√ Cerita Ayah Nabi Ibrahim Yang Tidak Iman Kepada Allah

Cerita Ayah Nabi Ibrahim Yang Tidak Iman Kepada Allah

Cerita Ayah Nabi Ibrahim Yang Tidak Iman Kepada Allah – Kisah Islami di bawah ini merupakan lanjutan dari cerita nabi ibrahim sebelumnya. Yang menceritakan usaha nabi ibrahim untuk menyadarkan ayahnya dan kaumnya yang masih menyembah berhala, agar beralih untuk beriman kepada Allah Swt. dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silahkan simak artikel Pengetahuanislam.com dibawah ini dengan seksama.

Cerita Ayah Nabi Ibrahim Yang Tidak Iman Kepada Allah

Dalam kisah sebelumnya di ceritakan bahwa nabi ibrahim mencari tuhan dengan melihat hal yang ada di sekitar nabi. Karena kerajaan babylon yang pada masa itu termasuk kerajaan yang makmur rakyat hidup senang, sejahtera serta serba kecukupan yang menjadi keperluan pertumbuhan jasmani mereka. Akan tetapi dalam hidup rohani mereka berada ditingkat jahiliyah.

Mereka tidak mengenal Tuhan Pencipta mereka yang telah mengaruniakan mereka dengan segala kenikmatan dan kebahagiaan duniawi. Persembahan mereka adalah patung-patung yang mereka pahat sendiri dari batu-batu atau terbuat dari lumpur dan tanah.

Nabi ibrahim menasihati ayahnya agar meninggalkan berhala

Aazar, ayah Nabi Ibrahim tidak terkecuali sebagaimana kaumnya yang lain, bertuhan dan menyembah berhala bahkan ia adalah pedagang dari patung-patung yang dibuat dan dipahatnya sendiri dan orang-orang membeli patung-patung yang dijadikan persembahan.

Nabi Ibrahim merasa bahwa kewajiban pertama yang harus ia lakukan sebelum berdakwah kepada orang lain ialah menyadarkan ayah kandungnya dulu orang yang terdekat kepadanya, bahwa kepercayaan dan persembahannya kepada berhala-berhala itu adalah perbuatan yang sesat dan bodoh. Beliau merasakan bahwa kebaktian kepada ayahnya mewajibkan memberi penerangan kepadanya agar melepaskan kepercayaan yang sesat itu dan mengikutinya beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Dengan sikap yang sopan dan adab yang patut ditunjukkan oleh seorang anak terhadap orang tuanya dengan kata kata yang halus ia datang kepada ayahnya menyampaikan bahwa ia diutus oleh Allah sebagai nabi dan rasul dan bahwa ia telah diilhamkan dengan pengetahuan dan ilmu yang tidak dimiliki oleh ayahnya.

Ia bertanya kepada ayahnya dengan lemah lembut apakah yang mendorongnya untuk menyembah berhala seperti kaumnya yang lain padahal ia mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak berguna sedikit pun tidak dapat mendatangkan keuntungan bagi penyembahnya atau mencegah kerugian dan musibah. Diterangkan pula kepadanya bahwa penyembahan kepada berhala itu adalah semata-mata ajaran syaitan yang memang menjadi musuh kepada manusia sejak nabi adam as diturunkan ke bumi.

Ia berseru kepada ayahnya agar merenungkan dan memikirkan nasihat dan ajakannya berpaling dari berhala-berhala dan kembali menyembah kepada Allah yang menciptakan manusia dan semua makhluk yang dihidupkan memberi rezeki dan kenikmatan hidup serta menguasakan bumi dengan segala isinya kepada manusia.

Ayah Nabi ibrahim murka kepada ibrahim

Aazar, ayah dari nabi ibrahim menjadi merah mukanya dan melotot matanya mendengar kata-kata seruan puteranya yang ditanggapinya sebagai dosa dan hal yang kurang patuh bahwa puteranya telah berani mengancam dan menghina kepercayaan ayahnya bahkan mengajaknya untuk meninggalkan kepercayaan itu dan menganut kepercayaan dan agama yang ia bawa. Ia tidak menyembunyikan murka dan marahnya tetap dinyatakan dalam kata-kata yang kasar dan dalam maki seolah tidak ada hubungan di antara mereka.

Ia berkata kepada Nabi Ibrahim as dengan nada gusar :

“Hai ibrahim! berpalingkah engkau dari kepercayaan dan persembahanku? dan kepercayaan apakah yang engkau berikan kepadaku yang menganjurkan agar aku mengikutinya? janganlah engkau membangkitkan amarahku dan coba mendurhakaiku. Jika engkau tidak menghentikan penyelewenganmu dari agama ayahmu dan tidak engkau hentikan suaramu mengecam dan memburuk-burukkan persembahanku, maka keluarlah engkau dari rumahku ini. Aku tidak sudi bercampur denganmu di dalam satu rumah di bawah satu atap. Pergilah engkau dari mukaku sebelum aku menimpamu dengan batu dan mencelakakan engkau”

Nabi ibrahim menerima kemarahan ayahnya, pengusirannya dan kata-kata kasarnya sikap tenang, sebagai anak terhadap ayahnya seraya berkata :

“Oh ayahku, semoga engkau selamat, aku akan tetap memohon ampun bagimu dari Allah dan akan tinggalkan kamu dengan persembahan selain kepada Allah. Mudah-mudahan aku tidak menjadi orang yang celaka dan malang dengan doaku untukmu.”

Cerita Ayah Nabi Ibrahim Yang Tidak Iman Kepada Allah

Lalu keluarlah Nabi ibrahim as meninggalkan rumah ayahnya dalam keadaan sedih dan prihatin karena tidak berhasil mengangkatkan ayahnya dari lembah syirik dan kufur.

Kegagalan nabi ibrahim as dalam usahanya menyadarkan ayahnya yang tersesat itu sangat menusuk hatinya karena ia sebagai putra yang baik ingin sekali melihat ayahnya berada dalam jalan yang benar terangkat dari lembah kesesatan dan syirik namun ia sadar bahwa hidayah itu adalah di tangan Allah dan bagaimana pun ia ingin dengan sepenuh hatinya agar ayahnya mendapat hidayah, bila belum dikehendaki oleh Allah maka sia-sialah keinginan dan usahanya.

Penolakan ayahnya terhadap dakwahnya dengan cara yang kasar dan kejam itu tidak seditpun mempengaruhi ketetapan hatinya dan melemahkan semangatnya untuk berjalan terus memberi penerangan kepada kaumnya untuk menyapu bersih persembahan-persembahan yang batil dan kepercayaan-kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid dan iman kepada Allah dan rasul-Nya

Nabi ibrahim tidak henti-henti dalam setiap kesempatan mengajak kaumnya berdialog dan bermujadalah tentang kepercayaan yang mereka anut dan ajaran yang ia bawa. Dan ternyata bahwa bila mereka sudah tidak berdaya menilai dan menyanggah alasan-alasan dan dalil-dalil yang dikemukakan oleh Nabi Ibrahim as tentang kebenaran ajarannya dan kebatilan kepercayaan mereka.

Maka dalil dan alasan yang kosonglah yang mereka kemukakan yaitu bahwa mereka hanya meneruskan apa yang bapak dan nenek moyang mereka lakukan dan mereka tidak akan melepaskan kepercayaan dan agama yang telah mereka warisi.

Demikianlah telah dijelaskan tentang Cerita Ayah Nabi Ibrahim Yang Tidak Iman Kepada Allah semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian.

√ Kisah Ketetapan Hati Nabi Ibrahim AS Dalam Berdakwah Part 1

Kisah Ketetapan Hati Nabi Ibrahim AS Dalam Berdakwah Part 1 – Pada kesempatan ini akan membahas tentang kisah Nabi Ibrahim AS. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan bagaimana Nabi Ibrahim As mengenal islam dan dakwah pertama beliau dengan secara jelas dan singkat. Untuk lebih jelasnya yuk simak ulasan  Pengetahuan Islam berikut ini.

Kisah Ketetapan Hati Nabi Ibrahim AS Dalam Berdakwah Part 1

Kita sering mendengar tentang kisah dari pada Nabi Ibrahim As. Beliau dengan kelebihannya diberikan petunjuk oleh Allah SWT untuk berdakwah kepada kaumnya yang mana pada saat itu menyembah berhala. Amanah tersebut beliau emban dengan berat hati lantaran beliau masih belum yakin akan kuasa Allah SWT. Lebih jelasnya simak ulasan berikut.

Nabi Ibrahim As

Nabi Ibrahim merupakan putera Aaazar (Tarih) bin Tahur bin Saruj bin Rau’ bin Falij bin Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh A.S. Beliau dilahirkan di sebuah tempat bernama “Faddam A’ram” dalam kerajaan “Babylon” yang pada waktu itu diperintah oleh seorang raja bernama “Namrud bin Kan’aan.”

Kerajaan Babylon pada masa itu termasuk kerajaan yang makmur rakyat hidup senang, sejahtera dalam keadaan serba cukup sandang maupun pangan. Akan tetapi tingkatan hidup rohani mereka masih berada di tingkat jahiliyah yang tidak mengenal Tuhan Pencipta mereka. Yang mana telah memberi karunia mereka dengan segala kenikmatan dan kebahagiaan duniawi. Persembahan mereka adalah patung-patung yang mereka pahat sendiri dari batu-batu atau terbuat dari lumpur dan tanah.

Raja mereka Namrud bin Kan’aan menjalankan tampuk pemerintahnya dengan tangan besi dan kekuasaan mutlak. Semua kehendaknya harus terlaksana dan segala perintahnya merupakan undang-undang yang tidak dapat dilanggar atau di tawar.

Ia merasakan dirinya patut disembah oleh rakyatnya sebagai tuhan. Ia berfikir jika rakyatnya mau dan rela menyembah patung-patung yang terbuat dari batu yang tidak dapat memberi manfaat dan mendatangkan kebahagiaan bagi mereka. Mengapa bukan dialah yang disembah sebagai tuhan.

Dia yang dapat berbicara, mendengar, berfikir, memimpin, membawa kemakmuran dan melepaskan dari kesengsaraan dan kesusahan. Dia yang dapat mengubah orang miskin menjadi kaya dan orang yang hina-dina diangkatnya menjadi orang mulia. Di samping itu semuanya, ia adalah raja yang berkuasa dan memiliki negara yang besar dan luas.

Di dalam masyarakat yang sedemikian buruknya lahir dan dibesarkanlah Nabi Ibrahim, yaitu anak dari seorang ayah yang bekerja sebagai pemahat dan pedagang patung. Beliau sebagai calon Rasul dan pesuruh Allah yang akan membawa pelita kebenaran kepada kaumnya.

Semasa remaja, Nabi Ibrahim sering disuruh ayahnya keliling kota menjajakan patung-patung buatannya. Namun karena iman dan tauhid yang telah diilhamkan oleh Tuhan kepadanya ia tidak bersemangat untuk menjajakan barang-barang itu. Bahkan secara mengejek ia menawarkan patung -patung ayahnya kepada calon pembeli dengan kata-kata:

“Siapakah yang akan membeli patung-patung yang tidak berguna ini? “

Nabi Ibrahim Ingin Melihat Bagaimana Makhluk Yang Sudah Mati Dihidupkan Kembali Oleh Allah
Nabi Ibrahim yang sudah berketetapan hati hendak memerangi syirik dan persembahan berhala yang berlaku dalam masyarakat kaumnya. Ingin lebih dahulu mempertebalkan iman dan keyakinannya dengan menenteramkan hatinya. Serta membersihkannya dari keragu-raguan yang mungkin sesekali mangganggu fikirannya.

Dengan memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati.

Berserulah ia kepada Allah:

” Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana engkau menghidupkan makhluk-makhluk yang sudah mati.”

Allah menjawab seruannya dengan berfirman:

“Tidakkah engkau beriman dan percaya kepada kekuasaan-Ku? “

Nabi Ibrahim menjawab:

“Betul, wahai Tuhanku, aku telah beriman dan percaya kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu dengan mata kepala ku sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan ketenangan dan hatiku dan agar makin menjadi tebal dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu.”

Allah mengabulkan permohonan Nabi Ibrahim, kemudian diperintahkanlah ia menangkap empat ekor burung. Lalu setelah memperhatikan dan meneliti bahgian tubuh-tubuh burung itu. Memotongnya menjadi berkeping-keping mencampur-baurkan kemudian tubuh burung yang sudah hancur-luluh dan bercampur-baur. Setelah itu diletakkan di atas puncak setiap bukit dari empat bukit yang letaknya berjauhan satu dari yang lain.

Setelah dikerjakan apa yang telah diisyaratkan oleh Allah. Selanjutnya Nabi Ibrahim diperintahkan memanggil burung-burung yang sudah terkoyak-koyak tubuhnya dan terpisah jauh tiap-tiap bagian tubuh burung dari bagian yang lain.

Dengan izin Allah dan kuasa-Nya datanglah berterbangan 4 ekor burung itu dalam keadaan utuh bernyawa seperti sedia kala. Begitu mendengar seruan dan panggilan Nabi Ibrahim kepadanya lalu hinggaplah empat burung yang hidup kembali itu di depannya. Dilihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah Yang Maha Berkuasa dapat denga  mudah menghidupkan kembali makhluk-Nya yang sudah mati.

Sebagaimana Dia menciptakannya dari sesuatu yang tidak ada. Dengan demikian tercapailah apa yang diinginkan oleh Nabi Ibrahim untuk mententramkan hatinya dan menghilangkan kemungkinan ada keraguan di dalam iman dan keyakinannya. Bahwa kekuasaan dan kehendak Allah tidak ada sesuatu pun di langit atau di bumi yang dpt menghalangi atau menentangnya dan hanya kata “Kun” yang difirmankan Oleh-Nya maka terjadilah akan apa yang dikehendaki ” Fayakun”.

Nabi Ibrahim Berdakwah Kepada Ayah Kandungnya

Aazar yang merupakan ayah Nabi Ibrahim tidak terkecuali sebagaimana kaumnya yang lain. Bertuhan dan menyembah berhala bahkan ia adalah pedagang dari patung-patung yang dibuat dan dipahatnya sendiri. Kemudian orang membeli patung-patung yang dijadikan persembahan.

Nabi Ibrahim merasa bahwa kewajiban yang pertama harus ia lakukan sebelum berdakwah kepada orang lain ialah menyadarkan ayah kandungnya dulu. Orang yang terdekat kepadanya bahwa kepercayaan dan persembahannya kepada berhala-berhala itu adalah perbuatan yang sesat dan bodoh.

Beliau merasakan bahwa kebaktian kepada ayahnya mewajibkannya memberi penerangan kepadanya agar melepaskan kepercayaan yang sesat itu dan mengikutinya beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Ibrahim dengan sikap yang sopan dan adab yang patut ditunjukkan oleh seorang anak terhadap orang tuanya dan dengan kata-kata yang halus. Ia datang kepada ayahnya menyampaikan bahwa ia diutuskan oleh Allah sebagai nabi dan rasul. Bahwa ia telah diilhamkan dengan pengetahuan dan ilmu yang tidak dimiliki oleh ayahnya.

Ia bertanya kepada ayahnya dengan lemah lembut gerangan apakah yang mendorongnya untuk menyembah berhala seperti lain-lain kaumnya. Padahal ia mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak berguna sedikit pun tidak dapat mendatangkan keuntungan bagi penyembahnya atau mencegah kerugian atau musibah.

Diterangkan pula kepada ayahnya bahwa penyembahan kepada berhala-berhala itu adalah semata-mata ajaran syaitan. Dimana memang menjadi musuh kepada manusia sejak Adam diturunkan ke bumi lagi.

Ia berseru kepada ayahnya agar merenungkan dan memikirkan nasihat dan ajakannya. Berpaling dari berhala-berhala dan kembali menyembah kepada Allah yang menciptakan manusia dan semua makhluk yang dihidupkan. Allah memberi mereka rezeki dan kenikmatan hidup serta mengamanahkan bumi dengan segala isinya kepada manusia.

Aazar ayah ibrahim menjadi merah mukanya dan melotot matanya mendengar kata-kata seruan puteranya. Nabi Ibrahim yang ditanggapinya sebagai dosa dan hal yang kurang patut bahwa puteranya telah berani mengecam dan menghina kepercayaan ayahnya. Bahkan mengajakkannya untuk meninggalkan kepercayaan itu dan menganut kepercayaan dan agama yang ia bawa.

Ia tidak menyembunyikan murka dan marahnya tetapi dinyatakannya dalam kata-kata yang kasar dan dalam maki hamun seakan-akan tidak ada hunbungan diantara mereka.

Ia berkata kepada Nabi Ibrahim dengan nada gusar:

” Hai Ibrahim! Berpalingkah engkau dari kepercayaan dan persembahanku ? Dan kepercayaan apakah yang engkau berikan kepadaku yang menganjurkan agar aku mengikutinya? Janganlah engkau membangkitkan amarahku dan mencoba mendurhakaiku. Jika engkau tidak menghentikan penyelewenganmu dari agama ayahmu tidak engkau hentikan usahamu mengecam dan memburuk-burukkan persembahanku. Maka keluarlah engkau dari rumahku ini. Aku tidak sudi bercampur denganmu didalam suatu rumah di bawah suatu atap. Pergilah engkau dari mukaku sebelum aku menimpamu dengan batu dan mencelakakan engkau.”

Nabi Ibrahim menerima kemarahan ayahnya, pengusirannya dan kata-kata kasarnya dengan sikap tenang, normal selaku anak terhadap ayah seraya berkata:

 ” Oh ayahku! Semoga engkau selamat, aku akan tetap memohonkan ampun bagimu dari Allah dan akan tinggalkan kamu dengan persembahan selain kepada Allah. Mudah-mudahan aku tidak menjadi orang yang celaka dan malang dengan doaku untukmu.”

Lalu keluarlah Nabi Ibrahim meninggalkan rumah ayahnya dalam keadaan sedih dan prihati karena tidak berhasil mengangkatkan ayahnya dari lembah syirik dan kufur.

Nantikan cerita tentang Nabi Ibrahim dan nabi Ismail selanjutnya….

Demikian ulasan tentang Kisah Ketetapan Hati Nabi Ibrahim AS Dalam Berdakwah Part 1. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Kisah Nabi Ibrahim Serta Beberapa Mukjizatnya Lengkap

Kisah Nabi Ibrahim Serta Beberapa Mukjizatnya Lengkap

Kisah Nabi Ibrahim Serta Beberapa Mukjizatnya Lengkap – Kisah islami lanjutan dari cerita sebelumnya yang mengkisahkan ayah nabi ibrahim tidak mau beriman kepada Allah. Pada cerita kali ini akan menceritakan tentang Nabi Ibrahim yang menghancurkan berhala-berhala dan kisah mukjizat nabi ibrahim dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silahkan simak ulasan Pengetahuanislam.com dibawah ini dengan seksama.

Kisah Nabi Ibrahim Serta Beberapa Mukjizatnya Lengkap

Nabi ibrahim as pada akhirnya merasa tidak ada manfaat lagi berdebat dengan kaumnya yang keras kepala dan tidak mau menerima keterangan dan bukti-bukti nyata yang dikemukakan oleh beliau dan selalu berpegang pada satu-satunya alasan bahwa mereka tidak akan menyimpang dari acara persembahan nenek moyang mereka, walaupun oleh Nabi ibrahim as dinyatakan berkali-kali bahwa mereka dan bapak-bapak mereka keliru dan tersesat mengikuti jejak syaitan dan iblis.

Nabi ibrahim kemudian merancang dan membuktikan kepada kaumnya dengan perbuatan yang nyata yang dapat mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa berhala-berhala dan patung-patung mereka betul-betul tidak berguna bagi mereka dan bahkan tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.

Nabi Ibrahim menghancurkan berhala berhala sesembahan kaumnya

Sudah menjadi tradisi dan kebiasaan penduduk kerajaan babylon bahwa setiap tahun mereka keluar kota beramai-ramai pada suatu hari raya yang mereka anggap sebagai keramat. berhari-hari mereka tinggal di luar kota di suatu padang terbuka, berkemah dan membawa bekal makanan dan minuman yang cukup. Mereka bersuka ria dan bersenang senang sambil meninggalkan kota. Sehingga kota mereka kosong dan sunyi.

Mereka berseru dan mengajak semua penduduk agar keluar meninggalkan rumah dan turut beramai-ramai menghormati hari suci itu. Nabi ibrahim as yang juga turut diajak tetapi ia berpura-pura sakit dan diizinkan tinggal di rumah karena mereka merasa khawatir bahwa penyakit ibrahim as yang dibuat-buat itu akan menular dan menjalar di kalangan mereka bila ia turut serta.

Dalam hati nabi ibrahim “Inilah dia kesempatan yang ku nantikan,” tak kala melihat kota sudah kosong dari penduduknya, sunyi senyap tidak terdengar kecuali suara burung-burung yang berkicau, suara daun-daun pohon gemerisik ditiup angin kencang. Dengan membawa sebuah kapak ditangannya ia pergi menuju tempat beribadatan kaumnya yang sudah ditinggalkan tanpa penjaga, tanpa juru kunci dan hanya deretan pantung-patung yang terlihat diserabi tempat peribadatan itu.

Kemudian dipecahkannya patung patung itu dan dihancurkannya berpotong potong dengan kapak yang berada di tangannya. Patung yang besar ditinggalkannya utuh, tidak diganggu oada lehernya dikalungkanlah kapak nabi ibrahim as itu, kemudian dia pergi.

Terperanjat dan terkejutlah para penduduk, ketika mereka pulang dari berpesta ria di luar kota dan melihat keadaan patung-patung, tuhan mereka hancur berantakan dan menjadi potongan yang berserakan di atas lantai.

Bertanyalah satu kepada yang lain dengan nada heran :

“Siapakah yang telah berani melakukan perbuatan yang jahat dan keji ini terhadap Tuhan-tuhan persembahan ini?”

Berkata salah seorang di antara mereka :

“Ada kemungkinan bahwa orang yang selalu mengolok-olok dan mengejek persembahan kami yang bernama ibrahim itulah yang melakukan perbuatan berani ini.”

Seorang yang lain menambah keterangan dengan berkata :

“Bahkan dialah yang pasti berbuat, karena ia adalah satu-satunya orang yang tinggal di kota sewaktu kami semua berada di luar merayakan hari suci dan sakral itu”.

Setelah dilakukan penyelidikan, akhirnya terdapat kepastian yang tidak diragukan lagi bahwa nabi ibrahimlah yang merusakkan dan memusnahkan patung-patung itu. Rakyat kota berama-ramai membicarakan kejadian yang dianggap suatu kejadian atau penghinaan yang tidak dapat diampuni terhadap kepercayaan dan persembahan mereka. Suara marah, jengkel dan kutukan terdengar dari segala penjuru, yang nenuntut agar si pelaku diminta bertanggung jawab dalam suatu pengadilan terbuka, dimana seluruh rakyat penduduk kota dapat ikut serta menyaksikannya.

Dan memang itulah yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim as agar pengadilan dilakukan secara terbuka dimana semua warga masyarakat dapat turut menyaksikannya. Karena dengan cara demikian beliau dapat secara terselubung berdakwah menyerang kepercayaan yang bathil dan sesat itu, seraya menerangkan kebenaran agama dan kepercayaan yang ia bawa. diantara yang hadir diharapkan masih bisa terbuka hatinya bagi iman dan tauhid yang diajarkan dan dakwahnya.

Hari pengadilan ditentukan dan datang rakyat dari segala pelosok bersama-sama mengunjungi padang terbuka yang disediakan bagi sidang pengadilan itu.

Ketika nabi ibrahim datang menghadap para hakim yang akan mengadili ia disambut oleh para hadirin dengan teriakan kukutan dan cercaan, menandakan sangat gusarnya pada penyembah berhala terhadap beliau yang telah berani menghancurkan persembahan mereka.

Ditanyakan nabi ibrahim as oleh para hakim :

“Apakah engkau yang melakukan penghancuran dan merusakkan Tuhan-tuhan kamu?”

Dengan sikap yang tenang, Nabi ibrahim as menjawab :

“Patung besar yang berkalung kapak di lehernya itulah yang melakukannya. Coba tanya saja kepada patung-patung itu siapakah yang menghancurkannya.”

Para hakim terdiam sejenak seraya melihat yang satu kepada yang lain dan berbisik-bisik. Kemudian berkata si hakim:

“Engkaukan tahu bahwa si patung patung itu tidak dapat berbicara dan berkata mengapa engkau minta kami bertanya kepadanya?”

Tibalah waktunya yang memang dinantikan oleh nabi ibrahim as, maka sebagai jawaban atas pertanyaan yang terakhir itu beliau berpidato membentangkan kebathilan persembahan mereka, yang mereka pertahankan mati matian, semata mata hanya karena adat itu adalah warisan nenek moyang. Berkata nabi ibrahim as kepada para hakim itu :

“Jika demikian halnya, mengapa kamu sembah patung-patung itu, yang tidak dapat berkata, tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar, tidak dapat membawa manfaat atau menolak mudharat, bahkan tidak dapat menolong dirinya dari kehancuran dan kebinasaan? Tidak dapatkah kamu berpikir dengan akal yang sehat bahwa persembahan yang kau lakukan adalah perbuatan yang keliru hanya di fahami oleh syaitan. Mengapa kamu tidak menyembah Tuhan yang menciptakan kamu, menciptakan alam sekeliling kamu dan menguasakan kamu di atas bumi dengan segala isi dan kekayaan”

Setelah selesai nabi ibrahim as menguraikan pidatonya, para hakim mengeluarkan keputusan bahwa nabi ibrahim as harus dibakar hidup-hidup sebagai ganjaran atas perbuatannya menghina dan menghancurkan Tuhan-tuhan mereka, maka berserulah para hakim kepada rakyat yang hadir menyaksikan pengadilan itu “Bakarlah ia dan belalah Tuhan tuhanmu, jika kamu benar benar setia kepadanya”

Keputusan mahkamah telah dijatuhkan. Nabi ibrahim as harus dihukum dengan dibakar hidup-hidup dalam api yang besar sebesar dosa yang telah dilakukan. Persiapan bagi upacara pembakaran yang akan disaksikan oleh seluruh rakyat yang melihat. Tanah lapang bagi tempat pembakaran disediakan dan diadakan pengumpulan kayu bakar dengan banyaknya dimana tiap penduduk secara gotong royong harus mengambil bagian membawa kayu bakar sebanyak yang ia dapat sebagai tanda bakti kepada Tuhan persembahan mereka yang telah dihancurkan oleh Nabi Ibrahim as.

Berbondong-bondonglah para penduduk dari segala penjuru kota membawa kayu bakar sebagai sumbangan dan tanda bakti kepada tuhan mereka. di antaranya terdapat para wanita yang hamil dan orang sakit yang membawa sumbangan kayu bakarnya dengan harapan memperoleh barokah dari tuhan mereka dengan menyembuhkan penyakit mereka dan melindungi yang hamil di kala ia bersalin.

Kisah Mukjizat Nabi Ibrahim

Setelah berkumpul kayu bakar dilapangan yang disediakan untuk upacara pembakaran dan tertumpuk serta tersusun laksana sebuah bukit, berduyun duyunlah orang datang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman atas diri nabi ibrahim as. kayu lalu dibakar dan terbentuklah gunung berapi yang dahsyat yang sedang beterbangan di atasnya berjatuhan terbakar oleh panasnya uap yang ditimbulkan oleh api yang menggunung itu.

Kemudian dalam keadaan terbelenggu, nabi ibrahim as didatangkan dan dari atas sebuah gedung yang tinggi dilemparkanlah ia ke dalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu dengan iringan firman Allah :

“Hai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi ibrahim” (Qs 21 ; 69)

Sejak keputusan hukuman dijatuhkan sampai saat ia dilemparkan ke dalam bukti apa yang menyala-nyala itu, nabi ibrahim as tetap menunjukkan sikap tenang dan tawakkal karena iman dan keyakinannya bahwa Allah tidak akan rela melepaskan hamba pesuruhnya menjadi makanan api dan kurban keganasan orang kafir musuh Allah.

Dan memang demikianlah apa yang terjadi tatkala ia berada dalam perut bukti apa yang dasyat itu ia merasa dingin sesuai dengan seruan Allah perlindungnya dan hanya tali temali dan rantai yang mengingat tangan dan kakinya yang terbakar hangus, sedangkan tubuh dan pakaian yang terlekat pada tubuhnya tetap utuh, tidak sedikit pun tersentuh oleh api, ini merupakan mujizat yang diberikan oleh Allah kepada hamba pilihannya, nabi ibrahim, agar dapat melanjutkan penyampaian risalah yang ditugaskan kepadanya kepada hamba-hambanya Allah yang tersesat itu.

Kisah Nabi Ibrahim Serta Beberapa Mukjizatnya Lengkap

Semua yang hadir pada upacara pembakaran heran tercengang tatkala melihat nabi ibrahim as keluar dari bukti api yang sudah padam dan menjadi abu itu dalam keadaan selamat, utuh dengan pakaian yang tetap berada seperti biasa, tidak ada tanda tanda sentuhan api sedikit pun. Mereka kemudian pergi meninggalkan lapangan dalam keadaan heran seraya bertanya-tanya pada diri sendiri dan di antara satu sama lain bagaimana hal yang ajaib itu terjadi, padahal menurut anggapan mereka dosa nabi ibrahim sudah nyata mendurhakai tuhan yang mereka puja dan sembah.

Ada sebagian dari mereka yang dalam hati kecil mulai meragukan kebenaran agama mereka namun tidak berani membicarakan rasa ragunya itu kepada orang lain, sedangkan para pemuka dan para pemimpin mereka merasa kecewa dan malu, karena hukuman yang mereka jatuhkan ke pada nabi ibrahim as dan kesibukan rakyat mengumpulkan kayu bakar selama berminggu-minggu telah berakhir dengan kegagalan sehingga merasa malu kepada nabi ibrahim as dan para pengikutnya.

Mukjizat yang diberikan oleh Allah swt kepada nabi ibrahim sebagai bukti nyata akan kebenaran dakwahnya, telah menimbulkan kegoncangan dalam kepercayaan sebagian penduduk terhadap persembahan dan patung patung mereka dan membuka mata hati. banyak dari mereka memikirkan kembali ajakan nabi ibrahim as dan dakwahnya.

Bahkan tidak kurang dari mereka yang ingin menyatakan imannya kepada nabi ibrahim, namun khawatir akan mendapatkan kesukaran dalam kehidupannya akibat kemarahan dan balas dendam para pemuka dan para pembesarnya yang mungkin akan menjadi hilang akal bila merasakan bahwa pengaruhnya telah beralih ke pihak nabi ibrahim.

Nabi ibrahim selalu menyeru dan mengajak ayahnya agar beriman kepada Allah, dan cepat bertaubat, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur an :

“Ceritakanlah (hai muhammad) kisah ibrahim di dalam Al kitab (Al-Qur’an) ini. sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya : Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?”

“Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang padamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku janganlah kamu menyembah syaitan, sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan” (QS 19 : 41 – 45)

Kemudian ayahnya menjawab, sebagaimana tersebut dalam Al qur an

Berkatalah bapaknya :

“Bencikah kamu kepada tuhanku, hai ibrahim? jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kuranjam, dan tinggallah aku buat waktu yang lama”

Sejak saat itulah beliau pindah ke kan’an (Palestina) dan disanalah beliau berumah tangga dan mempunyai keturunan. nabi ibrahim as mempunyai dua orang istri, istri pertamanya adalah siti sarah dan yang kedua ada siti hajar.

Pada mulanya, nabi ibrahim as tidak memperoleh keturunan dengan istrinya siti sarah kemudian beliau menikah lagi dengan siti hajar, barulah dari siti hajar nabi ibrahim as memperoleh keturunan yang bernama ismail. Setelah usia siti sarah agak lanjut, barulah beliau mendapatkan keturunan yang bernama ishak dan ishak inilah yang menurunkan anak bernama Ya’qub.

Nabi ibrahim berdebat dengan raja Namrud

Nambrud berkata : “Ibrahim, siapakah yang menjadikan alam ini ?”

Nabi ibrahim menjawab : “Yang menjadikan alam ini adalah dzat yang dapat menghidupkan dan dapat mematikan dan berkuasa atas segala-galanya.”

“Aku juga berkuasa, barang siapa yang aku perintahkan untuk membunuhnya, maka matilah ia, dan apabila aku membiarkannya hidup, maka hiduplah dia ” Kata namrud.

“Tuhan kami ialah yang menerbitkan matahari dari sebelah timur, maka cobalah kamu putar terbitnya dari sebelah mana” Jawab nabi ibrahim as.

Setelah mendengar perkataan nabi ibrahim as itu, maka tercenganglah namrud dan ia tidak dapat menjawab

Namrud mengaku sebagai Tuan. “Akulah tuhan yang berhak disembah! akulah maharaja!” ucapnya dengan angkuh. siapa yang menyembah namrud akan mendapat makanan dan sumber hidup dari padanya. Dan siapa yang ingkar kepada namrud, tidak akan diberi makanan kepadanya walau sedikitpun.

Allah sangat murka kepada namrud. Lalu Allah menurunkan azab berupa ribuan nyamuk yang menyerang namrud beserta pada pengikutnya dan angin topan yang memporak-porandakan negeri babylon. Akhirnya raja namrud pun mati akibat azab dari Allah yang maha kuasa.

Demikianlah telah dijelaskan tentang Kisah Nabi Ibrahim Serta Beberapa Mukjizatnya Lengkap semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian.

√ Kisah Nabi Ibrahim yang Dalam Masa Mencari Tuhan

Kisah Nabi Ibrahim yang Dalam Masa Mencari Tuhan

Kisah Nabi Ibrahim yang Dalam Masa Mencari Tuhan – Kisah islami kali ini mengisahkan tentang Nabi Ibrahim As. Menceritakan mengenai asal usul-usul keluarganya, kaumnya, dan cerita nabi Ibrahim mencari Tuhan dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silahkan simak artikel Pengetahuanislam.com dibawah ini dengan seksama.

Kisah Nabi Ibrahim yang Dalam Masa Mencari Tuhan

Menurut buku kisah-kisah 25 nabi dan mukjizatnya, Kerajaan babylon pada masa itu termasuk kerajaan yang makmur rakyat hidup senang, sejahtera dalam keadaan serba kecukupan sandan maupun pangan serta sarana prasarana yang menjadi keperluan pertumbuhan jasmani mereka.

Akan tetapi tingkatan hidup rohani mereka berada ditingkat jahiliyah. Mereka tidak mengenal Tuhan Pencipta mereka yang telah mengaruniakan mereka dengan segala kenikmatan dan kebahagiaan duniawi. Persembahan mereka adalah patung-patung yang mereka pahat sendiri dari batu-batu atau terbuat dari lumpur dan tanah.

Silsilah Nabi Ibrahim As

Nabi ibrahim as adalah putera dari Aazar (tarih) bin tahur bin saruj rau’ bin falij bin Aabir bin syalih bin arfakhsyad bin saam bin nuh as. Ayahnya adalah pembuat patung untuk sesembahan. Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama “Faddam Aram” dalam kerajaan “Babylon” yang pada waktu itu diperintah oleh seorang raja bernama “Namrud bin kan’aan”, Beliau adalah seorang rasul Allah yang diutus kepada satu kaum di negeri irak yang dikuasai oleh raja Namrud.

Raja mereka namrud bin kan’aan menjalankan sistem pemerintahan dengan tangan besi dan kekuasaan mutlak tanpa adanya undang-undang. Semua kehendaknya harus terlaksana dan segala perintahnya merupakan undang-undang yang tidak dapat dilanggar atau ditawar. Kekuasaan yang besar yang berada di tangannya itu dan kemewahan hidup berlebih-lebihan yang ia nikmati lama kelamaan menjadikan ia tidak puas dengan kedudukannya sebagai raja.

Dia merupakan seorang raja yang kejam. Ia merasakan dirinya patut disembah oleh rakyatnya sebagai Tuhan. Ia berpikir jika rakyatnya mau dan rela menyembah patung-patung yang terbuat dari batu yang tidak dapat memberikan manfaat dan mendatangkan kebahagiaan bagi mereka, mengapa bukan dia saja yang disembah sebagai Tuhan.

Dia yang dapat berbicara, dapat mendengar dan dapat berpikir, dapat memimpin mereka, membawa kemakmuran bagi mereka dan melepaskan dari kesengsaraan dan kesusahan. Dia yang dapat mengubah orang miskin menjadi kaya dan orang yang hinda di hina menjadi orang yang mulia. Di samping itu, ia adalah raja yang berkuasa dan memiliki negara yang besar dan luas.

Kisah Nabi ibrahim As Mencari Tuhan

Ketika Nabi ibrahim as masih anak-anak, dia dapat merasakan kesesatan kaummnya yang menyembah berhala. Lalu Nabi ibrahim merenung dan berfikir, siapa kah Tuhan yang sebenarnya? Pada suatu malam, nabi ibrahim as kagum akan bintang-bintang yang ada di langit. Ia menganggap bahwa itu adalah Tuhan.

Namun kemudian ia kecewa ternyata bulan lebih besar dari pada bintang. Ia menganggap pula bahwa bulan adalah Tuhannya yang sebenarnya. Namun ketika menjelang pagi Nabi ibrahim terkejut karena bintang dan rembulan yang semalam diyakini sebagai Tuhan ternyata lenyap dari pandangan. Nabi Ibrahim as pun kecewa lagi.

Lalu muncul pula matahari yang bersinar lebih terang dan besar. Ia mengganggap bahwa matahari itulah Tuhannya. Sekali lagi Nabi Ibrahim as kecewa karena matahari juga hilang karena malam tiba. Akhirnya nabi ibrahim as mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.

Ayah Nabi Ibrahim as adalah seseorang yang bekerja sebagai pemahat dan pedagang patung. Nabi Ibrahim as sebagai calon rasul dan pesuruh Allah yang akan membawa pelita kebenaran kepada kaumnya, jauh telah diilhami akal sehat dan fikiran tajam serta kesadaran bahwa apa yang telah diperbuat oleh kaumnya

Termasuk ayahnya sendiri adalah perbuatan yang sesat yang menandakan kebodohan dan bahwa persembahan kaumnya kepada patung-patung itu adalah perbuatan mungkar yang harus diberantas dan diperangi agar mereka kembali kepada persembahan yang benar ialah persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan pencipta alam semesta ini.

Semasa remajanya, nabi ibrahim as sering disuruh ayahnya keliling kota menjajakan patung-patung buatannya namun karena iman dan tauhid yang telah diilhamkan oleh Tuhan kepadanya ia tidak bersemangat untuk menjajakan barang-barang itu.

Kisah Nabi Ibrahim yang Dalam Masa Mencari Tuhan

Nabi Ibrahim melihat bukti kekuasaan Alloh

Nabi ibrahim yang sudah berketatapan hati hendak memerangi syirik dan persembahan berhala yang terjadi dalam masyarakat kaumnya ingin lebih dahulu mempertebalkan iman dan keyakinannya, menentramkan hatinya serta membersihkannya dari keragu-raguan yang mungkin sesekali mengganggu pikirannya degan memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati.

Berserulah ia kepada Allah :

“Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana engkau mengidupkan makhluk-makhluk yang sudah mati.”

Allah menjawab seruannya dengan berfirman :

“Tidaklah engkau beriman dan percaya kepada kekuasaan-Ku ?”

Nabi Ibrahim menjawab :

“Benar, wahai Tuhanku, aku telah beriman dan percaya pada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu dengan mata kepalaku sendiri, agar aku dapat mendapat ketentraman dan ketenangan dan hatiku dan agar kami menjadi tebal dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan kepada kekuasaan Mu.”

Allah mengabulkan permohonan Nabi Ibrahim as lalu diperintahkanlah ia menangkap empat ekor burung lalu setelah memperhatikan dan meneliti bagian tubuh-tubuh burung itu, memotongnya menjadi berkeping-keping mencampur baurkan kemudian tubuh burung yang sudah hancur luluh dan bercampur-baur itu diletakkan di atas puncak setiap bukti dari empat bukit yang letaknya berjauhan satu dari yang lain.

Setelah dikerjakan apa yang telah diisyaratkan oleh Allah itu, diperintahkanlah Nabi Ibrahim as memangil burung-burung yang telah terkoyak koyak tubuhnya dan terpisah jauh tiap-tiap bagian tubuh burung dari bagian yang lain.

Dengan izin Allah dan kuasa-Nya datanglah beterbangan empat ekor burung itu dalam keadaan utuh bernyawa seperti sediakala begitu mendengar seruan dan panggilan nabi ibrahim as kepadanya lalu hinggaplah empat burung yang hidup kembali itu didepannya, dilihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah Yang Maha Berkuasa dapat menghidupkan kembali makhluk-Nya yang sudah mati sebagaimana Dia menciptakannya dari sesuatu yang tidak.

Dan dengan demikian tercapailah apa yang diinginkan oleh Nabi Ibrahim as untuk menetramkan hatinya dan menghilangkan kemungkinan ada keraguan di dalam iman dan keyakinannya, bahwa kekuasaan dan kehendak Allah tidak ada sesuatu pun di langit atau di bumi yang dapat menghalangi atau menentangnya dan hanya kata “kun” yang difirmankan oleh-Nya maka terjadilah akan apa yang dikehendakinya “Fayakun”

Begitu kisah cerita nabi ibrahim mencari Tuhan, banyak terjadi hal-hal yang memang di luar nalar manusia. Namun kita wajib meyakini bahwa sesuatu yang kita anggap tidak mungkin, jika Allah mengizinkannya maka bisa mungkin saja terjadi.

Demikianlah telah dijelaskan tentang Kisah Nabi Ibrahim yang Dalam Masa Mencari Tuhan semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian.