√ Doa Aqiqah, Dalil, Cara dan Waktu Penyembelihan Terlengkap

Doa Aqiqah, Dalil, Cara dan Waktu Penyembelihan Terlengkap – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Aqiqah. Yang mana dalam ulasan berikut ini menjelaskan hukum aqiqah, hari afdholnya aqiqah, perintah aqiqah, pelaksanaan aqiqah, sampai cara niat dan menyebelih hewan aqiqah. Untuk lebih jelasnya silahkan simah ulasan Pengetahuan Islam Berikut ini.

Doa Aqiqah, Dalil, Cara dan Waktu Penyembelihan Terlengkap

Aqiqah merupakan peristiwa penyembelihan hewan sebagai tebusan terhadap anak yang lahir. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Pada setiap anak yang dilahirkan itu ada aqiqahnya, maka tumpahkanlah darah untuknya dan buanglah sesuatu yang mengganggu (rambutnya).” ( HR. Al-Jama’ah kecuali Muslim).

Hukum Aqiqah

Mengaqiqahi anak hukumnya adalah sunnah muakad sebagaimana telah ditulis dalam Kitab Tausyaikh Syarh Kitab Fathul Qoribul Mujib dijelaskan:

وَالْعَقِيْقَةُ اَيْ ذَبْحُهَا عَنِ الْمَوْلُوْدِ مُسْتَحَبَّةٌ بَلْ هِيَ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ، (توشيخ شرح فتح القريب  حلمن: ٢٧١)

Artinya: “Dan adapun hukum aqiqah itu, yakni hukum menyembelih aqiqah dari aqiqahnya anak adalah sunnah, (disukai) dan bahkan itu hukumnya adalah sunnah muakad.” (dikutip dari kitab: Kitab Tausyaikh Syarh Kitab Fathul Qoribul Mujib halaman: 271 )

Dalam salah satu hadits disebutkan:

عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ الضَّبِيِّ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ : مَعَ الْغُلَامِ عَقِيْقَةٌ فَأَهْرِقُوْا عَنْهُ دَمًا، وَأَمِيْطُوْا عَنْهُ الْأَذَى. (رواه الجماعة الا مسلما)

Artinya: “Dari Salman bin ‘Amir ad-Dhobiy ia berkata. Rasulullah s.a.w. bersabda: “Pada setiap anak yang dilahirkan itu ada aqiqahnya, maka tumpahkanlah darah untuknya dan buanglah sesuatu yang mengganggu (rambutnya).” ( HR. Al-Jama’ah kecuali Muslim)

Hari Afdholnya Aqiqah

Adapun sebaik-baiknya waktu untuk mengaqiqahi anak adalah pada hari ketujuh dari hari anak dilahirkan. Baik mengaqiqahi, mencukur rambut ataupun peresmian pemberian namanya. Aqiqah adalah perantara tebusan untuk anak, karena pada dasarnya setiap anak yang terlahir itu tergadai hingga diaqiqahi. Sebagaimana telah disebutkan dalam salah satu hadis:

وَعَنْ سَمُرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ, تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ, وَيُحْلَقُ, وَيُسَمَّى ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيّ

Artinya: Dari Samurah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya; ia disembelih hari ketujuh (dari kelahirannya), dicukur dan diberi nama.” Hadis Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Hadis shahih menurut Tirmidzi. (kutipan dari Nailul Author)

Perintah Mengaqiqahi anak lelaki dan perempuan

Sebaiknya setiap anak yang terlahir itu mestinya diaqiqahi baik itu anak laki-laki maupun anak perempuan. Hanya saja untuk hewan aqiqah anak laki-laki sejumlah dua ekor kambing, sedangkan untuk aqiqah anak perempuan itu cukup dengan satu ekor kambing saja. Sebagaimana dalam sebuah hadits dikatakan:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَمْرَهُمْ أَنْ يُعَقَّ عَنْ اَلْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ, وَعَنْ اَلْجَارِيَةِ شَاةٌ )  رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ

Artinya: “Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan mereka agar beraqiqah dua ekor kambing yang sepadan (umur dan besarnya) untuk bayi laki-laki dan 1 kambing untuk bayi perempuan.” Hadits shahih riwayat Tirmidzi.

Aqiqah itu Boleh Setelah Lewat dari Tujuh hari

Apabila pada hari ke tujuh dari hari kelahiran anak belum terlaksana penyembelihan aqiqah maka boleh dilaksanakan setelah hari ke tujuh dan bahkan hukumnya itu masih tetap sunnah.

Lalu pada hari ke berapa jika pada hari ke tujuh belum juga sempat diaqiqahi?

Jika pada hari ke tujuh belum sempat diaqiqahi, maka sebaiknya diaqiqahi pada hari kelipatan dari tujuh yaitu: hari ke 14, ke 21, ke 28 dan seterusnya. Selama anak tersebut belum baligh maka masih sunah di aqiahi kapan saja bila sempat dan bisanya, sebagaimana diambil dari keterangan kitab “Tausyikh”.

وَفَسَرَ الْمُصَنِّفُ الْعَقِيْقَةَ شَرْعًا بِقَوْلِهِ وَهِيَ الذَّبِيْحَةُ عَنِ الْمَوْلُوْدِ وَالْأَفْضَلُ اَنْ تُذْبَحَ عِنْدَ حَلْقِ شَعْرِ رَأْسِهِ يَوْمَ سَابِعِهِ اَيْ يَوْمَ سَابِعِ وِلَادَتِهِ فَاِنْ لَمْ يَتَهَيَّأْ فَتُذْبَحُ يَوْمَ الرَابِعَ عَشَرَ  فَيَوْمَ الْحَادِى وَالْعِشْرِيْنَ

مُصَنِّفْ مٓنٓرَاڠْكَنْ: عَقِيْقَةْ مٓنُوْرُتْ شَرَعْ دٓڠَنْ فٓرْكَاتَئَنْۑَا: “عَقِيْقَةْ إِيْتُ أَدَلَهْ حِيْوَانْ سٓمْبٓلِيْهَنْ دَارِيْ أَنَكْ يَڠْ دِيْلَاهِرْكَنْ، دَانْ يَڠْ اَفْضَلْ أَدَلَهْ عَقِيْقَةْ إِيْتُ دِيْسٓمْبٓلِيْهْ كٓتِيْكَا مٓنْچُوْكُرْ رَمْبُوْتْ كٓفَالَا بَايِيْ فَدَا هَارِيْ كٓتُوْجُوْهْۑَا، يَعْنِيْ هَارِيْ كٓتُوْجُهْ كٓلَاهِرَانْ بَايِيْ، بِيْلا تِدَاكْ تٓرْسٓدِيَاءْ، مَكَ دِيْعَقِيْقَهِيْ فَدَا هَارِيْ كٓى أَمْفَتْ بٓلَاسْ، كٓمُوْدِيْيَانْ فَدَا هَارِيْ كٓى دُوَافُوْلُهْ سَاتُوْ. (توشيخ شرح فتح القريب حلمن: 272

Mengaqiqahi Anak yang Sudah Ninggal

Mungkin ada beberapa sebagian ulama yang berpendapat, bahwa jika anak yang sudah meninggal dan belum diaqiqahi maka hukumnya “Tidak Boleh Di aqiqahi” dengan alasan masing-masing.

Dalam keterangan ini kami tidak membahasnya, pada intinya silahkan itu hak masing-masing mau diaqiqahi atau tidak. Tentu tidak ada masalah, hanya saja menurut pendapat kami “sekali anak tetaplah anak.”

Apalagi bagi anak yang belum baligh sudah meninggal dan belum teraqiqahi, maka kami berpendapat: “Anak yang sudah meninggal dalam keadaan sebelum baligh dan belum diaqiqahi maka masih sunah diaqiqahi.”

Sebagaimana keterangan tentang masalah mengaqiahi anak yang sudah meninggal dari Kitab Tausyaih Syarh Fathul Qorib halaman 63 pasal Aqiqah:

وَلَوْ مَاتَ الْمَوْلُوْدُ قَبْل السَّابِعِ وَلَا تَفُوْتُ بِالتَّأخِيْرِ بَعْدَهُ، فَإِنْ أَخَّرَتْ لِلْبُلُوْغِ سَقَطَ حُكْمُهَا فِيْ حَقِ الْعَاقِ عَنِ الْمَوْلُوْدِ أَمَّا هُوَ فَمُخَيِّرٌ فِيْ الْعَقِّ عَنْ نَفْسِهِ وَالتَّرْكِ

Artinya: “Walaupun anak tersebut meninggal sebelum tujuh hari, dan tidak ada kata terlambat dengan menunda aqiqah setelah meninggalanya anak tersebut. Maka apabila aqiqah tersebut tertunda sampai dengan usia baligh (dewasa) maka hukum mengaqiqahi telah gugur kesunahannya pada haknya orang tua dari anaknya. Adapun anak tersebut yang sudah dewasa dan belum diaqiqahi maka dia boleh memilih: “Mengaqiqahi diri sendiri atau meninggalkannya.”

Mengaqiqahi diri sendiri

Dalam hal ini jika ada pilihan satu di antara dua, tentu akan memilih salah satunya dan menurut pendapat kami jelas dan yakin. Bahwa yang lebih baik adalah mengaqiqahi diri sendiri jika mampu, sebagaimana keterangan dari Kitab Tausyaikh halaman: 271:

أَمَّا هُوَ أَيْ الْمَوْلُوْدُ بَعْدَ بُلُوْغِهِ فَمُخَيَّرٌ فِى الْعَقِّ عَنْ نَفْسِهِ وَالتَّرْكِ أَيْ فَإِمَا اَنْ يَعِقَّ عَنْ نَفْسِهِ أَوْ يَتْرُكَ الْعَقِيْقَةَ لَكِنَ الْاَحْسَنَ أَنْ يَعِقَّ عَنْ نَفْسِهِ تَدَارُكًا لِمَا فَاتَ

Artinya: “Adapun sesudah balighnya anak tersebut maka ia boleh memilih antara mengaqiqahi dirinya sendiri atau meninggalkannya (yakni tidak mengaqiqahinya). Maksudnya boleh saja dia mengaqiahi dirinya sendiri atau boleh juga dia tidak mengaqiqahi dirinya. Akan tetapi yang lebih baik adalah dia mengaqiqahi diri sendiri untuk menutupi aqiqahnya yang sudah terlambat.”

Catatan: Kutipan-kutipan ini kami hanya mengambil ringkasnya saja. Bila anda ingin lebih detail sebaiknya membaca Majmu’ Masail karya Asmawi atau dalam kitab-kitab salaf seperti al-Majmu’ Syarah Muhadzab, Kitab Tausyaikh dan yang lainnya.

Pelaksanaan Aqiqah

Dalam pelaksanaan aqiqah ada di posisi tahapan ke tiga setelah menyelesaikan tahapan pertama dan kedua. Jadi adapun tahapan tersebut di atas dalam salah satu hadits tentang aqiqah adalah sebagai berikut:

  • Pemberian Nama Bayi
  • Mencukur Rambut Bayi
  • Menyembelih Aqiqah

Mendahulukan Pemberian Nama Bayi

Dalam pemberian nama untuk bayi itu boleh didahulukan sebelum tujuh hari. Sebagaimana dalam beberapa keterangan dalam kitab diantaranya seperti dalam Tausyikh yaitu:

“Boleh memberi nama anak sebelum tujuh hari: dengan demikian berilah nama yang baik buat anak, sebab nama adalah doa.”

Mencukur rambut bayi

Tertib di atas (Pemberian Nama, Mencukur Rambut Bayi dan Menyembelih Aqiqah) ini bukan suatu keharusan. Hal tersebut dilakukan hanya sekedar untuk mempermudah pemanggilan dalam doa seperti ketika kita mau mencukur rambut bayi dan mau memotong hewan aqiqah buat bayi.

Contoh missal kita mau mencukur rambut bayi:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: اَحْلُقُ هَذِهِ شَعْرَةَ ……. بن/بنت……….. اللَّهُمَّ اجْعَلْ لِكُلِّ شَعْرَةٍ نُوْرًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

A’udzu billahi minasy-syaithonir rojiym, Bismilahir rohmanir rohim. Ahluqu hadzihi sya’rota …. Bin/ binti ….  Allahummaj’al likiulli sya’rotin nuron yaumal-qiyamah.

Artinya: “Aku Berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: Aku mencukur rambutnya ….. bin / binti …. Ini Ya Allah Jadikan untuk setiap helai rambut sebagai penerang pada hari kiamat.”

Sebaiknya setelah aqiqoh rambut bayi itu dicukur habis kemudian rambutnya ditimbang. Berat timbangan rambut bayi tersebut disodaqohkan dengan nilai harga emas 99 karat, 24 karat, 22 karat, 18 karat atau senilai harga perak jika memang tidak mampu.

Menyembelih Hewan Aqiqah

Untuk menyembelih hewan aqiqah sebaiknya dilaksanakan pagi hari setelah terbit matahari atau pada saat terbitnya matahari bila memungkinkan. Sebaiknya membaca doa taqobal aqiqah, atau setidak-tidaknya niatkan dalam hati untuk aqiqahnya fulan bin/binti fulan, lalu ucapkan Bismillah pada saat menyembelihnya.

Kemudian dagingnya dicincang dan usahakan sebaik mungkin memotong tulang belulangnya tepat pada persendiannya, lalu memasaknya dengan lezat dipadukan dengan rasa manis.

Pemberian Nama

Dalam Pemberian nama bayi sebaiknya juga disertai dengan doa dan selalu menyebut asma Allah. Bila dalam sekumpulan orang banyak yang menyaksikan dalam pemberian nama maka bahasa pemberian nama sebaiknya dijama misalnya seperti berikut:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: يَااِبْنَ ……./ يَابِنْتَ ……….. سَمَّيْنَاكِ / سَمَّيْنَاكِ بِاِسْمِ ………. بَارَكَ اللهُ لَكَ /لَكِ بِهَذَا الْاِسْمِ وَجَعَلَ اللهُ لَكَ /لَكِ مِنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَالْمَحْفُوْظِيْنَ بِهِ آمين الفاتحة

A’udzu billahi minasy-syaithonir rojiym, Bismilahir rohmanir rohim. Ya Ibna / Ya Binta …… Sammaynaka / Sammanayki bi ismi (………..) Barokallahu Laka / Laki bihadzal-ismi wa ja’alallahu laka / laki minal- mukhlishin wal-mahfudzina bihi Amiin Al-Fatihah….

Artinya: “Aku Berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: Wahai Putra…/ Wahai Putri….. kami berikan namamu dengan nama (……..) Semoga Allah memberi keberkahan kepadamu dan Allah menjadikanmu orang-orang ikhlash selamat dan terpelihara tarjaga dengan wasilah nama ini Amiin Al-fatihah…..”

Orang Tua Memberi Nama Anaknya

Jika Ayah atau Ibunya Langsung yang memberikan nama pada anaknya maka kalimat Panggilannya dirubah menjadi Mutakalim wahdah. Berikut dua contoh pemberian nama anak bayi laki dan perempuan, yang memberikan nama langsung Ibu atau ayahnya:

Pemberian nama bayi laki-laki

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: يَابُنَيَ سَمَّيْتُكَ لِلّٰهِ تَعَالَى بِاِسْمِ (مُحَمَّدْ لَطِيْفْ) بَارَكَ اللهُ لَكَ بِهَذَا الْاِسْمِ وَجَعَلَ اللهُ لَكَ مِنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَالْمَحْفُوْظِيْنَ بِهِ آمين الفاتحة

A’udzu billahi minasy-syaithonir rojiym, Bismilahir rohmanir rohim. Ya Bunaya Sammaytuka Lillahita’ala bi ismi (Muhammad Lathif) Barokallahu Laka bihadzal-ismi wa ja’alallahu laka minal- mukhlishin wal-mahfudzina bihi Amiin Al-Fatihah….

Artinya: “Aku Berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: Wahai Putraku, kau kuberinama Karena Allah Ta’ala dengan nama (Muhammad Lathif) Semoga Allah memberi keberkahan padamu dan Allah menjadikanmu orang-orang ikhlash selamat dan terpelihara tarjaga dengan wasilah nama ini Amiin Al-fatihah…..”

Pemberian nama bayi Perempuan

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: يَااِبْنَتِيْ سَمَّيْتُكِ لِلّٰهِ تَعَالَى بِاِسْمِ (لَطِيْفَةْ) بَارَكَ اللهُ لَكِ بِهَذَا الْاِسْمِ وَجَعَلَ اللهُ لَكِ مِنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَالْمَحْفُوْظِيْنَ بِهِ آمين الفاتحة

A’udzu billahi minasy-syaithonir rojiym, Bismilahir rohmanir rohim. Ya Bunaya Sammaytuka Lillahita’ala bi ismi (Lathifah) Barokallahu Laka bihadzal-ismi wa ja’alallahu laka minal- mukhlishin wal-mahfudzina bihi Amiin Al-Fatihah….

Artinya: “Aku Berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: Wahai Putriku, kau kuberinama Karena Allah Ta’ala dengan nama (Lathifah) Semoga Allah memberi keberkahan padamu dan Allah menjadikanmu orang-orang ikhlash selamat dan terpelihara tarjaga dengan wasilah nama ini Amiin Al-fatihah…..”

Praktek Menyembelih Hewan Aqiqah

Jiaka mau, maka sebelum menyembelih hewan yang diperuntukan aqiqah berdoa dulu sebagai berikut:

اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ = ٣ كالي

أَشْهَدُ اَنْ لآاِلَهَ اِلاَاللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

عَلَى هَذِهِ النِّيَةِ وَعَلَى كُلِّ نِيَةٍ صَالِحَةٍ إلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى  مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ، وَعَلَى ءَالِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِيَّتِهِ وَاَهْلِ بَيْتِهِ اْلكِرَامْ أجْمَعِيْن شَيْئٌ ِللهِ لَهُمْ الفاتحة

اللَّهُمَّ هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ هَذِهِ عَقِيْقَةَ …… بن/بنت …… الفاتحة

تروس بردعاء:  يَا ذَاالْجَلاَلِ وَالْإِ كْرَامِ  أللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ اْلأوَّلِيْن وَاْلأَخِـرِيْنَ وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ. آمين يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ يَامَّعْبُوْدُ حَمْدًا يُوَفِى نِعْمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَـرِيْمِ وَعَـظِيْمِ سُلْطَانِكَ. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ اْلاهْوَالِ  وَاْلأفَاتِ  وَتَقْضِى لَنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْحَاجَاتِ  وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّأَتِ وَتَرْفَعُنـَا بِهـَا عِنْدَكَ اَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا  اَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِيْ الْحَيَاتِ وَبَعْدَ الْمَمَـاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ عَقِيْقَةَ ……… بن/بنت ………… دَمُّهَا بِدَمِّهِ /هَا، وَعَظْمُهَا بِعَظْمِهِ /هَا ، وَلَحْمُهَا بِلَحْمِهِ /هَا ، وَجِلْدُهَا بِجِلْدِهِ /هَا، وَشَعْرُهَا بِشَعْرِهِ /هَا فِدَاءً لِ ……… بن/بنت ………… وَفِدَاءً مِنَ النَّارِ وَحِجَبًا وَسِتْرَا وَحُلُوُّ طَبْخَتِهَا تَفَاؤُلًا بِحُلُوِّ أَخْلَاقِهِ /ها، وَبِغَيْرِ كَسْرِ عَظْمِهَا تَفَاؤُلًا بِسَلَامَةِ أَعْضَاءِهِ /ها وَإِنْ كُسِر عَظْمُهَا فَنَسْأَلُكَ سَلَامَةَ أَعْضَاءِهِ /ها . رَبَّنَا ءَاتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِي الأخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ. * سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلآمٌ عَلَى  الْمُـرْسَلِيْنَ والحمد لله رب العالمين

Niat Menyembelih Hewan Aqiqah

Dalam hal ini penting untuk mengetahui bahwa menyembelih hewan untuk di aqiqohi harus disertai dengan niat.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيِّطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ نَوَيْتُ أَنْ أَذْبَحَ هَذَا الْمَعْزَ لِعَقِيْقَةِ …… بن / بنت ………. أَنْ يَقْطَعَ الْخُلْقُوْمَ وَالْمَرَى لِلَّهِ تَعَالَى الله اكبر، الله اكبر، الله اكبر، الله اكبر، بِسْمِ اَللَّهِ وَاَللَّهُ أَكْبَر، اللَّهُمَّ هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلَهَا

A’udzu billahi minasy-syaithonir rojiym. Nawaitu An Adzbaha Hadzal- Ma’za li’aqiqoti …. bin/binti ….. Ay-yaqtho’a khulquma wal maro Fardhol-lillahi T’a’ala, Allahu-Akbar – Allahu-Akbar – Allahu-Akbar – Allahu-Akbar Bismilahir wallahu akbar, Allahumma hadzihi minka wa ilaika fataqobbalaha.

Artinya: “Aku Berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk, Aku niat Menyembelih Kambing Kacang Laki ini untuk aqiqahnya …. bin / binti …. penyembelihan memutuskan tenggorokan dan kerongkongannya fardhu karena Allah Ta’ala. Allah yang Maha Besar, Allah yang Maha Besar, Allah yang Maha Besar, Allah yang Maha Besar. Dengan Nama Allah dan Allah adalah maha besar. Ya Allah aqiqah ini dari-Mu dan kepada-Mu semoga Engkau menerima aqiqah ini.”

Demikianlah ulasan singkat tentang Doa Aqiqah, Dalil, Cara dan Waktu Penyembelihannya Lengkap. Semoga dapat memberikan manfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Cerita Nabi Dzulkifli – Seorang Raja Sabar Pemimpin Rakyat

Cerita Nabi Dzulkifli Seorang Raja Sabar Pemimpin Rakyat

Cerita Nabi Dzulkifli – Seorang Raja Sabar Pemimpin Rakyat – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas mengenai Nabi Dzulkifli. Yang mana beliau adalah seorang nabi yang memiliki kesabaran tinggi dan diberi amanah untuk menjadi raja. Untuk lebih lengkapnya simaklah Artikel berikut ini.

Cerita Nabi Dzulkifli – Seorang Raja Sabar Pemimpin Rakyat

Nama asli dari Nabi Dzulkifli as yaitu Basyar, beliau merupakan putra dari Nabi Ayyub as. Nabi Dzulkifli adalah gelar yang diberikan kepadanya. Sedangkan nama asalnya yaitu Basyar bin Ayyub. Gelar ini diberikan kepadanya karena beliau sanggup menjalankan amanat raja.

Beliau seorang yang sabar, sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an:

وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ ۖ كُلٌّ مِنَ الصَّابِرِينَ وَأَدْخَلْنَاهُمْ فِي رَحْمَتِنَا ۖ إِنَّهُمْ مِنَ الصَّالِحِينَ

Artinya :

“Ismail, Idris, dan Dzulkifli adalah orang yang sabar, dan Kami beri rahmat semua, karena mereka orang yang suka berbuat kebaikan” (QS al Anbiya ayat 85-86).

Ia telah melalui berbagai macam cobaan dan mampu melaluinya tanpa kehilangan aqidah dan imannya kepada Allah SWT.  Tidak berbeda dengan ayahnya, Nabi Dzulkifli juga memiliki sifat yang sabar.

Nabi Dzulkifli yang sabar

Dinamakan Dzulkifli (yang siap menanggung). Karena kesiapannya berpuasa di siang hari dan melakukan qiyamullail di malamnya. Serta siap memutuskan perkara di tengah-tengah manusia serta tidak marah, maka Beliau mampu melaksanakan semua itu. Ada yang berpendapat, bahwa ia bukanlah seorang nabi, tetapi sebagai laki-laki yang salih, raja dan hakim yang adil. Wallahu aâ€lam.

Sabar ada tiga macam:

  1. Sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
  2. Sabar dalam menjauhi larangan Allah
  3. Sabar terhadap taqdir Allah yang terasa pedih.

Seorang hamba tidak berhak mendapat gelar sabar secara sempurna sampai terpenuhi ketiga macam sabar ini. Para nabi, Allah sebut sebagai orang-orang yang sabar karena mereka telah memenuhi ketiganya. Selain itu, Allah mensifati mereka dengan kesalihan. Karena kesalehan hati mereka yang dipenuhi maâ€rifatullah dan kecintaan kepada-Nya.

Kesalihan lisan mereka dengan basah menyebut nama-Nya dan kesalihan anggota badannya karena sibuk mengerjakan ketaatan kepada Allah dan menjaga dirinya dari maksiat. Karena kesabaran dan kesalehan inilah, Allah masukkan dengan rahmat-Nya dan menjadikan mereka bersama saudara mereka dari para rasul serta memberikan pahala di dunia dan akhirat.

Kalau sekiranya, pahala mereka adalah dengan disebut tinggi namanya di alam semesta serta disebut baik sekali oleh orang-orang setelahnya, maka hal itu pun sudah cukup sebagai kemuliaan dan ketinggiannya.

Nabi Dzulkifli yang Menjadi Raja

Dikisahkan bahwa suatu hari, di suatu negeri ada seorang raja yang usianya sudah tua dan tidak mampu lagi untuk memerintah kerajaan yang mana raja sendiri tidak memiliki putra. Raja itu pun berkata di hadapan rakyatnya:

“Siapakah di antara kalian yang sanggup berpuasa pada siang hari, beribadah di malam hari dan tidak marah-marah. Maka kepadanya akan kuserahkan kerajaan ini, Karena aku sudah tua”

Kemudian sang raja pun berkata lagi:

“Siapakah yang sanggup berpuasa pada siang hari, beribadah di malam hari, dan tidak marah-marah?

Lalu berdirilah seorang pemuda bernama basyar yaitu putra nabi Ayyub, ia menjawab :

“Saya sanggup…”

Ternyata hanya basyar yang berani untuk menjawab, selain dari basyar tidak ada, karena mereka tidak sanggup menjalani puasa di siang hari dan ibadah di malam hari.  Maka Basyar diberi gelar Dzulkifli artinya orang yang sanggup.

Cerita Nabi Dzulkifli Seorang Raja Sabar Pemimpin Rakyat

Ujian Amanah Nabi Dzulkifli

Setelah basyar diangkat menjadi raja, beliua mengatur waktunya sedemikian rupa tertibnya. Beliau membagi waktu untuk mengurus kerajaan serta untuk melayani umat dan sebagian waktunya untuk istirahat tidur. Sedangkan di siang hari beliau berpuasa dan pada malam hari sebagian untuk beribadah kepada Allah SWT,

Pada suatu ketika, saat nabi Dzulkifli ingin tidur, datanglah syaitan yang menyamar menyerupai manusia untuk menggodanya tentang masalah apa yang dihadapinya.

Karena beliau hendak tidur, diserahkan tamu tersebut kepada wakilnya untuk menerima dan menyelesaikan masalahnya. Namun syaitan yang menyamar menjadi tamu tidak menyukai wakilnya yang menyelesaikan masalahnya. Kemudian mendesak agar raja sendirilah yang menerimanya dan menyelesaikan permasalahannya.

Karena tamunya tidak mau pergi dan masalahnya ingin diselesaikan segera mungkin. Maka waktu bagi raja untuk tidur tidak ada lagi. Walaupun begitu raja yang memiliki gelar Duzlkifli tetap sabar. Beliau tidak marah terhadap godaan syaitan yang menyamar menjadi tamu tadi.

Cerita nabi dzulkifli yang sabar masih berlanjut, pada suatu hari terjadi peperangan di negeri yang dipimpin oleh Nabi Dzulkifli, Lalu raja dzulkifli memerintahkan para tentara dan seluruh rakyatnya untuk menuju ke medan pertempuran yang sedang terjadi. Namun rakyatnya tak bernyali untuk berperang, mereka takut gugur di medan perang.

“Kenapa kalian takut perang?”

“Kami berani berperang, Paduka. Tapi, paduka harus menjamin kami untuk tidak mati saat medan perang”

Mendengar jawaban naif dari rakyatnya, Nabi Dzulkifli tidak marah, beliau hanya tersenyum. Beberapa saat kemudian nabi Dzulkifli berdoa kepada Allah SWT :

”Ya Allah saya telah menyampaikan risalah Tuhan kepada mereka, menyuruh mereka berperang. Namun mereka enggan dan membangkang akan perintah kami, mereka mempunyai permintaan”.

Kemudian turunlah wahyu kepada Nabi Dulzkifli as :

”Ya Duzlkifli aku telah mengetahui akan permintaan mereka dan aku akan mendengar doamu dan semua akan aku kabulkan”

Berkat perlindungan Allah SWT, seluruh rakyat yang membantu para prajurit Duzlkifli yang berperang selamat dari kematian. Sehingga kemenangan atas perang tersebut ada di pihak Nabi Duzlkifli. Beliau meninggal dunia dalam usia 75 tahun.

Demikianlah tentang Cerita Nabi Dzulkifli – Seorang Raja Sabar Pemimpin Rakyat. Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan Anda. Terimakasih.

√ Bacaan Doa Untuk Orang Meninggal Arab, Latin dan Artinya

Bacaan Doa Untuk Orang Meninggal Arab Latin dan Artinya

Bacaan Doa Untuk Orang Meninggal Arab, Latin dan Artinya – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Doa Untuk Orang Meninggal. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan bacaan doa untuk orang meninggal menggunakan bahasa arab, latin dan terjemahnya. Untuk lebih jelasnya simak artikel berikuti ini.

Bacaan Doa Untuk Orang Meninggal Arab, Latin dan Artinya

Seperti namanya doa untuk orang meninggal ialah doa yang kita panjatkan untuk orang yang sudah meninggal dunia. Karena mendoakan orang yang sudah meninggal dunia adalah sebuah kewajiban kita sebagai umat muslim yang masih hidup.

Terutama jika orang yang meninggal adalah salah satu dari keluarga atau kerabat kita atau bahkan kedua orang tua kita. Karena doa anak sholeh dan sholehah lah yang mampu menolong orang tua besok di akhirat. Bahkan pahala dan amalan baik keduanya akan tetap mengalir.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW telah bersabda :

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ وَعِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ

Artinya : “Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal; Sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shalih yang mendoakannya.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1297)

Hanya doa yang diharapkan oleh orang yang sudah menigngal. Karena kiriman doa akan lebih berarti dan diinginkan dari pada dunia beserta seisinya. Mereka akan begitu bahagia, bilamana dikirimi doa. Karena kekuatan doa memang luar biasa.

Allah SWT pasti masih akan selalu memberikan rahmat-Nya kepada orang yang beriman untuk dapat menebarkan kebaikan. Salah satu cara adalah dengan mendoakan orang yang sudah meninggal dunia.

Doa Untuk Orang Meninggal

Berikut ini adalah doa untuk orang yang sudah meninggal baik laki-laki maupun perempuan, antara lain yaitu:

Doa Ketika Ada Orang yang Meninggal

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلَهُ وَأَعْقِبْنِي مِنْهُ عُقْبَى حَسَنَةً

Allahuma ghfirlii wa lahu wa’qibni minhu ‘uqba hasanah

Artinya :

“Ya Allah, ampunilah diriku dan dia serta berikan kepadaku darinya pengganti yang lebih baik.”

Doa Untuk Orang Meninggal Laki – Laki

اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارًاخَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَاَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَاَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرَنَا وَكَبِيْرَنَا وَذَكَرِنَا وَاُنْثَانَا

اَللهُمَّ مَنْ اَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَاَحْيِهِ عَلَى اْلاِسْلاَمِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلاِيْمَانِ

اَللهُمَّ لاَتَحْرِمْنَا اَجْرَهُ وَلاَتُضِلَّنَا بَعْدَهُ بِرَحْمَتِكَ يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Allaahummaghfirlahu. Warhamhu wa’aafihii wa’fu anhu. Wa akrim nuzu lahu wa wassi’ madkhalahu. Waghsilhu bilmaai was tsalji walbaradi wanaqqihi minal khathaayaa. Kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minaddanasi wa abdilhu daaran khairan min daarihi. Wa ahlan khairan min ahlihi. Wazaujan khairan min zaajihi. Wa adkhilhuljannata wa ‘aidzhu min ‘adzaabilqabri. Wafitnatihi wamin ‘adzaabin naari.

Allaahummaghfir lihayyinaa wamayyitinaa wasyaahidinaa waghaaibinaa washaghiiranaa wakabiiranaa wadzakarinaa wauntsaana.

Allaahumma man ahyaitahu minnaa fa ahyihi ‘alal islaami. Waman tawaffaitahu minnaa fatawaffahu ‘alal iimaani.

Allaahumma laa tahrimnaa ajrahu. Walaa tudhillanaa ba’dahu. Birahmatika yaa arhamar raahimiina. Walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin.

Artinya :

“Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah, bebaskanlah dan lepaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskan lah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskan lah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilan rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkan, serta suami atau istri yang lebih baik dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia kedalam surga, dan lindungilah dia dari siksa kubur serta fitnah nya, dan dari siksa api neraka.

Ya Allah, berikanlah ampun, kami yang masih hidup dan kami yang telah meninggal dunia, kami yang hadir, kami yang ghoib, kami yang kecil-kecil kami yang dewasa, kami yang laki-laki maupun perempuan.

Ya Allah, siapapun yang Engkau hidupkan dari kami, maka hidupkanlah dalam keadaan iman.

Ya Allah janganlah Engkau menghalangi kami, akan pahala beramal kepadanya dan janganlah Engkau menyesatkan kami sepeninggal dia dengan mendapat rahmat-Mu wahai Allah yang lebih belas kasihan. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

Doa Untuk Orang Meninggal Perempuan

اَللهُمَّ اغْفِرْلَهَا وَارْحَمْهُ وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا وَاَكْرِمْ نُزُلَهَا وَوَسِّعْ مَدْخَلَهَا وَاغْسِلْهَا بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهَا مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهَا دَارًاخَيْرًا مِنْ دَارِهَا وَاَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهَا وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا وَاَدْخِلْهَا الْجَنَّةَ وَاَعِذْهَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهَا وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرَنَا وَكَبِيْرَنَا وَذَكَرِنَا وَاُنْثَانَا

اَللهُمَّ مَنْ اَحْيَيْتَهَا مِنَّا فَاَحْيِهَا) عَلَى اْلاِسْلاَمِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهَا مِنَّا فَتَوَفَّهَا عَلَى اْلاِيْمَانِ

اَللهُمَّ لاَتَحْرِمْنَا اَجْرَهَا وَلاَتُضِلَّنَا بَعْدَهَا بِرَحْمَتِكَ يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Allaahummaghfirlaha. Warhamha wa’aafiha wa’fu anha. Wa akrim nuzu laha wa wassi’ madkhalaha. Waghsilha bilmaai was tsalji walbaradi wanaqqiha minal khathaayaa. Kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minaddanasi wa abdilha daaran khairan min daariha. Wa ahlan khairan min ahliha. Wazaujan khairan min zaajiha. Wa adkhilhuljannata wa ‘aidzha min ‘adzaabilqabri. Wafitnatiha wamin ‘adzaabin naari.

Allaahummaghfir lihayyinaa wamayyitinaa wasyaahidinaa waghaaibinaa washaghiiranaa wakabiiranaa wadzakarinaa wauntsaana.

Allaahumma man ahyaitahu minnaa fa ahyihi ‘alal islaami. Waman tawaffaitahu minnaa fatawaffahu ‘alal iimaani.

Allaahumma laa tahrimnaa ajraha. Walaa tudhillanaa ba’daha. Birahmatika yaa arhamar raahimiina. Walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin.

Untuk terjemah atau artinya dari doa untuk orang meninggal perempuan sama hanya yang membedakan yaitu bentuk dhomir Hu (kata ganti orang laki-laki) diganti dengan Ha (kata ganti orang perempuan).

Doa Permohonan Untuk Orang Meninggal

Adapun permohonan lain untuk doa orang yang sudah meninggal dunia, diantaranya adalah :

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ

Rab bigh firlii waliwaalidayya

Artinya :

“Ya Allah, ampunilah aku dan ibu bapakku.” (QS Nuh ayat 28)

وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Waqurrabbirhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa

Artinya :

Dan ucapkanlah : “Ya Allah, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua yang mengasihikua di waktu aku kecil.” (QS Al Isra ayat 24)

Perbuatan Baik Untuk Orang Meninggal

  • Mendoakan dan memohonkan ampun baginya.
  • Melaksanakan wasiat dari orang meninggal tersebut selama wasiat tersebut tidak memerintahkan untuk kemaksiatan dan tidak melawan syariat melainkan untuk kebaikan, maka lakukanlah.
  • Selalu menyambung silaturahmi orang yang sudah meninggal dengan kerabat – kerabatnya.
  • Berbuat baik kepada teman, sahabat, keluarga, dan kerabat orang yang sudah meninggal dunia.
  • Bersedekahlah atas nama orang yang sudah meninggal dunia.

Bacaan Doa Untuk Orang Meninggal Arab Latin dan Artinya

Hadist Mengenai Manfaat Mendoakan Orang Meninggal

Terdapat beberapa hadist yang membahas mengenai beberapa manfaat mendoakan orang yang sudah meninggal dunia, yaitu :

Allah SWT berfirman di dalam QS. Al-Baqaroh ayat 180 :

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِن تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

Artinya :

“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan atau tanda – tanda maut. Jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu – bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf. Ini adalah kewajiban atas orang – orang yang bertakwa.”

Allah SWT berfirman di dalam QS. Al-Isra ayat 23 :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Artinya :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu dan bapakmu dengan sebaik – baiknya.”

Rasulullah SAW bersabda :

“Seorang mayat dalam kuburnya seperti orang tenggelam yang sedang meminta pertolongan. Dia menanti – nantikan doa ayah, ibu, anak, dan kawan yang ia percaya. Apabila doa itu telah sampai kepadanya, itu lebih ia sukai daripada dunia seisinya. Dan sesungguhnya Allah SWT menyampaikan doa penghuni dunia untuk ahli kubur sebesar gunung. Adapun hadiah orang – orang yang masih hidup kepada orang – orang yang sudah meninggal ialah memohon istighfar kepada Allah SWT untuk mereka dan bersedekah atas nama mereka.” (HR Ad – Dailami)

Rasulullah SAW bersabda :

“Ada empat hal yang dapat dilakukan untuk orang yang sudah meninggal, yaitu berdoa dan beristighfar bagi keduanya, melaksanakan pesan-pesan yang mereka tinggalkan, berbuat baik kepada keluarga dan teman-teman mereka, dan menghubungkan tali silaturahmi yang tidak bersambung kecuali dengan perantaraan keduanya.”

Rasulullah SAW berdoa untuk orang yang berada di peristirahatan terakhir, yaitu:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ

Artinya : “Semoga keselamatan tercurah bagi penghuni (kubur) dari kalangan orang-orang mukmin dan muslim dan kami insya Allah akan menyulul kalian semua. Saya memohon kepada Allah bagi kami dan bagi kalian Al ‘Afiyah (keselamatan).” (Hadits Muslim Nomor 1620)

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda :

أَبَرُّ الْبِرِّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ وُدَّ أَبِيهِ

Artinya : “Sesungguhnya kebajikan yang utama ialah apabila seseorang melanjutkan hubungan (silaturrahim) dengan keluarga sahabat baik ayahnya.”

Demikian artikel tentang Bacaan Doa Untuk Orang Meninggal Arab, Latin dan Artinya. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan Anda. Terima kasih.

√ Pengertian Ibadah, Syarat, Keutamaannya Dalam Islam

Pengertian Ibadah Syarat Keutamaannya Dalam Islam

Pengertian Ibadah, Syarat, Keutamaannya Dalam Islam – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Ibadah. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan pengertian ibadah, pilar-pilar, syarat, dan keutamaannya menurut pandangan islam dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya simak uraian berikut ini.

Pengertian Ibadah, Syarat, Keutamaannya Dalam Islam

Ibadah di dalam Islam tidak disyari’atkan untuk mempersempit atau mempersulit manusia, dan tidak pula untuk menjatuhkan mereka di dalam kesulitan. Akan tetapi ibadah itu disyari’atkan untuk berbagai hikmah yang agung, kemashlahatan besar yang tidak dapat dihitung jumlahnya. Pelaksanaan ibadah dalam Islam semua adalah mudah.

Definisi Ibadah

Ibadah secara bahasa adalah merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara, ibadah memiliki banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi tersebut antara lain adalah:

  1. Ibadah yakni taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul-Nya.
  2. Ibadah yaitu merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.
  3. Ibadah yakni sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Adapun definisi ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap.

Ibadah terbagi menjadi 3 (tiga) yaitu ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah (takut) merupakan ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati merupakan ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad merupakan ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan.

Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (Adz-Dzaariyaat ayat 56 – 58)

Allah Azza wa Jalla memberitahukan bahwa hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya. Karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka barangsiapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong.

Siapa yang beribadah kepada-Nya tetapi dengan selain apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah). Dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mukmin muwahhid (yang mengesakan Allah).

Pilar-Pilar Ubudiyyah Yang Benar

Sesungguhnya ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar pokok, yaitu: hubb (cinta), khauf (takut) dan  raja’ (harapan).

Rasa cinta harus disertai dengan rasa rendah diri, sedangkan khauf harus dibarengi dengan raja’. Dalam setiap ibadah harus terkumpul unsur-unsur ini. Sebagaimana Allah berfirman tentang sifat hamba-hamba-Nya yang mukmin, yakni:

يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

Artinya : “Dia mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (Al-Maa-idah ayat 54)

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ

Artinya : “Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cinta-nya kepada Allah.” (Al-Baqarah ayat 165)

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Artinya : “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (Al-Anbiya’ ayat 90)

Sebagian ulama Salaf berkata,

“Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa cinta saja, maka ia adalah zindiq, siapa yang beribadah kepada-Nya dengan raja’ saja, maka ia adalah murji’. Dan siapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan khauf, maka ia adalah haruriy. Barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan hubb, khauf, dan raja’, maka ia adalah mukmin muwahhid.”

Syarat Diterimanya Ibadah

Ibadah adalah perkara tauqifiyah yaitu tidak ada suatu bentuk ibadah yang disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah. Apa yang tidak disyari’atkan berarti bid’ah mardudah (bid’ah yang ditolak) sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

Artinya : “Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”

Agar dapat diterima, ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak bisa dikatakan benar kecuali dengan adanya dua syarat:

  • Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil.
  • Ittiba, sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syarat yang pertama merupakan konsekuensi dari syahadat laa ilaaha illallaah, karena ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya kepada Allah dan jauh dari syirik kepada-Nya. Sedangkan syarat kedua adalah konsekuensi dari syahadat Muhammad Rasulullah, karena ia menuntut wajibnya taat kepada Rasul, mengikuti syari’atnya dan meninggal-kan bid’ah atau ibadah-ibadah yang diada-adakan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya : “(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Rabb-nya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (Al-Baqarah ayat 112)

Aslama wajhahu (menyerahkan diri) artinya memurnikan ibadah kepada Allah. Wahua muhsin (berbuat kebajikan) artinya mengikuti Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikhul Islam mengatakan,

“Inti agama ada dua pilar yaitu kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah, dan kita tidak beribadah kecuali dengan apa yang Dia syari’atkan, tidak dengan bid’ah.”

Sebagaimana Allah berfirman:

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Atinya : Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaknya ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (Al-Kahfi ayat 110)

Hal yang demikian itu merupakan manifestasi (perwujudan) dari dua kalimat syahadat Laa ilaaha illallaah, Muhammad Rasulullah.

Pada yang pertama, kita tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Pada yang kedua, bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan-Nya yang menyampaikan ajaran-Nya.

Maka kita wajib membenarkan dan mempercayai beritanya serta mentaati perintahnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bagaimana cara kita beribadah kepada Allah, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita dari hal-hal baru atau bid’ah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa semua bid’ah itu sesat.

Bila ada orang yang bertanya:

“Apa hikmah di balik kedua syarat bagi sahnya ibadah tersebut?”

Jawabannya adalah sebagai berikut:

  1. Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah kepada-Nya semata. Maka, beribadah kepada selain Allah di samping beribadah kepada-Nya merupakan kesyirikan. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ

Artinya : “Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” (Az-Zumar ayat 2)

  1. Sesungguhnya Allah mempunyai hak dan wewenang Tasyri’ (memerintah dan melarang). Hak Tasyri’ merupakan hak Allah semata. Maka, barangsiapa beribadah kepada-Nya bukan dengan cara yang diperintahkan-Nya, maka ia telah melibatkan dirinya di dalam Tasyri’.
  2. Sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama bagi kita. Maka, orang yang membuat tata cara ibadah sendiri dari dirinya, berarti ia telah menambah ajaran agama dan menuduh bahwa agama ini tidak sempurna (mempunyai kekurangan).
  3. Sekiranya boleh bagi setiap orang untuk beribadah dengan tata cara dan kehendaknya sendiri, maka setiap orang menjadi memiliki caranya tersendiri dalam ibadah. Jika demikian halnya, maka yang terjadi di dalam kehidupan manusia adalah kekacauan yang tiada taranya.

Karena perpecahan dan pertikaian akan meliputi kehidupan mereka disebabkan perbedaan kehendak dan perasaan. Padahal agama Islam mengajarkan kebersamaan dan kesatuan menurut syari’at yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya.

Pengertian Ibadah Syarat Keutamaannya Dalam Islam

Keutamaan Ibadah

Ibadah di dalam syari’at Islam merupakan tujuan akhir yang dicintai dan diridhai-Nya. Karenanyalah Allah menciptakan manusia, mengutus para Rasul dan menurunkan Kitab-Kitab suci-Nya. Orang yang melaksanakannya dipuji dan yang enggan melaksanakannya dicela.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Artinya : “Dan Rabb-mu berfirman, ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’” (Al-Mu’min ayat 60)

Di antara keutamaan ibadah bahwasanya ibadah mensucikan jiwa dan membersihkannya, dan mengangkatnya ke derajat tertinggi menuju kesempurnaan manusiawi.

Termasuk keutamaan ibadah juga bahwasanya manusia sangat membutuhkan ibadah melebihi segala-galanya, bahkan sangat darurat membutuhkannya. Karena manusia secara tabi’at adalah lemah, fakir (butuh) kepada Allah.

Sebagaimana halnya jasad membutuhkan makanan dan minuman. Demikian pula hati dan ruh memerlukan ibadah dan menghadap kepada Allah. Bahkan kebutuhan ruh manusia kepada ibadah itu lebih besar daripada kebutuhan jasadnya kepada makanan dan minuman.

Karena sesungguhnya esensi dan subtansi hamba itu adalah hati dan ruhnya, keduanya tidak akan baik kecuali dengan menghadap (bertawajjuh) kepada Allah dengan beribadah. Maka jiwa tidak akan pernah merasakan kedamaian dan ketenteraman kecuali dengan dzikir dan beribadah kepada Allah.

Sekalipun seseorang merasakan kelezatan atau kebahagiaan selain dari Allah, maka kelezatan dan kebahagiaan tersebut adalah semu. Tidak akan lama, bahkan apa yang ia rasakan itu sama sekali tidak ada kelezatan dan kebahagiaannya.

Adapun bahagia karena Allah dan perasaan takut kepada-Nya, maka itulah kebahagiaan yang tidak akan terhenti dan tidak hilang, dan itulah kesempurnaan dan keindahan serta kebahagiaan yang hakiki.

Maka, barangsiapa yang menghendaki kebahagiaan abadi hendaklah ia menekuni ibadah kepada Allah semata. Maka dari itu, hanya orang-orang ahli ibadah sejatilah yang merupakan manusia paling bahagia dan paling lapang dadanya.

Tidak ada yang dapat menenteramkan dan mendamaikan serta menjadikan seseorang merasakan kenikmatan hakiki yang ia lakukan kecuali ibadah kepada Allah semata.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Tidak ada kebahagiaan, kelezatan, kenikmatan dan kebaikan hati melainkan bila ia meyakini Allah sebagai Rabb, Pencipta Yang Maha Esa dan ia beribadah hanya kepada Allah saja, sebagai puncak tujuannya dan yang paling dicintainya daripada yang lain.

Termasuk keutamaan ibadah bahwasanya ibadah dapat meringankan seseorang untuk melakukan berbagai kebajikan dan meninggalkan kemunkaran. Ibadah dapat menghibur seseorang ketika dilanda musibah dan meringankan beban penderitaan saat susah dan mengalami rasa sakit, semua itu ia terima dengan lapang dada dan jiwa yang tenang.

Termasuk keutamaannya juga, bahwasanya seorang hamba dengan ibadahnya kepada Rabb-nya dapat membebaskan dirinya dari belenggu penghambaan kepada makhluk, ketergantungan, harap dan rasa cemas kepada mereka. Maka dari itu, ia merasa percaya diri dan berjiwa besar karena ia berharap dan takut hanya kepada Allah saja.

Demikian penjelasan singkat tentang Pengertian Ibadah, Syarat, Keutamaannya Dalam Islam. Semoga dapat bermanfaat dan memperkuat iman kita semua sehingga melaksanakan Ibadah dengan hati yang Ikhlas. Sekian Terimakasih.

Baca juga :

Fiqih : Kewajiban Ganti Rugi, Baik Disengaja Atau Tidak

Fiqih : Kewajiban Ganti Rugi, Baik Disengaja Atau Tidak – Dalam permasalahan interaksi dengan seseorang terkadang kita tidak sengaja merusak barang milik orang lain. Misalnya, karena mengantuk saat menyetir, akhirnya tidak sengaja menabrak pedagang yang sedang berjualan di pinggir jalan sehingga barang dagangannya menjadi rusak.



Nah, bagaimana bila kesalahan tersebut kita lakukan karena tidak tahu, tidak sengaja atau lupa?. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuanislam.com berikut ini.

Fiqih : Kewajiban Ganti Rugi, Baik Disengaja Atau Tidak


Syaikh As Sa’di rahimahullah mengatakan,
و الخطء و الإكراه و النسيان…أسقطه معبودنا الرحمان

لكن مع الإتلاف يثبت البدل…و ينتفي التأثيم عنه و الزلل

Kesalahan karena tidak sengaja, dipaksa, atau lupa…

Dimaafkan oleh Ar Rahman, Dzat yang kita sembah…

Tapi jika menyebabkan rusaknya sesuatu milik orang lain, wajib menggantinya…

Namun dia tidak dikenai dosa atas kesalahannya…

Penjelasan kaidah


Kaidah ini berkaitan dengan kesalahan yang dilakukan seseorang karena tidak sengaja, dipaksa melakukan sesuatu yang salah[1], atau lupa. Seseorang yang melakukan kesalahan karena tidak sengaja atau lupa, maka ia tidak berdosa. Tetapi jika kesalahannya tersebut mengakibatkan rusaknya barang atau properti orang lain, bahkan terbunuhnya orang lain, ia wajib ganti rugi atau membayar diyat, tidak peduli apakah karena tidak sengaja atau karena lupa.

Dalil Kaidah


Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ قَدْ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ، وَالنِّسْيَانَ، وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

Artinya “Sesungguhnya Allah memaafkan dari umatku kesalahan karena tidak sengaja, lupa, atau dipaksa” (HR. Ibnu Majah dan lainnya, dinilai shahih oleh Al Albani)

Allah Ta’ala berfirman mengisahkan do’a hamba-Nya,
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

Artinya : “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami melakukan kesalahan karena lupa atau tidak sengaja” (QS. Al Baqarah : 286)


Maka Allah menjawab, “Aku maafkan” (HR. Muslim)

Ganti Rugi Tidak Pandang Bulu


Meskipun orang yang berbuat keliru karena tidak sengaja atau lupa tidak menanggung dosa, tetapi jika kesalahannya tersebut berimbas pada terluka atau terbunuhnya orang lain, atau rusaknya barang miliki orang lain, maka ia wajib ganti rugi.
Syaikh ‘As Sa’di menjelaskan, 

“Kesimpulannya, orang yang tidak sengaja, atau lupa, atau dipaksa melakukan suatu kesalahan, tidak menanggung dosa atas kesalahannya. Akan tetapi, ia wajib ganti rugi jika kesalahannya berdampak pada terbunuhnya orang lain atau rusaknya barang orang lain. Karena masalah ganti rugi dikaitkan dengan perbuatan dan kerugian yang ditimbulkannya, sama saja karena sengaja atau tidak”.

Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan menerangkan, 

Setiap mukallaf (yaitu orang yang baligh dan berakal) wajib ganti rugi jika merusak sesuatu milik orang lain. Begitu juga dengan mereka yang bukan mukallaf, semacam anak-anak atau orang gila. Kaidah ini mencakup kerugian pada jiwa (terbunuh misalnya –pen), harta, atau hak-hak orang lain.

Maka siapa saja yang merusak sesuatu milik orang lain tanpa alasan syar’i, wajib ganti rugi, sama saja apakah karena sengaja, tidak tahu, atau lupa. Sama saja apakah mukallaf ataukah bukan mukallaf. Karena masalah ganti rugi ini tidak berkaitan dengan status pelakunya (mukallaf atau tidak), tapi masalah ini adalah mengaitkan hukum (ganti rugi –pen) dengan sebabnya (rusaknya properti orang –pen). Jika sebabnya dijumpai, hukum harus ditegakkan”.

Contoh penerapan kaidah


Kembali ke contoh di awal tulisan :
Ada pengemudi mobil yang menyetir sambil mengantuk. Tak sengaja, ia menabrak penjual sehingga gerobaknya rusak. Ia tidak berdosa karena perbuatannya, tapi wajib mengganti gerobak batagor beserta isinya yang telah ia rusak. Bahkan jika menyebabkan si penjual meninggal, ia wajib membayar diyat ke keluarganya.

Jika ada seorang anak TK yang memecahkan piring tetangganya, maka orang tuanya atau walinya wajib mengganti piring tetangganya yang telah dipecahkan oleh si anak.

Demikian sedikit pembahasan Fiqih : Kewajiban Ganti Rugi, Baik Disengaja Atau Tidak. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan kita semua.

Referensi :
  • Jam’ul Mahshul fii Syarh Risaalati Ibni Sa’di fil Ushul, ‘Abdullah Al Fauzan (muqarrar Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta tahun ajaran 1431-1433).
  • Syarh Manzhumah Al Qawa’id Al Fiqhiyyah, ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di (muqarrar Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta tahun ajaran 1434-1435).

Repost : Catatan Muslimah