√ Kisah Nabi Yusuf AS yang Menjadi Seorang Penasehat Raja

Kisah Nabi Yusuf AS yang Menjadi Seorang Penasehat Raja

Kisah Nabi Yusuf AS yang Menjadi Seorang Penasehat Raja – Dalam kesempatan kali ini Pengetahuan Islam akan menceritakan Kisah Nabi Yusuf. Dalam pembahasan kali ini akan menjelaskan tentang pengaruh ketampanan Nabi Yusuf As dan salah satu mu’jizat yang di berikan kepada Nabi Yusuf yang berupa bisa menafsirkan mimpi. Untuk lebih jelasnya silahkan lihat artikel di bawah ini.

Kisah Nabi Yusuf AS yang Menjadi Seorang Penasehat Raja

Nabi Yusuf AS termasuk salah satu dari 25 nabi yang wajib di kia ketahui. Nabi Yusuf adalah anak kedua belas dari Nabi Yakub AS, dan juga termasuk anak sulung dari ibunya yang bernama Rahil. Nabi Yusuf As juga memiliki adik yang bernama Bunyamin.

Di dalam Alquran, kisah Nabi Yusuf As diabadikan dalam surat kedua belas yang diambil dari namanya. Surat ini terdiri atas 111 ayat dan diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW di kota Makkah. Di dalam surah tersebut, secara khusus Allah menyebutkan kisah  hidup Nabi Yusuf AS sebagai kisah yang terbaik dalam Alquran.

Kisah Masa Muda Nabi Yusuf AS

Nabi Yusuf As dan saudara-saudaranya hidup di kota Haran, sebuah daerah yang termasuk dalam Negeri Kan’an. Berbeda lagi dengan kakak-kakaknya, Nabi Yusuf As dan Bunyamin sudah tidak memiliki ibu. Ibunya meninggal ketika melahirkan adiknya yang bernama buyamin.

Silsilah Nabi Yusuf

Nabi Yusuf AS, adalah putra dari Nabi ya’kub dan rahil. Nabi Yakub AS, putra dari Nabi Ishaq AS dan cucu dari Nabi Ibrahim AS.Saat memutuskan untuk menetap di Haran, Yakub menikahi Lay’ah dan Rahil, setelah beberapa tahun Nabi Yakub menikahi Bilha dan Zulfa.

Dari Lay’ah, Nabi yakub dikaruniai enam orang anak laki-laki bernama Ruubil, Syam’un, Laawi, Yahuudza, Isaakhar, dan Zabilon. Sedangkan dari Bilha ia dikaruniai Daan dan Naftaali. Dan dari Zulfa ia dikaruniai Jaad dan Asyir.

Namun rahil, tidak seperti istri Yakub lainnya, Rahil tidak kunjung memiliki keturunan meski sudah puluhan tahun menikah. Tapi berkat kerja keras dan doa, Rahil pun di karuniai anak yang bernama Yusuf dan Bunyamin.

Kisah Nabi Yusuf AS dan Zulaikha

Sudah berhari-hari Nabi Yusuf As terjebak dalam sumur, sampai akhirnya datanglah seorang pedagang yang hendak mengambil air. Kemudian Ia mengangkat Nabi Yusuf yang sudah kedinginan, Nabi Yusuf pun di beri pakaian untuk menghangatkan badanya, dan di beri pekerjaan oleh pedagang tersebut.

Seiring berjalanya waktu, Nabi Yusuf di angkat menjadi asisten pedagang tersebut. Karena ketampanan dan kecerdasan Nabi Yusuf As. Lalu Nabi Yusuf pun ikut membantu saat si pedagang mengurusi bisnisnya di istana Raja Mesir. Pada Saat itulah sang Ratu Mesir Zulaikha pertama kali bertemu dengan Nabi Yusuf As.

Sang ratu pun seketika itu langsung tertarik dengan wajah tampan milik Nabi Yusuf. Karena itu Nabi Yusuf di tebus oleh sang ratu untuk menjadi pelayan pribadinya di istana.

Karena Ketampanan sang pelayan baru di istana banyak membuat para wanita di Kerajaan Mesir tertarik menggoda Nabi Yusuf As. Bahkan. Dalam Al-quran di jelaskan, “saking tampannya, wanita yang melihat Nabi Yusuf saat mengupas apel tanpa ia sadari telah memotong jari-jari mereka.”

Semua wanita di kota Mesir tak bisa terpungkiri semuanya tergoda dengan ketampanan Nabi Yusuf As, tak terkecuali Ratu Zulaikha. Meski sudah memiliki sang suami, Zulaikha tak bisa membendung hasratnya untuk mendekati Nabi Yusuf As.

Pada suatu hari, ketika Zulaikha memanggil Nabi Yusuf ke dalam kamarnya dan menyuruh semua penjaga keluar. Nabi Yusuf pun sebagai pelayan yang baik, ia pun memenuhi panggilan majikannya tanpa ada kecurigan sedikit pun. Saat hanya mereka berdua di dalam kamar, ratu Zulaikha mulai mendekati dan menggoda Nabi Yusuf As.

Meski sudah ditolak Nabi Yusuf secara halus, Ratu Zulaikha pun tak pantang menyerah demi hasratnya. Zulaikha pun mencoba segala cara untuk merayu Nabi Yusuf. Dan pada Akhirnya  Nabi Yusuf memutuskan untuk kabur, akan tetapi Zulaikha mengejar dan mencengkeram baju Nabi Yusuf hingga robek di bagian belakang.

Kemudian suami dari Ratu Zulaikha pun mengetahuinya, Setelah mengetahui hal tersebut, sang raja pun memanggil Nabi Yusuf dan Zulaikha untuk mendengar kesaksian yang sebenarnya. Akan tetapi Ratu Zulaikha malah menuduh Nabi Yusuf hendak memperkosa dirinya.

Mendengar penjelasan Zulaikha sang raja pun Marah dan gelap mata. Akhirnya raja menjebloskan Nabi Yusuf ke dalam penjara tanpa mendengarkan  penjelasan Nabi Yusuf terlebih dahulu.

Kisah Nabi Yusuf AS yang Menafsirkan Mimpi

Salah satu dari mukjizat Nabi Yusuf As adalah kemampuannya dalam menafsirkan mimpi. Berkat kemampuan ini, Nabi Yusuf bebas dari hukuman yang di terimanya karena tuduhan ratu Zulaikha.

Diceritakan pada suatu hari, sang raja mendapat mimpi yang begitu aneh. Dalam mimpinya, ia melihat Sungai Nil begitu besar perlahan-lahan mengering. Sehingga mengakibatkan seluruh tanaman punah. Ia juga melihat sapi-sapi gemuk yang dimangsa oleh sapi-sapi yang kurus. Setelah sapi-sapi tersebut habis karena saling memakan, tiba-tiba muncul tujuh batang tanaman dan Sungai Nil pun kembali mengalir seperti semulanya.

Kemudian sang Raja menceritakan mimpi buruknya tersebut kepada ahli tafsir, penasihat, dan tabib kerajaan. Akan tetapi tidak satu pun dari mereka yang mengerti arti mimpi tersebut. Mimpi sang raja pun kemudian tersebar ke seluruh penduduk Mesir, bahkan hingga ke penjara.

Dalam masa tahanan, Nabi Yusuf As yang mengetahui arti mimpi raja tersebut meminta penjaga menyampaikan pesanya pada raja. Nabi Yusuf berkata, mimpi itu menceritakan tentang kota Mesir yang akan dilanda paceklik selama tujuh tahun. Akan tetapi, jika berhasil melewati masa kekeringan tersebut, maka tahun-tahun yang akan datang, kondisi tanah mesir akan sangat subur.

Kisah Nabi Yusuf AS yang Menjadi Seorang Penasehat Raja

Kisah Nabi Yusuf AS Menjadi Penasihat Raja

Setelah mendengar arti mimpi raja tersebut, Penasihat raja langsung panik dan bingung, kemudian sang raja meminta untuk memanggil Nabi Yusuf As untuk di mintai kejelasanya. Akan tetapi, Nabi Yusuf menolak panggilan tersebut, sebelum kasusnya diselidiki kembali.

Raja pun lalu meminta saran bagaimana cara mengatasi masalah tersebut untuk mengetahui pihak mana yang bersalah pada saat istrinya mengaku akan diperkosa. Kemudian penasihat raja pun menyarankan untuk menyelidiki pakaian Nabi Yusuf yang sudah rusak saat itu. Bila robekan pakaian tersebut di belakang berarti sang ratulah yang bersalah.

Setelah diselidiki, akhirnya Nabi Yusuf As terbukti tidak bersalah dan dibebaskan dari tuduhan. Selanjutnya Raja pun mengangkat Nabi Yusuf sebagai penasihat kerajaan, terutama dalam masalah ekonomi dan pangan.

Salah satu kebijakan yang langsung dilakukan oleh sang penasihat baru yakni Nabi Yusuf adalah membuat lumbung gandum yang sangat besar. Nabi Yusuf pun membuat waduk untuk penyimpanan air darurat serta mengatur semua konsumsi makanan masyarakat Mesir.

Lalu tibalah hari yang di mana telah di tafsirkan oleh Nabi Yusuf As, yakni musim kekeringan, tidak hanya mesir saja yang mengalami musim ini. Akan tetapi negara-negara di sekitar Mesir pun perlahan-lahan mengalami krisis pangan. Berkat kebijakan Nabi Yusuf Aa, masyarakat di Mesir justru hidup sejahtera. Bahkan mereka bisa memberi bantuan untuk negara-negara di sekitarnya.

Atas kinerja keras Nabi Yusuf dalam mengatasi krisis pangan di negara mesir, Raja Mesir kemudian mengangkat Nabi Yusuf menjadi raja muda. Nabi Yusuf pun dibuatkan sebuah istana dan memiliki wewenang atas segalanya.

Demikian tentang Kisah Nabi Yusuf AS yang Menjadi Seorang Penasehat Raja. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita.

Baca Juga

√ Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya

Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya

Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Puasa. Yang meliputi Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmah Puasa dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silahkan simak artikel Pengetahuan Islam dibawah ini dengan seksama.

Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya

Pengertian puasa menurut syariat Islam adalah suatu amalan ibadah yang dilakukan dengan menahan diri dari segala sesuatu seperti makan, minum, perbuatan buruk maupun dari hal yang membatalkan puasa. Mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari yang disertai dengan niat karena Allah SWT, dengan syarat dan rukun tertentu.

Puasa Wajib

Shoum atau Puasa yang hukumnya wajib bagi orang muslim adalah Puasa yang jika dikerjakan mendapatkan pahala dan jika tidak dikerjakan mendapatkan dosa. Adapun puasa yang wajib adalah sebagai berikut : Shoum atau Puasa Ramadan, Shoum atau Puasa karena nadzar, dan Shoum atau Puasa kifarat atau denda.

Puasa Sunah

Shoum atau Puasa sunnah adalah Puasa yang jika dikerjakan mendapatkan pahala dan jika tidak dikerjakan tidak mendapatkan dosa.

Macam – macam puasa sunnah

Di bawah ini adalah macam-maca puasa sunah, antara lain:

  • Puasa 6 hari di bulan Syawal selain hari raya Idul Fitri.
  • PuasaArafah pada tanggal 9 Dzulhijah bagi orang-orang yang tidak menunaikan ibadah haji.
  • PuasaTarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijah bagi orang-orang yang tidak menunaikan ibadah haji.
  • Puasa Senin dan Kamis.
  • Puasa Daud (sehari puasa, sehari tidak), bertujuan untuk meneladani puasanya Nabi Daud.
  • Puasa ‘Asyura (pada bulan muharram), dilakukan pada tanggal 10.
  • Puasa 3 hari pada pertengahan bulan (menurut kalender islam) (Yaumul Bidh), tanggal 13, 14, dan 15.
  • Puasa Sya’ban (Nisfu Sya’ban) pada awal pertengahan bulan Sya’ban.
  • Puasa bulan Haram (Asyhurul Hurum) yaitu bulan Dzulkaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.

Syarat Wajib Puasa

Berikut ini adalah syarat wajib puasa wajib maupun sunah, antara lain:

  1. Beragama Islam
  2. Berakal sehat
  3. Baligh (sudah cukup umur 9-15 tahun)
  4. Mampu melaksanakannya
  5. Syarat sah saum
  6. Islam (tidak murtad)
  7. Mummayiz (dapat membedakan yang baik dan yang buruk)
  8. Suci dari haid dan nifas (khusus bagi wanita)
  9. Mengetahui waktu diterimanya puasa

Rukun Puasa

Berikut ini adalah rukun puasa, yaitu:

  1. Islam.
  2. Niat (pada waktu malam hari).
  3. Meninggalkan segala hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Beberapa yang Hal Di Haramkan Saat Puasa

Hari raya Idul Fitri, yaitu pada (1 Syawal), Tanggal 1 Syawwal telah ditetapkan sebagai hari raya umat Islam. Hari itu merupakan hari kemenangan yang harus dirayakan dengan bergembira. Karena itu syariat telah mengatur bahwa di hari itu tidak diperkenankan seseorang untuk bersaum sampai pada tingkat haram. Meski tidak ada yang bisa dimakan, paling tidak harus membatalkan saumnya atau tidak berniat untuk saum.

Hari raya Idul Adha, yaitu pada tanggal (10 Dzulhijjah). Hal yang sama juga pada tanggal 10 Zulhijjah sebagai hari raya kedua bagi umat Islam. Hari itu diharamkan untuk bersaum dan umat Islam disunnahkan untuk menyembelih hewan Qurban dan membagikannya kepada fakir msikin dan kerabat serta keluarga. Agar semuanya bisa ikut merasakan kegembiraan dengan menyantap hewan qurban itu dan merayakan hari besar.

Berikut ini adalah hari yang diharamkan untuk berpuasa, yaitu:

  • Hari-hari tasyrik, yaitu pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
  • Hari syak, yaitu pada 30 Syaban.
  • Saum selamanya.
  • Wanita saat sedang haid atau nifas.
  • Saum sunnah bagi wanita tanpa izin suaminya.

Beberapa yang di makruhkan melakukan puasa

  • Berlebih-lebihan dalam berkumur dan ber-istinsyaq
  • Mencicipi makanan (sebatas indra perasa lidah)
  • Mengumpulkan ludah dan menelannya, begitu juga menelan dahak dan lain sebagainya
  • Kemudian waktu makruh untuk bersaum yaitu ketika saum dikhususkan pada hari Jumat, tanpa diselingi saum sebelumnya atau sesudahnya.

Beberapa yang membatalkan puasa

  • Masuknya sesuatu/benda (seperti makanan atau minuman dan sebagainya) ke dalam mulut dengan disengaja.
  • Bersetubuh (Jima’).
  • Muntah yang disengaja.
  • Keluar mani (istimna’ ) dengan disengaja.
  • Haid (datang bulan) dan Nifas (melahirkan anak).
  • Hilang akal (gila atau pingsan).
  • Murtad (keluar dari agama Islam).

Dari kesemua hal yang membatalkan Puasa ada pengecualiannya, yaitu makan, minum dan bersetubuh bagi orang yang sedang bersaum tidak akan batal ketika seseorang itu lupa bahwa ia sedang berpuasa.

Orang yang boleh membatalkan Puasa

Adalah orang yang boleh membatalkan Puasa wajib (Puasa Ramadhan) tetapi Wajib mengqadha (mengganti saumnya di hari lain) sebanyak hari yang ditinggalkan.

  • Orang yang sakit, yang ada harapan untuk sembuh
  • Orang yang bepergian jauh (musafir) sedikitnya 89 km dari tempat tinggalnya
  • Orang yang hamil, yang khawatir akan keadaannya atau bayi yang dikandungnya
  • Orang yang sedang menyusui anak, yang khawatir akan keadaannya atau anaknya
  • Orang yang sedang haid (datang bulan), melahirkan anak dan nifas
  • Orang yang batal saumnya dengan suatu hal yang membatalkannya selain bersetubuh.

Wajib mengqadha dan wajib fidyah (memberi makan orang miskin setiap hari yang ia tidak bersaum, berupa bahan makanan pokok sebanyak 1 mud (576 gram)) :

  • Orang yang sakit yang tidak ada harapan akan sembuhnya.
  • Orang tua yang sangat lemah dan tidak kuat lagi bersaum.
  • Wajib mengqadha dan kifarat (memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Jika tidak ada hamba sahaya yang mukmin maka wajib bersaum dua bulan berturut-turut (selain qadha’ menggantikan hari yang ditinggalkan), jika tidak bisa, wajib memberi makan 60 orang miskin, masing-masing sebanyak 1 mud (576 gram) berupa bahan makanan pokok). yaitu Orang yang membatalkan saum wajibnya dengan bersetubuh, wajib melakukan kifarat dan qadha.

Keutamaan Puasa

Ibadah Puasa Ramadhan yang diwajibkan Allah kepada setiap mukmin adalah ibadah yang ditujukan untuk menghamba kepada Allah seperti yang tertera dalam sebuah surah dalam al-Qur’an, yaitu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu ber-Shoum/Puasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (Al-Baqarah 2:183)

Keutamaan Puasa menurut syariat Islam adalah, orang-orang yg bersaum akan melewati sebuah pintu surga yang bernama Rayyan, dan keutamaan lainnya adalah Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka, sejauh 70 tahun perjalanan.

Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya

Hikmah Puasa

Hikmah dari ibadah Puasa itu sendiri adalah melatih manusia untuk sabar dalam menjalani hidup. Maksud dari sabar yang tertera dalam al-Quran adalah gigih dan ulet seperti yang dimaksud dalam Surat Ali ‘Imran/3: 146.

Beberapa hikmah dan faidah puasa, antara lain:

  • Pendidikan atau latihan rohani,
  • Mendidik jiwa agar dapat menguasai diri,
  • Mendidik nafsu agar tidak senantiasa dimanjakan dan dituruti,
  • Mendidik jiwa untuk dapat memegang amanat dengan sebaik-baiknya,
  • Mendidik kesabaran dan ketabahan.

Perbaikan pergaulan

Orang yang ber-Puasa akan merasakan segala kesusahan fakir miskin yang banyak menderita kelaparan dan kekurangan. Dengan demikian akan timbul rasa suka menolong kepada orang-orang yang menderita.

Kesehatan

Ibadah Puasa Ramadhan akan membawa faedah bagi kesehatan rohani dan jasmani jika pelaksanaannya sesuai dengan panduan yang telah ditetapkan, jika tidak maka hasilnya tidaklah seberapa, malah mungkin ibadah Shoum/Puasa kita sia-sia saja.

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya : “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”(Q.S. Al-A’Raaf ayat 31)

Demikianlah telah dijelaskan tentang Puasa : Pengertian, Syarat, Rukun, Keutamaan dan Hikmahnya. Semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian. Terimakasih.

√ Kisah Nabi Ilyasa Di Angkat Menjadi Nabi Sampai Wafatnya

Kisah Nabi Ilyasa Di Angkat Menjadi Nabi Sampai Wafatnya

Kisah Nabi Ilyasa Di Angkat Menjadi Nabi Sampai Wafatnya – Dikesempatan ini Pengetahuan Islam akan menceritakan dan membahas tentang Kisah Nabi Ilyasa. Dalam pembahasan kali ini akan menjelaskan perjalanan Nabi Ilyasa dalam mengemban amanah yang di berikan kepadanya untuk memperbaiki kaum bani israil. Untuk lebih detail serta penjelasannya silahkan simak artikel di bawah ini.

Kisah Nabi Ilyasa Di Angkat Menjadi Nabi Sampai Wafatnya

Kisah Nabi Ilyasa’ As memang tidak akan pernah bisa lepas dari kisah Nabi Ilyas As, karena pada saat Nabi Ilyasa masih muda, beliau tidak pernah ketinggalan mengikuti di manapun Nabi Ilyas As berdakwah. Bahkan, bagi Nabi Ilyas As sudah menganggap Nabi Ilyasa As layaknya sebagai putra sendiri, dengan berbagai macam rintangan pun telah dirasakan oleh Nabi Ilyasa bersama Nabi Ilyas saat berdakwah menyebarkan agama Allah.

Kisah Kelahiran dan Silsilah Keluarga Nabi Ilyasa As

Dalam kisah kelahiran Nabi Ilyasa As Tidak begitu banyak sumber yang menceritakannya, seperti yang kita ketahui Nabi Ilyasa As hanya diceritakan bahwa beliau lahir dari keluarga yang sederhana. Beliau adalah putra dari Akhthub bin ‘Ajuz dengan melihat silsilahnya yang ada, Nabi Ilyasa As adalah keturunan yang ke empat dari Nabi Yusuf As. Beliau putra dari Akhthub bin Syutlim bin Ifrayi bin Yusuf As, sedangkan Nabi Ilyasa As tinggal di sekitar lembah sungai Yordania

Nabi Ilyasa As di angkat menjadi Nabi untuk meneruskan perjuangan Nabi Ilyas untuk meluruskan akidah kaum Bani Israil ke jalan yang benar. Sebab, semenjak Nabi Ilyas wafat, banyak dari kaum Bani Israil yang kembali mendurhakai kepada Allah, mereka kembali menyembah berhala dan mengingkari ajaran Nabi Ilyas As yang telah di ajarkan.

Mereka semua bahkan tidak takut akan Azab Allah dan bertindak sesukanya untuk kembali melakukan perbuatan dosa dan kemaksiatan. Pengalaman Nabi Ilyasa As pun tidak kurang sedikitpun, karena selama mendampingi Nabi Ilyas dalam berdakwah beliau selalu mengambil hikmahnya. Dari hal tersebutlah yang menjadi motifasi tersendiri bagi Nabi Ilyasa As dalam menghadapi kaum bani israil.

Kisah Nabi Ilyasa As Saat Bertemu Nabi Ilyas As

Di terangkan dari berbagai sumber, bahwasannya kisah kehidupan Nabi Ilyasa berawal dari kisah Nabi Ilyas As saat bersembunyi di rumahnya. Semua itu di sebabkan karena Nabi Ilyas di kejar-kejar oleh pasukan kaum bani israil. Karena keberanian Nabi Ilyas As untuk menentang dan meluruskan perbuatan Raja Ahab untuk meninggalkan berhala Baal. Maka dari itu raja Ahab marah, dan menyuruh para pasukannya untuk menangkap Nabi Ilyas As, Dalam pengejaran ini, beliau Nabi Ilyas As kebetulan bersembunyi di rumah Nabi Ilyasa As.

Pada saat itu, Nabi Ilyasa As masih berusia remaja dan tidak bisa apa-apa karena masih di beri penyakit oleh Allah. Meskipun sudah berusaha untuk mengobatinya, namun penyakit yang beliau derita tak kunjung sembuh. Setelah Nabi Ilyas datang, kemudian Kemudian Nabi Ilyas As di sambut dan jamu dengan sangat baik oleh keluarga Nabi Ilyasa As. Karena kebaikan keluarga Nabi Ilyasa, Nabi Ilyas pun melihat Nabi Ilyasa yang sedang menderita penyakit. Kemudian Nabi Ilyas As memohonkan kesembuhan kepada Allah untuk Nabi Ilyasa. Do’a Nabi Ilyas pun di kabulkan oleh Allah SWT,  yang mana dengan kuasa Allah Nabi Ilyasa pun langsung sembuh total dari segala penyakitnya.

Ilyasa pun sangat kagum dan terheran-heran dengan kemampuan yang di miliki Nabi Ilyas tersebut. Oleh karena itu, semenjak Nabi Ilyas memohonkan kesembuhan untuk Nabi Ilyasa, kemudian Ilyasa mengikuti ajaran Nabi Ilyas As daan beriman kepada Allah dan mulai mempelajari semua ilmu yang dimiliki oleh Nabi Ilyas As. Bahkan Ilyasa pun selalu mengikuti Nabi Ilyas kemanapun beliau pergi untuk berdakwah. Di mana pun ada Nabi Ilyas di situ juga ada Nabi Ilyasa. Sampai-sampai Nabi Ilyas As mengangkat Ilyasa sebagai putranya sendiri.

Kisah Nabi Ilyasa Di Angkat Menjadi Nabi Sampai Wafatnya

Kisah Nabi Ilyasa Berdakwah kepada Kaum Bani Israil

Setelah Nabi Ilyas wafat, kemudian Nabi Ilyasa diangkat menjadi nabi untuk meneruskan perjuangan Nabi Ilyas As dalam berdakwah. Nabi Ilyasa pun diberi tugas untuk membenahi kembali akidah kaum Bani Israil yang telah melenceng dari ajaran Nabi Ilyas As.

Pada dasarnya, saat Nabi Ilyas As masih hidup, sudah banyak dari golongan kaum Bani Israil yang beriman dan menjalankan perintah Allah swt. Namun, keadaan pun berubah secara drastis saat Nabi Ilyas wafat, mereka kembali menyembah berhala dan kembali melakukan kemaksiatan kepada Allah swt.

Sehingga pada suatu hari, Allah murka dan memberi azab kepada kaum bani israil dengan di beri musim kekeringan yang sangat lama. Dengan demikian, Nabi Ilyasa pun tidak henti-hentinya mengajak Bani Israil untuk bertaubat dan kembali beriman kepada Allah swt.

Namun, dengan adanya Azab yang di turunkan oleh Allah tidak membuat hati mereka luluh akan ajakan Nabi Ilyasa untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah swt. Semua perkataan Nabi Ilyasa di tentang oleh kaum Bani Israil, dan mereka pun menghiraukan ajakan Nabi Ilyasa untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah sebelum Allah menurunkan Azabnya yang sangat pedih. Namun, mereka semua kaum bani israil terus menghina dan mengancam akan membunuh Nabi Ilyasa  jika tidak berhenti dalam berdakwah.

Walaupun demikian, Nabi Ilyasa As tidak pernah takut dan gentar akan ancaman kaum bani israil. Nabi Ilyasa tidak akan berhenti untuk menjalankan perintah Allah. Beliau sangat sabar dalam menghadapi kaum bani israil, sampai-sampai setiap beliau menemui seseorang beliau mengajak mereka untuk bertaubat dan kembali beriman kepada Allah.

Demi memantapkan hati kaum bani israil dalam dakwahnya, Nabi Ilyasa As diberi mukjizat oleh Allah yakni bahwa Nabi Ilyasa mampu menghidupkan orang yang sudah mati. Ternyata, upaya Nabi Ilyasa As tidak sia-sia, dikit demi sedikit kaum Bani Israil mau bertaubat dan beriman kembali kepada Allah.

Kisah Wafatnya Nabi Ilyasa As

Dalam kisah ini bahwa Nabi Ilyasa As wafat pada usia yaitu sekitar kurang lebih 90 tahun yang dimakamkan di kota Palestina. Selama masa hidupnya, Nabi Ilyasa As tidak dikaruniai sorang anak oleh Allah. Walaupun demikian, untuk memperjuangkan agama islam tidak sampai hanya pada Nabi Ilyasa. Setelah Nabi Ilyasa As wafat, kemudian Allah mengangkat seorang Nabi untuk meneruskan agam Allah, Beliau adalah Nabi Yunus As.

Demikianlah Kisah Nabi Ilyasa Di Angkat Menjadi Nabi Sampai Wafatnya semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita.

√ Kisah Nabi Harun As Lengkap Dari Lahir Sampai Wafat

Kisah Nabi Harun As Lengkap Dari Lahir Sampai Wafat

Kisah Nabi Harun As Lengkap Dari Lahir Sampai Wafat – Dalam kesempatan kali ini Pengetahuan Islam akan menceritakan tentang Kisah Nabi Harun. Dalam pembahasan kali ini menjelaskan perjuangan Nabi Harun As dengan Nabi Musa dalam berdakwah menyebarkan agama islam kepada kaum bani israil. Untuk lebih jelasnya silahkan simak artikel di bawah ini.

Kisah Nabi Harun As Lengkap Dari Lahir Sampai Wafat

Nama Nabi Harun As disebutkan di dalam Al-quran sebanyak 20 kali. Beliau mempunyai nama lengkap Harun Bin Imran Bin Qahats Bin Azar Bin Lawi Bin Ya’qub Bin Ishak Bin Ibrahim. Nabi Harun As sendiri merupakan kakak Nabi Musa As. Selang Empat tahun kemudian, baru Nabi Musa hadi di tengah-tengah keluarganya.

Nabi Harun As adalah seorang utusan Allah untuk mendampingi dan membantu Nabi Musa dalam berdakwah menyebarkan agama Allah. Nabi Harun di angkat menjadi seorang Rosul guna ditugaskan untuk memberi peringatan dan mengajak kepada Fir’aun dan juga Bani Israil di Mesir menginjak jalan yang lurus, yakni ajaran Allah swt.

Nabi Harun As di anugrahi kelebihan yang sangat luar biasa, dalam beliau berbicara sangatlah pandai. Dan mempunyai pendirian yang sangat tegas dan berani. Sehingga, beliau di tugaskan untuk mendampingi Nabi Musa dalam berdakwah menegakkan ajaran Allah swt. Bahkan, kelebihannya dalam diakui oleh Nabi Musa dalam riwayatnya.

Beliau pun di tetapkan sebagai juru bicara Nabi Musa As. Tentu saja bukan tanpa ada alasan Nabi harun di nobatkan menjadi juru bicara Nabi Musa As. Pada suatu hari, saat Firaun menyuruh Nabi Musa untuk memilih api dan juga roti, pada saat itulah lidah Nabi Musa As menjadi kaku dan tidak dapat berbicara dengan fasih. Allah pun memberikan petunjuk kepada Nabi Musa untuk memilih api agar beliau selamat dari Fir’aun.

Dengan hadirnya Nabi Harun di samping Nabi Musa, bisa meringankan  beban dakwah yang dipikul oleh Nabi Musa. Bahkan, Nabi Harun As juga sering membantu dan menggantikan posisi Nabi Musa untuk memimpin para umat. Salah satunya adalah Fir’aun yang Nabi Harun yang di hadapinya, Firaun adalah sosok ayah angkat Nabi Musa As.

Kisah Nabi Harun dan Nabi Musa Menghadap Fir’aun

Pada suatu saat, ketika para Bani Israel miris karena di bawah belenggu dan  ke dzoliman Firaun. maka Nabi Musa dan Nabi Harun pun melakukan dakwah dan memberikan peringatan kepada raja Fir’aun. Nabi Harun As pun sangat senang dan bersyukur karena sebentar lagi Bani Israil akan segera bebas dari kekuasan firaun dan dikeluarkan dari Mesir. Nabi harun dan Nabi Musa pun berharap kepada Allah agar menyelamatkan dan memberikan kekuatan kepada mereka kaum bani israil.

Ketika Nabi Musa Dan Nabi Harun Aa sedang memberikan suatu peringatan dan arahan kepada Fir’aun. Fir’aun pun sangat marah kepada Nabi Musa, karena Nabi Musa yang dirawatnya sejak kecil justru menentang atas kekuasaan Fir’aun.

Bahkan, Fir’aun pun menegaskan bahwa Nabi Musa adalah orang gila yang mengaku menjadi rosul. Karena Fir’aun sama sekali tidak percaya akan di utusnya Nabi Musa menjadi Rosul. Kemudian, Fir’aun meminta suatu bukti kepadanya sehingga kerasulan Nabi Musa As bisa diakui, permintaanya pun di turuti oleh Nabi Musa.

Kemudian Nabi Musa langsung melemparkan tongkatnya, dan seketika itu tongkat tersebut berubah menjadi ular. Ketika Nabi Musa mengulurkan tangannya terhadap ular tersebut, ular itu pun menjadi sebuah tongkat kembali. Dan saat Nabi Musa As memasukkan tangan ke saku, maka keluarlah cahaya putih yang berkilau.

Menyaksikan hal tersebut, Fir’aun pun langsung menuduh Nabi Musa bahwa ia adalah seorang penyihir. Namun, Nabi Musa dan Nabi Harun As sama sekali tidak menyerah akan perjuanganya. Akhirnya, Nabi Musa di tandingkan dengan penyihir-penyihir lainnya. Namun, saat Nabi Musa As tampil, semua orang terheran-heran. Karena semua orang mengakui bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi Musa As bukanlah sihir.

Setelah menyaksikan sendiri, para penyihir pun ada yang mengakui bahwa mukjizat Nabi Musa As, mendengar hal tersebut, Fir’aun pun merasa geram dan dendam terhadap Nabi Musa.

Kisah Nabi Harun dan Samiri

Pada suatu hari,  setelah Nabi Musa dan Nabi Harun beserta rombongannya berhasil keluar dari mesir, Nabi Harun Dan Nabi Musa As melanjutkan perjalannya ke negri kan’an. di tengah-tengah perjalanan mereka harus melewati bukit yang diberi nama bukit Sinai. Di atas bukit tersebut lah, Nabi Musa menerima wahyu dari Allah yang berupa kitab taurat. Hal ini disebutkan di dalam Al-Qur’an QS Al-A’raf: 142.

Kitab Taurat tersebut beliau terima selama 40 hari. Di sinilah Nabi Musa meninggalkan kaumnya untuk sementara dan di gantikan kepemimpinanya oleh Nabi Harun As. Karena beliau merasa khawatir akan kembalinya kaum Bani Israil membuat suatu kerusakan jika di negeri tersebut tidak ada yang memimpin. Karena itulah, Nabi Musa memberi amanat kepada Nabi Harun As untuk menggantikan kepememimpinanya.

Namun, dalam pimpinan Nabi Harun As, ada permasalahan yang tidak dapat beliau atasi. Semua kaum Bani Israil kembali menyembah berhala dan  membuat sebuah patung sapi berbahan dasar emas yang mereka bawa. Hal ini bisa terjadi karena atas bujukan dan pengaruh Samiri.

Melihat hal tersebut, sebenarnya Nabi Harun As sudah berusah dengan sungguh-sungguh untuk mengingatkan mereka. Namun mereka semua menghiraukan peringatan tersebut, semua Kaum Bani Israil tetap menyembah patung sapi dari emas yang mereka buat sendiri.

Hingga tibalah waktunya Nabi Musa As kembali ke lokasi kaumnya di gunung Sinai. Nabi Musa pun marah besar saat melihat perilaku kaumnya yang kembali menyembah berhala. Selain marah kepada kaumnya, beliau juga marah kepada Nabi Harun karena dianggap tidak bisa menjaga amanah yang ia berikan selama ia pergi.

Karena merasa kecewa dan marah kepada Nabi Harun, Nabi musa pun memegangi kepala dan juga janggutnya seraya berkata:

“Hai Harun, apa yang sudah menghalangi saat engkau menyaksikan bahwa mereka telah sesat? (QS Taaha: 92)” Untuk mengikuti perjalananku ke gunung Sinai bersama dengan kaum yang beriman, apakah engkau memilih untuk melanggar perintahku dengan kesengajaan?”(QS Taaha: 93).

Mendengar hal tersebut, akhirnya Nabi Harun pun menjawab:

“Wahai engkau yang menjadi putra ibuku. Jangan kau ambil janggut dan juga rambutku. Aku merasa takut jika engkau nantinya akan mengatakan, engkau telah memecah kaum Bani Israil dan tidak lagi mengindahkan apa yang aku katakan’’ (QS Thaaha: 94).

Kemudian Nabi Harun pun menjelaskan apa yang telah terjadi selama di tinggalkan Nabi Musa. Bahwasanya ia sudah memberikan peringatan kepada kaum Bani Israil. Namun, mereka tetap membangkang dan menghiraukan bahkan hampir membunuh Nabi Harun As. Setelah itu, beliau juga menjelaskan bahwa yang memicu semua ini adalah pengaruh dari Samiri. Setelah di jelankan oleh Nabi Harun, salah faham antara Nabi Musa dan Nabi Harun pun berakhir.

Selanjutnya, Nabi Musa pun menghacurkan seluruh patung yang ada hingga tak tersisa satu pun.

Sesudah kejadian tersebut, Allah pun memberitahu kepada Nabi Musa bahwa Nabi Harun sudah bersungguh-sungguh berusaha untuk menghentikan mereka. Namun yang ia lakukan tak menuaikan hasil. Akhirnya, Nabi Musa pun merasa tenang karena saudaranya tidak melakukan perbuatan syirik terhadap Allah.

Dan pada akhirnya, Nabi Musa pun sadar bahwa Nabi Harun telah menjalankan tugasnya dengan sebaik-baik mungkin. Sehingga, Nabi Musa pun memohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan yang beliau dan saudaranya telah lakuka. Sedangkan Samiri yang telah mengajak umatnya menyimpang akhirnya di asingkan dan tidak diperbolehkan lagi bergaul dengan kaumnya.

Karena ulahnya, Samiri pun terkena suatu azab, yang mana apabila dirinya disentuh ataupun menyentuh manusia, maka tubuhnya akan terasa panas. Itulah yang akan menjadi siksaan yang akan ia alami baik di dunia maupun di akhirat nanti. Sesaat sesudah itu, Nabi Musa pun memberikan perintah kepada kaumnya untuk bertaubat kepada Allah dengan bersungguh-sungguh.

Kisah Nabi Harun As Lengkap Dari Lahir Sampai Wafat

Kisah Nabi Harun dan Pemberontakan Korah

Nabi Harun dan Nabi Musa As memiliki seorang sepupu yang bernama Korah Bin Yizhar Bin Kehat Bin Lewi. Korah mengajak anak-anak Eliab, On Bin Pelet, Abiram dan Datan serta orang-orang kaum bani israil untuk memberontak Nabi Musa dan Nabi Harun As. Mirisnya, pemberontakan tersebut melibatkan pemimpin-pemimpin besar beserta kaumnya.

Sebenarnya, semua hal yang telah dilakukan oleh Korah, lantaran dirinya iri dengan kedudukan Nabi Harun dan Nabi Musa As.

Kemudian berkumpulah orang-orang yang memberontak Nabi Harun Dan Nabi Musa As, termasuk Korah salah satunya. Atas perintah dari Allah, Dimana Nabi Musa menyerahkan semua keputusan kepadaNya. Akhirnya, bumi pun terbelah, tepat di bawah kelompok Korah, dan menelan orang-orang tersebut. Tidak hanya itu saja, rumah mereka pun juga ikut tertelan oleh bumi.

Bumi telah menutup kehidupan mereka, semua itu karena berbuatan dari mereka sendiri yang semena-mena dan berbuat kedzaliman terhadap Nabiyullah. Setelah di lahap olrh bumi, kemudian keluarlah api besar yang langsung dikirimkan oleh Allah pada kala itu, Api tersebut membskar semua orang yang ada, termasuk 250 orang Israel yang turut memberontak kepada Nabi Musa dan Nabi Harun As, Na’udubillah.

Keesokan harinya, semua kaum bani israil merasa heran dan kagum dengan Nabi Musa dan Nabi Harun. Sesaat setelah itu, turunlah wahyu dari Allah untuk Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menuju ke tengah-tengah umat. Dan pada akhirnya mereka membuat suatu perdamaian kepada semua ummat.

Kisah Wafatnya Nabi Harun

Nabi Harun dan Nabi Musa As tidak diperkenankan untuk masuk ke kawasan tanah Kan’an. karena kesalahan yang pernah beliau lakukan  di kawasan mata air Meriba yang tempatnya berada di kota kadesh. Beliau keluar dari kawasan Kadesh untuk menuju ke suatu daerah. Hingga, tibalah mereka di salah satu gunung yang dikenal dengan nama gunung Hor di kawasan perbatasan Edom.

Pada saat itu, Nabi Harun dan Nabi Musa mendaki gunung tersebut bersama salah seorang putranya yang bernama Eleazar. Hal ini mereka beliau laksanakan karena atas perintah Allah. Setelah sampai, Nabi Musa pun melepaskan pakaian Nabi Harun, Kemudian memakaikannya kepada putra Nabi Harun yaitu Eleazar.

Setelah Nabi Musa memakaikan baju Nabi Harun kepada putranya, Nabi Harun pun di jemput oleh Malaikat maut di puncak gunung Hor tersebut. Kemudian, Berita tentang meninggalnya Nabi Harun pun terdengar olah semua umat. Bangsa Israel pun menangisinya karena merasa kehilangan sosok panutan, bahkan hingga mencapai 30 hari sesudah kematiannya.

Nabi Harun As meninggal dunia tepat setelah 40 tahun bangsa Israel keluar dari kawasan Mesir. Dan berdasarkan kepercayaan Islam, makam Nabi Harun As terletak di kawasan gunung Harun. Tempat ini tergolong sangat dekat dengan Petra yang terletak di Yordania.

Demikianlah Kisah Nabi Harun As Lengkap Dari Lahir Sampai Wafat semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita semua.

√ Sifat Rasul : Wajib, Mustahil, Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad

Sifat Rasul Wajib Mustahil Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad

Sifat Rasul : Wajib, Mustahil, Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad – Pada kesempatan ini Pengetahuan Islam akan membahas tetnang Sifat Rasul. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelasaskan sifat wajib rasul, mustahil, jaiz dan sifat Nabi Muhammad Saw dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih detailnya simak Artikel berikut ini.

Sifat Rasul : Wajib, Mustahil, Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad

Seperti yang telah kita ketahui bahwa sifat rasul terdiri dari sifat wajib, sifat mustahil dan sifat jaiz. Nabi Muhammad memiliki akhlaq dan sifat-sifat yang sangat amat mulia. Oleh karena itu sebagai umatnya, hendaklah kita senantiasa mempelajari sifat beliau.

Rasul sebagai utusan Allah Swt mempunyai sifat-sifat yang telah melekat di dalam dirinya. Seperti yang telah kita ketahui, bahwa nabi kita Muhammad SAW serta para rasulnya yang lain mempunyai sifat yang terpuji bahkan mulia.

Sehingga kita juga berharap mempunyai beberapa sifat rasul, inilah sifat rasul baik yang wajib, mustahil dan jaiz.

Sifat Wajib Rasul

Sifat wajib berarti sifat yang pasti ada pada setiap rasul. Tidak dapat disebut sebagai seorang rasul apabila tidak mempunyai sifat-sifat wajib ini.

Sifat wajib ini sendiri terdiri dari 4, diantaranya yaitu sebagai berikut:

As-Siddiq

As-Siddiq yaitu berarti rasul selalu benar. Apa yang telah diucapkan oleh Nabi Ibrahim as. kepada bapaknya merupakan perkataan yang benar. Apa yang disembah oleh bapaknya adalah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat serta mudarat, maka jauhilah.

Peristiwa tersebut diabadikan dalam Al-Quran Surat Maryam ayat 41, yaitu:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا

Artinya:

“Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam kitab (al-Qur’an), sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan seorang nabi.”

Al-Amanah

Al-Amanah yaitu berarti rasul selalu dapat dipercaya. Pada waktu kaum Nabi Nuh as. mendustakan apa yang telah dibawa oleh Nabi Nuh as. kemudian Allah Swt. menegaskan bahwa Nuh as., merupakan orang yang terpercaya (amanah).

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam QS. asy-Syu’ara ayat 106-107, berikut ini:

إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ نُوحٌ أَلَا تَتَّقُونَ . إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ

Artinya:

“Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku ini seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu.”

At-Tablig

At-Tablig yaitu berarti rasul selalu meyampaikan wahyu. Tidak ada satu pun ayat yang disembunyikan oleh Nabi Muhammad Saw. dan tidak ada satupun yang tidak disampaikan kepada umatnya.

Dalam sebuah riwayat menyebutkan bahwa Ali bin Abi Talib ditanya mengenai wahyu yang tidak terdapat dalam al-Qur’an. Ali pun menegaskan bahwa:

“Demi Zat yang membelah biji dan melepas napas, tiada yang disembunyikan kecuali pemahaman seseorang terhadap al-Qur’an.”

Penjelasan tersebut terhubung dalam QS. al-Maidah ayat 67, berikut ini:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Artinya: “Wahai rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.”

Al-Fatanah

Al-Fatanah yaitu berarti rasul mempunyai kecerdasan yang tinggi. Ketika itu pada saat terjadi perselisihan antara kelompok kabilah di Mekah.

Setiap kelompok memaksakan kehendaknya supaya dapat meletakkan al Hajar al-Aswad (batu hitam) di atas Ka’bah. Kemudian Rasulullah SAW menengahi dengan cara seluruh kelompok yang bersengketa supaya memegang ujung dari kain tersebut.

Lalu, Nabi meletakkan batu itu di tengahnya dan mereka semua mengangkatnya sampai di atas Ka’bah. Sungguh hal tersebut sangatlah mencerminkan kecerdasan dari Baginda Rasulullah SAW.

Sifat Mustahil

Sifat mustahil adalah kebalikan daripada sifat wajib, yang dimana sifat mustahil merupakan sifat yang tidak mungkin ada pada rasul.

Diantaranya sifat mustahil rasul yaitu sebagai berikut:

Al-Kizzib

Al-Kizzib yaitu berarti mustahil rasul itu bohong atau dusta. Karena semua perkataan dan juga perbuatan rasul tidak pernah dusta atau bohong.

Hal ini telah disebutkan dalam QS. an-Najm ayat 2-4, yaitu sebagai berikut:

مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ . وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

Artinya:

“Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru, dan tidaklah yang diucapkan itu (al-Qur’ān) menurut keinginannya tidak lain (al-Qur’an) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”

Al-Khianah

Al-Khianah yaitu berarti mustahil rasul itu khianat. Semua yang telah diamanatkan atau disampaikan kepadanya pasti langsung dilaksanakan.

Hal ini juga telah disebutkan dalam QS. al-An’am ayat 106, yaitu sebagai berikut:

اتَّبِعْ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

Artinya:

“Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad), tidak ada Tuhan selain Dia, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”

Al-Kiṭman

Al-Kiṭmān yaitu berarti mustahil jika rasul menyembunyikan kebenaran. Setiap firman yang rasul terima dari Allah SWT pasti akan selalu disampaikan kepada para umatnya.

Hal ini juga telah disebutkan dalam QS. al-An’am ayat 50, yaitu sebagai berikut:

قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ ۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

Artinya:

“Katakanlah (Muhammad), Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang di wahyukan kepadaku. Katakanlah, Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Apakah kamu tidak memikirkan(nya).”

Al-Baladah

Al-Baladah yaitu berarti mustahil kalau rasul itu bodoh. Walaupun Rasulullah SAW tidak dapat membaca dan juga menulis (ummi) namun beliau sangat pandai.

Sifat Jaiz Rasul

Sifat jaiz bagi rasul adalah sifat kemanusiaan, yakni al-ardul basyariyah yang berarti rasul mempunyai sifat sebagaimana seorang manusia biasa.

Sifat ini diantaranya yaitu seperti rasa lapar, haus, sakit, tidur, sedih, senang, berkeluarga dan yang lain sebagainya. Bahkan bagi seorang rasul juga akan meninggal sebagai mana yang dialami makhluk lainnya.

Di samping rasul mempunyai sifat wajib begitu juga dengan lawannya yakni sifat mustahil. Rasul juga mempunyai sifat jaiz, dan tentu saja sifat jāiz-nya rasul dengan sifat jaiznya Allah SWT yang sangatlah berbeda.

Sebagaimana dalam firman Allah SWT yang menyebutkan:

مَا هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُونَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُونَ

Artinya: “…(orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan seperti apa yang kamu makan dan dia minum seperti apa yang kamu minum.” (QS. al-Mu’minun: 33)

Selain tersebut di atas, rasul juga memiliki sifat-sifat yang tidak terdapat pada selain rasul, yaitu seperti berikut.

Selain tersebut di atas, rasul juga mempunyai sifat-sifat yang tidak ada pada selain rasul, diantaranya yaitu:

Ishmaturrasul

Ishmaturrasul adalah orang yang ma’shum, yaitu terlindung dari dosa serta salah dalam kemampuan pemahaman agama, ketaatan, dan juga menyampaikan wahyu Allah SWT. Sehingga beliau akan selalu siaga dalam menghadapi tantangan serta  tugas apa pun.

Iltizamurrasul

Iltizamurrasul adalah orang yang selalu berkomitmen dengan apa pun yang sedang mereka ajarkan.

Mereka bekerja dan juga berdakwah sesuai dengan arahan serta perintah dari Allah SWT. Walaupun dalam menjalankan perintah Allah SWT beliau harus berhadapan dengan berbagai rintangan yang berat baik dari dalam diri pribadinya ataupun dari para musuhnya.

Rasul tidak pernah sejengkal pun menghindar ataupun mundur dari perintah dan juga ajaran Allah Swt.

Cara Meneladani Sifat Rasul

Pada umumnya, alasan kita harus meneladani sifat dari rasul Allah SWT ialah sebab dalam diri para rasul terdapat suri tauladan yang baik, baik dalam akhlak ataupun perbuatannya.

Contoh terbaik dalam menjalani kehidupan, serta setiap kisah dari kehidupan para rasul mengandung pelajaran yang amat berharga tentang keimanan kepada Allah SWT dan tentunya sangatlah cinta kepada akhirat.

Adapun beberapa cara untuk meneladani sifat rasul, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Menjadikan kisah dari para rasul sbagai ibrah atau pelajaran untuk kita.
  • Menguatkan iman yng ada dalam diri kita.
  • Menjadikan teladan dri sifat-sifat yang dipunyai oleh para rasul.
  • Dijadikan penguat dlam menegakkan agama serta mendakwahkan agama kepada yang lain.
  • Melahirkan kecintaan kpada para rasul atas pengorbanan mereka untuk menegakan agama Islam.
  • Selalu brbuat kebajikan di dalam kehidupan sehari-hari.
  • Melahirkan kesadaran bhwa pertolongan Allah ada di setiap amal yang kita lakukan.
  • Sadar akan diri sendiri bhwa kita ini hanya manusia biasa, yaitu makhluk ciptaan Allah SWT.
  • Percaya bhwa kekuasaan Allah SWT benar adanya lewat mukjizat yang diberikan kepada rasul.
  • Memunculkan rasa takut dri apa yang telah dialami orang yang ingkar kepada Allah SWT.

Sifat Nabi Muhammad yang Tidak Dimiliki oleh Umat Manusia

Berikut ini adalah sifat dari Nabi Muhammad yang tidak dimiliki oleh manusia, antara lain:

Tidak pernah ihtilam (mimpi basah)

Al-Yusuf  al-Nabhani telah menyebut dari keistimewaan Nabi Muhammad SAW dalam kitab beliau yaitu al-Anwar al-Muhammadiyah min al-Mawahib al-Laduniyah. Keterangan  keistimewaan ini berasal dari Ibnu Abbas, dan beliau menyebutkan:

مَا احْتَلَمَ نَبِيٌّ قَطُّ  إِنَّمَا الِاحْتِلَامُ منَ الشَّيْطَانِ

Artinya:

“Tidaklah seorang nabi bermimpi basah sama sekali, karena mimpi basah datang dari syaithan.” (H.R. al-Thabrani)

Al-Haitsami menyebutkan di dalam sanad hadits ini ada Abd al-Aziz bin Abi Tsabit, sementara beliau ini ijma’ atas dha’ifnya.

Tidak pernah menguap

Ibnu al-Mulaqqin telah menyebut keistimewaan pada Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yakni Ghayah al-Suul fi Khashais al-Rasul.

Dalam Kitab Fathulbarri, Ibnu Hajar al-Asqalany menyebutkan:

وَمن الخصائص النَّبَوِيَّة مَا أخرجه بن أَبِي شَيْبَةَ وَالْبُخَارِيُّ فِي التَّارِيخِ مِنْ مُرْسَلِ يَزِيدَ بْنِ الْأَصَمِّ قَالَ مَا تَثَاءَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَطُّ وَأَخْرَجَ الْخَطَّابِيُّ مِنْ طَرِيقِ مَسْلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ مَرْوَانَ قَالَ مَا تَثَاءَبَ نَبِيٌّ قَطُّ وَمَسْلَمَةُ أَدْرَكَ بَعْضَ الصَّحَابَةِ وَهُوَ صَدُوقٌ وَيُؤَيِّدُ ذَلِكَ مَا ثَبَتَ أَنَّ التَّثَاؤُبَ مِنَ الشَّيْطَانِ

Artinya :

“Termasuk keistimewaan kenabian adalah yang telah ditakhrij oleh Ibnu Abi Syaibah dan Al-Bukhari dalam al-Tarikh dari mursal Yazid bin al-Asham, beliau berkata : Nabi SAW tidak pernah menguap sama sekali. Al-Khathabi mengeluarkan dari jalur Maslamah bin Abd al-Malik bin Marwan, beliau berkata : seorang nabi tidak pernah menguap sama sekali. Sedangkan Maslamah ini pernah bertemu sebagian sahabat Nabi dan beliau adalah orang yang berkata benar. Riwayat ini juga didukung oleh riwayat yang shahih yang menjelaskan bahwa menguap datang dari syaithan.”

Tidak ada satupun binatang yang melarikan diri (liar) dari beliau

Ibnu al-Mulaqqin telah menyebut keistimewaan pada Nabi Muhammad SAW ini dalam kitab beliau yakni Ghayah al-Suul fi Khashais al-Rasul. Qadhi ‘Iyadh meriwayatkan dengan sanadnya hingga kepada Aisyah.

Beliau menyebutkan yaitu:

كان عندنا داجن فاذا كان عندنا رسول الله صلعم قر وثبت مكانه فلم يجئ ولم يذهب واذا خرج رسول الله صلعم جاء وذهب

Artinya : Di sisi kami ada binatang jinak, apabila Rasulullah SAW bersama kami, maka binatang itu tenang dan tetap pada tempatnya, tidak datang dan pergi, tetapi apabila Rasulullah SAW keluar, maka biantang itu datang dan pergi. (HR. Qadhi ‘Iyadh)

Dalam kitab Dalail al-Nubuwah juga menyebutkan riwayat dari Abu Hurairah r.a., dan disitu beliau berkata:

وَجَاءَ الذِّئْبُ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ فَأَقْعَى بَيْنَ يَدَيْهِ، ثُمَّ جَعَلَ يُبَصْبِصُ بِذَنَبِهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَذَا وَافِدُ الذِّئَابِ، جَاءَ يَسْأَلُكُمْ أَنْ تَجْعَلُوا لَهُ مِنْ أَمْوَالِكُمْ شَيْئًا ، قَالُوا: لَا وَاللهِ لَا نَفْعَلُ، وَأَخَذَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ حَجَرًا فَرَمَاهُ، فَأَدْبَرَ الذِّئْبُ وَلَهُ عُوَاءٌ

Artinya:

“Seekor serigala pernah datang kepada Rasulullah SAW duduk dan berjongkok di depan beliau, kemudian menggerak-gerak ekornya.  Melihat itu Rasulullah SAW berkata, ini utusan serigala, yang datang meminta suatu makanan dari kalian. Mereka menjawab : tidak, Demi Allah tidak akan kami lakukan. Seorang dari mereka mengambil batu melemparnya, serigala itu pun pergi sambil menyalak. (HR. al-Baihaqi)

Kisah lainnya dimana binatang-binatang liar yang senantiasa jinak kepada Nabi SAW juga banyak disebut dalam berabagai riwayat yang terdapat dalam Kitab Dalail al-Nubuwah karya dari al-Baihaqi dan al-Syifa’ bi Ta’rif  Huquq al-Mushtafa karya Qadhi ‘Iyadh serta kitab lainnya yang juga berisi sekitar masalah kehidupan pribadi Nabi Muhammad SAW.

Tidak pernah ada lalat hinggap di tubuh beliau yang mulia

Ibnu al-Mulaqqin telah menyebut keistimewaan pada Nabi Muhammad SAW ini dalam kitab beliau yakni Ghayah al-Suul fi Khashais al-Rasul.

Al-Yusuf  al-Nabhani juga menyebut keistimewaan dari Nabi Muhammad SAW dalam kitab beliau, al-Anwar al-Muhammadiyah min al-Mawahib al-Laduniyah.

Dalam kitabnya al-Khashaish al-Kubra, al-Suyuthi mengatakan bahwa Qadhi ‘Iyadh dalam kitab al-Syifa serta al-‘Uzfi dalam al-Maulid-nya menyebutkan termasuk keistimewaan dari Nabi SAW yang tidak pernah ada lalat hinggap di tubuh beliau serta ini juga telah disebut oleh Ibnu Sab’in dalam al-Khashaish-nya dengan lafazh : “Tidak jatuh lalat atas pakaiannya sama sekali.”

Dapat mengetahui sesuatu yang ada di belakangnya

Al-Yusuf  al-Nabhani menyebut keistimewaan Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yaitu al-Anwar  al-Muhammadiyah min al-Mawahib al-Laduniyah.

Qadhi ‘Iyadh menyebut keistimewaan Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yakni al-Syifa’ bi Ta’rif  Huquq Al-Mushtafa.

Dalam Shahih Muslim menuebut hadits dari Abu Hurairah, dan beliau berkata:

هَلْ تَرَوْنَ قِبْلَتِي هَا هُنَا؟ فَوَاللهِ مَا يَخْفَى عَلَيَّ رُكُوعُكُمْ، وَلَا سُجُودُكُمْ إِنِّي لَأَرَاكُمْ وَرَاءَ ظَهْرِي

Artinya : Apakah kalian melihat kiblatku  di sini?. Demi Allah tidak tersembunyi atasku rukuk dan sujud kalian. Sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari belakangku. (H.R Muslim)

Bekas air seni beliau tidak pernah dilihat di permukaan bumi

Ibnu al-Mulaqqin telah menyebut keistimewaan dari Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yakni Ghayah al-Suul fi Khashais al-Rasul.

Di dalam kitab tersebut, Ibnu al-Mulaqqin sebut hadits dari Aisyah r.a. yang disebut dalam kitab al-Ayat al-Bainat, karya dari Ibnu Dahyah, dan di dalamnya Aisyah berkata:

يا رسول الله اني اراك تدخل الخلاء ثم يجئ الذي يدخل بعدك فلا يرى لما يخرج منك اثرا فقال يا عائشة ان الله تعالى امر الارض ان تبتلع ما خرج من الانبياء

Artinya : “Hai Rasulullah, sesungguhnya aku melihat engkau memasuki jamban, kemudian masuk orang-orang sesudahmu. Tetapi orang itu tidak melihat bekas apapun yang keluar darimu.” Rasulullah SAW bersabda : “Hai Aisyah, sesungguhnya Allah Ta’ala memerintah bumi menelan apa yang keluar dari para nabi.”

Ibnu Dahyah juga menyebutkan, sanadnya tsabit (maqbul) al-Suyuthi selepas menyebut beberapa jalur riwayat hadits yang sat arti dengan hadits di atas, beliau menyebutkan, jalur ini (hadits di atas) merupakan yang paling kuat dari jalur-jalur hadits ini.

Hati beliau tidak pernah tidur

Ibnu al-Mulaqqin telah menyebut keistimewaan dari Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yakni Ghayah al-Suul fi Khashais al-Rasul.

Hal tersebut berdasarkan hadits dari Aisyah yang di dalamnya Aisyah berkata:

فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ، فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ، وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

Artinya : Aku mengatakan, Ya Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum witir ?. Rasulullah SAW bersabda : “Ya Aisyah, sesungguhnya dua mataku tertidur, tetapi hatiku tidak pernah tidur.” (H.R. Muslim)

Sifat Rasul Wajib Mustahil Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad

Bayangan beliau tidak pernah dapat dilihat ketika kena sinar matahari

Al-Yusuf  al-Nabhani menyebut keistimewaan dari Nabi Muhammad SAW di dalam kitab beliau yakni al-Anwar  al-Muhammadiyah min al-Mawahib al-Laduniyah.

Di dalam kitabnya yang disebut al-Khashaish al-Kubra, al-Suyuthi berkata:

اخْرج الْحَكِيم التِّرْمِذِيّ عَن ذكْوَان ان رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم لم يكن يرى لَهُ ظلّ فِي شمس وَلَا قمر قَالَ ابْن سبع من خَصَائِصه ان ظله كَانَ لَا يَقع على الأَرْض وَأَنه كَانَ نورا فَكَانَ إِذا مَشى فِي الشَّمْس أَو الْقَمَر لَا ينظر لَهُ ظلّ قَالَ بَعضهم وَيشْهد لَهُ حَدِيث قَوْله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فِي دُعَائِهِ واجعلني نورا

Artinya:

“Al-Hakim al-Turmidzi telah mentakhrij dari Zakwan, sesungguhnya Rasulullah SAW tidak dilihat bayangannya pada terik matahari dan tidak juga pada bulan. Ibnu Sab’i mengatakan, termasuk keistimewaan Nabi SAW bayangannya tidak jatuh di atas bumi, karena sesungguhnya beliau adalah cahaya. Karena itu, apabila berjalan pada terik matahari atau bulan, maka tidak dilihat bayangannya. Sebagian ulama mengatakan, riwayat ini didukung oleh hadits perkataan Nabi SAW dalam do’anya : “Jadikanlah aku sebagai cahaya.

Dua pundak beliau selalu terlihat lebih tinggi dari pundak orang-orang yang sedang duduk bersama beliau

Ibnu al-Mulaqqin sebut bahwa Ibnu Sab’in berkata, salah satu keistimewaan dari Nabi Muhammad SAW ialah jika beliau duduk, maka beliau akan nampak lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang yang juga duduk di sekitar beliau.

Pernyataan Ibnu Sab’in tersebut juga telah dikutip oleh al-Suyuthi di dalam kitabnya yakni al-Khashaish al-Kubra.

Dalam Kitab Syarah Al-Muwatha’, al-Zarqani berkata:

وَذَكَرَ رَزِينٌ وَغَيْرُهُ: كَانَ إِذَا جَلَسَ يَكُونُ كَتِفُهُ أَعْلَى مِنْ جَمِيعِ الْجَالِسِينَ، وَدَلِيلَهُ قَوْلُ عَلِيٍّ: ” إِذَا جَاءَ مَعَ الْقَوْمِ غَمَرَهُمْ”  إِذْ هُوَ شَامِلٌ لِلْمَشْيِ وَالْجُلُوسِ

Artinya:

“Raziin dan lainnya telah menyebutkan, Rasululullah SAW apabila duduk, bahunya nampak lebih tinggi dari semua orang-orang duduk. Dalilnya perkataan ‘Ali : ”Apabila Rasulullah SAW bersama kaum, beliau  melebihi mereka”. Karena ini mencakup apabila berjalan dan duduk.

Perkataan Ali tersebut kemudian ditakhrij oleh Abdullah bin Ahmad serta al-Baihaqi dari ‘Ali.

Beliau telah dikhitan semenjak dilahirkan

Al-Thabrani di dalam al-Ausath, Abu Na’im, al-Khathib dan juga Ibnu ‘Asakir telah mentakhrij dari beberapa jalur dari Anas dari Nabi SAW, dan kemudian bersabda:

من كَرَامَتِي على رَبِّي اني ولدت مختونا وَلم ير أحد سوأتي

Artinya : Sebagian dari kemulianku atas Tuhanku adalah aku dilahirkan dalam keadaan sudah dikhitan dan tidak ada yang melihat dua kemaluanku

Hadits tersebut sudah dinyatakan shahih oleh al-Dhiya’ di dalam al-Mukhtarah. Al-Hakim di dalam kitabnya yang disebut al-Mustadrak berkata, sudah mutawatir hadits-hadits yang menjelaskan bahwa Nabi SAW lahir dalam keadaan sudah dikhitan.

Demikian Artikel tentang Sifat Rasul: Wajib, Mustahil, Jaiz dan Sifat Nabi Muhammad. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk Kita semua. Terima kasih.

√ Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do’anya

Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do'anya

Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do’anya – Pada pembahasan kali ini Pengetahuan Islam akan menjelaskan tentang Tata Cara Sholat Ghoib. Ketika kita tidak bisa bertakziah karena kemungkinan jauh dan lain-lainya, di dalam islam tentu saja ada solusi untuk setiap permasalah yang kita hadapi. Untuk lebih jelasnya mari kita simak artikel di bawah ini.

Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do’a nya

Dalam sholat Ghoib tentunya masih banyak saudara kita yang bertanya-tanya bagaima cara mengerjakannya.

Sholat Mayit sendiri bukanlah merupakan fardu ‘ain, akan tetapi fardhu kifayah, yang mana hukum tersebut bisa menjadi wajib ketika pada suatu daerah tersebut tidak ada yang mensholati. Sedangkan untuk Sholat Ghoib sendiri adalah sunnah hukumnya, dan bisa di kerjakan kapan saja setelah orang tersebut meninggal.

Lantas bagaimana tata cara sholat ghoib untuk mayit perempuan dan laki-laki saat bersamaan, apakah bisa langsung di kerjakan dalam satu sholatan?. Jawabnya adalah bisa! Dengan cara menjamakkan dalam berdoa, seperti “ALLAHUMMAHFIRLAHUM” dan seterusnya.

Niat Sholat Ghoib untuk Mayit Perempuan

Untuk niat, kita wajib mengucapkan di dalam hati, dan bersamaan dengan takbir. Adapun melafatkan niat dengan bibir itu sunnah hukumnya.

  1. Niat Bagi Imam

أُصَلِّيْ عَلَى هَذِهِ المَيِّتَةِ الْغَائِبَةِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى اللهُ أَكْبَرُ

Usholli ala hadzihil mayyitati al-ghoibati arba’a takbirotin fardhol kifayati Imaman lillahi ta’ala Allahu Akbaar

Artinay: Saya niat sholat untuk mayit perempuan yang ghoib, empat takbir fardhu kifayah menjadi imam karena Allah Ta’ala Allahu Akbar

  1. Niat Bagi Makmum Yang Mengikuti Imam

أُصَلِّيْ عَلَى مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ الْإِمَامُ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ (مَأمُوْمًا) لِلّٰهِ تَعَالَى اللهُ أَكْبَرُ

Usholli ala man sholla alaihil imamu arba’a takbirotin fardhol kifayati (makmuman) lillahi ta’ala Allahu Akbar

Artinya: “Aku niat sholat atas mayyit yang disholati imam empat kali takbir fardu kifayah makmum karena Allah Ta’ala. Allahu Akbar”

Kemudian setelah melaksanakan niat dan takbir secara bersamaan, langkah selanjutnya yaitu membaca surat al-Fatihah.

Surat Al-fatihah

أعُوْذُ ِباللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ * إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ * اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَـيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّالِّينَ

Setelah membaca surat Al-fatihah, kemudian melanjutkan takbir yang ke dua kemudian membaca Sholawat.

Untuk pembacaan sholawat ini bebas, namun yang lebih utama adalah bacaan sholawat ketika kita sedang melakukan tasyahud akhir. seperti contoh dibawah ini.

Bacaan Sholawat

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Setelah selesai membaca sholawat, di teruskan dengan takbir yang ketiga, dengan bacaan do’a.

Seperti berikut:

Bacaan Do’a Untuk Mayit Perempuan

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا وَوَسِّعْ مُدْخَلَهَا وَاغْسِلْهَا بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهَا مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهَا دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهَا وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا وَأَدْخِلْهَا الْجَنَّةَ وَأَعِذْهَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

Artinya: “Ya Allah, ampunilah dia (mayat), berilah rahmat kepadanya, selamatkan lah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkan lah dia di tempat yang mulia, luaskan lah kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkanlah dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju putih dari kotoran. Berilah dia rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga yang lebih baik daripada keluarganya di dunia, istri yang lebih baik dari istrinya (atau suaminya) dan masukkan dia ke surga, jagalah dia dari siksa kubur dan neraka.”

Untuk mayit laki-laki hanya mengubah lafat “HA” menjadi “HU”.

Setelah pembacaan do’a selesai, di teruskan dengan takbir yang ke empat, yakni takbir yang terakhir dengan membaca do’a sebagai berikut.

Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do'anya

Do’a Takbir Ke Empat

اَللَّهُـمَّ لاَتَحْرِمْنَا اَجْرَهَا وَلاَ تَفْتِنَا بَعْدَهَا وَاغْفِرْلَنَا وَلَهَا وَلإخْـوَانِنَـا الَّذِيْنَ سَبَـقُوْنَ بِاْلإِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِـلاً لِلَّذِيْنَ ءَامَنُوْارَبَّنــَا إنَّكَ رَؤُفٌ رَّحِيْم

Artinya: “Ya Allah janganlah kami tidak Engkau beri pahalanya, dan janganlah Engkau beri fitnah kepada kami sesudahnya, dan berilah ampunan kepada kami dan kepadanya.”

Untuk mayit laki-laki juga sama, hanya saja harus mengganti lafat “HA” menjadi “HU”.

Selanjutnya, setelah semuanya di laksanakan, kemudian di akhiri dengan salam.

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ,

Setelah selesai melakukan sholat, di anjurkan bagi kita untuk mendoakan si mayit. Untuk lafat do’a setelah sholat, ini tidak ada ketentuannya, yang jelas kita doakan sebaik-baiknya untuk si mayit.

Contoh Bacaan Do’a Untuk Mayit

الحمدالله ربِّ العلمين.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ، اللَّهُمَّ بِحَقِّ الْفَاتِحَةِ اِعْتِقْ رِقَابَنَا وَرِقَابَ هَذِهِ الْمَيِّتَةِ مِنَ النَّارِ، اللَّهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَ عَلَى هَذِهِ الْمَيَّتَةِ وَاجْعَلْ قَبْرَهَا رَوْضَةً مِّنَ الْجَنَّةِ وَ لَا تَجْعَلْ قَبْرَهَا حُفْرَةً مِنْ حُفَّارِ النِّرَانِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اٰلِهِ وَ صَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Allaahumma shalli ’alaa sayyidinaa muhammadin wa’alaa aali sayyidinaa muhammad. Allahumma bihaqqil faatihati i’tiq riqabanaa wariqaaba haadzal mayyittati minan naari. allahumma anzilirrahmata wal maghfirata alaa haadzihil mayyitati waj’al qabraha raudlatan minal jannati walaa qobrohq hufrotan min huffarin niraani, washallallaahu alaa khairi khalqihi sayyidana muhammadin wa alaa allihi washahbihii ajma’iin, wal hamdu lillahirabbil aalamiin.

Artinya: “Ya Allah, curahkanlah rahmat atas junjungan kita Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad. Ya Allah, dengan berkahnya surat Al Fatihah, bebaskanlah dosa kami dosa mayit ini dari siksaan api neraka.”

Ya Allah, curahkanlah rahmat dan berilah ampun kepada mayit ini. Dan jadikanlah kuburnya taman yang nyaman dari surga dan janganlah Engkau menjadikan kuburnya itu dari galian jurang neraka. Dan semoga Allah memberi rahmat kepada semulia-mulia makhluk-Nya yaitu junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya sekalian, dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.”

Demikianlah Tata Cara Sholat Ghoib Untuk Mayit Lengkap beserta Do’anya semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan pengetahuan Anda.

√ Fiqih Kitab Fathul Qorib : Tata Cara Mandi Besar (Lengkap)

Fiqih Kitab Fathul Qorib - Tata Cara Mandi Besar (Lengkap)

Fiqih Kitab Fathul Qorib : Tata Cara Mandi Besar (Lengkap) – Penyebab hadas besar yang mewajibkan mandi wajib atau mandi besar ada enam perkara. Yaitu keluar mani, bersetubuh, haid, nifas, mati. Sedangkan cara mandi ada tiga yaitu niat, membuang najis yang ada di badan dan mengalirkan air ke seluruh tubuh.

Dalam pembahasan dibawah ini menjelaskan apa yang ada di dalam kitab Fathul Qorib, untuk lebih jelasnya silahkan simak Pengetahuan Islam berikut.

Fiqih Kitab Fathul Qorib : Tata Cara Mandi Besar (Lengkap)

فصل : في موجب الغسل
والغسل لغة سيلان الماء على الشيء مطلقاً وشرعاً سيلانه على جميع البدن بنية مخصوصة (والذي يوجب الغسل ستة أشياء ثلاثة)
منها (تشترك فيها الرجال والنساء وهي التقاء الختانين) ويعبر عن هذا الالتقاء بإيلاج حي واضح غيب حشفة الذكر منه،أو قدرها من مقطوعها في فرج، ويصير الآدمي المولج فيه جنباً بإيلاج ما ذكر، أما الميت فلا يعاد غسله بإيلاج فيه، وأما الخنثى المشكل، فلا غسل عليه بإيلاج حشفته، ولا بإيلاج في قبله
و من المشترك (إنزال) أي خروج (المنيّ) من شخص بغير إيلاج، وإن قل المني كقطرة، ولو كانت على لون الدم، ولو كان الخارج بجماع أو غيره في يقظة أو نوم بشهوة أو غيرها من طريقه المعتاد، أو غيره كأن انكسر صلبه، فخرج منيه
و من المشترك (الموت) إلا في الشهيد (وثلاثة تختص بها النساء وهي الحيض) أي الدم الخارج من امرأة بلغت تسع سنين، (والنفاس) وهو الدم الخارج عقب الولادة، فإنه موجب للغسل قطعاً (والولادة) المصحوبة بالبلل موجبة للغسل قطعاً، والمجردة عن البلل موجبة للغسل في الأصح.

Pengertian Mandi Besar

Secara bahasa, mandi bermakna mengalirnya air pada sesuatu secara mutlak.

Secara syara’ adalah bermakna mengalirnya air ke seluruh badan disertai niat tertentu.

Hal Mewajibkan Mandi

Sesuatu yang mewajibkan mandi ada enam perkara.

  1. Tiga di antaranya dialami oleh laki-laki dan perempuan, yaitu bertemunya alat kelamin.
  2. Bertemunya alat kelamin ini diungkapkan dengan arti, orang hidup yang jelas kelaminnya yang memasukkan hasyafah penisnya atau kira-kira hasyafah dari penis yang terpotong hasyafahnya ke dalam farji.
  3. Anak Adam yang dimasuki hasyafah menjadi junub sebab dimasuki oleh hasyafah yang telah disebutkan di atas.

Sedangkan untuk mayat yang sudah di mandikan, maka tidak perlu dimandikan lagi ketika dimasuki haysafah.

Adapun khuntsa musykil, maka tidak wajib baginya melakukan mandi sebab memasukkan hasyafahnya atau kemaluannya dimasuki hasyafah. Di antara hal yang di alami oleh laki-laki dan perempuan adalah keluar sperma sebab selain memasukkan hasyafah.

Walaupun sperma yang keluar hanya sedikit seperti satu tetes. Walaupun berwarna darah. Walaupun sperma keluar sebab jima’ atau selainnya, dalam keadaan terjaga atau tidur, disertai birahi ataupun tidak, dari jalur yang normal ataupun bukan seperti punggungnya belah kemudian spermanya keluar dari sana.

Di antara yang dialami oleh keduanya adalah mati, kecuali orang yang mati syahid.

Tiga hal yang mewajibkan mandi adalah tertentu dialami oleh kaum perempuan yaitu,

  1. Haidl, maksudnya darah yang keluar dari seorang wanita yang telah mencapai usia sembilan tahun.
  2. Nifas, yaitu darah yang keluar setelah melahirkan. Maka sesungguhnya nifas mewajibkan mandi secara mutlak.
  3. Melahirkan yang disertai dengan basah-basah mewajibkan mandi secara pasti.

Sedangkan melahirkan yang tidak disertai basah-basah mewajibkan mandi menurut pendapat ashah.

Tata Cara Mandi ada Tiga

فصل: وفرائض الغسل ثلاثة أشياء.
أحدها (النية) فينوي الجنب رفع الجنابة أو الحدث الأكبر ونحو ذلك، وتنوي الحائض أو النفساء رفع حدث الحيض أو النفاس، وتكون النية مقرونة بأول الفرض، وهو أول ما يغسل من أعلى البدن أو أسفله، فلو نوى بعد غسل جزء وجب إعادته (وإزالة النجاسة إن كانت على بدنه) أي المغتسل وهذا ما رجحه الرافعي وعليه فلا تكفي غسلة واحدة عن الحدث والنجاسة، ورجح النووي الاكتفاء بغسلة واحدة عنهما، ومحله ما إذا كانت النجاسة حكمية، أما إذا كانت النجاسة عينية وجب غسلتان عندهما
وإيصال الماء إلى جميع الشعر والبشرة) وفي بعض النسخ بدل جميع أصول، ولا فرق بين شعر الرأس وغيره، ولا بين الخفيف منه والكثيف، والشعر المضفور إن لم يصل الماء إلى باطنه إلا بالنقض وجب نقضه، والمراد بالبشرة ظاهر الجلد، ويجب غسل ما ظهر من صماخي أذنيه ومن أنف مجدوع، ومن شقوق بدن، ويجب إيصال الماء إلى ما تحت القلفة من الأقلف، وإلى ما يبدو من فرج المرأة عند قعودها لقضاء حاجتها، ومما يجب غسله المسربة، لأنها تظهر في وقت قضاء الحاجة، فتصير من ظاهر البدن
وسننه أي الغسل (خمسة أشياء التسمية والوضوء) كاملاً (قبله) وينوي به المغتسل سنة الغسل إن تجردت جنابته عن الحدث الأصغر (وإمرار اليد على) ما وصلت إليه من (الحسد) ويعبر عن هذا الإمرار بالدلك
والموالاة وسبق معناها في الوضوء (وتقديم اليمنى) من شقيه (على اليسرى) وبقي من سنن الغسل أمور مذكورة في المبسوطات منها التثليث وتخليل الشعر.

Niat

Fardlunya mandi ada tiga perkara. Salah satunya adalah niat. Maka orang yang junup niat menghilangkan hadats jinabah, menghilangkan hadats besar atau niat-niat sesamanya. Sedangkan untuk wanita haidl dan wanita nifas, niat menghilangkan hadats haidl atau hadats nifas.

Niat yang dilakukan harus bersamaan dengan awal kefarduan, yaitu awal bagian badan yang terbasuh, baik dari badan bagian atas atau bagian bawah.

Sehingga, kalau dia melakukan niat setelah membasuh bagian badan, maka wajib untuk mengulangi basuhan bagian tersebut.

Menghilangkan Najis di Badan

Fardlu kedua adalah menghilangkan najis jika terdapat di badannya, yaitu badan orang yang melakukan mandi besar. Hal ini (menghilangkan najis) adalah pendapat yang dikuatkan (tarjih) oleh imam ar Rafi’i. Berdasarkan pendapat ini, maka satu basuhan tidak cukup untuk menghilangkan hadats dan najis sekaligus.

Imam An Nawawi men-tarjih (menguatkan) bahwa satu basuhan sudah dianggap cukup untuk menghilangkan hadats dan najis sekaligus.

Tempatnya Pendapat imam an Nawawi ini adalah ketika najis yang berada di badan adalah najis hukmiyah.

Sedangkan jika berupa najis ‘ainiyah, maka wajib melakukan dua basuhan untuk najis dan hadats tersebut.

Mengalirkan Air Ke Seluruh Badan

Fardlu ketiga adalah mengalirkan air ke seluruh bagian rambut dan kulit badan. Dalam sebagian redaksi diungkapkan dengan bahasa “ushul (pangkal)” sebagai ganti dari bahasa “jami’ (seluruh)”.

Tidak ada perbedaan antara rambut kepala dan selainnya, antara rambut yang tipis dan yang lebat.

Rambut yang digelung, jika air tidak bisa masuk ke bagian dalamnya kecuali dengan diurai, maka wajib untuk diurai. Yang dikehendaki dengan kulit adalah kulit bagian luar.

Wajib membasuh bagian-bagian yang nampak dari lubang kedua telinga, hidung yang terpotong dan cela-cela badan. Dan wajib mengalirkan air ke bagian di bawah kulupnya orang yang memiliki kulup (belum disunnat). Dan mengalirkan air ke bagian farji perempuan yang nampak saat ia duduk untuk buang hajat.

Di antara bagian badan yang wajib dibasuh adalah masrabah (tempat keluarnya kotoran (Bol : jawa). Karena sesungguhnya bagian itu nampak saat buang hajat sehingga termasuk dari badan bagian luar.

Sunnahnya Mandi Ada Lima

Sunnahnya mandi ada lima yaitu

  1. Membaca basmalah,
  2. Berwudhu secara sempurna sebelum mandi dengan niat untuk kesunnahan mandi apabila janabahnya sepi dari hadas kecil,
  3. Menggerakkan dan menggosokkan tangan pada tubuh yang terjangkau tangan. Pergerakan tangan ini disebut dengan dalk (menggosok).
  4. Bersegera (muwalat) yang maknanya sudah dijelaskan dalam bab wudhu.
  5. Mendahulukan yang kanan dari dua sisi tubuh dan mengakhirkan yang kiri.

Masih ada sunnah-sunnahnya mandi yang disebut dalam kitab mabsutot salah satunya menigalikan dan menyela-nyela rambut.

Mandi Besar yang Disunnahkan

فصل : والاغتسالات المسنونة سبعة عشر غسلا (غسل الجمعة) لحاضرها ووقته من الفجر الصادق
(و غسل (العيدين) الفطر والأضحى، ويدخل وقت هذا الغسل بنصف الليل (والاستسقاء) أي طلب السقيا من الله
(والخسوف) للقمر (والكسوف) للشمس (والغسل من) أجل (غسل الميت) مسلماً كان أو كافراً)
و غسل (الكافر إذا أسلم) إن لم يجنب في كفره أو لم تحض الكافرة، وإلا وجب الغسل بعد الإسلام في الأصح، وقيل يسقط إذا أسلم (والمجنون والمغمى عليه إذا أفاقا) ولم يتحقق منهما إنزال فإن تحقق منهما إنزال وجب الغسل على كل منهما
والغسل عند إرادة (الإحرام) ولا فرق في هذا الغسل بين بالغ وغيره، ولا بين مجنون وعاقل، ولا بين طاهر وحائض، فإن لم يجد المحرم الماء تيمم.
و الغسل (لدخول مكة) لمحرم بحج أو عمرة (وللوقوف بعرفة) في تاسع ذي الحجة (وللمبيت بمزدلفة ولرمي الجمار الثلاث) في أيام التشريق الثلاث، فيغتسل لرمي كل يوم منها غسلاً، أما رمي جمرة العقبة في يوم النحر، فلا يغتسل له لقرب زمنه من غسل الوقوف
و الغسل (للطواف) الصادق بطواف قدوم وإفاضة ووداع، وبقية الأغسال المسنونة مذكورة في المطولات

Mandi-mandi yang disunnahkan

  1. Mandi Jum’at bagi orang yang hendak menghadirinya. Dan waktunya mulai dari terbitnya fajar shadiq.
  2. Mandi dua hari raya, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adlha. Waktunya mandi ini mulai tengah malam.
  3. Mandi sholat istisqa’, yaitu meminta siraman dari Allah Swt.
  4. Mandi karena hendak melakukan sholat gerhana rembulan dan gerhana matahari.
  5. Mandi karena memandikan mayat orang Islam atau kafir.
  6. Mandinya orang kafir ketika masuk Islam jika dia tidak junub di masa kufurnya. Atau wanita kafir yang tidak mengalami haidl -saat masih kufur-. Jika junub atau haidl, maka wajib bagi mereka berdua untuk melakukan mandi setelah masuk Islam menurut pendapat al ashah. Ada yang mengatakan bahwa kewajiban mandinya telah gugur ketika masuk Islam.
  7. Mandinya orang gila atau pingsan ketika keduanya telah sembuh dan tidak dipastikan mereka berdua telah mengeluarkan sperma (saat belum sembuh). Sehingga, jika dipastikan bahwa keduanya telah mengeluarkan sperma, maka wajib bagi mereka berdua untuk mandi.
  8. Mandi ketika hendak ihram. Dalam mandi ini, tidak ada perbedaan antara orang sudah baligh dan selainnya, antara orang gila dan orang yang memiliki akal sehat, antara orang yang suci dan wanita yang haidl. Jika orang yang ihram itu tidak menemukan air, maka sunnah melakukan tayammum.
  9. Mandi karena hendak masuk Makkah bagi orang yang ihram haji atau umrah.
  10. Mandi karena wukuf di Arafah pada tanggal sembilan Dzul Hijjah.
  11. Mandi karena untuk mabit (bermalam) di Muzdalifah, dan karena untuk melempar jumrah tsalats (tiga jumrah) pada tiga hari tasyrik. Maka dia sunnah melakukan mandi untuk melempar jumrah setiap hari dari tiga hari tasyrik.
    Sedangkan untuk melempar jumrah Aqabah di hari Nahar (hari raya kurban), maka dia tidak sunnah mandi karena hendak melakukannya, sebab waktunya terlalu dekat dari mandi untuk wukuf.
  12. Mandi karena untuk melakukan thawaf yang mencakup thawaf Qudum, Ifadlah dan Wada’.

Fiqih Kitab Fathul Qorib - Tata Cara Mandi Besar (Lengkap)

Sisa-sisa mandi yang disunnah telah dijelaskan di kitab-kitab yang panjang keterangan.

Niat mandi Hari Raya Idul Fitri dalam bahasa Arab

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِيَوْمِ عِيْدِ الْفِطْرِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

Dalam bahasa Latin: nawaitul ghusla liyaumi ‘iidil fithri sunnatan lillaati ta’aala

Artinya: Sengaja saya mandi pada hari Raya Idul Fitri sunnah karena Allah Taala

Niat mandi Haid dalam bahasa Arab

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ الْحَيْضِ ِللهِ تَعَالَى

“Nawaitul Ghusla Lifraf il Hadatsil Akbari minal Haidil Lillahi Ta’ala”

Artinya: Saya berniat mandi wajib untuk mensucikann hadast besar dari haid karena Allah Ta’ala.

Demikian ulasan tentang Fiqih Kitab Fathul Qorib : Tata Cara Mandi Besar (Lengkap) Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu penggetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

√ Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah

Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah

Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah – Pada kesempatan ini akan membahas tentang Wudhu. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan tentang pengertian niat, tertib wudhu dan air dua qullah dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya silahkan simak penjelasan Pengetahuan Islam berikut ini dengan seksama.

Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah

Kali ini melengkapi bahasan wudhu, kita bahas tentang niat, tertib wudhu, hingga air dua qullah dari matan Safinatun Najah.

Pengertian Niat dan Tertib

النِّيَّةُ: قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرِناً بِفِعْلِهِ. وَمَحَلُّهَا: الْقَلْبُ. وَالتَّلَفُّظُ بِهَا: سُنَّةٌ. وَوَقْتُهَا، عِنْدَ غَسْلِ أَوَّلِ جُزْءٍ مِنَ الْوَجْهِ

وَالتَّرْتِيْبُ: أَنْ لاَ يُقَدَّمَ عُضْوٌ عَلَى عُضْوٍ

Fasal: niat adalah menyengaja sesuatu yang dibarengi dengan mengerjakannya dan tempat niat ada di dalam hati. Melafazhkannya adalah sunnah. Waktu niat adalah saat membasuh bagian pertama dari wajah.

Maksud tertib adalah bagian yang pertama tidak didahului bagian yang lain.

Hukum Air

المَاءُ قَلِيْلٌ وَكَثِيْرٌ

فَالْقَلِيْلُ: مَا دُوْنَ الْقُلَّتَيْنِ

وَالْكَثِيْرُ: قُلَّتَانِ فَأكْثَرُ

وَالقَلِيْلُ: يَتَنَجَّسُ بِوُقُوْعِ النَّجَاسَةِ فِيْهِ، وَإِن لَمْ يَتَغَيَّرْ

وَالْمَاءُ الْكَثِيْرُ: لاَ يَتَنَجَّسُ إِلاَّ إذا تَغَيَّرَ طَعْمُهُ، أَوْ لَوْنُهُ، أوْ رِيْحُهُ

Fasal: Air sedikit dan banyak. Air sedikit itu jika kurang dari dua qullah dan air banyak jika lebih dari dua qullah. Air sedikit menjadi najis dengan jatuhnya benda najis ke dalamnya meskipun tidak berubah. Sementara air banyak tidak menjadi najis dengan jatuhnya benda najis ke dalamnya kecuali jika berubah rasanya, warnanya, atau aromanya.

Catatan Dalil

Pertama

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ – رضي الله عنه – قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ: إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ – وَفِي رِوَايَةٍ: بِالنِّيَّةِ – وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى , فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ , فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ , وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا , فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ

Artinya : Dari ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niat (an-niyyaat)—dalam riwayat lain dengan lafazh niyat—dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907)

Pelajaran penting

Niat merupakan syarat sah wudhu dan ini jadi pendapat jumhur ulama (Malikiyah, Syafi’iyah, Hanabilah), juga madzhab Zhahiriyah.

Niat itu berarti bermaksud dan berkehendak. Letak niat adalah di dalam hati. Niat dalam hati sudah teranggap berdasarkan kesepakatan ulama, cuma mereka berbeda pandangan apakah niat perlu dilafazhkan ataukah tidak.

Jika berbeda antara yang diucap dengan yang diniatkan dalam hati, maka yang jadi patokan adalah niatan di hati.

Jika manusia dalam keadaan uzur untuk beramal, ia akan tetap diganjar. Karena seandainya ia tidak ada uzur atau halangan, tentu ia akan beramal. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Artinya : “Jika seorang hamba sakit atau bersafar, maka dicatat baginya amalan seperti ia dalam keadaan mukim dan sehat.” (HR. Bukhari, no. 2996)

Kedua

Apa dalil untuk tartib (berurutan) dalam wudhu?

Dalilnya adalah ayat wudhu (surah Al-Maidah ayat 6). Allah menyebutkannya secara berurutan dan meletakkan mengusap (pada kepala) di antara dua membasuh.

Juga ketika ditunjukkan praktik wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berurutan dan beliau tidak pernah meninggalkan tartib tersebut.

Tartib dalam wudhu adalah dengan memulai dari membasuh wajah, lalu membasuh kedua tangan sampai siku, lalu mengusap kepala, kemudian membasuh kedua kaki sampai mata kaki.

Jika seseorang membasuh langsung empat anggota wudhunya satu kali siraman, maka tidaklah sah kecuali yang sah hanya membasuh wajahnya saja karena urutannya yang pertama. Lihat perkataan Imam Asy-Syairazi. (Al-Majmu’, 1:248)

Ketiga

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجِّسْهُ شَىْءٌ

Artinya : “Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak ada sesuatupun yang menajiskannya.” (HR. Ibnu Majah, no. 424. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Keterangan

Air dua qullah adalah air seukuran 500 rothl ‘Iraqi yang seukuran 90 mitsqol. Jika disetarakan dengan ukuran sho’, dua qullah sama dengan 93,75 sho’. Lihat Tawdhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram, Syaikh Ali Basam, 1:116, Penerbit Darul Atsar, Cetakan pertama, Tahun 1425 H.

Sedangkan 1 sho’ seukuran 2,5 atau 3 kg. Jika massa jenis air adalah 1 kg/liter dan 1 sho’ kira-kira seukuran 2,5 kg; berarti ukuran dua qullah adalah 93,75 x 2,5 = 234,375 liter. Jadi, ukuran air dua qullah adalah ukuran sekitar 200 liter. Gambaran riilnya adalah air yang terisi penuh pada bak yang berukuran 1 m x 1 m x 0,2 m.

Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah

Pelajaran penting

Dari hadits dua qullah ini, secara mantuq (tekstual), apabila air telah mencapai dua qullah maka ia sulit dipengaruhi oleh najis. Namun, jika air tersebut berubah rasa, bau atau warnanya karena najis, maka dia menjadi najis berdasarkan ijmak (kesepakatan para ulama).

Sebagian ulama seperti Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, Ahmad dan pengikut mereka menyatakan bahwa jika air kurang dari dua qullah, air tersebut menjadi najis dengan hanya sekadar kemasukan najis walaupun tidak berubah rasa, warna atau baunya.

Namun ulama lainnya seperti Imam Malik, ulama Zhahiriyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahb dan ulama Najd menyatakan bahwa air tidaklah menjadi najis dengan hanya sekadar kemasukan najis.

Sebagian ulama Syafi’iyah juga ada yang berpendapat dengan pendapat ini. Air tersebut bisa menjadi najis apabila berubah salah satu dari tiga sifat yaitu rasa, warna atau baunya. Karena ada sebuah hadits yang menyebutkan,

إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَىْءٌ

Artinya : “Sesungguhnya air itu suci, tidak ada yang dapat menajiskannya.” (HR. Abu Daud, No. 67; Tirmidzi, no. 66. Imam Nawawi dalam Al-Majmu’, 1:82 menyatakan bahwa hadits ini shahih. As-Suyuthi juga dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir, 2089 menshahihkan hadits ini)

Demikian ulasan tentang Tata Cara Niat, Tertib Wudhu, Hingga Air Dua Qullah. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

Keutamaan Shalat Tarawih, Hukum Dan Dalil Lengkap

Keutamaan Shalat Tarawih, Hukum Dan Dalil Lengkap – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Shalat Tarawih. yang meliputi keutamaan shalat tarawih, hukum shalat tarawih berjamaah beserta dalilnya.

Dalam bulan Ramadhan ini kita sebagai umat muslim diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama 30 hari yang merupakan rukun islam yang ke-3 dan pada malam harinya kita di sunahkan untuk mengerjakan shalat Tarawih.

Keutamaan Shalat Tarawih, Hukum Dan Dalil Lengkap

Shalat Tarawih adalah shalat sunah yang dilakukan pada malam hari di bulan Ramadhan, setelah melaksanakan shalat Isya dan batas waktunya sampai terbit fajar dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silahkan simak ulasan Pengetahuanislam.com dibawah ini dengan seksama.

Keutamaan Shalat Tarawih

Berikut ini merupakan beberapa keutamaan dalam shalat Tarawih.

  1. Orang yang melakukan qiyam di Bulan Ramadhan akan diampuni dosanya seperti pada waktu ia dilahirkan.

Rasulullah saw bersabda yang artinya: “Dari Abdurrahman bin Auf ra. bahwa Rasulullah saw bersabda: sesungguhnya Allah Swt telah memfardhukan puasa Ramadhan, dan saya telah mensunnahkan qiyam pada malamnya. Maka barang siapa berpuasa pada siangnya dan mengerjakan shalat pada malamnya, karena mengharap ridha Allah, niscaya keluarlah ia dari dosa seperti pada ia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Ahmad)

  1. Orang yang mengerjakan shalat Tarawih akan di ampuni dosanya yang telah lalu.

Rasulullah saw bersabda yanga artinya: “Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw telah menyuruh kami para sahabat mengerjakan shalat malam pada bulan Ramadhan dengan tidak mewajibkannya. beliau bersabda: Barang siapa yang mengerjakan shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Shalat malam (termasuk shalat Tarawih) merupakan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu.

Rasulullah saw bersabda yang artinya: “Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda: Seutama-utama puasa Ramadhan ialah puasa sunah pada bulan Muharam, dan seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat sunah pada malam hari.” (HR. Muslim).

Hukum Shalat Tarawih Berjamaah

Adapun mengenai hukum berjamaah dalam shalat Tarawih para ulama berbeda pendapat:

Abu Hanifah, Syafii, kebanyakan sahabat Syafii, Ahmad dan sebagian ulama Malikiyah

Berpendapat bahwa shalat Tarawih lebih utama dilaksanakan dengan berjamaah di masjid, sebagaimana yang telah dikerjakan dan diperintahkan oleh Kalifah Umar bin Khata ra. beserta para sahabat lainnya.

Malik, Abu Yusuf dan sebagian pengikut Syafii

Berpendapat bahwa shalat Tarawih lebih utama dikerjakan di rumah masing-masing, hal tersebut berdasarkan hadist berikut ini yang artinya:

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: “Rasulullah Saw bersabda: Seutama-utama shalat ialah shalat seseorang yang dikerjakan dirumahnya selain shalat fardhu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pendapat Abu Hanifah, Syafii dan Ahmad dipandang sebagai pendapat yang lebih kuat karena berdasarkan hadist berikut ini

Dari Aisyah ra. “sesungguhnya Nabi Saw mengerjakan shalat Tarawih dalam masjid maka mengerjakan shalat pula dibelakangnya beberapa orang, kemudian pada malam berikutnya Nabi mengerjakan shalat lagi maka banyaklah orang-orang yang mengikutinya. pada malam ketiga mereka berkumpul pula tetapi Nabi tidak keluar kemasjid. pada pagi harinya Nabi bersabda: Saya telah melihat apa yang telah kamu perbuat semalam. Tak ada yang menghalangi saya keluar ke masjid tadi malam selain dari saya takut difardhukan shalat itu atas kamu.” (HR. Abu Daud)

Hadist di atas menyatakan bahwa mengerjakan shalat tarawih pada bulan Ramadhan dengan berjamaah dimasjid adalah diutamakan. Hadist ini juga yang menjadi pegangan bagi ulama yang menetapkan bahwa shalat tarawih dikerjakan secara berjamaah di masjid.

Alasan lain yang menyatakan bahwa shalat Tarawih dilaksanakan berjamaah dimasjid ialah sebagai berikut:

Dari Urwah ra. Ia berkata: “Telah dikabarkan kepadaku oleh Abdurrahman Alqari bahwasanya Umar pada suatu malam keluar mengelilingi masjid pada bulan Ramadhan sedang di masjid terdapat orang bergolong-golongan, ada yang shalat sendirian dan ada yang diikuti oleh beberapa orang. melihat itu umar berkata: Demi Allah saya kira apabila kita kumpulkan orang-orang ini untuk seorang imam. Sesudah itu beliau menyuruh Ubai bin Kaab supaya mengimami mereka dalam shalat pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Menurut Jumhur/kebanyakan ulama bahwa yang afdol ialah shalat Tarawih dikerjakan di masjid secara berjamaah. Inbu Abi Syaibah meriwayattkan dari Ali, Ibnu Masud dan Ubai bin Kaab bahwasanya Umarlah yang menyuruh para sahabat untuk mengerjakan shalat Tarawih secara berjamaah dan hal ini terus dikerjakan oleh para sahabat.

Keutamaan Shalat Tarawih Hukum Dan Dalil Lengkap

Sebagian Ulama berpendapat bahwa yang lebih utama mengerjakan shalat Tarawih ialah dengan cara sendiri-sendiri dirumah. Ada yang berpendapat bahwa jika hafal Al-Qur’an dan tidak malas kalah shalat Tarawih sendirian, maka mengerjakan shalat sendirian lebih utama. Kalau tidak hafal Al-Qur’an maka lebih utama shalat Tarawih dikerjakan secara berjamaah.

Sedangkan menurut golongan Malikiyah, Abu Yusuf dan sebagaian Syafiiyah bahwa shalat Tarawih lebih utama dikerjakan sendirian dirumah masing-masing. alasan mereka ialah Nabi Saw mengerjakan shalat Tarawih sendirian setiap malam terus-menerus. Kecuali hanya beberapa malam saja beliau melaksanakan shalat Tarawih secara berjamaah. Demikaian juga yang dikerjakan oleh Abu Bakar.

Shalat sunah pada malam bulan Ramadhan dinamakan shalat Tarawih adalah kerena para golongan salaf mengerjakannya dengan cara berhenti untuk istirahat pada tiap-tiap empat rakaat. Mereka mengerjakan shalat sunah pada malam bulan Ramadhan seperti itu karena mereka meneladani cara yang dikerjakan oleh Rasulullah Saw.

Demikianlah telah dijelaskan tentang Keutamaan Shalat Tarawih, Hukum Dan Dalil Lengkap. Semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian.

√ 15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat

15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat

15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat – Pada pembahasan kali ini Pengetahuan Islam akan menjelaskan tentang 15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat. Setiap perbuatan yang kita lakukan pasti ada balasannya kelak di hari kiamat, walaupun sekecil rambut yang di belah menjadi 7 bagian, Apalagi Sholat. Untuk lebih detailnya silahkan simak artikel di bawah ini.

15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat

Shalat adalah kewajiban bagi kita semua sebagai seorang muslim yang sudah balliq. Entah dalam keadaan apapun, dan di manapun, sholat tidak boleh kita tinggalkan walaupun satu kali. Karena kewajiban kita, maka haruslah dikerjakan. Sesungguhnya Allah SWT adalah Maha Besar, Maha Pengasih,Maha Penyayang dan juga maha pengampun, bagi hambanya yang mau bertaubat deng bersungguh-sungguh. Sesungguhnya tanpa Kita sadari, kita sudah banyak diberikan kenikmatan di dunia ini sampai tak terhitung jumlahnya. Maka dari itu kita wajib mensyukuri nikmat-nikmat tersebut dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya.

Salah satu perintah Allah kepada kita sebagai umat Islam adalah menunaikan ibadah shalat fardhu 5 waktu:

Nabi muhammad Saw Bersabda:

“Barang siapa yang menyepelekan sholat (menggampangkan sholat), maka Allah akan menyiksanya dengan lima belas macam siksaan; enam siksaan di dunia, tiga siksaan ketika menjelang mati, tiga siksaan di alam kubur dan tiga siksaan ketika keluar dari alam kubur”. (Qurtubi(Qurratul ‘uyun: hlm.2).

15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat

Semoga kita tidak tergolong orang-orang yang meninggalkan atau melalaikan sholat. Adapun 15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat adalah sebagai berikut:

  1. 6 Macam balasan Ketika masih Di Dunia

  • Allah SWT akan menghilangkan keberkahan dari umurnya
  • Tanda kesholehannya akan dihapus oleh Allah SWT dari keningnya
  • Semua amalnya tidak akan diberi pahala oleh Allah SWT.
  • Allah SWT tidak akan mengangkat do’a nya ke langit
  • Semua makhluk di dunia akan menyepelekannya
  • Dan dia tidak akan mendapatkan bagian doanya orang-orang shaleh
  1. 3 Macam Balasan Ketika Sakarotul Maut

  • Akan mati dalam keadaan hina
  • Akan mati dalam keadaan lapar, seperti orang yang berada di lumbung padi tapi ia kelaparan
  • Akan mati dalam keadaan haus, seperti orang yang berada di laut namun ia kehausan
  1. 3 Macam Balasan Ketika Berada Di Alam Kubur

  • Si mayit akan Disemprit Kan kuburnya oleh Allah SWT dan akan dihimpit sampai terasa ke tulang rusuk
  • Kuburannya akan di penuhi dengan api neraka
  • Yang terakhir, akan datangnya Ular Syuja’al Aqro’ ular yang diciptakan dari api neraka

Ular itu pun berkata kepada si mayit : “Aku adalah Syuja’al-Aqro’, suaranya pun tak terbayangkan seperti apa dahsyatnya, dan ular itu berkata: “Tuhanku menyuruhku agar memukulmu karena kau telah menyia-nyiakan sholat subuh dari subuh sampai dzuhur, dari dzuhur sampai asar, dari asar sampai magrib, dari magrib sampai isya, dan dari isya sampai subuh. Kemudian ular itu si mayit, namun satu kali pukulannya, ia akan masuk kedalam tanah sedalam ukuran 70 hasta, lalu ular Syuja’al-Aqro’ memasukkan kukunya kebawah tanah untuk mengeluarkannya kembali, dan seterusnya tanpa henti sampai hari kiamat tiba, maka dari itu kita mohon perlindungan kepada Allah dari siksa kubur.” (Qurtubi (Qurratul ‘uyun; hlm.4).

  1. 3 Macam Balasan Pada Saat Hari Kiamat

  • Mereka akan di kumpulkan bersama orang-orang yang diseret mukanya menuju neraka jahanam
  • Mereka akan merasakan daging dan mukanya leleh berjatuhan
  • Dan yang terakhir Hisabnya akan di beratkan

Itulah sebagian balasan Allah kepada hambanya yang suka meninggalkan sholat. Tentunya masih banyak lagi yang tidak kita ketahui. Semoga kita di jauhkan dari golongan tersebut, semoga setelah kita mengetahui ini, bisa menambah keimanan dan ketaqwaan kita Kepada Allah SWT. Dan menjalankan perintah-perintahnya.

Besarnya Dosa karena Meninggalkan Shalat 5 Waktu

  1. Shalat shubuh: Allah akan menenggelamkannya kedalam neraka jahanam selama 60 tahun, sama halnya 1000 tahun di dunia = 1 hari di akhirat.
  2. Dzuhur: Meninggalkan shalat dzuhur dosanya sama halnya seperti membunuh 1000 orang muslim
  3. Ashar: Ketika meninggalkan sholat ashar, sama halnya Seperti dosanya orang yang menghancurkan ka’bah
  4. Maghrib: Meninggalkan shalat maghrib sama halnya seperti berzina dengan orang tuanya sendiri
  5. Isya: “Sesungguhnya Allah ta’ala telah berfirman: “Hai orang yang meninggalkan sholat isya, bahwa Aku tidak ridho jika kamu tinggal di bumiku dan menggunakan segala nikmat-nikmat Ku, segala yang dikerjakan dan digunakan ialah berdosa kepada Allah SWT.”

Semoga kita di jauhkan oleh Allah dari golongan-golongan tersebut. Aamin….

Demikianlah 15 Macam Balasan Bagi Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan bagi kita.