Sejarah Awal Dakwah Agama Islam Rasulullah Lengkap

Beberapa Peristiwa Yang Terjadi Dalam Sejarah Islam – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Dakwah Agama Islam. Yang meliputi sejarah dakwah Nabi Muhammad saw. periode mekah dengan pembahasan lengkap, singkat dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silakan simak ulasan dibawah ini dengan seksama.



Sejarah Awal Dakwah Agama Islam Rasulullah

Fadlilatus Syaekh Asy-Sya’rawi : 

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kita panjatkan bahwa segala puji adalah kepunyaan Allah sebagaimana ia telah mengajari kita untuk memuji-Nya. Aku ucapkan shalawat dan salam buat pamungkas para Nabi junjungan kita Nabi Muhammad SAW. 
Wa ba’du; 
Sesungguhnya peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa yang sangat besar di antara peristiwa-peristiwa dakwah Islamiyah yang sebelumnya didahului oleh peristiwa bi’tsah (pengangkatan sebagai Nabi / Rasul), dan sesudahnya terjadi peristiwa Hijrah. Ada tiga peristiwa yang sangat penting dalam kaitannya dengan dakwah Islamiyah, yaitu: peristiwa diutusnya Nabi Muhammad SAW, kemudian peristiwa Isra’ Mi’raj, dan yang ketiga peristiwa Hijrah. 
Kita sama mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW, diutus oleh Allah SWT. ketika terjadi masa kekosongan Rasul, dan beliau diutus dengan membawa agama penutup yang berlaku sepanjang masa dan di semua persada, karena agama-agama yang sebelumnya adalah terbatas untuk waktu tertentu dan untuk daerah lokasi tertentu. 
Tetapi Risalah Islamiyah, scopnya adalah Internasional, untuk semua manusia, berlaku sepanjang masa dan untuk semua tempat. Allah ta’ala memilih kota yang di sana ada rumah pertama yang dibangun untuk peribadatan manusia sebagai pangkal tolak untuk mengembangkan dan menyiarkan agama Islam ini yang mana kota Makkah ini kita ketahui sebagai kota sentral bagi seluruh Jazirah Arab dan sebagai tempat tinggalnya para pembesar, yang oleh orang-orang Quraisy dijadikannya sebagai kota kebanggaan dan lambang kemegahan yang dengan itu pula kaum Quraisy dipandang sebagai kaum yang paling hebat dan disegani di Jazirah Arab. 
Karena itu maka, terasa amanlah bagi mereka untuk melakukan perjalanan jauh baik pada musim dingin maupun pada musim panas dari gangguan berbagai kabilah, sebab tiap-tiap kabilah setiap setahun sekali pasti datang ke Makkah pada musim hajji. oleh karena itu mereka merasa berkewajiban untuk menjaga keselamatan kabilah yang menghuni kota yang mereka hormati itu, serta berkewajiban untuk memelihara perdagangan mereka dan tidak boleh mekukan keonaran. Hak ketuanan yang dimiliki orang-orang Quraisy ini menjadikan kata-kata mereka dipatuhi dan mereka dianggap sebagai orang-orang yang berkuasa di negri itu. 
Allah menghendaki untuk menjadikan kota makkah al-Mukarramah ini sebagai pangkal bertolaknya dakwah Islamiyah sehingga dengan demikian dakwah itu bisa sampai ke telinga pembesar-pembesar dan pemimpin-pemimpin kabilah serta tidak ada seorangpun yang berani menghalangi mereka karena kebesaran dan keunggulan mereka. Maka ketika dakwah Islam telah diarahkan kepada orang-orang yang mempunyai kedudukan terpandang ini, serta merta dijadikan tempat ini sebagai lapangan untuk menyebarluaskan dakwah itu. 
Dalam keangkatannya sebagai Rasul itu Rasulullah SAW. menempuh tiga tahap, pertama pengangkatannya sebagai Rasul an sich, kedua berdakwah kepada keluarga dekatnya, dan ketiga mengumandangkan dakwahnya didepan umum. Dalam menempuh tahap-tahap ini Allah telah menyediakan berbagai bekal untuk rasul-Nya agar sukses. 
Allah adalah yang membuat sebab dan musabab, menjadikan sesuatu dengan hukum kausalita. Ia menjadikan berbagai sebab untuk keberhasilan sesuatu menurut kebiasaan manusia (meskipun Ia sendiri terlepas dari sebab-musabab itu), dan merupakan suatu kemungkinan bagi-Nya untuk menjadi keberhasilan sesuatu tanpa melalui hukum sebab akibat yang dikenal di kalangan ummat manusia di dalam peraturan hidup ini. 
Tetapi harus disadari bahwa Rasulullah SAW diutus oleh Allah adalah sebagai teladan bagi ummat yang beriman, sedangkan ummat yang beriman itu dituntun untuk menyebarluaskan risalah beliau SAW. Sehingga menjadi keharusan pula bagi setiap mukmin (meskipun wahyu dari langit telah putus) untuk terus berusaha mencari jalan yang sesuai untuk menyebarkan dan mentablighkan dakwah Islamiyah. 
Ketika Allah SWT. memerintahkan Nabi Muhammad SAW. untuk menyampaikan dakwahnya secara terang-terangan, beliau selalu mendapatkan tantangan dari kaumnya yang tidak ada henti-hentinya. Namun begitu, hal ini tidaklah menghalang-halangi beliau untuk tetap terus menanamkan petunjuk keimanan ke dalam hati kebanyakan manusia, baik itu keluarga sendiri maupun kaumnya, yang akhirnya menerima kebenaran ini yang sekaligus sebagai bukti bahwa apa yang beliau bawa itu adalah benar. Dan sama sekali beliau tidak pernah berdusta kepada mereka dalam urusan-urusan yang berlaku dalam kehidupan meraka sehari-hari, nah bagaimana mungkin beliau akan berani berdusta atas nama Allah ?. 
Secara manusia Rasulullah SAW. membutuhkan dua macam perlindungan, yaitu: Perlindungan gangguan orang-orang kafir dan orang-orang luar Islam lainnya, dan perlindungan ekonomi untuk ketenangan hidupnya di rumah, atau dengan kata lain memerlukan perlindungan untuk menghadapi hal-hal yang datangnya dari luar dan hal-hal yang datangnya dari dalam sendiri. Oleh karena itu maka Khadijahlah yang menjadi tempat berlindungnya rasulullah SAW. di dalam rumah di mana ia membelai beliau dengan tangannya yang penuh kasih sayang, dipeliharanya dengan peliharaan yang sebaik-baiknya, dan dibantunya meringankan beban tugas yang dihadapinya. 
Sedangkan Abu Thalib, pamannya, menjaga beliau dari ganguan orang-orang kafir dan orang-orang musyrik, dan kekafiran Abu Thalib inilah yang menjadi sebab bagi orang-orang kafir dan orang-orang musyrik untuk bersikap baik kepadanya, sedangkan kekerabatannya dengan Rasulullah SAW. ini menjadikan dia begitu getol membela Rasulullah. 
Seolah-olah Allah SWT. telah mempersiapkan Khadijah sebagai pupuk yang ada dalam rumah untuk menyuburkan benih keimanan itu, sedangkan Abu Thalib sebagai benteng yang membentenginya dari gangguan dari luar yakni dari orang-orang kafir dan orang-orang musyrik. Maka dengan adanya dua macam perlindungan inilah kehidupan Rasulullah SAW. di luar mendapatkan perlindungan karena Abu Thalib, dan ketentraman dengan adanya Khadijah istrinya. 
Tetapi taqdir Allah menghendaki Khadijah berpulang kepada-Nya pada tahun di mana Abu Thalib wafat juga. Dengan demikian Rasulullah SAW. kehilangan pelindung dan pendamping yang selalu mendampinginya dengan kasih sayang di dalam rumah dan kehilangan benteng yang selalu menjaganya dari gangguan orang lain. Karena keadaan yang demikian maka pecahlah pikiran Rasulullah SAW. untuk mencari perlindungan dari orang lain yang dikiranya mampu melindunginya dalam menyebarkan dakwah Islamiyah ini. 
Pada waktu itu beliau merasa bahwa udara Makkah sudah pengap dan tidak ada lagi orang yang dapat diharapkan untuk menjadi pelindungnya, karena itulah maka beliau pergi ke Thaif dengan memberikan suaka (perlindungan) kepadanya, tetapi yang terjadi justru berlawanan dari apa yang diharapkannya. 
Orang-orang Thaif malah menyakiti beliau baik dengan lisan maupun dengan perbuatan. Mereka perlakukan beliau dengan sewenang-wenang serta disuruhnya orang-orang bodoh agar melempari beliau dengan batu sehingga kedua kaki beliau berdarah. Setelah itu sampailah beliau di suatu tempat dan menyerahkan segala-galanya kepada Allah semata setelah usaha-usaha basyariah (dalam batas-batas kemanusiaannya) tidak ada lagi.

Oleh: Syeh Muhammad Matawali Asy Sya’rawi

Demikianlah telah dijelaskan tentang Sejarah Awal Dakwah Agama Islam Rasulullah Lengkap semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian.

√ Kisah Nabi Adam dan Siti Hawa Singkat Padat Lengkap

Kisah Nabi Adam Dan Siti Hawa Singkat Padat Lengkap

Kisah Nabi Adam dan Siti Hawa Singkat Padat Lengkap – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Nabi Adam dan Siti Hawa. Yang meliputi kisah nabi adam dan siti hawa, awal mula nabi adam diciptakan dan siti hawa, iblis yang sombong, dosa pertama yang dilakukan nabi adam dan siti hawa dan diturunkannya mereka ke bumi dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silakan simak artikel Pengetahuan Islam dibawah ini dengan seksama.

Kisah Nabi Adam dan Siti Hawa Singkat Padat Lengkap

Untuk kali ini kami akan menceritakan dengan lengkap bagaimana sejarah penciptaan Nabi Adam As. dan perjalanan hidupnya Beliau hingga wafat. Suatu ketika, Allah berbicara di hadapan para malaikat yang isinya pembicaraan berkisar tentang penciptaan Adam yaitu leluhur manusia. Yang mana Adam dan keturunannya ini kelak akan menjadi khalifah (wakil) Allah di bumi.

Kisah Nabi Adam dan Siti Hawa

Adapun tugas mereka untuk memakmurkan bumi. Mendengar penjelasan itu, para malaikat heran, kenapa harus Adam dan anak cucunya yang menjadi khalifah? Mestinya, malaikat yang diberi kehormatan seperti itu. Bukankah malaikat senantiasa bertasbih kepada Allah? Bumi akan aman bila dihuni malaikat dan tak akan ada kerusakan dan pertumpahan darah.

Sehingga membuat para malaikat merasa penasaran, mungkinkah selama ini Allah SWT. kurang berkenan dengan peribadatan mereka? Oleh karena itu, Allah berkehendak menciptakan makhluk yang lebih baik dari malaikat. Mereka khawatir kalau Allah SWT. menciptakan Adam itu karena lantaran kelalaian mereka, atau ada kesalahan yang mereka lakukan tanpa disadari.

Timbul keraguan di kalangan malaikat, mampukah manusia mengemban tugas berat itu? Sebab, sebelumnya bumi pernah dihuni oleh kalangan jin. Ternyata, mereka sering berbuat keonaran, sehingga banyak terjadi pertumpahan darah, kemaksiatan, dan kerusakan di sana. Bukan tidak mungkin Adam dan anak cucunya juga akan melakukan hal sama.

Keraguan para malaikat sebenarnya tidak beralasan. Sebab, Adam mempunyai beberapa keistimewaan. Adam diciptakan langsung oleh tangan Allah. Ruhnya juga langsung ditiupkan oleh-Nya. Selain itu, Adam juga dikaruniai akal. Berkat akal inilah Adam bisa mengamati, mempelajari, dan memahami benda-benda. Akal inilah yang memungkinkan Adam dan anak cucunya bisa menjalankan tugas sebagai khalifah di bumi.

Keistimewaan ini benar-benar terbukti. Adam mampu mengungkapkan nama benda-benda. Kemampuan ini ternyata tidak dimiliki para malaikat. Mereka bungkam ketika disuruh untuk melakukan hal sama. Akhirnya, para malaikat pun mengakui keistimewaan Adam.

Nabi Adam Berasal dari Tanah

Kata Adam berasal dari adim yaitu Adimul Ardli berarti permukaan bumi. Nama Adam erat kaitannya dengan bahan penciptaan. Adam diciptakan dari tanah yang ada di permukaan bumi. Setelah mati, Adam dan anak cucunya juga akan dikuburkan di dalam tanah.

Nabi Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah SWT yang penciptaannya berasal dari tanah. Berbeda dengan malaikat yang Allah ciptakan dari nur dan Iblis dari api. Sebelum penciptaan Nabi Adam di surga, Allah SWT. memerintahkan Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail untuk mengambil tanah ke bumi.

Namun yang berhasil mengambil tanah tersebut hanya malaikat Izrail. Izrail adalah Malaikat pencabut nyawa dan salah satu dari empat malaikat utama selain Jibril, Mikail, dan Israfil dalam ajaran Islam. Nama Izrail tidak pernah disebut dalam Al-Qur’an. Walau begitu ia selalu disebut dengan Malak al Mawt atau Malaikat Maut yang oleh sebagian kalangan diidentikkan sebagai Izrail.

Pada suatu ketika Allah SWT. memerintahkan kepada malaikat Jibril supaya turun ke bumi mengambil tanah untuk mencipta Adam. Apabila dia sampai di bumi, bumi enggan tanahnya diambil untuk dijadikan Adam hinggakan bumi bersumpah, demi karena Allah SWT, tidak rela sebagian tanahnya akan dijadikan Adam karena khawatir Adam akan membuat maksiat kepada Allah SWT.

Karena itu lalu Jibril naik mengadap Allah SWT., dia gagal mengambil tanah setelah mendengar sumpah bumi. Kemudian Allah SWT. memerintahkan malaikat Mikail turun ke bumi dengan tujuan yang sama. Dia juga turut mendengar sumpah bumi seperti yang berlaku kepada Jibril. Lalu dia naik mengadap Allah SWT. dengan tangan kosong. Lalu tiba giliran malaikat Israfil. Dia juga mengalami nasib yang sama, kembali mengadap Allah SWT dengan perasaan yang hampa.

Kemudian Allah SWT. memerintahkan malaikat Israil menjalankan misi yang serupa. Dia telah mendengar sumpah bumi dan kembali mengadap Allah SWT. menceritakan tentang kegagalannya. Lalu Allah Swt berfirman:

Wahai Israil, Meskipun bumi bersumpah-sumpah dengan ucapan bagaimana pun jangan engkau mengalah. Katakan bahwa apa yang engkau buat atas perintah dan nama-Ku”.

Kemudian Israil turun sekali lagi ke bumi dan berseru kepada bumi :

Wahai bumi, ketahuilah bahwa kedatanganku adalah atas perintah Allah SWT. dan atas nama-Nya. Jika engkau membantah pekerjaanku ini, bererti engkau membantah perintah Allah dan sudah tentu engkau tidak ingin menjadi makhluk yang durhaka kepada Allah SWT.

Mendengar perkataan Israil, bumi tidak dapat berkata apa-apa lalu membiarkan saja Israil mengambil tanahnya. Menurut Ibnu Abbas, tanah-tanah itu berasal dari beberapa tempat seperti berikut,

  • Kepala nabi Adam dari tanah Baitul Muqaddis karena di situlah beradanya otak manusia dan akalnya.
  • Telinganya dari tanah Bukit Tursina ia alat mendengar dan tempat menerima nasihat.
  • Dahinya dari tanah Iraq kerana di situ tempat sujud kepada Allah SWT.
  • Mukanya dari tanah Aden kerana di situ tempat berhias dan tempat kecantikan.
  • Matanya dari tanah Al-Kautsar tempat untuk menarik perhatian.
  • Giginya dari tanah Al-Kautsar tempat memanis-manis.
  • Tangan kanannya dari tanah Ka’bah untuk mencari nafkah dan kerjasama sesama manusia.
  • Tangan kirinya dari tanah Paris, tempat beristinjak.
  • Perutnya dari tanah Khurasan, tempat lapar dan haus.
  • Kemaluannya dari tanah Babylon, di situlah tempat seks dan tipu daya syaitan untuk menjerumuskan manusia ke lembah dosa.
  • Dua kakinya dari tanah India, tempat berdiri dan berjalan.
  • Hatinya dari tanah Syurga Firdaus karena di situ tempat iman, keyakinan, ilmu, kemauan dsb.
  • Lidahnya dari tanah Thaif tempat mengucap Syahadah, bersyukur dan berdoa kepada Allah SWT.

Setelah mengambil tanah dari bumi, lalu Israil mengadap Allah SWT. kemudian Allah SWT. berfirman :

Wahai Israil, Engkau yang Ku tugaskan untuk mengambil tanah dan kelak engkau pula yang Aku tugaskan untuk mencabut nyawa manusia”.

Lalu Israil berkata :

Wahai Tuhanku, Hamba takut akan dibenci oleh seluruh anak Adam.

Allah Swt menjawab melalui firmannya :

Tidak, Mereka (manusia) tidak akan memusuhi engkau.

Aku yang mengaturnya. Lalu Aku jadikan ada sebab untuk mendatangkan kematian mereka seperti terbunuh, terbakar dsb.

Akhirnya, wujud Adam menjadi sempurna. Allah kemudian meniupkan ruh kepadanya. Setelah ruh ditiupkan, Allah menyampaikan sebuah titah kepada para malaikat. Titah itu juga berlaku bagi makhluk lain yang saat itu berada dekat dengan para malaikat. Isi titah menyebutkan agar para malaikat bersujud kepada Adam. Suatu penghormatan yang tak diberikan kepada makhluk selainnya.

Para malaikat patuh kepada titah sang pencipta. Mereka bersujud kepada Adam. Namun, ada makhluk yang membangkang. Dialah si Sombong Iblis. Makhluk dari kalangan bangsa jin ini merasa sok hebat. Dia merasa lebih mulia ketimbang Adam. Alasannya, iblis diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah. Api lebih baik daripada tanah?

Iblis Menolak Untuk Bersujud Kepada Adam

Azazîl (Arab: عزازل ‘Azazīl, Inggris: Azazel, Izazil) adalah nama asli dari Iblis yang merupakan bapak dari bangsa jin,sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa nama asli Iblis adalah al-Harits. Menurut syariat Islam `Azazîl adalah pemimpin kelompok syaitan dari kalangan jin dan manusia.

Sebelum diciptakannya Adam, Azazîl pernah menjadi Imam para Malaikat (Sayyid al-Malaikat) dan Khazin al-Jannah (Bendaharawan Surga), selama beberapa puluh ribu tahun sebelum membangkang kepada Allah. Nama Azazil dapat ditemukan dalam beberapa kitab tafsir, diantaranya dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, (Mujallad I-1/76 – 77), Tafsir Al- Khozin – Tafsir Al- Baghowi (I-1/48).

Karena sifat sombong iblis terlihat dari dua sikap. Pertama, iblis memandang rendah Adam. Di mata iblis, Adam hanyalah makhluk kemarin sore, sedangkan dia sudah ada jauh sebelum Adam ada. Lalu, Adam pun diciptakan dari tanah, sedangkan dia diciptakan dari api. Masa, dia harus hormat kepada makhluk seperti Adam itu. Kedua, iblis menolak kebenaran. Iblis menolak untuk bersujud kepada Adam. Allah SWT berfirman :

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُواْ لآدَمَ فَسَجَدُواْ إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Artinya :

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al Baqoroh ayat 34)

Penolakan iblis jelas merupakan kedurhakaan, sehingga Allah SWT. murka kepadanya. Akibatnya, dia diusir dari surga. Tak hanya itu, iblis juga mendapat laknat Allah sampai hari kiamat. Ciri orang yang mendapat laknat Allah ialah tak bisa keluar dari kesesatan.

Itulah sebabnya, iblis selamanya berada dalam kesesatan. Bermula dari kesombongan, selanjutnya muncul kedengkian. Iblis merasa tidak nyaman lagi. Pasalnya, ada makhluk yang mendapat kemuliaan lebih darinya. Dia tak terima. Tidak boleh ada makhluk lain yang mengunggulinya. Oleh karena itu, dia ingin membuktikan kalau Adam itu tidak ada apa-apanya. Caranya, dia akan berusaha menyesatkan Adam dan anak-cucunya.

Maka dari itu ketika iblis mendapat laknat dari Allah SWT, iblis meminta tempo. Dia meminta umur panjang. Tak tanggung-tanggung, sampai hari kiamat. Umur selama itu akan dipergunakannya untuk membalas dendam. Iblis tidak ingin sendirian berada di neraka. Dia ingin membawa Adam dan keturunannya turut serta.

Awal Penciptaan Siti Hawa

Hidup seorang diri tidaklah mengenakkan, hal ini juga dirasakan Adam. Tak ada teman curhat, tak ada kawan berbagi baik dalam suka maupun duka. Pendek kata, Adam merasakan kesepian, Ia membutuhkan seorang pendamping. Kemudian, Hawa diciptakan, bahannya diambil dari tulang rusuk Adam.

Ketika itu, Adam yang sedang terlelap tidur Allah mengambil tulang rusuknya yang sebelah kiri. Walau diambil tulang rusuk, Adam tak merasakan sakit. Sekiranya merasa sakit, tentu Adam tidak akan sayang kepada Hawa.

Setelah Hawa tercipta, para malaikat bertanya,

Adam, siapa yang ada di samping kau?

“Seorang perempuan”

“Siapa namanya?”

“Hawa”

“Untuk apa Allah menciptakan Hawa?”

Untuk mendampingi saya, memberi saya kebahagiaan, dan memenuhi keperluan hidup saya sesuai dengan kehendak Allah.

Setelah itu Allah swt memerintahkan Adam as dan juga istrinya untuk menempati surga.

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلاَ مِنْهَا رَغَداً حَيْثُ شِئْتُمَا وَلاَ تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الْظَّالِمِينَ

Artinya :

Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al Baqoroh ayat 35)

Kebahagiaan semakin lengkap. Allah menyuruh Adam dan Hawa tinggal di surga. Kehidupan di sana serba enak. Apa saja boleh dilakukan. Mereka bebas mencicipi apa saja sepuasnya. Namun, ada satu pantangan. Adam dan Hawa tidak boleh mendekati pohon larangan.

Larangan ini harus dipatuhi. Jika tidak, mereka bisa celaka. Di surga, Adam tidak perlu mencari nafkah. Segala keperluan sudah tersedia. Pendek kata, Adam dan Hawa tidak akan kelaparan, kehausan, dan kelelahan. Sungguh menyenangkan. Semua boleh dilakukan. Yang penting tidak dekat-dekat dengan pohon larangan. Mudah, bukan?

Dosa Pertama Yang Dilakukan Nabi Adam dan Hawa

Sejak membangkang, iblis tidak diperkenankan lagi tinggal di surga. Perasaan dendam dan dengki iblis semakin menjadi-jadi. Iblis tidak senang melihat Adam dan Hawa bahagia. Oleh karena itu, iblis lalu mencari-cari kesempatan. Dia ingin memperdaya mereka.

Pokoknya, Adam juga harus keluar dari surga. Kesempatan itu kini ada. Pohon larangan! Adam dan Hawa dilarang mendekati pohon itu. Ini peluang emas, tidak boleh disia-siakan. Iblis merasa sangat senang yang mana inilah saat untuk membuktikan bahwa Adam dan Hawa akan menjadi pecundang.

Apa pun caranya, Adam dan Hawa harus berhasil dijerumuskan. Segala upaya mesti dilakukan,  berbagai tipu muslihat direncanakan. Pertama-tama, iblis harus mendapat kepercayaan dari Nabi Adam As dan Siti Hawa. Dia pun melakukan pendekatan dengan berpura-pura menganggap Nabi Adam As dan Siti Hawa sebagai teman. Tutur katanya menawan. Bermacam rayuan dibisikkan iblis. Dikatakan bahwa dia ingin memberi nasihat. Ada rahasia besar yang ingin disampaikan. Rahasia supaya Nabi Adam As dan Siti Hawa bisa hidup kekal.

Akhinya, Hawa tak kuasa menahan diri. Hawa memakan buah pohon larangan. Hawa pulang dengan perasaan senang. Diceritakannya pengalaman tadi kepada Adam. Adam begitu tertarik. Ia juga ingin mencicipi. Pohon itu kemudian didekati. Buahnya dipetik dan… Adam memakan buahnya.

Lengkap sudah dengan Nabi Adam As dan Siti Hawa melanggar larangan dari Allah SWT. Tak hanya mendekati pohon larangan, tetapi juga Nabi Adam As dan Siti Hawa memakan buahnya. Tak lama kemudian, Nabi Adam As dan Siti Hawa merasakan akibatnya.

Aurat mereka terbuka, perasaan malu begitu saja muncul. Mereka berusaha mencari-cari dedaunan untuk menutupi aurat masing-masing. Maksudnya, untuk menutupi aurat mereka. Namun, pohon-pohon surga menjauh. Untungnya, ada satu pohon yang merasa kasihan. Pohon Tin mau memberikan daun-daunnya sehingga aurat mereka pun bisa tertutupi.

Dan Allah berfirman kepada mereka :

وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ

Artinya :

Kami berfirman: “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh dengan sebagian yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di muka bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang di tentukan.

Kemudian, Adam menerima beberapa kalimat, Allah memberikan ilham kepadanya untuk bertaubat dan memohon ampun. Kalimat tersebut yaitu,

قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya :

Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf ayat 23)

Adam dan Hawa sangat malu. Tak hanya karena aurat mereka terbuka. Tetapi juga, karena teguran Allah kepada mereka. Adam dan Hawa sangat menyesal. Mereka telah berbuat kesalahan. Sambil menitikkan air mata, mereka memanjatkan doa.

Kemudian Allah menerima taubatnya dan mengampuni dosanya. Sesungguhnya Dia Dzat yang Maha Tinggi adalah Maha Penerima taubat bagi hamba-hamba-Nya yang bertaubat kepada-Nya lagi Maha Penyayang kepada mereka. Wallahu a’lam.

Kisah Nabi Adam Dan Siti Hawa Singkat Padat Lengkap

Nabi Adam Diturunkan ke Bumi

Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. Tobat Nabi Adam As dan Siti Hawa diterima. Kesalahan mereka pun diampuni sehingga membuat Nabi Adam As dan Siti Hawa merasa tenang. Ampunan Allah membuat hati mereka terasa lega. Pengalaman itu menjadi pelajaran berharga. Nabi Adam As dan Siti Hawa sadar bahwa Iblis benar-benar musuh. Musuh yang harus senantiasa diwaspadai. Segala bujuk rayunya mesti dijauhi. Hidup kekal ternyata muslihat iblis.

Akibat terperdaya, kini Nabi Adam As dan Siti Hawa harus pindah. Mereka tak bisa lagi tinggal di Surga. Allah menyuruh mereka turun ke bumi. Sekarang, Nabi Adam As dan Siti Hawa tinggal di bumi. Mengemban tugas menjadi khalifah. Namun, perseteruan iblis dan Adam terus berlanjut. Iblis akan terus berusaha mewujudkan janjinya. Janji untuk menyesatkan Adam.

Demikian, Adam dan Iblis menjadi musuh bebuyutan. Permusuhan ini juga berlaku untuk keturunan Adam dan iblis. Permusuhan akan terus berlangsung sampai hari kiamat. Kenikmatan surga tinggal kenangan. Dulu, di surga serbaada. Mau makan tinggal makan, mau minum tinggal minum. Namun di bumi, Adam dan Hawa tak bisa berpangku tangan. Mencari sesuap nasi menjadi tugas. Mereka harus bekerja keras.

Saat diturunkan ke bumi, Adam dan Hawa terpisah. Hawa diturunkan di daerah Jeddah, Saudi Arabia. Kata Jeddah berarti nenek. Hawa adalah nenek seluruh umat manusia. Sementara itu, Adam diturunkan di daerah Hindustan. Keduanya bertemu di Jabal Rahmah di dataran Arafah.

Oleh karena itu, Jabal Rahmah kerap dijadikan simbol “cinta” oleh para peziarah. Perasaan bahagia begitu membuncah. Betapa tidak, sekian lama berpisah akhirnya bertemu jua. Hidup menjadi lebih bersemangat. Sekarang, keduanya bisa berkumpul lagi. Berjuang bersama lebih mudah daripada sendiri-sendiri. Bisa saling menjaga, dan saling menasihati.

Demikianlah telah dijelaskan tentang Kisah Nabi Adam Dan Siti Hawa Singkat Padat Lengkap. Semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian.

√ Ringkasan Cerita dan hikmah Qabil dan Habil Keturunan Adam

Ringkasan Cerita dan hikmah Qabil dan Habil Keturunan Adam

Ringkasan Cerita dan hikmah Qabil dan Habil Keturunan Adam – Pada pembahasan ini mari kita melihat Ringkasan dari cerita Qabil dan Habil yang mana mereka adalah Putra dan Labuda dan Iqlima Putri dari Nabi Adam dan Siti Hawa. Kisah awal permulaan terjadi di Bumi yang menceritakan sebelum dan setelah membunuh. Untuk lebih jelasnya mari lihat artikel Pengetahuan Islam berikut.

Ringkasan Cerita dan hikmah Qabil dan Habil Keturunan Adam

Nabi Adam As dan Siti Hawa hidup bersama lagi. Mereka adalah pasangan suami-istri pertama. Keduanya beranak-pinak yang mana setiap kelahiran selalu kembar laki-laki dan perempuan. Persalinan pertama, lahirlah Qabil dan Iklima. Lalu, persalinan kedua, lahirlah Habil dan Labuda.

Adam dan Hawa sangat bahagia sehingga membuat kehangatan keluarga semakin bertambah. Semua ini berkat kehadiran anak-anak yang menumbuhkan harapan ada penerus perjuangan. Selanjutnya, anak-anak berketurunan lagi. Mereka melahirkan cucu dan seterusnya. Jumlah keturunan Adam terus bertambah yang semakin lama semakin banyak.

Qabil, Habil, Iklima, dan Labuda beranjak remaja. Mereka tumbuh di bawah asuhan orang tua yang mana mulai terliahat sifat-sifat mereka. Qabil berperangai kasar, sedangkan Habil berperangai santun. Iklima tumbuh menjadi gadis yang cantik, sedangkan Labuda biasa-biasa saja. Tugas-tugas Nabi Adam As dan Siti Hawa mulai berkurang. Anak-anak mereka sudah bisa diandalkan. Labuda dan Iklima membantu urusan rumah tangga, sedangkan Qabil dan Habil menekuni bidang pertanian, sedangkan Habil di bidang peternakan.

Dosa Anak Nabi Adam As.

Keempat putra-putri Nabi Adam As. tumbuh dewasa. Masing-masing sudah memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis. Allah kemudian memberi Nabi Adam As. petunjuk. Putra-putri Nabi Adam As. harus segera dinikahkan. Dengan ketentuan, masing-masing tidak boleh dinikahkan dengan saudara kembarnya. Artinya, Qabil harus menikahi Labuda, sedangkan Habil harus menikahi Iklima.

Ketentuan itu kemudian disampaikan yang mana Nabi Adam As. berharap putra-putrinya tak keberatan sebab ini merupakan ketentuan Allah SWT. Tak boleh ada yang menolak sehingga semua pihak harus setuju. Demikian, Nabi Adam As. memberi penegasan. Tak disangka, Qabil menolak ketentuan itu. Ia bersikeras untuk menikah dengan Iklima, adik kembarnya. Iklima memang gadis yang cantik yang membuat Qabil sangat tertarik. Dengan kata lain, Qabil menolak dinikahkan dengan Labuda karena Labuda tidak cantik. Qabil merasa lebih berhak untuk menikahi Iklima. Toh, Iklima adalah adiknya sendiri. Qabil tidak rela kalau Iklima dinikahi Habil.

Qabil bersikukuh. Tegas-tegas, ia menolak dinikahkan dengan Iklima. Melihat gelagat kurang baik ini, Nabi Adam As. berusaha mencari jalan keluar. Jalan keluar yang disepakati oleh semua pihak. Tidak boleh ada pihak yang dikecewakan. Perselisihan harus dihindarkan. Sebab, perselisihan akan mengusik ketenangan.

Akhirnya, Nabi Adam As. mendapatkan jalan keluar. Menurut Nabi Adam As., persoalan jodoh harus diserahkan kepada Allah SWT. Apa pun keputusan-Nya, semua harus pasrah. Kemudian Nabi Adam As. mengusulkan agar Qabil dan Habil berkurban. Siapa yang kurbannya diterima, ia berhak menikahi si cantik, Iklima. Qabil dan Habil setuju. Mereka sepakat, yang menang itulah yang berhak mendapatkan Iklima. Kemudian, masing-masing mempersiapkan diri. Qabil semakin rajin, setiap hari ia mengurus ladangnya. Begitu pula Habil juga tak mau kalah, Ia bertambah giat. Setiap hari, ia menggembalakan ternak-ternaknya.

Hari yang ditentukan pun tiba. Qabil bergegas menuju ladang. Ladang gandumnya sangat lebat. Hasil jerih payahnya selama ini. Timbullah sifat kikir dalam hati Qabil. Ia memilih-milih gandum yang akan dijadikan kurban. Ia sengaja memilih gandum yang kurang baik. Setelah karung terisi, Qabil membawanya ke sebuah bukit. Gandum itu kemudian diletakkan di atas bukit itu. Di tempat yang berbeda, Habil juga sedang sibuk. Ia berjalan ke sana kemari. Memilih-milih kambing yang paling baik. kambing yang paling gemuk dan sehat. Setelah di dapat, Habil membawanya ke bukit yang sama.

Qabil dan Habil sudah meletakkan kurbannya. Dari tempat yang jauh, mereka memandangi bukit itu. Mata mereka terus tertuju ke arah bukit. Anggota keluarga yang lain juga turut menyaksikan. Hati mereka berdebar-debar. Kurban siapa gerangan yang akan diterima?

Selang beberapa saat, terlihat api besar turun dari langit. Api itu kemudian menyambar kambing. Habil bersyukur, kurbannya diterima. Dalam tempo singkat kambing Habil pun lenyap. Si jago merah melalapnya. Sementara itu, gandum Qabil masih utuh. Sedikit pun tidak berkurang. Walhasil, Habil menjadi pemenang. Kurbannya diterima. Sesuai dengan kesepakatan, ia berhak mempersunting si cantik Iklima membuat hati Habil berbunga-bunga, Ia sangat bahagia. Lain ceritanya dengan sang kakak, Qabil merasa sangat kecewa. Kurbannya tak diterima, Ia gagal menikahi Iklima.

Demikian Allah sebutkan dalam firman-Nya:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لأقْتُلَنَّكَ

Artinya

“Ceriterakanlah (wahai Nabi) kepada mereka kisah kedua putra Adam menurut yang sebenarnya, Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): “Aku pasti membunuhmu!”

Qabil tidak bisa menolak. Dengan perasaan kecewa, Ia menerima keputusan Habil dinikahkan dengan Iklima. Qabil benar-benar kecewa, harapannya pupus. Dia tak bisa menikah dengan Iklima. Kekecewaannya semakin menjadi-jadi. Lambat laun tumbuhlah perasaan dengki. Dengki melahirkan dendam. Dendam memunculkan niat jahat. Akhirnya, Qabil bertekad menghabisi Habil.

Pembunuhan Pertama di Dunia

Suatu ketika, Adam hendak bepergian. Sebelum berangkat, Adam menyampaikan amanat kepada Qabil untuk menjaga semua anggota keluarga. Kerukunan harus dipelihara. Qabil mengangguk-angguk. Ia berjanji untuk menjalankan amanat itu dengan sebaik-baiknya. Dalam hati, Qabil tertawa. Ia merasa senang. Senang bukan karena mendapat kepercayaan dari sang ayah. Tetapi, ia merasa mendapat kesempatan. Ya, kesempatan untuk membalas dendam.

Adam berangkat dengan hati tenang. Dengan sepenuh hati, ia percaya kepada Qabil. Bagaimanapun Qabil adalah anak sulung. Qabil yang dituakan. Tak lama setelah Adam berangkat, Qabil bersiap-siap. Ia akan menyatroni peternakan. Sesampainya di sana, Qabil segera menghampiri Habil.

“Aku datang untuk membunuh kau!” Qabil menghardik penuh kebencian.

“Apa salah saya? Mengapa kakak hendak membunuh saya?”

“Karena kau telah merampas harapanku. Kau telah merebut Iklima.”

“Allah yang menentukan. Saya hanya berusaha.”

“Saya juga berusaha!” bentak Qabil.

“Ketahuilah kakak, Allah hanya menerima kurban dari orang berhati tulus. Orang yang berhati tulus akan memilih kurban yang paling baik. Kenapa kakak memilih gandum yang busuk. Jelas saja, kurban kakak tidak diterima.”

Habil melanjutkan nasehatnya sebagaimana Allah firmankan:

لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لأقْتُلَكَ

Artinya:

“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu.”

Tidak ada tersirat sedikitpun pada diri Habil untuk membunuh saudaranya. Bukan karena lemah bukan pula sifat penakut, sebabnya tidak lain adalah takut kepada Allah Ta’ala. Habil berkata:

إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ

Artinya:

“Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb seru sekalian alam.” “Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang lalim.”

“Sudahlah! Kau jangan menyela! Tidak usah repot-repot memberi nasihat. Aku tetap akan membunuh kau!” kata Qabil berang.

“Bukannya kakak juga telah setuju dengan penyelesaian seperti itu? Sadarlah, Kak. Kakak jangan terperdaya oleh setan. Ingat, setan adalah musuh kita. Setan yang telah mengakibatkan ayahanda dan ibunda keluar dari surga. Berpikirlah sebelum bertindak, jangan sampai kakak menyesal kelak.”

“Diam! Aku akan membunuh kau!”

“Jika kakak bersikeras, saya tidak akan membalas. Saya takut kepada Allah. Saya tidak akan melakukan perbuatan zalim. Semua saya serahkan kepada Allah.”

Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Nasihat Habil sama sekali tak ada artinya. Yang terjadi malah Qabil semakin marah. Dendam semakin tak tertahan. Rasanya, ia ingin segera menghabisi nyawa adiknya itu. Iblis tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia terus-menerus membisikkan kejahatan. Sebenarnya, Qabil sendiri kebingungan. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Belum terpikirkan bagaimana membunuh habil.

Saat Qabil kebingungan, Iblis menjelma. Di hadapan Qabil, Iblis mencontohkan. Iblis menghantam kepala seekor burung dengan batu. Darah segar muncrat. Kepala burung itu pecah. Sesaat burung itu menggelepar-gelepar, lalu mati. Qabil mendapat ide. Sekarang, ia tahu apa yang harus dilakukan. Tinggal menunggu saat yang tepat. Saat itu, Habil sedang terlelap tidur. Qabil berjalan. Ia menghampiri sang adik. Batu besar menghantam kepala Habil. Saking kerasnya hantaman batu besar, tak lama kemudian Habil menghembuskan napas terakhir.

فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya:

“Maka hawa nafsu Kabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.”

Benar, jadilah ia orang yang rugi di dunia dan di akherat. Dia raih kemurkaan Allah Benar, Jadilah dia orang yang rugi karena dialah orang pertama yang mengajarkan pembunuhan di muka bumi, membuat sunnah sayyi’ah yang diikuti manusia setelahnya.

Bukan hanya memikul dosanya, namun dosa orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, Rasulullah SAW. bersabda:

وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

Artinya:

“Dan siapa yang melakukan satu sunnah yang buruk lalu diamalkan (orang lain) sepeninggalnya, maka dia menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkan sunnah itu sepeninggalnya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”

Telah Shahih pula dari Rasulullah saw beliau bersabda:

مَا مِنْ نَفْسٍ تُقْتَلُ ظُلْمًا إِلاَّ كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ اْلأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا، ذَلِكَ بِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ

Artinya:

“Tidak ada satu pun jiwa yang terbunuh secara zalim melainkan atas Ibnu Adam yang pertama bagian dari darahnya. Karena dialah yang mula-mula melakukan sunnah (tuntunan/ contoh) pembunuhan.”

Belajar dari Burung Gagak

Dengan keadaan bingung,  demikianlah yang dialami Qabil setelah membunuh sang adik. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Mayat Habil lama tergeletak. Sampai-sampai, mengeluarkan bau busuk. Qabil hanya bisa mondar-mandir.

Ditengah kebingungan, Allah mengajarkan bagaimana seharusnya jenazah diperlakukan dengan diutusnya seekor burung gagak.

فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الأرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْأَةَ أَخِيهِ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْأَةَ أَخِي

Artinya:

“Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana dia seharusnya menguburkan mayit saudaranya. Berkata Kabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?.”

Pembunuhan ternyata tidak memberikan manfaat. Hanyalah penyesalan dan kehinaan di dunia dan akhirat. Demikianlah akibat kemaksiatan. Allah berfirman:

فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ

Artinya:

“Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal.”

Beberapa lama kemudian, datanglah dua ekor burung gagak. Kedua burung ini berkelahi. Salah satunya, kemudian mati. Lalu, si pemenang menggali tanah dengan cakarnya. Setelah cukup, bangkai burung gagak itu dimasukkan. Bangkai burung gagak itu dikuburkan ke dalam lubang. Melihat kejadian itu, Qabil termenung. Ia baru menyadari kebodohannya.

Qabil berkata, “Bodoh sekali aku ini! Masa aku kalah pintar sama burung gagak itu.”

Burung gagak telah mengajari Qabil. Hal yang sama kemudian dilakukan oleh Qabil. Sebuah lubang digali. Setelah cukup dalam, ia memasukkan mayat Habil ke dalamnya.

Beberapa hari kemudian, Nabi Adam As. pulang. Ia ingin segera bertemu dengan keluarganya. Terbayang keluarganya hidup rukun. Tak ada perselisihan. Sampai di rumah, Nabi Adam As. beristirahat sejenak. Anggota keluarga berkumpul di dekatnya. Usai melepas lelah, Nabi Adam As. menanyakan perihal Habil. Dari tadi Habil tak kelihatan.

“Di mana Habil?” tanyanya.

“Saya tidak tahu.”

“Kamu yang diberi amanat untuk menjaga semua anggota keluarga, kan? Ke mana Habil?”

“Saya tidak tahu. Saya nggak mungkin menjaga Habil setiap saat.” jawab Qabil ketus.

Pasti telah terjadi sesuatu, pikir Nabi Adam As. Tapi, ke mana gerangan harus mencari Habil? Akhirnya, Nabi Adam As. pun tahu. Habil telah dibunuh. Pelakunya siapa lagi kalau bukan Qabil. Nabi Adam As. sangat berduka. Terbayang bagaimana Habil dianiaya. Tega nian sang kakak. Disuruh menjaga, malah membunuh. Gara-gara dengki, hubungan keluarga jadi rusak. Seorang kakak bahkan tega membunuh adik kandungnya sendiri. Sungguh menyedihkan. Setan telah memanfaatkan kesempatan. Nabi Adam As. hanya berserah diri kepada Allah. Semua ia terima sebagai kehendak-Nya. Kepedihan ia hadapi dengan kesabaran. Bahkan, ia tetap memohonkan ampunan untuk anaknya, Qabil.

Ringkasan Cerita dan hikmah Qabil dan Habil Keturunan Adam

Nabi Adam As. Wafat

Nabi Adam As. terus berdakwah di kalangan anak cucunya, mengajak mereka mengamalkan ajaran Allah untuk menyembah-Nya, berbuat baik kepada sesama, jujur, dan saling menolong. Dalam riwayat, Nabi Adam As. wafat dalam usia seribu tahun setelah sebelumnya menderita sakit selama 11 hari. Setahun kemudian Hawa meninggal. Sebagian riwayat menyatakan Nabi Adam As. dimakamkan di kota Mekah dan Siti Hawa dimakamkan di kota Jedah.

Hikmah Kisah Nabi Adam, Hawa, Qabil dan Habil

  • Alam semesta dan segala isinya, malaikat, jin dan manusia dan makhluk-makhluk lainnya diciptakan oleh Allah Robbal ‘Alamin.
  • Kesombongan dan keangkuhan Iblis adalah perbuatan yang sangat durhaka kepada Allah, dan jadilah Iblis penghuni neraka Jahanam selamanya.
  • Semangat dan kegigihan Iblis seolah tidak pernah surut sampai Adam akhirnya melanggar perintah Allah.
  • Keimanan dan ketaatan kepada Allah tidak boleh kalah dari semangat dan kegigihan Iblis.
  • Segera menyadari kesalahan dan menyesalinya kemudian bertaubat dan memohon ampunan Allah juga mohon perlindungan-Nya agar terhindar dari godaan syaitan.
  • Syaitan benar-benar mempunyai kehebatan dan kecerdikan untuk menjerumuskan manusia dari sirothol mustaqim, sungguh syaitan musuh yang nyata bagi manusia.
  • Tidak akan terpedaya oleh syaitan selama berada dalam sirothol mustaqim dan mengikuti petunjuk-petunjuk Allah dengan mengikhlaskan diri dalam beribadah kepada-Nya.
  • Memberikan yang terbaik dari yang dimiliki sebagai bentuk persembahan qurban kepada Allah.
  • Iri hati dan dengki bisa berubah menjadi kecewa dan dendam yang pasti akan terjebak perangkap syaitan yang sedang mencari pengikut untuk menjadi penghuni neraka Jahanam.

Demikianlah tentang Ringkasan Cerita dan hikmah Qabil dan Habil Keturunan Adam semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian.

Kisah Nabi Idris As, Keteladanan Mukjizat dan Kelebihan

Kisah Nabi Idris As, Keteladanan Mukjizat dan Kelebihan – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Nabi Idris As. Yang meliputi kisah / cerita serta biografi Nabi Idris As. keteladanan, mukjizat dan kelebihan beliau dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silakan simak ulasan dibawah ini dengan seksama.

Kisah Nabi Idris As 


Nabi Idris As. menurut riwayat dalam hadis Bukhari adalah kakeknya bapak Nuh As. berarti Nabi Idris AS. merupakan generasi ke enam keturunan dari Qabil dan Iqlima (putera dan puteri) dari Adam AS ditugaskan Tuhan mengajak kepada kebenaran, Nabi Idris adalah orang pertama yang menerima wahyu lewat Malaikat Jibril, ketika berumur 82 tahun. Tak ada informasi tentang lokasi pasti mengenai kehidupan Idris (Hurmus al-Haramisah) yang ditugaskan untuk membenahi akhlak anak cucu Qabil ini.

Ada yang menyebut daerah Munaf, Mesir, namun adapula yang menyebut Babilonia. Yang pasti Idris yang sejak kecil belajar ilmu dari Nabi Syits (Putra Adam as), kepadanya telah diturunkan wahyu kenabian.
Ketika Nabi Syits telah beranjak tua, Allah menganuerahi beliau seorang anak dari cicit yang luar biasa cerdas dan gemar menuntut Ilmu bernama Khanukh. Nabi Syits sangat mencintai khanukh. Masa tuanya dihabiskan dengan mengajarkan shahifah kepada Khanukh.
Silsilah Khanukh secara lengkap adalah Khanukh bin Yarid bin Mahlail bin inna bin Anusy bin Syits bin Adam As. Menurut kitab tafsir, nabi idris hidup seribu tahun setelah Nabi Adam a.s wafat.
Khanukh sangat gemar menuntut ilmu, rasa ingin tahunya akan segala sesuatu sangat besar, Khanukh juga anak yang penurut dan taat kepada Allah, Guru Utamanya adalah Nabi Syits a.s. Karena kelebihannya ini maka Khanukh diberi gelar oleh Nabi Syits dengan nama Idris. “Engkau luar biasa nak, Allah menganugerahimu semangat belajar yang tinggi, kau layak dipanggil Idris”, ujar Nabi Syits sambil tersenyum.
Suatu ketika Nabi Idris As. bertanya kepada Nabi Syts tentang Bani Qabil yang merupakan anak keturunan Nabi Adam dan Siti Hawa dari salah satu putra kembarnya yaitu Qabil. Nabi Syts bertanya “Mengapa engkau tertarik dengan anak keturunan Qabil nak?”
“Mereka golongan yang sangat ingkar, kakek. Mereka terkenal suka menyembah api dan sangat sering berbuat kejahatan. Aku ingin berdakwah kepada mereka”, kata Idris dengan bersemangat.
Nabi Syits tersenyum, kemudian beliau mulai menceritakan hal ihwal Kisah Qabil dan Habil, kedua kakaknya yang merupakan sepasang anak kembar dari ayah Nabi Syits, Nabi Adam a.s. Bagaimana terjadinya perbuatan mungkar dan ingkar dari Qabil kepada Allah dengan membunuh Habil.
Nabi Syits juga menceritakan bagaimana beliau berusaha mendakwahi Qabil dan keturunannya dan mengajak kembali kepada Allah. Akan tetapi karena Qabil menolaknya maka Nabi Syts pun terpaksa memeranginya. Mendengar itu Idris berjanji akan berjuang kembali menegakkan Agama Allah di kalangan Bani Qabil .
Adapun Kisah Nabi Idris, Sebagaimana Allah Berfirman dalam QS. Maryam: 56-57 :
“Dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS. Maryam: 56-57)

Keteladanan Nabi Idris

Nabi Idris As. juga selalu menyatakan beberapa pesan kebajikan dan keteladanan:
  • Salat mayit lebih sebagai penghormatan, karena pemberi syafaat hanya Tuhan sesuai ukuran amal kebajikan.
  • Besarnya rasa syukur yang diucapkan, tetap tidak akan mampu mengalahkan besarnya nikmat Tuhan yang diberikan.
  • Sambutlah seruan Tuhan secara ikhlas, untuk shalat, puasa, maupun menaati semua perintah-Nya.
  • Hindari hasad alias dengki kepada sasama yang mendapat rezki, karena hakikat jumlahnya tidak seberapa.
  • Menumpuk numpuk harta tidak ada manfaat bagi dirinya. Keenam, kehidupan handaknya diisi hikmah kebijakan (Ma’al anbiya’ fil Quranil Karim:78)

Kelebihan dan Mukjizat Nabi Idris AS.

Nabi Idris a.s merupakan nabi Allah yang memiliki mukjizat dengan diberi karunia keilmuan yang sangat luar biasa. Berikut ini adalah beberapa bidang keilmuan yang dimiliki oleh Nabi Idris a.s sebagai mukjizatnya.

1. Nabi Idris a.s Mampu Menulis dan Membaca 

Jika melihat riwayat sejarah manusia, maka Nabi Idris as merupakan seorang nabi yang pertama kali bisa dan pintar menulis serta membaca. Disaat belum ada manusia yang mampu membaca dan menulis, Nabi Idris AS. telah diberikan mukjizat tersebut.
Itulah sebabnya, Allah SWT menurunkan kepada Nabi Idris AS. 30 syahifah, yaitu petunjuk Allah SWT untuk disampaikan kepada umatnya. Umat Nabi Idris AS. pada saat itu adalah umat manusia yang merupakan keturunan Qabil, putra Nabi Adam AS. yang telah durhaka kepada Allah SWT.
Umat pengikut atau keturunan Qabil ini adalah umat yang sering melakukan keingkarannya kepada Allah SWT. Salah satu keingkaran besar yang dilakukan mereka karena terbujuk dengan rayuan iblis adalah melakukan penyembahan terhadap api dan jasad Qabil yang dikuburkan diantara dua buah batu.

2. Nabi Idris AS. Mampu Menunggang Kuda

Nabi Idris a.s selain memiliki kemampuan menulis dan membaca juga dikenal sebagai orang pertama yang mampu menunggang kuda. Zaman itu masih sangat sedikit manusia yang mampu menunggang kuda dengan baik. Nabi Idris a.s telah mampu dan memiliki kemampuan menunggang kuda yang sangat hebat untuk digunakan sebagai alat bantu transportasi.

3. Nabi Idris AS Menguasai Ilmu Perbintangan & Membuat Pakaian

Mukjizat lainnya dari Nabi Idris a.s adalah pengetahuannya tentang ilmu perbintangan, serta pandai menggunting dan menjahit pakaian yang terbuat dari kulit binatang. Dalam kehidupan sehari-harinya Nabi Idris a.s giat beribadah kepada Allah SWT dan membantu orang-orang yang tidak mampu.
Waktu luangnya seringkali diisi dengan kegiatan menjahit pakaian untuk kemudian diberikan kepada orang-orang miskin. Beliau juga senantiasa tidak pernah lepas dari ibadah puasa.

4. Nabi Idris AS. Pintar Memerangi Orang-orang Yang Ingkar Kepada Allah SWT

Nabi Idris AS.s mendapat gelar mendapat gelar “Asad Al-Usud” yang artinya “Singa di atas segala singa”. Melalui bekal ilmu pengetahuan yang lengkap, kekuatan serta kehebatan yang mumpuni, Nabi Idris AS. adalah seorang Nabi yang gagah dan berani tak takut mati. Ia tak pernah gentar kepada siapa pun dan tidak pernah berputus asa dalam menjalan tugasnya sebagai seorang Nabi.
Beliau juga pandai memerangi orang-orang yang ingkar kepada perintah Allah SWT. Ia tidak pernah takut menghadapi ummatnya yang kafir, terutama ketika sedang menyadarkan keturunan saudaranya yang durhaka, Qabil, yang penuh dengan kemungkaran dan kesesatan.
Kepada kaumnya, Nabi Idris AS. diperintahkan menghilangkan dan memberangus kebiasaan perbuatan nista dan zalim kepada sesama, suka permusuhan, serta suka berbuat kerusakan. Senantiasa berpegang pada tali agama Allah, beribadah semata hanya karena Allah SWT agar bisa mendapatkan keberuntungan. Bebaskan diri dari azab akhirat dengan cara amal saleh dan kebaikan.
Dengan berbagai mukjizat yang Allah karuniakan kepada Nabi Idris AS. di atas, tak sedikitpun membuat ia menjadi sombong. Bahkan Nabi Idris a.s dikenal bersifat pema’af.

5. Kisah Nabi Idris AS. Menikam Mata Iblis

Sepanjang hidupnya, Nabi Idris AS. terkenal sangat takwa dan saleh. Hal ini tentu saja membuat setan dan iblis menjadi iri hati. Dikisahkan pada suatu hari Nabi Idris AS. sedang menjahit baju sambil duduk, sekonyong-konyong tanpa jelas arah datangnya, muncul seorang pria di depan pintu rumahnya dengan memegang telur di genggaman tangannya.
Pria itu adalah Iblis yang sedang menyamar untuk menggoda Nabi Idris AS. Pria itu pun berkata,
“Ya Nabiyullah, sanggupkah Tuhanmu memasukkan dunia ke dalam telur ini? Nabi Idris AS. dengan kepandaiannya sekilas sudah dapat mengetahui bahwa lelaki yang datang itu dan sedang berada di hadapannya adalah iblis laknatullah yang sedang menyamar.
Nabi Idris AS. berkata, “Kemarilah, dekatlah denganku dan tanyalah yang engkau ingin tanyakan.” Iblis menduga bahwa ia telah mampu menyamar dengan baik dan menipu Nabi Idris AS. Kemudian iblispun mendekati Nabi Idris a.s dengan perasan senang karena menyangka penyamarannya tidak diketahui oleh Nabi Idris a.s.
Iblis berkata,“Bisakah Tuhanmu memasukkan dunia ke dalam telur ini?” tanya iblis. Nabi Idris AS.pun menjawab dengan penuh keyakinan, “Jangankan memasukkan dunia ke dalam telur sebesar ini, memasukkannya ke dalam lubang jarumku ini pun Tuhanku berkuasa melakukannya”, jawab Nabi Idris as.
Dengan secepat kilat Nabi Idris AS. langsung menusukkan jarumnya ke mata iblis tersebut dan mengenai matanya. Iblis pun seketika menjerit kesakitan dan sangat terkejut. Tidak menyangka bahwa Nabi Idris AS. ternyata mengetahui penyamaran dan tipu dayanya. Mata iblis pun menjadi buta dan seketika langsung lari tunggang langgang hingga menghilang dari pandangan Nabi Idris AS.

6. Kisah Nabi Idris AS. Yang Diangkat ke Surga

Setiap hari Malaikat Izrail dan Nabi Idris beribadah bersama. Suatu kali, setelah beberapa kali sebelumnya mengeluarkan permintaan yang sama, kali ini Nabi Idris pun kembali mengajukan permintaannya. “Dapatkah engkau mengantarkan saya melihat surga dan neraka?”
“Wahai Nabi Allah, lagi-lagi permintaanmu aneh,” kata Izrail.
Setelah malaikat Izrail memohon izin kepada Allah, dibawanya Nabi Idris AS. ke tempat yang ingin dilihatnya.
“Ya Nabi Allah, mengapa ingin melihat neraka? Bahkan para Malaikat pun takut melihatnya,” kata Izrail.
“Jujur saja saya sangat takut sekali akan azab Allah itu. Mudah-mudahan, setelah melihatnya iman saya menjadi lebih tebal,” jelasNabi Idris AS.
Waktu mereka sampai ke dekat neraka, Nabi Idris langsung pingsan. Penjaga neraka adalah Malaikat yang sangat menakutkan. Ia menyeret dan menyiksa manusia-manusia yang durhaka kepada Allah semasa hidupnya. Nabi Idris tak mampu melihat begitu banyak siksaan yang menimpa manusia dan sangatlah mengerikan. Kobaran api neraka yang sangat dahsyat, bunyi gemuruhnya yang sangat menakutkan, tiada satupun pemandangan yang lebih mengerikan dibanding tempat ini.
Dengan tubuh lemas Nabi Idris meninggalkan tempat yang mengerikan itu. Kemudian Izrael membawa Nabi Idris ke surga. “Assalamu’alaikum…” kata Izrael kepada Malaikat Ridwan, Malaikat penjaga pintu surga yang sangat tampan.
Malaikat Ridwan yang tampan itu tampak selalu berseri-seri dengan dihiasi senyum yang sangat ramah. Setiap yang melihatnya pasti akan senang. Sikapnya amat sopan, dan disertai sikap yang penuh dengan kelembutan ia mengajak para penghuni surga untuk masuk ke tempat yang sangat mulia tersebut.
Nabi Idris seketika nyaris pingsan karena melihat keindahan yang sangat mempesona dari isi surga. Segala yang terlihat di dalamnya begitu indah dan menakjubkan. Beliau tak mampu lagi berkata-kata melihat keindahan pemandangan yang terpampang dengan sangat mempesona itu di hadapannya. “Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah…” ucap Nabi Idris berulang-ulang.
Sungai-sungai yang airnya bening seperti kaca terlihat sangat menentramkan. Pinggiran sungai dihiasai oleh pepohonan yang batangnya terbuat dari emas dan perak. Terlihat pula istana-istana pualam untuk para penghuni surga. Buah-buahan yang ada pada pepohonan di setiap penjuru terlihat sangat segar dan ranum serta harum.
Saat berkeliling di surga itu, Nabi Idris ditemani oleh para pelayan surga. Mereka merupakan para bidadari surga yang sangat rupawan cantik jelita dan anak muda yang amat tampan wajahnya. Mereka bersikap dan berperilaku yang sangat sopan dan ramah ketika berbicara.
Seketika itu Nabi Idris pun merasakan kesegaran air sungai surga dan bertanya kepada malaikat Izrail, “Bolehkah saya minum air sungai itu ? Airnya terlihat sangat sejuk dan menyegarkan.”
“Silahkan minum, air ini adalah minuman untuk para penghuni surga.” jawab malaikat Izrail. Pelayan surga pun datang membawakan gelas minuman berupa piala yang terbuat dari emas dan perak. Nabi Idris pun minum air itu dengan nikmat. Dia amat bersyukur bisa menikmati air minum yang begitu segar dan luar biasa enak.
Tak pernah terbayangkan olehnya ada minuman selezat itu. “Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah,” Nabi Idris mengucap syukur berulang-ulang. Setelah puas melihat surga, tibalah waktunya bagi Nabi Idris a.s untuk kembali lagi ke bumi. Akan tetapi Nabi Idris AS. menolah untuk kembali ke bumi. Ia sudah sangat terpikat dengan keindahan dan kenikmatan surga Allah SWT.
Saya tidak ingin keluar dari surga ini, saya ingin terus beribadah kepada Allah hingga hari kiamat nanti,” kata Nabi Idris. “Tuan dapat tinggal di sini setelah hari kiamat nanti, apabila semua amal ibadah telah di hisab oleh Allah, barulah tuan dapat menghuni surga bersama para Nabi dan orang yang beriman lainnya,” kata Izrail. “Tapi bukankah Allah itu Maha Pengasih, terutama kepada Nabi-Nya?” jawab Nabi Idris a.s kepada malaikat Izrail.
Akhirnya Allah SWT pun mengabulkan permintaan Nabi Idris AS. dengan memberi karunia sebuah tempat yang mulia di langit. Nabi Idris AS. menjadi satu-satunya Nabi yang menghuni surga tanpa mengalami kematian. Waktu diangkat ke tempat itu, Nabi Idris AS. berusia 82 tahun.

Demikianlah telah dijelaskan tentang Kisah Nabi Idris As, Keteladanan Mukjizat dan Kelebihan semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian.

Biografi Imam Syafi’i, Sejarah Dan Keistimewaan Terlengkap

Biografi Imam Syafi’i, Sejarah Dan Keistimewaan Terlengkap – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Imam Syafi’i. Yang meliputi biografi, sejarah mulai dari keistimewaan, karya buku sampai wafat beliau dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silakan simak ulasan dibawah ini dengan seksama.

Biografi Imam Syafi’i

Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan pada setiap seratus tahun ada seseorang yang akan mengajarkan Sunnah dan akan menyingkirkan para pendusta terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Kami berpendapat pada seratus tahun yang pertama Allah mentakdirkan Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun berikutnya Allah menakdirkan Imam Asy-Syafi`i”.

a. Nasab


Ayah beliau Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Sa’ib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Al-Mutthalib bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Dari nasab tersebut, Al-Mutthalib bin Abdi Manaf, kakek Muhammad bin Idris Asy-Syafi`i, adalah saudara kandung Hasyim bin Abdi Manaf kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam . Kemudian juga saudara kandung Abdul Mutthalib bin Hasyim, kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam , bernama Syifa’, dinikahi oleh Ubaid bin Abdi Yazid, sehingga melahirkan anak bernama As-Sa’ib, ayahnya Syafi’.

b. Tempat Kelahiran

Beliau lahir di kampung miskin di kota Ghazzah (orang Barat menyebutnya Gaza ) di bumi Palestina, pada th. 150 H. (bertepatan dengan th. 694 M.) lahirlah seorang bayi lelaki dari pasangan suami istri yang berbahagia, Idris bin Abbas Asy-Syafi`ie dengan seorang wanita dari suku Azad. Bayi lelaki keturunan Quraisy ini akhirnya dinamai Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie. Saat beliau dilahirkan ke dunia oleh ibunya yang tercinta, bapaknya tidak sempat membuainya, karena ajal Allah telah mendahuluinya dalam usia yang masih muda. Lalu setelah berumur dua tahun, paman dan ibunya membawa pindah ke kota kelahiran nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, Makkah Al Mukaramah.


Sejarah Dan Keistimewaan Imam Syafi’i

a. Tumbuh Kembangnya

Beliau tumbuh dan berkembang di kota Makkah, di kota tersebut beliau ikut bergabung bersama teman-teman sebaya belajar memanah dengan tekun dan penuh semangat, sehingga kemampuannya mengungguli teman-teman lainnya. Beliau mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam bidang ini, hingga sepuluh anak panah yang dilemparkan tepat mengenai sasara. Demikian terus kesibukannya dalam panah memanah sehingga ada seorang ahli kedokteran medis waktu itu yang menasehatinya. Dokter itu menyatakan kepadanya: “Bila engkau terus menerus demikian, maka sangat dikuatirkan akan terkena penyakit luka pada paru-parumu karena engkau terlalu banyak berdiri di bawah panas terik mata hari.” 
Maka mulailah anak yatim ini mengurangi kegiatan panah memanah dan mengisi waktu dengan belajar bahasa Arab dan menekuni bait-bait sya’ir Arab sehingga dalam sekejab, anak muda dari Quraisy ini menjadi tokoh dalam bahasa Arab dan sya’irnya dalam usia kanak-kanak. Di samping itu dia juga menghafal Al-Qur’an, sehingga pada usia tujuh tahun telah menghafal di luar kepala Al-Qur’an keseluruhannya. Kemudian tumbuhlah di dalam hatinya rasa cinta terhadap ilmu agama, maka beliaupun mempelajari dan menekuni serta mendalami ilmu yang agung tersebut, sehingga beliau menjadi pemimpin dan Imam atas orang-orang.

b. Kecerdasannya

Kecerdasan adalah anugerah dan karunia Allah yang diberikan kepada hambanya sebagai nikmat yang sangat besar. Di antara hal-hal yang menunjukkan kecerdasannya:
  1. Kemampuannya menghafal Al-Qur’an di luar kepala pada usianya yang masih belia, tujuh tahun.
  2. Cepatnya menghafal kitab Hadits Al Muwathta’ karya Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas pada usia sepuluh tahun.
  3. Rekomendasi para ulama sezamannya atas kecerdasannya, hingga ada yang mengatakan bahwa ia belum pernah melihat manusia yang lebih cerdas dari Imam Asy-Syafi`i.
  4. Beliau diberi wewenang berfatawa pada umur 15 tahun.
Muslim bin Khalid Az-Zanji berkata kepada Imam Asy-Syafi`i: “Berfatwalah wahai Abu Abdillah, sungguh demi Allah sekarang engkau telah berhak untuk berfatwa.”

c. Perjalanan Menuntut Ilmu

Beliau mengatakan tentang menuntut ilmu, “Menuntut ilmu lebih afdhal dari shalat sunnah.” Dan yang beliau dahulukan dalam belajar setelah hafal Al-Qur’an adalah membaca hadits. Beliau mengatakan, “Membaca hadits lebih baik dari pada shalat sunnah.” Karena itu, setelah hafal Al-Qur’an beliau belajar kitab hadits karya Imam Malik bin Anas kepada pengarangnya langsung pada usia yang masih belia.
Beliau mengawali menimba ilmu dari para ulama yang berada di negerinya yaitu makkah, di antara mereka adalah:
  1. Muslim bin Khalid Az-Zanji yang waktu itu berkedudukan sebagai mufti Makkah.
  2. Muhammad bin Syafi’ paman beliau sendiri
  3. Abbas kakeknya Imam Asy-Syafi`i
  4. Sufyan bin Uyainah
  5. Fudhail bin Iyadl, serta beberapa ulama yang lain.
Demikian juga beliau mengambil ilmu dari ulama-ulama Madinah di antara mereka adalah:
  1. Imam Malik bin Anas
  2. Ibrahim bin Abu Yahya Al Aslamy Al Madany
  3. Abdul Aziz Ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Ismail bin Ja’far dan Ibrahim bin Sa’ad serta para ulama yang berada pada tingkatannya
Beliau juga mengambil ilmu dari ulama-ulama negeri Yaman di antaranya;
  1. Mutharrif bin Mazin
  2. Hisyam bin Yusuf Al Qadhi, dan sejumlah ulama lainnya.
Dan di Baghdad beliau mengambil ilmu dari:
  1. Muhammad bin Al Hasan, ulamanya bangsa Irak, beliau bermulazamah bersama ulama tersebut, dan mengambil darinya ilmu yang banyak.
  2. Ismail bin Ulayah.
  3. Abdulwahab Ats-Tsaqafy, serta yang lainnya.

    d. Santri-Santri Beliau

    Beliau mempunyai banyak murid, yang umumnya menjadi tokoh dan pembesar ulama dan Imam umat islam, yang paling menonjol adalah:
    1. Ahmad bin Hanbal, Ahli Hadits dan sekaligus juga Ahli Fiqih dan Imam Ahlus Sunnah dengan kesepakatan kaum muslimin.
    2. Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani
    3. Ishaq bin Rahawaih,
    4. Harmalah bin Yahya
    5. Sulaiman bin Dawud Al Hasyimi
    6. Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi dan lain-lainnya banyak sekali.

      e. Karya Tulis Beliau

      Beliau mewariskan kepada generasi berikutnya sebagaimana yang diwariskan oleh para nabi, yakni ilmu yang bermanfaat. Ilmu beliau banyak diriwayatkan oleh para murid- muridnya dan tersimpan rapi dalam berbagai disiplin ilmu. Bahkan beliau pelopor dalam menulis di bidang ilmu Ushul Fiqih, dengan karyanya yang monumental Risalah. Dan dalam bidang fiqih, beliau menulis kitab Al-Umm yang dikenal oleh semua orang, awamnya dan alimnya. Juga beliau menulis kitab Jima’ul Ilmi.

      f. Pujian Para Ulama Terhadap Beliau

      Benarlah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam,
      “Barangsiapa yang mencari ridha Allah meski dengan dibenci manusia, maka Allah akan ridha dan akhirnya manusia juga akan ridha kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi 2419 dan dishashihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ 6097).
      Begitulah keadaan para Imam Ahlus Sunnah, mereka menapaki kehidupan ini dengan menempatkan ridha Allah di hadapan mata mereka, meski harus dibenci oleh manusia. Namun keridhaan Allah akan mendatangkan berkah dan manfaat yang banyak. Imam Asy-Syafi`i yang berjalan dengan lurus di jalan-Nya, menuai pujian dan sanjungan dari orang-orang yang utama. Karena keutamaan hanyalah diketahui oleh orang-orang yang punya keutamaan pula.
      Qutaibah bin Sa`id berkata: “Asy-Syafi`i adalah seorang Imam.” Beliau juga berkata, “Imam Ats-Tsauri wafat maka hilanglah wara’, Imam Asy-Syafi`i wafat maka matilah Sunnah dan apa bila Imam Ahmad bin Hambal wafat maka nampaklah kebid`ahan.”
      Imam Asy-Syafi`i berkata, “Aku di Baghdad dijuluki sebagai Nashirus Sunnah (pembela Sunnah Rasulullah).”
      Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Asy-Syafi`i adalah manusia yang paling fasih di zamannya.”
      Ishaq bin Rahawaih berkata, “Tidak ada seorangpun yang berbicara dengan pendapatnya -kemudian beliau menyebutkan Ats-Tsauri, Al-Auzai, Malik, dan Abu Hanifah,- melainkan Imam Asy-Syafi`i adalah yang paling besar ittiba`nya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam, dan paling sedikit kesalahannya.”
      Abu Daud As-Sijistani berkata, “Aku tidak mengetahui pada Asy-Syafi`i satu ucapanpun yang salah.”
      Ibrahim bin Abdul Thalib Al-Hafidz berkata, “Aku bertanya kepada Abu Qudamah As-Sarkhasi tentang Asy-Syafi`i, Ahmad, Abu Ubaid, dan Ibnu Ruhawaih. Maka ia berkata, “Asy-Syafi`i adalah yang paling faqih di antara mereka.”

      g. Prinsip Aqidah Beliau

      Imam Asy-Syafi`i termasuk Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, beliau jauh dari pemahaman Asy’ariyyah dan Maturidiyyah yang menyimpang dalam aqidah, khususnya dalam masalah aqidah yang berkaitan dengan Asma dan Shifat Allah subahanahu wa Ta’ala.
      Beliau tidak meyerupakan nama dan sifat Allah dengan nama dan sifat makhluk, juga tidak menyepadankan, tidak menghilangkannya dan juga tidak mentakwilnya. Tapi beliau mengatakan dalam masalah ini, bahwa Allah memiliki nama dan sifat sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an dan sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam kepada umatnya. Tidak boleh bagi seorang pun untuk menolaknya, karena Al-Qur’an telah turun dengannya (nama dan sifat Allah) dan juga telah ada riwayat yang shahih tentang hal itu. Jika ada yang menyelisihi demikian setelah tegaknya hujjah padanya maka dia kafir. Adapun jika belum tegak hujjah, maka dia dimaafkan dengan bodohnya. Karena ilmu tentang Asma dan Sifat Allah tidak dapat digapai dengan akal, teori dan pikiran. “Kami menetapkan sifat-sifat Allah dan kami meniadakan penyerupaan darinya sebagaimana Allah meniadakan dari diri-Nya. Allah berfirman,
      “Tidak ada yang menyerupai-Nya sesuatu pun, dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
      Dalam masalah Al-Qur’an, beliau Imam Asy-Syafi`i mengatakan, “Al-Qur’an adalah kalamulah, barangsiapa mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka dia telah kafir.”

      h. Prinsip di dalam Fiqih

      Beliau berkata, “Semua perkataanku yang menyelisihi hadits yang shahih maka ambillah hadits yang shahih dan janganlah taqlid kepadaku.”
      Beliau berkata, “Semua hadits yang shahih dari Nabi shalallahu a’laihi wassalam maka itu adalah pendapatku meski kalian tidak mendengarnya dariku.”
      Beliau mengatakan, “Jika kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam maka ucapkanlah sunnah Rasulullah dan tinggalkan ucapanku.”

      i. Sikap Imam Asy-Syafi`I Terhadap Ahlul Bid’ah

      Muhammad bin Daud berkata, “Pada masa Imam Asy-Syafi`i, tidak pernah terdengar sedikitpun beliau bicara tentang hawa, tidak juga dinisbatkan kepadanya dan tidakdikenal darinya, bahkan beliau benci kepada Ahlil Kalam dan Ahlil Bid’ah.”
      Beliau bicara tentang Ahlil Bid’ah, seorang tokoh Jahmiyah, Ibrahim bin ‘Ulayyah, “Sesungguhnya Ibrahim bin ‘Ulayyah sesat.”
      Imam Asy-Syafi`i juga mengatakan, “Menurutku, hukuman ahlil kalam dipukul dengan pelepah pohon kurma dan ditarik dengan unta lalu diarak keliling kampung seraya diteriaki, “Ini balasan orang yang meninggalkan kitab dan sunnah, dan beralih kepada ilmu kalam.”

      j. Kata Pesan dan Hikmah Imam Asy-Syafi`I

      “Ikutilah Ahli Hadits oleh kalian, karena mereka orang yang paling banyak benarnya.”
      “Kebaikan ada pada lima hal: kekayaan jiwa, menahan dari menyakiti orang lain, mencari rizki halal, taqwa dan tsiqqah kepada Allah. Ridha manusia adalah tujuan yang tidak mungkin dicapai, tidak ada jalan untuk selamat dari (omongan) manusia, wajib bagimu untuk konsisten dengan hal-hal yang bermanfaat bagimu”.

      k. Wafat Beliau

      Beliau wafat pada hari Kamis di awal bulan Sya’ban tahun 204 H dan umur beliau sekitar 54 tahun (Siyar 10/76). Meski Allah memberi masa hidup beliau di dunia 54 tahun, menurut anggapan manusia, umur yang demikian termasuk masih muda. Walau demikian, keberkahan dan manfaatnya dirasakan kaum muslimin di seantero belahan dunia, hingga para ulama mengatakan, “Imam Asy-Syafi`i diberi umur pendek, namun Allah menggabungkan kecerdasannya dengan umurnya yang pendek.”

      Demikianlah telah dijelaskan tentang Biografi Imam Syafi’i, Sejarah Dan Keistimewaan Terlengkap semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian.

      Sejarah Perintah Shalat Wajib 5 Waktu Terlengkap

      Sejarah Perintah Shalat Wajib 5 Waktu Terlengkap – Pada pembahasan ini mari kita melihat Ringkasan Sejarah Shalat Wajib. Yang meliputi Sejarah tentang kapan shalat 50 waktu menjadi 5 waktu yang diperintahkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Saw. dan umatnya dengan pembahasan terlengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih jelasnya mari lihat ulasan berikut.



      Sejarah Perintah Shalat Wajib

      Ibadah sholat lima waktu diwajibkan pada umat ini saat Nabi shallallahu’alaihi wa sallammasih tinggal di Makkah, sebelum hijrah ke Madinah dilakukan. Tepatnya saat malam isra’ mi’raj. Satu setengah tahun sebelum hijrah. Sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah,

      فلما كان ليلة الإسراء قبل الهجرة بسنة ونصف ، فرض الله على رسوله صلى الله عليه وسلم الصلوات الخمس ، وفصل شروطها وأركانها وما يتعلق بها بعد ذلك ، شيئا فشيئا

      Pada malam isra’ mi’raj, tepatnya satu setengah tahun sebelum hijrah, Allah mewajibkan sholat lima waktu kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Kemudian secara berangsur, Allah terangkan syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, serta hal-hal yang berkaitan dengan sholat”.

      Ustadz Ahmad Farraj : 

      Apakah peranan Nabi Musa as. sehingga beliau menyuruh Nabi Muhammad SAW. menghadap kembali kepada Allah untuk meminta keringanan bagi kaum muslimin agar jumlah kewajiban shalat itu dikurangi lagi ?. 

      Fadlilatus Syekh Asy-Sya’rawi :

      Di sini kita bicarakan pula tentang masalah shalat. Shalat ini (sebagaimana yang telah saya sebutkan) fardlukan secara langsung oleh Allah Ta’ala yang mana hal ini menunjukkan sangat pentingnya shalat itu. Menurut riwayat dikatakan bahwa Allah Ta’ala mewajibkan kepada kita shalat sebanyak 50 waktu dalam sehari semalam. Setelah itu Rasulullah SAW. pergi kepada Nabi Musa as., kemudian Nabi Musa berkata kepada beliau, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan….”. Rasulullah SAW. pun menuruti apa yang diperintahkan oleh Nabi Musa itu sehingga beliau berulang – ulang datang menghadap Allah samapai akhirnya Allah meringankan shalat itu tinggal 5 waktu dalam sehari semalam.

      Di sini ada suatu hal yang sangat perlu untuk diperhatikan oleh kaum muslimin, bahwa kebencian kita terhadap orang – orang Yahudi itu jangan sampai melibatkan Nabi Musa as., karena Nabi Musa adalah utusan Allah dan termasuk salah seorang daru Ulul Azmi. Adapun masalah permohonan beliau kepada Nabi Muhammad SAW. agar kembali kepada Allah untuk meminta keringanan, apakah hal seperti ini merupakan wasiat ?. Wasiat macam apa ?. wasiat itu mesti datangnya dari orang yang mewajibkan saya (musalnya) untuk berbuat lebih banyak lagi. Adapun wasiat yang isinya untuk meringankan, apakah hal ini dikategorikan sebagai wasiat ?. Yang jelas, dia menghendaki agar diringankan beberapa perkara dari padaku karena ia tahu bahwa diriku tidak mampu menunaikannya. 

      Ustadz Ahmad Farraj :

      Di dalam riwayat dikatakan bahwa Nabi Musa mengatakan kepada Nabi Muhammad SAW. demikian, “….sesungguhnya ummatmu tidak mampu melaksanakannya ….”. Seakan-akan dengan perkataan ini Nabi Musa hendak mengecilkan yakni menganggap kecil (remeh) terhadap ummat Islam ini. Dalam lafal lain dikatakan, ” Sesungguhnya ummatmu itu lemah, tidak mampu untuk melakukannya”. Apakah makna semua ini ?.

      Fadlilatus Syekh Asy-Sya’rawi :

      Begitu yang dikatakan Nabi Musa, tetapi ketika beliau mengatakan kepada Nabi Muhammad, “Aku telah mencoba ummat sebelum engkau”, pada hal Allah cuma mewajibkan dua kali shalat saja kepada kaum Nabi Musa, yakni pada waktu pagi dan petang, yang mana dengan dua macam shalat ini saja mereka sudah tidak dapt menunaikannya, maka ketika Musa mengetahui keadaan ummatnya yang demikian, lalu beliau mengucapkan perkataan seperti yang telah disebutkan tadi, maka hal ini adalah menunjukkan kecintaan Nabi Musa terhadap Nabi Muhammad dan ummatnya, karena itulah beliau menghendaki agar ummat Muhammad jangan diberi beban kewajiban seperti yang dibebankan kepada ummatnya (Bani Israil) yang mana mereka tidak melaksanakan kewajiban tersebut.

      ini tidak berarti menunjukkan bahwa kita ini sebagai ummat yang lemah. Beliau hanya menduga bahwa ada kemungkinan kita tidak dapat melaksanakannya. Mengapa ?. Karena beliau telah mencoba ummat beliau, namun mereka tidak mampu melakukannya, kemudian beliau anggap keadaan kita seperti mereka.

      Demikianlah telah dijelaskan tentang Sejarah Perintah Shalat Wajib 5 Waktu Terlengkap semoga bermanfaat sehingga dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian. Terimakasih telah berkunjung dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya.

      Inilah Kisah Teladan Nabi Muhammad SAW

      Inilah Kisah Teladan Nabi Muhammad SAW – Allah SWT mengutus nabi Muhammad SAW sebagai seorang rasul sekaligus pemimpin bagi umat muslim. Allah menganugrahi Rasulullah berbagai rahmat dan segala keistimewaan. Rasulullah SAW diutus Allah SWT dengan segala kebaikan dan akhlak yang mulia dimana ada keteladan padanya. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Surat Al Ahzab ayat 21 yang bunyinya:

      لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

      Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al Ahzab  21)

      Inilah Kisah Teladan Nabi Muhammad SAW

      Dari beberapa kisah yang wajib kita ketahui selain Sifat Wajib Allah, kita juga harus mengetahui sifat dan keteladanan Nabi Muhammad SAW. Adapun keteladanan nabi dan kisah Nabi Muhammad SAW sebagai berikut:

      Memiliki kewaspadaan yang tinggi

      Pada suatu malam Aisyah RA mendapati Rasulullah SAW tidak bisa tidur dan hanya membolak-balik tubuhnya diatas ranjang penuh dengan gelisah. Ia pun bertanya,

      “Wahai Rasulullah, mengapa tidak tidur semalaman?” Rasulullah lalu menjawab, “Hari ini aku menemukan sebuah kurma di tengah jalan, kemudian aku ambil buah itu dan memakannya karena aku pikir lebih baik dimakan daripada busuk dan terbuang sia-sia, sekarang aku merasa gelisah karena siapa tahu jika kurma yang kumakan itu termasuk harta sedekah.”

      Memotong lidah seseorang

      Nabi Muhammad SAW tidak pernah berkata ataupun berlaku kasar kepada mereka yang selalu menghinanya. Pernah pada suatu kisah menceritakan tentang bagaimana Rasulullah SAW memotong lidah seseorang.

      Diceritakan dalam sejarah islam pada saat perang Hunain yang mana melawan Suku Hawazin dan Quraisy dipimpin oleh Alabak. Rasulullah Saw dan pasukannya berhasil mengalahkan kaum Quraisy dan mendapatkan banyak harta rampasan perang. Rasulullah sedang membagi-bagikan empat perlima dari harta rampasan perang yang diperoleh kepada orang-orang ikut berperang.

      Sedangkan seperlimanya untuk Rasulullah sendiri dan dibagikannya kepada anggota keluarga yang beliau kehendaki. Dari salah seorang penerima, Abbas seorang penyair merasa tidak puas atas apa yang ia peroleh dan ia mengumpat Rasulullah SAW dengan cara membacakan syair yang tidak mengenakkan. Rasulullah mendengar syair tersebut kemudian tersenyum dan berkata“Bawa orang itu pergi dari sini dan potong saja lidahnya!”

      Umar yang saat itu sedang marah melihat perbuatan Abbas hampir saja melaksanakan perintah Rasulullah untuk memotong lidahnya namun Ali tiba-tiba menyeret Abbas dan membawanya ke lapangandimana binatang ternak rampasan dikumpulkan. “Ambillah sebanyak yang kau mau” “Apa?” Tanya Abbas kepada Ali dengan rasa tak percaya. “Beginikah cara Nabi memotong lidahku? Demi Allah, aku tidak akan mengambil sedikitpun harta ini“kata Abbassambil menahan malu.

      Sikap Rasul terhadap hamba sahaya

      Seorang hamba sahaya yang bernama Zaid sebelum masuk Islam adalah seorang Nasrani. Ia ikut berpergian dalam suatu kafilah namun ada suatu gerombolan perampok yang menghadang mereka. Kemudian ia dijual dan jatuh ketangan Hakim yang mana Zaid diahadiahkan kepada Khadijah yaitu istri Nabi Muhammad SAW.

      Suatu hari beberapa orang melihat Zaid yang pada saat itu berada di Mekkah. Kemudian mereka memberitahukan kepada ayah Zaid, yang mana kedua orang tua Zaid mencarinya kemana – mana sampai hampir putus asa. Ketika mendengar hal tersebut sang ayah langsung pergi ke Mekah untuk melihat dan menjemputnya.

      Saat tiba di Mekah, Rasul bertemu dengan ayah Zaid dan di mata sang ayah yang terlihat berduka menyentuh hati Rasulullah dan kemudian ia memerdekan Zaid tanpa syarat apapun. Meskipun demikian. Zaid menolak pergi dan ia berkata, “Aku tidak akan pergi, aku lebih mencintain engkau daripada ayah dan ibu kandungku sendiri.

      Perilaku Rasul terhadap orang lain

      Pada suatu hari seorang lelaki meminta ijin untuk berbicara kepada Nabi Muhammad. Kemudian beliau berkata pada Aisyah Ra untuk mengizinkannya masuk. Beliau juga menyampaikan “Biarkan dia masuk, orang ini dikenal orang yang paling buruk dikabilahnya,” kata Rasulullah. Kemudian Aisyah mengizinkannya masuk dan pria itu langsung duduk di depan Rasulullah SAW. Saat berbicara dengannya, Rasul bertutur kata ramah dan penuh perhatian. Hal ini membuat istri Rasul, Aisyah heran dan bertanya kepada beliau saat pria tersebut telah pergi.

      Aisyah bertanya kepada Rasulullah, “Engkau menganggap orang kisah teladan nabi muhammad secara singkatitu kasar dan buruk namun mengapa engkau berbicara dengannya dengan ramah dan lemah-lembut serta rasa hormat?”Rasulullah menjawab, “Aisyah, pria itu adalah orang yang paling buruk di dunia ini karena ia tidak mau bergaul dengan orang lain karena ia mengaggap orang lain lebih buruk darinya.”

      Tidak suka menyimpan harta dalam rumahnya

      Pada Saat kondisi kesehatan Rasulullah yang semakin memburuk karena sakit yang beliau derita. Beliau bertanya pada istri beliau yaitu Aisyah Ra tentang uang yang ia titipkan padanya sebelum ia sakit. Beliau lupa pernah menitipkan uang dan teringat saat sakit. Rasul bertanya dengan suara parau, “Aisyah, dimana uang yang pernah kutitipkan padamu sebelum sakit?” tolong kau bagikan uang itu di jalan Allah. Karena aku akan malu bertemu Allah SWT yang dicintai,sedangkan dirumahnya masih ada timbunan dan simpanan uang”

      Ustadz Ahmad Farraj:

      Kalau kita katakan Bahwa Rasulullah SAW. berdekatan dengan Allah atau Allah berdekatan dengan Rasul, apakah ini tidak termasuk tajassud (menganggap Allah berjasad / bertubuh) atau tahayuz (menganggap Allah berdimensi / berukuran / berarah) padahal Dia itu Maha Suci dari yang demikian itu?

      Syekh Asy-Sya’rawi:

      Telah kita yakini bahwa Allah itu ada, saya katakan bahwa saya juga ada, tetapi apakah wujud Allah itu seperti wujud saya? Saya tahu bahwa saya sekarang sedang berada dalam suatu pertemuan (aayaatinaa …”. Andai kata dia melihat Tuhannya, niscaya hal ini disebutkan secara ekplisit oleh Allah, karena hal ini merupakan perkara besar yang lebih besar dari pada melihatnya Nabi Muhammad kepada ayat-ayat Allah pada waktu Isra’ dan ketika di Sidratul Muntaha. (Tafsir Al-Kabir 7 / 740 yang dikutip oleh Syekh Muhammad Ali Ash Shabuni dalam Shafwatut Tafsir, mujallad 3, Darul Qur’an al-Karim, Beirut, 1402 H 1981 M, hal. 274) – Pen.) dengan sekelompok besar orang dan diliputi oleh televisi, dan Allah pun tahu yang demikian itu.

      Apakah tahunya saya ini sama dengan tahunya Allah ?. Misalnya lagi, sya hidup dan Allah juga hidup, apakah hidupnya Allah seperti hidupnya saya? Kalau begitu, mengapa berdekatannya Allah dengan Rasul atau berdekatannya Rasul dengan Allah dikatakan seperti berdekatannya saya dengan anda?

      Selama kita mengakui bahwa Allah itu Maha Suci, maka harus kita nisbatkan perumpamaan untuk Allah itu kepada kemahasucian-Nya. Kalau dikatan bahwa “Allah bersemayam di atas Arsy…. “. sedang kita sendiri juga sering duduk di atas kursi, maka apakah bersemayamnya Allah itu sama dengan duduk kita, apakah bersemayamnya Allah itu seperti duduk saya? Jangan anda katakan bahwa istiwaknya Allah seperti istiwak saya, karena saya tidak pernah mengatakan bahwa wujud Allah itu seperti wujud saya.

      Saya tidak pernah mengatakan ilmu saya seperti ilmu Allah, tidak pernah mengatakan pengetahuan Allah seperti pengetahuan saya, tidak pernah mengatakan kekayaan-Nya seperti kekayaan saya, tidak pernah mengatakan bahwa hidup-Nya seperti hidup saya.

      Kalau mereka mengatakan bahwa berdekatan atau aktifitas “mendekat” itu merupakan sifat bagi benda-benda sedangkan Allah Maha Suci dari sifat-sifat kebendaan, maka kita wajib menisbatkan suatu aktifitas itu kepada pelakunya, kita kembalikan aktifitas “mendekat” di sini kepada Allah Yang Maha Suci dalam Dzat, sifat, dan perbuatan-Nya.

      Kalau di dalam suatu hadist disebutkan bahwa Allah turun ke langit dunia pada setiap malam, “Adakah orang yang hendak bertaubat lantas Aku terima taubatnya, atau meminta ampun lalu Aku ampuni…. ?”.

      Maka saya tidak menggambarkan turun-Nya itu seperti cara saya turun. Kenapa ?. Karena Dia itu Maha Suci, laisa kamitslihii syai-un, tidak ada sesuatu pun yang seperti Allah. Jika ada suatu sifat yang sama penyebutnya dengan sifat sifat atau aktifitas itu kepada Allah sendiri saja. Kalau ada sifat Allah yang sama penyebutnya dengan sifat saya, maka saya yakin hakekat Allah tidak sama dengan sifat saya, Dia Maha Suci, Dzat-Nya tidak seperti dzat saya, sifat-Nya tidak seperti sifat saya, dan perbuatan-Nya juga tidak seperti perbuatan saya.

      Demikian ulasan tentang Inilah Kisah Teladan Nabi Muhammad SAW. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

      √ Inilah Peristiwa Isra Miraj, Kisah Isra Miraj dan Hikmahnya

      Inilah Peristiwa Isra Miraj Kisah Isra Miraj dan Hikmahnya
      Inilah Peristiwa Isra Miraj, Kisah Isra Miraj dan Hikmahnya – Peristiwa Isra’ ini telah ditandaskan oleh Al-Qur’an dalam surat Al-Isra’ yang berbunyi :
      سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

      Artinya: “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkati sekelilingnya. Untuk Kami perlihatkan kepadanya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (Al-Isra’ 1).

      Banyak peristiwa yang dialami Rasulullah sewaktu isra miraj sejak pemberangkatan hingga kembali. Apa saja peristiwa itu, bagaimana kisahnya dan hikmah serta ibrah apa saja yang bisa dipetik? Berikut ini pembahasan Pengetahuan Islam lengkapnya.

      Inilah Peristiwa Isra Miraj, Kisah Isra Miraj dan Hikmahnya

      Isra Miraj adalah bentuk peristiwa nyata yang maha dahsyat yang dialami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebelumnya, tak ada satu pun manusia yang mengalaminya. Menempuh perjalanan superkilat lalu naik ke langit hingga sidratul muntaha.

      Pengertian Isra Miraj

      Isra menurut Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsir Al Munir menjelaskan, isra (اسرى) atau sara (سرى) artinya adalah perjalanan di malam hari. Secara istilah, isra adalah perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu malam dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina.

      Adapun Miraj secara bahasa artinya adalah naik. Secara istilah adalah naiknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke sidratul muntaha. Dalam Al Qur’an, mi’raj ini disinggung dalam surat An Najm.

      وَلَقَدْ رَآَهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى. عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى. إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى. مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى. لَقَدْ رَأَى مِنْ آَيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى

      Artinya : “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm: 13-18)

      Peristiwa Isra Miraj

      Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri dalam Sirah Nabawiyah-nya, Ar Rahiqul Makhtum, menjelaskan enam pendapat kapan terjadinya Isra miraj.

      Peristiwa Isra’ terjadi pada tahun ketika Rasulullah mendapatkan wahyu pertama. Ini merupakan pendapat Ath Thabari.

      • Isra miraj terjadi lima tahun setelah Rasulullah diutus menjadi Nabi. Pendapat ini dikuatkan oleh An Nawawi dan Al Qurthubi.
      • Isra miraj terjadi pada malam 27 Rajab tahun 10 kenabian. Pendapat ini dipilih oleh Allamah Al Manshurfuri.
      • Peristiwa ini terjadi 16 bulan sebelum hijrah, tepatnya pada bulan Ramadhan tahun 12 kenabian.
      • Peristiwa ini terjadi 1 tahun 2 bulan sebelum hijrah, tepatnya pada bulan Muharram tahun 13 kenabian.
      • Terjadi 1 tahun sebelum hijrah, tepatnya pada bulan Rabiul Awal tahun 13 kenabian.

      Kisah Lengkap Isra Miraj

      Pada saat itu seusai shalat isya’ dan beristirahat sejenak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang saat itu berbaring di Masjidil Haram didatangi malaikat Jibril. Dada beliau dibelah.

      “Lalu hatiku dikeluarkan dan dicuci dengan air zamzam kemudian dikembalikan ke tempatnya dan memenuhinya dengan iman dan hikmah,” sabda beliau dalam riwayat Imam Bukhari dari Malik bin Sha’sha’ah.

      Setelah itu didatangkanlah buraq yang nantinya menjadi kendaraan beliau sewaktu isra. Buraq satu akar kata dengan barq yang artinya kilat.

      “Didatangkan kepadaku Buraq yakni seekor tunggangan berwarna putih, tinggi, lebih tinggi dari keledai dan lebih pendek dari bighal, ia meletakkan langkahnya sejauh pandangannya,” sabda Rasulullah dalam riwayat Imam Muslim dari Anas bin Malik.

      Setiba di Masjidil Aqsa, beliau shalat dua rakaat, mengimami ruh para Nabi. Usai shalat dan keluar dari Masjid Al Aqsa, Malaikat Jibril datang membawa dua wadah minuman. Satu berisi susu dan satu lagi khamar. Rasulullah pun memilih susu. “Sungguh engkau telah memilih kesucian,” kata Jibril dalam lanjutan hadits tersebut.

      Mi’raj pun dimulai. Rasulullah naik buraq bersama Jibril hingga tiba di langit pertama. Mari kita simak kisah beliau dalam hadits yang panjang, lanjutan dari hadits Shahih Bukhari dari Malik bin Sha’sha’ah di atas.

      “Lalu aku dibawa di atas punggung Buraq dan Jibril pun berangkat bersamaku hingga aku sampai ke langit dunia lalu dia meminta dibukakan pintu langit. Dia ditanya, “Siapakah ini?” Ia menjawab, “Jibril.” Jibril ditanya lagi, “Siapakah yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” “Apakah dia telah diutus?” “Dia telah diutus.”

      Kami pun di bukakan pintu, lalu aku bertemu Nabi Adam ‘alaihis salam. Ia menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

      Kemudian Buraq tersebut naik bersama kami ke langit kedua. Maka Jibril minta dibukakan pintu.

      “Siapakah ini?” “Jibril”. “Siapakah yang bersamamu?” “Muhammad.” “Apakah dia telah diutus kepadaNya?” jawab jibril, “Dia telah diutus kepadaNya.”

      Kami pun dibukakan pintu, lalu aku bertemu dengan dua orang sepupuku yaitu Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria ‘alaihimussalam. Maka keduanya menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

      Kemudian Buraq tersebut naik bersama kami ke langit ketiga. Maka Jibril minta dibukakan pintu.

      “Siapakah ini?” “Jibril”. “Siapakah yang bersamamu?” “Muhammad.” “Apakah dia telah diutus kepadaNya?”. “Dia telah diutus kepadaNya.”

      Kami pun dibukakan pintu, lalu aku bertemu Nabi Yusuf yang telah dianugerahi setengah dari ketampanan manusia sejagat. Maka Yusuf menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

      Kemudian Buraq tersebut naik bersama kami ke langit keempat. Maka Jibril minta dibukakan pintu.

      Kami pun dibukakan pintu, lalu aku bertemu Nabi Idris ‘alaihissalam. Ia menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Allah telah berfirman untuknya, “dan kami telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi.”

      Kemudian Buraq tersebut naik bersama kami ke langit kelima. Maka Jibril minta dibukakan pintu. Kami pun dibukakan pintu, lalu aku bertemu Nabi Harun. Dia menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

      Kemudian Buraq tersebut naik bersama kami ke langit keenam. Maka Jibril minta dibukakan pintu. Kami pun dibukakan pintu, lalu aku bertemu Nabi Musa lalu dia menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

      Kemudian Buraq tersebut naik bersama kami ke langit ketujuh. Maka Jibril minta dibukakan pintu. Kami pun dibukakan pintu, lalu aku bertemu dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang sedang menyandarkan punggungnya di Baitul makmur. Di mana tempat itu setiap harinya dimasuki oleh 70.000 malaikat dan mereka tidak kembali lagi sesudahnya.

      Kemudian Buraq tersebut pergi bersamaku ke sidratul muntaha yang lebar daun-daunnya seperti telinga gajah dan besar buah-buahnya seperti tempayan besar. Tatkala perintah Allah memenuhi sidratul muntaha, sidratul muntaha berubah dan tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang bisa menjelaskan sifat-sifat Sidratul Muntaha karena keindahannya.

      Maka Allah memberiku wahyu dan mewajibkan kepadaku sholat 50 kali dalam sehari semalam. Kemudian aku turun dan bertemu Musa lalu ia bertanya, “Apa yang diwajibkan Rabbmu terhadap umatmu?” Aku menjawab, “Sholat 50 kali.”

      Musa berkata, “Kembalilah kepada Rabbmu, mintalah keringanan karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukan hal itu. Sesungguhnya aku telah menguji Bani Israel dan aku telah mengetahui bagaimana kenyataan mereka.”

      “Aku akan kembali kepada Rabbku.” Lalu aku memohon, “Ya Rabb, berilah keringanan kepada umatku.” Aku diberi keringanan lima sholat. Lalu aku kembali kepada Musa ‘alaihis salam. Aku berkata kepadanya, “Allah telah memberikan keringanan lima kali.”

      Musa mengatakan, “Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukan hal itu, maka kembalilah kepada Rabbmu dan minta keringanan.”

      Aku terus bolak-balik antara Rabbku dengan Musa hingga Rabbku berfirman, “Wahai Muhammad sesungguhnya kewajiban sholat itu lima kali dalam sehari semalam. Setiap sholat mendapat pahala 10 kali lipat, maka 5 kali sholat sama dengan 50 kali sholat.

      Barangsiapa berniat melakukan satu kebaikan yang dia tidak melaksanakannya maka dicatat untuknya satu kebaikan. Dan jika ia melaksanakannya, maka dicatat untuknya sepuluh kebaikan. Barangsiapa berniat melakukan satu kejelekan namun dia tidak melaksanakannya maka kejelekan tersebut tidak dicatat sama sekali. Dan jika ia melakukannya, maka dicatat sebagai satu kejelekan.”

      Kemudian aku turun hingga bertemu Musa lalu aku beritahukan kepadanya. Maka ia mengatakan, “Kembalilah kepada Rabbmu dan mintalah keringanan lagi.” Aku menjawab, “Aku telah berulang kali kembali kepada Rabbku hingga aku merasa malu kepadaNya.”

      Hikmah Isra Miraj

      1. Setelah cobaan datang silih berganti, bahkan Rasulullah mengalami tahun duka cita, Allah memberinya tasliyah (hiburan) dengan isra miraj ini.

      2. Rasulullah memilih susu untuk beliau minum sebelum mi’raj lalu Jibril memujinya. Ini menguatkan bahwa Islam adalah agama fitrah dan kesucian.

      3. Shalat Rasulullah bersama para Nabi di Baitul Maqdis menunjukkan kedudukan beliau sebagai pemimpin para Nabi.

      4. Sesungguhnya Masjid Al Aqsha memiliki kaitan erat dengan Masjidil Haram. Masjid Al Aqsha merupakan tempat isra’ Rasulullah dan kiblat pertama umat Islam. Karenanya umat Islam harus mencintai Masjid Al Aqsha dan mempertahankannya dari segala upaya penjajah Yahudi yang hendak mencaplok dan merobohkannya.

      5. Urgensi shalat dan kedudukannya yang agung. Jika perintah lain cukup dengan wahyu melalui Malaikat Jibril, perintah shalat langsung diturunkan Allah kepada Rasulullah tanpa perantara Jibril. Shalat ini pula yang menjadi inti tasliyah (hiburan) bagi hambaNya.

      6. Rasulullah hendak mencapai fase baru yakni hijrah dan mendirikan negara Islam di Madinah. Maka Allah memurnikan barisan dakwah dengan isra miraj. Orang-orang yang tidak kuat aqidahnya dan mudah goyang keyakinannya, mereka murtad setelah diberitahu tentang isra miraj. Adapun yang imannya kuat, mereka justru semakin kuat imannya.

      7. Keberanian Rasulullah sangat tinggi dalam berdakwah dengan menyampaikan isra miraj kepada mereka. Meskipun mereka tidak akan percaya bahkan mencemooh dan mengolok-olok, Rasulullah tetap menyampaikan. Beliau bahkan memberikan bukti-bukti empiris kepada kafir Quraisy meskipun mereka justru menuduh beliau sebagai tukang sihir.

      8. Keimanan umat yang paling sempurna adalah imannya Abu Bakar. Ketika orang-orang kafir Quraisy mengabarkan bahwa Muhammad mengatakan telah isra miraj, beliau langsung mempercayainya. “Jika yang mengatakan Rasulullah, aku percaya,” demikian logika keimanan Abu Bakar sehingga beliau mendapat gelar Ash Shiddiq.

      9. Rasulullah menyampaikan bahaya penyakit masyarakat yang dilihatnya. Beliau diperlihatkan bagaimana siksa untuk orang yang suka ghibah, orang yang berzina, orang yang makan harta anak yatim, dan lain-lain.

      10. Para sahabat menjadi perhatian terhadap Masjid Al Aqsha yang saat itu berada dalam kekuasaan Romawi. Kelak di masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Masjid Al Aqsha bisa dibebaskan.

      Intisari Dari Isra Miraj

      Inilah intisari dari isra miraj, merupakan nash Al Qur’an yang menjadi acuan bagi kita dalam membahas peristiwa ini. Apabila Al-Qur’an menceritakan suatu peristiwa kepada kita maka tidak ada sikap lain lagi bagi kita melainkan harus mengimaninya, karena hal itu datangnya dari Allah.

      Inilah Peristiwa Isra Miraj Kisah Isra Miraj dan Hikmahnya

      Tidak ada kewenangan bagi akal kita untuk mengutak – atiknya dengan menjadikan peristiwa-peristiwa di muka bumi sebagai tolah ukur untuk menguji kebenaran peristiwa yang disampaikan Allah lewat Qur’an-Nya itu, dan tidak wajar pula jika kita menjadikan undang-undang atau peraturan hidup yang berlaku bagi manusia ini untuk mengukur kebenaran undang-undang ciptaan Allah yang jauh berbeda dengan undang-undang ciptaan manusia.

      Maka selagi Allah mengatakan begini dan begitu, sebagai orang muslim wajiblah menerima apa yang dikatakan Allah itu. Naru setelah itu akalnya dipergunakan untuk membuat perbandingan guna memperkuat kebenaran apa yang difirmankan Allah itu.

      Jadi orang yang masuk agama Islam, pertama-tama ia harus mengimani Allah sebagai Tuhannya, dan setelah itu menerima tanpa reserve apa saja yang datang dari Allah Ta’ala. Dengan demikian maka peristiwa Isra’ yang difirmankan oleh Allah dalam Alqur’an itu pasti diyakini kebenarannya.

      Demikian ulasan artikel tentang Inilah Peristiwa Isra Miraj, Kisah Isra Miraj dan Hikmahnya. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan kita tentang Agama. Terima kasih.