Pengertian & Peran Tentang Motivasi Dalam Perspektif Islam

Pengertian & Peran Tentang Motivasi Dalam Perspektif Islam – Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang Motivasi Dalam Perspektif Islam. Yang meliputi pengertian motivasi dan peran tentang motivasi dalam perspektif islam dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silakan simak ulasan dibawah ini dengan seksama.
Motif adalah sebab-sebab yang menjadi dorongan, tindakan seseorang, dasar pikiran atau pendapat, sesuatu yang menjadi pokok.
Motivasi itu sendiri merupakan istilah lebih umum digunakan untuk mengantikan terma “motif-motif” yang dalam bahasa inggris yang disebut motive yang berasal dari kata motion, yang berarti gerakan atau sesuatu yang bergerak. Karna itu terma motif erat hubungan dengan gerak yang dilakukan manusia atau disebut perbuatan atau juga tingkah laku. 
Motif dalam psikologi berarti rangsangan dorongan, atau pembangkit tenaga bagi terjadinya tingkah laku. Dan motivasi lebih sendirinya lebih berarti rangsangan atau dorongan atau pembangkit tenaga bagi tingkah laku. Dan motivasi lebih sendirinya lebih berarti menunjuk kepada seluruh proses gerakan di atas, termasuk situasi yang mendorong, dorongan yang timbul dalam diri individu. Situasi tersebut serta tujuan akhir dan gerakan atau perbuatan yang menimbulkan terjadinya tingkah laku.

Peran Motivasi Dalam Pandangan Islam

Bila melihat dalam konsep kehidupan yang religius didasarkan pada ketiga motif spiritual dalam Islam yaitu berdasarkan motivasi aqidah, motivasi ibadah dan motivasi muamalat.

1. Motivasi Akidah 

Motivasi spiritual dalam Islam adalah berdasarkan motivasi aqidah, ibadah dan motivasi muamalat. Motivasi akidah adalah keyakinan hidup, fondasi dan dasar dari kehidupan, yang dimaksud dengan akidah Islam adalah rukum iman. Iman menurut hadist merupakan pengikraran yang bertolak dari hati, pengucapan dengan lisan dan aplikasi dengan perbuatan. 
Jadi motivasi akidah dapat ditafsirkan sebagai dorongan dari dalam yang muncul akibat kekuatan tersebut. Sistematika akidah agama Islam terdiri dari rukun Iman diantaranya , namun dalam motivasi akidah ini yang dilibatkan hanya unsur iman kepada Allah, iman kepada kitab Allah dan iman kepada Rasulullah. Ketiga unsur ini dilibatkan karena pada waktu bekerja terlibat secara nya sehari-hari.
Esensi Islam adalah pengesaan Allah. Tidak satupun perintah dalam Islam yang dilepaskan dari tauhiid. Seluruh agama itu sendiri, kewajiban untuk menyembah Tuhan, mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya., akan hancur begitu tauhid dilanggar. Menurut Abdurrahim kualitas seseorang 90 % ditentukan oleh sikap dan 10 % ilmu pengetahuan, sedangkan sikap dan prilaku ditentukan oleh nilai seperti ikhlas yang merupakan manifestasi dari sikap tauhid. 
Searah dengan pandangan Islam, Glock and Stark menilai bahwa kepercayaan keagamaan (teologi) adalah jantungnya dimensi keyakinan, didalamnya terdapat seperangkat kepercayaan mengimani kenyataan akhir, alam, dan kehendak supranatural sehingga aspek lain dalam agama menjadi koheren. 
Menurut ancok walaupun tidak sepenuhnya sama, dimensi keyakinan dapat disejajarkan dengan akidah, Dimensi keyakinan atau akidah Islam menunjuk pada seberapa tingkat keyakinan muslim terhadap kebenaran ajaran agamanya, terutama kebenaran ajaran agama yang bersifat fundamnetal dan dogmatik. Ketika seseorang menghadirkan dimensi keyakinan akidahnya ke dalam kehidupannya, sering terjadi pengalaman batin yang sangat individual dan yakin dapat meningkatkan energi spiritual unutk meningkatkan kinerja.

a. Iman kepada Allah

Iman kepada Allah merupakan titik sentral, akar dan fondasi yang menjadi kekuatan seorang muslim. Iman adalah seperti pohon yang berbuah, buahnya tidak pernah terputus, pohon iman memberikan buahnya setiap saat, baik di musim panas dan musim dingin, di siang maupun di malam hari. Begitu juga seorang mulmin harus tetap beramal di setiap saat dan di setiap kesempatan. Oleh sebab itu sering kali dimuat dalam al-Quran pernyataan Iman dan Amal saleh karena amal salah merupakan salah satu buah dan bekasnya. 
Salah satu ciri orang yang beriman diantaranya adalah disebut nama Allah maka gemetarlah hatinya dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah bertambahlah iman. Menurut Iman yang paling kuat adalah iman yang diamini, diakui dan diaplikasikan dengan hati, lisan dan perbuatan.

b. Iman Kepada Kitab 

Sebagai seorang muslim harus beriman kepada Taurat, Zabur, Injil dan Al-Quran. Al-Quran sebagai kitab Allah SWT yang diturunkan kepada umat sesuai dengan ruang dan waktu. Al-Quran merupakan kitab terkahir, sumber asasi Islam yang pertama, kitab kodifikasi firman Allh SWYT kepada manusia di bumi, diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, berisi petunjuk Ilahi yang abadi untuk manusia, untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.
Pedoman hidup yang termuat dalam al-Quran hanyalahh akan dapat dimengerti dan dipedomi apabila ada upaya pemikiran terhadap isi yang terkandung didalamnya, Ini menunjukkan betapa pentingnya dialog yang terus menerus antara akal dan Al-Quran

c. Iman Kepada Rasulullah

Iman kepada rasul memiliki konsekuensi mengikuti dan mencontoh rasul yang disebut As-Sunnah. As-Sunnah (etimologis berarti: tradisi dan perjalan), sumber asal Islam yang kedua, ialah segala perkataan, perbuatan dan sikap Rasulullah saw yang dicatat dan direkam di dalam Al-Hadits (etimologis berarti: ucapan atau pernyataan dan sesuatu yang baru). Dalam arti teknis As Sunnah (sunnaturrasul) identik dengan Al-Hadits (haditsunnabawi).
Karena ajaran yang disampaikan Rasul itu bersumber dari Allah SWT dan sangat penting bagi keselamatan dan keberhasilan manusia, maka ajaran tersebut harus diterima dan dilaksanakan oleh manusia.
Dalam Asy’arie iman yang benar dan iman yang hidup adalah iman yang bias dipertanggungjawabkan secara moral dan intelektual, bias dikomunikasikan dengan akal budi, diwujudkan dalam tataran praktis, melalui apa yang disebut iqbal sebagai ijtihad. Berkaitan dengan otoritas dalam fikih, maka kemungkinan teoritis dari derajat ijtihad itu telah diterima oleh para Ahli Sunnah, tetapi dalam prakteknya ijtihad dipungkiri sejak berdirinya madzhab-madzhab dalam hokum Islam. Dalam kasus ini ijtihad penuh dipagari oleh syarat-syarat yang hamper tidak mungkin dilaksanakan oleh seseorang. Sikap seperti ini nampaknya amat ganjil dalam system hokum yang terutama didasarkan atas landasan pokok yang diberikan Al-Qur’an yang mengandung satu pandangan hidup yang dinamis dalam intisairnya. 
Realita hidup kerasulan yang sangat manusiawi itu tercermin dalam sikap dakwah yang dijalankannya. Suatu misi yang tidak mengenal lelah dan tidak berhenti-hentinya telah berhasil menarik beberapa pengikut yang berbakti. Sebagian besar adalah orang-orang yang datang dari kalangan kelas rendah yang tak berpengaruh, sedang sebagian lagi terdiri dari pedagang kaya dan manusia yang memiliki kepekaan religius. Diantara yang terakhir ini bahkan ada yang pernah mengalami gejolak spiritual dalam dirinya.
Rasulullah dalam berbagai kesempatan selalu menekankan pentingnya tenaga kerja dan selalu menghargai karya para karyawan dan para ahli dalam suatu bidang pekerjaan tertentu. Beliau pernah bersabda: “Allah mencintai orang yang selalu bekerja dan berusaha untuk penghidupannya.” (Al-Hadits) menurut Maqdam, Rasulullah pernah berkata,
“Tidak seorangpun yang akan memperoleh keadaan yang lebih baik daripada orang yang memperoleh penghasilan dengan tangannya (tenaganya) sendiri. Nabi Dud pun memperoleh nafkah penghidupan dari tangannya sendiri.” (HR. Bukhori).

2. Motivasi Ibadah

Kaidah ibadah dalam arti khas (qoidah “ubudiyah) yaitu tata aturan ilahi yang mengatur hubungan ritual langsung antara hamba dengan Tuhannya yang tata caranya telah ditentukan secara rinci dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.
Ibadah adalah suatu perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh orang yang tidak beragama, seperti doa, shalat dan puasa itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang beragama. Ibadah bertitik tolak dari aqidah, jika ibadah diibaratkan akar maka ibadah adalah pohonnya. Jika ibdah masih dalam taraf proses produksi, sedangkan output dari ibadah adalah mu’amalah.
Ibadah dalam ajaran Islam dapat dicontohkan sebagai berikut: doa, shalat, puasa, bersuci, haji dan zakat. Tetapi unsur motivasi ibadah ini hanya diambil doa, shalat, dan puasa, karena ketiga unsur ini dilakukan karyawan sehari-hari dalam proses produksi sehingga patut diduga mempunyai pengaruh dalam meningkatkan kinerja karyawan.
Jika diperhatikan beberapa ajaran Islam melalui Al-Qur’an mengenai ibadah yang selalu terkait dengan produksi seperti: zakat, amar ma’ruf nahi munkar, maka tidak dapat diragukan bahwa umat yang ibadahnya kaffah akan mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap kinerja. Namun sebagaimana ditulis Amsyari bahwa adanya pengaruh pemahaman aliran.
“Aliran spiritualisasi agama membatasi Islam hanya untuk ritual dan itupun secara pelan-pelan diabaikan pelaksanaannya (shalatpun makin jarang, berdoapun kalau sedang kesulitan, puasapun kalau tidak sakit maag dan semacamnya).”

a. Doa 

Doa biasa diartikan dengan permohonan hamba kepada Tuhannya, tata cara berdoa telah diatur dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, penyimpangan terhadapnya dapat dikategorikan syirik dan bid’ah. Dzikir biasa diartikan dengan memuji asma Allah, sambil merenungkan kebesaran Allah SWT melalui arti asma Allah yang direnungkan dipikirkan sehingga mempunyai efek dzikir produktif yang dapat meningkatkan kinerja seorang muslim. Potensi doa, dzikir dan fakir adalah asset ilahiyyah yang seharusnya dikelola dengan baik dalam perwujudan kerja prestatif atau amal shaleh.
Potensi dzikir yang positif dan dibarengi dengan potensi pikir yang positif maka hasilnya akan menjadi lebih besar, tetapi tidak dibarengi dengan ilmu, pikir sebagai refleksi kemampuan diri, maka hasilnya akan menjadi kurang atau bertambah jauh dari tujuan. Sebagai seorang muslim yang mempunyai penghayatan tinggi terhadap prestasi serta berkeyakinan bahwa kerja adalah Ibadah maka setiap pribadi muslim seharusnya memiliki suatu goal bahwa hidup ini akan mempunyai nilai jika mampu menjadi rahmat bagi lingkungan dan alam sekitarnya (rahmatan lil’alamin).
Berdoa sebagai awal dari awal, dimaksudkan untuk memberikan arah agar setiap tindakan amal, memenuhi criteria kesesuaian dan keseimbangan sebagaimana menjadi persyaratan kesalahan tersebut. Doa adalah cahaya dan amal adalah terang. Arti dari doa adalah api dan amal adalah panasnya. Antara doa dan amal ikhtiar merupakan satu paket, satu tarikan nafas yang senyawa, tidak bias dibelah secara parsial atau fragmentasi. Pepatah yang artinya, doa tanpa ikhtiar seperti busur tanpa anak panah. Doa yang khusu’, akan mendorong perilaku yang positif antara peribatin dan perilaku itu, berdirilah “akal pikiran”. 
Dengan demikian, seluruh tindakan yang berada dalam peribatin dan perilaku manusia akan sangat dipengaruhi oleh cara berfikir yaitu proses mental batiniah yang melahirkan bayangan tentang diri sendiri, penilaian atau pemaknaan atas lingkungan serta hubungan emosi antara jiwa dan raga dalam hubungannya dengan alam.
Dengan berdoa, berarti menunjukan kualitas dan kemampuan untuk memperepsi diri sehingga mempunyai asumsi atas gambaran jiwa yang tidak lain adalah salah satu bagian dari proses berpikir itu sendiri. Doa yang melahirkan optimisme itu, menggerakan sikap diri yang gagah untuk berkinerja. Dia tidak takut dengan kesulitan, karena di dalam nuraninya ada keyakinan bahwa setelah kesulitan pastilah ada kemudahan dan Allah akan mengabulkan doanya.

b. Shalat

Shalat adalah tata ritual sebagai konsekuensi orang yang beriman kepada Allah, merupakan kewajiban yang harus dilakukan lima kali dalam sehari. Shalat merupakan tiang agama, barangsiapa mengerjakan berarti telah menegakkan agamanya dan baransiapa meninggalkan berarti telah meruntuhkan agamanya. Shalat merupakan proses produksi yang apabila tata caranya diikuti secara tepat dan konsisten serta dijiwai dengan niat yang ikhlas, maka shalat tersebut dapat menghasilkan kinerja. 
Sesuai teori psikologi Islam ada empat aspek terapeutik yang terdapat dalam shalat: aspek olah raga, aspek meditasi, aspek auto-sugesti, dan aspek kebersamaan. Selain memberikan terapi yang bersifat kuratif, agama juga memiliki aspek preventif bagi lahirnya gangguan jiwa dalam masyarakat. Rukun Islam memiliki aspek terapeutik. Demikian juga dengan rukun iman yang salah satunya adalah penerimaan bahwa baik dan buruk datangnya dari Allah, akan membebaskan orang dari segala macam ketegangan jiwa. Pada dasarnya tujuan beberapa teknik psikoterapi seperti kognitif (cognitive therapy) dan (insight therapy) adalah menentukan seseorang untuk menerima kenyataan hidup yang sudah diatur oleh Tuhan. 
Beberapa mutiara hikmah shalat yang dapat diamati secara inderawi antara lain:
  • Kebiasaan hidup bersih
  • Berbusana rapi, sopan dan sederhana
  • Latihan terus menerus menghargai arti pentingnya waktu
  • Menggalang kemitraan dan kebersamaan.
  • Menciptakan keseragaman ucap, sikap, gerak, arah tujuan, pola berfikir dan gejolak hati nurani dalam satu komando.
  • Menumbuhkan keberanian melakukan koreksi yang konstruktif.
  • Memelihara tatakrama yang efektif.
  • Membangun solidaritas social. 
  • Membangkitkan rasa mandiri.
  • Melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta semangat membangun. 
Baca Juga:  Pengertian Mempelajari Fiqih Hukum Sejarah Keutamaan Lengkap
Jadi shalat bukan sekadar kegiatan rutin yang sifatnya seremonial dan tanpa bekas. Diakui atau tidak, sepuluh mutiara hikmah itu belum dihayati seluruhnya. Sementara ini masih saja ada kaum muslimin yang tidak disiplin dan konsisten mendirikan shalatnya. Shalat yang didirikan belum juga memberi bekas terhadap lingkungan kinerjanya.
Shalat yang khusuk yaitu pelakunya mempunyai hati yang tunduk dan didominasi oleh rasa cemas, takut dan berharap saat memperhatikan kebesaran Allah dan keagungan-Nya dan mendisiplinkan anggota tubuhnya sesuai dengan sikap tunduknya itu sehingga tidak berpaling dan tidak pula bergerak selain pergerakan yang telah ditentukan dalam shalat. 
Penelitian tentang mentalitas manusia menetapkan adanya manfaat shalat dan ibadah. Badan penanganan masalah pengangguran di kota New York, telah melakukan psikotes terhadap lebih 15.000 tunawisma. Melalui penelitian ini dimungkinkan untuk mengarahkan setiap individu kepada profesi yang cocok sesuai dengan minat dan keahliannya. Hakihat khusuk jika dikaitkan dengan penelitian tersebut dapat berpengaruh posistif signifikan terhadap karyawan. Thabarah menyatakan bahwa kekhusuan adalah instrument untuk mengembangkan kemampuan diri dalam berkonsentrasi, yang berdampak pada kesuksesan dan keberhasilan seseorang dalam menjalani kehidupannya. 
Upaya untuk mempertajam kecerdasan ruhaniah tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan yang menderu untuk melaksanakan shalat. Dalam shalat tersebut terdapat suasana yang mampu meningkatkan kualitas jiwa yang sangat tinggi dan mampu mencegah perbuatan yang munkar.
Mencermati firman Allah dalam Al-Qur’an Surat al-An’am ayat 162 dan surat al-Mukminun ayat 1-2 bahwa:
  • Shalat adalah tiang agama, dapat diartikan sebagai poros energi untuk berkinerja. 
  • Orang yang shalat tetapi melupakan terhadap proses lanjutan setelah ibadah shalat, dikutuk oleh Islam.
  • Pengakuan pada waktu melaksanakan ibadah shalat bahwa shalat merupakan ibadah, hidup dan mati adalah bentuk pengabdian total kepada Allah.
Baca Juga:  √ Panduan dan Bacaan Doa Memandikan Jenazah Mayit Laki-laki

c. Puasa

Puasa Ramadhan termasuk salah satu aturan Allah SWT yang wajib dijalankan oleh setiap muslim sebagaimana diungkapkan dalam al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 183.Dengan demikian, pendekatan yang paling dikedepankan dalam memahami puasa adalah dengan pendekatan keimanan untuk mencapai target taqwa. Ditinjau dari segi teknologi modern, ditemukan bahwa penelitian modern mengungkapkan kenyataan bahwa puasa meningkatkan keimanan kepada pencipta dan puasa dapat memperpanjang usia manusia dan menghindarkannya dari sejumlah kelainan fisik dan penyakit. Penelitian gejala puasa di laboratorium ilmiah, para ahli berpendapat bahwa puasa sebagai suatu gejala fisiologi dan bukan semata-mata suatu hasil proses iradah, puasa adalah suatu keharusan hidup dan kesehatan. 
Puasa mengatur perilaku dan konsumsi, mengendalikan nafsu berarti menyimpan energi spiritual yang dilakukan oleh seorang muslim mulai fajar sampai maghrib untuk mendapatkan energi spiritual. Jika pelaksanaan puasanya dilakukan secara tepat dan konsisten, maka berpuasa dapat meningkatkan bekerja dan berproduksi secara religius. 
Penelitian dalam kedokteran Islam, terdapat aspek spiritual yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan kinerja yang religius. Mengajarkan cinta kasih antara manusia, memberikan rasa harap, kreatif, dan selalu optimis memandang hidupnya, meresapi arti dan efektifitas ibadahnya, pengabdian yang murni terbuka kepada Allah. Selain itu, mengajarkan manusia bersabar hati, meningkatkan kewaspadaan dari nafsu jahat, mempelajari manusia cara menabung, memperbanyak amal sosial dan shodaqoh. 

3. Motivasi Muamalah

Kaidah muamalah dalam arti luas adalah tata aturan ilahi yang mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan benda atau materi alam. Muamalah diantaranya mengatur kebutuhan primer, dan sekunder dengan syarat untuk meningkatkan kinerja. Kebutuhan tersier dilarang dalam Islam karena dipandang tidak untuk meningkatkan kinerja tetapi dipandang sebagai pemborosan dan pemusnahan sumber daya. Bekerja dan berproduksi adalah bagian dari muamalah yang dapat dikategorikan sebagai prestasi kinerja seorang muslim menuju tercapainya rahmatan lil’alamin.
Motivasi muamalah adalah dorongan kekuatan dari dalam untuk memenuhi kebutuhan manusia yang dilandasi oleh kekuatan moral spiritual, sehingga dapat menghasilkan kinerja yang religius, karena diilhami oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. 
Kebutuhan dan urutan prioritas biasanya dalam tiga tingkatan: keperluan, kesenangan, dan kemewahan. 
  • Keperluan biasanya meliputi semua hal yang diperlukan untuk memenuhi segala kebutuhan yang harus dipenuhi.
  • Kesenangan boleh didefinisikan sebagai komoditi yang penggunaannya menambah efisiensi karyawan, akan tetapi tidak seimbang dengan biaya komoditi semacam itu. 
  • Kemewahan menunjuk kepada komoditi serta jasa yang penggunaannya tidak menambah efisiensi seseorang bahkan mungkin menguranginya. 
Dalam Al-Qur’an Surat al-Jumuah ayat 10, al-Qashas ayat 77, al-Isra, ayat 29 dan al-Furqan ayat 67, ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang manusia sebagai makhluk yang direncanakan Allah SWT untuk bekerja dan berproduksi. Dalam beberapa ayat Al-Qur’an tersebut dapat disimpulkan tentang potensi manusia untuk bekerja dan berproduksi secara religius.
  1. Bekerja adalah kegiatan alami dalam kehidupan manusia. Bagi Islam, bekerja mengelola kekayaan 
  2. Alam yang diberikan Allah SWT untuk kebaikan manusia 
  3. Manusia adalah makhluk yang berakal yang mampu menerapkan control diri dalam aktivitas kesehariannya. Apapun kondisinya, Islam menganggap pentingnya setiap individu muslim menyiapkan diri dalam rangka misi hidupnya. Seorang muslim meraih control diri yang bersumber dar dalam, hal ini akan menolong untuk berbuat sesuai dengan perintah agama Islam dan menjalankan aktivitas teknologi. 
  4. Manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab, yang secara potensial mampu melaksanakan tugas-tugas yang diberikan kepadanya dan manusia juga bisa gagal. Manusia dalam Al-Qur’an menerima mandat dari Allah SWT dan mempunyai tanggung jawab penuh atas setiap tindakannya. Meskipun Islam berarti ketundukan total terhadap Allah SWT, manusia merdeka dan bebas mengarahkan tindakannya dan apabila manusia tidak dipengaruhi oleh siapapun, kualitas kemampuan mengarahkan diri ini akan muncul. Dalam beberapa situasi manusia membutuhkan pengarahan dan motivasi dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab. Fakta bahwa Islam menekankan disiplin diri dan keberadaan Allah SWT bersamanya kapan dan dimana saja, tidak berarti bahwa orang-orang yang diberi jabatan dibiarkan bertindak sepenuhnya tanpa pengawasan orang lain. Sesuai dengan konsep Islam tentang manusia, maka pengawasan diperlukan untuk selalu meminimumkan pengaruh jahat dalam diri manusia dan merangsang motivasi baik semaksimal mungkin. 
  5. Manusia adalah makhluk yang berakal yang dapat menggunakan bakat dan kecerdasan untuk mengembangkan kehidupan di bumi dan membuatnya semakin sejahtera. Islam mendorong setiap orang baik dalam skala pribadi, kelompok, maupun masyarakat untuk menggunakan potensi yang dimiliki demi kemashlahatan hidupnya. Satu-satunya pembatasan yang dikenakan ialah bahwa kemampuan inovatif tersebut beroperasi dalam ruang lingkup yang telah digariskan oleh Islam. 
  6. Potensi manusia yang besar dapat dibangkitkan dengan motivasinya. Perbedaan metode motivasi antar barat dengan Islam, bahwa Islam di samping memberikan insentif material dan keuangan juga menggunakan insentif spiritual. Efektivitas insentif spiritual terbukti lebih kuat daripada yang material. 
Islam selalu menyentuh hati manusia dan mendorongnya untuk menjaga kesadaran Islamnya. Para ulama Islam dan orang-orang yang belajar psikologi percaya bahwa motivasi spiritual lebih efektif dibandingkan dengan yang lain. Hal ini tidak berarti menghilangkan sama sekali motivasi material dan keuangan dalam diri manusia.

Demikianlah telah dijelaskan tentang Pengertian & Peran Tentang Motivasi Dalam Perspektif Islam semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian.