√ Fiqih Kitab Fathul Qorib : Tata Cara Mandi Besar (Lengkap)

Fiqih Kitab Fathul Qorib - Tata Cara Mandi Besar (Lengkap)

Fiqih Kitab Fathul Qorib : Tata Cara Mandi Besar (Lengkap) – Penyebab hadas besar yang mewajibkan mandi wajib atau mandi besar ada enam perkara. Yaitu keluar mani, bersetubuh, haid, nifas, mati. Sedangkan cara mandi ada tiga yaitu niat, membuang najis yang ada di badan dan mengalirkan air ke seluruh tubuh.

Dalam pembahasan dibawah ini menjelaskan apa yang ada di dalam kitab Fathul Qorib, untuk lebih jelasnya silahkan simak Pengetahuan Islam berikut.

Fiqih Kitab Fathul Qorib : Tata Cara Mandi Besar (Lengkap)

فصل : في موجب الغسل
والغسل لغة سيلان الماء على الشيء مطلقاً وشرعاً سيلانه على جميع البدن بنية مخصوصة (والذي يوجب الغسل ستة أشياء ثلاثة)
منها (تشترك فيها الرجال والنساء وهي التقاء الختانين) ويعبر عن هذا الالتقاء بإيلاج حي واضح غيب حشفة الذكر منه،أو قدرها من مقطوعها في فرج، ويصير الآدمي المولج فيه جنباً بإيلاج ما ذكر، أما الميت فلا يعاد غسله بإيلاج فيه، وأما الخنثى المشكل، فلا غسل عليه بإيلاج حشفته، ولا بإيلاج في قبله
و من المشترك (إنزال) أي خروج (المنيّ) من شخص بغير إيلاج، وإن قل المني كقطرة، ولو كانت على لون الدم، ولو كان الخارج بجماع أو غيره في يقظة أو نوم بشهوة أو غيرها من طريقه المعتاد، أو غيره كأن انكسر صلبه، فخرج منيه
و من المشترك (الموت) إلا في الشهيد (وثلاثة تختص بها النساء وهي الحيض) أي الدم الخارج من امرأة بلغت تسع سنين، (والنفاس) وهو الدم الخارج عقب الولادة، فإنه موجب للغسل قطعاً (والولادة) المصحوبة بالبلل موجبة للغسل قطعاً، والمجردة عن البلل موجبة للغسل في الأصح.

Pengertian Mandi Besar

Secara bahasa, mandi bermakna mengalirnya air pada sesuatu secara mutlak.

Secara syara’ adalah bermakna mengalirnya air ke seluruh badan disertai niat tertentu.

Hal Mewajibkan Mandi

Sesuatu yang mewajibkan mandi ada enam perkara.

  1. Tiga di antaranya dialami oleh laki-laki dan perempuan, yaitu bertemunya alat kelamin.
  2. Bertemunya alat kelamin ini diungkapkan dengan arti, orang hidup yang jelas kelaminnya yang memasukkan hasyafah penisnya atau kira-kira hasyafah dari penis yang terpotong hasyafahnya ke dalam farji.
  3. Anak Adam yang dimasuki hasyafah menjadi junub sebab dimasuki oleh hasyafah yang telah disebutkan di atas.

Sedangkan untuk mayat yang sudah di mandikan, maka tidak perlu dimandikan lagi ketika dimasuki haysafah.

Adapun khuntsa musykil, maka tidak wajib baginya melakukan mandi sebab memasukkan hasyafahnya atau kemaluannya dimasuki hasyafah. Di antara hal yang di alami oleh laki-laki dan perempuan adalah keluar sperma sebab selain memasukkan hasyafah.

Walaupun sperma yang keluar hanya sedikit seperti satu tetes. Walaupun berwarna darah. Walaupun sperma keluar sebab jima’ atau selainnya, dalam keadaan terjaga atau tidur, disertai birahi ataupun tidak, dari jalur yang normal ataupun bukan seperti punggungnya belah kemudian spermanya keluar dari sana.

Di antara yang dialami oleh keduanya adalah mati, kecuali orang yang mati syahid.

Tiga hal yang mewajibkan mandi adalah tertentu dialami oleh kaum perempuan yaitu,

  1. Haidl, maksudnya darah yang keluar dari seorang wanita yang telah mencapai usia sembilan tahun.
  2. Nifas, yaitu darah yang keluar setelah melahirkan. Maka sesungguhnya nifas mewajibkan mandi secara mutlak.
  3. Melahirkan yang disertai dengan basah-basah mewajibkan mandi secara pasti.

Sedangkan melahirkan yang tidak disertai basah-basah mewajibkan mandi menurut pendapat ashah.

Tata Cara Mandi ada Tiga

فصل: وفرائض الغسل ثلاثة أشياء.
أحدها (النية) فينوي الجنب رفع الجنابة أو الحدث الأكبر ونحو ذلك، وتنوي الحائض أو النفساء رفع حدث الحيض أو النفاس، وتكون النية مقرونة بأول الفرض، وهو أول ما يغسل من أعلى البدن أو أسفله، فلو نوى بعد غسل جزء وجب إعادته (وإزالة النجاسة إن كانت على بدنه) أي المغتسل وهذا ما رجحه الرافعي وعليه فلا تكفي غسلة واحدة عن الحدث والنجاسة، ورجح النووي الاكتفاء بغسلة واحدة عنهما، ومحله ما إذا كانت النجاسة حكمية، أما إذا كانت النجاسة عينية وجب غسلتان عندهما
وإيصال الماء إلى جميع الشعر والبشرة) وفي بعض النسخ بدل جميع أصول، ولا فرق بين شعر الرأس وغيره، ولا بين الخفيف منه والكثيف، والشعر المضفور إن لم يصل الماء إلى باطنه إلا بالنقض وجب نقضه، والمراد بالبشرة ظاهر الجلد، ويجب غسل ما ظهر من صماخي أذنيه ومن أنف مجدوع، ومن شقوق بدن، ويجب إيصال الماء إلى ما تحت القلفة من الأقلف، وإلى ما يبدو من فرج المرأة عند قعودها لقضاء حاجتها، ومما يجب غسله المسربة، لأنها تظهر في وقت قضاء الحاجة، فتصير من ظاهر البدن
وسننه أي الغسل (خمسة أشياء التسمية والوضوء) كاملاً (قبله) وينوي به المغتسل سنة الغسل إن تجردت جنابته عن الحدث الأصغر (وإمرار اليد على) ما وصلت إليه من (الحسد) ويعبر عن هذا الإمرار بالدلك
والموالاة وسبق معناها في الوضوء (وتقديم اليمنى) من شقيه (على اليسرى) وبقي من سنن الغسل أمور مذكورة في المبسوطات منها التثليث وتخليل الشعر.

Niat

Fardlunya mandi ada tiga perkara. Salah satunya adalah niat. Maka orang yang junup niat menghilangkan hadats jinabah, menghilangkan hadats besar atau niat-niat sesamanya. Sedangkan untuk wanita haidl dan wanita nifas, niat menghilangkan hadats haidl atau hadats nifas.

Niat yang dilakukan harus bersamaan dengan awal kefarduan, yaitu awal bagian badan yang terbasuh, baik dari badan bagian atas atau bagian bawah.

Sehingga, kalau dia melakukan niat setelah membasuh bagian badan, maka wajib untuk mengulangi basuhan bagian tersebut.

Menghilangkan Najis di Badan

Fardlu kedua adalah menghilangkan najis jika terdapat di badannya, yaitu badan orang yang melakukan mandi besar. Hal ini (menghilangkan najis) adalah pendapat yang dikuatkan (tarjih) oleh imam ar Rafi’i. Berdasarkan pendapat ini, maka satu basuhan tidak cukup untuk menghilangkan hadats dan najis sekaligus.

Imam An Nawawi men-tarjih (menguatkan) bahwa satu basuhan sudah dianggap cukup untuk menghilangkan hadats dan najis sekaligus.

Tempatnya Pendapat imam an Nawawi ini adalah ketika najis yang berada di badan adalah najis hukmiyah.

Sedangkan jika berupa najis ‘ainiyah, maka wajib melakukan dua basuhan untuk najis dan hadats tersebut.

Mengalirkan Air Ke Seluruh Badan

Fardlu ketiga adalah mengalirkan air ke seluruh bagian rambut dan kulit badan. Dalam sebagian redaksi diungkapkan dengan bahasa “ushul (pangkal)” sebagai ganti dari bahasa “jami’ (seluruh)”.

Tidak ada perbedaan antara rambut kepala dan selainnya, antara rambut yang tipis dan yang lebat.

Rambut yang digelung, jika air tidak bisa masuk ke bagian dalamnya kecuali dengan diurai, maka wajib untuk diurai. Yang dikehendaki dengan kulit adalah kulit bagian luar.

Wajib membasuh bagian-bagian yang nampak dari lubang kedua telinga, hidung yang terpotong dan cela-cela badan. Dan wajib mengalirkan air ke bagian di bawah kulupnya orang yang memiliki kulup (belum disunnat). Dan mengalirkan air ke bagian farji perempuan yang nampak saat ia duduk untuk buang hajat.

Di antara bagian badan yang wajib dibasuh adalah masrabah (tempat keluarnya kotoran (Bol : jawa). Karena sesungguhnya bagian itu nampak saat buang hajat sehingga termasuk dari badan bagian luar.

Sunnahnya Mandi Ada Lima

Sunnahnya mandi ada lima yaitu

  1. Membaca basmalah,
  2. Berwudhu secara sempurna sebelum mandi dengan niat untuk kesunnahan mandi apabila janabahnya sepi dari hadas kecil,
  3. Menggerakkan dan menggosokkan tangan pada tubuh yang terjangkau tangan. Pergerakan tangan ini disebut dengan dalk (menggosok).
  4. Bersegera (muwalat) yang maknanya sudah dijelaskan dalam bab wudhu.
  5. Mendahulukan yang kanan dari dua sisi tubuh dan mengakhirkan yang kiri.

Masih ada sunnah-sunnahnya mandi yang disebut dalam kitab mabsutot salah satunya menigalikan dan menyela-nyela rambut.

Mandi Besar yang Disunnahkan

فصل : والاغتسالات المسنونة سبعة عشر غسلا (غسل الجمعة) لحاضرها ووقته من الفجر الصادق
(و غسل (العيدين) الفطر والأضحى، ويدخل وقت هذا الغسل بنصف الليل (والاستسقاء) أي طلب السقيا من الله
(والخسوف) للقمر (والكسوف) للشمس (والغسل من) أجل (غسل الميت) مسلماً كان أو كافراً)
و غسل (الكافر إذا أسلم) إن لم يجنب في كفره أو لم تحض الكافرة، وإلا وجب الغسل بعد الإسلام في الأصح، وقيل يسقط إذا أسلم (والمجنون والمغمى عليه إذا أفاقا) ولم يتحقق منهما إنزال فإن تحقق منهما إنزال وجب الغسل على كل منهما
والغسل عند إرادة (الإحرام) ولا فرق في هذا الغسل بين بالغ وغيره، ولا بين مجنون وعاقل، ولا بين طاهر وحائض، فإن لم يجد المحرم الماء تيمم.
و الغسل (لدخول مكة) لمحرم بحج أو عمرة (وللوقوف بعرفة) في تاسع ذي الحجة (وللمبيت بمزدلفة ولرمي الجمار الثلاث) في أيام التشريق الثلاث، فيغتسل لرمي كل يوم منها غسلاً، أما رمي جمرة العقبة في يوم النحر، فلا يغتسل له لقرب زمنه من غسل الوقوف
و الغسل (للطواف) الصادق بطواف قدوم وإفاضة ووداع، وبقية الأغسال المسنونة مذكورة في المطولات

Mandi-mandi yang disunnahkan

  1. Mandi Jum’at bagi orang yang hendak menghadirinya. Dan waktunya mulai dari terbitnya fajar shadiq.
  2. Mandi dua hari raya, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adlha. Waktunya mandi ini mulai tengah malam.
  3. Mandi sholat istisqa’, yaitu meminta siraman dari Allah Swt.
  4. Mandi karena hendak melakukan sholat gerhana rembulan dan gerhana matahari.
  5. Mandi karena memandikan mayat orang Islam atau kafir.
  6. Mandinya orang kafir ketika masuk Islam jika dia tidak junub di masa kufurnya. Atau wanita kafir yang tidak mengalami haidl -saat masih kufur-. Jika junub atau haidl, maka wajib bagi mereka berdua untuk melakukan mandi setelah masuk Islam menurut pendapat al ashah. Ada yang mengatakan bahwa kewajiban mandinya telah gugur ketika masuk Islam.
  7. Mandinya orang gila atau pingsan ketika keduanya telah sembuh dan tidak dipastikan mereka berdua telah mengeluarkan sperma (saat belum sembuh). Sehingga, jika dipastikan bahwa keduanya telah mengeluarkan sperma, maka wajib bagi mereka berdua untuk mandi.
  8. Mandi ketika hendak ihram. Dalam mandi ini, tidak ada perbedaan antara orang sudah baligh dan selainnya, antara orang gila dan orang yang memiliki akal sehat, antara orang yang suci dan wanita yang haidl. Jika orang yang ihram itu tidak menemukan air, maka sunnah melakukan tayammum.
  9. Mandi karena hendak masuk Makkah bagi orang yang ihram haji atau umrah.
  10. Mandi karena wukuf di Arafah pada tanggal sembilan Dzul Hijjah.
  11. Mandi karena untuk mabit (bermalam) di Muzdalifah, dan karena untuk melempar jumrah tsalats (tiga jumrah) pada tiga hari tasyrik. Maka dia sunnah melakukan mandi untuk melempar jumrah setiap hari dari tiga hari tasyrik.
    Sedangkan untuk melempar jumrah Aqabah di hari Nahar (hari raya kurban), maka dia tidak sunnah mandi karena hendak melakukannya, sebab waktunya terlalu dekat dari mandi untuk wukuf.
  12. Mandi karena untuk melakukan thawaf yang mencakup thawaf Qudum, Ifadlah dan Wada’.

Fiqih Kitab Fathul Qorib - Tata Cara Mandi Besar (Lengkap)

Sisa-sisa mandi yang disunnah telah dijelaskan di kitab-kitab yang panjang keterangan.

Niat mandi Hari Raya Idul Fitri dalam bahasa Arab

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِيَوْمِ عِيْدِ الْفِطْرِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

Dalam bahasa Latin: nawaitul ghusla liyaumi ‘iidil fithri sunnatan lillaati ta’aala

Artinya: Sengaja saya mandi pada hari Raya Idul Fitri sunnah karena Allah Taala

Niat mandi Haid dalam bahasa Arab

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ الْحَيْضِ ِللهِ تَعَالَى

“Nawaitul Ghusla Lifraf il Hadatsil Akbari minal Haidil Lillahi Ta’ala”

Artinya: Saya berniat mandi wajib untuk mensucikann hadast besar dari haid karena Allah Ta’ala.

Demikian ulasan tentang Fiqih Kitab Fathul Qorib : Tata Cara Mandi Besar (Lengkap) Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu penggetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah

Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah

Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Wudhu. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan tentang pengertian niat, tertib wudhu dan air dua qullah dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya silahkan simak penjelasan Pengetahuan Islam berikut ini dengan seksama.

Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah

Kali ini melengkapi bahasan wudhu, kita bahas tentang niat, tertib wudhu, hingga air dua qullah dari matan Safinatun Najah.

Pengertian Niat dan Tertib

النِّيَّةُ: قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرِناً بِفِعْلِهِ. وَمَحَلُّهَا: الْقَلْبُ. وَالتَّلَفُّظُ بِهَا: سُنَّةٌ. وَوَقْتُهَا، عِنْدَ غَسْلِ أَوَّلِ جُزْءٍ مِنَ الْوَجْهِ

وَالتَّرْتِيْبُ: أَنْ لاَ يُقَدَّمَ عُضْوٌ عَلَى عُضْوٍ

Fasal: niat adalah menyengaja sesuatu yang dibarengi dengan mengerjakannya dan tempat niat ada di dalam hati. Melafazhkannya adalah sunnah. Waktu niat adalah saat membasuh bagian pertama dari wajah.

Maksud tertib adalah bagian yang pertama tidak didahului bagian yang lain.

Hukum Air

المَاءُ قَلِيْلٌ وَكَثِيْرٌ

فَالْقَلِيْلُ: مَا دُوْنَ الْقُلَّتَيْنِ

وَالْكَثِيْرُ: قُلَّتَانِ فَأكْثَرُ

وَالقَلِيْلُ: يَتَنَجَّسُ بِوُقُوْعِ النَّجَاسَةِ فِيْهِ، وَإِن لَمْ يَتَغَيَّرْ

وَالْمَاءُ الْكَثِيْرُ: لاَ يَتَنَجَّسُ إِلاَّ إذا تَغَيَّرَ طَعْمُهُ، أَوْ لَوْنُهُ، أوْ رِيْحُهُ

Fasal: Air sedikit dan banyak. Air sedikit itu jika kurang dari dua qullah dan air banyak jika lebih dari dua qullah. Air sedikit menjadi najis dengan jatuhnya benda najis ke dalamnya meskipun tidak berubah. Sementara air banyak tidak menjadi najis dengan jatuhnya benda najis ke dalamnya kecuali jika berubah rasanya, warnanya, atau aromanya.

Catatan Dalil

Pertama

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ – رضي الله عنه – قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ: إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ – وَفِي رِوَايَةٍ: بِالنِّيَّةِ – وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى , فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ , فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ , وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا , فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ

Artinya : Dari ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niat (an-niyyaat)—dalam riwayat lain dengan lafazh niyat—dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907)

Pelajaran penting

Niat merupakan syarat sah wudhu dan ini jadi pendapat jumhur ulama (Malikiyah, Syafi’iyah, Hanabilah), juga madzhab Zhahiriyah.

Niat itu berarti bermaksud dan berkehendak. Letak niat adalah di dalam hati. Niat dalam hati sudah teranggap berdasarkan kesepakatan ulama, cuma mereka berbeda pandangan apakah niat perlu dilafazhkan ataukah tidak.

Jika berbeda antara yang diucap dengan yang diniatkan dalam hati, maka yang jadi patokan adalah niatan di hati.

Jika manusia dalam keadaan uzur untuk beramal, ia akan tetap diganjar. Karena seandainya ia tidak ada uzur atau halangan, tentu ia akan beramal. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Artinya : “Jika seorang hamba sakit atau bersafar, maka dicatat baginya amalan seperti ia dalam keadaan mukim dan sehat.” (HR. Bukhari, no. 2996)

Kedua

Apa dalil untuk tartib (berurutan) dalam wudhu?

Dalilnya adalah ayat wudhu (surah Al-Maidah ayat 6). Allah menyebutkannya secara berurutan dan meletakkan mengusap (pada kepala) di antara dua membasuh.

Juga ketika ditunjukkan praktik wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berurutan dan beliau tidak pernah meninggalkan tartib tersebut.

Tartib dalam wudhu adalah dengan memulai dari membasuh wajah, lalu membasuh kedua tangan sampai siku, lalu mengusap kepala, kemudian membasuh kedua kaki sampai mata kaki.

Jika seseorang membasuh langsung empat anggota wudhunya satu kali siraman, maka tidaklah sah kecuali yang sah hanya membasuh wajahnya saja karena urutannya yang pertama. Lihat perkataan Imam Asy-Syairazi. (Al-Majmu’, 1:248)

Ketiga

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجِّسْهُ شَىْءٌ

Artinya : “Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak ada sesuatupun yang menajiskannya.” (HR. Ibnu Majah, no. 424. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Keterangan

Air dua qullah adalah air seukuran 500 rothl ‘Iraqi yang seukuran 90 mitsqol. Jika disetarakan dengan ukuran sho’, dua qullah sama dengan 93,75 sho’. Lihat Tawdhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram, Syaikh Ali Basam, 1:116, Penerbit Darul Atsar, Cetakan pertama, Tahun 1425 H.

Sedangkan 1 sho’ seukuran 2,5 atau 3 kg. Jika massa jenis air adalah 1 kg/liter dan 1 sho’ kira-kira seukuran 2,5 kg; berarti ukuran dua qullah adalah 93,75 x 2,5 = 234,375 liter. Jadi, ukuran air dua qullah adalah ukuran sekitar 200 liter. Gambaran riilnya adalah air yang terisi penuh pada bak yang berukuran 1 m x 1 m x 0,2 m.

Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah

Pelajaran penting

Dari hadits dua qullah ini, secara mantuq (tekstual), apabila air telah mencapai dua qullah maka ia sulit dipengaruhi oleh najis. Namun, jika air tersebut berubah rasa, bau atau warnanya karena najis, maka dia menjadi najis berdasarkan ijmak (kesepakatan para ulama).

Sebagian ulama seperti Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, Ahmad dan pengikut mereka menyatakan bahwa jika air kurang dari dua qullah, air tersebut menjadi najis dengan hanya sekadar kemasukan najis walaupun tidak berubah rasa, warna atau baunya.

Namun ulama lainnya seperti Imam Malik, ulama Zhahiriyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahb dan ulama Najd menyatakan bahwa air tidaklah menjadi najis dengan hanya sekadar kemasukan najis.

Sebagian ulama Syafi’iyah juga ada yang berpendapat dengan pendapat ini. Air tersebut bisa menjadi najis apabila berubah salah satu dari tiga sifat yaitu rasa, warna atau baunya. Karena ada sebuah hadits yang menyebutkan,

إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَىْءٌ

Artinya : “Sesungguhnya air itu suci, tidak ada yang dapat menajiskannya.” (HR. Abu Daud, No. 67; Tirmidzi, no. 66. Imam Nawawi dalam Al-Majmu’, 1:82 menyatakan bahwa hadits ini shahih. As-Suyuthi juga dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir, 2089 menshahihkan hadits ini)

Demikian ulasan tentang Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

Keutamaan Shalat Tarawih, Hukum Dan Dalil Lengkap

Keutamaan Shalat Tarawih, Hukum Dan Dalil Lengkap – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Shalat Tarawih. yang meliputi keutamaan shalat tarawih, hukum shalat tarawih berjamaah beserta dalilnya.

Dalam bulan Ramadhan ini kita sebagai umat muslim diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama 30 hari yang merupakan rukun islam yang ke-3 dan pada malam harinya kita di sunahkan untuk mengerjakan shalat Tarawih.

Keutamaan Shalat Tarawih, Hukum Dan Dalil Lengkap

Shalat Tarawih adalah shalat sunah yang dilakukan pada malam hari di bulan Ramadhan, setelah melaksanakan shalat Isya dan batas waktunya sampai terbit fajar dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silahkan simak ulasan Pengetahuanislam.com dibawah ini dengan seksama.

Keutamaan Shalat Tarawih

Berikut ini merupakan beberapa keutamaan dalam shalat Tarawih.

  1. Orang yang melakukan qiyam di Bulan Ramadhan akan diampuni dosanya seperti pada waktu ia dilahirkan.

Rasulullah saw bersabda yang artinya: “Dari Abdurrahman bin Auf ra. bahwa Rasulullah saw bersabda: sesungguhnya Allah Swt telah memfardhukan puasa Ramadhan, dan saya telah mensunnahkan qiyam pada malamnya. Maka barang siapa berpuasa pada siangnya dan mengerjakan shalat pada malamnya, karena mengharap ridha Allah, niscaya keluarlah ia dari dosa seperti pada ia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Ahmad)

  1. Orang yang mengerjakan shalat Tarawih akan di ampuni dosanya yang telah lalu.

Rasulullah saw bersabda yanga artinya: “Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw telah menyuruh kami para sahabat mengerjakan shalat malam pada bulan Ramadhan dengan tidak mewajibkannya. beliau bersabda: Barang siapa yang mengerjakan shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Shalat malam (termasuk shalat Tarawih) merupakan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu.

Rasulullah saw bersabda yang artinya: “Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda: Seutama-utama puasa Ramadhan ialah puasa sunah pada bulan Muharam, dan seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat sunah pada malam hari.” (HR. Muslim).

Hukum Shalat Tarawih Berjamaah

Adapun mengenai hukum berjamaah dalam shalat Tarawih para ulama berbeda pendapat:

Abu Hanifah, Syafii, kebanyakan sahabat Syafii, Ahmad dan sebagian ulama Malikiyah

Berpendapat bahwa shalat Tarawih lebih utama dilaksanakan dengan berjamaah di masjid, sebagaimana yang telah dikerjakan dan diperintahkan oleh Kalifah Umar bin Khata ra. beserta para sahabat lainnya.

Malik, Abu Yusuf dan sebagian pengikut Syafii

Berpendapat bahwa shalat Tarawih lebih utama dikerjakan di rumah masing-masing, hal tersebut berdasarkan hadist berikut ini yang artinya:

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: “Rasulullah Saw bersabda: Seutama-utama shalat ialah shalat seseorang yang dikerjakan dirumahnya selain shalat fardhu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pendapat Abu Hanifah, Syafii dan Ahmad dipandang sebagai pendapat yang lebih kuat karena berdasarkan hadist berikut ini

Dari Aisyah ra. “sesungguhnya Nabi Saw mengerjakan shalat Tarawih dalam masjid maka mengerjakan shalat pula dibelakangnya beberapa orang, kemudian pada malam berikutnya Nabi mengerjakan shalat lagi maka banyaklah orang-orang yang mengikutinya. pada malam ketiga mereka berkumpul pula tetapi Nabi tidak keluar kemasjid. pada pagi harinya Nabi bersabda: Saya telah melihat apa yang telah kamu perbuat semalam. Tak ada yang menghalangi saya keluar ke masjid tadi malam selain dari saya takut difardhukan shalat itu atas kamu.” (HR. Abu Daud)

Hadist di atas menyatakan bahwa mengerjakan shalat tarawih pada bulan Ramadhan dengan berjamaah dimasjid adalah diutamakan. Hadist ini juga yang menjadi pegangan bagi ulama yang menetapkan bahwa shalat tarawih dikerjakan secara berjamaah di masjid.

Alasan lain yang menyatakan bahwa shalat Tarawih dilaksanakan berjamaah dimasjid ialah sebagai berikut:

Dari Urwah ra. Ia berkata: “Telah dikabarkan kepadaku oleh Abdurrahman Alqari bahwasanya Umar pada suatu malam keluar mengelilingi masjid pada bulan Ramadhan sedang di masjid terdapat orang bergolong-golongan, ada yang shalat sendirian dan ada yang diikuti oleh beberapa orang. melihat itu umar berkata: Demi Allah saya kira apabila kita kumpulkan orang-orang ini untuk seorang imam. Sesudah itu beliau menyuruh Ubai bin Kaab supaya mengimami mereka dalam shalat pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Menurut Jumhur/kebanyakan ulama bahwa yang afdol ialah shalat Tarawih dikerjakan di masjid secara berjamaah. Inbu Abi Syaibah meriwayattkan dari Ali, Ibnu Masud dan Ubai bin Kaab bahwasanya Umarlah yang menyuruh para sahabat untuk mengerjakan shalat Tarawih secara berjamaah dan hal ini terus dikerjakan oleh para sahabat.

Keutamaan Shalat Tarawih Hukum Dan Dalil Lengkap

Sebagian Ulama berpendapat bahwa yang lebih utama mengerjakan shalat Tarawih ialah dengan cara sendiri-sendiri dirumah. Ada yang berpendapat bahwa jika hafal Al-Qur’an dan tidak malas kalah shalat Tarawih sendirian, maka mengerjakan shalat sendirian lebih utama. Kalau tidak hafal Al-Qur’an maka lebih utama shalat Tarawih dikerjakan secara berjamaah.

Sedangkan menurut golongan Malikiyah, Abu Yusuf dan sebagaian Syafiiyah bahwa shalat Tarawih lebih utama dikerjakan sendirian dirumah masing-masing. alasan mereka ialah Nabi Saw mengerjakan shalat Tarawih sendirian setiap malam terus-menerus. Kecuali hanya beberapa malam saja beliau melaksanakan shalat Tarawih secara berjamaah. Demikaian juga yang dikerjakan oleh Abu Bakar.

Shalat sunah pada malam bulan Ramadhan dinamakan shalat Tarawih adalah kerena para golongan salaf mengerjakannya dengan cara berhenti untuk istirahat pada tiap-tiap empat rakaat. Mereka mengerjakan shalat sunah pada malam bulan Ramadhan seperti itu karena mereka meneladani cara yang dikerjakan oleh Rasulullah Saw.

Demikianlah telah dijelaskan tentang Keutamaan Shalat Tarawih, Hukum Dan Dalil Lengkap. Semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian.

√ 15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat

15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat

15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat – Pada pembahasan kali ini Pengetahuan Islam akan menjelaskan tentang 15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat. Setiap perbuatan yang kita lakukan pasti ada balasannya kelak di hari kiamat, walaupun sekecil rambut yang di belah menjadi 7 bagian, Apalagi Sholat. Untuk lebih detailnya silahkan simak artikel di bawah ini.

15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat

Shalat adalah kewajiban bagi kita semua sebagai seorang muslim yang sudah balliq. Entah dalam keadaan apapun, dan di manapun, sholat tidak boleh kita tinggalkan walaupun satu kali. Karena kewajiban kita, maka haruslah dikerjakan. Sesungguhnya Allah SWT adalah Maha Besar, Maha Pengasih,Maha Penyayang dan juga maha pengampun, bagi hambanya yang mau bertaubat deng bersungguh-sungguh. Sesungguhnya tanpa Kita sadari, kita sudah banyak diberikan kenikmatan di dunia ini sampai tak terhitung jumlahnya. Maka dari itu kita wajib mensyukuri nikmat-nikmat tersebut dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya.

Salah satu perintah Allah kepada kita sebagai umat Islam adalah menunaikan ibadah shalat fardhu 5 waktu:

Nabi muhammad Saw Bersabda:

“Barang siapa yang menyepelekan sholat (menggampangkan sholat), maka Allah akan menyiksanya dengan lima belas macam siksaan; enam siksaan di dunia, tiga siksaan ketika menjelang mati, tiga siksaan di alam kubur dan tiga siksaan ketika keluar dari alam kubur”. (Qurtubi(Qurratul ‘uyun: hlm.2).

15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat

Semoga kita tidak tergolong orang-orang yang meninggalkan atau melalaikan sholat. Adapun 15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat adalah sebagai berikut:

  1. 6 Macam balasan Ketika masih Di Dunia

  • Allah SWT akan menghilangkan keberkahan dari umurnya
  • Tanda kesholehannya akan dihapus oleh Allah SWT dari keningnya
  • Semua amalnya tidak akan diberi pahala oleh Allah SWT.
  • Allah SWT tidak akan mengangkat do’a nya ke langit
  • Semua makhluk di dunia akan menyepelekannya
  • Dan dia tidak akan mendapatkan bagian doanya orang-orang shaleh
  1. 3 Macam Balasan Ketika Sakarotul Maut

  • Akan mati dalam keadaan hina
  • Akan mati dalam keadaan lapar, seperti orang yang berada di lumbung padi tapi ia kelaparan
  • Akan mati dalam keadaan haus, seperti orang yang berada di laut namun ia kehausan
  1. 3 Macam Balasan Ketika Berada Di Alam Kubur

  • Si mayit akan Disemprit Kan kuburnya oleh Allah SWT dan akan dihimpit sampai terasa ke tulang rusuk
  • Kuburannya akan di penuhi dengan api neraka
  • Yang terakhir, akan datangnya Ular Syuja’al Aqro’ ular yang diciptakan dari api neraka

Ular itu pun berkata kepada si mayit : “Aku adalah Syuja’al-Aqro’, suaranya pun tak terbayangkan seperti apa dahsyatnya, dan ular itu berkata: “Tuhanku menyuruhku agar memukulmu karena kau telah menyia-nyiakan sholat subuh dari subuh sampai dzuhur, dari dzuhur sampai asar, dari asar sampai magrib, dari magrib sampai isya, dan dari isya sampai subuh. Kemudian ular itu si mayit, namun satu kali pukulannya, ia akan masuk kedalam tanah sedalam ukuran 70 hasta, lalu ular Syuja’al-Aqro’ memasukkan kukunya kebawah tanah untuk mengeluarkannya kembali, dan seterusnya tanpa henti sampai hari kiamat tiba, maka dari itu kita mohon perlindungan kepada Allah dari siksa kubur.” (Qurtubi (Qurratul ‘uyun; hlm.4).

  1. 3 Macam Balasan Pada Saat Hari Kiamat

  • Mereka akan di kumpulkan bersama orang-orang yang diseret mukanya menuju neraka jahanam
  • Mereka akan merasakan daging dan mukanya leleh berjatuhan
  • Dan yang terakhir Hisabnya akan di beratkan

Itulah sebagian balasan Allah kepada hambanya yang suka meninggalkan sholat. Tentunya masih banyak lagi yang tidak kita ketahui. Semoga kita di jauhkan dari golongan tersebut, semoga setelah kita mengetahui ini, bisa menambah keimanan dan ketaqwaan kita Kepada Allah SWT. Dan menjalankan perintah-perintahnya.

Besarnya Dosa karena Meninggalkan Shalat 5 Waktu

  1. Shalat shubuh: Allah akan menenggelamkannya kedalam neraka jahanam selama 60 tahun, sama halnya 1000 tahun di dunia = 1 hari di akhirat.
  2. Dzuhur: Meninggalkan shalat dzuhur dosanya sama halnya seperti membunuh 1000 orang muslim
  3. Ashar: Ketika meninggalkan sholat ashar, sama halnya Seperti dosanya orang yang menghancurkan ka’bah
  4. Maghrib: Meninggalkan shalat maghrib sama halnya seperti berzina dengan orang tuanya sendiri
  5. Isya: “Sesungguhnya Allah ta’ala telah berfirman: “Hai orang yang meninggalkan sholat isya, bahwa Aku tidak ridho jika kamu tinggal di bumiku dan menggunakan segala nikmat-nikmat Ku, segala yang dikerjakan dan digunakan ialah berdosa kepada Allah SWT.”

Semoga kita di jauhkan oleh Allah dari golongan-golongan tersebut. Aamin….

Demikianlah 15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan bagi kita.

Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan

Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan

Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan – Sahabat Muslim, sebagai manusia kita diciptakan untuk menjadi kholifah di muka bumi ini. Dengan menjadi pemimpin tentu menjadi acuan sebagai contoh bagi penerusnya. Sebagaimana di contohkan oleh baginda Rasulullah SAW., beliau merupakan panutan sekaligus contoh teladan yang baik.

Baca : Fiqih : Sunnah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan

Bukan hanya sekedar memberitahu tetapi beliau juga mencontohkan dan mengamalkannya sebagai panutan yang baik untuk umatnya. Nah sahabat, bagaimana mencontohkan keteladanan?. Untuk lebih jelasnya silahkan simak artikel Pengetahuan Islam berikut ini.

Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan

Mengamalkan ilmu agama dan memberikan contoh keteladanan dengan amal perbuatan sesungguhnya lebih mengena kepada sasaran dakwah daripada sekedar bicara tanpa amal yang nyata. Sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang Syu’aib,

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ

Artinya :

“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.” (QS. Huud Ayat 88)

Alim yang tidak mengamalkan Ilmunya

Malik bin Dinar rahimahullah berkata,

“Sesungguhnya seseorang yang memiliki ilmu (‘alim) namun tidak mengamalkan ilmunya, maka nasihatnya akan tergelincir dari dalam hati, sebagaimana tetesan air hujan akan tergelincir dari atas batu yang licin.” [Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Al-Iqtidha’, hal. 9]

Dari Ma’mun, beliau mengatakan,

نحن إلى أن نوعظ بالأعمال أحوج من أن نوعظ بالأقوال

Artinya :

“Kami lebih butuh nasihat dengan (contoh) amal perbuatan daripada nasihat dengan kata-kata.” [Jaami’ Bayaan Al-‘Ilmi, hal. 1236]

Hal ini karena barangsiapa yang rutin atau rajin beramal, maka merutinkan amal itu sendiri pada hakikatnya adalah bentuk berdakwah. Dengan demikian, dia menjadi contoh teladan bagi masyarakat kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Artinya :

“Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan Ayat 74)

Tidaklah seseorang itu mencapai kedudukan tersebut kecuali jika terkumpul dalam dirinya berbagai sifat kebaikan, yaitu dia mengumpulkan antara ilmu dan amal sekaligus. Adapun jika yang diperbanyak hanyalah ilmu, dan tidak memiliki perhatian terhadap amal, maka ilmu tersebut menjadi tidak bermanfaat.

Baca : Pengertian Nifaq, pembagian dan hukumnya (Lengkap)

Lalai dalam Sholat

Yang sering kita saksikan, manusia terkadang sangat perhatian untuk memperbanyak ilmu, menghapal dan menghadiri berbagai majelis pengajian. Akan tetapi, dia sering terluput dari shalat, khususnya shalat subuh. Jika kewajiban yang agung ini saja terlupakan, padahal shalat adalah rukun terbesar setelah dua kalimat syahadat dan perkara yang pertama kali ditanyakan pada hari kiamat, lalu di manakah bekas dan pengaruh dari ilmu yang sudah dia dipelajari itu?

Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

كنا إذا فقدنا الرجل في صلاة العشاء وصلاة الفجر أسأنا به الظن

Artinya :

“Kami (para sahabat) dahulu jika ada seorang laki-laki yang terluput dari shalat subuh dan shalat isya’, kami pun berburuk sangka kepadanya.” [Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 12/271, Ibnu Khuzaimah no. 1405 dan Ibnu Hibban no. 2099]

Dalam sebuah hadits disebutkan,

إِنَّ أَثْقَلَ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

Artinya :

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya, pasti mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 789)

Di zaman kita ini, zaman begadang di setiap malam, banyak kita jumpai orang-orang yang terluput alias tidak mendirikan shalat subuh pada waktunya. Mereka begadang di sepanjang malam dalam rangka diskusi ilmiah dalam berbagai masalah ilmu atau topik lainnya, kemudian mereka pun tidur di akhir malam dan tidak mengerjakan shalat subuh.

Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan

Jika seseorang menghidupkan malam dengan membaca dan menghapal Al-Qur’an, namun dengan mengorbankan shalat subuh, maka perbuatan tersebut haram, dan dia pun berdosa dengan begadangnya tersebut.

Baca : Pengertian & Penjelasan Walimatus Safar Haji atau Umroh

Padahal sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ

Artinya :

“Barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya secara berjamaah, itu seperti beribadah setengah malam dan barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya dan Subuh secara berjamaah, maka ia seperti beribadah semalam.” (Hadits Abu Daud Nomor 468)

Dan pada zaman ini, shalat shubuh berjamaah di hari Jum’at menjadi shalat yang paling banyak disepelakan, terutama di negeri yang menjadikan hari Jum’at sebagai hari libur.

Demikianlah ulasan tentang Berikan Contoh Keteladanan Dengan Amal Perbuatan. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam

Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam

Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Hakikat Manusia. Yang mana dalam pembahasan kali ini tentang apa hakikat diciptakan manusia menurut pandangan agama islam dengan secara singkat dan jelas. Untuk itu silahkan simak ulasan Pengetahuan Islam berikut ini dengan seksama.

Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam

Manusia dan makhluk lain di alam semesta ini diciptakan Allah SWT dengan tujuan tertentu dan bukanlah tanpa maksud. Manusia tidak begitu saja dibuat tanpa memiliki hakikat dan substansi. Untuk mengetahui hakikat penciptaan manusia maka kita perlu mengetahui asal penciptaan manusia terlebih dahulu. Seperti yang kita ketahui bahwa Allah menciptakan Adam As sebagai manusia pertama dan memberinya tugas di muka bumi. Untuk lebih jelasnya simak penjelasan berikut ini

Asal Penciptaan Manusia

Menurut ulama Abdurrahman an-Nahlawy, ada dua hakikat penciptaan manusia dilihat dari sumbernya. Yang pertama adalah asal atau sumber yang jauh yakni menyangkut proses penciptaan manusia dari tanah dan disempurnakannya manusia dari tanah tersebut dengan ditiupkannya ruh. Asal yang kedua adalah penciptaan manusia dari sumber yang dekat yakni penciptaan manusia dari nutfah yakni sel telur dan sel sperma.

Penciptaan manusia dari tanah

Berikut ini adalah ayat-ayat yang menjelaskan kejadian penciptaan manusia dari tanah

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ. ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ. ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

Artinya : “Yang membuat segala sesuatu yang memciptakan sebaik-baiknya dan memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunan dari saripati air yang hina kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya ruh (ciptaan) Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati (tetapi) sedikit sekali tidak bersyukur.” (QS As-Sajadah 7-9)

Baca : Kata Bijak Islam yang Dapat Menjadi Inspirasi Hidup

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ. فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

Artinya : “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (QS Shad ayat 71-72)

Penciptaan manusia dari nutfah

Adapun penciptaan manusia dari nutfah atau mani disebutkan dalam ayat-ayat berikut ini

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ. ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ. ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Artinya : “Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang(berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS Al-Mukminun ayat 12-14)

Baca : Inilah Bacaan Dzikir Di Waktu Petang Serta Faidahnya (Lengkap)

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا ۚ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّىٰ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ. هُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Artinya : “Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah Kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, Kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, Kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), Kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, Maka apabila dia menetapkan sesuatu urusan, dia Hanya bekata kepadanya: “Jadilah”, Maka jadilah ia.” (QS Al Mukmin ayat 67-68)

Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan seluruh manusiadari tanah, kemudian Allah juga menciptakan manusia dari mani dan menyimpannya dalam rahim kemudian mengeluarkannya dari rahim sang ibu sebagai bayi yang kemudian tumbuh dan beranjak dewasa. Sebagaimana yang diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim berikut ini

“Sesungguhnya seorang manusia mulai diciptakan dalam perut ibunya setelah diproses selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Lalu menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Setelah empat puluh hari berikutnya, Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya dan diperintahkan untuk menulis empat hal; rezekinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagianya.’.” (Hadits Muslim Nomor 4781)

Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam

Hakikat Penciptaan Manusia

Allah menciptakan manusia dengan dua unsur yakni jasmani dan rohani. Unsur jasmani Adalah tubuh atau jasad manusia yang tersusun atas organ dan sistem organ. Unsur yang kedua yakni unsur ruh atau jiwa. Kedua unsur ini berkaitan satu sama lain dan apabila kedua unsur tersebut berpisah maka manusia disebut mati sehingga tidak lagi dapat disebut sebagai manusia. Adapun hakikat manusia menurut islam berdasarkan substansi penciptaan adalah sebagai berikut mengenai hakikat penciptaan manusia :

Makhluk Allah yang paling sempurna

Allah menciptakan manusia dengan kesempurnaan dan keunikan . hal ini dilihat dari segala hal yang menyangkut fisik dan jiwa seorang manusia. Ia berbeda dengan makhluk lainnya dan bahkan Allah memerintahkan malaikat untuk bersujud kepada Adam AS karena akal dan pengetahuan yang dianugerahkan kepadanya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat At Tin berikut ini

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS At tin ayat 4)

Manusia sebagai bukti kekuasaan Allah SWT

Sejak awal penciptaannya, manusia pertama yakni Adam As telah mengakui Allah sebagai Tuhannya dan hal tersebut mendorong manusia untuk senantiasa beriman kepada Allah SWT. Penciptaan manusia juga memiliki hakikat bahwa Allah menciptakan agama islam sebagai pedoman hidup yang harus dijalani oleh manusia selama hidupnya. Seluruh ajaran islam adalah diperuntukkan untuk manusia dan oleh karena itu manusia wajib beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha esa yakni Allah SWT.

Manusia diciptakan sebagai hamba Allah

Adapun Allah menciptakan manusia untuk mengabdi dan menjadi hamba yang senantiasa beribadah dan menyembah Allah SWT sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikut:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz zariyat ayat 56)

Ibadah yang semestinya dilakukan manusia terdiri dari dua golongan yakni ibadah yang bersifat khusus dan ibadah yang bersifat umum. Ibadah yang sifatnya khusus antara lain ibadah sholat wajib, puasa, zakat, haji dan sebagainya.

Sedangkan ibadah yang bersifat umum adalah seperti melakukan amal saleh yang tidak hanya bermanfaat bagi dirinya akan tetapi bermanfaat juga untuk orang lain dan dilandasi niat yang ikhlas dan bertujuan hanya mencari keridhaan Allah semata seperti bersedekah, menyambung tali silaturahmi, menikah dan sebagainya.

Manusia diciptakan Allah sebagai Khalifah

Kata Khalifah berasal dari bahasa arab yakni khalafa atau khalifatan yang artinya meneruskan, sehingga kata khalifah yang dimaksud adalah penerus agama islam dan ajaran dari Allah SWT.

Sebagai manusia yang berperan sebagai khalifah maka manusia wajib menjalankan tugasnya untuk senantiasa menjaga bumi dan makhluk lainnya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang diperbuatnya kelak di hari akhir. Hal ini disebutkan dalam firman Allah SWT Surat Al-Baqarah ayat 30 yang bunyinya:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanyas dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al Baqarah ayat 30)

Dengan demikian, hakikat penciptaan manusia selayaknya membuat kita sadar bahwa sebagai manusia kita diciptakan untuk menyembah dan melakukan kewajiban kita di dunia sebagai khalifah.

Demikian ulasan tentang Renungkan Hakikat Diciptakan Manusia Menurut Pandangan Islam. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Fiqih Haji dan Umroh : Syarat, Rukun & Penjelasannya (Lengkap)

Fiqih Haji dan Umroh : Syarat, Rukun & Penjelasannya (Lengkap) – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Haji dan Umroh. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan syarat haji, rukun haji, syarat umroh dan rukun umroh dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya yuk simak ulasan berikut ini.

Fiqih Haji dan Umroh : Syarat, Rukun & Penjelasannya (Lengkap)

Haji adalah ibadah yang wajib dilaksanakan sekali seumur hidup oleh setiap muslim yang memenuhi syarat. Rukun haji adalah hal terpenting yang harus diketahui. Karena, meninggalkan rukun haji berarti tidak sah hajinya. Kewajiban-kewajiban haji juga harus diketahui agar supaya terhindar dari membayar dam (denda) dan agar lebih sempurna ibadahnya. Begitu juga ibadah umroh.

Adapun keterangan ini diambil dari kitab Terjemah Kitab Fathul Qorib. Karangan beliau Abu Abdillah Muhammad bin Qasim bin Muhammad Al-Ghazi ibn Al-Gharabili yang sudah masyhur.

Hukum Haji

كتاب أحكام الحج

وهو لغة القصد وشرعاً قصد البيت الحرام للنسك (وشرائط وجوب الحج سبعة أشياء) وفي بعض النسخ سبع خصال (الإسلام والبلوغ والعقل والحرية) فلا يجب الحج على المتصف بضد ذلك (ووجود الزاد) وأوعيته إن احتاج إليها وقد لا يحتاج إليها كشخص قريب من مكة، ويشترط أيضاً وجود الماء في المواضع المعتاد حمل الماء منها بثمن المثل (و) وجود (الراحلة) التي تصح له بشراء أو استئجار هذا إذا كان الشخص بينه وبين مكة مرحلتان فأكثر سواء قدر على المشي أم لا، فإن كان بينه وبين مكة دون مرحلتين، وهو قوي على المشي لزمه الحج بلا راحلة، ويشترط كون ما ذكر فاضلاً عن دينه وعن مؤنة من عليه مؤنتهم مدة ذهابه وإيابه، وفاضلاً أيضاً عن مسكنه اللائق به، وعن عبد يليق به (وتخلية الطريق) والمراد بالتخلية هنا أمن الطريق ظناً بحسب ما يليق بكل مكان، فلو لم يأمن الشخص على نفسه أو ماله أو بضعه، لم يجب عليه الحج وقوله (وإمكان المسير) ثابت في بعض النسخ، والمراد بهذا الإمكان أن يبقى من الزمان بعد وجود الزاد والراحلة ما يمكن فيه السير المعهود إلى الحج، فإن أمكن إلا أنه يحتاج لقطع مرحلتين في بعض الأيام لم يلزمه الحج للضرر.

وأركان الحج أربعة) أحدها (الإحرام مع النية) أي نية الدخول في الحج (و) الثاني (الوقوف بعرفة) والمراد حضور المحرم بالحج لحظة بعد زوال الشمس يوم عرفة، وهو اليوم التاسع من ذي الحجة بشرط كون الواقف أهلاً للعبادة لا مغمى عليه، ويستمر وقت الوقوف إلى فجر يوم النحر، وهو العاشر من ذي الحجة (و) الثالث (الطواف بالبيت) سبع طوفات جاعلاً في طوافه البيت عن يساره مبتدئاً بالحجر الأسود محاذياً له في مروره بجميع بدنه، فلو بدأ بغير الحجر لم يحسب له (و) الرابع (السعي بين الصفا والمروة) سبع مرات وشرطه أن يبدأ في أول مرة بالصفا، ويختم بالمروة ويحسب ذهابه من الصفا إلى المروة مرة وعوده إليه مرة أخرى، والصفا بالقصر طرف جبل أبي قبيس، والمروة بفتح الميم وبقي من أركان الحج الحلق أو التقصير إن جعلنا كلاًّ منهما نسكاً، وهو المشهور، فإن قلنا إن كلاًّ منهما استباحة محظور فليسا من الأركان، ويجب تقديم الإحرام على كل الأركان السابقة

وأركان العمرة ثلاثة) كما في بعض النسخ، وفي بعضها أربعة أشياء (الإحرام والطواف والسعي والحلق أو التقصير في أحد القولين) وهو الراجح كما سبق قريباً وإلا فلا يكون من أركان العمرة

Definisi Haji

Pengertian Haji secara bahasa adalah menyengaja. Menurut secara syara’ adalah menyengaja pergi ke Baitul Haram guna melaksanakan ibadah.

Syarat-Syarat Wajib Haji

Syarat-syarat kewajiban haji ada tujuh perkara.

Di dalam sebagian redaksi menggunakan bahasa tujuh khishal.

Yaitu Islam, baligh, berakal, dan merdeka. Maka haji tidak wajib bagi orang yang memiliki sifat kebalikan dari sifat-sifat tersebut.

Dan wujudnya bekal dan wadah bekal jika ia memerlukannya.

Dan terkadang ia tidak memerlukannya, seperti orang yang dekat dengan negara Makkah.

Dan juga disyaratkan harus ada air di tempat-tempat yang sudah biasa membawa air dari situ yang dijual dengan harga standar.

Dan adanya kendaraan yang layak bagi orang seperti dia, baik dengan membeli atau menyewa.

Hal ini jika jarak seseorang dengan Makkah mencapai dua marhalah atau lebih, baik ia mampu berjalan ataupun tidak.

Jika jarak di antara dia dan Makkah kurang dari dua marhalah dan ia mampu untuk berjalan, maka wajib melaksanakan haji tanpa harus naik kendaraan.

Semua hal yang telah disebutkan di atas disyaratkan harus melebihi dari hutangnya dan biaya orang yang wajib ia nafkahi selama berangkat haji. Dan juga harus lebih dari rumah dan budak yang layak baginya.

Dan sepinya jalan. Yang dikehendaki dengan sepi di sini adalah dugaan aman di perjalanan sesuai dengan apa yang terdapat pada setiap tempat.

Jika seseorang tidak aman pada diri, harta atau kemaluannya, maka bagiya tidak wajib untuk melaksanakan haji.

Perkataan mushannif “dan memungkinkan untuk menempuh perjalanan” terdapat di sebagian redaksi.

Yang dikehendaki dengan mungkin ini adalah setelah menemukan bekal dan kendaraan, masih ada waktu yang mungkin untuk digunakan berangkat haji dengan cara yang semestinya.

Jika mungkin ditempuh, hanya saja ia butuh menempuh dua marhalah dalam jangka waktu sebagian dari hari-hari yang sudah terbiasa, maka baginya tidak wajib melaksanakan haji karena hal tersebut menyulitkan.

Rukun-Rukun Haji

Rukun-rukun haji ada empat.

Salah satunya adalah ihram disertainya niat, maksudnya niat masuk di dalam ibadah haji.

Yang ke dua adalah wukuf di Arafah.

Yang dikehendaki adalah kehadiran orang yang ihram haji dalam waktu sebentar setelah tergelincirnya matahari di hari Arafah, yaitu hari ke sembilan dari bulan Dzul Hijjah.

Dengan syarat orang yang wukuf termasuk ahli untuk melakukan ibadah, bukan orang yang sedang gila dan bukan orang yang epilepsi.

Waktu wukuf tetap berlanjut hingga terbitnya fajar hari raya kurban, yaitu hari ke sepuluh dari bulan Dzul Hijjah.

Yang ke tiga adalah thawaf di Baitulllah sebanyak tujuh kali thawafan.

Saat tahwaf, ia memposisikan Baitullah di sebelah kirinya dan memulai dari Hajar Aswad tepat lurus dengan seluruh badannya saat berjalan.

Seandainya ia memulai thawaf dari selain Hajar Aswad, maka thawaf yang ia lakukan tidak dianggap.

Rukun ke empat adalah sa’i di antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.

Syaratnya adalah memulai sa’i pertama dari bukit Shafa dan di akhiri di bukit Marwah.

Perjalanannya dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali, dan kembali dari Marwah ke Shafa juga dihitung satu kali.

Shafa, dengan alif qashr di akhirnya, adalah tepi gunung Abi Qubais.

Dan Marwah, dengan terbaca fathah huruf mimnya, adalah nama suatu tempat yang sudah dikenal di Makkah.

Masih ada rukun-rukun haji yang tersisa, yaitu mencukur atau memotong rambut, jika kita menjadikan masing-masing dari keduanya termasuk rangkaian ibadah haji. Dan ini adalah pendapat yang masyhur.

Jika kita mengatakan bahwa masing-masing dari keduanya adalah bentuk perbuatan untuk memperbolehkan hal-hal yang diharamkan saat haji, maka keduanya bukan termasuk rukun-rukun haji.

Dan wajib mendahulukan ihram dari semua rukun-rukun haji yang lain.

Rukun-Rukun Umrah

Rukun-rukun umrah ada tiga sebagaimana yang terdapat di sebagian redaksi. Dan di dalam sebagian redaksi ada empat perkara.

Yaitu ihram, thawaf, sa’i, dan mencukur atau memotong rambut menurut salah satu dari dua pendapat, dan ini adalah pendapat yang kuat sebagaimana keterangan yang telah lewat barusan.

Jika tidak menurut pendapat yang kuat, maka keduanya bukan termasuk rukun umrah.

Demikian ulasan singkat tentang Fiqih Haji dan Umroh : Syarat, Rukun & Penjelasannya (Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan  menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Kisah Nabi Ismail As Dan Detik-Detik Munculnya Air Zam-Zam

Kisah Nabi Ismail As Dan Detik-Detik Munculnya Air Zam-Zam

Kisah Nabi Ismail As Dan Detik-Detik Munculnya Air Zam-Zam – Dalam kesempatan kali ini Pengetahuan Islam akan menceritakan tentang kisah Nabi Ismail. Dalam pembahasan kali ini menjelaskan tentang suka duka Nabi Ismail As dan  keistimewaannya. Untuk lebih detailnya silahkan simak artikel di bawah ini.

Kisah Nabi Ismail As Dan Detik-Detik Munculnya Air Zam-Zam

Nabi Ismail As adalah putera dari Nabi Ibrahim dan Hajar, dan mempunyai satu adik yaitu Nabi Ishaq As. Nabi Ismail As tinggal di Amaliq untuk berdakwah kepada Qabilah Yaman, dan  Makkah. Nama Nabi Ismail As tercatat di dalam Al-quran sebanyak dua belas kali. Dan nama beliau berasal dari dua kata yakni, “Dengarkan” (ishma’) dan “Tuhan” (al/il), yang mana artinya adalah “Dengarkan (doa kami wahai) Tuhan.”

Nabi Ismail As menikah dengan Umara binti Yasar bin Aqil. Namun pernikahan itu berujung dengan perceraian, perceraian ini murni dari Nabi Ismail yang meminta. Yang kemudian Nabi Ismail menikah dengan Sayiida binti Mazaz bin Umru.

Nabi Ismail Dan Hajar Di Tinggalkan Oleh Ayahnya Nabi Ibrahim

Kejadian ini berawal dari kecemburuan Sarah terhadap Hajar istri kedua Nabi Ibrahim.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a.:

“Orang Pertama yang menerapka setagi {setagen} adalah Hajar istri Nabi Ibrahim, dengan tujuan menyembunyikan kandungannya dari Sarah. Karena sarah sudah lama menikah dengan Nabi Ibrahim, namun belum di karuniai anak. Akan tetapi cara hajar untuk menyembunyikan kandungan akhirnya terbongkar dengan lahirnya Nabi Ismail As.

Setelah mengetahui semuanya, tentunya Sarah merasa telah dikalahkan dan cemburu terhadap Hajar karena Nabi Ibrahim memberikan perhatian lebih kepada Hajar karena putranya, semenjak itulah rumah tangga Nabi Ibrahi mulai retak. Sehingga membuat Sarah tidak tahan hati jika melihat Hajar. Kemudian Sarah meminta  kepada Nabi Ibrahim As supaya menjauhkan Hajar dari matanya.

Setelah peristiwa yang di alami Nabi Ibrahim, kemudian Nabi Ibrahim di beri wahyu oleh Allah, supaya semua keinginan dan permintaan Sarah agar dipenuhi. Kemudian dengan rasa berat hati Nabi Ibrahim pun membawa Hajar dan Ismail keluar dari mesir tanpa arah dan tujuan. Beliau hanya membawa mereka keluar dari rumah.

Namun Nabi Ibrahim tetap bertawakkal dan berserah diri kepada Allah yang akan memberi arah kepada untanya.

Setelah berminggu-minggu Nabi Ibrahim serta Anak dan Istrinya berada dalam perjalanan jauh yang melelahkan, tibalah Nabi Ibrahim As di Makkah.

Yang mana sekarang menjadi Masjidil Haram,  kemudian berhentilah unta Nabi Ibrahim mengakhiri perjalanannya.

Di situlah Nabi Ibrahim As meninggalkan Hajar bersama Nabi Ismail, dengan hanya dibekali dengan bekal dan minuman seadanya.

Sedangkan keadaan di sekitarnya tidak ada satupun tumbuh-tumbuhan, bahkan air yang mengalir, yang terlihat hanyalah hamparan batu dan pasir kering.

Alangkah sedih dan cemasnya Hajar ketika akan ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim seorang diri bersama anaknya yang masih kecil. Yang mana di tempat yang sunyi senyap dari apapun terkecuali hanya batu gunung dan pasir.

Setelah Nabi Ibrahim As mendengar keluh kesah Hajar, Beliaupun merasa tidak tega untuk meninggalkan Hajar seorang diri bersama puteranya yang sangat beliau sayangi.

Akan tetapi Nabi Ibrahim sadar bahwa semua yang telah beliau lakukan adalah perintah Allah swt. Sehingga membuat yakin Nabi Ibrahim As akan hikmah di balik semua ini.

Sengga Nabi Ibrahim pun memberi motivasi kepada Hajar.

“Wahai Hajar, bertawakal-lah kepada Allah yang telah menentukan kehendak-Nya, percayalah kepadanya dan rahmat-Nya. Allah lah yang memerintah aku membawamu ke tempat ini, maka Allah lah yang akan melindungimu dan menyertaimu di tempat yang sunyi ini. Sesungguh kalau bukan perintah dari Allah, tidak akan aku tega meninggalkanmu di sini seorang diri bersama puteraku yang sangat kucintai. Percayalah wahai Hajar, bahwa Allah Yang Maha Kuasa atas segalanya tidak akan melantarkanmu berdua tanpa perlindungan-Nya. Rahmat dan barakah-Nya akan tetap turun kepadamu untuk selamanya, insya-Allah.”

Setelah mendengar kata-kata Ibrahim, kemudian Hajar merelakan kepergian beliau untuk kembali ke Palestina. Bersamaan dengan iringan air mata yang menetes membasahi di wajah Nabi Ibrahim As.

Dalam perjalanan menuju palestina, beliau pun tidak henti-hentinya memohon kepada Allah akan perlindungan, rahmat dan barakah serta kurnia rezeki untuk putra dan ibunya yang ditinggalkan beliau tinggalkan.

Nabi Ibrahim berkata dalam doanya:

“Wahai Tuhanku! Aku telah tempatkan puteraku dan anak-anak keturunannya di dekat rumah-Mu (Baitullah) di lembah yang sunyi dari tanaman dan manusia agar mereka mendirikan salat dan beribadat kepada-Mu. Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan yang lezat, mudah-mudahan mereka bersyukur kepada-Mu.”

Munculnya Mata Air Zamzam

Saat Nabi Ibrahim As meninggalkan istrinya dan Ismail di padang sahara. Hajar yang masih dalam kondisi menyusui Ismail mulai merasakan kehausan karena terik matahari di posisi padang sahara.

Setelah dua hari di padang sahara, Hajar kehabisan air dan air susu Hajar pun tak keluar lagi. Hajar dan Ismail pun sangat merasakan kehausan, dan makanan pun sudah tiada, sehingga pada saat itu mereka merasakan kesulitan yang luar biasa, sudah tak terbayangkan lagi bagi kita, bagaimana rasanya kehausan di padang sahara yang tak ada air yang mengalir ataupun pepohonan yang tumbuh.

Nabi Ismail pun mulai menangis karena kehausan, Hajar pun pergi meninggalkan Nabi Ismail untuk mencarikan air. Hajar pun berjalan dengan cepat hingga sampai di suatu tempak yakni gunung Shafa.

Kisah Nabi Ismail As Dan Detik-Detik Munculnya Air Zam-Zam

Beliau Pun mendaki dan meletakkan kedua tangannya di atas keningnya untuk melindungi kedua matanya dari sengatan mata­hari dan menoleh kesana-kemari-kemari  untuk mencari sumber. Namun tak beliau dapatkan.

Beliau Pun segera turun dari Gunung  Shafa untuk mencari sumber di tempat lain, beliau pun berlari-sari sampai akhirnya tiba lah Hajar ke suatu tempat yakni gunung Marwah.

Beliau pun mendaki Gunung Marwa untuk melihat apakah ada seseorang, namun beliau tidak melihat satu orang pun.

Beliau pun kembali menemui Ismail, namun Nabi Ismail masih saja dalam keadaan menangis dan rasa hausnya pun semakin bertambah.

Beliau pun segera kembali menuju Gunung Shafa dan berdiri di atasnya, dan kemudian beliau pergi menuju Gunung Marwah guna mencari pertolongan.

Beliau pun tidak henti-hentinya mondar mandi di antara dua gunung tersebut sebanyak tujuh kali.

Maka dari itu, orang-orang yang berhaji di wajibkan berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.

Hal ini adalah sebagai peringatan bagi kita, bahwa ibu kita atau mereka yang pertama dan nabi mereka yang agung, yaitu Ismail.

Setelah bolak balik sebanyak tujuh kali, Beliau pun kembali menemui Nabi Ismail dalam keadaan letih dan kehausan, beliau pun duduk di sisi Ismail yang masih menangis.

Di tengah-tengah keadaan tersebut, Allah SWT menurunkan rahmat-Nya kepada Nabi Ismail. Ismail pun memukul-mukul kan kakinya ke tanah dalam keadaan masih menangis, saat itulah muncul sumber Air dari tanah yang di pukuli oleh Nabi Ismail As. Yang sampai saat ini masih ada keberadaanya yaitu Air Zamzam. Sehingga kehidupan Hajar dan Ismail pun terselamatkan dari kehausan.

Hajar pun tak lupa untuk bersyukur kepada Allah. Beliau Pun mengambil air tersebut dengan tangannya untuk Nabi Ismail dan Beliau sendiri. Atas adanya Air Zam-Zam tersebut bersemilah kawasan di padang sahara, dan beliau pun tercukupi.

Sungguh benar apa yang Wahyu kan oleh Allah, bahwa Allah SWT tidak akan membiarkan hambanya, selama mereka masih berada di jalan-Nya.

Kafilah musafir pun mulai tinggal di kawasan tersebut dan mereka pun mengambil air untuk kebutuhannya dari sumur zamzam.

Tanda-tanda kehidupan pun mulai terlihat di daerah tersebut. Nabi Ismail pun mulai tumbuh besar bersama ibunya yaitu Hajar.

Perintah Menyembelih Nabi Ismail

Pada suatu malam, nabi Ibrahim bermimpi dalam tidurnya dimana beliau diperintahkan oleh Allahuntuk menyembelih anaknya ismail.

Mimpi itu pun membuat hati Nabi Ibrahim bergejolak. Namun Sebagai utusan Allah, Nabi Ibrahim tidak “menggugat” perintah Allah SWT.

Setelah itu Nabi Ibrahim As masih berpikir bagaimana caranya menyembelih Ismail. Namun Nabi Ibrahim memberanikan diri untuk langsung berbicara kepada Ismail, karena lebih membuat Nabi Ibrahim tenang. Kemudian, Nabi Ibrahim As pergi untuk menemui Ismail, saat itu Ismail masih tumbuh remaja.

“Ibrahim: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat di dalam mimpi, aku menyembelih mu, maka bagaimana pendapatmu. ” (QS. Asha-ffat: 102)

“Ismail : “Wahai ayahku, kerjakanlah yang diperintahkan Tuhanmu. Insya Allah engkau mendapati ku sebagai orang-orang yang sabar.” (QS. ash-Shaffat: 102)

Setelah mendengar jawaban dari Ismail,  Nabi Ibrahim pun merasa lebih tenang hatinya, karena Ismail telah memberi motifasi kepada Ayahnya untuk menunjukkan kecintaanya kepada Allah SWT.

Allah Swt telah menjelaskan di dalam Al-quran, bahwa Ismail tertidur di atas tanah dan wajahnya tertelungkup di atas tanah sebagai bentuk hormat kepada Nabi Ibrahim agar saat ia menyembelihnya Ismail tidak melihatnya, begitupun sebaliknya.

Kemudian Nabi Ibrahim As mengangkat pisaunya sebagai perintah Allah SWT:????

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim, membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyata lah kesabaran keduanya).” (QS. ash-Shaffat: 103)

Saat pisau Nabi Ibrahim sudah siap untuk digunakan sebagai perintah dari Allah SWT, Allah SWT pun memanggil Nabu Ibrahim As. Selesailah ujian Nabi Ibrahim,  Allah pun menggantikan Ismail dengan kurban yang sangat besar.

Peristiwa inilah yang diperingati Orang muslim sebagai hari raya Idul Adha, yang mana hari raya yang mengingatkan kepada beliau tentang Islam yang hakiki yang dibawa dan di sebarkan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail.

Ismail Membantu Ayahnya Membangun Kabah

Nabi Ismail As dibesarkan di kota Makkah (pekarangan Kabah). Setelah dewasa, beliau menikah dengan wanita dari Suku Jurhum. Walaupun tinggal di Makkah, Nabi Ismail As sering dikunjungi oleh ayahnya.

Sekitar tahun 1892 SM, Nabi Ibrahim menerima wahyu dari Allah agar membangun Ka’bah. Hal itu pun disampaikan kepada Nabi Ismail. Nabi Ismail pun berkata:

“Kerjakanlah apa yang diperintahkan Tuhanmu kepadamu dan aku akan membantumu dalam pekerjaan mulia itu.”

Ketika membangun Ka’bah, Nabi Ibrahim berkata kepada Ismail:

“Bawakan batu yang baik kepadaku untuk aku letakkan di satu sudut supaya ia menjadi tanda kepada manusia.”

Kemudian Malaikat Jibril datang menemui Nabi Ismail untuk memberi ilham supaya mencari batu hitam untuk diserahkan kepada Ayahnya Nabi Ibrahim. Setiap kali beliau bekerja membangun Ka’bah, beliau selalu berdoa memohon kepada Allah:

“Wahai Tuhan kami, terimalah dari pada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Bangunan Ka’bah pun mulai tinggi dan Nabi Ibrahim pun makin lemah untuk mengangkat batu. Beliau pun berdiri di satu sudut dekat Ka’bah, dan kini dikenali sebagai Maqam Ibrahim.

Ismail Diangkat Menjadi Nabi

“Dan ceritakan lah (Muhammad), kisah Ismail di dalam Kitab (Al-Quran). Dia benar-benar seorang yang benar janjinya, seorang rasul dan nabi.” (QS. Maryam [19]: 54)

Setelah sekian lama Ismail mendampingi ayahnya menyebarkan agama Allah. Beliau pun diangkat oleh Allah menjadi Nabi dan Rasul.

Karena selain memiliki akhlak yang mulia. Nabi Ismail juga sangat taat kepada Allah SWT, berbakti kepada kedua orang, menepati janji, dan bijaksana.

Nabi Ismail As di tugaskan berdakwah di kota Makkah untuk mengajak dan mengingatkan umat manusia agar menyembah Allah SWT dan bertakwa kepada-Nya.

Nabi Ismail As wafat di kota Makkah. Tempat wafatnya dinamakan Hijr Ismail. Yang sampai saat ini pun masih ada keberadaannya yang bertempat di sebelah bangunan Ka’bah. Sedangkan Nabi Ismail As di karuniai 12 anak lelaki dan seorang anak perempuan yang dinikahkan dengan anak saudaranya, yaitu Al-’Ish bin Ishak.

Dari keturunan Nabi Ismail As lah lahir Nabi yang menjadi penyempurna agama islam yakni Nabi besar Muhammad Saw.

Demikianlah Kisah Nabi Ismail As Dan Detik-Detik Munculnya Air Zam-Zam semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita.

√ Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya (Bahas Lengkap)

Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya

Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya (Bahas Lengkap) – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tentang Perbedaan Haji dan Umroh. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan pengertian haji dan umroh serta perbedaan haji dan umroh dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih lengkapnya simak Artikel berikut ini.

Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya (Bahas Lengkap)

Istilah dalam haji dan umroh bukanlah hal yang asing lagi sebagai umat muslim. Antara Haji dan Umroh tentu memiliki perbedaan.

Dalam hal apa yang  menjadikannya pembeda antara kedua ibadah tersebut. Sebelum membahasa mengenai perbedaan haji dan umroh, alangkah baiknya untuk mengetahui pengertian dari keduanya terlebih dahulu.

Pengertian Haji dan Umroh

Haji merupakan salah satu dari rukun islam yang ke 5 (lima). Dimana hukum dari ibadah Haji adalah wajib bagi orang yang memiliki kemampuan untuk mengerjakannya baik dari sisi fisik maupun finansialnya.

Sedangkan umroh ialah ibadah yang hampir sama dengan ibadah haji namun memiliki hukum yang tidak wajib atau sunnah untuk dikerjakan. Ibadah umroh dapat dikerjakan setiap hari, dikecualikan pada hari diselenggarakannya ibadah haji.

Perbedaan Haji dan Umroh

Setelah melihat dari pengertiannya, keduanya memang memiliki beberapa perbedaan. Adapun perbedaan Haji dan Umroh adalah sebagai berikut:

Perbedaan Hukum

Perbedaan pertama pada haji dan umroh yang utama terletak pada hukumnya. Haji adalah salah satu rukun islam yang ke 5 dan wajib dikerjakan bagi umat muslim. Dengan catatan bagi yang melaksanakan mampu secara fisik dan finansial untuk mengerjakannya. Sedangkan Umroh adalah sunnah muakad atau sunnah yang diutamakan.

Seperti dikutip dari firman Allah SWT dalam QS Ali Imron Ayat 97 dan Hadist Tirmidzi yang berbunyi:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِي

Artinya:

“Menunaikan ibadah haji adalah kewajiban terhadap Allah, yaitu bagi mereka yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari kewajiban haji ini, maka sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Kaya yang tidak memerlukan sesuatu apapun dari semesta alam.” (QS. Ali Imron Ayat 97)

Sedangkan dari Hadist jabir bin ‘Abdillah RA, ia berkata yang artinya:

“Rasulullah SAW ditanya mengenai wajib ataukah sunnah bagi umat muslim untuk menunaikan umroh. Nabi SAW kemudian menjawab, “Tidak. Jika kau berumroh maka itu lebih baik.” (HR. Tirmidzi)

Perbedaan Waktu Pelaksanaan

Saat pelaksanaannya, ibadah haji hanya dilakukan pada bulan haji yaitu pada tanggal 9 sampai 13 bulan Dzulhijjah. Di lain waktu tersebut, ibadah haji tidak dapat dilaksanakan. Artinya, ibadah haji hanya bisa dikerjakan setahun sekali.

Sedangkan unutk ibadah umroh dapat dikerjakan sewaktu-waktu kecuali pada tanggal yang dimakruhkan, yaitu hari Arofah pada tanggal 9 Dzulhijah, hari Nahar pada tanggal 10 Dzulhijjah dan hari tasyrik atau tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah. Intinya, dalam pelaksanaan ibadah umroh tidak dapat dikerjakan bersamaan pada waktu dilangsungkannya ibadah haji.

Perbedaan Tempat Pelaksanaan

Selain perbedaan waktu pelaksanannya, terdapat juga perbedaan dalam tempat pelaksanaannya. Haji dan Umroh memang dilaksanakan di Makkah, namun pada ibadah haji seseorang harus menunaikan rukun yang bertempat di luar Makkah. Adapun rukunnya ialah melakukan wukuf di Arafah, mabit (menginap) di Muzdhalifah serta melempar jumroh di Mina.

Perbedaan Tingkat Keramaian

Dalam melaksanakan ibadah haji, semua umat muslim dari seluruh dunia melaksanakannya secara serentak. Tidak heran, wilayah Makkah menjadi membludak dengan jamaah haji pada saat itu dan menyebabkan keramaian yang sangat luar biasa.

Lain halnya dengan ibadah umroh, ibadah umroh dapat dikerjakan sewaktu-waktu selain di hari yang telah dijelaskan sebelumnya. Oleh karena itu, tingkat keramaiannya pun tidak sepadat dan seramai pada saat dilaksanakannya ibadah haji. Bagi jamaah umroh tidak perlu berdesak-desakan saat melaksanakan setiap rukun ibadah umroh.

Perbedaan Rukun

Perbedaan terakhir diantara keduanya yaitu dari tata cara pelaksanaan Haji dan Umroh atau rukun Haji dan Umroh. Pada saat umroh, seseorang menunaikan rukun umroh yaitu Ihram, Tawaf, Sya’i, dan Tahalul.

Sedangkan pada saat menunaikan ibadah haji, semua rukun tersebut dilakukan dengan menambah 3 rukun haji yaitu wukuf di Arafah, mabit (menginap) di Muzdhalifah, dan melempar jumroh di Mina.

Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya

Persamaan Haji dan Umroh

Selain perbedaannya, tentu antara Haji dan Umroh juga memiliki persamaan. Adapun persamaan Haji dan Umroh adalah sebagai berikut:

  • Kegiatan haji dan umrah akan mendatangkan Pahala.
  • Antara ibadah haji dan umrah diawali dengan keadaan berihram.
  • Kedua ibadah ini dikerjakan terlebih dahulu dengan mengambil miqat makani.
  • Antara Ibadah haji dan umrah, sama-sama memiliki rukun ihram, thawaf, sa’i, dan Tahalul.

Demikianlah Artikel tentang Perbedaan Haji dan Umroh Serta Penjelasannya (Bahas Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan Anda. Terima kasih.

√ Doa Untuk Orang Sakit : Bacaan Arab, Latin, Makna & Terjemahnya

Doa Untuk Orang Sakit : Bacaan Arab, Latin, Makna & Terjemahnya

Doa Untuk Orang Sakit : Bacaan Arab, Latin, Makna & Terjemahnya – Pada kesempatain ini akan membahas tentang Doa untuk Orang Sakit. Dimana dalam ulasan kali ini Pengetahuan Islam tentang √ etika ketika menjenguk orang sakit, √ doa untuk orang sakit dan √ makna doa untuk orang sakit pada artikel ini.

Sahabat, sebagai muslim yang mana Rasulullah telah mengajarkan kita agar saling peduli dengan sesama. Apalagi bila ada tetangga atau saudara kita yang mengalami musibah tentu kita dianjurkan untuk mendoakan yang terabaik. Untuk lebih jelasnya silahkan simak pembahasan berikut ini

Doa Untuk Orang Sakit : Bacaan Arab, Latin, Makna & Terjemahnya

Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara dan doa untuk saudara atau tetangga yang tertimpa musibah. Baik sakit, kecalakaan, meninggal dan lainnya. Sehingga kita dapat mengurangi beban mereka dan mendoakan untuk diberikan yang terbaik.

Menjenguk Orang Sakit

Menjenguk orang sakit, baik itu kerabat, saudara, teman atau sesama muslim adalah amal kemanusiaan yang oleh Islam dinilai sebagai ibadah dan qurbah (pendekatan diri kepada Allah). Sebagaimana Rasulullah telah bersabda:

“Barang siapa menjenguk orang sakit, maka ia masuk dalam rahmat Allah. Dan, jika ia duduk di sampingnya, maka rahmat (Allah) membanjiri padanya.” (HR.Ahmad, Bukhari, dan Muslim).

Menjenguk orang yang sedang sakit merupakan perbuatan mulia yang didalamnya terdapat keutamaan yang agung. Sebagaimana sabda Rasulullah, bahwa hak seorang muslim kepada muslim lainnya adalah:

  • Bila bertemu orang muslim maka ucapkanlah salam.
  • Bila orang muslim mengundangmu maka hadirilah.
  • Bila orang muslim meminta nasihat maka nasihatilah.
  • Bila orang muslim bersin dan memuji Allah (mengucap: alhamdulillah) maka jawablah (dengan mengucapkan: yarhamukallah).
  • Bila orang muslim sakit maka jenguklah.
  • Bila orang muslim meninggal dunia maka antarkanlah (urus jenazahnya hingga dimakamkan).

Dari sabda Rasulullah diatas, menjenguk orang sakit adalah merupakan salah satu ibadah yang dianjurkan dan merupakan bagian dari salah satu hak orang muslim kepada muslim lainnya. Terdapat pahala besar yang dijanjikan oleh Allah, ketika menjenguk orang sakit dan memanjatkan doa untuk orang sakit tersebut.

Etika Ketika Menjenguk Orang Sakit

Hendaknya saat menjenguk orang sakit, ada beberapa etika atau adab ketika menjenguk orang sakit yang harus kita ketahui.

Niat Menjenguk Orang yang Sakit

Hendaknya kita niatkan dengan niat karena iman dan mengharapkan pahala Allah. Dan jika mampu, usahakanlah untuk membawa barang bawaan berupa makanan kesukaannya.

Disebutkan dalam sebuah haditst:

“Barang siapa memberi makan orang yang sakit apa yang diinginkannya, maka Allah akan memberi makan kepadanya dari buah-buahan surga.” (HR. Thabrani).

Ketika Menemui Orang Sakit Sampaikan Nama Anda

Saat Anda telah menemui atau menjenguk orang sakit, hendaknya terlebih dahulu kita sebutkan nama kita secara jelas kepada si sakit karena mungkin saja ia kurang paham dengan siapa yang datang berkunjung.

Dengan mengetahui siapa yang datang menjenguk, akan membuat orang yang sakit merasa bahagia dan gembira dengan kunjungan Anda.

Usahakan Anda Duduk Dekat Di Samping Kepalanya

Kalau memungkinkan usahakan Anda duduk di samping kepalanya orang yang sakit. Hal ini sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan orang-orang shalih sesudah beliau.

Diriwayatkan dari Anas Ra, ia berkata:

“Apabila Nabi Muhammad menjenguk orang yang sakit, beliau duduk di sisi kepalanya.” (HR.Bukhari).

Usahakan Untuk Menjabat Tangan Orang yang Sakit

Usahakan Anda menjabat tangan orang yang sakit, memegang keningnya, tangannya atau bagian tubuh lainnya, sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad. Rasulullah bersabda:

“Merupakan kesempurnaan menjenguk orang yang sakit adalah salah seorang kalian meletakkan (tangannya) pada wajahnya atau tangannya, kemudian bertanya bagaimana keadaannya. Kesempurnaan penghormatan di antara kalian adalah berjabat tangan.” (HR.Ahmad dan Thabrani).

Hal ini kita lakukan sebagai wujud perhatian dan kasih sayang kita kepadanya. Di samping itu, meletakkan tangan ini bisa membawa pengaruh meringankan sakitnya.

Tanyakan Bagaimana Keadannya atau Kondisinya

Usahakan untuk menanyakan bagaimana keadaannya, sambil menampakkan rasa belas kasih kepadanya. Misalnya, dengan menanyakan bagaimana dengan sakit yang dideritanya, kapan mulai sakit, apakah sudah diperiksakan ke dokter atau belum, dan lain sebagainya.

Menghibur Orang yang Sakit

Anda juga dianjurkan menghiburnya dengan mengatakan sesuatu yang bisa menimbulkan rasa optimis dan keyakinan pada kesembuhannya. Membesarkan hatinya dan menganjurkannya untuk berbaik sangka pada Allah dan berlaku sabar terhadap sakitnya.

Sebaiknya Anda juga mengingatkan dan menyebutkan amal-amal kebaikan serta kebajikan yang pernah diperbuat selama hidupnya, kemudian memujinya. Sebab, hal ini bisa menambahkan kebahagiaan dan rasa optimisnya.

Akan tetapi, perlu diingat bahwa janganlah terlalu banyak bertanya, karena hal itu bisa mengganggu istirahatnya. Jangan pula terlalu banyak memberi ceramah atau nasihat karena hal itu dapat menyinggung perasaannya.

Jagalah Ucapan Ketika Menjenguk Orang Sakit

Jagalah lisan atau ucapan Anda ketika mengucapkan sesuatu, usahakan sesuatu ucapan yang baik. Karena, saat itu malaikat hadir dan ikut mengamini setiap ucapan yang keluar dari mulut Anda. Rasulullah bersabda:

“Apabila kalian menghadiri orang yang sakit atau mayat, maka ucapkanlah ucapan yang baik, karena sesungguhnya malaikat mengamini atas apa yang kalian ucapkan.” (HR.Muslim).

Jangan Terlalu Lama di Samping Orang Sakit

Jangan terlalu lama berada di samping orang yang sakit, kecuali jika Anda yang mempunyai hubungan khusus dengan si sakit. Jika dirasa sudah cukup, sebaiknya kita segera keluar dan biliknya agar ia bisa istirahat. Rasulullah bersabda:

“Menjenguk yang paling utama pahalanya adalah cepat-cepat berdiri dari sisi orang yang sakit.” (HR. Dailami).

Akan tetapi, jika si sakit menyukai orang yang menjenguknya tinggal lebih lama di sisinya atau memintanya agar sering menjenguknya, maka lebih utama baginya untuk memenuhi keinginan si sakit. Sebab, hal tersebut dapat membahagiakan dan meyenangkan hatinya sehingga membuatnya cepat sembuh.

Mendoakan Orang yang Sakit

Hal penting yang perlu diingat saat menjenguk orang yang sakit adalah mendoakan kesembuhannya. Dan, barangkali telah menjadi hal yang biasa dilakukan bahwa sebelum beranjak pulang, penjenguk biasanya akan mendoakan si sakit. Misalnya dengan mengatakan,

“Semoga cepat sembuh, semoga kamu cepat diberi kesembuhan, atau semoga lekas sehat dan bisa kembali berkumpul Bersama Anda.”

Sebuah ucapan adalah doa, dan tidak terkeuali ungkapan yang demikian itu. Apalagi saat itu malaikat juga ikut hadir dan mengamini setiap ucapan Anda, entah itu yang baik atau yang buruk.

Doa Untuk Orang Sakit

Ada baiknya jika Anda membaca doa untuk orang sakit dengan doa khusus yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saat menjenguk orang yang sakit. Doa untuk orang sakit sesuai sunnah ini dianjurkan untuk dibaca sebanyak tujuh kali.

Bacaan Doa Untuk Orang Sakit

Adapun bacaan yang akan di ucapkan pada saat menjenguk orang sakit sebagai berikut.

Bacaan Doa Untuk Orang Sakit Arab

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ وَاشْفِهُ وأَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَآءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

Bacaan Doa Untuk Orang Sakit Latin

“Allahumma Rabbannaasi Adzhibil Ba’sa Wasy Fihu, Wa Antas Syaafii, Laa Syifaa-a Illa Syifaauka, Syifaa-An Laa Yughaadiru Saqomaa”.

Arti Doa Untuk Orang Sakit

“Hilangkanlah kesukaran atau penyakit itu, wahai Tuhan manusia. Sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha menyembuhkan. Taka da kesembuhan, kecuali kesembuhan-Mu. Kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain.” (HR.Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lainnya).

Makna Doa Untuk Orang Sakit

Doa untuk orang sakit di atas mengandung beberapa makna yaitu:

Dari Bacaan “Asy-Syafii”

Asy-Syafii (الشَّافِي) yang artinya “Yang Maha Menyembuhkan”.

Makna dari bacaan ini adalah meminta kepada Allah agar berkenan menyembuhkan sakitnya, kepayahannya, dan siksaannya dengan perantaraan menyebut nama-Nya yang agung.

Dari Bacaan “Antas Syaafii, Laa Syifaa-a Illa Syifaauka”

Bacaan “Antas Syaafii laa syifaa’a illa syifaauka” (أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَآءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ ) yang artinya “Engkau Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan, kecuali kesembuhan-Mu”.

Dari bacaan ini bermakna meyakinkan bahwa sesungguhnya tidak ada yang dapat memberi kesembuhan pada penyakit itu, kecuali hanya Allah semata, karena hanya Allah yang memberikan kesembuhan.

Allah berfirman dalam Al Quran surah Asy-Syu’araa ayat 80:

وَ اِذَا مَرِضۡتُ فَہُوَ یَشۡفِیۡنِ

Artinya: “Dan, apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkanku.” (QS. Asy-Syu’araa ayat 80).

Bacaan “Syifaa’an laa yughaadiru saqaman”

Sebagaimana bacaan “Syifaa’an laa yughaadiru saqaman” (شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا) yang artinya “Kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit”.

Makna dari bacaan ini adalah menekankan lagi bahwa kesembuhan yang diminta kepada-Nya adalah kesembuhan yang mutlak, yatu kesembuhan yang tidak menyisakan suatu penyakit apa pun.

Berdoa demikian karena terkadang ia bisa sembuh dari penyakit tersebut, tapi muncul lagi penyakit lainnya.

Anda juga bisa membaca doa berikut sebanyak satu kali:

أَسْأَلُ اللهَ العَظِيْمَ رَبَ العَرْشِ العَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

Artinya: “Aku mohon kepada Allah Yang Maha agung, Rabb Arsy yang agung, semoga Dia berkenan menyembuhkanmu.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Doa di atas mengandung makna untuk meminta kepada Allah dengan keagungan-Nya, yakni Dia Yang Maha Besar dalam Dzat-Nya dan sifat-sifat-Nya, Rabb Arsy yang agung agar berkenan menyembuhkan penyakit.

Kesembuhan dengan cepat dari penyakit fisik yang diderita, jika memang ditakdirkan untuk sembuh. Atau kesembuhan dari penyakit batin dan selamat dari segala penyakit.

Doa Untuk Orang Sakit : Bacaan Arab, Latin, Makna & Terjemahnya

Saat berdoa, hendaklah disertai dengan memegang bagian tubuh yang sakit. Hal itu sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad.

Diriwayatkan dari Aisyah Ra ia berkata:

“Apabila beliau mendapati salah seorang dari kami mengeluh sakit, beliau mengusapnya dengan tangan kanannya kemudian mengucapkan, “Hilangkanlah kesusahan, wahai Rabb manusia…” (HR.Muslim).

Selain mendoakan untuk kesembuhan orang yang sakit, hendaknya tidak lupa Anda meminta doa dari orang yang sakit tersebut. Karena doa dari orang sakit pada saat saat itu sangatlah mustajab. Nabi Muhammad bersabda:

“Jika kamu masuk kepada orang yang sakit, maka mintalah ia untuk mendoakanmu, karena sesungguhnya doanya seperti doa malaikat.” (HR.Ibnu Majah dan Ibnu Sunni).

Demikian ulasan tentang Doa Untuk Orang Sakit : Bacaan Arab, Latin, Makna & Terjemahnya  yang bisa Anda praktekkan. Semoga Allah senantiasa memberikan kepada kita semua kesehatan dan kemudahan, Aamin.