Pengertian Hidayah Dan 9 Sebab Datangnya Lengkap

Pengertian Hidayah Dan 9 Sebab Datangnya Lengkap – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Mualaf. Yang meliputi pengertian mualaf, perlakuan islam terhadap mualaf dan manfaat dan keutamaan menjadi seorang mualaf dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silakan simak ulasan dibawah ini dengan seksama.

Pengertian Hidayah

Dikarenakan inti dan hakikat hidayah adalah taufik dari Allah Ta’ala, sebagaimana pada penjelasan sebelumnya, maka berdoa dan memohon hidayah kepada Allah Ta’ala merupakan sebab yang paling utama untuk mendapatkan hidayah-Nya. Dalam hadits Qudsi yang shahih, Allah Ta’ala berfirman:

Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku akan berikan petunjuk kepada kalian”.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala yang maha sempurna rahmat dan kebaikannya, memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk selalu berdoa memohon hidayah taufik kepada-Nya, yaitu dalam surah Al Fatihah:

{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ}
Berikanlah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus”.

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata: “Doa (dalam ayat ini) termasuk doa yang paling menyeluruh dan bermanfaat bagi manusia, oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk berdoa kepada-Nya dengan doa ini di setiap rakaat dalam shalatnya, karena kebutuhannya yang sangat besar terhadap hal tersebut.

Dalam banyak hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita doa memohon hidayah kepada Allah Ta’ala. Misalnya doa yang dibaca dalam qunut shalat witir:

(( اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْت))

Ya Allah, berikanlah hidayah kepadaku di dalam golongan orang-orang yang Engkau berikan hidayah.”

Juga doa beliau Shallallahu’alaihi Wasallam:

(( اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى، وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَى ))

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri (dari segala keburukan) dan kekayaan hati (selalu merasa cukup dengan pemberian-Mu).”

Sebaliknya, keengganan atau ketidaksungguhan untuk berdoa kepada Allah Ta’ala memohon hidayah-Nya merupakan sebab besar yang menjadikan seorang manusia terhalangi dari hidayah-Nya.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala sangat murka terhadap orang yang enggan berdoa dan memohon kepada-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: 


“Sesungguhnya barangsiapa yang enggan untuk memohon kepada Allah maka Dia akan murka kepadanya”.

9 Sebab Datangnya Hidayah

Hal-hal lain yang menjadi sebab datangnya hidayah Allah Ta’ala selain yang dijelaskan di atas adalah sebagai berikut:

1. Tidak bersandar kepada diri sendiri 

Dalam melakukan semua kebaikan dan meninggalkan segala keburukan artinya selalu bergantung dan bersandar kepada Allah Ta’ala dalam segala sesuatu yang dilakukan atau ditinggalkan oleh seorang hamba, serta tidak bergantung kepada kemampuan diri sendiri.

Ini merupakan sebab utama untuk meraih taufik dari Allah Ta’ala yang merupakan hidayah yang sempurna, bahkan inilah makna taufik yang sesungguhnya sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama Ahlus sunnah.

Coba renungkan pemaparan Imam Ibnul Qayyim berikut ini: “Kunci pokok segala kebaikan adalah dengan kita mengetahui (meyakini) bahwa apa yang Allah kehendaki (pasti) akan terjadi dan apa yang Dia tidak kehendaki maka tidak akan terjadi. Karena pada saat itulah kita yakin bahwa semua kebaikan (amal shaleh yang kita lakukan) adalah termasuk nikmat Allah (karena Dia-lah yang memberi kemudahan kepada kita untuk bisa melakukannya), sehingga kita akan selalu mensyukuri nikmat tersebut dan bersungguh-sungguh merendahkan diri serta memohon kepada Allah agar Dia tidak memutuskan nikmat tersebut dari diri kita.

Sebagaimana (kita yakin) bahwa semua keburukan (amal jelek yang kita lakukan) adalah karena hukuman dan berpalingnya Allah dari kita, sehingga kita akan memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar menghindarkan diri kita dari semua perbuatan buruk tersebut, dan agar Dia tidak menyandarkan (urusan) kita dalam melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan kepada diri kita sendiri.

Telah bersepakat Al ‘Aarifun (orang-orang yang memiliki pengetahuan yang dalam tentang Allah dan sifat-sifat-Nya) bahwa asal semua kebaikan adalah taufik dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, sebagaimana asal semua keburukan adalah khidzlaan (berpalingnya) Allah Ta’ala dari hamba-Nya. Mereka juga bersepakat bahwa (makna) taufik itu adalah dengan Allah tidak menyandarkan (urusan kebaikan/keburukan) kita kepada diri kita sendiri, dan (sebaliknya arti) al khidzlaan (berpalingnya Allah Ta’ala dari hamba) adalah dengan Allah membiarkan diri kita (bersandar) kepada diri kita sendiri (tidak bersandar kepada Allah Ta’ala).”

Inilah yang terungkap dalam doa yang diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: 

“(Ya Allah), jadikanlah baik semua urusanku dan janganlah Engkau membiarkan diriku bersandar kepada diriku sendiri (meskipun cuma) sekejap mata.”

Oleh karena inilah makna dan hakikat taufik, maka kunci untuk mendapatkannya adalah dengan selalu bersandar dan bergantung kepada Allah Ta’ala dalam meraihnya dan bukan bersandar kepada kemampuan diri sendiri.

Imam Ibnul Qayyim berkata:Kalau semua kebaikan asalnya (dengan) taufik yang itu adanya di tangan Allah (semata) dan bukan di tangan manusia, maka kunci (untuk membuka pintu) taufik adalah (selalu) berdoa, menampakkan rasa butuh, sungguh-sungguh dalam bersandar, (selalu) berharap dan takut (kepada-Nya). Maka ketika Allah telah memberikan kunci (taufik) ini kepada seorang hamba, berarti Dia ingin membukakan (pintu taufik) kepadanya.Dan ketika Allah memalingkan kunci (taufik) ini dari seorang hamba, berarti pintu kebaikan (taufik) akan selalu tertutup baginya.”


2. Selalu mengikuti dan berpegang teguh dengan agama Allah Ta’ala 

Dalam hal ini mengikuti dan berpegang teguh pada agama Allah secara keseluruhan lahir dan batin.

Allah Ta’ala berfirman:

{فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى}

“Maka jika datang kepadamu (wahai manuia) petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan tersesat dan tidak akan sengsara (dalam hidupnya).” (QS Thaaha: 123)

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa orang yang mengikuti dan berpegang teguh dengan petunjuk Allah Ta’ala yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya Ta’ala, dengan mengikuti semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, maka dia tidak akan tersesat dan sengsara di Dunia dan Akhirat, bahkan dia selalu mendapat bimbingan petunjuk-Nya, kebahagiaan dan ketentraman di Dunia dan Akhirat.

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman:

{وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ}
“Dan orang-orang yang selalu mengikuti petunjuk (agama Allah Ta’ala) maka Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketaqwaannya.” (QS Muhammad: 17)

3. Membaca al-Qur-an dan merenungkan kandungan maknanya

Allah Ta’ala berfirman:

{إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا}

“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS al-Israa’: 9)

Imam Ibnu Katsir berkata: “(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala memuji kitab-Nya yang mulia yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya Ta’ala, yaitu al-Qur-an, bahwa kitab ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus dan jelas.”

Maksudnya: yang paling lurus dalam tuntunan berkeyakinan, beramal dan bertingkah laku, maka orang yang selalu membaca dan mengikuti petunjuk al-Qur-an, dialah yang paling sempurna kebaikannya dan paling lurus petunjuknya dalam semua keadaannya.

4. Mentaati dan meneladani sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam

Allah Ta’ala menamakan wahyu yang diturunkan-Nya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallamsebagai al-huda (petunjuk) dan dinul haq (agama yang benar) dalam firman-Nya:

{هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا}

“Dialah (Allah Ta’ala) yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama, dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (QS al-Fath: 28)

Para ulama Ahli Tafsir menafsirkan al-huda (petunjuk) dalam ayat ini dengan ilmu yang bermanfaat dan dinul haq (agama yang benar) dengan amal shaleh.

Ini menunjukkan bahwa sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah sebaik-baik petunjuk yang akan selalu membimbing manusia untuk menetapi jalan yang lurus dalam ilmu dan amal.

Dalam hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah kitab Allah (al-Qur-an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan (baru dalam agama).”

Inilah makna firman Allah Ta’ala:

{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا}

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS al-Ahzaab:21).

5. Mengikuti pemahaman dan pengamalan para Shahabat dalam beragama

Allah Ta’ala berfirman:

{فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ}

Jika mereka beriman seperti keimanan yang kalian miliki, maka sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam perpecahan.” (QS al-Baqarah: 137)

Ayat ini menunjukkan kewajiban mengikuti pemahaman para Shahabat Radhiallahu’anhum dalam keimanan, ibadah, akhlak dan semua perkara agama lainnya, karena inilah sebab untuk mendapatkan petunjuk dari Allah Ta’ala. Para Shahabat Radhiallahu’anhum adalah yang pertama kali masuk dalam makna ayat ini, karena merekalah orang-orang yang pertama kali memiliki keimanan yang sempurna setelah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.

6. Meneladani tingkah laku dan akhlak orang-orang yang shaleh sebelum kita

Allah Ta’ala berfirman:

{أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ}

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka” (QS al-An’aam: 90)

Dalam ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi Muhammad Ta’ala untuk meneladani petunjuk para Nabi ‘alaihimussalam yang diutus sebelum beliau Ta’ala, dan ini juga berlaku bagi umat Nabi Muhammad Ta’ala.

7. Mengimani takdir Allah Ta’ala dengan benar

{مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ}

“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS at-Taghaabun:11)

Imam Ibnu Katsir berkata: “Makna ayat ini: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah, sehingga dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah tersebut, maka Allah akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Dia akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan yang lebih baik baginya”.

8. Berlapang dada menerima keindahan Islam 

Artinya manusia yang berlapang dada untuk menerima keindahan islam serta meyakini kebutuhan manusia lahir dan batin terhadap petunjuknya yang sempurna.

Allah Ta’ala berfirman:

{فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ}

“Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk Allah berikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (menerima agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS al-An’aam: 125)

Ayat ini menunjukkan bahwa tanda kebaikan dan petunjuk Allah Ta’ala bagi seorang hamba adalah dengan Allah Ta’ala menjadikan dadanya lapang dan lega menerima Islam, maka hatinya akan diterangi cahaya iman, hidup dengan sinar keyakinan, sehingga jiwanya akan tentram, hatinya akan mencintai amal shaleh dan jiwanya akan senang mengamalkan ketaatan, bahkan merasakan kelezatannya dan tidak merasakannya sebagai beban yang memberatkan.

9. Bersungguh-sungguh 

Dalam menempuh jalan Allah Ta’ala dan selalu berusaha mengamalkan sebab-sebab yang mendatangkan dan meneguhkan hidayah Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

{وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ}

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS al-‘Ankabuut: 69)

Imam Ibnu Qayyimil Jauziyah berkata:(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala menggandengkan hidayah (dari-Nya) dengan perjuangan dan kesungguhan (manusia), maka orang yang paling sempurna (mendapatkan) hidayah (dari Allah Ta’ala) adalah orang yang paling besar perjuangan dan kesungguhannya.”

Demikianlah telah dijelaskan tentang Pengertian Hidayah Dan 9 Sebab Datangnya Lengkap semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian.

Sejarah Perintah Shalat Wajib 5 Waktu Terlengkap

Sejarah Perintah Shalat Wajib 5 Waktu Terlengkap – Pada pembahasan ini mari kita melihat Ringkasan Sejarah Shalat Wajib. Yang meliputi Sejarah tentang kapan shalat 50 waktu menjadi 5 waktu yang diperintahkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Saw. dan umatnya dengan pembahasan terlengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih jelasnya mari lihat ulasan berikut.



Sejarah Perintah Shalat Wajib

Ibadah sholat lima waktu diwajibkan pada umat ini saat Nabi shallallahu’alaihi wa sallammasih tinggal di Makkah, sebelum hijrah ke Madinah dilakukan. Tepatnya saat malam isra’ mi’raj. Satu setengah tahun sebelum hijrah. Sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah,

فلما كان ليلة الإسراء قبل الهجرة بسنة ونصف ، فرض الله على رسوله صلى الله عليه وسلم الصلوات الخمس ، وفصل شروطها وأركانها وما يتعلق بها بعد ذلك ، شيئا فشيئا

Pada malam isra’ mi’raj, tepatnya satu setengah tahun sebelum hijrah, Allah mewajibkan sholat lima waktu kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Kemudian secara berangsur, Allah terangkan syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, serta hal-hal yang berkaitan dengan sholat”.

Ustadz Ahmad Farraj : 

Apakah peranan Nabi Musa as. sehingga beliau menyuruh Nabi Muhammad SAW. menghadap kembali kepada Allah untuk meminta keringanan bagi kaum muslimin agar jumlah kewajiban shalat itu dikurangi lagi ?. 

Fadlilatus Syekh Asy-Sya’rawi :

Di sini kita bicarakan pula tentang masalah shalat. Shalat ini (sebagaimana yang telah saya sebutkan) fardlukan secara langsung oleh Allah Ta’ala yang mana hal ini menunjukkan sangat pentingnya shalat itu. Menurut riwayat dikatakan bahwa Allah Ta’ala mewajibkan kepada kita shalat sebanyak 50 waktu dalam sehari semalam. Setelah itu Rasulullah SAW. pergi kepada Nabi Musa as., kemudian Nabi Musa berkata kepada beliau, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan….”. Rasulullah SAW. pun menuruti apa yang diperintahkan oleh Nabi Musa itu sehingga beliau berulang – ulang datang menghadap Allah samapai akhirnya Allah meringankan shalat itu tinggal 5 waktu dalam sehari semalam.

Di sini ada suatu hal yang sangat perlu untuk diperhatikan oleh kaum muslimin, bahwa kebencian kita terhadap orang – orang Yahudi itu jangan sampai melibatkan Nabi Musa as., karena Nabi Musa adalah utusan Allah dan termasuk salah seorang daru Ulul Azmi. Adapun masalah permohonan beliau kepada Nabi Muhammad SAW. agar kembali kepada Allah untuk meminta keringanan, apakah hal seperti ini merupakan wasiat ?. Wasiat macam apa ?. wasiat itu mesti datangnya dari orang yang mewajibkan saya (musalnya) untuk berbuat lebih banyak lagi. Adapun wasiat yang isinya untuk meringankan, apakah hal ini dikategorikan sebagai wasiat ?. Yang jelas, dia menghendaki agar diringankan beberapa perkara dari padaku karena ia tahu bahwa diriku tidak mampu menunaikannya. 

Ustadz Ahmad Farraj :

Di dalam riwayat dikatakan bahwa Nabi Musa mengatakan kepada Nabi Muhammad SAW. demikian, “….sesungguhnya ummatmu tidak mampu melaksanakannya ….”. Seakan-akan dengan perkataan ini Nabi Musa hendak mengecilkan yakni menganggap kecil (remeh) terhadap ummat Islam ini. Dalam lafal lain dikatakan, ” Sesungguhnya ummatmu itu lemah, tidak mampu untuk melakukannya”. Apakah makna semua ini ?.

Fadlilatus Syekh Asy-Sya’rawi :

Begitu yang dikatakan Nabi Musa, tetapi ketika beliau mengatakan kepada Nabi Muhammad, “Aku telah mencoba ummat sebelum engkau”, pada hal Allah cuma mewajibkan dua kali shalat saja kepada kaum Nabi Musa, yakni pada waktu pagi dan petang, yang mana dengan dua macam shalat ini saja mereka sudah tidak dapt menunaikannya, maka ketika Musa mengetahui keadaan ummatnya yang demikian, lalu beliau mengucapkan perkataan seperti yang telah disebutkan tadi, maka hal ini adalah menunjukkan kecintaan Nabi Musa terhadap Nabi Muhammad dan ummatnya, karena itulah beliau menghendaki agar ummat Muhammad jangan diberi beban kewajiban seperti yang dibebankan kepada ummatnya (Bani Israil) yang mana mereka tidak melaksanakan kewajiban tersebut.

ini tidak berarti menunjukkan bahwa kita ini sebagai ummat yang lemah. Beliau hanya menduga bahwa ada kemungkinan kita tidak dapat melaksanakannya. Mengapa ?. Karena beliau telah mencoba ummat beliau, namun mereka tidak mampu melakukannya, kemudian beliau anggap keadaan kita seperti mereka.

Demikianlah telah dijelaskan tentang Sejarah Perintah Shalat Wajib 5 Waktu Terlengkap semoga bermanfaat sehingga dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian. Terimakasih telah berkunjung dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya.

Inilah Kisah Teladan Nabi Muhammad SAW

Inilah Kisah Teladan Nabi Muhammad SAW – Allah SWT mengutus nabi Muhammad SAW sebagai seorang rasul sekaligus pemimpin bagi umat muslim. Allah menganugrahi Rasulullah berbagai rahmat dan segala keistimewaan. Rasulullah SAW diutus Allah SWT dengan segala kebaikan dan akhlak yang mulia dimana ada keteladan padanya. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Surat Al Ahzab ayat 21 yang bunyinya:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al Ahzab  21)

Inilah Kisah Teladan Nabi Muhammad SAW

Dari beberapa kisah yang wajib kita ketahui selain Sifat Wajib Allah, kita juga harus mengetahui sifat dan keteladanan Nabi Muhammad SAW. Adapun keteladanan nabi dan kisah Nabi Muhammad SAW sebagai berikut:

Memiliki kewaspadaan yang tinggi

Pada suatu malam Aisyah RA mendapati Rasulullah SAW tidak bisa tidur dan hanya membolak-balik tubuhnya diatas ranjang penuh dengan gelisah. Ia pun bertanya,

“Wahai Rasulullah, mengapa tidak tidur semalaman?” Rasulullah lalu menjawab, “Hari ini aku menemukan sebuah kurma di tengah jalan, kemudian aku ambil buah itu dan memakannya karena aku pikir lebih baik dimakan daripada busuk dan terbuang sia-sia, sekarang aku merasa gelisah karena siapa tahu jika kurma yang kumakan itu termasuk harta sedekah.”

Memotong lidah seseorang

Nabi Muhammad SAW tidak pernah berkata ataupun berlaku kasar kepada mereka yang selalu menghinanya. Pernah pada suatu kisah menceritakan tentang bagaimana Rasulullah SAW memotong lidah seseorang.

Diceritakan dalam sejarah islam pada saat perang Hunain yang mana melawan Suku Hawazin dan Quraisy dipimpin oleh Alabak. Rasulullah Saw dan pasukannya berhasil mengalahkan kaum Quraisy dan mendapatkan banyak harta rampasan perang. Rasulullah sedang membagi-bagikan empat perlima dari harta rampasan perang yang diperoleh kepada orang-orang ikut berperang.

Sedangkan seperlimanya untuk Rasulullah sendiri dan dibagikannya kepada anggota keluarga yang beliau kehendaki. Dari salah seorang penerima, Abbas seorang penyair merasa tidak puas atas apa yang ia peroleh dan ia mengumpat Rasulullah SAW dengan cara membacakan syair yang tidak mengenakkan. Rasulullah mendengar syair tersebut kemudian tersenyum dan berkata“Bawa orang itu pergi dari sini dan potong saja lidahnya!”

Umar yang saat itu sedang marah melihat perbuatan Abbas hampir saja melaksanakan perintah Rasulullah untuk memotong lidahnya namun Ali tiba-tiba menyeret Abbas dan membawanya ke lapangandimana binatang ternak rampasan dikumpulkan. “Ambillah sebanyak yang kau mau” “Apa?” Tanya Abbas kepada Ali dengan rasa tak percaya. “Beginikah cara Nabi memotong lidahku? Demi Allah, aku tidak akan mengambil sedikitpun harta ini“kata Abbassambil menahan malu.

Sikap Rasul terhadap hamba sahaya

Seorang hamba sahaya yang bernama Zaid sebelum masuk Islam adalah seorang Nasrani. Ia ikut berpergian dalam suatu kafilah namun ada suatu gerombolan perampok yang menghadang mereka. Kemudian ia dijual dan jatuh ketangan Hakim yang mana Zaid diahadiahkan kepada Khadijah yaitu istri Nabi Muhammad SAW.

Suatu hari beberapa orang melihat Zaid yang pada saat itu berada di Mekkah. Kemudian mereka memberitahukan kepada ayah Zaid, yang mana kedua orang tua Zaid mencarinya kemana – mana sampai hampir putus asa. Ketika mendengar hal tersebut sang ayah langsung pergi ke Mekah untuk melihat dan menjemputnya.

Saat tiba di Mekah, Rasul bertemu dengan ayah Zaid dan di mata sang ayah yang terlihat berduka menyentuh hati Rasulullah dan kemudian ia memerdekan Zaid tanpa syarat apapun. Meskipun demikian. Zaid menolak pergi dan ia berkata, “Aku tidak akan pergi, aku lebih mencintain engkau daripada ayah dan ibu kandungku sendiri.

Perilaku Rasul terhadap orang lain

Pada suatu hari seorang lelaki meminta ijin untuk berbicara kepada Nabi Muhammad. Kemudian beliau berkata pada Aisyah Ra untuk mengizinkannya masuk. Beliau juga menyampaikan “Biarkan dia masuk, orang ini dikenal orang yang paling buruk dikabilahnya,” kata Rasulullah. Kemudian Aisyah mengizinkannya masuk dan pria itu langsung duduk di depan Rasulullah SAW. Saat berbicara dengannya, Rasul bertutur kata ramah dan penuh perhatian. Hal ini membuat istri Rasul, Aisyah heran dan bertanya kepada beliau saat pria tersebut telah pergi.

Aisyah bertanya kepada Rasulullah, “Engkau menganggap orang kisah teladan nabi muhammad secara singkatitu kasar dan buruk namun mengapa engkau berbicara dengannya dengan ramah dan lemah-lembut serta rasa hormat?”Rasulullah menjawab, “Aisyah, pria itu adalah orang yang paling buruk di dunia ini karena ia tidak mau bergaul dengan orang lain karena ia mengaggap orang lain lebih buruk darinya.”

Tidak suka menyimpan harta dalam rumahnya

Pada Saat kondisi kesehatan Rasulullah yang semakin memburuk karena sakit yang beliau derita. Beliau bertanya pada istri beliau yaitu Aisyah Ra tentang uang yang ia titipkan padanya sebelum ia sakit. Beliau lupa pernah menitipkan uang dan teringat saat sakit. Rasul bertanya dengan suara parau, “Aisyah, dimana uang yang pernah kutitipkan padamu sebelum sakit?” tolong kau bagikan uang itu di jalan Allah. Karena aku akan malu bertemu Allah SWT yang dicintai,sedangkan dirumahnya masih ada timbunan dan simpanan uang”

Ustadz Ahmad Farraj:

Kalau kita katakan Bahwa Rasulullah SAW. berdekatan dengan Allah atau Allah berdekatan dengan Rasul, apakah ini tidak termasuk tajassud (menganggap Allah berjasad / bertubuh) atau tahayuz (menganggap Allah berdimensi / berukuran / berarah) padahal Dia itu Maha Suci dari yang demikian itu?

Syekh Asy-Sya’rawi:

Telah kita yakini bahwa Allah itu ada, saya katakan bahwa saya juga ada, tetapi apakah wujud Allah itu seperti wujud saya? Saya tahu bahwa saya sekarang sedang berada dalam suatu pertemuan (aayaatinaa …”. Andai kata dia melihat Tuhannya, niscaya hal ini disebutkan secara ekplisit oleh Allah, karena hal ini merupakan perkara besar yang lebih besar dari pada melihatnya Nabi Muhammad kepada ayat-ayat Allah pada waktu Isra’ dan ketika di Sidratul Muntaha. (Tafsir Al-Kabir 7 / 740 yang dikutip oleh Syekh Muhammad Ali Ash Shabuni dalam Shafwatut Tafsir, mujallad 3, Darul Qur’an al-Karim, Beirut, 1402 H 1981 M, hal. 274) – Pen.) dengan sekelompok besar orang dan diliputi oleh televisi, dan Allah pun tahu yang demikian itu.

Apakah tahunya saya ini sama dengan tahunya Allah ?. Misalnya lagi, sya hidup dan Allah juga hidup, apakah hidupnya Allah seperti hidupnya saya? Kalau begitu, mengapa berdekatannya Allah dengan Rasul atau berdekatannya Rasul dengan Allah dikatakan seperti berdekatannya saya dengan anda?

Selama kita mengakui bahwa Allah itu Maha Suci, maka harus kita nisbatkan perumpamaan untuk Allah itu kepada kemahasucian-Nya. Kalau dikatan bahwa “Allah bersemayam di atas Arsy…. “. sedang kita sendiri juga sering duduk di atas kursi, maka apakah bersemayamnya Allah itu sama dengan duduk kita, apakah bersemayamnya Allah itu seperti duduk saya? Jangan anda katakan bahwa istiwaknya Allah seperti istiwak saya, karena saya tidak pernah mengatakan bahwa wujud Allah itu seperti wujud saya.

Saya tidak pernah mengatakan ilmu saya seperti ilmu Allah, tidak pernah mengatakan pengetahuan Allah seperti pengetahuan saya, tidak pernah mengatakan kekayaan-Nya seperti kekayaan saya, tidak pernah mengatakan bahwa hidup-Nya seperti hidup saya.

Kalau mereka mengatakan bahwa berdekatan atau aktifitas “mendekat” itu merupakan sifat bagi benda-benda sedangkan Allah Maha Suci dari sifat-sifat kebendaan, maka kita wajib menisbatkan suatu aktifitas itu kepada pelakunya, kita kembalikan aktifitas “mendekat” di sini kepada Allah Yang Maha Suci dalam Dzat, sifat, dan perbuatan-Nya.

Kalau di dalam suatu hadist disebutkan bahwa Allah turun ke langit dunia pada setiap malam, “Adakah orang yang hendak bertaubat lantas Aku terima taubatnya, atau meminta ampun lalu Aku ampuni…. ?”.

Maka saya tidak menggambarkan turun-Nya itu seperti cara saya turun. Kenapa ?. Karena Dia itu Maha Suci, laisa kamitslihii syai-un, tidak ada sesuatu pun yang seperti Allah. Jika ada suatu sifat yang sama penyebutnya dengan sifat sifat atau aktifitas itu kepada Allah sendiri saja. Kalau ada sifat Allah yang sama penyebutnya dengan sifat saya, maka saya yakin hakekat Allah tidak sama dengan sifat saya, Dia Maha Suci, Dzat-Nya tidak seperti dzat saya, sifat-Nya tidak seperti sifat saya, dan perbuatan-Nya juga tidak seperti perbuatan saya.

Demikian ulasan tentang Inilah Kisah Teladan Nabi Muhammad SAW. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

Mengapa Mi’raj Nabi Diawali Dengan Isra’ ?.

Peristiwa Isra’ adalah peristiwa ardliyah, artinya di sana ada orang di Baitul Maqdis, orang bisa saja pergi ke Baitul Maqdis, bisa saja melihat Baitul Maqdis, dan orang pun tahu jalan ke Baitul Maqdis dan tahu pula berapa jauhnya dan berapa lamanya waktu yang diperlukan untuk pergi atau pulang ke/dari Baitul Maqdis, sehingga dengan demikian maka peristiwa Isra’ itu merupakan peristiwa luar biasa mengingat waktu yang dipakai begitu singkat. Namun demikian diperlukan pula petunjuk yang berisi kebendaan bagi manusia untuk membuktikan kebenaran hal ini, yaitu ketika mereka mengatakan kepada beliau SAW.: “Coba terangkan keadaan masjid itu…”, kemudian beliau menerangkan sesuai dengan keadaan atau sifat-sifatnya. Permintaan mereka agar Rasulullah SAW. menerangkan sifat-sifat masjid tersebut adalah sebagai bukti bahwa mereka percaya penuh bahwa Nabi Muhammad SAW. tidak pergi ke sana, sebab andai kata ada keraguan bagi mereka tentang pergi/tidaknya Rasulullah SAW. ke sana niscaya mereka tidak mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang bermacam-macam kepada beliau. Jadi permintaan mereka agar Rasulullah SAW. menerangkan sifat-sifat Masjidil Aqsha itu adalah untuk meneguhkan, keyakinan mereka bahwa Rasulullah SAW. tidak pergi ke sana, karena dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu (pikir mereka) beliau tidak akan dapat memberikan jawaban atau menerangkannya kepada mereka. Namun kenyataannya beliau dapat memberikan keterangan sesuai dengan apa yang sudah mereka saksikan sendiri. 
Barangkali ada orang berpengalaman yang memberitahu kepada Rasulullah tentang sifat-sifat masjid itu kemudian beliau menceritakannya kepada mereka ?. Maka saya katakan “tidak mungkin” karena hal itu adalah peristiwa bendawi yang tidak terlepas kaitannya dengan waktu (yakni perjalanan orang itu makan waktu lama, baru setelah itu dia menceritakannya kepada Rasulullah SAW.). Jadi hal ini adalah mustahil karena Rasulullah SAW. menerangkan kepada meraka secara spontanitas setelah beliau mengalami isra’ mi’raj itu. Tambahan pula di jalan yang ditempuh Rasulullah SAW. sewaktu beliau pulang ke makkah di sana terjadi berbagai macam peristiwa dan beliaupun melihatnya, kemudian diceritakannya kejadian-kejadian itu kepada kaumnya. Dalam perjalanan pulang itu beliau melihat sekelompok orang dengan mengendarai unta bagini dan begini, dan hal ini pun beliau ceritakan kepada mereka. Rombongan itu akan datang pada waktu ini… pada waktu ini… 
Mereka pun menunggu rombongan yang diceritakan Rasulullah SAW. itu Dan tepat pada waktu yang diinformasikan Rasulullah itu rombongan tersebut datang. 
Itulah dalil-dalil yang dapat diterima oleh akal bahwa RAsulullah SAW. benar-benar telah pergi ke Baitul Maqdis, dan itu semua sebagai bukti akan kebenaran apa yang beliau katakan. 
Kalau benar apa yang dikatakan Rasulullah SAW. itu bahwa beliau telah diisra’kan yang mana isra’ ini termasuk peristiwa ardli, maka bagaimana dengan waktu yang dipergunakannya yang begitu singkat ?. Jawabnya: Allah telah menjadikan undang-undang waktu yang luar biasa bagi beliau saat itu. Kalau kita sudah percaya bahwa Allah telah menciptakan ketentuan Yang di luar kebiasaan buat beliau dengan bukti adanya peristiwa bendawi yang kita kenal, lalu Ia menciptakan suatu keadaan yang di luar kebiasaan lagi buat beliau untuk peristiwa yang lain, yakni beliau dinaikkan ke langit, maka kita pun dapat menerimanya dengan alasan-alasan yang telah kita ketahui itu, yakni suatu alasan yang dapat menyampaikan kita kepada suatu kesimpulan bahwa “Allah yang menjadikan beliau dalam keadaan luar biasa dalam menempuh jarak suatu perjalanan yang kita ketahui jauhnya, pasti mampu jugam enjadikan keadaan luar biasa bagi beliau untuk menempuh ketinggian yang kita tidak ketahui sesuatunya”. 
Peristiwa Isra’ yang merupakan peristiwa ardli ini seolah-olah merupakan suatu pendahuluan untuk menenangkan hati manusia untuk menerima kebenaran berita yang dibawa rasulullah SAW. tentang mi’raj Allah yang menjadikan keadaan luar biasa di luar ketentuan waktu dan di luar ketentuan jarak dalam perkara-perkara yang kita kenal di mana Ia yang melakukan dan membawa Nabi Muhammad SAW. dengan kekuatan-Nya, maka Dia berkuasa pula untuk menciptakan keadaan luar biasa bagi beliau terhadap ketentuan-ketentuan yang berkenaan dengan urusan langit/angkasa luar, dan ketentuan-ketentuan yang lain lagi.

Peraturan Yang Berlaku Bagi Sang Pencipta

Suatu pekerjaan selalu menurut ukuran siapa yang mengerjakannya itu. Misalnya dikatakan bahwa si A melakukan khutbah, maka kita harus mengukur mutu khutbah, maka kita harus mengukur khutbahnya itu dengan kemampuan si A itu sendiri, begitu juga seandainya si B yang melakukan maka kita pun mengukurnya dengan kemampuan si B sendiri. Kalau dikatakan si Fulan memikul suatu beban, maka kita mengerti bahwa dia mempunyai kemampuan untuk memikulnya itu. Jadi bentuk, model dan kualitas suatu pekerjaan itu selalu diukur dengan siapa orang yang mengerjakannya itu dan tidak boleh membuat ukuran yang lain. Mengapa Allah mengatakan, “Subhaana al ladzii asraa bi ‘abdihii….”. (Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambanya pada suatu malam). 
Dari ayat ini jelaslah bahwa yang “mengisra’kan” yakni yang melakukan pekerjaan ini adalah Allah. Dia bertindak sebagai subyek, sedangkan Nabi Muhammad SAW. sebagai obyek. Jadi pekerjaan “mengisra’kan” ini pun harus diukur dengan kriteria yang berlaku untuk Allah serta jangan diukur dengan kriteria yang berlaku bagi Muhammad, karena dia tidak mengatakan: “Aku telah melakukan perjalanan malam (berisra’ dengan sendiriku)…”, dan jangan pula anda mengatakan seperti apa yang dikatakan orang-orang kafir: “Mana mungkin perjalanan yang biasa kami tempuh selama satu bulan dengan naik unta, kamu tempuh dalam waktu semalam ?”. Itulah di antara yang dikatakan orang-orang kafir itu. Siapakah gerangan yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad berkata bahwasanya dia yang melakukan pekerjaan tersebut?. Ini adalah perkataan yang diada-adakan atau dibuat-buat saja oleh orang kafir di mana mereka menuduh atau menganggap Nabi Muhammad SAW. “menempuh perjalanan malam itu dengan sendirinya”. Jadi mengembalikan atau membandingkan pekerjaan Isra’ ini kepada kemampuan Nabi Muhammad SAW. adalah tidak benar. Kalau hendak mengukur kualitas pekerjaan “mengisra’kan” ini hendaklah diukur dengan kemampuan Allah, karena Dia-lah yang melakukannya. Jadi dalam peristiwa Isra’ itu Nabi Muhammad dibawa oleh suatu kekuatan yang di luar kekuatan atau kemampuan dirinya sendiri, yakni kekuatan yang tak dapat diukur dengan apapun juga. Kalau saya mengatakan bahwa saya telah membawa anak saya yang masih menyusu naik ke puncak gunung Himalaya, maka apakah wajar kalau ada orang bertanya, “Bagaimana anakmu yang masih sarat menyusu itu naik ke puncak Himalaya ?”. Tidak, tidak akan ada orang yang bertanya begitu. kalau ada orang yang bertanya begitu berarti akalnya rusak (tidak normal), dan orang cuma akan bertanya, “Bagaimana anda bisa naik ke sana…. ?” 
Kalau yang bertanya : “Bagaimana Muhammad bisa melakukan perjalanan sejauh itu dalam waktu satu malam ?”, maka pertanyaan ini sama dengan pertanyaan orang kepada saya. “Bagaimana anakmu yang masih sarat menyusu itu dapat naik ke puncak Himalaya ?” Ini berarti orang tersebut mengembalikan perbuatan itu kepada Nabi Muhammad, bukan kepada Allah, padahal yang mengisra’kan itu adalah Allah, perbuatan itu adalah dari Allah dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku bagi Allah sendiri tanpa disertai qanunul-basyari (kriterium yang berlaku untuk manusia) sama sekali. Mengapa?. Karena semua aktifitas itu berbeda-beda menurut kemampuan pelakunya. Misalnya orang berpergian naik mobil dari satu tempat ke tempat lain pasti berbeda dengan orang yang naik kapal terbang atau roket (mungkin ada alat yang lebih cepat lagi). Karena itu maka ukuran waktunya pun tidak bisa terlepas dari aktifitas dan kemampuan pelakunya. Apabila peristiwa Isra’ itu dari Allah dimana Dia yang MENGISRA’KAN dan Nabi Muhammad yang DIISRA’KAN, maka pada saat itu Muhammad berada di bawah undang-undang atau ketentuan di luar jangkauan kemampuan manusia yakni kekuatan Tuhannya yang membimbingnya. Kalau lamanya suatu perjalan itu diukur dengan kecepatannya dengan perbandingan berbalik, yakni “Apabila kekuatan (kecepatan) bertambah tinggi, maka waktu yang diperlukan semakin sedikit (singkat),” sedangkan kekuatan yang MENGISRA’KAN Nabi Muhammad adalah kekuatan Allah yang di luar ukuran kekuatan, kecepatan, dan kemampuan macam apapun juaga, maka peristiwa Isra’ Mi’raj itu tak dapat diukur dengan waktu, yakni tidak terikat oleh waktu sama sekali. 
Mungkin ada orang yang bertanya kepada anda “Kalau peristiwa Isra’ itu tidak terikat oleh waktu beberapa lama pada suatu malam ?”. Maka kita jawab bahwa dalam hal ini terdapat perbedaan antara peristiwa Isra’ (memperjalankan) itu sendiri dengan pemandangan-pemandangan yang ditampakkan kepada Rasulullah SAW. Maka ketika ditampakkan kepada beliau beberapa macam pemandangan, beliau melihatnya dengan manusiawinya dan dengan qarun manusiawinya (ketentuan yang berlaku bagi manusia umumnya). Menyaksikan pemandangan-pemandangan itulah yang memerlukan waktu, adapun melesatnya Rasulullah SAW. itu sendiri tidak memerlukan waktu karena beliau berada dalamsuatu undang-undang (qanun) yang tidak terikat oleh waktu. Oleh karena itu maka orang-orang yang membantah Rasulullah SAW. mengenai peristiwa Isra’ dengan membandingkannya dengan perjalanan dan aktifitas yang mereka lakukan atau yang dilakukan oleh umumnya manusia, adalah jauh panggang dari api dan sudah menyimpang dari pokok masalah di mata yang menjadi pokok masalah adalah Qanun Ilahi sedangkan mereka membantahnya dengan Qanun Basyari… 

√ Antara Do’a, Usaha, Ikhtiar dan Tawakal Serta Penjelasannya

Antara Doa Usaha Ikhtiar dan Tawakal Serta Penjelasannya

Antara Do’a, Usaha, Ikhtiar dan Tawakal Serta Penjelasannya – Ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak bisa engkau ubah, dan berusaha maksimallah terhadap ketetapan allah yang bisa engkau ubah dan serahkan sisanya kepada rabbmu, lalu berjalanlah di muka bumi dengan kepala tegak, maka yang di langit akan mencintaimu, dan di bumi akan menghormatimu.

Ingatlah bahwa hidup ini sudah ada yang mengatur, bekerja keraslah tapi jangan melanggar kehendak tuhan. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini.

Antara Do’a, Usaha, Ikhtiar dan Tawakal Serta Penjelasannya

Sesungguhnya manusia yang mendapatkan pertolongan dari Allah dengan sebab-sebab usahanya, maka wajiblah ia melakukan usaha itu, atau hendaklah ia mencurahkan segenap kemampuannya agar bisa mencapai tujuan yang dicita-citakannya.

Do’a

Doa terbagi menjadi dua yaitu,

Pertama, doa masalah (دعاء المسألة) atau doa permintaan. Maksudnya, seseorang berdoa kepada Allah Ta’ala dengan ucapan lisannya, meminta kepada Allah Ta’ala agar mendapatkan kebaikan yang dia inginkan atau agar terhindar dari suatu keburukan (bahaya). Inilah pengertian doa yang banyak dipahami oleh kaum muslimin.

Kedua, doa ibadah (دعاء العبادة). Maksudnya, semua jenis ibadah yang kita lakukan pada hakikatnya adalah doa. Buktinya, kalau kita bertanya kepada seseorang yang beribadah kepada Allah Ta’ala, “Apa tujuanmu mendirikan shalat, berpuasa, menunaikan zakat, dan menunaikan hak-hak Allah Ta’ala?”

Usaha

Ketika orang mencari pertolongan kepada Allah dengan disertai usaha-usaha yang sekiranya dapat menyampaikannya kepada tujuannya, yakni dengan menempuh jalannya. Maka hal itu wajib dilakukan olehnya. Tetapi apabila usaha-usaha manusiawinya ini sudah tidak memungkinkan lagi, maka pada saat yang demikian itu hendaklah, ia menyerahkan diri sebulat-bulatnya dengan menadahkan harapan kepada Allah saja seraya memanjatkan do’a.

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya : Apabila telah di tunaikan shalat, maka bertebarlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia allah dan ingatlah allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. ( QS. Al-Jumu’ah 10 )

Ikhtiar

Ikhtiar adalah upaya manusia untuk memenuhi berbagai kebutuhan dalam hidupnya, baik material, spiritual, kesehatan, dan masa depannya agar tujuan hidupnya selamat sejahtera dunia dan akhirat terpenuhi.

Sejatinya, keadaan hasil bergantung pada ikhtiar. Jika ikhtiar ‘sekadar-sekadar’, sekadar pula hasilnya. Jika ikhtiarnya full power, percayalah hasil tidak akan membohongi.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS ar-Ra’d  11).

Tawakal

Tawakal (Arab: توكُل‎‎) atau tawakkul berarti mewakilkan atau menyerahkan. Dalam agama Islam, tawakal berarti berserah diri pasrah dan ikhlas sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.

Definisi Tawakal

Imam al-Ghazali merumuskan definisi tawakkal sebagai berikut, “Tawakkal ialah menyandarkan kepada Allah swt tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepadaNya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram.

Menurut ajaran Islam, tawakkal itu adalah tumpuan terakhir dalam suatu usaha atau perjuangan. Jadi arti tawakkal yang sebenarnya — menurut ajaran Islam — ialah menyerah diri kepada Allah swt setelah berusaha keras dalam berikhtiar dan bekerja sesuai dengan kemampuan dalam mengikuti sunnah Allah yang Dia tetapkan.

Doa Tawakal Arab, Latin dan Terjemahnya

حَسْبِيَ اللهُ

HASBIYALLAAHU

Artinya : Cukuplah Allah bagiku

لَا إِلَـهَ إِلَّا هُوَ

LAA ILAAHA ILLAA HUWA

Artinya : Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia

عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ

‘ALAIHI TAWAKKALTU

Artinya : Hanya kepada-Nya aku bertawakkal

وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ

WA HUWA ROBUL ‘ARSYIL ‘AZHIIM

Dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung

حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ  ۖ  عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ  ۖ  وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Artinya: “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (QS. at-Taubah: 129)

Dengan bertawakal kepada Allah SWT, kita tentu lebih siap untuk menerima kenyataan. Mereka yang tidak tawakal, mungkin akan sangat kecewa dan bahkan mengalami stres berat ketika usaha dan doanya tidak atau belum terkabul.

Ketika usaha dan doanya telah terkabul, tentu mereka akan bersyukur karena menyadari sepenuhnya keberhasilan itu berasal dari Allah SWT. Salah satu bentuk syukur itu adalah dengan tetap taat kepada Allah SWT yang disebut takwa.

Itulah do’a yang dipanjatkan Rasulullah SAW kepada Allah, do’a yang penuh keimanan dan keyakinan bahwa Allah yang mengutusnya tidak akan menghina-dinakan dia. Dalam do’a ini pula tergambar bahwa Rasulullah SAW. telah mengerahkan segenap tenaga dan usahanya, namun yang ia jumpai hanyalah musuh dan orang pun semakin jauh.

Karena itulah kemudian ia hanya melakukan hubungan ke langit saja. Allah mendengarkan keluh kesah Rasul-Nya, dan Ia hendak menyatakan kepadanya bahwa kebatilan yang terjadi di bumi itu tidak menjadikan terputusnya hubungannya dengan langit.

“Bahkan Aku akan menggantikan untukmu”, kata Allah, “dari kebatilan bumi ini dengan kemuliaan langit, dan dari terasingan dari alam pergaulan Malaikat yang dilangit. Akan Aku perlihatkan kepadamu Ayat-ayat-Ku, akan Aku tunjukkan kepadamu kekuasaan-Ku, dan Aku tampakkan pula rahasia-rahasia kekuasaan-Ku di alam ini yang tidak ada satupun kekuatan dapat menampakkan kepadamu akan yang demikian itu.

Sesungguhnya Allah yang telah memperlihatkan kepadamu ayat-Nya itu pasti mampu memberikan pertolongan kepadamu, dan Ia tidak akan meninggalkanmu. Hanya saja Allah membiarkanmu dulu agar engkau berusaha dan mencurahkan tenaga dalam menghadapi segala rintangan, agar dengan demikian engkau menjadi contoh teladan bagi ummatmu supaya mereka tidak pasif meninggalkan usaha dengan meminta pertolongan dari langit saja.

Jadi terjadinya peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini adalah sebagai suatu karunia besar dari Allah setelah Nabi Muhammad SAW. menghadapi tantangan dan kehilangan penolong dan pembantu utamanya di bumi.

Antara Doa Usaha Ikhtiar dan Tawakal Serta Penjelasannya

Allah SWT hendak menjadikan perjalanan luhur ini bagi Rasul-Nya sehingga ia tetap menjadi orang terhormat, dan juga untuk menunjukkan bahwa mengganti apa-apa yang luput dari padanya dengan ganti yang lebih baik lagi, dan Malaikat-malaikat pun memberi hormat kepadanya.

Setelah berjuang dengan susah payah menghadapi rintangan di muka bumi, dan akhirnya ia mendapat kekuatan yang baru lagi dengan izin Allah.

Demikianlah ulasan tentang Antara Do’a, Usaha, Ikhtiar dan Tawakal Serta Penjelasannya. Keempat hal ini tak bisa dipisahkan dan harus dilakukan secara utuh setiap kali kita menginginkan sesuatu dalam hidup dan kehidupan ini. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk melaksanakan hal tersebut. Amin… amin… ya rabbal alamin.