Allah Menghilangkan Ilmu Dengan Wafatnya Ulama

Allah Menghilangkan Ilmu Dengan Wafatnya Ulama

Allah Menghilangkan Ilmu Dengan Wafatnya Ulama – Sahabat Muslim, segala sesuatu yang kita ketahui di dunia ini tentu dapat diketahui karena adanya yang memberitahu. Begitu juga ilmu agama, akan hilang bila para ulama telah wafat. Karena dari merekalah kita mengetahui tentang hukum agama, syariat dan lain sebagainya.

Baca : Manfaat Bagi Orang Yang Beriman Kepada Allah (Bahas Lengkap)

Nah Sahabat, bila kita hanya melihat dari segi pengetahuan maka karangan buku yang ulama tulis sudah cukup. Namun bila melihat dari maksud dari pada tulisan tersebut tentu kita harus bertanya kepada orang yang membuatnya. Oleh karena itu mari kita simak penjelasan artikel Pengetahuan Islam berikut ini dengan seksama.

Allah Menghilangkan Ilmu Dengan Wafatnya Ulama

Sungguh membuah hati cukup sedih jika mendengar berita wafatnya ulama. Terlebih ulama tersebut adalah ulama ahlus sunnah wal jamaah yang sangat giat, belajar, berdakwah dan memberikan pencerahan yang banyak kepada manusia. Ayyub rahimahullah pernah berkata,

إني أُخبر بموت الرجل من أهل السنة وكأني أفقد بعض أعضائي

Artinya : “Sesungguhnya aku diberitakan mengenai wafatnya seorang ahlus sunnah, seakan-akan aku kehilangan sebagian anggota tubuhku.” (Hilyah Al-Auliya 3/9)

Dengan wafatnya ulama, berarti Allah telah mulai mengangkat ilmu dari manusia.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.” (Hadits Bukhari Nomor 98)

An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,

‏ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻳﺒﻴﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻘﺒﺾ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺴﺎﺑﻘﺔ ﺍﻟﻤﻄﻠﻘﺔ ﻟﻴﺲ ﻫﻮ ﻣﺤﻮﻩ ﻣﻦ ﺻﺪﻭﺭ ﺣﻔﺎﻇﻪ ، ﻭﻟﻜﻦ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﺃﻧﻪ ﻳﻤﻮﺕ ﺣﻤﻠﺘﻪ ، ﻭﻳﺘﺨﺬ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺟﻬﺎﻻ ﻳﺤﻜﻤﻮﻥ ﺑﺠﻬﺎﻻﺗﻬﻢ ﻓﻴﻀﻠﻮﻥ ﻭﻳﻀﻠﻮﻥ

Artinya : “Hadits ini menjelaskan bahwa maksud diangkatnya ilmu yaitu sebagaimana pada hadits-hadits sebelumnya secara mutlak. Bukanlah menghapuskannya dari dada para penghapalnya, akan tetapi maknanya adalah wafatnya para pemilik ilmu tersebut. Manusia kemudian menjadikan orang-orang bodoh untuk memutuskan hukum sesuatu dengan kebodohan mereka. Akhirnya mereka pun sesat dan menyesatkan orang lain.” (Syarh Nawawi lishahih Muslim 16/223-224)

Baca : 10 Macam Sholat Sunah Yang Memiliki Manfaat Luar Biasa Lengkap

Wafatnya Para Ulama

Para ulama pasti akan Allah wafatkan karena setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Hendaknya kita terus semangat mempelajari ilmu dan mengamalkannya. Shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu berkata,

ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﺮﻓﻊ ﻭﺭﻓﻌﻪ ﻣﻮﺕ ﺭﻭﺍﺗﻪ، ﻓﻮﺍﻟﺬﻱ ﻧﻔﺴﻲ ﺑﻴﺪﻩ ﻟﻴﻮﺩّﻥّ ﺭﺟﺎﻝ ﻗﺘﻠﻮﺍ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺷﻬﺪﺍﺀ ﺃﻥ ﻳﺒﻌﺜﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻤﺎﺀ ﻟﻤﺎ ﻳﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﻛﺮﺍﻣﺘﻬﻢ، ﻓﺈﻥ ﺃﺣﺪﺍ ﻟﻢ ﻳﻮﻟﺪ ﻋﺎﻟﻤﺎ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺎﻟﺘﻌﻠﻢ

Artinya : “Wajib atas kalian untuk menuntut ilmu, sebelum ilmu tersebut diangkat/dihilangkan. Hilangnya ilmu adalah dengan wafatnya para periwayatnya/ulama. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh orang-orang yang terbunuh di jalan Allah sebagai syuhada, mereka sangat menginginkan agar Allah membangkitkan mereka dengan kedudukan seperti kedudukannya para ulama, karena mereka melihat begitu besarnya kemuliaan para ulama. Sungguh tidak ada seorang pun yang dilahirkan dalam keadaan sudah berilmu. Ilmu itu tidak lain didapat dengan cara belajar .” (Al-’Imu Ibnu Qayyim, hal. 94)

Mari kita semakin semangat menuntut ilmu, menyebarkan dan mengamalkannya, karena hilangnya ilmu agama merupakan tanda-tanda akhir zaman dan dekatnya zaman fitnah.

Baca : Pengertian Nifaq, pembagian dan hukumnya (Lengkap)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ قَالُوا وَمَا الْهَرْجُ قَالَ الْقَتْلُ الْقَتْلُ

Artinya : “Zaman semakin dekat, amalan kian berkurang, kekikiran semakin banyak dan al Harj semakin merajalela.” Mereka bertanya; “Apakah al Harj itu? Beliau menjawab: “Pembunuhan, pembunuhan.” (Hadits Bukhari Nomor 5577)

Allah Menghilangkan Ilmu Dengan Wafatnya Ulama

Termasuk tanda kiamat yang sudah cukup dekat adalah diangkatnya ilmu dan kebodohan yang merajalela.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا

Artinya : “Diantara tanda-tanda terjadinya hari kiamat yaitu: diangkatnya ilmu, kebodohan merajalela, banyaknya orang yang meminum minuman keras, dan zina dilakukan dengan terang-terangan.” (Hadits Muslim Nomor 4824)

Sebagaiman Allah Ta’ala telah berfirman :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Artinya : “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir ayat 28)

Ayat ini menunjukkan keutamaan ilmu, karena ilmu menambah seseorang takut kepada Allah, dan orang-orang yang takut kepada Allah itulah orang-orang yang mendapatkan keistimewaan dari-Nya.

Demikian ulasan tentang Allah Menghilangkan Ilmu Dengan Wafatnya Ulama. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

Kenyataan Mencintai Dunia, Meninggal Hanya Membawa Kafan

Kenyataan Mencintai Dunia, Meninggal Hanya Membawa Kafan

Kenyataan Mencintai Dunia, Meninggal Hanya Membawa Kafan – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Dunia. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan begaimana seseorang mencintai dunia yang ketika meninggal hanya membawa kain kafan dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya silahkan simak artikel Pengetahuan Islam berikut ini.

Baca : Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya (Bahas Lengkap)

Kenyataan Mencintai Dunia, Meninggal Hanya Membawa Kafan

Perlu kita sadari dan selalu ingat bahwa hidup di dunia ini hanya sementara saja. Hendaknya kita sadar bahwa dunia yang kita cari dengan susah payah ini tidak akan bisa kita bawa menuju kampung abadi kita yaitu kampung akhirat.

Ibnu Sammak Muhammad bin Shubaih rahimahullah berkata,

هب الدنيا في يديك ، ومثلها ضم إليك ، وهب المشرق والمغرب يجيء إليك ، فإذا جاءك الموت ، فماذا في يديك

Artinya : “Anggaplah dunia ada di genggaman tanganmu dan ditambahkan yang semisalnya. Anggaplah (perbendaharaan) timur dan barat datang kepadamu, akan tetapi jika kematian datang, apa gunanya yang ada di genggamanmu?.” (Siyarul A’lam An-Nubala 8/330)

Kenyataan Mencintai Dunia

Banyak sekali ayat dalam Al-Quran yang mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara saja. Janganlah kita lalai dan tertipu seolah-olah akan hidup di dunia selamanya dengan mengumpulkan dan menumpuk harta yang sangat banyak sehingga melalaikan kehidupan akhirat kita.

Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman dalam QS. Luqman ayat 33 yaitu,

إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ

Artinya : “Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.”

Allah juga berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 185 yaitu,

ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺘَﺎﻉُ ﺍﻟْﻐُﺮُﻭﺭِ

Artinya : “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)

Allah juga berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya : “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadid Ayat 20)

Baca : Perbedaan Nabi dan Rasul Menurut Pandangan Islam (Lengkap)

Jika direnungi, ternyata harta kita yang sesungguhnya hanya tiga saja. Selain itu, bukan lah harta kita, walaupun hakikatnya itu adalah milik kita di dunia, karena MAYORITAS harta sejatinya hanya kita tumpuk saja dan bisa jadi BUKAN kita yang menikmati, hanya sekedar dimiliki saja atau KOLEKSI saja. Adapun tiga harta sejati yang kita nikmati, itupun menikmati sementara saja yaitu ;

  1. Makanan yang kita makan

Makanan yang di kulkas belum tentu kita yang menikmati semua. Makanan yang di gudang belum tentu kita yang menikmati semua. Uang yang kita simpan untuk beli makanan belum tentu kita yang menikmati. Ketika menikmati makanan pun ini hanya sesaat dari keseharian kita, hanya melewati lidah dan kerongkongan sebentar saja

  1. Pakaian yang kita pakai

Termasuk sarana yang kita pakai seperti sepatu, kendaraan serta rumah kita. Ini yang kita nikmati. Akan tetapi inipun sementara saja karena pakaian bisa usang sedangkan rumah akan diwariskan

  1. Sedekah

Ini adalah harta kita yang sebenarnya, sangat berguna di akhirat kelak. Inipun berlalu sebentar dari genggaman kita di dunia

Selebihnya harta yang kita tumpul hakikatnya bukan harta kita, kita tidak menikmatinya atau hanya menikmati sesaat saja. Misalnya menumpuk harta:

  • Rumah ada dua atau tiga, yang kita nikmati utamanya hanya satu rumah saja
  • Uang tabungan di bank beratus-ratus juta atau miliyaran, yang kita nikmati hanya sedikit saja selebihnya kita hanya kita simpan
  • Punya kebun yang luas, punya toko yang besar, hanya kita nikmati sesaat saja

Kenyataan Mencintai Dunia, Meninggal Hanya Membawa Kafan

Inilah yang dimaksud hadits, harta sejati hanya tiga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْعَبْدُ مَالِي مَالِي إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلَاثٌ مَا أَكَلَ فَأَفْنَى أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ

Artinya : “Manusia berkata, ‘Hartaku, hartaku, ‘ sesungguhnya hartanya ada tiga: yang ia makan lalu ia habiskan, yang ia kenakan lalu ia usangkan atau yang ia berikan (sedekahkan) lalu ia miliki, selain itu akan lenyap dan akan ia tinggalkan untuk manusia’.” (Hadits Muslim Nomor 5259)

Dunia memang kita butuhkan dan tidak terlarang kita mencari harta dan dunia akan tetapi harus kita tujukan untuk orientasi akhirat.

Demikian artikel tentang Kenyataan Mencintai Dunia, Meninggal Hanya Membawa Kafan. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

Inilah Beberapa Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu Di Masjid

Inilah Beberapa Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu Di Masjid

Inilah Beberapa Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu Di Masjid – Sahabat Muslim, menghadiri mejelis ilmu tentu banyak sekali manfaat yang kita peroleh. Baik tentang ketentuan, tata cara dan persoalan yang belum kita mengerti akan hal agama. Banyak keutamaan yang kita peroleh dalam menghadiri majelis ilmu baik di pengajian khususnya di masjid disamping mendapatkan ilmu. Kita juga dapat memperoleh keutamaan dari beritikaf di masjid.

Nah Sahabat, apa saja sih keutamaan menghadiri majelis ilmu? Untuk lebih jelasnya silahkan simak Artikel Pengetahuan Islam berikut ini dengan seksama.

Inilah Beberapa Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu Di Masjid

Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud yaitu

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Artinya :

Tidaklah sebuah kaum berkumpul di dalam rumah diantara rumah-rumah Allah ta’ala, membaca kitab Allah, dan saling mempelajarinya diantara mereka melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, serta dikelilingi malaikat, dan Allah menyebut-nyebut mereka diantara malaikat yang ada di sisiNya.” (Hadits Abu Daud Nomor 1243)

  1. Dimudahkan jalannya menuju surga

Orang yang keluar dari rumahnya menuju masjid untuk menuntut ilmu syar’i, maka ia sedang menempuh jalan menuntut ilmu. Padahal Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Artinya :

Barangsiapa berjalan di suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2570).

  1. Mendapatkan ketenangan, rahmat dan dimuliakan para Malaikat

Orang yang mempelajari Al Qur’an di masjid disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendapat ketenangan, rahmat dan pemuliaan dari Malaikat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Artinya :

Tidaklah suatu kaum yang duduk berkumpul untuk mengingat Allah, kecuali dinaungi oleh para malaikat, dilimpahkan kepada mereka rahmat, akan diturunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah Azza Wa jalla akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para makhluk yang ada di sisi-Nya.” (Hadits Muslim Nomor 4868).

  1. Merupakan jihad fi sabilillah

Orang yang berangkat ke masjid untuk menuntut ilmu syar’i dianggap sebagai jihad fi sabilillah. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ جَاءَ مَسْجِدِي هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلَّا لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ

Artinya :

Barangsiapa mendatangi masjidku ini, ia tidak datang kecuali karena sesuatu yang ia pelajari atau ia ajarkan, maka ia seperti seorang mujahid fi sabillilah. Dan barangsiapa mendatanginya untuk selain itu, maka ia seperti seseorang yang melihat barang milik orang lain.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 223).

  1. Dicatat sebagai orang yang shalat hingga kembali ke rumah

Jika seorang berangkat ke masjid berniat untuk shalat, kemudian setelah shalat ada pengajian (majelis ilmu), maka selama ia berada di majelis ilmu dan selama ada di masjid, ia terus dicatat sebagai orang yang sedang shalat hingga kembali ke rumah.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا تَوَضَّأْتَ فَأَحْسَنْتَ وُضُوءَكَ ثُمَّ عَمَدْتَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَأَنْتَ فِي صَلَاةٍ فَلَا تُشَبِّكْ بَيْنَ أَصَابِعِكَ

Artinya :

Jika kamu berwudlu dan menyempurnakan wudlumu, kemudian kamu bermaksud pergi ke masjid maka (kamu akan dicatat) sebagai orang shalat. Maka janganlah kamu menganyam jari-jari tanganmu.” (HR. Ahmad).

  • Tasybik adalah menjalin jari-jemari.
Inilah Beberapa Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu Di Masjid
  1. Dicatat amalannya di ‘illiyyin

Jika seorang berangkat ke masjid berniat untuk shalat, kemudian setelah shalat ada pengajian (majelis ilmu) hingga waktu shalat selanjutnya (semisal pengajian antara maghrib dan isya), maka ia terus dicatat amalan kebaikan yang ia lakukan di masjid, di ‘illiyyin.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

صلاةٌ في إثرِ صلاةٍ لا لغوَ بينَهما كتابٌ في علِّيِّينَ

Artinya :

Seorang yang setelah selesai shalat (di masjid) kemudian menetap di sana hingga shalat berikutnya, tanpa melakukan laghwun (kesia-siaan) di antara keduanya, akan dicatat amalan tersebut di ‘illiyyin.” (HR. Abu Daud no. 1288, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

Dijelaskan oleh Syaikh Sulaiman bin Amir Ar Ruhaili hafizhahullah:

والكتاب في العلِّيِّينَ كتاب لا يكسر و يفتح إلى يوم القيامة محفوظ لا ينقص منه شيئ

Artinya :

Catatan amal di ‘illiyyin adalah catatan amal yang tidak akan rusak dan tidak akan dibuka hingga hari kiamat, tersimpan awet, tidak akan terkurangi sedikit pun

Dan tentu saja orang yang menuntut ilmu di masjid akan mendapat semua keutamaan menuntut ilmu secara umum yang ini jumlahnya banyak sekali.

Demikian ulasan tentang Inilah Beberapa Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu Di Masjid. Semoga Allah Ta’ala menambahkan semangat kepada semua untuk terus menuntut ilmu syar’i dan dipermudahkan untuk mengamalkannya. Terimakasih

√ Inilah Beberapa Manfaat Dari Mengucapkan Hamdalah

Inilah Beberapa Manfaat Dari Mengucapkan Hamdalah – Pada kesempatan ini Pengetahuan islam akan membahas tentang Manfaat Hamdalah. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan beberapa manfaat dari mengucapkan hamdalah dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya silahkan simak artikel berikut ini dengan seksama.

Inilah Beberapa Manfaat Dari Mengucapkan Hamdalah

Ucapan Alhamdulillah merupakan sebagai ungkapan rasa syukur kita terhadap segala nikmat, rizqi serta berbagai anugerah yang telah kita dapatkan. Allah SWT telah dengan jelas berjanji di dalam Al-qur’an qur’an;

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya :

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim Ayat 7)

Maka telah benar-benar jelas dijelaskan didalam Al-qur’an dan Al-qur’an jelas dan tidak diragukan lagi kebenarannya. Membiasakan mengucapkan alhamdulillah sangat baik karena mengucapkan alhamdulillah memberikan banyak manfaat untuk kehidupan kita.

Manfaat Ucapan Alhamdulillah

Adapun beberapa manfaat ucapan alhamdulillah yaitu:

Mendapatkan pahala

Orang yang mau mengucapkan alhamdulillah berati orang tersebut telah memuji Allah maka Allah akan memberikan pahala atas orang tersebut. Jika orang tersebut mengucapkan alhamdulilah lagi yang kedua kali maka Allah akan menambah lagi pahala baru untuk orang tersebut. Jadi sebenarnya kitamencari pahala tidak sulit dengan mengucapkan alhamdulillah saja Allah akan memberi pahala kepada kita tentunya mengucapkan alhamdulillah dengan niat yang baik dan ikhlas.

Diampuni dosa

Jika seseorang sampai tiga kali mengucapkan alhamdulillah, maka ucapan ketiganya itu Allah akan menambah pahala baru serta mengampuni dosanya. Betapa Maha Pemurahnya Allah, dengan mengucapkan alhamdulillah saja, Allah mengampuni dosa kita. Kadangkala manusia saja yang sering sombong dan merasa angkuh sehingga enggan untuk bersyukur, padahal sejatinya semua yang dimiliki oleh manusia adalah titipin dari Allah.

Ditambah rizqinya

Seorang hamba yang mau bersyukur kepada Allah maka Allah telah berjanji akan menambah rizqinya. Bersyukur disini juga bisa dilakukan dengan mengucapkan alhamdulillah. Selain mengucapkan alhamdulillah, kita juga bisa bersyukur dengan memberikan sedekah kepada orang yang kurang mampu.

Ketika kita mensedekahkan sebagian harta yang kita miliki kepada orang yang kurang mampu, bukan berati harta kita akan semakin berkurang, tetapi justru akan bertambah. Jika anda tidak percaya maka buktikan saja sendiri. Sebenarnya sebagian harta yang kita miliki juga merupakan bagian atau hak milik para orang yang kurang mampu, maka waji bagi mereka yang mempunyai harta berlimpah untuk mensedekahkannya.

Menciptakan Perasaan Baik

Ucapan alhamdulillah dapat menciptakan perasaan baik bagi orang yang sering mengucapkannya. Karena dengan mengucapkan alhamdulillah hati kita akan qana’ah (menerima dengan lapang dada) apa yang diberikan Allah kepada kita sehingga kita akan berpikiran positif dengan setiap ketentuan yang terjadi dan selalu berpikiran positif dengan takdir Allah.

Menentramkan jiwa

Orang yang senantiasa bersyukur dengan mengucap alhamdulillah akan senantiasa merasakan jiwa yang tentram. Jiwa yang tentram sangat mahal harganya karena tidak ada satupun di dunia ini yang menjualnya. Jiwa yang tentram akan tercipta jika hati kita senantiasa bersyukur atas segala nikmat dan pemberian Allah. Sekaya atau sebanyak apapun harta yang dimilik jika tidak bersyukur dengan apa yang dimilikinya maka akan susah untuk mendapatkan jiwa yang tentram. Maka dari itu sering-seringlah untuk bersyukur dengan mengucapkan alhamdulillah.

Menjaga kesehatan mental remaja

Remaja merupakan tahap awal pada diri mereka mulai mengenal dunia yang lebih luas dan nyata. Dalam fase ini remaja harus lebih banyak bersyukur karena dengan bersyukur akan menjaga kesehatan mental mereka. Remaja yang banyak bersyukur akan lebih merasa bahagia dibanding dengan remaja yang kurang bersyukur. Mereka yang sering bersyukur akan memiliki pandangan hidup yang lebih baik serta akan memicu tingkah laku yang positif baik dilingkungan keluarga, sekolah atau dalam masyarakat luas.

Meningkatkan kesejahteraan

Seseorang yang pandai bersyukur dengan mengucapkan alhamdulillah akan meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Bersyukur akan menjadi bengkel untuk memperbaiki penyakit hati sehingga hati kita akan senantiasa adem. Tidak ada hal yang lebih menetramkan kecuali hati kita merasa cukup dengan apa yang kita punyai sehingga kita akan merasa sejahtera dan bahagia.

Terhindar dari depresi atau stres

Orang yang kurang bersyukur akan lebih mudah terkena stres atau depresi karena mereka selalu merasa kurang dengan apa yang telah dimiliki. Mereka selalu memandang yang lebih tinggi sehingga susah untuk bersyukur. Dengan membiasakan mengucapkan alhamdulillah maka hati kita akan merasa tenang dan tidak terjadi stres.

Menjadi teman yang lebih bak bagi orang lain

Rasa syukur dengan mengucapkan alhamdulillah akan menimbulkan jiwa sosial yang kuat pada seseorang. Jiwa sosial akan menimbulkan sikap sosial yang positif seperti membantu orang lain yang sedang terkena musibah atau memotivasi orang lain yang sedang mengalami kegagalan dalam masalah hidup.

Tidur lebih nyenyak

Sebuah penelitian yang telah dilakukan membuktikan bahwa orang yang bersyukur akan tisur lebih nyenyak karena jiwanya terasa tenang. Jika seseorang yang mengalami insomnia maka bisa jadi orang tersebut kurang bersyukur dengan segala hal yang telah didapatkan.

√ Inilah Beberapa Manfaat Dari Mengucapkan Hamdalah
√ Inilah Beberapa Manfaat Dari Mengucapkan Hamdalah

Memperkuat hubungan dengan pasangan

Ketika kita bersyukur dengan pasangan yang telah diberikan Allah kepada kita, maka hal tersebut akan semakin menguatkan rasa cinta antar pasangan. Dengan bersyukur kita tidak akan menuntut pasangan agar menjadi seperti yang kita kehendaki sendiri yang belum tentu baik untuk pasangan kita. Dengan bersyukur maka kita akan menerima pasangan kita dengan segala kekurangannya sehingga akan menimalkan resiko berantem tetapi sebaliknya akan semakin menguatkan hubungan diantara keduanya.

Menjaga kesehatan jantung

Sangat dahsyat kehebatan dari manfaat bersykur dengan mengucapkan alhamdulillah karena dapat menjaga kesehatan jantung. Orang yang senantiasa bersyukur akan senantiasa tenang sehingga tidak mengalami gangguan pada jantungnya.

Memperkuat moral tim

Syukur kata yang sangat majur untuk memperkuat moral dalam tim. Atlit yang senantiatasa bersyukur dengan mengucapkan alhamdulillah akan lebih sedikit mengalami kelelahan akan hatinya senantiasa merasa senang dan ridho dengan apa yang terjadi dan yang dilakukannya. Kekuatan tersebut akan mampu menggantikan rasa lelah dengan rasa bahagia yang tak terhingga.

Sistem kekebalan yang lebih sehat

Rasa syukur akan menciptakan pikiran yang optimis sehingga mendorong sistem kekebalan yang ada ditubuh kita menjadi lebih kuat dan sehat, sehingga kita akan lebih jarang terkena penyakit.

Mencegah emosi negatif akibat datangnya musibah

Ketika terkena musibah, seseorang yang senantiasa bersyukur akan selalu memandang positif dan mengambil hikmah dari musibah yang terjadi sehingga tidak menimbulkan emosi yang hanya akan merugikan kita. Semoga kita semua tergolongan orang-orang yang senantiasa bersyukur dengan nikmat Allah SWT.

Demikian artikel tentang Inilah Beberapa Manfaat Dari Mengucapkan Hamdalah. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Aminn… Terimakasih.

Inilah Bagaimana Cara Agar Doa Kita Dikabulkan Allah

Inilah Bagaimana Cara Agar Doa Kita Dikabulkan Allah

Inilah Bagaimana Cara Agar Doa Kita Dikabulkan Allah – Pada kesempatan ini Pengetahuan islam membahas tentang Doa. Yang mana dalam pembahasan ini menjelaskan tentang bagaimana cara agar doa yang kita panjatkan kepada Allah SWT dikabulkan dengan secara jelas dan singkat. Untuk lebih jelasnya silahkan simak artikel berikut ini dengan seksama.

Inilah Bagaimana Cara Agar Doa Kita Dikabulkan Allah

Doa merupakan senjata orang mukmin. Doa merupakan bentuk dari penghambaan kita kepada Allah, bukti bahwa kita begitu lemah tanpa pertolongan Allah. karena itu orang yang tidak pernah berdoa dan meminta kepada Allah termasuk dari kategori orang yang sombong.

  1. Memperhatikan waktu mustajab dalam berdoa.

Seperti saat bulan Ramadhan, antara adzan dan iqomah, sepertiga malam terakhir, disaat hujan, ketika puasa menjelang waktu berbuka.

لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ

Artinya :

Tidak akan tertolak doa antara adzan dan iqamah.” (Hadits Abu Daud Nomor 437)

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Artinya :

Keadaan hamba yang paling dekat dengan Allah Azza wa Jalla adalah saat ia sujud, maka perbanyaklah berdoa saat sujud.”(Hadits Nasai Nomor 1125)

يَنْزِلُ رَبُّنَا كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا حَتَّى يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Artinya :

Setiap malam Rabb kita turun ke langit dunia di sepertiga malam yang akhir. Lalu Dia berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku beri dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni.” (Hadits Abu Daud Nomor 4108)

  1. Menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan.

Seperti dalam sebuah hadist.. Rosulullah bersabda:

إِنَّ رَبَّكُمْ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَرْفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ فَيَرُدَّهُمَا صِفْرًا أَوْ قَالَ خَائِبَتَيْنِ

Atinya :

Sesungguhnya Rabb kalian Maha Hidup lagi Maha Pemurah, Malu dari hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian mengembalikannya dengan tangan hampa, atau bersabda;…kedua tangannya yang tidak mendapatkan apa-apa.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 3855)

  1. Berdoa dengan suara lirih, khusyu’, dan rendah diri.

Allah SWT. telah berfirman dalam QS. Al-Araf ayat 55 yaitu,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Artinya :

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Jika hanya Allah, Tuhan kalian, yang menjadikan alam, maka memohonlah kepada-Nya dengan beribadah ritual atau ibadah lainnya sambil berdoa, berendah diri dengan suara keras atau tidak. Jangan melampaui batas dengan menyekutukan-Nya atau menganiaya seseorang. Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

  1. Berprasangka baik pada Allah, yakin bahwa doa akan dikabulkan Allah.

Sebagaimana Rasulullah SAW. telah bersabda,

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ

Artinya :

Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi 3401)

  1. Tidak tergesa-gesa dalam pengharapan terkabulnya doa.

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ فَيَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

Artinya :

Akan diijabahi doa kalian, jika tidak tergesa-gesa. Sungguh kamu telah berdoa, maka atau kenapa tidak diijabahi?” (HR. Imam Malik 446).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahawa Rasulullah bersabda

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ فَيَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ فَلَا أَوْ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

Artinya :

Doa seseorang dari kalian akan senantiasa dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa hingga mengatakan; ‘Aku telah berdoa kepada Rabbku, namun tidak atau belum juga dikabulkan untukku.” (HR. Muslim 4916)

Inilah Bagaimana Cara Agar Doa Kita Dikabulkan Allah
Inilah Bagaimana Cara Agar Doa Kita Dikabulkan Allah
  1. Mulailah doa dengan memuji Allah dan mengakhirinya dengan shalawat kepada nabi Muhammad

Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar seseorang berdoa dalam shalatnya dan tidak mengucapkan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَجِلَ هَذَا ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللَّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ لْيُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ لْيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ

Artinya :

Orang ini telah tergesa-gesa.” Kemudian beliau memanggilnya dan berkata kepadanya atau kepada orang lain: “Apabila salah seorang diantara kalian melakukan shalat maka hendaknya ia memulai dengan memuji Allah kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berdoa setelah itu dengan doa yang ia kehendaki.” (HR. Tirmidzi 3399)

Demikian artikel singkat Inilah Bagaimana Cara Agar Doa Kita Dikabulkan Allah. Semoga kita senantiasa selalu menjadikan doa sebagai bentuk ibadah sehari-hari. Terimakasih.

Amalku Adalah Buah Dari Ilmu Yang Kuperoleh

Amalku Adalah Buah Dari Ilmu Yang Kuperoleh

Amalku Adalah Buah Dari Ilmu Yang Kuperoleh – Sahabat Muslim, Amal adalah tujuan dari kita belajar. Ilmu yang tak membuahkan amal, menunjukkan perjuangan menuntut ilmu yang dia lalui selama ini, gagal, tak berbuah. Kata pepatah, “Ilmu tanpa amal, ibarat pohon tanpa buah.”

Nah Sahabat, bagaimana proses ilmu yang diperoleh dapat menjadi buah amal?. Untuk lebih jelasnya silahkan simak artikel Pengetahuan Islam berikut ini dengan seksama.

Amalku Adalah Buah Dari Ilmu Yang Kuperoleh

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah, saat menjelaskan hadis,

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Artinya :

Siapa yang Allah inginkan kebaikan pada dirinya, maka akan Allah pahamkan tentang agama.” “Hadits Bukhari Nomor 2884)

Beliau berkata,

وهذا اذا أريد بالفقه العلم المستلزم للعمل وأما ان أريد به مجرد العلم فلا يدل على أن من فقه في الدين فقد أريد به خيرا

Artinya :

Keutamaan ini dapat diraih ketika belajar ilmu kemudian membuahkan amal. Adapun jika belajar ilmu tujuannya sebatas mengilmui atau wawasan (tidak diamalkan), yang seperti itu tidak menunjukkan orang yang mempelajari agama berarti diinginkan kebaikan padanya.” (Miftah Dar As-Sa’adah 1/65)

Jadi, ilmu itu sarana untuk sampai pada amal yang benar, bagaimana menghamba di hadapan Allah dengan benar. Bahasa ringkasnya, ilmu adalah sarana, sementara amal adalah tujuan.

Kalau kata Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah,

من فسد من علمائنا ففيه شبه من اليهود ومن فسد من عبادنا ففيه شبه من النصارى

Artinya :

Bila ada ulama kita yang rusak, maka ia serupa dengan kaum Yahudi. Ahli ibadah kita yang rusak, maka ia serupa dengan kaum Nasrani.

Karena ulama yang berilmu tanpa amal, rusak, seperti kaum Yahudi. Orang yang rajin ibadah tanpa ilmu, juga rusak, seperti kaum Nasrani.

Seorang tak akan dapat mewujudkan penghambaan yang sempurna di hadapan Allah, kecuali dengan dua modal yaitu Ilmu yang manfaat dan amal sholih.

Sebagaimana disinggung dalam ayat,

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ

Artinya :

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) al-huda dan diinul haq.” (QS. At Taubah Ayat 33).

Penjelasan Ayat;

  • Al-Huda, kata para ulama tafsir, maknanya adalah ilmu yang manfaat.
  • Sementara diinul haq maknanya adalah amal sholih.

Jadi, pesan utama dari tulisan ini, ilmu adalah sarana dan amal adalah tujuannya.

Pertama : Kita akan ditanya tentang ilmu kita, sudahkah diamalkan?

Nabi shallallahualaihiwasallam mengabarkan, di hari kiamat kelak, kita akan ditanya tentang ilmu yang sudah diraih, untuk apa dan sudahkah diamalkan?

Sahabat Abu Barzah Al-Aslami meriwayatkan hadis dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

Artinya :

Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang ilmunya untuk apa dia amalkan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan kemana dia infakkan dan tentang tubuhnya untuk apa dia gunakan.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2341)

Mendengar pesan mulia ini, sahabat Abu Darda’ sampai pernah mengatakan,

انما أخشى يوم القيامة أن يناديني على رؤوس الخلائق فيقول : يا عويمر ! ماذا عملت فيما علمت؟

Artinya :

Sungguh aku takut saat kiamat nanti aku dipanggil dihadapan manusia, lalu aku ditanya,”Uwaimir, apa yang sudah kamu amalkan dari ilmu yang kamu ketahui?

Bisa anda renungkan, beliau adalah sahabat Nabi, hidup bersama Nabi dan berguru langsung kepada Nabi, pernah menghadiri perang di jalan Allah bersama Nabi. Namun, sedemikian besar rasa takut beliau bila-bila ilmu tak diamalkan.

Berbeda dengan sebagian orang sekarang, yang makin bangga saat menguasai banyak ilmu, namun sama sekali tak gelisah saat tak membuahkan amal.

Saat kita merasa nyaman dengan ilmu yang tak membuahkan amal, hadirkan rasa khawatir itu? Adakah ketakutan kalau-kalau mengidap penyakitnya orang munafik, yang mengumpulkan antara dosa dan angan-angan kosong mendapat surga?

Bila iya… mari kita bertaubat, perbaiki hati dan berbuatlah, amalkanlah ilmumu.

Amalku Adalah Buah Dari Ilmu Yang Kuperoleh
Amalku Adalah Buah Dari Ilmu Yang Kuperoleh

Sangat menarik penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat menjawab pertanyaan ibunda Aisyah radhiyallahu’anha tentang makna ayat,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

Artinya :

Dan orang-orang yang mendermakan apa yang telah mereka berikan, disertai hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mukminun Ayat 60).

“Apakah yang dimaksud pada ayat ini adalah mereka yang suka minum khomr dan mencuri?” tanya Ibunda Aisyah.

لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُمْ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ

Artinya :

Bukan, wahai putri Ash Shiddiq, tapi mereka adalah orang-orang yang puasa, shalat dan bersedekah, mereka takut kalau amalan mereka tidak diterima. Mereka itulah orang yang bersegera dalam kebaikan.” (Hadits Tirmidzi Nomor 3099)

Inilah karakter orang yang sehat imannya, dia dapat mempertemukan antara amal sholih dan rasa takut kepada Allah. Semoga Allah menjadikan kita mukmin sejati, dan dijauhkan dari karakter kaum munafik

Demikian ulasan tentang Amalku Adalah Buah Dari Ilmu Yang Kuperoleh. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih

Inilah Beberapa Kisah Dari Sebagian Para Ulama Salaf

Inilah Beberapa Kisah Dari Sebagian Para Ulama Salaf

Inilah Beberapa Kisah Dari Sebagian Para Ulama Salaf  – Sahabat Muslim, perjalanan kisah ulama salaf selalu menarik untuk disimak. Apalagi dalam kisah-kisah mereka tersebut tergambar potret keteladanan dalam semangat mencari ilmu dan kemudian mengamalkannya.

Nah Sahabat, berikut ini kami sampaikan beberapa contoh teladan salaf dalam mengamalkan ilmu yang telah mereka peroleh. Untuk lebih jelasnya silahkan simak artikel Pengetahuan Islam berikut ini dengan seksama.

Inilah Beberapa Kisah Dari Sebagian Para Ulama Salaf

Dalam menempuh proses mencari jati diri, terutama dalam memperdalam ilmu pengetahuan. Ulama salaf telah berjuang keras demi ilmu yang mereka peroleh dapat bermanfaat dan diamalkan secara terus-menerus.

Ali Bin Abi Thalib

Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 6318) dan Muslim (no. 2727), dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, ketika menceritakan kisah Fathimah binti Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu hari, Fathimah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta diberi pembantu (budak). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada anaknya, Fathimah,

أَلاَ أَدُلُّكُمَا عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ؟ إِذَا أَوَيْتُمَا إِلَى فِرَاشِكُمَا، أَوْ أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا، فَكَبِّرَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ، وَسَبِّحَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ، وَاحْمَدَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ، فَهَذَا خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ

Artinya :

Maukah kalian berdua aku tunjukkan kepada sesuatu yang lebih baik dari seorang pembantu? Jika kalian hendak tidur, ucapkanlah takbir 33 kali, tasbih 33 kali, dan tahmid 33 kali. Hal itu lebih baik dari seorang pembantu.

‘Ali berkata, “Aku tidak pernah meninggalkan amal itu setelahnya (setelah ‘Ali mendengarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).” Ditanyakan kepada ‘Ali bin Abi Thalib, “Tidak pula ketika malam perang Shiffin?” Yaitu peperangan yang masyhur, yang terkadang melalaikan seseorang dari berdzikir kepada Allah Ta’ala. ‘Ali menjawab, “Tidak pula (aku tinggalkan) ketika perang Shiffin.” (HR. Bukhari no. 5362 dan Muslim no. 80)

Ummu Habibah

Dari Abu Dawud bin Abu Hindun, dari Nu’man bin Salim, dari ‘Amr bin Aus, beliau berkata, “Anbasah bin Abu Sufyan menceritakan kepadaku dengan berbisik-bisik ketika beliau sakit yang menyebabkan beliau meninggal dunia, beliau berkata, “Aku mendengar Ummu Habibah berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

Artinya :

Barangsiapa mendirikan shalat dua belas rakaat sehari semalam, akan dibangun untuknya rumah di surga.”

Ummu Habibah berkata, “Aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Anbasah berkata, “Aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar dari Ummu Habibah.” Amr bin Aus berkata, “Aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar dari ‘Anbasah.” Nu’man bin Salim berkata, “Aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar dari ‘Amr bin Aus.” (HR. Muslim no. 728)

Inilah potret semangat yang tinggi dalam bersegera untuk mengamalkan ilmu yang mereka peroleh dan merutinkan amal tersebut.

Abu Hurairah RA.

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,

“Kekasihku berwasiat kepadaku tentang tiga hal, yang tidak pernah aku tinggalkan sampai aku mati,

صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَصَلاَةِ الضُّحَى، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

Artinya :

Puasa tiga hari setiap bulan, shalat dhuha, dan tidur setelah menunaikan shalat witir.” (HR. Bukhari no. 1178)

Potret di atas adalah sama persis dengan hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Darda’ radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,

أَوْصَانِي حَبِيبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ، لَنْ أَدَعَهُنَّ مَا عِشْتُ

Artinya :

Kekasihku berwasiat kepadaku tentang tiga hal, yang tidak pernah aku tinggalkan selama aku hidup.” Kemudian beliau menyebutkan tiga hal di atas.” (HR. Muslim no. 722)

Umar Bin Abu Salamah

Umar bin Abu Salamah radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Saat aku masih kecil, aku berada dalam pengasuhan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Pada saat makan bersama beliau), tanganku menjelajah ke mana-mana di wadah makanan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku,

يَا غُلَامُ ! سَمِّ اَللَّهَ , وَكُلْ بِيَمِينِكَ , وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

Artinya :

Wahai anak kecil, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.” (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Dalam riwayat Bukhari terdapat tambahan bahwa ‘Umar bin Abu Salamah radhiyallahu ‘anhuma berkata,

فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِي بَعْدُ

Artinya :

Aku terus-menerus makan dengan model seperti itu setelahnya.”

Lihatlah bagaimana seorang anak kecil yang diasuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ditegur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sekali saja, dan beliau bersegera mengingat teguran tersebut dan melaksanakannya sejak saat itu juga. Tidak perlu menunggu sampai ditegur dua, tiga, empat kali dan seterusnya.

Sufyan Ats-Tsauri

Kalau kita melihat sejarah perjalanan para ulama salaf setelah sahabat radhiyallahu Ta’ala ‘anhum, maka kita akan jumpai semangat yang sama sebagaimana semangat para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu Ta’ala berkata,

ما بلغني حديث عن رسول الله صلى الله عليه و سلم إلا عملت به

Artinya :

Tidaklah sampai sebuah hadits kepadaku dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali aku mengamalkannya.”

Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala menceritakan keadaan gurunya, yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala, ketika beliau menyebutkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu ‘Umamah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيّ فِي دُبُرِ الصّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ فِي ذِمّةِ اللّهِ إلَى الصّلَاةِ الْأُخْرَى

Artinya :

Barangsiapa membaca ayat kursi pada akhir shalat wajib (maksudnya, setelah salam) maka dia berada dalam jaminan Allah sampai shalat berikutnya.”

Ibnul Qayyim berkata, Telah sampai kepadaku dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, bahwa beliau berkata,

مَا تَرَكْتُهَا عَقِيبَ كُلّ صَلَاةٍ

Artinya :

Aku tidak pernah meninggalkannya setiap kali selesai shalat.” (Zaadul Ma’aad, 1/285)

Juga diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu Ta’ala, penulis kitab hadits Al-Musnad. Dan kita mengetahui betapa tebal dan betapa banyak hadits yang ada di kitab Al-Musnad.

Imam Ahmad rahimahullahu Ta’ala berkata, “Tidaklah aku menulis suatu hadits, kecuali aku mengamalkannya. Sampai-sampai aku mendengar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dan memberikan juru bekam upah satu dinar, lalu aku pun berbekam dan memberikan upah satu dinar kepada juru bekam.”

Demikian ulasan tentang Inilah Beberapa Kisah Dari Sebagian Para Ulama Salaf. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

Inilah 10 Cara Melatih Kedisiplinan Anak Sejak Dini

Inilah 10 Cara Melatih Kedisiplinan Anak Sejak Dini

Inilah 10 Cara Melatih Kedisiplinan Anak Sejak Dini – Sahabat Muslim, sebagai orang tua sering sekali mengalami kesulitan dalam mengatasi perilaku anak kita. Terutama dalam hal disiplin baik dalam melaksanakan ibadah, sekolah, kegiatan atau hal lainnya.

Nah Sahabat, kali ini kita akan membahas mengenai bagaimana cara melatih kedisiplinan anak sejak dini? untuk lebih jelasnya mari kita simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini dengan seksama.

Inilah 10 Cara Melatih Kedisiplinan Anak Sejak Dini

Salah satu tugas utama orang tua yaitu mendidik anak sejak usia dini agar dapat mengembangkan sikap disiplin terhadap anak. Orang tua sering mengingatkan anak-anak mereka ketika mereka mengganggu, merusak, tidak mengikuti instruksi, atau karena tidak dapat mengendalikan apa yang mereka katakan dan lakukan. Ini semua membutuhkan disiplin diri atau pengendalian diri. Anak-anak muda sangatlah impulsif.

Beberapa anak yang memiliki ADHD atau faktor biologis lainnya memperparah level impulsif ini. Bagian dari solusi untuk mengendalikan rasa impulsif adalah belajar disiplin. Disiplin adalah aset yang luar biasa untuk mengatasi tantangan hidup. Begitu banyak masalah dengan orang lain maupun pribadi yang dapat dihindari atau dikendalikan ketika seseorang memiliki kontrol diri.

Berikut adalah beberapa cara untuk melatih kedisiplinan kepada anak-anak;

  1. Ajari Anak Untuk Datang Ketika Mereka Dipanggil

Ketika orang tua memanggil anak, anak yang seharusnya tidak berteriak, “Apa?” dari semua tempat di seluruh rumah, tempat parkir atau taman bermain. Ajari mereka untuk datang kepada orangtua, mendekat untuk melakukan dialog dengan orang tua. Hal ini dapat membantu membuat anak menjadi aktif dan tanggap.

  1. Ajari Anak Untuk Merespon Secara Positif

Kebanyakan anak tidak suka diingatkan dan menanggapi negatif baik secara agresif (kemarahan) atau pasif (sikap buruk). Hal ini tidak bisa diterima dan menjadi kesempatan yang baik untuk mengajarkan disiplin. Salah satu fakta kehidupan adalah bahwa orang sering harus mengikuti arah yang tidak mereka pilih. Ajari anak untuk merespon dengan sikap yang baik serta perilaku yang tepat.

Hal ini membutuhkan disiplin dan membantu anak-anak belajar untuk mengendalikan dorongan keinginan mereka. Sebuah respon yang baik untuk mau berubah dan dikoreksi kadang-kadang sulit, tetapi jika terus dilatih maka akan membantu anak mengembangkan keterampilan yang akan membantu mereka selamanya.

  1. Sejumlah Keterampilan Sosial Membutuhkan Disiplin

Pujilah anak-anak ketika mereka menunjukkan disiplin secara spesifik pada hal yang telah ia lakukan. Mendengarkan, mengetahui kapan dan bagaimana cara berbicara, mengendalikan amarah, melaporkan kembali setelah menyelesaikan tugas, semua memerlukan disiplin diri.

  1. Mendorong Anak-Anak Untuk Mengambil Kegiatan Yang Membangun Disiplin Diri

Kegiatan-kegiatan seperti olahraga, bahasa asing, origami, bertanggung jawab merawat hewan peliharaan, menghafal kitab suci, ruang bersih, atau sejumlah kegiatan lainnya sangat membantu melatih disiplin.

  1. Beri Imbalan Edukatif

Ketika seorang anak menerima imbalan ata pekerjaan dicapai, seperti tanda bintang di dindind atau perlakuansetiap mereka melakukan sendiri tanpa disuruh, ternyata menumbuhkan disiplin diri. Imbalan eksternal memberikan kesempatan besar untuk berbicara tentang imbalan internal. Katakan pula kalimat seperti “Kamu hebat ya, selalu bangun pagi.” atau “Wah, kamu menggantikan waktu menonton kartun favoritmu untuk membersihkan kamar. Ibu bangga sekali.” Atau kalimat-kalimat lain yang menunjukkan disiplin diri.

  1. Ajarkan Tidur Tepat Waktu

Beberapa anak memiliki waktu tidur yang tidak berpola. Cobalah untuk mengaturnya demi untuk mengajarkan disiplin diri untuk anak-anak. Tidur tepat waktu membutuhkan banyak kontrol diri bagi seorang anak untuk tinggal diam-diam di tempat tidur sementara orang tua masih terjaga. Mengatur waktu tidur, menyiapkan hal-hal yang diperlukan esok, sangat berpengaruh pada pola keteraturan anak.

Inilah 10 Cara Melatih Kedisiplinan Anak Sejak Dini
Inilah 10 Cara Melatih Kedisiplinan Anak Sejak Dini
  1. Beri Rutinitas

Setiap pagi, berikan tugas dan jadwal keluarga untuk memberikan peluang bagi anak-anak belajar tanggung jawab dan disiplin diri. Tanggung jawab “melakukan hal yang benar bahkan ketika tidak ada yang melihat.”

Hadiah untuk bertanggung jawab disebut dengan hak. Anak yang bertanggung jawab untuk bersiap-siap dan sarapan tepat pukul 7:30 diberikan hak melek sampai waktu tidur mereka hari itu. Hadiah seperti, memilih pakaian sendiri adalah hak istimewa untuk berpakaian sebelum batas waktu. Manfaat hidup sederhana dipandang sebagai hak yang terkait dengan tanggung jawab dasar.

  1. Pastikan Anda Tahu Mengapa Anda Mengatakan Tidak

Sebagai orang tua, anda harus menjaga anak-anak Anda sehat dan aman. Anda harus membantu anak-anak Anda belajar untuk bergaul dengan orang lain. Dan Anda harus tetap berpegang pada apa yang Anda percaya. Jelaskan alasan Anda untuk mengatakan tidak. Pastikan anak Anda mengerti alasan Anda.

  1. Berikan Anak-Anak Suara

Anak membutuhkan eksistensi dalam menetapkan batas. Mereka membutuhkan kesempatan untuk memberitahu Anda apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Bahkan seorang anak lima atau enam dapat berbicara dengan Anda dan membantu Anda menetapkan batas kata disiplin.

Ketika anak-anak membantu Anda membuat aturan, mereka lebih cenderung untuk mematuhi mereka. Sangat penting untuk memahami sudut pandang mereka, tetapi hanya karena Anda mendengarkan mereka, tidak berarti bahwa Anda harus setuju dengan mereka dan mengubah aturan Anda. Anda dapat mengatur banyak batas bersama-sama, meskipun beberapa mungkin harus diatur oleh Anda sendiri.

  1. Katakanlah Apa Yang Anda Maksud

Jelaskan dengan jelas tentang batas yang Anda maksud. Sebagai contoh, katakan hal yang spesifik, misalkan jam berapa Anda ingin anak Anda untuk sampai di rumah. Katakan “jam 12” bukan “Jangan terlambat.”

Demikian artikel tentang Inilah 10 Cara Melatih Kedisiplinan Anak Sejak Dini. Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan pengetahuan kita semua. Terimakasih.

10 Cara Agar Hati Tenang Menurut Pandangan Islam

Inilah Cara Agar Hati Tenang Menurut Pandangan Islam – Dalam kesempatan ini akan membahas tentang Hati. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan tentang 10 cara mengatasi agar hati tenang menurut pandangan islam dengan singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan Pengetahuanislam.com berikut ini dengan seksama.

10 Cara Agar Hati Tenang Menurut Pandangan Islam

Dalam hidup, setiap manusia pasti memiliki kesedihan dan masalahnya masing-masing. Ada yang diberi masalah yang berat, ada juga yang biasa-biasa saja. Mereka yang merasa bahwa masalah hidup yang mereka miliki terlalu besar, hingga kemudian nekat melakukan hal-hal yang tidak seharusnya benar untuk dilakukan. Semua itu mereka perbuat hanya demi bisa menghindari masalah tersebut; bukan mengatasi.

Kegelisah serta ketidaktentraman hati menjadikan orang mudah dipengaruhi oleh bujuk rayu iblis hingga terjerumus ke dalam perbuatan maksiat. Padahal, tiada ada Allah memberikan cobaan kepada hamba-Nya melainkan sesuai dengan kemampuan untuk menghadapi. Orang-orang yang mudah menyerah sesungguhnya hanya merugikan kepada diri mereka sendiri. Untuk itu, sangat penting untuk mendapatkan ketenangan jiwa dan raga agar bisa menghadapi segala macam cobaan hidup di dunia ini.

Di dalam Islam sendiri diajarkan cara untuk kita bisa mendapatkan hati yang tenang sehingga dalam berbuat sesuatu tidak akan merasa tertekan maupun gelisah. Berikut akan cara agar membuat hati kita menjadi tenang sehingga dalam menghadapi masalah pun kita masih bisa bersikap optimis

1. Dzikir

Dzikir berarti kita selalu mengingat Allah dalam setiap langkah dan perbuatan yang kita lakukan. Tidak ada yang paling bisa membuat hati kita menjadi lebih baik kecuali selalu mengingat kepada Maha Pencipta. Tanamkan dalam diri untuk senantiasa berdzikir baik dalam lisan maupun perbuatan, sehingga apa yang kita perbuatan adalah berdasarkan kepada mengharap ridha Allah SWT semata.

Allah SWT berfirman yang artinya;

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya : “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’du : 28).

2. Shalat

Shalat yang dimaksud selain shalat wajib lima waktu juga baik bagi kita untuk memperbanyak shalat sunnah. Karena melalui shalat, merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri sekaligus dapat berkomunikasi kepada Allah SWT. Shalat juga bisa mengobati berbagai jenis penyakit hati seperti sombong, iri, dengki, termasuk untuk mendapatkan ketenangan jiwa.

Shalat yang dilakukan secara benar dan khusyu’ akan membantu membuat hati menjadi lebih tenang. Selepas shalat kita juga bisa mengadu kepada Allah tentang segala keluh kesah kita, sekaligus berdo’a agar dipermudah dalam menghadapi masalah hidup. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya;

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya : “Hanya kepada-Mu lah kami menyembah, dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah Ayat 5).

3. Sabar

Ketika menghadapi masalah, ingatlah kalau semua itu diberikan oleh Allah bukan untuk menyulitkan kita, melainkan untuk menguji iman dan taqwa kita. Ketika kita sadar akan hal tersebut, yang perlu kita lakukan ialah bersabar dalam menghadapi segala macam permasalahan dan cobaan yang diberikan. Allah SWT berfirman yang artinya;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah ayat 153).

Dengan bersabar, insya Allah kita bisa menghadapai segala sesuatunya dengan lebih tenang.

4. Membaca, mendengarkan, serta mengamalkan Al-Qur’an

Allah SWT berfirman yang artinya;

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Artinya : “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.” (QS. Az Zumar ayat 23).

5. Selalu bersangka baik kepada Allah SWT

Yang namanya positive-thinking itu tidak hanya kita lakukan kepada sesama manusia, melainkan juga kepada Allah SWT. Kita sadar bahwa hidup tidak pernah lepas daripada ujian atau masalah. Semuanya adalah atas kehendak Allah SWT. Jangan pernah menyalahkan takdir Allah atas apa-apa yang terjadi pada hidup kita karena sebenarnya Allah SWT memberikan ujian tidak lain untuk menguji iman dan taqwa kita kepada-Nya. Percaya, bahwa selalu ada hikmah di balik segala cobaan yang kita hadapi.

6. Membiasakan diri bersuci

Menjaga diri dari hadast dan najis dengan cara menjaga wudhu merupakan salah satu cara untuk mendapatkan ketenangan hati karena dalam keadaan suci, insya Allah pikiran kita akan menjadi lebih tenang ditambah dengan selalu mengucap dzikir mengingat kepada Allah SWT.

7. Menjaga siaturrahmi

Sebagai manusia, kita perlu untuk saling berhubungan dengan sesama manusia karena kodrat kita memang sebagai makhluk sosial yang butuh beriteraksi satu sama lain. Akan tetapi, tidak jarang antar sesama manusia itu terjadi perselisihan atau kesalahpahaman yang kemudian menyebabkan pertikaian. Ini merupakan salah satu sumber penyebab dari pada ketidaktenangan hati.

8. Senantiasa bersyukur

Dalam hidup, kita harus pandai bersyukur. Artinya, tidak hanya saat mendapatkan rezeki atau kesenangan, namun dalam keadaan sulit pun kita tetap harus bersyukur kepada Allah SWT. Dengan bersyukur, kita menyadari bahwa apa-apa yang kita miliki tidak lain segala sesuatunya hanyalah milik Allah SWT. Kita tidak memiliki apapun; harta, tahta, bahkan nyawa kita sendiri adalah milik Allah SWT.

Karena sadar bahwa Allah adalah pemilik segalanya, kita pun tidak perlu merasa sakit hati apabila suatu waktu kita harus kehilangan atau merasa kesedihan akan sesuatu hal. Kita percaya, Allah telah mengatur segala-galanya. Dengan begitu, kita pun akan merasa lebih lapang dan tenang karena Allah akan menjaga segalanya bagi kita.

Sebaliknya, bagi orang yang tidak pandai bersyukur, Allah SWT berfirman;

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

Artinya : “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (Surat An-Nahl Ayat 112)

9. Yakin terhadap pertolongan Allah

Sesulit apapun hidup, seberat apapun masalah yang kita hadapi, kita yakin bahwa Allah tidak akan memberi cobaan yang hamba-Nya tidak mampu untuk menghadapinya. Kita yakin bahwa Allah SWT pasti akan membantu kita melewati semua rintangan itu asal kita menjalaninya dengan ikhlas dan sabar serta selalu bertawakal kepada-Nya.

Sebab, ketidaktenangan terjadi ketika seseorang selalu memikirkan tentang beratnya hidup, tetapi ia lupa bahwa ada Allah yang selalu bersamanya. Mintalah pertolongan kepada Allah, niscaya Dia akan memberi pertolongan.

Allah SWT berfirman yang artinya:

وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ ۚ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya : “Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Surat Al-Anfal Ayat 10)

10. Memperhatikan dan sadar akan kekuasan Allah SWT

Manusia adalah makhluk yang lemah, sementara Allah SWT dengan segala kuasa-Nya mampu mengendalikan apapun. Sebagai manusia, kita harus menyadari bahwa tiada ada yang lebih berkuasa dibandingkan Sang Pencipta. Seseorang menjadi tidak tenang ketika ia memikirkan akan kemampuannya untuk menghadapi sesuatu, sedangkan ia lupa bahwa semua kekuatan dan kemampuan yang ia miliki datangnya dari Allah SWT.

Ketika manusia itu lupa bahwa Allah Maha Kuasa, ia akan berpikir bahwa ia pasti bisa menghadapi sesuatu. Namun ketika keadaan tidak memungkinkan, ia akan menjadi resah karena merasa dirinya tidak memiliki kemampuan. Padahal, ada Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah SWT berfirman yang artinya;

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Surat Al-Baqarah Ayat 260)

Demikian ulasan tentang 10 Cara Agar Hati Tenang Menurut Pandangan Islam. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih

Baca juga Artikel:
– Pengertian Dan Dasar Menikah Menurut Pandangan Islam
– Hukum Menikahi Wanita Non Muslim Menurut Islam
– Inilah Doa Agar Diwafatkan Dalam Keadaan Islam

Inilah Keutamaan Ulama Menurut Pandangan Islam

Inilah Keutamaan Ulama Menurut Pandangan Islam – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Keutamaan Ulama. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan beberapa keutamaan ulama neurut pandangan islam dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya silahkan simak pengetahuanislam.com berikut ini dengan seksama.

Inilah Keutamaan Ulama Menurut Pandangan Islam

Sebagai muslim yang mencari jati diri dalam religius tentu harus ada pembimbing yang menuntun dan mengarahkan sesuai dengan bidangnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak menyebutkan keutamaan ahlul ilmi dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata :

“Tidaklah mewarisi dari para nabi kecuali para ulama. Maka merekalah pewaris para nabi. Merekalah yang mewarisi, ilmu, amal dan tugas membimbing umat kepada syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 3/434)

Oleh karena itu, termasuk perkara yang sangat penting untuk kita ketahui dan pahami adalah manzilah (kedudukan) ahlul ilmi yang mulia di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga kita bisa beradab terhadap mereka, menghargai mereka dan menempatkan mereka pada kedudukannya. Itulah tanda barakahnya ilmu dan rasa syukur kita dengan masih banyaknya para ulama di zaman ini.

Baca : Biografi Imam Syafi’i, Sejarah Dan Keistimewaan Terlengkap

Ahlul ilmi adalah orang yang berkedudukan tinggi di dunia dan akhirat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artinya : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah Ayat 11)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata dalam tafsirnya: 

“Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengangkat ahlul ilmi dan ahlul iman beberapa derajat, sesuai dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala khususkan kepada mereka (berupa ilmu dan iman).”

Baca : Peran Penting Ulama Untuk Kemandirian Bangsa 

Ahlul ilmi adalah ahlul khasyyah (orang-orang yang takut) dan ahlut taqwa (orang yang bertakwa)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al Fathir ayat 28 yaitu :

إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Artinya : “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir Ayat 28)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَاللهِ، إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Artinya : “Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan yang paling bertakwa kepada-Nya. Namun aku berpuasa dan berbuka, aku shalat malam dan aku tidur, dan akupun menikahi para wanita. Barangsiapa membenci sunnahku, dia bukan termasuk golonganku.” (Muttafaqun ‘alaih dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata: 

“Setiap orang yang lebih berilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, dialah orang yang lebih banyak takut kepada-Nya. Rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut mengharuskan dia menahan diri dari kemaksiatan dan mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Dzat yang dia takuti. Dan ayat ini adalah dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu, karena ilmu itulah yang mendorong untuk takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Ahlul ilmi adalah orang yang paling peduli terhadap umat

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ

Artinya : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah.” (Ali ‘Imran Ayat 110)

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَوْقَدَ نَارًا فَجَعَلَ الْجَنَاذِبُ وَالْفِرَاشُ يَقَعْنَ فِيْهَا وَهُوَ يَذُبُّهُنَّ عَنْهَا، وَأَنَا آخُذُ بِحُجَزِكُمْ عَنِ النَّارِ وَأَنْتُمْ تُفَلَّتُونَ مِنْ يَدِي

Artinya : “Permisalanku dan permisalan kalian adalah seperti seseorang yang menyalakan api, kemudian mulailah serangga kecil dan kupu-kupu menjatuhkan diri kepada api tersebut. Padahal orang itu senantiasa menghalau hewan-hewan itu darinya. Akupun menahan pinggang kalian dari api neraka dalam keadaan kalian berusaha melepaskan diri dari kedua tanganku.” (HR. Muslim)

Asingnya ahlul ilmi di kalangan umat merupakan alamat kebinasaan umat

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا مِنَ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءَ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari umat manusia dengan sekali cabut. Akan tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga bila Dia tidak menyisakan seorang alim pun (sampai) umat manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin mereka. Maka mereka (para pemimpin itu) ditanya, lalu berfatwa tanpa ilmu. Maka mereka sesat dan menyesatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Baca : Pelopor Ilmu Fiqih Dan Taklid Selain Madzab 

Ahlul ilmi adalah ahlul bashirah

Yaitu orang yang memiliki ilmu yang mantap, sehingga mampu mengetahui akan terjadinya fitnah di awal mula munculnya fitnah.

Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata dalam Tahdzirul Basyar (hal. 29-30): 

“Ketahuilah, orang yang paling mampu mengetahui kejelekan dari awal munculnya adalah para pewaris nabi, yakni para ulama yang beramal dengan dua wahyu (Al-Kitab dan As-Sunnah), dan benar-benar paham terhadap keduanya.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang perbuatan Qarun yang melampaui batas dan umat pada masa itu terfitnah dengannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan pula bagaimana sikap ahlul ilmi terhadap hal itu:

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَالَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Artinya : “Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: ‘Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar’.” (Al-Qashash Ayat 79)

Ahlul ilmi adalah rujukan umat dan pembimbing mereka ke jalan yang benar

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya : “Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (Al-Anbiya’ Ayat 7)

Karena demikian agung dan mulianya kedudukan ahlul ilmi yaitu para ulama menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, sudah semestinya umat menghormati dan memuliakan mereka. Juga kembali kepada mereka dalam menghadapi berbagai problematika, mempelajari agama ini dengan bimbingan mereka, khususnya di masa yang penuh dengan fitnah ini. Tidak ada jalan yang selamat kecuali kita merujuk kepada ahlul ilmi.

Demikian ulasan tentang Inilah Keutamaan Ulama Menurut Pandangan Islam. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.