√ Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya

Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya

Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Puasa. Yang meliputi Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmah Puasa dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silahkan simak artikel Pengetahuan Islam dibawah ini dengan seksama.

Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya

Pengertian puasa menurut syariat Islam adalah suatu amalan ibadah yang dilakukan dengan menahan diri dari segala sesuatu seperti makan, minum, perbuatan buruk maupun dari hal yang membatalkan puasa. Mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari yang disertai dengan niat karena Allah SWT, dengan syarat dan rukun tertentu.

Puasa Wajib

Shoum atau Puasa yang hukumnya wajib bagi orang muslim adalah Puasa yang jika dikerjakan mendapatkan pahala dan jika tidak dikerjakan mendapatkan dosa. Adapun puasa yang wajib adalah sebagai berikut : Shoum atau Puasa Ramadan, Shoum atau Puasa karena nadzar, dan Shoum atau Puasa kifarat atau denda.

Puasa Sunah

Shoum atau Puasa sunnah adalah Puasa yang jika dikerjakan mendapatkan pahala dan jika tidak dikerjakan tidak mendapatkan dosa.

Macam – macam puasa sunnah

Di bawah ini adalah macam-maca puasa sunah, antara lain:

  • Puasa 6 hari di bulan Syawal selain hari raya Idul Fitri.
  • PuasaArafah pada tanggal 9 Dzulhijah bagi orang-orang yang tidak menunaikan ibadah haji.
  • PuasaTarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijah bagi orang-orang yang tidak menunaikan ibadah haji.
  • Puasa Senin dan Kamis.
  • Puasa Daud (sehari puasa, sehari tidak), bertujuan untuk meneladani puasanya Nabi Daud.
  • Puasa ‘Asyura (pada bulan muharram), dilakukan pada tanggal 10.
  • Puasa 3 hari pada pertengahan bulan (menurut kalender islam) (Yaumul Bidh), tanggal 13, 14, dan 15.
  • Puasa Sya’ban (Nisfu Sya’ban) pada awal pertengahan bulan Sya’ban.
  • Puasa bulan Haram (Asyhurul Hurum) yaitu bulan Dzulkaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.

Syarat Wajib Puasa

Berikut ini adalah syarat wajib puasa wajib maupun sunah, antara lain:

  1. Beragama Islam
  2. Berakal sehat
  3. Baligh (sudah cukup umur 9-15 tahun)
  4. Mampu melaksanakannya
  5. Syarat sah saum
  6. Islam (tidak murtad)
  7. Mummayiz (dapat membedakan yang baik dan yang buruk)
  8. Suci dari haid dan nifas (khusus bagi wanita)
  9. Mengetahui waktu diterimanya puasa

Rukun Puasa

Berikut ini adalah rukun puasa, yaitu:

  1. Islam.
  2. Niat (pada waktu malam hari).
  3. Meninggalkan segala hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Beberapa yang Hal Di Haramkan Saat Puasa

Hari raya Idul Fitri, yaitu pada (1 Syawal), Tanggal 1 Syawwal telah ditetapkan sebagai hari raya umat Islam. Hari itu merupakan hari kemenangan yang harus dirayakan dengan bergembira. Karena itu syariat telah mengatur bahwa di hari itu tidak diperkenankan seseorang untuk bersaum sampai pada tingkat haram. Meski tidak ada yang bisa dimakan, paling tidak harus membatalkan saumnya atau tidak berniat untuk saum.

Hari raya Idul Adha, yaitu pada tanggal (10 Dzulhijjah). Hal yang sama juga pada tanggal 10 Zulhijjah sebagai hari raya kedua bagi umat Islam. Hari itu diharamkan untuk bersaum dan umat Islam disunnahkan untuk menyembelih hewan Qurban dan membagikannya kepada fakir msikin dan kerabat serta keluarga. Agar semuanya bisa ikut merasakan kegembiraan dengan menyantap hewan qurban itu dan merayakan hari besar.

Berikut ini adalah hari yang diharamkan untuk berpuasa, yaitu:

  • Hari-hari tasyrik, yaitu pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
  • Hari syak, yaitu pada 30 Syaban.
  • Saum selamanya.
  • Wanita saat sedang haid atau nifas.
  • Saum sunnah bagi wanita tanpa izin suaminya.

Beberapa yang di makruhkan melakukan puasa

  • Berlebih-lebihan dalam berkumur dan ber-istinsyaq
  • Mencicipi makanan (sebatas indra perasa lidah)
  • Mengumpulkan ludah dan menelannya, begitu juga menelan dahak dan lain sebagainya
  • Kemudian waktu makruh untuk bersaum yaitu ketika saum dikhususkan pada hari Jumat, tanpa diselingi saum sebelumnya atau sesudahnya.

Beberapa yang membatalkan puasa

  • Masuknya sesuatu/benda (seperti makanan atau minuman dan sebagainya) ke dalam mulut dengan disengaja.
  • Bersetubuh (Jima’).
  • Muntah yang disengaja.
  • Keluar mani (istimna’ ) dengan disengaja.
  • Haid (datang bulan) dan Nifas (melahirkan anak).
  • Hilang akal (gila atau pingsan).
  • Murtad (keluar dari agama Islam).

Dari kesemua hal yang membatalkan Puasa ada pengecualiannya, yaitu makan, minum dan bersetubuh bagi orang yang sedang bersaum tidak akan batal ketika seseorang itu lupa bahwa ia sedang berpuasa.

Orang yang boleh membatalkan Puasa

Adalah orang yang boleh membatalkan Puasa wajib (Puasa Ramadhan) tetapi Wajib mengqadha (mengganti saumnya di hari lain) sebanyak hari yang ditinggalkan.

  • Orang yang sakit, yang ada harapan untuk sembuh
  • Orang yang bepergian jauh (musafir) sedikitnya 89 km dari tempat tinggalnya
  • Orang yang hamil, yang khawatir akan keadaannya atau bayi yang dikandungnya
  • Orang yang sedang menyusui anak, yang khawatir akan keadaannya atau anaknya
  • Orang yang sedang haid (datang bulan), melahirkan anak dan nifas
  • Orang yang batal saumnya dengan suatu hal yang membatalkannya selain bersetubuh.

Wajib mengqadha dan wajib fidyah (memberi makan orang miskin setiap hari yang ia tidak bersaum, berupa bahan makanan pokok sebanyak 1 mud (576 gram)) :

  • Orang yang sakit yang tidak ada harapan akan sembuhnya.
  • Orang tua yang sangat lemah dan tidak kuat lagi bersaum.
  • Wajib mengqadha dan kifarat (memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Jika tidak ada hamba sahaya yang mukmin maka wajib bersaum dua bulan berturut-turut (selain qadha’ menggantikan hari yang ditinggalkan), jika tidak bisa, wajib memberi makan 60 orang miskin, masing-masing sebanyak 1 mud (576 gram) berupa bahan makanan pokok). yaitu Orang yang membatalkan saum wajibnya dengan bersetubuh, wajib melakukan kifarat dan qadha.

Keutamaan Puasa

Ibadah Puasa Ramadhan yang diwajibkan Allah kepada setiap mukmin adalah ibadah yang ditujukan untuk menghamba kepada Allah seperti yang tertera dalam sebuah surah dalam al-Qur’an, yaitu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu ber-Shoum/Puasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (Al-Baqarah 2:183)

Keutamaan Puasa menurut syariat Islam adalah, orang-orang yg bersaum akan melewati sebuah pintu surga yang bernama Rayyan, dan keutamaan lainnya adalah Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka, sejauh 70 tahun perjalanan.

Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya

Hikmah Puasa

Hikmah dari ibadah Puasa itu sendiri adalah melatih manusia untuk sabar dalam menjalani hidup. Maksud dari sabar yang tertera dalam al-Quran adalah gigih dan ulet seperti yang dimaksud dalam Surat Ali ‘Imran/3: 146.

Beberapa hikmah dan faidah puasa, antara lain:

  • Pendidikan atau latihan rohani,
  • Mendidik jiwa agar dapat menguasai diri,
  • Mendidik nafsu agar tidak senantiasa dimanjakan dan dituruti,
  • Mendidik jiwa untuk dapat memegang amanat dengan sebaik-baiknya,
  • Mendidik kesabaran dan ketabahan.

Perbaikan pergaulan

Orang yang ber-Puasa akan merasakan segala kesusahan fakir miskin yang banyak menderita kelaparan dan kekurangan. Dengan demikian akan timbul rasa suka menolong kepada orang-orang yang menderita.

Kesehatan

Ibadah Puasa Ramadhan akan membawa faedah bagi kesehatan rohani dan jasmani jika pelaksanaannya sesuai dengan panduan yang telah ditetapkan, jika tidak maka hasilnya tidaklah seberapa, malah mungkin ibadah Shoum/Puasa kita sia-sia saja.

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya : “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”(Q.S. Al-A’Raaf ayat 31)

Demikianlah telah dijelaskan tentang Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya. Semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian. Terimakasih.

√ Syarat Wajib Puasa Yang Perlu Kita Ketahui (Bahas Lengkap)

Syarat Wajib Puasa Yang Perlu Kita Ketahui (Bahas Lengkap) – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Syarat Wajib Puasa. Yang mana dalam pembahasn kali ini menjelaskan beberapa syarat wajib puasa, baik itu puasa wajib bulan Ramadhan atau puasa sunnah yang perlu kita ketahui.

Syarat Wajib Puasa Yang Perlu Kita Ketahui (Bahas Lengkap)

Sebagai seorang muslim tentu kita harus mengetahui beberapa syarat dan rukun dalam beribadah. Salah satunya perkara yagn wajib kita ketahui dalam rukun islam yaitu Puasa. Sudah barang tentu kita melaksanakan puasa wajib yang dilakukan pada waktu bulan Ramadhan. Oleh karena itu bilamana kita mengerjakan suatu hal tanpa kita mengetahui ilmunya maka akan sia-sia apa yang akan kita lakukan. Nah, untuk lebih jelasnya yuk simak uraian dibawah ini.

Syarat Wajib Puasa

Syarat wajib puasa merupakan syarat penting yang harus dipenuhi ketika akan menjalnkan ibadah puasa. Syarat ini hukumnya wajib dipenuhi sebelum melaksankaan ibadah puasa. Baik ketika melaksankan puasa wajib pada buln Ramadhan atau ketika akan melaksanakan puasa sunnah.

Jika syarat wajib puasa tidak dipenuhi atau tidak diikuti maka aken menyebabkan puasanya akan tidak sah atau sia-sia. Bahkan puasanya tidak akan mendapatkan pahala dari Allah melainkan mendapatkan dosa.

Syarat wajib puasa untuk puasa bulan Ramadhan sama dengan puasa sunnah, yang membedakannya hanya waktu pengerjaannya saja.

Kalau puasa wajib bulan Ramadhan dilaksankan pada waktu bulan Ramadhan selama 1 bulan penuh. Sedangkan puasa sunnah dilaksanakan kapan saja menyesuaikan dengan waktu puasa sunnahnya.

Misalnya:

  • Puasa sunnah Senin-Kamis yang dilakukan pada hari senin dan hari kamis saja.
  • Puasa sunnah Daud yang dikerjakan dengan satu hari puasa dan besoknya tidak, kemudian lusa puasa lagi begitu juga seterusnya.
  • Puasa sunnah Sya’ban yang dilakukan hanya pada waktu bulan Sya’ban saja.
  • Puasa sunnah Syawal yang dilakukan pada bulan syawal.

Ibadah puasa itu mempunyai beberapa persyaratan tertentu. Jika persyaratan-persyaratan tersebut tidak terpenuhi, maka puasa tidak sah hukumannya.

Syarat wajib Puasa terdiri dari 5, yaitu:

  1. Beragama Islam
  2. Baligh
  3. Berakal Sehat
  4. Mampu Menjalankan Puasa
  5. Suci dari haid dan Nifas (Bagi Perempuan)

Di bawah ini diuraikan syarat-syarat wajib puasa khususnya puasa wajib (puasa Ramadhan).

Syarat Wajib Puasa ke-1: Beragama Islam

Syarat wajib puasa yang pertama adalah beragama islam. Syariat puasa adalah untuk umat Islam karena puasa itu adalah salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan. Dengan demikian, umat Islam wajib menunaikan puasa wajib di bulan Ramadhan.

Sementara itu, jika ada umat non-muslim menunaikan puasa sebagaimana puasa yang diajarkan oleh Islam, maka puasa tersebut tidak sah (secara fikih Islam).

Namun demikian, jika agama-agama selain Islam itu juga mempunyai tuntunan dan ajaran berpuasa, maka ketentuan-ketentuannya pun diatur oleh agama-agama tersebut.

Agama Islam tidak berkaitan dengan hal itu. Dengan demikian, puasa dalam agama selain Islam itu tidak terkait meskipun puasa itu sifat dan karakternya sama.

Dalam pandangan Islam, pahala puasa itu ditetapkan kepada mereka yang beragama Islam. Selain itu, pembebanan hukum (taklif) puasa itu secara fikih Islam hanya disyariatkan kepada umat Islam.

Agama Islam tidak menyariatkan puasa kepada umat selain Islam. Dengan begitu, jika seseorang ingin puasanya sah secara Islam maka dia harus memeluk agama Islam.

Sementara itu, agama-agama selain Islam yang seumpama memerintahkan berpuasa kepada umatnya, maka hal itu sah-sah saja menurut agama tersebut.

Kesimpulannya, keabsahan dalam suatu perbuatan itu menjadi tepat dan sesuai dengan agama yang dipeluk oleh umat manusia.

Sebagaimana umat Islam, maka puasa mereka sah menurut Islam jika memenuhi berbagai syarat dan rukunnya yang telah dijelaskan dalam fikih Islam. Sementara itu, puasa umat agama tertentu itu pun sah jika memenuhi berbagai syarat dan rukun menurut agama tersebut.

Syarat Wajib Puasa ke-2: Baligh

Syarat wajib puasa yang kedua adalah sudah baligh. Baligh adalah apabila seseorang itu telah sampai pada kedewasaan (secara fisik).

Artinya, seseorang yang disebut balig adalah orang yang secara fisik sudah matang dan berfungsi. Bagi laki-laki, usia balig dimulai kira-kira sekitar 13 tahun. Sementara itu bagi perempuan, usia balig dimulai kira-kira umur 9 tahun.

Namun demikian, patokan usia itu tidak dapat dipastikan karena semua orang itu tidak sama. Terkadang ada laki-laki yang sudah balig sebelum usia 13 tahun. Begitu pula terkadang ada perempuan yang sudah memasuki usia balig sebelum usia 9 tahun.

Secara lebih tepat, patokan usia balig adalah dari fitrahnya secara alami. Jika laki-laki, maka dia sudah pernah mimpi basah (mimpi mengeluarkan air mani) sementara perempuan sudah haid.

Laki-laki tidak mesti harus berusia 13 tahun untuk bisa mengeluarkan air mani dan perempuan terkadang juga tidak harus berusia 9 tahun untuk haid.

Seorang laki-laki yang sudah mengalami mimpi basah telah mencapai usia balig dan dia telah terbebani oleh hukum di dalam Islam. Setiap laki-laki itu mengalami fase tersebut ketika menginjak usia remaja. Hal itu merupakan kewajaran karena sesuai dengan fitrah.

Andai ada seorang yang belum pernah mengalami mimpi basah padahal usianya sudah lebih dari umumnya. Maka hal itu perlu ditanyakan kepada yang ahli karena ada kemungkinan terjadi kelainan.

Sementara itu, bagi laki-laki yang tidak mengeluarkan air mani (karena mandul), tetap dianggap telah balig jika usianya memang sudah memasuki usia balig, yaitu sekitar umur 13 tahun. Oleh karena itu, orang yang demikian pun sudah diwajibkan berpuasa dan melakukan ibadah wajib lainnya.

Untuk kaum perempuan yang sudah bisa haid itu telah mencapai usia balig dan dia telah terbebani oleh hukum di dalam Islam.

Haid adalah hal yang alami dan fitrah bagi perempuan. Jika perempuan tidak mengalami haid, maka perlu diperiksakan kepada yang ahli karena kemungkinan terjadi kelainan.

Sementara itu, bagi perempuan yang tidak pernah haid (karena mandul), tetap dianggap telah balig jika usianya memang sudah memasuki usia balig, yaitu sekitar umur 9 tahun. Oleh karena itu, orang yang demikian pun sudah diwajibkan berpuasa dan menjalankan ibadah wajib lainnya.

Orang yang sudah balig, baik laki-laki maupun perempuan, itu telah dikenakan pembebanan hukum kepadanya. Orang yang sudah memasuki usia balig wajib melakukan puasa dan shalat wajib.

Sementara itu, jika orang yang sudah balig itu melanggar hukum, maka sudah dikenakan dosa dan bisa dikenankan hukuman juga.

Contohnya:

Jika anak-anak mencuri, maka tidak dosa dan tidak dijatuhi hukuman. Akan tetapi, jika yang mencuri itu adalah orang yang telah mencapai usia balig, maka dia berdosa dan sudah termasuk kriminalitas yang kepadanya itu bisa dijatuhi hukuman.

Rasulullah bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ

Artinya : “Dimaafkan dosa dari tiga golongan, yaitu : orang yang tidur hingga ia bangun, orang gila sampai ia sehat kembali, anak kecil hingga ia mimpi basah (baligh), ” (HR.Abu Dawud dan lainnya).

Dari hadits dia atas dijelaskan bahwa ada tiga golongan yang tidak terkena pembebanan hukum. Salah satu dari ketiga golongan tersebut adalah anak kecil yang belum dewasa atau belum mencapai usia balig.

Syarat Wajib Puasa ke-3: Berakal Sehat

Syarat wajib puasa yang ketiga adalah orang yang berakal sehat. Orang yang berakal sehat dan waras itu bisa berpikir normal.

Orang yang berakal sehat itu bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk. Orang yang berakal sehat itu juga bisa membedakan antara hal yang berguna dan hal yang sampah.

Dengan demikian, pembebanan hukum pun dijatuhkan kepada orang yang berakal sehat.

Jika ada seseorang yang melukai orang lain dan ternyata yang melukai itu gila, maka dia kebal hukum. Dia tidak dijatuhi hukuman sebagaimana orang yang waras.

Meskipun dia melukai dan hal itu merupakan kekjian, tetap saja orang gila itu tidak dijatuhi hukuman apapun karena orang gila memang benar-benar tidak berakal sehat. Dengan begitu, jika dia melukai, maka hal itu tidak keluar dari akal sehatnya.

Begitu pula perintah berpuasa. Islam tidak membebankan hukum kepada orang gila atau orang yang tidak sehat akalnya. Dengan demikian, akal sehat merupakan salah satu syarat wajib puasa. Hal itu secara umum dijelaskan dalam hadits berikut.

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ

Artinya: “Dimaafkan dosa dari tiga golongan, yaitu : orang yang tidur hingga ia bangun, orang gila sampai ia sehat kembali, anak kecil hingga ia mimpi basah (baligh), ” (HR.Abu Dawud dan lainnya).

Dalam hadits di atas dijelaskan bahwa ada tiga orang golongan yang tidak dibebani hukum, salah satunya adalah orang gila sampai ia sehat kembali akalnya. Sementara itu, puasa merupakan salah satu pembebanan hukum atau syariat Islam.

Dengan demikian, puasa itu bisa sah jika dilakukan oleh orang yang berakal sehat dan tidak gila.

Syarat Wajib Puasa ke-4: Mampu Menunaikan Puasa

Syarat wajib puasa yang keempat adalah mampu menunaikan atau mengerjakan puasa. Puasa diperintahkan kepada mereka yang beragama Islam, sudah mencapai usia baligh, dan berakal sehat. Bagi selain mereka, maka puasa pun tidak dibebankan.

Hanya saja, di antara mereka adalah orang yang tidak mampu menunaikan puasa lantaran sakit dan sudah tua sehingga lemah fisik. Meski begitu mereka tetap wajib berpuasa tetapi mereka diperbolehkan untuk tidak berpuasa.

Allah berfirman dalam Al Quran surah Al Baqarah ayat 185:

وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Artinya: “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain…” (QS. Al Baqarah ayat 185).

Bagi orang yang sakit yang tidak memaksakan diri untuk puasa Ramadhan malah tambah parah sakitnya, sementara dia ada harapan untuk sembuh, maka dia diperbolehkan untuk tidak berpuasa.

Justru keringanan tersebut harus diambil demi kesehatannya, Hanya saja, ketika dia telah sembuh, dia wajib mengganti (meng-qada) puasa di luar bulan Ramadhan.

Akan tetapi, jika tidak ada harapan sembuh, maka dia wajib untuk membayar fidyahsebagai ganti puasa.

Fidyah adalah tebusan puasa yang berupa memberi makan kepada fakir miskin. Namun demikian, jika orang yang sakit dan tidak ada harapan sembuh tersebut termasuk fakir miskin sehingga tidak mampu membayar fidyah, maka hendaknya ahli warisnya yang meng-qada puasanya.

Jika ahli warisnya tidak sanggup karena fisik lemah atau lainnya, maka hendaknya membayarkan fidyah-nya. Jika hal itu juga tidak disanggupi, maka dia bebas dari fidyah dan pembebanan.

Sementara itu, bagi orang tua yang sudah lemah fisik dan tidak mampu menunaikan puasa, maka dia wajib membayar fidyah. Jika ternyata membayar fidyah juga tidak mampu, maka yang membayarkan adalah ahli warisnya. Jika hal itu juga tidak mampu maka dia bebas dari pembebanan.

Syarat Wajib Puasa ke-5: Suci Dari Haid dan Nifas

Syarat wajib puasa yang kelima adalah suci dari haid dan nifas (khusus untuk perempuan), karena hanya perempuan yang mengalami hal ini.

Setiap perempuan itu mempunyai kebiasaan yang sifatnya fitrah, yakni menstruasi alias haid. Sementara itu setelah melahirkan, tentunya perempuan juga dalam kondisi nifas.

Kondisi haid dan nifas tersebut merupakan kondisi yang ketika itu perempuan merasakan hal yang berat dan sulit. Oleh karena itu, Islam memperbolehkan perempuan yang sedang dalam kondisi haid dan nifas untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan.

Justru kalai perempuan yang sedang haid dan nifas itu berpuasa, hal ini malah dilarang dan haram hukumnya.

Sesuatu yang haram itu akan mendapatkan dosa. Sebagaimana orang yang haid dan nifas itu tidak diperbolehkan shalat. Hal itu juga berlaku pada puasa bahwa perempuan yang sedang haid dan nifas itu tidak diperbolehkan untuk berpuasa.

Rasulullah bersabda:

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِيْنِهَا

Artinya: “Bukankah mereka (para wanita) jika sedang haid mereka tidak shalat dan tidak berpuasa? Itulah kekurangan mereka dari segi agama.”

Namun demikian, orang haid dan nifas yang meninggalkan puasa wajib bulan Ramadhan, mereka harus mengganti (meng-qada) puasa di luar bulan Ramadhan.

Jika mereka meninggalkan puasa selama tujuh hari, maka selama 7 hari juga mereka harus menggantinya. Jika mereka meninggalkan selama sebulan penuh (karena waktu nifasnya panjang) maka selama sebulan penuh itulah yang harus diganti.

Persyaratan tersebut berlaku untuk syarat puasa Ramadhan karena hukumnya wajib. Jika puasa sunnah, tidak dikerjakan juga tidak apa-apa. Hanya saja, puasa sunnah juga dipersyaratkan syarat-syarat di atas.

Orang yang mengerjakan puasa sunnah juga harus beragama Islam, mencapai usia balig, berakal sehat, mampu menunaikan puasa dan dalam keadaan suci dari haid dan nifas. Hanya saja, qada dan fidyah tidak berlaku pada puasa-puasa sunnah.

Demikian ulasan tentang Syarat Wajib Puasa Yang Perlu Kita Ketahui (Bahas Lengkap). Semoga Allah memudahkan dan melancarkan Anda untuk dapat selalu mengerjakan yang puasa wajib & puasa sunnah, Aamin.