rasulullah telah bersabda:

سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ: إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمُ الخَلَاءَ، أَنْ يَقُولَ: بِسْمِ اللَّهِ

Artinya :

“Penutup antara pandangan jin dan aurat anak Adam ketika seorang melepas pakaiannya adalah dengan mengucapkan “Bismillah” (Dengan menyebut nama Allah aku melepas pakaian).” (HR.Tirmidzi).

Didalam riwayat lainnya menyebutkan bahwa:

“Penutup antara pandangan jin dan aurat anak cucu Adam ketika salah seorang melepas pakaiannya adalah dengan mengucapkan ‘bismillah.” (HR.Thabrani).

Al-Hakim berkata :

“Sesungguhnya, seorang mukmin menolak musuh ini (setan) dengan menggunakan penutup ini (bismillah), maka hendaknya ia tidak lupa darinya.

Sesungguhnya, jin itu bercampur dengan anak Adam, sebagian mereka (para jin) ada yang menikah dengan sebagian mereka (manusia).

Manusia bersekutu dengan jin dalam kaum wanitanya, sedangkan jin bersekutu dengan manusia dalam kaum perempuanya.

Maka, jika anak Adam ingin menolak jin dari persekutuannya, hendaklah ia mengucapkan “bismillah”, karena “bismillah” itu adalah cap untuk setiap rezeki yang dimiliki anak cucu Adam sehingga jin tidak sanggup menerobos cap itu.”

Demikian penjelasan tentang Bacaan Doa Melepas Pakaian, semoga dapat memberikan manfaat dan menambah wawasan pengetahuan Anda.

√ Mengenal Puasa Asyura, Niat, Tata Cara Beserta Keutamaannya

Mengenal Puasa Asyura Niat Tata Cara Beserta Keutamaannya

Mengenal Puasa Asyura, Niat, Tata Cara Beserta Keutamaannya – Pada kesempatan ini Pengetahuanislam.com akan membahas tentang Puasa Asyura. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan pengertian puasa asyura, niat puasa asyura, tata cara puasa asyura beserta keutamaan puasa asyura dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih mudah dalam memahaminya silahkan simak artikel tentang puasa asyura berikut ini.

Mengenal Puasa Asyura, Niat, Tata Cara Beserta Keutamaannya

Puasa asyura atau biasa sebut puasa sura adalah puasa yang dilaksanakan pada bulan muharram atau pada buan pergantian tahun Hijriyah. Banyak amalan sunah yang bisa Anda lakukan pada bulan tersebut sebagai memperkuat iman dan taqwa kepada Allah SWT.

Amalan yang disunahkan pada bulan Muharram yakni berpuasa, di mana terdapat puasa sunah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah adalah puasa Asyura.

Puasa Ayura merupakan salah satu puasa yang dilaksanakan pada hari ke 10 pada bulan Muharram. Di hari ke 10 ini dari bulan Muharram merupakan hari yang mulia, dimana terdapat sejarah yang begitu mendalam dan tak terlupakan.

Adapun hukum dalam melakukan puasa Asyura yakni sunah, dimana apabila kita melakukan akan mendapatkan pahala dan bila tidak melakukannya tidak akan mendapatkan dosa.

Dalam hal ini bila Anda akan melaksanakan puasa Asyura, terlebih dahulu mengetahui tata cara dan keutamaannya terlebih dahulu agar dapat lebih khusuk dalam menjalankannya.

Niat Puasa Asyura

Berikut ini adalah Niat Puasa Asyura yang mana niat adalah sesuatu yang sangat penting di terima dan tidaknya amalan yang akan kita lakukan.

Bacaan Niat Puasa Asyura

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ العَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى

Bacaan Niat Puasa Asyura Latin

NAWAITU SHAUMA GHADIN ‘AN ADA’I SUNNATIL ASYURA LILLAHI TA‘ALA

Arti Bacaan Niat Puasa Asyura

Saya berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah Ta’ala

Tata Cara Melakukan Puasa Asyura

Dibawah ini adalah tata cara melakukan puasa Asyura, diantaranya yaitu :

  1. Membaca Niat

Membaca niat yang mana di lakukan didalam hati dan disunahkan untuk melafadzkannya agar sesuai dengan apa yang ditanamkan dalam hati.

Pembacaan Niat juga bisa dilakukan pada saat melakukan sahur bersama dengan keluarga sebelum menyantap hidangan.

Anda juga bisa melengkapi niat puasa sunnah Asyura dengan niat puasa lain, contohnya untuk mengganti puasa Ramadhan bagi perempuan atau puasa Qada’.

Sebagaian ulama memperbolehkan untuk merangkap puasa saunah dengan puasa Qada ini.

Sebagaimana Imam Ibnu Utsaimin menerangkan bahwa mereka yang melaksanakan puasa di hari Arafah atau puasa di hari Asyura.

Serta bagi orang yang mempinyai tanggungan puasa Ramadhan dan meniatkan puasa pada saat itu juga mengqada puasa Ramadhan.

Maka puasanya sah dan Ia mendapatkan pahala dua sekaligus yakni puasa sunah Asyura dan Qada puasa Ramadhan.

Mengenal Puasa Asyura Niat Tata Cara Beserta Keutamaannya

  1. Makan Sahur

Seperti halnya pada tata cara puasa yang lainnya, bergitu juga puasa Asyura disunnahkan untuk di awali dengan melakukan sahur terlebih dahulu.

Walaupun agak sulit untuk bangun pada saat fajar, namun dengan melakukan sahur yang mana mempunyai banyak manfaat yang besar. Sahur juga menjadi aktivitas yang dilaksanakan pada pagi buta agar kuat dalam menjalankan puasa.

Dengan melaksanakan sahur yang mana memiliki keutamaan yang membedakan pada puasa yang dilakukan oleh seorang muslim dengan puasa di agama lain.

Bangun dalam melakukan sahur juga menjadi menyempatkan untuk melaksanakan ibadah sholat tahajjud yang membuat pahala puasa menjadi berlipat ganda.

  1. Memperbanyak Ibadah dan Menghindari Perbuatan yang Membatalkan Puasa

Dengan melakukan puasa tidak menjadikan alasan untuk menjadi malas sepanjang hari, gunakan sebaik mungkin untuk memperbanyak melakukan ibadah baik yang wajib dan sunah.

Seperti contoh qobliyah sholat dan badliyah sholat dan memperbanyak membaca Al-Qur’an.

Agar tidak menjadi batal pada tengah hari, hindari beberapa perbuatan dyang dapat membatalkan puasa seperti contoh makan, minum ataupun hal yang dapat menyebabkan batalnya puasa.

  1. Berbuka Puasa

Akhiri puasa sunah Asyura dengan menjalankan buka puasa yang memiliki nilai ibadah. Salah satunya dengan menyegerakan berbuka puasa pada saat waktu sudah masuk untuk berbuka.

Keutamaan Puasa Asyura

Puasa di bulan Muharram, terutama puasa Asyura memiliki banyak keutamaan. Simak ulasna tentang keutamaan puasa Asyura berikut ini.

  1. Ibadah Sunnah Rasulullah

Puasa Asyura merupakan salah satu dari empat amalan sunnah yang tak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah seumur hidupnya.

Rasulullah sangat bersemangat untuk mengerjakan puasa Asyura tersebut.

Dari riwayat Ibnu Abbas berkata :

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ: يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ

Artinya :

Aku tidak pernah melihat Rasulullah benar-benar perhatian dan menyengaja untuk mengerjakan puasa yang ada keutamaannya daripada puasa pada hari ini, yaitu hari Asyura dan puasa bulan Ramadhan

Rasulullah sendiri tidak pernah meninggalkan empat amalan sunnah, yaitu :

  1. Puasa Asyura
  2. Puasa 10 hari di bulan Dzulhijjah
  3. Puasa tiga hari setiap bulan
  4. Sholat sunnah sebelum sholat subuh

Imam Ahmad, Muslim, dan Abu Daud menjelaskan bahwa saat Rasulullah ditanya oleh seorang sahabat mengenai sholat manakah yang lebih utama setelah shalat fardhu.

Maka Rasulullah menjawab bahwa sholat tersebut adalah sholat sunnah malam. Sementara puasa yang lebih utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram.

  1. Menghapuskan Dosa Setahun

Rasulullah bersabda :

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Artinya :

Puasa Asyura aku memohon kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu

Berdasarkan hadits riwayat Imam An-Namawi, ia berkata :

Keutamaannya menghapus semua dosa-dosa kecil. Atau boleh dikatakan menghapus seluruh dosa kecuali dosa besar”.

Untuk memeroleh keutamaan ini, tentunya harus diiringi dengan amalan-amalan lain terutama ibadah wajib bagi umat muslim.

  1. Merupakan Puasa Sunnah Paling Utama

Kita tentu mengetahui ada banyak sekali jenis puasa sunnah, mulai dari puasa senin dan kamis, puasa di bulan Dzulhijjah, hingga puasa Syawal.

Nah, dari sekian banyak puasa sunnah tersebut, Rasulullah menjelaskan bahwa puasa Asyura merupakan puasa paling utama setelah puasa wajib di bulan Ramadhan.

Rasulullah bersabda :

َفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

Artinya :

Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Al-Muharram”.

Demikian penjelasan singkat tentang Mengenal Puasa Asyura, Niat, Tata Cara Beserta Keutamaannya, semoga dapat memberikan manfaat dan menambah wawasan ilmu pengetahuan Anda.

Baca juga :

√ Panduan dan Bacaan Doa Memandikan Jenazah Mayit Laki-laki

Panduan dan Bacaan Doa Memandikan Jenazah Mayit Laki-laki

Panduan dan Bacaan Doa Memandikan Jenazah Mayit Laki-laki  – Pada kasempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Memandikan Jenazah. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan panduan serta bacaan doa memandikan jenazah pada mayit laki-laki dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelas dan mudah dipahaminya bisa Anda lihat artikel berikut ini.

Panduan dan Bacaan Doa Memandikan Jenazah Mayit Laki-laki

Memandikan mayit merupakan salah satu dari fardhu kifayah bagi umat muslim, yang mana bila sudah ada yang melakukannya maka gugur kewajiban bagi sebagian yang lain. Namun bila mana tidak ada yang memandikannya maka akan mendapatkan dosa.

Perkara kewajiban bagi orang yang hidup terhadap mayit :

Seperti halnya yang sudah kita ketahui bahwa kewajiban dari mengurus mayit ada 4 hal yang harus dilakukan agar gugur kewajiban dari fardhu kifayah, antara lain yaitu:

  • Memandikan
  • Mengkafani
  • Menyolatkan
  • Menguburkan

Serta ada 2 hal bagi mayit yang tidak perlu unutk dimandikan serta disholatkan, antara lain yaitu:

  1. Orang yang gugur/mati dalam keadaan jihad fi sabilillah.
  2. Siqith (anak keluron yaitu anak yang lahir belum sempurna 4 bulan. Sehingga ada teriakan atau bersin. Maka apabila lahir ada suara walaupun sedikit dalam arti sempat hidup walaupun satu detik maka hukumnya sama dengan yang sudah besar).

Tata Cara Memandikan Jenazah Laki-laki Dewasa

Pada jenazah laki-laki dewasa diharuskan untuk dimandikan oleh laki-laki juga, dan untuk mayit perempuan oleh perempuan juga. Tidak diperbolehkan memandikan walaupun itu anaknya sendiri kecuali pada keadaan dorurat/terpaksa.

Adapun istri atau suami memandikan tentu diperbolehkan akan tetapi bila mana ada kaum sesama jenisnya lebih baik dilakukan oleh mereka. Alasannya agar tidak menimbulkan fitnah, adapun bila tidak menimbulkan fitnah maka diperkenankan.

Pada proses memandikan jenazah hendaknya dilakukan pada tempat yang tertutup walupun itu jenazah laki-laki kecuali pada keadaan dhorurat dan yang menandikan sebaiknya merupakan keluarga terdekat mayit.

Dalam proses memandikan jenazah merupakan pertama yang dilakukan dalam mengurusi jenazah dan juga termasuk tindakan memuliakan dan membersihkan jasad mayit sendiri.

Tata Cara dan Aturan Memandikan Jenazah

Pada proses memandikan mayit tentu terdapat aturan dan tata cara yang perlu di lakukan dalam proses memandikan mayit.

Dalam hal ini para ulama menjelaskan bahwa ada 2 macam dalam memandikan mayit/jenazah, antara lain:

  • Melakukan dengan cara sederhani yaitu melaksanakan kewajiban saja.
  • Melakukan dengan cara sempurna yaitu melaksanakan kewajiban dan sunahnya dalam memandikan mayit.

Cara Memandikan Jenazah yang Menggugurkan Kewajiban

Dalam hal ini memandikan mayit hanya melaksanakan demi gugurnya kewajiban dalam fardu kifayah. Sebagaimana yang telah diterangkan oleh Syekh Salim bin Sumair Al-Hadlrami dalam kitabnya Safînatun Najah (Beirut: Darul Minhaj, 2009):

أَقَلُّ الْغُسْلِ تَعْمِيْمُ بَدَنِهِ بِالْمَاءِ

Artinya: “Setidak-tidaknya memandikan mayit itu harus meratakan air ke seluruh anggota badan mayit dengan air.”

Sesuai dengan keterangan diatas yaitu hanya sekedar menggugurkan kewajiban dan sah menurut hukum. Maka cukup air disiramkan pada seluruh anggota badan mayit secara merata, begitu saja sudah cukup.

Memandikan Jenazah Laki-laki Dewasa yang Sempurna

Dalam hal ini disamping melakukan kewajiban tentu dilengkapi dengan kesunahan dalam memandikan mayit, sepertihalnya diterangkan oleh Syekh Salim :

وَأَكْمَلُهُ اَنْ يَغْسِلَ سَوْأَتَيْهِ وَأَنْ يَزِيْلَ الْقَذْرَ مِنْ أَنْفِهِ وَأَنْ يُوْضِأَهُ وَأَنْ يَدْلُكَ بَدَنَهُ بِالسِّدْرِ وَأَنْ يَصُبَ الْمَاءَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا

Artinya: “Dan adapun sempurnanya memandikan mayit adalah membasuh kedua pantatnya, dan agar menghilangkan kotoran dari hidungnya, kemudian mewudhukannya, menggosok badannya dengan daun bidara, dan menyiramnya dengan air sebanyak tiga kali.”

Syarat Orang yang Memandikan Jenazah

  • Muslim
  • Ber’akal
  • Baligh
  • Jujur dan Sholih
  • Amanah, mengerti hukum serta tata cara memandikan Jenazah
  • Bisa/dapat menutupi aib Jenazah

Urutan dalam Memandikan Jenazah Laki-laki

  • Laki-laki yang masih ada hubungan keluarga seperti: anak, adik, kakak, bapak, atau kakek.
  • Istrinya, karena istri boleh mendikan jenazah suaminya.
  • Laki-laki lain yang tidak ada hubungan keluarga.
  • Perempuan yang masih berstatus Muhrim (yang haram dinikah).

Cara Memandikan Jenazah Dengan Sempurna

  • Periksalah kuku jenazah, jika kukunya panjang maka dipotong dulu ukuran normal.
  • Periksa bulu ketiaknya, jika panjang sebaiknya dicukur. dan bulu kemaluan tidak boleh dicukur sabab itu adalah aurat.
  • Selanjutnya angkat kepala jenazah sampai setengah duduk lalu tekan perutnya supaya kotorannya keluar.
  • Kemudian siram seluruh tubuh jenazah sampai kotoran yang keluar dari perut tidak ada yang menempel pada tubuhnya.
  • Bersihkan qubulnyq (kemaluannya) dan dubur supaya tidak ada kotoran yang menempel
  • Pada saat membersihkan qubul dan dubur mestinya memakai sarung tangan supaya tangan tidak menyentuh kemaluan jenazah secara langsung.
  • Setelah kotoran dalam perut sudah bersih, selanjutnya adalah menyiram jenazah, silaman dimulai dari anggota tubuh sebelah kanan, mulai kepala, leher, dada, perut, paha sampai kaki paling ujung. Sambil baca doa. Sakollahu shobiba rohmatihi waridwanihi
  • Basuh jenazah dengan menuangkan air ketubuh jenazah, lalu bagian tubuh juga digosok perlahan dengan atangan atau kain handuk yang halus sambil berdoa: Sakollahu shobiba rohmatihi waridwanihi
  • Apabila sudah selesai dimandikan, orang yang memandikan mewudhukannya seperti wudhu yang biasa dilakukan sebelum sholat, yang perlu diingat adalah jangan memasukan air ke dalam hidung dan mulut jenazah, akan tetapi cukup dengan cara membasahi jari yang dibungkus dengan kain atau sarung tangan lalu bersihkan bibir jenazah dengan menggosok gigi dan kedua lubang hidung jenazah sampai bersih.
  • Menyela-nyela jenggot dan mencuci rambut jenazah dengan air perasan daun bidara, dan sisanya dapat digunakan untuk membasuh sekujur tubuh jenazah kalau meang daun bidaranya ada, kalau tidak ya tidak perlu.
  • Setelah itu keringkan tubuh jenazah dengan menggunakan handuk, selanjutnya tinggal mengkafani.

Bacaan Doa Pada Saat Memadikan Jenazah

Berikut ini adalah beberapa bacaan doa pada saat proses memandikan jenazah atau mayit yang perlu Anda ketahui.

  • Bacaan Memejamkan Mata Mayit yang masih terbuka

Bila melihat orang yang meninggal dan matanya masih tidak mejam / masih terbuka, maka pejamkanlah dengan secara perlahan sambil membaca Bismilahirrahmanirrahim.

  • Bacaan Untuk Memajamkan Mata Mayit

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ

(Bismillahirrohmanirrohim. Bismilahi wa’ala milati rosulillahi solallahu ‘alaihi wasalam)

Artinya: Dengan Nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, Dengan Nama Allah dan tetap di atas Agama Rasulullah Sollallahu ‘alai wa sallam.

  • Bacaan untuk Menggotong Mayit

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ

(Bismillahirrohmanirrohim. Bismilahi wa’ala milati rosulillahi solallahu ‘alaihi wasalam)

Artinya: Dengan Nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, Dengan Nama Allah dan tetap di atas Agama Rasulullah Sollallahu ‘alai wa sallam.

  • Bacaan Niat Memandikan Mayit Laki-laki Dewasa

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ نَوَيْتُ الْغُسْلَ عَلَى هَذَا الْمَيِّتِ فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلَّهِ تَعَالَى

(Bismillahirrohmanirrohim. Nawaitul-gusla ‘ala hadzal-mayiti fardho kifayatin lilhita’ala)

Artinya: Dengan Nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, Saya Niat Mandi (Memandikan) atas mayit ini Karena Allah Ta’ala

  • Doa menggosok mayit yang sedang di mandikan dengan sabun

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ سَقَى اللهُ صَبِيْبَ رَحْمَتِهِ وَرِضْوَانِهِ

(Bismillahirrohmanirrohim. Sakollahu shobiba rohmatihi waridwanihi)

Artinya: Dengan Nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, Semoga Allah Menuangkan Rahmat dan Keridhoan-Nya

  • Niat Mengistinjakkan Mayit Laki-laki Dewasa

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ نَوَيْتُ الْإِسْتِنْجَاءَ عَلَى هَذَا الْمَيِّتِ لِلَّهِ تَعَالَى

(Bismillahirrohmanirrohim. Nawaitul-istinja-a ‘ala hadzal-mayiti lilahi ta’ala)

Artinya: Dengan Nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, Saya Niat Mengistinjakkan Atas Jenazah ini Karena Allah Ta’ala

  • Niat Mewudhukan Mayit Laki-laki Dewasa

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ عَلَى هَذَا الْمَيِّتِ لِلَّهِ تَعَالَى

(Bismillahirrohmanirrohim. Nawaitul-wudhu-a ‘ala hadzal-mayiti lilahita’ala)

Artinya: Dengan Nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, Saya Niat berwudhu (Mewudhukkan) atas mayit ini Karena Allah Ta’ala

  • Doa Setelah Mewudhukan Mayit Laki-laki Dewasa

اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْهُ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

(Allahummaj’alhu minatawabina waj’alhu minal-mutathohirin)

Artinya: Ya Allah Jadikan dia masuk pada golongan orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah dia masuk di golongan orang-orang yang bersih

  • Niat Mandi setelah Memandikan Mayit

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِغُسْلِ الْمَيِّتِ لِلَّهِ تَعَالَى

(Bismillahirrohmanirrohim. Nawaitul-ghusla lighuslil-mayiti lilahita’ala)

Artinya: Dengan Nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, Saya Niat Mndi karena Memandikan Mayit Karena Allah Ta’ala

  • Bacaan Ketika Mengkafani Mayit

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَشْهَدُ اَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

(Allahumma Shollia ‘ala Sayidina Muhammadin, Asyhadu AnLaa-ilaha illallah, wa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah)

Artinya: Ya Allah Berikanlah Rahmat atas Penghulu kami Nabi Muhammad s.a.w., Aku bersaksi Bahwa Tidak ada Tuhan yang hak wajib disembah kecuali Alallah, dan Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu adalah Utsan Allah.

Panduan dan Bacaan Doa Memandikan Jenazah Mayit Laki-laki

Perkara Sunah Dalam Memandikan Mayit

Terdapat juga beberapa sunah selain membaca doa pada keterangan diatas, yang mana dijelaskan oleh Syekh Nawawi dalam Kitab Kasyifatus Saja antara lain yaitu:

  • Disunahkan basuhan yang pertama dengan daun bidara, basuhan kedua untuk menghilangkan daun bidara, dan basuhan ketiga dengan air bersih yang diberi sedikit kapur barus yang sekiranya tidak sampai merubah air. Pada tiga basuhan tersebut terhitung sebagai satu kali basuhan dan disunahkan untuk mengulanginya dua kali lagi seperti basuhan-basuhan tersebut
  • Ketika Memandikan harus diupayakan dalam menyiramkan air pada tubuh mayit itu 3x.
  • Hindarkan penggunaan pada air Musta’mal.
  • Siramkan air mulai dari arah kepala sampai ke kaki.
  • Gosok dengan perlahan pada Tubuh Mayit dengan sabun atau air sabun.
  • Siram menggunakan air dengan hitungan ganjil sambil digosok.
  • Baringkan mayit dan hadapkan ke sebelah kiri.
  • Siram dengan air hingga ke bagian belakang kemudian disabun lalu disiram lagi dengan hitungan ganjil dan digosok sampai bersih.
  • Baringkan lagi mayit ke sebelah kanan kemudian siram dengan air terus disabun lalu disiram lagi dengan hitungan ganjil dan digosok sampai bersih.
  • Bersihkan semua kotoran yang ada dibawah kuku tangan dan kakinya
  • Jenazah aga diduduk sedikit miring ke belakang dengan ditopang tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya mengurut bagian perut jenazah agar ditekan agar apa yang ada di alam perutnya keluar. Kemudian yang memandikan memakai sarung tangan atau membungkus tangan kirinya lalu membasuh lubang kubul dan dubur mayit.
  • Bersihkan mulut dan hidungnya lalu mewudhukannya sebagaimana melakukan wudhunya bagi orang yang hidup.

Demikian penjelasan tentang Panduan dan Bacaan Doa Memandikan Jenazah Mayit Laki-laki, semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan Anda.

√ Panduan Bacaan Tahiyat Akhir Arab Latin dan Penjelasannya

Panduan Bacaan Tahiyat Akhir Arab Latin dan Penjelasannya

Panduan Bacaan Tahiyat Akhir Arab Latin dan Penjelasannya – Pada Kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Tahiyat Akhir. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan panduan cara bacaan tahiyat akhir arab, latin serta penjelasannya dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih detailnya simak artikel berikut ini.

Panduan Bacaan Tahiyat Akhir Arab Latin dan Penjelasannya

Islam adalah salah satu ajaran agama yang sangat luas cakupannya, diantaranya yaitu sholat. Sholat adalah tiang agama dan dalam hukum pelaksanaannya adalah wajib. Nah oleh karena sebagai umat Islam juga harus selalu memahami, meyakini, menghafalkan, serta mengamalkan rukun-rukun dalam Islam.

Perlu diketahui tahiyat akhir merupakan salah satu rukun sholat dalam Islam yang wajib dihafalkan dan diamalkan. Adapun rukun-rukun dalam sholat tersebut terdiri dari:

  • Berdiri (Untuk yang mampu)
  • Takbiratul ihram
  • Membaca surat Al Fatihah pada tiap rakaat
  • Rukuk dengan tuma’ninah
  • Iktidal dengan tuma’ninah
  • Sujud dua kali dengan tuma’ninah
  • Duduk diantara dua sujud dengan tuma’ninah
  • Duduk dan membaca tahiyat akhir
  • Membaca sholawat nabi pada tahiyat akhir
  • Mengucapkan salam
  • Tertib (melakukan rukun secara berurutan)

Bacaan Tahiyat Akhir

Berikut ini merupakan bacaan tahiyat akhir dalam bentuk bahasa arab, latin serta terjemahannya.

Bacaan Tahiyat Akhir Arab

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ , أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ , اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Bacaan Tahiyat Akhir Latin

“At_Tahiyyaatul Mubaarakaatush Shalawaatuth Thoyyibaatulillaah. As_Salaamu’alaika Ayyuhan Nabiyyu Wa Rahmatullaahi Wabarakaatuh, Assalaamu’alaina Wa’alaa Ibaadillaahishaalihiin.

Asyhaduallaa Ilaaha Illallaah, Wa Asyhadu Anna Muhammad Rasuulullaah.

Allaahumma Shalli’alaa Muhammad, Wa’alaa Aali Muhammad. Kamaa Shallaita Alaa Ibraahiim Wa Alaa Aali Ibraahiim.

Wabaarik’alaa Muhammad Wa Alaa Aali Muhammad. Kamaa Baarakta Alaa Ibraahiim Wa Alaa Aali Ibraahiim, Fil’aalamiina Innaka Hamiidum Majiid.”

Artinya: “Segala kehormatan, dan keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan itu punya Allah. Keselamatan atas Nabi Muhammad, juga rahmat dan berkahnya. Keselamatan dicurahkan kepada kami dan atas seluruh hamba Allah yang sholeh. Aku bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

“Ya Allah, limpahilah rahmat atas keluarga Nabi Muhammad.Seperti rahmat yang Engkau berikan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahilah berkah atas Nabi Muhammad beserta para keluarganya. Seperti berkah yang Engkau berikan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Engkaulah Tuhan yang sangat terpuji lagi sangat mulia diseluruh alam.

Pada bacaan tahiyat awal hampir sama dengan bacaan tahiyat akhir, hanya saja dalam bacaan tahiyat akhir terdapat penambahan yaitu sholawat dan syahadat.

Pembagian Bacaan Tahiyat Akhir

Dalam bacaan tahiyat akhir dapat terbagi menjadi dua bagian, diantaranya yaitu:

Bacaan Tahiyat Awal

Bacaan tahiyat awal adalah bacaan yang berasal dari dialog Nabi Saw dan Allah SWT saat Nabi mengalami peristiwa Isra’ Mi’raj.

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ

“At-Tahiyyaatul Mubaarakaatush Shalawaatuth Thoyyibaatulillaah. As-Salaamu’alaika Ayyuhan Nabiyyu Wa Rahmatullaahi Wabarakaatuh, Assalaamu’alaina Wa’alaa Ibaadillaahis Shaalihiin.”

Artinya:

Segala kehormatan, dan keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan itu punya Allah. Keselamatan atas Nabi Muhammad, juga rahmat dan berkahnya. Keselamatan dicurahkan kepada kami dan atas seluruh hamba Allah yang sholeh.”

Bacaan Syahadat

Sholat wajib yang dilakukan 5 (lima) kali dalam sehari semalam, dapat membantu membersihkan dosa-dosa kecil. Sebab dalam sholat ada berbagai kalimat yang maknanya adalah meminta ampun dan juga ada syahadatnya. Berikut ini adalah bacaan syahadat yaitu:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

“Asyhaduallaa Ilaaha Illallaah, Wa Asyhadu Anna Muhammad Rasuulullaah.”

Artinya:

Aku bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”

Bacaan Sholawat Atas Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim

Sholawat adalah doa yang kita kirimkan atas Nabi Muhammad agar kelak kita mendapatkan syafaatnya kelak di hari akhir. Dibawah ini merupakan bacaan sholawat yaitu:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Allaahumma Shalli’alaa Muhammad, Wa’alaa Aali Muhammad. Kamaa Shallaita Alaa Ibraahiim Wa Alaa Aali Ibraahiim.

Wabaarik’alaa Muhammad Wa Alaa Aali Muhammad. Kamaa Baarakta Alaa Ibraahiim Wa Alaa Aali Ibraahiim, Fil’aalamiina Innaka Hamiidum Majiid.”

Artinya:

Ya Allah, limpahilah rahmat atas keluarga Nabi Muhammad.Seperti rahmat yang Engkau berikan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahilah berkah atas Nabi Muhammad beserta para keluarganya. Seperti berkah yang Engkau berikan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Engkaulah Tuhan yang sangat terpuji lagi sangat mulia diseluruh alam.”

Panduan Bacaan Tahiyat Akhir Arab Latin dan Penjelasannya

Tata Cara Tahiyat Akhir

Dibawah ini adalah tata cara tahiyat akhir dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Duduk Tasyahud Akhir dengan Tawarruk

Duduk tasyahud akhir dilakukan setelah melakukan sujud terakhir dalam sholat. Duduk tawarruk adalah duduk dengan posisi kedua kaki ditekuk ke arah kanan. Kemudian posisinya menyimpang ke kanan dari arah pinggang. Adapun peletakan kaki kiri berada di bawah kaki kanan dan telapak kanan ditegakkan dengan jari-jari kaki menghadap ke arah kiblat.

  1. Isyarat Jari

Dalam melakukan tasyahud awal dan tasyahud akhir dilakukan dengan isyarat jari, adapun cara melakukan isyarat jari adalah sebagai berikut:

Tangan ditempelkan sepenuhnya di lutut yaitu dengan posisi separuh telapak tangan ada di atas paha dan separuh telapak tangan memegang lutut. Lalu pada posisi ini, Anda bisa mengangkat jari telunjuk sebagai isyarat jari secara langsung tanpa menggenggam tangan.

Tangan menggenggam dan diletakkan diatas lutut. Ketika sampai pada bacaan isyarat jari, Anda bisa mengangkat jari telunjuk secara langsung.

Tangan membentuk isyarat separuh genggaman yakni ujung jari tengah dan jempol bertemu sedangkan jari telunjuk menunjuk ke depan. Pada posisi ini, jari telunjuk bisa digerak-gerakkan ke atas dan ke bawah.

  1. Membaca Bacaan Tahiyat Akhir

Kemudian setelah itu posisi kaki dan tangan telah duduk sesuai dengan ketentuan dengan duduk tawarruk. Barulah membaca doa tahiyat akhir yakni berisi tiga bagian yang terdiri dari doa tahiyat awal, kalimat syahadat, dan sholawat atas nabi Muhammad Saw dan Nabi Ibrahim As.

Demikianlah penjelasan tentang Panduan Bacaan Tahiyat Akhir Arab Latin dan Penjelasannya. Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan Anda pembaca. Terima kasih.

√ Bacaan Doa Kamilin : Arab, Latin dan Terjemahnya (Lengkap)

Bacaan Doa Kamilin Arab Latin dan Terjemahnya

Bacaan Doa Kamilin : Arab, Latin dan Terjemahnya (Lengkap) – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Doa Kamilin. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan bacaan doa kamilin arab, latin dan terjemah serta keutamaan berikut penjelasannya. Untuk lebih detailnya simak Artikel berikut ini.

Bacaan Doa Kamilin : Arab, Latin dan Terjemahnya (Lengkap)

Doa kamilin merupakan doa yang dibaca setelah sholat tarawih telah selesai. Sholat tarawih sendiri ialah sholat sunah yang hanya ada di bulan suci ramadhan saja selama 30 hari atau sebulan penuh.

Sholat tarawih dilakukan setelah sholat isya atau sampai dengan terbit fajar. Sholat tarawih dapat dilakukan berjamaah di masjid maupun dilakukan sendiri di rumah.

Jumlah rakaat solat tarawih yaitu 23 rakaat dengan 20 rakaat sholat tarawih dan 3 rakaat sholat witir yang setiap 2 rakaat salam.

Ada juga yang melakukannya dengan 11 rakaat saja dengan 8 rakaat sholat tarawih dan 3 rakaat sholat witir yang setiap 2 rakaat juga salam.

Sholat tarawih merupakan sholat sunah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk dilaksanakan dan hanya terdapat pada bulan ramadhan. Karena dalam sholat tarawih ini memang sangatlah banyak manfaat dan keutamaannya.

Doa Kamilin

Bagi yang sholat tarawih 23 rakaat maka membaca doa kamilin setelah 20 rakaat sholat tarawih dilaksanakan. Kemudian dilanjutkan 3 rakaat sholat witir dengan 2 rakaat salam dan 1 rakaat salam.

Sedangkan bagi yang melaksanakan sholat tarawih 11 rakaat maka ia membaca doa kamilin setelah 8 rakaat sholat tarawih. Kemudian dilanjutkan dengan 3 rakaat sholat witir rakaat salam dan 1 rakaat salam.

Berikut ini adalah bacaan doa kamilin atau doa setelah sholat tarawih arab, latin dan terjemahnya, yaitu:

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْاِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبِاالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لَوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ. وَاِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَاِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلٰى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَمِنْ حُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ, بِاَكْوَابٍ وَّاَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَّعِيْنَ

مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ اُوْلٰئِكَ رَفِيْقًا ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا

اَللّٰهُمَّ اَجْعَلْنَا فِى هٰذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّهْرِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلاَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْن

وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Allaahummaj’alnaa Bil-Iimaani Kaamiliin, Wa Lil-Faraa ‘Idimu’addiin, Wa Lis-Salaati Haafiziin, Wa Liz-Zakaatii Faa’iliin, Wa Limaa ‘Indaka Taalibiin, Wa Li’afwika Raajiin.

Wa Bil-Hudaa Mutamassikiin, Wa ‘Anil-Lagwi Mu’ridiin, Wa Fid-Dun-Yaa Zaahidiin, Wa Fil-Aakhirati Raagibiin, Wa Bil-Qadaa’i Raadiin, Wa Lin-Na ‘Maa’i Syaakiriin.

Wa ‘Alal-Balaa’i Saabiriin, Wa Tahta Liwaa’i Sayyidinaa Muhammadin Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallama Yaumal-Qiyaamati Saa’iriin, Wa Ilal-Haudi Waaridiin.

Wa Ilal-Jannati Daakhiliin, Wa Minan-Naari Naajin, Wa ‘Alaa Sariiril-Karaamati Qaa’idiin Wa Min Huurin ‘Iinim Mutazaw-Wijiin, Wa Min Sundusiw Wa Istabraqiw Wa Diibaajim Mutalabbisiin.

Wa Min Ta’aamil-Jannati Aakiliin, Wa Mil Labaniw Wa ‘Asalim Musaffan Syaaribiin, Bi Akwaabiw Wa Abaariiqa Wa Ka’sim Mim Ma’iin.

Ma’allaziina An’amta ‘Alaihim Minan-Nabiyyiina Was-Siddiiqiina Wasy-Syuhadaa’i Was-Saalihiinna Wa Hasuna Ulaa’ika Rafiiqaa, Zaalikal-Fadlu Minallaahi Wa Kafaa Billaahi ‘Aliimaa.

Allaahummaj’alnaa Fii Lailati Haazasy-Syahrisy-Syariifatil-Mubaarakati Minas-Su’adaa’il-Maqbuuliina Wa Laa Taj’alnaa Minal-Asyqiyaa’il-Marduudiin.

Wa Sallallaahu ‘Alaa Muhammadiw Wa ‘Alihii Wa Sahbihii Ajmaa’in, Bi Rahmatika Yaa Arhamar-Raahimiin, Wal-Hamdu Lillaahi Rabbil-‘Aalamiin.

Artinya :

“Ya Allah, jadikanlah kami berkat iman Orang-orang yang sempurna, Orang-orang yang mengerjakan hal yang wajib, Orang-orang yang memelihara sholat.

Orang-orang yang menunaikan zakat, Orang-orang yang mengharapkan pahala yang ada di sisi-Mu, Orang-orang yang mengharapkan ampunan-Mu.

Orang – orang yang berpegang teguh kepada hidayah-Mu, Orang-orang yang berpaling dari perbuatan yang sia-sia, Orang-orang yang berzuhud terhadap duniawi.

Orang-orang yang mengharapkan pahala akhirat, Orang-orang yang ridha dengan qada, Orang-orang yang mensyukuri nikmat, Orang-orang yang sabar menghadapi cobaan dan musibah.

Dan Orang-orang yang berjalan di bawah panji Nabi Muhammad SAW. Kelak di hari kiamat, Orang-orang yang digiring munuju telaga Kausar untuk meminum airnya.

Orang-orang yang masuk kedalam surga, Orang-orang yang diselamatkan dari neraka, Orang-orang yang didudukkan di atas dipan-dipan kemuliaan.

Orang yang mengawini bidadari-bidadari yang bermata jeli, Orang-orang yang mengenakan pakaian dari sutra tipis dan tebal.

Orang-orang yang memakan makanan surga dan minum dari air susu dan madu dengan memakai gelas-gelas dan cerek-cerek serta sloki piala yang langsung dari sumbernya.

Yaitu dengan Orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka dari kalangan para nabi, kaum siddiqin, para syuhada dan Orang-orang yang sholeh, mereka adalah sebaik-baiknya teman. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah SWT dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui.

Ya Allah, jadikanlah kami Orang-orang yang berbahagia, yang diterima amal perbuatannya dalam bulan yang mulia dan diberkati ini. Dan janganlah Engkau jadikan kami Orang-orang celaka yang ditolak amal perbuatannya.

Dan semoga Allah SWT melimpahkan rahmat kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya. Dengan rahmat-Mu wahai Tuhan Yang Maha Pengasih di antara pengasih, dan segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam.”

Manfaat Sholat Tarawih

Manfaat dari melaksanakan sholat tarawih sangatlah besar. Bahkan jika kita sholat tarawih disetiap malam maka kita akan mendapatkan manfaat yang berbeda-beda pula di setiap malamnya. Manfaatnya bisa dirasakan mulai dari segi kesehatan tubuh maupun jiwa dan dari segi keimanan kita kepada Allah SWT.

Karena pada bulan suci ramadhan dibuka selebar-lebarnya pintu surga untuk orang yang beribadah kepada Allah SWT dan para setan, iblis dan jin itu dipenjara.

Maka tak heran banyak orang yang berlomba-lomba untuk mendapatkan pahala di bulan suci ramadhan ini.

Berikut adalah beberapa manfaat yang dapat kita ambil dari sholat tarawih secara rutin :

Manfaat Sholat Tarawih untuk Kesehatan Rohani

  • Dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT.
  • Dapat memberikan ketenangan batin. Seperti sholat – sholat sunah yang lainnya.
  • Dapat meningkatkan solidaritas sosial dan menghilangkan kesenjangan sosial jika sholat tarawih dilakukan berjamaah di masjid. Karena memang sholat tarawih itu identik dengan sholat berjamaah di masjid.
  • Dapat melatih kesabaran. Karena jumlah sholat tarawih yang cukup banyak.

Manfaat Sholat Tarawih untuk Kesehatan Jasmani

  • Dapat meningkatkan fungsi otak. Karena dengan sholat tarawih peredaran darah ke otak meningkat dan suplai nutrisi ke otak juga meningkat. Jadi otak dapat bekerja secara maksimal.
  • Dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Karena gerakan yang ada di dalam sholat tarawih dapat memicu reaksi tubuh kita dan memperkuat sel – sel kekebalan tubuh terutama bagi lansia.
  • Dapat meningkatkan stamina. Karena sifat sholat tarawih sendiri dapat dikatakan sama dengan olahraga.
  • Dapat meningkatkan mood seseorang. Karena saat melaksanakan sholat tarawih otak akan melepaskan senyawa emdhorpin yang dapat meningkatkan rasa nyaman dan membuat mood baik kembali.
  • Dapat menjaga kesehatan jantung. Karena sholat tarawih memiliki efek yang sama dengan latihan kardio atau senam jantung.
  • Dapat menyehatkan tulang dan persendian. Karena jumlah rakaat dalam sholat tarawih yang cukup banyak dan setiap gerakan sholat itu dipercaya mampu menyehatkan tulang dan persendian kita.
  • Dapat menurunkan kadar gula darah di dalam tubuh. Karena pada saat berbuka puasa kita dianjurkan untuk memakan makanan manis terlebih dahulu. Hal ini lah yang dapat membuat kadar gula darah dalam tubuh menurun.
  • Dapat membakar kalori. Karena jumlah rakaat dalam sholat tarawih yang cukup banyak dan kita terus dapat bergerak maka kalori di dalam tubuh kita akan terbakar.
  • Dapat menghilangkan stress. Karena saat melaksanakan sholat tarawih tubuh akan melepaskan beberapa senyawa kimia yang berfungsi untuk meredakan stress.

Bacaan Doa Kamilin Arab Latin dan Terjemahnya

Hadist Tentang Sholat Tarawih

Di bawah ini mengenai hadist tentang sholat tarawih, yaitu :

Rasulullah SAW telah bersabda :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ متفق عليه

Artinya:

“Barang siapa mendirikan sholat malam di bulan suci ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah SWT, niscaya mereka diampuni dosa – dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq alaih)

Di lain hadist juga Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ رَمَضَانَ شَهْرٌ فَرَضَ الله صِيَامَهُ وَإِنِّيْ سَنَنْتُ لِلْمُسْلِمِيْنَ قِيَامَهُ، فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنَ الذُّنُوْبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ خرجه النسائي، وقال: الصواب عن أبي هريرة

Artinya:

“Sungguh, bulan suci ramadhan adalah bulan yang diwajibkan oleh Allah SWT puasanya dan disunahkan sholat malam. Maka barang siapa menjalankan puasa dan sholat malam pada bulan itu karena iman dan mengharap pahala, niscaya dia akan bebas dari dosa – dosanya, seperti saat ketika dilahirkan ibunya.” (HR Abu hurairah)

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda :

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

Artinya :

“Puasa adalah perisai. Maka janganlah dia berkata-kata kotor dan berbudat bodoh. Apabila ada orang lain yang memerangi atau mencacinya, hendaklah dia katakan ‘Aku sedang puasa’ 2x.

Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah SWT dari pada bau minyak kasturi.

Dia rela meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Satu kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat kebaikan tersebut.” (HR Bukhari)

Demikian penjelasan tentang Bacaan Doa Kamilin : Arab, Latin dan Terjemahnya (Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan sehingga menguatkan Iman dan Islam Kita. Terima kasih.

√ Bacaan Doa Untuk Orang Meninggal Arab, Latin dan Artinya

Bacaan Doa Untuk Orang Meninggal Arab Latin dan Artinya

Bacaan Doa Untuk Orang Meninggal Arab, Latin dan Artinya – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Doa Untuk Orang Meninggal. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan bacaan doa untuk orang meninggal menggunakan bahasa arab, latin dan terjemahnya. Untuk lebih jelasnya simak artikel berikuti ini.

Bacaan Doa Untuk Orang Meninggal Arab, Latin dan Artinya

Seperti namanya doa untuk orang meninggal ialah doa yang kita panjatkan untuk orang yang sudah meninggal dunia. Karena mendoakan orang yang sudah meninggal dunia adalah sebuah kewajiban kita sebagai umat muslim yang masih hidup.

Terutama jika orang yang meninggal adalah salah satu dari keluarga atau kerabat kita atau bahkan kedua orang tua kita. Karena doa anak sholeh dan sholehah lah yang mampu menolong orang tua besok di akhirat. Bahkan pahala dan amalan baik keduanya akan tetap mengalir.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW telah bersabda :

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ وَعِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ

Artinya : “Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal; Sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shalih yang mendoakannya.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1297)

Hanya doa yang diharapkan oleh orang yang sudah menigngal. Karena kiriman doa akan lebih berarti dan diinginkan dari pada dunia beserta seisinya. Mereka akan begitu bahagia, bilamana dikirimi doa. Karena kekuatan doa memang luar biasa.

Allah SWT pasti masih akan selalu memberikan rahmat-Nya kepada orang yang beriman untuk dapat menebarkan kebaikan. Salah satu cara adalah dengan mendoakan orang yang sudah meninggal dunia.

Doa Untuk Orang Meninggal

Berikut ini adalah doa untuk orang yang sudah meninggal baik laki-laki maupun perempuan, antara lain yaitu:

Doa Ketika Ada Orang yang Meninggal

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلَهُ وَأَعْقِبْنِي مِنْهُ عُقْبَى حَسَنَةً

Allahuma ghfirlii wa lahu wa’qibni minhu ‘uqba hasanah

Artinya :

“Ya Allah, ampunilah diriku dan dia serta berikan kepadaku darinya pengganti yang lebih baik.”

Doa Untuk Orang Meninggal Laki – Laki

اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارًاخَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَاَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَاَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرَنَا وَكَبِيْرَنَا وَذَكَرِنَا وَاُنْثَانَا

اَللهُمَّ مَنْ اَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَاَحْيِهِ عَلَى اْلاِسْلاَمِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلاِيْمَانِ

اَللهُمَّ لاَتَحْرِمْنَا اَجْرَهُ وَلاَتُضِلَّنَا بَعْدَهُ بِرَحْمَتِكَ يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Allaahummaghfirlahu. Warhamhu wa’aafihii wa’fu anhu. Wa akrim nuzu lahu wa wassi’ madkhalahu. Waghsilhu bilmaai was tsalji walbaradi wanaqqihi minal khathaayaa. Kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minaddanasi wa abdilhu daaran khairan min daarihi. Wa ahlan khairan min ahlihi. Wazaujan khairan min zaajihi. Wa adkhilhuljannata wa ‘aidzhu min ‘adzaabilqabri. Wafitnatihi wamin ‘adzaabin naari.

Allaahummaghfir lihayyinaa wamayyitinaa wasyaahidinaa waghaaibinaa washaghiiranaa wakabiiranaa wadzakarinaa wauntsaana.

Allaahumma man ahyaitahu minnaa fa ahyihi ‘alal islaami. Waman tawaffaitahu minnaa fatawaffahu ‘alal iimaani.

Allaahumma laa tahrimnaa ajrahu. Walaa tudhillanaa ba’dahu. Birahmatika yaa arhamar raahimiina. Walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin.

Artinya :

“Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah, bebaskanlah dan lepaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskan lah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskan lah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilan rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkan, serta suami atau istri yang lebih baik dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia kedalam surga, dan lindungilah dia dari siksa kubur serta fitnah nya, dan dari siksa api neraka.

Ya Allah, berikanlah ampun, kami yang masih hidup dan kami yang telah meninggal dunia, kami yang hadir, kami yang ghoib, kami yang kecil-kecil kami yang dewasa, kami yang laki-laki maupun perempuan.

Ya Allah, siapapun yang Engkau hidupkan dari kami, maka hidupkanlah dalam keadaan iman.

Ya Allah janganlah Engkau menghalangi kami, akan pahala beramal kepadanya dan janganlah Engkau menyesatkan kami sepeninggal dia dengan mendapat rahmat-Mu wahai Allah yang lebih belas kasihan. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

Doa Untuk Orang Meninggal Perempuan

اَللهُمَّ اغْفِرْلَهَا وَارْحَمْهُ وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا وَاَكْرِمْ نُزُلَهَا وَوَسِّعْ مَدْخَلَهَا وَاغْسِلْهَا بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهَا مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهَا دَارًاخَيْرًا مِنْ دَارِهَا وَاَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهَا وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا وَاَدْخِلْهَا الْجَنَّةَ وَاَعِذْهَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهَا وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرَنَا وَكَبِيْرَنَا وَذَكَرِنَا وَاُنْثَانَا

اَللهُمَّ مَنْ اَحْيَيْتَهَا مِنَّا فَاَحْيِهَا) عَلَى اْلاِسْلاَمِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهَا مِنَّا فَتَوَفَّهَا عَلَى اْلاِيْمَانِ

اَللهُمَّ لاَتَحْرِمْنَا اَجْرَهَا وَلاَتُضِلَّنَا بَعْدَهَا بِرَحْمَتِكَ يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Allaahummaghfirlaha. Warhamha wa’aafiha wa’fu anha. Wa akrim nuzu laha wa wassi’ madkhalaha. Waghsilha bilmaai was tsalji walbaradi wanaqqiha minal khathaayaa. Kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minaddanasi wa abdilha daaran khairan min daariha. Wa ahlan khairan min ahliha. Wazaujan khairan min zaajiha. Wa adkhilhuljannata wa ‘aidzha min ‘adzaabilqabri. Wafitnatiha wamin ‘adzaabin naari.

Allaahummaghfir lihayyinaa wamayyitinaa wasyaahidinaa waghaaibinaa washaghiiranaa wakabiiranaa wadzakarinaa wauntsaana.

Allaahumma man ahyaitahu minnaa fa ahyihi ‘alal islaami. Waman tawaffaitahu minnaa fatawaffahu ‘alal iimaani.

Allaahumma laa tahrimnaa ajraha. Walaa tudhillanaa ba’daha. Birahmatika yaa arhamar raahimiina. Walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin.

Untuk terjemah atau artinya dari doa untuk orang meninggal perempuan sama hanya yang membedakan yaitu bentuk dhomir Hu (kata ganti orang laki-laki) diganti dengan Ha (kata ganti orang perempuan).

Doa Permohonan Untuk Orang Meninggal

Adapun permohonan lain untuk doa orang yang sudah meninggal dunia, diantaranya adalah :

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ

Rab bigh firlii waliwaalidayya

Artinya :

“Ya Allah, ampunilah aku dan ibu bapakku.” (QS Nuh ayat 28)

وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Waqurrabbirhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa

Artinya :

Dan ucapkanlah : “Ya Allah, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua yang mengasihikua di waktu aku kecil.” (QS Al Isra ayat 24)

Perbuatan Baik Untuk Orang Meninggal

  • Mendoakan dan memohonkan ampun baginya.
  • Melaksanakan wasiat dari orang meninggal tersebut selama wasiat tersebut tidak memerintahkan untuk kemaksiatan dan tidak melawan syariat melainkan untuk kebaikan, maka lakukanlah.
  • Selalu menyambung silaturahmi orang yang sudah meninggal dengan kerabat – kerabatnya.
  • Berbuat baik kepada teman, sahabat, keluarga, dan kerabat orang yang sudah meninggal dunia.
  • Bersedekahlah atas nama orang yang sudah meninggal dunia.

Bacaan Doa Untuk Orang Meninggal Arab Latin dan Artinya

Hadist Mengenai Manfaat Mendoakan Orang Meninggal

Terdapat beberapa hadist yang membahas mengenai beberapa manfaat mendoakan orang yang sudah meninggal dunia, yaitu :

Allah SWT berfirman di dalam QS. Al-Baqaroh ayat 180 :

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِن تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

Artinya :

“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan atau tanda – tanda maut. Jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu – bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf. Ini adalah kewajiban atas orang – orang yang bertakwa.”

Allah SWT berfirman di dalam QS. Al-Isra ayat 23 :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Artinya :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu dan bapakmu dengan sebaik – baiknya.”

Rasulullah SAW bersabda :

“Seorang mayat dalam kuburnya seperti orang tenggelam yang sedang meminta pertolongan. Dia menanti – nantikan doa ayah, ibu, anak, dan kawan yang ia percaya. Apabila doa itu telah sampai kepadanya, itu lebih ia sukai daripada dunia seisinya. Dan sesungguhnya Allah SWT menyampaikan doa penghuni dunia untuk ahli kubur sebesar gunung. Adapun hadiah orang – orang yang masih hidup kepada orang – orang yang sudah meninggal ialah memohon istighfar kepada Allah SWT untuk mereka dan bersedekah atas nama mereka.” (HR Ad – Dailami)

Rasulullah SAW bersabda :

“Ada empat hal yang dapat dilakukan untuk orang yang sudah meninggal, yaitu berdoa dan beristighfar bagi keduanya, melaksanakan pesan-pesan yang mereka tinggalkan, berbuat baik kepada keluarga dan teman-teman mereka, dan menghubungkan tali silaturahmi yang tidak bersambung kecuali dengan perantaraan keduanya.”

Rasulullah SAW berdoa untuk orang yang berada di peristirahatan terakhir, yaitu:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ

Artinya : “Semoga keselamatan tercurah bagi penghuni (kubur) dari kalangan orang-orang mukmin dan muslim dan kami insya Allah akan menyulul kalian semua. Saya memohon kepada Allah bagi kami dan bagi kalian Al ‘Afiyah (keselamatan).” (Hadits Muslim Nomor 1620)

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda :

أَبَرُّ الْبِرِّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ وُدَّ أَبِيهِ

Artinya : “Sesungguhnya kebajikan yang utama ialah apabila seseorang melanjutkan hubungan (silaturrahim) dengan keluarga sahabat baik ayahnya.”

Demikian artikel tentang Bacaan Doa Untuk Orang Meninggal Arab, Latin dan Artinya. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan Anda. Terima kasih.

√ Fiqih : Sunnah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan

Fiqih : Sunnah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan

Fiqih : Sunnah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Shalat Tarawih. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan Sunnah Mengerjakan Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan dengan secara singkat dan jelas.

Fiqih :Sunnah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ

Kaum Muslimin wa Muslimat yang dirahmati Allah SWT. Segala puji bagi Allah SWT, shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda nabi agung Muhammad SAW. dalam kesempatan ini kami akan sampaikan tentang Sunnah Mengerjakan Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan.

Shalat Tarawih

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غَفَرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Artinya :

Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa berdiri bersembahyang dalam bulan Ramadhan karana didorong keimanan dan keinginan memperolehi keridhaan Allah, maka diampunkanlah untuknya dosa-dosanya yang terdahlu.” (Muttafaq ‘alaih) Kutipan dari Kitab Riyadhus shalihin.

Baca Juga : Pengertian & Penjelasan Walimatus Safar Haji atau Umroh

وَعَنْهُ رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَغِّبُ فِيْ قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ فِيْهِ بِعَزِيْمَةٍ فَيَقُوْلُ : مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غَفَرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، رَوَاهُ مُسلِمٌ

Artinya:

Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu menganjur-anjurkan supaya senang mengerjakan shalat -pada malamnya- bulan Ramadhan, tanpa menyuruh orang-orang itu dengan kekerasan -yakni bukan kewajiban. Beliau bersabda: “Barangsiapa berdiri bersembahyang dalam bulan Ramadhan karana didorong keimanan dan keinginan memperolehi keridhaan Allah, maka diampunkanlah untuknya dosa- dosanya yang terdahulu.” (Riwayat Muslim)

Jumlah Rak’at Shalat Tarawih

Sabagaimana yang dapat kita fahami shalat Tarawih dikerjakan dengan dua puluh roka’at belum termasuk shalat witir. Sebagaimana tertuang dalam beberapa kitab Fiqih, terutama fiqih as-Syafi’iyah, diantara keterangan tentang jumlah roka’at tarawih adalah:

عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً

Artinya:

Diriwayatkan dari al-Sa’ib bin Yazid radhiyallahu ‘anhu. Dia (al-Saib) berkata : “Mereka (para shahabat) melakukan qiyam Ramadhan pada masa Umar bin al-Khatthab sebanyak dua puluh rakaat.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi di dalam Sunan al-Kubro, I/496. Dengan sanad yang shahih sebagaimana dinyatakan oleh Imam al-`Aini, Imam al-Qasthallani, Imam al-Iraqi, Imam al-Nawawi, Imam al-Subki, Imam al-Zaila`i, Imam Ali al-Qari, Imam al-Kamal bin al-Hammam dan lain-lainnya.

Dalam disiplin ilmu hadis, hadis ini disebut dengan hadis mauquf (Hadis yang mata rantainya berhenti pada shahabat dan tidak bersambung pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam). Walaupun hadis ini tergolong mauquf, hadis tersebut dapat dijadikan sebagai hujjah dalam pengambilan hukum. Karena masalah shalat Tarawih termasuk jumlah rakaatnya bukanlah masalah ijtihadiyah.

Baca Juga : Pengertian Nifaq, pembagian dan hukumnya (Lengkap)

Selain itu juga terdapat ijmak dari para shahabat, adapun keterangan dalam Fiqih itu sangat banyak bahkan di setiap fiqih Syafi’iyah selalu dijelaskan bahwa roka’at Tarawih itu 20 raka’at. Wallahu’alam

Ijmak para shahabat Nabi tentang Shalat Tarawih.

Ketika Sayyidina Ubay bin Ka`ab mengimami shalat Tarawih sebanyak dua puluh rakaat, tidak ada satupun shahabat yang protes, ingkar atau menganggap bertentangan dengan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Jika yang beliau lakukan itu memamng menyalahi sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kenapa para shahabat semuanya diam? Artinya ini menunjukkan bahwa mereka setuju dengan apa yang dilakukan oleh Sayyidina Ubay bin Ka`ab.

Anggapan bahwa mereka takut terhadap Sayyidina Umar bin al-Khatthab adalah pelecehan yang sangat keji terhadap para shahabat. Para shahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah orang-orang yang terkenal pemberani dan tak kenal takut melawan kebatilan.

Bagaimana mungkin para shahabat sekaliber Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Sayyidina Utsman bin Affan, Sayyidina Abu Hurairah, Sayyidah A`isyah dan sangat banyak shahabat senior lainnya (radhiyallahu `anhum ajma`in)

Namun demikian kami juga sangat menghargai bagi yang berpendapat bahwa shalat tarawih itu jumlah roka’atnya hanya delapan roka’at dengan menggunakan dalil-dalil seperti yang disampaikan Siti Aisya ra. Sekalipun hadits tersebut menurut pandangaan kami itu bukan dalil Tarawih.

Karena Siti Aisya ra. Menerangkan : “Baik didalam bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan” dan Babnya itu ada pada Bab shalat witir hadits tersebut dalam kitab Bulugul Marom juga ada, dan itupun diterangkan empat-empat tiga. Namun ada yang perlu di garis bawahi untuk dianalisa pada kalimat “Siti Aisyah tidak menanyakan atas panjangnya shalat tersebut….” Wallahu’alam.

Baca Juga : Pengertian Ibadah, Syarat, Keutamaannya Dalam Islam

Bagi kami tidak terlalu penting membicarakan soal jumlah roka’atnya karena Imam Malik juga melaksanakan shalat tarawih dengan jumlah tiga puluh enam roka’at di Madinah. Jadi bagi kami sekalipun mau lebih dari 36 raka’at atau bahkan kurang dari 4 raka’at itu kembali kepada pribadi masing-masing.

Permasalahannya masih ada yang lebih penting dari itu, bahkan bagi kami andai tidak mengerjakan shalat tarawihpun itu hak masing-masing juga. Justru bagi kami yang menjadi pertanyaan adalah: mengaku islam beriman dan tidak ada udzur syar’i tapi ia tidak menunaikan ibadah puasa dan sholat 5 waktu??? Wallahu’alam semoga mendapat hidayah.

Fiqih : Sunnah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan

Kesimpulan

Kerjakanlah apa yang sudah menjadi kebiasaannya masing-masing, selama itu ada tuntunannya dan fokuslah di bulan yang suci ini hanya untuk mencari ridha Allah SWT.

بِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ و الرِّضَا وَالْعِنَايَةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

Demikian pembahasan tentang Fiqih :Sunnah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan. Semoga dapat memberikan manfaat untuk kita semua. Terimakasih.